السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 01 Oktober 2022

Rahasia nama Muhammad (محمد) dan Ahmad (احمد) dalam Ilmu Bahasa Arab


Halimi Zuhdy

Nama Nabiyuna Muhammad bukan hanya sekedar lafadh atau jejeran huruf-huruf yang kemudian berbentuk sebuah nama "Muhammad" atau "Ahmad". Susunan huruf yang sangat indah, dan maknanya yang agung. Muhammad (محمد) adalah mubalaghah dari mahmud (محمود). Kalau "mahmud" bermakna terpuji, maka "muhammad" bermana sangat terpuji. Pola kalimat Ism Maf'ul, bisa seperti objek dalam bahasa Indonesia.
Kata Muhammad menunjukkan makna kastrah (banyak); banyak disebut, banyak dipuji, diagungkan, dimuliakan dan banyak lantunkan. 

 إن محمداً هو المحمود حمداً بعد حمد، فهو دال على كثرة حمد الحامدين له، وذلك يستلزم كثرة موجبات الحمد فيه.

Nama "Muhammad" Shallallahu Alaihi Wasallam, tidak hanya bermakna pujian, tapi ia banyak dipuji, banyak diungkap oleh Makhluk sampai hari kiamat, bahkan Allahlah yang memuji pertama kali dalam keagungan akhlaknya.

Susunan kata Muhammad selain berfaidah katsrah (banyak), juga bermakna at-tatabu' (berkesinambungan). Terus-menerus dipuji, terus menerus disebutkan, tidak hanya dalam majlis-majlis shalawat, tapi setiap shalat namanya selalu ada, bersama lafadh jalalah, Allah SWT. Menyebut kata Muhammad, mendapatkan pahala. Pahala yang berlipat. Sebuah ungkapan yang tidak biasa, karena ia sangat pantas untuk dipuji, wainnaka la'ala khuluqin adhim.

Namanya tidak hanya dilantunkan dan dipuji oleh umat Islam, tapi beberapa mushannif non muslim juga menyebutkan dengan pujian-pujian yang luar biasa. Karena beliau bukan hanya sekedar nama, tapi perilaku agung.  

ومن العجيب أن مدح الرسول عليه السلام وحمده لم يقتصر على المسلمين والمؤمنين به، بل تجد بعض المنصفين من الكفار يثنون على النبي صلى الله عليه وسلم ثناء عجيباً.

Muhammad dari Hummida (حمّد) sama dengan nazzala (نزل) dan qaddara (قدر) yang berfaidah yang katsrah (banyak).

Sedangkan Ahmadu (ُأَحمد) mempunyai dua pola kalimat; Fi'il Mudhari dan Ism Tafdhil. Pertama sebagai Fi'il Mudhari (kata kerja yang menunjukkan makna sedang dan akan). Dari pola ini, maka Ahmadu bermakna "Aku sedang memuji";
أحمد الله رب العالمين 
Saya selalu memuji Allah Tuhan semesta alam. Dan pola ini, berfungsi istimrar tajaddud (terus-menerus). 

Pola kalimat kedua adalah ism afdhil (ism yang dibentuk mengikuti pola af’alu untuk menunjukkan salah satunya lebih dari yang lainnya). Ahmadu (أحمد)bermakna lebih terpuji. Nabi Muhammad lebih terpuji dari makhluk lainnya, ahmadu khalqillah. Kata Ahmad adalah af'al Tafdhil dari hamd (pujian), 
yang bermakna pujian untuk Nabi lebih dari orang lain. Dia lebih terpuji. 

أما أحمد فهو أفعل تفضيل من الحمد، فيدل على أن الحمد الذي يستحقه أفضل مما يستحقه غيره، فمحمد فيه زيادة حمد في الكمية، وأحمد فيه زيادة حمد في الكيفية، فيُحمد أكثر حمد، وأفضل حمد حمده البشر

Muhammad pujian secara kuantitas, dia sangat banyak dipuji. Dan Dia "Ahmad", secara kwalitas, manusia yang sangat terpuji. 

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad.

Sabtu, 24 September 2022

Menelisik Asal dan Makna كبيكج di Pesantren



Halimi Zuhdy

Di pesantren tulisan "kabikaj/كبيكج" sangat masyhur sekali, alias sangat terkenal. Bagi yang belum menemukan kata di atas ketika berada di pesantren, bisa saja karena di pesantren jarang menyentuh kitab kuning, atau berada di pondok modern yang kitab kuningnya berupa kitab putih, atau di pesantren yang tidak lagi mempercayai tulisan tersebut, atau di pesantren tidak ada pelajaran kitab kuning, atau kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Dan tulisan tersebut paling banyak ditemukan dipesantren-pesantren salaf (yang hanya mempelajari kitab kuning saja).
Tulisan Kabikaj (كبيكج), Ya Kikah (يا كيكح), Bikaikaj (بكيكج), Bekiking (بكيكيع), dan beberapa tulisan lainnya yang mirip dengan tulisan Kabikaj biasanya berada di halaman awal atau halaman terakhir kitab. 

Ketika di pesantren dulu, saya pernah bertanya ke beberapa asatidz dan juga pada orang tua (Abah Zuhdy), mengapa tulisan itu selalu termaktub di banyak kitab kuning?, Maka, jawabannya sama, agar kitab tersebut tidak dimakan ngetnget (bahasa Madura), atau sejenis serangga, atau rayap. Seakan-akan, Kabikaj (كبيكج) atau Bikaikajin (بكيكج) atau Bekiking (بكيكيع), itu menjadi azimat, atau mungkin doa, agar aman dari serangga. 

Beberapa tahun berikutnya, sering saya temukan kitab yang termaktub "Kabikaj" di halaman awal atau di akhir kitab, kitab itu tinggal separuh atau bahkan sudah habis dimakan rayap atau serangga. Saya bertanya lagi, mengapa hal itu bisa terjadi (masih bisa dimakan rayap)?, Jawaban dari beberapa asatidz dan senior juga unik, karena ketika menulis tulisan "Kabikaj" dalam kondisi tidak suci, atau hatinya tidak dalam keadaan ikhlas karena Allah. 

Tulisan yang masyhur di kalangan pesantren dengan Rajah anti Rayap, atau Jimat anti Rayap, sedikit demi sedikit saya cari makna tersebut di beberapa laman berbahasa Arab. Dan ternyata, kata ini tidak hanya ada di pesantren di Nusantara, tetapi dalam turast juga banyak termaktub tulisan tersebut.  

Dapat potongan gambar yang bertulis "كبيكج" dari Qanat Tahqiq Makhtutat Muhammad Nuri. Potongan gambar dalam kitab tersebut tertulis;
يا كبيكج لا تجِ  ولا تأكل الورق بحق الواحد الخلاق 

Tulisan di atas dari sebuah naskah kitab Riyadhiyat (matematika) dengan judul  “Bughyah Al-Raghib fi Syarh Nursyidah Mursyidah Al-Thalib  Al-Ajami Al-Shanshuri", yang terbit pada tahun 999 H, yang masih tersimpan di Dar al-Kutub al-Dhahirah dengan nomor 1099. (Foto di atas). 

Dalam Maktabah Syamilah Al-Haditsah dijelaskan bahwa dalam banyak manuskrip kuno, ditemukan tulisan: “Ya Kabikaj, ihfadh al-waraq.” para pemerhati  turast percaya bahwa frasa di atas adalah sebuah doa, salah satu permohonan yang diyakini orang dahulu, seolah-olah ada malaikat yang menjaga kitab-kitab atau manuskrip.

Selanjutnya, Maktabah al-Syamilah Al-haditsah menjelaskan bahwa kenyataannya bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para tradisionalis.. karena kata (kabikaj) adalah nama tanaman yang mirip dengan seledri liar (الكرفس البرى) disebut juga: palem tujuh (كف السبت), pohon kodok (شجرة الضفادع), ain shafa .. pohon Ini adalah salah satu racun yang mematikan, dan para dokter biasa mengobati penyakit kulit pohon kabikaj tersebut.

Dulu, tukang kertas (alwarraqun) menggunakan tanaman kabikaj untuk mengawetkan naskah dari serangga, seperti rayap, gegat, dan lain-lain, prosesnya mirip dengan istilah sekarang yaitu fumigasi (التبخير).

Tulisan Kabikaj (كبيكج) untuk membedakan kitab yang telah melalui proses fumigasi, bila tidak tertulis kata tersebut, maka belum dilakukan fumigasi, maka pada sampulnya tertulis  “كبيكج احفظ الورق” untuk menandai pembeli, atau pemilik naskah, diperlakukan dengan jenis tanaman ini.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid038EvyWpbVM81RSCEkonEHAf5JTNpUt3o7Th6vcm8z3SMoPu48qs7TkwdfEveehpqxl&id=1508880804

Dan munculnya kata tersebut, juga masih banyak menyisakan banyak perbedaan lainnnya, seperti, bahwa tulisan tersebut adalah mantra (thalasim), ada mengatakan adalah Malaikat yang menjaga serangga, dan lainnya.

**Ketua RMI Kota Malang dan Ketua Forum Pondok Pesantren Kota Malang*  

_Kajian-kajian Al-Qur'an, Mu'jizat Al-Quran, Balaghah, Sasta Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya._

🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Sabtu, 17 September 2022

Arti Kata Dhi'afa dalam surat

Halimi Zuhdy

Membincang Generasi Tangguh

Dalam Al-Qur'an ada Ayat yang menyebutkan kata Dhi'afa (lemah);

{ وَلۡیَخۡشَ ٱلَّذِینَ لَوۡ تَرَكُوا۟ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّیَّةࣰ ضِعَـٰفًا خَافُوا۟ عَلَیۡهِمۡ فَلۡیَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡیَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدًا }
[Surat An-Nisa': 9]

Menariknya kata ini (Dhi'afa, lemah) tidak menggunakan mufrad muannast (kata tunggal),  tetapi, kata ini (Dhi'afa) menggunakan jamak (banyak). Walau kata sebelumnya menunjukkan kata tunggal "Dzurriyah". Kalau disesuaikan dengan kata sebelumnya, maka semestinya menggunakan tunggal Dha'ifah (ضعيفة). Tapi, disinilah keunikannya, tidak menggunakan kata tunggal.

Bisa saja Ayat tersebut berbunyi Dzurriyah Dhaifah (generasi yang lemah). Maka, di antara maknanya dari menggunakan jamak (ضعفا) adalah banyak generasi yang lemah tidak hanya pada satu aspek, tetapi dari banyak aspek; lemah aqidah, lemah ekonomi, lemah politik, lemah fisik, lemah dalam pengetahuan, dan lemah-lemah yang lainnya. Seandainya hanya menggunakan kata dhaifah, maka yang lemah mungkin hanya satu. Sedangkan untuk menjadi generasi tangguh, maka tidak boleh lebih banyak kelemahan-kelemahannya dari pada kekuatannya. 
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar" (Surat An-Nisa': 9)

Minggu, 11 September 2022

Menelisik Asal Hari Ahad, dan Muasal Hari Minggu di Indonesia

Halimi Zuhdy

Kata "Ahad" berasal dari bahasa Arab, yang artinya yang satu, atau pertama (al-awwal). Dan kata ini, juga salah satu nama Allah, "Ahad" Yang Maha Esa.
Kata Ahad derivasi (muystaq) dari Wahid. Dulu orang Arab sebelum Islam datang, menamainya dengan "Awwal" untuk menunjukkan hari pertama dalam satu minggu (usbu'). Di beberapa negara Islam, hari Ahad menjadi hari kedua, setelah Sabtu. Sedangkan di Barat, hari Ahad (minggu) merupakan hari terakhir dari satu minggu (akhir pekan), karena mereka merayakan ibadah di gereja (kanais) pada hari tersebut. Di beberapa negara, memulai waktu awal pekan berbeda-beda, karena disesuaikan dengan peribadatan, hari libur, dan memulai hari aktif dalam beraktifitas (formal). 

Hari Ahad, merupakan perubahan ketiga. Tahap pertama, orang Arab tidak memberi nama pada setiap harinya, hanya pada awal bulan ghurar (غرر). Pada tahap kedua, baru mereka memberi nama khusus, hari Ahad dengan nama Al-Awwal, hari Senin dengan nama Ahwan dan seterusnya (baca: sejarah Hari Sabtu, Halimi Zuhdy). Dan tahap ketiga, orang-orang Arab setelah datangnya Islam mengganti menjadi hari "Ahad". 

Imam Al-Suyuti dalam “Al-Shamarikh fi ‘ilm Al-Tarikh”, Ahad adalah hari pertama (al-awwal). Dalam syarah kitab Al-Muhadzab”, Ahad adalah minggu pertama. Ibnu Asyakir meriwayatkan dalam “ta-Tarikh” dalam sanad Ibn Abbas, bahwa pertama kali Allah menciptakan sesuatu adalah hari Al-Ahad, sehingga disebut: Al-Ahad, dan orang-orang Arab biasa menyebutnya dengan al-Awwal (pertama). 

Ada juga yang berpendapat, bahwa hari pertama dalam seminggu adalah hari Sabtu. Dalam kitab “Al-Sharh”, “Al-Rawdah” dan “Al-Minhaj” dalam Imam Muslim: “Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu, gunung-gunung pada hari Ahad, pepohonan pada hari Senin, kerusakan/kekejian pada hari Selasa, cahaya pada hari Rabu, dan Allah menyebarkan binatang di dalamnya pada hari Kamis, dan menciptakan Nabi Adam setelah sholat dzuhur pada hari jumat. Masih dalam Kitab “Al-Shamarikh fi ‘ilm Al-Tarikh”, Imam Syuyuthi menceritakan bawa Ibn Ishaq berkata, Ahli Taurat berkata “Tuhan memulai penciptaan pada hari Minggu, dan ahli Injil mengatakan pada hari Senin, dan kami (Muslim) sebagaimana yang kami dapatkan dari Nabi Kami -yaitu  pada hari Sabtu. 

Beberapa puluh tahun terakhir ini hari Ahad mulai lenyap, dan bahkan ketika kita bertanya kepada siswa atau mahasiswa atau khalayak umum, mereka sudah tidak lagi tahu asal-muasal hari Minggu yang sebelumnya adalah berasal dari hari Ahad. Dan banyak yang sudah tidak mengenal nama "Ahad". Dan mereka dengan entengnya menyebut hari Ahad dengan hari Minggu. Banyak juga pembelajar yang tidak mengenal asal-usul hari bahwa hari- hari yang ada di Indonesia berasal dari bahasa Arab, Senin (isnain), Selasa (sulasa’), Rabu (arbia’), Kamis (khamis). Jumat (Jumuah), Sabtu (Sabt). Apakah salah dengan merubah menjadi Minggu?. Tidak juga, karena kebudayaan yang melemah, akan dikalahkan dengan budaya yang kuat. 

Setelah penulis telisik dari berbagai leteratur bahwa hari Minggu adalah nama yang diambil dari bahasa Portugis, Domingo yang berarti “hari Tuhan kita”, dan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kemudian kata ini dieja sebagai Minggu. Hari tersebut. Bagi salah satu umat yang ada di dunia, yaitu umat Kristen, nama hari Minggu selain diidentikkan dengan Hari Tuhan, juga sebagai hari kebangkitan, hari peristirahatan dan hari untuk beribadah. Pada hari Minggu ini umat gereja memperingati hari Minggu sebagai hari perhentian bagi orang Kristen sekaligus hari peringatan akan kebangkitan Yesus. (Albalad)

Dalam laman Wikipedia (berbahasa Arab) kata Minggu dalam bahasa Latin berarti hari matahari; yaitu Demenich digunakan di Prancis, Domingo digunakan di Spanyol, dan Domonica di Italia. Ketiga nama ini berasal dari kata Latin Dais Dominica, yang berarti Hari Tuhan. Selama abad keempat Masehi pemerintah dan gereja secara resmi menyetujui hari Minggu sebagai hari istirahat di Eropa. Hari ini, hari Minggu adalah hari libur di semua negara Kristen, dan dalam banyak tradisi Kristen hari Minggu adalah Sabat Kristen, yang menggantikan Sabat Yahudi.

lembaga pendidikan Islam di Indonesia dan lembaga-lembaga lainnya memulai aktifitasnya dengan hari kedua, yang seharusnya (kalau mengikuti arti bahasanya) aktifitas atau kegiatan apa pun dimulai dari hari Ahad, bukan hari Senin. Mengapa? Karena hari Senin berarti hari kedua, dari satu pekan. Dari perubahan hari inipun, berubah seluruh budaya yang terkait dengan permulaan hari, banyak lembaga yang memulai kegiatan dengan hari Senin, karena pada hari Ahadnya aktifitasnya diliburkan mengikuti makna dari hari Minggu (hari Istirahat), yang “kalau mengikuti maknanya” seharusnya memulai aktifitasnya adalah hari Ahad (hari pertama dalam satu pekan).

Minggu menurut Wikipedia pada tanggal 7 Maret 321, Kaisar Konstatinus I, menetapkan hari Minggu sebagai hari peristirahatan bangsa Romawi. Para reformator gereja, Luther dan Calvi memandang hari Minggu sebagai institusi sipil yang dibuat oleh manusia, yang menyediakan waktu bagi manusia untuk beristirahat dan beribadah.

Dan saya masih salut pada beberapa pondok pesantren, madrasah dan lembaga-lembaga lainnya yang masih menerapkan hari libur, pada hari Jumat. Karena hari Jumat (bagi umat Islam) adalah sayyidul Ayyam, hari penuh berkah dan hari untuk banyak melakukan peribadatan kepada Allah. Hari liburnya hari Jum'at, seebagai persuapan untuk melakukan shalat Jum'at, dan dimulai kegiatan pada hari Sabtu atau Ahad. 

Ternyata berubahnya nama hari sangat berpengaruh bagi berubahkan sebuah kebudayaan. bagi umat Islam sendiri, hari Ahad sudah banyak dilupakan, karena maraknya kalender dan media yang menggunakan hari Ahad dengan hari Minggu. Dan juga, banyak yang tidak mengetahui bahwa hari Ahad adalah hari pertama dalam satu pekan.

Perubahan hari Ahad menjadi hari Minggu ternyata sudah berjalan lama, sekitar tahun 1988. Apakah kita tetap menggunakan hari Ahad atau hari Minggu, itu terserah pembaca, tetapi kalau konsisten dengan hari dalam satu pekan di Indonesia, maka menggunakan hari Ahad lebih tepat dari pada hari Minggu.

Tulisan ini hanya sebuah refleksi sederhana saja, yang penulis sudah lama bertanya-tanya kenapa hari Ahad berganti hari Minggu, dan kebetulan penulis belum terbiasa menggunakan hari Minggu ketika di Pondok Pesantren, dan sampai hari inipun, penulis selalu menjawab hari Ahad ketika ditanya anak-anak mau berlibur kapan?. 

Mudah-mudahan hari lain tidak tergantikan dengan nama yang lain lagi. cukup hari Ahad saja, dan penulis tetap menggunakan hari Ahad, walau pun hari Minggu selalu hadir di akhir pekan. karena hari Minggu adalah hari dipekan terakhir, bukan hari pertama sebagaimana dibeberapa kalender yang meletakkan hari Sabtu diakhir, dan hari Minggu di Awal. 

Mudah-mudahan menjadi refleksi bersama. bukan untuk diperdebatkan, tetapi hanya untuk direnungkan. karena perubahan seperti di atas sering terjadi, jika suatu kaum latah, atau kalah dalam memasarkan keilmuannya, atau kalau dalam perpolitikan dunia, atau latah pada sebuah kemajuan dari sebuah peradaban tertentu. Maka, nama-nama itu pun akar tergantikan, sebuah keniscayaan. 

selamat berakhir pekan, dan mari kita mulai dengan hari Ahad.

Sabtu, 03 September 2022

Asal Mula Baju Toga dalam Wisuda

Halimi Zuhdy

Setiap mahasiswa yang diwisuda khususnya di perguruan tinggi, bisa dipastikan pernah memakai baju toga berwarna hitam, dengan topi hitam yang mempunyai lima ujung. 

Tadi pagi ada yang bertanya ketika membersemai mahasiswa dalam profesi wisuda UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pertanyaan sederhana tapi tak mudah dijawab, "Dari mana asal mula baju toga dengan topinya yang khas?". Saya jawab ngaur, karena belum membuka rujukan yang sahih,  hanya bermaksud guyon saja, "Mungkin dari Paskitan!". 
"Lo kok bisa dari Pakistan Tadz?!", Tanyanya melongo, sepertinya ia sangat tidak percaya baju yang mirip baju Pakistan itu berasal dari Pakistan. "Itu hanya menebak, sepertinya memamg 

Benar, dari berbagai bahan bacaan yang penulis baca, toga yang digunakan bukan berasal dari Pakistan, tapi terdapat beberapa pendapat; ada yang mengatakan berasal dari Arab, ada pula yang berpendapat berasal dari eropa. Dalam beberapa kajian, masih ada kaitannya asal mula toga antara Eropa dan Arab, yaitu ketika kaum muslimin lagi berjaya di Eropa beberapa abad lalu.

Dalam buku Islam in Europe, karya Jacques Gaudi, "Gaun Arab telah menjadi tanda prestise ilmiah hingga hari ini, terutama pada acara-acara ilmiah ..." (bilarabiyah)

‏وقال جاك غودي في كتابه الإسلام في أوروبا "اللِّباس العَربي أضحى علامةَ الوجَاهة العلمية إلى اليَوم، ولا سيَما في المُناسبات العِلمية…”

Masih dalam laman yang sama, bahwa toga (gaun wisuda, jubah) berasal dari Arab. Ketika banyak mahasiswa Eropa yang lulus dari perguruan tinggi/sekolah tinggi di Andalusia pada waktu, dan  kembali ke negaranya dengan mengenakan jubah Arab (toga) sebagai slogan; "Dia lulus dari universitas Muslim" (sekolah-sekolah yang berada di Andalusia, Spanyol hari ini). 

Pakaian Arab dulu sampai hari ini, kita kenal dengan jubah (jubbah), yaitu pakaian panjang sampai di bawah lutut dan berlengan panjang. Pakaian ini juga digunakan oleh hakim, prosesi wisuda, sastra fantasi dan lainnya. Ia seperti baju kebesaran. Seperti baju toga.

Pilihan toga warna hitam ketika dalam wisuda, adalah gambaran kegelapan yang mampu dimenangkan oleh ilmuan, menuju terang dan merdeka. Mungkin sama dengan apa hang disampaikan ibu Kartini, "habis gelap terbitlah terang".

Ada pendapat lain tetang  asal usul toga (gaun), bahwa jubah hitam (toga) adalah pakaian pendeta dan biarawan pada Abad Pertengahan, karena mereka yang memakai toga (jubah) mewakili para intelektual suatu negara, serta mereka bertugas mengajar siswa-siswi, dan ketika para siswa yang diajar menyelesaikan studinya, mereka menjadi seorang biarawan, dan mengenakan seragam (toga) sebagai pendeta dan biarawan.”

Pendapat lainnya, toga merupakan baju yang biasa dipakai orang Romawi kuno, yaitu sehelai kain sepanjang kira-kira enam meter yang dililitkan ke sekeliling tubuh, dan umumnya dikenakan setelah mengenakan tunik. Dan Toga ini terbuat dari wol dan tunik kerap terbuat dari linen. Setelah abad ke-2 SM, toga menjadi busana khusus pria, dan hanya warga negara Romawi yang diizinkan mengenakannya. Karena menjadi busana khusus pria, maka kaum wanita mengenakan stola. (Wikipedia). Banyak pendapat terkait dengan asal mula baju toga ini. Sedangkan asal kata toga dari kata latin, tego yang bermakna penutup. Kalau dalam bahasa Arab rida' atau staub al-takharruj. 

Dalam bilarabiyah, terkait dengan topi, mulai digunakan pada abad keempat dan kelima untuk membedakan para filosof dan seniman dari rakyat biasa, dan orang-orang Arab Muslim di Andalusia menggunakan topi ini untuk meletakkan Al-Qur'an di atasnya. Dan dalam Farah,id Baju dan topi tersebut didesain oleh Fatimah (Universitas Al-Qarawiyyin). Topinya berbentuk kotak karena Fatimah ingin siapa pun yang menggunakannya saat wisuda, pikirannya akan ingat selalu pada Baitullah atau Ka'bah yang berbentuk kotak dan berwarna hitam. Dan mungkin ada maraji' lainnya tentang baju toga dan topi toga tersebut. Allahu'alam bishawab.

Pada akhirnya, baju toga adalah sebuah simbol, bahwa setelah memakai baju tersebut ia adalah bagian dari kaum intelektual, yang harus mematuhi berbagai kaidah-kaidah keilmuan yang sudah diraihnya. Baju bukan hanya untuk pakaian tetapi untuk menutupi, dan tidak hanya untuk menutupi tetapi bagian dari simbol ia digunakan, demikian juga dengan topi. 

***

Sabtu, 27 Agustus 2022

Gelar dalam Islam

Asal Julukan Ad-Din (Ahli Agama)

Halimi Zuhdy

Entah, mulai kapan muncul julukan atau gelar seperti syaikhul Islam, mujjaddid zaman, Alim Allamah, hujjatul Islam, al-hakim, al-hafid, al-muhaddis, Al-faqih, al-Muarrikh dan gelar lainnya. Setiap gelar yang muncul dan kemudian disematkan kepada seseorang bukanlah tanpa alasan, ada yang istimewa dari mereka. Kecuali gelar yang hanya dibuat-buat pada zamannya, maka seiring waktu gelar hilang bersama zamannya. 
Gelar yang sesuai dengan apa yang disematkan, maka akan "abadi" dalam sepanjang sejarah. Ia terus ditempelkan padanya, karena ia pernah berbuat sesuatu yang besar untuk sesuatu yang lain.

Tapi tidak semuanya harus bergelar, berpangkat, dan mempunyai julukan. Karena ia hanya bagian dari kebutuhan zamannya, dan pemberian zamannya. Dulu, dulu sekali pada zaman sahabat tidak ada gelar Syaikhul Islam walau pun alim. Dulu yang ahli ibadah tidak kemudian dijuluki dengan Al-Abid fillah. Sama dengan orang yang datang dari umrah, tidak dijuluki dengan al-mu'tamir. 

Ada yang menarik, dari kutipan Dr. Nuri Al-Mausuei dalam Tahqiq Makhthut fi Awraq Al-Jami'ah. Nuri mengutip perkataan Imam Al-Jalal Al-Suyuti asal mula julukan  yang dikaitkan dengan kata "Al-Din, Agama". 

Gelar yang terdapat kata "Al-Din" pertama kali muncul pada abad keempat. Pada waktu itu Turki mengalahkan kekhilafahan, dan ini menjadi sebab gelar atau julukan Al-Din muncul, mereka menyebutnya dengan gelar Syamsuddaulah (matahari negara), ada juga Nashir Al-Daulah (Penolong negara), Najm Al-Daulah (bintang negara), dan seterusnya. 

Imam al-Jalal as-Suyuthi menulis dalam kitabnya "al-Wasaail ila Ma'rifah al-Awaa'il": Penggunaan gelar al-diin di belakang nama ini terjadi pertama kali pada pertengahan abad ke-empat.
 
Rakyat biasa tergiur untuk menggunakan gelar-gelar tersebut, karena bermakna pengagungan dan kebesaran. Namun, karena tidak punya akses ke pemerintahan, mereka tidak dapat menggunakannya. Itulah sebabnya, mereka (rakyat) menggunakan gelar ad-diin, sehingga kebiasaan itu pun menyebar dan digunakan secara luas, sampai para ulama pun merasa nyaman dan terbiasa menggunakan gelar itu. 

( فائدة في التلقيب بالإضافة إلى الدين)
 يقولُ  الجلال السيوطي في كتابه الوسائل إلى معرفة الأوائل:
 أولُ ما حدثَ التلقيبُ بالإضافةِ إلى الدينِ في أثناء القرن الرابع.
 وسببُ ذلك أنّ الترك لمّا تغلّبوا على الخلافةِ فسمّوا إذ ذاك هذا شمس الدولةِ ، وهذا ناصر الدولة وهذا نجم الدولة إلى غيرِ ذلك، فتشوّقت نفوسُ بعضِ العوامّ ممن ليس له علم إلى تلك الأسماءِ لما فيها من التعظيم والفخر، فلم يجدوا إليها سبيلاً لأجل عدم دخولهم في الدولة، فرجعوا إلى أمرِ الدينِ ، ثمّ فشا ذلك وزادَ حتى أنِسَ به العلماء وتواطؤا عليه.

Dan yang menarik lagi, gelar-galar di kerajaan Islam Nusantara, beberapa gelar pamangku agama di Nusantara. (Butuh kajian lebih lanjut). 

***
Gambar Manuskrip tentang perkataan Al-Jalal Al-Suyuthi di tas

Kamis, 25 Agustus 2022

Moderasi dalam Ayat Al-Qur'an



Husain bin Fadl ditanya, apakah dalam Al-Qur'an terdapat Ayat yang terkait dengan "Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah"? 

Husain bin Fadl menjawab, "Ia ada, dalam Al-Qur'an terdapat empat tempat terkait hal di atas", yaitu; 

  لا فارض ولا بكر عوان بين ذلك 

 "bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu"

 والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما

Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.

ولا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط

..Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya...

ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا 
dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu

Minggu, 21 Agustus 2022

Hikmah di Balik Kehebohan

(Joko Tingkir, Sambo, Mas Samsuddin)

Halimi Zuhdy

"Ada-ada saja!. Hanya bikin heboh.!. Norak..!. Tak berkelas..!. Bikin onar..!. Habisi saja..!. Hanya untuk uang. Mau viral.!". Dan kalimat-kalimat lainnya yang menyertai setiap peristiwa akhir-akhir ini. Paling anyar Joko Tingkir, sebelumnya Sambo, dan yang terus bergulir Mas Samsuddin dan si Pesulap Merah. 
Saya coba merenung, bahwa setiap peristiwa selalu memberikan hikmah dan pengetahuan. Misalnya nyanyian yang lagi viral beberapa hari ini  "Joko Tingkir Ngombe Dawet", lagu ini sepertinya sudah satu bulan lalu, tapi hebohnya belakangan. Gegara Farel Prayoga tampil ciamik di Istana. Dan gegara menggunakan nama seorang ulama dan pendiri kerajaan Pajang.

Mungkin, banyak yang tidak paham siapakah Joko Tingkir, karena banyak sejarah kekinian yang tidak merekamnya dalam buku-buku anak bahkan buku untuk orang dewasa pun jarang ditemui. Masyarakat benar-benar awam tentang sosok hebat itu. Siapa sangka, Joko Tingkir adalah seorang tokoh yang sangat dibanggakan. 

Karena kehebohan itulah, masyarakat pada mencari sosok al-Alim Joko Tingkir. Semua pada tahu. Dan masyarakat lebih memahami tentang sejarah keberadaan beliau. 

Ya, demikianlah peristiwa kalau sudah ingin dibuka oleh Allah. Walau hal ini pahit, karena dianggap kurang sopan, dan sang pencipta lagi, mas Pratama, sudah meminta maaf karena ketidaktahuannya atas nama tersebut. 

Mungkin, bukan hanya mas Pratama yang tidak tahu siapakah sosok Joko Tingkir atau Mas Kerebet (nama lengkapnya), tetapi masih banyak masyarakat yang tidak memahaminya. Tapi, gegara kehebohan itulah, namanya semakin masyhur di masyarakat. Dan banyak dicari di media. 

Bagaimana dengan Mas Samsuddin dan Pesulap Merah, bagaimana pula dengan Mas Sambo?! Bisa dicari sendiri hikmah tentangnya yang sangat melimpah. Setiap peristiwa ada hikmahnya. 

Allahumma zidna ilma.

***
Foto pemanis saja.

Selasa, 16 Agustus 2022

Menelisik Asal Kata Tirakatan

Halimi Zuhdy 

Kata tirakat dekat dengan petapa, puasa, menahan nafsu, menahan mata untuk tidak tertidur dan menahan diri dari melakukan dosa. Dan kata tirakatan juga akrab di telinga kita, yaitu seseorang yang bergadang (tidak tidur) ketika malam. Di antaranya digunakan di malam 17 Agustus (tepatnya tanggal 16 Agustus ) dengan istilah Malam Tirakatan. 

Entah, kata ini berasal dari kata asli Indonesia, atau dari luar Indonesia. Tapi, kalau ditilik dari akarnya, maka sangat dekat dengan bahasa Arab demikian juga dengan artinya. Tirakat sangat dekat dengan tarkun (الترك) yang bermakna meninggalkan dan juga dengan kata thariqah (الطريقة) yang bermakna jalan, metode, pola atau cara. 

Dari dua kata di atas (tarkun dan thariqah), kata tirakat lebih dekat dengat kata tarkun (meninggalkan), yaitu tarkul ma'ashi (meninggalkan maksiat, dosa, dan lainnya). Berbeda dengan thariqah, yaitu jalan. Mungkin cara yang digunakan untuk meninggalkan dunia, seperti petapa atau lainnya. 

Dalam KBBI tirakat adalah menahan hawa nafsu (spt berpuasa, berpantang); mengasingkan diri ke tempat yg sunyi (di gunung dsb). Sedangkan kata tirakatan adalah melakukan tirakat.

Ada pula yang menilisik dari akar yang lain, kata "tirah" yang bermakna menepi, tepi. "Petiharan" diartikan dengan tempat yang sunyi, sejuk dan tentram. Dari Jawa Kuno. Ada kesamaan arti dari berbagai kata di atas. Kesunyian. 

Malam Tirakatan yang populer di masyarakat adalah malam tasyakuran atas Kemerdekaan Republik Indonesia. Masyarakat berkumpul di balai desa, atau di lapangan, atau di jalan-jalan untuk melakukan doa bersama. Ada yang melakukan tahlil, istighosah, ada pula yang menyanyikan lagu-lagu kemerdekaan kemudian doa bersama (sesuai dengan agama yang dianut masyarakat setempat) dengan mengundang tokoh agama, dan banyak kegiatan yang dilakukan warga, tentunya ada tumpeng yang siap untuk dipotong.

Bersyukur atas pemberian Tuhan kepada Indonesia. Merdeka. Merdeka dari belenggu penjajah, dan merdeka dari segala hawa nafsu yang mengekang.

Merdeka!!! 

Hari Ulang Tahun ke-77 Republik Indonesia🇮🇩

#Tirakatan #77RI #HUT77RI

BCT Malang, Malam 16 Agustus 2022

Asal kata Hewan

(Apakah Manusia itu juga hewan?)

Halimi Zuhdy

"Dasar hewan!!", Terkadang kalimat ini sering kita dengar, ketika ada seseorang yang lagi marah pada orang yang dibencinya. Dan ia lupa, bahwa yang mengucapkan juga adalah hewan. Sesama hewan jangan mencaci.😁. Loh, kak sesama hewan?. 
Dalam bahasa Arab - asal dari kata hewan itu muncul- bahwa manusia juga adalah hewan, hewan itu ada dua; hewan yang berakal (حيوان ناطق) dan hewan yang tidak berakal (حيوان غير ناطق).
Maka, hewan adalah setiap  makhluk yang punya ruh, baik berakal atau tidak.
كل ذي روح من المخلوقات عاقلا أم غير عاقل.

Hewan berasal dari kata hayiya (حيي), hidup, kehidupan, yang hidup. Satu derivasi dengan kata hayah (حياة), kehidupan. Dan kata ini, tergantung penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia, kata hewan khusus pada binatang, atau dalam bahasa Inggris adalah animal, yang bermakna "punya nafas", sedangkan dalam bahasa  Sansekerta adalah "satwa" yang bermakna makhluk hidup. 

 Berbeda lagi dengan kata Hayawan (حيوان) dalam Al-Qur'an, yang memiliki banyak penafsiran, di antaranya adalah kehidupan yang abadi.
 
وَمَا هَـٰذِهِ ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا لَهۡوࣱ وَلَعِبࣱۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡـَٔاخِرَةَ لَهِیَ ٱلۡحَیَوَانُۚ لَوۡ كَانُوا۟ یَعۡلَمُونَ 

Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (Surat Al-Ankabut: 64).

Hewan dalam penggunaannya dalam bahasa Arab adalah setiap organisme eukariotik (هو كل كائن حي حقيقي النواة) yang termasuk dalam kerajaan animal. Sedangkan Hewan dalam undang-undang (no 41/2014) adalah binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, dan/atau udara, baik yang dipelihara maupun yang di habitatnya.

Dalam bahasa Jawa hewan adalah kewan, bahasa Madura keben, mirip, dalam satu bentuk kata. Hewan adalah kehidupan. Maka, sesama makhluk hidup harus saling menghargai dan berkasih. 

Allahu'alam Bishawab

BCT 16 Agustus 2022

Kajian-kajian Al-Qur'an, Mu'jizat Al-Quran, Balaghah, Sasta Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya.

🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Minggu, 14 Agustus 2022

Rambut Tetangga Lebih Hitam

Halimi Zuhdy

Manusia itu unik. Orang-orang yang hidup di desa ingin sekali melihat dunia perkotaan. Menabung puluhan tahun untuk bisa sampai ke pusat kota. Sedangkan orang kota ingin hidup di desa, mereka mengeluarkan banyak uang untuk membangun vila di dekat pegunungan dan perbukitan hanya untuk merasakan suasana desa. 

Orang-orang desa melihat makanan yang dikonsumsi orang kota serasa makanan yang paling nikmat, sebaliknya orang-orang kota melihat makanan orang desa pada ngeler; sego jagung, pecel, sayur lodeh, terasi, jenggkol, pete dan makanan-makanan lainnya.
Orang pegunungan sangat senang sekali melihat lautan dengan hamparan pasirnya, dan orang pesisir melihat gunung dan persawahan bahagia sekali. Ribuan orang berwisata hanya untuk merasakan gelombang pantai, kemudian selfi-selfi di antara karang-karangnya. Sedangkan orang-orang yang hidup dekat pantai, jarang  menikmatinya, mungkin tak sempat mengambil foto dengan latar pantainya yang indah. 

Mengapa sesuatu yang indah, dekat kita, serasa biasa saja?, Dan sesuatu yang mempesona milik kita, kadang jarang dirasakan begitu indah oleh kita?. 

Memang begitu. Rambut tetangga lebih hitam, eh rumput tetangga lebih hijau. Sebenarnya sama saja, sama rumput. Hijaunya ya sama, sama hijau. Rambut juga begitu, hanya tinggal menunggu waktu kapan putihnya. Karena rumput sendiri, dan sering dilihat setiap hari, mungkin bosen dan lupa bersyukur. Karena lupa bersyukur, maka serasa yang lain serasa lebih asyik. 

Orang yang bersyukur adalah fokus kepada kebaikan yang dimiliki, maka akan selalu merasa bahagia. Beda dengan orang yang kufur (ingkar nikmat, tidak bersyukur), maka lebih fokus pada keburukan yang dimiliki, serasa hidupnya selalu kurang, tidak indah, tidak nyaman, dan laksana neraka. Maka, dalam pikirannya milik orang lebih baik. Kemudian timbul rasa iri, dengki, dan perbuatan jahat. Selanjutnya, keburukan lainnya bisa timbul.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

"Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”

Kekayaan yang paling kaya, adalah qana'ah (merasa cukup). Munculnya rasa qana'ah karena ia bersyukur padaNya. Banyak orang yang kaya, tapi tidak qana'ah, maka serasa miskin, dan selalu kurang dan kurang. 

Rumput hijaunya tetangga hanyalah "rasa", kalau dinikmati rumput di halaman "sendiri" lebih indah dan berasa.

Allahua'lam bishawab.

Solo, 13 Agustus 2022


***
Foto hasil jepretan sendiri; Palangkaraya, Bali, Bandung.

Kajian-kajian Al-Qur'an, Mu'jizat Al-Quran, Balaghah, Sasta Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya.

🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Sabtu, 13 Agustus 2022

Orang yang Pertama Kali Membuat Contoh "Zaid" dalam Bahasa Arab

Halimi Zuhdy


Artis dalam ilmu nahwu itu adalah Zaid (زيد) dan Amr (عمرو). Dua nama ini sangat populer sekali bagi yang pernah belajar kitab Al-Jurmiyah, Durus Arabiyah, Imriti, Alfiyah dan kitab-kitab lainnya, contoh-contoh yang sering digunakan adalah kata zaid. Tidak hanya dalam ilmu nahwu, tapi dalam buku-buku pembelajaran bahasa Arab nama Zaid paling populer. 

Mengapa kata Zaid yang sering dijadikan contoh?, Banyak jawaban tentang ini, di antaranya adalah karena kata "Zaid" bermakna "Numuw" yaitu bertambah. Dengan penggunakan kata tersebut, diharapkan seorang pencari ilmu selalu bertambah keinginan dan semangat dalam mencari ilmu, dan selalu bertambah ilmunya dan keberkahannya. 

Tapi tahukan para pembaca, kapan kata "Zaid" digunakan pertama kali sebagai contoh dalam bahasa Arab?, kemarin dalam perjalanan Malang-Bandung penulis membuka kitab-kitab elektronik  dan menemukan kajian tersebut, dalam Majmu'ah Tahqiq Al-Makhtut fi Awraq Al-Jamiah bahwa yang pertama kali membuat contoh dengan kata Zaid dalam Bahasa Arab adalah Abdullah bin Abi Ishaq Al-Hadrami.

Menurut Syek Nuri, di akhir Risalah al-Isytiqaq li Ibn Al-Siraj dalam manuskripnya yang disimpan di Perpustakaan Shahid Ali No.2358 dijelaskan;

قالَ تاجُ الدّينِ الكنديُّ رضي اللهُ عنه: أوّلُ مَن مثّلَ بزيدٍ في أهلِ العربيةِ عبدُ اللهِ بنُ أبي إسحاقٍ الحضرميّ، كان له ولدٌ اسمُهُ زيدٌ، فكانَ إذا مثّلَ قالَ: ضربَ عبدُ اللهِ زيدًا

Kata Tajuddin Al-Kindi, bahwa orang yang pertama kali memberi contoh dengan "Zaid" adalah Abdullah bin Abi Ishaq Al-Hadrami, dan kebetulan anaknya bernama Zaid. Maka, Abdullah sering memberi contoh dengan "Dharaba Abdullah Zainda" Abdullah memukul Zaid. Ia mencontohkan dirinya sebagai Ayah yang memukul anaknya sendiri, Zaid. 

Tampaknya Ibn Abi Ishaq benar-benar memukul putranya Zaid, dan untuk ini dia menjadikannya sebagai contoh. Dan dalam banyak contoh, yang digunakan adalah Ayah (abun) dan Anaknya (ibnu). Terkadang menggunakan Abu Zaid, Ibnu Zaid, dan Zaid itu sendiri.  

Ibn Abi Ishaq meninggal pada tahun 117 H, sedangkan  Tajuddin al-Kindi meninggal pada tahun 613 H, di Damaskus, dan dimakamkan di Qasioun. Dan Syekh Tajuddin punya karya Syarah Diwan Al-Mutanabbi. (Muhammad Nuri al-Moussawi)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02sgvzq7KmgrmUCpRdR4Hpw1ks4xTEjjEEcghb1aZLn8xHcjgAKBb3cv5jQfM6Uadol&id=1508880804

Zaid  selalu asyik didiskusikan, selain dari akarnya za-a-da (زاد) yang bermakna banyak, berkembang, bertambah, kebaikan dan makna-makan lainnya, juga bisa cakep dibuat nama. Kata ini juga berubah dalam bentuk lainnya menjadi; Ziyad (زياد), Yazid (يزيد), Zayid (زايد),  Ziyad (زياد), dan nama-nama lainnya.

***
Kajian-kajian Al-Qur'an, Mu'jizat Al-Quran, Balaghah, Sasta Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya.

🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Minggu, 07 Agustus 2022

Asal Kata Suro dan Asyura

Halimi Zuhdy

Kata "Suro" dalam kalender Jawa menjadi nama sebuah bulan, bulan Suro. Nama bulan Suro diambil dari salah satu hari atau peristiwa yang berada di bulan Muharram (dalam kalender Hijriah), tepatnya pada tanggal 10 bulan Muharram, yang disebut dengan Asyura'. Kata Asyura' kemudian dihilangkan huruf "Ain" menjadi syura (suro), mungkin dianggap lebih mudah pengucapannya. Dan yang dimaksud dari nama Suro adalah Asyura' itu sendiri. 
Bila mendengar kata “Asyura’” maka ingatan kita pasti merujuk pada tanggal 10 di Bulan Muharram, karena kata tersebut sangat masyhur di kalangan umat Islam, meskipun agama lain, seperti Agama Yahudi juga memiliki sejarah panjang tentang hari tersebut.

Kata Asyura’ sudah menjadi istilah atau nama dari tanggal 10 di bulan Muharam, hari yang memiliki keistimewaan luar biasa bagi umat Islam. Kata ini, terdapat dua pandangan dalam membacanya; ada yang membaca عاشوراء (setelah huruf Ain terdapat alif) ada pula yang membaca عشوراء dengan membuang huruf alifnya (pendek). Namun, yang pendapat pertama lebih masyhur.

Kata ini, merupakan kata yang langka bila dicari derivasinya, karena dalam beberapa kamus Arab tidak ditemukan kecuali hanya sebuah nama dan urutan hari di Bulan Muharram. Kita tidak mendapati kata Sabua’ (سابوعاء) yang berarti tujuh, bila kata Asyura’ menjadi kata masyhur untuk sebuah angka. Juga bila kita merujuk pada wazan fa’ula’. Karena tidak semua angka dapat dirubah menjadi wazan tersebut.

Setelah membaca beberapa refrensi, ternyata Asyura berasal dari bahasa Arab kuno, bukan dari bahasa Ibrani atau Bahasa lainnya. Ulama ahli bahasa Arab, berbeda pendapat terkait asal penamaan kata tersebut, demikian juga asal dari derivasinya. Ada yang menyebutkan ia berasal dari turunan atau derivasi (isytiqaq) al-‘Asyr (العَشر).

Namun menurut al-Qurtuby, Asyura adalah bentuk perubahan (ma’dul) dari al-Asyir (العاشرة) sebagai sifat yang mulia dan penuh keagungan dari malam ke-10 Muharam. Bila kita menyebut Asyura, maka seperti kita mengatakan “yaum al-lailah al-asyirah”, kata “yaum” disandarkan pada al-lailah, dan kata “Asyura” sudah menjadi nama sendiri.

Ada pula yang menyebutkan, ia berasal dari ‘Isyr (العِشر) sebagaimana orang Arab sering menyebutkan dalam kalimat وردت الابل عشرا إذا وردت يوم التاسع.

Pada awal Islam muncul beberapa kata seperti al-Hadusya’ (الحادوشاء), sedangkan al-Hadusya sendiri sudah muncul pada masa-masa sebelumnya, dan yang seperti Hadusya’ adalah al-Asyura dan al-Tasyu’a. Ini disepakati oleh al-Khalil bahwa Asyu’ra dengan wazan fa’ula’ (فاعولاء) berasal dari bahasa Ibrani, karena wazan (bentuk) ini tidak biasa dalam bahasa Arab, dan hanya kata Asyura yang berwazan tersebut.

Dalam Majma’ al-Lughah al-Arabiyah al-Iftirady Kata Asyura adalah derivasi dari Asyra (العشرة) dengan pola Fa’ula’ (فاعولاء) sedangkan “hamzah” yang ada dalam kata Asyura adalah penanda jenis untuk perempuan (للتانيث), dan dirubah dari bentuk al-Asyir (العاشر) yang berfungsi untuk pleonastis (للمبالغة) dan pengagungan (للتعظيم). Kata ini sebenarnya adalah kata sifat dari Malam Asyura’ (اليلة العاشرة) sebagaimana pendapat Al-Qurtubi di atas.

Kata ini tidak dikenal pada masa Jahiliah atau sebelumnya, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Duraid, dan menurut Ibnu Qutaibah dalam Adab al-Katib tidak ada wazan Fa’ula’ (فاعولاء) kecuali kata “’Asyura’.

Sedangkan kata “Tasu’a’ (تاسوعاء)” diqiyaskan kepada kata “Asyura’” demikian pendapat Fayumi dalam Kitab Al-Mishbah, sedangkan menurut al-Jauhari, Al-Sha’ghani, dan Fairuzabadi kata tersebut adalah muwallad.
Sedangkan beberapa ulama lughah tidak sepakat terhadap anggapan hanya kata Asyura’ yang merupakan wazan Fa’ula’ dalam Bahasa Arab, kemudian beberapa ulama mencontohkan kata-kata lain seperti;ساموعاء (daging),خابوراء (sungai), الضاروراء والساروراء (kesulitan dan kemudahan) dan juga nama tempat seperti; حاضوراء dan رانوناء yang seperti Asyura’.

Terkait dengan hari Asyura itu sendiri, apakah ia tanggal ke-9, atau ke-10 atau ke-11 di Bulan Muharam? Sahabat, Tabi’in dan ulama berbeda pendapat terkait hal tersebut.

Menurut Jumhur ulama Asyura adalah tanggal 10 di bulan Muharam. Mereka yang berpendapat ini dari kalangan Sahabat ada Sayyidah Aisyah dan dari kalangan Tabi’in ada Said bin al-Musayyab dan al-Hasan al-Basri, dari kalangan imam mazhab ada Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ishaq, dan para pengikutnya. Sedangkan yang berpendapat Al-Syura’ adalah hari ke-9 adalah Ibnu ‘Abbas, demikian juga dalam Al-Musannif dari Al-Dhahak.

Beberapa Sahabat juga berbeda pendapat, bahwa Asyura adalah tanggal 09, 10 dan 11. Dalam Tafsir al-laist Samarqandi Asyura tanggal 11, ada pula yang berbendapat, Asyura adalah tanggal 9 dan 10, ada pula yang berpendapat tiga hari adalah hari Asyura’ sebagaimana dalam ‘Madatul al-Qoriy Syarh Shahih Al-Bukhari dalam Bab Kitab Shiyam al-Asyura’.

Kekayaan kata ini, dan banyaknya pendapat terkait hari Asyura’ adalah bukti bahwa Asyura’ adalah hari yang sangat istimewa, dan sangat disunahkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan sebagaimana dalam hadis dan aqwal ulama.

***
Repost Alif.Id 2019

****
Kajian-kajian Al-Qur'an, Mu'jizat Al-Quran, Balaghah, Sasta Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya.

🌎 www.halimizuhdy com
🎞️ YouTube; Lil Jamik
📲  Facebook; Halimi Zuhdy
📷 Instagram;Halimizuhdy3011
🐦 Twitter; Halimi Zuhdy 
🗜️ Tiktok ; ibnuzuhdy

Kamis, 04 Agustus 2022

Hanya Gelar, Kok Marah!

Halimi Zuhdy

Seorang teman lupa mengucapkan kata "Pak Haji" ketika menjadi MC dalam suatu acara yang digelar oleh salah seorang tokoh masyarakat. Setelah acara selesai, pak haji tersebut menegur si MC dengan cukup keras. 

Ternyata, itu tidak hanya terjadi pada Pak Haji, yang berada di masyarakat umum. Tapi, juga sering terjadi di kalangan akademisi (oknum). Pernah seorang profesor marah besar, ketika seorang mahasiswa lupa membubuhkan gelar "prof" sebelum namanya. Bahkan, hampir-hampir tidak lulus kuliahnya. Pernah juga mahasiswa mengadu, bahwa pesan di hpnya tidak dibuka beberapa bulan, karena lupa membubuhkan gelar "Dr" di depan namanya. "Untuk memperoleh gelar ini mahal lo mas, kok kamu tidak mencantumkan!". 
Tidak hanya di "masyarakat" umum dan di kalangan "akademisi" (oknum lo ya), juga pernah terjadi di kalangan tokoh agama, yang namanya tidak diawali dengan Romo, Kyai, Tuan Guru, Ajengan, tengku, Buya, Gus, Bu Nyai, Neng, Lora, Kaeh, Syekh dan atau sebutan lainnya. Mereka marah besar dengan berbagai ekspresinya. 

Ternyata tidak hanya gelar, titel, julukan, atau sebutan di atas yang mendatangkan amarah kalau tidak dicantumkan atau tidak disebutkan. Tapi, bagi yang memangku jabatan juga marah (oknum lo ya), seperti Pak Menteri, Pak Gubernur, Pak Camat, Pak Kades, Pak RW, Pak RT dan Pak-Pak yang lain.

Gelar, jabatan, titel, atau sebutan apa pun bukan tidak penting dan bukan hal yang sepele, tetapi bila hanya ada kesalahan atau lupa menyebutkan kemudian marah besar itu tidak pada tempatnya, apalagi yang marah adalah yang bersangkutan. Bukankah kalau tidak disebut "pak haji" tetaplah ia seorang haji? Apalagi ia bukan sebuah gelar, ia hanyalah pengingat padaNya. Disebut haji atau tidak, tidak akan merubah amal ibadah kepadaNya. 

Bagaimana dengan "Prof, Dr, Magister, Sarjana" sama saja,  tidak harus marah besar, cukup mengingatkan kalau lupa seseorang lupa menyebutkannha (itu pun kalau ada keharusan untuk disebutkan), kalau tidak?! Maka, tidak elok bila marah. Bukankah seorang ilmuan yang sesungguhnya adalah mereka yang punya kompetensi dalam keilmuannya?!. Bukan karena gelar atau sebutan. Karena tidak sedikit oknum yang membeli gelar, dan kemudian dicantumkan di depannya?!. 

Juga lagi marak sebutan kyai, gus, ajengan, tuan guru, dan buya walau secara keilmuan (agama) belum "pantas" untuk itu. Tapi, kalau tidak disebut dengan gelar di atas, mereka muring-muring. Bahkan sekarang mudah sekali menyebut gelar-gelar yang belum "maqam"nya. Dan  mencantumkan sendiri gelar di depan namanya.

Biarlah ia berjalan dengan sendirinya. Tidak terlalu bangga dengan berbagai sebutan yang dikalungkan, dan tidak terlalu sedih bila diletakkan. Apalagi sampai marah memerah, bila kata-kata indah tidak dilabelkan. Sesungguhnya gelar "hamba Allah" yang paling pantas untuk direbutkan.

“Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” (Al-Qur'an).

Peristiwa di atas hanyalah oknum lo ya. Tidak boleh baper, apalagi marah. Masih banyak dan lebih banyak yang tidak marah, kalau gelar namanya "lupa"  disebutkan.

Tetapi, kita wajib menghormati seseorang dengan segala jabatan dan segala gelar yang dimilikinya, dan menyebut gelar yang dimilikinya bagian dari menghortinya. 

***

"Gelar yang sesungguhnya, bila ia benar-benar sesuai dengan gelarnya, kalau profesor maka bagaimana ia menjadi sumber keilmuan dan memproduksi ilmu pengetahuan, sebagai pelaku bukan lagi hanya sebagai penikmat" pesan Prof Muhammad Zainuddin  (Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).

Selasa, 02 Agustus 2022

Cara Mendeteksi Orang Baik atau Buruk


Halimi Zuhdy

Cara mendeteksi seseorang apakah ia orang baik atau tidak, sangat mudah sekali ditebak. Untuk mengetahuinya tidak harus ke tukang ramal, dukun, apalagi ke tukang santet. Atau mendatangi tukang  terawang yang melibatkan jin atau gendruwo. Cukup lihat apa yang dikatakan, sorot matanya, dan tentu saja perilakunya.
Mudahnya begini; lihatlah bagaimana ia membicarakan orang lain padamu, jika membicarakan kejelekan seseorang, maka dirinya tidak jauh dari apa yang dibicarakan. Kalau yang ia hadirkan kebaikan orang lain padamu, maka ia orang baik. Karena tidak mungkin air mengeluarkan bara, dan panas memuntahkan air. Pula, seperti orang menunjuk pada orang lain, maka jari jempolnya adalah dirinya".

Sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi'i;

‏ومَن نقَل إليك نقَل عَنك

“Barangsiapa yang mengabarkan kejelekan orang lain kepadamu, maka ia akan melakukan hal yang sama padamu (akan mengabarkan kejelekanmu kepada orang lain)”

Hanya terkadang cari kesempatan saja kapan ia menusuk. Kalau sudah ada kesempatan yang menguntungkan dirinya, maka ia akan menusuk dengan indahnya. 

Tapi, harus lihat-lihat dulu. Seberapa sering ia datang mengghibah orang lain padamu, kalau hanya sesekali dan sepertinya ada indikasi benar, maka tidak cukup menilainya sebegai orang tidak baik. Karena berita buruk, tidak selamanya benar-benar buruk, bisa saja ada kebaikan di dalamnya. 

Kalau ada orang datang membicarakan kejelekan saudaranya, temannya, atau sahabatnya, maka hati-hati bisa saja ia lagi iri atau dengki pada mereka. Atau ia sengaja melihat responmu!?. Bila bersepakat atas kejelekannya, maka suatu saat pembicaraanmu akan direkam dalam pikirannya, dan akan dikabarkan padanya. 

Allahu'alam bishawab.

Senin, 01 Agustus 2022

Asal Kata Nisa' dalam Bahasa Arab


(Pengapa Perempuan disebut Nisa?") 

Halimi Zuhdy

"Ustadz, apa arti nama saya?" tanya seorang perempuan dengan wajah menunduk

"Nama jenengan siapa?" saya tanya balik, karena wajahnya tampak asing, demikian juga dengan suaranya.
"Nama saya Nisa', lengkapnya Nisaul Kamilah" perempuan itu menjawab dengan malu-malu.

"Oh, mbak Nisa'. Artinya Nisa' itu modern, bisa juga terbelakang, atau terlambat!" Saya jawab seadanya.

Mbak ini kagetnya luar biasa. Sepertinya ia sudah tahu arti dari namanya sendiri, tapi ia hanya ingin memastikan arti namanya. Nisa'. Sepertinya kaget karena diartikan dengan terbelakang, atau terlambat.

Nama Nisa' sangat masyhur di Indonesia. Nama ini diartikan dengan "perempuan" atau "wanita". Kalau namanya "Nisaul Kamilah" maka artinya perempuan yang sempurna. 

Nisa' (النساء) adalah kata jamak dari kata tunggal yang berbeda bentuk yaitu mar'atun (مرأة). Ada pula yang berpendapat, kata nisa' tidak punya kata tunggal, karena berbeda antara tunggal dan jamaknya. Dan kata mar'atun tidak punya jamak. Inilah keunikan perempuan dalam bahasa Arab. Dari kata-katanya saja sudah unik, bagaimana dengan makhluk Allah yang istimewa ini, perempuan.

Terus apa arti "Nisa'" secara bahasa?. Kalau hamzah yang ada pada kata Nisa' itu asli (nun-sin-hamzah), maka bermakna telat, terlambat, atau kekinian (التأخير).

Seperti "nasa'at al-mar'atu" (perempuan telat atau terlambat). Atau Nasa'at   (mengakhirkan).

 الشيء ينسؤه نسأً وأنسأه: أخره، فعل وأفعل بمعنىً، والاسم النسيئة والنسيء. 
Mengapa perempuan dinamakan dengan Nisa' (telat, terlambat, akhir)? Di antara pendapat yang mengartikan dengan terlambat, karena seorang perempuan bila terlambat, maka sebuah tanda kehamilan. Dan juga ada yang mengartikan dengan arti "lupa" yang diambil dari kata nisyan (النسيان), tetapi ada pula yang merujuk pada arti lainnya. 

Tetapi, secara istilah kata nisa' atau niswah adalah bermakna "perempuan" yaitu sebagai jamak dari kata mar'atu (مرأة) dan niswatu (نسوة). Dan tidak banyak dikulik secara bahasanya dan arti asalnya. Berbeda dengan kata "perempuan" yang berasal dari kata "per" dan "empu" dan "an". Per diartikan dengan makhluk, empu adalah mulia, mahir dan tuan, sedangkan "an" adalah ziyadah. Maka, perempuan adalah makhluk yang mulia.

Akhiran: Nisa' adalah jamak dari kata mar'atun, jamak yang berbeda secara lafadh (kata). 

***
Bagaimana dengan asal kata Mar'ah (المرأة)? apakah benar kata Mar'ah dari Mir'ah (cermin)? Penjelasan ini dapat dibaca di kolom komentar. (Halimi zuhdy, NuOnline)

Sabtu, 30 Juli 2022

Asal Kata Haram, Harim, Muharram

Mengapa dinamakan Bulan Muharram? Apanya yang haram, dan apa yang diharamkan?

Apa hakekat arti haram sampai menjadi nama sebuah bulan tersebut, dan mengapa bulan itu dimuliakan, sedangkan maknanya adalah haram!?

Apa kaitannya kata haram dengan kata haram lainnya, seperti masjid haram, takbir ihram, hukum haram, dan haram-haram lainnya, dan bagaimana pula dengan kata harim?
Haram secara bahasa adalah adalah terlarang, terhalang, terjegah. Dan setiap kata yang terdiri dari kata ha ra ma (ح ر م), maka memiliki arti yang sama, atau merujuk pada makna terhalang. Seperti kata mahram yang bermakna tidak boleh dinikahi atau terhalang. Muhrim orang yang sedang ihram (dilarang melakukan sesuatu yang diharamkan, memakai pakaian yang berjahit, potong rambut dan lainnya). 

Al-Haram Al-Makky (الحرم المكي), atau masjid haram, bukan masjidnya yang haram, tetapi masjid yang suci, mulia, maka dilarang melakukan sesuatu yang haram (menyebabkan dosa) di tempat tersebut. 

Harim bermakna terjaga, terpelihara, terlarang. Dan istilah ini sering dikenal dengan seorang istri. Dan kata ini juga bermakna terbatas, terhalang, dan terhormat. Yaitu perempuan yang dilarang untuk disentuh. Bagaimana dengan harem? 

Kata-kata yang memiliki derivasi yang sama dengan haram adalah beberapa kata berikut; hirman, hurmah, muhrim, mahram, ihram, haram al-jamiah, hurum, harami, haramain, muharram, dan kata-kata lainnya. 

Terkait dengan mengapa dinamakan bulan Muharram, maka dapat disimak di vedio berikut (kolom dikomentar)..

Selasa, 26 Juli 2022

Dua Guru yang Sudah Guru Besar

(Prof. Wildana & Prof. Abd Hamid

Halimi Zuhdy

Kok bukan dosen besar, tapi guru besar?, Guru kan di sekolah/madrasah, kalau dosen di perguruan tinggi?. "Enaknya Dosen Besar", tanya kolega saya di UIN Malang sambil tersenyum. 

Guru itu adalah pendidik yang tidak mengenal tempat dan waktu. Seperti guru ngaji, bisa mendidik  di mushalla, masjid, madrasah atau di mana pun, dan kapan pun bisa mengajar ngaji. Ada pula guru bangsa dan guru-guru lainnya. Guru, dari dua suku kata "gu" dan "ru", kata ini berasal dari bahasa Sangsekerta, "gu" bermakna gelap, sedangkan "ru" bermakna sebaliknya, yaitu terang. Guru secara harfiyah adalah seseorang yang menunjukkan pada jalan yang terang dan menghancurkan kegelapan. Atau membimbing dari yang gelap menuju terang. 
Guru Besar menjadi sesuatu istimewa. Memiliki tugas besar dan berat. Tidak hanya bertambah kata besar, tetapi ia sebuah amanah untuk membawa kepada sesuatu yang baik, bahkan terbaik. Guru Besar tidak hanya menyibak yang gelap menjadi terang, tetapi bagaimana terang yang mampu memberikan cahaya yang memantulkan cahaya. Maka, ia harus selalu berusaha menjadi sumber referensi keilmuan. Itu mungkin guru besar.he.

Dua guru saya sejak ketika saya duduk di bangku sarjana sampai magister, Prof. Dr. Wildana Wargadinata, Lc, M.Ag dan Prof. Dr. Abdul Hamid, MA, detik ini dikukuhkan menjadi Guru Besar. Prof Wildan Guru Besar dalam bidang Studi Islam dari Prodi Bsa Uin Malang  Fakultas Humaniora dan Prof Hamid Guru Besar dalam bidang Ilmu Bahasa Arab Prodi PBA FITK UIN Malang. 

Tema-tema yang diangkat sangat menarik, Prof Wildana "Al-Shalawat wa al-Mada'ih an-Nabawiyah; Al-Taqalid wa al-Hawwul al-Wadhifi" beliau mengkaji shalawat dalam tradisi dan transformasi fungsi. Sedangkan Prof Abdul Hamid, " An-Nahwu wa Siyasah; Dirasah 'an al-Iktilafat an-Nahwiyah baina Mudarris al-Bashrah wa al-Kufa". Mengkaji tentang nahwu dan politik, perbedaan antara Kufah dan Basrah.

Sosok Prof Wildana yang kalem, tapi kalau sudah berbicara seperti membakar. Membakar orang-orang yang menyimak apa yang dikatakannya. Setiap bertemu beliau, selalu memberikan motivasi, menyelipkan kata-kata lucu, sesekali lucunya terlambat, tetapi tiba-tiba suasana menjadi riuh. Asyik.   

Tulisan beliau di awal-awal saya kuliah banyak mengkaji tentang  sejarah Sastra Arab pada masa jahiliah sampai kontemporer, dan ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar juga tidak jauh dari kesusastraan Arab yang beliau tekuni yaitu mengkaji tentang salawat dan madah. Beliau kupas tentang makna shalawat dan sejarah shalawat di Indonesia, serta perbedaan antara shalawat dan madah. 

"Pujian untuk orang yang sudah meninggal dunia itu sering disebut ratsa', tetapi pujian pada Nabi walau sudah meninggal tidak dikatakan Al-Ratsaiyyat tapi Madah, mengapa?". Selengkapanya dapat disimak di risalah pengukuhan guru besar hari ini. 

**"
Prof Hamid adalah Guru Besar UIN Malang yang beberapa menit yang lalu telah dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Bahasa Arab di Aula Ir. Sukarno UIN Malang.

"Semangat itu tidak cukup, maka harus kreatif" sesekali beliau memberikan semangat untuk terus bergerak dan maju. Tapi, semangat tanpa kreatifitas hanya akan berakhir pada semangat saja, alias capek. Dengan kreatifitas itulah beliu bersama TIM membuat buku bahasa Arab "Al-Arabiyah Lil Hayah", buku yang menjadi pegangan mahasiswa awal dalam belajar bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dan dari tangan kreatifitasnya pula, muncul beberapa aplikasi, di antaranya adalah aplikasi online yang diberi nama HATI (Hayat Al-Arabiyah). 

Prof Hamid dalam risalah pengukuhannya, menyinggung tentang perbedaan nahwu (gramatikal bahasa Arab) dan politik. Politik kekuasaan. Dan juga beliau menyinggung tentang implikasi nahwu dan  politik ini pada pembelajaran bahasa Arab. 

Selamat kepada Prof Wildana Wargadinata dan Prof M Abdul Hamid atas raihan gelar Guru Besar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Senin, 25 Juli 2022

Asal Usul Kata Tetangga


Halimi Zuhdy

Mengkaji asal usul kata butuh banyak referensi, terutama beberapa mu'jam (kamus) yang terkait dengan bahasa yang digunakan, dan beberapa mu'jam yang disinyalir dari suatu kata yang diserap oleh bahasa tertentu.
Sebelum mengkaji kata tetangga yang berasal dari kata "tangga" dengan awalan "te", maka menarik bila kita melihat bahasa lainnya yang diterjemah dengan arti tetangga. Misalnya bahasa Arab. Dalam bahasa Arab  tetangga adalah kata Al-Jar (الجار). Al-jar adalah sesuatu yang berada di dekat sesuatu, berdampingan, dekat, bersebelahan atau berbatasan (المجاور). 

Dan yang menarik, kata Jiwar (جوار) sangat dekat dengan kata Jidar (جدار) yang bermakna tembok. Bila huruf Dal-nya dibuang, maka menjadi "Jar". Maka, tetangga adalah yang menempel di tembok. Hal ini, sebagaimana pendapat bahwa tetangga (جار) adalah yang menempel (الملاصقة) dengan tempat tinggal. 

Sebagaimana Adab al-Jiran;
الجار: من يقرب مسكنه منك. والمعنى الاصطلاحي للجوار هو: الملاصقة في السكن حد الجوار: جاء عن علي عنه: «من سمع النداء فهو جار»، وقيل: «من صلى معك صلاة الصبح في المسجد فهو جار»، وعن عائشة رضي الله عنها: «حد الجوار أربعون دارًا من كل جانب»

Kata Jar, secara makanya memiliki makna yang luas (berkembang); barang siapa yang mendengar panggilan (suara), maka termasuk tetangga. Ada juga yang berpendapat, orang yang shalat shubuh bersama seseorang di masjid, maka masuk katagori tetangga. Pendapat lainnya, tetangga adalah 40 rumah dari berbagai sisinya, barat, timur, depan dan belakang.

Kata Jiran yang sering kita dengar dengan Negeri Jiran (Malaysia), adalah berasal dari bahasa Arab, yang bermakna tetangga. Maka Negeri Jiran adalah negeri tetangganya Indonesia, yaitu Malaysia.he. Jiran (جيران) jamak dari jar.

Lah, bagaimana dengan kata "tetangga" dalam bahasa Indonesia?. Dalam qoura asal tetangga ialah (orang yang tinggal di rumah dengan) tangga. Tetangga bermakna orang-orang yang tinggal berdekatan. Kata te, bukan bentuk jamak seperti tetamu, atau lelaki (laki-laki) dengan bentuk ulangan suku awal dari suatu kata asal.

Kata asal tangga, bila dihubungkan dengan kata lain, maka memiliki bentuk lainnya, seperti tangga nada, tangga sosial, tangga karir, tangga berjalan dan lainnya. Tetapi, tangga lebih dekat pada arti tumpuan untuk naik turun, juga pada tingkatan.

Tetangga yaitu rumah yang dekat dengan tangga. Dulu, di beberapa wilayah, rumah itu bertangga atau dikenal dengan rumah panggung. Dan rumah panggung ini sangat penting sekali untuk menyelamatkan dari binatang buas, banjir, dan lainnya. Saya tidak tahu banyak, mengapa disebut dengan tetangga selain dari hal di atas. Mungkin juga rumah dahulu saling berdekatan tangganya antara satu dengan yang lainnya, atau tangga-tangga yang ada digunakan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan, terutama tempat tinggal. Dan  kata ini juga dekat dengan rumah tangga, tempat tinggal yang ditinggali oleh suami-istri dan juga anak-anak. 

Tetangga dalam Islam sangat penting untuk diperhatikan, bahkan dalam sebuah riwayat saking pentingnya tetangga seakan-akan ia berhak untuk diberi warisan. Dan juga ada riwayat lain, seseorang yang rajin shalat malam, dan siangnya puasa, dan ahli sedekah, tetapi menyakiti tetangga (tidak bisa menjaga lisannya), maka ia termasuk penduduk neraka. Tetapi, walau ia shalat lima waktu dan bersedekah gandum (saja) ia termasuk ahli surga bila ia menjaga lisannya (tidak menyakiti tetangga). 

Betapa tetangga itu, bagian dari tangga menuju surganya Allah, bila menjaga diri untuk tidak menyakiti tetangga baik secara fisik atau psikis. Dan menjaga diri dari membicarakan kejelekan tetangga. Tetangga adalah rumah yang paling dekat dengan tempat tinggal kita, maka tidak hanya dekat secara fisik, tapi juga dekat di dalam hati.

Malang, 25 Juli 2022

***
Foto diambil dari Aban Online

Sabtu, 23 Juli 2022

Asal Muasal Kata Sate


Halimi Zuhdy

Sate termasuk makanan favorit di Nusantara. Dan bisa dipastikan insan di Indonesia pernah melihat benda ini, mungkin juga pernah mencicipinya. 
Ada yang tanya tentang asal kata sate, saya iseng saja menjawab bahwa kata "sate" itu dari Arab. Ia marah, masak semuanya dari Arab. "Kopi dari Arab, spageti dari Arab, sirup dari Arab, kok dari Arab semuanya..!! ngawur".

Tidak selesai di situ marahnya. Ia seperti anti semit, bahkan ketika kata Arab disebut wajahnya memerah. "Abu Jahal Arab lo pak!!" Katanya, "ia benar Abu Jahal dari Arab, dan Abu Janda dari Indonesia", ia tambah marah. Apa salah saya, kan kata janda dari Indonesia, tapi Abu-nya dari Arab.wkwkw.

Ia muring-muring, karena saya bilang makanan ini dan itu dari Arab. Sebenarnya, makanan itu bisa dilacak dari namanya dan dari mana asalnya. Setiap nama bisa dilacak sejarah bahasanya, misalnya kata pecel. Sayuran yang dipecel, diperas. Dan kata pecel ini berasal dari Jawa.

Dan setiap makanan pasti ada asal muasalnya. Bisa dilacak dari materi-materinya (bahan-bahan), dan setiap kata atau huruf yang digunakannya juga berasal dari bahasa setempat.

Toyyib. Kembali pada kata sate. Ada yang menyebutnya kata sate berasal dari bahasa Tamil, ada pula yang mengatakan dari bahasa Tionghoa Sa Tae Bak (tiga potong daging), dari kedua pendapat ini, pendapat kedua diragukan karena nyatanya sate terdiri dari empat potong daging serta angkat tiga bukan angka keberuntungan menurut kepercayaan mereka. 

Ada pula yang mengatakan, kata sate ini dari Satah. Satah adalah murid dari Sunan Maulana Malik Ibrahim. Karena banyak yang suka dengan daging yang dimasah oleh Satah. Maka masyurlah makanan atau olahan Satah ini, "masakan satah!!". Tapi, lama kelamaan berubah menjadi sate. Entah kenapa. Menurut teori ini, sate asli berasal dari Nusantara. Bukan dari negara lainnya. Made in Nusantara. (Tirto.Id)

Ketika saya masih duduk di kelas 2 Mts, guru pernah bercerita bahwa sate itu berasal dari Arab. Ia berasal dari kata syatun (شاة). Syatun dalam bahasa Arab bermakna kambing. Apa hubungan syatun dan sate? Hubungannya bahwa sate kebanyakan dari daging kambing. Maka, orang Arab menyebutnya syate, sedangkan orang Indoensia menyebut sate, yaitu daging kambing yang dipanggang atau dibakar. Tetapi, ini butuh penguatan maraji' yang kuat. 

Dan apakah ada sate di Arab?. Lah, ini yang perlu dipertanyakan. Kalau secara nama mungkin bisa diterima, tetapi kalau asal usulnya perlu diverifikasi lagi. Mungkin yang paling masuk akal, berasal dari bahasa Tamil atau Arab, tetapi materi/bahannya atau kemunculannya asli Nusantara, ketika mereka datang ke Indonesia mereka menyebutnya Satai (sate) atau Syate (sate). 

Kediri, 24 Juli 2022

***
Terima kasih atas traktirannya Prof Arafikmuh

Kamis, 21 Juli 2022

Nabi Muhammad Khalilullah

(Asal Kata Khalil)

Halimi Zuhdy

Apa sih makna khalil (خليل)? Pertanyaan ini sering ditanyakan seseorang setelah akrab dengan kata habib (kekasih), dan selanjutnya mempertanyakan perbedaan antara kata habib dan khalil. 

Dan kemudian, ia menyatakan bahwa kata habib lebih tinggi dari khalil. Benarkah? Dan terkadang pula, sebutan khalilullah (kekasih Allah) hanya ia sandangkan pada Nabi Ibrahim Aalaihissalam. 

Mari kita perhatikan kata ini, kata khalil berasal dari kata khullah (خلة), yaitu cinta yang merasuki pada setiap relung, setiap sendi, setiap tempat seseorang yang dicintai, dan tidak menyisakan tempat sedikitpun di dalamnya, kecuali hanya cinta. Setiap sudutnya dipenuhi dengan cinta, tak lagi ada sisa (suthur).

إنّ الخلّة هي المحبة التي تخلّلت روح المحبوب فلم يبقَ لغيره مكانٌ فيه. 

Berbeda dengan mahambah, masih ada ruang-ruang lain yang bisa diisi dengan lainnya. Ketika kita mencinta ibu, masih ada ruang lain untuk mencintai istri, selain keduanya masih ada ruang lain untuk dicintai, yaitu anak. Dan seterusnya. Sedangkan khalil, tak lagi ada sisa ruang untuk dimasuki cinta, bukan tidak boleh, tetapi sudah takhallalat (setiap tempatnya sudah dirasuki cinta). Dipenuhi cinta. 

Sungguh indah kata ini. Bukankah hanya Nabi Ibrahim Khalilullah?,. Tidak lah. Nabi Muhammad SAW, juga adalah khalilullah. Dua Nabi adalah khalilullah. Pernyataan dan sebutan ini disampaikan sendiri oleh Sang Teladan sepanjang masa. 

فإنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كما اتَّخَذَ إبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

"Sungguh Allah menjadikanku seorang khalil sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim khalil (kekasih)". 

Hadis ini sebuah jawaban, bahwa Nabi Muhammad adalah Khalilullah. Dan derajat khalil ini lebih tinggi dari kata hubb/mahabbah. (Syarh Thahawiyah, Maktabah Syamilah), mengapa? Karena khullah atau khalil sudah tidak menyisakan lagi cinta untuk lainnya, dan juga khullah tak lagi ada sekutu (fala syirkah fi mahabbah) untuk orang lain. Khalil puncak dari derajat cinta (mahabbah). 

فإن النبي صلى الله عليه وسلم خليل رب العالمين، والخلة مرتبة أعلى من المحبة، فالخلة هي الغاية والمنتهى في مراتب المحبة، والخلة أخص من مطلق المحبة وتخصيصها 

Mengapa Nabi Ibrahim dijuluki khalilullah (kekasih Allah), demikian juga Rasulullah shallalahu alaihi menyebutnya sebagai khalilullah? Menurut Ibnu Katsir radhiyallahu'anhu, berkata: karena Allah sangat cinta padanya (لشدة محبة ربه له), karena ketaatan yang dilakukannya pada Allah atas cintai dan ridha. Belum lagi karena kepatuhannya rela mengorbankan semuanya, walau benar-benar dalam keadaan sulit. Dan beberapa alasan lainnya. 

Nabiyuna Muhammad saw adalah habibullah, khalilullah, dan sifat-sifat yang mulia dan indah lainnya yang telah termaktub tidak hanya dalam kitab-kitab tetapi dalam setiap sejarah kehidupan manusia.
***
Terkait dengan asal kata khalil ada banyak pendapat, selain pendapat di atas, ada pula yang berpendapat bahwa arti khalil adalah al-faqr (butuh, fakir), ia hanya butuh Allah, tidak lainnya. Demikian juga mengapa Ibrahim dinamakan Khalilullah ada banyak pendapat tentang ini. Allahu'alam bishawab.

#Ibrahim Khalilullah #Muhammad Habibullah 
Nabi Muhammad Habibullah, Ibrahim Khalilullah

Jumat, 15 Juli 2022

Racun Pandangan Mata menurut Dr. Zaghlul An-Najjar

Al-I'jaz Al-Ilmy dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah)

Halimi Zuhdy

Setelah saya membaca beberapa tafsir Ayat 30 Surat An-Nur tentang menjaga pandangan (ghadd al-bashar). Maka, saya tertarik membaca kajian Kitab Al-I'jaz al-ilmi karya Syekh Dr. Zaghlul An-Najjar  terkait pandangan mata, yang kemudian dibuat ". 
Tulisan ini melanjutkan kajian tentang menahan nafsu binal, yang penulis tulis kemarin. Pertama beliau mengutip tentang Ayat yang menjadi kajian ini yaitu;

{قُل لِّلۡمُؤۡمِنِینَ یَغُضُّوا۟ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِمۡ وَیَحۡفَظُوا۟ فُرُوجَهُمۡۚ ذَ ٰ⁠لِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا یَصۡنَعُونَ 

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Azka menurut mayoritas ulama adalah lebih bermanfaat, lebih baik dan dapat membersihkan diri dan hati.

Kemudian Dr. Zaghlul mengutip hadis Nabi tentang pandangan mata itu adalah bagian dari racun iblis yang dilesatkan pada diri seseorang. Bila, seseorang itu mampu menahan pandangannya, maka ia akan mewariskan rasa manis atau indah dalam hatinya.

Menurutnya, jika anak panah itu sudah menancap ke dalam tubuh seseorang, maka akan menimbulkan luka (jarh), dan dapat merusak tempat tertentu dalam tubuh. Dan tidak hanya itu, apabila anak panah dibumbui, maka racun tersebut akan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan akan merusak.

Rasulullah SAW pada 14 abad yang lalu sudah menunjukkan bahaya tatapan yang mengikuti tatapan berikutnya (النظرة الثانية). Maka, hal tersebut seperti menekan pelatuk yang dimulai dengan serangkaian interaksi dan sekresi hormon seksual yang kompleks yang berdampak pada setiap organ, bahkan pada setiap sel. Dan tubuhnya siap melakukan hubungan seksual, dan ia terkadang harus melakukannya (I'jaz ilmi, Za'lul)

Dan dari proses keinginan yang membuncah untuk melakukan hubungan sek itu terus berlangsung hingga waktu-waktu tertentu, tetapi jika hormon-hormon tersebut terus dikeluarkan di dalam tubuh tanpa menurunkan muatannya (tidak melakukan hubungan sek), maka akan menyebabkan komplikasi serius dalam tubuh.

Selanjutnya Prof Misbah menyinggung sebuah hasil penelitian yang dilakukan 20 tahun yang lalu, bahwa hormon-hormon tersebut mengalir di pembuluh darah, dan terus menyebar di tubuh seseorang yang memandang (membuka mata) setiap hari, memandang terhadap sesuatu yang dilarang oleh Allah. 

Jadi apa yang terjadi?

Pertama, munculnya bau yang sangat busuk dari ketiak dan kaki, sebagai efek siklus racun tersebut yang terus menjalar di dalam tubuh seseorang sepanjang hari akibat mata yang tidak terkontrol, menikmati majalah sek, adegan seks, film porno, dan pada akhirnya mengarah pada siklus hormon-hormon tersebut sepanjang hari, meningkatkan kuantitasnya dan memperluas sirkulasinya di dalam tubuh. Prof Misbah menambahkan, bahwa hormon seks yang berlebihan dianggap sebagai racun, jika melebihi jumlah yang ditentukan, serta jika sekresinya dalam tubuh melebar dan meluas sepanjang hari.

Kedua, pembukaan kelenjar keringat dan sebaceous yang melebar di tumit, bagian bawah kaki dan di punggung, dan hal tersebut dapat menyebabkan penyakit wasir.

Dan perluasan lubang sebaceous menyebabkan jerawat dari siklus hormonal tersebut. Hormon seks yang beracun, dan mengiritasinya lebih dari rata-rata, maka akan menyebabkan migrain (الصداع النصفي), yang belum ada obatnya saat ini. 

Dan yang menakutkan, menurut beliau adalah nyeri sendi, sendi lutut dan pinggul. Dan tampaknya hormon ini mengurangi kekentalan cairan di antara tulang-tulang yang ada dalam tubuh. Dan hal tersebut menyebabkan pengeringan cairan dan kemudian gesekan tulang, dan pada akhirnya nyeri sendi (sakit parah) yang tak tertahankan.

Sedangkan jantung dan pembuluh darah, akibat dari hormon-hormon ini dalam tubuh menyebabkan penurunan detak jantung dan memperlambat sirkulasi darah.

Maka, kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa Nabi SAW sudah memperingatkan pada umatnya mulai beberapa abad yang lalu, bahwa betapa menjaga pandangan itu dapat memberikan banyak manfaat terutama pada kesehatan, tetapi sebaliknya bila tidak mampu menjaganya, maka tidak hanya ditimpa beberapa penyakit, tetapi selain mendapatkan dosa juga hati yang resah, gundah, dan pikiran yang kacau.

Mudah-mudahan kita dapat menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang oleh agama. 

Yogyakarta, 15 Juli 2022

Gambar diambil dari teb21.Com

Kamis, 14 Juli 2022

Mengendalikan Nafsu Binal

Halimi Zuhdy

Ngeri membaca beberapa berita akhir-akhir ini. Setiap hari disuguhi berita tentang pelecehan seksual, pencabulan, perzinahan, perselingkuhan, percintaan, kumpul kebo dan kalimat-kalimat lainnya yang mengarah pada pertemuan dua alat kelamin. Alat kelamin yang tidak bergerak sendiri, atau masuk dengan sendirinya. Ia digerakkan oleh seseorang yang masih punya nafas.

Miris, pelecehan atau pencabulan tidak hanya di lorong-lorong, atau di gang-gang, atau di kebun-kebun, tapi ia juga berada di beberapa lembaga yang disakralkan. Ngeri. 
Mengapa bisa terjadi?, karena urusan nafsu tidak pernah mengenal ras, suku, agama, dan golongan. Ia benar-benar buta, tergantung siapa yang mengendalikannya. Kalau ia mampu mengendalikannya, maka akan mampu lepas dari perangkap kelezatan sesaat itu. Itu pun kalau merasakan kelezatan.

Nafsu kok disalahkan?!. Tidak, nafsu itu tidak salah, hanya saja terkadang tidak pada tempatnya. Kalau tempatnya benar, maka semakin bernafsu/bersyahwat, semakin dianjurkan. Bahkan, kalau tidak bernafsu bisa mendatangkan ketidakharmonisan. Paham kan maksudnya gaes?!. 

Maksudnya begini. Nafsu sek itu akan terus membuncah pada siapa pun saja, yang masih punya rasa pada lawan jenis. Baik pada seorang laki-laki, atau pada seorang perempuan. Hewan pun sama, walau ia mungkin bukan nafsu, tapi gharizah hewaniyah. Ia akan terus ada, dan mengalir dalam diri manusia.

Bagaimana agar nafsu dapat dikendalikan?. Bagaimana ya, tidak ada yang pintar kalau sudah berurusan dengan yang satu ini, tetapi apakah mau atau tidak. Ada kata-kata yang dulu sering saya dengar, "idza qama dzakar, faamiya al-bashar, apabila kemaluan sudah berdiri tegak, maka buta segala mata". Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar ia tidak berdiri sembarangan, atau bukan pada saatnya berdiri?. Berat juga menjawabnya. 

Menarik apa yang disabdakan oleh Nabi,
النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَنْ مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ لله أَوْرَثَ الله قَلْبَهُ حَلاَوَةً إِلىَ يَوْمِ يَلْقَاهُ
“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barang siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.”

Mengapa pandangan? Karena ia termasuk bagian dari sumber terjadinya berbagai perzinahan dan pencabulan. Seandainya seseorang tidak dapat melihat, atau ia dapat menjaga pandangannya, maka akan selamat. 

Nabi memberikan gambaran, bahwa pandangan seseorang laksana panah yang beracun. Mengapa panah?, Karena, bila ia sudah masuk ke tubuh seseorang tidak hanya melukai dan menusuk, tetapi ujungnya akan sulit dilepas, berbeda dengan pedang, keris, dan beberapa senjata lainnya yang tidak punya cantolan. Tidak hanya itu, panah yang punya racun, racun yang akan menjalar ke sekujur tubuh, hati, pikiran, perut, tangan, kaki, dan kemaluan. Dan dari pandangan itulah kemaluan digerakkan, dan tidak hanya kemaluan, semuanya digerakkan.

Dan yang menarik sebagaimana dalam Firman Allah, “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur [24]: 30-31). Pandangan didahulukan dari kemaluan, mengapa? Karena dari pandanganlah, kemaluan itu ia gerakkan. 

Bagaimana cara menjaga pandangan? Wah, ini butuh diskusi lebih panjang. Yang jelas bukan memejamkan mata secara keseluruhan, nanti takutnya kebentur tembok, atau jatuh ketika berjalan. Intinya menjaga. Dan ini butuh perangkat lainnya, agar pandangan tidak bebas untuk melihat sesuatu yang tidak halal untuk dipandang. Seperti puasa, istighfar, dan lainnya. Berat memang, memang berat. Ya Allah, jagalah kami. 

***
Penulis juga berdoa pada Allah, agar setiap pandangan dijaga olehNya, dan berharap terjaga dari pandangan yang selalu tidak terkendali.

Cibiru Bandung, 14 Juli 2022

Foto diambil dari kisahhikmah.com

Selasa, 12 Juli 2022

Kearab-araban, atau Kebarat-baratan?

Halimi Zuhdy

Beberapa hari yang lalu ada yang menanggapi tulisan saya tentang kata Kurban dan Qurban, dan kemudian ia menyimpulkan tulisan saya tersebut, bahwa saya bloon dan kearab-araban, dan saya dianggap lupa "keindonesiaan saya" dan saya adalah orang yang sibuk melakukan islamisasi dan arabisasi bahasa Indonesia. 

Saya tidak terlalu menanggapi kata-kata tersebut, kemudian saya hapus saja. Agak enggan berdebat dengan orang yang tidak paham tulisan berbahasa Indonesia (sebagai orang Indonesia), mungkin malas belajar bahasanya sendiri, tapi mengkritik orang lain yang sebenarnya sayang dan cinta Bahasa Indonesia.
Eh, malah saya disuruh makan kurma saja, tidak usah makan nasi. Asyik juga, makan kurma sampai kenyang. Sebenarnya gaya orang seperti di atas, adalah orang yang tidak paham sejarah bahasa Indonesia dan kata-kata yang berkelindan dalam bahasa Indonesia. Dikiranya, semua kata-kata Bahasa Indonesia yang ada sekarang berasal dari Nusantara. Dan ketika seseorang nyentil tentang penulisan sebuah kata yang dianggap kurang pas dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Asing (terutama dari Arab), malah dianggap kearab-araban. Payah juga. 

Dan agaknya ia berbeda, kalau kata yang diambil dari bahasa asing lainnya, kok jarang dianggap ke barat-baratan, bahkan dianggap lebih keren dan lebih Indonesia. Ini kan tidak adil.wkwkw. Santai bro.

Bahasa dari mana pun kalau ingin diserap, diserap saja, tidak ada yang salah kok. Hanya saja, perlu dikaji lebih mendalam cara penulisannya dan maknanya agar tidak terlalu jauh dari makna atau maksud dari bahasa asalnya. Jangan karena berasal dari timur, dianggap islamisasi atau kearab-araban, kalau itu emang penting dan lebih sesuai dengan tujuan dari maksud bahasa, gunakan saja. Gitu saja kok repot.wkwkw.

Misalnya, "jangan pakai madrasah", "pakai sekolah saja lebih Indonesia?!". Ettt. Keduanya bukan dari bahasa Indonesia bro, itu serapan dari bahasa asing semua. Kata madrasah dari bahasa Arab, dan Sekolah dari bahasa Latin (skhhole, scola, scolae/ skhola), bahasa Inggrisnya School. Paham!!. 

"Sekolah pascasarjana", Misalnya. Tuh, bahasa asingnya sekolah dan pasca, demikian juga dengan kata sarjana, ia berasal dari bahasa Sansekerta. Boleh dong, "madrasah pascasarjana", ya boleh-boleh saja, kalau mau dimasukkan di KBBI, kan tergantung orang yang di KBBI saja.wkwkw. 

Saya tertarik apa yang disampaikan Prof Djoko Saryono  di FB beberapa hari yang lalu "Sejak kapankah diksi "murid" dan lalu "siswa" yang khusus dan jelas rujukannya tergusur oleh diksi "peserta didik" yang umum dan abstrak rujukannya? Kita ingat, dalam UU Pendidikan dan Pengajaran Tahun 1950 dan 1954 masih konsisten dipakai diksi "murid". Baru dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 diksi "peserta didik" menggusur diksi "murid" secara formal. Sejak itu dokumen resmi menggunakan diksi "peserta didik". 

Kata murid pun, yang menurut saya tidak bermasalah, bisa juga berubah, dan mungkin sekarang sudah tidak digunakan lagi. Mengapa? Tidak tahu juga. Apakah mungkin karena berasal dari bahasa asing?🤩.

Mudah-mudahan tidak salah paham ya mas Bro.

 Bandung, 12 Juli 2022

****

Jumat, 08 Juli 2022

Kurban atau Qurban?

Halimi Zuhdy

Kata kurban dan qurban, mana yang benar?, bila menilik bahasa Arab dengan tulisan kurban dan qurban, maka akan terlihat perbedaan maknanya sangat jauh. Kalau diawali dengan huruf kaf, kurban (كرب) huruf ka-ra-ba bermakna kesedihan mendalam, menderita, duka cita dan kesusaan, tapi kata yang diawali dengan huruf kaf (ka) tidak mungkin dibaca kurban (tambahan alif dan nun, dengan huruf kaf dhammah), karena dalam padanan bahasa Arab tidak ditemukan kata Kurbanun (كربان), yang ada adalah kata karbon (كربون). Maka, yang dimaksudkan kata kurban adalah qurban (dalam bahasa Arab). 
Sedangkan kata qurban (قربان), dengan huruf pertama “q”, lebih sesuai dengan asal katanya dalam bahasa Arab yaitu qaf-ra-ba (قرب). 

Kata qurban (قربان) sendiri secara bahasa adalah sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan atau lainnya (mu'jam ma'shir). Jamak dari kata ini adalah qarabin (قرابين). Kata qurban dalam bahasa Arab digunakan secara umum dengan makna sesembahan dalam bahasa Indonesia. Dan setiap agama memiliki sesembahan tersendiri, maka dalam agama Yahudi menggunakan Id al-Qurban al-Muqaddasan (hari raya kurban yang sakral/suci), atau juga digunakan oleh kaum Nasrani.   

Sedangkan qurban pada hari raya Idul Adha secara khusus menggunakan nama udhiyah (sembelihan) dan nama ini lebih dikenal dalam bahasa Arab, yaitu hewan yang akan disembelih berupa sapi, unta, dan kambing. Sedangkan kata qurban/kurban lebih bersifat umum. Maka hari raya dalam Islam dinamakan Idul Adha. 

Kata qurban dalam Al-Qur’an terdapat dalam tiga tempat, yaitu pada Ayat 183 (Ali Imran), 27 (Al-Maidah) dan 28 (Al-Ahqaf). Dan di antara ketiga kata tersebut adalah terkait dengan qurban yang diceritakan dalam kisah qabil dan habil, serta cerita seserang yang datang kepada rasul tentang qurban yang dilalap api, dan yang ketiga qurban sebagai sesembahan. Intinya, kata qurban (قربانا) itu sendiri adalah cara mendekatkan diri secara umum. Berbeda dengan qurban yang dilakukan dalam Idul Adha yang lebih dengan dengan kata Udhiyah, nahr, dan beberapa kata lainnya. 

Mengapa Udhiyah? Kata udhiyah (hewan kurban) diambil dari dhuha, yaitu yang kurban yang disembelih pada waktu dhuha, setelah melaksanakan shalat Idul Adha. Maka, kata adha dan udhiyah adalah dari satu istiqaq (derivasi yang sama). Sedangkan kata Qurban dalam bahasa Arab jarang digunakan untuk kegiatan atau prosesi sembelihan setelah hara Idul Adha. 

Apakah salah dengan kurban? Tidak salah, karena kata ini secara umum adalah sesembahan untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Maka, dalam Islam kata kurban adalah udhiyah yang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hanya saja yang banyak digunakan di Indonesia adalah lebih bersifat umum, dan kemudian dikhususkan pada hari Raya Idul Adha. 

Qurban atau Kurban yang benar?. Keduanya sama-sama benar. Tetapi, yang baku (sesuai KBBI) adalah kurban bukan qurban. Mengapa kata kurban (dengan huruf k) yang dibakukan, bukan qurban?, Ini mungkin karena lebih dekat dengan rasa atau huruf yang lebih akrab dengan nusantara, walau huruf Q juga ada pada abjad Indonesia. Seperti bahasa Arabnya hati, yang digunakan adalah kalbu, bukan qolbu (sesuai KBBI). Kalau ditilik dalam bahasa Arabnya, kata kalbu (كلب) bermakna anjing, sedangan qalbu (قلب) bermakna hati, mengapa dipilih huruf "k" bukan "q", kembali lagi pada alasan di atas.

Loh mengapa Qur'an dibaca qur'an, bukan kur'an? Lah ini pembahasannya akan menjadi panjang. Belum lagi kata-kata lainnya. 

***
Selamat hari raya Idul Adha 1443 H.