السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 27 Maret 2020

Melirik Judul Tulisan "MASYA ALLAH INIKAH ARTI QORONA DALAM ALQUR'AN ???" dalam Kajian Linguistik dan Tafsir al-Qur'an

Halimi Zuhdy

Awalnya saya tidak tergelitik membincang tema di atas, tapi saking masifnya pesan ini penyebarannya di WAG dan beberapa media lainnya, bahkan banyak yang japri saya, akhirnya jebol juga pertahanan untuk tidak komentar. Dorr. 

Tidak semua tulisan harus ditanggapi. Benar. Apalagi tulisan yang tidak jelas penulisnya, maraji'-nya, alamat web-nya atau tidak jelas sumbernya. Abaikan saja.  Tapi, kalau sudah menyangkut ayat atau hadis dan dianggap benar atau sebagai pembenar tanpa referensi yang jelas, dan tidak ada rujukannya. Maka perlu didiskusikan. Kalau ngotot, abaikan saja. Pasti suatu saat hilang sendiri. 

Tayyib. Saya mencoba menganalisis secara sederhana pesan viral dengan tema "Masyallah Inilah Arti Qorona dalam Al-Qur'an" Ia memulai dengan "Ini ada di Surat al-Ahzab Ayat 33. Silahkan dibuka bagi yg tidak berhalangan", penulis pesan ini menggiring kita untuk melihat sebuah Ayat tertentu, tepatnya Ayat ke-33 Surat al-Ahzab. Apakah setelah membuka al-Qur'an ayat tersebut benar-benar ada? Benar, sangat benar.   Orang yang membaca tercengang, wow benar adanya!!. Wow.. ada kata "Qarana, Corona, قرن" al-Qur'an luar biasa. Ia terperangah.. !

Coba perhatikan kalimat ini, "Saya jadi penasaran dengan arti Qarana, saya sengaja membuka kamus al-Qur’an. Saya dapati lafald Qarana (قَرْنَ) ada di QS. Al Ahzaab : 33. Saya jadi tercengang ketika melihat potongan ayat tersebut" Kemudian ia menuliskan al-Ayat al-Qur'aniyyah yang tidak disangsikan kebenarannya sampai kapan pun. 

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ - ٣٣

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya"

Coba perhatikan pesan yang ia tulis "Pesannya sangat jelas bahwa lafadz Qorana mengandung arti perintah untuk tinggal. Tinggalnya dimana? Dirumah-rumahmu, di keluargamu, karena kata Nabi rumahku adalah sorgaku. Rumah kalian adalah sorga kalian semua. Ciptakan sorga di keluarganya masing-masing". Ini tiba-tiba ada sorga ya, dari mana memulainya. 

Tayyib, sebelum melanjutkan pesan berikutnya dari si penulis pesan. Saya mencoba untuk menganalisis kata قرن (Qarnun, Qorona, Qarona) yang sering diserempetkan dengan kata Corona atau dalam penulisan KBBI, Korona. 

Sejatinya, kata yang digunakan dalam bahasa Arab, dan oleh mayoritas orang Arab, baik dalam percakapan sehari-hari (berupa tulisan), berita, esai, makalah, dan lainnya ditulis dengan Korona, menggunakan huruf "Kaf" كورونا bukan قرونا atau قرن. Mengapa? 

Tayyib, perhatikan!. Dalam setiap bahasa ada tata cara penulisan atau selingkung (bukan selingkuh, wkwwk), penulisan dari bahasa Inggris ke Arab,  atau sebaliknya. Penulisan bahasa Indonesia ke Arab, atau sebaliknya. Contoh penulisan suatu tempat, Korea dan Kairo. Dalam penulisan bahasa Arab Korea adalah كوريا bukan قريا. Kalau ini dipaksakan bisa berabe,  dan maknanya juga akan berbeda. Terus... sedangkang Kairo, ditulis القاهرة. Loh kok bisa, kan sama-sama dimulai dari "Kaf"?. Ingat!! Kata Kairo itu memang berasal dari bahasa Arab, maka tidak bisa dipaksakan dengan كيرو, nantinya tidak akan dipahami maksud dan artinya, mungkin akan dikira Kirun. Dan pembahasan ini sangat luas sekali, yang terkait dengan aturan kepenulisan bahasa asing. 

Tayyib. Kita lanjutkan kata "قرن", dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir kata Qarnun dibaca Fathah (Qiraah Nafi', Ashim, Abu Ja'far) yang bermakna "Istaqarra" dan "aqama", berdiam. Tapi, al-Mazini dan Hatim tidak sepakat dengan makna ini,  karena Qarn dari kata Qurrah A'yun, sesuatu yang indah. Maka, dapat diartikan "sejukkan".  Dan Imam yang lain membaca "Qirna", dengan   "Kasrah". 

Artinya, tidak ada hubungan lafadh antara Qarona dengan Korona (Corona). Kecuali dipaksakan. Dipaksa pun, masih belum nyambung. Waduh. 

Mari kita lanjutkan, mengapa hal ini tidak nyambung. Selain khitabnya adalah untuk perempuan, juga menilik asal katanya tidak ada hubungannya dengan Corona yang bermakna Mahkota. Corona (Baca: Korona) dalam bahasa Arab adalah "at-Taj", dan beberapa diskusi dalam grup Muntada al-Lughah, korona diusulkan untuk diganti menjadi al-Tajiah. Mahkota. 

Dan anehnya, bila dikaitkan dengan Korona, kata korona itu satu kata, sedangkan kata dalam ayat tersebut dua kata, Kata dasarnya قرر yang menjadi قر ditambah nun niswah, dan kata ini adalah fi'il amar (kata perintah). Kata perintah mengandung kata dasarnya dan orang kedua, anta. 
وأمر مبني على السكون لاتصاله بنون النسوة والنون فاعل والجملة معطوفة. 

Tayyib, lanjut lagi. Ayat di atas untuk perempuan, kalau Khitabnya perempuan, berarti yang harus berdiam adalah perempuan saja, sedangkan laki-laki diserahkan kepada Korona. Kan kasihan, para suami-suami harus berjuang dengan korona,  sedangkan perempuan berada di rumah saja. Tidak sesuai dengan prinspi Lockdown atau Social distancing. Wkwkwwk. 

Kemudian dilanjutkan dengan "fi Buyutikunna". Ini juga sebenarnya kekhususan kepada istri-istri Nabi "Wa Qarna Fi Buyutikunna... " dalam tafsir Ibnu 'Asyur dijelaskan

وإضافَةُ البُيُوتِ إلَيْهِنَّ لِأنَّهُنَّ ساكِناتٌ بِها، أسْكَنَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَكانَتْ بُيُوتُ النَّبِيِّ ﷺ يُمَيَّزُ بَعْضُها عَنْ بَعْضٍ بِالإضافَةِ إلى ساكِنَةِ البَيْتِ، يَقُولُونَ: حُجْرَةُ عائِشَةَ، وبَيْتُ حَفْصَةَ، فَهَذِهِ الإضافَةُ كالإضافَةِ إلى ضَمِيرِ المُطَلَّقاتِ في قَوْلِهِ تَعالى ﴿لا تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ﴾ [الطلاق: ١] . وذَلِكَ أنَّ زَوْجَ الرَّجُلِ هي رَبَّةُ بَيْتِهِ، والعَرَبُ تَدْعُو الزَّوْجَةَ البَيْتَ، ولا يَقْتَضِي ذَلِكَ أنَّها مِلْكٌ لَهُنَّ لِأنَّ البُيُوتَ بَناها النَّبِيءُ ﷺ تِباعًا تَبَعًا لِبِناءِ المَسْجِدِ، ولِذَلِكَ لَمّا تُوُفِّيَتِ الأزْواجُ كُلُّهُنَّ أُدْخِلَتْ ساحَةُ بُيُوتِهِنَّ إلى المَسْجِدِ في التَّوْسِعَةِ الَّتِي وسَّعَها الخَلِيفَةُ الوَلِيدُ بْنُ عَبْدِ المَلِكِ في إمارَةِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ العَزِيزِ عَلى المَدِينَةِ ولَمْ يُعْطِ عِوَضًا لِوَرَثَتِهِنَّ.

Ditambahkan kata "al-buyut, rumah" dalam Ayat tersebut,  karena merupakan tempat istri-istri Nabi yang ditempatkan oleh Rasulullah, dan antara satu dan yang lainnya dibedakan. 

Penulis pesan melanjutkan,  "Coronavirus menggiring kembalinya kesadaran bahwa yang paling hakekat dalam kehidupan adalah keluarga", ini juga tidak ada hubungannya dengan Ayat tadi. Apalagi dikaitkan dengan hadis: 

خَيْركُمْ خَيْركُمْ لِأهْلِهِ وَاَنَا خَيْركُمْ لِأهْلِى

"Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku (Rasulullah) orang yang terbaik diantara kalian kepada keluargaku”. 

Antara Ayat dan Hadis di atas tidak ada hubungannya dengan berada di rumah atau istilah kerennya "stay at home" (berdiam di rumah) terkait dengan Korona, kecuali beberapa hadis yang sudah banyak dibahas para ulama terkait dengan menyebarnya virus atau penyakit pada suatu daerah. 

Penulis pesan sebelum meakhiri tulisannya merangkai kata-katanya dengan apik, "Seakan Allah sedang berkata, “wahai manusia modern, janganlan cari kepuasan di gedung-gedung mewah yang menyediakan berbagai macam kamuflase kesenangan yang tak sejati, kebahagiaan itu bukan karir dan gajimu yang selalu tak memuaskanmu, karena selama ini yang kau kejar sebagai kenikmatan itu hanyalah fatamorgana dunia yang kalian anggap kenikmatan dan keindahan (itu semua perilaku jahiliah). Padahal sesungguhnya sorga itu ada di keluargamu, ada di rumahmu masing-masing yang bisa kau bangun dan kau ciptakakan. Kembalilah kepada keluargamu masing-masing dan berbahagialah atas berkumpulnya keluarga.” tapi ini tafsir (kalau disebut tafsir) tidak ada hubungan dengan yang dimaksud, khitab dari Ayat ini. 

Sebenarnya pesannya sederhana, tapi penting. "Note : JANGAN MUDIK ya untuk sementara waktu jika ingin menyelamatkan keluarga yg jauh😊tetaplah dirumah masing2🙏" 

Tapi yang kurang tepat adalah menyerempet Ayat yang tidak ada hubungannya antara Qorn dengan Korona. Ini Ayat lo. 

Allahu'alam Bishawab wa ilahi Ma'ab

Malang,  27 Maret 2020.
Stay at Home saja, cari kaidah yang relevan, tak usah maksa.

Baca juga tulisan yang terkait dengan analisa kata "Qarana" pada awal-awal maraknya Korona di Indonesia
http://www.halimizuhdy.com/2020/01/corona-dalam-kitab-iqro-ada-ada-saja.html?m=1Analisis Kata Qorona

#AnalisisQorona #AsalQorona #KataKorona

Rabu, 25 Maret 2020

Terima kasih "Korona", Saya Banyak Belajar padamu!

Halimi Zuhdy

Judul di atas adalah sebuah esai menarik yang ditulis oleh Ali Batih al-Omri dengan tema aslinya yang berbahasa Arab yaitu "Syukran Korona Laqad Ta'allamtu minka". Selain itu ada pula sebuah pesan yang banyak beredar di grup dengan tema "Ta'allamtu minka ya Korona". 

Ali Batih memulai esainya tersebut dengan menyebut "Korona" sebagai makhluk kecil atau hanya virus kecil, tapi mampu meneror banyak negara. Dari negara miskin sampai negara adidaya. Saat ini, sebanyak 160 negara telah melaporkan kasus positif virus Covid-19 yang menjangkiti warganya dengan total keseluruhan 378.287 kasus. Adapun kasus terbanyak masih dipegang oleh China, kemudian disusul Italia, Amerika Serikat dan Spanyol. 

Viirus kecil ini telah melumpuhkan aktivitas banyak negara, bahkan memaksa tiap-tiap negara menutup tapal batas negara mereka (lockdown). Akan tetapi, setiap terjadi suatu bencana, di situ terdapat pula hal-hal yang menakjubkan, sebagaimana kata Ali Batih, "Dan di balik setiap bencana, saya belajar beberapa pelajaran yang berharga, dan hari ini saya belajar dari Tuan Korona", kata Ali Batih. Berikut beberapa ungkapan Ali Batih dalam "Syukran Korona, Laqad Ta'allamtu Minka"

✅Terima kasih Korona. Tampak sekali negara-negara yang berusaha menghabisimu dengan berbagai cara, tapi mereka laksana kartun yang tidak bisa berbuat banyak untuk melawanmu. Kalaupun ada yang berhasil tapi korban telah bergelimpangan.

 ✅Terima kasih Korona. Kau telah membeberkan keadaan banyak manusia, di mana ada yang menyerah ada pula yang terus berusaha, ada yang pesimis ada pula yang optimis. Saya berharap ada karantina media untuk meminimalisir rumor yang mengerikan, dan ini lebih berbahaya.

 ✅Darimu saya belajar, bahwa virus kecil sepertimu, atau serangga, atau burung adalah salah satu tentara dari banyak tentara Allah yang terkadang dikirimkan pada mereka yang sombong dan angkuh. Di mana hal seperti ini tidak bisa dilakukan oleh bom nuklir. Tentara Abrahah yang angkuh binasa hanya dengan pasukan burung. Namrud, seorang raja yang menyatakan diri sebagai tuhan terkapar hanya dengan seekor nyamuk. Dan sebuah viruspun mampu memporakporandakan sesiapa yang merasa hebat.

 ✅Terima kasih Korona. Semua orang kini giat merapal dan menghafal banyak doa, meningkatkannya dan semakin menguatkan doa-doa mereka. Dan engkau Korona, telah mengingatkan kita semua akan pentingnya kesadaran dan pencegahan yang kita abaikan selama masa-masa kebahagiaan dan kejayaan.

 ✅Ketika saya mengajar anak saya, melalui sistem pendidikan jarak jauh ('abra nidham al-ta'lim 'an bu'd), saya menyadari betapa pentingnya seorang “guru” dalam kehidupan kami. Saya memperhatikan banyak orang tua siswa yang tidak mampu berkreasi karena ketiadaan guru. Mereka merasakan kebosanan mengajar anak-anak sekalipun hanya satu jam, lantas bagaimana dengan guru yang mengajar tujuh jam sehari di sekolah dan sepanjang tahun.

 ✅Terima kasih Korona. Saya semakin tahu, betapa banyak kebodohan yang menghiasi akal pikiran manusia. Ada banyak orang yang tidak memahami pesan dibalik sebuah musibah dan tanda-tandanya. Mereka hanya sinisme dan menerima begitu saja. Dan di balik wabah ini terdapat banyak hikmah, untuk belajar dan menyadari nilai dari sebuah nalar dan kesadaran!

✅Dalam hidup ada hal-hal yang lebih menakutkan daripada yang kita pikirkan, dan kita tidak kebal dari mereka, dan bahwa dunia telah menjadi satu desa bahkan dalam hal penyakit. Juga bahwa gerakan dan ritme kehidupan dapat berubah dan berhenti kapan saja.

 ✅Terima kasih Korona. Dari Anda saya tahu bahwa staf medis adalah seorang prajurit yang selalu siaga, dan saya hormat kepada para pejabat negara yang telah berusaha mencari solusi atas musibah ini dengan kemampuan, kemauan, dan kesigapannya.

 ✅Terima kasih korona, untuk ide tulisan ini. dan mudah mudahan Allah tidak menjadikan saya dan pembaca bagian dari korban korona "al-Koroniyin". 

Sebelum mengakhiri tulisannya, Batih mengutip perkataan Abu al-Bandari,

قال أبو البندري غفر الله له:
ما أغباه حينما يرى مصيبته ابتلاء، ومصيبة غيره عقابا!

"Betapa bodohnya ketika seseorang melihat musibah yang menimpanya dianggap sebagai cobaan, dan musibah yang mengenai orang lain sebagai siksa atau hukuman!"

Setiap musibah, entah itu mungkin cobaan atau hukuman bagi kita, selalu ada hikmah yang dapat kita petik. Dan wabah dahsyat ini, mungkin dapat memberikan pelajaran bagi kita, karena tidak setiap zaman Allah berikan epidemi seperti ini. Dulu dan dulu ada Kolera, Tha'un, Black Death, setelah ada HIV, SARS dan lainnya, kemudian menjadi sejarah bagi kita. Korona di zaman kita, akan menjadi sejarah bagi generasi kita, entah bagaimana mereka mengisahkan korona di masa mereka nanti. 

Malang, 25 Maret 2020

Minggu, 22 Maret 2020

Hari Puisi Dunia, Korona, dan Isra' Mi'raj

Halimi Zuhdy

Entah mengapa tanggal 21 Maret kali ini senyap.  Biasanya di beranda perpus Ar-Rasikhun ada kopi dan puisi, di altar Fakultas Humaniora ada kemeriahan Maqha al-Adab (Kopi Sastra), di beberapa laman IG @puisi_arab ramai tah'niah. Beberapa minggu yang lalu juga sudah berbincang parade puisi di Ukadz.

Kali ini semua lupa atau mulupakannya, bahkan seakan-akan tak ada yang mau mengingatnya. Karena wabah itu benar-benar berasa. Ucapan Hari Puisi tahun lalu begitu menggema di beberapa grup, Muntada Syu'ara, Muhibbu Syi'ri, Muntada Syi'ri Arabi, Abyat Syi'ri dan beberapa grup lainnya. Multaqa digelar di beberapa tempat, kali ini, tak ada kalimat, atau saya saja yang tak mau tahu. 

Benar-benar lengang seperti pekuburan di malam hari. Walau ada jangkrik dan burung hantu, ia hanya sebatas sahabat kelam. "Ada apa dengan hari ini?" tanyaku. "Tak ada apa-apa, yang ada hanyalah rasa yang berbicara dirinya". Sautnya.

Tak ada surat perintah penahanan dari surat siapa pun, tapi hari ini semua ingin dipenjara, kalau tidak, ia akan memenjarakan dirinya. Kebebasan terbungkan dengan sendirinya, tak bebas berlanglang, si kaya tak lagi punya kuasa  untuk membeli kebebasan, apalagi yang miskin. Rumah adalah penjara hari ini. Bagi tim medis, perang melawan musuh yang tak pernah menampakkan dirinya. 

Beberapa puisi begitu ramai, sebelum, ketika dan setelah Hari Puisi dengan tema yang sama "Korona" terutama di Multaqa, Halaqat, Muntada dan Rawabith. Kemarin saya berselancar di beberapa web, tak ada tahniah, kalau ada itu pun tak banyak. Bertemu dengan laman al-Jazirah yang mengangkat tema "Syu'ara Mahjuruna Yarqibuna al-Jaihah fi Yaum al-Syi'r al-'Alami", Bagaimana para penyair menyaksikan pandemi di Hari Puisi Dunia?.

Beberapa pertanyaan menarik dari wartawan Al-Jazirah pada beberapa penyair Arab yang terisolasi baik yang tinggal di negeri Arab dan di beberapa negara lainnya, Puisi apa yang sedang kanda penyair tulis sekarang?  Apa peran Anda dalam menghadapi epidemi ini (Covid-19)? Dan apa yang dilakukan puisi (di masa epidemi) dalam menghadapi invasi Korona ke berbagai belahan dunia?

Penyair Irak -pada al-Jazirah- yang bermukim di London, Abdul-Karim Kassad mengakui bahwa "Puisi tidak menjamin keselamatan umat manusia dan tidak juga masuk ke kerajaan bumi dan langit."  Tapi dia menekankan bahwa "Puisi selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin dihibur. Dan puisi tidak menghentikan siapa pun, tetapi ia menyambut semua orang yang ingin beristirahat dalam naungannya apakah itu pohon, tenda, bayangan dinding atau lainnya."

Abdul Karim melanjutkan bahwa apa yang dialami dunia saat ini bukanlah kesengsaraan puisi semata, tetapi kesengsaraan semua orang, terutama mereka yang tidak memiliki apa-apa selain menunggu .. menunggu keselamatan yang tidak akan datang sampai setelah mereka kehilangan banyak hal, waktu, harta bahkan nyawa.

"Mereka dikurung di rumah-rumah, mereka terancam bukan hanya dari epidemi, tetapi dari sistem yang memerangi epidemi yang merupakan musuh umat manusia, beberapa di antaranya tidak segan-segan menyatakan untuk bersiap pamitan dengan orang-orang yang kita kasihi dan menyingkirkan orang-orang tua kita, melainkan merencanakan hal itu sebagaimana yang dinyatakan dalam artikel Chomsky yang sangat menakutkan"

Dan masih banyak pesan-pesan para panyair   dunia pada world poetry day/al-yaum al-alamy lil syi'r/hari puisi dunia. Tapi bukan sebuah perayaan seperti biasa. walau lengang, tapi pesan mereka sungguh membawa angin segar.  Bagaimana dengan para penyair di Indonesia? tentunya juga sudah sangat banyak, ada yang membuat puisi, pesan indah, wasiat taqwa, atau mungkin berbagai pesan yang membantu masyarakat dalam menghadapi Korona! 

Mari kita perayaan Hari Puisi Dunia dan Peringatan Isra' Mi'raj dengan berdoa kepada Allah agar wabah ini segera diangkat oleh Allah, bagi keluarga yang terkena musibah kita doakan mudah-mudahan diberikan kesabaran, dan kita semua mudah-mudahan diselamatkan dari wabah ini. 

***********
Dan hari ini bertepatan dengan Peringatan Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Saya sendiri hampir lupa bila tak ada ucapan santri di grup PP. Darun Nun, pesan dengan kutipan Ayat 1, al-Isra'. 

Hari yang sangat indah bagi umat Islam, biasanya dirayakan di berbagai tempat, masjid, mushalla, pesantren, dan di berbagai tempat, tapi kali ini juga sepi. Di berbagai grup juga tidak seperti biasanya. Mudah-mudah peringatan ini, mengingatkan kita akan pentingnya Mi'raj kepadaNya, dengan shalat, walau musibah terus merajalela keberbagai pelosok, bahkan sangat dekat dengan kita, tapi kita tak melupakan shalat. Kalau masjid ditutup, dan itu untuk kemaslahatan kita, tapi tidak tidak menutup masjid-masjid rumah kita.

Allahumma Bariklana fi rojaba wa sya'ban waballighna Ramadhan.

Malang 22 Maret 2020,  
Zona Merah, mudah mudahan segera pudar warna ini dan berganti warna indah. Ya Rabb. 

اللهم انا نعوذبك من البرص والجنون وسيء الاسقام.
اللهم يارب الأرض والسماء أنزل علينا الشفاء وأذهب عنا الداء وهزيمة الوباء، اللهم إن كنت طردتنا من بيوتك لا عمرة ولا جمعة ولا صلاة في المساجد فلا تطردنا من رحمتك ولا تؤاخذنا بما فعلنا وكن لنا ولا تكن علينا، اللهم إن كان هذا الوباء والبلاء بذنب ارتكبناه أو جرم أجرمناه، فإنا تائبون إليك منه ونادمون، اللهم يا منزل الداء أظهر لنا الدواء واجعله في أيدينا سهلا ميسورا، بفضلك وكرمك وجودك يا أكرم الأكرمين".

Munir Mezyed Binhad Nurrohmat Abdul Wachid Bs نجاة الماجد

Menelusuri Kata "Wabah". (Endemi, Pandemi, Epidemi, al-Wabah, al-Jaihah)

Halimi Zuhdy

Dunia benar-benar diharuskan menyepi sementara waktu, dengan waktu yang tidak bisa diprediksi, di Indonesia menyepi 14 hari atau bahkan bisa lebih dari itu. Dan negara ini, hari ini, termasuk katagori kematian pemyebab virus korona tertinggi di dunia mencapai 227 kasus dengan 19 kematian dan 11 pasien sembuh.
Ada istilah yang kemudian menjadi populer di dunia, khususnya di Indonesia yaitu wabah dan pandemi. Istilah wabah yang populer di Indonesia, diikuti dengan istilah lain ada epidemi, pandemi, endemik. 

Istilah "Wabah" berasal dari bahasa Arab yaitu "al-Waba' ". Dalam kamus KBBI Wabah adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas (seperti wabah cacar, disentri, kolera). Wabah juga berarti epidemi. Sedangkan "waba' " (الوباء) dari kata wabia-yaubiu-waba'a. وبئت الارض اي كثر فيها الوباء. Penyakit yang menyebar luas. Tidak jauh berbeda dengan arti wabah dalam KBBI. 

Dalam kamus Ma'ani arti al-Waba' adalah:
كُلُّ مرضٍ شديد العدوى، سريع الانتشار من مكان إلى مكان يصيب الإنسان والحيوان والنّبات، وعادة ما يكون قاتلاً كالطّاعون كثيرًا ما تنتشر الأوباءُ بعد الحرب.

Namun "al-waba'"  adalah kata yang digunakan pada semua aspek atau tingkatan atau jangkuan penyakit baik lingkup kecil atau lingkup besar. Misalnya al-waba' fi al-Qaryah (ada wabah di desa), al-waba' al-mustauthin (wabah yang menyerang suatu negeri). 
Sedangkan dalam bahasa Indonesia, wabah atau epidemi, memiliki tingkatan, ada endemi (Penyakit yang berjangkit di suatu daerah atau pada suatu golongan masyarakat) dalam bahasa Arab disebut  al-maradh al-mustauthin (المرض المستوطن). Pandemi (adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas) dalam bahasa Arab disebut dengan al-Jaihah, suatu penyakit yang menglobal. 

Dalam pernyataan khusus pada Surat Kabar al-Jazirah Dr Mohamed al-Dasuki, Konsultan  Penyakit dalam bahwa al-waba' (epidemi) adalah munculnya kasus penyakit menular di suatu negara atau sekelompok negara tetangga kecil, dan menyebar dengan cepat di antara banyak orang. Adapun al-Jaihah (pandemi), itu adalah munculnya kasus penyakit menular di sebagian besar negara di seluruh dunia, dan sulit  mengendalikannya, yang mengancam kesehatan manusia dan membutuhkan tindakan medis dengan cepat,  Korona masuk kategori ini. 

Namun, secara umum, wabah dan al-waba' memiliki kesamaan arti, adalah sebuah penyakit yang menyebar luas. 

Malang, 18 Maret 2020

Sumber: 
-KBBI
-Mu'jam Al-Ma'ani online
-el-Jazirah
-el-qamus.

Minggu, 15 Maret 2020

قصيدة "كورونا بيده"

كورونا بيده

✒  حليمي زهدي الإندونيسي
Halimi Zuhdy

اذ أتاك كورنا عليك سكون
لاتكن متوترا كل قدر بيده

وان ضاقت عليك أخبار شر
تذكر كل موت يأت على إذنه

فلاتحزن بذلك بل تحافظ
فيروسات وأوبئة من خلقه

يرفع الوباء بالدعاء واختيار
هو الرحمن كسر بلية بملكه

ورب الناس ماتو بالطاعون
وكوليرا وفولينزا تم بقدره

نشر كورونا ولايعرف بلدان
من لم يحسن حرك بتحركه

كل بلية بالوباء لها حكمة
وبعد العسر يسرا في قرآنه

الناس بالوباء كأسنان مشط
في السوق وغيره خاليا لأجله

فاستعذ بالله واستعد بالمجيء
غدا او بعده لم نعرف على امكانه

لو كان الموت يستقبل بليلة
البقاء والفناء يجريا بقانونه

احسن الوضوء بكثرة الصلاة
فكم من كرب فرج الله بقربه

اغسل اليد وتحافظ بكمامة 
ان خاف حجر صحي لمكانه

كن متواضعا بالوباء لاتكبرا
وسل مولاك شافيا على بلائه

مالانج إندونيسيا، ١٥ مارس ٢٠٢٠

#قصيدة_كورونا
#شعر_كورونا

قصيدة كورونا

https://instagram.com/puisi_arab?igshid=1mqg96ueznhkv

Rabu, 11 Maret 2020

Doa Orang Mati Tak Sampai

Halimi Zuhdy

"Ustadz, katanya mendoakan orang mati itu dosa?". Kata salah satu jamaah halaqah Sahar. 

"Tidak benar itu, malah mendoakan orang mati itu dianjurkan dan mendapatkan pahala. Maka kita menyebutnya almarhum, sebagai doa untuknya, mudah-mudahan diberi rahmat". Ustadz itu menjawab dengan nada tinggi. Sepertinya jengkel banget. 

Penanya tadi tidak puas, dan pergi ke halaqah lainnya, halaqah Sahir. Ia bergumam, "Masak sih, mendoakan orang mati itu mendapatkan pahala, ustadz itu pasti ngarang, tak ada dalilnya?". 

Ia pergi ke beberapa halaqah lainnya, jawaban sama yang ia terima. Akhirnya ia pergi ke ustadz yang mengajar bahasa di SDI Tidar, jawaban sang ustadz di luar dugaan si penanya, ustadz ini menjawab bahwa medoakan orang mati itu tidak boleh, hukumnya haram. Ustadz ini juga menambahkan, "Doa orang mati itu tidak pernah sampai, dan tidak akan sampai". Si penanya  ini tambah bingung. 

Sang ustadz ini menjawab sambil senyum-senyum, si penanya tambah bingung bin sumpek. Tidak puas, ia pun pergi sambil nyerocos, "Orang sekarang itu aneh-aneh, katanya anjing najis, kyai malah menggendong anaknya. Daging Babi najis, kyai malah nyuapin anaknya makan daging. Nyuruh orang shalat katanya dosa. Yang aneh lagi, maka dosa diimami orang yang aktif merokok." 

"Loh, kok bisa doa orang mati tidak sampai?" ia terus merenung. Akhirnya  ia pergi ke Gus Mujib yang ahli meramal masa depan dengan menggunakan tasbih yang diputar, dan Gus Mujib ini juga suka banyol bin lucu. 

"Gus, kulo sumpek...sumpek...sumpek, sak niki kathah (banyak) orang yang ngegas kalau ditanya, sukanya ngomong ...haram, sedikit-dikit...dosa. Bahkan saling menjelekkan antar ustadz, antar kyai, dan sepertinya medsos sebagai ajang pitnah mempitnah..." sambil memegang kepalanya, ia curhan sama Kyai Mujib. 

"Loh...loh.., ada apa Cung?" Kyai Mujib menangkannya. Si penanya tadi kemudian mengungkapkan beberapa yang menjadi kesumpekannya tentang hukum-hukum di atas. 

Wak Yai Mujib tersenyum lebar, sambil mekekel (tertawa hebat), rokok yang bertengger di mulutnya lepas, matanya sampai berkaca-kaca karena tawanya yang membahana. 

"Cung...cung, kamu ini lucu, masak ada orang mati bisa mendoakan? Terus kalau ia mendoakan, sampainya kemana?. 😀. Ia sendiri butuh doa. Yang kedua, ia ialah berdosa mendoakan seseorang agar mati, kamu ini lucu...😃. Tapi kalah lucu sama saya"

"Kamu tambah lucu Cung, masak orang merokok sholat, apalagi jadi imam, ia batal lah...bergerak saja dibatasi apalagi rokoan😃😃😃. Kalau makan babi itu tidak boleh, tapi kalau makan daging ya boleh, tapi daging ayam cung😃". Kyai Mujib pergi dengan ketawa-ketiwi, karena banyak orang mengeluh tentang hal-hal yang kadang tak masuk akal, tapi dibuat serius. 

"Sebentar kyai, satu yang belum saya terima, bukankah orang mati bisa mendoakan yang hidup Yai? Mereka menjawab salam, hadisnya shaheh yai. Mereka saling berkunjung. Dan mereka yang saleh, saling mendoakan". Kata si penanya sambil ngejar kyai. 

"Tayyib, nanti buat halaqah dan mengkaji khusus tentang orang mati yang hidup, yang mendoakan" dengan wajah serius kyai Mujib merespon, dan membatin, "Benar juga ya"🥺

_Salam Ukhuwah Islamiyah._ 🤩

#dagelanSantri
#humor santri

Lelucon di atas, menghimpun dari berbagai pesan-pesan lucu yang dinarasi ulang.😃

Malang, 11 Maret 2020.

Senin, 02 Maret 2020

Puisi Korona

(Ratapan, Amarah, Harapan)

Halimi Zuhdy

Ketika puisi hadir dalam setiap wabah yang menebar kematian, bukanlah ia untuk mengambil sorak dalam kesempatan, atau bukan untuk menebar ketakutan, atau pula bukan untuk pamer diri dalam karya yang diciptakan. Seperti puisi (Kasidah) yang dirangkai Dr. Ahmed al-Farisi dalam “Qasidah Korona”, ia berkisah, bahwa setiap zaman selalu datang berbagai virus dengan berbagai jenisnya, virus yang mematikan, seperti Kolera dan Tha'un, tapi Allah juga datangkan berbagai obatnya, walau juga tidak sedikit korban yang telah bergelimpangan.  

كم من وباء قد اتى ثم انقضي # 
كوليلا وأذكر قبلها بعدها الطوعونا

Ia juga berkisah dalam puisinya, dengan menggunakan Kaidah Taf’ilat (Arudh wa Qawafi),  bagaimana virus ini benar-benar membuat banyak orang kwatir, tidak hanya pada satu tempat di Whuhan negara China  tapi berbagai negara yang mulai dirambah. Ia juga berkisah virus ini bermula, kemudian menyebar, dan mengambil nyawa setiap orang yang ditemuinya, bila ia tidak cepat-cepat mengurung dirinya. 

Puisi juga hadir, bagaimana menghindar dari virus yang mematikan ini, sebagaimana bait-bait penutupnya.

الباس قناع الوجه او كمامة # تحميك من عطس تناثر فينا
لاتلمسو وقت التواحم أسطحا # يبقى رذاذ العطس فيها حينا.

Seperti Abu Dzuaib al-Hudzail ketika menuliskan bait-bait puisinya tentang serangan Tha’un di daerah Amwas, yang pernah penulis tuliskan di Alifcom, Amwas Suatu daerah yang terletak di Pelestina (Syam) pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Dalam catatan sejarah sekitar 25.000 sampai 30.000 ribu orang di Syam meninggal dunia dengan waktu yang sangat cepat. Dan ini wabah terbesar yang menyerang umat Islam dalam sejarah. Abu Dzuaib merana dengan meninggalnya 6 puranya, ia tuliskan dalam bait puisinya, namun ia semua serahkan pada yang Maha Kuasa, Allah subahanahu wat’ala.

Sedangkan Penyair liris Islam Khalil juga merangkai puisi yang berjudul “Korona al-Jazuna”, Siput Koruna. Dalam bait-baitnya, ia mengurai bagaimana menghadapi virus Covid-19 (كورونا جديد). Ia menuliskan dengan bahasa Arab Ammiah, yang juga terdapat beberapa lagu yang mendendangkan puisi ini.

لحلزونة ياما الحلزونة.. أل يعنى كانت ناقصة كرونا
- مرض خطير وملهش كبير ويموّت..لا دا الحكاية كبرت يا ناس واحلوّت

Berbeda dengan penyair Hamdan al-Huwaidari yang menulis puisinya tentang Korona di laman cratersky yang berjudul “Qashidah Korona”, ia memulai puisinya dengan “Hal Ghadba Allah Koruna”, apakah Allah murka dengan datangnya Korona, “Ya alh Ilmi Aftuna”, berikan petunjuk pada kami wahai para ilmuan. Apakah ini murka Allah pada orang-orang yang telah memporak-porandakan gas (emas hitam), mencemari air Amazon, mencabut dan menebang pohon-pohon Zaitun? Puisi amarah ini, seperti ingin tahu apakah gegara meraka yang merusak negeri dengan menggadaikan kekayaannya ke negeri Barat sehingga korona ini menyerang tanpa syarat.

هل غضب الله كورونا  # يا أهل العلم أفتونا

هل حكم الإِنسُ موزونا # مَن دمّر غازك أوزونا

مَن لوّث مَاءك أمازونا # مَن جرفَ جذركَ زيتونا

وطني يا خيراً مسكونا # بالجوفِ نفطكَ مرهونا

بالغربِ طمعاً مجنونا # يا شرّ المشرق أنسونا

للربِّ قدراً مكنونا # بنوره قلبي مفتونا

Mungkin Puisi-puisi Korona dengan berbagai bentuk dan isinya akan hadir, sebagaimana hadirnya Korona ke berbagai tempat, ia seperti mencari orang untuk merangkai zaman ini dengan sejarahnya yang ia ciptakan, Covid-19. Sebagaimana puisi yang ditulis oleh Li Wenliang sebelum kematiannya, bagaimana virus ini sungguh mematikan, walau ia berkabar tentang virus ini, tapi tidak semua orang percaya, ia rela mengorbankan diri, untuk keselamatan banyak orang,

“Ada cahaya di langit!
Pada akhir terang itu adalah surga yang sering dibicarakan orang.
Tapi saya lebih suka tidak pergi ke sana.
Saya lebih suka kembali ke kampung halaman saya di Wuhan.
Saya punya rumah baru di sana.

Malang, 02 Maret 2020

Kamis, 27 Februari 2020

Menelisik Asal Kata "Lughah" dalam Bahasa Arab


Halimi Zuhdy

Menelisik asal kata itu agak rumit, pelik, dan butuh kesabaran, kecuali kata yang ditelisik sudah umum dan banyak dikaji, serta beberapa sumber referensi sudah memadahi.
Menelisik suatu kata juga harus memahami pola kata yang ada pada beberapa bahasa sebagai sumbernya. Dalam unsur fonologi, misalnya, harus memahami fleksi (al-I'rab), dan pola-pola mufrad dan jamak. Karena tidak semua kata yang diserap dalam sebuah bahasa itu utuh, misalnya dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Kata yang diserap ada yang masih utuh (lafal dan artinya), seperti almanak, daftar, kiamat, khitan dan lainnya. Ada yang lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda, seperti kalimat, makam, dan lainnya. 

Yang sulit menelisik kata dalam suatu bahasa bila artinya dan lafalnya berbeda, seperti perlu, petuah, logat (kata ini banyak disalah pahami, dan dianggap lahjah dalam bahasa Arab) dan beberapa kata lainnya.

Bagaimana dengan kata "Lughah, اللّغة" dalam bahasa Arab, apakah ia berasal dari bahasa Arab itu sendiri atau berasal dari bahasa lainnya. "Lughah" dalam bahasa Indonesia diartikan dengan "Bahasa". Kata "Lughah" ada yang menganggap dari bahasa Yunani (Ighriqiyah), ada pula yang mengatakan dari Ibrani (Ibraniyah), tetapi banyak ulama yang tidak sepakat dengan dua pendapat di atas, dan mereka berpendapat kata "Lughah" adalah asli dari bahasa Arab bukan mu'arrab. 

Menelisik asal kata "Lughah" tidak cukup melihat dari istiqaq (derivasi)-nya saja, tetapi harus dilihat dari pola flektif dan kedekatan artinya.  Beberapa ulama berpendapat, ia berasal dari kata al-lahah (اللَّهاه) yang bermakna epiglotis (tulang rawan yang terletak di belakang lidah dan terletak di depan laring). 

Pendapat lainnya, ia berasal dari bahasa Yunani yang diarabisasi dari kata "Lagos" (لوْغُوْس) Yunani menjadi "Lughah" (لغة). Dan pendapat lainnya dari Dr. Hasan Dha Dha, yang penulis kutip dari makalah Dr. Isham Faruq, bahwa kata "Lughah" tidak ditemukan dalam bahasa Arab yang bermakna "kata, ungkapan, atau kalam Arab" yang selama ini beredar bahwa ia berasal dari kata "Lagha, atau Al-gha-yulghi" (الغي-يلغي) yang bermakna sia-sia, membatalkan, tidak berguna. Dan ia sependapat bahwa Lughah berasal dari kata Logos yang dari makna asalnya adalah "Kalimat, kata" dan "Kalam, ucapan". 

Dan pula, ada yang berpendapat kata "Lughah" tidak ditemukan dalam al-Qur'an yang bermakna bahasa atau kata, yang ada adalah kata "Lisan", atau dalam literatur Arab dahulu juga tidak ditemukan, yang ada adalah kata "Lahajad", kalau toh ada, ia tidak memiliki arti sesuai dengan definisi bahasa.

Menelisik lebih jauh, kata yang bermakna bahasa, bukan hanya dalam bahasa Arab, tetapi bahasa lainnya sudah terdapat kata tersebut, misalnya dalam bahasa Ibrani adalah "Lasun" (لاشون), yang lebih dekat dengan dengan kata lisan (لسان), dan juga "Syafah" (شفة). Selain bahasa Semitik di atas, juga ada bahasa Inggris yang mirip yaitu kata "Langue" (لانجو), sedangkan bahasa Persia   yang bermakna bahasa adalah "Zaban". 

Ada juga yang berpendapat bahwa "Lugah" asli dari bahasa Arab, yang berasal dari dari La-Gha-wa dari surat al-Furqan 72, namun berbeda dari Istiqaqnya (derivasi), ada yang mengatakan dari "Lughaa" (لغوة) dari wazan    فُعة, ada pula yang berdapat dari derivasi لغو dan لغي.

Dari berbagai pendapat di   atas, mana yang paling benar?, maka tinggal kita melihat antara pola dan arti yang mendekatinya. Dan bahasa di dunia selalu terhubung, walau ada yang berpendapat bahwa asal bahasa adalah dari bahasa Semit yang diambil dari nama putra nabi Nuh, Syam bin Nuh. Dan masuk katagori bahasa  Afro-Asiatic atau Hamito Semitic. 

Mashadir:
-Mu'jam isytiqaq lughawi
-al-lughah al-Arabiyah asl Lugah fi Alam
-Isham Faruq, Kalima al-Arab, Arabiyah am Mu'arrabah

Ponorogo, 26 Februari 2020
*Khadim PP. Darun Nun Malang

Ket Gambar: Talkshow Literasi (Barnamij Hawary) HMJ PBA IAIN Ponorogo bersama Dr. Sutejo Ssc

Sabtu, 22 Februari 2020

Masjid dan Cafe

Halimi Zuhdy

Beberapa hari yang lalu, motor ojek yang saya kendarai melewati puluhan cafe di Malang yang disesaki pengunjung dan juga melewati satu masjid yang berada di deretan terakhir cafe-cafe  tersebut.

Cafe-cafe yang tidak pernah sepi itu, dan masjid yang sesekali dipenuhi jamaah, itupun pada hari Jumat, mengundang pertanyaan tukang ojek yang saya tumpangi. Mungkin dalam pikirnya, mengapa masjid selalu sepi, kalau shalat berjamaah kadang hanya satu dua baris,  yang menjadi imam suaranya sama dengan yang menjadi muadzin. Mungkin maksudnya,  yang menjadi muadzin, yang iqamah dan imam satu orang.wkwwk.  

Entah kenapa, motor itu tiba-tiba berhenti, apa mungkin kehabisan bekal, atau kehausan, saya tidak berani bertanya. Tiba-tiba Bapak Ojek ini membrondong beberapa pertanyaan pada saya.

"Pak, mengapa akhir-akhir ini cafe begitu ramai sedangkan masjid sangat sepi?" Tanyanya.
Saya sebenarnya agak males menjawab, karena cara membandingkan terlalu jauh, masjid kok dibandingkan dengan cafe. 

Apa mungkin Bapak ini kerasukan orang-orang yang sering membandingkan Al-Qur'an dan pancasila, Nabi Muhammad dengan  pahlawan, Malaikat dan Syaitan. Atau bapak ini memang benar-benar bertanya, karena melihat fenomena yang luar biasa, cafe yang berkecambah dengan pengunjung yang tak pernah sepi, larut malam pun masih terlihat ramai sekali, tidak hanya laki-laki tapi juga banyak perempuan. 

Saya mencoba menjawab dengan sedikit memancing rekasi bapak ini berikutnya, "Bapak, jangan bandingnya Masjid dengan Cafe, Masjid itu tempat yang suci, hanya duduk-duduk dan berniat iktikaf sudah dapat pahala. Kalau di cafe tidak boleh niat i'tikaf nanti menjadi bid'ah, di Masjid itu ada beberapa hal yang tidak boleh dibicarakan, sedangkan di Cafe apapun dibolehkan (tidak ada larangan), kecuali pemilik cafenya menuliskan DILARANG MINUM KOPI, tapi ini jadi aneh".wkwkwwk.

"Pak, kalau ibadah kan tidak harus di masjid, kan bisa dimana saja" sanggahnya 

"Tayyib, benar ibadah di mana saja, tapi ada yang juga dikhususkan tempatnya, kalau jumatan tempat di Masjid jangan di Cafe, kalau waktu shalat jumat masih di cafe itu bisa dosa, tapi kalau minum kopi di Masjid hari Jumat tidak ada yang melarang".  Saya mencoba menjelaskan.

"Cafe juga bisa jadi tempat melakukan ibadah bapak, wiridan sambil nyeruput kopi, atau ngaji, atau juga diskusi dan lainnya, tapi kan tidak elok kalau ia di samakan dengan masjid, karena tempatnya tidak bernilai ibadah. Berbeda dengan masjid. Masjid kalau dibuat ngerumpi juga tidak boleh, malah berdosa berada di masjid, berjualan juga dilarang, mencari barang hilang juga tidak dibolehkan. Maka, semuanya ada tempatnya". Saya melanjutkan apa yang dimasud ibadah dan tempatnya. 

"Bapak, yang tidak baik itu kalau tidak pulang-pulang dari cafe dan jarang ke masjid, atau melupakan masjid. Kalau hanya tidak ke cafe, dan bahkan melupakan cafe tidak ada yang memgatakan berdosa. Tentunya, bukan hanya persoalan tempat lo Bapak, juga persoalan aktifitasnya". Sambil saya tersenyum padanya, dan Bapak itu manggut-manggut.

"Kalau tidak pulang dari masjid bagaimana ustadz?", Sanggahnya. 

"Sama Bapak, tidak baik orang yang tidak pulang-pulang dari Masjid, meninggalkan keluarga, meninggal bekerja, tidak mencari nafaqah, bahkan bisa berdosa bila hanya berada di masjid tapi kewajibannya ditinggalkan. Disinilah bagaimana Islam mengajari untuk berimbang antara urusan akhiran dan dunia Bapak. Tapi, wa akhiratul khairun laka minal ula" saya tutup dengan senyum sebelum kita melanjutkan perjalanan lagi. 

Banyuanyar Pamekasan, 21 Pebruari 2020

Sabtu, 15 Februari 2020

Duduk dan Berjalan di Atas Kuburan

Halimi Zuhdy

Sering kali kaki-kaki penziarah menginjak pekuburan, bahkan duduk-duduk di atasnya demi mendekat pada sesepuh yang ada di tempat itu. Entah untuk apa kemudian mengorbankan banyak kuburan demi satu kuburan, bukankah semua pekuburan adalah berisi jenazah. 

Ok, ada yang beralasan, karena yang di sana orang mulia, sedangkan yang lain orang-orang biasa, bukankah kita tidak tahu, dari sekian pekuburan yang berada di sekelilingnya itu orang-orang biasa semua, bisa saja juga terdapat orang-orang mulia. 

Demi merebut fadhilah, kadang mengorbankan orang lain, menyikut, mendorong, melompat, bahkan orang lain sampai terluka demi mencium hajar aswad,  itu yang sering terjadi di tempat thawaf. Dan kemudian ulama menganjurkan untuk tidak bersikeras mencium hajar aswad, kalau membahayakan orang lain dan dirinya. Addharara wala dhirar. Maka, cukuplah isyarat saja. Tapi bila memungkinkan dan tidak membahayakan diri dan orang lain, maka tetaplah dianjurkan. 

Itu juga yang sering terjadi di pekuburan tempat para penziarah. Demi satu pekuburan yang ditandai (berada di tengah-tengah) ia menginjak-injak dan bersantuy di atasnya. 

Walau ulama menghukumi duduk dan menginjak kuburan dengan berbagai hukum dari yang haram sampai makruh, namun secara etika bersepakat, bagi yang duduk dan menginjak kuburan tidaklah punya etika. Kecuali darurat. 

Banyak pendapat ulama yang  lahir dari hadis Nabi Muhammad, "Sesungguhnya seseorang dari kalian yang duduk di atas bara api, lalu membakar pakaian hingga menyisakan kulitnya, masih lebih baik baginya daripada duduk di atas sebuah kuburan.”

Harus merefleksikan kembali, apa tujuan ziarah kubur. Bila untuk mengingat mati, tapi kemudian kalau menginjak-injak dan duduk di atasnya apakah akan didapat faidahnya. Untuk napak tilas, apakah harus menginjak-injak yang lain. Bahkan berbicang buruk atau hal-hal yang tidak pantas, termasuk yang hal yang tidak baik menurut Imam Nawawi. Demikian juga mengeraskan suara. 

Maka yang elok dan dianjurkan dalam berziarah, merenung tentang diri dan nyawa yang akan dicabutnya, dunia yang tak abadi, menghantar salam di perkampungan mereka (kuburan), tidak meratap apalagi menangis-nangis,  tidak mengeraskan suara,  dan mendoakan penduduk kuburan. 

Surabaya-Tuban-Lamongan-Gresik. 15 Pebruari 2020

Senin, 10 Februari 2020

Langkah-langkah menulis puisi atau kisah dengan emosi

Halimi Zuhdy

1.Menentukan genre
Anda harus menentukan bentuk tulisan yang akan anda tulis, kalau anda  memilih puisi maka sisi emosionalnya lebih rumit dari pada kisah,  karena selain memilih diksi, ia harus mempertimbangkan nilai emosi  sesuai dengan ritme, rima dan imaji.

2. Pemikiran

Dalam karya sastra tidak terlepas dengan emosi, pikiran/ide,  ungkapan, imaji, dan ritme , selain emosi maka anda memikirkan apa yang  ada akan tulis, jika anda ingin menuliskan puisi, dimulai dengan  memikirkan sesuatu yang menjadi tema besar anda, tentang cinta,  pahlawan, pemerintahan, korupsi, dan lainnya. Misalnya anda memilih tema  cinta, maka pikiran anda memikirkan keburukan dan keindahan cinta.  Bagaimana anda membentuk pikiran anda menuju tema besar tersebut.


3. Suasana
Mensuasanakan diri anda, ini tahapan yang sangat penting menuju  menulis beremosi, emosi bisa datang dengan sendirinya dan bisa dibentuk,  kalau datang dengan sendirinya maka anda tinggal mensuasanakan emosi  anda dan menyesuaikan dengan keberadaan anda yang sesungguhnya. Jika  belum ada sesuatau dalam diri anda, maka hendaknya anda mencari emosi,  dengan melibatkan diri dalam cerita buku, bermain, catteng, berdiskusi,  atau menghubungi rekan anda yang anda paling sukai atau paling anda  benci.

4.Memasukkan Emosi
Setelah diri anda tersuasanakan dengan emosi tertentu, maka cepatlah  emosi yang ada pada diri anda dilibatkan pada seluruh tubuh anda,  seakan-akan anda memang dalam kondisi tersebut, kalau sedih jadikan  benar-benar sedih, kalau marah maka anda benar-benar marah, kalau cinta  benar-benar anda bercinta.  Ketika anda menuliskan kata “sedih” libatkan  emosi anda didalamnya.

5. Memulai menulis dengan suasana hati dan pikiran
Mulailah menuliskan sesuatu yang anda inginkan : jika  anda menulis kata “aku mencintaimu” maka seakan-akan anda benar-benar  terlibat di dalamnya, dan anda menjadi bagian cinta itu, atau ana  mensuasanakan dalam tulisan bahwa andalah pelakunnya, atau orang yang  pernah punya cerita cinta dan ia mengisahkan pada anda. Jangan biarkan  tulisan itu hampa, tanpa ada emosi yang meledak. Atau anda meman dalam  kondisi yang sebenarnya. Maka tulislah dengan seuasana anda yang  sebenarnya. Setiap coretan yang anda tulis, disusakan ada daya emosi  yang meledak-ledak.

Jumat, 07 Februari 2020

Mahkota Pertama di Dunia dan Kesombongan Penguasa

Halimi Zuhdy

Beberapa hari ini di dunia ramai dengan mahkota pembunuh (Corona), 5000 SM-2000 SM juga ramai dengan pemakai pertama mahkota di Dunia. 

Ia cicit dari seorang Nabi, tepatnya keturunan kelima dari Nabi Nuh, ia pintar, cerdas dan perkasa. Namun, karena keperkasaan, kecerdasan dan ketangkasannya yang  tidak mampu ia bawa untuk menjadi manusia tawadu', sehingga ia pun kemudian mengaku Tuhan. Mengaku Raja di Raja. Penguasa terhebat di dunia.

Bila manusia diberikan  kelebihan oleh Tuhan, dan tidak lagi sadar pada Dzat Pemberi, maka hanya kesombongan, keserakahan dan kedhaliman yang akan dilakukan. Di antara mereka ini adalah Namrud, Penguasa dan Raja pertama di Dunia, serta penguasa sombong dan bengis pertama di buana ini. Ia menjadi penguasa Babilonia setelah banjir bah melanda dunia. 

Ia terkenal karena "Awwal Jabbar fil Ardh" orang tiran pertama, dan ia juga dikenal orang perkasa pertama. Serta yang membangun Burj Babil ( Menara Babel). Sehebat-hebatnya Namrud dengan berbagai siasat liciknya, luasnya kekuasaannya, tinggi pangkatnya, dan segala yang ia miliki. Namun ia mengerang terkapar dengan makhluq kecil, nyamuk mengakhiri kehidupannya. Penguasa 400 tahun itu menjadi sejarah kedhaliman manusia. 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10216037811567288&id=1508880804

Tiada kekuasaan apa pun di muka bumi yang abadi, dan tiada kekuatan kekal, ia hanyalah titipan Tuhan, bila menyalahi tak butuh raksasa untuk menghabisinya, cukuplah nyamuk sebagai kawannya. 

Mahkota sebagai simbol kekuasaan dan kesombongan sangatlah dekat, bila kesombongan merasuk pada seseorang,  kesewenang-wenengan akan dilakukan, tangan besi menjadi andalannya.   Bila kekuasaan di tangan orang dhalim meraja lela, Allah utus lawannya untuk mencegahnya, Nabi Ibrahim datang dengan rasionalitas dan ketauhidan untuk menghancurkannya, ia benar-benar takluk dengan rasa tak percaya dirinya, kemudian mengaku Tuhan sebagai dalih ia penguasa tunggal di muka bumi. Namrud atau Nimrod adalah berasal dari bahasa Ibrani "Marad" yang bermakna membangkang, ia membangkang pada ketauhidan dan kemanusiaan. 
.
Hidup memang tiada yang tunggal, bila datang Namrud dan menjadi raja diutuslah Nabi Ibrahim, bila bertandang Fir'aun datanglah Nabi Musa, dan seterusnya...demikian setiap zaman akan selalu terulang.

Mahkota tiada yang kekal, ia hanyalah titipan, bila tak amanah akan menjadi cambuk pada pemiliknya. Semua akan berakhir sesuai dengan perbuatannya, kecuali Tuhan menyadarkannya, bertaubat atas kesalahannya. 

Malang, 7 Februari 2020

Kamis, 30 Januari 2020

Corona dalam Kitab Iqro', Ada-Ada Saja!

Halimi Zuhdy

Ada-Ada Saja! Corona (قرن) Dihubungkan dengan كرونا Virus Wuhan Itu!

Beberapa hari ini dari beberapa grup WA yang saya ikuti selalu muncul tulisan berbahasa Arab "Qorona-Khalaqa-Zamana-kadzaba" yang teks tersebut berasal dari buku pembelajaran mengaji dengan metode "Iqra'" yang dirajut oleh KH. As'ad Humam. 

Dalam teks tersebut ada potongan huruf dengan tiga huruf berurutan dan dibaca menjadi satu kalimat Qorona dan seterusnya, mencoba untuk dihubungkan, dikaitkan, dicocokkan dengan Virus Corona yang lagi merebak di China beberapa hari ini. 

Dari kata pertama (kalau kata ini di sambung), sudah tidak memiliki arti yang sesuai dengan keinginan si penyebar, kata Qorona (َقَرَن) bermakna "Menghubungkan, Memasangkan, Menggabungkan, Menggandengkan, Merangkaikan" kalau kata ini dihubungkan dengan virus juga tidak benar, karena Corona dalam bahasa Arab (yang banyak digunakan) tidak menggunakan huruf "Qaf" tetapi "Kaf" كرونا tetapi kalau dipaksakan ia bisa saja, namanya dipaksakan. 

Kemudian, mengapa kata "Qorona" saja yang dibiarkan tanpa makna, sedangkan kalimat setelahnya diberi makna walau tidak nyambung.wkwkwwk. Kita perhatikan sekilas (tidak usah detail lo), kata "Kholaqa" diartikan "Tercipta" ini sudah tidak sambung (kecuali pakai kabel listrik,wkwkwwk). "Kholaqa" bermakna menciptakan dan pasti ada pelaku (Fa'il) dan Objek (Maf'ul). Tetapi kata ini diartikan tercipta, bukan mencipta.  

😁Yang nulis ini (saya) sebenarnya juga tidak ada kerjaan, sebagaimana mereka yang mengirimkan tulisan Qorona itu. Tapi, minimal bisa menambah kosa kata bagi penikmat bahasa Arab. Bagi yang tidak menikmatinya, biarlah menjadi angin lewat. 
.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10215971664233646&id=1508880804

Tetapi untuk orang awam tulisan itu dianggap keramat, buktinya dikirimkan dengan narasi yang bermacam-macam, walau saya juga orang awam lo.wkwwkw.

Ada yang lebih ekstrim pula, walau ini juga mungkin dianggap satire atau juga guyonan, bahwa jauh sebelum Virus Corona mewabah di Wuhan, Propensi Hubei, China. Ia sudah termaktub dan sudah diprediksi para ulama dan kyai sebagaimana dalam Iqra' halaman 28 jilid 1 (gambar yang ada di atas), beberapa di Medsos, tetapi dalam beberapa tulisan yang saya baca, virus itu sudah muncul (teridentifikasi) pada tahun 1931, dan menjakiti manusia pada tahun 1965. 
.
Mungkin akan muncul lagi, entah dari buku atau mungkin dari tanda-tanda lain yang dihubungkan dengan virus yang masuk pada katagori serius itu. Kita tunggu saja.wkwkw. mudah-mudahan tidak muncul istana baru lagi. 
.
Halimi Zuhdy
Malang, 30/01/2020

Kamis, 16 Januari 2020

PESAN TERUNTUK MAHASISWAKU

Halimi Zuhdy

Sebagai Dosen (orang tua di kampus), ada beberapa hal ingin saya sampaikan terkait beberapa kejadian atau fenomena akhir-akhir ini di kampus kita dan beberapa kampus lainnya. Dan saya punya kewajiban untuk mengingatkan adik-adik (mas and mbak) terkait dengan akademik, spritualitas, akhlaq dan lainnya. Beberapa hal itu adalah:

1. Tidak pacaran, demi kebaikan diri dan keberlangsungan pendidikan sampai selesai, ini berangkat dari pengalaman banyak mahasiswa dan hasil survei kecil-kecilan saya, banyak yang pacaran tidak hanya cukup mengenal lawan jenisnya, tetapi sering keluar bersama, sms dan telpon sepanjang hari, bahkan sering berduaan di tempat sepi, yang akhirnya melakukan hubungan di luar nikah, waliyadzubillah. Kalau ada yang sudah punya pacar, maka saya siap memintakan kepada orang tua kalian, atau siap istikharakan, yang kemudian menjadi sah (suami istri), karena hal ini sangat serius akhir-akhir ini, jangan hancurkan masa depan kalian dengan perbuatan ini, tidak hanya di dunia kalian rugi, tapi juga akhirat. Penyesalan tidak akan pernah datang di awal, ia akan terasa ketika sudah terjadi. "Khusronim mubin (rugi besar),  jahuilah pacaran. 

2. Bila ingin menghubungi dosen (sms, WA, atau telepon kepada dosen), dahulukanlah dengan "Assalamualaikum",­ kemudian "pangapunten ustadz", selanjutnya "apakah kami mengganggu panjenengan?" Dan kalimat-kalimat yang baik dan sopan. Selalu belajar menghargai orang lain dengan mengirim pesan yang baik pula. Jangan memaksa dosen, apalagi langsung menemuinya tanpa janji sebelumnya, kecuali sudah biasa. Atau menunggunya, dan bertanya lebih dahulu, "Apakah ustadz, bisa saya temui, saya ada perlu". Jadilah sumur, jangan jadi gunung ketika belajar, tawadhu' jalan menuju sukses. Semakin rendah hati, semakin Allah angkat derajatnya. 

3. Kalau kalian berjumpa dengan: Dosen, Guru, dan yang pernah mengajar, atau pun tidak, baik di jalan atau di tempat lainnya, hargailah mereka dengan menyapanya, ucapkan salam, dan menyalaminya, jangan seperti kebanyakan mahasiswa atau siswa, ketika sudah tidak diajar pada semester tersebut, seakan-akan ia sudah bukan dosennya lagi, senyumpun tidak, apalagi menyapanya. Ingat!! Keberkahan belajar ada pada doanya. 

4. Carilah teman yang: baik, berakhlaq, berkarakter, berilmu dan suka beribadah. Memilih teman sangat penting, karena ia akan menggiring kita kepada kebaikan atau sebaliknya. Banyak mahasiswa baik, tetapi berubah tidak baik, karena pergaulannya yang salah. 

5. Carilah lingkungan yang baik, karena lingkungan akan memberikan pengaruh pada diri kalian. Atau tinggal di tempat (Kost atau Kontraan) carilah yang dekat dengan masjid atau mushalla. Atau tinggal di pondok, insyaalla lebih aman dan setiap hari dapat pelajaran agama, dan insyallah belajar kemandirian. 

6. Banyaklah: membaca, menulis, dan mengkaji, dari pada selalu membukan hp hanya untuk chating dll. Mahasiswa akan hebat, jika ia selalu membaca, targetlah sehari membaca 1 buku, atau beberapa halaman buku. Perbanyaklah buku, dari pada memperbanyak menghabiskan pulsa. Ingat, ilmu datang karena banyak belajar, bukan banyak cating, apalagi banyak tidur. 

7. Buatlah club, grup-grup kecil, seperti kajian nahwu, sastra, bahasa dan lainnya, carilah teman yang lebih mampu, dan berlatihlah. Atau minta salah satu dosen untuk menjadi pembimbing dalam grup tersebut, dan mengkaji pelajaran atau lainnya.

8. Menjaga shalat 5 waktu di tengah-tengah padatnya kegiatan di kampus atau di luar, terutama shalat berjamaah. Jangan lupa, Shalat Tahajjut, Dhuha dan shalat sunnah lainnya, serta puasa sunnah. Belajar itu butuh tirakat!!! Kesuksesan seseorang, sejauh mana tirakatnya. 

9. Selalu minta doa orang tua, agar dipermudah dalam mencari ilmu. Dan doakanlah para dosen, guru, dan orang tua kalian, serta keselamatan umat Islam, dan kesejahteraan negara. 

(Tulisan ini dapat dilihat juga di Instagram beliau @halimizuhdy3011. Kami sudah izin beliau, silakan dishare agar bermanfaat bagi para penempa ilmu).

Rabu, 15 Januari 2020

Literasi di Indonesia Butuh Dongkrak Lebih Kuat

Halimi Zuhdy

Beberapa hari ini saya mengadakan riset kecil-kecilan tentang kesadaran berliterasi di beberapa tempat, dan di beberapa kepala keluarga, hasilnya dari sekian keluarga yang suka membaca buku dan suka menulis hanya 1%. Kalau ada yang suka membaca, itupun baca status, cating di WA dan di FB. Dan tulisan-tulisan yang berat jarang dibaca, terkadang langsung di hapus.

Dan kebanyakan anak-anak di tempat tersebut (yang saya maksud di atas) suka nonton vedio berjam-jam (terutama di youtube dan FB), main game juga berjam-jam, giliran baca buku hanya dapat bertahan 5 sampai 10 menit, itupun karena tugas dari sekolah, dan buku yang dibaca adalah buku-buku pelajaran.

******

Perkembangan literasi di Indonesian tidak terlalu menggembirakan, butuh usaha besar dan sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk selalu mendorong masyarakat Indonesia agar gemar membaca dan menulis. .

Data yang cukup mengenaskan, dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya, menempatkan Indonesia peringkat kedua dari bawah, yaitu ke-60 setelah Bostwana. Prestasi yang tidak perlu terjadi, apalagi negara ini negara besar dan sudah cukup lama berdiri di dunia. Seharusnya, besarnya (banyaknya) juga sejalan dengan budaya literasinya. 

Sebuah negara, maju dan tidaknya, dapat dilihat dari bagaimana kegemaran membacanya, jika budaya bacanya masih rendah, maka masyarakatnya juga demikian.  Menurut penelitian UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,001 %. Artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Apakah benar survei tersebut, kalau benar, bagaimana peran lembaga pendidikan di Indonesia, demikian juga peran pemerintah yang memiliki kekuatan untuk merubah bangsa. .

Sedangkan hasil survei 3 tahunan BPS, telah mencatat,  tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 %, sementara minat menonton mencapai  91,67 %. Bisa dibayangkan, bagaimana minat menonton masyarakat Indonesia mengalahkan daya bacanya. Apalagi akhir-akhir ini, dari mulai Anak PAUD sampai Pos Doktoral sangat suka megang HP, dan yang paling banyak diakses adalah youtube (film), dan orang tuanya asyik masuk dengan literasi ala modern (cating, ngerumpi, hal tidak jelas arahnya). Budaya baca buku (online dan ofline) juga kurang diminati. Dan yang sangat menakutkan, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 3 menit 36 detik untuk menonton film porno di internet. .

Jika, kegemaran membaca saja sudah sangat rendah, bagaimana dengan minat menulisnya. Sedangkan budaya menulis akan tumbuh, jika minat membacanya kuat. Dan dari hasil penelitian terkini, lembaga pendidikan pun (sekolah, kampus dll), banyak yang tidak membudayakan literasi, dengan indikasi; perpustakaannya sepi, jarangnya bedah buku, tidak adanya diskusi, buku-buku tidak terbaca di berbagai rak sekolah/kampus, dan lainnya. .

Dan lucunya, banyak parapejabat pemerintahan dan para pendidik, yang belum tahu tentang dunia literasi. Bagaimana mereka mendorong untuk memdayakan literasi, sedangkan mereka belum memahaminya. Mudah-mudahan dapat berbenah. .
.
Untuk memupuk dan membudayakan literasi, maka bagi para pendidik terutama, selalu mengkampanyekan; pentingnya membaca dan menulis, mendorong untuk mengunjungi perpustakaan sekolah, menggiatkan gemar ke toko buku, memotivasi membawa buku kemana-mana, membuat gerakan membaca di sekitarnya, membuat taman literasi, dan lainnya. 

Budaya literasi yang rendah, akan menyebabkan pengetahuan rendah, negara terbelakang, hoax bergelimang, dan serta sulit bangkit dari keterpurukan. Penyebab rendahnya minta tersebut, menurut beberapa pakar di Indonesia, karena; orang tua tidak mengenalkan literasi sejak dini, orang tua yang meletakkan buku sebagai sampingan dari belanja lainnya, orang tua lebih mendekatkan pada TV dari buku, sulitnya mengakses buku-buku, figur publik yang tidak suka literasi.

Untuk membudayakan budaya literasi, misalnya membaca, maka dengan meletakkan buku-buku di beberapa titik yang sering anak-anak berkumpul, mislanya di rumah. Atau orang tua membuat perpustakaan mini, sehingga anak-anak selalu melihat buku-buku yang terpampang dari pada foto-foto kenangan.wkwkwwk. guyon yang ini. Dan orang tua, sering memberi hadiah buku, dari pada hadiah duku.wkwkw. Juga bisa seminggu sekali mengajak anak ke perpustakaan kota dan toko buku. Dan yang paling urgen, orang tua mengurangi membaca cating medsos (Hp-an) di depan anak-anak, kecuali orang tua membaca ebook atau membaca buku-buku yang ada di gawai.wkwwk.

Salam Literasi.

Kamis, 26 Desember 2019

Persepsi

Halimi Zuhdy

Beberapa hari yang lalu ada yang bertandang ke rumah saya, ia bercerita tentang kehidupannya yang penuh getir dengan tangisannya yang meledak-ledak. Ia bercerita tentang bunga Bank yang membelitnya, rumahnya yang disita, istrinya yang minta dicerai, anak-anaknya yang menjauh. 
 
Menghadapi orang seperti ini tidak cukup saya membacakan puisi di hadapannya, tidak cukup pula saya berkhutbah dengan ratusan kata hikmah, apalagi saya memvonis dia sebagai pelaku dosa, dan mengusirnya.

Saya memulai dengan sekedar bertanya tentang bunga padanya. “Apakah ada bunga yang tidak indah?”. Ia menjawab dengan wajah sedikit binar, “Tidak ada Pak, semua Bunga itu indah Pak!,”. “Itulah persepsi kita tentang bunga, sebenarnya sama dengan kehidupan kita, semuanya indah tergantung persepsi kita tentang apa yang datang kepada kita” saya sedikit berkhutbah.wkwkwkw. 

Saya lanjutkan tentang bunga itu, dia seperti benar-benar mendapatkan air segar, “Mas, demikian juga kita menilai perempuan, tidak ada perempuan itu jelek, semua perempuan itu indah, ia diciptakan Allah sedemikian indahnya, hanya berbeda bentuk dan kulit, tetapi jenisnya sama perempuan, apa bedanya bunga dengan perempuan?, bukankah tidak sedikit kita menilai perempuan dengan wajah biasa-biasa saja bahkan jelek, tetapi dia mendapatkan laki-laki ganteng? Bukankah laki-laki itu berpersepsi tentang perempuan itu berbeda dengan persepsi  kita?” 

Saya mencoba menggiring dia kepada sebuah persepsi tentang diri dalam menghadapi kehidupan. 
“Betul juga ya Pak,?!, apakah saya salah dalam mempersepsikan masalah yang datang pada saya ya Pak?”. “Mungkin” jawabku. 

Kemudian saya tutup perbincangan itu dengan perkataan Ali Thantawi yang pernah saya baca di grup I’jaz al-Qur’an wa Sihru bayan. 

نفسك عالم عجيب!!! 
Dirimu itu sangat unik

يتبدل كل لحظة ويتغير ولا يستقر على حال، تحب المرء فتراه ملكا، ثم تكرهه فتُبصره شيطانا، وما كان ملكاً ولا كان شيطانا
وما تبدّل! ولكن تبدلت (حالة نفسك)
Dirimu selalu berubah setiap saat, dan tidak pernah diam pada satu keadaan. 

Saat engkau mencintai seseorang, maka engkau memandangnya laksana Malaikat, namun saat engkau membencinya, engkau memandangnya bak Iblis yang menakutkan. 
Apakah kau benar-benar melihat orang itu menjadi Malaikat atau menjadi Iblis, tidak kan? 
Ia benar-benar tidak berubah menjadi keduanya! Tetapi yang berubah adalah dirimu (Sikap, kondisimu)

وتكون في مسرة، فَترى الدنيا ضاحكة، ثم تراها وأنت في كدر باكية، قد فرغت في سواد الحدادما ضحكت الدنيا قطّ ولا بكت! ولكن كنت أنت: (الضاحك الباكي)

Saat engkau bergembira, engkau memandang dunia seakan-akan tersenyum ria padamu, namun disaat dirimu mengalami fase jenuh, maka dunia dalam pandanganmu seakan-akan ia menangis. Semua bagai hidup dalam gelap gulita, padahal dunia tak pernah menangis dan juga tidak tertawa. Engkaulah yg tertawa dan menangis. 

Persepsi tentang susuatu itulah yang selalu menggiring kita pada suatu kondisi. Bukankah sesuatu itu sebenarnya apa yang kita persepsikan?. Kadang kita menyalahkan seseorang, ia keras, ia sombong, ia sinis, ia dan ia...dengan banyak kejelekan yang disandangkan padanya dan juga mungkin pada kehidupan kita. 

Bukankah masalah itu pasti datang kepada siapa pun dengan jenis dan bentuknya sama pada seseorang, tetapi berbeda cara menghadapinya dan berbeda pula dalam menanggapinya, ada yang menganggap itu ujian yang akan mengantarkannya pada fase lebih indah, namun ada yang menganggap sebagai fase kejatuhannya. 

Ada yang menuruti kata hatinya saja, yang melahirkan peka rasa. Ada menuruti pikirannya saja, yang melahirkan rasionalitas saja. Ada yang tidak keduanya. Ada pula yang mencoba untuk melahirkan keduanya, merasakan dan merasionalkan. Persepsi melalui rasa dan rasionalitas.

Ket Gambar: Walau latar kedua anak ini menyeramkan, Deno yang seakan mencengkeramnya, tapi keduanya santoi saja. Karena mereka yakin, bahwa itu hanyalah replika saja. Wkwkw

Minggu, 15 Desember 2019

Menebar Cinta, Menjalin Persatuan

Halimi Zuhdy

Tanah Air, bukan tanah dan air yang melebur menjadi lumpur. Bukan pula tanah yang berdansa dengan air, atau air menghibur tanah. Ia adalah bumi Indonesia dengan daratan dan lautannya.

Dari tanahnya membunga 478 suku, Jawa, Bugis, Batak, Sunda, Madura dan lainnya. Dari tanahnya lahir 742 bahasa, 400 bahasa lahir di Papua, disatukan dengan huruf yang sama,  Indonesia. Tanah dengan gemercik airnya, mengalir 6 agama, rampak penuh pesona. 7.241 warisan budaya lahir dari tanahnya.

Tanah Air Indonesia, merangkai 5.120 km panjangnya dari Sabang sampai Merauke. 1.700 km, selatan ke utara, panjang jaraknya. Kurang lebih 2 juta km luas daratanya, samuderanya tiga kali lipatnya. Sungguh  raya Indonesia.

Tanah Air, tanahnya melahirkan kita, dari seorang Ibu yang lahir dari tanah yang sama, air  Bapak dari sari tanah Indonesia. Meminum airnya, memamah tumbuhannya, bermain-main di atasnya, tidur dan rehat di gundukannya, dan suatu saat juga akan dipeluk tanahnya, Indonesia. 

Tak ada alasan untuk membenci tanah yang melahirkan darah, mengalirkan bening putihnya, dan membuatkan gumpulan daging membentuk tubuh dari tanah yang Allah berkati. Indonesia.

 ----------------------------------------------------
Saya menyampaikan tema "Menebar Cinta, Merajut Persatuan" pada dialog yang diadakan FKUB Batu, yang dihadiri oleh Wakil Wali, Kpl Depag, wakapolres, dengan peserta dialog guru-guru Agama. @ Hotel Purnama Batu

Sabtu, 30 November 2019

IKON, SIMBOL

Halimi Zuhdy

Manusia tidak pernah terlepas dari sebuah ikon, bahkan kehidupannya adalah ikon-ikon itu sendiri. Bila berbicara, ikon kata diperhatikan. Sudah dipahami, masih saja diperkuat dengan ikon isyarat. Kadang tidak puas, ikon ia salahkan.

Bila mata memandang, ikonlah yang dicari pertama kali, kemudian mencengkramnya dengan tangan. Tidak cukup, ia ciptakan ikon-ikon baru untuk memastikan keberadaan dirinya, ia ciptakan ikon untuk mengenalkan dirinya pada dunia, bila belum puas, ia bangun ikon terbesar, tertinggi, terlebar bahkan dalam pokirannya 100 ribu tahun ke depan ikon itu akan tetap ada. Dirinya dikenang.

Dalam agama-agama, ikon-ikon itu dicipta, tercipta, atau menciptakan dirinya. Muslim punya ikon masjid, bulan bintang, dan lainnya. Kristen salib sebagai ikonnya. Hindu; Teratai, Swastika, dan Om. Budha punya ikon Dharmacakra, Swastika, dan bunga Teratai. 
Demikian dengan negara, ia menciptakan ikon-ikon untuk memperkenalkan dirinya, dan untuk pembeda dengan negara-negara lainnya. Indonesia dengan Monas-nya, Amerika dengan Liberti-nya, Singapore dengan Merlion-nya, Thailand dengan Grand Palace-nya dan ikon-ikon lainnya.

Ikon, indeks dan simbol selalu melekatpada  manusia, ia ciptakan untuk lembaga, negara, kekuasaan, politik, dan lainnya. Ikon ia cipta dalam khayalnya untuk sebuah realitas, walau kadang hanya sebagai ikon tak pernah menjadi realita.

Ikon terkadang terlalu disucikan, lupa mengapa ia didesain, bahkan melampaui kesucian Sang Pencipta. Darah menjadi jalan terakhir, untuk sebuah ikon yang nisbi. Bukankah ikon diciptakan untuk menggambarkan, bukan  sebuah kehakikian?. Tapi, apakah kehakikian itu akan nyata, bila tidak pernah dibuatkan ikon?. 
.
 @ Merlion Park マーライオン公園

Hari Literasi di Sekolah Indonesia Singapura

Halimi Zuhdy


Ada yang menarik pandangan ketika berkeliling   di Sekolah Indonesia Singapura (SIS), mata seperti diseret ke papan yang tertempel di dinding sekolah yang lurus dengan jalan masuk utama "5i".

Saya merenung agak lama, ada apa dengan 5i, saya mencoba mengerlingkan mata mencari huruf "i", saya tidak menemukannya kata yang dimulai dengan huruf "i". Selasa... dimulai dari S, demikian seterusnya. Setelah nama hari pun tidak menemukan huruf itu. Setelah agak lama... horeee... saya menemukan huruf "i" di akhir program itu. He. 

Cinta Neger(i), Literas(i), Komunikas(i), Prestas(i), Relig(i) ternyata inilah 5i itu. Seperti sajak yang berakhiran rampak... AA. Tapi bukan 5i yang menarik pandangan dan saya menyempatkan diri berpose dengan makhluq tak bernyawa itu, namun program-program hariannya yang lebih difokuskan pada 5i itu. 

Seperti hari Selasa adalah hari "Literasi", saya membayangkan (karena belum sempat mengorek banyak pada guru dan kepala sekolah SIS) ia adalah hari melatih diri untuk menulis dan membaca...berkarya..tidak hanya siswa tetapi juga semua guru, staf administrasi, satpam, dan semua yang terlibat di dalamnya. Pasti menarik... mereka menulis apa yang mereka lakukan hari itu, mereka membaca apa yang ada di tempat itu, bila ini dilakukan maka hari itu pasti hari paling menyenangkan. He 3.

Pendidikan kita disesaki dengan berbagai materi pelajaran, serasa siswa harus serba bisa dengan segala materi itu, kalau ada nilai yang rendah dari sekian materi, pastilah orangtua dibuat bingung, demikian juga guru-guru, tuntutannya sangat tinggi untuk serba bisa. Wkwkwwk. 

Pada akhirnya, hari yang paling menyenangkan bagi siswa adalah hari Ahad, di mana hari itu tak satu pun guru mengajar dan tak satu pun materi yang dilirik... horeeee. hari libur. wkwwwk.

Senin, 18 November 2019

Menikmati Surga Dunia, Kemudian Surga Akhirat

Halimi Zuhdy

“Jangan terlalu memikirkan urusan dunia, nanti kamu sulit memikirkan akhirat” itu potongan kalimat khutbah salah satu teman ketika berceramah. “Kalau kamu terlalu senang di dunia, nanti di akhirat sulit senangnya lo!!”, tambahnya. 

Masih banyak ungkapan-ungkapan yang kadang salah dipahami oleh para mustami’in (pendengar), atau salah paham terhadap surga di dunia. seakan-akan tidak boleh berbahagia di dunia, takutnya di akhirat tidak bahagia. berbahagia di dunia itu tidak salah, bahkan dianjurkan, demikin juga nanti berbahagia di Akhirat. Fiddunya hasanah, wa filakhirah hasanah.

Bahagia itu adalah senang dan tenang. Ada orang yang merasa senang karena banyak keinginannya terpenuhi. Ada orang yang merasa senang karena diberikan kesabaran untuk menyelesaikan berbagai masalah. Ada orang yang merasa senang karena selalu diberikan jalan keluar dalam setiap masalah.
Ada orang yang merasa senang karena berhasil mendapatkan kecintaan seseorang. Ada pula orang yang merasa senang karena memeproleh harta, pangkat dan lainnya.

Apakah semua kesenangan dunia itu abadi? Tidak. Misalnya, bila kita ingin sekali memiliki sepeda motor, karena setiap hari berjalan kaki dan terasa capek berjalan menuju kampus yang cukup jauh, maka tidak beberapa lama kita pun bisa membeli motor itu. Apakah senang? Ia pasti senang, apakah senangnya abadi? Jawabannya, bisa Ia, bisa tidak. Tetapi, bisa dipastikan kesenangan memiliki motor itu tidak akan bertahan lama. Karena akan terlupakan dengan keinginan lainnya. Serta, hal itu hanya beralih saja dari keinginan satu menuju keinginan yang lainnya. Itu kesenangan dunia. Setelah memiliki, selesailah kesenangan itu. Berikutnya, bagaimana ia mengatur hati. Setelah kita ngeler bakso beberapa bulan, dan suatu hari dapat menyantapnya, apakah senangnya sepanjang hari?.wkwkw

Apakah ada yang merasakan bahagian sepanjang waktu bila sudah memiliki sesuatu yang diinginkan? Bukankah tidak ada sesuatu di dunia ini yang abadi? Apakah masih bisa bahagia dengan sesuatu yang tidak abadi?. Bila kita senang memiliki motor, apakah kepemilikan motor itu abadi?. Bila bertahan lama motor itu, apakah rasa bahagia itu bertahan?. (Direnungkan saja, tidak untuk dijawab. Wkwkwk)

Maka, Nabi sudah mengajarkan bagaimana cara bahagia yang abadi dalam setiap kondisi, dan bahkan kondisi yang paling sulit bagi orang lain, tetapi bagi diri mereka ini tetap masih dalam kebahagiaan. Bukankah ada orang yang punya rumah besar, mobil mewah, pangkat tinggi, namanya masyhur, namun di malam hari, bahkan sepanjang hari, bantalnya dipenuhi dengan air mata kesedihan?

Bukankah tidak sedikit berumah gubuk, miskin, pekerjaan tidak menentu, tetapi senyumnya selalu tersungging di mulutnya? Itu karena, kebahagiaan tidak diukur dengan seberapa banyak harta diperoleh, seberapa tinggi pangkat, dan seberapa masyhur dirinya. Artinya, wasilah-wasilah dunia itu bukanlah sebuah tujuan kebahagiaan. Walau itu memberikan pengaruh lo, namun tidak satu-satunya.

Ada tips dari Nabiyuna Muhammad ﷺ agar bahagia, senang, gembira setiap hari serta dapat membuat stabil hati dan pikiran yang kemudian mengantarkan pada kebahagiaan, yaitu bersyukur bila mendadpatkan kenikmatan, dan bersabar ketika mendapatkan musibah. Tips dahsyat ini mungkin sulit dilakukan, tetapi sangat mujarrab untuk membuat tenteram.

Ada pula yang diajarkan oleh Nabiyullah Muhammad ﷺ agar selalu merasakan kebahagiaan di dunia yang juga dapat membuat bahagia di akhirat adalah; 1) Selalu melihat orang yang berada di bawah kita, bukan yang berada di atas kita, sebagaimana Sabda Beliau “Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, sebab itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah. (Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah). 2) Merasa cukup (Qonaah), dan mungkin dengan hadis ini dapat membuat hati tenteram, “Siapa diantara kalian yang bangun di pagi hari dalam kondisi aman, tubuhnya sehat, dan memiliki makanan untuk hari tersebut. Maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan untuknya. (Al-Bukhari dan At-Thirmidz). 3) Selalu berbaik sangka pada Allah apa yang telah diberikan kepada hari ini, adalah pilihannya terbaik, baik urusan harta atau lainnya, tentunya setelah berusaha. 4) Tidak suka membanding-bandingkan, insyallah hidup akan tenteram dan bahagia, sebagai Ayat dalam surat A-Nisa’; 32 “Janganlah kalian mengharapkan Karunia Allah yang terdapat pada orang lain”.

Kehidupan itu akan selalu berputar, tidak akan pernah berhenti pada satu titik, selama kita hidup. Sedih dan bahagia akan selalu silih berganti, namun kebahagiaan dan kemudahan selalu Allah berikan lebih banyak dari pada kesulitan, dan tidak ada kesulitan yang berlarut-larut karena Allah juga selalu memebrikan jalan keluar.

Bukankah kita pernah dapat masalah?, adakah masalah yang sampai detik ini belum selesai? Kalau ada, masalah apakah yang sampai puluhan tahun itu?. Kalau toh ada, itu sangat jarang, bukankah sehat lebih sering dirasakan dari pada sakitnya. Itu menandakan, betapa Allah Maha Rahman pada hamba-hambanya. 
Sebelum berbahagia di Akhirat nanti, maka tips yang diajarkan Nabi untuk bahagia di dunia itu sangat dianjurkan. Sebagaimana harapan ketenangan, yang selalu bisa didapatkannya dengan dengan banyak mengingatNya, ala bidzikrillahi thathmainnul qulub, Ingatlah!! dengan mengingat Allah dapat membuat hati tenang. Dan bukankah ketenangan itu yang juga banyak dicari oleh manusia?. 
Allahu’alam bishawab.

Kamis, 31 Oktober 2019

TIPS Menguasai Bahasa Asing

Halimi Zuhdy

"Hebat, menguasai, luar biasa" Ungkapan yang kadang disematkan pada seseorang yang berbicara bahasa Asing. 

"Bisa berbahasa" dan "Menguasai bahasa" itu berbeda. Dapat dikatagorikan "bisa berbahasa" apabila ia dapat mengungkapkan beberapa kalimat, baik lisan atau tulisan. Atau dapat mengenalkan dirinya, atau sekelinglingnya. Namun, ia masih bisa disebut "Bisa", dengan kelas terendah, beginner. 

Berbeda dengan menguasai, tidak cukup berkelas beginner (mumtadi') tapi audah menaiki beberapa tangga sehingga masuk pada kelas Master, dengan melampau kelas beginner, Ilementary, intermediate, dan advanced (mutaqaddim). 

Dikatakan menguasai, bila ia sudah memahami semua pembicaraan orang asing ketika berbicara atau menulis, atau ia dengan mudah memahami segala informasi yang didapatkan. Master, atau menguasai bahasa, ia mampu menyampaikan argumen, ide, opini, fakta, dan kainnya dengan baik dan benar. 

Untuk menguasai bahasa asing, memang tidak mudah, ia butuh perjuangan tapi tidak harus berdarah-darah lo.wkwkwk. lebih sulit menyatakan cinta pada seseorang yang tak mencintai kita.wkwkwwk.

Untuk bisa menguasai bahasa asing, ada beberapa tips yang mungkin bisa dilakukan; melakukan, memotivasi diri, merencanakan, menjaga. 

Bahasa asing bukanlah kenangan, bukan pula sebuah cita-cita, apalagi dimajinasikan. Ia harus dilakukan, dituliskan, dipratikkan, diungkapkan, tidak cukup dihafalkan. Walau selanjutnya, ia harus berlatih dan mencari pelatih untuk selalu memperbaiki bahasanya. Minimal 5 menit dalam sehari untuk melakukan (mempratikkan). 

Selanjutnya, motivasi yang benar dan membara. Banyak yang termotivasi untuk berbahasa asing, juga dengan niat yang benar. Namun, kurang membara, sehingga cepat padam. Agar selalu termotivasi, carilah teman yang memiliki satu tujuan, lingkungan yang berasap bahasa, membaca atau mendengar berita dari yang paling ringan sampai yang agak musykil. Tetapkan tujuan selalu, mengapa ingin mahir berbahasa Asing?!.

Ada sedikit cerita, ketika saya menginjakkan kaki di Tanah Jawa, dalam bis jurusan Malang, saya dikagetkan dengan kemahiran berbicara seorang bocah perempuan, begitu fasih ia berbicara, begitu tepat mengungkapkan ide-idenya, dan menanggapi setiap pembicaraan dari ibunya yang berada di sebelahnya. Saya tanya pada ibunya, tentang perihal bocah pintar tadi, Apakah ia sudah sekolah? Dan apakah di sekolahnya ia belajar grammar?. Ternyata, ia belum sekolah, pra sekolah pun belum masuk, apalagi belajar grammar, ia tidak sama sekali. Ternyata, dari pengakuan ibunya, ia pintar berbahasa Jawa karena selalu "Melakukan", "Mempratikkan" dan "Selalu mencoba", serta "Tidak pernah malu dan tidak takut mengungkapkan".

Berbahasa Asing  itu mudah, seperti kita menggunakan Bahasa Ibu, asalkan ada kometmen dan kesungguhan untuk menjadi bisa dan menguasai. 

Bersama Ibu Dr. H. Like Raskova, M.Ed pada Worshop "Empowering Millenials Troungh Arabic and English Billingual" di Rektorat Lantai 5 yang diselenggarakan oleh devisi Bahasa Ma'had al-Jamiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

IG @halimizuhdy3011
Www.halimizuhdy.com

Jumat, 04 Oktober 2019

M o m e n t

Halimi Zuhdy

Setiap detik itu adalah moment terpenting hidup kita. Tapi mengapa sering diabaikan? Bahkan, tak peduli dengan apa yang terjadi.

Kerikil yang menyapa. Debu yang menerpa. Daun yang melambai-lambai. Dan, air yang terpercik ke baju kita, bukanlah sebuah kebetulan. Ia sudah termaktub rapi di Lauh Mahfud-Nya. Malaikat bekerja sedemikian rupa.

Namun, kadang kita lupa, bahwa moment apapun adalah paling indah dalam kehidupan. Mengapakah kita lupa mengabadikannya. Walau tidak ada (yang) abadi kecuali keabadian-Nya.

Ketika kita mengambil gambar (menfoto), mengapa kita memilihnya? Bukankah setiap moment itu istimewa. Benar. Tapi ada moment-moment (yang) sangat istimewa. Sebagaimana Allah memberikan waktu-waktu istimewa. Pada setiap harinya, setiap bulannya, dan setiap tahunnya. Dalam satu minggu, hari Senin, Kamis dan Jumat. Dalam satu bulan, ada Ayyamul Bedh, 13,14 dan 15. Dalam satu tahun, bulan al-Muharram, Ramadlan, dan lain sebagainya.

Untuk apa? Agar kita terus menunggu waktu istimewa dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu. Pada waktu yang istimewa itulah kita perkuat rindu dan cinta. Agar ikatan semakin erat. Bila ada kedekatan, maka rahmat akan terus mengalir pada kita.

Mengabadikan moment terindah dalam setiap detiknya. Selalu membekaskan nama-Nya di setiap waktu dan tempat, fadzkuruni azkurkum. Dzikir itu akan direkam. Diputar dalam setiap roda kehidupan. Tentunya nanti akan kita saksikan dalam layar lebar Mahsyar. Di mana tiap manusia menunggu pemutaran film kehidupan mereka. []

Jum'ah Mubarokah...

Ket: Ketika Abah Zawawi melukis wajah suram ini,wkwkwk.
Gus Aziz Progresif terima kasih.

Kamis, 12 September 2019

Makam Itu Bukan Kuburan

(Menelisik Asal Usul kata Kuburan dan Makam)

Oleh: Halimi Zuhdy

“Ustadz, kuburan Nabi Ibrahim kok kecil sekali ya”......ungkap salah seorang  jamah Umrah ketika baru pulang dari Makkah. 

“Kuburan yang mana Pak?, Apakah Bapak ke Kuburan Nabi Ibrahim?” Saya bertanya kembali.

“Yang dekat  Ka’bah  itu ustadz, bukankah itu kuburan Nabi Ibrahim?” Jawab nya dengan polos.

“Kuburan Nabi Ibrahim itu di kota Hebron Palestina Bapak, Hebron (Hebrew) itu bahasa Ibrani yang berarti al-Khalil, sebuah gelar yang disematkan kepada Nabi Ibrahim” sedikit saya jelaskan dimana Nabiyuna Ibrahim dikuburkan.

“Itu Maqam bukan Kuburan Bapak, Maqam artinya tempat Nabi Ibrahim berpijak ketika membangun Ka’bah” saya coba menjelaskan, namun ia masih bengung.wkwkwkw
------------------------------------

Jumat, 30 Agustus 2019

Memahami kata "Wafat" dan "Maut" dalam linguistik Arab

Halimi Zuhdy

Bahasa adalah cerminan dari budaya suatu bangsa, dan setiap bahasa memiliki keistimewaan dan karakter sendiri. Bahasa yang digunakan dalam suatu bangsa, dianggap mewakili karakter dari bangsa tersebut.

Misalnya, dalam mengungkapkan kata “kematian”, antara suatu bangsa dan bangsa lainnya berbeda, baik dari ungkapannya atau perlakuannya.

Dalam bahasa Indonesia, kata “mati” memiliki banyak sinonim (al-mutaradifat), di antaranya; berkalang tanah, berkubur, binasa, bobrok, buang nyawa, gugur, hilang hayat, hilang jiwa, hilang nyawa, jangkang, kaku, kembali ke pangkuan Allah Swt, koh, mampus, mangkat, maut, melayang jiwanya, membaham tanah, meninggal, menutup mata, modar, musnah, padam hayat, padam nyawa, punah, putih tulang, putus jiwa, putus napas, putus nyawa, putus umur, tenang, terjengkang, tersekat, tersumbat, tertutup, tetap, tewas, tumpar, tumpas, wafat, dan masih ada kosakata lainnya, dengan penggunaannya yang berbeda.

Dalam tradisi Nusantara, kematian adalah sesuatu yang sangat sakral, bukan hal yang sederhana, sehingga muncul dengan istilah-istilahnya yang bervarian. Karena kematian merupakan hal yang penting, sebagaimana kelahiran, maka banyak memunculkan ungkapan-ungkapan atau kosakata yang tidak sedikit.

Dampak dari kesakralan tersebut, orang yang meninggal tidak cukup dikebumikan, tetapi ada tahapan-tahapannya, dan setelah dikebumikan dibuatkan kijing, diberi nama, tanggal lahir dan tanggal kematiannya, ada pula yang dibangunkan rumah di atasnya. Sedangkan beberapa negara di Arab, bahkan mayoritas, kijing juga jarang didapatkan, dan tidak terdapat nama dan tanggal kematiannya. Seperti pekuburan Baqi’ dan Ma’la.

Selengkapnya dapat dibaca dilink berikut:https://alif.id/read/halimiy-zuhdi/memahami-kata-wafat-dan-maut-dalam-linguistik-arab-b222140p/

Manusia Sangat Suka Ingkar Nikmat

(Analasis kata "Kanud" dalam Al-'Adiyat)

Halimi Zuhdy

Manusia itu makhluk yang unik, ia bisa tersenyum pula bisa tertawa, bisa mengeluh dan menerima keluhan, juga sering menolak untuk dibuat tempat mengeluh, mengeluhnya lebih banyak dari ridhanya.

Manusia itu makhluk unik, menerima banyak nikmat, tapi sering melupakannya, bahkan merasa tak pernah menerimanya. Bila diberi nikmat, masih sering merasa sedikit, bila dikasih lebih banyak juga tidak merasa banyak, kadang merasa belum pernah diberi.

Manusia itu unik, nikmat yang pernah dirasakan terhapus dengan setetes penyakit yang diderita. Sering pula melupakan segala kenikmatan terhebatnya.

Keunikan ini, bagi mereka yang tidak pernah bersyukur walau merasakan nikmat luar biasa, seperti tenggorokannya kering dari perjalannya pendeknya ketika kehabisan air, walau sebelumnya perjalan panjangnya selalu ada air yang diminumnya. Ia bersedih dengan memutihnya rambut, walau hitamnya sejak kecilnya sudah dinikmati. Ia marah  giginya sakit walau hanya satu detik, lupa puluhan tahun giginya bisa mengunyah banyak rezki dan nikmatNya.

Sesak nafas yang didera, seperti kematian buatnya, lupa bahwa jutaan nafas telah keluar masuk tanpa biaya. Debu yang menghalangi matanya, membuatnya amarah membara, ia lupa  puluhan tahun matanya memandang kenikmatan dunia tanpa cela.

Sebagaimana Firman Allah swt:
"Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya" (Al-'Adiyat;06)

(إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ)

Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata "Kanud" di tambah "lam" untuk taukid (menguatkan). "la Kanud"  dalam Tafsir Thabari "la  kafur li ni'ami rabbihi", sangat mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya.
"Kanud" dalam At-Thabari adalah al-Ardhu al-Kanud, bumi atau daratan yang tidak ditumbuhi apapun.

حدثنا أبو كُرَيب، قال: ثنا عبيد الله، عن إسرائيل عن جعفر بن الزبير عن القاسم عن أبي أمامة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ) قال:" لَكَفُورٌ الَّذِي يَأْكُلُ وَحْدَهُ وَيَضْرِبُ عَبْدَهُ وَيَمْنَعُ رِفْدَهُ " .
Tentang "Lakanud"  Nabi bersabda, "Mereka sungguh ingkar, mereka yang makan sendirian, memukul budaknya, dan menolak pemberian".

حدثني محمد بن إسماعيل الصوارى قال: ثنا محمد بن سوار قال: أخبرنا أبو اليقظان عن سفيان عن هشام عن الحسن في قوله ( إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ) قال: لوام لربه يعد المصائب وينسى النعم.

Menurut al-Hasan, "Mereka yang sangat suka mencela Tuhannya, menghitung-hitung musibah, dan melupakan kenikmatan-kenikmatan" 

Dalam Lisan al-Arab, Kanada Yaknudu Kandan Kunudan, diartikan mengingkari nikmat, seperti Rajulun Kannad. Dalam Al-Ma'ani, juga ada yang bermakna "Qatha'ahu", memutusnya.

Dalam Tafsir Al-Baghawi, juga diartikan sama, Al-juhud lini'amillah, mengingkari nikmat Allah. Perkataan al-Husain, sebagaiana dikutip al-Baghawi, Kanud, adalah menghitung-hitung (banyak mengingat) musibah, dan melupakan banyak nikmat. Sedangkan menurut Abu Ubaidah, mereka sedikit memberikan sesuatu. Al-Fudhail, mereka yang melupakan banyak kebaikan dan menyebut banyak kekurangan.

Dalam Tafsir Al-Sya'rawi, Kalimat (كنود) yang terdiri dari "Kaf", "Nun" dan "Dal" dari (كند) mengandung makna الجحود yaitu mengingkari. Kabilah Kindah adalah kabilah yang sangat terkenal di Arab, yang bila seseorang berasal dari Kabilah tersebut dan ia dinisbatkan kepadanya,  diaebut al-kindy. Ada yang berpendapat (qila)  disebut Kabilah Kindah, kerena kabilah tersebut mengingkari atau menentang orang tua mereka.

"Kanud" mengingkari yang ada, seperti tiada. Merasakan rasa, seperti tak punya rasa. Berjibun nikmat, berlimpah pemberian, tapi seperti rekaman yang dihapus dalam kaset kehidupannya. Mengingat segala sedih, susah, dan musibah membakar segala nikmat.

Dikisahkan, seorang salafus shaleh ditimpa berbagai penyakit; lepra, matanya buta, tangan dan kakinya lumpuh, kepalanya botak. Ia masih selalu memuji Tuhannys, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang selalu memberiku kesehatan (kebaikan, menarik, bagus) dari banyaknya cobaan, dan memberikan banyak kelebihan dan utamaan padaku". Tetiba, lewatlah seseorang dan mengejek, apa yang menarik darimu? Engkau buta, terkena lepra, lumpuh, apa yang indah darimu?
Kemudian ia menjawab, "Kurangajar Kau, wahai laki-laki, Allah menjadikan  mulutku terus berdzikir, hati yang bersyukur, dan tubuhku selalu sabar menerima musibah".

Mudah mudahan kita dijauhkan, sejauh-jauhnya dari "Kanud", mudah-mudahan didekatkan dengan "Syakur". Amin Ya Rabb

Sumenep, 24 Agustus 2019

Ket Gambar: Santri TPQ dan PAUD Al-Quran Masjid Baiturahman Bukit Cemara Tidar dalam HUT RI ke 74