السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Minggu, 22 Januari 2023

Menelisik Arti Putra Nabi Ya'qub

(Ruben, Levi, Yusuf, Yehuda, Simon, Benyamin dan Dina)

Halimi Zuhdy

Setiap nama yang hadir ke muka bumi, pastilah memiliki arti atau makna. Dan setiap nama yang hadir memiliki rahasia, peristiwa, dan sejarah tersendiri. Ia tidak pernah hadir secara tiba-tiba, kemudian hilang. Apalagi, nama-nama yang terekam dalam kitab suci, kitab kejadian dan buku sejarah. Berikut, penulis mengintip beberapa nama yang cukup masyhur di dunia yang berasal dari putra-putri Nabi Ya'qub. 
Benyamin adalah putra Nabi Ya'qub (Jacob), saudaranya Nabi Yusuf, dan ia merupakan anak ragil dari 12 bersaudara. Benyamin berasal dari bahasa Abariyah (Ibrani). Nama ini terdiri dari dua kata yaitu "ben" dan "yamin". Ben dalam bahasa Arab adalah Ibnu (ابن) dan yamin adalah kanan (يمن). Maka, Bunyamin adalah anak tangan kanan, yaitu anak kesayangan, anak berkah dan yang dipercaya. 

Bagaimana dengan Levi atau orang menyebutnya juga Lawi?. Dan yang menarik, celana Jeans dengan merk Levi's berasal dari kata ini, benarkah?, Bisa benar, bisa salah. Lawi (Lavi) bin Ya'qub adalah putra ke tiga, setelah Ruben, Simon kemudian Lavi (Lawi). Bila ditilik lebih jauh, arti kata Levi adalah menggabungkan (مجامعة). Dari Levi lahir keturunan Nabi Musa dan Nabi Harun. Dan selain kesalehannya, keturunan ini dikenal dengan klan yang tegas dan kuat. 
Berikutnya adalah Nabi Yusuf adalah putra Nabi Ya'qub yang ke-11. Nama ini berasal dari bahasa Ibrani (ibrani taurati) yang bermakna, "Allah memberi hadiah, Allah melipat gandakan, Allah menambahkan". Nama ini cukup masyhur, demikian juga kisahnya. Di Barat dikenal dengan Yosep.

Kita juga sering mendengar nama Ruben, ini adalah putra pertama Nabi Ya'qub. Keturunannya tidak terlalu banyak, dan lemah, berbeda dengan keturuan Levi (Lewi). Ruben artinya dalam bahasa Ibrani هوذا ابن. Saya agak curiga, ben di sini sama dengan Bunyamin (min dan ben). Arti dari Ruben adalah "Lihatlah wahai anakku". Ada juga yang berpendapat Ibnu Ru'yah (anak mimpi), anak yang diimpikan kehadirannya. 

Simon. Nama ini cukup akrab di Eropa, dan pernah terkenal di Indonesia. Ada nama Simon Cowel, Simon Leviev dan lainnya. Simon dalam bahasa Arab Sam'an (سمعان) atau juga tertulis Syam'un (شمعون). Nama ini, dari dua kata Shama dan On, yang bermakna "Allah telah mendengar penderitaanku". Lahir dari ibu yang sama dengan Robin, Lawi, Yahuda, Zabulun dan lainnya. 

Yahuda, atau dalam bahasa Inggris Judah. Adalah putra Nabi Ya'qub yang nomor empat. Dalam bahasa Arab diartikan dengan yahmil (membawa) ya'tarifu (mengakui). Yahuda dikaruniai empat anak laki-laki, dan dari karunia inilah penamaan Yahuda disematkan. Yehudah juga bermakna  'bersyukur', akar katanya dari יָדָה - Yadah - bentuk infinitive-nya: לְהוֹדוֹת - Lehodot, yang artinya 'dia bersyukur atau dia memuji. 

Nabi Ya'qub memiliki 4 orang istri, yaitu Bilha, Zilfa, Lea, dan Rahel. Nabi Yusuf dan Bunyamen lahir dari rahim Rahel. Di antara keturunan Nabi Ya'qub (dari keturunan Yusuf) adalah Yosua (Yusa') dan Elisa (Ilyasa'), dua nama ini banyak digunakan di Indonesia. 

Satu satunya putri Nabi Ya'qub adalah Dina (Dinah, Dainunah). Dari istri beliau yang bernama Leah. Dinah berarti "keadilan" atau juga "orang yang menghakimi."  Tidak diragukan lagi bahwa namanya diberikan kepadanya sebagai bukti kepercayaan orang tuanya pada keadilan ilahi.

***

Dan bila ditilik lebih jauh setiap arti dari 12 putra Nabi Ya'qub ini sangat menarik. Di atas baru 7 putra dan putri Nabi Ya'qub AS. Nama Nabi Ya'qub bermakna "menggantikan", "semoga Tuhan melindungi", dan sejenis dengan nama beliau adalah James, Jakob, Jakov, Jakub, Ya'koub, Yakub, Yakup dan Ya'qoub.

Mari kita analisis lebih lanjut, terkait dengan Celana Jins bermerk Levi's😁

Minggu, 15 Januari 2023

Bahasa yang Berkuasa

(Bahasa Arab, sebagai contoh)

Halimi Zuhdy

Penguasa bahasa itu selalu silih berganti, tergantung pada daerah yang memiliki kekuasaan dan peradaban keilmuan. Bila peradaban suatu negara itu maju, maka negara berkembang akan mengikutinya, tidak hanya aspek ekonomi, teknologi, keamanan tetapi juga bahasa yang digunakan. 
Di dunia terdapat sekitar 7000 bahasa yang tersebar. Tetapi, hanya beberapa bahasa saja yang dianggap menjadi bahasa Internasional. Untuk menjadi bahasa internasional, tidak cukup didaftarkan saja, tetapi melalui beberapa persyaratan, di antaranya; berperan dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Digunakan dalam diplomasi internasional. Banyaknya jumlah penuturnya. Peradabannya yang  tinggi. Dan beberapa persyaratan lainnya. 

Berharap bahasa Indonesia suatu saat nanti, termasuk dari jejeran dari bahasa Internasional. Untuk menjadi bahasa Internasional selain persyaratan di atas, menurut Damshauser bahasanya yang sederhana baik dalam gramatika dan sistem bunyinya. Dan bahasa Indonesia, sepertinya masuk pada katagori ini.

Bahasa yang melalui proses panjang untuk menjadi bahasa Internasional adalah bahasa Arab. Dan bahasa ini, termasuk bahasa yang paling lama bertahan. Menurut riwayat yang jamak dipahami, bahasa Arab adalah rumpun semitik yang merupakan gabungan antara bahasa-bahasa Afroasiatik (Asia dan Afrika). Bahasa ini, paling lama bertahan di dunia, dibandingkan dengan bahasa lainnya, dan bahkan bahasa lainnya yang satu rumpun dan yang berkerabat sudah ditelan bumi, hanya tinggal huruf-hurufnya yang dimusiumkan.

Bahasa Arab yang kita kenal hari ini (Arab Klasik), sudah bertahan 1500 tahun, dan menjadi bahasa dunia beberapa abad lamanya, sehingga orang Barat (eropa) pun bangga jika  dapat menguasai bahasa Arab, karena pada waktu itu, bahasa Arab adalah bahasa keilmuan, yang setiap pembelajar untuk memahami berbagai ilmu, maka harus memahami bahasa Arab.

Di antara ratusan kosakata Inggris dan beberapa bahasa lainnya, misalnya, yang berasal dari bahasa Arab adalah; Jasmin dalam bahasa Inggris dari kata yasmin (bahasa Arab), midan bahasa Persia dari maidan (bahasa Arab), Caid (pemimpin) bahasa Spanyol dari  Al-Qaid (Arab). Almacen (kesedihan) bahasa Spanyol dari almahzan (Arab), College (kampus) dalam bahasa Inggris dari kullun/kulliah (Arab). Yang juga dari bahasa Arab; Camel, Alcaide, Magazine, Alchemy,  Alcohol, Arsenal, giraffe, Sugar dan lainnya. Belum lagi pengaruh terhadap bahasa Indonesia, sekitar  tiga ribu kosakata berasal dari Arab. Juga bahasa Itali, Spanyol, India, Pakistan, Iran. Bahasa Arab juga merupakan sumber bahasa utama Berber, Kurdi, Persia, Swahili, Urdu, Hindi, Turki, dan Melayu.

Namun, berjalannya waktu, juga sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, keamanan, kebudayaan dan lainnya, maka bahasa Arab juga mengalami perubahan, yang dulu menjadi pengantar dan rujukan keilmuan, kini mengalami kemunduran, terutama yang terkait dengan teknologi.

Walau di sisi lain, bahasa Arab semakin berkembang pesat terutama dari aspek studi keagamaan dan kajian-kajian keislaman. Dan bahkan, sangat membanggakan, pusat-pusat bahasa Arab berkembang pesat, terutama di luar negara Arab.

Kini dan selamanya, bahasa Arab akan tetap bertahan di muka bumi, selama umat Islam masih berada di muka bumi, karena bahasa ini, tidak hanya menjadi bahasa keilmuan, ekonomi, dan kebudayaan tapi sudah menjadi bahasa Aqidah. Bahasa Arab, diikat dengan rapi oleh Al-Qur'an, sebagai bahasanya. Bahkan, yang tidak berbahasa Arab  ibadahnya tidak sah, shalat. Ini, merupakan jaminan, bahasa Arab akan tetap berada di muka bumi, tapi apakah tetap menguasai dan menjadi bahasa Dunia? Inilah yang menjadi renungan bersama, para penggiat bahasa Arab.

Allahu'alam bishawab

Sabtu, 14 Januari 2023

Mengapa Bahasa Arab tidak menjadi Bahasa Resmi di Indonesia?

Halimi Zuhdy

Ada pertanyaan yang menggelitik saya dari salah satu peserta seminar dari Saudi Arabia di Universitas Islam Internasional Dalwa. "Irak, Sudan, Mesir, Maroko, Tunisia, Libya dan beberapa negeri lainnya, dulunya bukan Arab, setelah Islam masuk ke beberapa negeri di Asia dan Afrika, tidak hanya penduduknya yang memeluk Islam tetapi bahasanya berganti menjadi Bahasa Arab, mengapa Indonesia (Nusantara) yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bahasanya tidak berubah menjadi bahasa Arab?" Tanyanya dengan bahasa Arab. 
Saya sedikit merenung, dan mengira-ngira jawaban yang tepat untuk penanya dari Arab ini. Saya jawab, bahwa Indonesia itu sangat beragam, baik dari suku, bahasa, keyakinan dan populasi penduduknya yang mencapai 270 juta. Terdiri dari 17.508 pulau yang dianggap sebagai negara dengan pulau terbesar di dunia. 

Islam hadir ke Nusantara berbeda dengan kedatangannya ke berbagai negara di dunia. Islam hadir di Indonesia melalui akulturasi budaya. Melalui para pedagang yang sambil berdakwah. Jalur pernikahan dan jalur pendidikan. Dan masih banyak pendapat lainnya tentang hadirnya Islam ke Nusantara, dari berbagai catatan, tidak ada yang melalui jalur peperangan. Islam hadir dengan cinta. 
Berbeda dengan kehadiran Islam di beberapa negara lainnya, seperti di Benua Afrika masuknya tentara Amr bin Ash ke Afrika dengan jalur peperangan (walau jalur perang adalah jalur terakhir dari diplomasi) yaitu pada tahun 640 M. Jalur peperangan bukan untuk mengislamkan, tetapi untuk membebaskan beberapa negara dari kekaisaran yang dzalim. 

Islam hadir sebagai pembebas dari kedzaliman di berbagai negara di dunia. Sehingga kehadirannya ditunggu, setelah adanya pembebasan, banyak penduduk yang kemudian masuk Islam dengan tanpa kedamaian. Maka, tidaklah benar dengan anggapan Islam hadir dengan pedang. La ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama). 

Penyebaran Islam di berbagai negara tidak hanya merubah keyakinan mereka, tapi juga bahasanya. Berbeda dengan Nusantara (Indonesia), walau Islam tersebar sampai ke jantung kepulauan tetapi tidak merubah semua budaya di Nusantara dan juga tidak sampai menggantinya dengan bahasa Arab. Walau tidak sedikit kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab. Ada sekitar 2000-3000 kata yang diserap dari bahasa Arab, sekitar 40 %- 60% persen.

Pengaruh tulisan Arab begitu masif sebelum datangnya penjajahan Belanda, seperti tulisan Jawi atau Pegon. Demikian juga ungkapan keseharian (tahiyyat). Bahasa dalam peribadatan (addiniyah). Dan juga dalam kesusastraan dan seni. 
Kehadiran Islam tidak menjadikan Nusantara berbahasa Arab, tapi menyerap banyak kata dari bahasa Arab. Ia hadir lewat budaya, tapi tidak menghancurkan budaya. Bahasa Arab hadir lewat ngaji Al-Qur'an, kajian keislaman, doa-doa, pengajian, dzikir, dan sekolah-sekolah. Berbeda dengan beberapa negara lainnya (terutama Afrika), yang lewat pemerintahan dengan kekuasaannya, seperti Irak yang ditaklukkan oleh khulafaur rasyidun lewat pertempuran Al-Qadisiyah, Islam masuk ke Mesir karena penduduk Koptik memberikan dukungan pada pasukan Islam untuk membebaskan mereka dari tekanan Kekaisaran Romawi Timur. Di Indonesia dengan damai, maka bahasa yang digunakan tetap dengan bahasa Nusantara (tidak merubah bahasa-bahasa yang di daerah, walau banyak mempengaruhi kata yang ada di dalamnya). 

Kalau ada pendapat lain, bisa ditulis di komentar.

Allahu'lam bissawab.

Kamis, 05 Januari 2023

Penyair Libia dan Juri kontes Amir Syu'ara ke-10

Beberapa hari ini viral di media sosial (berbahasa Arab), antara dewan juri dan penyair Libia dalam kontes pemilihan penyair Arab yang dikemas dalam acara "Amir Syu'ara" ke-10. 

Setelah sang penyair Abdus Salam Abu Hajar  membacakan puisinya; 

لأني كرهت الآنَ والآنُ ضيقٌ يحاصرني ما بعده فهو أضيقُ

ويشغلني عن لحظتي أن لحظتي سراب وما في لحظتي ما يُصدق

ويعجبني في الذكريات سخاؤُها إذا شحت الأوقات في الذهن تغدقُ


Salah satu juri bertanya pada Abdus Salam tentang posisi "sakhauha". Sang juri dengan nada bertanya dan menegaskan, bahwa kata tersebut bukan dibaca sakhauha (سخاؤها) tetapi sakhaaha (سخاءَها). Sang penyair, tetap bersikukuh dengan posisi menjadi fa'il, bukan maf'ul. Dan seakan dua juri lainnya menyetujui apa yang sampaikan Ali bin Tamim. 

Setelah beberapa jam dari "perdebatan" di atas, kalimat-kalimat dari para kritikus sastra dan bahasa menyebar begitu dahsyatnya. Banyak yang mengkritik juri, dianggap keliru dan tidak pantas seorang juri salah dengan hal yang sangat gampang untuk dipahami, dan hal tersebut dianggap pelajaran nahwu sekolah dasar. 
Juri pun sedikit mengklarifikasi lewat lamat twitter-nya, bahwa "kita berada dalam kompetisi, dan wajar untuk menguji kemampuan penyair dengan berbagai pertanyaan. Apa yang kami minta padanya adalah semacam uji nyali setelah dia kami  untuk konfirmasi, jadi kompetisi adalah ujian kemampuan para kontestan dan tampaknya berhasil menjadi ujian untuk menguji kemampuan para terpelajar" dan dia juga menyitir Ayat Al-Qur'an "ولا تعجبك أموالُهم وأولادُهم bahwa hal di atas sudah mafhum, kita semua tahu posisi i'rab pada "yu'jibuni fi dziriyati sakyauha". 

Tapi, apa yang terjadi. Laman twitter juri tersebut diserbu dengan berbagai koment ada yang mendukung, tapi tidak sedikit yang menghujat, bahkan dianggap sebuah alibi saja. 

Dan tagar يعجبني في الذكريات سخاؤها# masih terus ramai di berbagai laman. 

***
Halimi Zuhdy

Rabu, 28 Desember 2022

Qi Nafsaka, Jagalah Dirimu!

Halimi Zuhdy

Dalam Al-Qur’an termaktub Ayat “Qu anfusakum, jagalah diri kalian!”, menggunakan kata “Wiqayah”, yang artinya adalah penjagaan atau perlindungan. tidak menggunakan kata “himayah, muhafadhah, shiyahah, ikhtiraz, ittiqa’, ihtiras, tawaqqi dan lainnya”.  Terdapat perbedaan antara al-wiqayah dan al-himayah. Wiqayah lebih kepada pencegahan, sedangkan himayah adalah perlindungan.
Menjaga diri dari apa?, menjaga diri dari api neraka. Bagaimana menjaga diri api neraka, sedangkan neraka masih di akhirat?. Menjaga diri dengan meninggalkan kema’siatan dan melakukan ketatan kepada Allah (Imam Al-Alusi, Al-Syaukani), menjaga keluarga dengan mengajari dan menasehati mereka. Menjaga diri dengan bertakwa pada Allah (Imam Mujahid). Menjaga diri dengan membantu keluarga untuk melaksanakan perintah Allah (Imam Qatadah). Menjaga diri dari sesuatu yang dapat memasukkan diri ke dalam api neraka. Mengaja diri dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad dan taat pada Allah (Al-Baqa’i).

Uniknya manusia. Banyak yang pintar menjaga orang lain, tapi tidak mampu menjaga dirinya. Banyak yang mampu menasehati orang lain, tapi lupa dan tidak peduli pada dirinya. Banyak yang mampu mengajarkan pada orang lain, tapi dirinya tidak mau belajar, dan bahkan lupa bahwa dirinya butuh pelajaran. Al-Qur’an menggunakan redaksi “Qu Anfusakum” dengan menyebut pertama kata "diri", diri yang terdiri dari jiwa dan raga. Sebelum menyuruh orang lain (keluarga), ia mampu memulai dari dirinya untuk menjaga orang lain. Menjaga diri adalah bagian dari menjaga orang lain. Menjaga diri adalah sebuah keteladanan, sehingga orang lain dapat meniru kebaikan dalam dirinya.

Bebatuan pernah mengadu kepada Nabi Isa, karena sangat takut menjadi bahan bakar di neraka. Waktu itu Nabi Isa putra Maryam mendengar rintihan dari dalam tanah, kemudian Nabi Isa berjalan mencari sumber rintihan, dan beliau mendapati batu yang mengerang dan menangis ketakutan. Kemudian Nabi Isa bertanya, “Ada apa denganmu, hai batu?”, Wahai Nabi, aku mendengar Allah berfirman, "Bahan bakarnya adalah manusia dan batu, jadi aku takut bahwa aku mungkin menjadi salah satu dari batu itu" jadi Nabi Isa kaget dan juga kagum padanya kemudian beliau pergi meninggalkan batu yang lagi merintih. Ayat di atas senada dengan apa yang ada di Injil atau dalam kitab Taurat (Al-Muharrar Al-Wajiz karya Ibnu Athiah).

Bebatuan saja merintih, kemudian menjaga diri, agar tidak masuk pada bebatuan yang menjadi bahan bakar. Bagaimana dengan manusia yang lupa menjaga diri, dan tidak pernah merintih apalagi mengerang? Allahu’alam bishawab

Minggu, 25 Desember 2022

Tulisan Jawi (Pegon) dan Arab; Asal Usul dan Perkembangannya

Sebuah uraian singkat dari kitab "Al-Kitabah Bil Huruf Al-Arabiyah". 

Halimi Zuhdy

Dalam buku ini, terdapat 19 tulisan menarik tentang tulisan Jawi dan Arab. Setelah kata pembuka oleh Dr. Abang Haj Azmin bin Abang Haj, Dr. Shahibuddin menulis tentang Sejarah Khat dalam Bahasa Arab dari awal keberadaannya sampai perkembangannya. Berikutnya Prof Arif Al-Karkhi membahas pembelajaran menulis Arab bagi pembelajar non Arab. Sedangkan tentang tulisan Jawi dan berbagai permasalahannya bagi penutur Arab yang menganbil studi kasus di Malaysia ditulis oleh Dr. Ashim Syahadah Ali. Dua penulis Arab ini, mengkaji tulisan Jawi dari berbagai aspek dengan kacamata mereka. 
Dr. Muhammad Yahya mengkaji Tulisan Arudiyah dan beberapa perbedaanya dengan berbagai tulisan yang berkembang di Jawa dan Arab. Dan juga menarik, adalah tulisan Dr. Musthafa Ahmad tentang Tulisan Bahasa Afrika dengan tulisan Arab, penulis membahas cukup panjang dari sejarah perkembangannya sampai saat ini. Tidak hanya tulisan Jawi dan Afrika dalam kajian tulisan Arab yang dikaji, tapi juga tulisan bahasa daerah yang ditulis dengan bahasa Arab oleh penduduk Muslimin China dibahas apik. Dr. Adil menulis tentang sistem tulisan berbagai bahasa di dunia serta kedudukan tulisan Arab dari berbagai bahasa tersebut. Berbeda dengan Dr. Abdul Raziq Hasan Muhammad yang menulis tentang Menuju Penyesuaian dan Pembakuan Sistem ortografi bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab. Tulisan yang berbahasa Arab ditutup dengan tulisan Dr. Shalih Mahjub, tentang berbagai permasalahan dalam pembelajaran huruf Arab bagi non Arab. 

Tulisan bahasa Uighur (China) dengan huruf Arab, ditulis oleh Abang Azmi, menarik sekali. Bagaimana ia masih bertahan sampai sekarang dan masih berkembang, walau tidak seperti bahasa Jawi. Tulisan bahasa Jawi Brunei Darussalam, dari cara menguasai dan cara bacanya ditulis Ahmad Busyra yang memgambil studi kasus di beberapa sekolah dasar Brunei Darussalam. Tulisan Jawi untuk pra sekolah juga dikaji dengan apik oleh Haji Mohd Shahrol Azmi, dan tujuan dalam melestarikan tulisan Jawi untuk penyatuan bangsa dan agama ditulis Dr. Sahrin bin Haji Mashari. 

Dan yang unik, bagian dari syiar bahasa Arab dan Jawi adalah tanda tangan dengan menggunakan tulisan  Jawi/Arab. Tanda tangan jawi merata di negeri Brunei Darussalam, Sultan Brunei kalau ditilik di lembaran uang Dolar Brunei menggunakan tandatangan Arab Jawi. Dan seni tandatangan Jawi dikupas oleh Wan Habib bin Wan Ibrahim. 

Sumbangan kebudayaan Arab-Islam terhadap kebudayaan Melayu melalui manuskrip Jawi ditulis oleh Prof Mahayudib bin Haji Yahaya. Dan standarisasi sistem tulisan melayu di dunia Melayu dikaji oleh Masyhur Dungcik. Dan untuk mengetahui perkembangan seni kaligrafi Islam di Brunei Darussalam dapat membaca tulisan Haji Yahya bin Apong.

Halimi Zuhdy
23 Desember 2022

Jumat, 23 Desember 2022

Belajar dari Mata Lalat, Lebah dan Wasit

Sorot Mata Seseorang dan Dampak Kehidupannya

Halimi Zuhdy

Di dunia, ada banyak jenis mata. Dan setiap mata, memiliki keistimewaan tersendiri. Allah menciptakan mata dengan berbagai jenis dan fungsinya. Ada mata yang benar-benar mata, ada mata sebagai sebuah kiasan, dan ada mata yang menjadi mata-mata. 
Mata berfungsi untuk melihat, memperhatikan, menilik, memandang dan mengamati. Dan mata tidak hanya berhenti pada sebuah penglihat saja, tetapi ia akan berdampak pada hati dan pikiran, juga pada kinerja atau aktifitas seseorang. Allah mengajari manusia dengan banyak memperhatikan berbagai macam jenis mata, baik mata manusia, hewan, tumbuhan atau mata air.   

Sebagai amsal adalah empat jenis mata. Dua mata dari jenis serangga (hewan), mata lebah dan mata lalat. Dan dua mata dari jenis manusia;   Mata Najwa, bukan pada personalnya, tetapi lebih kepada acaranya. Dan mata wasit. Membincang empat mata di atas, hanyalah sebuah gambaran sederhana saja, gambaran manusia dalam memandang sesuatu dan akibatnya.   

"Ustadz, kehidupan orang itu (dia menyebut seseorang) tidak pernah bahagia dan selalu gelisah" ucap teman yang menemani saya di salah satu meja makam di Brunei Darussalam. "Karena matanya, seperti mata lalat, bukan mata lebah" tambahnya. Dia sepertinya agak kesel pada seseorang yang setiap harinya hanya membicarakan kejelekan orang lain. Dia curhat, banyak orang yang menjelek-jelekkan negaranya, walau setiap hari makan dan minum dari hasil buminya. Dan pemerintah tidak pernah ada baiknya, semua yang dilakukan salah dan buruk. 

Dengan curhatan itu, saya jadi teringat empat jenis mata di atas. Perbedaan lebah dengan lalat. Lebah memiliki dua mata yang terletak di kedua sisi kepalanya. Kedua mata lebah dapat digunakan untuk melihat dengan jarak jauh serta dapat membedakan berbagai warna kecuali warna merah, dan juga digunakan untuk melihat sesuatu dengan jarak dekat. Sedangkan lalat melihat sesuatu dengan cara yang berbeda dari cara seseorang melihat sesuatu, dan lalat memiliki sel saraf khusus yang disebut sel fs yang menentukan pergerakan dan lokasi yang tepat (Mas'ud Masyal)

Apa perbedaan antara mata lebah dan mata lalat?, lebah memiliki mata yang sensitif yang hanya melihat bunga-bunga indah, dan ia hanya hinggap pada apa yang dilihatnya indah dan menakjubkan. Jadi ia memilih bunga terindah untuk mendarat di atasnya. Sedangkan lalat punya kepekaan tersendiri dan memiliki cara memandang dan lebih peka lebih daripada mata lebah, tetapi ia hanya mendarat pada hal-hal terkecil, ia meninggalkan segala sesuatu yang indah dan berukuran besar, dan hinggap pada sesuatu yang kotor, walau ukurannya kecil.

Ini menarik. Di sekitar kita, dan bahkan dalam kehidupan kita. Kita tinggal memilih, mau menjadi mata lebah atau mata lalat. Tidak sedikit  yang memilih menjadi mata lalat, selalu mencari kekurangan, kotoran, keburukan orang lain atau keburukan yang terjadi disekitarnya. Diteliti, dibahas, dikaji dan disebarkan. Maka, yang terlihat adalah keburukan dan kekurangannya. Walau, tidak sedikit bahkan mungkin masih lebih banyak kebaikannya. 

Ada seseorang yang menjadi mata lebah. Memandang sesuatu dengan kacamata positif, kebaikan, dan keindahan. Sehingga melihat sesuatu, akan selalu ia maknai dari kacamata keindahan. Karena, dirinya adalah sosok yang indah. Melihat non jauh ke depan, hal-hal besar, walau tidak meninggalkan yang kecil. Semua warna ia mampu menerimanya, mendapatkan warna hitam, ia padukan dengan warna lainnya menjadi warna yang artistik. 

Ada beberapa orang yang meninggal kehidupan indah, kesuksesan yang indah, dan matanya menjadi lalat. Setiap melihat keindahan, ia buang jauh-jauh, karena dalam pikirannya adalah keburukan. Bukan untuk zuhud, tetapi pikirannya sudah kalah dan tertutup oleh suudhan. Setiap orang menjulurkan kebaikan, dinilai politis, ada maunya dan seterusnya. Hidup, memang penuh dengan teka-teki, tetapi cara pandang menentukan masa depan. 

Bagaimana dengan Mata Wasit dan mata Najwah? Lah, ini yang saya tunggu dari pada pembaca untuk komentar. 🤩. Kalau mata wasit, sangat awas melihat kesalahan, dan ada dua warna yang dikeluarkan, kuning dan merah. Ia bukan melihat kelebihan (walau nantinya ada nilai untuk para pemain yang bermain bagus), tetapi di lapangan dia hanya akan mencari kesalahan, benarkah?🤩. Bagaimana dengan Mata Najwah?

Tutong Brunei Darussalam, 23 Des 2022

Kamis, 22 Desember 2022

Asal kata Umm (Ibu) dalam bahasa Arab

Halimi Zuhdy

Mama, umah, ummi, mam, mimi memiliki kemiripan ucapan, dan memiliki kesamaan arti, yaitu ibu. Kata "mama" dalam berbagai bahasa terdapat kesamaan ucapan dan memiliki arti yang sama. Dan dalam banyak bahasa, sebutan untuk ibu ada konsonan yang berhubungan dengan "bibir", seperti umm, ibu, mama, brother, emmbuk, mamak, emmak. 
Di antara sebabnya adalah karena anak yang lahir pertama kali yang dikenal adalah susu ibu (puting). Anak kecil ketika mengeluarkan suara  dengan bibir tertutup, disebut labial sounds, seperti untuk suara /m/ /p/ /b/. Ada usaha untuk  suara yang muncul adalah ‘mmm’ dan kemudian dengan mulut terbuka akan keluar suara ‘ah’. Lama kelamaan ada terjadi pengulangan (babbling) dan terbentuk ‘ma-ma’, ‘pa-pa’ dan kata yang mirip dengannya (Lilian, patahtumbuh).

Bagaiman dengan umm (ibu) dalam bahasa Arab. Apa makna asal dari kata ini?. Imama Khalil dalam Al-Ain yang dinukil Al-Fairuzi, bahwa setiap sesuatu yang bersumber darinya, maka disebut dengan "Umm". Sayyidah Hawwa' (orang meyebutnya dengan Siti Hawa), disebut dengan Ummuna (Ibu Kita). Dan Al-Qur'an sebagai sumber keagmaan dan sumber dari berbagai ilmu pengetahuan disebut dengan Umm Al-Kitab (Induk Kitab). 

Al-Umm juga bermakna asal (Al-Ashl). Asal segala sesuatu. (Al-Ain, 8/424) sebagaimana dalam Tasfir Istiqaqy yang dikuti dari Khalil. Umm, ummaha (أمهة) dengan Ummahat (امهات). Maka, kata Umat, adalah suatu bangsa, atau kelompok yang berasal dari satu kesamaan, baik agama, zaman, atau tempat. 

Umm disebut ibu, karena ia merupakan dari asal keluarnya seorang anak. Dan dari rahimnya tumbuh cabang seorang bayi. Maka, ibu disebut dengan umm (Alsh). Dan umm juga disebut dengan majmak (tempat berkumpul), ibu tempat atau awal bertumbuhnya seorang anak. Juga disebut dengan Al-Marji (tempat kembali), karena ibu tempat paling indah dan paling nyaman untuk tempat kembali, mengeluh, dan mengaduh. 

Bandar Seri Begawan, 22 Desember 2022

Menilik Asal Kata "Brunei Darussalam"

Halimi Zuhdy

Brunei Darussalam. Brunei mirip kata Borneo. Borneo adalah sebutan lain dari Kalimantan, salah kepulauan yang ada di Indonesia. Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia. Dan pulau ini ditempati tiga negara; Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam. Berarti Brunai adalah Kalimantan. Dan negara Brunai Darussalam berada dikawasan atau pulau Kalimantan. 
Dalam Al-Ma'rifah, kata Brunei adalah derivasi dari kata Varunai, bahasa Sangsekerta yang bermakna pelaut. Dalam catatan lisan Syair Awang Semaun kata Brunai dari kata "baru nai" yang bermakna "tempat yang sangat baik". Kata baru nai muncul setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru.

Setelah menemukan kawasan atau lokasi Brunai yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka keluarlah kata "baru nai", kalimat takjub atas keindahannya, tempat yang sangat baik, dan sangat cocok untuk dibuat sebuah negeri. Dan kata negare yang juga digunakan sebagai Negare Brunai Darussalaam, dari bahasa Sangsekerta yang artinya negara atau kota.

Darussalam bermakna rumah kedamaian, negeri yang damai, tempat yang aman dan damai. Brunai Darussalam adalah negara aman sentosa. 

Insyallah beberapa hari ke depan akan menilik beberapa tradisi Negeri Brunai Darussalam. 

***
Kampong Kiulap Gadong Brunei Darussalam
18 Desember 2022

Rabu, 21 Desember 2022

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam


 -Syiar Bahasa Arab dan Islam

Halimi Zuhdy

Fenomena aksara Jawi termasuk unik. Selain dari katanya "Jawi" juga tempat dimana istilah ini tumbuh. Jawi, saya kira berasal dari kata Jawa, yaitu sebuah pulau di Indonesia yang terletak di kepulauan Sunda Besar, yang menyebar di beberapa provinsi di Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jogjakarta. Ternyata, sangkaan saya "kurang tepat". Karena ada yang membedakan antara Jawi dan Jawa. 
Istilah "Jawi" menyebar di Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam. Dan bentuk aksara Jawi adalah mirip aksara Pegon di Indonesia. Sedangkan tulisan Jawa yang kita kenal, adalah berupa Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀). Aksara ini banyak digunakan di Nusantara, seperti Aksara Sunda, Sasak dan Bali. Dalam beberapa catatan, bahwa aksara Jawa berasal dari India dari Suku Shaka.

Terus, apa perbedaan aksara Jawi, Jawa dan Pegon?. Dalam beberapa pendapat, kata "Jawi" berasal dari bahasa Arab "Jawah", dan dari beberapa catatan yang ada, bahwa kata ini pernah ditulis Ibnu Bathutah (Maroko) yang menyebut Sumatera dengan kata "Al-Jawah". Dan kata Jawi dari kata Javadwipa, yaitu merujuk pada daerah Asia Tenggara pada masa lalu. Maka Jawi (Java), tidak hanya orang-orang Jawa tetapi kawasan Asia Tenggara; Bangsa Melayu, Pattani, Philipina, Aceh, Sundah, Minangkabau, Bugis, dan lainnya. Hal ini, dibuktikan dengan penyematan nama ulama, Syekh Abdurrauf bin Al-Jawi Al-Fansuri dan beberapa nama ulama masyhur lainnya, yang bukan berasal dari kepulauan Jawa (sekarang). 

Aksara Jawi, atau Abjad Jawi, ada pula yang menyebutnya dengan abjad Arab-Melayu, abjad Yawi, tulisan Melayu, adalah tulisan yang berbasis abjad  (aksara) Arab. Dan tulisan ini digunakan dalam penggunaan teks bahasa Melayu dan beberapa bahasa lainnya, seperti Palembang, Aceh, Minangkabau, Banjar, Betawi dan beberapa bahasa lainnya yang ada di Nusantara. 

Aksara Jawi ini muncul sekitar tahun 1400-an di tanah Nusantara (dalam Kitab yang baru saya dapat dari UNiSSA, Al-Kitabah bil al-Huruf Al-Arabiyah). Dan hal ini dibuktikan dengan beberapa nisan yang bertuliskan aksara Jawi. Sejak awal kemunculan Islam di Tanah Arab, barang-barang nusantara seperti rempah-rempah dan kapur barus mendapatkan perhatian istimewa pada waktu itu, orang Arab menyebut orang Melayu dengan Orang Jawi.

Sebelum aksara Arab dan kemudian menjadi nama tulisan "Jawi" diperkenalkan pada masyarakat Melayu. Terdapat bahasa Sanskrit (pallava) yang memainkan peranan penting terutama di kalangan bangsawan. Tetapi, kemudian berjalannya waktu, aksara ini terkikis dan hilang. Di antara sebabnya karena penggunaan bahasa Sanskrit hanya digunakan kalangan bangsawan saja (M.Sahrin).


Masa keemasan aksara Jawi, pada tahun 1500-1800 orang-orang Nusantara (terutama Melayu), melihat bahwa tulisan Jawi sangat penting untuk digalakkan dan disiarkan, karena tulisan ini sebagai gerbang pada pemahaman Islam dan Al-Qur'an. Dan aksara Jawi merupakan faktor utama yang memungkinkan bangkitnya Bahasa Melayu di samping penyebaran agama Islam. Dan tulisan Jawi digunakan secara luas di beberapa daerah, seperti Kesultanan Malaka, Johor, Brunei, Sulu, Pattani, Aceh dan Ternate pada awal Abad ke-15 untuk surat menyurat, titah diraja, pemerintahan, puisi (syair), komunikasi dalam dunia perdagangan dan hubungan diplomasi.

Tulisan Jawi di Brunei mengalami kemunduran di kalangan masyarakat umum, setelah datangnya penjajah Inggris pada abad ke-19, dan digantikan dengan tulisan Rumi (latin) yang banyak digunakan dalam diplomasi dan hubungan resmi pemerintahan. Dan berjalannya waktu, aksara Jawi hanyalah dianggap tulisan agama. Dan ini juga mungkin yang terjadi di Indonesia, tulisan Pegon hanya dianggap tulisan untuk pengajaran di pesantren, sekolah agama, dan interaksi keagamaan Islam. Dan dari sinilah, tulisan Jawi di Brunai mengalami kemunduran, karena masyarakat mulai berpaling pada tulisan Rumi. Bahasa Inggris mulai marak dan berkembang pesat. Sedangkan bahasa Arab, masih berjalan di tempat. 

Menariknya, di Brunei Darussalam, walau aksara Jawi terus menurut sejak kedatangan Inggris, tetapi ia masih bertahan dan tetap digunakan dalam urusan resmi, dan tulisan Jawi sebagai korespondensi dalam membuka jalan kepada kemerdekaan Brunei. Seperti Undang-undang Tafsiran 1959, Perintah Perlembagaan 1959 dan 1960, dan dalam teks kemerdekaan Brunei pada 1 Januari 1984 ditulis dengan tulisan Jawi, di samping tulisan rumi dan terjemahan dalam Inggris. 


Dan sampai detik ini, tulisan Jawi menjadi tulisan resmi, baik dalam bidang kementerian dan jabatan kerajaan, acara adat, logi, surat-menyurat, nama jalan, nama sekolah, jabatan dan lainnya, dengan disertai tulisan rumi. Tulisan Jawi, adalah sebuah keharusan di Brunei. Walau tulisan rumi juga terus berkembang.  

 "Kita tidak mahu untuk kehilangan tulisan Jawi sebab inilah satu-satunya yang agung dan besar dari warisan yang masih tinggal yang boleh kita banggakan. Kehilangan tulisan Jawi akan banyak menjejaskan kepentingan kita seperti pudarnya semangat nasional dan binasanya agama karena fungsi tulisan itu juga mendukung kedua-dua perkara tersebut" (dalam Pelita Brunei, Tulisan Jawi Sebagai Khazanah dan Warisan Bangsa).

***
Bagaimana dengan tulisan Pegon (Indonesia)?, Mengapa dinamakan Pegon, tidak Jawi, dan mengapa nama tulisan "Jawi" lebih dikenal di luar kepulauan Jawa dari pada di Jawa (sekarang).?

Pegon yang berasal dari kata Jawa "Pego" yang berarti menyimpang sudah sangat banyak dikaji, dan menarik untuk terus dilestarikan. Adakah perbedaan antara tulisan Jawi dan Pegon? Wah, butuh waktu menuliskannya. 
Gadong, Negara Brunei Darussalam, 20 Desember 2022

***
Berikut beberapa aksara Jawi yang penulis ambil di tempat umum. Dan tulisan "Jawi" diwajibkan sebagai tulisan di negeri Brunei, walau disertai dengan bahasa rumi dan bahasa Inggris.


_Kajian-kajian Al-Qur'an, Mukjizat Al-Quran, Balaghah, Sastra Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya._

🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy*

Senin, 19 Desember 2022

Belajar dari Kegagalan Argentina dan Menjadi Kampium 2022

Halimi Zuhdy

“Tragis” kalimat yang muncul dari beberapa nitezen, ketika Argentina takluk dari Saudi Arabia. Sebaliknya Saudi Arabia yang tidak terlalu diunggulkan, menjadi perbincangan dunia. Warga Saudi Arabia bersukacita, sedangkan tim berjuluk La Albiceleste berduka cita.
Tim asuhan Lionel Scaloni itu menempati Grup C bersama Polandia, Meksiko, dan Arab Saud sempat diragukan untuk sampai pada fase berikutnya. Tetapi skuad ini terus bertahan dan bangkit, Meksiko dan Polandia ditaklukkan. Berikutnya Australia digasak, pada perempat final Argentina mengalahkan Belanda, dan Kroasia pun takluk 3-0 dari kaki Skuad La Albiceleste di semifinal.

Berbeda dengan Skuad Prancis kemenangan demi kemenangan diraih dari awal, walau sempat kalah dengan Tunisia tapi Les Bleus sudah dipastikan lolos dari fase grup. Dan ia terus melaju, Marokko yang dianggap tim keajaiban pun tak dikasih ampun oleh Prancis. Argentina gagal di awal, dengan kesedihan yang mendera, dan terus belajar dari kegagalannya. Seakan-akan Argentian menganjarkan pada semua orang, bahwa kepedikan itu tidak selamanya. “Mendingan perih di awal dan mendapatkan berbagai nutrisi, dari pada tak pernah gagal terus terpuruk”, seakan-akan Leoni Messi berbisik tadi malam di telinga saya, walau tidak sempat menyaksikan perhelatan besar tadi malam karena kelelahan dari perjanalan Indonesia Brunai Darussalam.

Semua orang pasti akan menyambut datangnya sukses dengan tangan terbuka. Sebaliknya, banyak orang akan berusaha agar tidak mengalami kegagalan.

Kenyataannya, sukses dan gagal merupakan "satu paket" yang tidak bisa dipisahkan. Lalu, mengapa kita harus takut pada kegagalan? Yang perlu kita ketahui adalah apa yang harus kita lakukan ketika kegagalan datang. Simak yang berikut.

Jika kita sadar bahwa kegagalan itu merupakan bagian dari sukses dan kegagalan merupakan guru yang terbaik, maka kita tidak akan takut ketika kegagalan datang.

Hidup kita seolah berada di sebuah perahu yang berada di tengah samudra luas. Perlu perjuangan untuk membuat perahu tersebut melaju menuju pulau impian yang kita tuju. Jika tidak, Perahu hanya akan terombang-ambing entah kemana. Kita perlu terus menjadikan Perahu bergerak dan mengarahkannya ke arah pulau impian kita. Namun, kadang badai datang, membuat Perahu kita oleng bahkan hampir tenggelam. Namun perahu kehidupan memiliki sebuah keajaiban. 

Perahu kehidupan tidak akan pernah tenggelam selama kita memiliki harapan. Oleng mungkin tetapi tenggelam tidak jika kita masih memiliki harapan bahwa kita akan sampai ke tujuan yang kita impikan. Jika badai begitu lama menggoncang perahu kita, jangan pernah menyerah, karena menyerah adalah satu cara pasti perahu kita tenggelam. Harapan, membuat perahu kita tidak akan pernah hancur dihantam gelombang dan tidak akan membuat perahu kita karam.

Lalu, dari mana datangnya harapan? Harapan ada pada diri kita, sebab tidak ada badai yang melebihi kekuatan diri kita. Sebesar-besarnya badai masih dibawah kemampuan kita semua.

Tuhan telah memberikan kekuatan yang sangat dahsyat pada diri kita atau mendatangkan badai yang besarnya masih ada dibawah kemampuan kita. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan kita.Jagalah harapan bahwa selalu ada jalan keluar. Yakinlah bahwa kita bisa bertahan.

Pasti ada sesuatu hikmah besar dibalik kesulitan yang kita hadapi. Semakin besar kesulitan, mungkin semakin besar dan bernilai hikmah yang akan kita dapatkan nanti.

Jagalah harapan, karena badai pasti berlalu, dan yakinlah pada badai yang datang menghampiri kita adalah sebuah media pelatihan diri untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Orang tidak akan pintar jika tidak di latih, dan Badai yang menghampiri hidup kita adalah media pendidikan yang tepat, yang dikirim tuhan agar kita siap untuk menajadi sukses, Tidak ada orang pintar tanpa pendidikan, Tidak Ada orang yang bisa menyanyi tanpa latihan, Burung Elang yang perkasa tidak akan bisa terbang tinggi tanpa terjatuh.Maka Persiapkan Perahu kita untuk dapat menembus Badai Kehidupan yang akan menerjang kita dari arah yang tidak bisa di prediksi. Karena biasanya setelah badai akan ada hari yang indah. Walau terkadang jawaban dari tuhan tidak seperti yang kita harapkan, tetapi keindahan akan kita dapatkan jika kita menyadarinya.

"Aku akan datang lagi dengan semangat raksasa" kata Kylian Mbappe penyerang Prancis, "Siap, Aku akan temani" jawab Youssef En-Nesyri pemain Marokko. 

Brunai Darussalam, 19 Desember 2022

Jumat, 16 Desember 2022

Rahasia Ranjang


-Menilik Asal kata Sarir (ranjang)

Halimi Zuhdy

3000 SM, Mesir Kuno  menemukan berbagai teknologi di antaranya adalah ranjang tempat tidur dengan dua kaki seperti kaki binatang. (Khleej)
Dulu, manusia tidur di atas alas sederhana, seperti dedaunan, tumpukan rumput yang dikeringkan, bebatuan yang disusun rapi dan lainnya. Dan berjalannya waktu, ranjang atau dipan menjadi salah satu tempat tidur manusia. Tempat tidur mempunyai sejarah panjang, dan memiliki banyak makna dan falsafah dalam kehidupan, ia tidak hanya sebuah dipan/ranjang dengan berbagai jenis dan bentuknya. 

Yang menarik, kata ranjang/dipan/tempat tidur dalam bahasa Arab adalah sarir (سرير). Kalau ditilik dari ilmu fiqh al-lughah dalam istiqaq lughah (derivasi bahasa), maka kata sarir dekat dengan kata sir (rahasia), surur (bahagia), sarirah (perasaan, niat, batin), sarir (singgasana), sarir (pasir di atas bukit), dan kata-kata lainnya. 

Mengapa sarir (ranjang) dinamakan sarir?. Ada beberapa pendapat, di antaranya adalah "La tatakallam 'ani sarir, lianna fihi sir!, Jangan berbicara tentang apa yang terjadi di ranjang, karena di dalamnya penuh rahasia. Dalam Islam, bagi suami istri dilarang keras berbicara tentang hubungan ranjang. "Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat kelak adalah seorang laki-laki yang mengetahui rahasia istrinya atau seorang istri yang mengetahui rahasia suaminya kemudian menceritakan rasa itu kepada orang lain." (HR Muslim dan Ahmad). Sabda Nabi di atas dari Abu Sa'id RA. Dalam hadis lain, keduanya diumpamakan syaitan laki-laki dan perempuan di mana salah satu dari mereka bertemu pasangannya di tengah jalan lalu buang air besar di sana, sedangkan orang-orang tengah melihat kepadanya." (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Keasyikan di atas ranjang tidak boleh diumbar atau dibicarakan pada orang lain, cukuplah kenikmatannya dirasakan berdua dan menjadi rahasia keindahannya. Selain berdosa, akan menimbulkan aib atau syahwat untuk orang lain. Maka, ranjang dinamakan sarir, karena di dalamnya ada sir (rahasia) berdua, yang tidak boleh disiarkan pada khalayak. Apalagi beberapa tahun terakhir, tidak hanya dibicarakan, tetapi menjadi konsumsi umum dengan berbagai bentuknya di berbagai media. Na'udzubillah.

Ada pula yang berpendapat, bahwa sarir dari kata surur yaitu kegembiraan dan kebahagiaan. 
قيل سمي(السرير) بهذا الاسم ﻷنه يجلب لمن يستعمله أسباب السرور
Ranjang di antara sebab kebahagiaan seseorang setelah menikmatinya. Dan membuat seseorang bahagia setelah berada di atas ranjang. Atau dari kata masarrah (kebahagiaan), yaitu menjadikan senang orang lain, atau ketenangan dalam hidup. 

Ada juga pendapat lainnya, tentang sarir (ranjang), bahwa sarir pada awalnya adalah dua ranjang yang berada di kamar tidur, dengan bentuk dan ukuran yang berbeda, kemudian dijadikan satu, maka kemudian disebut dengan sarir. 

Allahu'alam bishawab

Rabu, 14 Desember 2022

Bola itu Bundar Tuan!

- Hidup silih berganti 

Halimi Zuhdy

Kroasia meruntuhkan harapan Brazil. Tak disangka!Benar, tak disangka. Ya begitulah hidup. Hidup laksana bola. Bola laksana hidup. Selalu berputar. Bila bentuk sesuatu itu bundar, maka ia akan terus berputar, maka harus selalu yakin untuk bisa bangkit dalam keterpurukan. Dan jangan sombong atas kejayaan. Dunia itu bundar tuan!. 

Masih tak percaya pada takdir?. Atau terlalu yakin pada kekuatan?, Saya yakin keduanya sama-sama percaya diri menatap juara. Sama-sama punya kekuatan. Sama-sama punya pemain hebat. Sama-sama berpengalaman. Dan para pemainnya, juga pernah mencicip Piala Dunia sebelumnya. Kroasia dan Brazil, sama-sama hebat. Dan Kroasia tidak pernah takluk pada Brazil. Tapi apa yang terjadi?. Brazil menangis. Neymar tak mampu mengangkat wajahnya, ia terkapar menangis. Satu gol yang disarangkan di gawang Livacovik, seakan tak berarti. 

Bola memang penuh kejutan. Selalu ada keyakinan dalam keterpurukan, dan tak perlu ada jumawa dalam kemenangan. Semuanya bisa berbalik. Demikian dengan kehidupan. “Watilkal Ayyamu Nudawiluha Bainannas”, Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). QS. Ali Imran, 140.
Tidak perlu berlama-lama menangis. Karena jarum jam terus berdetak. Menjauh dari kesedihan. Meninggalkan segala masa. Menatap masa depan yang lebih indah, adalah lebih baik. Dari pada menyesalkan sejarah keterpurukan. Yang tidak akan pernah usai.  Mengingat-ingat masa kejayaan hanyalah untuk motivasi hidup, bukan untuk sebuah alasan, pernah hebat.   

 Memang sejarah akan selalu berubah. Tiada yang abadi dan kekal, kecuali yang Maha Kekal. Tetapi, berusaha mengabadikan kebaikan adalah sebuah anjuran. Bukan kemudian harus terulang, tetapi usaha dari sebuah kebaikan adalah kebaikan, urusan hasil hanyalah Allah yang menentukan.

“Belajar pada sejarah”, karena sejarah akan selalu berulang. Seperti sejarah Qabil dan Habil akan terus terulang setiap masa, tetapi berusaha untuk tidak menjadi Qabil adalah bagian dari ikhtiyar terbaik. Masihkan tidak percaya takdir?!.

Tangis Umar dan Kisah Pria yang Makan dengan Tangan Kiri

Halimi Zuhdy

“Umar Keras”, “Umar Kasar” kalimat-kalimat itu tertancap dalam pikiran banyak anak kecil. Mungkin bukan hanya saya, tetapi banyak umat Muslim melihat Sayyidah Umar adalah orang yang keras. Tapi, bahasa yang digunakan mungkin bukan kasar, tapi “tegas”. Banyak kisah tentang ketegasan Umar bin Khattab, sampai-sampai orang menganggap ia sangat keras atau kasar. Maka beliau dijuluki al-Hafas, seorang yang tegas dalam pendirian. Juga dijuluki Asadullah, singa Allah. 
Dan dalam banyak kisah, bila sebuah tempat ditulis nama “Umar Al-Faruq”, maka jin dan syaithan tidak akan berani masuk ke rumah atau ke suatu tempat yang ada namanya. Betapa menakutkannya Umar bagi yang berpikir bahwa Sayyidina Umar keras dan kasar. Sebenarnya, Sayyidina Umar tidak kasar!, Beliau itu sangat lembut, perasa, dan sederhana. Beliau itu tegas, bukan kasar, “Saya lebih lembut dari semua orang, bagi mereka yang berpegang teguh pada agama dan berbuat adil” kata Sayyidana Umar bin Khattab.

Di antara kisah kelembutannya, diceritakan oleh sejarawan bahwa Umar bin Al-Khattab dikenal orang yang sangat tegas dan kuat, tetapi sangat lembut. Suatu hari, Beliau sedang menyiapkan jamuan makan untuk orang-orang Madinah. Dan ketika Umar berkeliling di antara meja-meja makan itu, Umar melihat seorang laki-laki makan dengan tangan kirinya, kemudian beliau mendekatinya dari belakang, dan berkata: “Wahai Abdullah, makanlah dengan tangan kananmu” (dengan nada yang tinggi). Laki-laki itu menjawab: "Wahai Abdullah, tangan ini lagi sibuk". Umar mengulangi kalimat itu dua kali dan pria itu menjawabnya dengan jawaban yang sama. !! 'Umar berkata kepadanya, "Apa kesibukan tanganmu?" Pria itu menjawabnya: “Saya terluka pada saat perang Mu'tah dan saya tidak dapat menggerakkan tangan kanan saya". Umar terduduk dan menangis, kemudian bertanya kepadanya: “Siapa yang membantumu berwudhu?, Siapa yang mencuci pakaianmu? Dan siapa yang mengeramasi rambutmu?” dan berbagai pertanyaan lainnya. (Kitab “al-Astar” karya Qadhi Abi Yusuf).

Setiap kali Umar bertanya, air matanya jatuh, ia benar-benar sedih dan mungkin menyesal. Kemudian Umar menyuruh seorang pelayan untuk membantunya, dan memohon maaf atas kejadian yang telah berlalu, menegur seorang laki-laki tadi sampai tiga kali. Ketika orang-orang melihat kejadian itu, mereka berkata “JazaAllah Umar ‘an Ra’iyatihi Khairan”. Mereka berdecak kagum atas apa yang telah dilakukan Sayyidina Umar. 

Umar tidak bersalah dengan pertanyaan pada laki-laki yang makan dengan tangan kiri, karena Rasulullah sangat tegas bagi orang yang makan dan minum dengan tangan kiri, dari Jabir radhiallahu’anhu, ia berkata Rasulullah shallahu a'laihi wassalam bersabda: Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kiri. HR Muslim. Sampai-sampai Umar bin Khattab menegur lak-laki tadi, karena mendengar hadis dari Rasulullah yang sangat tegas, belum lagi kisah seseorang yang tidak mampu memasukkan tangangannya kemulutnya gegara ditegur oleh Nabi karena ia makan dengan tangan kiri, “Saya tidak bisa makan dengan tangan kanan saya wahai Rasul”, maka Nabi pun mengeluarkan satu kalimat “Kalau begitu maka tidak akan bisa tangan kanan mu sampai ke mulut”. Ini salah satu kalimat yang keluar dari lisan yang suci yaitu Baginda Nabi Kita Muhammad. 

Umar yang benar-benar mengerti apa yang disampaikan Rasulullah dengan makan dan minum tidak boleh menggunakan tangan kiri, dan kemudian menegur laki-laki tersebut, tetapi karena Umar tidak paham apa yang terjadi dengan laki-laki tersebut, beliau minta maaf dengan air mata yang bercucuran kemudian meminta orang untuk melayani laki-laki tersebut. Sebuah keperibadian yang sangat lembut, tegas bukan kasar. Seseorang yang punya otoritas, dan ketegasan tetapi lebih dari sutra. Inilah Sayyidah Umar bin Khattab, yang dijuluki dengan Al-Faiz, orang yang cerdas. Allahu’alam bishawab.

#NoMakanKiri #NoMinumKiri #MakantanganKanan

Jumat, 02 Desember 2022

Menilik Jejak Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili (Syiah Kuala)


#Edisi6Aceh

Halimi Zuhdy

Beruntung dapat menjejakkan kaki di tanah Kuala, tempat syekh Abdurrahman Al-Fansuri dikebumikan. Titik 0 Sabang Aceh, terlihat dari kejauhan. Ingin sekali menapakinya, tapi waktu belum mengizinkan. 
Syekh Abdurrauf penerjemah Al-Qur'an berbahasa Melayu "Tarjuman al-Mustafid", kitab ini merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu. Beliau juga pengarang Kitab Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, karya di bidang fiqh atau hukum Islam dan masih banyak karya-karya lainnya, dalam berbagai bidang keilmuan, terutama Fiqih, Tasawuf, terjemahan kitab.

Sore, tanggal 28 November 2022, mobil memasuki kawasan makam Syekh As-Singkili, banyak anak-anak kecil yang lagi digendong oleh ibunya, ada pula yang lagi di ayun-ayun di rumah panggung di kelilingi beberapa orang. Apa yang saya saksikan agak unik, kok banyak anak kecil di tempat ziarah makam. 
Penasaran pun tak mampu saya pendam, "Ustadz, di sini kok banyak orang membawa anak kecil, ada pula santri yang lalu lalang? Apakah di sini ada pesantren?" Tanyaku pada Dr. Zilkhair. "Di sini banyak orang yang selametan, atau menuikan hajatnya, biasanya ada orang yang ingin punya anak laki-laki atau perempuan dan diniatkan ziarah, kemudian terkabul, mereka ke tempat ini. Ada juga santri-santri yang mau ziarah, pamet pulang, terkadang ke sini juga" jawab Dr. Zulkhair, mantan Kaprodi BSA UIN Arraniri ini.

Saya memasuki ruang makam, salam pun saya haturkan. Sepi. Hanya ada satu orang yang lagi membaca Al-Qur'an. Di dalam ruangan yang sangat luas, ada makam yang cukup panjang dengan balutan kain hijau. Di dalamnya adalah Syekh Aminudin Abdur Rauf bin eAli al-Jawi Tsumal Fansuri as-Singkili. Nama asli dari Abdurrauf. Di sekelilingnya terdapat beberapa makam yang ukurannya juga panjang-panjang, demikian juga nisannya. Kata juru kunci yang saya temui, di sekelilingnya adalah para murid beliau. 

Daerah Makam Syekh Abdurrauf ini, termasuk daerah gempuran tsunami hebat, tetapi beberapa bangunan dan juga makam beliu masih tidak rusak, hanya beberapa bangunan yang berada di luar makam beliau. Entah apa namanya, tapi ini sebuah pembelajaran dan ibrah bagi yang hidup. 

Keluarga Syekh As-singkili, diperkirakan berada di Aceh pada abad ke- 13 Masehi. Dan ada banyak berbeda pendapat terkait asal beliau, ada yang berpendapat dari Arab, ada pula Persia, juga ada pendapat yang lain dari beliau pribumi asli. Dalam catatan sejarah, beliau wafat pada usia 73 di desa Deyah Raya kecamatan Kuala. 

Banyak cerita tentang sang Syekh. Seorang tokoh yang sangat berpengaruh, penyebar agama di Sumatera dan Nusantara.

29 November 2022

Kamis, 01 Desember 2022

Hikmah di Balik Tiket Hangus


- dari UIN Ar-Raniri ke Syekh As-Singkili

# Edisi 4

Halimi Zuhdy

“Mendapatkan hal yang buruk dengan pikiran positif, jauh lebih baik dari mendapatkan keindahan dengan hati yang negatif” Kalimat penutup hari ini.
Kebahagiaan bukan dari apa yang telah kita raih, tapi kebahagiaan itu apabila kita menikmati setiap apa yang terjadi dengan mengucapkan “Al-Hamdulillahi ala kulli hal, segala puji bagi Allah dalam segala keadaan”. 

Di sela-sela percakapan kami di warung kopi pagi sebelum ke kampus UIN Ar-Raniri, tiba-tiba ustadz Sumardi, Kaprodi BSA UIN Ar-Raniri nyeletuk, “Untunglah ustadz, ustadz tidak jadi berangkat kemarin, karena dari pagi sampai sore listrik di Fakultas padam, andai ustadz hadir, juga tidak bisa menyampaikan kuliah”. 
Lah, mengapa semuanya menyatakan untung?. Karena yang dicari adalah hal positif, bukan negatif. Tidak menyalahkan keadaan, tetapi membawa keadaan pada suasana yang paling indah, dan yang paling membahagiakan ketika kita berkumpul dengan para dosen dan mahasiswa di ruang-ruang intelektual, dan asyik masyuk dengan dengan dunia akademik.

Tak ada lagi yang dipikirkan kecuali bercengkerama tentang ilmu pengetahuan. Sampai-sampai waktu seperti kilat, tak terasa dari pagi sampai sore berada di Kampus Hijau, kampus yang dipenuhi dengan pepohonan indah dan rindang. Di tengah-tengahnya terdapat rumah adat Aceh, “Ustadz, kalau ada Rektor dari luar Aceh ke kampus ini, kita bawa ke tempat ini” kata Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Aceh, Dr. Syaifuddin. Hatiku tersentak, ini bukan Rektor yang datang?, hanyalah dosen biasa.
Saya mulai naik ke rumah adat Aceh dengan rasa senang campur haru. Di sana sudah menunggu dosen-dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniri Aceh, dengan beberapa pejabat Fakultas. Saya ditunjuki benda-benda masa lalu, dari uang kuno, senjata, peralatan dapur, ruang tidur, ruang rias dan banyak lainnya. Dan yang istimewa, kita makan nasi Aceh dengan cerita-cerita yang sangat asyik. Terima kasih Aceh.

“Ustadz, nanti setelah Maghrib mengisi pengajian di Masjid Jami’ As-Shalihi?!” kata Bapak Dekan. Saya tidak bisa mengelak, apalagi seorang tamu yang datang dari non jauh, Malang. Dalam hati, kapan saya jalan-jalannya?, tetapi saya tidak menanyakan, karena pasti saya diajak jalan-jalan walau hanya sebentar. Eh, tiba-tiba saya ditanya oleh Dr. Zulkhair, Dr. Zullifah, dan Dakatir lainnya, “Ustadz mau kemana, akan kami antar?!”. 

Hati ini sangat Bahagia sekali. “Saya ingin ziarah ke Syekh Ar-raniri, Syekh Abdurrauf Al-Fansuri, Syekh, Syekh Hamzah Al-Fansuri, dan mungkin ke kapal tsunami?!” saya mencoba bernegosiasi dengan para asatidz. “Maaf ustadz, Sykeh Ar-Raniri, makamnya tidak di Aceh, ada pendapat beliau pulang ke India setelah kalah debat di muka umum dengan muridnya, Hamzah Fansuri, dan ada yang mengatakan beliau meninggal di India” kata Dr. Zulkhair, Alumni doktor dari Sudan. “Sedangkan Hamzah Fansuri, lumayan jauh, waktunya tidak cukup, karena ustadz nanti diminta mengisi pengajian setelah Maghrib, kita ke Syekh Abdurrauf As-Singkili saja dulu” beliau melanjutkan dan menjelaskan tentang keberadaan Syekh yang ahli Fikih. (Tentang Syekh Abdurauf, akan diceritakan khusus, Insyallah).

“Ustadz, harus Kembali lagi ke Aceh, akan kita bawa keliling!?” kata para asatidz yang selalu tersenyum dengan wajahnya yang selalu menggembirakan. Saya sebenarnya malu, beliau-beliau menemani mulai hari sebelumnya sampai seharian di UIN Ar-Raniri dan sampai hari terakhir di Aceh. Sungguh terharu. 

# Edisi 5

Kuala, 29 November 2022
***
Edisi Selanjutnya (Musium Kematian, Tsunami), (Syekh Alim yang dikalahkan politik), (pengajian di Masjid Jami’ Aceh), (Amplop Pengajian), (Kopi Solong yang legendaris), (Kyai Barista, Pak Dekan yang nyentrik).

Rabu, 30 November 2022

Dalam Perjalanan, Sekedarnya Saja!

-Aceh mengajarkan bagaimana menuju Akhirat

#Edisi 4

Halimi Zuhdy

Dalam setiap perjalanan selalu ada pesan yang disampaikan oleh gerak manusia dan alam. Saya saksikan orang-orang mengular, antri untuk check-in dan mendaftarkan bagasi. Ada yang menyerobot, ada pula yang santai, ada banyak wajah yang terlihat panik. Barang-barang yang dibawa pun bervariasi ada koper-koper yang menggunung, kardus penuh sesak, ada yang punggungnya dibebani dengan berbagai bawaan dengan tangan menjinjing tas, ada pula yang hanya bawa satu ransel kecil. 

Apakah selesai dengan antri di pendaftaran bagasi. Tidak. Perjalanan masih panjang. Bila bagasi besar dan ada barang berbahaya, maka masalahnya masih lama. Jika tidak ada masalah dengan bagasi, maka langsung pada titik selanjutnya, menuju gate (tempat menunggu pesawat). Di sana masih banyak tahap pemeriksaan keamanan, antri lagi, ada yang membuka sabuk, laptop, jaget dan lainnya. Antrian panjang. Terkadang melelahkan, terkadang mengasyikkan. 
Apakah selesai?. belum. Bagi  pelancong yang tidak membawa teman, dia akan membawa barang-barangnya ke toilet, ke mushalla, ke restoran, kemana pun ia berada di bandara. Takut hilang?. Ia. Karena tidak ada jaminan penuh, untuk keamanan. Demikianlah kehidupan sekelumit di bandara. Apa artinya, semakin banyak beban yang dibawa, semakin berat memanggulnya, semakin banyak yang dipikirkan dan semakin lama antriannya. 

Dalam Kitab Nashaih al-Ibad, karya Imam Nawawi, “Perbaikilah bahteramu, karena sesungguhnya samudera itu sangat dalam. Persiapkan bekalmu dengan sempurna, karena sesungguhnya perjalanan ini sangat jauh._Ringankan bebanmu, karena sesungguhnya rintanganmu sangat berat._
Ikhlaskan amalmu, karena pengintaimu sangat jeli.” ini pesan Rasululullah pada Abu Dzar Al-Ghifari ketika ingin berangkat untuk menjadi Gubernur. Semakin banyak seseorang membawa barang, semakin berat beban yang ditanggung, akan lambat bergerak, lebih lama antri ketika masuk pesawat, lebih-lebih ketika antri memasukkan barang ke kabin. Bagaimana dengan antrian di Akhirat nanti? Semuanya akan dihisab (ditimbang, diperiksa) olehNya. 
Hal ini saya tiru dalam setiap  perjalanan. Terutama perjalanan ke Aceh kali ini, selain membutuhkan waktu lama untuk sampai, masih transit beberapa kali di  beberapa bandara. Bila membawa barang banyak, dan berat, maka cukup menyulitkan gerak saya. 

Membawa barang-barang dalam perjalanan, harus dapat memperkirakan kebutuhan selama dalam perjalanan dan ketika sampai di tempat tujuan. Bila cukup dengan membawa satu kaos dan satu baju, mengapa harus membawa lima baju dan sepuluh potong kaos. Diperkirakan saja! sehari ganti berapa kali celana?, masak ganti celana sehari tiga kali.

Membawa barang sekedarnya saja!. Tubuh tidak akan menanggung beban berat, punggung terasa ringan, pikiran tidak terlalu bingung. Bayangkan! Ketika membawa kardus, bawa ransel, bawa koper, belum HP yang tidak bisa lepas dari tangan, belum lagi dan lagi. 

Capek kan?! Bila seseorang penempuh perjalanan tiga hari, pulang dan pergi, misalnya. Cukuplah bawa baju dua potong, ditambah kaos. Enak kan!. Naik kendaraan apa pun. Lebih-lebih perjalanan darat yang membutuhkan tenaga, maka bawalah barang sekedar saja.

Dalam perjalanan, makan sekedarnya saja!. Jangan terlalu kenyang, dan jangan pula sampai kosong. Bila tubuh mengkonsumsi makanan tidak terlalu banyak, maka gerak langkah akan gesit demikian juga sebaliknya. Dan bisa dibuat baca-baca buku di HP, kalau kekenyangan akan tertidur pulas. Benar tidak?!

Bawa uang sekedarnya saja! Sekedar cukup. Cukup untuk ongkos perjalanan, cukup untuk makan, dan cukup untuk kebutuhan lainnya. Terlalu banyak uang yang dibawa, maka akan terlalu banyak beban pikiran; takut hilang, ingin beli banyak barang dan lainnya. 
Bawa cinta sekedarnya! Jangan berlebih dalam merindu. Pasrahkan yang ada di rumah padaNya, sebagaimana doa diajarkan, "Allahumma Anta Shohibu fi Safar, wal.khalifatu fil ahl, Ya Allah Engkaulah pendampingku dalam perjalanan, dan mengurusi keluarga". Meminta padaNya, agar yang ditinggalkan di rumah dijaga oleh Allah. Selain akan lebih tenang dan fokus dalam beraktifitas.

#Edisi 4, lanjut edisi 5 (Action di UIN Ar-Raniri, Suguhan kopi gayu dan rumah adat penuh cinta)

Kuala, Aceh, 28 November 2022

Senin, 28 November 2022

Selalu Ada Kejutan dalam Hidup

-Min Haitsu La Yahtasib

Halimi Zuhdy

Kesedihan hanya sesaat, kebahagiaan melimpah ruah. Kebahagiaan demi kebahagiaan terkadang tak terasa saking banyaknya limpahan kebahagiaan dalam hidup. Inna ma'al usri yusra, sungguh kesulitan hanyalah sedikit, kemudahan begitu melimpah. Saatnya menikmat setiap kebahagiaan, bukan meratapi setiap kesedihan. 
Allah memberi kejutan dalam kehidupan seseorang, ketika seseorang dalam kelelahan menghadapi kehidupan. Wa yarzuqhu min haisu lanyahtasib, ....Dan Allah memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sedih, tetiba bahagia. Bahagia, tetiba sedih. Tapi, kesedihan selalu tidak lama, bagi orang yang beriman pada Takdir. Kemarin sedikit sedih karena 3 tiket yang hangus; Sby-Batam, Batam-Medan, Medan- Kuala Namo (Aceh) hangus, hari ini sangat bahagia, karena masih diberikan kesehatan oleh-Nya dan masih bisa melanjutkan penerbangan.  

Kita perhatikan gelar Sepak Bola Dunia 2022 di Qatar, selalu ada kejutan. Argentina yang dijagokan, tetiba bertekuk lutut di kaki Saudi Arabia. Arab Saudi Bahagia.  Kebahagiaan tak bertahan lama, Saudi Arabia tak berkutik di kaki Polandia, sedih. Argentina kini menatap penuh semangat masuk 16 besar. Belgia yang bersemangat, harus rela dihajar Moroko. Entah bagaimana akhirnya. Jerman kini bisa sedikit bahagia, walau sebelumnya dibuat sesak nafas oleh Jepang, kini Jepang yang berhenti bernafas, walau masih selalu ada harapan bagi Jepang. 

Demikianlah piala dunia, dan juga kehidupan di dunia. Tetap bersemangat menatap  kehidupan adalah jalan yang harus ditempuh. Bersyukur atas segala pemberian-Nya, adalah bagian dari cara menempuh bahagia. Dan bersabar atas musibah yang dihadapi adalah bagian dari membuat diri menjadi indah. 

Dunia itu fana (hancur, berubah). Tiada yang abadi di dalamnya, ada saat- saatnya di atas, ada pula saatnya di bawah. Tetapi atas dan bawah hanyalah bagian dari roda yang diputar, bukankan mobil sampai pada tujuan karena roda yang silih berganti, berputar. Maka, menikmati setiap putaran roda, adalah syukur padaNya. Kejutan-kejutan selalu datang bagi yang bersyukur. Dan kejutan akan menjadi kejutan, bagi yang bertaqwa padaNya. Wayarzuqhu min haitsu la Yahtasib.

(Edisi 2)
Sby-Jakarta-Medan-Aceh, 28 Nov 2022

Minggu, 27 November 2022

Boarding Time 04:50

3 Tiket Hangus

Halimi Zuhdy

Setiap masalah, pasti Allah kasih solusi. Dan setiap solusi, selalu menjadi yang terbaik. Asalkan yakin, tidak ada masalah yang akan menjadi masalah, masalah/kegagalan akan berbuah akan menjadi pelajaran, pengalaman, dan kebaikan. Tinggal dicari setiap hikmah yang akan diberikan.
Ini pengalaman kedua saya ditinggal pesawat. Memang galau, tapi dibuat santai. Karena pasti ada solusinya, asalkan hati dan pikiran ditenangkan. Pesan tiket lagi,  terbang. Rugi tiket hangus, ia. Tapi, banyak hikmah dalam ketertinggalan. Bukan lagi persoalan berapa uang dan waktu yang telah dihabiskan, tetapi berapa kuat melatih diri untuk bersabar. 

Kali ini kasusnya sama, tertinggal dalam hitungan detik. Hanya ditinggal untuk shalat shubuh di gate 13, nama saya dipanggil (ketika takbir pertama), tidak mungkin shalat dibuat super cepat, karena ditunjuk jadi imam sama beberapa staf bandara yang agak akhir shalat. Saya perkirakan, waktu masih nutut dengan detik yang ada, tapi...

Salam pada tahiyat akhir. Langsung ambil langkah cepat. Sampai ke gate 15. Duaaaar. Tanya sana -sini, "Apakah pesawat menuju Batam Batu Besar sudah take off?". "Ia Bapak, baru 2 menit yang lalu pintu gate 15 ditutup Bapak",  

Saya duduk sebentar menenangkan hati dan pikiran. Setelah tenang, cari petugas bandara di gate 10 yang masih aktif mengurus keberangkatan menuju Makassar atau mana, lupa. "Tiket bapak hangus, pesawatnya sudah berangkat beberapa menit lalu Bapak". Saya yakin, pesawat tidak mungkin kembali menjemput saya, gegara saya terlambat.wkwkwwk. Coba saya presiden, atau menteri, pasti tidak ditinggal (menghayal). 

Di depan mata. Saya perhatikan pesawat demi pesawat mulai meninggalkan landasan terbang. Pikiran nyeracau, ya inilah kalau belum waktunya berangkat. Sudah 3 kali hampir berangkat ke Tanah Rencong, Aceh. Tetapi, selalu ada asbab sampai. Ingin sekali mendekap Serambi Mekkah. Terbayang ziarah Abdirrauf As-Singkili, Hamzah Al Fansuri, Syekh Nuruddin Arraniri, dan beberapa kehangatan lainnya yang sudah terbaca dalam sejarah Aceh sejak masih duduk di MI. Ke beberapa negara pernah saya kunjungi, ke beberapa wilayah di luar Jawa juga sudah pernah, tetapi Aceh ini belum. 

Perjalanan kali ini, sudah ada agenda terjadwal rapi oleh Fakultas Abad dan Humaniora UIN Arraniri Aceh, bertepat di Prodi Bahasa dan Sastra Arab, acara dimulai jam 08.00-15.00 besok 28 Nov 2022. Agenda visiting lecturer, FGD dengan prodi BSA, dan diskusi penulisan skripsi dengan mahasiswa, dan agenda lainnya. Kalimat-kalimat ini masih dicoret belum juga mendapatkan tiket menuju Banda Aceh, hari ini semuanya sudah sold out (terjual).

Kaki melangkah ke beberapa tempat pemesan tiket menuju Aceh, kalau tidak ada hari ini, maka besok berangkat. Fokus mencari solusi, fakus mencari tiket, karena UIN Ar-Raniri dan cerita Aceh sudah terekam di hari. 

Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Yang tidak baik, jadi pelajaran. Yang baik, jadi keindahan. Dan semuanya yang terjadi adalah bagian dari ketentuan Tuhan. "Mengapa kok tidak ini, tidak itu, pasti tidak akan terjadi" perkataan seperti ini hanya akan membuka pintu setan untuk menggoda lebih dalam. Dalam kutipan hadis yang diriwatakan Abu Hurairah
......
Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: 'Seandainya aku lakukan demikian dan demikian'. Akan tetapi hendaklah kau katakan: 'Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi'. Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan" (HR Muslim). 

Mungkin ini kesalahan saya, karena kurang awal, kurang disiplin dan lain sebagainya, tetapi ada hal lain yang harus dilakukan. Selalu mengevaluasi diri, tidak mencari pembenaran diri. Karena kekurangan yang disadari, akan memberikan tambahan yang berarti. Kekurangan yang tidak ditanggapi, akan berakhir pada kegagalan yang tidak berarti. Gagal sebuah keharusan, bagi seseorang yang ingin maju. Bukankah tidak ada pelari cepat yang memenangkan pertandingan, kecuali ia pernah gagal dan mungkin jatuh. 

3 tiket hangus. Disyukuri, isnyallah Allah akan mengganti tiket-tiket lain yang lebih indah. Tiket sehat, tiket selamat, tiket bahagia, tiket berkah, tiket penganti dan tiket-tiket lain yang Allah selalu curahkan. Selalu positif. "Allah selalu memberikan yang terbaik". Kebaikan tidaklah harus apa yang kita sukai, bisa saja kebaikan ada sesuatu yang kita benci, tetapi memberikan manfaat yang sangat berarti. 

Dinikmati, disyukuri, dan dijalani. Dan jangan lupa selalu mengevaluasi diri.

Juanda, 27 November 2022

***
Mudah-mudahan ada tiket untuk esok hari, dan dapat bersua dengan syekh Arraniri.

Menelisik Arti Liwath (LBGT)

Halimi Zuhdy

"Sepak Bola Dunia kok sibuk dengan LBGT?" Kata seorang teman yang menanggapi ramainya tagar #LBGT dan #OneLove di twitter dan beberapa media lainnya. "Loh, bagi kaum muslimin urusan LBGT itu urusan serius, bukan hanya urusan hal remeh temeh saja. Bila mengatas namakan kebebasan dan kemanusian, maka menghadang merebaknya LBGT adalah kemanusiaan itu sendiri" seorang teman lainnya menanggapi.  

Toyyib. Terlepas dari perdebatan tentang Sepak Bola dan LBGT. Saya agak terusik, ketika seorang teman mengaitkan nama Nabi Luth dengan LBGT. Apalagi namanya dianggap sesuatu yang buruk. Luth adalah Liwath/sodomi. Saya yakin sekali, tidak ada nama seorang Nabi pun memiliki nama dengan arti yang buruk, termasuk nama Nabi Luth AS.
Mari kita telisik dengan seksama, mengapa Nabi Luth dinamakan Luth? Dan apa arti Luth?. Di antara sebab Nabi Luth dinamakan demikian, karena beliau sangat mencintai pamannya (Nabi Ibrahim AS). 

Kata "Luth" bermakna al-ta'alluq (bertaut) Ilshaq (menempel), dan Al-Hubb (cinta). Maka, arti nama Luth adalah yang sangat mencintai pamannya, Ibrahim AS. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa kata "Luth" tidak memiliki derivasi (musytaq), nama ini termasuk nama ajami (non Arab). 

Kata "Luth" yang bermakna cinta (al-mahabbah), adalah sebuah nama yang diberikan kepada Nabi Luth dengan arti yang baik (hasan), maka tidak ditemukan arti lainnya yang mengarah pada sesuatu yang buruk. Nabi Luth hidup semasa dengan Nabi Ibrahim (1900 SM), dengan lokasi dakwah yang berbeda,  Nabi Ibrahim di Irak, sedangkan Nabi Luth di desa Sodom dan Umorah (Selatan Laut mati). 

Bila terdapat keburukan yang dinisbatkan kepada beliau, seperti "Kaum Luth", bukan arti dari Luth-nya tetapi adalah perbuatan kaum dari Nabi Luth, ia hanyalah sebuah nisbat. "Kadzabat Kaum Kuthin Mursalin, kaum Luth mendustakan para utusan". Karena tidak sedikit kaum dari para nabi yang tidak memiliki nama sendiri, seperti Kaum Nabi Nuh, Kaum Nabi Zakariya dan lainnya, berbeda dengan kaum Nabi Hud dan Nabi Shaleh. Kaum Nabi Hud namanya Kaum 'Ad, dan Kaum Tsamud adalah kaumnya Nabi Sholeh.

Yang perlu dicatat bahwa tindakan asusila - yaitu, sodomi - adalah istilah yang dikaitkan dengan perilaku orang-orang (kaum) Luth, bukan kepada Nabi Luth. Jadi homoseksual terkait dengan kaum Luth, dan kata tersebut dari masdar La-Wa-Tha; Artinya, perbuatan buruk tersebut seperti perbuatan kaum Luth. Dan juga ada yang berpendapat, bahwa kecabulan (perbuatan buruk, Kaum Luth) dikaitkan dengan Luth, karena beliau "melarang" perbuatan tersebut. 

Siapakah Nabi Luth?, Beliau adalah Luth bin Haran bin Azar adalah keponakan dari Nabi Ibrahim as.  Artinya, Nabi Ibrahim adalah pamannya. Nama Nabi Luth disebutkan dalam Al-Qur'an sekitar tujuh belas kali, dan Allah SWT mengutusnya kepada orang-orang Sodom, yaitu sebuah desa yang terletak antara Syam dan Hijaz, sekitar negeri Yordania, dan negeri Sodom meliputi sekitar sepuluh desa, dan juga ada beberapa pendapat lainnya. 

Maraji' (Maudhu', Asma Anbiya')

***
Di kolom komentar, ketika penulis berada di Kota Sodom (diperkirakan), sekitar Laut Mati. 

#NoLBGT #NoOneLove

Minggu, 20 November 2022

Tempat Diutusnya Para Nabi dan Tempat Wafatnya


Halimi Zuhdy

Awalnya, saya ingin sekali membaca tentang Kaum 'Ad dan Kaum Tsamud. Siapakah mereka?,  Mengapa dua Kaum ini selalu disebutkan dalam Al-Qur'an? Mereka tinggal dimana? Bagaimana peradaban mereka? Dan mengapa mereka dianggap kaum yang durhaka (menentang)? Apakah peradaban mereka masih ada sampai sekarang?
Masalah kaum Ad dan Tsamud masih dianggap sebuah misteri bagi para arkeolog. Oleh karena itu, banyak ulama, terutama dari bangsa Arab, mencoba menghubungkan banyak situs yang terletak di pegunungan Jazirah dengan kaum Ad dan Tsamud. Banyak sarjana mencoba menghubungkan gunung-gunung besar dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Ada kajian yang menunjukkan bahwa kaum Tsamud adalah penerus kaum Hud as. Mereka dinamai dengan kaum Tsamud, sehubungan dengan kakeknya, "Tsamud bin Aber", sementara yang lain percaya bahwa dinamai dengan nama ini karena kekurangan air di tanahnya. Saya pernah berada disekitar bebatuan yang dianggap hasil cipta Kaum Tsamud, yaitu gunung atau bukit batu yang dipahat (lihat gambarnya di kolom komentar, atau di web www. halimizuhdy.com)

Tapi, untuk mengetahui keberadaan dua Kaum tersebut, maka perlu mengetahui masa mereka dan pada masa siapa mereka berada di muka bumi. Dari itu, perlu melihat peta sebaran para Nabi. Dan saya menemukan mulakhas (uraian singkat) keberadaan Para Nabi (jadwal di bawah).

Peta sebaran para Nabi, mulai tempat kelahiran, masa diutusnya dan tempat para Nabi disemayamkan. Sumber ini diambil dari Kitab Al-Ma'arif  karya Ibnu Qutaibah, Al-Bidayab wa Nihayah (Ibnu Katshir), Atlast Tarikh Al-Ambiya'. Peta berikut didasarkan pada perkiraan (taqribiyah) dengan beberapa data yang lebih mendekati kebenaran. 

Nabi Adam, misalnya, diperkirakan tempat pertama kali diutus oleh Allah adalah di negeri India (ada pula yang mengatakan diturunkan pertama kali), ada pula yang berpendapat di sekitar Jazirah Arab. Demikian juga dengan tempat wafatnya beliau (India/Makkah).  

Sedangkan Nabi Idris tidak ditemukan tempat wafatnya, karena beliau diangkat oleh Allah ke langit. "Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Quran). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi. " (QS. Maryam: 56-57). Dan ada beberapa pendapat lain, terkait ini. 

Nabi Nuh, disebut juga dengan Nabi Adam stani (kedua), karena setelahnya ada kehidupan baru, yaitu setelah banjir bandang yang menimpa kaumnya. Beliau diperkirakan hidup antara 3000-4000 SM. Beliau diutus di selatan Iraq, dan wafat di Makkah. 

Bagaimana dengan Nabi Hud AS? Beliau diperkirakan diutus oleh Allah pada tahun 2400 SM, di tanah Ahqaf (daerah Oman, dan daerah Timur Yaman), dan makamnya berada di daerah Hadral Maut Timur. Kaum 'Ad adalah kaum Nabi Hud AS. Mereka menyembah berhala, yang kemudian dikirim azab besar berupa kekeringan dan topan. 

Bersambung (Insyallah).
***
-Setiap nama para Nabi memiliki makna yang menarik untuk dikaji, setiap nama adalah simbol dari kaum yang mereka, seperti nama Nabi Nuh, mengapa dinamakan Nuh? Karena naha yanuhu. 

Allahu'alam Bishawab.

***

Sabtu, 12 November 2022

Perbedaan "Abi" dan "Walid" dalam Al-Qur'an

Menelisik Arti "Ayah"
(Perbedaan "Abi" dan "Walid" dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy

Ini hanyalah kajian singkat di momen hari Ayah. Walau Ayah tidak pernah punya hari (ia selalu di hati). Tapi, apa pun tentangnya selalu indah, dan bersamanya adalah momen yang menakjupkan. Mudah-mudahan ayah kita (yang masih hidup) selalu diberikan kesehatan dan keberkahan, dan (yang sudah wafat) mudah-mudahan dalam maghfirahnya.
Kata Ayah  diserap dari bahasa Jawa ꦪyaꦪꦃyah (yayah, “ayah”), dari bahasa Jawa Kuno yayah (“ayah”), dalam Wiktionari, sebuah panggilan bagi orang tua kandung laki-laki. Dan kata Ayah secara etimologi dalam bahasa Hindi आया adalah bermakna pembantu (aaya, “pembantu”). Dan kata ini, menjadi sebutan bagi seorang perempuan yang menjadi pembantu. Entah, makna secara bahasanya, saya belum menemukannya. 

Ayah, bukan hanya seseorang yang memberikan nafaqah dalam keluarga. Tapi, ia adalah seorang pendidik (mengajarkan cara beribadah, berakhlak yang baik, bermasyarakat dan lainnya) dan ayah adalah seorang pemimpin dalam keluarga.

Orang tua, harus di posisikan sama. Baik Ayah atau Ibu. Keduanya sama-sama istimewa. Tampa salah satu dari keduanya, tidak akan hadir seorang manusia. 

Dalam Al-Qur'an terdapat kata "Abu" dan "Walid".  Kata Ab (أب) secara bahasa bermakna sebab adanya sesuatu atau memperbaiki sesuatu. Dinamakan Abun, karena seorang ayah adalah  orang yang berfungsi sebagai pendidik, penjaga, pemelihara, dan yang bertanggungjawab terhadap sandang, pangan dan pendidikannya. Sedangkan Walid (والد), adalah ayah langsung, yang menjadi sebab adanya anak. Kata walid lebih khusus, sedangkan Aab digunakan lebih umum.

الأب في اللغة: سبب وجود الشيء أو إصلاحه، أو ظهوره، وسُمّي الأب أبًا، لأنه يقوم على إصلاح الأبناء ورعايتهم بالتربية والغذاء. أما الوالد في اللغة: الأب المُباشر، الذي هو سبب وجود الابن. فالوالد خاص، والأب عام.

Dalam Al-Qur'an, kata Aab menunjukkan pada beberapa isyarat. Pertama menunjuk pada Ayah kandung (الاب المباشر) sebagaimana dalam Surat Yusuf;
«إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ»
Dan juga menunjuk pada kakek (jadd) dan buyut (ke atas);
مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ» (الحج) 78
«قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا» (البقرة) 170.
 «أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ» (الشعراء).

Penggunaan kata "Aab" dalam Al-Qur'an terkait dengan luasnya asal kata Aab (الاب) dan pencantumannya terhadap segala sesuatu yang menjadi penyebab keberadaan sesuatu atau riayah.

Berbeda dengan kata Walid (الوالد), yang secara khusus menunjukkan ayah biologis, yang menjadi sebab keberadaan seorang anak (ibnu). Kata "walid" dalam beberapa Ayat menggunakan mustanna (bermakna dua). Hal ini, menunjukkan bahwa walidah (ibu)lah yang melahirkan. 
«لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللـه وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا» (البقرة)83. 

Dan penggunaan dua kata ini,  bila ditilik lebih jauh dalam setiap Ayat-nya, semakin asyik. 

***
Ayah bukan hanya seorang Walid, tapi ia juga harus menjadi seorang Abi. Tidak hanya menjadi sebab lahirnya anak, tetapi tugas berikutnya adalah menjaga, mendidik dan tentunya mencari nafkahnya.

12 November 2022

Kamis, 10 November 2022

Kata "Mabruk" yang Dipermasalahkan

Halimi Zuhdy

"Eh, sudah tidak boleh lagi lo mengucapkan kata "mabruk" karena kata tersebut menyalahi kaidah bahasa yang sahih". Tegur seorang mahasiswa pada kawannya yang mengucapkan kalimat "Alfu Mabruk" pada temannya yang baru saja menikah. 

Toyyib. Mari sedikit kita diskusikan kata tersebut. Munculnya sebuah kata tidaklah secara tiba-tiba, ia melakui proses panjang sekali, sehingga masyarakat pengguna merasa nyaman dan kemudian terbiasa. Dan kata tersebut disepakati dengan makna tertentu. Munculnya kata baru terkadang dari galat (khata' atau error), ada kesalahan pengucapan, mendengar dan kesalahan mengucapkan sehingga membentuk kata-kata baru.
Dan di antara sebab lain dari kemunculan kata  dikarenakan ada imitasi bunyi suara. Ada pula menyerap dari bahasa asing lainnya, dan juga menggunakan bahasa klasik dari bahasa lain, atau mengkombinasikan dengan bahasa yang sudah ada. Hal ini dapat dibaca dalam kitab Nasy'atul Lughah. Kata tidak tiba-tiba ada, ia melalui proses panjang sehingga menjadi sebuah kesepakatan dalam masyarakat. 

Bagaimana dengan kata "Mabruk"?, kata mabruk dalam beberapa kajian; dalam Mu'jam Ma'ani, kata Mabruk (مبروك) adalah maf'ul bih dari kata baraka (برك). 
مَبْرُوك : اسم المفعول من بَرَكَ
برَكَ / برَكَ على / برَكَ لـ يَبرُك ، بُروكًا وتبراكًا ، فهو بارِك ، والمفعول مَبْرُوك عليه.
Dalam beberapa penjelasan yang lain, dalam Maudhu' misalnya, bahwa kata ini tidak bermakna doa "membrikati" tetapi ia adalah nama syaithan. 

Dan juga beredar di Indonesia (khususnya), beberapa ustadz melarang menggunakan kata Mabruk, karena kata ini tidak sahih (salah secara kaidah bahasa dan lainnya), kata Mabruk menurutnya adalah bermakna "berdiam diri" tau "unta yang menderum". Bukan bermakna berdoa, apalagi mendoakan kebaikan. Tetapi, seperti mengucapkan unta yang lagi beristirahat.

Dan tentunya, penjelasan di atas sangat kaya dengan berbagai pendapat ulama bahasa, ada yang sepakat ada pula yang menolak. Menarik apa yang disampaikan Dr. Faruq Muawa dalam mengomentari  orang yang menganggap kata mabruk adalah keliru, menurutnya "Mabruk, sahih secara bahasa, dan tidak mungkin untuk dihilangkan". Ada beberapa hal yang beliau sampaikan dalam maqalahnya di antaranya;

مبـروك) هي من التهاني المتداولة الشائعة بيننا، ونقصد بها الدعاء بالبركة والنّماء عند كل ما يَسرّ، وعند كل نجاح، وعلى كل ما هو جديد.
في رأيي أن نتقبلها قبولاً حسنًا لأكثر من سبب غير شيوعها وانتشارها على كل لسان:  ما ورد في (لسان العرب) لابن منظور; بَرَك- الْبَرَكة: النماء والزيادة. والتبريك : الدعاء للإنسان أو غيره بالبركة.
يُقال : بَرّكْتُ عليه تَبْرِيكًا، أي- قلت له: بارك الله عليك.

وما دام معنى الفعل (برَك) نما وزاد، فاسم المفعول (مبروك) منطقي جدًا.
فإذا قال قائل: هذا فعل لازم واسم المفعول تكون بعده تعدية بحرف جر، نحو: مضحوك عليه، مبكيّ فيه..إلخ
فالجواب: ثمة أسماء مفعولين من اللازم، ولم يرد بعدها تعدية بحرف جر، نحو: مسعود، مزكوم، محزون، مرسوم،  فلتكن (مبروك) على غرارها!

Penjelasan pada paragraf paling bawah, bahwa kata mabruk angatlah rasional, tidak perlu dipersoalkan, karena ia masih berasal dari kata baraka yang bermakna nama' (berkembang) dan ziyahdah (lebih, bertambah). 

Beliau merasionalisasikan mengapa bahasa Mabruk itu muncul. Tentunya, penjelasan yang panjang dari beliau tidak mungkin untuk diurai di sini. Dan menurut beberapa ulama lainnya; 

وإذا كانت مادة الاشتقاق موجودة وهي (الياء والراء والكاف) التي هي أصل حروف البركة، فلا أرى مانعاً أن يقول القائل مبروك بمعنى مبارك. (Fatawamedia)

 :
أنه لا حرج في استعمال كلمة "مبروك" عند التهنئة ، والدعاء بالبركة ، ما دام الناس قد تعارفوا على ذلك ، ولا خطأ فيه أصلا ، من الناحية الشرعية ، فضلا عن أن يكون فادحا (islam.qa)

Terus bagaimana? Mana yang benar? 
Lah, bisa buka link berikut😆
👇❤️🔴

Youtube Lil Jamik "Mengurai kata Mabruk"
https://youtu.be/ztul2aEZ-Po