السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 25 November 2020

Puisi dan Imam Syafi’i

(Pertama kali Munculnya Antologi Puisi Imam al-Syafi’i)

Halimi Zuhdy

“Andai puisi tidak membuat aib seorang ulama’ (yuzri), niscaya aku kini lebih hebat (dari seorang penyair) Labid” Kata Imam Syafi’i.

Bait puisi yang dirangkai Imam Syafi’i di atas bukanlah pamer kehebatan, atau bentuk penghinaan pada penyair, tetapi ia sebagai pernyataan untuk tidak terlalu berasyik-masyuk dalam jalur kepenyairannya. Dunia kepenyairan bagi imam syafi’i adalah dunia yang asyik, tetapi tidak kemudian harus berkutat dalam dunia ini. Ia lebih mempertajam kelimuannya dalam dunia fiqih, hadis, dan ilmu-ilmu yang terkait dengan keagamaan.

Seandainya Imam Syafi’I menekuni dunia kepenyairannya, ia mungkin lebih masyhur dari penyair-penyair Muallaqat di antaranya adalah Labid bin Rabiah bin Malik al-Amiri. Tetapi Imam Syafi’i memutuskan untuk tidak terjun langsung dalam dunia kepenyairan setelah mendengar nasehat seseorang dari bani Zubair, agar Imam Syafi’i memadukan sastra dengan fiqih, yang suatu saat Imam Syafi'i akan menjadi pemimpin dari suatu generasi hebat, dari sejak itu ia lebih tertarik kepada fiqih. Nasehat itu bukanlah suatu kebetulan, karena seorang dari Bani Zubair ini melihat kehebatan Imam Syafi’i, 17 Tahun ia berada di kampung Hudzail mempelajari sastra, sejarah Arab (ayyam), adab, bahasa, sedangkan al-Qur’an sudah dihafal sejak kecil, beliau juga tekun mempelajari hadis dan menghafalnya. Beliau menghafal 10 ribu bait puisi Ketika masih belia dari penyair Suku Hudzail, dan ratusan puisi dari berbagai suku yang berada disekitar suku Hudzail.

Apakah Imam syafii pernah menulis antologi puisi (Diwan)? Imam Syafi’i tidak pernah menulis satu buku khusus untuk puisi, dan juga tidak ditemukan buku-buku yang utuh berupa kumpulan puisi imam syafi'i. Menurut Abdurrahman al-Musthawi, penghimpun Diwan Al-Imam Syafii terbitan Dar al-Ma’rifah Bairut Libanon, “Saya tidak menemukan satu makhtutah pun yang berisi puisi-puisi Imam Syafi'i yang dihimpun oleh seseorang pada abad ke dua dan ke tiga Hijriah, tetapi saya menemukan banyak puisi beliau dari buku-buku biografi beliau yang ditulis para ulama pada masa beliau hidup, dan itupun tidak utuh, hanya berupa catatan penulis, ditulis dalam beberapa kisah, atau beberapa bait ada di dalam fatwa-fatwa beliau”.

Pertama kali yang menghimpun puisi Imam Syafii dalam sebuah antologi adalah Ahmad al-Ajmy (W 1622 H), buku antologi ini diberi nama “Natijah al-Afkar, Fima Yu’za Ila Il-Imam al-Syafii min Asy’ar”. Disusul kemudian dengan kitab “Al-Jauhar al-Nafis fi Asy’ar Muhamamd bin Idris” yang diterbitkan di Mesir apda tahun 1321 H. Puisi dalam buku ini dihimpun oleh Muhammad Musthafa al-Syadzili, seorang pegawai dari penerbit Dar al-Kutub al-Misriyah. AL-Syadzili menyeleksi Kembali puisi-puisi yang ada dalam karya al-Ajmi “Natijah al-Afkar”.

Sejak terbitnya dua diwan Imam Syafi’i di atas, maka kemudian banyak yang menerbitkan Diwan-Diwan Imam Syafi’I dengan berbagai sumber. Buku Diwan al-Imam al-Syafi’I yang disusun oleh Abdurrahman al-Musthafa ini dihimpun dari dari berbagai kitab; Adab al-Syafi’I wa manaqibhu (al-Razi), Manaqib al-Syaf’I (al-Baihaqi), Manaqib al-Syaf’I (al-Fakhr al-Razi), Manaqib al-Syaf’I (al-manawi), Tarikh al-Imam Syafi’I (Husain al-Rifa’i), AL-Imam al-SYafi’I (Musthafa abdurrazzaq), Al-Syafi’i (Muhamamd Abu Zahrah), Thabaqat al-SYafiiyah Lil Subki wa al-Asnawi, Mu’jam al-Udaba’ (Yaqut alHamawi), Al-Asma’ wa Lughat (an-Nawai), Wafayat al-A’yan (Ibn Khilkan), al-Agani (al-Ashfahani), Al-Bayan wa al-Tabyin (al-Jahidh), al-‘Aqd al-Farid (Ibn Abd Rabihi al-Andalusi).

Buku ini sangat menarik, selain mengupas karakter puisi-puisi Imam Syafi’i, penulis juga menyusunnya dengan Abjadiyah baik dari al-maqthu’ah, al-Qashidah dan lainnya, dan sumber pengambilan puisi (tahun, pengarang, penerbit). Bait-bait yang dianggap gharib (asing, sulit, tidak dikenal) diberi catatan pinggir. Dan menariknya, setiap beberapa bait, penulis membubuhkan judul, baik judul tersebut diambil dari awal bait atau maksud secara keseluruhan dari bait-bait tersebut. Bagi pembelajar, Diwan ini dilengkapi dengan harkat dan tanda baca. Bagi pembelajar Ilmu Arudh dan Qawafi (Prosodi Bahasa Arab) setiap bait dalam Diwan Imam Syafi’i disertai dengan nama-nama bahar. Dan ada bonus menarik dari buku ini, mengurai Al-Hikam al-Syafiah secara abjadiyah di akhir bait-bait puisinya.

Selamat membaca….jangan terlalu melirik foto di atas, hanya sebagai penghijau tulisan.wkwkw

Minggu, 15 November 2020

Mengurai Makna Habib

Halimi Zuhdy

Menarik, beberapa tahun terakhir kata ini cukup marak di Indonesia. Kata ini sudah menjadi bahasa Indonesia yang bermakna; 1 yang dicintai; kekasih; 2 panggilan kepada orang Arab yang berarti tuan; panggilan kepada orang yang bergelar sayid (KBBI), kata ini berasal dari bahasa Arab yang bermakna kekasih.

Dalam tulisan ini, saya akan mengkaji kata Habib secara leksikal, tidak terkait dengan sebuah gelar, kehormatan, laqab, atau sebutan pada seseorang.

Habib dalam kamus Ma'ani adalah sifat Mushabbahah (sifat yang tetap, yang tidak terkait dengan waktu, dan juga jenis musytaq yang diambil dari kata lain). Habib dari kata Hubbun (cinta). Habib bermakna al-Mahbub (yang dicintai, kekasih), jamaknya (plural) Ahbab, Ahibba', dan Ahibbah. Sedangkan jamak dari muannast (pr) Habibat dan Habaib. (Mu'jam Ma'abi).

Dalam beberapa pendapat, asal kata Hubb (kata asal dari Habib) adalah berasal dari kata Habbah (biji-bijian) benih tanaman yang berasal dari gurun (Budzur As-Shahra'), Hub disebut hub (cinta), karena ia isensi kehidupan seperti benih untuk tanaman.  Dalam narasi lain, kata Hubb berasal dari kata Hubab (حباب). Hubab adalah gelembung air, atau air yang menguap ketika hujan deras.  Artinya hati yang berdenyut kencang karena kerinduan yang mendalam untuk bertemu orang yang dicintai (Hubab).

Habib dalam Ar-Rashef adalah adalah orang yang paling dekat dengan hati (Qalb) yang istimewa dalam hati seseorang.  Kata ini diungkapkan tidak hanya pada suami, istri, anak, teman, kerabat tetapi orang lain yang sangat dekat dengan hatinya dapat disebut habib. Kata ini terkadang digunakan sebagai nama seorang laki (alam mudzakkar) dengan wazan Sifat Musyabbahah dari kata asal al-Hubb (Masdar) dalam bentuk komposit seperti “Habib al-Rahman” "Habibullah", "Habib al-Din ”.

 
Kedekatan dengan hati, keistimewaan dalam diri seseorang adalah kunci dari kata ini. Kata 
Habiban bukan ditujukan kepada dua kekasih, tetapi kata ini adalah sebutan untuk emas dan perak, karena kedua sangat dekat dengan manusia. 

Yang istimewa dalam kata ini, antara mudzakkar (laki-laki) dan muannast (perempuan)  menggunakan kata yang sama; Habib ( حبيب) hanya saja untuk dibedakan dengan laki-laki ditambah Ta' Muannastah (Hbaibah). Silahkan merujuk pada Mu'jam Ma'ani dan beberapa kamus Arab lainnya.

Dalam penulisan nama sesuai dengan ejaan pada setiap negara, seperti; Khabib, Habib, Habeb, dan lain sebagainya. 

Al-Marja'
Mu'jam Ma'ani
Al-Muhtawa
Rashif

Minggu, 08 November 2020

Apa Agama Kamala Harris?

Wakil Presiden Terpilih Amerika

Halimi Zuhdy

Joe Biden meroket, sulit untuk dikejar lagi oleh petahana, Donal Tram. Detik ini, sudah dinyatakan menang, dengan angka 290. Usaha demi usaha Biden telah mengantarkannya pada tangga tertinggi Amerika, demikian juga dengan Kamala Harris. Bila tidak ada halangan, ia akan dilantik pada bulan Januari 2021. Biden akan mencetak sejarah menjadi Presiden tertua Amerika, 78 tahun.
ket gambar: Mij Marin Independent Journal

Bagaimana dengan wakilnya, Kamala Harris? Ia juga akan mencetak sejarah baru di Amerika menjadi perempuan pertama dalam pemerintahan Amerika, wakil presiden pertama. Dan menjadi wakil presiden kulit hitam pertama, serta juga menjadi orang pertama keturunan Asia Selatan yang menjadi wapres AS. 

Ada yang bertanya-tanya, apa agama Kamala Harris? Saya jawab, coba tanyakan saja pada google atau biasanya wikipedia menampilkan agama dan indentitas. "Tidak ada yang menampilkan", jawabnya. "Ia sudah, tidak usah dicari, mungkin ia menyembunyikan agamanya", saya berseloroh. 

"Tidak bisa, agama itu harus tampak, karena ia identitas seseorang, dan ke depannya sepakterjangnya tidak akan jauh dari agamanya"  ia tetap ingin tahu agama Kamala. 

"Menurutmu, agama Kamala itu apa?" saya balik bertanya. "Sepertinya, kalau dari namanya, mirip bahasa Arab, Kamala (seperti, kamil, kamula, kamalun) dan Harris juga mirip bahasa Arab (haris, penjaga)" ia tersenyum, dan mencoba mencari tahu kebenaran dari arti nama itu. 

"Ha..ha..ha.." ketawa saya meledak dan cukup lama.  "Lek..lek, kamu ini ada ada saja, pasti kamu akan mengatakan agamanya sepertinya Islam, karena namanya mirip bahasa Arab. Apakah nama yang berbahasa Arab semuanya muslim?, tidak lah, seperti nama Salim di Indonesia, beberapa dan bahkan banyak nama Salim, agamanya bukan Islam" saya mencoba tidak menghubungkan-hubungkan nama dengan agama seseorang, walau nama adalah identitas dari sebuah agama dan doa sang pemberi. 

Kamala Harris, calon wakil Presiden AS dalam tulisan Arabnya adalah كمالا هاريس bukan كمالة او كاملة حارس. Ia bukan bahasa Arab, entah bahasa apa?.wkwkw. (Atau mungkin saja) Yang jelas dia bukan beragama Islam, karena dalam wikipedia berbahasa Arab ada penjelasan "Kamala diklasifikasikan sebagai orang India dan kulit hitam, tetapi menganggap dirinya sebagai orang Amerika. Harris dibesarkan di Berkeley, California. Sejak usia muda, menghadiri Gereja Baptis, di mana dia bernyanyi bersama saudara perempuannya dalam paduan suara, dan dia juga biasa menghadiri sebuah kuil Hindu". 

Ia masih bertanya lagi, "Ada kata صلوات di laman mc-doualiya.com untuk medoakan Kalama Harris,
صلوات في قرية هندية من أجل المرشحة الديمقراطية لمنصب نائب الرئيس كمالا هاريس وأخرى في دلهي لمباركة ترامب
Apakah kata shalawat disitu menunjukkan muslimah?

Kata "Shalawat" dalam laman itu sama dengan kata "Sembahyang" dalam bahasa kita. Tidak semua shalawat itu adalah shalat bagi seorang muslim. Kata "Shalawat" jamak dari "Shalat", dan memiliki beberapa arti. Kalau shalawat kepada Nabi, maka itu bukan shalat atau sembahyang kepada Allah (shalawatul khamsah, shalat lima waktu). Ia bermakna, memohon rahmat Allah untuk Nabi Muhammad. Ada tebak-tebakan ala santri "Shalat apa yang sah tanpa melakukan wudhu' itu?". Bagi yang belum memahami kata ini, pasti bingung, "Masak sih, sah shalat tanpa wudhu?". Jawabannya, "Shalat sah tanpa wudhu' bila shalat pada Nabi, yaitu bershalawat kepadannya". 

Bila kita membaca laman itu secara lengkap, ada ritual atau sebahyang untuk kemenangan Kamala Harris yang dilakukan penduduk desa asal kakek Kamala,  berasal dari India, berdoa atau bersembahnyang di kuil. 
ويصلي سكان منطقة بجنوب الهند ولد فيها جد هاريس لأمها من أجل الحزب الديمقراطي بسبب صلة القرابة, وقبل ساعات من بدء الاقتراع في انتخابات الرئاسة الأمريكية، تجمع السكان في قرية تولاسندرابورام، مسقط رأس جد هاريس، والمناطق المجاورة لها في معبد لإقامة الصلوات الخاصة.

Terlepas dari beberapa bahasa yang tersirat di sana, Agama Kamala Harris itu masih mastur, apakah ia beragama Hindu atau beragama Kristen. Apa pun agama yang dianutnya, mudah mudahan keberagamaan tetap dijunjung dengan baik, dihargai, dan dihormati. 

Selamat Ya Kamala.

Senin, 02 November 2020

Penyair Madah Rasul dari Masa Ke Masa

Halimi Zuhdy

Kasidah-kasidah madah (pujian) pada Rasulullah tidak pernah usai. Sebelum terutusnya menjadi seorang Nabi, pujian-pujian itu mengalir deras kepada Abu al-Qasim. Akhlaqnya yang begitu agung menjadi magnet bagi penyair-penyair Arab untuk dinarasikan dalam lontar-lontar mulia. Misalnya, Waraqah bin Naufal  membacakan puisinya di hadapan Sayyidah Khadijah Al-Kubra, tentang akhlak Nabi Muhammad yang akan diutus. Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah al-Anshari bin al-Umr al-Qais (W 8 H) termasuk tiga penyair hebat yang dengan gigih menghadang serangan-serangan orang musyrik dengan kasidah-kasidah indahnya, serta pujian-pujian indah tentang pribadi Rasulullah.
Al-A’sya Maimun bin Qais (W 8 H), yang dijuluki Al-A’sya (Rabun), salah satu penyair Jahiliyah Ashhabul Mu’allaqat. Juga memuji-muji Rasulullah sangat indah, walau hidayat belum menyertai kematiannya. Nabiuun yara mala tarauna wa dzukruhu aghara la’amri fi al-biladi wa anjada. Abdullah bin al-Zab’ary (W 15 H), penentang keras Islam dan Nabi Muhammad, sebelum memeluk Islam, setelah mengenal lebih jauh Islam dan Nabi Muhammad, kasidah-kasidah Indah mengalir mengitu lembut tentang seorang Muhammad, Rasulullah. Abbas bin Midras (w 18 H), masuk Islam setelah bermimpi Rasulullah, Ketika bangun dari tidurnya, membakar semua patung-patungnya. Pujian tentang Nabi ukir sangat indah, Inna al-Ilah bana ‘alaika mahammadan.

Ratusan penyair dari berbagai masa, dari sebelum Hijrah sampai ribuan tahun setelahnya (tahun 1430 H) mereka menggambarkan keagungan Nabi Muhammad, akhlaknya yang sangat agung, seperti Penyair India; Kamala Saraya (1430 H). Walid al-‘Adhami (1425), Abdullah al-Barduni (1420 H), Nizar Qabbani (1419 H), Muhammad Amin al-Quthbi (1404 H).

Buku ini tidak hanya asyik dinikmati setiap untaian kata-kata tentang Sang Khatamin Nabiyin, tetapi kita juga dibawa pada pelbagai gaya, uslub, metafor tentang Rasulullah. Juga dapat mengenal para penyair Arab dari masa ke masa dan gaya kasidahnya. Dari masa Jahiliyah, permulaan Islam, Umayyah, Abbasiyah sampai masa Modern. Selamat menikmati....

Kamis, 29 Oktober 2020

واقع الأدب العربي في إندونيسيا

واقع الأدب العربي في إندونيسيا
(Realitas Sastra Arab di Indonesia)

....
Halimi Zuhdy
حليمي زهدي


الأدب العربي في إندونيسيا له تاريخ طويل قديم موغل في القدم، ودراسة الأدبية العربية خاصة تبحرت في موج تأسيس الجامعات الإسلامية؛ مثل: جامعة شريف هداية الله بجاكرتا، وجامعة سونان كاليجاكا بجوكجاكرتا، (وهما أقدم الجامعات الإسلامية الحكومية بإندونيسيا)، وكذلك الجامعات الأخرى قد اهتمت اهتماما كبيرا بدراسة اللغة العربية وآدابها، وتكون دراسة الأدبية العربية في المعاهد الإسلامية كالشجر بجذوره وعروقه؛ لأن دراسة المعالم الإسلامية لاتنفك من دراسة الأدب العربي. 
ودراسة أي أدب من آداب الأمم تقرب دارسه إلى أهله، وذلك لا طالاعه على تاريخهم وأفكارهم ومعتقداتم وكافة مجمالات حياتهم، فدارس أي لغة كانت، بدراسته لأدبها، تقوي ارتباطه بها، وترسخ مكوناتها لديه، وتغني رصيده اللغوي، وتتفتح لديه آفاقها إلى أبعد حدود. والثقافة العربية قريبة بدين الإسلام.

Bagaimana kesusastraan Arab berkelindan di Indonesia? Kapan, dan bagaimana tumbuh berkembangnya? Bagaimana pula ia mempengaruhi kesusastraan Indonesia?
Selanjutnya 
Dapat dibaca di "Maujul al-Adab yatazahzah fi Syathi Arkhabil"

Minggu, 18 Oktober 2020

Isi Ruangan dalam Ka’bah

Halimi Zuhdy

Ka’bah bukan sesembahan. Ia adalah kiblat. Arah menyatukan tubuh rukuk dan sujud pada Allah. Bila ada yang menyangka, bahkan menuduh Muslim itu juga menyembah bebatuan Ka’bah tidak ada bedanya dengan penyembah patung. Itu kesalahan besar. Menyembah kepada Allah tidak diperantarai oleh benda-benda apa pun. Ketika shalat, muslim hanya rukuk dan sujud kepadaNya.

Ka’bah sebagai arah untuk menghadap. 
Mari kita Analisa sedikit kata “kiblat”. Qiblat terdiri dari tiga huruf; Qaf, Ba’ dan Lam. Yang terkait dengan tiga huruf ini, semuanya bermakna depan. Qabla (sebelum), Qabbala (mengecup), Qubul (kemaluan), Istiqbal (menyambut), Qabliltu (menerima), Qabala (bertemu), Qiblah (arah menghadap) dan lainnya. Semua kata dengan tiga huruf di atas, bermakna di depan dan sebelum.

Sedangkan Ka’bah ada beberapa makna; bentuknya persegi empat (Muka’abatu al-syakl), dan orang Arab menyebut setiap rumah berbentuk persegi empat dengan Ka’bah. Dan juga bermakna tempat yang tinggi (Liuluwiha wa barizah an al-Ardh), karena ketinggiannya dari tanah. Juga ada yang memberikan makna dengan bangunannnya yang terpisah dari bangunan lainnya.

Ka’bah memiliki banyak nama yang disandang; Awwa al-bait (Rumah pertama), Bait al-haram (rumah yang mulia), Bait al-Athiq, Bait al-Allah (Rumah Allah), atau dengan nama lain Bakkah, Bunyah, dan Duwaar.  Dengan beberapa nama yang disandang, ia banyak memiliki keistemewaan, apalagi sejarah sudah mencatatnya, ia merupakan bangunan pertama kali di muka bumi yang dibangun oleh Malaikat, ada pula yang menyebutkan dibangun oleh Nabi Adam.  Dalam Shahifah Ukaz, Ka’bah dibangun 12 kali; Malaikat, Nabi Adam, Sheth putra Nabi Adam, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail, Amaliqah, Jurham, Qusay bin Kallab, Quraisy, Abdullah bin Zubair (tahun 65 H), Hajjaj bin Yusuf (Tahun 74 H), dan Sultan Murad IV (1040 H).

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10217995203340859&id=1508880804

*Isi Ka’bah*

Tempat yang pertama kali dibangun di muka bumi ini, selalu membuat penasaran umat Islam dan juga mungkin umat lainnya baik sisi luar dan isi di dalamnya. Dan beberapa buku, ada banyak versi tentang apa yang berada di dalam Ka’bah, mulai sebelum Nabi Muhammad  menaklukkan Makkah (fath Makkah) sampai hari ini. Dalam Al-hayah, Isi dalam Ka’bah terdapat bau harum (parfum) dari campuran kesturi, aud (kayu cendana) dan ambar.

Lantai Ka'bah ditutupi dengan marmer putih yang berada di tengah, dan tepi-tepinya garis marmer hitam (marmer mawar merah muda), yang naik ke dinding Ka'bah 4 meter tanpa melekat pada dinding aslinya. Jarak yang tersisa - dari dinding marmer ke langit-langit (5 meter) - ditutupi oleh kain Ka'bah
Tirai Ka’bah berwarna Hijau (atau tirai merah muda) yang ditulis dengan perak berupa ayat-ayat Al-Qur'an sampai menutupi langit-langit Ka'bah. Hanya ada satu lempengan marmer berwarna gelap.

Terdapat marmer yang sama adalah dalam posisi di mana Nabi menempelkan perut suci beliau dan pipi kanannya ke dinding, mengangkat tangannya dan menangis (disebut multazam).

Ketiga: ada tiga kolom kayu di tengah, menjulang ke langit  dengan ketinggian sekitar 9 meter dengan dekorasi emas.

Keempat: Sejumlah Qanadil gantung yang terbuat dari tembaga, perak, dan kaca yang diukir dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang berasal dari era Ottoman.

Kelima: Tangga  hingga langit-langit Ka'bah terbuat dari aluminium dan kristal.
Keenam: Koleksi ubin marmer yang pasang dari setiap era (pemerintahan).

Ada banyak kisah dan Riwayat terkait denga nisi dalam ka’bah, dapat dibaca dibeberapa kitab tentang bina’ al-Ka’bah. Dan menariknya, Ka’bah bukanlah sesembahan, ia adalah jihah untuk menyatukan arah umat Islam pada satu titik. Hanya kepada Allahlah mensujudkan diri dan menyembah. 

_Bagi yang masih penasaran isi dalamnya ka’bah dapat menyaksikan vedio berikut_:

Selasa, 13 Oktober 2020

Asal Kata Doktor, Dokter dan Makna Tabib

Halimi Zuhdy

Salah ustadz pengajar bahasa Arab pernah bertanya pada saya, "Apa perbedaan doktor (الدكتور) dengan dengan thabib  (الطبيب)?. 
مالفرق بين الطبيب والدكتور..؟.

Saya jawab dengan sangat singkat... 
الطبيب يعالج المريض والدكتور هو لقب لمن تخرج في مرحلة دكتوراه. 
Dokter mengobati orang sakit, sedangkan doktor sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah menyelesaikan studi pada tingkat doktoral, setelah magister. 



Dalam Kamus Ma'ani kata Duktur ada dua arti; mereka yang menyelesaikan jenjang tertinggi dalam akademiknya (S3), dan juga bermakna thabib (dukun, dokter). Tetapi, dalam beberapa keterangan tidak semua yang masuk jurusan kedokteran bisa disebut dengan dokter, sebelum mereka melewati beberapa jenjang tertentu. 

Kalimat yang sangat masyhur ini ternyata juga membuat beberapa buku bahasa Arab yang ditulis non Arab salah paham, terkait dengan kata ini. Mungkin, juga kita, semua yang menjadi thabib adalah dokter. Kemudian, apa bedanya doktor dan thabib. Kalau dalam Wikipedia Arab, kata dokter disamakan dengan muallim (guru), mereka yang lulus dari spesialis kulit (dokter kulit). Sama dengan yang lulus dari jenjang S3 (Filsafat, Ph.d) Dan dalam lama ini pula, asal muasal Istilah "doktor" berasal dari bahasa Latin Docere yang berarti "belajar".  Doktor (Latin: Dokter, "guru", dari Doctum, kata benda "belajar" the past participle dari Docere, "mengajar") asal muasalnya kata ini dapat ditelusuri kembali ke awal Kekristenan pada saat istilah "dokter" merujuk pada murid Kristus, bapa gereja, dan lain-lain  Otoritas Kristen yang mempelajari dan menafsirkan Alkitab. Karena filsafat termasuk semua subjek luhur lainnya dari kedokteran, teologi, hukum, dan pengajaran filsafat (filsafat Yunani) termasuk dalam studi ilmiah asli. Maka, Gelar doktor, PhD, pada akhirnya mematuhi konvensi bersejarah ini. Tetapi, mengapa hanya "kedoktoren" yang kemudian diberi gelar ini? Ini kalau benar lo.wkwwk

Kesalahpahaman juga terjadi ketika ada jamaah haji yang mendekati Maqam Ibrahim, dan melihat isi Maqam Ibrahim "Kok bukan kuburan?" dikiranya Maqam ibrahim itu kuburan.wkwkw. karena di Indonesia, Makam itu artinya kuburan, bukan jejak atau tempat berdirinya Nabi Ibrahim. (tulisan saya tetang maqam, bisa dibaca di https://www.nu.or.id/post/read/110992/salah-kaprah-soal-istilah-makam-dan-kuburan)

Pertanyaan ustadz Sudarmin sebenarnya hanya memastikan (bukan beliau tidak paham) bahwa ada buku yang kurang memahami arti dokter dan doktor.

Dokter kalau di Indonesia adalah Tabib (tenaga medis), beda dengan doktor. Apakah di Indonesia juga salah paham?😀 tapi untungnya berbeda tulisan antara doktor dan dokter. Tapi penulisan dalam bahasa Arab keduanya sama (الدكتور) tidak mungkin ditulis دكتار. Dalam bahasa Arab berbeda, kalau tenaga medis ditulis dengan thabib (الطبيب) mereka yang sudah menyelesaikan studi S3 disebut doktor (الدكتور). 

Dari mana asalnya penulisan dokter untuk tenaga medis?
 
Pada asalnya kata dokter itu dari doktor. Mereka yang mengambil studi S3, dengan spesialisasi tertentu. Sebenarnya kurang tepat, bila dokter digunakan pada tenaga kesehatan atau tenaga medis yang belum sampai pada jenjang tersebut. Kecuali, mereka yang juga mengambil spesialis sampai pada jenjang doktor. 

Doktor dalam kamus dan istilah yang digunakan diberbagai negara adalah Doctor, as a title, originates from the Latin word of the same spelling and meaning.The word is originally an agentive noun of the Latin verb docēre [dɔˈkeːrɛ] 'to teach'. It has been used as an honored academic title for over a millennium in Europe, where it dates back to the rise of the first universities. This use spread to the Americas, former European colonies, and is now prevalent in most of the world. Abbreviated "Dr" or "Dr.", it is used as a designation for a person who has obtained a doctorate-level degree.

Ada guyonan di Madura, ketika salah seorang mahasiswa lulus dari jenjang doktorolnya dan kemudian diwisuda. Keesokan harinya, salah seorang tetangganya yang lagi sakit menuju rumah sang Doktor. Alih-alih mengucapkan selamat atas raihan sang doktor, malah ia minta obat untuk penyakitnya. "Pak, saya tidak bisa mengobati Bapak!". Tetangga yang sakit itu kaget, "Bagaimana kok tidak bisa mengobati? katanya sudah dokter, sudah jauh-jauh kuliah, tapi tidak bisa, untuk apa kuliah dokter?!". Doktor ini senyum-senyum, dan pergi kamarannya, mengambil obat bodrex.

Senin, 05 Oktober 2020

Rima Nuniyah (Qafiyah Nuniyah)

Halimi Zuhdy

ياذا القلب لا تحزن # فذاك الحبInfection
فلن تجدي عقاقير # ولن تشفيك Injection
فكم من عاقل فطن # مضى بالحب Direction
ستنكره وتنساه # ولن يبقى له Mention
فلا تنظم له شعراً # ولا تكتب له Section
ولا يحزنك من باعك # فقد أخطأت Selection
ولا تبدي له أسفاً # ولا تبدي له action
فإن الحب منزلةٌ # لبعض الناس exception
فبعض الناس إن هجروا # فلا حزنٌ ولا tension
وبعض الناس إن هجروا# يظل ويبقى connection
فوصل الروح له فعل# وما أحلاه reaction
بدعوات بقلب دجى # لها أثر و affection
فان لم يبق لي شئ # فلا حب و لا Passion
فلا أسف على دنيا # لك وعليك conversion

Puisi unik ini (Berjudul; Qafiyah Nuniyah) sempat menghebohkan dunia kepenyairan di Timur Tengah. Selain Qafiyahnya yang tidak biasa, juga menggunakan bahasa asing (Inggris). Qafiyah (rima) dalam bahasa asing sangat jarang ditemukan dalam puisi, mungkin Qafiyah Nuniyah ini yang pertama kali di Timur Tengah yang menggunakan rima unik serta bahasa asing. Dari temanya sudah dapat ditebak, bahwa puisi ini lebih menonjolkan rima yang unik. Qafiyah Nuniyah. Qafiyah adalah rima, sedangkan Nuniyah bermakna “Nun”. Yaitu, puisi yang berima atau berakhiran dengan huruf nun atau dalam bahasa Inggris N. Rima yang digunakan sampai akhir adalah rima sempurna dan tertutup. Atau rima muqayyadah.
Dalam puisi muqayyad (terikat), rima atau qafiyah merupakan sebuah keharusan. Sebagaimana definisi puisi (syi’ir) Arab adalah kalam (ungkapan) mauzun (berpola) dan muqaffa (berima). Walau juga ada puisi hurr (bebas, tidak terikat) dengan pola-pola yang ada (bahar).

Dalam Prosodi bahasa Arab, rima dikenal dengan nama al-Qafiyah. Qafiyah merupakan huruf-huruf yang terdapat diakhir/ujung bait puisi (syi’ir, qasidah) yang terdiri dari huruf akhir yang mati di ujung bait sampai dengan huruf hidup sebelum huruf mati. Qafiyah itu dapat terjadi pada sebagian kata, satu kata, atau pada dua kata. Makna Qafiyah sendiri adalah tengkuk atau belakang leher (lughawi).
Dalam ilmu Arudh terdapat bab Qafiyah, meskipun ini dianggap ilmu sendiri, tetapi dalam prosodI Arab kedua ilmu ini jadikan satu kitab (ilmu Arudh dan Qowafi). Dalam suatu bait qofiyah terdiri Sembilan macam, yang enam macam disebut Qafiyah Muthlaqah ( Qafiyah Mu’assasah , Qafiyah Mardufah dan Qofiyah Muthlaqah yang tidak terdiri dari kedua tersebut sebelumnya). Tiga macam disebut Qafiyah Muqayyadah (dan ini juga ada tiga macam).

Dalam bahasa Indonesai Qofiyah ini sama dengan rima. Rima dalam KBBI adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan atau secara singkat, rima ialah pengulangan bunyi dalam kata atau suku kata yang ada dalam puisi (KBBI). Dalam bahasa Indonesai maca-maca rima itu sangat feratif, ada rima Berdasarkan Persesuaian Bunyi Dalam Kata Atau Suku Kata (Rima Sempurna, Rima Tak Sempurna, Rima Mutlak, Rima Terbuka, Rima Tertutup, Rima Aliterasi, Rima Asonansi, Rima Disonansi) Berdasarkan Letak Kata Dalam Baris Kalimat (Awal, tengah, akhir, tegak, datar, sejajar, bersilang, rangkai, kembar, patah merdeka) ada juga rima berdasarkan letak pasangan dalam bait, dan rima berdasarkan letak persamaan bunyi dalam baris).

Dalam ilmu Arudh, Qafiyah (rima) pembahasannya sangat terperinci, dari huruf perhuruf, kata dan kalimat. Atau juga dikenal dengan musikalitas puisi (iqaiyyah).

Minggu, 04 Oktober 2020

Mengapa Masjid Disebut Rumah Allah?

Masjid, Rumah Allah
(Mengapa Masjid Disebut Rumah Allah?)

Halimi Zuhdy

Rumah Allah dalam bahasa Arab disebut dengan Baitullah. Bait diartikan bermalam, menginap dan berdiam. Secara bahasa Baitullah diartikan rumah Allah. Bila masjid dikatakan rumah Allah, apakah kemudian Allah menginap atau bermalam di masjid?
Tayyib. Rumah Allah itu bukan kemudian Allah punya rumah untuk ditempati, atau Allah duduk-duduk, berdiam, bermalam, apalagi tinggal dalam rumah. Allah tidak menempati masjid-masjid karena Allah tidak membutuhkan tempat tinggal, maka mustahil bagi Allah menempati makhlukNya.

Mengapa masjid disebut dengan rumah Allah?

Penyebutan “rumah Allah (baitullah)” tidak hanya untuk masjid Al-Haram di Makkah, tetapi masjid-masjid di muka bumi juga disebut dengan Baitullah. Dan pendapat ulama, Baitullah itupun juga tidak dikhususkan kepada Ka’bah saja, tetapi sesuatu yang mengelilingi masjid al-haram yang dijadikan tempat ibadah, sebagai mana firman Allah;

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".

Dari Ayat di atas, termasuk masjid (baitullah) itu adalah tempat thawaf, I’tikaf, dan sujud,  yang mengelili Ka’bah. Bukan hanya ka’bahnya saja.

Seluruh masjid di muka bumi adalah rumah Allah (baitullah). Dikatakan “Rumah Allah” dapat digambarkan pada dua hal, sebagaimana pendapat al-Kashani dalam Al-Wafi. Pertama, karena masjid adalah tempat ibadah, dan tempat ibadah adalah ibadah itu sendiri (bima hiya ibadah), yaitu tempat hadirnya yang disembah (ma’bud) dan tempat persaksian diri kepadaNya, maka tempat ini disebut dengan bait(rumah), rumah secara makna dan secara batin (bathin), bukan rumah yang dimaknai rumah sebagai tempat tinggal (dhahir). Makna kedua, yang dimaksud dengan masjid adalah rumah Allah (baitullah),  dalam arti linguistik, karena masjid adalah tempat yang mirip atau sama dengan bangunan-bangunan lainnya, sehingga masjid disebut dengan rumah (bait). Dan untuk mengaitkan dengan firman Allah “rumah ku” (baitiya), karena kemuliaan (tasyrifan) tempat tersebut atau bangunan atau masjid tersebut.

Maka penamaan masjid dengan baitulllah (rumah Allah), karena bangunan yang mirip dengan rumah, serta tempat yang dikhususkan untuk beribadah kepada Allah, serta dimuliakan (tasyrifan). Sama dengan penamaan dengan masjid al-haram. Bukan tempatnya yang haram. Tetapi, sebuah tempat yang disucikan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, atau tempat yang diharamkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang olehNya.

والمقصود بالحرام كلّ شيء فيه تعظيم للبيت، وعند تحريم البيت يعمّ الأمن والأمان، حتى الطير يجول في سمائه آمناً، لأنّها أمنت على نفسها وعلى رزقها في بيت الله، كما سمّي بيت الله الحرام بهذا الاسم، لأنّ الله تعالى حرّم القتل فيه منذ فتح مكة

Arti dari (masjid) haram adalah segala sesuatu yang berada di dalamnya diagungkan, dan bila baitullah diharamkan maka ada jaminan keamanan dan keselamatan. Bahkan burung yang terbang di atasnya juga merasa aman, karena ia yakin akan keamanan dan riskinya Ketika berada di Batullah (rumah Allah), sebagaimana Baitullah al-Haram itu disebut dengan nama ini (haram), karena Allah melarang pembunuhan disana sejak penaklukan Makkah (fathu Makkah).

Kerinduan pada Masjid

Masjid adalah tempat yang dirindu, dicinta, dimuliakan. Karena ia bukan tempat biasa. Ia rumah Allah. Rumah tempat bergumulnya hati, pikiran, dan jasad untuk mendekatkan diri kepadaNya. Mendatanginya disunnahkan menghormat (shalat tahiyyah). Sebelum memasukinya disunnahkan berdoa, karena akan banyak limpahkan rahmatnya yang mengalir  di dalamnya (allahummaftahli abwaba rahmatik). Berlama-lama untuk beri’tikaf adalah aktifitas para salafusshaleh.
Bagaimana bila jarang  mendatanginya atau bahkan hanya sekali dalam satu tahun? Suatu  hari Ibnu Abbas ra. ditanyai tentang seorang laki-laki yang melakukan shalat malam, puasa di siang hari, namun dia tidak melaksanakan shalat Jum'at dan shalat berjamaah di masjid, maka beliau menjawab, mereka berada di neraka.

سُئِل ابن عباس رضي الله عنهما عن رجل يقوم الليل ويصوم النهار، ولكنه لا يشهد الجمعة والجماعة، فقال: هو في النار

Merindukan masjid bukan karena tempatnya yang indah, fasilitasnya lengkap, halamannya yang luas, menaranya yang menjulang tinggi, lantainya yang marmer, karpetnya yang lembut, atau wisata masjidnya yang asyik. Bukan.Tetapi, masjid apapun bentuknya adalah sebuah kerinduan. Ia adalah rumah Allah, yang diagungkan. Dimuliakan. Bahkan termasuk yang dilarang apabila berbangga-bangga (yatabaha) dengan bangunannya yang indah, dengan warna-warni catnya, gagah bangunannya, membuat mata terbelalak melihat desainnya, tetapi kosong dari aktifiatas berjamaah, kosong dari ta’lim dan sepi dari kegiatan keumatan, sedangkan al-Qur’an hanya menjadi pajangan di dindingnya. Sebagaimana sabda Rasulullah, ”la yaqum sa’ah hatta yatabaha an-nasu bil masajid”

Dari Nabi saw., beliau bersabda, “Jika kalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah kepadanya dengan keimanan. Allah berfirman, “Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir”.
Nabi saw. bersabda, “Siapa yang membentangkan tikar di dalam masjid, maka malaikat akan selalu memintakan ampunan untuknya selama tikar itu di dalam masjid.”
Allah menamakan masjid dengan masjidNya, sebuah bentuk kemuliaan dan keagungan masjid.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” Al-Baqarah (114).

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mengeluarkan kotoran dari masjid sekiranya dapat dipandang mata, maka Allah akan mengeluarkannya dari dosa-dosa yang besar.

Masjid bukan tempat biasa. Ia tempat yang luar biasa. Ia tempat rukuk kepadaNya. Tempat sujud padaNya. Memakmurkannya, dengan melakukan peribadatan kepadaNya. Dengan berbagai peribadatan untukNya.

Masjid pada masa Nabi dan Salafussholeh
Dalam al-Aukah, masjid-masjid pada masa salafussaleh dipenuhi dengan derai tangisan untuk bermunajat padaNya. Disesaki dengan para pembelajar yang haus ilmu. Para ulama berkumpul, berdiskusi, dan mengakaji ilmu pengetahuan. Suara-suara pujian padaNya bergema. Wajah sejarah pun berubah dari dalam masjid. Yang sebelumnya para penyembah batu, kini mereka tunduk pada Sang Maha Kuasa. Allah swt. Intelektual hebat juga banyak hadir dari dalam masjid, bagaimana kebesaran Abbasiyah, mereka menjadikan masjid sebagai tempat memgatur strategi.

Pada masa itu, masjid adalah universitas ilmu pengetahuan, pengadilan kebenaran, pusat pertemuan, titik keberangkatan, tempat ibadah, pusat kepemimpinan, dan parlemen untuk politik di mana Rasulullah mengatur strategi, menahan brigade tentara musuh dan menerima delegasi, beliau juga mengadakan perjanjian-perjanjian dan perdamian  di dalamnya. Dan Ketika hijrah dari Mekah, pertama kali yang dilakukan Nabi adalah meletakkan batu fondasi pembangunan Masjid Nabawi, sehingga masjid Rasul menjadi taman surga, tempat perdagangan yang menguntungkan di dunia dan akhirat, dan salah satu pasar akhirat.

Pada masa Nabi Masjid berfungsi sebagai tempat ibadah (ibadah) dan pembelajaran (ta’lim). Selain itu, Masjid juga tempat musyawarah, merawat orang sakit, dan asrama.

Sabtu, 03 Oktober 2020

Perbedaan "Bait, Maskan, Darr, dan Manzil"

 Halimi Zuhdy

 

Dalam beberapa Mu'jam "Al-Furuq Lughawiyah", beberapa tempat tinggal dalam bahasa Arab memiliki nama yang berbeda, dengan fungsi yang berbeda pula, sebagaimana pendapat Ibn Jinni, bahasa atau setiap kata yang lahir memiliki makna yang berbeda, di antaranya adalah kata: Bait, Maskan, Darr, dan Manzil".

Bait (بيت): adalah sebuah tempat yang dibuat tempat bermalam (menginap), baik dibuat tidur atau tidak. Tidak harus ada tempat permanen, tetapi harus ada keluarga (penghuni) yang berada di dalamnya. Tempat Ini (bait) bisa berupa; tenda, apartemen, rumah, gua atau bahkan kamar di rumah, tempat tinggal atau asrama.

Maskan (مسكن) : adalah tempat tinggal seseorang, seperti rumah (bait), tetapi tidak harus untuk bermalam, dan siapa pun dapat tinggal di tempat tersebut. Setiap rumah (maskan) adalah tempat tinggal (bait), tetapi tidak setiap tempat tinggal (bait) adalah tempat (maskan).

Darr (الدار): adalah tempat tinggal yang harus ada bangunannya. Rumah beserta konstruksinya yang berdiri di atas tanah, berbeda dengan "Bait" dan "Maskan". Rumah (Darr) itu mungkin memiliki satu atau lebih rumah (Bait), dan mungkin tidak memiliki rumah (Bait) sama sekali, seperti pengadilan (Darul Qadha) atau percetakan (Darul Thiba'ah)

Manzil (منزل): adalah tempat (bait) yang lebih dari satu, dan rumah-rumah (bait) itu terhubung satu dengan lainnya, seperti bangunan tempat tinggal (Apartemen), atau rumah-rumah yang tersebar (berpisah) seperti kompleks kecil.

Dari perbedaan tersebut, sangat jelas sekali, kapan kita menggunakan kata; Bait, Maskan, Darr, dan Manzil. Dan di Timur Tengah penggunaan nama tersebut sampai hari ini masih berlaku.

*Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang 

Selasa, 29 September 2020

Sastra Saudi Arabia

Halimi Zuhdy

Beberapa tahun belakangan beberapa novel dan puisi dari sastrawan Saudi Arabia mewarnai beberapa kampus di Indonesia yang di dalamnya terdapat jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Novel hikayat al-Hubb yang diterjemahkan oleh mahasiswa BSA dan dilaunching di teater Fakultas Humaniora UIN Malang. Bahkan Novel Banat Riyadh mampu menarik perhatian banyak penerjemah di Indonesia yang kemudian diterjamah dengan berbagai judul, dan tentunya diterbitkan oleh beberapa penerbit di Indonesia.

Selama ini, ketika membincang sastra Arab, mata akan melirik sastra Arab dari negara Mesir, Libanon, dan Suria. Tidak aneh, karena tiga kawasan ini dianggap  awal kebangkitan sastra Arab modern, setelah beberapa tahun sebelumnya mengalami inhithah (kemunduran). Selain tiga kawasan di atas, sejatinya sastra Arab menyebar di banyak negara dengan berbagai vareasi dan corak. Seperti, Yordania, Oman, Yaman, Libia, Sudan, Jaibuthi, Palestina, dan beberapa negara lainnya.

Dalam Maushu'ah Adab al-Arabi Fi Mamlakah al-Arabiyah, kebangkitan sastra Arab di Saudi terdapat beberapa tahap. Tahap pertama merupakan awal kebangkitan di tingkat lokal dan Arab secara keseluruhan, dan menggambarkan awal dari gerakan sastra, tahap ini diperkirakan pada tahun 1902 - 1923, dan disebut dnegan tahap permulaan (al-Bidayat).

Adapun tahap kedua, yaitu tahap pembentukan (ta'shih), pada tahun  1924 – 1953, di mana Kerajaan Arab Saudi telah tumbuh subur dan fondasi semakin kuat, perkemabngan terutama di bidang pendidikan dan jurnalistik, dan pada tahap ini mengarahkan masyarakatnya untuk mengabdi kepada negara. Dan ini juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kesusastraan di Saudi.
Pada tahap ketiga, yaitu tahap pembaharuan, pada tahun 1954 – 1970 banyak terdapat perubahan yang mendorong sastra Saudi Arabia dalam menghadapi peristiwa politik dan sosial, dan keterbukaan terhadap sastra Arab dan internasional, serta dipengaruhi arus dan madzhab-madzhab baru dalam kesusastraan Arab dan Eropa.

Tahap keempat merupakan masa sastra Arab modern Saudi Arabia, pada tahap ini merupakan masa kecemerlangan sastra Saudi. Jumlah universitas, para akademisi di bidang sastra dan keseniannya meningkat tajam, dan beberapa penulis serta kritikus Saudi bermunculan. Panggung sastra serta berbagai forum-forum sastra dan budaya begitu marak, sampai pada hari ini.

Terdapat ratusan sastrawan Saudi Arabia sejak abad 18 seperti; Muhammad Said al-Amudi (1905-1991) Ibrahim al-Falali (1906-1976), Ahmad bin Ali Alu Syekh Mubarok (1914-2010), Husain bin Ali (1919-2002), Muhammad Said Muslim (1922-1994), Ahmad Muhammad Jamal (1925-1993), Rasyid Az-Zalmi (1926-2014), Muhamamd Hasyim Rosyid (1931), Abdullah bin Sulaiman al-Hushain (1934-2007), Abu Bakar Salim (1939-2017), Ghazi Al-Qushaibi (1940-2010), Stariya Qabil (1994), Hammad bin Zaid (1945), Sulaiman Falih Subai’I (1951-2013), Ahmad Hilali (1974), Halimah Mudhaffar (1977), Turki Ali Syekh (1981), dan beberapa sastrawan lainnya. Beberapa penyair yang saya kenal di antaranya adalah Nashir al-Qahthani, Muhamamd Said al-Ghamidi, Abdul Lathif bin Yusuf, dan Najah al-Majid نجاة الماجد dan beberapa bait syair Najah pernah saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Sabtu, 26 September 2020

Mengkavling Warna

Halimi Zuhdy

"Pak Ustadz...kok bisa sih baju murid itu warna hijau?" kata seorang wali murid protes seragam  sekolah.

"Emangnya mengapa ibuk?" Saya masih bengung mencoba untuk mencari tahu

"Kan.. kalau warna hijau terkesan untuk kelompok tertentu pak ustadz!!" kata wali santri ini dengan keyakinan tinggi

"Oh gitu tah bu?!" saya agak terheran-heran, entah apa yang ada dalam pikiran sang ibu ini tentang warna

"Kalau menurut saya pak ustadz, cari warna yang netral saja Pak Ustadz" kata wali murid itu sambil cari-cari warna yang dianggapnya netral
"Ibu, sedari awal semua wali murid sudah sepakat, dan kita bukan hanya dari satu organisasi keagamaan, mengapa tiba-tiba ibu berubah" saya meyakinkan ibu ini, karena kita ingin membangun komunikasi terbuka, dan sepi dari kepentingan, walau hidup adalah untuk kepentingan. Tapi, mencari kepentingan bersama menuju kebersamaan. 

"Ia pak ustadz, tapi....." wali murid terus cemberut dan masih belum sepakat. 

"Bu, adakah warna netral??" Saya coba mempertanyakan warna netral apakah yang dimaksud ibu ini.

Ibu ini diam. Ia sepertinya mencari-cari warna. Saya yakin, ibu ini tidak akan menemukan warna netral. Semua warna sudah terpakai oleh semua organisasi, semua agama, semua atas nama kepentingan kelompoknya, semua partai dan semuanya.

"Bu, mengapa warna pepohonan itu hijau kok tidak merah saja, atau biru, atau kuning. Apakah Tuhan tidak netral dan mendukung organisasi tertentu?, nantinya bukan hanya saya yang protes tapi juga langit dan lautan. Dan dedaunan akan protes juga. Mengapa warna dedaunan tidak biru seperti laut dan langit, mengapa langit kok tidak hijau, mengapa bunga-bungan kok kebanyakan merah?" Semuanya akan protes bila dada dan pikiran tidak diluaskan. 

Saya masih terus menjelaskan warna-warni pada ibu yang mulai senyum-senyum ini. 

"Ibu, kita tidak bisa memuaskan semua orang, apalagi meletakkan semua warna dalam satu baju, nanti dikiranya gila, wkwwk. Menjadi pelangi. Atau, kalau pakai warna pink, laki-laki akan protes. Warna pink itu warna perempuan. Yang perempuan juga akan protes bila warna putih, dikiranya pocong dan seterusnya. Ibu...akhirnya warna itu masuk pada ranah jender?!!!" sambil saya ketawa. Dalam hati "Akhirnya, warna menjadi milik organisasi bukan milik alam lagi". 

"Warna itu tidak harus dikapling bu. Dan jangan pula terlalu lebay dengan urusan warna. Bukankah Allah sudah menempatkan warna-warna indah itu sesuai dengan bendanya?" Sedikit saya seriusi perkataan ini.wkwwkwk.

"Lihat bagaimana orang Madura bu, meskipun kebanyakan orang madura NU, tetapi di Madura tidak ada warna hijau. Semuanya, warna biru. Biru daun. Biru langit. Biru dongker. Dan biru biru lainnya. Bukankah warna biru itu milik Muhammadiyah?". Ibu ini mulai tersenyum, dan menampakkan gusinya. 

"Maaf bu, saya hanya guyon". 

"Begini Bu, kita itu tidak akan pernah tenang, kalau pikiran kita selalu suud dhan pada orang lain, apalagi terlalu sensitif. Orang pakai warna merah, dianggap PKI, atau juga dianggap PDI. Warna Hijau, dianggap PKB. Warna hitam dan Putih, sedikit kuning,  PKS. Warna biru, PAN. Dan seterusnya. Akhirnya juga akan protes, jika melihat lampu lalu lintas atau lampu pertigaan atau perempatan jalan. Pemerintah itu sengaja memilih warna merah, kuning, dan hijau di banyak jalan. Kekuasaan membutakan mereka.  Mereka mumoung lagi berkuasa.wkwkwwk" Saya bericontoh yang lebih terang lagi pada ibu yang ngeyel ini. 

"Pak Ustadz, apakah tidak boleh berprasangka, dengan pakaian-pakaian mereka. Bukankah warna-warna itu memang dipakai oleh organisasi keagamaan, partai, dan lainnya?, wajarkan saya menyangka" Ibu ini, mencoba menjelaskan. 

"Boleh lah..bu". Saya sambil tersenyum. "Itu hak ibu, tapi tidak semua warna itu adalah kavlingan. Kembalikan warna itu pada alam. Kita tidak akan hidup tenang. Apabila kita selalu dihantui warna, fobia warna, dan memusuhi warna, wajarlah pada warna!!!?" 

*********
Semua warna Allah berikan untuk alam, agar alam ini penuh warna warni. Keindahan kebun, karena pepohonan dan bunga-bunga yang penuh warna warni. Bila semuanya putih, nanti dikira kuburan. Kuburan pun masih disisipi warna lainnya. Menikmati setiap warna, adalah bagian dari kenikmatan yang Allah berikan. Demikian pula dengan banyaknya ketidaksamaan di antara manusia. Bukan untuk saling bermusuhan, tetapi saling memberi warna. Bukankah indahnya musik, karena not-not yang berbeda?😀

Selamat berlibur di hari Sabtu.

Minggu, 06 September 2020

Hikmah dan Filosofis Gowes

(Gowes D'Lur, Menyelam dalam Hikmah Mancal)

Halimi Zuhdy

"Turunkan ke satu tadz" tetiba ada suara dari arah belakang, menyapa dan mengarahkan. Nafas saya sudah mulai ngos-ngosan, tidak karuan. Maklum, tidak pernah goes. 
"Tadz, sadelnya kurang tinggi, nanti akan terasa berat mengayuhnya", sapa salah satu jamaah goes D'lur, dan beberapa jamaah berhenti sambil mencari kunci untuk menurunkan sepeda yang tak pernah tersentuh tangan yang mulai berkeringat dingin ini, pemiliknya sudah dua bulan mondok dan lama sudah dimusiumkan. 

Beberapa menit berikutnya, "Ayo tadz, semangat, kalau jalan lurus posisi girnya di tengah". Ternyata dari jauh, ada yang memperhatikan gerak kaki yang mulai lemah, tangan yang mulai kaku, nafas yang sudah naik turun. 

"Santai mawon, kita goes kok, ada yang mengarahkan di depan dan ada yang nunggu di belakang" Ia tersenyum dan memberi semangat. Agar saya dapat mengatur ritme nafas dan gerak. Menikmati gowes. 
"Asyik" gumam hatiku, inilah arti persaudaraan. Maju bersama, sukses bersama. Tidak rela saudaranya tertinggal, apalagi gagal. Semuanya mensupport untuk maju bersama, walau ada satu dua yang bergerak sendiri, mungkin nasipnya sama dengan saya, masih belajar mancal. Ia juga tidak mampu membawa dirinya sendiri, apalagi membawa dan mengarahkan orang lain. Tapi, semuanya luar biasa, seakan-akan tidak rela saudaranya ada yang tertinggal, selalu ada yang menanyakan dan mengarahkan. Bahkan rela memasang badannya paling belakang, takut ada yang salah jalan, ada barang yang jatuh, atau ada yang butuh bantuan. 

Pukul 05.30 wib setelah istighasah di masjid BCT, semua bergerak menuju bundaran. Wajah-wajah cerah dengan kostum bertuliskan "D'Lur Nggowes BCT" mulai menata sepeda pancalnya dengan berbagai mereknya, tapi saya heran tak ada yang melirik sepeda orang lain apalagi menanyakan harganya. Sepertinya mereka yakin akan kekuatan sepedanya sendiri. Dan tidak mempedulikan merek-merek itu. Sepertinya iri dan dengki akan milik orang lain tidak terlihat pagi ini, mereka sangat enjoy dengan maliknya masing-masing, ada yang setengah tua, ada pula yang masih nyess. Inilah kekuatan. Karena kita menuju satu titik "Bergerak" menuju satu "Fokus" kebersamaan. Iri dan dengki akan merusak kebersamaan. 

"Tadz, saya yang saja yang memompa bannya" Si rambut panjang terurai dengan wajah cakep ini mulai memompa ban belakang dan depan. Trima kasih yang gus. Inilah arti kepedulian. 

Sebelum mancal bersama, diawali dengan pemanasan dengan berbagai gerakan. Asyik. Ternyata pemanasan gowes ini berbeda dengan pemanasan renang. Inilah arti muqaddimah. Harus ada pengantar, pendahuluan, pemahaman awal dalam setiap aktifitas. Tidak boleh grusah-grusuh dalam menghadapi hidup, nanti akan sakit semua. Babak belur. Menata niat serta mengatur nafas untuk bergerak hebat. "At-tani min ar-rahman, At-ta'ajalu min asyaithan". 

Rute perjalanan cukup jauh. Ukuran saya, yang tidak pernah gowes. Medan yang berkelok, bergelombang, menanjak dan terkadang sedikit curam (turun.he). Tapi, tetap asyik. Tidak terasa capek, bahkan keringat seperti tak keluar dari tubuh. Mungkin karena bersama. Di perjalanan sambil ngombrol ringan, saling memberi semangat, riang bersama, dan tentunya mancal bersama dengan yel-yel D'Lur Gowes "Salam Satu Aspal, Dua 
Pedal" inilah arti kebersamaan.

Rehat sejenak di Musium Brawijaya. Mengabadikan diri dalam sorot kamera. Mengatur ulang strategi atau menetapkan dan memantapkan perjalanan. Diarahkan menuju jalan dengan rute yang tepat. Rehat sejenak. Sama dengan tumakninah. Dalam perjalanan itu tidak ngoyo. Butuh rehat. Menenangkan diri, untuk mengatur strategi. Berhenti bukan untuk berhenti. Tapi, berhenti untuk melaju lebih pasti. 

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya sampai juga. Alhamdulillah. Saya ternyata bisa juga. Walau terseok-seok. Bila ada keinginan kuat, dengan ikhiyar maksimal, tawakkal, akhirnya sampai jua. Inilah arti usaha. 

Selonjor sambil menyantap berbagai makanan hasil sumbangan berjamaah dari beberapa jamaah gowes D'Lur. Menu-menu makanan segar,  tentunya merayu mulut dan mata untuk dijamah. Es jeruk, es teller, mendoan, urap-urap, ikan bakar, pecel dan menu lainnya yang menggoda. Asyik banget. Sulit dibayangkan. Segeeer di mulut. Karena saya lupa bawa minum dari rumah, malu meminta. Mau beli takut ketinggalan. Kemudian dapat menu seger, seperti diguyur es dalam kepanasan. Inilah arti perjuangan. Berjuang, pada akhirnya menikmati keindahannya.

Es jeruk sebenarnya biasa. Tapi, pada moment dan suasa tertentu ia menjadi luar biasa. Maka, betapa luar biasanya yang terbiasa menciptakan moment-moment yang tidak biasa. Inilah arti kreatif. He. 

"Enjoy cycling, no drama" saya terperangah, mendengarkan sambutan ketua Gowes kali ini, Pak Edy. "Di sini, tidak ada ketua, ketuanya nanti giliran" katanya sambil tersenyum. 

"Enjoy cycling, no drama" kata Pak Edy. Ia melanjutkan ta'birnya "Dalam gowes tidak boleh ada yang sombong, sok kuat, sok paling hebat. Tidak boleh ada yang pura-pura. Karena nanti akan capek sendiri dan menyiksa. Biasa saja, enjoying". Benar sekali, berpura-pura itu sesuatu yang paling menyakitkan. Capek. Sumpek. Dan bisa membunuh dirinya secara pelan-pelan. Drama, biarkan ia berada di atas  panggung saja. Tidak dalam kenyataan. Dalam gowes atau juga dalam kehidupan, ketika capek yang istirahat jangan sok kuat. Nanti akan tersiksa sendiri bila berpura-pura (drama).  

Gowes itu tidak mudah, menurut saya, ia butuh keikhlasan istri dan anak-anak, kecuali gowes dengan keluarga. Istri yang harus mengikhlaskan dirinya bersama si kecil dengan kesibukannya di rumah, belum lagi merebut waktu liburan untuknya. Gowes bisa lancar, bila semua dapat diselesaikan, terutama izin pada yang punya liburan.he. Hal ini, bisa dilalui dengan rembuk bersama. Inilah arti saling memahami (tafahum) dan saling merelakan (taradhi) dan kebersamaan. Gowes tidak boleh egois.he. 

Inilah pelajaran gowes bersama tim D'lur Nggowes Bukit Cemar Tidar.

Terima kasih pada para inisiator, tim penyemangat, tim cameramen, bengkel gowes, penyedia makanan yang dahsyat, dan semua yang tidak bisa disebut dalam coretan gowes ini. 

Dan terima kasih pada kata-kata ini "Tadz, besok gowes" Setiap Hari Sabtu Ahad setelah shalat Shubuh, kata-kata ini selalu membakar saya. Terima kasih Pak Agung, Pak Oky. Mohon maaf, selalu tidak bisa berselancar di samudera hitam (aspal), karena satu dan dua hal. 

Syukran semuanya. Pelajaran berharga. Salam Satu Aspal, Dua pedal. Bersama itu indah, saling memahami itu rahmah. 

Malang BCT, 06 September 2020

Jumat, 04 September 2020

Siapa sih Avatar itu?

Arti Avatar dalam 4 bahasa; Arab, Prancis, Sangsekerta, dan Indonesia

Halimi Zuhdy

Beberapa hari ini foto Avatar sahabat fasbuker lagi marak semarak di permukaan akun-akun Facebook. Tentunya foto yang dipost sesuai dengan kondisi diri dan mungkin kondisi hati dan pikirannya. he.
Tapi tahukan Anda Avatar itu apa? he. Kalau dalam bahasa Arab tertulis افاتار (Afaataar), dalam bahasa sansekerta tertulis अवतार. Kata Avatar ini  dalam falsafah Hindu adalah Tuhan tertinggi yang berada di muka bumi  ( الإله الأعلى على كوكب الأرض) atau Awatara berarti inkarnasi dari Roh Keilahian yang datang ke bumi untuk menegakkan kebenaran (dalam wikipd).

 أفاتارا في السنسكريتية النزول وتعني عادة النزول المقصود للعوالم السفلية لأهداف خاصة

Sedangkan dalam Lektur.Id bila dalam bentuk nomina terdapat tiga arti; (1) Gambar tiga dimensi yang digunakan untuk menggambarkan seseorang dalam dunia maya, (2) Titisan dewa dalam konsep hindu, (3)
Awatara.

Bila merunut kemarakan hari ini Avatar adalah foto yang dipost di dunia maya yang diambil dari akun tertentu atau apa ya....atau Avatar gambaran diri yang ditampakkan dalam wujud gambar yang disesuaikan dengan pikiran dan hati...walah ini bisa ngaur. Silahkan buat istilah sendiri tentang gambar Avatar ....

Saya tahunya Avatar adalah Film animasi yang berjudul Avatar: The Last Airbender, dengan tokoh utamanya Avatar Aang. Asyik menonton film ini, walau harus mengerutkan dahi untuk memahaminya....!

Dalam Kamus Al-Ma'ani (Arab-Prancis) Avatar memiliki banyak arti, di antaranya; baiiqah/بائقة yang diartikan cobaan, musibah. Ada pula bermakna inqilab/ انقلاب yang bermakna; transformasi, berganti, berubah. 

Bagaimana bentuk Avatar  anda silahkan beringkarnasi dengan gambar-gambar yang ada🤩🤩

Rabu, 26 Agustus 2020

Apakah Huruf yang Paling Ringan (Adh’af) dalam bahasa Arab?

(Rahasia kata “Uff” dalam al-Qur’an)

Halimi Zuhdy 
 
Ada dialog menarik berbahasa Arab yang saya baca di Majmu’ah al-Lughah al-Arabiyah antara seorang Doktor Bahasa Arab dengan seorang Syekh (kalau di Indonesia adalah kyai, atau orang yang dituakan).
 
Suatu hari seorang syekh bertanya kepada Doktor Bahasa Arab, ketika itu Syekh tersebut berada di halaman masjid

“Bukankah saudara bergelar Doktor dalam bidang Bahasa Arab?” tanya seorang Syekh kepada seorang Doktor

"Ya, benar Syekh” jawab Sang Doktor

"Bagus, apa huruf yang paling ringan (lemah, dhaif) ketika diucapkan dalam bahasa Arab?” Tanya Syekh pada Doktor
Pertanyaan dari Syekh yang tiba-tiba membuat Sang Doktor sedikit ragu untuk menjawabnya 

"Huruf paling ringan, mungkin huruf Hams (همس) seperti huruf “Sin” atau salah satu huruf “Mad” (Alif, Wawu, dan Ya’) karena huruf ini seperti udara yang keluar dari kerongkongan” 

Syekh tersebut tersenyum-senyum ketika mendengarkan jawaban Sang Doktor 

"Bukan Doktor, bukan itu jawabannya”, kata Syekh 

Sang Doktor kaget, dan bertanya “Tayyib Syekh, kalau itu bukan jawabannya, tolong ajari saya, dan insyallah saya akan mendengarkannya” 

“Huruf paling ringan dalam bahasa Arab adalah huruf "Fa’" (الفاء), maka huruf ini yang digunakan al-Qur’an ketika Allah melarang manusia mendurhakai orang tua, dengan mengatakan “Wala Taqul Lahuma Uff, ولاتقل لهما أف", maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan "Uff" (dalam terjemahan bahasa Indonesia “Ah”).

Ketika saya membaca beberapa referensi (maraji’), saya menemukan bahwa huruf Hijaiyah ada yang ringan/lemah (dhaif) dan ada yang berat/kuat (qowi), dan huruf yang paling berat pengucapannya adalah huruf “Tha”! karena di dalam huruf Tha’ tidak ditemukan sifat huruf; hams (desis, samar), rakhawah (lembut, lunak, tidak ditahan), laiin dll. Sedangkan dalam huruf “Fa’” tidak terdapat sifat huruf; Jahr (terang, nyaring, jelas), Syiddah (kuat, ditahan), Ithbaq (melekatkan lidah ke langit-langit, lekat) dan lainnya. 

Ini adalah kemu’jizatan bahasa Al-Qur'an, bahwa kita dilarang untuk mengungkapkan kata “Uff, ah” kepada orang tua walau pun huruf tersebut adalah huruf yang paling paling lembut dan paling ringan, apalagi kita menggunakan dengan kata yang kasar, yang kuat dan membentak. (Penjelasan ini dari penulis dalam dialog tersebut). 

Menarik, dalam makharijul Huruf, kita mendapatkan beberapa sifat huruf ada al-Lazim ( Dzawat al-Adhad, la Dzida laha) dan al-‘Aridz. Dalam dialog tersebut, kita mendapatkan huruf “fa’” yang dianggap huruf yang paling ringan “Uff, Ah”, walau ini juga tergantung penggunaan dalam bahasa Ibu, tetapi mengucakan sesuatu yang paling ringan pun kepada kedua orang tua dengan nada melarang, membentak, mengejek atau apapun yang dapat menyakitkan mereka, hal tersebut dilarang dalam Agama Islam, apalagi dengan kata-kata yang kasar, misuh, dan sejenisnya. Kita dianjurkan untuk mengucapkan kata-kata yang paling lembut dengan nada yang rendah serta tidak menyakitkan mereka. 

Sumber dialog (فتاكات/fatakat). 
Allah ‘allam bishawab

Malang. 7 Muharram 1442/ 26 Agustus 2020

Selasa, 11 Agustus 2020

Mengapa Tuhan Tidak Menjauhkan Keburukan dari Kita?

Halimi Zuhdy

Ada dialog menarik yang ditulis oleh Dr. Jasim al-Muthawwa’ dengan putranya.

“Ayah, mengapa Allah tidak menjaga kita, agar kita terhindar dari semua keburukan, kerusakan, dan kesusahan?. Belum sempat dijawab oleh Dr. Jasim, anak tersebut mengajukan pertanyaan yang masih berkaitan dengan pertanyaan pertama.
"Dosa apakah yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang meninggal dunia karena gempa bumi atau ledakan bom atau banjir bandang yang menghanyutkan?”.

“Ayah, Dan dosa apa yang dilakukan anak-anak kecil yang tenggelam di lautan atau yang lahir dalam kondisi cacat?”, ia terus nyerocos dengan berbagai pertanyaan. 

“Apa dosa-dosa orang-orang miskin, sehingga hidup dalam kemiskinan?”, “Ayah, Mengapa keburukan ada di dunia?”, dan ia mengakhiri pertanyaan seperti pertanyaan pertama, “Mengapa Allah tidak menjauhkan kita dari berbagai macam keburukan?”.

Ternyata masih tersisa pertanyaan yang menggelitik pikiran sang Ayah, “Ayah,  seandainya saya melakukan sesuatu dengan baik, sesuai dengan peraturan yang sudah ada, mentaati segala perintah dan menjahui segala larangan, tapi mengapa masih didera berbagai musibah dan cobaan?”.

“Dimana keadilan Allah dan kasih sayangnya?. Kata putra Dr. Jasim

Yang menarik jawaban Dr. Jasim al-Muthawwah pada putranya, dengan bahasa yang sederhana, jelas dan lugas  “Apa yang kau tanyakan dan kau pikirkan, itu juga ditanyakan oleh banyak orang, bahkan setiap orang mempertanyakan itu wahai anakku” 

Ia menghela nafas panjang, “Pertanyaan yang sangat penting seperti tadi juga sudah ditanyakan dan dipikirkan oleh para inteletual dan para filosof terdahulu, karena kebaikan dan keburukan itu sudah ada mulai zaman dahulu, anakku. Pertumpahan darah, peperangan, malapetaka juga terjadi mulai zaman dahulu, baik ia terjadi karena ulah manusia atau karena qadar”.

Dr. Jasim melanjutkan dengan menatap wajah anaknya dalam-dalam, serta melihat keningnya yang lagi mengkerut dengan berbagai pertanyaan yang bergumul di dalamnya. “Tetapi anakku, kesalahan kita adalah melihat berbagai peristiwa buruk itu hanya melihat dari satu sisi dari berbagai sisi yang ada, dan kemudian kita menghukuminya secara sama”.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10217564681898092&id=1508880804

Penjelasan yang cukup panjang itu, sepertinya membuat anak Dr. Jasim kebingungan, dan memperjelas apa yang disampaikan ayahnya. “Apa maksudnya Ayah?”. 

“Begini anakku, misalnya gigimu rusak (bolong) dan sakitnya luar biasa, kemudian kamu mendatangi dokter gigi, dan dokter memeriksa dan membedahnya, dan kamu merasakan sakit ketika dioprasi, tetapi setelahnya kamu merasakan enak dan hilang rasa ngilu (sakit di gigi). Anakku…bila kamu membiarkan sakit itu terus menderamu dan kamu menganggap dokter itu jahat atau tidak sayang karena telah membuat kamu sakit ketika oprasi kecil tadi, bukankah anggapanmu itu salah?. Bukankah dokter melukai dan sedikit membuatmu sakit agar setelahnya kamu dapat beristirahat dan bahagia?..dan seringnya kamu hanya melihat sakit ketika dioprasi tanpa melihat sisi lainnya secara utuh. Maka yang menjadi masalah sebenarnya bukan sakitnya, tapi bagaimana kita melihat sakit tersebut, engkau hanya merasakan sakit sebentar ketika dibedah, tetapi setelahnya engkau akan merasakan nikmat yang luar biasa”. Jawaban Dr. Jasim pada putranya.

Atau saya bericontoh lain yang mungkin lebih mudah kamu pahami, anakku. “Kamu pasti tahu mobil kan?, kalau kau perhatikan knalpot ketika kau mengendari mobil, bau tidak enak, dan suaranya yang kadang membuat bising di telinga. Tetapi bila kau hanya melihat satu sisi saja, ia sangat mengganggumu. Tapi kamu tidak merasakan itu, karena kamu tahu manfaat knalpot yang diletakkan di mobil, dan pasti kamu tidak menyebutkan malapetaka atau musibah, bahkan kau akan menyebutkan kebaikan. Mengapa? Karena kamu tahu manfaat besar dari klnapot itu kan?. Dapat menggerakan dan menjalankan mobil.

"Horee, saya sekarang mengerti, ternyata dalam setiap keburukan tersimpan kebaikan, tapi terkadang saya tidak mampu melihat sisi baiknya" Anaknya menimpali dengan senyum bahagia. 

Dr. Jasim menjawabnya, "Inilah pandangan muslimin melihat setiap kejadian dalam kehidupan, kita sebagai hamba Allah yang beriman, percaya pada qada' dan qadar Allah, baik dan buruknya. Karena asal kehidupan itu adalah kebaikan bukan keburukan". 

Anaknya mangguk-mangguk, Dr. Jasim melanjutkan penjelasannya, "Anak-anak yang sehat itu adalah asal, yang berkebutuhan khusus itu pengecualian. Kehidupan alami itu asal, malapetaka (gempa dll) itu pengecualian. Maka, kisah Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS itu sebuah contoh bagaimana melihat keburukan dalam kebaikan. Bagaimana akhirnya kita dapat melihat keadilan dan kasih sayang Allah". 

"Sekarang, saya tambah mengerti" Kata putranya, dengan senyumannya yang dikulum.

"Anakku, Kita umat Islam, kita percaya bahwa sebagian kita adalah musuh bagi sebagian yang lain, manusia itu diuji dalam kehidupannya, dan engkau tidak menyebutnya dengan keburukan atau petaka tapi hal itu adalah ujian bagi seorang muslim agar Allah memandang sejauh mana kesabaran dan ketabahan seorang muslim dalam menghadapi ujian dan ia rida terhadap takdir baik dan buruknya. Karena keberadaan kita di dunia adalah sebagai hamba Allah, dan Allah menguji kita dengan kebaikan dan keburukan, sejauh mana kesabaran, ketabahan, ketahanan, dan keimanan kita padaNya, Wanablukum bil khair wa syar fitnah (Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan)." 

"Anakku, ada hal lain yang lebih penting, sehingga kau melihat sesuatu yang buruk kau dapat membacanya dengan kaca mata yang benar, yaitu setiap kau melihat sesuatu  pandanglah dengan pandangan dunia dan akhirat. Dunia hanyalah bagian dari kehidupan, bukan segalanya tentang kehidupan. Orang miskin terkadang pedih di dunia, tapi ia dapat bahagia di akhirat. Ini sisi lain, yang dapat kau lihat dalam kehidupan". 

"Benar Ayah, saya benar-benar mengerti bagaimana kasih sayang Allah dan keadilanNya, bagaimana melihat kebaikan dan menyikapi keburukan" Wajah berbinar-binar dari anak Dr. Jasim, setelah mendapatkan penjelasan dari Ayahnya tentang menilai keburukan dan menyikapinya.

Malang, 11 Agustus 2020

www.halimizuhdy.com
IG: halimizuhdy3011
FB: halimizuhdy
Youtube: One Hubb

Senin, 10 Agustus 2020

Mengapa Diberi Nama Lebanon?

Mengapa Diberi Nama Lebanon?

Halimi Zuhdy

Setiap nama yang tersemat pada suatu benda, seseorang, negara, kaum atau apa pun pasti ada sejarah yang melatarbelakanginya.

Saya menelusuri nama "Lebanon" karena beberapa hal, yang pertama karena lagi menjadi perbincangan dunia, baik dari sisi politik, agama, keamanan, apalagi ada seruan revoluasi yang lagi digaungkan. Kedua, sempat disebut-sebut sebagai swissnya Timur Tengah sebelum peperangan melanda yang kemudian memporak-porandakan keindahan dan keamanan negara ini. Beberapa hari kemarin terjadi ledakan dahsyat dengan menewaskan banyak ratusan orang, ribuan luka-luka, penyebabnya masih simpang siur, serta menyebabkan Perdana menteri negara ini mundur. 

Selanjutnya, negara ini dulunya disebut negeri Syam ( Bilad Syam) selain Palestina dan Yordania. Dan kapan berubah menjadi Lebanon?. Ini akan menjadi tulisan terndiri.

Dan uniknya, negara ini memiliki penulisan nama yang cukup banyak, dari Liblana, Liblani, Niblani, Lubnani, Robran, Romnan, Lubnani, Lubnan, Libnun, Libanus, Liban, Libanan. Walau penulisan dan penyebutan ini dari bahasa yang berbeda (Aramiyah, Ibrani, Turki, Arab, Prancis, Babilonia, dan Yunani).

Mengapa Indonesia menyebutnya dengan Lebanon, sedangkan bahasa Arabnya adalah Lubnan? Sabar ya, nanti saya akan kupas sedikit (tidak tuntas, agar penasaran).he. 

Orang Arab menyebut Lebanon dengan Lubnan (لبنان) yang dalam beberapa Maqalah an Tarikh, disebutkan kata ini berasal dari akar bahasa Semit "LBN" dalam bahasa Arab "Lam Ba' dan Nun" yang erat dengan kata Labana (لبن) dan Labanun (لبن), yang bermakna susu dan putih. 

Maka dalam Tafasir al-Ma'ani, ada tiga alasan nama ini disematkan, pertama karena gunung  yang membentang dari sungai besar di utara pegunungan Lebanon, hingga perbatasan tanah Palestina di selatan berpuncak salju (yang berwarna putihh). Ada pula yang menyebutkan, karena bau harum (Arraihah  Adzzakiyah), yang berasal dari pohon bukhur, yang dalam bahasa kuno adalah Allabni (Latin; Libanos, Inggris; Styrax Officinale), ada pula yang menyebut pohon Arruz yang bauhunya sangat harum menyebar di Lebanon. Selain di atas ada yang menyebutkan, kata Lubnan berasal dari bahasa Suryani Lub Anan yang bermakna Qalbullah  (Jantung Tuhan).

Sedangkan dalam Al-Maudhu' 
Lebanon disebutkan dua belas kali dalam Epic of Gilgamesh (Malhamah Galgamisy) dan tercantum dalam  monumen Ebla pada pertengahan abad ketiga SM, dan nama ini disebut  berkaitan dengan beberapa kata seperti:
Kata "Al-Lubna", yang berarti "dupa, Albakhur", atau "pohon rempah". Ini karena hutannya yang harum juga pepohonannya. Kata "Labn" dalam bahasa Semit, yang artinya putih (Abyadh); karena warna putih salju yang berada di pegunungan Lebanon.

 Kemudian, pada tahun 1920 M, Lebanon disebut Negara Lebanon Besar (Lubnan al-Kabir), dan pada 1943, setelah kemerdekaannya, disebut Republik Lebanon (Aljumhuriyah Al-Lubnaniyah).

Allah 'alam Bisshawab

Kamis, 06 Agustus 2020

Kalimat dalam Al-Qur'an

Kalimat dalam Al-Qur’an

Halimi Zuhdy

Menarik bila kita perhatikan kata "Kalimat" dalam Al-Qur'an, ia seperti banyak menyimpan rahasia yang harus dikuak, maka para mufassir berbeda pendapat dalam mengungkap makna “Kalimat” di dalamnya.

Kalimat dalam kamus Bahasa Indonesia memiliki tiga pengertian; kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan, perkataan dan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Tapi, bukan definisi ini yang diinginkan dari beberapa mufassir untuk menguap kata “Kalimat” di dalam al-Qur’an. 

Kata “Kalimat” berasal dari bahasa Arab yang memiliki banyak arti, dalam kamus Al-Ma’ani; adalah lafadz yang menunjukkan makna tunggal yang dimengerti/dipahami, baik berupa kata benda atau kata sifat atau huruf (pengertian dalam ilmu Nahwu/Sintak). “Kalimat” secara etimologi adalah susunan kata (jumlah) yang dapat dimengerti (mufidah). Sedangkan secara terminologi adalah lafadz yang menunjukkan pada suatu makna tertentu. Kalimat memiliki istilah lain; Qaul, Lafadz, Kakam, Kalim. 

Dalam al-Qur’an kata "Kalimat" memiliki beberapa makna yang sesuai dengan konteksnya. Kata ini memiliki beberapa penafsiran, ada yang bermakna perintah dan larangan, ungkapan doa, dan ada pula yang memaknai dengan 10 cobaan, manasik haji dan beberapa makna lainnya.

Kata "Kalimat" dalam Al-Qur’an ada beberapa bentuk, yang pertama berbentuk mufrad (tunggal) “كلمة” dan "كلمت", dengan dua bentuk tulisan yang berbeda,  ada yang berbentuk jamak (plural) “كلمات”.

Kata Kalimat dengan bentuk plural disebutkan sebanyak 13 kali dalam Al-Qur'an, sedangkan yang berbentuk tunggal terdapat 35 kali.

Saya tidak akan mengkaji satu persatu dari 35 kata kalimat dalam Al-Qur'an. Saya hanya akan milirik satu kata "Kalimat" dalam surat Al-Baqarah Ayat 124, yang terkait dengan kisah Nabi Ibrahim AS. 

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa "kalimat", lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Kata "Kalimat" dalam Tafsir At-Thabari adalah kewajiban (faraidh) dan perintah (awamir), dan juga masuk didalamnya  adalah larangan. At-Thabari juga menjelaskan perbedaan para ulama dalam penafsirkan kata "al-Kalimat". Kalimat adalah syariah-syariat Islam, sebagaimana yang dituturkan oleh Muhammad bin al-Mutsanna, Ishaq bin Syahin, Abdullah bin Ahmad bin Syibawaihi. Dalam makna ini terdapat ada 30 hal dalam syariat (Ibnu Abbas). 

Berbeda dengan apa yang sampaikan Hasan bin Yahya dari Abdurrazaq yang juga berasal dari perkataan Ibnu Abbas, menurutnya  "Kalimat" di sini adalah kesucian (thaharah), 5 yang berada di area kepala dan 5 dibagian tubuh (selain kepala); mencukur kumis,  berkumur-kumur, menghirup air, bersiwak, menyisir rambut, potong kuku, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencukur bulu ketiak, mencuci bekas buang air besar/kecil.
Kesucian (thaharah) dan kebersihan menjadi syariat kenabian dari masa ke masa, hal ini menandakan bahwa syariat membawa umat pada kemaslahatan, kebahagiaan, kesucian dan keselamatan.

Rasia Nabiyuna Ibrahim menjadi Imam (pemimpin) bagi manusia, karena ia telah menyempurnakan Kalimat, ia diuji dengan Kalimat dan mampu menyelesaikannya dengan baik. Para ulama berbeda pendapat dalam menetukan kata “Kalimat”, atau isi dari pesan dalam kalimat tersebut. Tapi saya tertarik untuk membaca apa yang disampaikan oleh Muhammad bin Ishaq dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menguji dengan kalimat, dan kalimat tersebut adalah; Ibrahim meninggalkan kaumnya atas perintah Allah, Argumentasi dan perlawanan terhadap Raja Namrud, sabar ketika dimasukkan ke dalam api yang berkobar, berhijrah dari negeri asalnya menuju Makkah. Sedangkan Basyar bin Mu’adz dalam riwayat lain, bahwa Allah menguji Nabi Ibrahim AS dengan bintang, rembulan, matahari, api, hijrah, kkhitan dan menyembelih putranya, dan Nabi Ibrahim AS mampu melalui ujian tersebut dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Cobaan yang medera Nabi Ibrahim tidak terhitung, tapi beliau mampu meliwati cobaan (ujian) “Kalimat” tersebut dengan sempurna (fa atammahun), dan dalam beberapa riwayat “Kalimat” itu adalah; 1) Bintang, Nabi Ibrahim mampu berdialog dengan pikirannya, mana yang Tuhan dan mana yang makhluq. Ia tidak terkecoh dengan gemerlap bintang, tidak terlena dengan ketinggiannya, ia pun menemukan titik terang lainnya. 2) Rembulan, keimanan Nabi Ibrahim diuji kembali dengan rembulan yang sinarnya lebih berkilau dan lebih terang. Ia berfikir benarkah ini Tuhan?, ia pun mampu melewati cobaan dan ujian akidah sebelumnya. 3) Matahari, kini Nabi Ibrahim benar-benar diuji dengan terang menderang mentari, seakan-akan teriknya tak lagi mampu ditutupi oleh siapa pun yang memandang dan merasakannya, ia sebagai sumber kehidupan. Dengan makhluq ini (matahari), tidak sedikit yang tunduk dan menjadikannya Tuha, tetapi Nabi Ibrahim mampu melewati kemilau dan rayuan cemerlangnya. 

Apakah Nabi Ibrahim selesai dengan ujian tiga sinar tersebut? Ternyata tidak, datang ibtala (cobaan/ujian) yang lain. 5) Penguasa, cobaan seseorang ketika berhadapan dengan penguasa banyak yang tidak kuasa untuk berlabuh di dalamnya. Rayuannya jabatan, pangkat, harta ketika disuguhkan tidak mampu ditolak. Tapi, Nabi Ibrahim tidak hanya menolaknya sekian perdamaian dan rayuan, tidak hanya urusan harta benda dan jabatan tetapi akidah dipertahankan, ia berkronfontasi dengan penguasa lalim tersebut (Namrud). Ancaman demi ancaman mampu ia lalui. 6) Api, urusan dengan jabatan dan kekuasaan tidak mudah. Bukan hanya dipecat, disingkirkan, diasingkan atau dicoret namanya. Nabi Ibrahim berhadapan dengan kobaran Api, ia dilempar di dalamnya, dengan izin Allah Api itu tidak mampu membakarnya. Inilah kepasrahan seorang Khalilullah (kekasih Allah). Apapun cobaan, bila Allah tidak bekehendak, maka tidak akan pernah terjadi. 

Ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim tidak hanya sesuatu yang menjulang tinggi dengan gemerlap sinarnya, tidak pula hanya kekejaman penguasa, tetapi ujian itu juga datang dari urusan keluarga. Beliau cukup lama tidak memiliki keturunan, sekitar 80 tahun, tetapi kesabaran, doa dan harapan tidak pernah surut, beliau pun dikaruniai seorang anak, Ismail dan berikutnya Ishaq. Apakah selesai, tidak. beliau 7) Hijrah, ini bukan perkara mudah bagi siapa pun, cobaan yang sungguh berat hijrah meninggalkan keluarga. Beliau walau bersama anaknya yang dicinta Nabi Ismail dan Isterinya, Sayyidah Hajar, tetapi hijrahnya ke tempat yang sangat gersang, tidak ada air, bekal yang tidak banyak, berikutnya Nabi Ismail meninggalkan keduanya. Sungguh, Nabi Ibrahim mampu melewati ini. 8) Anak, ujian terberat dalam keluarga adalah anak, bagaimana anak yang didamba puluhan tahun harus disembelih (dikurban). Tetapi inilah perintah, inilah ujian, dengan tawakkal, ikhlas dan sabar, Nabi Ibrahim mampu menyelesaikan dengan keimanan yang kuat. 9) Syaithan, berbagai godaan syaitan juga mampu dihalau oleh Nabi Ibrahim yang kemudian dimonomenkan dalam syariat melempar jumrah. 

Kajian tentang “Kalimat” tidak selesai di sini, masih banyak pendapat para ulama dalam ayat ini (al-Baqaroh, 124), belum lagi tentang “Kalimat” dalam surat lainnya; an-Nisa’, ali Imran, al-An’am, al-‘Araf, al-Anfal, Yunus, al-Kahfi, Luqman, al-Syura, al-Tahrim, at-Taubah, Hud, Ibrahim, Thaha, al-Mu’minun, an-Naml, al-Zumar, Fussilat, al-Zuruf, al-Fath, as-Shaffat, al-Ghafir. 

Allahu’alam bishawab

Khadim Pondok Pesantren Darunnun Nun

Selasa, 28 Juli 2020

Sejarah Arafah, Mudzdalifah dan Mina

Halimi Zuhdy

Vedio di bawah ini adalah dokumentasi perjalanan haji dari Al-Jazirah, dan beberapa domentasi lainnya saya dapatkan dari Dzikriyat min al-Madhi, perjalanan pada tahun 1937. 
Jamaah haji dalam melaksanakan manasik yang sangat terkesan dan mungkin paling "melelahkan" adalah melempar jumrah di Mina serta perjalanan dengan perhitungan yang tepat dan matang ketika menuju wuquf di Arafah. 

Sedikit saya ceritakan kembali di sini, tentang sejarah singkat Arafah, Muzdalifah dan Mina, untuk mengukir ingatan bagi yang sudah pernah melaksanakannya dan sebagai pengobat rindu bagi yang tidak jadi berangkat pada tahun ini, serta sebagai bayangan indah bagi yang berkeinginan melakukan perjalanan spritual (manasik) yang sangat luar biasa, dengan melibatkan; harta, jasad, rohani, menurunkan ego serta melebur dalam kesetaraan. 

Arafah, Mina dan Muzdhalifah adalah tempat wajib bagi jamaah haji. Di tempat-tempat suci itulah kalimat-kalimat talbiyah dan thayibbah terus digelorakan hingga menembus langit. Gelora Arafah, Muzdalifah dan Mina semata-mata untuk mengharapkan Keridhaan-Nya dan menjadi haji yang mabrur. Berikut ini penjelasan tentang Arafah, Mina dan Muzdhalifah.

ARAFAH adalah daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Mekkah, Arab Saudi. Di padang yang luas ini, pada satu hari (siang hari) tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan  Hijriyah  berkumpullah Jutaan umat Islam dari berbagai pelosok dunia untuk melaksanakan Puncak ibadah haji, yakni ibadah Wukuf.

Arafah selalu menggetarkan hati. Tanggal 9  Dzulhijjah, jutaan jamaah haji serentak wukuf di Padang Arafah, adalah saat ketika air mata tak bisa ditahankan. Inilah momentum yang ditunggu oleh seluruh jamaah haji. Bahkan mereka yang sakit pun harus ditandu agar bisa berada di Padang Arafah untuk melakukan wukuf.

Arafah memang bukan sekadar formalitas atau tanda sahnya ibadah haji seseorang. Arafah itu sarat pesan dan perenungan. Arafah adalah sebuah potret kecil tentang Mahsyar.  Mahsyar adalah sebuah hari di mana manusia akan ditimbang kadar Al-Haq dalam dirinya. Mahsyar adalah sebuah hari yang sangat terik yang tidak ada penghalang atasnya.

Ada beberapa tempat utama di Arafah yang selalu dijadikan kunjungan jamaah haji, yaitu Jabal Rahmah, sebuah tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang tempat bertemunya nenek moyang manusia Nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi, dan Masjid Namira.

MINA, Kota Tenda

Dinamakan Mina karena banyakanya darah yang ditumpahkan di dalamnya, atau ada riwayat, bahwa setelah Jibril ingin meninggalkan Adam ia berkata " Tamanna" (bercita-citalah, mengharaplah), ia menjawab "atamanna al-Jannah" oleh sebab itu disebut Mina, Karena adanya harapan (umniyah) untuk masuk surga.

Kota Mina berjarak kurang lebih 7 kilometer dari Mekkah. Sering disebut kota ribuan tenda karena disanalah berdiri ribuan tenda untuk jutaan jamaah haji tiap tahunnya selama musim haji.
Mempunyai luas 16.8 Km persegi, Mina merupakan lembah di tengah padang pasir.

Mina berada di sebelah Timur kota Makkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Makkah dan Muzdalifah. Selain mendapat julukan kota tenda, Mina juga dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.

Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada masjid Khaif, merupakan masjid di mana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.

Tempat ini mulai didatangi jamaah sejak 8 Dzulhijjah saat tarwiyah, hingga nanti jamaah kembali lagi ke sini setelah puncak ibadah haji yaitu Wukuf di Arafah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jamaah wajib bermalam di Mina pada tgl 11 dan 12 Dzulhijjah bagi yang mengambil Nafar Awal, dan tgl 13 Dzulhijjah bagi yang mengambil nafar Tsani/Akhir. 

Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula.

Di Mina terdapat beberapa tempat penting :
1. Jamarat, yaitu lokasi dimana terdapat ke tiga jumrah, Ula, Wustha dan Aqabah.

2. Al-Manhar (Jabal Qurban), yaitu lokasi penyembelihan binatang.

3. Masjid Al-Khaif, yaitu lokasi Nabi Muhammad Salallah Alaihi Wassallam melakukan sholat dan khutbah ketika berada di Mina sewaktu berhaji.

4. Masjid Al-Bai’ah, yaitu tempat Rasulullah dibai’at oleh orang-orang Anshar yang datang dari Madinah 1 tahun sebelum hijrah.

Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Mina itu seperti rahim, ketika terjadi kehamilan, diluaskan oleh Allah Subhana Wa Taala"  Masyaallah!
Berapapun jumlah jamaah yang ada Mina pada waktu haji, insyaallah semua akan mendapat tempat disini.

Jamaah Haji Wajib Bermalam di Muzdhalifah

Muzdhalifah, sebuah  daerah terbuka di antara Makkah dan Mina di Arab Saudi yang merupakan tempat jamaah haji diperintahkan untuk singgah dan bermalam setelah bertolak dari Arafah. Muzdhalifah terletak di antara Ma’zamain (dua jalan yang memisahkan dua gunung yang saling berhadapan) Arafah dan lembah Muhassir.

Luas Muzdhalifah adalah sekitar 12,25 km², di sana terdapat rambu-rambu pembatas yang menentukan batas awal dan akhir Muzdalifah.

Jamaah haji setelah melaksanakan wukuf di Arafah bergerak menuju Muzdhalifah saat setelah terbenamnya matahari (waktu Maghrib). Di Muzdhalifah jamaah haji melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara digabungkan dan disingkat (jamak-qashar) dan bermalam di sana hingga waktu fajar. Di Muzdhalifah jamaah haji mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah.

Bermalam di Muzdalifah hukumnya wajib dalam haji. Maka siapa saja yang meninggalkannya diharuskan untuk membayar dam. Dianjurkan untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bermalam hingga memasuki waktu shalat Subuh, kemudian berhenti hingga fajar menguning.

Namun bagi orang-orang yang lemah, seperti kaum wanita, orang-orang tua dan yang seperti mereka, boleh meninggalkan Muzdalifah setelah lewat tengah malam. Setelah shalat Subuh, jamaah haji berangkat menuju ke Mina. 

Muzdalifah disebut juga dengan 'Jam'an' karena tempat ini pada masa juga disebut dengan Masy'aril Haram, karena dia masuk wilayah Tanah Haram. Sedangkan Arafah disebut sebagai Masy'aril Halal, karena dia termasuk Tanah Halal. Namun ulama berbeda pendapat dalam penamaan ini.

Sumber : Halimi Zuhdy

#SejarahHaji #EdisiDzilhijjah

Selasa, 21 Juli 2020

Pengorbanan itu Butuh Nyali dan Langkah(Menjejak 10 Hari Dzulhijjah)

Halimi Zuhdy
 
Agama selalu memberikan pelajaran yang luar biasa. Agar tanaman berbunga dan berbuah indah, disiram dengan teratur dan dijaga dari rerumputan liar, butuh keringat yang dicucurkan. Perahu untuk sampai ke dermaga butuh gelombang, terkadang gelombang itu menghempas, maka butuh hati yang tenang dan kesabaran untuk tetap kokoh dalam hempasannya. Untuk medapatkan mutiara, ia harus tenggelam ke dasar laut, berjuang dengan segala makhluq laut dengan kitaran karang-karang yang tajam. 
Demikian pula, untuk mendapatkan Lailatur Qadar, ia harus bertirakat untuk tidak makan dan minum (puasa), ber’itikaf, berzakat (mensucikan diri), bahkan untuk memasuki bulan yang di dalamnya ada malam seribu bulan ia dianjurkan mempersiapkan dua bulan sebelumnya (Rajab dan Sya’ban).  Setiap kali akan bertemu dengan hari-hari istimewa, umat Islam selalu diajurkan untuk tirakat (berpuasa, dan melakukan berbagai amalan lainnya). Mensucikan tubuh dan batin sebelum tawajjuh.

Bagaimana dengan beberapa hari ini, al-‘Asyra al-Awail (10 hari pertama) Dzu al-Hijjah?.  Sembilan hari  sebelum menuju tanggal 10 bulan Dzulhijjah dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan mengurai pikir, menguatkan hati, berlatih bersabar, beradaptasi dengan segala kebaikan, berpositif dengan segala cobaan, men-tadabburi  tanda-tanda alam, berishlah dengan keterpurukan, tersenyum dalam kegetiran.  Persiapan ini tidak hanya untuk tanggal 10, tapi bulan ini adalah bulan yang sangat istimewa, karena segala ibadah terhimpun di sini; Shalat, Sedekah, Puasa, dan haji.  

Di bulan ini; Islam disempurnakan, haji dikibarkan, darah-darah korban ditumpahkan (udhhiyyah), mu’tamar umat Islam terbesar (Arafah) dilaksanakan, simbol syaitan diperangi (ramyu Jamarat), kasih sayang diperjuangkan (Sa’i), menuju Tuhan diistiqamahkan (Thawaf). Peristiwa lainnya di bulan ini, taubat Nabi Adam diterima (1 Dzulhijjah), Nabi Yunus keluar dari ikan (2 Dzulhijjah), Munajat Nabi Zakaria terkabul (3 Dzulhijjah), Nabi Isa dilahirkan (4 Dzulhijjah), Nabi Musa dilahirkan (5 Dzulhijjah), 6 Dzulhijjah kemenangan Nabi Muhammad dalam ajaran tauhid (fatahallah Abwab khairat), pintu neraka ditutup (7 Dzulhijjah), Nabi Ibrahim diminta membangun Ka’bah (8 Dzulhijjah),  Keyakinan Nabi Ibrahim akan perintah mengorbankan putranya  (9 Dzulhijjah), dan masih banyak peristiwa luar biasa di bulan ini. 

“Wal Fajri” istimewa…! Untuk mengaskan betapa hari-hari ini (sepuluh hari di Dzulhijjah) sesuatu yang istimewa “Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (Qs. Al Fajr: 1-2). (Ikhtilaf mufassir  dalam ayat ini). “Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini.” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati).” (HR. Al Bukhari)

Persiapan menuju hari-hari indah itu adalah dengan melakukan beberapa kesunahan yang dianjurkan; berpuasa, terutama tanggal 9 Dzulhijjah, memperbanyak shalat sunnah (nawafil), bertakbir dan berdzikir, bertaubat pada Allah, memperbanyak amal shaleh; silaturahim, birrul waalidain (berbuat baik kepada orang tua),  sedekah, menghibur orang yang tertimpa musibah, membaca Alquran,  memenuhi kebutuhan kaum Muslimin dan amal-amal baik lainnya. Pada tanggal 10 Dzulhijjah shalat Idul Adha dilanjutkan dengan berkorban (Udzhiyyah). 

Mudah-mudahan kita mampu menjalani hari-hari ini dengan bunga-bunga kebaikan untuk mendsapatkan buah-buah keindahan. Billahi al-Taufiq

21 Juli 2020 M/ 30 Dzul Qaidah 1441 H