السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 22 Juni 2018

WANITA CERMIN LAKI-LAKI


Halimi Zuhdy

Beberapa bulan yang lalu saya membaca tulisan menarik, "Al Mar'ah Miratur Rojul",  bahwa wanita adalah cermin laki-laki. Namun, saya masih bertanya-tanya, mengapa wanita dianggap cermin laki-laki?. Tulisan ini, sedikit akan menganalisis wanita (mar'ah) dalam asal bahasanya dan kaitannya dengan derevasinya (mar'ah dan mir'ah) .

Saya mulai membuka beberapa kitab yang mengkaji asal "Mar'ah" (wanita),  di antaranya; karya 'Alla' Husain yang mengkaji tentang " _limadza summiyah mar'ah mar'atan_", dan nantinya saya akan hubungkan dengan "Mir'ah"(cermin), bahwa wanita itu "mir'ah" bagi laki-laki.

"Mar'ah/wanita" disebut "Mar'ah" karena dicipta dari "mar'i/seseorang" yaitu Hawwa' dicipta dari Adam. Atau Hawwa' diturunkan di bumi yang bertempat di Marwa, sehingga diambil dari derevasinya "Marwah". Kemudian  'Alla Husain melanjutkan, mengapa Hawwa' disebut Hawwa'?, karena ia induk (umm) dari segala kehidupan, dan orang-orang Jahiliyah Arab menamakan patung-patung sesembahan mereka dengan nama wanita, karena wanitalah sumber segalanya.

Dalam beberapa Muntada, "Mar'ah/wanita" disebut demikian, karena wanita suka berhias diri di depan  cermin (mir'ah). Ia yang suka berhiasa, karena ia hiasan hidup, maka ada dalam hadis, _Addunya mata' wa khairu mati'iha mar'ah sholehah_ Dunia adalah hiasan, dan seindah-indahnya hiasan adalah wanita shalehah.

Bagaimana dengan wanita adalah cermin laki-laki?  Saya akan jawab dari dua sisi; "cermin" dan "cerimanan".

WANITA SEBAGAI CERMIN LAKI-LAKI, maka untuk melihat bagaimana laki-laki, baik karakter dan akhlaknya,  tinggal melihat dalam cermin, bagaimana laki-laki memperlakukan wanita, maka laki-laki terpantul kebaikan dan keburukannya, kelembutan dan  kerasnya, kerendahan hati dan keangkuhanya, optimisme dan pesimisnya, dapat dilihat  *cermin bagaimana laki-laki memperlakukan wanita*.

Bila laki-laki sering berbuat buruk pada wanita, maka demikian dengan kehidupan laki-laki tersebut, apalagi ia melakukannya kepada istri dan anak-anak wanitanya, sebagai orang terdekatnya. Namun, jika ia memuliakan wanita, maka demikian pula karakter dan akhlaqnya, sebagaimana hadis Nabi _“Hanya lelaki mulia yang memuliakan wanita dan hanya lelaki pengecut yang merendahkan mereka”._ akhlaq itu dari khalaqa, yang memang sering dilakukan sehingga menjadi karakternya, tercipta dari kebiasaan yang sesungguhnya, bukan lisptik semata. "Orang itu baik, tapi pada keluarga kok sering berbuat jahat ya?" kata sebagian orang.  Maka, tinggal kita memperhatikan bagiamana ia sesungguhnya.

WANITA SEBAGAI CERMIN LAKI-LAKI, untuk melihat laki-laki, cukuplah melihat perbuatan istrinya, terutama yang sudah lama berkeluarga, karena "mayoritas" karakter seorang suami (laki-laki) menelusup kediri seorang istri (wanita), maka betapa banyak wanita baik berubah menjadi tidak baik, karena sikap seorang suami yang sering berbuat buruk kepada istrinya, seperti; berlaku kasar, pemarah, pendendam, dan sifat lainnya, sehingga berjalannya waktu, istrinya mengambil sifat-sifat suaminya, menjadi pemarah, pendendam dan kasar. Bukankah orang yang sering bersama penjual parfum ia juga harum, tetapi sebaliknya. Apalagi seorang laki-laki adalah imam bagi wanita (istri).

Demikian pula dengan suatu kaum, kelompok, organisasi, negara atau apapun, jika ingin mengetahui keadaan kaum itu, maka lihatlah wanitanya; prilakunya, karakternya, akhlaqnya, maka demikianlah keadaan kaum itu. Karena kebanyakan laki-lakilah yang menciptakan itu semua.

WANITA ADALAH CERMIN, laki-laki juga bisa berkaca bagaimana keberadaan dirinya, baik dan buruknya ia tergambar dalam cermin itu. Maka wanita adalah gambaran dari diri laki-laki, jika ia menjadi iblis, wanitanya tidak jauh berbeda, tapi jika ia menjadi malaikat, maka ia tidak jauh darinya. Namanya saja cermin. Maka bersyukurlah, jika diri (laki-laki) yang tidak baik, memantulkan kebaikan, karena cerminnya yang ajaib, yaitu laki-laki yang tidak baik mendapatkan wanita yang baik, sebagaimana Nabi saw bersabda, _”Barangsiapa diberi istri yang sholehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim)_. Cermin itu, akan memantulkan berbeda, karena cerminnya itu berbeda dari bendanya. Dan pantulan itu akan berakibat, _"Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.”-_ (QS. An-Nur: 26). 

Namun, cermin itu akan memantulkan apa yang ada dalam cermin itu, maka jika dirinya ingin baik, pantulkan kebaikan pada wanita itu, ia akan menggambarkan pantulan kebaikan pula, insyallah.
Allah a'lam bishaawab.

Sumenep, 14 Juni 2018

Senin, 07 Mei 2018

LA TADRI

(Di Rarim Rahasia, Pulang Rahasia)
Halimi Zuhdy

Hari ini dikejutkan dengan kematian Mahasiswa UIN Malang, M. Iqbal, mahasiswa TI, kecelakaan di depan UIN. Sabtu kemarin, Dosen kami di almamater yang sama, Dr. Mujaid, kelahiran 1974, dosen Syariah juga dipanggil oleh Allah. Dan di grup IKA UIN Malang, juga tersiar Bapak Misyanto, Alumni IAIN Malang (skrg UIN), jurusan Tadris Bahasa Inggris, mantan kepala MAN 2 Probolinggo, dipanggil oleh Allah


Mudah-mudahan beliau, diberikan tempat yang indah di SisiNya.
Kematian datang silih berganti, tak mengenal tempat, tak pula mengenal waktu. Kematian sangat dekat dengan kehidupan, ia tak memilih usia tuk dilesatkan; ada yang masih dalam rahim, ada yang baru satu detik keluar dari rahim, ada pula yang belum lama dirahim, digugurkan. Tidak menunggu tua, tidak pula menunggu sakit, karena kematian bukan karena tua dan sakit. Ia adalah kehedak Sang Khaliq. Ia rahasia yang paling rahasia, agar manusia selalu waspada, bahwa ia akan datang tetiba, walau tak pernah merasa.

SIAPALAH DIRI

(Menguap Diri, yang Sok Suci)
Halimi Zuhdy



"Ha.. Ha.. Ha.." Riuh suara tawa para sahabat, entah apakah ada yang lucu, atau meledek. Nabi Muhammad SAW langsung menegur mereka, "Apa yang membuat kalian tertawa", para sahabat yang berada di tempat itu terdiam, tertegun, dan gugup, mereka belum sampai menjawab pertanyaan Nabi, dan Rasulullah SAW melanjutkan tegurannya, "Apakah karena betisnya yang kecil? Semua pada terdiam,  tak seorang pun berani menjawab. 

Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sesungguhnya kedua (betis)nya lebih berat dari Gunung Uhud dalam timbangan amal.”

Ternyata para sahabat itu menertawakan keadaan betis Abdullah bin Ma'ud yang kecil, ketika itu Rasulullah SAW meminta tolong kepada sahabatnya ini untuk mengambil batang siwak dari pohonnya. Saat memanjat pohon itulah, betisnya yang kecil terlihat. Mereka pun tertawa. 

DR. MUJAIZ KUMKELO PENYULAM SENYUM)

Selamat Jalan Guruku
Halimi Zuhdy

Selalu membakar kami, ketika kami menjadi santri di Mahad Sunan Ampel Al-Aly (Ma'had Al Jamiah) "Semanga Khi!!!"  kami pun selalu bersemangat membuka telinga, mata, dan gerak tegap, ketika beliau mengisi halaqah ilmiah dan Madrasah Intelektual.
Ketika Adzan Subuh tiba, sorban cokelat selalu beliau genggam, setiap pintu kamar ia ketuk, santri pun  bergegas ke kamar mandi, jika masih tersisa, beliau tunggu sampai seluruh santri di mabna menuju masjid, dengan sabar beliau berdiri mematung di depan mabna, sambil melihat gerak gerik santri. 

Setelah shalat subuh pun, beliau sudah siap di depan mabna, menunggu santri untuk shabahul lughah, dan mencari santri yang lagi bermalas malasan. Tak ada hentakan, bahkan amarah dan teriakan tak keluar dari beliau. 

"Ayo khi ta'lim", mengajak dengan senyum yang selalu terurai dari wajahnya. Senyumnya selalu menyapu pagi kami, dengan pengarahan  tanpa henti. 

KALAU BERAT, BERATKAN SEKALIAN!

(Kunci Meringankan Beban Hidup) 

Halimi Zuhdy
(Madzhab Rindu 56)

Nabi pernah mengatur 53 ekspedisi militer, 9 kali memimpin perang besar. Bisa dibayangkan, betapa luar biasanya Nabi SAW; berapa banyak dana yang dikeluarkan, berapa kekuatan yang dipersiapkan, dan itu hanya dilakukan 22 tahun dalam dakwahnya. 

Dalam perang dunia ke-2, mempersiapkan satu peperangan saja, membutuhkan tenaga hebat, dana besar, dan korbannya juga tidak sedikit, 21 juta jiwa, 27 ribu ton bom setiap bulannya. Periode 1940-1945, dana militer AS naik tajam dari $1,9 miliar menjadi $59.8 miliar. Ini sangat luar biasa. Bagaimana dengan 9 kali peperangan Nabi SAW pada masanya, dengan 53 ekspedisi? Betapa berat amanah dakwah beliau. Tetapi, beliau tetap segar bugar, kejiwaan beliau dan para sahabatnya berada pada puncak terbaik.

Sabtu, 05 Mei 2018

MAQHA AL-ADAB (Cafe Sastra)

IG @halimizuhdy3011
. Maqha al-Adab, minum kopi sambil mendengar sastra dibaca, dikaji, dinikmati dan diapresiasi. Acara yang menarik dan menyegarkan hati dan tenggorokan, mengkritik asyik tanpa mencubit. Apresisasi ini akan dilakukan setiap bulan di Jurusan BSA UIN Malang, insyallah.

Mengapa? 

Sekilas kita melihat sastrawan adalah orang-orang yang hanya berkutat dengan teks, mengasingkan diri menemukan imajinasi, melahirkan buku yang indah, berkhayal ria, suka memprotes tanpa aksi, memanjat panggung untuk menghibur, lahir untuk berhayal, mencipta puisi-puisi tanpa henti, menoreh cerpen, novel, roman dan drama- hanya untuk menghibur. Benarkah asumsi tersebut?
Mungkin banyak orang yang enggan menjadi sastrawan, karena menganggap mereka tidak punya pekerjaan yang berguna, banyak pula yang mencemooh sebagai tukang bual, para kritikus sastra pun dianggap sebagai orang munafiq yang hanya bisa mengkritik tanpa bisa beraksi untuk melahirkan karya, sedangkan para sastrawan yang bukan kritikus dianggap pembual yang tidak mampu melahirkan karya berbobot.

SENANG BERSAMA PARA JUARA

Halimi Zuhdy


Kemarin siang, wajah para pemenang @qatardebate dari Indonesia datang berbinar-binar, senyum  meriah, di tangannya memegang erat medali emas dan piala cantik, salamnya memecah diam orang-orang yang telah lama menunggu kedatangannya dengan penuh tanya; tanya siapakah dia, bagaimana penampilannya, dan tanya demi tanya lainnya.

Mereka diundang IMLA (itttihadul Mudarrisil Lughah Arabiyah), Asosiasi Bahasa Arab terbesar di Indonesia, untuk memberi apresiasi pada para Pejuang, kedatangan mereka disambut hangar semangat para pengurus IMLA, seperti menyambut para jawara dari medan perang, yang memenangkan lertempuran, wajah-wajah pengurus IMLA juga berbinar-binar. "Inilah generasi emas kita" ujar Prof Asrori, ketua IMLA Indonesia. "Kita sangat apresiasi atas keberhasilan adik-adik Tazkiyah IIBS yang sudah membawa nama harum bahasa Arab Indonesia di kancah dunia" lanjut beliau.

ISU-ISU SASTRA ARAB DI ERA MILINIA


@halimizuhdy3011

Bahasa dan sastra Arab (BSA) Fak. Humaniora UIN Malang di tahun  2018 mengawali agenda besarnya dengan mengadakan seminar Internasional yang bertema "al-Ittijahat al-hadisah fi adab araby wa tawaquatuhu fi dhill aulamah", mengangkat isu-isu terkini sastra Arab dan harapan besarnya di era milinia. .

Sastra Arab yang muncul beberapa abad lalu, melampaui sastra lainnya di dunia, masih bertahan dengan gagah, namun tidak sedikit masalah yang dihadapinya, apalagi  pada masa Mamalik dan Sha'aliq mengalami kemerosotan besar, ujar Prof. Dr. Ahmad Darwisy Ibrahim Muhammad. 
.
Setelah beberapa abad berikutnya, ketika Mesir dan Dunia Arab bersentuhan dengan Prancis, pada awal abad 19 ada perkembangan sastra Arab yang luar biasa, dan masa itu disebut-sebut sebgaai "asr Nahdhah" masa kebangkitan sasra Arab, dan dimulainya masa Sastra Arab Modern.
.

PENGADILAN DIRI, DI HADAPAN ILAHI

(Akreditasi diri, Menuju Kesalehan Diri)

Halimi Zuhdy

Pengadilan apa pun di dunia, termasuk di negeri ini, orang-orang yang diadili selalu mencari celah untuk bisa lari, ingin terbebas dari setiap jerat hukum, bahkan terbebas dari segala sangkaan dan praduga. Walau sebenarnya ia benar-benar melalukannya. 

Ada yang mencari pengacara handal untuk menghilangkan jejak diri, walau ia kadang tahu, bahwa dia bersalah. Selalu mencari pembenaran diri, karena hukum bisa dibeli.
Tapi, bagaimana dengan pengadilan Allah di akhirat nanti, mari kita perhatikan  ayat-ayat Allah berikut; 

1. Dokumen dan seluruh catatan, tidak ada Yang dirahasiakan.
"Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka."
(Al-Isra' 13)

2. Kehadirannya, dengan penjagaan super ketat
"Setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi" (Qof, 21).

Jumat, 13 April 2018

PESAN EMAS DARI DRAJAD

Halimi Zuhdy
Emas dalam bahasa Arab, _Dzahaba._ Dzahaba berarti, pergi. Ia menjadi rebutan, tujuan kehormatan, kebanggaan, kesombongan, tanda kekayaan dan kedigdayaan, bagi sebagian, bahkan kebanyakan orang. Tapi suatu saat, ia akan pergi, atau ia akan ditinggal mati oleh pemiliknya, disanalah ketidakkekalan dunia. Pergi.
Jika kita pahami, emas itu akan; pergi, lenyap, hilang seperti kalimat Arabnya. Namun, ada emas-emas kalimat indah, dan akan mampu mengkekalkan pembacanya menuju sorga. Al-Qur'an, Hadis, dan hikmah para ulama dan wali-wali Allah, yang dituliskan dengan kemurnian hati serta merujuk pada keduanya.

NAPAK TILAS, ZIARAH CINTA

Halimi Zuhdy
Keringat mengalir dari wajah-wajah santri Pondok Fatimiyah Malang, kala menanjaki Pasarean Sunan Giri, kadang mereka berhenti tuk bernafas, menyela keringat, merunduk sebentar tuk menghela lagi nafas panjang. Giri yang berarti gunung, menjadi mercusuar Islam di masanya, dari ketinggian itulah, tersebar dakwah ke berbagai pelosok Jawa, Madura, Lombok, Kalimatan, Sulawesi dan Maluku.

Pencarian ilmu yang luar biasa, bertahun-tahun memungut ayat demi ayat, hadis demi hadis dan berbagai ilmu agama, beliau sampai ke negeri Pasai, negeri yang sangat jauh, dari tempat terhempasnya ombak yang membawanya. 

Senin, 02 April 2018

TA'ZIZ LUGHAH ARABIYAH, PENGUATAN BAHASA ARAB


(Mengakarkan, memekarkan, kan membunga)
Halimi Zuhdy

Hati ini selalu senang, dan gairah selalu menggebu, ketika sudah bertemu dengan para asatidz dan siswa/mahasiswa penyuka bahasa Arab. Kali ini, Selasa (27/3/2018) dalam seminar nasional, di PBA IAIN Jember, saya  disuguhi tema, _"Al-Lughah Al Arabiyah  tahaddiyatuha, furosuha, wa mustaqbaliyatuha fi ashr al Aulamah"_.  Ada kemiripan tema dengan Stadium General kemarin (26/3/2018) di BSA UINSA. Tapi semangatnya sama, luar biasa. 

Senin, 26 Maret 2018

Bahasa dan Sastra Arab, 24 Karat

Halimi Zuhdy
"Masa Depan Bahasa Arab, Peluang dan Tantangan", itu tema yang diangkat dalam acara Stadium General yang diadakan oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Sunan Ampel Surabaya. Sungguh menarik tema yang diangkat, hadir bersama kami, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Dr. H. Ghazaly, Ketua Jurusan, ustadz Syaikhun, dan Ketua Prodi BSA Ustadz Atik Romadhan, serta beberapa asatidz Dr. Thoriq Suud, ustadz Fatin, dan lainnya.
Tema yang sudah menjadi kajian bertahun-tahun diberbagai seminar, Konferensi, simposium, dan halaqah bahasa Arab,  tapi, gunung itu tidak pernah meletus, ia semakin kokoh berdiri, bahkan tambah kokoh, seakan-akan tantangan demi tantangan bahasa Arab semakin berat untuk dihadapi. Namun, dikala melihat peluang-peluangnya, juga serasa berada di kebun indah yang dipenuhi bebunga, memekarkan cakrawala, dengan semerbak kesturi. Semua bahasa di dunia akan musnah, kecuali Bahasa Arab, biidznillah.

Sabtu, 10 Maret 2018

SPIRIT BAHASA ARAB DI SUKEROJO

(Kerjasama PP. Salafiyah Syafiyah dan BSA UIN Malang)
Halimi Zuhdy
IG: @halimizuhdy3011

Luar biasa, Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo bersama TIM BSA (Bahasa dan Sastra Arab) UIN Malang, dalam waktu sehari mengadakan 4 Workhsop pembelajaran bahasa Arab, di empat tempat; Ma'had Aly lil banat, Ma'had Aly lil rijal dan Ma'had Tahfidh al-Qur'an, Pondok Pusat lil Banat dan Lil rijal, yang diikuti oleh; Dosen PBA, Santri Ma'had Aly, Para ustadz dan Ustadzah, guru MI, MTs, MA, dan santri tah'fidh Al-Qur'an, darul qutub, mahasiswa PBA.
Wokrshop kali sangat istimewa, selain diikuti banyak peserta dengan berbagai latar belakang, juga langsung digerakkan oleh pondok pusat dengan melibatkan seluruh sivitas. 

Bahasa Arab itu ruhnya Pesantren, jika bahasa Arab itu sudah tidak lagi dicintai, diminati, dirindu, maka ruhnya menghilang. Materi yang lain boleh tiada, tapi bahasa Arab harus abadi di pesantren. Dan santri, harus bisa bahasa Arab, karena setiap hari berkelindan dengannya; Al-Qur'an, Hadist, Kitab Kuning, dan lainnya. Maka, jika lulus dari pesantren tidak bisa bahasa Arab, maka kesantriannya dipertanyakan?. He. 

Rabu, 07 Maret 2018

BELAJAR BAHASA ARAB DI ERA DIGITAL

Halimi Zuhdy
IG: @halimizuhdy3011
Hari ini (5/3/2018), Saya dan Dr. Abu Aiman Al-Qomary sebagai pemateri Seminar Kebahasaan di acara  @sahara PBA UIN Sunan Gunung Jati Bandung, materinya cukup penarik, mengangkat tema "Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Arab di Era Digital".

Sebuah Era, dimana,  jarak tak lagi menjadi penghambat, guru dan kelas bukan lagi satu-satunya. Digit, menjadi penentu keberhasilan, dalam banyak hal; bisnis, politik, demikian juga pembelajaran bahasa. Era ini, sudah tidak mampu dibendung dengan kekuatan apapun, bagi yang menghamba, maka ia akan menjadikannya Tuhan. Lihatlah, dimana-mana, manusia, sudah menjadikan WA, FB, TW, YT, sebagai teman 24 jam. Jaringan internet, sudah paling dicari, kehilangan sinyal seperti kehilangan anak, teman dan orang yang dicintai. Mudah-mudahan, hal ini belum seserius kata teman saya, "Era Digital, sudah mengakar kuat, Tuhan pun, kalah pada sinyal". Na'udzubillah. Tetapi, dapat dicari sisi positifnya, untuk hal-hal positif. 

PESAN PAPAN EMAS

Halimi Zuhdy
(Mazhab Rindu 69)

Bersama Nabi Khidir, Nabi Musa selalu dibuat terkejut, heran, dan ribuan pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. "Kok Bisa ya"?, di antaranya, ketika Nabi Khidir dan Nabi Musa dalam kondisi sangat lapar, dan tidak ada orang yang menjamu dan memberi upah, tapi Nabi Khidir masih saja mau menegakkan, membangun dan memperbaiki salah satu rumah warga itu. Nabi Musa heran, "Mintalah upah dari mereka atas usahamu." Tapi, Nabi Khidir bukannya menjawab, tetapi memutuskan untuk berpisah dengan Nabi Musa, "Ini adalah saat berpisah antara Aku dan Engkau, karena Engkau tidak sabar. "

Sebelum detik-detik perpisahan itu, Nabi Khidir menceritakan maksud dan tujuan dari apa yang telah diperbuatnya, mengapa dia memperbaiki dinding itu, _"Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”_(Kahfi, 82)

Desa itu, sangat terkenal Kikirnya, bakhilnya, bahkan suka menyimpan harta. Penduduknya tidak berinfak, tidak membantu sesama, kecuali punya kepentingan saja.

Dinding yang diperbaiki Nabi Khidir, adalah sebagai cambuk dan hukuman bagi penduduk kikir, agar mereka tidak menemukan emas-emas yang berada di bawah rumah anak yatim itu, serta untuk menyelamatkan harta dari keserakan mereka. Seandainya mereka tahu, mereka akan membongkarnya dan mengambil pundi-pundi emasnya.

Dan di emas itu, tertulis jelas, bagi orang pemburu harta, pecinta dunia, suka bersenang-senang, sebagaimana kata Ibnu Abbas dalam beberapa Tafsir Al Qur'an, "Dalam emas itu tertulis, Bismillahirrahmanirrahi, Aku heran, orang yang percaya takdir, tapi masih bersedih. Aku heran, orang yang percaya rizki, tapi masih memburu dan tamak. Aku heran, orang yang percaya kematian, tapi masih bersenang-senang. Aku heran, orang yang percaya hari penghitungan (hisab) tapi masih sering lalai. Aku heran, orang yang percaya akan dunia, dan penduduknya akan silih berganti, tapi mengapa mereka masih merasa tenang (dengan dosa), lailaha illallah Muhammad Rasulullah.

Maka, betapa pesan itu melebihi dari emas segunung, bagi mereka yang sadar, bahwa penduduk dunia ini akan silih berganti, mereka yang dulu segar bugar, sekarang keriput dan bungkuk, mereka yang dulu pernah jaya, sudah tinggal papan nama di atas kuburan "Fulan bin Fulan, L 1010 M, W 1085 M". Kini, kita menunggu untuk dicatat dalam papan itu, entah kapan?, dan apakah papan kita tertulis kebaikan atau keburukan, Allah A'lam bishawab.

Malang-Bandung, 5/3/2018
----------------------------------------
Laju Kereta Malabar, tuk bertandang di Seminar Bahasa Arab Sahara PBA UIN Bandung.

https://www.instagram.com/p/Bf6HPyBn6dL/

BUTA, BISU, DAN AL-QUR'AN

Halimi Zuhdy
IG @halimizuhdy3011 .

MasyaAllah, malu rasanya, melihat diri yang sempurna secara fisik; bisa melihat, berucap, mendengar, berjalan, merasa, menyentuh, bergerak dan lainnya yang Allah berikan. Kesempurnaan fisik (lengkap), belum tentu bisa dilanjutkan dengan menyempurnakan yang lain; ketaatan padaNya, kerindukan padaNya, kecintaan padaNya. Inilah sesungguhnya, pencarian itu. Banyak yang sempurna fisik, tapi ingkar. Namun, betapa banyak yang kurang bahkan tidak sempurna secata fisik, ia menyempurnakannya dengan ketaatan kepadaNya.
Seperti vedio di atas, walau bisu, dengan kesungguhan yang luar biasa, mampu membaca kalimat-kalimat Allah, dengan isyarat jari-jari berkahnya, tidak hanya membaca, tapi menghafal. Dengan gerak lihainya, sorot mata tajamnya, menandakan ada gairah iman yang luar biasa. Allah yahfadhuhum wa yahfadzuna.

Sungguh mata yang saya gunakan, sepertinya terlalu banyak melakukan dosa (mudah-mudah Allah mengampuni), banyak melihat kesia-siakan dalam kehidupan fana ini. Sungguh, tiada sekejap mata memandang pun, yang tidak ada pertanggung jawabannya, semua akan dicatat oleh Allah. Untuk apa mata ini digunakan?. Melihat anak-anak kecil yang bisa dan buta tetapi penghafal Al Quran, sepertinya ada pesan kuat dari Allah, "Yang buta saja bisa menghafal Al-Quran, bagaimana dengan matamu yang begitu indah dan kuat memandang dunia, apakah tidak malu dengan mereka?". .

Beberapa yang saya tahu dari ribuan orang yang masih kecil dan buta, tapi sudah hafal Al Quran atau masih proses penyelesaian, seperti; Mu'ad Mesir,  Mashithah Indonesia, Husain Muhammad Thohir Saudi, Jihad AlMaliki Riyad KSA,  Abdullah Ammar dan lainnya.  Mereka digerakkan oleh Allah untuk membawa Al Quran ke sekitar kita dengan pesan yang luar biasa. "Saya buta, bisa membaca dan menghafal Al-Qur'an, bagaimana dengan Anda?"

Mudah-mudahan saya pribadi dan para pembaca tidak termasuk dalam ayat berikut. _"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itusebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang2 yang lalai"_(179/Al-A'raf)

Ya Jadikan kami orang-orang yang dekat dengan Al-Qur'an; membacanya, mengkajinya dan melakukannya.

#Alquran #bisuhafalAl-quran #fatwacinta #butahafalquran

https://www.instagram.com/p/BfwtRrnH9aW/

KAMPUNG AYER(Disapa Angin, Ombak Cemburu)

Halimi Zuhdy
Sulit dipercaya, tapi itulah nyata. Debur ombak bagai alunan musik klasik, yang menyapa telinga tuk mengkantuk. Gemercik airnya, dirindu si pecandu gerimis. Sapaan anginnya, membuat kepayang, tak ingin menghindar, lembut seperti berbisik. 

Di kampung Ayer inilah, keunikan kurasakan, manusia tidak mau didaratkan, walau darat adalah awal tumpah darah insan. Mereka, 30.000 penduduk, asyik masyuk, hidup mati, susah senang, berada di sebuah kampung air, di atas air, gelombang yang menyapa, seperti hanya desiran angin cinta.
Sudah 1.300 tahun, tempat ini dihuni, di sinilah peradaban Brunai menjadi gambarannya. Tempat ini, terluas se Asia Tenggara bahkan terbesar di dunia, sebuah tempat yang dihuni oleh manusia. Kini, kampung ini dilengkapi, masjid, restoran, warung, rumah sakit dan lainnya, anak-anak pun bermain begitu riang. Sungguh, unik dan nyata.

Minggu, 04 Maret 2018

MENCERMAHI DIRI

Halimi Zuhdy
IG :halimizuhdy3011

Ketika hadis Nabi menguap dari mulut ini, semisal,
Empat perkara yang jika dianugerahkan kepada seseorang, maka sungguh ia telah dianugerahi kebaikan dunia dan akhirat, yaitu lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, tubuh yang sabar atas cobaan dan istri salehah yang tidak berkeinginan mengkhianati suaminya baik terhadap dirinya maupun harta suaminya.” Begitu Sabda Nabi Muhammad (HR. Tirmidzi). 

Sungguh, tak terasa, tangisan menderai dari pelupuk mata, dan mengaca diri, pantaskan tubuh yang bergelimang dosa ini, berteriak-teriak, bersemangat, seakan-akan sudah benar-benar melakukan hadis itu. Betapa sulitnya, derai kata, berdekap langkah tubuh. Berucap dan melakukan.
"Berdzikirlah...!!", diungkap dengan lembut, menyapa jamaah, tapi kelu rasanya lisan tuk berdzikir, apalagi basah dengan lafal Allah, butuh lautan tuk ditelan, agar mulut benar-benar basah. Mulut jarang berucap, hati kering, pikiran yang jauh dari namaNya. 

Sabtu, 24 Februari 2018

NEGERI BERKAH

(Sepintas di Negeri Brunai Darussalam)
Halimi Zuhdy

"Raja Brunai Darussalam, Hasan Bolkiah menolak dengan tegas, ketika dimintai pendapat untuk menjual Bir bagi pelancong non muslim di negaranya, ia ingin negara Berkah bukan hanya kaya, tak ada gunanya kaya, kalau tidak berkah" Kata Dr. Ahmad Yani ketika menemani kami ke beberapa tempat di Brunai Darussalam. 

Keberkahan itu kunci kebahagiaan dunia akhirat. Banyak orang yang memiliki semuanya; harta, tahta, keluarga, sahabat, dan lainnya, tapi jika tidak berkah, ia hanya menambah keburukan, kerusakan, dan kehancuran, walau kelihatan indah dan membahagiakan, tapi sebenarnya adalah kekosongan. Keberkahan, tambahan kebaikan dalam setiap nafas dan geraknya.
Di Brunai Darussalam, walau saya hanya tinggal beberapa hari,  seperti dibalut selimut ketenangan dan keindahan, apakah itu sebuah keberkahan pada sebuah negara? Allah 'alman. 

MASJID

(Menghampar Sujud, Mencari Hakekat Wujud)

Halimi Zuhdy
IG : halimizuhdy3011

"Dan bumi bagimu adalah Masjid, maka dimana Saja kamu mendapatkan (waktu) shalat, maka shalat-lah" Hadis Nabi (An-Nasai)

Bumi yang menghampar, langit yang menjulang, udara yang berhembus, api yang menderai, air yang gemercik, bersujud wujud pada Sang Maha Wujud.

Jika bumi adalah masjid, adakah tempat berlari tak bersujud. Sajadah bumi yang menghampar, tempat kaki menginjakkan segala hawa nafsu, yang melangitkan pikir kepada Sang Maha Tinggi. Bumi dan langit, bentuk ketundukan dan pengagungan. Masjid, bagaimana menghimpun rindu padaNya, walau rindu sesungguhnya tidaklah bertempat. Masjid, penyatuan dari seluruh tanah di muka bumi, hamparannya bersambung, ditempatkan tuk menjadi paku langit.

Sujud adalah kewujudan diri, dari ketiadaan jasad yang sesungguhnya. Masjid, tempat menempatkan ruh,  menguasakan ruh, membungkuskan diri, tuk mengenalkan pada Penguasa Alam Semesta, maka bentuknya adalah sujud (merendahkan diri padaNya), Adzan mengingatkan bahwa waktu mensujudkan diri telah tiba. Yang terkadang manusia lupa, ia akan menghadap padaNya.

Bumi adalah masjid, sujud aktifitasnya, alam adalah sajadah panjangnya, maka pusatnya adalah Masjid Haram, Baituullah Makkah.

Baitullah, bukanlah rumah fisik Allah, karena Allah adalah dzat, ia tidak butuh tempat, tapi manusialah yang butuh untuk menempatkan dirinya, ketika ia bertempat, menempatkan diri pada sesugguhnya, sebagai hamba Allah, Masjid. Maka Qiblah (tempat menghadap) ke ka'bah untuk menyatukan dan memusatkan jiwanya, maka jika mampu ia berkeliling (berthawaf), bagi yang tidak, shalat Jum'at,  berkempul di masjid dekat dirinya.

Memakmurkan masjid, seperti mensejahterakan diri, _“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”_ (QS. At-Taubah [9]: 18). hamba, jika ia berada dekat Tuhannya, jika dekat Tuhannya, maka sifat-sifat ketuhanan ia kan mampu diraihnya, jika mampu meraihnya, maka kan meraih kesejahteraan (salamun), dan kebahagiaan (hasanah). Diantara penghambaannya, dengan memakmurkan masjid.

Masjid Ashr Hassanil Bulkiah Brunai Darussalam, 20/2/2018

https://www.instagram.com/p/Bfck9sABg94/

Sabtu, 17 Februari 2018

MUNAQASYAH DI ZAINUL HASAN GENGGONG

(Diskusi Tuk Menggali Mata Air Murni)

Halimi Zuhdy

"Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”. Imam Syafi'i

Rekam jejak para ulama besar, tidak pernah sepi dengan; diskusi, dialog, bahkan debat. Imam Syafi'i yang pernah berdiskusi sengit (munaqasyah) dengan Imam Ahmad bin Hambal tentang tariqus sholah (orang yang meninggalkan shalat), dan juga berdebat dengan Imam Ishaq tentang kulit bangkai, pernah dengan Muhammad bin Hasan, Asbagh bin Farj. Imam Ghazaly yang didebat Ibnu Rusyd lewat buku. Imam Abu Hanifah dengan Atheis. Imam Asy'ari dengan Ajubai. Imam Al Bukhari yang didebat oleh 10 ulama Baghdad. Sibawaehi diadu dengan Imam Al Kisai oleh Harun Rasyid, Dan perdebatan keduanya berlanjut pada murid masing-masing.

Diskusi, dialog sampai perdebatan adalah hal biasa dikalangan para ulama, dengan tetap menggunakan adab, bukan menjatuhkan dan bermusuhan. "Aku berdebat tidak untuk menjatuhkan orang.” Kata Imam Syafi'i dalam Tahdzibul Asma Wal Lughat.

Dunia akademik, pesantren, madrasah, kampus adalah ladang diskusi yang paling indah, kan berkecambah ilmu, jika forum-forum itu terjaga dengan baik. Semakin banyak mengenal pemikiran orang, bergesekan, bahkan bertabrakan, maka akan tumbuh percikan-percikan api ilmu, tuk semakin menggali sumber apinya, sehingga baranya lebih kuat dan besar.

Hari ini saya dan Dr. Faisol Fatawi, menguji santri program Tahqiq Qiratul Qutub, untuk mempertanggungjawab kan hasil karya mereka.

Santri di bawah asuhan KH. Ahsan Maliki, sungguh mempesona, dengan bahasa Arabnya yang fasih, mereka mampu menjawab pertanyaan paramunaqis, tema-tema makalah yang diangkat juga menarik, dari; Hukum ikhtilat di Medsos, jual beli sperma hewan, pajak dan zakat, azal, dan lainnya.

Santri yang masih muda belia, sudah mampu mengungkap kajian-kajian menarik, apalagi mereka mampu menjaga keistiqomaahnya dalam kajian-kajian setelah di kampus atau dalam forum-forum diskusi.
Fakultas Humaniora UIN Malang sebagai partner dalam ajang  munaqosyah tersebut, sangat mengapresiasi, dan kata WD 1, Dr. Faisol "Seandainya mereka masuk UIN Malang, maka mereka tinggal berlari saja". Dan mudah-mudahan diskusi tersebut tetap dipertahankan, untuk menumbuhkan keberanian bertukar ide, mempertahankan argumentasi, dan belajar menerima pendapat yang lebih kuat.

Munaqosyah yang bermakna; mudawalah, tabadul ara, hiwarun min ajli ushul nataij (bertukar ide, agar dapat memperoleh hasil). Inilah yang dilakukan oleh santri MA Zainul Hasan 1 Genggong Probolinggo.

----------------------------------------
Probolinggo,  11 Pebruari 2018

https://www.instagram.com/p/BfGImUyB8lW/

Minggu, 11 Februari 2018

Workhsop Bahasa Arab di Pesantren Tebuireng Jombang

Halimi Zuhdy

(Kerjasama LPM Tebuireng dan BSA UIN Malang)

----------------------------------------

Bagi pesantren, bahasa Arab adalah makanan renyah sehari-hari, bangun tidur ada dzikir dan mengaji al-Qur'an berbahasa Arab, shalatnya juga berbahasa Arab, setelah itu kajian-kajian kitabnya, 90% dengan bahasa Arab. Sehari-hari, santri seperti ngopi dan sarapan bahasa Arab, lainnya hanyalah menu sampingan.

Dari pesantren Tebuireng, mengalir deras santri-santri yang pintar bahasa Arab, bahkan lulusannya merambah ke berbagai negara Timur Tengah, selain juga menjadi orang-orang penting di Negara Indonesia, dan mereka berbekal bahasa Arab dari pesantren. Pendirinya, KH. Hasyim Asyari, mengarang kitab-kitab berbahasa Arab. Demikian juga dengan pesantren-pesantren lain di Indonesia seperti; Gontor, Sidogiri, Lirboyo, Al Anwar Sarang, Langitan, Al Fatah, Nahdhah Wathan, An Nuqayah, Butet, Al Khairag Palu, Mustafawiyah, Nurul Jadid, Darun Nujah, Rasidiyah, Al Amen, Banyuanyar, dan lainnya.

Bahasa Arab di pesantren adalah kunci penting untuk membuka samudera ilmu. Maka, yang terdetak pertama kali di masyarakat, "kalau ada lulusan pesantren, pasti mereka (santri) bisa bahasa Arab".

Apakah "kepastian bisa bahasa Arab" itu masih mengiang di masyarakat?, atau sudah berubah. Masihkah lulusan pesantren itu bisa baca kitab kuning (bahasa Arab)?. Sepertinya, kepastian itu mulai luntur, karena tidak sedikit lulusan pesantren di berbagai pelosok Indonesia, yang sudah tidak lagi bangga dengan bahasa Arab, dan bahkan 10 kosa kata pun lupa. Tapi, mudah-mudahan hal tersebut tidak benar, Pesantren dan Madrasah akan tetap menjadi kiblat perkembangan bahasa Arab di Tanah Nusantara (Arkhabil).

Pesantren tidak boleh menomor duakan bahasa Arab, ia harus menjadi prioritas, karena ia adalah alat untuk mengkaji dari sumber aslinya (al-Quran, turas, dll), yang sumbernya adalah bahasa Arab. Ruhnya pesantren itu, adalah bahasa Arab. Jika, pesantren tidak lagi peduli bahasa Arab, maka ruhnya menjadi hilang. Ia bukan lagi pesantren, tetapi asrama, kost, dan lainnya.

Pesantren dengan berbagai Modelnya; salaf, modern, atau perpaduan keduanya, harus tetap, bahasa Arab menjadi yang utama. Maka, aneh, jika pesantren tidaklagi bangga dengan bahasa Arab.

Kali ini, Tim Bahasa dan Sastra Arab Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, bekerjasama dengan LPM pesantren Tebuireng Jombang, mengadakan workshop peningkatan kompetensi guru bahasa Arab di Aula lt 3 Gedung Yusuf Hasyim Tebuireng Jombang. Dengan harapan, ustadz/guru/ pengajar bahasa Arab, mampu meningkatkan kompetensinya dalam pengajarannya, tidak hanya menjadikan bahasa Arab sebagai alat (Kajian Qawaid) untuk menguak kitab kuning, tapi ia sebagai alat untuk berbicara, berdiplomasi, menterjemah teks-teks kekinian, pemandu wisata, perdagangan, dan lain sebagainya. Dan lagi, bagaimana santri tidak hanya mampu memaknai kitab kuning, tapi mengarang kitab. Kita bisa bayangkan, seandainya satu pesantren setiap tahunnya mampu menerbitkan satu kitab saja. Maka, akan ada 25ribu kitab yang terbit di Indonesia. Itu, kalau ada 25ribu pesantren, kalau lebih, maka tinggal membayangkan saja. Betapa dahsyatnya buku-buku terbit dari kalangan Pesantren. Dulu, selain pesantren tempat mengaji, kyainya juga menulis kitab. Mudah-mudahan kedepan, karya santri, ustadz, dan kyai lebih banyak lagi.

Pada workhsop kali ini (Sabtu, 10/2/2018), membahas tentang; Isu-isu perkembangan bahasa Arab, Strategi pembelajaran kemahiran berbahasa, Strategi pembelajaran unsur bahasa, Media pembelajaran bahasa Arab, Evaluasi pembelajaran dan Pembentukan Bi'ah Lughawiyah. Dengan Tim Pemateri; Arif Rahman Hakim, Nur Qomari, Hafidh Roziki, Halimi Zuhdy, Khairul Anas. Wa Syuran, ketua LPM Tebuireng Dr. Sholuhuddin yang telah berinisiatif dan bekerjasama dengan BSA UIN Malang.

Semangat peserta menggebu-gebu, dengan permainan bahasa yang menarik dan terbaru, bumbu-bunbu strategi terkini yang disuguhkan oleh TIM BSA, mudah-mudahan Khidmah yang ke 49 bukan yang terakhir, tapi terus berlanjut ke berbagai daerah di Indonesia.

Syukran Jazila Tebuireng.
*Al-lughah Al Arabiyah Syarafun Lana.*

Halimi Zuhdy
Dosen BSA Humaniora UIN Malana Malik Ibrahim Malang

IG : https://www.instagram.com/p/BfA2schhUhP/

Minggu, 28 Januari 2018

BELAJAR BAHASA ASING ITU, MUDAH

(Menjaring kata dan Membiasakan) 

Halimi Zuhdy
IG @halimizuhdy3011


"Belajar bahasa tidak harus orang cerdas, pintar dan hebat. Belajar bahasa hanya membutuhkan kesungguhan dan pembiasaan", Demikian kata Avin Nadhir,  Direktur Indocita Foundation Desa Inggris Singosari. 

Segudang kosa kata yang dimiliki, kalau tidak pernah digunakan dan dibiasakan, maka tidak akan pernah bisa berbahasa.Bahasa bukanlah ilmu, ia merupakan skill (maharah), skill hanya diperlukan keberanian untuk melakukan dan kebiasaan untuk diterapkan, serta yang paling penting "Kekuatan Diri Untuk Bisa Berbahasa". 

Dalam bahasa Arab ada ungkapan, al-Lughah Hiya al-Kalam (Bahasa itu adalah berbicara/mengungkapkan), bahasa itu harus diucapkan, dikatakan, dibahasakan. Maka, ada tiga syarat untuk cepat bisa berbahasa (baik:mendengar, membaca, berbicara dan menulis), dan tidaklah dibutuhkan teori yang melangit. Agar bisa berbicara bahasa Arab, misalnya, maka tiga syarat itu adalah; 1) berbicara, 2) berbicara, 3) berbicara. Demikian kamahiran yang lain. Artinya, dilakukan dan sipraktikkan. 

TONGKAT DAN MATA AIR MUSA AS (10)


Halimi Zuhdy
Nabi Musa AS, memiliki banyak mu'jizat; membelah lautan, mengubah tongkatnya menjadi ular, memukulkannya kemudian memancarkan 12 mata air.
_"Apa yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa? Jawab Musa: Ini adalah tongkatku, untuk berpegangan, dan untuk menghalau kambingku dan bagiku ada keperluan lain. Allah swt berfirman: Lemparkanlah, wahai Musa! Maka dilemparkanlah tongkat itu, tiba-tiba menjadi ular yang merayap dengan cepat. Allah swt berfirman: peganglah ia, jangan takut! Aku akan mengembalikannya pada keadaannya yang semula"_(17-23, Thaha)
Tongkat, banyak menjadi simbol keagamaan, kenegaraan, organisasi, aliran, dan lainnya. Ia seperti; alat penakluk, bagi yang lemah. Penghalau, bagi yang tersesat. Penunjuk, dalam kegelapan. Pengancur, bagi musuh. Pegangan, bagi yang kan terjatuh. Bersandar, bagi yang letih.
Musa AS, sangat edentik dengan kekuatan melawan kejahatan, di tangan kanannya selalu ada tongkat tuk dipijakkan.