السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Mei 2022

Nurudz Dholam Sampang dan Ra Moh. Holil Asy'ari

Halimi Zuhdy

"Sekolah akan hebat, bila sudah melakukan dua hal; mendatangkan guru yang punya kompetensi di bidangnya dan literatur yang memadai" kata Ra Holil dalam sambutannya di acara wisuda YPI Nuzudz Dholam Kedungdung Sampang. 
Dua kata yang menginjeksi itulah yang membawa sekolah Nurudz Dholam yang berada di pelosok desa di Kabupaten Sampang ini mendapatkan banyak penghargaan dan memenangkan banyak kompetisi, baik daerah dan nasional. 

Pertama yang dilakukan Nurudz Dzalam adalah menghadirkan guru-guru yang sesuai dengan bidang kemampuannya dan dibutuhkan oleh sekolah. Hal tersebut dibuktikan dengan semua guru-guru yang mengajar di sekolah ini sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya, dan mata pelajaran yang diampu oleh setiap guru sesuai dengan bidangnya, bahkan di antara guru di tempat ini sedang  menyelesaikan S3 di sebuah perguruan tinggi ternama. 

"100% guru-guru di sini mengajar sesuai dengan bidang keahliannya" kata ketua Yayasan dalam sambutannya di acara wisuda YPI Nurudz Dzolam ke 16. 

Ini gila, tetapi nyata. Mampu menghadirkan guru-guru terbaik itu tidak mudah, apalagi di tempat yang sulit diakses oleh kendaraan umum, dan berada di pelosok desa. Karena mereka tidak hanya berkhidmah, tetapi juga butuh bisyarah, dari mana bisyarah itu? Ini yang masih menjadi pertanyaan saya. Apakah ada unit usaha yang dikelola YPI? Atau SPP-nya tinggi?, yang kedua ini tidak mungkin, karena keinginan yayasan untuk para siswanya adalah digratiskan dari semua biaya, bahkan yang ingin melanjutkan kuliah akan dibiayai sampai selesai. Keren kan?!. 

Syiar yang terpampang di background prosesi wisuda ke 16 adalah "Nurudz Dholam Menembus Batas", dan ini bukan hanya kecap manis, tetapi sebuah karya nyata. Sekolah di pelosok desa ini mampu menciptakan berbagai produk atau karya siswa yang diperhitungkan. Di antaranya adalah Batik Fitrah sudah mau menembus Eropa dan Amerika. Belum lagi produk makanan khas Madura yang laris manis di beberapa Online shop. 

Maka tidak heran, jika YPI Nurudz Dholam akan mendirikan pesantren gratis, dengan fasilitas terbaik untuk para dhuafa. Hal ini langsung diamini oleh kepala Kemenag Sampang, Drs. Irsyad yang juga hadir dan memberi sambutan pada acara wisuda tersebut. Pesantren ini insyallah mampu diwujudkan, karena sekolah ini memiliki pengelolaan prekonomian yang baik. 

Kedua, literatur yang memadai, sekolah ini memiliki 6 ribu literatur. Bahan literatur yang cukup melimpah berada di sebuah desa yang terpencil adalah sesuatu yang luar biasa. Bagaimana buku-buku itu dihadirkan?, Ini pasti ada usaha ekstra dari pengelola lembaga. Dan buku-buku ini akan membuka cakrawala berfikir siswa dalam mengarungi berbagai ilmu pengetahuan. 

Awalnya saya tidak menduga ada sekolah berprestasi di sebuah dusun yang terpencil,  dengan akses jalan yang tidak terlalu bagus. Saya diundang untuk menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda Nurudz Dholam yang ke-16 ini oleh Ra Holil sebagai ketua YPI. Jam 18.00 saya sampai di terminal Sampang, dengan hati dag dig dug dor, karena di Blega Bangkalan tidak membuat lega, macet. Sedangkan jadwal penyampaian orasi dijadwalkan jam 19.00. Tapi, Alhamdulillah jam 19.20 sudah naik panggung, dan menyampaikan orasi sesuai tema yang disuguhkan panitia "Peluang dan Tantangan Lembaga Pendidikan Islam di Era Modern"

Dalam perjalanan dari terminal, panitia yang menjemput dari terminal banyak bercerita perihal sekolah dan pengembangannya ke depan, serta sosok Ra Holil, walau saya sendiri sudah cukup lama mengenal sosoknya di kampus dahulu, yang kebetulan satu kampus di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Orangnya smart, istiqamah, dan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan sesuatu. Ternyata, Ra Holil kembali ke tanah kelahirannya benar-benar mewujudkan keinginan itu. Banyak sekali terobosan-terobosan yang telah dilakukan, dan beberapa program yang akan dilakukan. Tidak hanya berskala nasional, tapi internasional. Mudah-mudahan terkabul segala keinginan YPI dan menjadi kebanggaan Sampang dan Indonesia.

Kemajuan sebuah lembaga itu memang tidak lepas dari sosok seseorang yang selalu menginpirasi, punya daya gedor, dan pikiran-pikirannya inovatif, kreatif dan tentunya selalu aktif dalam mengawal lembaga tersebut. Ra Kholil adalah sosoknya. Ia yang banyak menginisiasi berbagai kegiatan sekolah, dibantu dengan pengurus dan guru-guru yang jebat tentunya, serta dukungan berbagai pihak, sehingga sekolah ini tidak hanya lagi dilirik oleh kemenag dan Kemendikbut kabupaten Sampang, tetapi sudah dilirik oleh masyarakat luas. 

Dan sekolah ini,  telah banyak menjalin bekerjasama dengan berbagai universitas negeri dan swasta di Madura dan di Luar Madura. Luar biasa. 

Sampang, 15 Mei 2022
Pukul 22.00 wib 
Bajuh Kadungdung Sampang Madura

Sabtu, 14 Mei 2022

Menjadi Bahagia itu Pilihan

Halimi Zuhdy

Saya ditanya tentang bahagia oleh rondoniyat dan joblowiyun, "apa resep agar selalu bahagia pak ustadz?". 

Secara spontanitas saya jawab, "emang saya selalu bahagia tah? tidak juga. Ya... terkadang sedih, kadang bahagia, tapi selalu diusahakan untuk bahagia, karena kita akan rugi kalau hidup selalu dibuat sedih".

Dalam bahasa Arab, kata bahagia itu di antaranya adalah surur (سرور), sa'adah (سعادة), farah (فرح) dan lainnya, dan setiap katanya memiliki filosofis yang indah, surur itu tidak tampak, maka kebahagiaan itu tidak pernah dapat dilihat, ia bisa dirasakan dan yang merasakan adalah dirinya. 
Mengapa bahagia itu pilihan? Karena setiap orang pasti menghadapi masalah, dan dalam setiap masalah akan menemukan bahagia atau  kesedihan. Dari masalah yang dihadapi, misalnya. Ia akan menghadapi dengan bahagia atau dengan sedih. Disinilah cara pandang sangat memengaruhi diri seseorang. Pilihannya, adalah  bahagia atau sedih. Atau, ia tidak berhadapan dengan masalah apa pun, tetapi ia merasa. Dan rasa inilah yang kemudian akan menggiring seseorang pada rasa bahagia atau sedih. 

Ada resep menjadi bahagia dan agar selalu bahagia dari Sayyidana Ali dalam "Qawaid Al-Sa'adah al-Sab' li Amiril Mu'minin Ali bin Abi Thalib", tujuh kaidah atau prinsip bahagia yaitu

١. لاَتكْرِه أحَدا مَهْما اَخطَأ في حَقك
Jangan membenci siapa pun meski ia menyelisihi hakmu.

٢. لاتقْلقْ أبَدا مهما بلغت الهُموم
Jangan panik dan sedih meski deritamu memuncak

٣. عِشْ في بسَاطَة مهما علا شأنك
Hiduplah sederhana meski statusmu atau pangkatmu lebih tinggi.

٤. توقع خيْرا مهما كثر البلاء
Berharaplah kebaikan meski ujianmu bertubi-tubi.

٥. أعْط كثيْرا ولو حرمت
Berikan sebanyak yang kau punya meski kau sedang dalam kesulitan

٦. إبْتَسِمْ وَلوْ القلب يقطر دما
Tersenyumlah meski hatimu mengucurkan darah (sedih)

٧. لاَتقطَع دُعاءك لأخيك المسْلم بظهر الغيب
Janganlah kau berhenti berdoa untuk saudaramu yang muslim, walau ia tidak tampak darimu

Melakukan tujuh prinsip ini, butuh latihan. Namanya latihan, terkadang sukses, terkadang gagal. Tetapi, istiqamah dalam mengamalkan akan merasakan kebahagiaan.

Rabu, 11 Mei 2022

Buku Nahwu dan Sharaf 📚


Alhamdulillah. Hadir kitab nahwu dan saraf "At-Taysir fi Nahwi wal Sharfi" hasil tirakat di bulan Ramadan.

Kitab kaidah nahwu dan saraf, bukanlah hal baru bagi pembelajar bahasa Arab. Kajian tentang kaidah bahasa Arab itu sudah ada sejak lama, demikian juga dengan kitab dan buku yang mengkaji tentang ilmu ini, baik; sejarah, metode pembelajaran, analisis, dan praktiknya.
Buku ini, juga tidak jauh berbeda dengan buku-buku nahwu dan saraf lainnya, baik susunan dalam setiap babnya, dan juga penjelasan yang ada di dalamnya. 

𝐊𝐞𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐫𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩, 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡-𝐜𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 𝐬𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐚𝐤𝐫𝐚𝐛 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫. 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐬𝐲𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐪𝐬𝐢𝐦 (𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧) 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚. 📚

𝑫𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒊𝒍𝒆𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝒌𝒉𝒂𝒓𝒂𝒊𝒕 𝒂𝒍-𝒅𝒛𝒊𝒊𝒉𝒏𝒊𝒚𝒂𝒉 (𝒎𝒊𝒏𝒅 𝒎𝒂𝒑𝒑𝒊𝒏𝒈) 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒈𝒂𝒎𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒃𝒂𝒃 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒔𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕.🖍️

Buku yang disajikan secara mudah dan ringan ini, dapat digunakan bagi pemula yang ingin mulai belajar Bahasa Arab dan kitab kuning. Dan juga dapat digunakan oleh guru, ustadz dan dosen sebagai buku pegangan dalam mengajar, selain karena contoh-contohnya yang sudah sangat akrab dengan keseharian santri juga mudah untuk mengingatnya. 

Kehadiran buku ini, bukan untuk menambah beban “keruwetan” terhadap pembelajar bahasa Arab yang sudah menganggap bahwa nahwu dan saraf itu sulit, tetapi akan memberikan anggapan bahwa belajar nahwu dan saraf itu asyik. Maka, selain kehqdiran buku ini, juga akan hadir buku pelengkap yaitu “Tamrinat”. Buku ini sebagai pelengkap buku Al-Taysir fi Nahwi wa Sarfi, yaitu praktik membaca, memahami teks dan menulis bahasa Arab. Dan juga, dapat dipratikkan untuk dapat berbicara bahasa Arab. Insyallah.

Mempelajari buku “Tamrinat”, agar pembelajar 
dapat menguasai kemahiran bahasa Arab dan juga dapat membaca kitab kuning. 

Mudah-mudahan kehadiran buku "At-Taysir fi Nahwi wal Sharfi" dapat menambah hazanah keilmuan dalam pempelajari bahasa Al-Qur'an.

*****
Dan yang ingin memesan kitab "Mudah Belajar Nahwu dan Saraf" dapat menghubungi kontak berikut +62 858-1654-0904 (Vina). Dan hasil dari kitab tersebut akan dijariyahkan untuk pembangunan Pondok Darun Nun Malang.

Maaf edisi terbatas. Insyallah 50 pembeli pertama hanya seharga 50rb, boleh dong lebih

***
Penulis

Halimi Zuhdy
Savinatun Najah

Senin, 09 Mei 2022

Training Ramadhan yang Gagal?

Halimi Zuhdy 

"Tadz, workshopnya sukses geh?", tanya seseorang, setelah workshop kepenulisan itu usai.

"Alhamdulillah, sukses. Sudah ada yang bisa menyusun kalimat dengan baik dan benar, bahkan sudah ada yang menulis makalah cukup bagus". Jawab pak ustadz, sambil tersenyum bahagia.
***
"Tadz, muktamar yang kemarin bagaimana?" Tanya seseorang yang terlambat datang di muktamar yang diadakan oleh FKPJ.

"Alhamdulillah sukses, beberapa keputusan di dalamnya telah dihasilkan, dan juga telah terpilih nakhoda baru", jawab pak ustadz.

***
"Tadz, kalau training yang kemarin sukses geh?" tanya mas Lukman Hakim.

"Training nopo?" tadz Halim, masih bingung menjawabnya.

"Loh, masak pak ustadz, boten paham?". Mas Lukman sambil tertawa.

"Bener, kulo tidak ikut traning beberapa bulan terakhir", tadz halim tambah bingung. Karena, ia sudah lama tidak ikut training apa pun dalam beberapa bulan terakhir ini. 

"Niku tadz, traning Ramadhan!" Jawab mas Lukman.

"Ya Allah, enggeh, kulo tidak sadar. Nopo geh hasilnya? Kulo juga bingung, kok selama 1 bulan ikut training Ramadhan sepertinya kulo belum merasakan hasilnya. Tidak ber-ghibah hanya bertahan selama Ramadhan, setelah Idul Fitri lanjut ghibah lagi. Sedih kulo" tadz Halim sambil menatap tembok yang bertuliskan La'lakum Tattaqun.

Tadz Halim terus melanjutkan renungannya, "Ngaji juga berkurang, seharusnya pasca Ramadhan tambah rajin ngaji dan taklim. Setelah Halal bi Halal sama tetangga, eh malah gunjing tetangga yang lainnya. Sampun minta maaf ke pak Ridha, beberapa menit, ngomongin pak Ridha. Ke kantor geh sami, baru mengucapkan mohon maaf lahir batin, eh ghibah lagi"

Tadz Halim menahan nafas panjang, dan...."Dan anehnya, yang seharusnya setelah training ramadhan kulo rajin ke masjid, malah setiap adzan memanggil tidak peduli panggilan itu, ketika bulan Ramadhan langsung ambil wudu' lo. Kemarin ketika Shalat Tarawih dan Shubuh rajin ke masjid, sak niki pun aras-arasen". Tadz Halim seperti merasakan penyesalan yang luar biasa, mengapa ikut workshop, seminar, muktamar yang hanya beberapa hari kelihatan hasilnya, tetapi pelatihan selamat satu bulan ini seperti tidak ada bekasnya.

"Berarti pak ustadz, juga merasakannya geh?" Mas Lukman memancing jawaban tadz Halim yang lagi terdiam cukup lama.

"Apa saya termasuk orang yang sia-sia melakukan puasa ya, seperti hadis Nabi, banyak orang yang berpuasa tetapi hanya memperoleh lapar dan dahaga. Ya Allah, mungkin saya harus memperbaiki diri, terkadang kuantitas ibadah tidak dibarengi dengan kwalitasnya, ini saatnya untuk selalu menjadikan Ramadhan di luar Ramadhan, karena Allah bukan hanya Tuhan di bulan Ramadhan tetapi Tuhan di seluruh bulan", tadz Halim berterima kasih pada Mas Lukman yang telah mengingatkan traning dahsyat, tetapi tidka banyak yang berhasil dan keluar sebagai pemenang yang sesungguhnya.

"Berarti niku benar-benar kembali Fitrah Tadz?!" Mas Lukman, sepertinya memancing tadz Halim untuk berbicara.

"He..he.., kembali ke fitrah sebelum Ramadhan, atau kembali ke masa anak (bayi)?! Jenengan niku wonten mawon. Yang dimaksud kembali ke Fitrah niku adalah kembali suci, karena telah melakukan pensucian dan pembersihan diri selama bulan Ramadhan, bukan kembali kepada kejelekan seperti sebelum Ramadhan". Tadz Halim, paham yang diinginkan Mas Lukman. 

"Mas Lukman, mari mumpung masih bulan Syawal, kita renungkan kembali La 'Alakum Tattaqun, kita jaga kwalitas ibadah, perbaiki akhlak kita, dan traning selama Ramadhan kita jaga dengan baik syukur-syukur kita bertambah baik dan menjadi manusia yang bertakwa pada Allah". Tadz Halim menutup perbincangannya.

Malang, 7 Syawal 1443 H (9 Mei 2022)

***
Baca tulisan sebelumnya "Hari Raya, Kok Masih Ribut"

Sabtu, 07 Mei 2022

Hari Raya, Kok Masih Ribut

Membina Keluarga Sakinah

Halimi Zuhdy

"Kok bisa ya, mulai dari Ramadan sampai sekarang, di hari raya ini, ia masih saja ribut sama istrinya?" Kata seorang tetangga kampung. 

"Ribut dengan keluarga, tidak mengenal waktu kok, kadang juga tidak pilih-pilih tempat, di hari yang indah seperti ini saja bisa ribut, apalagi setelahnya", teman di sebelahnya menimpali, sambil menyeruput kopi hitamnya ditemani rokoknya yang masih separuh.

"Embuh, kadang gayanya saja mesra, tetapi di rumahnya saling pukul, saling cakar, dan keduanya tidak ada yang ngalah, seperti radio rusak setiap hari, bising sekali!". Totok yang tidak terlalu peduli dengan perbincangan tadi, juga ikut nimbrung. 

Perbincangan seperti di atas, banyak menghiasi rumah tangga yang masih labil. Masih selalu ribut dalam keluarganya. Karena belum kuat akar cintanya, dan lebih kuat akar nafsunya. Jika, hal tersebut terus dipelihara "akar nafsu yang lebih kuat", maka yang terjadi adalah keributan tanpa jeda.

Cara membedakan cinta dan nafsu, mungkin agak sulit, tapi sekilas dapat dilihat dari cara memandangnya, kalau ia melihat kebaikan dari dirinya, maka itu cinta. Tetapi, kalau ia selalu melihat kekurangannya, maka lebih pada nafsu.

Contoh sangat sederhana, seorang suami yang cinta sama istrinya, maka melihat bekas jerawat di wajah istrinya seperti bekas bintang yang pernah bersinar di pipinya. Tetapi kalau suami melihat dari kacamata nafsu pada bekas jerawat istrinya,   ia seperti melihat lubang sumur hitam, atau bekas las listrik yang menghitam, jelek sekali. Dan selalu mengatakan padanya, "kalau pakai bedak yang benar, tutupi tuh joroknya, agar saya tidak malu bersamamu". 

Memandang pasangan, seperti memandang vast bunga. Istri ketika melihat suami dengan pandangan jelek, maka apa pun yang terlihat olehnya akan terlihat jelek. Demikian juga sang suami ketika melihat istrinya. Tetapi, sebaliknya kalau mengedepankan cinta (mawaddah), maka akan muncul kasih sayang (rahmah). Dan tercipta kedamaian dan ketenganan (sakinah).

Tidak ada pasangan yang sempurna, baik sang suami atau sang istri. Pastilah keduanya punya kekurangan, bahkan kalau dilihat dan diteliti lebih mendalam dengan ukuran nafsu, yang terlihat adalah kekurangan dan kekuranganya, mengapa? Karena manusia lebih suka mengukur dan membandingkan dengan orang lain yang dianggap lebih sempurna. 

Memandang pasangan akan terlihat indah dengan segala kekurangannya, jika setiap kekurangannya selalu ditutupi kelebihannya. Dan setiap kesalahan yang diperbuat pasangan, akan dimaafkan apabila yang terlihat adalah kebaikan-kebaikan suami/istri sebelumnya. 
Meminjam bahasa Al-Qur'an,

 إِنَّ ٱلۡحَسَنَـٰتِ یُذۡهِبۡنَ ٱلسَّیِّـَٔاتِۚ

Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.[Surat Hud: 114]

Kalau beduk cinta sudah ditabuh, maka takbir harus selalu dikumandangkan. Takbir akan kebesaranNya, yang telah menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan. Merawat rahmah yang dititipkanNya, merawat sakinah yang telah termaktub dalam AyatNya, dan memeluk mawaddah bersama.

*****
Foto hanya pemanis😁 tanpa istri (sebagai fotografer)

Kamis, 05 Mei 2022

Menisbatkan Tulisan pada Penulisnya

Halimi Zuhdy

Ketika seseorang membaca tulisan seorang penulis atau seorang penceramah, atau siapa pun yang mengantarkan ide itu terengkuh, terkadang ada yang enggan mencantumkan ide sang penulis di dalam tulisannya, seakan-akan idenya adalah lahir dari dirinya, atau seakan-akan tulisannya murni dari dirinya. 

menarik apa yang didawuhkan Syekh Ibnu Abdi al-Bar terkait dengan keberkahan ilmu, yaitu ketika seseorang menisbatkan ilmu pada penulisnya, 

"Termasuk dari keberkahan ilmu, adalah engkau menisbatkan/mencantumkan sesuatu (ilmu) pada orang yang mengatakannya. Maka, janganlah engkau menisbatkan ilmu pada dirimu sendiri, bahkan apabila ada seseorang yang mengutip sesuatu darimu, katakanlah "ilmu ini saya dapatkan dari seorang alim yang bernama fulan, atau ilmu ini saya baca dari kitab karya fulan". Demikianlah, bila hal tersebut dilakukan, engkau akan mendapatkan keberkahan ilmu itu".

 نسبة العلم إلى أهله:

قال ابن عبد البر: (إن من بركة العلم أن تضيف الشيء إلى قائله)، فلا تنسب العلم إلى نفسك بل إذا أفادك أحد بفائدة فقل هذه الفائدة استفدتها من العالم الفلاني، أو هذه الفائدة قرأتها في الكتاب الفلاني، وهكذا، فعند ذلك تحصل لك البركة في العلم.

Dan di dunia perWAG-an, banyak tulisan-tulisan yang tersebar di grup tanpa penulis dan bahkan dengan sengaja menghapus penulisnya, dan ada yang menggantinya dengan penulis lainnya.

Senin, 02 Mei 2022

Dingin tidak Cukup Menyelamatkan Nabi Ibrahim


Halimi Zuhdy

Setelah kata Bardan (dingin) diikuti kata Salaman (selamat). Mengapa?

 قُلۡنَا یَـٰنَارُ كُونِی بَرۡدࣰا وَسَلَـٰمًا عَلَىٰۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ 
Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (Al-Anbiya', 69).

Seandainya api yang lagi membara itu hanya dibuat dingin, maka mungkin tubuh Nabi Ibrahim akan beku dan kemudian meninggal dunia. Sebagaimana kata Sayyidina Ali, kemudian Api itu menjadi dingin baginya, hampir-hampir membuat Nabi Ibrahim meninggal. Kemudian terdengar salam (keselamatan), dan selamatlah Nabi Ibrahim.
Demikian pula kata Ibnu Abbas, andai dingin itu tidak diikuti dengan salaman (keselamatan), maka Nabi Ibrahim akan merasakan dingin yang luar biasa, dan niscaya ia akan meninggal dunia. Dan mungkin, tidak akan ada lagi nyala api di muka bumi karena dinginnya. Dan setelah api itu padam, tiba-tiba mereka ( menyaksikan dibakarnya Ibrahim) melihat seseorang keluar bersama Nabi Ibrahim dari dalam kobaran api, dan ia mengusap dahi Ibrahim yang berkeringat. Seseorang itu adalah Malaikat Al-dhil, dan kemudian Allah menurunkan api yang dapat memberi manfaat pada anak cucu Adam. Demikian dengan salaman. (Al-Tabari).

Banyak riwayat, di balik kisah dibakarnya Nabi Ibrahim, sebagaimana yang diceritakan Abi Al-'Aliyah, dengan As-salam (keselamatan), dinginnya tidak membuat Nabi Ibrahim sakit. Dan andai tidak ada "salaman", maka dinginnya akan terasa lebih dahsyat dari bara apinya. 

Sungguh betapa Allah memberikan keindahan dalam dinginnya Nabi Ibrahim dengan keselamatan. Laksana hujan yang menetes dari langit, ditemani angin, dan ditemani  rahmatnya dan manfaatnya. Allahumma shaiban nafia, demikian ajaran doa Nabi Muhammad. 

Maka, mengaca dari kisah Nabi Ibrahim, tidak cukup meminta ilmu yang banyak kepada Allah tanpa melanjutkan dengan bermanfaat. Demikian pula dengan rizki, keturunan, dan permohonan lainnya. 

Memiliki segudang ilmu itu penting, tetapi ilmu yang bermanfaat. Maka dalam doa yang sering kita panjatkan kepada Allah "ilman nafian" (ilmu yang bermanfaat). Karena tidak cukup banyak ilmu, atau bahkan ilmunya sundul langit tetapi ia hanya bagai gundukan sampah, tidak berguna untuk masyarakat. Kealimannya, kepintarannya, hanya untuk dirinya atau hanya kepentingan pribadi atau untuk akal-akalannya saja, bukan untuk memberikan kemanfaatan pada orang lain. Atau hanya untuk dunianya, tidak untuk akhiratnya. Atau ilmu hanya untuk ilmu, bukan untuk diamalkan. Sehingga ilmu menjadi penghalang masuk surganya. 

Demikian pula dengan memohon rizki kepadaNya. Rizqan halalan Tayyiban wa sian (rizki yang halal, baik dan melimpah). Banyak orang diberikan rizki yang melimpah, tapi tidak halal, ada pula yang halal, tapi tidak baik untuknya. Belum lagi keberkahan dari rizki yang dimintanya. Allahumma barik lana fi arzaqina. 

Demikian juga dengan memohon keturunan padaNya, keturunan yang baik (shaleh). Tempat tinggal, kendaraan, teman, pasangan, orang tua, dan lainnya. Allahumma bariklana fima a'thaitana (Ya Allah, berkatilah apa yang telah Engkau berikan pada kami). 

Tidak cukup dengan dingin menyelamatkan Nabi Ibrahim, maka butuh salaman. Demikian pula dengan apa yang kita mohon padaNya tentang sesuatu, maka butuh sesuatu yang lain yang menyertainya. 

******

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)

Sumenep, 1 Mai 2022 (29 Ramadhan, 1443 H)

****
Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, Kajian Ramadhan 30 hari, dan Mutiara Hikmah lainnya 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy. com
🎞️ YouTube: Lil Jamik
📲  FB: Halimi Zuhdy
📷 IG: Halimizuhdy3011
🐦 Twitter: Halimi Zuhdy
🗜️ Tiktok:  ibnuzuhdy

Kamis, 14 April 2022

Menelisik Asal Makna Maghfirah

Halimi Zuhdy

"Masak sih, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang akan datang?, Kalau dosa-dosa yang telah lalu itu wajar untuk diampuni, karena kita telah berbuat dosa kemudian Allah ampuni, tapi kalau belum dikerjakan, atau kita mengerjakan dosa-dosa besar apakah diampuni?" tanya seorang jamaah pengajian. 
Cuplikan pertanyaan di atas  yang memicu tulisan sederhana ini ditulis. Sebenarnya pertanyaan di atas juga sederhana, tidak butuh dalil, tinggal dijawab, "kalau Allah berkehendak, maka tidak ada dosa-dosa yang tidak diampuni olehNya, semua dosa, baik besar dan kecil dapat diampuni oleh Allah". Tetapi, bagaimana dengan redaksi hadis "wa ma ta'akhar" dosa-dosa yang akan datang?

Toyyib. Kita kaji dulu arti maghfirah (ampunan) secara  etimologi. Maghfirah berasal dari kata ghafara (غفر) yang bermakna tabir, selubung (الستر), penutup, tutup (التغطية). Kata mighfar (المغفر) bermakna penutup kepala, seperti songkok, atau helm yang sering digunakan dalam peperangan. Kata ghiffarah bermakna baju besi, sedangkan ghaffarah, adalah sejenis jubah paderi. 

Dari beberapa kata yang berhubungan dengan gha-fa- ra adalah bermakna tutup. Bagaimana dengan "maghfirah" dari Allah atau kata yang berakar dari ghafara? 

Terdapat beberapa istilah yang sering kita dengar; istighfar (memohon maghfirah), maghfirah (ampunan, tutup), gaffar (Maha Pengampun), maghfur lah (semoga diampuni, orang mati, ghafur (Maha Pengampun), ghafir (pengampun), ghufran (ampunan), ghafirah, dan beberapa kata lainnya. 

Kata Maghfirah adalah menutupi. Seperti doa "Allahummaf fir dzunubana", Ya Allah tutupilah dosa-dosa kami, atau sering diterjemah dengan ampunilah dosa-dosa kami. Apa yang dimaksud dengan Allah menutupi dalam kata ini?

Ada beberapa arti dari makna menutupi, yaitu menutupi keburukan atau kejelekan seseorang. Karena tidak ada manusia yang tidak punya cela, kejelekan atau keburukan, maka seseorang yang dapat maghfirah, adalah mereka yang ditutupi keburukannya. Atau juga menutupi dosa-dosa yang telah dilakukan seseorang. 

Betapa manusia dipenuhi keburukan, baik secara fisik atau dhahir. Kalau seandainya dibuka kulit yang menyelimuti tulang dan isi perut, maka akan tersingkap kotoran-kotoran fisik manusia. Belum lagi kotoran hati; iri, dengki, dan lainnya, yang seandainya dibuka, maka akan terlihat semua keburukannya. Belum lagi keburukan dari perilaku-perilaku manusia. Maghfirah min dzunub menutup dosa-dosa.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10220778405279168&id=1508880804

Dan selain makna menutupi, juga bermakna ampunan dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Maka, kata Istighfar adalah permohonan seseorang akan ampunan Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan juga diartikan dengan permohonan ampun seorang hamba Allah setelah melihat keburukan dari kemaksiatan yang telah ia lakukan. Atau seseorang yang memohon ampun pada Allah setelah melakukan keburukan atau dosa-dosa.

التّعريفات التي يُعرَّف بها اصطلاحاً، وقد نصَّ عليها العلماء في عدّة مواضع، ومن تعريفات الاستغفار: هو طلب العبد المغفرة من الله تعالى بعد رؤية قُبح المعصية، والإعراض عنها،تعريف الاستغفار أيضاً بأنّه: طلب العفو من الله تعالى عمَّا اقترف العبدُ من ذنوبٍ وآثام.

Bagaimana dengan "Allah akan mengampuni dosa-dosa yang akan datang"? Sebagaimana pertanyaan dari salah satu jamaah di awal tulisan ini. Di antaranya adalah Allah memalingkan seseorang dari keburukan, sehingga tidak melakukan dosa. Atau Allah menutupi berbagai jalan-jalan keburukan, sehingga orang tersebut tidak melakukan dosa-dosa. 

Maka, memperbanyak istighfar kepadaNya, akan dapat meringankan beban beran dalam kehidupan, karena setiap dosa terdapat konsekwensinya, demikian juga setiap kebaikan yang diperbuat juga akan mendapatkan konsekwensinya. 
Mudah mudahan puasa di bulan Ramadhan ini dosa-dosa kita diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala.

Allahu'lam bishawab.

*****
_Ket Gambar bersama siswa/santri Ma'had Al-Qalam MAN 2 Malang, ketika mengisi acara "Menjadi Manusia Pembelajar"._


*Kajian Ramadhan lainnya 👇🏻 1443 H*
1. Mengenal Tarhib Ramadhan, megengan dll
2. Perbedaan "Inni Raiytu" dan "Inni Ara"
3. Tiga Golongan Pertama Kali Masuk Neraka
4. Perbedaan "Tanazzal" dan "Tatanazzala"
5. Ringanya Berpuasa dalam Al-Qur'an (Kajian Uslub Al-Qur'an)
6. Kajian Yuridullahu bikum al-Yusro wala Yuridu bukum Al-Usra
7. Inni Shaimun, Mempertegas Diri
8. Perbedaan Qira'ah, Tartil dan Tilawah
9. 300 kata dalam Al-Qur'an yang terkadang disalah pahami
10. Penggunaan kata Al-Kafirun dalam Surat Al Kafirun
11. Analisis Kata dalam Al-Qur'an Falinafsih
12. Melirik kata Maghfirah

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  FB *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Minggu, 10 April 2022

300 Kata dalam Al-Quran yang Terkadang Salah Dipahami

Halimi Zuhdy

Ini bukan tentang Saifuddin Ibrahim al-ghauri yang minta 300 Ayat Al-Qur'an untuk dihapus. Menurutnya, 300 Ayat itu sumber kekerasan dan terorisme, pemicu radikal dan intoleran. Ia sebenarnya tidak paham Al-Qur'an, walau pernah ngaji dan mengkaji tapi mungkin hanya sekilas info. Tidak beneran ngajinya. Atau ngajinya asal-asalan. Al-Qur'an itu tidak bisa hanya sehari dua hari untuk dipahami. Tidak cukup satu dua tahun untuk dikaji. Butuh waktu panjang, panjang sekali. Tidak hanya panjang waktunya, tetapi butuh kesungguhan dalam mengkajinya.


Dan tidak cukup satu ilmu untuk memahaminya, butuh banyak ilmu. Toh kalau ada terjemahan hari ini, itu bukan hanya karena tahu arti kata bahasa Arabnya saja, tetapi butuh kitab tafsir. Dan mereka pun tidak langsung merujuk pada Al-Qur'an, tetapi masih membaca nanyak tafsir-tafsir Al-Qur'an, seperti tafsir al-Tabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, tafsir al-Baghawi dan kitab tafsir lainnya. Belum lagi tafsir yang Al-Qur'an yang lebih menitik beratkan kepada balaghah dan lughahnya, kosa kata, dan lainnya. Belum lagi jenis atau macam-macam tafsirnya, bil ma'tsur, bilra'i, bil isyarah, dan lainnya. Buanyak sekali.

Itu baru menerjemah lo, belum menjadi mufassir. Menjadi mufassir berat, berat sekali. Mungkin kalau diukur dengan fisik, lebih berat dari memikul gunung. Bisa dibayangkan, ia harus alim dalam ilmu nahwu, ilmu sharraf, ilmu lughah, ilmu etimologi Arab, ilmu balaghah dengan muatannya, ilmu usuluddin, ilmu qira'ah, ilmu nasikh mansukh, ilmu ushul fiqih, ilmu hadis, asbab nuzul dan masih buuuuanyak lagi.

Belum lagi adabnya, punya sikap jujur, lapang dada, berakhlak baik dan sifat-sifat yang baik lainnya. Ini tidak sembarang orang. Mau percaya sama Saifuddin atau Saifudain? Lewat. Ia qira'ah saja mungkin belum paham, hadisnya beberapa kali didengar belepotan, dan aduh ngeri. Eh, minta untuk menghapus 300 Ayat. Toh, kalau ada Ayat tentang jihad, itu bukan tentang kekerasan bro, tetapi terkadang untuk menahan, melawan dan bergerak untuk kemaslahatan. Dikira orang punya celurit untuk membunuh orang, bukan bro. Punya clurit untuk cari rumput, memotong pisang untuk makan, gitu lo. Di dalamnya ada surga, ia juga ada neraka. Masak surga saja? Bagaimana pak saifuddin membangun logika?

Kebanyakan hari ini, bukanlah mufassir tapi pembaca tafsir, dan itu sudah luar biasa lo membaca tafsir. (Walau peluang untuk menjadi mufassir masih terus terbuka lebar). Karena ilmu Allah itu tidak dibatasi waktu dan tempat tinggal, ia diberikan kepada yang dikehendaki, dan juga bagi orang yang juhd wal ijtihad dalam mencarinya.

Kok jadi ngelantur ke bro Saifuddin Ibrahim sih. Inni shaimun.

Tayyib. Ini tentang kitab Tsalasa Mi'ah Kalimah Qur'aniyah qat Tufham Khathoan karya Abdul Majid bin Ibrahim Al-Sanid. 300 kata dalam Al-Qur'an yang terkadang keliru dipahami.

Al-Qur'an memang hadir bukan hanya untuk dibaca (dalam artian dibaca dengan bersuara saja), tetapi juga ditadabburi, dan untuk mentadabburi harus memahami kosa kata (mufradat, lafal) di dalamnya.  Dan kosa kata dalam Al-Qur'an tidak semuanya dapat dipahami begitu saja, apalagi hanya mengambil kamus sederhana. Tidak cukup. Maka, butuh pendamping-pemdamping lainnya di antaranya adalah kitab tafsir. Dan kitab ini, menjelaskan kosa kata yang terkadang salah diipahami. Terdapat 300 kosa kata yang dibahas oleh muallif.

Beberapa contoh dalam kitab tersebut adalah; kata dhanna (ظن), kalau di dalam kamus kita akan mendapati arti "menyangka", dan mungkin kalau kita baca Ayat ini, akan kita artikan dengan mereka "menyangka" atau "menduka"
{ ٱلَّذِینَ یَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ رَبِّهِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَیۡهِ رَ ٰ⁠جِعُونَ }
(Surat Al-Baqarah: 46)
Ternyata artinya bukan menyangka, tetapi "meyakini" (يتيقنون).

Contoh lainnya kata Yastahyu (يستحيون), mungkin kita artikan malu atau mempermalukan. Tetapi dalam Ayat, tidak diartikan demikian, tetapi bermakna meninggalkan, membiarkan (يتركون).
وَیَسۡتَحۡیُونَ نِسَاۤءَكُمۡۚ
Artinya, "mereka membiarkan anak-anak perempuanmu".

Ada juga kata Qoryah (قرية), yang mungkin kita artikan desa. Desa adalah bagian dari kota. Tetapi, dalam Ayat ini, menurut Abdul Majid, bukan kota kecil (atau desa yang sering kita pahami), tetapi qaryah adalah negeri (tidak ada bedanya, besar atau kecil).
وَإِذۡ قُلۡنَا ٱدۡخُلُوا۟ هَـٰذِهِ ٱلۡقَرۡیَةَ
[Surat Al-Baqarah: 58].

Saya masih contoh lagi, yang ada dalam kitab tersebut, yaitu kata Sujjada (سجدا), sekilas langsung akan kita artikan dengan sujud, yaitu meletakkan kepala di atas sajadah atau tanah dengan menempelkan dahi. Ternyata artinya bukan sujud, tetapi ruku'.
وَٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡبَابَ سُجَّدࣰا
Artinya, "Masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk". 

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang menarik untuk dikaji dan dibaca dalam kitab ini. (Silahkan undah kitabnya, atau japri saya).

Al-Qur'an sangat kaya dengan kosa kata, dipenuhi berbagai makna, dan untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan mereka-reka, butuh keseriusan dalam mengkajinya. Dan Alhamdulillah, ulama-ulama kita sudah menyuguhkan kitab al-Qur'an terjemahan yang dapat menjadi obat bagi yang tidak atau belum memahami bahasa Arab. Atau juga dapat menjadi pembanding bagi yang sudah belajar bahasa Arab. Al-Qur'an itu samudera, tidak cukup dalam hidupnya yang berumur sampai 60 tahun atau lebih untuk menyelamnya atau berkeliling dengan bahteranya di samudera itu.

Allahu'alam Bishawab.

Kajian Ramadhan lainnya 👇🏻
1. Mengenal Tarhib Ramadhan, megengan dll
2. Perbedaan "Inni Raiytu" dan "Inni Ara"
3. Tiga Golongan Pertama Kali Masuk Neraka
4. Perbedaan "Tanazzal" dan "Tatanazzala"
5. Ringanya Berpuasa dalam Al-Qur'an (Kajian Uslub Al-Qur'an)
6. Kajian Yuridullahu bikum al-Yusro wala Yuridu bukum Al-Usra
7. Inni Shaimun, Mempertegas Diri
8. Perbedaan Qira'ah, Tartil dan Tilawah
9. 300 kata dalam Al-Qur'an yang terkadang disalah pahami

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube: Lil Jamik
📲  FB: Halimi Zuhdy
📷 IG: Halimizuhdy3011
🐦 Twitter: Halimi Zuhdy
🗜️ Tiktok: ibnuzuhdy

Rabu, 06 April 2022

Ringannya Berpuasa dalam Ayat Al-Qur'an

(al-Uslub al-Balaghi)

Halimi Zuhdy

Puasa termasuk ibadah yang dianggap berat. Terasa berat dilakukan, tidak hanya oleh anak kecil, tetapi juga orang dewasa. Dan tidak semua orang dewasa menerima perintah berpuasa dengan bahagia, karena ibadah ini dianggap ibadah yang paling berat, selain ibadah haji. Selain menahan makan, minum, berhubungan  suami istri juga menahan aktivitas yang mengantarkan pada hilangnya pahala puasa, seperti berdusta, ghibah, adu domba dan lainnya.
Ketika seseorang mendengar kata puasa, maka yang ada dalam pikiran mayoritas mereka adalah tidak makan dan tidak minum, sedangkan keduanya adalah hal yang paling pokok dalam kehidupan mereka sehari-hari, apalagi yang punya rutinitas berat; ngopi, ngerokok, olah raga, bekerja berat dan lainnya. Butuh tenaga kuat untuk menahan dan butuh tenaga dalam bekerja. 

{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ }

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Surat Al-Baqarah: 183)

Dalam Ayat-Ayat puasa, pilihan kata-kata yang ada di dalamnya membawa pembaca pada anggapan, bahwa kewajiban puasa terasa ringan dan mudah. Seperti kata Kutiba (كُتب) yang bermakna diwajibkan, pada asalnya kata ini bermakna tulisan dari kata Ki-Ta-Ba (كتابة), menulis sesuatu di atas batu, kain atau kertas. Kata Kitabah sebagai kiasan (kinayah) terhadap ketetapan hukum, hukum kewajiban puasa. Ia ditulis, dicatat, diabadikan, ditetapkan. Kata Kutiba terasa ringan bagi seseorang, dibandingkan dengan kata Wujiba, Furida, dan Ulzima. Tiga kata terakhir terasa lebih berat, walau sama-sama kewajiban, tetapi dampak secara psikis terasa berbeda. Dicatat atau ditulis, serasa lebih ringan.

Dan juga kata Kutiba (Kutiba) menggunakan fi'il madhi majhul, serasa memberi kabar yang indah dan terasa enjoy. Tidak menyebutkan secara langsung siapa yang memerintahkan. "Diwajibkan bagi kalian berpuasa". 

Belum lagi kata Alaikum (عليكم) yang didahulukan dari kata As-Shiyam (الصيام). Munada (yang dipanggil) serasa lebih ringan dan mudah melakukan puasa, karena kata shiam ini berada setelah jar majrur (alaikum), karena sebelumnya sudah ada penekanan-penekanan dengan menunjuk atas kalian. Demikian pendapat Yusuf Alyawi.

Serasa lebih ringan dalam melakukan puasa, jika mengetahui puasa yang akan dilakukannya, maka dalam Ayat di atas, kata As-Shiyam menggunakan Al-Ta'rif (الصيام). Berbeda dengan kewajiban puasa yang belum dikenal sebelumnya. 

Belum lagi, kalimat  "Kama Kutiba 'alal ladzina minqablikum", dan "La'allakum Tattaqun". Puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat Muhammad, tetapi umat sebelumnya juga diberikan beban yang sama, mungkin lebih. Artinya, kalau ada yang mengeluh beratnya cobaan, masalah, dan musykilah, ternyata masalah yang diberikan kepada kita bukan satu-satunya masalah, masih masih banyak masalah yang lebih berat yang diberikan kepada orang lain. Sedangkan puasa bukan masalah, ia adalah solusi. 

Dan Ayat ini diakhiri dengan sebuah harapan (raja'), la'alla. Seberat apa pun masalah itu, kalau masih harapan, maka akan terasa ringa. Bagaimana harapan itu adalah harapan yang menggembirakan?. Masyallah, akan terasa indah. 

Marja'
Al-Tabir Al-Qur'any
Al-Asalib Al-Balaghiyah Fi Taysir Shiyam fi Al-Qur'an

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10220745128247263&id=1508880804

*Kajian Ramadhan #4*

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  FB *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Senin, 04 April 2022

Tiga Golongan Pertama Kali Masuk Neraka

Halimi Zuhdy

Sedih sekali ketika mengaca di cermin, untuk apa sebenarnya sosok di hadapan cermin ini?. Melihat wajah untuk dibanggakan, ternyata paras wajah biasa-biasa saja, tidak bisa dijual. Melihat rambut juga sama, tidak pantas dijadikan iklan sampu atau minyak rambut. Demikian juga dengan anggota lainnya, tidak layak untuk dijual. Kalau dijual memang laku berapa? Tidak ada harganya, siapa pula yang mau membeli, kalau toh dijual mungkin lebih murah dari daging sapi di pasar.


Bagaimana dengan gelar, pangkat, kehormatan, dan sebutan-sebutan lainnya yang dibanggakan?, mungkin bisa dibeli atau dicari, tetapi berhentinya hanya di dunia. Setelah ia meninggal, urusannya sudah berbeda. mungkin anak cucunya menikmatinya, tetapi bagaimana dengan sosok yang telah meninggal? Apakah akan dapat menghalanginya dari siksa kubur ketika namanya disebut dengan gelarnya secara lengkap?.

Malaikat tidak butuh gelar, pangkat, kehormatan untuk dilampirkan dalam pemeriksaan, para Malaikat hanya menanyakan siapakah Tuhanmu, Nabimu, dan beberapa pertanyaan lainnya, dan tentunya adalah amal salehnya di dunia. Bukan putranya siapa?, Bukan berapa gelar di depan dan di belakang namanya? Bukan pula sederet piala dan kejuaraan yang telah diraih? Juga bukan kedudukannya di masyarakat?, Dan juga bukan seberapa banyak yang telah menjadi pengikutnya, baik di dunia nyata dan di dunia maya?. Atau seberapa banyak kekayaan di dunia?.

Si penulis ini juga sama, belum bisa menata hati, masih selalu bertanya pada dirinya, wa ma ba’da al-maut, dan apa persiapan setelah meninggal nantinya?. Tulisan ini berangkat dari hadis Rasulullah Shallahu alaihi wasallam, yang menurut kaca mata sederhana, orang-orang ini layak masuk surga, bukan wajib lo ya, “layak”, “pantas”, atau kalau mereka masuk neraka, mereka berada di deretan paling “belakang”. Tetapi, pada hadis berikut, tidak demikian. Mereka pertama kali masuk ke dalam neraka. Habib Jufri dalam ceramahnya menambahkan “Mereka lebih awal masuk neraka dari pada Fir’un, iblis dan Haman”. Sungguh mengerikan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ  رواه مسلم (1905).

Tiga golongan yang masuk pertama kali ke neraka pada hari kiamat adalah mujahid (orang yang berjihad), qari’ (alim), dan dermawan. Tentunya, bukan sembarang mujahid, qari’ atau dermawan lo.

Allah bertanya kepadanya (mujahid, syahid): 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).

Berikutnya, orang yang mengaku Alim, Qari’ (pembaca Al-Qur’an) yang kemudian dimasukkan ke neraka, “Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).'

Berikutnya mereka yang bersedekah agar disebut orang dermawan, “Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.'’.

Ketiga golongan yang dimasukkan ke neraka pertama kali bukan hanya karena mereka alim (qari’), mujahid, dan dermawan. Tetapi mereka melakukan itu semua, karena hanya ingin mendapatkan sebutan dengan si Alim, Si Mujahid, dan si dermawan.

Riya’, mungkin kata yang lebih tepat. Kerena riya’ (pamer) itulah yang mengantarkan mereka menuju tempat yang tidak diharapkan oleh semua orang, neraka. Riya’ sangat sulit dilihat, diterka, apalagi dipastikan. Karena urusan riya’ adalah urusan hati dari masing-masing manusia. Maka, walau pun si Mujahid mengatakan “Aku semata-mata berperang karena Engkau” tetapi kemudian dibantah oleh Allah, “Engkau dusta, Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani”.

Demikian juga dengan pencari ilmu, agar dikatakan nantinya sebagai orang alim, atau dikatakan ahli qur’an, atau dikatakan qari’ atau sebutan lainnya, 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata: 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari'. Demikian juga dengan orang yang berderma, agar mendapatkan gelar dermawan, atau mereka menyanjungnya menjadi orang yang suka memberi.

Ya Allah, selamatkan kami dari sifat-sifat yang tidak baik, yang dapat mengantarkan kami ke nerakamu.

Sabtu, 02 April 2022

Anak Gagal Masuk Sekolah "A"

Halimi Zuhdy

"Tadz, anak saya tidak lulus tes, apa anak saya tidak pinter ya?", kata Pak Dahlan setelah membuka surat hasil ujian masuk sekolah anaknya. 

"Bukan tidak pintar Pak Dahlan, mungkin anak Bapak tidak cocok di sekolah A", saya jawab dengan spontan.
"Ia tadz, memang tidak cocok, karena sekolah tersebut hanya memilih anak-anak yang pintar, anak saya kan bodoh, makanya anak saya tidak cocok sekolah di sini!", ia masih terlihat sedih sekali, apalagi di sampingnya ada istrinya yang tidak mampu menyembunyikan wajahnya, karena air matanya tak mampu ia tahan untuk terus menetes.

"Bukan seperti itu Bapak, anak Bapak itu hebat dan luar biasa. Karena setiap anak yang lahir ke muka bumi memiliki keistimewaan masing-masing yang Allah berikan, dan tentunya mereka hebat-hebat, begitu Bapak. Mungkin sekolah itu tidak cocok untuk anak Bapak". Saya mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan tidak cocok tersebut. 

Sering kali kita dengar keluh kesah beberapa orang tua seperti kalimat di atas dan beberapa kalimat lainnya yang tidak jauh berbeda,  ketika anak-anak mereka tidak diterima di perguruan tinggi, sekolah, madrasah, atau lembaga-lembaga yang mereka favoritkan.

Terkadang mereka menyalahkan anak-anaknya, atau juga menyalahkan sekolahannya, dan terkadang mereka merasa kiamat karena tidak diterima di tempat yang sudah menjadi tujuannya, seakan-akan tidak ada tempat lain yang lebih bagus lagi.

Terkait dengan cerita di atas, saya mendapatkan ilmu dari seorang pengasuh salah satu pondok masyhur di Jawa Tengah. Bermula dari surat yang dibungkus amplop putih, yang di dalamnya tertulis beberapa kalimat dan beberapa kata yang dicoret "lulus/tidak lulus". Sebelum amplop itu saya robek, saya dengarkan sambutan Kyai tersebut. Saya lihat Kyai menarik nafas panjang, kemudian diam, dengan suaranya yang lembut dan pelan, ia seperti mau merangkai kalimat yang terbaik untuk orang tua yang hadir di sana, "Putra atau putri bapak/ibu yang belum diterima di pondok ini, bukan berarti anak bapak/ibu tidak hebat, hanya saja pondok ini tidak cocok dengan putra bapak, seperti biji tanaman dengan kwalitas yang bagus kemudian dipaksa di tanam di tempat yang tidak cocok, maka hasilkan tidak tidak tumbuh dengan baik bahkan rusak ". 

Kalimat yang cukup menarik dan sangat mengena sekali, dan menjadi obat penenang, terutama bagi mereka yang datang dari jauh dengan berbagai perjuangannya, dan tertulis tidak dalam surat itu TIDAK LULUS. 

Saya jadi teringat, tidak ada anak lahir di dunia yang tidak istimewa, semua adalah hadiah terbaik yang Allah berikan pada dunia, tetapi dalam perjalanannya yang kemudian berubah, pergaulan, lingkungan, dan lainnya, sehingga semuanya berubah sesuai dengan yang mengitarinya. Tetapi, kehadirannya ke muka bumi adalah pilihan terbaik, karena satu benih berjuang dengan benih-benih lainnya, tetapi yang terpilih adalah yang lahir di bumi. Bukankah itu, adalah pilihan terbaikNya. 

Tidak semua lembaga yang dianggap favorit itu cocok dengan anak didik, bisa saja lembaga yang biasa-biasa saja itu lebih cocok suasananya, kurikulumnya, dan metodenya.  Seperti biji kurma dengan kwalitas terbaik, yang ditanam di tempat yang tidak tepat, misalnya ditanam di sawah, maka biji tersebut tidak akan pernah tumbuh dengan baik, bahkan rusak. 

Bukan biji atau sawahnya yang tidak baik, tetapi biji tersebut ditanam di tempat yang tidak cocok.

Kurma bisa tumbuh di negeri tropis, tetapi kebanyakan kurma tumbuh di negeri gurun. Sawah yang subur, tidak baik untuk biji ini, tetapi gurun yang kering lebih cocok untuk biji kurma tersebut. Maka, biji dan tempat yang cocok (sesuai) akan menghasilkan tumbuhan yang bagus. 

Demikian juga dengan anak. Anak yang tidak masuk pada sekolah yang diangap favorit belum tentu anaknya tidak hebat, bisa saja tidak cocok dengan tempat itu, maka tidak sedikit anak yang berada di tempat yang dinggap luar biasa, tetapi anak tersebut tidak tumbuh dengan baik. Tetapi sebaliknya, kadang tempat yang biasa-biasa (lembaga), menghasilkan anak yang luar biasa.

Maka, orang tua tidak harus galau bila anaknya tidak diterima di lembaga tertentu. Karena sangat banyak lembaga yang lebih cocok  dengan karakter sang anak. Banyak orang menjadi hebat tidak dalam lembaga yang diinginkan, bahkan lembaga yang tidak diinginkan sebelumnya mampu mengangkatnya menjadi hebat. Maka, tetap husnudhan padaNya, atas pilihan terbaikNya. Bukankah pilihanNya, tetap yang lebih baik?. Dan kegagalan anak tidak harus disesali, bisa saja kegagalan itulah yang dapat menjadikannya ia tangguh, menjadi manusia pembelajar dalam setiap kondisi. 

Mudah-mudahan anak-anak kita diberikan tempat yang terbaik untuk berproses menjadi hamba Allah yang terbaik. 

Allahu'alam Bishawab

Rabu, 30 Maret 2022

Mengapa dalam Ayat Al-Qur'an termaktub Mahidh bukan Haid?

(Tentang Darah Perempuan)

Halimi Zuhdy

Beberapa minggu yang lalu al-faqir sedikit mengurai tentang Haid di chenel Lil Jamik, mengapa Haid dinamaka Haid? Nanti bisa dilirik ya.😍

Dan yang menarik lagi, masih tentang haid. Mengapa Al-Qur'an menyebutkan kata Mahidh bukan Haid dalam Surat Al-Baqarah, Ayat 222;

وَیَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِیضِۖ قُلۡ هُوَ أَذࣰى فَٱعۡتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَاۤءَ فِی ٱلۡمَحِیضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ یَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَیۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, "Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci.Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu".
Sebelum mengkaji kata Mahidh dalam Ayat di atas, penting untuk sedikit mengulas Asbab Nuzulnya.   Dalam kitab Al-Tahrir wa Tanwir, Ayat tersebut bermula dari pertanyaan Abu Ad-Dahdats dan beberapa sahabat. Mereka bertanya pada Nabi tentang hukum haid, karena melihat tradisi orang Yahudi yang benar-benar menjauhi istri-istri dan para wanita mereka ketika menstruasi (haid), mereka mengusirnya jauh-jauh. Tidak mau tinggal satu atap rumah. Mereka dianggap sangat najis, tidak hanya tubuh mereka, tetapi apa pun yang disentuh oleh mereka juga najis. Ngeri.he

Orang-orang Yahudi ketika itu juga tidak mau makan dan minum dengan wanita yang sedang haid, bahkan mereka tidak boleh melayani kebutuhan apa pun dari kaum laki-laki selama haid itu.

Bila para wanita Yahudi datang bulan, dan ada yang menyentuhnya, maka yang menyentuh wanita tersebut dianggap najis sampai sore hari. Bila menyentuh tempat (kasur, tikar) maka bajunya harus dicuci sanpai bersih. Dan bila berhubungan dengan wanita haid maka dianggap najis selama 7 hari.  Yang juga dikutip dari Al-Ishaha. 

Tradisi buruk Yahudi tersebut kemudian diikuti oleh orang Arab pada masa Jahiliyah. Tetapi sebaliknya dengan tradisi orang-orang Nasrani, mereka tidak membedakan wanita yang sedang datang bulan (haid) atau pun tidak, mereka tetap melakukan hubungan suami istri, mereka tidak peduli dengan wanita-wanita mereka yang haid. 

Dari pertanyaan sahabat itulah, Allah turunkan Ayat "wayas'aluna an al-Mahidh..." untuk meluruskan tradisi buruk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan Islam tidak terlalu ekstrim seperti Yahudi yang sampai mengusir Istrinya ketika haid, dan juga tidak seperti Nasrani yang menggauli istrinya dalam keadaan haid. Islam, baina huma.

Kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa Ayat di atas  menggunakan kata Mahidh (المحيض), tidak Haid (الحيض)?. Menarik apa yang disampaikan oleh Prof Badruddin, bahwa kata "haid" hanya mengandung satu makna yaitu darah yang keluar dari kelenjar (ghadad) perempuan dewasa, atau juga dikenal dengan darah menstruasi. Andai yang termaktub "mereka bertanya padamu tentang haid (الحيض), maka katakanlah bahwa ia adalah sesuatu yang kotor", maka niscaya yang menjadi larangan hanyalah darah saja.

Sedangkan Al-Mahidh adalah Masdar Mim, Ism Makan (nama tempat), dan Ism Zaman (kata yang menunjukkan waktu), maka kata Mahidh meliputi tiga makna, yaitu; darah (الدم), tempat darah (مكان الدم) dan waktu keluarnya darah (زمان الدم), sebagai ganti dari Ayat;
ويسألونك عن الحيض ومكانه وزمانه
Mereka bertanya padamu tentang haid, tempat dan waktunya.

Maka, cukuplah tiga pertanyaan dengan satu kata "Al-mahid" yang sudah mengandung tiga makna tersebut. Dan jawaban dari tiga pertanyaan tersebut dijawab dengan "Qul Hua Adza, katakanlah bahwa ia adalah sesuatu yang kotor", sedangkan jawaban dari tempatnya haid (farji) adalah "Fa'tazilun nisa' fil al-Mahid, maka jauhilah wanita itu (istri) ketika haid. Dan jawaban ketika terkait dengan waktu haid (berhentinya darah) adalah Ayat, "wala taqrabu hunna hatta yathurn, dan janganlah kau dekati mereka sampai mereka suci".

Satu kata, tapi mengandung berbagai makna yang meliputinya. Pertanyaan dengan tiga jawaban yang berbeda. Asyik. Kajian Balaghah Al-Qur'an yang sangat asyik. 

Allahu'alam Bishawab.

***
Gambar google

Selasa, 29 Maret 2022

Coba Diam Sejenak! (Belajar dari kasus Mas Will Smith)

Halimi Zuhdy

Seandainya Mas Will Smith diam sejenak saja, mungkin tidak akan terjadi aksi pemukulan di atas panggung Oscar 2022 yang menghebohkan itu. 

Mas Chris Rock si tukang lelocon menyentuh bagian sensitif dari hati Mas Will, istrinya. Mas Chris menyentil penampilan Mbak Jada Pinkett Smith, sang istri Will Smith, yang botak karena mengidap alopecia. Waduh. 
Walau beberapa psikolog mengatakan bahwa pemukulan itu hal wajar, karena yang disentuh adalah persoalan sensitif. Walau di sisi lain, mendaratkan tangannya di atas panggung yang menghebohkan dunia itu juga dinilai tidak baik. Coba Mas Will diam sejenak saja, mungkin ia dapat mengambil keputusan lain yang lebih bijak. 

Nasi sudah jadi bubur. Sudah tidak mungkin mengulangnya lagi di atas panggung.  Tangannya sudah menggores pipi mas Chris. Bara sudah membakar. Bagaimana lagi, tinggal mengheningkan cipta. Dan menyesalinya.

Mas Will kemudian menulis permohonan maaf atas kejadian di atas panggung yang paling disorot itu. "Saya melewati batas, dan saya bersalah. Saya  malu sekali, dan perilaku yang saya tampilkan itu bukanlah perilaku laki-laki yang saya inginkan. Tidak ada tempat untuk kekerasan di dunia yang penuh cinta dan kebaikan," tulis Mas Will di IGnya. 

Diam sejenak saja. Mungkin, tidak akan terjadi hal yang buruk itu. Diam sejenak saja, maka air itu akan bening dari keruh. Diam sejenak saja, semuanya akan terlihat indah. 

Kejadian di atas sebenarnya pelajaran untuk kita, di berbagai panggung kehidupan kita. Tidak hanya di panggung yang disorot banyak mata. Tetapi panggung WA, FB, IG, TikTok, dan media lainnya. Atau panggung paling dekat dengan kehidupan kita, di rumah, lingkungan, tempat kerja, dan di berbagai panggung lainnya, di mana kita berada bersama orang lain. 

Di media sosial. Tangan kadang gatel sekali. Setiap kalimat muncul dari status seseorang, tangan langsung breaksi. Setiap orang berbisik tentang kita, amarah langsung membuncah. Ketika amarah sudah membara, sulit sekali dipadamkan. "Sebelum ia membakar, belumlah sukses", kata nafsu. Ditahan jadi penyakit, dilepas tambah membuat sakit. Terus bagaimana? Diam sejenak saja, semuanya akan baik-baik saja.

Maka, penting sekali untuk diam sejenak. Tidak reaksionis. Berfikir akan akibat yang akan ditimbulkannya. Bila kaca itu sudah pencah, secanggih bagaimana pun menyambungnya, maka tidak akan pernah kembali pada asalnya. Akan ada sisa yang tergores. Luka yang akan selalu diingat. Dan hanya penyesalan yang selalu teringat. Sesal.

Ada tips dari Nabi Muhammad saw. "Jika kalian marah, diamlah." (HR. Ahmad). Untuk diam memang terkadang sulit sekali, apalagi si dia terus ngoceh, kepala dan hati sudah membara. Memaksa diri untuk diam sudah tidak mungkin,"Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad).

Diam sejenak. Air itu akan terlihat bening. Marah sejenak, api itu kan menghanguskan.

Sabtu, 26 Maret 2022

Mengenal Kata "Ruh"

Halimi Zuhdy

Beberapa minggu terakhir ini, ruh menjadi perbincangan hangat. Memang, apa pun yang dikaji tentang ruh atau seputar ruh pasti akan hangat, apalagi ada yang terasa baru dari kajian-kajian sebelumnya. 
Mengapa ruh akan terus menarik? karena ruh adalah "min amri rabbi" (urusan Tuhan), kalau toh kita diberikan pengetahuan tentangnya, hanyalah sedikit, tidak seberapa. Dan tidak sedikit ulama dan para cedikiawan yang diam apabila membahas tentang asal usul ruh, mereka lebih hati-hati dari pada berbuat hal yang dianggap menyimpang. 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Tetapi, tulisan ini tidak mengkaji tentang nama ruh, atau asal usul ruh, atau ruh itu sendiri. Hanya ingin sedikit mengurai korelasi kata ruh dengan beberapa kata yang ada dalam bahasa Arab, atau mungkin juga bagian dari istiqaqnya, yaitu; راح يروح (pergi), ريح (angin), روِح (luas, lapang), استراحة(rehat), راحة (segar, enak, rehat), الروح (kebahagiaan), الروح (hakekat), ريح (bau),  ترويح(), ليلة روحة(malam yang indah), مراح (tempat istirahat, atau kadang), تراويح (shalat tarawih),روح العمل (inti, atau pokok pekerjaan) beberapa kata dengan makna lainnya seperti cepat, sepoi-sepoi, nafas. 

Dan juga yang terkait dengan kata ruh ini sagat banyak, misalnya, Ruh Qudus adalah sebutan lain dari Malaikat Jibril, ada Ruh al-Adham adalah Allah subhanahu wata’ala, ada pula kata-kata modern yang diikuti dengan kata ruh, seperti  Ruh Tijariyah, Ruh al-Nabidz, Ruh Amal, Ruh al-Kalam, dan lainnya.

Dari sekian kata yang berkorelasi dengan ruh di atas, ruh ada sesuatu yang tidak tampak, tidak terlihat oleh mata, dan ia sangat samar, tetapi ia sangat terasa dalam kehidupan kita. Dan dalam Al-Qur’an terdapat 14 kali disebutkan, ini pun perbeda-beda dalam pemaknaanya. Menarik bila dikaji lebih dalam.  Para mutashawwifun menganggap ruh adalah sumber keindahan, sumber kehidupan dan moral yang baik, berbeda dengan Nafs, yang dianggap sebagai sumber hal yang tercela. Keduanya cukup pelik pelik untuk dipahami, kecuali bagi pembelajar yang memang konsen dalam hal ini. 

Allahu'alam Bishawab

Mengenal Kata "Tarhib Ramadhan", Megengan, Munggahan, Padusan, Meugang wa ghairiha

Halimi Zuhdy

Riuh. Marak. Asyik. Sorak. Gembita dalam beribadah. Mungkin kata-kata di atas sedikit lebay, tetapi itulah kenyataannya. Ramadhan dapat sambutan yang sangat meriah, tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh penjuru dunia yang di dalamnya berdiam umat Islam. 

Ibadah dalam bahagia. Inilah ibadah yang disambut dengan gagap gembita. Puasa yang senyap dan sepi, tetapi disambut dengan riang gembira. Puasa yang menakutkan, karena menahan lapar dan haus, tetapi disambut dengan lapang dada. Seperti pengantin, ia ditunggu kehadirannya dengan senyum lebar. Laksana kehadira  air di gurun sahara, bagi mereka yang dahaga.
Saking bahagianya. Masyarakat Indonesia menyambutnya dengan berbagai kegiatan dan aktifitas. Hal ini dapat dilihat dari berbagai istilah yang dikenal dalam masyarakat Indonesia, ada; Tarhib Ramadhan, Munggahan, Megibung, Padusan, Jalur Pacu, Nyorog, Malamang, Dugderan, Meugang, Dandangan, Balimau, Perlon Unggahan, Ziarah Kubro, Suro’baca, Megengan, Nyadran, Gebyar Ki Aji Tunggal dan beberapa istilah lainnya. 

Banyaknya istilah yang tersiar menandakan Ramadhan adalah bulan istimewa bagi masyarakatnya. Hal tersebut adalah hal positif, apalagi kegiatan-kegiatan tersebut bagian dari syiar menghidupkan Ramadhan. Tetapi, kegiatan yang masih dalam batas kewajaran dalam syariat Islam, tidak ada hal aneh-aneh, yang dianggap nyeleneh. Atau masih dalam akulturasi nilai-nilai dari masa dulu ke masa kini.

Orang awam (masyarakat umum) dulu agak aneh menyebut istilah shaum, karena yang dikenal adalah puasa, tapi sekarang ia menjadi hal yang keren. Shaum. Dulu tidak akrab dengan istilah qiyamullain, tetapi lebih dikenal bangun malam atau tahajjut, tetapi sekarang menjadi kata yang biasa. Demikian dengan istilah-istilah lainnya. Bahasa akan terus merebut hati siapa saja, sepanjang ia mengakrabinya dan unik didengarkannya. 

Di Indonesia, beberapa tahun terakhir kita dengar istilah baru ketika fajar Ramadhan akan datang bertandang yaitu "Tarhib Ramadhan". Kata asing. Ia, benar. Ini kata asing. Kata ini bukan dari bahasa daerah yang berada di Indonesia, tetapi berasal dari bahasa Arab, seperti kata shaum dan  shalat. Bukan seperti kata sembahyang dan puasa yang sudah lebih dulu dikenal. 

Tarhib (ترحيب). Artinya penyambutan. Bila ditilik lebih jauh, kata ini dari Rahiba-Yarhabu-Rahaban (رحبا) bermakna Ittasa'a (melebarkan, meluaskan, melapangkan). 

Kata ini dalam bahasa Arab digunakan untuk sambutan, sambutan apa saja. Bukan diperuntukkan untuk Ramadhan saja. Seperti kalamat al-Tarhib (kata sambutan), menyambut mudir, presiden, dan lainnya.

Atau mudahnya, kata Tarhib adalah ungkapan selamat datang atas kedatangan seseorang, atau kehadiran sesuatu yang indah. Sama dengan ungkapan "Marhaban". Yaitu "Aku sambut engkau dengan penuh kelapangan hati dan pikiran, juga aku sambut engkau dengan seluruh jiwa dan ragaku". Demikian. 

Ada pula yang masih terkait dengan kata ini, yaitu Rihab (رحاب), Ruhbah (رحبة), Tarhab (ترحاب.) dan beberapa kata lainnya, yang artinya tidak jauh berbeda; tanah lapang, luas, tempat yang luasa, ramah, senang, bahagia, dengan tangan terbuka. 

Tarhib Ramadhan. Adalah menyambut bulan Ramadhan dengan senang hati, dengan tangan terbuka, dengan penuh kebahagiaan baik jiwa dan raga. 

Bagaimana Tarhib Ramadhan di Indonesia?. Sesuai dengan kreasi masyarakat yang menyambutnya. Ada dengan kajian-kajian fiqih puasa. Ada pula dengan halaqah-halaqah seputar bulan Ramadhan, dan lainnya. 

Di Indonesia, kata Tarhibnya mungkin baru. Tetapi tradisi sambuta sudah lama, walau kegiatannya berbeda-beda, dengan istilah yang berbeda-beda pula. Ada Meggengan, tradisi Jawa, yang dimulai dari ziarah kubur kemudian mengundang makan bersama dengan makanan tertentu yang dipenuhi dengan filosofis. Meggengan, menahan. Menahan dari hal-hal yang mengurangi pahala puasa, atau yang membatalkan puasa.

Dalam masyarakat Sunda juga dikenal dengan istilah Munggahan. Munggah, naik. Naik pada derajat berikutnya. Naik ke bukan suci. Bentuk kegiatannya juga bervareasi. 

Dan demikian pula dalam masyarakat lainnya di wilayah Indonesia. Kaya tradisi. Berbagai sambutan untuk bukan suci. 

Menyambut Ramadhan bukan untuk leha-leha, atau berhura-hura, atau bersorak-sarai, atau gagap gembita seperti menyambut artis. Ia datang untuk disyukuri. Ia datang untuk disambut dengan berbagai keindahan yang dicintai oleh Pemilik Semesta.

Bagaimana kita menyambutnya? Dianjurkan untuk kita menyambutnya dengan banyak berpuasa sebelum bulan ini tiba. Bertaubat. Memperbaiki ibadah kita. Membeningkan hati. Dan kegiatan-kegiatan ibadah lainnya. Doa-doa di bulan Rajab dan Sya'ban dilantunkan, agar kita berada di dalam bulan suci. Salaf shaleh, enam bulan sebelum memasuki Ramadhan, sudah memohon kepada Allah agar dapat berada di bulan yang dipenuhi dengan keberkahan ini. 

كان السلف الصالح يسألون الله ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ثم يسألونه ستة أشهر أن يتقبله منهم.

Kita menyambutnya dengan apa?

Ya Rabb, ballighna Ramadhan. 

Malang, 26 Maret 2022.

Selasa, 22 Maret 2022

Salah Anggapan tentang Karomah/Keramat

Halimi Zuhdy

"Ada pemahaman yang keliru di masyarakat" kata seorang syekh, "Yaitu, seseorang yang diberikan kekayaan atau limpahan dunia oleh Allah, mereka dianggap mendapatkan sebuah kemuliaan (kekeramatan, keramat), yang benar adalah, mereka mendapatkan cobaan dan ujian". Nabi Sulaiman ketika melihat  kerajaannya yang begitu megah mengatakan,
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)"

من أخطر المفاهيم ظن الإنسان أن الله يعطيه الدنيا كرامة له، والحق أنها ابتلاء واختبار. قال سليمان عن ملكه

﴿ هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر ﴾

******
Yang menarik dari kata "karomah", banyak yang menganggap bahwa karomah adalah kesaktian, sehingga orang Indonesia juga menyebutkan dengan kata keramat. Keramat dari kata bahasa Arab yaitu Karomah (كرامة), dalam Kamus Bahasa Indonesia (kbbi) adalah orang suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan, atau  suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (tentang barang atau tempat suci). 

Atau mudahnya orang keramat adalah mereka yang sakti madraguna, bisa terbang, berjalan di atas air, ditikam tidak mempan, dan kesaktian lainnya. Tetapi itu diberikan kepada awliya' Allah (kekasih Allah), bukan dukun, atau tempat-tempat yang dipenuhi kesyirikan. 

يعد كرامة من الله تعالى لذلك العبد ، فالشياطين قد يعينون أولياءهم بأنواع العجائب والغرائب ، فالكرامة لها معالم تدل عليها من أهمها الكرامة من الله تعالى ، وليست من فعل العبد ؛ فالله تعالى هو الذي يخرق العادة لمن شاء متى شاء.

Bagaimana dengan mereka yang kaya raya yang diberi limpahan harta? Membaca dari perkataan Sang Syekh tadi, dengan mengutip Ayat Al-Qur'an yang disampaikan Nabi Sulaiman, bahwa kelebihan harta atau juga lainnya, itu bagian dari ujian, apakah ia kemudian mampu mensyukuri atau kufur terhadap nikmatnya. 

Banyak orang yang punya kelebihan dibandingkan kebanyakan orang, walau tidak beriman kepada Allah dianggap wali atau sakti atau keramat, inilah kekeliruan yang sudah melagenda. 

Dan yang menarik juga, kata "Kafir" yang lebih dikenal dan akrab ditelinga kita adalah mereka yang menyekutukan Tuhan, tidak bertuhan atau mereka yang di luar Islam. Tetapi terkadang lupa, orang yang ingkar terhadap nikmat Allah juga masuk katagori kafir. 

Kafir dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah ada 4 macam, kafir munkar, kafir juhud, kafir nifaq, kafir inad. Dan kufur nikmat masuk katagori kufur nifaq. Sering tidak disadari seseorang, tidak bersyukur atas pemberian Allah, baik pemberian kenikamatan harian, mingguan, tahunan, atau nikmat-nikmat lainnya yang tidak pernah bisa dihitung. Mengeluhnya lebih banyak dari mensyukurinya. Nangislah lebih sering dari senyumnya. 

Mengapa tidak bersyukur disebut kufur? Maka, inilah yang perlu direnungkan lebih dalam. Sama dengan apa yang ditulis Kyai Afifuddin Muhajir, "orang lebih takut makan babi, dari pada makan hasil korupsi".

Minggu, 20 Maret 2022

Hukum Menulis Kaligrafi Arab dengan Bentuk Hewan

Halimi Zuhdy

Ada beberapa pertanyaan, ketika kemarin saya mengirimkan maket gedung UIN Malang dengan lafaz Bismillah yang akan menjadi bangunan pertama di dunia. Pertanyaannya, apakah dalam bangunan yang berlafaz Basmalah tersebut ada toiletnya?, Bagaimana hukum buang air kecil atau besar di bawah lafaz yang bertuliskan kalimat Tahyyibah?. Dan beberapa pertanyaan lainnya. 
Beberapa pertanyaan tersebut belum saya jawab di kolom komentar dan di beberapa pesan lainya, saya yakin hal di atas sudah dikaji oleh para ahlinya, para arsitek, ahli hukum, pendidik dan para pakar lainnya yang terkait dengan bangunan itu. Seperti halnya label halal yang sudah dikeluarkan oleh kemenag juga melalui diskusi panjang oleh ahlinya. 

Dan dalam gonjang ganjing khat yang termaktub itu, katanya terbaca kata "haram (حرام)", "halak (حلاك)", "halak (هلاك)" dan tafsiran lainnya. Tapi, saya belum begitu percaya (masih ragu), karena yang berbicara bukan ahlinya, beda dengan master khat ketika meniliknya. Tulisan Kyai Didin Sirojuddin Ar benar-benar memberikan membuka pemahaman utuh tentang makna tulisan tersebut, silahkan baca tulisan beliau yang berjudul Kilau Mutiara Kaligrafi Kufi: Logo حلال Itu. "Kaligrafi logo baru yang menggunakan khat Kufi ini jelas-jelas terbaca حلال, tapi لا (Lam Alifnya) bisa bias dan multi tafsi" kata beliau. 
Terus, bagaimana kalau menulis kaligrafi berbentuk hewan?. Saya membaca beberapa kitab dan beberapa fatawa di beberapa mawaqi', ada yang membolehkan, memakruhkan, dan ada pula yang mengharamkan dengan alasan karena berbentuk hewan, dan dihukumi sama dengan menggambar hewan. 

Apalagi tulisan kaligrafi yang menggunakan Ayat Al-Qur'an dengan berbentuk hewan, maka selain dianggap abast (main-main), juga berbentuk hewan, tidak mengagungkan Al-Qur'an, Al-Qur'an untuk dibaca bukan hanya sebagai hiasan belaka. Dalam dalam Mausu'ah al-Fatawa termaktub;

لا يجوز تشكيل الآيات القرآنية على هيئة إنسان أو أسد أو فرس أو غير ذلك من الحيوانات، لما في ذلك من الإهانة للآيات القرآنية، حيث يتطابق جزء منها مع بعض أعضاء الحيوان كالرجل والذنب، فضلًا عن أن هذه الأشكال معدة للتعليق، وتعليق صور ذات الأرواح ممنوع شرعًا، أما الآيات القرآنية على هيئة غير الحيوان كالشجر والزهور والثمار والجمادات فهو مباح شرعا، ما لم يكن على وضع فيه امتهان للآيات القرآنية.

Dan penjelasan akan ketidak bolehannya tersebut juga ada dalam al-Misyakat, Al-Musheer, dan beberapa muaqi' lainnya. Tapi, bila selain bentuk hewan atau makhluq yang bernyawa, diperbolehkan walau juga ada yang melarang.

قالوا : يجوز تصوير غير الحيوان كالأشجار والسفن والشمس والقمر أما الحيوان فإنه لا يحل تصويره سواء كان عاقلا أو غير عاقل . الفقه على المذاهب الأربعة

Tulisan di atas, tidak bermaksud membahas "Hukum boleh dan tidak boleh", tetapi hanya penulis membaca fenomena terkait dengan "Bahwa sesuatu yang ada di muka bumi ini" selalu berhubungan dengan agama, bagi yang beriman, bila berhubungan dengan agama, maka pasti ada hukum, mubah, haram, sunnah, makruh, dan lainnya. 
Dan terkait dengan hukum di atas, sudah banyak dibahas oleh para ahlinya. Dan mungkin ada penjabaran yang lebih detail dan lebih jelas terkait dengan hukum tersebut, ada ahlinya yang selalu menjelaskan hukum dengan menarik; Kyai Ma'ruf Khozin , Dr. Ahmad Sarwat , Gus Dr. Abdul Wahab Ahmad , Gus Achmad Shampton Masduqie dan pera pakar lainnya. 

Tapi, bagaimana jika hukum kaligrafi berbentuk hewan tersebut dilihat dari kaca mata para khattat (penulis kaligrafi)? Ini tambah menarik bila diulas lebih dalam. 
Secara umum tidak ada masalah dengan kaligrafinya, tetapi yang menjadi masalah adalah bila keligrafi itu kalimat tayyibah atau Ayat Al-Qur'an dengan bentuk tertentu. 

Belum lagi hukum menggantung kaligrafinya?!. Banyak juga perdebatannya, dari yang membolehkan, memakruhkan dan mengharamkannya. Allahu'alam bishawab

Kamis, 17 Maret 2022

Kampus Bismillah Pertama di Dunia

Halimi Zuhdy

Di atas bukit. Mata dimanja awan yang saling berkejaran. Sesekali embun menyapa, Sejuk. Setiap kali mata menyapu kampus yang baru selesai di lafal Ar-Rahim ini, seperti melihat hamparan permadani berwarna hijau. Asyik.
Ini kampus pertama di dunia yang bertuliskan huruf Arab, Bismillahirrahmanirahim (بسم الله الرحمن الرحيم). Seakan-akan kampus ini mengajak para mahasiswa, dosen dan masyarakat dunia, untuk terus mengagungkan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bismillah, tulisan keramat. Suatu perbuatan yang tidak didahului bismillah, maka terputus. Tak bermakna. 

Bangunan bertuliskan bismillah ini bukan hanya sekedar lafaz, tetapi penanda peradaban baru dunia akan dimulai dari tempat ini. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Insyallah. Itu sebuah cita-cita bersama. Maka harapan doa yang terbaik dari masyarakat Indonesia dan dunia.

Hari ini, di tempat ini, dilaksanakan Grand Launching Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang oleh Sultan Abdulrahman Al-Marshad, Chief Executive Officer the Saudi Fund For Development, dan hadir juga Yahya Hasan Al-Qahtani Wakil Duta Besar Kerajaan Saudi Arabiyah

Untuk membangun kampus 3 ini butuh dana besar. Kampus luasnya 100 hektar. SFD merupakan pemberi dana pembangunan Kampus 3 dari Kerajaan Arab Saudi. Dana yang diberikan diperkirakan kurang lebih senilai 1 triliun yang dimanfaatkan untuk pembangunan sarana prasarana yang estetik dan modern serta meningkatkan kualitas pendidikan UIN Malang. (kemenag).
Bila ambil gambar dari atas, maka akan tampak panorama indah beberapa gedung yang menjulang tinggi. Indahnya, bukan hanya karena lafaz Bismillah yang terpancar, tetapi setiap bangunan di dalamnya mengandung filosofis; masjid yang unik, ma'had dan laboratoriumnya, demikian juga dengan gedung-gedung lainnya yang didesain dengan arsitektur modern. Pokoknya asyik deh.

Juga, indahnya bukan hanya karena dipeluk oleh kabut di pagi hari, siangnya siraman mentari yang tak menyengat tubuh, malamnya seperti gemintang yang mengajak bermunajat. 
Kampus 3 UIN Malang ini dibangun menjadi Green and Smart Campus Terbaik di Dunia. Nantinya di kampus baru kami juga akan dikembangkan wisata edukasi. Bimasyiatillah.
****
_Bangga Menjadi Alumni dan bangga menjadi bagian dari Kampus Ini_ * ❤️

Minggu, 13 Maret 2022

Mengapa Halal Disebut Halal?

Halimi Zuhdy

Beberapa jam yang lalu, setelah diterbitkan logo baru oleh BPJPH Kemenag, beredar beberapa tulisan terkait dengan logo ini, ada yang menyebutnya dengan; Jawa sentris, tidak mewakili Indonesia, terlalu dipaksakan dan lainnya. Ada pula yang menulis bahwa tulisan yang ada di logo itu bukan Halal tetapi kata Haram (حرام), dengan alasan jika itu tulisan jenis Kufi, maka di bagian tengah ada huruf "Lam"  yang gaya penulisannya bisa terbaca huruf "Ra". 
Tapi, saya tidak ikut polemik di atas, karena saya tidak punya kapasitas tentang dunia per-logo-an, dan makna logo itu sudah dijelaskan oleh ketua BPJPH Bapak Muhammad Aqil Irham dengan menyebutkan bahwa logo terbaru tersebut memiliki bentuk yang terdiri dari bentuk Gunungan serta motif Surjan (Lurik Gunungan). Bentuk gunungan ini tersusun dari kaligrafi huruf Arab yakni huruf Ha, Lam, Alif, dan Lam yang membentuk kata Halal. Bentuk dari logo halal terbaru tersebut memiliki arti yakni semakin tinggi ilmu, semakin tua umur manusia, harus semakin mengerucut serta semakin dekat akan Tuhan. Sedangkan filosofi dari Surjan yakni agian leher pada baju Surjan mempunyai 3 pasang kancing yang mana artinya rukun iman. Sedangkan motif lurik yang terletak sejajar memiliki arti sebagai pembeda atau pembatas. Hal ini sejalan dengan tujuan diselenggarakannya jaminan produk halal yang ada di Indonesia.
Saya memahami logo apa pun atau ramz terkadang merasa ruwet, dan terkadang dengan sederhana. Sederhana, bila sudah dijelaskan oleh si pembuat logo, ya sudah selesai. Karena setiap logo bisa dimaknai dengan berbagai filosofis baik oleh yang sepakat atau tidak sepakat dengan logo itu. Bukankah logo itu dibuat untuk dipahami dengan lebih sederhana? Kalau sudah jelas dan dipahami, maka tidak lagi menjadi persoalan. Tapi, bagi yang belum paham dan masih terasa janggal, maka perlu dijelaskan dengan sejelas-jelasnya, itu pun juga tidak akan pernah jelas bagi yang memiliki perspektif lain.

Baik. Sebenarnya ada yang menarik untuk dilirik yaitu kata Halal itu sendiri, kata yang berada di dalam logo tersebut baik logo lama atau yang baru. Halal (حلال), adalah masdar (kata verbal/kata benda grundial) dari Hal-Yahillu. Kata yang terkait dengan kata Halal yang sering kita dengar adalah tahallul, hilal (tandu untuk perempuan), tahlil, muhallil, hillu dan hallu (waktu tahallul), hullah (pakain), ibnu halal (anak sah), al-sihru al-halal (permainan sulap), dan halal yang diartikan dengan sesuai hukum syariah, atau yang diperbolehkan.

Dan kata yang terkait dengan halla adalah bermakna memerdekakan diri (حل من), bebas, solusi (حَل), berdiri (حل ب), berhenti (حل), tetap (حل عليه), dicairkan (حُل الجامد), melepaskan, benar, dan masih puluhan kata yang berasal dari kata ini.

Kata halal ini tidak hanya digunakan untuk makanan (yang selama ini hanya ditemukan pada logo halal), tetapi juga pada hewan, pakaian, muamalah, dan sesuatu yang terkait dengan hukum syariat. Maka kata al-syar'i ada yang memaknai adalah dengan kata al-halal (seperti di atas). 

Syekh Ratib misalnya,  "Mengapa harta halal disebut halal, karena ia sesuai dengan yang diharapkan jiwa, atau jiwa merasa senang dan tenang. Mengapa harta haram, disebut haram. Kerena ia menghalangi seseorang untuk bahagia".

لماذا سمي المال الحلال حلالا، لأنه تحلو به النفس، والمال الحرام حراما لأنه يحرما السعادة. 

Dan dalam Al-Islam; 
سمي الحلال حلالا لانحلال عقدة الحظر عنه

Mengapa disebut Halal, karena mengurai dan melonggarkan (inhilal) tali/ikatan yang terlarang.

Dari beberapa kata yang terkait dengan kata halal di atas adalah, bahwa halal memberikan solusi, kemerdekaan/kebebasan, terurainya sesuatu yang terlarang, dan melepaskan sesuatu yang mengikat. 

Rasulullah saw. bersabda, “Mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Al-Thabarani dari Ibnu Mas’ud). Persoalan halal, bukan hal yang main-main dalam Islam, karena halal adalah bagian paling mendasar dalam agama. Sehingga kata halal disebut juga al-syari, yaitu syariat itu sendiri. 

Mengapa harus halal?, agar mendapatkan ridha Allah, terjaga kehidupannya, mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, dan memiliki akhlak yang baik. 

Dalam hadits Nabi saw disebutkan, ”Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (H.R. At-Thabrani).

. قال سهل بن عبد الله: "النجاة في ثلاثة: أكل الحلال، وأداء الفرائض، والاقتداء بالنبي -صلى الله عليه وسلم

Sahl bin Abdullah berkata, keberhasilan seseorang disebabkan tiga hal; mengkonsumsi yang halal, melaksanakan kewajiban dan mengikuti Nabi Muhammad sallalahu alaihi wasallam.

Asal Kata Shalat dan Shalawat

Shalat apakah yang sah tanpa berwudhu'? 
Bagi yang memahami kata ini, maka hanya tersenyum. Tapi, bila tidak memahaminya, maka hanya akan terheran-heran, kok bisa shalat tanpa wudhu' itu sah, apa dasarnya. 
Tayyib. Banyak yang memahami kata shalawat (صلاوات), hanya untuk mendoakan rahmat kepada Nabi, tetapi lupa/tidak tahu bahwa kata shalawat itu adalah jama' (plural) dari kata shalat. Maka, kata shalat dan shalawat itu sama. Selengkapnya dapat lirik di sini👇

Maqam Ibrahim dan Jejak Digital


Halimi Zuhdy

Maqam Ibrahim. Batu tempat berpijak Nabi Ibrahim ketika membangun Ka'bah. Di batu ini ada bekas atau jejak kaki beliau. Itu yang sering kita dengar dan kita pahami. Walau ada yang berpendapat, maqam Ibrahim adalah seluruh Masjid Al-Haram. 
Kata maqam itu dari kata qama-yaqumu-qiyaman yang bermakna berdiri. Maqam, tempat berdiri. Batu kecil sebagai sebuah penanda, bawa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pernah membangun Ka'bah. Nabi Ismail yang menyerahkan batu kecil ini kepada Ibrahim yang kemudian dibuat tempat berdiri. Maqam, kalau dalam bahasa Indonesia mungkin diartikan dengan petilasan, bahwa di tempat itu pernah didatangi oleh seseorang. Atau terdapat jejak seseorang yang pernah berdiam atau berbuat sesuatu di tempat itu. 

Dulu, Maqam Ibrahim menempel di dinding Ka'bah, tetapi pada masa Khalifah Umar bin Khattab di pindah beberapa meter menjauh dari Ka'bah. Ini batu bukan sembarang batu. Batu surga, demikian dalam beberapa riwayat. Pada masa Abbasiyah, batu kecil ini diikat dengan perak, dan ditutup, seperti sangkar ayam atau sangkar burung. 
Pernah saya ingin melihat isinya. Karena penasaran. Wajah saya dekatkan, tapi kemudian dibentak oleh seseorang yang berpakaian baju seragam mahasiswa (kalau di Indonesia seperti menwa atau tim pramuka), karena waktu itu musim haji, selain tentara yang mengatur jamaah juga ada mahasiswa. Saking dekatnya, saya seperti mencium kaca dan seperti memeluk dan mengelusnya, tapi kemudian saya bantah, bahwa saya tidak menciumnya. 

Sampai hari ini, Maqam Ibrahim menjadi perbincangan manusia dan menjadi sejarah yang tak terlupakan. Bahwa di sana, Nabi Ibrahim pernah berbuat, berkarya dan membangun. Membangun Ka'bah. 

Tayyib. Apa kaitannya dengan "media sosial" dalam judul di atas. Begini. Setiap perbuatan apa pun di muka bumi ini, pasti ada bekas dan jejaknya. Entah, itu perbuatan baik atau perbuatan buruk. Tidak ada yang menguap, toh kalau menguap itu hanya tersimpan di tempat yang kita tidak ketahui. 

Maqam Ibrahim. Adalah pelajaran yang luar biasa. Bahwa setiap manusia itu harus berkarya. Berkarya sesuai dengan kapasitasnya. Ada yang berkarya dengan membangun masjid, istana, Piramida, Borobudur, sekolah, pesantren, dan lainnya. Ada yang membuat jejak-jejak dengan karya lainnya, seperti menulis buku, melukis, mengukir, dan jejak-jejak lain yang terekam dadi masa ke masa. 

Media sosial. Yang pernah manusia isi di dalamnya berupa vedio, foto, tulisan, dan lainnya. Adalah jejak-jejak karya mereka. Bila mereka isinya berupa kebaikan, maka akan terekam terus sebagai kebaikan, dan demikian sebaliknya. 

Tidak hanya rekam dan jejak yang dibaca dan dilihat oleh manusia. Tetapi, ia juga akan dihisab, sekarang dan nanti di akhirat. Hari ini akan dihisab dan dipertanggungjawabkan di hadapan para pembaca, bila tidak sesuai akan dicemooh, bila sesuai dengan hati dan pikiran pembaca, ia akan dipuji dan dilike, tatapi hisab ini masih dalam kaca mata manusia. Selera manusia. Tetapi, di hadapanNya akan ada hisab menurutNya. Allahu'alam.

 Jejak berdiri seseorang atau petilasan di sebut Maqam, kalau tempat menumpahkan tulisan disebut Maqal. Semua yang telah diperbuat akan menjadi maqam-maqam dalam kehidupan seseorang. Maka, kita berharap, maqam kita adalah yang terbaik di hadapanNya. Rekam jejak kita adalah kebaikan.

*****
Foto google.