السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Selasa, 13 April 2021

Uslub Nida’ (panggilan) dalam al-Qur’an

Halimi zuhdy

Lawan bicara al-Qur’an itu bukan hanya orang Islam, tetapi semua umat manusia. Karena al-Qur’an hadir untuk memberi pencerahan kepada seluruh umat manusia, sebagaimana redaksi Hudan linnasi (petunjuk untuk manusia), bukan hanya hudan lil muslimin (petunjuk bagi umat Islam). Kehadiran al-Qur’an memberi petunjuk, menunjukkan jalan yang benar, meluruskan yang bengkok, dan sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil.  
Lawan bicara al-Qur’an itu beragam, hal ini dapat dilihat dari uslub Nida’ (panggilan) yang tidak hanya menggunakan “wahai orang-orang beriman” tetapi juga “Wahai orang-orang kafir”. Al-Qur’an mengajak berdialog, mendialogkan dirinya dengan realitas, dan mendialogkan keyakinan yang diyakini atau diingkari. Bahkan al-Qur’an menantang sesiap yang mengingkari untuk bersaing atau membuat seperti dirinya. 

Nida’ (panggilan) dalam al-Qur’an ada beberapa macam, yang paling banyak digunakan adalah panggilan untuk orang-orang yang beriman “Ya Ayyuhal ladzina Amanu, wahai orang-orang yang beriman”, redaksi ini terdapat di 89 tempat. Berikutnya untuk semua umat manusia “Ya Ayyuhannas, wahai manusia” terdapar 20 tempat. Panggilan kepada Nabi terdapat di 15 tempat, Ya Ayyuha al-rusulu, ya Ayuha nabi….. dan ada juga “ya Ayyuhal insan”, dan panggilan untuk orang kafir “ya Ayyuha al-kafirun”, “ya Ayyuhaladzina kafaru” Dan beberapa khitab lainnya. 

Tidak semua redaksi nida’ dalam al-Qur’an menggunakan “ya Ayyuha”, ada juga “ya ayyatuha” dan ada juga “ya”. Pemilihan adawat (bentuk panggilan, alat) nida’ bukan hanya karena jenis munada (yang dipanggil) laki-laki atau perempuan, tunggal atau jamak, tetapi ia memiliki makna dan fungsi tersendiri. Dan terkadang huruf (adat nida’) dalam Al-Qur’an tidak ditampakkan (dihilangkan), seperti;

قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى..، قال رب أرني…، قال رب لوشئت اهلكته…، رب اجعلنى مقيم الصلاة…، قال رب انظرني…، قال رب بما اغويتني

Huruf-huruf panggilan di atas tidak ditampakkan (dibuang), tetapi dalam terjemahan tetap ditulis dengan “wahai”, yang asalnya adalah “Ya Rabb, wahai Tuhanku. Dalam kitab I’jaz al-Qur’an Lamasat bi bayan al-Qur’an, hal tersebut berfungsi lil ta’adub (memuliakan), dan juga berfungsi sebagai tanzih (mensucikan) Allah dan ta’dhim (memuliakan) Allah, serta beberapa fungsi lainnya. Panggilan kepada Allah, kebanyakan menggunakan kalimat doa, bukan perintah atau larangan. Sebagaimana doa Nabi Zakariya yang memohon kepada Allah untuk diberikan keturunan dengan redaksi yang sungguh lembut dan rendah hati; 

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ العَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباً وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيّاً 
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”

Kebanyakan huruf nida’ yang tidak tampakkan, adalah panggilan kepada Allah.

Panggilan dalam al-Qur’an sangat vareatif, baik dari aspek mukhatabnya (yang dituju), gaya pengunaanya, fungsinya serta penggunaan huruf munada (bentuk panggilan). Misalnya panggilan sebagai bentuk pujian, penghargaan, kasih sayang; Ya Ayyuhan Nabi (يا ايها النبي), Ya Ayyuhar rasul (يا أيها الرسول) , Ya Ayyuhal ladzina Amanu (يا أيها الذين آمنو). Bentuk penyesalan; Ya hasrata (يا حسرتا).   Tantangan; Ya ma’syaral jin wa ins inisthata’tum antanfudzu min aqthari samawati wal ardh (يا معشر الجن والإنس ان استطعتم أن تنفذوا من أقطار السموت والأرض). Dan beberapa fungsi lainnya.

Penggunaan huruf Nida’ dalam al-Qur’an tidak hanya sebuah panggilan, tetapi memiliki I’jaz, rahasia dan keunikan, ada yang jauh serasa dekat, tetapi yang dekat masih menggunakan kata panggilan. Panggilan yang fungsi awalnya memanggil yang jauh, tetapi terkadang ia adalah sebuah ungkapan kasih sayang, cinta dan kelembutan.

Allahu’alam bishawab
Sumber;
Mu’jam Al-Araby
Asrar balaghiyah li hifdz harf Nida’
Uslub Nida’ fi al-Qur’an al-karim

Jumat, 09 April 2021

Salah Paham dengan kata “Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan”

Halimi zuhdy

“Fitnah lebih kejam dari pembunuhan” sebuah terjemahan dari Ayat al-Qur’an “Al-Fitnatu Asyaddu minal Qatl”. Dan terjemahan ini yang kemudian menyebar dan dipahami sesuai dengan fitnah yang berbahasa Indonesia, bahwa fitnah (dalam arti bahasa Indonesia) adalah lebih kejam dari pembunuhan. Benarkan kata “fitnah” dalam ayat tersebut bermakna fitnah sebagaimana dalam bahasa Indonesia?
Bahasa Indonesia banyak menyerap dari kata-kata bahasa Arab, untuk memahami kata Fitnah maka sebaiknya ditelisik dulu makna asal dan perubahan maknanya dalam bahasa Indonesia (dalam beberapa tafsir al-Qur’an sudah dijelaskan, bagi yang hanya membaca terjemahannya tidak akan mendapatkan penjelasan yang memadai terkait dengan kata fitnah ini). 

Menelisik suatu kata juga harus memahami pola kata yang ada pada beberapa bahasa sebagai sumbernya. Dalam unsur fonologi, misalnya, harus memahami fleksi (al-I'rab), pola-pola mufrad dan jamak. Karena tidak semua kata yang diserap dalam sebuah bahasa itu utuh, misalnya dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Kata yang diserap ada yang masih utuh (lafal dan artinya), seperti almanak, daftar, kiamat, khitan dan lainnya. Ada yang lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda, seperti kalimat, makam, dan lainnya (Zuhdy H, 2020).

Kata fitnah dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab yang sudah mengalami perubahan makna, dalam Kamus Al-Ma’ani (bahasa Arab) kata “fitnah” adalah ibtila’ (cobaan), Ikhtibar (ujian), Imtihan (ujian). Menurut al-Azhari dalam Tadzhib al-Lughah kata fitnah adalah bentuk nomina yang diturunkan dari bentuk verba dengan fleksi fatina- yaftanu seperti Fatantu al-dzahaba wa al-fidhah (aku menguji keaslian mas dan perak). Dan seperti dalam Firman Allah  يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُوْنَ artinya dibakar dalam api (diazab).

Dalam Maqalah Ma’na Kalimat al-Fitnah fi Al-Qur’an Mauqi’ al-Islam wal al-Jawab, tidak ditemukan fitnah yang bermakna “buhtan” atau “kadzib” atau “naql kalam” yang bermakna perkataan bohong.  Fitnah dalam Maqalah tersebut menurut Ibnu Atsir adalah al-Ikhtibar (ujian), Ibtila’ (cobaan), al-Istm (dosa), kufr (kafir), qital (pembunuhan), Ihraq (dibakar). Sedangkan menurut Ibnu Arabi adalah al-Ikhtibar, al-mal, al-awlad, iktilaf an-nas bi al-ara’, al-ihra’ bi annar.

Bahkan dalam Mu’jam (kamus) al-Taraduf wa addhat fi al-Ma’ani (sinonim dan antonym) tida ditemukan kata kadzib (bohong) yang tertera adalah bermakna dosa, kesulitan, keresahan, revolusi, kegilaan dan lainnya;

إثْم، إِخْتِلاَل، إِضْطِراب، إِضْطِرَاب، بَغْضَاء، ثَوْرَة، جَمَال، جُنُون، خَبَل، داهِيَة، سِحْر، شَحْنَاء , شَغَب , ضَرَّاء , ضَلاَل , ضَوْضَاء , عَدَاوَة , عِتْه , فَوْضى , فَوْضَى , كَراهِيَة , كُفْر , مَسّ , مِحْنَة , نازِلَة , هَرْج , هَلاَك , هَوْشَة

Kata “Fitnah” dalam al-Qur’an masih dalam marja’ yang sama, diartikan dengan; memalingkan dari jalan yang benar dan menolaknya (al-Maidah, 49), Azab (an-Nahl, 110), Syirik dan kekafiran (AL-Baqarah, 194), terjerembab dalam ma’siat dan kemunafikan (Al-Hadid, 14),  kesesatan (Al-Maidah, 41), dibunuh atau dipenjara (An-Nisa’, 101) dan beberapa makna lainnya, seperti dalam Surat al-Fath ayat 176 yang bermakna Majnun (gila).

Dari beberapa penjelasan di atas, tidak ada satupun yang mengartikan sebagaimana kata fitnah dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) daring, Fitnah diartikan dengan “Perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang)”.

Dalam beberapa tafsir “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan” tidak ada yang mengartikan dengan kata-kata bohong, tuduhan negatif kepada orang lain, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan. Tetapi kata fitnah dalam Ayat tersebut diartikan sebagai syirik (dalam Tafsir Jalalain, dan juga pendapat Abu Ja’far, Basyar bin Mua’ad, Ad-Dhahak, Mujahid dan beberapa perawi lainnya). Ada pula yang mengartikan dengan “kembali kepada kesyirikan  seperti menyembah patung itu lebih berbahaya dari pada permbunuhan”. Dan pendapat yang lain, fitnah itu adalah menghalangi seseorang dari jalan Allah, melakukan kemusyrikan, kekufur, menghalangi seseorang memasuki Masjid al-Haram serta diartikan dengan  mengusir penduduk ahl Makkah.

Bila kita perhatikan kata fitnah dengan makna kekufuran dan kemusyrikan, sungguh kehilangan keyakinan pada Allah dengan menyekutukannya itu lebih berbahaya dari kematian, pembunuhan dan peperangan. Keyakinan suatu bangsa kepada Al-Haq adalah sebuah kebahagiaan, kemajuan dan harga diri. 

Dalam laman al-Balad, Ibnu Asyur ketika dalam siaran langsung ditanya oleh seseorang tentang kata “fitnah”, beliau menjawab “kata Fitnah dalam Al-Qur’an bukan bermakna naql al-kalam (gosip, berbicara, menyampaikan informasi tidak benar), sedangkan naql al-kalam adalah mengadu domba, dan kata Fitnah yang ternyantum dalam al-Qur’an adalah berupaya menabur perselisihan di antara manusia dengan dengan mempertanyakan (tasykik) agama mereka, asal-usul kepercayaan, agama dan ibadah”.

Orang yang menabur keraguan tentang agama Islam, dan kemudian seseorang tersebut Kembali kepada kemusyrikan, atau menjadi kafir, mereka lebih kejam dari memerangi dan mengadakan pembunuhan. 

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Allahu a’lam bishwat, wallahu muawaafiq ila aqwamit thariq

Sabtu, 03 April 2021

Struktur Bahasa Arab

Halimi Zuhdy

Ali berdiri. Berdiri Ali. Sungguh Ali telah/sedang berdiri. Ada Ali, adalah berdiri. 

Kalimat di atas serasa aneh dalam bahasa Indonesia, tidak biasa, kecuali kalimat pertama "Ali berdiri" yang mengikuti SPOK bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab, susunan di atas sangat biasa digunakan. Selain biasa digunakan, kalimat tersebut memiliki makna tersendiri, walau secara umum bermakna Ali berdiri. 
Bila kalimat bahasa Arab seperti susunan di atas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia seakan-akan makna dan maksudnya sama, walau sebenarnya memiliki maksud yang berbeda. 

Misalnya dalam bahasa Arab;
قام علي(Telah bediri Ali)
علي قام (Ali telah berdiri)
علي قائم (Ali berdiri)
إن عليا قائم (Sungguh Ali berdiri)
كان علي قائما (Ada Ali adalah berdiri)
كان علي قام (Ada Ali telah berdiri)
إن عليا قام (Sungguh Ali telah berdiri)

Kalimat di atas diterjemahkan secara tekstual (kata perkata), bila  diterjemahkan secara bebas  merujuk pada satu makna "Ali berdiri".

Struktur bahasa Arab di atas memiliki nama-nama tersendiri, ada yang namanya Jumlah Ismiyah atau klausa nomina (ada pula yang menyebut dengan musnad dan musnad ilaih), itupun masih dirinci menjadi Aljumlah Al-Sughara (kalimat terkecil) bila hanya terdiri dari susunan Mubtada' dan Khabar saja, itu pun khabarnya bila terdiri dari isim mufrad (tunggal). Ada Jumlah al-Kubra yang masih dibagi dua, Aljumlah dzatul wajhi dan Aljumlah Dzatul wajhain.

Susunan kalimat bahasa Arab di atas bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, hanya menunjuk pada satu makna, "Ali Berdiri" tetapi dalam dalam struktur bahasa Arab, susunan fi'liyah (kalimat verba) memiliki beberapa fungsi di antaranya adalah "adam stubut" (tidak tetap), berbeda dengan susunan is'miyah (kalimat nonina) yang memiliki fungsi tetap. Belum lagi bila predikatnya menggunakan fi'il (kata kerja madhi atau mudhari'), sedangkan dalam bahasa Indonesia sering menggunakan keterangan waktu. Dan dalam bahasa Arab sering menggunakan menggunakan pola Predikat + Subjek (fi'liyah).

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219010037951090&id=1508880804

Belum lagi bila susunan kalimat di atas ditambah dengan Awamil seperti Inna (sungguh), Kana (ada) dan lainnya maka memiliki makna tersendiri. 

Tayyib, bagaimana bila subjek berada setelah predikat atau subjek sebelum predikat, atau setelah subjek setelah predikat, objek dan keterangan? Itu juga sangat berpengaruh kepada yang diinginkan oleh teks dalam bahasa Arab, walau dalam bahasa Indonesia terasa aneh misalnya "Berdiri Ali". 

Susunan dalam Al-Qur'an tidak dapat diterjemah secara bebas, walau maksudnya tidak jauh dari struktur bahasa Indonesia atau secara bahas Indonesia sudah benar (S+P+O+K). Sepertinya susunan "Kami Menyembah Kepadamu". Dan "Kepadamu, kami menyembah". Atau menerjemah susunan ayat "Idza waqa'atil waqiah" Apabila kiamat telah terjadi, tanpa memahami maksud dari susunan fi'liyah (kalimat verba) di dalamnya, maka seolah-olah kiamat telah pernah terjadi, berbeda dengan terjemahan yang ada "Apabila terjadi hari Kiamat" itu pun tidak ditemukan arti verba madhi (lampau) yang ada di dalamnya.

Ayo semangat belajar bahasa Arab.😁

 *Ramadhan Bulan Al-Qur'an*

Bagaimana redaksi al-Qur'an dalam menggambarkan orang munafiq?


Perhatikan Ayat berikut yang menggunakan kalimat fi'il (kata kerja) dan kalimat isim (kata benda). 

وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ ﴿البقرة : ۱۴﴾

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14).

Ketika orang munafik bertemu dengan orang beriman mengatakan "Kami beriman". Kata "Ammanna" adalah kalimat fi'il yang dalam ilmu Balaghah berfungsi yataghayyar (berubah) selalu berubah-ubah atau perilaku/keadaan yang tidak pernah tetap. Orang munafik itu selalu mincla mencle. 

Tetapi bagaimana redaksi al-Qur'an ketika orang munafik bertemu dengan para pemimpin (syaithan) atau teman-teman yang sesama munafik? Al-Qur'an menggunakan kalimat isim (kata benda) mustahziun (mengolok-olok) dan ini sifat tetap mereka, sifat dasar sebagai orang munafik.

Wajah sebaik apapun yang ditampilkan oleh orang munafik, dengan rupa apapun yang dihaturkan, akan kembali kepada sifat dasarnya. 

Alluhamma salimna minhum

Sabtu, 20 Maret 2021

Bulan Sya'ban dan Beberapa Kontroversi di dalamnya

Halimi Zuhdy

Menarik beberapa ikhtilaf, perbedaan, dan mungkin kontroversi yang ada di bulan penuh berkah ini, Sya'ban. Adanya perbedaan sering kali terjadi karena ada sesuatu yang luar biasa di dalamnya, atau sebaliknya. Sehingga perbedaan tidak dianggap sesuatu yang tercela, tetapi sesuatu yang istimewa untuk menemukan titik terang di dalamnya. 
Bulan Sya'ban banyak memiliki keistimewaan, misalnya malam Nisf Sya'ban (separuh dari bulan sya'ban) ia memiliki banyak sebutan atau nama, dalam kitab Madza Fi Sya'ban, Karya Sayyid Al-Maliki, nama lain dari malam Nisf Sya'ban adalah malam ampunan dan pembebasan dari api neraka, malam hadiah, malam pembebasan, malam syafaat, malam kehidupan dan hari raya Malaikat, malam keberkahan, malam pembagian takdir, malam penghapusan dosa, dan malam terkabulnya doa. Banyaknya nama dari salah satu malam ini, menunjukkan sangat banyak keutamaan di malam tersebut demikian juga pada bulan ini secara keseluruhan. Maka, terjadi pula banyak pandangan dan perbedaan ulama tentang malam ini.

Beberapa kontroversi yang ada pada bulan ini adalah; Pertama, perbedaan pendapat terkait tahwil qiblah (perubahan arah kiblat), ada yang berpendapat, bahwa perubahan arah kiblat dari Bait al-Maqdis ke Makkah al-Mukarramah terjadi pada bulan Sya'ban, tetapi ada pula yang berpendapat pada bulan Rajab. Kedua, perbedaan pendapat terkait dengan Lailah Mubarokah (malam yang diberkati), ada yang mengatakan pada bulan malam nisf Sya'ban, tetapi mayoritas ulama mengatakan pada bulan Ramadhan. Ketiga, perbedaan seputar sunah-sunah pada bulan Sya'ban antara amalan-amalan bid'ah, sunah, dan seputar hadis-hadis shahih, dhaif dan palsu serta beberapa aqwal ulama.

Tayyib. Beberapa pendapat ulama terkait hal di atas alfaqir merujuk beberapa pendapat dalam kitab "al-Yaqut wa al-Marjan fi Fadhaili Syahri Sya'ban" karya Abu Bakar bin Muhyiddin. Pertama, perubahan kiblat terjadi pada bulan Sya'ban merujuk pada pendapat Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya yang mengutip pendapat Abu Hatim al-Busti, bahwa umat Islam berkiblat ke Bait al-Maqdis selama 17 bulan 3 hari, sesampai di Madinah pada malam tanggal 12 Rabiul Awwal, dan Allah memerintahkan Nabi untuk menghadap ke arah  Makkah pada hari Selasa bertepatan dengan malam Nisf Sya'ban. Dan beberapa ulama lainnya yang mengatakan tahwil Ka'bah (perubahan arah kiblat) adalah al-Imam Ismail Haqqi dalam Ruh Al-Bayan, Imam al-Suhaili dalam al-Raudh al-Anf, Imam Muhammad al-Shalihi yang mengutip perkataan Muhammad bin Habib dalam kitabnya Subul al-Huda.

Kedua, iktilaf ulama terkait dengan "Lailah Mubarakah" dalam Surat ad-Dukhan, ayat 1-4. 

حم (١) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (٢) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ (٤).

"Haa miim. Demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah"

Dalam Kitab al-Yakut wa al-Marjan, beberapa ulama yang memaknai "Malam penuh Berkah" adalah malam Nisf Sya'ban seperti Imam al-Mahalli (tetapi beliau juga menyebutkan Malam Lailatul Qadar), demikian juga dengan Imam al-Qurthubi dan Imam al-Mawardi yang menyebutkan malam tersebut adalah malam Nisf Sya'ban atau malam Lailatul Qadar. Sedangkan menurut al-Imam al-Jamal dalam Hasyiahnya fi Syarh Thullam yang mengutip pendapat Ikrimah, bahwa "Lailah Mubarakah " adalah malam Nisf Sya'ban, tetapi mayoritas ulama berpendapat malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar.

Sedangkan perbedaan lainnya seputar amalan di bulan Sya'ban, seperti puasa Nisf Sya'ban, ada yang tidak membolehkan (pelarangan), tetapi jumhur ulama  menganggap hadist pelarangan untuk tidak puasa pada Nisf Sya'ban sebagai hadis dhaif dan tidak bisa dibuat hujjah dalam pelarangan berpuasa. Juga terjadi perbedaan terkait dengan  shalat Nisf Sya'ban di malam Nisf Sya'ban, apakah shalat tersebut dianjurkan atau tidak. Dan banyak ulama tidak melarang melakukan shalat sunah tetapi tidak dikhususkan sebagai shalat Nisf Sya'ban tetapi shalat sunah secara umum, seperti sunah taubat, shalat sunah witir, shalat shunah tahajjut, dan shalat sunah lainnya. Bagaimana dengan shalat sunnah Nisf Sya'ban? Ini terjadi ikhtilaf ulama.

Dari perbedaan di atas, tidak sedikipun  mengurangi keutamaan bulan Sya'ban, ia bulan istimewa, karena bulan ini, menurut Rasulullah bulan yang banyak dilupakan oleh manusia dan bulan ini bulan yang paling dicintai olehnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ummul Mu'minin, Aisyah RA berberkata;

 كانَ أحبَّ الشُّهورِ إلى رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ أن يَصومَهُ: شعبانُ، ثمَّ يصلُهُ برمضانَ

Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah untuk melalukan puasa adalah bulan Sya'ban, kemudian dilanjutkan dengan bulan Ramadhan

ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِـيْ وَأَنَا صَائِمٌ.

 “Bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa"

Dan keistimewaan lainnya adalah malam Nisf Sya'ban, 

يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا لِاثْنَيْنِ: مُشَاحِنٍ، وَقَاتِلِ نَفْسٍ

 Artinya, “Allah senantiasa memperhatikan makhluk-Nya pada malam nisfu Sya‘ban. Maka Dia akan mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua: hamba yang saling bermusuhan dan yang membunuh,” (HR. Ahmad).

Keistimewaan bulan ini, Rasulullah banyak berpuasa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, selain bulan Ramadhan.

..…وَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِـيْ شَعْبَانَ. 

“Aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan, kecuali Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan-bulan yang lain melainkan pada bulan Sya’ban.

Allah 'alam bisshawab

Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan untuk menjalani berbagai ibadah di bulan Sya'ban ini, dan mudah-mudahan sampai pada bulan Ramadhan.

Annuqayah

(Kitab, Pondok Pesantren dan Aplikasi)

Halimi Zuhdy

1. Aplikasi Nuqayah
Beberapa bulan terakhir ini, penulis sering menggunakan aplikasi al-Bahits al-Qur'ani. Keren banget. Ingin mencari apapun tentang al-Qur'an,  bisa ditemukan dengan mudah di aplikasi ini. Ada tafsir, qiraat, mashahif, I'rab al-Qur'an, ulum al-Qur'an, asbab nuzul, dan kamus al-Qur'an.  
Dalam aplikasi tafsir, misalnya, terdapat beberapa kategori, ada Ummahat (induk) tafsir; At-Tabari, Ibnu Kashir, al-Qurthubi, dan al-Baghawi. Ada tafsir dengan ketegori Luhgah wa Balaghah (Bahasa dan retorika, keindahan); at-Tahrir wa Tanwir, al-Muharrar al-Wajiz Liibn Athiyah, al-Bahr al-Muhith, al-Basith lil Qahidi, Al-Kasyyaf. Kategori Mausu'ah (ensiklopedi); ada kitab tafsir ar-Razi dan al-Alusi. Kategori Mu'ashir (tafsir modern); al-Muyassar, aysaruttafasir, dan lainnya. Dan ada kategori; Murakkaz Ibarah (yang mengkaji makna kata dan kalimat ); Tafsir Jalalain, Jami'ul al-Bayan,  Baidhawi dll. Dan beberapa kategori lainnya. 

Dan yang menarik, kini muncul NuqayahCom, sebuah rumah yang memiliki beberapa kamar. Kamar besar. Setiap kamar berisi beberapa perabot lengkap. Atau mungkin seperti apartemen. Nama ini juga mengingatkan saya pada sebuah pondok pesantren besar di ujung pulau Madura, dengan namanya yang langka, PP An-Nuqayah. Langka, karena nama ini jarang digunakan sebagai nama sebuah lembaga, mungkin satu-satunya di Indonesia atau di dunia. Dan nama ini terinspirasi dari sebuah kitab An-Nuqayah karya Imam As-Suyuthi (terkait kitab ini dan pondok akan penulis ceritakan pada diakhir paragraf).

Tayyib. NuqayahCom adalah situs yang memiliki beberapa link (situs,website, mauqi') dengan berbagai fan ilmu; al-Qur'an, al-Hadis, tahfidh, kitab-kitab langka, turash,  sastra Arab dan beberapa kategori lainnya. 

Dan yang menarik, bagi yang suka berselancar dalam kitab-kitab berbahasa Arab, dan penghafal al-Qur'an akan dengan mudah mentikrar (mengulang) dengan berbagai qari' dunia. Misalnya, bagi yang ingin menghafal atau penghafal al-Qur'an yang ingin muraja'ah, maka tinggal klik "al-Muqri'" dalam NuqayahCom, tinggal memilih ayat atau surat yang ingin dihafal, al-Muqri' juga  dilengkapi dengan terjemahannya. Terdapat 28 bahasa dalam aplikasi ini.

Ada pula aplikasi "Turast", sebagai alternatif dari Al-Maktabah Syamilah dengan berbagai instrumennya. Terdapat beberapa fitur antara lain: membaca kitab dan juga dapat mencari ribuan kitab dengan mudah (sebagai mesin pencari instan), menghubungkan buku dengan printer/cetak, men-download dengan mudah dan cepat, ringan dalam pengoperasian, serta tidak harus menggunakan jaringan internet (tanpa jaringan). 

Dalam Nuqayah juga ada aplikasi "Takwin Rasikhin" , ini keren bangen lo.., berbagai displin ilmu yang ada di dalamnya, dengan bentuk nadham ada juga yang tidak. Aplikasi ini mencakup; ilmu tajwid, Hifdi al-Qur'an, sharraf, balaghah dan lainnya. Menariknya, ada katagori atau tingakatan, dari tingkat pemula, menengah sampai marhalah takwin (menjadi fasih dan pintar).

Bagi yang malas membaca banyak kitab, tinggal klik saja untuk mendengarkannya. Ratusan kitab sudah dilengkapi dengan bacaannya, tidak hanya berupa bacaan, tetapi juga dapat dinikmati suaranya. Tinggal duduk manis, dan mendapatkan berbagai ilmu. Asyik banget. Bagi yang tidak punya aplikasi android, juga disediakan aplikasi iPon. Atau bagi yang tidak punya handpone (hp), bisa juga dengan laptop atau komputer, yang penting tersambung dengan internet. Wkwkww. Silahkan klik saja NuqayahCom, nanti kalian akan menikmati berbagai macam ilmu.

2. Kitab Annuqayah
Tayyib. Nuqayah adalah nama sebuah kitab karya Imam as-Suyuthi, yang juga pengarang kitab Tafsir Jalalain, Al-Hawi, Al-Muzhir. Lahir pada tahun 1445 M  pada masa Kesultanan Mamluk (Mesir), dengan Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Madzhab Syafi'iyah, Asy'ariyah), yang bergelar Anak Kitab (Ibnu Al-Kutub, Kutu Buku). Menurut Ibnu Iyas,  beliau memiliki 600 karangan dengan berbagai kategori ilmu. 

Dalam kitab "An-Nuqayah" terdapat 14 matan dalam 14 disiplin ilmu. Ilmu Ushuluddin, ilmu tafsir, ulum al-Qur'an, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu al-Faraid, ilmu an-nahwu, ilmu al-tashrif, ilmu al-khath, ilmu al-ma'ani, ilmu al-bayan, ilmu al-badi', ilmu al-tasyrih, ilmu al-tib, dan at-tashawwuf. 

Dalam kitab ini, ilmu ushuluddin, misalnya,  menggunakan akidah Imam al-Asy'ari, sedangkan ilmu tafsir dengan menggunakan metode matun. Sedangkan dalam ilmu al-Qur'an memuat lima puluh lima jenis ilmu Al-Qur'an. Dan banyak hal yang menarik dari kitab ini, bagi yang terarik bisa juga membaca syarahnya  secara singkat dalam kitab "Itmam Dirayah li Qira'ah an-Nuqayah". Bisa download di waqfeyah. Menurut Prof Abdul Karim, bisa juga membaca Mandhumah al-Zam-zami yang dinukil dari kitab Annuqayah.

3. Pondok Pesantren Annuqayah
Bagaimana dengan Annuqayah sebagai nama Pondok Pesantren?. Memilih nama, berarti memilih sebuah konsekuensi dari nama tersebut. Memilih nama, juga berharap dengan ma yusamma (yang diberi nama). Nama Annuqayah, menurut Kyai M Faizi  dalam Kitab Annuqayah, disematkan untuk Pondok Pesantren yang berada di daerah Guluk-guluk Kabupaten Sumenep oleh Kyai Muhamamd Khazin bin Ilyaz pada tahun 1933. Kyai Khazin merupakan generasi kedua dari peletak batu pertama Kyai Muhammad as-Syarqawi al-Kudusi. Menurut Kyai Faizi, penamaan ini untuk menandai perubahan sistem bandongan ke sistem kelas (shaf, fushul).

Menariknya, nama Annuqayah tidak hanya disematkan untuk sebuah Pondok Pesantren, tetapi oleh generasi setelahnya, Kyai Muhammad Mahfud Husaini membuat nadhamannya menjadi 1.111 bait dengan nama "Mandhumat An-Nuqayah", tulis Kyai Faizi. 

Kitab Annuqayah, Pondok Pesantren Annuqayah, dan Aplikasi Nuqayah ternyata punya kesamaan dalam disiplin ilmu. Kitab Annuqayah sebagai inspirasi dengan berbagai fan (disiplin ilmu), aplikasi Nuqayah adalah mesin pencari kitab dengan berbagai disiplin ilmu, dan Pondok Pesantren Annuqayah mengajar berbagai disiplin ilmu hanya saja yang penulis belum temukan (sewaktu menjadi santri) adalah ilmu thib (kedokteran), mungkin suatu saat ilmu thib dan al-thasyrih akan gemilang di pondok ini. 

Allahu'alam bishswab.

Mojokerto, 13 Maret 2021

Kamis, 11 Maret 2021

Makna “Barakna Haulahu” Diberkati Sekelilingnya dalam Surat al-Isra’

 Halimi Zuhdy

 Beberapa kali penulis ditanya, apa makna yang tersembunyi dalam “Haulahu” sekelilingnya dalam Surat al-Isra’. Penulis hanya menuliskan beberapa tafsir dan beberapa pendapat ulama terkait dengan “Barakna Haulahu”. Ada yang mengartikan haulahu dikembalikan kemakna asalnya, “Haula” yang bermakna kekuatan (al-Quwwah), kemampuan (al-Qudrah), kecerdikan (al-Bara’ah), dan ketajaman pikiran (al-daha’). Allah memberkati "sekitar-nya", adalah memberkati orang-orang yang hidup untuk Baital Maqdis, dan hatinya yang terpaut dengannya, dan yang membelanya dan yang berusaha untuk menyingkirkannya dari segala bahaya, angkara dan agresi, pendapat ini dalam Barakna Haulahu, Jabir Quhaimah)

 Tetapi secara ijma’ (konsensus, kesepakatan) ulama arti "di sekitarnya" dalam arti spasial: yaitu, sesuatu yang meliputi masjid al-Aqsha (bait al-Muqaddas) baik itu beberapa tempat (amakin) atau tanah (Aradhin).

 Dalam tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Haul (sekeliling) menunjukkan pada sebuah tempat dekat dengan tempat yang dikenal dan disadarkan padanya (bait al-Maqdis).
 
وحَوْلَ يَدُلُّ عَلى مَكانٍ قَرِيبٍ مِن مَكانِ اسْمِ ما أُضِيفَ (حَوْلَ) إلَيْهِ
 
Dan terkait dengan penegasan akan “keberkahan” masjid al-Aqsa dan sekitarnya, karena masjid ini mulai banyak dilupakan oleh orang Nasrani karena mereka membenci orang-orang Yahudi, dan orang-orang Arab tidak mengenal tempat ini, sedangkan orang Yahudi juga menjahui tempat yang diberkati ini.
 
ووَجْهُ الِاقْتِصارِ عَلى وصْفِ المَسْجِدِ الأقْصى في هَذِهِ الآيَةِ بِذِكْرِ هَذا التَّبْرِيكِ أنَّ شُهْرَةَ المَسْجِدِ الحَرامِ بِالبَرَكَةِ وبِكَوْنِهِ مَقامَ إبْراهِيمَ مَعْلُومَةٌ لِلْعَرَبِ، وأمّا المَسْجِدُ الأقْصى فَقَدْ تَناسى النّاسُ ذَلِكَ كُلَّهُ، فالعَرَبُ لا عِلْمَ لَهم بِهِ والنَّصارى عَفَّوْا أثَرَهُ مِن كَراهِيَتِهِمْ لِلْيَهُودِ، واليَهُودُ قَدِ ابْتَعَدُوا عَنْهُ، وأيِسُوا مِن عَوْدِهِ إلَيْهِمْ، فاحْتِيجَ إلى الإعْلامِ بِبَرَكَتِهِ

 Sedangkan mernurut Imam al-Alusi dalam kitab Ruh al-Makni, yang dimaksud dengan “keberkahan” di sekelingnya karena tempat sebagai tempat peribadatan para nabi dansebagai kiblat bagi mereka, dan serta karena banyaknya sungai dan pohon di sekitarnya, dan masjid al-Aqsa sebagai salah satu dari tiga masjid yang paling banyak dikunjungi ( 15/16), Dan dari beberapa keterangan, "keberkahan" itu meluas dari Al-Arish ke Efrat.
 
والبَرَكَةُ حَوْلَهُ مِن جِهَتَيْنِ: إحْداهُما النُبُوَّةُ والشَرائِعُ والرُسُلُ الَّذِينَ كانُوا في ذَلِكَ القُطْرِ وفي نَواحِيهِ ونَوادِيهِ، والأُخْرى النِعَمُ مِنَ الأشْجارِ والمِياهِ والأرْضِ المُفِيدَةِ الَّتِي خَصَّ اللهُ الشامَ بِها، ورُوِيَ عَنِ النَبِيِّ صَلِيَ اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أنَّهُ قالَ: « "إنَّ اللهَ بارَكَ فِيما بَيْنُ العَرِيشِ إلى الفُراتِ، وخَصَّ فِلَسْطِينَ بِالتَقْدِيسِ".
 
Dalam al-Muharrar al-Wajiz, “Keberkahan sekelilingnya” dapat dilihat dari dua aspek, yaitu 1) kenabiaan, syariat dan para rasul berada di tempat tersebut serta sekitarnya. 2) berbagai macam pepohonan. Air, tanah yang memberikan manfaat, khususnya di negeri Syam.
Dan masih banyak pendapat lainnya, terkait dengan makna “Haulahu” sekitarnya
 
27 Rajab 1442, 11 Maret 2021

Mengungkap Kode Unik (Bahasa) dalam Al-Qur'an

Halimi Zuhdy

Penemuan kode Bahasa dalam Al-Qur'an, penulis temukan dalam makalah Dr. Mu'taz al-Syarif, yang sebelumnya penulis juga temukan dengan judul yang mirip "Iktisyaf Nidham Jadid fi Al-Qur'an al-Karim" karya Dr. Abdu ad-Daim al-Kahil.

Beliau menemukan kode unik dalam setiap surat (suroh) dalam Al-Qur'an. Dan setiap kode itu (kata) tidak ditrmukan dalam surat-surat lainnya. Kode tersebut terdapat dalam 114 surat, yang setiap suratnya ada kata-kata khusus.

Al-Kahil menulis tentang kosa kata al-Qur'an dalam 742 halaman yang termaktub dalam kitab "Mufrodat al-Qur'an al-Karim Kamilah". Ini bisa ditemukan dalam Al-Kahhel.

Setelah beliau menghitung dalam Al-Qur'an terdapat 16186 kata, yang setiap surat terdapat kata-kata baru yang tidak didapat dalam surat lainnya, juga tidak ada pengulangan pada setiap suratnya. Beliau mencontohkan kata-kata unik pada akhir tulisannya dalam "Mufradatul al-Qur'an", seperti dalam Surat An-Nas, dalam surat ini terdapat empat kata yang tidak ada dalam surat lainnya, yaitu: Maliki (ملك), Khonnas (الخناس), Was-was (الوسواس), dan Yuwaswisu (يوسوس).



Dalam Surat al-Kaustar, ada 6 kata; A'thayna (أعطينا), al-kaustar (الكوثر), fashalli (فصل), wanhar (وانحر), syaniaka (شانئك), abtar (الأبتر).

Kemudian penulis mendapatkan dari ketera ngan Dr. Mu'taz al-Syarif, dalam Surat al-Fatihah terdapat dua kata unik: Iyyaka (إياك) dan Nasta'in (نستعين), menurutnya kedua kata ini hanya terdapat dalam Surat Al-Fatihah, seakan-akan Allah ingin mengingatkan kita dalam setiap rakaat untuk memohon pertolongan (alisti'anah) hanya kepada Allah. Tidak pada yang lain. Demikian Al-Fatihah diulang-ulang.

Rabu, 03 Maret 2021

Di Balik Satir “Khamr”! (Melirik kata Khamr dalam Bahasa Arab)

Halimi Zuhdy
Sudah sama-sama mafhum, khamr (miras) adalah minuman meracau dan mengacau, walau tidak dapat dipungkiri ada faidah di dalamnya. Tetapi, mudharatnya akstar (lebih besar) dari pada manfaatnya.
Beberapa bulan yang lalu, saya minta pijet pada seorang pemuda, ia berperawakan kecil, tapi tangannya kuat mencengkram, jari-jarinya lihai menari-nari di punggung dan betis. Setiap kali saya minta pijet, mulut ini tidak bisa diam, saya menanyakan aktifitasnya, pekerjaannya, dan obrolan santai lainnya.


Saya sangat kaget, ketika pemuda ini membeberkan masa lalunya, sampai ia dikeluarkan dari pesantren. Ia terjerat miras (khamr), bila ada masalah mendera, teman yang paling dekat adalah miras, setelah menegaknya ia terasa terbang, bahkan dapat melupakan berbagai masalah yang menerpa hidupnya, tapi ia tidak sadar sudah berapa perbuatan keji yang dilakukan ketika miras mengalir di kerongkongannya.ia merasakan seperti ada tirai yang menghalangi dari berbagai masalah, tetapi setelah ia sadar, masalah itu muncul Kembali, bahkan lebih berat. “Ia benar-benar dapat menutup pikiran, mata dan hati saya Pak” ungkap pemuda itu ketika jari-jarinya menyelesakan tugas terakhirnya di leher saya.

Senin, 01 Maret 2021

Benarkah Ungkapan "Barakillah"?, Dan Apa Perbedaan Barakallah Fika, Alaika, Bika, Ilaika

Halimi Zuhdy

Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke inbok saya, setelah saya menulis tentang "Salah Paham dengan Kata Barakallah". Beberapa pertanyaan tersebut berupa istilah yang sudah akrab di telinga kita; Apakah cukup dengan mengucapkan Barakallah saja?, Apa perbedaan Barakallah dan Barakillah?,  Apa ada konsekuensi makna dari perbedaan objek setelah Kalimat Barakallah, seperti Barakallah Fika dan Bika?, Apa arti dari Barakallah Laka, Wabaraka Alaika?, Bolehkah menambah Alfu sebelum kata Mabruk?, Dan Benarkah ucapan Mabruk dan Mubarok?.

،
Tayyib. Tabrik, mengucapkan doa agar seseorang mendapatkan berkah dari Allah. Ungkapan tabrik ini bermacam-macam, sesuai dengan maksud dan tujuannya. 1) Ungkapan "Barakallah" bermakna "Mudah-mudahan Allah memberkati", bila seseorang yang dituju sudah memahaminya, maka dianggap cukup. Tapi, sebenarnya kata tersebut tidak cukup, karena masih butuh objek. Objek yang didoakan juga tergantung yang dituju. Kalau yang dituju orang ketiga tunggal, maka "Barakallahu Lahu". Dalam Al-Faseeh, ungkapan "Barakallah" tanpa kata sambung setelahnya dianggap belum cukup (La yuktafa biqaulina Barakallah), dengan alasan, kata tersebut tidak jelas (ghairu wadhihah), dan untuk siapa ungkapan doa tersebut?. Karena ungkapan "Barakallah" itu kata kerja ruba'i transitif dengan preposisi (ruba'i lazim, mu'addi bi harfin), sehingga butuh penjelas setelahnya.  

Yang sering salah adalah tiga haruf terakhir dari lafal "Barakah" yaitu «kah» dianggap sebagai dhamir mukhatab (orang kedua tunggal) yang bermakna kamu. Yang benar adalah  "Barakallah Laka" Allah memberkatimu. Bila yang dituju kata ganti orang kedua, maka "Barakallah Laka", bila kata ganti orang ketiga tunggal, "Barakallah Lahu". Dan seterusnya. 

2) Apa perbedaan Barakallah dan Barakillah?. Bila keterangan di atas terkait dengan dhamir mukhatab  (orang kedua tunggal) sudah dapat dipahami, maka akan dapat membedakan antara ungkapan Barakallah dan Barakillah. Barakillah tidak berdasar, karena ungkapan ini salah. Bila yang dituju  seorang perempuan, maka menggunakan "Barakallah Laki", kalau orang ketiga "Barakallah Laha". Letak perubahannya bukan pada kata Bara-ka-allah, tetapi pada kata "Laka atau Laki".

3) Apakah perbedaan kata setelah Barakallah,  juga berbeda maksud (makna)? Seperti kata; Barakallah Laka, Fika, Bika, Ilaika, 'Alaika dan lainnya.

Tayyib. Preposisi (huruf jar) setelah kata Barakallah, memberikan makna yang bervariatif. Secara maknawi, "Laka" bermakna, milikmu, bagimu, punyamu. "Fika" bermakna, di dalam dirimu, atau di dalam kamu. "Bika" bermakna, sebab kamu. "Alaika" bermakna, atasmu.

Dalam Fatwa 2382 Muntada Majma' Lugahwiyah Ala Syabakah Al-Alamiyah, "Barakallah Fika" preposisi "Fi" menunjukkan keadaan tempat yang metaforis, yang bermakna adanya keberkahan pada si pelaku, atau seseorang yang memiliki keutamaan (akhalaqnya, dll)
فحرفُ الجر "في" يَدلُّ على الظرفية المكانية المَجازية، وفيه مَعنى نَفاذ البَرَكة في المدعوّ له. 

Sedangkan makna " Barakallah 'Alaika", dengan preposisi "Ala", menunjukkan ketinggian, superioritas. Yang bermakna keberkahan yang melimpah, ditutupi, dipenuhi dengan keberkahan.
أمّا "على" فتدلُّ على الاستعلاء كدلالَة عَنْ؛ ولذلك فقوله: بارك الله عليك هو دعاء له بأن تشتمله البركة وتغطيه.

Ada pula yang berpendapat, "Alaika" menitikberatkan pada urusan agama (ad-din), Allah memberkati dalam urusan agamanya.

Penggunaan preposisi "Laka", menunjukkan makna li takhshis, kekhususan pada seseorang yang didoakan keberkahan. Atau dalam keterangan lain, "Laka" doa keberkahan yang di dapat seseorang yang mendapatkan sesuatu kenimatan yang baru diperoleh, atau untuk kemaslahatan dunianya.
أمّا التعديةُ باللام، "بارَكَ لَك" ففيها دلالة على التخصيص، تخصيص المدعوّ له بالبَرَكة.

Bagaimana dengan "Bika", Preposisi Bi, bermakna sebab, bisa karena sebab sesuatu, atau seseorang sehingga sesuatu itu berhasil. Darinya, datangnya berkah padamu atau kepada selainmu. 
فبارك الله فيك .. تخص ذاتك ..
و بارك الله بك .. تخص من حولك 
Seperti contoh, Barakallah Bika, mudah-mudahan Allah menjadikanmu sebagai sebab dalam kebaikan umat.

Allahu'alam bishawab

Kamis, 25 Februari 2021

Salah Paham dengan Kata Tabarakallah, Barakallah, Mabruk dan Mubarok

Halimi Zuhdy

Beberapa bulan terakhir, sejak beberapa da’i mempopulerkan kata Tabarakallah dan tidak sedikit artis yang mengikutinya, maka media ramai dengan kata tersebut, dan seakan-akan artinya sama dengan kata Barakallah.


Terkait dengan kata “Tabarakallah” ini tidak sedikit yang memahaminya dan memaknainya dengan kurang tepat, bahkan salah. Di beberapa artikel yang membahas kata ini (Tabarakallah), memaknainya tidak tepat (silahkan googling), diartikan dengan “mudah-mudahan Allah memberkatimu”, ada pula yang menggandengkan dengan “Masyallah Tabarakallah” yang diartikan dengan Allah yang berkehendak seperti itu, Allah berikan kamu barakah (artikelsiana), Semoga Allah memberkahimu (wolipop.detik), semoga Allah memberkahimu (kumparan), Tabarakallah (تبارك الله) Semoga Allah memberkahimu (quora), empat web di atas adalah hasil googling ketika mencari makna “Tabarakallah”, belum lagi website lainnya yang pembahasannya tidak jauh berbeda.
Sekilas, kesalahan yang paling tampak adalah mengartikan “Ka” dalam Tabara-ka- dengan arti “kamu”, ini juga sering terjadi kesalahan dengan mengartikan “Barakallah” dengan mudah-mudahan Allah memberikati-mu, tanpa mengikuti kata fika, laka, alaika dan lainnya. Tabarakallah itu berbeda dengan “Barakallah laka”, meskipun dari derivasi yang sama, tetapi memiliki arti yang berbeda.
Tayyib. Mari kita kaji sepintas makna “Tabarakallah”, pertama secara mu’jami (kamus), kedua, menurut beberapa tafsir al-Quran (karena kalimat ini sangat banyak di dalam al-Qur’an). Ketiga, hadis-hasis yang terdapat kata tabarakallah.
Pertama, secara mu’jami kata ini belum ada dalam kamus KBBI, dan suatu saat perlu ditambahkan dalam kamus bahasa Indonesia, seperti kata; alhamdulillah, masya Allah, berkah, dan kata-kata lainnya yang sering digunakan masyarakat Indonesia. Dalam kamus Al-Ma’ani, Tabarakallah diartikan dengan Taqaddasa, tanazzaha, ta’ala (Maha Suci Allah, Maha Tinggi). Tabaraka al-Rajulu (thalaba al-barakata wa faza biha); seseorang memohon keberkahan dan keberhasilan dengannya. Kata “tabaraka wa ta’ala” sudah menjadi istilah dalam Fiqih dengan arti Maha Suci Allah dan Maha Tinggi. (Ma’ani).
Dalam al-Qur’an, kata Tabarakallah terdapat dalam 8 tempat; Al-‘Araf: 54, Al-Mu’minun: 14, al-Furqan pada ayat; 1, 10, dan 61, al-Ghafir: 64, al-Rahman: 78, al-Mulk: 1.

تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ، تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ.. ، تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا..، تبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجاً، تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالْإكْرَامِ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ، تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia kata Tabarakallah (sesuai dengan urutan ayat di atas) diartikan dengan; 1) Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam, 2) Maka Maha sucilah Allah, 3) Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan, 4) Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, 5) Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang, 6) Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. , 7) Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia, 8) Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan.
Sedangkan dalam beberapa tafsir al-Qur’an, di antaranya adalah kitab Al-Tahrir wa al-tanwir karya Ibnu ‘Asyur, kata “Tabarak” dalam bentuk derivasinya adalah menampakkan sifat pada sesuatu yang disifati, seperti kata Tastaqala yaitu tampak sesuatu yang berat dalam pekerjaannya (menjadi berat), Ta’adhama (tampak keagungannya, menjadi besar, agung), dan terkadang digunakan untuk menampakkan perbuatan yang disifati dengan benar-benar jelas seperti Ta’alallahu (sangat jelas keagungannya), maka dalam kata Tabarakah adalah sangat tampak jelas keberkahannya (dzaharat barakatuhu). Dalam Fath al-Qadir Lil Syakani, Tabarakallah, ai kathurat barakatuhu wa ittasa’a (keberkahan yang banyak dan melimpah), dan juga bermakna Ta’adhama (sangat tanpak keagungannya). Dalam tafsir al-Thabari tidak jauh berbeda dengan Fath al-Qadir yang bermakna al-kastrah dan ittasa’a (dipenuhi dengan keberkahan).
Dalam al-Mausu’ah al-Hadistiyah, kata “Tabaraka” terdapat dalam banyak hadis yang selalu berdampingan dengan kata “Ta’ala” sebuah istilah yang digunakan untuk kemuliaan dan keagungan Allah swt. Tidak ditemukan sebagai ungkapan untuk menyatakan sesuatu, sepengetahuan penulis, kecuali pernyataan keagungan kepada Allah.
Berdasarkan beberapa keterangan di atas, tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan tentang makna Tabaraka dengan arti “Allah memberkatimu”. Pertama, tabarakaallah tidak sama dengan barakallah laka, tabaraka (تبارك) itu khumasi lazim (kata kerja yang masuk katogeri lima huruf dan intransitif), sedangkan baraka (بارك) adalah kata transitif (muta’addi). Tabaraka menjadi transitif bila disambung dengan huruf lain (muta’addi bi harf).
Kedua, Tabaraka adalah satu kata, bukan gabungan dari “taba” dan “ka”, yang memunculkan makna kamu. Demikian juga dengan kata Barakallah. Kata “Barakallah”, disambung dengan kata setelahnya, seperti kata fika, laka, dan alaika, menjadi Barakallah laka.

Ketiga, Tabarakallah itu mengagungkan Allah, menampakkan kesucian-Nya, kebaikan datang dari-Nya, keberkahan hanya dari-Nya. Maka, lebih tepat kalau ingin mengucapkan selamat atas apa yang diraih seseorang adalah kata Barakallah laka, Alaika, Ilaika (mudah-mudahan Allah memberkatimu), sedangkan kalau ingin mengucapkan sesuatu yang luar biasa, maka mengucapkan kata Barakallahu laka, fihi, (lebih jealasnya keterangan diakhir tulisan ini), tetapi yang lebih masyhur adalah Masyallah lahaula wala quwwata illa billah.
Dalam beberapa penjelasan, kata masyallah itu untuk dirinya sendiri (apabila terdapat sesuatu yang luar biasa), sedangkan (untuk orang lain). Dalam laman al-imam bin Baz (al-Sunnah al-Shahihah) kata “Masyallah Tabarakallah” tidak ada dasarnya yang dapat menguatkan kalimat di atas (ma warada fihi syaik), yang ada dasarkan adalah Masyallah la haula wala quwwata illa billah. Sedangkan kata “Tabaraka” malah tidak berdasar, sedangkan dalam hadis yang ada adalah alla barrakta (ألَّا بَرَّكْتَ). Beliau melanjutkan, apabila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan, maka yang mengucapkan “Allahumma barik fihi”, “Barakallah fihi”. Berbeda dengan Ibnu Utsaimin, apabila seseorang ingin selamat dari penyakit Ain, maka hendaknya mengucapkan “Tabarakallah alaika”, karena Nabi pernah bersabda yang tertimpa penyakit dengan ucapan “Halla barrakta ‘alaika”. Dalam Utaibah, Mata Yuqalu Tabaraka wa mata yuqalu Masyallah la haula walaquwwata.
Apakah ada yang salah dengan pengucapan kata Tabarakallah? Tidak ada yang salah, hanya kurang tepat penggunaannya, serta salah mengartikannya, dan juga mungkin kurang tepat memahaminya.
Bersambung pada pembahasan kata Mabruk dan Mubarok, Insya Allah.
Allahu’alam bisshawab.

Guru Kecil di Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Khadim Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Kejayaan Islam dalam Kenangan Sejarah

Halimi Zuhdy


"Watilkal Ayyamu Nudawiluha Bainannas", Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). QS. Ali Imran, 140.

Entah, Apakah Ayat ini termasuk sebuah kejayaan suatu negara yang pernah berjaya syiar Islamnya dan akan bangkit lagi, atau akan terpuruk selamanya. Tapi yang jelas, kehidupan akan terus berputar. Di Eropa ada Andalusia, kini tinggal cerita Islam pernah berjaya. Dan kini, Spanyol seperti tak memberi bekas bunga, tapi goresan luka. Di Asia tenggara, Islam pernah berjaya di enam negara, bahkan menjadi penduduk mayoritas muslim terbesar. Kini, di tiga negara menjadi segelintir, bahkan hanya menjadi kerikil-kerikil yang tak pernah terlihat lagi.

Gambar: Tulisan Abi.blogspot.com


Manila ibu kota Filipina, nama ibu kota ini berasal dari bahasa Arab "Fi AManillah" Dalam lindungan Allah. Di negeri ini, dulu syariat Islam ditegakkan, mayoritas penduduknya muslim, azan yang bersaut-sautan di seluruh penjuru negeri ini. Tapi kini, di negeri Filipina, kita sering mendengar Islam hanyalah sebuah gerombolan pemberontak terhadap pemerintah, dan mereka menjadi minoritas.

Berikutnya negeri Gajah Putih, Thailand. Di negeri ini menyimpan mutiara yang luar biasa, kejayaan Daulah Islamiyah di selatan negeri ini. Kerajaan Islam Pattani. Penduduk muslim di tanah mereka sendiri dijuluki khaek (pendatang, orang luar).

Kamis, 04 Februari 2021

Satu Kesulitan, Dua Kemudahan (Inna Ma'al 'usri Yusro)

Halimi Zuhdy

“Apabila ada kata ma’rifat (kata definitif) dalam dua kalimat yang berbeda maka keduanya memiliki arti yang sama (nafs syai’, maksudnya juga sama), muallimah dalam salah satu vedio menyitir kaidah linguistik Arab (qaidah lughawiyah). Seperti contoh;
جاءت المرأة، وسلمت على المرأة
“Telah datang seorang perempuan, dan saya mengucapkan salam pada perempuan tersebut”,
maka perempuan yang ada dalam kalimat di atas adalah perempuan yang sama, karena kata perempuan (al-mar’ah) di sini menggunakan ma’rifah (definitif), dan tanda bahwa ia ma’rifah dengan adanya “al” yang disebut dengan "Al-ta’rif".
Gmbr diambil dari i.ytimg.com (120×90)



Tetapi sebaliknya, bila ada nakirah (indefinitif) dalam dua kalimat yang berbeda, maka memiliki arti dan maksud yang berbeda pula, seperti;

جاءت مرأة، وسلمت على مرأة
“Telah datang seorang perempuan, dan saya mengucapkan salam pada seorang perempuan”.
Dalam kalimat ini, antara perempuan yang pertama dan yang kedua berbeda, walau sama-sama perempuan. Karena kedua perempuan itu tidak menunjuk satu jenis (umum), perempuan yang mana (nakirah, indefinitif)?.
Sedangkan kalimat yang pertama "Perempuan itu" dalam dua kalimat menggunakan kata definitif, maka bisa dipastikan keduanya adalah perempuan yang sama.
Penjelasan di atas hanya sebuah contoh untuk mengantarkan kepada para mustami’ (pendengar), bahwa dalam Ayat al-Qur’an surat Al-Insyirah;

﴿ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا( )إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Dalam Ayat ini, kata kesulitan (al-‘usr) kedudukannya adalah definitif (ma’rifah), maka kedua kesulitan itu pada hakekatnya satu (satu kesulitan), sedangkan kata kemudahan (yusr) tidak sama antara kemudahan yang pertama dengan kemudahan yang kedua (berbeda), yang pertama adalah kemudahan dalam solusi, terselesainya berbagai masalah hati, lapang dada, kebahagiaan. Dan kemudahan setelah tertimpa kesulitan, maka ada kemudana yang bersifat materi (maddi) dan kemudahan batin (ma’nawi).

Artinya kesulitan itu hanyalah satu walau dengan kata yang berulang-ulang, sedangkan kemudahan itu melimpah ruah.
Dan saya menemukan keterangan Dr. Ahmad Khadar yang mengutip perkataan Ibnu Abbas dari beberapa kitab tafsir,
قال ابن عباس: يقول الله تعالى خلقت عسرًا واحدًا، وخلقت يسرين، ولن يغلب عسر يسرين
Ibnu Abbas berkata, “Allah berfirman, aku ciptakan satu kesulitan serta aku ciptakan dua kemudahan, dan satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan”.

Selanjutnya Dr. Ahmad melanjutkan mengutip perkataan Imam Al-Qurtubi, bahwa Ayat “Inna ma’al usr Yusra” yang kedua bukan mengulang dari Ayat yang pertama, sesungguhnya kesulitan (al-‘usr) di dunia bagi seorang mukmin akan mendapatkan kemudahan (yusrun) di akhirat, atau kemudahan di dunia dan kemudahan di akhirat.

Rasulullah saw bersabda;
لو كان العسر في حجر لدخل عليه اليسر حتى يخرجه
“Seandainya ada kesulitan (al-usr) lalu masuk ke dalam batu ini, niscaya kemudahan itu akan datang dan masuk ke dalam batu ini pula, lalu (kemudahan) akan mengeluarkannya”.

Ayat ini bila dikaji dari awal "Alam Nasyrah" sangat menarik, belum lagi perbedaan terjemah “sesudah” dan “bersamaan” dari kata ‘Ma’a”.

Pesan yang sangat luar biasa adalah kemudahan itu lebih banyak dari pada kesulitan, dapat kita bayangkan bila hidup hanya dipenuhi dengan kesulitan, sakit terus mendera, sengsara yang tak berkesudahan. Tapi, bukankah keindahan, kemudahan, kesehatan lebih berlimpah dalam kehidupan kita hari-hari.

Allahul musta’an wailahi tuklan

Rabu, 27 Januari 2021

Pemilihan Presiden Penyair Arab

Halimi Zuhdy

Bagi penikmat sastra Arab, terutama puisi, pasti mengenal sosok penyair legendaris, Ahmad Syauqi. Penyair ini dikenal dengan sebutan Amir Syu’ara’ (Raja, Pangeran Penyair). Gelar ini bertahan cukup lama, seakan-akan gelar ini hanya milik Ahmad Syauqi. 
Sebelum gelar ini disandang Ahmad Syauqi, beberapa abad sebelumnya, gelar Amir Syu’ara’ tertuju pada Junduh bin hujar bin Haris al-Kindi, tetapi gelar ini tidak sepopuler gelar lain yang disandangnya “Umraul al-Qais”.
Di Indonesia terdapat gelar presiden penyair, paus sastra, dan mungkin gelar lainnya yang diberikan kepada seorang sastrawan yang dianggap memiliki sumbangsih besar terhadap kesusastraan Indonesia. Di Arab, Ahmad Syauqi mendapatkan gelar Amir Syu’ara’, gelar ini disandangkan kepada Syauqi setelah adanya pembaiatan padanya oleh para sastrawan dan penyair pada tahun 1927 di Kairo, pada sebuah Gelar Sastra (puisi).

Ahamd Syauqi dikenal sebagai penyair paling masyhur pada era modern, dan terkenal paling produktif dibandingnya penyair-penyair lainnya, lebih dari dua puluh tiga ribu lima ratus bait puisi yang telah ditulisnya.

Kini, gelar Amir Syu’ara’ bisa diperebutkan oleh para penyair-penyair Arab lainnya, yang kemudian diberikan kepada mereka yang berhasil memenangi kompetisi Amir Syu’ara’ (The Prince of Poets Competition) . Program Amir Syu’ara’ ini diadakan oleh Idarat al-Mahrajanat wal al-Baramij al-Tshaqafiyah wa turasiyah Emerat Abu Dhabi sejak tahun 2007. Sebelum acara ini dimulai, Pangeran Penyair Ahmad Syauqi ditampilkan di layar, di hadapan para penyair yang mengikuti kompetisi besar ini.

Dalam laman Amir Syu’ara’, acara ini diadakan setiap dua tahun sekali di pantai Al Rahah Abu Dhabi. Setiap musim, program ini menerima ribuan puisi dari penyair Arab di seluruh dunia, dan juri akan menyortir dan mengevaluasi karya-karya yang berpartisipasi, setelah itu lebih dari 150 penyair yang terpilih, akan ada kompetisi lanjutan di Abu Dhabi, kemudian juri melakukan wawancara secara individu dengan masing-masing penyair. Berikutnya, terpilih  40 penyair yang masuk pada fase pengujian (marhalah ikhtibarat) ke daftar 20 penyair yang akan berpartisipasi dalam episode siaran langsung dalam televisi Amir al-Syara’.

Pada akhir setiap kompetisi, penyair yang memenangi kompetisi ini mendapatkan gelar “Amir Syu’ara’/Pangeran Penyair/Presiden Penyair”, baju kebesaran penyair (burdah syi’r/hair dressing), cincin emirat, dan hadiah uang tunai sebesar AED 1 juta, juara kedua menerima hadiah uang tunai sebesar AED 500.000, juara ketiga menerima AED 300.000, juara keempat menerima AED 200.000, dan pemenang di posisi kelima menerima AED 100.000.

Sejak kompetisi ini digulirkan, sudah terdapat delapan presiden penyair yang terpilih dalam delapan musim, dan tahun ini musim yang ke sembilan. Pada musim pertama diraih oleh Abdul Karim Ma’tuq (Emirat), musim ke dua Sidi Ould Bemba (Muritania), berikutnya Hassan Baiti (Syiria), ke empat Abdul Aziz Zirai (Yaman), ke lima Ala’ Janib (Mesir), ke enam Haidar al-Abdullah (Arab Saudi), ke tujuh Iyad al-Hakami (Arab Saudi), dan pada musim ke delapan yang diadakan pada bulan April 2019 gelar Amir Syu’ara’ disandangkan pada Sulthan Sabhan al-Syamri (Arab Saudi), berturut-turut sampai tiga kali Arab Saudi mampu meraih gelar terbesar kepenyairan di Jazirah Arab ini.

Dalam laman Amir Syu’ra, kompetisi ini bertujuanuntuk mempromosikan puisi Arab Fushah dan klasik, menghidupkan kembali peran positif (ad-daur al-ijabi) puisi Arab dalam budaya dan kemanusiaan Arab, serta sebagai pesan cinta dan perdamaian kemanusiaan. Dan beberapa tujuan lainnya, membuat data base para penyair, kritikus sastra, pekerja sastra dan bidang yang terkait dengan kesusastraan.

Pada tahun lalu saya berkesempatan satu forum webinar dengan Amir Syua'ra' ke 5, Ala' Janib dari Mesir pada Acara Al-Syi'ri fi al-Mujtama' yang diadakan oleh Akademi Tamayyuz India. Mudah-mudahan pada forum yang lain dapat menyaksikan dan menikmati gaya Amir Syu'ara membacakan puisinya. 

Malang, 27 Januari 2021

Selasa, 26 Januari 2021

Mengapa Dinamakan Lidah Mertua?

 

Halimi Zuhdy
Saya bukan kolektor tanaman hias, hanya ada beberapa tanaman yang menghias gubuk rindu. Saya senang kalau melihat berbagai tanaman hias, apalagi tanaman yang berbunga. Dan sedih kalau ada tanaman yang wafat (belum sempurna hidupnya, sudah mati.he). Karena di antara tanda-tanda suami perhatian pada istri, kalau di rumah tidak ada tanaman yang mati. Ini katanya lo. "Loh kok bisa" tanyaku. Teman saya berseloroh, "Bunga saja dijaga, dipelihara, disiram setiap hari, apalagi istrinya" maka saya takut kalau ada bunga mati.😀. "Bunga saja tidak dijaga, bagaimana menjaga istri" 😍. Guyon Bosku.
Beberapa bulan yang lalu, ketika istri ngajak beli bunga di Splendid (pasar hewan dan bunga termasyhur di Kota Malang), saya tanya mau beli tanaman apa?, "Lidah Mertua" katanya. Saya kaget luar biasa, masak tanaman bawa-bawa nama mertua, ditambah lidah lagi. Ngeri sekali. Saya penasaran, mudah-mudahan tidak seburuk apa yang saya bayangkan.

Gambar mungkin berisi: tanaman, luar ruangan dan alam
Saya berharap tanaman Lidah Mertua ini ada bunganya, indah merona-rona. Karena saya terbayang tanaman hias lain yang dijuluki dengan Lidah Buaya. Ia dipenuhi duri-duri kecil, walau sebenarnya tanaman ini asyik. Berdaging tebal. Lidah yang berasal dari kawasan Jazirah Arab Ini, memiliki manfaat yang luar biasa, terutama untuk kecantikan, mungkin saja Kleopatra juga pernah memakainya.😁 dan Lidah Buaya masuk pada keluarga Shabbar (صبار, Kaktus).