السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 04 Oktober 2019

M o m e n t

Halimi Zuhdy

Setiap detik itu adalah moment terpenting hidup kita. Tapi mengapa sering diabaikan? Bahkan, tak peduli dengan apa yang terjadi.

Kerikil yang menyapa. Debu yang menerpa. Daun yang melambai-lambai. Dan, air yang terpercik ke baju kita, bukanlah sebuah kebetulan. Ia sudah termaktub rapi di Lauh Mahfud-Nya. Malaikat bekerja sedemikian rupa.

Namun, kadang kita lupa, bahwa moment apapun adalah paling indah dalam kehidupan. Mengapakah kita lupa mengabadikannya. Walau tidak ada (yang) abadi kecuali keabadian-Nya.

Ketika kita mengambil gambar (menfoto), mengapa kita memilihnya? Bukankah setiap moment itu istimewa. Benar. Tapi ada moment-moment (yang) sangat istimewa. Sebagaimana Allah memberikan waktu-waktu istimewa. Pada setiap harinya, setiap bulannya, dan setiap tahunnya. Dalam satu minggu, hari Senin, Kamis dan Jumat. Dalam satu bulan, ada Ayyamul Bedh, 13,14 dan 15. Dalam satu tahun, bulan al-Muharram, Ramadlan, dan lain sebagainya.

Untuk apa? Agar kita terus menunggu waktu istimewa dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu. Pada waktu yang istimewa itulah kita perkuat rindu dan cinta. Agar ikatan semakin erat. Bila ada kedekatan, maka rahmat akan terus mengalir pada kita.

Mengabadikan moment terindah dalam setiap detiknya. Selalu membekaskan nama-Nya di setiap waktu dan tempat, fadzkuruni azkurkum. Dzikir itu akan direkam. Diputar dalam setiap roda kehidupan. Tentunya nanti akan kita saksikan dalam layar lebar Mahsyar. Di mana tiap manusia menunggu pemutaran film kehidupan mereka. []

Jum'ah Mubarokah...

Ket: Ketika Abah Zawawi melukis wajah suram ini,wkwkwk.
Gus Aziz Progresif terima kasih.

Kamis, 12 September 2019

Makam Itu Bukan Kuburan

(Menelisik Asal Usul kata Kuburan dan Makam)

Oleh: Halimi Zuhdy

“Ustadz, kuburan Nabi Ibrahim kok kecil sekali ya”......ungkap salah seorang  jamah Umrah ketika baru pulang dari Makkah. 

“Kuburan yang mana Pak?, Apakah Bapak ke Kuburan Nabi Ibrahim?” Saya bertanya kembali.

“Yang dekat  Ka’bah  itu ustadz, bukankah itu kuburan Nabi Ibrahim?” Jawab nya dengan polos.

“Kuburan Nabi Ibrahim itu di kota Hebron Palestina Bapak, Hebron (Hebrew) itu bahasa Ibrani yang berarti al-Khalil, sebuah gelar yang disematkan kepada Nabi Ibrahim” sedikit saya jelaskan dimana Nabiyuna Ibrahim dikuburkan.

“Itu Maqam bukan Kuburan Bapak, Maqam artinya tempat Nabi Ibrahim berpijak ketika membangun Ka’bah” saya coba menjelaskan, namun ia masih bengung.wkwkwkw
------------------------------------

Jumat, 30 Agustus 2019

Memahami kata "Wafat" dan "Maut" dalam linguistik Arab

Halimi Zuhdy

Bahasa adalah cerminan dari budaya suatu bangsa, dan setiap bahasa memiliki keistimewaan dan karakter sendiri. Bahasa yang digunakan dalam suatu bangsa, dianggap mewakili karakter dari bangsa tersebut.

Misalnya, dalam mengungkapkan kata “kematian”, antara suatu bangsa dan bangsa lainnya berbeda, baik dari ungkapannya atau perlakuannya.

Dalam bahasa Indonesia, kata “mati” memiliki banyak sinonim (al-mutaradifat), di antaranya; berkalang tanah, berkubur, binasa, bobrok, buang nyawa, gugur, hilang hayat, hilang jiwa, hilang nyawa, jangkang, kaku, kembali ke pangkuan Allah Swt, koh, mampus, mangkat, maut, melayang jiwanya, membaham tanah, meninggal, menutup mata, modar, musnah, padam hayat, padam nyawa, punah, putih tulang, putus jiwa, putus napas, putus nyawa, putus umur, tenang, terjengkang, tersekat, tersumbat, tertutup, tetap, tewas, tumpar, tumpas, wafat, dan masih ada kosakata lainnya, dengan penggunaannya yang berbeda.

Dalam tradisi Nusantara, kematian adalah sesuatu yang sangat sakral, bukan hal yang sederhana, sehingga muncul dengan istilah-istilahnya yang bervarian. Karena kematian merupakan hal yang penting, sebagaimana kelahiran, maka banyak memunculkan ungkapan-ungkapan atau kosakata yang tidak sedikit.

Dampak dari kesakralan tersebut, orang yang meninggal tidak cukup dikebumikan, tetapi ada tahapan-tahapannya, dan setelah dikebumikan dibuatkan kijing, diberi nama, tanggal lahir dan tanggal kematiannya, ada pula yang dibangunkan rumah di atasnya. Sedangkan beberapa negara di Arab, bahkan mayoritas, kijing juga jarang didapatkan, dan tidak terdapat nama dan tanggal kematiannya. Seperti pekuburan Baqi’ dan Ma’la.

Selengkapnya dapat dibaca dilink berikut:https://alif.id/read/halimiy-zuhdi/memahami-kata-wafat-dan-maut-dalam-linguistik-arab-b222140p/

Manusia Sangat Suka Ingkar Nikmat

(Analasis kata "Kanud" dalam Al-'Adiyat)

Halimi Zuhdy

Manusia itu makhluk yang unik, ia bisa tersenyum pula bisa tertawa, bisa mengeluh dan menerima keluhan, juga sering menolak untuk dibuat tempat mengeluh, mengeluhnya lebih banyak dari ridhanya.

Manusia itu makhluk unik, menerima banyak nikmat, tapi sering melupakannya, bahkan merasa tak pernah menerimanya. Bila diberi nikmat, masih sering merasa sedikit, bila dikasih lebih banyak juga tidak merasa banyak, kadang merasa belum pernah diberi.

Manusia itu unik, nikmat yang pernah dirasakan terhapus dengan setetes penyakit yang diderita. Sering pula melupakan segala kenikmatan terhebatnya.

Keunikan ini, bagi mereka yang tidak pernah bersyukur walau merasakan nikmat luar biasa, seperti tenggorokannya kering dari perjalannya pendeknya ketika kehabisan air, walau sebelumnya perjalan panjangnya selalu ada air yang diminumnya. Ia bersedih dengan memutihnya rambut, walau hitamnya sejak kecilnya sudah dinikmati. Ia marah  giginya sakit walau hanya satu detik, lupa puluhan tahun giginya bisa mengunyah banyak rezki dan nikmatNya.

Sesak nafas yang didera, seperti kematian buatnya, lupa bahwa jutaan nafas telah keluar masuk tanpa biaya. Debu yang menghalangi matanya, membuatnya amarah membara, ia lupa  puluhan tahun matanya memandang kenikmatan dunia tanpa cela.

Sebagaimana Firman Allah swt:
"Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya" (Al-'Adiyat;06)

(إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ)

Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata "Kanud" di tambah "lam" untuk taukid (menguatkan). "la Kanud"  dalam Tafsir Thabari "la  kafur li ni'ami rabbihi", sangat mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya.
"Kanud" dalam At-Thabari adalah al-Ardhu al-Kanud, bumi atau daratan yang tidak ditumbuhi apapun.

حدثنا أبو كُرَيب، قال: ثنا عبيد الله، عن إسرائيل عن جعفر بن الزبير عن القاسم عن أبي أمامة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ) قال:" لَكَفُورٌ الَّذِي يَأْكُلُ وَحْدَهُ وَيَضْرِبُ عَبْدَهُ وَيَمْنَعُ رِفْدَهُ " .
Tentang "Lakanud"  Nabi bersabda, "Mereka sungguh ingkar, mereka yang makan sendirian, memukul budaknya, dan menolak pemberian".

حدثني محمد بن إسماعيل الصوارى قال: ثنا محمد بن سوار قال: أخبرنا أبو اليقظان عن سفيان عن هشام عن الحسن في قوله ( إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ) قال: لوام لربه يعد المصائب وينسى النعم.

Menurut al-Hasan, "Mereka yang sangat suka mencela Tuhannya, menghitung-hitung musibah, dan melupakan kenikmatan-kenikmatan" 

Dalam Lisan al-Arab, Kanada Yaknudu Kandan Kunudan, diartikan mengingkari nikmat, seperti Rajulun Kannad. Dalam Al-Ma'ani, juga ada yang bermakna "Qatha'ahu", memutusnya.

Dalam Tafsir Al-Baghawi, juga diartikan sama, Al-juhud lini'amillah, mengingkari nikmat Allah. Perkataan al-Husain, sebagaiana dikutip al-Baghawi, Kanud, adalah menghitung-hitung (banyak mengingat) musibah, dan melupakan banyak nikmat. Sedangkan menurut Abu Ubaidah, mereka sedikit memberikan sesuatu. Al-Fudhail, mereka yang melupakan banyak kebaikan dan menyebut banyak kekurangan.

Dalam Tafsir Al-Sya'rawi, Kalimat (كنود) yang terdiri dari "Kaf", "Nun" dan "Dal" dari (كند) mengandung makna الجحود yaitu mengingkari. Kabilah Kindah adalah kabilah yang sangat terkenal di Arab, yang bila seseorang berasal dari Kabilah tersebut dan ia dinisbatkan kepadanya,  diaebut al-kindy. Ada yang berpendapat (qila)  disebut Kabilah Kindah, kerena kabilah tersebut mengingkari atau menentang orang tua mereka.

"Kanud" mengingkari yang ada, seperti tiada. Merasakan rasa, seperti tak punya rasa. Berjibun nikmat, berlimpah pemberian, tapi seperti rekaman yang dihapus dalam kaset kehidupannya. Mengingat segala sedih, susah, dan musibah membakar segala nikmat.

Dikisahkan, seorang salafus shaleh ditimpa berbagai penyakit; lepra, matanya buta, tangan dan kakinya lumpuh, kepalanya botak. Ia masih selalu memuji Tuhannys, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang selalu memberiku kesehatan (kebaikan, menarik, bagus) dari banyaknya cobaan, dan memberikan banyak kelebihan dan utamaan padaku". Tetiba, lewatlah seseorang dan mengejek, apa yang menarik darimu? Engkau buta, terkena lepra, lumpuh, apa yang indah darimu?
Kemudian ia menjawab, "Kurangajar Kau, wahai laki-laki, Allah menjadikan  mulutku terus berdzikir, hati yang bersyukur, dan tubuhku selalu sabar menerima musibah".

Mudah mudahan kita dijauhkan, sejauh-jauhnya dari "Kanud", mudah-mudahan didekatkan dengan "Syakur". Amin Ya Rabb

Sumenep, 24 Agustus 2019

Ket Gambar: Santri TPQ dan PAUD Al-Quran Masjid Baiturahman Bukit Cemara Tidar dalam HUT RI ke 74

Hanya Orang sembarang, Yang Berlaku Sembarangan


Oleh Halimi Zuhdy

Setiap lewat jalan Bandung selalu disambut dengan plang yang bertuliskan "Bila Anda Bukan Orang Sembarangan, Jangan Buang Sampah Sembarangan", kata-kata ini seperti memecut saya,  Apakah saya termasuk orang sembarangan? walau urusan sampah, khususnya kepada anak-anak, pasti saya arahkan untuk membuangnya pada tempatnya. Tapi, kata itulah yang menggelitik tangan ini untuk menuliskannya.

"Sembarangan" kalau dalam bahasa Arab bisa disamakan dengan "Kedhaliman", dhalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

الظلم هو وضع الشيء في غير موضعه، وهو الجور، وقيل: هو التصرف في ملك الغير ومجاوزة الحد.
Kata "Dhalim" ini, satu kata  dari "dhalam" yang bermakna kegelapan.

Gelap itulah yang membawa seseorang pada prilaku yang tidak menentu, sembarangan, sporadis, dan cendrung meletakkan sesuatu pada  selain tempatnya. Maka, butuh "Nur", untuk meneranginya. Nur kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Berkait dengan sampah, masih banyak masyarakat kita yang kurang peduli. Saya sering melihat mobil bagus, tapi perilaku orang di dalamnya tidak sebagus mobilnya, buang  sampah sembarangan di jalan, ia menggap jalan raya sebagai tempat sampah. Ngennes.

Belum lagi pengendara motor, pejalan kaki, dan lainnya, yang mereka seperti tidak sadar melemparkan sesuatu (sampah) sembarangan, ketidaksadaran inilah buah dari kebiasaan mereka, mereka yang biasa membuang sampah sembarangan.

Sehingga banyak narasi (plang) bagi mereka yang membuang sampah  sembarangan, mungkin masyarakat yang sadar kebersihan sudah sangat terusik sekali, seperti, "Hanya anjing yang membuang sampah di sini", "Ya Allah, Aku Rela Miskin 7 Turunan, Kalau Buang Sampah Sembarangan", "Ya Allah, Cabutlah Nyawa Mereka Yang Membuang Sampah di Sini", "Yang Membuat Sampah di Sini, Tak Dungono Kesurupan", "Bila Anda Tidak Mampu Membuang Sampah Pada Tempatnya, Mata Telankan Makanan/Minuman Beserta Kemasannya". Masih banyak kalimat lebih kasar dari kalimat di atas, walau tidak sedikit kata yang diperhalus.

Suatu saat, atau sudah terjadi, bagi yang membuang sampah di Penjara. Wkwkwwk.

Seperti adanya “polisi Tidur” , apakah hanya alat untuk memperlambat pengendara mobil atau motor, atau ada sesuatu di balik semakin maraknya pemasangan polisi tidur itu.

Setelah saya coba merenung, itu sangat terkait dengan perilaku dan akhlaq masyarakat pengendara dan masyarakat pemakai jalan tersebut. Kenapa harus ada polisi tidur? Karena sudah tidak lagi peduli dengan keselamatan orang lain, atau bahkan dirinya, atau kecepatan yang tidak terkontrol sehingga banyak orang mengalami kecelakaan.

Kemudian diberiperingatan disepanjang jalan, dengan tulisan “harap pelan-pelan”, tetapi juga di _labrak_, ini menandakan bahwa bahasa tulisan sudah tidak dipedulikan, peringatan apapun sudah diabaikan, apakah tidak bisa membaca? Saya yakin, pasti bisa, namun sudah abai.

Ditambah lagi dengan tulisan “ngebut benjut”, tapi tulisan itu pun seperti angin lewat, pengendara masih saja abai, sama dengan tulisan “hanya anjing yang kencing di sini”, “hanya sampah masyarakat yang membuang sampah di sini”, itu adalah kemarahan masyarakat yang terganggu dengan sesuatu yang dilanggar, berarti tanda apakah itu, ketika banyak yang sudah tidak peduli dengan lingkungan, keselamatan, kesehatan, keindahan, keamanan, dan lainnya. Kenapa harus ada kata-kata yang begitu menghentak?
.
Aturan demi aturan dilanggar, peringatan demi peringatan diabaikan, berarti ada yang sakit dengan masyarakat tersebut, sehingga karena masyarakat sekitar jalan itu terganggu atau sering terjadi kecelakaan, maka jalan terakhir adalah dipasang “polisi tidur”, dilambatkan paksa, dihentikan paksa, karena sudah tidak peduli dengan peringatan dan kata-kata.

Bagaimana dengan mereka yang tetap saja, membuang sampah sembarangan? Apakah ada Polisinya?.wkwkwkw.

Mudah mudahan kita tetap berakrab dan mengamalkan maqalah " An-nadhafatu Minal Iman".

Malang, 30 Agustus 2019

Minggu, 04 Agustus 2019

Ganti, Buang, atau Tambah, Akan Bahagia

(Sambil Menambah Kosa Kata Arab)

Oleh: Halimi Zuhdy

Hidup itu harus selalu bergerak, agar mendapatkan keberkahan. Al-harkah Hiyah Barokah. Bergerak itu tidak harus berlari terus, kadang harus mengganti yang sudah usang, atau membuang yang sudah busuk, atau mengurangi yang berlebih, atau menambah yang kurang.

Kelamaan duduk di tempat empuk, akan lupa tirakat, bila lupa tirakat, tak kan punya kepekaan sosial,  bahkan hanya menjadi angkuh. Tidak pernah duduk di kursi empuk, walau sekejap, akan merasa paling sederhana, lupa belajar bahwa hidup tak sesederhana dalam pikirannya. Hidup mutawassith itulah idaman, tidak terlalu tinggi kemudian meninggi (sombong), terlalu rendah kemudian merendah dan merasa hina atua terhina.

Untuk menuju keindahan, kebahagiaan dan kesederhanaan, mari belajar pada kata-kata berikut, sambil menambah kosa kata bahasa Arab ya.wkwkwkw

Bila perang tidak pernah usai, kalut dalam hidup, dan peperangan itu ingin berganti dengan sebuah cinta, hilangkan Ra'-nya.
( حرْب) menjadi (حبٌّ).

Kadang, terlalu banyak  harta dan kuasa, membuat cepat murka. Bila kemurkaan diri terus melanda, hidup tak bahagia. Bila keburukan dan kejahatan ingin berganti dengan kebahagiaan, bunglah Syin-nya.
(شرور) menjadi (سرور)

Bila tetap Syin dalam Syadid dipertahankan, ia akan keras selalu, maka sesekali dibuang atau dihilangkan, agar kelembutan datang.
(شديد) menjadi (سديد).

Bila ingin mulia, jangan boros, jangan pula melampaui batas, apalagi   menghambur-hamburkan harta. Maka, isilah Sin-nya menjadi Syin.
(مُسْرف)  menjadi  (مُشْرف).

Banyak orang yang bingung, karena ia jarang melakukan kebaikan, bahkan tidak pernah. Bila ingin bahagia, tambahlah titik pada kata Hairun menjadi Khairun.
(حَيْر) menjadi(خَيْر).
Bila kebaikan selalu ditebar, kesedihan, kebingunangan kan lenyap.

Mengganti huruf demi huruf kadang tidak cukup, butuh pencarian sampai menemukan keindahan. Bila Ha' harbun
حرب (Peperangan)   diganti Kha' خرب (menghancurkan)  sesekali diganti طَرب (Sukacita) walau kadang tidak bertahan هَرب (melarikan diri).

Orang kekurangan, selulu tak puas, biasanya buas, atau sebaliknya. Buas karena ingin kenyang. Sebagaimana hilangnya Syin dalam Sabunga.
(شَبِع) menjadi (سَبُع)

Berganti peran dalam berbagai sisi kadang dibutuhkan,bukan gaya kemunafikan, tapi untuk menemukan seberapa jauh kekuatan menghadapi gelombang kehidupan. Hasbiyallahu lailaha illallah.

Malang, 4 Agustus 2019

Khadim PP. Darun Nun Malang

Rabu, 24 Juli 2019

Perempuan Penyangga Bangsa

(Perempuan Hebat, Membangun Negara Bermartabat)

Oleh Halimi Zuhdy

Masa kini adalah pertaruhan masa depan, masa lalu menjadi gambaran masa kini. Perempuan-perempuan hebatlah yang menjadi taruhan masa keemasan sebuah negara, jika para perempuan tidak mampu memperbaiki diri dan tidak mampu menjaga dirinya, maka alamat suatu negara akan rusak dan hancur. Bukan kemudian menghilangkan peran laki-laki, tetapi bagaimana kedudukan perempuan dalam Islam sangat luar biasa, karena laki-laki dan perempuan adalah khalifah Allah di muka bumi.

Negara maju, bukan karena hanya karena kecanggihan teknologinya, bukan pesatnya pertokoannya dan menjulangnya bangunan-bangunannya, bukan pula kebebasan yang menjadi Tuhan. Tetapi, bagaimana negara tersebut mampu mempertahankan kebaikan-kebaikan umat dalam beragama, berlandaskan aqidah yang kuat, dan mampu mengamalkan ajaran-ajaran agamanya.

Maka, perempuan-perempuanlah yang dapat melahirkan generi sepanjang zaman, dan perempuan pula yang selalu berkelindang di dalam rumah bersama anak-anak calon khilafah masa kini dan berikutnya, dan perempuan pulalah yang menjadi Rabbatul Bait (pengasuh, pendidik, manager rumah), sebuah kehormatan yang luar biasa untuk perempuan disebut Rabbatul Bait, karena memang dari tangan-tangan lembut mereka generasi menjadi penyayang, dari pundak kuat mereka generasi menjadi kuat dan tegas, dan dari tangisan tahajjut mereka, menjadi generasi yang penuh sentuhan rasa cinta, dan dari dalam kandunganlah mereka dilatih untuk sabar, sayang dan penyantun, sebagaimana pusar yang masih tersisa di setiap manusia, sebagai bukti bahwa cinta harus ada, agar selalu menebar kasih.

Perjalanan dakwah Nabi Muhamamd saw yang luar biasa  tidak terlepas dari perempuan-perempuan hebat di sekeliling beliau. Seperti Khadijah, Istri Nabi saw yang sangat berperan aktif mendukung beliau, baik dukungan individual dan dukungan sosial. Dukungan individual, ketika Nabi Muhammad memberitahu apa yang telah beliau temui, Khadijah memujinya dengan kebaikan-kebaikan yang telah Nabi lakukan dengan sifat-sifat yang mulia, sehingga membuat Nabi senang, tenang dan merasa hilang rasa takutnya. Sedangkan dukungan sosial, agar Nabi semakin kuat dalam berdakwah, Khadijah mengajak berkonsultasi dan menemui Waraqah, dan selalu memotivasi Nabi untuk bangkit berdakwah.

Sedangkan Aisyah binti Abu bakar, perempuan yang selalu haus ilmu, gigih dalam belajar dan mengajarkan ilmu agama,  menurut Abu Ubaidillah Ali Salman dalam kitab Inayah an-Nisah’ bi al-hadis, bahwa Aisyah telah meriwayatkan 2210 hadis. Sedangkan menurut az-Zarkasi yang menulis buku al-Ijabah tentang para sahabat, bahwa Aisyah termasuk dari tujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis; Abu Hurairah, Sa’ad, Anas, Aisyah, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sedangkan Ibnu Abdul Barri mengatakan bahwa “sesungguhnya Aisyah adalah satu-satunya wanita di masanya yang menguasi tiga ilmu sekaligus, ilmu iqih, Kedokteran dan syair”.

Umat, negara dan sebuah kelompok atau golongan, tidak bisa lepas dari peran perempuan-perempuan sekelilingnya, tergantung bagaimana perempuan tersebut mengambil peran. Peran perempuan dalam sebuah negara, tidak harus menjadi politikus, tidak pula harus menjadi pemimpin, tidak harus menjadi pendidik masyarakat (guru), tetapi bagaimana ia mampu memberikan konstribusi aktif dan kemanfaatan dalam membina rumah tangganya, karena dari negara kecil inilah (kelaurga), negara besar dibangun.

https://www.instagram.com/p/B0S74-3JLik/?igshid=1be2rzwrkzt5l

Jika negara-negara kecil dibangun dengan baik, maka negara besar akan menjadi baik, sebagaima pada masa Nabi saw dan masa keemasan Islam, para perempuan juga sangat aktif menjadikan genarasinya, sebagai generasi emas. Seperti peran besar Ibu Imam Syafi’i dalam pencapaian keilmuan beliau, Muhammad bin Idris  Asy-Syaif’i yang ditinggal ayahnya wafat dalam usia muda, ibundanyalah yang mendidik,  membesarkan dan membawanya hijrah ke Makkah dari Gaza Palestina, dan ibunya pula yang membawa ke pedesaan agar belajar bahasa Arab fusha sehingga beliau sangat fasih dalam bahasa Arab. Demikian juga Imam Malik bin Anas, ibunya sangat berperan besar menjadikannya ulama ini luar biasa, kebiasaan ibunya yang memakaikan pakaian dan mengenakan imamah kemudian beliau mengantarkan ke majlis ilmu yang diasuh oleh Rabi’ah bin Abi Abdirahman. Demikian pula, perempuan yang mampu mengantarkan Imam Bukhari menjadi ulama besar dan ahli hadis, saat Imam Bukhari berumur 16 Tahun, ibunya mengajak ke Makkah dan meninggalkannya, agar Imam Bukhari banyak menimba ilmu agama dari para ulama yang berada di Tanah Haram.

Umat akhir-akhir ini, berada di suasana yang penuh dengan cobaan dan fitnah, maka membutuhkan perempuan-perempuan muslimah hebat untuk menjaga generasi hebat, yang selalu berada di rel agama, selalu berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan Al-Hadis, mengikuti kajian-kajian keagamaan dan majlis-majlis ilmu, karena merekalah benteng yang luar biasa, menjaga gempuran peradaban yang tidak sesuai dengan agama, media sosial yang mulai menjadi denyut nadi, layar kaca tanpa sensor, internet dengan jejaringnya yang tak lagi mengenal usia. Ayah sebagai garda depan, dengan dukungan penuh perempuan pendamping yang menggawangi dari hal-hal yang dapat merusak agama.   
Perempuan hebat selalu ingin belajar tentang agamanya, selalu memperbaiki akhlaknya, dan  mau belajar apa yang menjadi kecendrungannya, “Maka Tuhan mereka mengabulkan permohonan mereka dengan berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan...” . 

Tidak sedikit perempuan yang menjadi guru para ulama, seperti Al-Syaikhah Syuhrah salah seorang guru Imam Syafi’i yang digelari Fakhrun Nisa’ (kebanggaan Perempuan), ada juga Syamiyat At-Taimiyah, Zainab putri sejarawan Abdul Lati Al-Bagdadi, dan Mu’nisat Al-Ayyibiyah, Al-Khansa’ dan lainnya. Dan muslimah hebat tidak harus sama dengan mereka yang memiliki kedudukan ilmiah pada zamannya, tetapi perempuan yang selalu ingin belajar untuk membina generasi muslim bersama suaminya, dan perempuan-perempuan yang menjaga dirinya (iffah) dari hal-hal yang dapat mendatangkan kemudharatan dirinya di dunia dan di akhirat. Tidak ada halangan bagi seorang perempuan untuk selalu belajar untuk mencipta generasi emas, baik belajar di halaqoh-halaqoh, majlis-majlis ta’lim, di rumah suaminya, di pondok pesantren, dan di tempat-tempat yang mampu mengantarkannya menjadi muslimah yang baik.

Perempuan, ketika memiliki anak, ia disebut dengan “ibu” yang dalam bahasa Arab adalah “umm”, yang memiliki akar yang sama dengan kata imam (pemimpin), yang berarti “diteladani”. Maka sangat wajar sekali, jika seorang ibu mampu menciptakan generasi unggul, menjadikan anak-anak pemimpin yang baik, dan ia mampu untuk diteladai oleh anak-anaknya dan masyarakat. Jika ia sudah berada pada tingkat “namudzajiah, mistaliyah wa uswah” (teladan), maka ia akan mampu menciptakan negara dan umat bermartabat. Allahu’alam bi al-shawab.

Khadim PP. Darunnun Nun

Sabtu, 13 Juli 2019

Tin Zaitun dalam I’Jaz Lughawi dan Ilmi

(Kemu’jizatan al-Qur’an)

Halimi Zuhdy

Beberapa hari yang lalu, saya menyampaikan kajian tafsir dengan tema “I’Jaz Lughah dan Ilmi dalam Surat At-Tin” di Masjid Ibnu Sina RSU Saiful Anwar Malang, kajian ini diadakan setiap hari Selasa, pada minggu kedua dalam satu bulan.

Ayat ini sangat menarik ketika dikaji dari beberapa aspek; aspek kemu’jizatan matematis, aspek kemu’jiztan Bahasa, dan aspek I’jaz Ilmi (Keilmuan, kesehatan).

Secara singkat penulis akan mengurai ketiganya, dan insyallah pada kesempatan yang lain penulis akan mengurai lebih panjang dengan beberapa rujukan yang lebih lengkap.

Menurut Dr. Thaha Ibrahim, Salah satu kisah terbaik tentang mukjizat ilmiah Al-Qur’an adalah tentang materi metalonides, Zat ini sangat penting untuk tubuh manusia (pengurangan kolesterol, metabolisme, kekuatan jantung, dan kontrol pernapasan).

Zat ini adalah zat yang mengekskresikan tulang manusia dan hewan dalam jumlah kecil. Zat ini adalah zat protein dengan sulfur sehingga dapat dengan mudah bergabung dengan seng, besi dan fosfor.

Sekresi zat ini bertambah dari otak manusia secara berangsur-angsur dari usia 15 tahun hingga usia 25 tahun, dan kemudian berkurang dan berkurang hingga usia enam puluh tahun. Kata Dr. Thaha Ibrahim, jadi tidak mudah untuk mendapatkan hal tersebut dari manusia, sedangkan yang dimiliki hewan ditemukan dengan persentase yang sangat kecil.

Dalam hal ini, menurut Dr. Ibrahim, menarik sekali ketika melihat hasil penelitian tim ilmuwan Jepang tentang tanaman yang luar biasa dan merupakan bahan ajaib, serta memiliki efek terbesar dalam menghilangkan gejala penuaan.

Dan mereka tidak menemukannya kecuali dalam dua jenis tanaman; tin dan Zaitun, dan dalam al-Qur’an kita temukan ayat terkait dengan penemuan tersebut yang Allah sampaikan dalam surat At-Tin, 1) Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, 2. demi gunung Sinai, 3. dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. 4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,  "buah ara dan zaitun") dan perkembangan Sinin. "Dan negara ini setia." Kami menciptakan manusia dalam kalender terbaik. (Salam sejahtera baginya).

Ditemukan oleh beberapa Ilmuan tadi, bahwa mengkonsumsi buah Tin dan Zaitun saja tidak memberikan manfaat yang diharapkan bagi kesehatan manusia, kecuali setelah mengekstrak dari buah Tin dan zaitun. Secara bersama.

Dan selanjutnya, tim ilmuwan Jepang memberikan solusi untuk memberikan proporsi terbaik dari tanaman tersebut untuk memberikan efek terbaiknya dalam pengobatan dan lainnya adalah dengan mengkonsumsi 1 buah Tin dan 7 buah  Zaitun.

Dari penelitian Dr Taha Ibrahim, bahwa dalam Al-Qur’an kata Tin disebutkan hanya sekali, sedangkan kata Zaitun disebutkan 6 kali dan 1 kali secara tersirat dalam Surat Al-Mu'minin, “Wa syajarotan Takhruju min Tur Saina’ Tanbutu Biduhni wa Shibghin lil Akilin,  dan (kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan”.

Demikian beberapa ulasan I’jaz Ilmi “Tin dan Zaitun” sebagai  awal dari  Surat At-Tin tersebut.

Sedangkan dalam I’Jaz Lughawi, Pertama dalam aspek urutannya, beberapa Mufassir menyebutkan, al-Zaitun disebutkan setelah At-Tin, karena Zaitun lebih mulia (Asyraf) dan lebih utama (afdal) dari at-Tin , sebagaimana dalam QS An-Nur; 35.

Selanjutnya adalah Tur Sinin (Tur Sina), dan hal ini disebutkan setelahnya, karena ia lebih utama dari At-Tin dan al-Zaitun. Dan mengapa kata Zaitun, dekat dengan kata Tur Sinin, tidak dengan at-Tin, dan hal ini diebutkan dalam Ayat; “dan (kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan”. QS Al-Mu’minun; 20. Dan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Zaitun.

Kemudian, setelah beberapa ayat tadi disebutkan, maka ayat berikutkan adalah kata “Balad Amin”, yang dimaksud dengan “Balad Amin” adalah Makkah Mukarramah, tempat lahirnya pembawa risalah Rahmatan Lil Alamain, Nabi Muhammad saw. Dan ini tempat yang paling dimuliakan oleh Allah dan tempat yang paling dicantai. (Dan juga sangat menarik adalah ayat setelahnya, namun penulis hanya mengkaji Tin Zaintun, Insyallah akan dikaji setelahnya).

Dan yang menarik adalah bila “At-Tin, Zaitun, Tur Sinin dan Balad Amin” dikaji dari tempat tumbuhnya, dan terkait dengan pembawa risalah dari masih tempat tersebut, menurut Mufassir tempat tembuhnya Tin dan Zaitun adalah Syam (Palestina, dll) dan yang lahir dari tempat ini adalah Nabi Isa As. Sedangkan terkait dengan Tur Sina adalah Musa AS, dan berikutnya yang disebutkan Balad Amin, adalah Negeri Makkah yang di tanah sucinya lahirlah Nabi Muhammad saw. Dan urutan ini pun sangat menarik, serta peran ketiganya dalam membawa risalah Allah. [Allah a’lam bishawab]

Marja’: Lamasat Bayaniyyah lil Thaha Ibrahim, Tafsir Ibnu Kasir, Tafsir Fathul Qadir lil Syaukani, Ruh Ma’ani.

Ketika di Kebut Zaitun Yourdania, bersama Dr. Faisol Fatawi perbasan dengan Palestina.
(Kemu’jizatan al-Qur’an)

Halimi Zuhdy

Beberapa hari yang lalu, saya menyampaikan kajian tafsir dengan tema “I’Jaz Lughah dan Ilmi dalam Surat At-Tin” di Masjid Ibnu Sina RSU Saiful Anwar Malang, kajian ini diadakan setiap hari Selasa, pada minggu kedua dalam satu bulan.

Ayat ini sangat menarik ketika dikaji dari beberapa aspek; aspek kemu’jizatan matematis, aspek kemu’jiztan Bahasa, dan aspek I’jaz Ilmi (Keilmuan, kesehatan).

Secara singkat penulis akan mengurai ketiganya, dan insyallah pada kesempatan yang lain penulis akan mengurai lebih panjang dengan beberapa rujukan yang lebih lengkap.

Menurut Dr. Thaha Ibrahim, Salah satu kisah terbaik tentang mukjizat ilmiah Al-Qur’an adalah tentang materi metalonides, Zat ini sangat penting untuk tubuh manusia (pengurangan kolesterol, metabolisme, kekuatan jantung, dan kontrol pernapasan).

Zat ini adalah zat yang mengekskresikan tulang manusia dan hewan dalam jumlah kecil. Zat ini adalah zat protein dengan sulfur sehingga dapat dengan mudah bergabung dengan seng, besi dan fosfor.

Sekresi zat ini bertambah dari otak manusia secara berangsur-angsur dari usia 15 tahun hingga usia 25 tahun, dan kemudian berkurang dan berkurang hingga usia enam puluh tahun. Kata Dr. Thaha Ibrahim, jadi tidak mudah untuk mendapatkan hal tersebut dari manusia, sedangkan yang dimiliki hewan ditemukan dengan persentase yang sangat kecil.

Dalam hal ini, menurut Dr. Ibrahim, menarik sekali ketika melihat hasil penelitian tim ilmuwan Jepang tentang tanaman yang luar biasa dan merupakan bahan ajaib, serta memiliki efek terbesar dalam menghilangkan gejala penuaan.

Dan mereka tidak menemukannya kecuali dalam dua jenis tanaman; tin dan Zaitun, dan dalam al-Qur’an kita temukan ayat terkait dengan penemuan tersebut yang Allah sampaikan dalam surat At-Tin, 1) Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, 2. demi gunung Sinai, 3. dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. 4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,  "buah ara dan zaitun") dan perkembangan Sinin. "Dan negara ini setia." Kami menciptakan manusia dalam kalender terbaik. (Salam sejahtera baginya).

Ditemukan oleh beberapa Ilmuan tadi, bahwa mengkonsumsi buah Tin dan Zaitun saja tidak memberikan manfaat yang diharapkan bagi kesehatan manusia, kecuali setelah mengekstrak dari buah Tin dan zaitun. Secara bersama.

Dan selanjutnya, tim ilmuwan Jepang memberikan solusi untuk memberikan proporsi terbaik dari tanaman tersebut untuk memberikan efek terbaiknya dalam pengobatan dan lainnya adalah dengan mengkonsumsi 1 buah Tin dan 7 buah  Zaitun.

Dari penelitian Dr Taha Ibrahim, bahwa dalam Al-Qur’an kata Tin disebutkan hanya sekali, sedangkan kata Zaitun disebutkan 6 kali dan 1 kali secara tersirat dalam Surat Al-Mu'minin, “Wa syajarotan Takhruju min Tur Saina’ Tanbutu Biduhni wa Shibghin lil Akilin,  dan (kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan”.

Demikian beberapa ulasan I’jaz Ilmi “Tin dan Zaitun” sebagai  awal dari  Surat At-Tin tersebut.

Sedangkan dalam I’Jaz Lughawi, Pertama dalam aspek urutannya, beberapa Mufassir menyebutkan, al-Zaitun disebutkan setelah At-Tin, karena Zaitun lebih mulia (Asyraf) dan lebih utama (afdal) dari at-Tin , sebagaimana dalam QS An-Nur; 35.

Selanjutnya adalah Tur Sinin (Tur Sina), dan hal ini disebutkan setelahnya, karena ia lebih utama dari At-Tin dan al-Zaitun. Dan mengapa kata Zaitun, dekat dengan kata Tur Sinin, tidak dengan at-Tin, dan hal ini diebutkan dalam Ayat; “dan (kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan”. QS Al-Mu’minun; 20. Dan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Zaitun.

Kemudian, setelah beberapa ayat tadi disebutkan, maka ayat berikutkan adalah kata “Balad Amin”, yang dimaksud dengan “Balad Amin” adalah Makkah Mukarramah, tempat lahirnya pembawa risalah Rahmatan Lil Alamain, Nabi Muhammad saw. Dan ini tempat yang paling dimuliakan oleh Allah dan tempat yang paling dicantai. (Dan juga sangat menarik adalah ayat setelahnya, namun penulis hanya mengkaji Tin Zaintun, Insyallah akan dikaji setelahnya).

Dan yang menarik adalah bila “At-Tin, Zaitun, Tur Sinin dan Balad Amin” dikaji dari tempat tumbuhnya, dan terkait dengan pembawa risalah dari masih tempat tersebut, menurut Mufassir tempat tembuhnya Tin dan Zaitun adalah Syam (Palestina, dll) dan yang lahir dari tempat ini adalah Nabi Isa As. Sedangkan terkait dengan Tur Sina adalah Musa AS, dan berikutnya yang disebutkan Balad Amin, adalah Negeri Makkah yang di tanah sucinya lahirlah Nabi Muhammad saw. Dan urutan ini pun sangat menarik, serta peran ketiganya dalam membawa risalah Allah. [Allah a’lam bishawab]

Marja’: Lamasat Bayaniyyah lil Thaha Ibrahim, Tafsir Ibnu Kasir, Tafsir Fathul Qadir lil Syaukani, Ruh Ma’ani.

Ketika di Kebut Zaitun Yourdania, bersama Dr. Faisol Fatawi perbasan dengan Palestina.

Rabu, 03 Juli 2019

KHALIQ, MAKHLUQ DAN AKHLAQ

(Analisis Bahasa ke 18, Mengurai Diri)

Halimi Zuhdy

Akar kata dalam bahasa Arab mempunyai 3000 perubahan (tashrif) dan melahirkan kata-kata baru, dan satu kata baru dapat melahirkan 10 kata baru dan seterusnya. Betapa kayanya.

Dan kata dalam bahasa Indoensia, banyak menyerap dari bahasa Arab, ada yang masih utuh (sesuai aslinya) lafal dan artinya, seperti; bakhil, bathil. Ada yang lafalnya berubah, dan artinya tetap, seperti; resmi (rasmiyun), lalim (dhalim).  Ada yang lafal dan artinya berubah,  seperti; logat dari Lughah, petuah dari Fatwa, perlu dari Fardhu).

Tiga kata di atas; Khaliq, Makhluq dan Akhlaq dari huruf-huruf yang sama; kha', lam, dan qaf diserap dari Bahasa Arab dengan lafal dan maknya tidak berubah. Bila ada kata berdekatan, maka ada kesamaan makna, atau melahirkan keterkaitan makna.

Mari kita lihat, hubungan dari kata di atas.
Khaliq (خالق) adalah ism Fa'il (bentuk pelaku) berasal dari masdhar; khalqan (خلْقا), Sedangkan Madhi dan Mudhari'nya (خَلَق يخْلُق). Yang artinya adalah membuat, menciptakan, membentuk, menjadikan. Menjadikan dari yang tiada, membentuk sesuatu (Mu'jam Ma'ani, Lisan, Ma'ashir).

Demikian juga dengan kata "Makhluq" berasal dari kata yang sama (sesuai: Masdhar, Madhi, Mudhari) dengan kata khaliq (Pencipta), namun dengan bentuk Ism Maf'ul (yang dikenai pekerjaan), maka Makhluq bermakna; Yang diciptakan. Maka, arti makhluq adalah segala yang diciptakan Tuhan. Ia diluar Tuhan (masiwallah).

Akhlaq, berasal dari Khalqun (خلْقا) Jama' Khukuqun (خلُوق). Khalqu bermakna; inovasi, kreatif, menciptakan dari yang tiada menjadi ada. Sedangkan kata "Khuluq" (خُلُق) jama'nya  adalah "Akhlaq" (اخلاق).

Akhlaq dalam Mu'jam bahasa Arab diartikan dengan karakter (at-thab'u), watak asli (al-sajiah), karena ia mampu melakukan, menetapkan, mengira apa yang dilakukannya. Ibnu Faris memaknai dengan "Menentukan sesuatu atau memastikan, atau menyentuh sesuatu"

قال العلاّمة ابن فارس:(الخاء واللام والقاف أصلان: أحدهما تقدير الشيء، والآخر ملامسة الشيء).

Sedangkan menurut Istilahnya adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, darinya timbul berbagai prilaku/perbuatan yang mudah dilakukan tanpa melalui berfikir (spontan), baik prilaku yang terpuji atau tercela. (Abdus Salam Hamud)
والأخلاق في الاصطلاح هي هيئة راسخة في النفس، يصدر عنها العديد من الأفعال بشكل سهل ومُيسّر، دون الحاجة للتروي أو التفكير، فمن الممكن أن يصدُر عن هذه الهيئة أفعال مذمومة أو محمودة.

Apa kaitannya dari setiap kata yang dimunculkan; Akhlaq, Khaliq dan Makhluq?

Akhlaq adalah sesuatu yang "diciptakan" oleh seseorang sehingga menjadi sebuah ciptaan diri (watak, kebiasaan, perangai, tingkah laku, tabiat), karena ia mencipta sendiri prilakunya setiap saat (dengan batas waktu tertentu), maka menjadilah karakter diri, bila sudah menjadi karakter, ia melakukan sesuatu tanpa berfikir. Perbuatannya tidak dibuat-buat, tapi sudah menjadi kebiasaannya.

Akhlaq juga bisa bermakna, seseorang yang kreatif (mubtakir, mubdi') yang meniru sifat-sifat Tuhan, menuju sebuah kebaikan. Dan orang-orang yang tidak berakhlaq, mereka yang suka melakukan kemandekan, kerusakan, dan keterbelakangan.

Maka, akhkaq adalah ciptaan-ciptaan untuk mempola diri, prilaku, perbuatan yang sesuai dengan watak umum (rasa kebaikan), maka prilaku itu diciptakan oleh iman dan ikhsan seseorang. Maka, bila ada orang yang disangka beriman, tapi prilakunya tidak baik, maka keimannya dipertanyakan.

وخيرُ الْخَلقِ من كان مؤمِنًا واتّصَف بحسن الخلق، قال عليه الصَّلاة والسَّلام: (إنَّ خيارَكم أحسنُكم أخلاقًا) رواه البخاري.

Ubud, 2 Juli 2019

Khadim PP. Darunnun Nun
Cc. Rmi Malang Rabithah Maahid Islamiyah

Kamis, 27 Juni 2019

MENDEKAT

Halimi Zuhdy

Di Dunia itu sebenarnya berdekatan, tak ada yang jauh, hanya kita saling berjahuan. Manusia yang ada di dunia satu darah, satu warna,  darah merah. Semua dilahirkan dari rahim yang sama, Adam dan Hawwa'. Semuanya pernah dikandung (batn) kecuali Nabiyullah Adam dan Hawwa'.

Kita selalu dekat, yang menjauhkan kita adalah ego kita, seperti Habil dan Qobil dekat, tapi menjauh karena ada ego dan kedengkian. Allah menciptakan kita, tapi kita kadang lupa bahwa kita diciptakan. Allah dekat, dan bahkan sangat dekat, tapi sering kita menjauh, dan bahkan melupakannya. "Inni Qorib, sungguh saya sangat dekat" Firman Allah.

Bila darah kita sama, apa yang membuat kita beda?, bila jantung kita mendegub untuk memompa warna merah yang sama, mengapa kita beda? Bukankah tubuh kita adalah darah?, kalau ada rambut, bulu-bulu, daging, itu hanya untuk memperindah warna kemanusiaan kita, bukan kemudian untuk tercerai berai. Bukankah penyanggah kita juga sama, sama kerasnya dan sama warnanya, tulang yang putih. 

Apalagi yang kita perdebatkan untuk kemudian harus berjahuan, bukankah kita bersaudara? Apalagi kita lahir dari tanah dan air yang sama, memakan dan meminumnya, masuk dengan menjadi diri yang ber-tanah air bersama, Indonesia.

Kita sebenarnya dekat, tak pernah jauh. Tapi kita sering menjauh, menjahui dan menjauhkan.

Bandung, 26 Juni 2019

------------------------------------------------------------------
Bersama ustadzuna Dr.  Nasaruddin Idris Jauhar dari Surabaya, satu pesawat dan satu hotel, walau sebelumnya tidak pernah menjadwal untuk bersama, menuju hotel satu mobil sambil berbincang Nabiyuna Nuh Alaihissalam, betapa  Nabi Nuh  sang desainer, pembuat perahu, dan beliau juga tukang Kayu, perahunya tahan banting, terpaan ombak yang menggunung tak membuat perahunya tenggelam pun tak pecah, karena beliau merancang dengan keahliannya dengan kayu-kayu terbaiknya.

Kemudian Dr. Nasar bercerita, ada seorang perempuan datang kepada Nabi Nuh ketika membuat perahu, "Jangan lupa panggil dan ajak saya, kalau sudah jadi perahuanya sudah selesai dibuat" dan ketika itu pula, perempuan tadi bersyahadat akan keesaan Tuhan dan mengikuti aqidah Tauhid.  Setelah beberapa lama, perahu pun selesai, banjir bandang datang menggempur seluruh daerah itu (bahkan seluruh muka bumi, qila). Dan Nabi Nuh benar-benar lupa pesan perempuan tadi, untuk mengajak bersama, dan juga tidak menemukan dalam perahu bersamanya.

Setalah banjir usai, perahu mendermagakan dirinya, orang-orang yang berada dalam perahu turun satu persatu, tiba-tiba ada seorang perempuan menemui Nabi Nuh "Kapan banjir itu datangnya?" ternyata perempuan itu selamat walau ia tidak bersama perahu tadi.

Allah memiliki jalan lain untuk menyelamatkan perempuan tadi, tidak harus menaiki perahu, dan tidak pula bersama mereka di dalamnya. Kuasa Allah melebihi apapun. Karena semua itu, diatas pengawasan Allah. Demikian kisah yang dikutip dari Dr. Ratib an-Nablusi oleh Dr. Nasar.

---------------------------------------------

Kita alhamdulillah berdekat, walau kadang berjauh tempat. Karena bukan tempat yang membuat jauh, tapi rasa, kalau rasa dekat sejauh apapun tempat akan sangat dekat.

TETAPLAH TERSENYUM


@halimizuhdy3011

"Anak kecil yang dilemparkan ke atas, wajahnya tetap tersenyum, karena ia sungguh percaya, tangan Sang Ayah akan menangkapnya"

Mengapa anak kecil yang dilemparkan ke atas tersenyum? Karena ia yakin, percaya, dan memastikan dirinya, bahwa tangan ayah akan menangkapnya.

Bagaimana pula dengan Bilal bin Rabah, yang tetap tabah, walau disiksa sedemikian rupa oleh Umayyah? kerena ia percaya pada Tangan Rahmat-Nya.

Bagaimana kesabaran sang Imam Ahmad ketika dicambuk, dirantai, dipenjara, bahkan ditinggalkan muridnya atas intimidasi penguasa? Karena ia percaya, Allah segala-Nya.

Bagaimana Ammar bin Yasir beserta kuluarganya masih bisa tersenyum, walau setiap hari digiring ke padang pasir, dibakarkan pada matahari, disiksa, disulut dengan besi panas, ditenggelamkan, dan siksaan pedih lainnya? Karena ia percaya, bahwa Allahlah Sang Pelindung dan Sang Penolong. Keimanannya, menghancurkan ketakutannya.

Orang beriman itu kan selalu tersenyum bahagia, apapun yang telah terjadi padanya, karena Ia percaya bahwa semuanya atas takdirNya, dan ia selalu merasa aman dengan imannya, dan selalu bahagia dengan yang menimpanya, "Al iman al amnu". Adakah yang harus ditakutkan dengan harta, tahta, keluarga, dan apa yang kita miliki? Bila semuanya adalah milikNya. Dan bukankah semuanya atas     kendaliNya, atas kehendakNya, dan Dialah Pemegang Palu Hakim yang sesungguhnya. Hasbiallah la haula walaquwata illa billah.

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS:6:82).

Ya Allah, berikan kami keluarga, sahabat, sejawat, kerabat yang selalu mendukung untuk beriman kepadaMu.

Menuju Bandung, 26 Juni 2019

Minggu, 23 Juni 2019

DENGKI, HASAD, IRI; KEHANCURAN DIRI

"Dosa yang pertama kali muncul di kolong langit adalah dengki, dan dengki awal kemaksiatan yang terjadi di muka bumi" Al-jahid

DENGKI, KEHANCURAN DIRI

Halimi Zuhdy

Seandainya aku bisa bertanya tentang "kedengkian", maka kutanyakan kepada gunung, daratan, lautan, sungai, pepohonan, dan rerumputan.
“Wahai Darat mengapa kamu diciptakan menjadi Darat, apakah kamu rela menjadi diinjak-injak manusia yang sok itu?” kucoba bertanya pada Daratan.

Tiba-tiba Daratan berbisik, dengan wajah sedih,  "Kenapa aku diciptakan menjadi daratan ya, yang hanya diinjak-injak manusia dan hewan,  akar-akar pohon memenjarakanku. Mengapa aku tidak menjadi gunung saja, yang tinggi menjulang, menjadi paku bumi, dan bisa melihat daratan yang luas". Keluhan Daratan belum selesai.

Tiba-tiba Gunung bertanya tentang dirinya, "Mengapa, aku dijadikan gunung yang hanya menyimpan bara, memuntahkan lahar, mematung tinggi, aku tak dapat berkhidmat pada manusia, orang-orang sholeh pun jarang menaikiku, aku hanya seperti patung dikejahuan, bahkan akhir-akhir ini aku hanya digunduli, dan akupun longsor dan membuat banyak orang meninggal gara-gara aku".

Tak terasa rerumputan berisik di bawah kaki dan mengajakku mendengarkan keluhannya, "Mengapa aku dijadikan rumput, yang tak berharga, diinjak-injak, bahkan keberadaanku pun tak dilirik, beda dengan bunga-bunga, pepohonan yang menjulang tinggi, aku hanya korban manusia dan hewan saja, kadang mengering dan dibakar".

Belum juga rerumputan selesai berkeluh kesah, Lautan dengan debur ombaknya berteriak, "Mengapa nasibku yang dijadikan lautan, kenapa aku tidak dijadikan Gunung, Daratan, dan Pepohonan yang indah atau sunga-sungai yang mengalir seperti dalam al-Qur'an, atau aku hanya sebagai pemuas manusia dengan ikan-ikan yang setiap hari dirampok?, dan dibuat makan para perampok, apakah aku hanya untuk menjadi kenangan untuk menelan orang, menerjang manusia dengan sunamiku, aku menjadi tidak pernah damai dengan gelombangku"

“Rerintihan” itu hanya khayalaku, aku tidak benar-benar mendengarnya, atau mungkin karena aku bukan Nabi Sulaiman, yang dapat berbicara dan mendengar pembicaraan hewan dan tumbuhan.

Saya yakin, dan benar-benar yakin, mereka tidak akan mengeluh menjadi lautan, gunung, daratan, pepohonan, bahkan mereka akan menikmati keberadaan mereka, karena mereka diciptakan untuk bertasbih, seandainya mereka menjadi gunung semua, apa jadinya dunia ini, atau seandainya dunia ini lelautan semuanya, bagaimana keberadaan manusia dan lainnya, atau dunia ini hanya berisi rerimbunan pepohonan, atau rerumputan saja, mungkin taka da keindahan di dunia ini, atau semuanya warna adalah hitam, mungkin dunia kelam, atau putih maka dunia akan penuh uban.

Seandainya semuanya sama, apa indahnya dunia ini, maka hanya“Masya Allah” Allah luar biasa. Maka, kenapa aku harus dengki dan hasad kepada orang-orang yang berbeda dengan diriku, biarlah mereka jadi mereka dan aku jadi diriku sendiri, dan biarkan mereka bergembira dengan kegembiraan mereka, aku juga memiliki kegembiraan, dan Allah memiliki rencana sendiri dalam penciptaannya. Maka, kehidupan ini harus disyukuri, tersenyum dengan keberadaan diri, memahami tujuan diciptakan diri Mengabdi pada Tuhan yang Abadi, Tak usah dengki, apalagi iri, semuanya harus dinikmati.

Jangan hasad ya!  Ia sumber segala kekacauan dunia.

Senin, 10 Juni 2019

Mengapa "Rajul, Laki-Laki" disebut "Rajul"?

Analisis Bahasa ke 17; Rajul, Rijl, Rujuliyah, Rajl, Rijal)

Halimi Zuhdy

Setiap kata yang muncul dalam suatu bahasa memiliki; cerita, kisah, dan asbab. Ia tidak muncul dari sesuatu yang kosong, bahkan pilihan huruf dalam setiap kata, juga memiliki arti tersendiri, maka rangkaian huruf yang menjadi kata, memiliki kisahnya tersendiri. Namun, ada yang masih sulit dicari asbabnya (ghumud), karena sudah banyak yang melupakannya (Al-Muzhir fi Ulum al-Lughah, li As-suyuthi). Seperti, Kata "Insan, manusia" dari "Nasiya, lupa" karena manusia lebih banyak atau sering lupa. "Bahimah,بهيمة,  hewan" karena "Abhamat 'an al-aql, tertutup aqalnya, tidak berakal", Disebut "Kufah" karena disesaki manusia "Takufu al-raml takaufan". Demikian pula kata-kata lainnya.

Pada kajian kali ini, penulis mencoba melihat kata "Rajul, laki-laki" dalam bahasa Arab. Dengan fokus masalah sederhana (Asilah al-bahst), mengapa "Rajul" disebut "Rajul"?, Pertanyaan ini berangkat dari banyaknya pernyataan bahwa "Rajul,  laki-laki) dari "Rijl, kaki". Dan juga ada pernyataan "Rijal, laki-laki (plural)" adalah khusus orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan.

Mari kita perhatikan arti Kata "Rajul (الرَجُل)" dan yang terkait dengan tiga huruf "Ra (راء), Jim (جيم), dan lam (لام) dalam beberapa Mu'jam bahasa Arab. Dalam kamus Lisan al-Arab, 265/11 الرجل: معروف: الذكر من نوع الإنسان خلاف المرأة (adalah laki-laki dari jenis manusia, antonim dari perempuan), dalam Tadzib al-Lughah, الرجل فوق الغلام, kata "Rajul" adalah setelah Ghulam (masa anak-anak). Kamus Ma'ani, seorang laki-laki yang telah baligh (dewasa). Jamak dari Rajul (الرَجُل); Rijal (الرِجَال) Rajlah  (الرَجْلة).

Sedangkan kata "Rajilun,  رَجِلٌ; bermakna "Berjalan dengan kedua kakinya", demikian juga dengan "Ar-rajlu", dan "Rajjal, رجّل" ada yang bermakna " Sarraha, zayyana, Qawwahu, سرح, زين، قواه" menguatkan, mengurai, dan menghias. Sedangkan yang bemakna "Kaki" adalah kata "Ar-rijlu, الرِجْل" yaitu: dari pangkal paha sampai  telapak kaki (قدم).

Derivasi dari tiga huruf "Ra, Jim, dan Lam" sangat banyak sekali, bahkan ratusan dan dijelaskan dalam berbagai Mu'jam, seperti: Al-muhith, Al-ma'shir, al-washit, Ar-Raid, al-Ghani dan Samsul al-ulum. Dan tidak mungkin diuraikan satu persatu, karena keterbatasan ruang ini.

Kembali pada kata "Rajul, الرَجُل", dalam Lisan al-Arab; kata tersebut juga bermakna; at-Tarajjul

الترجل أي مشي الشخص على قدميه دونما استعانة بآلة ما “الدابة أو السيارة أو غير ذلك”.
(Artinya, seseorang yang berjalan dengan kedua kakinya tanpa alat bantu; hewan, mobil dan lainnya). Ini kemudian diartikan, Rajul adalah seseorang yang percaya diri ('itimad Nafs) untuk sampai pada sebuah keinginan yang dicita-citakan. Laki-laki disebut laki-laki (rajul), mereka yang mandiri, yang kuat dengan topangan kaki-kaki mereka, maka ini yang kemudian dimaksud dengan laki-laki berdiri diatas kaki sendiri.wkwkwk

Dari hal tersebut, Kata
ini (Rajul), dikaitkan dengan sebuah sifat "Arrujulah atau Arrujuliyah, yang bermakna; keberanian (Syaja'ah), kelaki-lakian, kekuatan (al-quwah), kedewasaan, kejantanan,  maskulinitas, percaya diri (i'timad an-nafs),  kecemerlangan fikiran (wuduh fikr). Bahkan kata   "Rujulah, الرجلة" tidak hanya diperuntukkan pada laki-laki, karena Sayyidah 'Aisyah disebut dengan "Rajulah al-Ra'yi", bisa diartikan kekuatan pikirannya, kecemerlangan pikirannya.

Dalam Makalah "Ya Lah Min Din Lau Kana Lahu Rijal" oleh Abdurrahman,  menjelaskan arti dan perpedaan mufassir dalam "Arrujulah":

لقد اختلف الناس في تفسير معنى الرجولة فمنهم من يفسرها بالقوة والشجاعة، ومنهم من يفسرها بالزعامة والقيادة والحزم، ومنهم يفسر الرجولة بالكرم والجود، ومنهم يقيسها بمدى تحصيل المال والاشتغال بجمعه، ومنهم من يظنها حمية وعصبيةً، ومنهم من يفسرها ببذل الجاه والشفاعة وتخليص مهام الناس بأي الطرق كانت.

Maka, "Rajul, laki-laki" ketika sudah berubah dalam bentuk lain, misalnya Jamak "Rijal, الرجال" juga memiliki arti yang berbeda, yang disesuaikan dengan konteks dan teksnya. Yang diartikan kepahlawanan, keberaniaan, ketegasan, ketangkasan dan kekuatan, karena hal tersebut menjadi karakter laki-laki, walau tidak semuanya laki-laki memiliki hal tersebut. Sebenarnya, antara Rajul dan Rijal tidak ada bedanya, karena Rijal jamak dari Rajl.

Maka, ada Pribahasa Arab yang berbunyi; semua Arrijal adalah laki-laki (dzakar),
tapi tidak semua Dzakar itu adalah Rijal;
كُلُّ رجل ذكرٌ ولكن ليس كل ذكر رجلٌ
Maka Rijal bisa saja untuk perempuan, sedangkan "Dzakar khusus laki-laki" Dan hal ini, masih menjadi perdebatan panjang terkait dengan Rijal apakah mereka yang memiliki sifat-sifat terpuji, bagaimana dengan Surat al-Al'raf (81), An-Naml (55) dan al-Ankabut (29), yang didalamnya terdapat "Rijal" namun memiliki sifat tidak terpuji. Namun, dari maraji' yang penulis baca, baik; kitab, makalah, esai dan lainnya, rijal lebih kepada hal yang positif (hasil penafsiran para ulama), demikian juga dengan kata "rujulah".

Tanpa mengurangi keistimewaan perempuan yang juga memiliki banyak keistimewaan, maka Rajul disebut Rajul karena beberapa keistemewaan tersebut. Maka, dalam Ayat;
الرجال قومون على النساء
Bukanlah sebuah diskriminasi, tapi pada peran masing-masing.

Allah 'alam bishawab

6 Sawwal 1440 H.

Khadim PP. Darun Nun.
Guru Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang

Jumat, 26 April 2019

Pembelajaran Bahasa Arab di Era Revolusi Industri 4.0


Halimi Zuhdy


Beberapa jam yang lalu, saya bersama Dr. Achmad Tohe dan Dr (M) Ahmad Fatoni Said, didaulat oleh IMASASI (Ikatan Mahasiswa Studi Arab Se-Indonesia) untuk menyampaikan gagasan/makalah dan berdiskusi di Seminar Nasional dengan tema, "Arah Baru Pergerakan Studi Arab di Era Revolusi Industri 4.0".

Tema Revolusi Industri 4.0 lagi hits banget, menjadi perbincangan para tokoh nasional dan internasional dalam Seminar, workshop, diskusi, dan konfrensi selalu diselipkan kata-kata "Era Revolusi Industri 4.0". 

Bagaimana dengan Bahasa Arab?, Baik dalam pembelarannya, sastranya, bahasanya, apakah penting untuk ikut-ikutan dengan "Era 4.0 ini"?.
Jawabannya "penting banget", karena kita tidak bisa menghindari era ini, kalau kita tidak bermain menjadi gelombang untuk menghantar perahu ke Dermaga, maka kita hanya menjadi penonton, dan kita akan tertinggal, atau terhempas entah kemana. 

Sebelumnya, kita pahami dulu Era Revolusi industri 4.0, yaitu terjadinya perubahan besar-besaran dan radikal pada cara manusia memproduksi barang (istilah yang banyak digunakan). Dan angka 4.0, merupakan revolusi ke-4, setelah terjadi perubahan dahsyat pada revolusi sebelumnya (1-3); .Kalau revolusi awal adanya "Mesin Uap", revolusi kedua "Ban Beegerak" serta hadirnya "listrik", revolusi ketiga melahirkan "Komputer dan Robot". Dan revolusi keempat dalam istilah wikipedia adalah mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Entah apa berikutnya 5.0?

Minggu, 21 April 2019

Kiat Sukses Ala Nabi Musa AS

Halimi Zuhdy

Tadi malam, ketika mengisi pembelakalan wawasan keislaman, bagi santri akhir kelas XII Ma'had Al-Qolam MAN 2 Kota Malang, dengan tema "Kiat Sukses Berorganisasi dan Akademik", saya teringat kisah-kisah Salafus Shaleh, yang namanya masih selalu dikenang dibernagai lembaga pendidikan dan lainnya, mereka tidak hanya sukses dalam karir akademiknya, tapi juga dalam berorganiasi (jam'iyah), walau berbeda bentuknya dengan sekarang. 

Dan juga saya teringat kisah Nabi Musa AS, ketika sampai di Daerah Madyan, setelah dikejar-kejar tentara Fir'aun, ia tidak membawa bekal apapun, ia tidak memiliki sepetak tanah pun, tempat tinggal juga tidak ada, tidak ada pekerjaan untuk menghidupi kesehariannya, tidak pula memiliki pendamping hidup (istri). 

Ia hanya berteduh di tempat-tempat yang bisa menghalanginya dari terik mentari. Dengan kerendahan hatinya, dan keimanan yang membara, ia menengadahkan tangannya ke langit dan berdoa:
"رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ"
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qoshos:24).

Sabtu, 30 Maret 2019

Memilih Nama Anak

(Apalah arti sebuah nama?)

Halimi Zuhdy

"Apalah arti sebuah nama", kata-kata ini dianggap tidak etis pada satu sisi, namun bisa menjadi etis pada konteks lainnya, misal bila dikaitkan dengan sebuah ketawadu'an (Rendah hati) atau menghilangkan nama diri untuk menghindari kesombongan, atau menjadi baik bagi orang yang mencari "nama" an sich.

Kata-kata di atas menjadi tidak etis, bahkan dianggap tidak ikut sunnah, bila tidak mempedulikan arti sebuah nama, misalkan nama anak. Hanya asal saja.

Suatu hari, ada seorang sahabat  bertanya pada Nabi Muhammad saw, dalam riwayat Abul Hasan. “Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadapku?”. Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik”.

Bila kemudian hanya sekedar memberi nama, dan tidak dipahami artinya, bahkan nama tersebut tidak memiliki arti yang baik, maka hal tersebut termasuk orang tua yang tidak memberi hak kepada anaknya.

Nama itu bukan hanya pembeda, di dalam nama tersebut ada sebuah harapan besar, bahkan nanti  di hari kiamat, nama itu menjadi sebuah kebanggaan bagi dirinya, ia akan dipanggil dengan nama itu. “Baguskan namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hiban).

Maka, nama adalah sebuah identitas, cita-cita, doa, harapan besar orang tua, dan ia akan menjadi kebanggan dirinya dengan penyematan nama itu. Dan nama itu, bisa menjadi pembeda aqidah,      identitas keluarga, dan keturunan nantinya.

Ada beberapa hal yang dianjurkan dalam pemberiaan nama sebagaimana dalam kitab "Tarbiyatul Aulad" yang rangkai oleh Dr. Nasih 'Ulwan; a) Tidak menggunakan nama Tuhan, kecuali diberi kata Abduh sebelumnya. b). Nama yang tidak memiliki arti ketundukan kepada selainNya, seperti "Hamba Kopi" dll. c).  Nama yang artinya tidak mudah hilang, lekang, dan sirna.

Pemberian nama, dianjurkan pada hari ketujuh sebagaimana Hadis Shahih, “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama pada hari itu juga.”(HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad). Atau pada hari ketika ia dilahirkan, "Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi dan aku namai ia dengan nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)

Namun, pencariannya bisa kapan pun, bisa saja sebelum memiliki Istri, sebagai motivasi untuk mendapatkan seorang anak shaleh dengan calon istri shalehah. Atau ketika, ia berada pada malam pertama, dan membayangkan seorang ulama hebat, dengan namanya, sebagai tafaulan pada beliau. Atau mendiskusikan dengan istri, atau meminta kepada seorang   'Alim dengan harapan anaknya diberikan nama terbaik sesuai dengan karakternya. Pencarian tersebut oleh ulama tidak dibatasi. Namun, yang disunnahkan memberikannya anaknya pada hari ketujuh,atau hari pertama dilahirkan.

Pengalaman penulis mencari nama, ada yang terinspirasi dari; pengarang kitab, keunikan nama, sultan, pengalaman, makna yang dimiliki, yang kemudian dicari di mu'jam bahasa Arab, serta kekhasan kalimatnya dan sejarah yang mengitari kelahirannya. Artinya, ketika ditanya oleh anak suatu saat, maka segudang jawaban sudah termaktub. Misal;  Mohammad Nayif Azmi, Mohammad Najid Al-Izzi, Athifah Muhibatullah, Athirah Rahmatillah. Kedua anak pertama dan keempat menggunakan ism Fa'il dengan awalan yang sama "Mim dan Nun", (Moh. Nayif dan Moh. Najid) demikian dua  putri, ke dua dan ketiga Athifah dan Athirah. Yang semuanya bersajak. Sedangkan arti dan sejarahnya sangatlah panjang. He.

Sekilas penulis bahas arti  anak yang ke-empat, Mohammad Najid Al-Izzi. Dalam tulisan bahasa Arab: محمد ناجد العزي. Kata Mohammad, sudah sangat mafhum, sebuah tafaul kepada Sang Nabi Allah, akhlaq dan kepribadiannya, serta aqidah yang dianutnya. Bagaimana perintah dan sunnah baginya, suatu saat adalah menjadi napaknya.

Sedangkan kata, "Najid" memiliki banyak arti, dan bagus; pemberani, ketingian akhlaq, terdidik, intelek, penyuka keunggulan dan lainnya. Mengapa nama ini dipilih, karena; 1) maknanya yang bagus, 2) berawalan "Nun" untuk menyamakan dengan kakaknya, juga menggunakan awalan "Nun" dan ism Fa'il, 3) jarang digunakan di Indonesia, beda dengan Najib dan beberapa alasan lainnya.

ناجد : أصل الاسم، عربي،
اسم عربي يطلق على الذكور، وهو من الفعل نجد أي إرتفع، ويدل على السمو ورفعة الشأن، كما يعني الغالب، الواضح، الشجاع، ويمكن أن يصبح اسم مؤنث "ناجدة". وصاحب اسم ناجد يتميز بشخصية مهذبة، مثقف وكثير الإطلاع والتعلم، يحب أن يكون متفوق ومميز في العمل، ويساند من يحتاج الدعم.

Sedangkan "Al-izzi" selain maknanya yang baik, dan sebuah tafaul akan memperoleh "kemuliaan",  juga menyamakan dengan kakaknya "Azmi" yang diawali "Ain", namun ditambah "al". Bisa juga "Najid Izza, atau Najid Izzi".

Malang, 29 Maret 2019

#MohonDoaAtasPenamaanAnak_tasmiyah

Selasa, 26 Maret 2019

Nifas, Nafas, Nafsu dan Nafs

(Kajian Bahasa Arab ke-13)

Halimi Zuhdy
(Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang)

"Ustadz, apa perbedaan darah nifas dan wiladah?"    Bila ditanya berbedaan, maka jawabannya seringkali dikaitkan dengan waktu keluarnya darah; sesudah, sebelum atau bersamaan. Namun, bila dikaitkan dengan makna bahasanya, akan sangat terlihat perbedaan keduanya, dan cukup menarik bila kata "nifas" dikaitkan dengan "nafas, nafsu, Dan nafs".

"Nifas" oleh ulama Fiqh diartikan dengan darah yang keluar setelah melahirkan sampai pada waktu tertentu. Kalau dilihat secara bahasa, "Nifas" adalah "melahirkan". Beberapa ulama memberi arti, disebut "Nifas", karena "seseorang yang hadir kedunia dengan bernafas (yatanaffas) atau nafs (jiwa)".

Disebut darah Nifas, karena darah yang keluar setelah jiwa terlahir, atau makhluq yang bernafas telah hadir ke muka bumi.  Sedangkan darah "Wiladah" ketika atau saat melahirkan.

Sedangkan "Nafs, ٌنَفْس" dalam beberapa Mu'jam diartikan "Ruh/jiwa", jiwa yang mengeluarkan dan memasukkan "Nafas". Atau disebut "Nafs" karena ada nafas yang keluar dari seseorang, dan dari adanya nafas itulah ia disebut hidup (jiwa).

Ada pula yang mengartikan "Nafs" itu adalah "Darah" (dam), karena darah itulah yang mengantarkan manusia pada kehidupan, dan ia pula yang berbentuk dari segumpal darah, sehingga darah yang bergolak tanpa terkendali disebut dengan *"Nafs Ammarah"* jiwa yang penuh amarah. Namun, darah yang dibutuhkan untuk selalu mengalir dan berkompetisi dalam diri seseorang, maka disebut dengan *"Munafasah"* (perlombaan).

Dan "Nafs" disebut "darah", sebagaimana dalam Hadis

الحديث عن إِبراهيم النخعي: «كل شيءٍ ليست له نفس سائلة فإِنه لا ينجِّس الماءَ إِذا مات فيه»: أي كل شيء ليس له دم.
ومن ذلك سميت النُّفَساء لسيلان دمها.
"Segala sesuatu yang tidak berdarah (atau hewan yang darahnya tidak mengalir), maka apabila mati di dalam, ia tidak menajiskan". Maka, disebut "Perempuan Nifas", karena mengalirnya darah.

Jiwa atau diri yang lebih condong kepada kejelekan, atau terdorong pada sesuatu yang menyimpang, maka disebut *"Nafsu,* Hawa Nafsu". Namun, nafsu yang mampu melepaskan diri dari ketergantungan kepada materi, maka menjadi *"Nafsu Mutmainnah"* dan disanalah kemurnian seseorang, maka disebut dengan *"Nafisah"* (murni, cantik, indah, bersih).

"Nafs" dalam al-Mu'jam, diartikan, "Kekuatan, kekerasan (Jiladah)" seperti dalam kalimat, "Laisa lahu Nafs". Juga diartikan, "Mata"('Ain)"
والنفس: العين، يقال: أصابت فلانًا نفسٌ أي عين.
وفي حديث ابن سيرين أنه نهي عن الرُّقى إِلا في ثلاث: رقية النملِة، والحُمَة والنفس.

Dan dari kata "Nun, Fa',  Sin" ini, memunculkan ratusan kata yang cukup menarik, apalagi ditarik kepada kajian tafsir al-Qur'an yang di dalamnya terdapat kata-kata tersebut.

Dari kata tersebut, semuanya bergubungan, dari; jiwa, nafas, darah, hawa nafsu, darah nifas, perlombaan, kekuatan, amarah, mata, hidung dan lainnya.

Referensi: Al-Qur'an, Lisan al-Arab, Mu'jam al-Raid, Al-washit,  Mu'jam Syamsul Ulum, Lughah Fuqaha', Furuq Lughawiyah.

Malang, 26 Maret 2019
*Dosen Bahasa dan Sastra Arab Fak. Humaniora UIN Malang.
*Khadim PP. Darun Nun Malang

Janin, Jin, Majnun, dan Jannah

(Kajian 12, Analisis Bahasa Arab)

Halimi Zuhdy

Bahasa Arab disinyalir sebagai bahasa tertua dan satu-satunya bahasa yang tidak punah, dari bahasa-bahasa yang pernah hidup semasa dengannya. Ia tidak hanya berumur 1400 tahun ketika Al-Qur'an diturunkan, tapi sudah ribuan tahun sebelumnya, bahkan dianggap menjadi bahasa Nabi Adam AS.

Ketika banyak bahasa Ibu sudah  tergantikan, seperti;  Bahasa Afrika, Asia Fasifik, Amerika Selatan, Amerika, Ethiopia dan bahasa yang berada diberbagai belahan negara atau benau lainnya hanya tinggal cerita, dan dimusiumkan. Namun, bahasa Arab, terutama yang digunakan oleh Al-Qur'an masih utuh, tidak ada perubahan, bukan kemudian kaku, namun ia terus berkembang dengan indah sesuai dengan kadar lerubahannya.

Dan Bahasa Ini, bukan hanya sebagai bahasa biasa, yang tumbuh dan berkembang satu persatu sesuai kebutuhan, tapi bahasa ini (Arab) adalah bahasa yang ilmiah (saintifik), yang dapat dirunut sampai ke kata awal, dan kata paling awal, dan setiap kalimat-kalimat  yang muncul dapat merujuk pada akar (judzur) kata yang sama atau kata tertentu. Seperti; Din (Agama), Dain (Hutang) , Dunya (Dunia), Madinah (kota) , Dayyan (hakim), dan kata yang berdekatan lainnya. Kata-kata tersebut di atas, tidak hanya memiliki makna tersendiri, namun memiliki keterkaitan  makna dan maksud. Insyallah, akan penulis analisis pada kajian berikutnya, 19.

Kali ini, penulis hadirkan 4 kata, "Janin (Janin), Jin (Jin), Majnun (Gila), dan Jannah (Surga)". Kata yang lain yang memiliki satu akar adalah; Jan, Majjanan, Jani, Jinayah, Majun, junun dan lainnya.

Dalam kitab Mufrodat, "Raghib al-Ashfahani", bahwa kata, "Jan" adalah tutup (satr) atau tertutupnya sesuatu dari panca indra, maka, kata "Jannah (Surga, kebun)" maknanya "tertutup", ia tertutup oleh rerimbunan pohon, karena banyaknya pepohonan, bunga-bunga dan lainnya yang berada di dalamnya. Kata "Janin (Janin)" juga bermakna "tertutup", karena ia tidak mampu dilihat oleh mata telanjang, bahkan oleh alat canggih pun, ia masih samar, walau kadang bisa ditebak.

Kata "Majnun (Gila)", adalah orang yang pikirannya "tertutup" atau terhalang, tidak mampu berfikir dengan baik, bahkan tertutup oleh apapun dari luar dirinya dan dari dalam dirinya.

Sedangkan kata "Jin (Jin)" berasal dari "Jann" yang juga tertutup, tertutup dari pandangan manusia, ia tidak mampu dilihat oleh siapa pun, kecuali Allah tampakkan, dan ia masuk pada makhluq ghaib. Dalam kitab "Tadzhib al-Lughah lil Harwi" ia bermakna bersembunyi, menahan diri, atau menutupi dirinya dari manusia.

وجاء في تهذيب اللغة للهروي: الجِنُّ: جماعةُ ولد الجانّ، وجَمْعُهُم: الجِنَّةُ، والجانُّ، وَإِنَّمَا سُمُّوا جناً لأنّهُمُ اسْتَجنُّوا من النَّاس، فَلَا يُرَوْنَ، والجانُّ هُوَ أَبُو الجِنِّ خُلِقَ من نارٍ، ثمَّ خُلِق مِنْهُ نَسْلُه.

Dan ada yang memaknai kata-kata, "Jin, Janin, Jan, Jannah, Majnun, dan Majjnan" dengan "Hubungan dua arah, yang saling membutuhkan, saling memberi, saling bersinergi". Misal; kata "Janin" ia memiliki dua huruf nun, "Tabaduliyyah Fa'aliyah al-ihtiwa'". Janin dan Ibunya memiliki hubungan yang kuat (yatabadaalani), Janin membutuhkan atau mengambil oksigen dari Ibunya, dan Janin memberi oksigen karbon. Demikian dengan kata-kata yang lain di atas. _Allah 'alam bishawab_

*) Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang_
Khadim PP. Darun Nun Malang_

Referensi
Mufradatul al-Raghib al-Ashfahani, Tadzhib Al-Lughah Lil Harwi, Mu'jam Muani, Furuq Lugahwiyah.

Jumat, 15 Februari 2019

Pelajaran Bahasa Arab di Era Revolusi Industri 4.0

Halimi Zuhdy

Bahasa Arab di Indonesia sampai hari masih menjadi momok, selalu terkesan, "Bahasa Arab adalah pembelajaran yang sulit", "Bahasanya paling berat", dan "Kata-katanya sulit" serta ungkapan lainnya. Itu kesan, dari berbagai guru dan siswa di berbagai tempat (Ket, angket yang disebar ke berbagai madrasah dan sekolah). Namun, setelah mereka mendapatkan nutrisi dari pemateri workshop Pembelajaran Bahasa Arab, ternyata dugaan mereka salah, ternyata "mempelajari bahasa Arab" itu sangat mudah. Hanya bagaimana berpositif dengan bahasa Arab, dan menggalinya, serta memberlakukannya sebagai "bahasa" bukan sebagai "azimat".

Selama ini, peserta didik hanya diberi beban untuk memahami Nahwu dan Sharraf, sedangkan yang dipelajari adalah Maharah Kalam (Kemahiran berbicara), siswa jarang diberikan kesempatan untuk praktik berbicara, terkadang guru yang mengajar Maharah kalam, gurulah yang banyak berbicara, seperti cara mengajarkan istima', atau seperti berceramah saja, belum lagi cara mengevaluasinya.
Maka, di era al-Tsaurah As-shinaiyyah al-Arbiah (Revolusi Industri 4.0) ini. Guru atau dosen harus selalu menggali informasi perkembangan pembelajaran bahasa, baik thoriqahnya, materinya, dan lainnya.

Tentang Hujan dan Malaikat Mikail


Halimi Zuhdy

Sepertinya tidak ada yang aneh tentang hujan, bermula awan, rintik, kadang angin menyapa lembut, hujan datang berdendang. Bahkan, ada yang tidak peduli dengan kedatangannya, bila ia bertandang, payung siap menghadang.

Kehadirannya, dari rintiknya, menyapa siapa, menghanyutkan apa, berada di mana, kapan, dan berbetuk apa, semuanya  telah dicatat di Lauh Mahfud oleh Allah 50.000 tahun sebelum kelahiran bumi dan langit, sebagaimana yang lainnya.

Turunnya dikawal langsung oleh Malikat Mikail, sebagaimana dalam Ibnu Kastir. Dengan dibantu oleh Malaikat-malaikat lainnya. Ia, tidak serta merta turun, ia berproses cukup panjang dan rumit; pembentukan angin, pembentukan awan, kemudian turun hujan ((Q.S. Ar Rum:48 dan Q.S. al Nur:43)

Anehnya, ia jatuh dengan buliran-buliran indah, seperti mutiara yang menyapa bumi. Walau kadang seperti buliran besar, namun tetap saja buliran, indah. Bagaimana kita bisa membayangkan, dari ketinggian luar biasa (langit) ia tetap jatuh serupa (berbentuk bulirdan lembut), sedangkan bila kita menuangkan air dari ketinggian, maka akhirnya menyatu padu. Maka, tidak satu bulir pun air yang jatuh di suatu tempat, tanpa pengawasan dan kerja Malaikat Mikail dan yang membantunya. Atas Izin dan Perintah Allah.

“Tiada seorang pun mengetahui kapan diturunkannya hujan, di malam hari ataukah siangnya”. Kata Imam Qataadah. Ia termasuk rahasia, dari lima yang dirahasiakan Allah; isinya rahim seorang Ibu, esok apa yang akan terjadi, esok apa yang akan diperbuat dirinya, di mana nyawa berhenti berdetak, dan kapan derai hujan menyapa bumi. Hujan,  rahasia paling rahasia, ia  yang disebut dengan “Mafatihul Ghaib” (Kunci Ilmu Ghaib).

Sedangkan; guntur, petir, dan kilat, yang kadang menghantar hujan, juga kadang dianggap biasa. Sebenarnya sudah dibahas oleh Imam Bukhari dalam Kitab Adab al-Mufrad Lil Bukhari (H 262), pada bab “Idza Sami’a al-ra’du”. Sesungguhnya guntur adalah suara (gelegar) Malaikat ketika Hujan, laksana pengembala yang menghalau (dengan suara) kambingnya.

Dalam al-Qur’an, ia tertera dua kata, “Mathar” dan ‘Ghaits”, Mufassir ada yang menggap satu arti, namun ada pula yang memaknai berbeda dalam aspek dampaknya, “Mathar” hujan yang mendatangkan kerusakan, sedangkan “Ghaist” adalah hujan rahmat.

Mudah-mudahan hujan yang selalu menyapa kita setiap hari, menjadi rahmat, dan keberkahan bagi bumi dan isinya. “Allahumma Shayyiban Nafi’a”.

Malang, 15 Pebruari 2019
Khadim PP. Darun Nun Malang

IG: halimizuhdy3011

Senin, 14 Januari 2019

Sejarah Penamaan Hari Jumat, Muasal Terkikisnya Keangkuhan Manusia

Halimi Zuhdy
 
Nama-nama hari pada masa Arab Jahiliyah adalah; Syiyar (Sabtu), Awwal (Ahad), Ahwan (Senin), Jubar (Selasa), Dubar (Rabu), Mu’nis (Kamis), dan ‘Arubah (Jumat). Hari-hari ini merupakan tahap kedua, yang sebelumnya mereka membuat nama-nama hari, pertiga hari dalam satu bulan, misalnya; tanggal 1-3 disebut dengan Gharar, setelahnya dinamakan; Samar (4-6), Zahar (7-9), Darar (10-12), Qomar (13-15), Dara' (16-18), Dholam (19-21), Tsalatsu Anadis (22-24), Tsalatsu Dawari (25-27), dan Tsalatsu Muhaq (28-30).

Setelah Islam datang, nama-nama di atas berubah, di antaranya adalah nama hari 'Arubah, menjadi hari Jumat. Penamaan hari Arubah, sebelum menjadi hari Jumat, menurut Ibnu Abdul Bar, karena hari itu adalah hari; berbangga-banggaan, kepongahan, bergagah-gagahan, berhias, dan kasih sayang.

أن يوم العروبة آت من جذرين، الأول عرب، وهو الانكشاف والظهور والثاني بمعنى التزين والتودد

Dan dalam beberapa kajian, hari itu ('Arubah), adalah hari di mana orang Arab menampilkan; hasil karyanya (puisi), hasil perdagangannya, temuan sihirnya, dan lainnya. Yang hari sebelumnya, mereka berlomba-lomba mencari inspirasi, berdagang dengan strategi, dan berlatih menguapkan sihirnya.

Keparat, Cover dan Kafir

(Vol 11, Kajian Bahasa)
Halimi Zuhdy

Dalam Kajian bahasa yang pernah penulis bahas, bahwa bahasa Arab termasuk Aslu al-lughah (asal bahasa), dan beberapa contoh telah dipaparkan.

Edisi ke-10 ini, penulis tertarik mengkaji kata, "Keparat, Cover dan Kafir", apakah ketiga kata tersebut ada hubungannya?

Kalau dalam bahasa Arab ada istilah Isytiqaq Asghar dan Isytiqaq Akbar, apabila dari beberapa hurufnya ada kemiripan dan kesamaan, biasanya memiliki arti yang mirip atau sama, seperti kata, "Qawala, waqala, laqawa, walaqa, qalawa, lawaqa" yang pada awal maknanya adalah bergerak (yataharrak), yang kemudian, "Qala, qawala" diartikan berkata, berkata itu bergerak, kalau tidak bergerak namanya "diam-mingkem".

Sedangkan untuk mengetahui hubungan antar bahasa, maka dapat dilihat kemiripannya, seperti kata dalam bahasa Indonesia "Logat dan Lughah, alkohol dan alkukhul, marbot dan marbuth dan lainnya" itu ada kemiripan dengan bahasa Arab dan Inggris/Indonesia, dan ternyata kata tersebut berasal dari bahasa Arab (akan dikaji selanjutnya oleh penulis).

Kamis, 03 Januari 2019

Dunia Panggung Sandiwara

(Indonesia Indah, Tanpa Kampret dan Kecebong)
Halimi Zuhdy

Dulu, 2014. Orang-orang membanggakan nomor 1,  semua serba satu, telunjuknya ketika berfoto menunjuk satu, bendera ada gambar satu, di mana-mana disuarakan angka satu, seakan-akan tidak ada angka lain lagi. Tahun 2018, dengan kontestan yang sama, namun angkanya berubah, yang dulu angka satu kini berubah angka 2. Maka, angka 1 seperti syaitan, semuanya berubah angka dua. Dimana-mana angka dua.

Demikian juga yang dulu (2014) berada di angka 2, semua yang berbau dua dikeramatkan, sampai-sampai hewan, tumbuh-tumbuhan, semuanya mengarah kedua, menjadi keramat. Namun, ketika berubah ke angka satu, nomor dua jadi syaitan yang menakutkan. Apakah ini rasional, angka-angka yang tak punya dosa dimusuhi. He. Wkwkwkwkw

Dulu, misalnya, Bapak Almukarram Ali Muchtar Ngabalin, menjadi pendukung berat Pak Prabowo, mendukung seberat beratnya, sampai-sampai mengatakan, "Perjuangan yang kami lakukan tidak berhenti sampai di sini dan mendesak Allah SWT berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta. Mendesak Allah turunkan bala tentaranya tolong Prabowo," katanya dalam PILPRES 2014. (Saya kutip dari Tempo.co), Tapi sekarang, berubah 180 derajat, menjadi pendukung berat pak Jokowi, apalagi ia sudah  Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden. 

Kamis, 27 Desember 2018

Dipertemukan Puisi (5)

(Kenangan Yang Tersisa dari Muktamar Sastra Sukorejo)
Halimi Zuhdy

Dulu, ketika baru menjadi warga Facebook, saya suka menulis puisi, hampir dua hari sekali, dan dikirimkan keberbagai grup dan blog. Mungkin, ceceran puisi-puisi itu kalau dikumpulkan sekitar 400 judul puisi, baik yang berbahasa Indonesia dan berbahasa Arab. 

Puisi yang berbahasa Arab, akhirnya punya tempat sendiri di www.sastrahalimi.blogspot.com dan grup FB Toriqot Sastra, serta bergabung dengan grup Multaqa Syiir Arab, sedangkan beberapa puisi berbahasa Indonesia termaktub di www.jendelasastra.com, www.halimizuhdy.com, dan www.sastraindonesia.com dan beberapa puisi dimuat di koran lokal dan nasional. 

Wafatnya Karya Sastra (4)

(Ingatan Yang Tersisa dari Muktamar Sastra Sukorejo)
Halimi Zuhdy

Setiap daerah, wilayah dan negara, memiliki karya sastra, baik; sastra lisan (ada menganggap tradisi lisan), atau sastra tulis. 

Dan ketinggian karya sastra di masing-masing daerah atau negara, dipengaruhi oleh sejauh mana para sastrawannya bergumul dengan kondisinya dan pembacaannya terhadap suatu peristiwa, serta bagaimana para kritikusnya bekerja sebagai Kritikus yang sebenarnya. 

Karya sastra menjadi tidak laku, bahkan ditelan bumi, bila para; penulis, pembaca, dan kritikus sastra tidak lagi berperan sebagaimana mestinya. Atau negara (pemerintah)   yang juga tidak peduli perkembangannya, bahkan justru menenggelamkannya, dengan cara tidak menghargai para sastrawannya dan karya sastranya.