السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 29 November 2018

Asal Muasal Kamera, Menjelajah Akar Bahasa Arab, Qumroh.

Oleh: Halimi Zuhdy

Saya lagi suka mencari asal kata, baik dari Bahasa; Indonesia, Jawa, Inggris, Arab, Madura dan lainnya. Terutama kata yang berhubungan dengan bahasa Arab. Atau, kata yang bersinggungan dengan bahasa Arab.

Setiap bertemu dengan kalimat dan kata, otak saya mengarah kepada bahasa lain, karena setiap bahasa pasti memiliki akar kata dari bahasa lain, dan dalam pembacaan saya (beberapa buku) tidak ditemukan bahasa tumbuh dan berkembang dari bahasa itu sendiri (independen), pasti ada pengaruh dari bahasa lain, dengan kadar yang berbeda. Saat ini saja, ada sekitar 7000 dialek, dan 6000-7000 bahasa, ada yang mengatakan 2700 bahasa. Dan sebelumnya, sudah banyak bahasa yang musnah, selaras dengan semakin sedikitnya penggunanya. Dan setiap bahasa, bersinggungan dengan bahasa lain.

Beberapa kata sudah pernah saya kaji. Dan kali ini, Kata "Kamera" yang menjadi kajian sederhana saya. Beberapa alasan, mengapa saya mencoba mengkajinya, diantaranya; karena alat ini paling banyak digunakan dalam bermedia sosial, seperti: IG, Youtube, FB dan lainnya. Belum lagi, kamera yang digunakan dalam setiap moment-moment tertuntu, atau bahkan, setiap kesempatan tidak lepas dari jepretan kamera. Maka, tanpa kamera, sepertinya sungai tampa air, cinta tanpa rindu. He.

Dan setiap kata yang muncul, pasti menggambarkan keberadaan kata tersebut, dan kata tersebut sebagai bukti atas kemajuan atau keterbelakangannya. Maka, penting sekali untuk mengungkapkannya, walau masih butuh kajian lanjutan.

Saya menelusuri Kata "kamera", yang sepertinya ada kaitannya dengan "Qomara" yang bermakna "Bulan", ternyata setelah saya buka beberapa Mu'jam dan Mausu'at (ensiklopedia), saya menemukan  kata lain yang lebih mendekati "Kamera", yaitu; Qumrah (Cabin), Qumrah Mudha'ah (camera Lucida), Qumrah Mudhlimah (Camera Obscura). "Qumrah" berarti ruang atau kamar, yang lebih dekat dengan awal penemuannya.

Walau dalam beberapa bacaan saya temukan, bahwa kamera pertama kali ditemukan oleh Alexander Wolcott, dan kata "kamera" adalah dari bahasa latin "Camera Obscura" yang bermakna "ruang gelap", dan dalam wikipedia,  tidak satupun menyebutkan, bahwa "Kamera" berasal dari Bahasa Arab dan penemunya pertama kali adalah ilmuan muslim berpengaruh. Namun, setelah saya lacak bebeberapa buku dan ensiklopedia sain muslim, mausu'at, dan beberapa ma'ajim, saya menemukan hal lain, bahwa penemunya adalah seorang Muslim, Hasan ibn Haitsam yang dikenal dengan Alhazeen,  dan penemuan ini beberapa abad sebelum Wolcoot dianggap menemukannya.

Hal ini, dalam The Grate Inventions, Alhazen menyanggah orang Yunani kuno yang beranggapan, bahwa mata yang memancarkan cahaya, sehingga mata bisa melihat, namun Alhazen berbendapat, cahayalah yang memasuki mata. Dia menemukan kamera pertama setelah dia melihat cahaya masuk melalui lubang penutup jendela. Semakin kecil lubang gambar,  sebaik baik gambarnya, dan ia terus meneliti dan menemukan kamera obskura (qumrah) atau al-ghurfah al-mudhlimah.

Dan anggapan tersebut (bahwa kata "kamera" berasal dari "qumrah" yang berasal dari Bahasa Arab) diperkuat  oleh pendapat Mahmud Hiyari:

القمرة هي أصل كلمة كاميرا المأخوذة من العربية تلقمرة هي الغرفة المظلمة، وكان العالم العربي الحسن بن الهيثم قد تبحر كثيرا في علم البصريات، مما كان له الفضل في تأسيس العلوم الحديثة للبصريات، وقد تم  إطلاق اسم موقع على سطح القمر تقديرا له باسم alhazen وكذلك تم تكريم اسم الحسن بن الهيثم عالميا في مواطن كثيرة.

مصطلح (كاميرا) في اللغة الانكليزية مستوحى من اللاتينية camera obscura وهذه أخذوها بنفس معنى قمرة وتعنيان بالعربية ثم باللاتينية: الغرفة المظلمة، وكان ابن الهيثم أول من استخدمها كمصطلح علمي حيث عنى بها الغرفة المظلمة التي لها شباك، واستوحى من ظلمة القمر كلمة القمرة، ولفظها العرب بضم العين وتسكين الميم، بيد أن نسبتها إلى القمر تكون بفتح القاف والميم، ليس تقربا من مصطلح كاميرا الشهير الآن عالميا، ولكن لأن القمر والكاميرا متشابهان، والقمرة بفتح القاف والميم أقرب لسليقة اللسان، إلا إن كان هناك ما يؤيد ضم القاف وتسكين الميم بشواهد أخرى من تاريخ اللغة العربية والمعاجم.

Kata "Camera" yang berbahasa Inggris, diserap ke dalam bahasa Indonesia "Kamera", itu sejatinya diserap dari bahasa Arab "Qumrah" dalam bahasa Latinnya adalah "Camera Obscora".

Buku-buku Ibn Haitsam diterjemahkan kedalam bahasa Latin, dan dimanfaatkan oleh ilmuwan Barat seperti;  Isaac Newton, Leodardo Da Vinci, Roger Bacon, dan lainnya. Dan bukunya menjadi dasar ditemukannya; kacamata, teleskop, kamera, dan mikroskop. Dalam Bukunya Al Manazir, Ibnu Haitsam menulis tentang kaca pembesar, dan dia telah melakukan eksperimen dengan 27 lensa yang berbeda. (Mausu'ah).

Maka, memahami sebuah kata dan asalnya, tidak hanya akan memahami asal daerah kata terebut berasal, namun akan ditemukan; sebuah kebudayaan dan peradaban suatu bangsa. Ketika kata itu muncul, maka dapat dibayangkan betapa dasyatnya temuan tersebut yang kemudian mampu dimanfaatkan oleh generasi setelahnya.  Atau sebaliknya, kata (kurang baik, merusak) yang muncul dalam suatu bangsa, maka disana pula ia tumbuh dan berkembang, maka kemudian dapat dilihat bagaimana peradaban ketika itu.

Allah 'alam bisshawab.

Refrensi: Mu'jam al-ma'shir, Mu'jam Al-Maani Araby-injilizy, Mausu'at tiqniyyah, The Grate Inventions, Maqalah Mahmud Hiyari.

*Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang
*Khodim PP. Darun Nun Malang

Dapat bergabung di👇🏼

Instagram: @halimizuhdy3011
Web: www.halimizuhdy.com
FB: halimi zuhdy
Twitter: halimi zuhdy

Senin, 19 November 2018

Perbedaan "Tilmidz" Dan "Thalib"

(Vol 4, Furuq Lugahwiyah)

Halimi Zuhdy

Pertanyaan tentang perbedaan kosa kata Arab  sering muncul di grup WA, FB dan lainnya, dan tidak sedikit yang japri saya, maka setelah beberapa kosa kata Arab yang telah saya kaji, berikut ini (volume ke 4), saya akan kaji perbedaan "Thilmidz" dan "Tholib", dan pada volume berikutnya akan dikaji perbedaan "Daris" dan "Muta'alim".

“Tilmidz” secara bahasa bermakna "Mengikuti’, “Membantu”, “Pelayan",  "Membantu mempelajari kerajinan, kesenian”. Sedangkan dalam Kamus Ma’ashir dan Mu’jam Wasit bermakna “Seorang anak yang belajar (yatalammadz) ilmu”, “Pembelajar yang menuntut ilmu kerajinan dan lainnya”.

Dan ulama bahasa mendefenisikan “Tilmidz” adalah “Pembelajar (siswa) yang belajar di tingkat bawah (ibtida’), menengah (mutawassit).

Maka “Tilmidz” adalah pembelajar yang umurnya sekitar 0-16 tahun, sedangkan setelahnya di sebut dengan “Thalib”. Maka, "Tilmidz" adalah pembelajar (siswa) yang masih membutuhkan arahan (taujih), bimbingan (irsyadat) untuk menuju kematangannya.

“Tilmidz” mereka yang masih dalam bimbingan dan arahan untuk memperbaiki jiwa (nafsiah), mentalitas (Aqliyah) dan perilaku (sulukiyah).

Sedangkan “Thalib” secara Bahasa bermakna “Pencari”, dan secara umum diartikan dengan penuntut ilmu, “thalib” adalah penuntut ilmu yang telah melampaui puber pertama dan memasuki tahap dewasa, serta kemampuan kognitifnya dan pola pemahamannya lebih kompleks daripada siswa (tilmidz).

“Thalib” sering digunakan pembelajar di universitas yang disebut dengan “mahasiswa”, seperti “thalibul al-Jamiah”, atau dalam bahasa Inggris “student”, sedangkan “Tilmidz” dalam Bahasa Inggris sama dengan “pupils”.

“Thalib” juga digunakan untuk sekolah dasar “thalibul madrasah”. Karena kata ini, lebih umum dari “tilmidz”. Namun, penggunakan “tilmidz” khusus kepada pembelajar yang berada di usia anak-anak.

https://www.instagram.com/p/BoYwZORn-5Y/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1bcpgxlz0hzyk

Sedangkan dalam Kamus Mughni, “Thalib” bermakna; (1) yang senang dalam mencari ilmu, (2) dua hal yang paling disenangi, mencari ilmu dan mencari harta (al-Jahidz), 3) suka mencarikan suami untuk anak perempuannya (thaliban lilzawaji mim ibnatiha).

Allah ‘alam bisshawab.

Maraji’; _Mu’jam al-Ma’ashir, Mu’jam al-Ma’ani, Mu’jam al-washit, al-furuq al-lughawiyah, Maqalah furuq lughawiyah lil dukthor Farhan, Mu'jam Mughni._

*) Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Minggu, 18 November 2018

"Jancok" Benarkah dari Bahasa Arab?

(Mencari Asal kata,  Analisis Bahasa Sederhana)
Halimi Zuhdy
IG: @halimizuhdy3011
Awalnya, ketika saya ingin menulis judul di atas agak geli, tetapi karena untuk menganalisis dan mencari kebenaran, atau mendekati kebenaran, atau mengundang orang lain untuk mengritik tulisan saya, maka saya beranikan diri untuk mengulasnya secara sederhana, dan suatu saat kalau bisa berlama-lama duduk, akan saya tulis dengan lengkap, atau bisa saya masukkan di jurnal. He

Tulisan di atas berawal dari dialog mahasiswa, yang keduanya mengucapkan kata-kata “Jancok” tanpa risau, dan sepertinya tidak ada yang merasa bersalah. Saya yang bukan berasal dari Jawa (walau masih Jawa Timur. He), agak kaget, karena selama ini bahasa tersebut paling saya takuti, karena dianggap “memisuh”, atau “mengumpat”, seperti mengungkapkan kekecewaan dan kekesalan yang luar biasa, “brengsek, keparat dan lainnya”.

Percakapan dua mahasiswa tersebut sebagaimana berikut:
“Dang, Jancok Kon, Nangendi?”, Sambil tersenyum.
“Arep, neng Kampus”, Tak ada raut wajah marah sedikitpun, ketika menjawab pertanyaan yang ada kata tersebut.
“Loh, kok misah-misuh si rek? Saya dengan nada agak marah. Karena pemahaman saya, kata itu tidak laik diungkapkan.
“Katanya, “Jancok” dari bahasa Arab ustadz?” sambil saya terbelalak朗, saya berfikir,  benarkah kata tersebut dari Bahasa Arab. Kemudian saya googling dan menemukan dibeberapa laman. 

Rabu, 07 November 2018

Luar Biasa! Gadis Kecil Maroko, Pemenang "The Arab Reading Challenge 2018"

Halimi Zuhdy

Dua hari ini dunia Arab dihebohkan dengan kecerdasan gadis kecil, dan vedionya viral diberbagai media, Maryam Amjun, ia punya nama.

Gadis kecil ini mampu membuat para hadirin dan juri bedecak kagum, bahkan tepuk tangan riuh tak berhenti, ketika gadis kecil ini menjawab pertanyaan Dr. Muna dengan meyakinkan dan kefasihan kalamnya dalam bahasa Arab.

Gadis berusia sembilan tahun itu tidak dapat membendung gelombang air matanya, membuncah, sambil tersenyum gembira dan binar matanya menyapa seluruh hadirin, ditangannya memegang erat piala yang diberikan oleh Wakil Presiden UEA, Muhammad bin Rasyid Ali Maktum. Karena hari itu, ia telah meraih bintang "The Arab Reading Challenge" tahun 2018. Maryam adalah peserta termuda dalam acara ilmiah dan budaya tersebut.

Pertanyaan yang diajukan kepada Maryam "lebih sulit dari umurnya", dia pun kata ibunya, tidak memiliki akun apapun pada situs jejaring sosial, dan tidak memiliki HP Tetapi jawaban "pintarnya", seperti yang dikatakan ibunya, membuatnya mengungguli lawan-lawannya dan menemukan jalan keluar untuk mendapatkan suara terbanyak.

"Saya sangat bahagia dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Sheikh Muhammed bin Rasyid atas prakarsa luar biasa ini yang telah membangkitkan rasa ingin tahu dan pengetahuan kami tentang membaca buku," kata Maryam sambil sesenggukan bahagia.

Gadis kecil itu telah melampaui lebih dari 300 ribu siswa dan murid di tingkat nasional, mewakili 3.842 lembaga pendidikan, untuk dapat mewakili Maroko di babak ketiga kompetisi " Tahaddi Al-Qira'ah al-Arabiyah,".

Berikutnya ia bersaing dengan peserta dari negara-negara Arab, serta dari masyarakat Arab dan Muslim yang berada di negara-negara Barat, Kualifikasi awal kompetisi dihadiri oleh 10 setengah siswa dari 44 negara, dengan seleksi akhir 87.000 peserta dari 52.000 sekolah. Dan pada tahap akhir, dialah sebagai pemenangnya.

Usia mudanya tidak menghalangi dia untuk mewujudkan impian besarnya. Maryam Amjon digambarkan oleh ibunya sebagai seorang gadis yang mencintai banyak buku sebelum ia dapat membacanya. "Masa kecilnya hidup di tengah-tengah buku." "Pekerjaan kami sebagai guru membuat kami selalu sibuk dengan buku-buku, dan anak itu tergoda oleh hal-hal di sekitarnya yang menyibukkan orang tuanya."

Maryam, si gadis kecil , membaca lebih dari 200 buku dalam kompetisi, di tingkat nasional dan internasional.

Dan penulis memimpikan ada lomba membaca buku di Indonesia, dengan hadiah besar, seperti di UEA, 150 US Dolar, belum lagi berbagai hadiah lain yang diterimanya. Agar masyarakat Indonesia juga berlomba-lomba membaca buku, dan buku sebagai tombak dalam hidupnya, karena  Indonesia termasuk negara yang paling rendah daya membacanya.
Allah 'lam bishowab.

IG : @halimizuhdy

#membaca #maryam_amjon #maryamAmjon #membacaGadisMaroko

Minggu, 28 Oktober 2018

Hari Sabtu (Asal Penamaan dan Rahasianya)

Halimi Zuhdy

Saya sering ditanya  mahasiswa bahasa Arab, tentang nama-nama hari; Ahad, Senin, Selasa dll, belum lagi pertanyaan, mengapa Ahad diganti Minggu. 

Dalam bahasa Arab, hari itu dimulai dari hari Ahad (kesatu) sampai Sabtu. Tetapi kebiasaan di Indonesia, permulaan hari dimulai dari hari Senin, sebagai awal dari belajar di sekolah formal, sedangkan di pondok pesantren dimulai dari Sabtu, bila liburnya hari Jum'at. Sedangkan di Arab, kegiatan dimulai dari hari Ahad (kesatu) dan biasanya libur Jumat dan Sabtu. 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, seharusnya hari itu dimulai dari hari Ahad ( أحد) yang berarti permulaan atau ke satu, selanjutnya hari Senin (الاثنين) yang berarti kedua, sampai hari Kamis (خميس), baru kemudian hari Jum'ah dan Sabtu. 

Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa setelah Kamis (lima) tidak dilanjutkan ke-enam dan ke-tujuh, tetapi menggunakan Jum'at dan Sabtu?. Ini yang akan  saya kaji, namun sebelum membahas Jum'at, akan dibahas terlebih dahulu hari Sabtu.

Hari Ahad, Mengapa Diganti Hari Minggu?

Halimi Zuhdy
Beberapa puluh tahun terakhir ini, hari Ahad mulai lenyap, dan bahkan ketika kita bertanya kepada siswa atau mahasiswa atau halayak umum, mereka sudah tidak lagi tahu asal-muasal Minggu yang berasal dari hari Ahad. Dan mereka dengan entengnya menyebut hari Ahad dengan hari Minggu. Dan yang lucu lagi, banyak yang tidak mengenal bahwa hari hari yang ada di Indonesia berasal dari bahasa Arab, Senin (isnain), Selasa (sulasa’), Rabu (arbia’), Kamis (khamis). Jumat (Jumuah), Sabtu (Sabt).

Setelah penulis telisik dari berbagai leteratur bahwa hari Minggu adalah nama yang diambil daribahasa Portugis, Domingo  yang berarti “hari Tuhan  kita”, dan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kemudian kata ini dieja sebagai Minggu. Hari tersebut, Bagi salah satu umat yang ada di dunia, yaitu umat Kristen, nama hari Minggu selain diidentikkan dengan Hari Tuhan, juga sebagai hari kebangkitan, hari peristirahatan dan hari untuk beribadahdan pada hari Minggu ini umat gereja memperingati hari Minggu sebagai hari perhentian bagi orang Kristen sekaligus hari peringatan akan kebangkitan Yesus. 

Rabu, 24 Oktober 2018

KECEWA


Halimi Zuhdy

"Ia selalu saya dukung untuk maju, bahkan jam berapa pun ia butuh saya, saya selalu ada untuknya, tapi sekarang seperti kacang lupa kulitnya".

"Yang menjadikan ia seperti itu, saya, mengapa dia sekarang melupakan semuanya".

"Dulu, itu saya yang bangun, sampai megah, sekarang semuanya pada ngaku-ngaku, dan telunjuknya panjang-panjang".

"Aku ini kurang apa, semuanya sudah saya lakukan untuknya, tapi mengapa dia sekarang tega berbuat itu padaku".

"Aku sudah berkorban harta, fisik, dan psikis untuknya, dia sekarang sok, bahkan seperti melukis di atas air".

"Dia dulu saya anggap anak sendiri, bahkan melebihi siapapun, tapi setelah sukses, tak pernah lagi dia mengingatku".

"Dulu saya yang mengusahakan dia untuk dapat beasiswa dan sampai selesai studinya, tapi acara wisuda saya tidak diundang".

"Dulu yang mengangkat dia juga saya, tapi dasar anak tidak tahu diuntung, dia sudah berani mengecewakan saya".

"Dulu organisasi itu kecil, ketika saya pimpin, semuanya berubah luar biasa, dan kamu bisa lihat sendiri, tapi setelah itu, mereka tidak pernah ingat, siapa yang membesarkan".

Jumat, 12 Oktober 2018

RINDU


Halimi Zuhdy

Kerinduan itu menyakitkan, melupakannya kadang obatnya. Namun, bila tak ada rindu, hati terasa  kering kerontang, bagai mentari menjejal sahara, yang tak ada tetes embun menyapa.
Kerinduan itu menyakitkan, namun bila rasa rindu  tak datang,  sakit semakin mencekam. .

Rindu itu kan selalu datang bertandang, karena masih ada cinta mendekam. Ia tak kan pernah mengering dan tak kan pernah berhenti mengalir, selagi rasa bergerak tuk menemukan samudera kasih. Seperti air sungai yang terus bergerak, menghentak, menerobos tuk menemukan samuderanya. Rindu itu akan selalu ada, buat seseorang yang dicinta. .

Rindu, bagaimana Thalhah yang tidak mau melepas tubuh Nabi, dipeluknya erat, dan menciumi jenggot sang kekasihnya itu. Pertemuan dengannya, bagai tetes air di kerongkongan yang kering. .

Rindu bagai karang di lautan, lautpun tak mampu menghenpaskan. Bagai Shahabat Nabi yang bangga dengan giginya yang ompong, bahkan tidak ingin dipasang gigi lagi, karena gigi itulah yang menarik rantai yang membelit Nabi dalam perang Uhud, ia tak ingin giginya terpasang karena takut kerinduannya tercerai padanya. Sungguh, kerinduan itu mempesona. .

Belum lagi Ukasyah yang membuat tangis seisi masjid berderai. Meminta Rasul membuka bajunya, hanya agar dapat menyentuh tubuh surganya. Bahkan Umar bin Khattab pernah dengan lantang berkata, "Tiada seorangpun yang kudengar dan ia mengatakan Nabi wafat, melainkan akan kupancung dengan pedangku ini! " ini sunggu rindu di atas rindu, pedih kehilangan sang kekasih yang paling kasih. .

Bila ia lupa untuk rindu, sepertinya sudah mulai tergerus cinta itu, semakin rindu, cinta itu semakin mengakar kuat. Maka tidaklah pernah ada, cinta tanpa rindu, karena dimana ada asap, di situlah api menguap.

Allahummaj'alna musytaqina laka wa lihabibika Ya Rabb.

Jum'ah Mubarokah

Malang, 12/10/2018

#madzhabrindu #fatwacinta #fatwa_cinta

IG: @halimizuhdy3011

Minggu, 16 September 2018

BAHASA ARAB; SILAM DAN KINI

Halimi Zuhdy

Menarik judul Studium General yang dihamparkan kepada mahasiswa baru STIBA DUBA Pamekasan,  "Lughah Dhat, Baina Madi Wal Hadir", Bahasa Arab, dulu dan kini. 

Mahasiswa baru yang mengambil bahasa Arab, dituntut untuk memahami bahagaimana bahasa Arab; lahir, tumbuh, berkembang dan keadaannya kini. Dengan tema tersebut, mereka mampu berfikir bagaimana bahasa ini bergerak melampaui setiap zamannya. Dan mengapa kini, muncul pesaing-pesaing yang bergerak cepat, dan mampu memperlambat laju bahasa Arab, apakah faktor yang paling mempengaruhi? Sehingga setiap buka internet, misalnya, ada bahasa baru muncul dengan bentuk tulisan Arab, tapi berbahasa Inggris, واتساب, فيسبوك, موبيل dan lainnya.

Menurut riwayat yang jamak dipahami, bahasa Arab rumpun semitik yang merupakan gabungan antara bahasa-bahasa Afroasiatik (Asia dan Afrika). Bahasa ini, paling lama bertahan di dunia, dibandingkan dengan bahasa lainnya, dan bahkan bahasa lainnya yang satu rumpun dan yang berkerabat sudah ditelan bumi, hanya tinggal huruf-hurufnya yang dimusiumkan. 


Bahasa Arab yang kita kenal hari ini (Arab Klasik), sudah bertahan 1500 tahun, dan menjadi bahasa dunia beberapa abad lamanya, sehingga orang Barat (eropa) pun bangga jika  dapat menguasai bahasa Arab, karena pada waktu itu, bahasa Arab adalah bahasa keilmuan, yang setiap pembelajar untuk memahami berbagai ilmu, maka harus memahami bahasa Arab. 

Di antara ratusan kosa kata Inggris, misalnya, yang berasal dari bahasa Arab adalah; Camel, Alcaide, Magazine, Alchemy,  Alcohol, Arsenal, giraffe, Sugar dan lainnya. Belum lagi pengaruh terhada bahasa Indonesia, sekitar  tiga ribu kosa kata bersal dari Arab. Juga bahasa Itali, Spayol, India, Pakistan, Iran. Bahasa Arab juga merupakan sumber bahasa utama Berber, Kurdi, Persia, Swahili, Urdu, Hindi, Turki, dan Melayu.

Selasa, 11 September 2018

PERBEDAAN KATA TAHUN DALAM BAHASA ARAB, "SANAH" & " 'AAM"

Halimi zuhdy
(Selamat Tahun Baru Hijriyah 1440 H) 

"Kata" selalu menjadi perbincangan hangat di kalangan para Ahli Bahasa, apalagi terkait dengan "taraduf" yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sinonim, walau jenis "taraduf" ini sangat banyak. 

Para Ahli bahasa Arab ada yang sepakat dengan adanya sinonim, diantaranya:  Sibawaihi, Asma'i, Abu al-Hasan Rummani, Ibnu Khalawiyah, Hamza bin Hamza al-Isfahani,  Al-Fairuzabadi,  Al-Tahanawi, serta mayoritas ahli bahasa Arab modern mengakui adanya sinonim dalam bahasa Arab.
Sedangkan yang tidak sepakat adanya sinonim, seperti: Tsa'lab, Ibnu Faris, Abu Hilal Al'askari, Baidhawi dan beberapa Ahli Bahasa lainnya.

Selasa, 21 Agustus 2018

PSK, ATLET NEGARA & PAHLAWAN

Halimi Zuhdy

Gambar diambil dari Tribunnews.com
Dua hari ini, ada berita menarik yang mencuri perhatian publik, dengan kata kuncinya,  "PSK" dan "Atlet Dipulangkan". 

PSK, singkatan dari Pekerja Sek Komersial, atau nama lainnya; Pelacur, Wanita tunasusila, Lonte
Sundal, Pramuria, dan Kupu-kupu malam, Menjadi kata yang tidak asing bagi yang sudah berumur 18+, walau tidak asing dan diramu sedemikian rupa, tetaplah tidak elok dan menjijikkan.

PSK, akan selalu ada dimanapun dan kapan pun, baik teran- terangan atau sembunyi-sembunyi. Karena mereka, tidak hanya membutuhkan uang, tapi membutuhkan kenikmatan, atau tidak hanya membutuhkan kenikmatan tetapi juga uang. Walau, tidak semua yang menjadi PSK adalah sebuah cita-cita, tatapi dengan terpaksa, namun adakah alasan terpaksa harus menjadi PSK?. Titik.

Minggu, 22 Juli 2018

IMLA DALAM SIMPOSIUM INTERNASIONAL DI LOMBOK

IMLA (Ittihadul Mudarrisin Al-Lughah Al-Arabiyah) Indonesia  berpartisipasi dalam Simposium Internasional Bahasa Arab ke-2 yang diselenggarakan oleh Arrobithah Al Ala'lamiyah Lighairin Nathiqina Biha Prancis, yang bekerja sama dengan UIN Mataram dan Al-Munadhomah Al-Alamiyah lil Tanmiyah - Britania. 

Simposium dilaksanakan di Hotel Jayakarta Senggigi Lombok, Nusa Tenggara Barat Indonesia pada tanggal 21 Juli 2018. Dan hari berikutnya, 22 Juli 2018 dilanjutkan dengan Daorah Tadribiyah (Pelatihan Bahasa Arab) oleh tutor internasional.

Peserta dari IMLA yang menghadiri Seminar Internasional, adalah Al Ustadz Ahmad Fuad Effendy (pendiri IMLA dan Anggota Majlis Umana Markaz Malik Abdullah bin Abdul Aziz likhidmatil Lughah Arabiyah Riyadh), Dr Imam Asrori (Rois Amm), Dr. Tulus Mustafa (Naib Rois Amm), Dr.  Wildana Wargadinata (Katib Amm), Dr Mohammad Ahsanuddin (Katib Tanfidi), Dr Nasruddin Idris Jauhari (Pengembangan SDM), Dr. Uril Bahruddin  (Departemen hubungan Kerja Sama) dan Dr. Halimi Zuhdy (Qism Nasyr Majallah).

Sabtu, 21 Juli 2018

IMLA, KIAN MELAMBUNG

(Menguatkan dan Menyebarkan Bahasa Arab di Indonesia)

Halimi Zuhdy

“Saya keliling ke berbagai belahan dunia dan banyak berintraksi dengan organisasi-organisasi atau persatuan Bahasa Arab Dunia (Rabithah, Ittihat, Muntada), tetapi saya baru menemukan organisasi besar dan solid (qowiyyu) ini di Indonesia, yaitu Ittihat (Baca;IMLA) ini” tutur Doktor Abdullah Saleh Alwashmi, di kediaman Al-Ustadz Ahmad Fuad Effendy.

“Ini bukan hanya lipstick belaka, atau hanya sebagai pujian, sungguh  baru saya menemuka organisasi besar yang benar-benar serius memajukan Bahasa Arab, dengan anggota yang cukup besar dari berbagai Universitas dan sekolah, hanya ada di Ittihat ini”, lanjut beliau dengan menahan nafas dan senyum khasnya.

Selanjutnya, Amin Al-Amm Markaz Al-Malik Abdullah bin Abdul Aziz ad-Dauli li Khidmati al-Lughah al-Arabiyyah Riyadh, “Organisasi itu akan semakin kokoh dan berkembang, bila merangkul banyak perbedaan, dan mengakomodir seluruh kepentingan anggotanya, walau dalam berorganiasi tidak akan pernah lepas dari perbedaan, tetapi bila dikelola dengan baik dan serius, ia tidak akan mati dan berhenti, tetapi akan selalu bertahan dan berkembang”.

Satu persatu tamu dari Markaz Malik bin Abdul Aziz dan WAMI dipersilahkan oleh Dr.  Wildana Wargaditana sebagai Mudir jalsah untuk memberikan; masukan, pandangan, dan arahan kepada IMLA atau kesan-pesan selama berada di Indonesia. Dan dari sekian pandangan itu semua bernada optimis dan pujian, bahwa Ittihat Mudarrisi Lughah Al-Arabiyah (IMLA) itu akan berkembang dengan pesat dan akan menjadi mesin penggerak Bahasa Arab di Indonesia.

“Kekeluargaan ( _Ukhawiyah_) dalam tubuh Ittihat ini sangat saya rasakan, dan sangat terlihat dari bagaimana “melakukan” dan “mengkoordinir” berbagai daurah tadribiyah di berbagai tempat, bukan hanya “menteorikan” dan al-hamdullah semua Daurah Tadribiyah berjalan dnegan baik, maka saya cukup mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Ittihat” kata Dr. Said Luwaimi, dengan senyum yang selalu menggantung di bibirnya.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212163674676287&id=1508880804

Ada lima asatidz dari Markaz Malik Abdullah bin Abdul Aziz Riyad KSA yang hadir dalam agenda “Liqa’ ukhawiu” di kediaman pendiri IMLA, Ustadz Ahmad Fuad Effendy, beliau adalah; Dr. Abdullah Saleh Alwashmi (Sekjen Markaz), Dr. Prof. Dr. Abdul Karim (WAMI), Dr. Muhammad Alluwaimy, Dr. Khalid, Dr. Badr Nashir. Sedangkan yang dari Al-Markaz al-Idariyah IMLA; Prof. Dr. Imam Asrori (Ketua),  Ustadz Ahmad Fuad Effendy (Mustasyar, Wa Muassis), Prof. Muhaiban (Musytasar), Prof. Dr. Nurul Murtadha , Dr. Wildana Wargadinata  (Sekjen), Dr. Hanik Mahliatussikah  dan Dr. Mamluatul Hasanah (Amin Sunduq), Ustadz Mohammad Ahsanuddin dan Ustdz Ahmad Makki Hasan (Sekretaris), Dr. Uril Bahruddin (Bid.Ta’aun), Dr. Halimi Zuhdy (Koord. Nasyr Majallah) dan usatdz Moch Wahib Dariyadi

“Kita banyak masyru’at, seperti Daurah Tadribiyah yang baru saja kita lakukan di Malang dan berapa tempat di Indonesia. Dan beberapa tahun lalu, juga bekerjasama dengan IMLA dengan melaksanakan; Syahrul Arabiy, musabaqat, Seminar, Penulisan Dalil Ulama’ Bahasa Arab, dan lainnya,  dan saat ini kami lagi merancang untuk Penulisan karya Tulis Ilmiah (al-bahst al-ilmi) atau membukukan beberapa karya berbahasa Arab, terutama Indoensia. Agar kami mengetahui perkembangan dan keberadaan Bahasa Arab di Indonesia, maka kita harus tahu karya-karya orang-orang Indonesia, maka kita butuh buku-buku, majalah, dan lainnya yang berbahasa Arab, seperti yang ditulis ustadz Fuad Afandi dan lainnya”, kata Seketaris Jendral Markaz Malik Abdullah, Dr. Abdullah Washmi, yang baru saja menerima anugerah Gelar Doktor Honoris Causa bidang Pengajaran Bahasa Arab dan Perencanaan Bahasa dari Universitas Negeri Malang (UM).
 
Sedangkan Prof. Dr. Imam Asrori dalam sambutannya menyampaikan banyak terima kasih kepada Markaz Al-Malik Abdullah bin Abdul Aziz ad-Dauli li Khidmati al-Lughah al-Arabiyyah Riyadh atas kepercayaannya melakukan kerjasama dengan IMLA, dan mudah-mudahan kerjasama tersebut tidak hanya berhenti di sini, namun dapat dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lain nantinya. Demikian pula harapan Sang Muassis dan Dewan Pertimbangan IMLA, Al-Ustadz Ahmad Fuad Effendy, yang diakhir sambutannya sebagai tuan rumah, beliau menyampaikan harapan besar “Entah, ini hayalan atau harapan, saya berharap Bahasa Arab menjadi bahasa Pertama dan Utama (al-lughah al-ula) di Indonesia untuk yang berbahasa Asing (Ajnabyah)” tutur beliau dengan penuh harapan.

Allah ‘alam bishawab
Tayha al-Lughah al-Arabiyah

Halimi Zuhdy
(Koordinator Isdar Majallah Muhakkamah IMLA)

#IMLA_Indonesia
#ImlaForIndonesia
#IMLA_BahasaArab
#BahasaArab_IMLA

TAMPAK LUAR, GELOMBANG DALAM

(Dahir Seseorang, Gambaran Batinnya)

Halimi Zuhdy

Sejatinya, orang tidak bisa berbohong dengan keadaan dirinya; hatinya, pikirannya, perilakunya, dan apa yang dikenali dalam dirinya.

Ada ungkapan Arab yang menarik "Adhahiru ya dullu ala bathin", tampak luarnya itu, menunjukkan kondisi dalam dirinya (batinnya).

Setiap orang mampu dikenali akhlaqnya (pula, hatinya dan pikirannya), dari bagaimana ia;  bersikap, berucap, melihat (lirikan dan tatapan), bergerak, dan bagaimana pula mempola dirinya.

Seperti orang yang berbohong, ia akan tampak kaku, tampak salah tingkah, pandangan matanya kosong, dan ucapannya sering terkilir. Demikian pula orang jujur, walau ia mencoba membohongi sikap dirinya, ia kelihatan rinai wajahnya, senyum mulutnya, tatapan tajam wajahnya.

Tampak luar, sesugguhnya adalah cerminan batinnya. Bila suka marah-marah, maka mungkin ada keras batu dalam hatinya. Bila suka membincang orang (ghibah), mungkin ada iri dalam dirinya.

Cara mendeteksinya, "Bagaimana melihat seseorang, lihatlah bagaimana ia membicarakan orang lain, maka tidak akan jauh dari apa yang dibicarakan tentang orang lain, jika membicarakan kejelekan seseorang, maka dirinya tidak jauh dari yang dibicarakan, karena tidak mungkin air mengeluarkan bara, dan panas memuntahkan air. Pula, seperti orang menunjuk pada orang lain, maka jari jempolnya adalah dirinya".

Sepintar apapun orang menyembunyikan dengki,    senyum apapun yang dicipta akan terlihat menakutkan di sore hari, walau di paginya ia seperti mentari. Se-marah apapun ia, kalau untuk kebaikan, marahnya adalah mutiara yang membuat tambah senang, kan tahu marahnya adalah untuk kebaikan, tapi kalau amarahnya adalah bara diri, maka bagai neraka di pagi hari.

Kata peribahasa "Angkuh terbawa, tampan tinggal" Orang yang suka bersolek dan berlaga seperti orang cantik atau tampan padahal tidak sesuai dengan dirinya, maka ia akan terlihat bagaimana ia selalu menampakkan ke-indahan, walau buruk selalu meliputi; prasangka buruk, tingkah buruk, dan kejahilan yang selalu membuat terpuruk.

Seperti baliho di Bandara sebuah negara atau kota,  gambarnya adalah yang terbaik, yang paling sesuai dengan keberadaan dirinya, atau yang paling dibanggakan.   Bali dan lombok dengan pantainya, Jawa Tumur dengan Suramadunya, Yordania dengan Petranya. Demikian pula seseorang.

Walau ada Peribahasa "Busuk-busuk embacang" artinya orang yang tampak dari luar (lahiriah) seperti orang jahat/orang bodoh, namun ternyata hatinya baik/ilmu pengetahuannya tinggi. Demikian pula, tidak semua tampak luar itu adalah seperti yang berada di dalam (batin). Ini istitsnaiyyat (pengecualiaan), namun "kebanyakan" dahirnya adalah batinnya.
Allah 'alam bisshawab.

Senggigi Lombok, 21 Juli 2018

Sabtu, 14 Juli 2018

ISLAM NUSANTARA YES, ISLAM TANPA NUSANTARA YES, TAK BER-ISLAM NO

(Indahnya Perbedaan)
Halimi Zuhdy 

"Islam itu selalu mengajarkan persatuan dan kekokohan, toh kalau ada perbedaan di dalamnya, itu adalah hal biasa, karena Perbedaan adalah Rahmah, seperti yang kini lagi marak, perbedaan Islam Nusantara dan Islam tanpa Nusantara, keduanya biasa saja menurut saya, apalagi keduanya punya argumentasi sendiri-sendiri, dengan ijtihad sendiri". Saya sampaikan dalam suatu forum, dengan tema "Bagaimana menghargai perbedaan". 

"Ustadz tidak tegas, dan tidak punya pendirian". Tegas santri pada saya.
"Apanya, yang tidak tegas?". Saya menyanggahnya. 

"Kalau ustadz punya pendirian, ya kalau percaya, akui saja Islam Nusantara, kalau tidak sepakat, tolak dong ustadz". Ia mencoba memahamkan. 

"Apakah tegas itu harus memilih "Ia" atau "Tidak", bukankan memilih di antara keduanya juga sebuah ketegasan dalam memilih. Bukankah setiap kepala punya ide, setiap tubuh punya sikap, dan setiap orang punya pilihan sendiri". Papar saya, Sedikit menekankan pada bahwa pilihan itu banyak, tidak hanya dua. 

Saya melanjutkan, "Bukankah Islam juga mengajarkan kepada kita, bagaimana bersikap wasathan, tengah-tengah, dan Islam Nusantara atau Islam tanpa Nusantara, bukanlah wajib atau mubah, bukanlah haram dan sunnah, ia hanya sebuah ijtihadi. Silahkan yang mau mengikuti, dengan alasannya yang kuat, dan juga yang menolak dengan alasan pula. Buktinya, ditubuh NU sendiri juga ada perbedaan, apalagi yang di luar NU, hal itu biasa, dan NU biasa dalam sebuah perbedaan. Maka lihatlah, bagaimana bahsul masail yang mengajarkan perbedaan itu menentukan sebuah hukum, tapi pada akhirnya juga ada sikap dan konsekwensi dari hukum itu". Tegas saya pada santri. 

"Tapi ustadz, kalau mengakui Islam Nusantara,  nanti dianggap pengikut leberal dan anti Arab,  dan kalau tidak mengakuinya dianggap keluar dari NU, NU keras, dianggap tidak paham NU, bahkan dianggap aliran lain, dan lainnya sebagainya? " ia mencoba mencari celah. 

"Tidaklah, Islam Nusantara itu tidak sampai pada pemahaman aqidah dan aliran tertentu, gara-gara percaya sama Islam Nusantara kemudian shalatnya berubah, tuhannya berganti, hajinya di Nusantara, itu terlalu sempit. Atau sebaliknya, bagi yang menolak Islam Nusantara, dianggap beraliran keras atau lainnya, hal itu juga tidak, buktinya ada kyai yang menolak Islam Nusantara juga bukan aliran keras dan saya yakit tetap di NU". Saya mencoba meluruskan anggapan itu. 

"Mari, sesama muslim Nusantara dan di luar Nusantara, yang paling penting sekarang adalah satukan tekat untuk menuju keberagamaan yang baik,  demi  kebangkitan umat, baik dalam ekonomi, pendidikan, kesejateraan, keamanan, dan lainnya, tidak sibuk perang di medos hanya gara-gara istilah, bukannya saya menyepelkan istilah, tapi bagaimana berargumentasi yang akademis bukan emosional, dan sampai-sampai keluar istilah hewan yang tidak pantas diucapkan, kecebong kampret dan istilah-istilah yang tidak dewasa". Sambil  tersenyum dengan keringat yang mulai mengurai.
"Kalau kau ingin mempertajam pisau, maka asahlah" saya melanjutkan materi IKHTILAF ITU CANTIK. 

Pisau, jika lama tidak digunakan akan karat, bahkan akan rusak dan tidak akan dapat digunakan lagi. Tapi, jika ia digesek (diasah) dengan batu, atau benda keras lainnya, akan tajam.
Demikian pula, jika umat ingin tambah dewasa, maka gesekan kadang memang harus terjadi, maka ikhtilaf itu sebuah keniscayaan. Sekali lagi "ikhtilaf", bukan "tafarruq".

Persatuan itu penting, tapi tidak harus menolak perbedaan, bukankah indahnya siang, karena kita melewati malam, dan indahnya malam, karena siang pergi dengan senyum manisnya. 

Para Sahabat, Tabiin, dan setelahnya, juga tidak lepas dari perbedaan. Seperti, para sahabat yang berbeda penentuan warisan untuk nenek (al-jad) pada masa Abu Bakar, Umar Al Faruq dengan Zaid bin Stabit tentang kata _Al-Quru'_, pada masa Ustman bin Affan berbeda dalam hal _siyayah_, Ali bin Abi Thalib juga pernah berbeda dengan Muawiyah, dan Istri Nabi, Aisyah. 

Belum lagi ikhtilaf para aimmah, kemudian melahirkan madzhab-madzhab. Itulah sebuah keindahan, yang membangkitkan gairah akademik tinggi, saling mengasah kecerdasan, pemikiran dan melahirkan berbagai pendapat, yang tentunya berangkat dari satu pohon, Al-Quran dan Al Hadis, yang membuahkan ijma', dan pendapat para alim. 

Ikhtilaf, bukanlah berangkan dari ego, nafsu, kesombongan, kepentingan pribadi atau kelompok, yang melahirkan "tafarruq", tapi "ikhtilaf" berangkat dari sebuah kemurnian "ijtihad". Maka,  di sanalah indahnya, tidak saling melaknat, tidak saling mengkafirkan, tidak saling bersitegang, apalagi saling bunuh. Kadang miris sekali, melihat antraksi Medsos hari ini,  bukannya hanya bully, tapi saling mengkafirkan, melaknat, dan fitnah yang membakar, bukan lagi _iktilaf ummah rahmat_ yang selalu berdasar pada dalil, tetapi _tafarruq_ yang tercela.

Mudah-mudahan cepat selesai, dan duduk tawadhu', dimulai dari para ulama dan didukung para pemimpin negeri. 

Suatu kali
"اَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ  ، كَانَ يَقُولُ : مَا سَرَّنِي لَوْ  أَنَّ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَخْتَلِفُوا ، لأَنَّهُمْ لَوْ لَمْ يَخْتَلِفُوا لَمْ تَكُنْ رُخْصَةٌ
“Tidaklah menggembirakanku jika saja para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berbeda pendapat,” kata Umar bin Abdul Aziz seperti diabadikan dalam Al Inabah Al Kubra dan Faidhul Qadir, “karena jika mereka tidak berbeda pendapat maka tidak akan ada rukhshah atau keringanan.”

"Agar lampu menyala, sambungkan dua kutub kabel yang berbeda" mari kita nyalakan lampu Islam, walau selalu ikhtilaf, jadikan ia sebatas berbeda pendapat, bukan perceraian ukhuwah islamiyah. 

Permisalan di bawah ini, penulis ibaratkan, karena iktilah adalah kecantikan;
"Jika kau ingin membuat almari, maka gergajilah kayunya"
"Kayu tambah indah, jika diamplas"

Seharusnya ikhtilaf melahirkan persatuan, melahirkan kekuatan ruh, melahirkan keindahan, Islam. Tidak melahirkan arognasi kedirian dan ego sekterian.
Salam ukhuwah islamiyah

khadim PP. Darun Nun
www.darunnun.com
Wakil Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Malang
www.halimizuhdy.com

Kamis, 05 Juli 2018

LITERASI DI INDONESIA BUTUH DONGKRAK BESAR

Halimi Zuhdy

Perkembangan literasi di Indonesian tidak terlalu menggembirakan, butuh usaha besar dan sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk selalu mendorong masyarakat Indonesia agar gemar membaca dan menulis. .

Data yang cukup mengenaskan, dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya, menempatkan Indonesia peringkat kedua dari bawah, yaitu ke-60 setelah Bostwana. Prestasi yang tidak perlu terjadi, apalagi negara ini negara besar dan sudah cukup lama berdiri di dunia. Seharusnya, besarnya (banyaknya) juga sejalan dengan budaya literasinya. .

Sebuah negara, maju dan tidaknya, dapat dilihat dari bagaimana kegemaran membacanya, jika budaya bacanya masih rendah, maka masyarakatnya juga demikian.  Menurut penelitian UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,001 %. Artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Apakah benar survei tersebut, kalau benar, bagaimana peran lembaga pendidikan di Indonesia, demikian juga peran pemerintah yang memiliki kekuatan untuk merubah bangsa. .

Sedangkan hasil survei 3 tahunan BPS, telah mencatat,  tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 %, sementara minat menonton mencapai  91,67 %. Bisa dibayangkan, bagaimana minat menonton masyarakat Indonesia mengalahkan daya bacanya. Apalagi akhir-akhir ini, dari mulai Anak PAUD sampai Pos Doktoral sangat suka megang HP, dan yang paling banyak diakses adalah youtube (film), dan orang tuanya asyik masuk dengan literasi ala modern (cating, ngerumpi, hal tidak jelas arahnya). Budaya baca buku (online dan ofline) juga kurang diminati. Dan yang sangat menakutkan, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 3 menit 36 detik untuk menonton film porno di internet. .

Jika, kegemaran membaca saja sudah sangat rendah, bagaimana dengan minat menulisnya. Sedangkan budaya menulis akan tumbuh, jika minat membacanya kuat. Dan dari hasil penelitian terkini, lembaga pendidikan pun (sekolah, kampus dll), banyak yang tidak membudayakan literasi, dengan indikasi; perpustakaannya sepi, jarangnya bedah buku, tidak adanya diskusi, buku-buku tidak terbaca di berbagai rak sekolah/kampus, dan lainnya. .

Dan lucunya, banyak parapejabat pemerihtahan dan para pendidik, yang belum tahu tentang dunia literasi. Bagaimana mereka mendorong untuk memdayakan literasi, sedangkan mereka belum memahaminya. Mudah-mudahan dapat berbenah. .
.
Untuk memupuk dan membudayakan literasi, maka bagi para pendidik terutama, selalu mengkampanyekan; pentingnya membaca dan menulis, mendorong untuk mengunjungi perpustakaan sekolah, menggiatkan gemar ke toko buku, memotivasi membawa buku kemana-mana, membuat gerakan membaca di sekitarnya, membuat taman literasi, dan lainnya. 


Budaya literasi yang rendah, akan menyebabkan pengetahuan rendah, negara terbelakang, hoax bergelimang, dan serta sulit bangkit dari keterpurukan. Penyebab rendahnya minta tersebut, menurut beberapa pakar di Indonesia, karena; orang tua tidak mengenalkan literasi sejak dini, orang tua yang meletakkan buku sebagai sampingan dari belanja lainnya, orang tua lebih mendekatkan pada TV dari buku, sulitnya mengakses buku-buku, figur publik yang tidak suka literasi.

Hal di atas menjadi tugas kita bersama, membudayakan literasi, agar Indonesia menjadi negara maju. Dan di antara usaha itu, Jurusan Bahasa dan sastra Arab (BSA) Fak. Humaniora UIN Malang, mengadakan Seminar Literasi dengan pemateri Dr. Faisol (Dosen BSA) , Imaduddin (mhs BSA), dan Ilham Thoriq (Radar Malang) serta bedah buku "Ulama Nusantara" yang tulis oleh mahasiswa BSA UIN Malang prakarsa Dr. Faisol, serta Fakultas Humaniora bekerja sama dengan beberapa sekolah dan pesantren di Indonesia untuk Indonesia bangkit Literasi. .

Di sisi lain, Pondok Leterasi yang berdiri pada tahun 2013,  Pondok Pesantren Darun Nun Malang (www.darunnun.com) juga sebagai usaha untuk membangkitkan daya dongkrak masyarakat untuk gemar ber-literasi, selain diwajibkan untuk membaca dan menulis, mereka juga mengabdi untuk membangkitkan literasi di masyarakat, yang akhir-akhir ini diadakan beberapa Workhsop kepenulisan, dan juga bekerjasama dengan Ibu PKK untuk "Ibu-ibu gemar menulis". Dan nantinya, akan dibuat menjadi *kampung literasi*.

Selasa, 03 Juli 2018

FENOMENA NISSA SABYAN DAN BAHASA ARAB

Halimi Zuhdy

                Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mudik lebaran Idul Fitri, saya menemukan fenomena luar biasa, suara Nissa Sabyan menggema di berbagai tempat; rumah, warung, perkantoran, pasar, kendaraan umum dan pribadi, walimah, pesta pernikahan, gedung-gedung pemerintah dan swasta. Dan setiap bertemu sejawat, mereka bercerita, bahwa café-café yang biasanya “ngerock” dan dangdutan, berubah menjadi alunan lagu-lagu berbahasa Arab dari Nissa Sabyan.

Fenomena itu pernah saya temukan di era 2000-an, suara Sulistyawati dan Haddad Alwy dengan judul lagunya “Ummi dan Ya Thayyibah”, juga menggema di berbagai sudut kampung dan kota, televisi dan radio, pusat-pusat pembelajaan dan lainnya. Semua orang menghafal lagunya (Berbahasa Arab), dan banyak pula yang memahami kalimat-kalimatnya dengan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dua juta keping terjual, sungguh sangat luar biasa, lagu-lagunya yang berbahasa Arab itu laris manis.

Ada kebanggan ketika itu, Bahasa Arab tidak hanya menjadi bacaan dalam Shalat, tadarus Al-Qur’an, Adzan, Iqomah, Khutbah Jum’at, kajian-kajian kitab dan Ijab Qabul, tetapi menjadi bacaan dan dendang lagu setiap hari di beberapa rumah dan tempat keramaian. Semua orang bershalawat. Saya lihat kala itu, dari anak kecil sampai dewasa, berusaha untuk memahami dari setiap lirik lagu Ummi dan Ya Tayyibah yang berbahasa Arab itu.  

Jumat, 22 Juni 2018

WANITA CERMIN LAKI-LAKI

Halimi Zuhdy

Beberapa bulan yang lalu saya membaca tulisan menarik, "Al Mar'ah Miratur Rojul",  bahwa wanita adalah cermin laki-laki. Namun, saya masih bertanya-tanya, mengapa wanita dianggap cermin laki-laki?. Tulisan ini, sedikit akan menganalisis wanita (mar'ah) dalam asal bahasanya dan kaitannya dengan derevasinya (mar'ah dan mir'ah) . 

Saya mulai membuka beberapa kitab yang mengkaji asal "Mar'ah" (wanita),  di antaranya; karya 'Alla' Husain yang mengkaji tentang " _limadza summiyah mar'ah mar'atan_", dan nantinya saya akan hubungkan dengan "Mir'ah"(cermin), bahwa wanita itu "mir'ah" bagi laki-laki. 

"Mar'ah/wanita" disebut "Mar'ah" karena dicipta dari "mar'i/seseorang" yaitu Hawwa' dicipta dari Adam. Atau Hawwa' diturunkan di bumi yang bertempat di Marwa, sehingga diambil dari derevasinya "Marwah". Kemudian  'Alla Husain melanjutkan, mengapa Hawwa' disebut Hawwa'?, karena ia induk (umm) dari segala kehidupan, dan orang-orang Jahiliyah Arab menamakan patung-patung sesembahan mereka dengan nama wanita, karena wanitalah sumber segalanya. 

Senin, 07 Mei 2018

LA TADRI

(Di Rarim Rahasia, Pulang Rahasia)
Halimi Zuhdy

Hari ini dikejutkan dengan kematian Mahasiswa UIN Malang, M. Iqbal, mahasiswa TI, kecelakaan di depan UIN. Sabtu kemarin, Dosen kami di almamater yang sama, Dr. Mujaid, kelahiran 1974, dosen Syariah juga dipanggil oleh Allah. Dan di grup IKA UIN Malang, juga tersiar Bapak Misyanto, Alumni IAIN Malang (skrg UIN), jurusan Tadris Bahasa Inggris, mantan kepala MAN 2 Probolinggo, dipanggil oleh Allah


Mudah-mudahan beliau, diberikan tempat yang indah di SisiNya.
Kematian datang silih berganti, tak mengenal tempat, tak pula mengenal waktu. Kematian sangat dekat dengan kehidupan, ia tak memilih usia tuk dilesatkan; ada yang masih dalam rahim, ada yang baru satu detik keluar dari rahim, ada pula yang belum lama dirahim, digugurkan. Tidak menunggu tua, tidak pula menunggu sakit, karena kematian bukan karena tua dan sakit. Ia adalah kehedak Sang Khaliq. Ia rahasia yang paling rahasia, agar manusia selalu waspada, bahwa ia akan datang tetiba, walau tak pernah merasa.

SIAPALAH DIRI

(Menguap Diri, yang Sok Suci)
Halimi Zuhdy



"Ha.. Ha.. Ha.." Riuh suara tawa para sahabat, entah apakah ada yang lucu, atau meledek. Nabi Muhammad SAW langsung menegur mereka, "Apa yang membuat kalian tertawa", para sahabat yang berada di tempat itu terdiam, tertegun, dan gugup, mereka belum sampai menjawab pertanyaan Nabi, dan Rasulullah SAW melanjutkan tegurannya, "Apakah karena betisnya yang kecil? Semua pada terdiam,  tak seorang pun berani menjawab. 

Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sesungguhnya kedua (betis)nya lebih berat dari Gunung Uhud dalam timbangan amal.”

Ternyata para sahabat itu menertawakan keadaan betis Abdullah bin Ma'ud yang kecil, ketika itu Rasulullah SAW meminta tolong kepada sahabatnya ini untuk mengambil batang siwak dari pohonnya. Saat memanjat pohon itulah, betisnya yang kecil terlihat. Mereka pun tertawa. 

DR. MUJAIZ KUMKELO PENYULAM SENYUM)

Selamat Jalan Guruku
Halimi Zuhdy

Selalu membakar kami, ketika kami menjadi santri di Mahad Sunan Ampel Al-Aly (Ma'had Al Jamiah) "Semanga Khi!!!"  kami pun selalu bersemangat membuka telinga, mata, dan gerak tegap, ketika beliau mengisi halaqah ilmiah dan Madrasah Intelektual.
Ketika Adzan Subuh tiba, sorban cokelat selalu beliau genggam, setiap pintu kamar ia ketuk, santri pun  bergegas ke kamar mandi, jika masih tersisa, beliau tunggu sampai seluruh santri di mabna menuju masjid, dengan sabar beliau berdiri mematung di depan mabna, sambil melihat gerak gerik santri. 

Setelah shalat subuh pun, beliau sudah siap di depan mabna, menunggu santri untuk shabahul lughah, dan mencari santri yang lagi bermalas malasan. Tak ada hentakan, bahkan amarah dan teriakan tak keluar dari beliau. 

"Ayo khi ta'lim", mengajak dengan senyum yang selalu terurai dari wajahnya. Senyumnya selalu menyapu pagi kami, dengan pengarahan  tanpa henti. 

KALAU BERAT, BERATKAN SEKALIAN!

(Kunci Meringankan Beban Hidup) 

Halimi Zuhdy
(Madzhab Rindu 56)

Nabi pernah mengatur 53 ekspedisi militer, 9 kali memimpin perang besar. Bisa dibayangkan, betapa luar biasanya Nabi SAW; berapa banyak dana yang dikeluarkan, berapa kekuatan yang dipersiapkan, dan itu hanya dilakukan 22 tahun dalam dakwahnya. 

Dalam perang dunia ke-2, mempersiapkan satu peperangan saja, membutuhkan tenaga hebat, dana besar, dan korbannya juga tidak sedikit, 21 juta jiwa, 27 ribu ton bom setiap bulannya. Periode 1940-1945, dana militer AS naik tajam dari $1,9 miliar menjadi $59.8 miliar. Ini sangat luar biasa. Bagaimana dengan 9 kali peperangan Nabi SAW pada masanya, dengan 53 ekspedisi? Betapa berat amanah dakwah beliau. Tetapi, beliau tetap segar bugar, kejiwaan beliau dan para sahabatnya berada pada puncak terbaik.

Sabtu, 05 Mei 2018

MAQHA AL-ADAB (Cafe Sastra)

IG @halimizuhdy3011
. Maqha al-Adab, minum kopi sambil mendengar sastra dibaca, dikaji, dinikmati dan diapresiasi. Acara yang menarik dan menyegarkan hati dan tenggorokan, mengkritik asyik tanpa mencubit. Apresisasi ini akan dilakukan setiap bulan di Jurusan BSA UIN Malang, insyallah.

Mengapa? 

Sekilas kita melihat sastrawan adalah orang-orang yang hanya berkutat dengan teks, mengasingkan diri menemukan imajinasi, melahirkan buku yang indah, berkhayal ria, suka memprotes tanpa aksi, memanjat panggung untuk menghibur, lahir untuk berhayal, mencipta puisi-puisi tanpa henti, menoreh cerpen, novel, roman dan drama- hanya untuk menghibur. Benarkah asumsi tersebut?
Mungkin banyak orang yang enggan menjadi sastrawan, karena menganggap mereka tidak punya pekerjaan yang berguna, banyak pula yang mencemooh sebagai tukang bual, para kritikus sastra pun dianggap sebagai orang munafiq yang hanya bisa mengkritik tanpa bisa beraksi untuk melahirkan karya, sedangkan para sastrawan yang bukan kritikus dianggap pembual yang tidak mampu melahirkan karya berbobot.

SENANG BERSAMA PARA JUARA

Halimi Zuhdy


Kemarin siang, wajah para pemenang @qatardebate dari Indonesia datang berbinar-binar, senyum  meriah, di tangannya memegang erat medali emas dan piala cantik, salamnya memecah diam orang-orang yang telah lama menunggu kedatangannya dengan penuh tanya; tanya siapakah dia, bagaimana penampilannya, dan tanya demi tanya lainnya.

Mereka diundang IMLA (itttihadul Mudarrisil Lughah Arabiyah), Asosiasi Bahasa Arab terbesar di Indonesia, untuk memberi apresiasi pada para Pejuang, kedatangan mereka disambut hangar semangat para pengurus IMLA, seperti menyambut para jawara dari medan perang, yang memenangkan lertempuran, wajah-wajah pengurus IMLA juga berbinar-binar. "Inilah generasi emas kita" ujar Prof Asrori, ketua IMLA Indonesia. "Kita sangat apresiasi atas keberhasilan adik-adik Tazkiyah IIBS yang sudah membawa nama harum bahasa Arab Indonesia di kancah dunia" lanjut beliau.

ISU-ISU SASTRA ARAB DI ERA MILINIA


@halimizuhdy3011

Bahasa dan sastra Arab (BSA) Fak. Humaniora UIN Malang di tahun  2018 mengawali agenda besarnya dengan mengadakan seminar Internasional yang bertema "al-Ittijahat al-hadisah fi adab araby wa tawaquatuhu fi dhill aulamah", mengangkat isu-isu terkini sastra Arab dan harapan besarnya di era milinia. .

Sastra Arab yang muncul beberapa abad lalu, melampaui sastra lainnya di dunia, masih bertahan dengan gagah, namun tidak sedikit masalah yang dihadapinya, apalagi  pada masa Mamalik dan Sha'aliq mengalami kemerosotan besar, ujar Prof. Dr. Ahmad Darwisy Ibrahim Muhammad. 
.
Setelah beberapa abad berikutnya, ketika Mesir dan Dunia Arab bersentuhan dengan Prancis, pada awal abad 19 ada perkembangan sastra Arab yang luar biasa, dan masa itu disebut-sebut sebgaai "asr Nahdhah" masa kebangkitan sasra Arab, dan dimulainya masa Sastra Arab Modern.
.