السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Selasa, 07 Juli 2020

Prasangka, Belajar Kritis dari Putri Imam Ahmad

Halimi Zuhdy

Kadang kita merasa mulia setelah berbuat banyak kebaikan. Terkadang menganggap orang lain belum berbuat banyak kebaikan, apalagi yang mereka lakukan tidak sesuai dengan prasangka kebaikan kita. Seakan-akan mereka hanya melakukan kesia-siakan. 
Ada kisah yang sangat menarik. Seorang alim dan anak kecil dengan pandangannya, di luar pengetahuannya.

Suatu hari Imam Syafi'i berkunjung ke kediaman Imam Ahmad bin Hambal, seorang imam yang sama-sama alim dan dikagumi. Imam Ahmad mempunyai putri salehah; Ia rajin shalat malam, berpuasa dan senang mendengarkan kisah tentang orang-orang saleh dan cendekiawan. Sebuah kesempatan yang luar biasa bagi sang putri itu.

Putri itu, ingin sekali melihat Imam Syafi'i yang sering diceritakan ayahnya, karena ayahnya sangat memuliakan sang Imam dan selalu bercerita tentang keilmuan dan ibadahnya.

Ketika Imam Syafi'i berkunjung ke rumahnya, putri Imam Hambal sangat gembira sekali, ia ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan Imam Syafi'i di rumahnya dan ingin menyimak kisah dan fatwanya.

Setelah makan malam berlalu, Imam Ahmad beranjak untuk shalat malam dan berdzikir, sedangkan Imam Syafi'i menuju tempat tidur, dan putri Imam Ahmad mengawasi setiap gerak geriknya sampai fajar tiba.

Ketika pagi menyeringai. Putri salehah itu bertanya pada Abahnya (Imam Ahmad), "Wahai Ayahku, benarkah beliau Imam as-Syayafi' yang engkau selalu ceritakan padaku?". Tanya dengan nada heran dengan penuh prasangka. "Ia, anakku, beliau yang mulia Imam as-Syafi'i" Jawab Imam Ahmad.

Sang Putri belum puas melihat apa yang terjadi, "Aku selalu mendengar, betapa Engkau mengagungkan beliau, tetapi nyatanya aku tidak melihatnya ia shalat malam, ia juga tidak membaca wirid dan berdzikir? "Sang putri masih tanda tanya besar.

Ia melanjutkan, "Dan, aku perhatikan Imam Syafi'i melakukan tiga hal yang aneh!?".
Ayahnya menimpali, "Apa itu wahai anakku? ".

Sang Putri menjawab dengan serius "Jika kita suguhkan makanan, beliau memakannya dengan sangat lahap, berbeda dengan yang Ayah ceritakan. Apabila beliau masuk kamar, beliau tidak shalat malam. Dan ketika beliau shalat Shubuh bersama kita, beliau tidak berwudhu, anehkan abah?". Ia penuh tanya, dan ingin sekali bertanya langsung pada sang Imam.

Matahari mulai meninggi, Imam Ahmad dan Imam Syafi'i duduk-duduk sambil bercerita dan bertukar ilmu. Imam Ahmad membuka pembicaraan tentang Imam Syafi'i yang diamati putrinya.

Imam Syafi'i sepertinya tahu apa yang dikeluhkan putri Imam Ahmad, beliau pun menjawabnya;
"Wahai Aba Muhammad (demikian Imam Ahmad dipanggil oleh Imam Syafi'i). Aku makan makananmu banyak sekali, karena aku tahu, makananmu terbuat dan berasal dari barang halal. Engkau orang dermawan dan makanan dari seseorang yang dermawan adalah obat, sedangkan makanan dari orang bakhil adalah penyakit, dan aku makan banyak, agar ia menjadi obat bagiku" Jawab Imam Syafi'i.

"Mengapa aku tidak shalat malam?, ketika aku mulai meletakkan kepala untuk tidur, aku melihat Al-Quran dan Hadis di depanku, kemudian Allah membukakan 72 masalah fiqih padaku dan aku susun agar nantinya bisa bermanfaat untuk kaum muslimin, maka disanalah aku di antara menulis dan bangun malam" jawabnya.

Dan yang ketiga, "Mengapa ketika aku shalat Shubuh bersama kalian, aku tidak berwudhu', Demi Allah, mataku tidak bisa terpejam, sehingga aku dapat memperbaharui wudhu', aku semalaman terjaga, maka aku shalat shubuh bersama kalian dengan wudhu' shalat Isyak". Setelah itu, beliau berpamitan kepada Imam Ahmad dan melanjutkan perjalanannya.

Beberapa detik berikutnya Imam Ahmad memanggil putri kesayangannya, "Anakku, begitulah yang dilakukan beliau (Imam Syafi'i) pada malam hari, beliau tidur (berbaring) lebih utama dari apa yang aku kerjakan, sedangkan aku dalam keadaan bangun"( tidurnya lebih baik dari bangunku).

Begitulah kisah inspiratif Imam Syafi'i yang malamnya adalah karya, menulis ilmu untuk umat, sungguh memetiknya adalah keindahan.

Sungguh putri Imam Ahmad semakin kagum kepada sang imam, betapa prasangkanya selama beliau dirumahnya adalah kesalahan. Prasangka yang kurang baik. Ternyata beliau melebihi apa yang ia sangka. 

Pelajaran luar biasa ini terkadang terjadi pada siapapun. Prasangka jelek, terkadang selalu menggiring seseorang untuk menganggap orang lain jelek dan tidak ada kebaikannya. Walau ia sudah dan sering berbuat kebaikan, tetapi kebaikannya terhapus oleh prasangkanya dirinya. Bukankah lebih baik berbaik sangka walau salah, dari pada berburuk sangka tapi benar?. 
Allah 'alam bishawab.

Rabu, 24 Juni 2020

Muslim Itu, Bahagia Sepanjang Hayat

Halimi Zuhdy

Muslim itu tidaklah tegang, hidupnya indah penuh senyum, penuh tawa, penuh bahagia, karena syariat memang mendorong muslim itu untuk hidup penuh kebahagiaan. Beribadah untuk bahagia, bersyukur agar senang, bersabar agar tetap bahagia, serta mengingatNya untuk hidup indah dan girang, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (Q.S Ar-Ra’du:28).

Untuk apa hidup sedih, sumpek, masygul, getir, merana, pedih, getir, bukankah Islam mengajarkan untuk selalu bahagia, di dunia pula diakhirat. Fiddunya hasanah wa filakhirati hasanah. Bertemu ada ungkapan salam sejahtera, berpisah "maas salamah", apakah ada ungkapan sedih?. Nabi mengajarkan untuk selalu berbahagia dan tersenyum, "Tabassumuka fi wajhi akhika shadaqah", Senyummu pada saudara adalah sedekah. 

Sampai-sampai syariat melarang keras untuk berbuat dosa, maksiat, kemunafikan, dusta, dan lainnya yang tidak baik, mengapa? Karena akan menganyarkan pada kesedihan, sejumudan dan ketidakbahagiaan, belum lagi janji neraka bagi pelaku dosa. Bukankah syariat menginginkan kaum muslimin selalu hidup bahagia. 

Mari kita lihat sekilas sosok Nabi Sang Teladan Umat, wajahnya selalu berseri-seri yang memandangnya selalu merasa bahagia, selalu lapang, dan setiap orang selalu merasa dekat, merasa akrab, dan merasa paling dicintai olehnya. 

Sahabat-sahabat Nabi berkata, bahwa tidak ada yang lebih banyak tersenyumnya dari pada Nabi, seakan-akan hidup Nabi dipenuhi dengan kebahagiaan, bila dihina, dicaci, berbagai cobaan menerpa selalu tersenyum dan sabar, seakan-akan risalah cinta  dan bahagia untuk kaumnya.

 وكأن الابتسامة رسالة حب وسلام بين الناس، وتلين الغضب وتذهب الشيطان، حتى أنه عليه الصلاة والسلام روي عنه أنه كان وقت البلاء كان يبتسم لأصحابه ويحثهم على الصبر والدعاء، والرضا بقضاء الله عز وجل.

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (Al-Qashah, 77)

Selasa, 23 Juni 2020

Mata dan Penyair yang Majenun

#SeriPenyairArab1

Halimi Zuhdy

Sudah puluhan tahun puisi Idris Jamma' ini terus menghiasi buku-buku ghazal (cinta). Apalagi di era digital, beberapa bait puisinya yang disertai narasi kisah kegilaanya terus berlayar. Puisi-puisinya dinobatkan sebagai salah satu puisi terindah di era modern.

Alkisah, seorang pujangga Sudan yang diterpa badai cinta tak mampu menahan hempasan, gelombang, dan pendar rindu. Ia seperti kehilangan akalnya, meracau, entah apa yang lontarkan. Ia menulis sejarah cinta yang tak pernah usai dalam hidupnya. Ia gagal dalam arung cinta, hanya bisa terpesona, tapi tak mampu menangkapnya. Terheran-heran, tak mampu menatapnya. Dahaga, yang didapatkan fatamorgana. Ia pintar, tapi tatapan wajahnya kelabu. 

Suatu hari, Ia berjalan tak tentu arah. Seperti kehilangan kendali dirinya. Akhirnya ia harus mendekam di rumah sakit jiwa. Orang menyebutnya 
Idris Jamma', seorang penyair Sudan yang terlahir pada tahun 1922 M dan meninggal di Khurtum 1980 M. 

Karena sakitnya yang tak kunjung usai. Mentalnya yang terus kelabu. Kerabatnya memutuskan untuk membawanya ke Inggris untuk mencari tempat yang dapat membuatnya tenang, berdamai dengan penyakitnya. Ketika sampai di bandara, mata Idris Jamma' seperti menatap cahaya. Ternyata ia lagi memandangi seorang wanita, matanya tak mampu ia katupkan. Ia pandang begitu dalam. Suami wanita itu sepertinya risih, dan berusaha menutup pandangan Idris pada istrinya. 

Tetiba, Idris meracau indah, seperti mutiara yang keluar dari kerangnya. Keluar kalimat-kalimat seorang pujangga yang belum selesai dari kisah cintanya:

ﺃَعَلىَ ﺍﻟﺠَﻤَﺎﻝِ ﺗُﻐﺎﺭُ ﻣِﻨَّﺎ....مَاﺫَﺍ ﻋَﻠﻴْﻨﺎ ﺇﺫ ﻧَﻈَﺮْﻧﺎ

Apakah dicemburu, karena kecantikan itu
Apa salahnya bila aku sekedar memandangnya

ﻫِﻲ ﻧَﻈْﺮَﺓٌ ﺗُﻨﺴِﻲ ﺍﻟﻮَﻗَﺎﺭَ...وﺗُﺴﻌِﺪ ﺍﻟﺮّﻭﺡَ المُعنَّى

Pandangan yang membuat linglung ketenangan
Membuat girang jiwa yang merana

ﺩُﻧْﻴَﺎﻱَ ﺃنْتِ ﻭﻓَﺮْﺣَﺘﻲ...ومُنَي ﺍﻟﻔُﺆَﺍﺩِ ﺇﺫَﺍ تَمَنَّي

Duhai surgaku, engkau sukacitaku
Obat penawar kalbu bagi yang merindu-rindukan

ﺃَنْتِ ﺍﻟﺴَّﻤﺎﺀُ ﺑَﺪَﺕ ﻟﻨﺎ...واﺳﺘﻌﺼﻤﺖ ﺑﺎﻟﺒُﻌﺪِ ﻋﻨَّﺎ

Engkau cakrawala yang menderang kami
tapi mengapa engkau jauhkan tuk meraihnya

وَنَظَرْتُ في عيْنَيك آفاقًا وأسْرارًا ومعْنَى
Kusaksikan di kedua bola matamu, cakrawala, rahasia dan makna

Untaian kata pujangga Sudan ini sontak membuat banyak mata terbelalak. Riuh kabar kalimat cinta menyebar ke segala pelosok Arab. Dan sampai ke telinga pujangga Mesir, Abbas Mahmud al-'Aqqad. Pujangga ini pun bertanya-tanya kepada pembawa berita,  "Siapakah yang menggubah syair seperti ini?"
Mereka menjawab,
أنه ﺳﻮﺩﺍﻧﻲ  ﻭﻳﺪعى ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺟﻤَّﺎﻉ  وهو الآن ﻓﻲ مستشفي ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ.
Kalimat ini dirajut oleh pujangga Sudan, sedangkan ia sekarang lagi dirawat di rumah sakit jiwa, 

  قاﻝ: ﻫﻲ ﻣﻜﺎﻧﻪ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻻ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﻋﺎﻗﻞ ... !!!
Mendengar jawaban ini, Abbas Al-Aqqad berkomentar.."Hal ini memang wajar, kalimat indah ini tidak mungkin keluar dari orang waras...!!"

Tidak hanya untaian bait-bait puisi cinta yang mengalir pada wanita yang di temuianya Bandara. Tapi banyak wanita yang telah menjadi pigura dalam sejarah kata-katanya. Pada suster yang merawatnya di rumah sakit London pun membawa kegundahan dan ronta jiwanya. Pandangannya menatap tajam suster itu, hingga suster cantik itu risih dan terusik. 

Resah. Suster ini pun mengadu pada direktur rumah sakit. Saran direktur pada suster ini, agar menggunakan kaca mata hitam ketika memeriksa, melayani dan merawatnya. 

Saran direktur pun dilakukan suster yang berparas cantik itu. Keesokan harinya, matanya tertutup kaca mata hidup. Ia melangkah ke ruang Idris Jamma' dengan percaya diri, dan harapan tatapan pujangga Sudan ini tak menguliti matanya. Tapi yang terjadi, pujangga ini tak berhenti menatap dan keluar bait-bait puisi dari letupan bibirnya.

ﻭﺍﻟﺴَّﻴﻒُ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﻤْﺪِ لا ﺗﺨﺷﻰ ﻣﻀَﺎﺭبه .. ﻭسَيْف ﻋﻴْﻨَﻴْﻚَ ﻓﻲ ﺍلحالتين ﺑﺘَّﺎﺭُ
Pedang yang tersarung, tak ada yang gentar hunusnya
Tapi tajamnya pedang matamu, ditutup atau tidak ia tetap melukai

Suster ini hanya bisa diam. Ia tidak memahami apa yang diungkap sang pujangga. Ia bergegas keluar ruangan. Dan bertanya-tanya, apa arti bait puisi yang diungkap Idris Jamma. Setelah ia tahu makna puisi itu. Ia tak mampu menahan awan mendung air matanya, menetes, kagum dengan rangkaian bait yang ditujukan padanya.

#PuisiArab #SastraArab #SeriKajianSastraArab

Selasa, 16 Juni 2020

Rahmat Allah Selalu Memeluk Mesra

Halimi Zuhdy

Miliar debur ombak menghantam perahu.  Nelayan asyik memilah gelombang, melempar sauh, ikan pun terenyuh. Sungguh, kalau tidak karena rahmatNya, gelombang pun kan menghempaskannya.

Allah itu satu, rahmatNya lipatan rindu.


********

Ada sebuah cerita di masa lalu, seorang raja memvonis mati seorang tukang kayu (najjar). 

Kabar vonis mati itu terdengar nyata oleh si tukang kayu. Menghentak di telinganya.  Malamnya, ia tak mampu mengatupkan kedua matanya. Serasa ranjangnya dipenuhi jejarum yang menusuk, dan juga serupa letupan api yang membakarnya. Ia seperti pasrah, tapi resah. Ia ingin lari, tapi kemana?. Seluruh pintu sudah tertutup rapat, tak ada celah untuk mengangkat kakinya.

Istrinya berkata;
"Sayang..! Tukang kayu yang saya cintai. Tidurlah seperti malam-malam yang telah kau lewati dengan indah. Allah itu satu, pintu rahmatNya, tak berpintu".

Kata-kata itu mengalun lembut. Merasuk mesra ke hatinya. Kedua matanya pun mulai terkatup. Wajahnya berbinar-binar. Rupanya, ia audah tertidur pulas. Hatinya benar-benar tenang.

Tidak lama kemudian. Pintu kamarnya berbunyi keras. Terdengar ketukan laki-laki seperti tentara menyeruak hentak, memekak telinga. Wajah si Tukang Kayu memutih beku, rasa takut  menyelimutinya. Ia menoleh pada kekasih yang dirindunya. Istrinya yang lagi terlelap di sampingnya. Tapi pandangannya sayu, lemah, tak berdaya, seperti dosa-dosa yang mau meng-adzab, dan mencoba mengingat kembali perkataan istrinya tadi. "Allah itu Satu, pintu rahmatNya tak berpintu, selalu terbuka pada sesiapa yang mengetuk pintu, atau pun tidak".

Ketukan pintu di depan kamarnya semakin mengeras. Ia langkahkah kedua kakinya walau serasa merekat di lantai. Ia buka pintu dengan kedua tangan yang begetar hebat, tetiba di depannya kedua tentara tegap berparang. Ia pun menjulurkan kedua tangannya yang penuh peluh dingin agar secepatnya diikat oleh tentara Raja.

Anehnya. Mulut tentara itu, seperti menahan nafas panjang. Dan keluar kata-kata yang membuat Tukang Kayu terperangah: "Sungguh, Raja telah wafat, aku ingin kau buatkan keranda untuknya".

Wajah Si Tukang Kayu memecah cahaya. Menoleh pada istrinya dengan seribu senyum di Bank mulutnya. Sepertinya si tukang kayu ingin meminta maaf pada istrinya karena memudarkan pesannya.

Tiba-tiba istrinya berucap dengan senyum mengembang,
"Wahai Tukang Kayu,  tidurlah malam ini! seperti malam-malam nyenyak yang kau lewati,  Allah itu Satu, pintu rahmaNya terbuka selalu".

Vonis mati menjadi sirna. Si Tukang Kayu pun berlenggang dengan gembira,
"Sungguh Allah Satu, banyak punya pintu." katanya dengan senyumnya.

MasyaAllah. Keyakinan akan rahmatNya mencapaikan cita indah. Kadang gagal masuk pada satu pintu, tetapi Allah memberikan pintu-pintu yang lain untuk bisa masuk. Kadang pintu itu lebih indah dengan kamar-kamar firdausnya. 

Mengapa harus sedih ketika gagal dalam satu cita dan satu keinginan, bukankah Allah memiliki banyak pintu ( abwab mutafariqah wa katsirah). Maka, keyakinan akan rahmatNya yang tersebar dalam setiap ruang dan waktu, akan memberikan kebahagian dalam setiap detiknya.
Allah satu, tapi pintuNya berjibun rindu.

Senin, 08 Juni 2020

M A S J I D. Menghampar Sujud, Mencari Hakekat Wujud

Halimi Zuhdy 

"Dan bumi bagimu adalah masjid, maka dimana saja kamu mendapatkan (waktu) shalat, maka shalat-lah" (hadits Nabi, An-Nasai).

Bumi yang menghampar. Langit yang menjulang. Udara yang berhembus. Api yang berkobar. Air yang gemercik. Semuanya bersujud. Wujud pada Sang Maha Wujud.

Jika bumi adalah masjid, adakah tempat berlari tak bersujud. Bumi adalah sajadah yang menghampar. Tempat kaki menginjakkan segala hawa nafsu. Melangitkan pikir kepada Sang Maha Tinggi. 

Bumi dan langit bentuk ketundukan dan pengagungan. Masjid laksana tempat menghimpun rindu pada-Nya. Walau, rindu sesungguhnya tidaklah bertempat. Masjid tempat penyatuan dari seluruh tanah di muka bumi. Hamparannya bersambung. Ia ada untuk menjadi paku langit.

Sujud adalah kewujudan diri. Dari ketiadaan jasad yang sesungguhnya. Masjid tempat menempatkan dan menguasakan ruh. Membungkuskan diri jasadi untuk mengenalkan pada Penguasa Alam Semesta. Maka bentuknya adalah sujud, merendahkan diri pada-Nya. Adzan mengingatkan bahwa waktu mensujudkan diri telah tiba. Yang terkadang manusia lupa, bahwa ia akan menghadap pada-Nya.

Bumi adalah masjid, sujud aktifitasnya. Alam adalah sajadah panjangnya. Maka pusatnya adalah Masjid Haram, Baitullah,  Makkah. 

Baitullah bukanlah rumah fisik Allah, karena Allah adalah dzat. Dia tidak butuh tempat, tapi manusialah yang butuh untuk menempatkan dirinya. Ketika manusia bertempat di masjid, ia sebenarnya menempatkan diri pada keadaan sesugguhnya sebagai hamba Allah. Walau tidak berada di dalamnya, bagaimana hati muallaq: berhubung, bergantung padanya. Kiblat (tempat menghadap) ke ka'bah untuk menyatukan dan memusatkan jiwanya. Bagi manusia yang  mampu menghadirinya, mereka berkeliling (berthawaf). Bagi yang tidak mampu, mereka mendirikan shalat Jum'at. 

Memakmurkan masjid, adalah menghadirinnya. Mensujudkan, merukukkan, meng'itikafkan, mengaji dan mengkaji (ta'lim). Memakmurkan tidak hanya memahat temboknya,  menjulangkan menaranya, mempercantik atap dan lantainya. “Hanyalah yang memakmurkan Masjid-masjid Allah ialah mereka yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian. Tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada-Nya. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18). 

Masjid adalah Ism makan (nama tempat) dari sajada yasjudu sujudan (bersujud), tempat bersujud. Sujud secara bahasa adalah merendah,  tunduk, ta'at. Ia menghilangkan arogansi dirinya, tubuhnya ia lekatkan pada tempat paling rendah, tanah. Tiada harganya di hadapab Sang Maha Tinggi. Subhana rabbiya al-'ala wa bihamdi. 

Seorang hamba, jika ia berada di dekat Tuhannya, maka sifat-sifat ketuhanan ia akan mampu diraihnya. Jika mampu meraihnya, maka akan meraih kesejahteraan (salamun), dan kebahagiaan (hasanah). Diantara penghambaannya, dengan memakmurkan masjid-Nya. Memakmurkan masjidnya, pada hakekatnya memakmurkan dirinya, sebagai seorang hamba.

Selasa, 02 Juni 2020

Masa Bodoh

Halimi Zuhdy 

Abai, masa bodoh, acuh tak acuh dan cuek,  terkadang sikap yang paling indah. 

Dalam hidup, sikap masa bodoh terkadang paling asyik. Masa bodoh pada peristiwa yang terjadi, juga pada sikap dan perkataan seseorang pada kita. Karena tidak semuanya harus disikapi, ditanggapi, dilayani, apalagi dipikirkan. Ada saatnya membiasakan dan bersikap cerdas dalam memilih sesuatu agar tidak ikut terseret pada sesuatu yang tidak penting untuk dipikirkan. Dengan bersikap masa bodoh yang cerdas.

Allah menciptakan manusia dari air dan tanah liat. Sebagian mereka airnya lebih kuat 
dari tanahnya, maka menjadi sungai. Dan ada pula tanahnya lebih kuat dari airnya, maka menjadi batu. Ada yang lebut, ada keras kepala.

Maka, dalam kehidupan. Kita harus membuat lubang atau jurang kecil yang kita gunakan untuk membuang kesalahan-kesalahan teman, saudara, kerabat dan keluarga. Serta berusaha melupakan tempat mengubur kesalahan itu, sehingga tidak tumbuh lagi kekesalahan dan pertengkaran. Masa bodoh.

Melupakan kesalahan teman pada kita itu sangat indah, walau kadang menyakitkan. Masa bodoh adalah jalan yang paling cantik. Pergi tanpa pamit tidak indah, tapi pergi dan menghilang karena takut sakit, jauh lebih indah. Ada saatnya diam, ada saatnya heboh. Diam disaat ia marah membuat bunga-bunga mekar dalam hati, dirindukan. 

Terkadang kita harus cuek pada omongan orang. Rasan-rasan orang pada kita, tidak harus kita teliti satu-persatu. Tidak harus diingat kata-perkata. Dan tidak usah bingung, karena takut nama kita hancur. Tidak usah mengklarifikasi semuanya tentang kita, biarkan mereka berbicara sesukanya, kalau kita tidak melakukannya apakah kita akan hancur?. 

مادمت تمشي مستقيماً لا تبالي بالعقول المائله
Selama engkau berada di jalan yang lurus, jangan pedulikan pikiran-pikiran yang miring

Percayalah bahwa mutiara yang ditemukan, karena kita tidak terlalu bersih mengasak pasir. Untuk mengambil emas di kolam yang keruh, cukup tenangkan anginnya, tidak harus dikuras habis. Dan percayalah pada Allah, bahwa Dialah Dzat yang merubah segalanya. Hari ini pasang, berikutnya surut. Detik ini sedih, detik berikutnya gembira. Kadang ia menjadi musuh, beberapa detik menjadi teman akrab. 

Maka, tidak harus semua dipikirkan, karena setiap pikiran memiliki tempatnya, cukuplah memikirkan bagaimana  kita selalu menjadi baik di hadapNya. Maka, yang lain, akan mengikuti kebaikan itu. Adakah yang kita percayai selainNya?, Bukankah dzikir disebutkan sebelum pikir?. MerinduNya, adalah penyelesaian yang indah, dari pada memikirkan sesuatu yang tidak patut dipikirkan. Masa bodoh kadang hal yang paling asyik dan indah.

قد يراك البعض نقيا 
Terkadang, ada orang yang memandangmu baik
وقد يراك آخرون سيئاً
Ada orang yang melihatmu jelek

وقد يراك آخرون خلوقا 
Ada pula  yang menganggap engkau berbudi luhur
ولكن أنت أدرى بنفسك 
Tetapi, engkaulah yang lebih tahu akan dirimu

فالسّر الوحيد الذي لا يعلمه غيرك 
هو علاقتك مع ربّك 
فلا يغرّك المادحون 
ولا يضرك القادحون 

Yang menjadi rahasia hanya satu, sedangkan orang lain tidak mengetahui, yaitu hubunganmu dengan Tuhanmu. 
Maka, kamu tidak akan terpana dengan pujian orang dan tidak merana dengan caciannya

لقوله تعالى :
"بَلِ الاِنْسَانُ عَلى نَفْسِهِ بَصِيرَة"
Firman Allah, "Bahkan manusia menjadi saksi  akan dirinya sendiri".

Kamis, 28 Mei 2020

Silaturahmi & Robohnya Istana Ibrahim

Halimi Zuhdy

Kabar duka menghentak Sai'd Ibn al-Masyyab, Ibrahim bin Muhammad bin Talha dikabarkan meninggal dunia. Sa'id penuh tanya, bagaimana ia meninggal dan bagaimana kondisinya. 

Sa'id: "Bagaimana Ibrahim meninggal?" ia penuh tanya

Mukhbir: "Bangunan-bangunan istananya roboh. Saat itu ia berada di dalamnya,"!! Ia meyakinkan, Ibrahim meninggal tertimpa bangunan. 

Sa'id: "Ini tidak mungkin terjadi, Allah tidak mungkin mencabut nyawanya dalam kondisi itu (ditimpa reruntuhan). Allah enggan berbuat itu"!! Ungkap Sa'id penasaran. 

Kemudian orang-orang menyisir Istana Ibrahim yang runtuh dan menggalinya  sedikit demi sedikit. Masyallah. Orang yang menyisir di reruntuhan berhasil menemukan Ibrahim. Ia ditemukan dalam keadaan hidup. Tidak ada goresan dan luka sedikit pun di tubuhnya. Ajaib.

Mereka bertanya-tanya pada Sa'id, "Bagaimana Anda tahu wahai Sa'id, Ia tidak meninggal di bawah reruntuhan itu?"

Sa'id: "Karena beliau selalu bersilaturahim, dan  orang yang selalu bersilaturahim (baca:silaturahmi) akan menyelamatkannya dari mati mengerikan, mati buruk. Maka rekatkan dan jalinlah silaturahim itu!! ".

Perbedaan pendapat terkadang membuat rahim yang dulu terajut mesra dari satu rahim (ibu) terputus. Egoisme kekuasaan, kakayaan, lebih dipilih dari menyulam rahim yang terurai berai. Kepentingan diri; pangkat, kemasyhuran, harta, dan keakuan, seringnya meretakkan tembok persaudaraan dan persahabatan. Rahim yang bermakna kasih, sudah tidak lagi diindahkan, lebih suka dhalim diri untuk kebahagiaan. 

Maka, yang terputus hendaknya dirajut, yang terujut dieratkan, yang erat dirawat dan dimohonkan padaNya tuk kekal sampai akhirat. Memutusnya, adalah dosa besar.  "Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan (persaudaraan)". (HR. al-Bukhâri dan Muslim)

Sulit memang merekatkan kaca retak, ia kan tetap retak walau disulam dengan seribu emas, tapi betapa indahnya, jika tetap disulam dengan penuh rindu. Seperti orang yang pernah marah pada seseorang, yang dimarahi  pastilah sakit, perih, terpukul dan hatinya kan retak, tapi jalinan silaturahim kan merajutnya walau butuh waktu lama. Disinilah indahnya ikatan itu, seperti baju yang terkoyak, disulamnya dengan mutiara. 

Di bulan penuh berkah ini,  mari merajut kasih dengan kerabat dekat, karabat jauh, dan para sahabat yang pernah diluka dna terluka oleh kita. 

Sesungguhnya (kata) rahmi diambil dari (nama Allâh) ar-Rahman. Allâh berkata, “Barangsiapa menyambungmu (rahmi/kerabat), Aku akan menyambungnya; dan barangsiapa memutuskanmu, Aku akan memutuskannya”. (HR. al-Bukhâri dari Abu Hurairah).

***

Di era Covid-19 ini,  maafkan bila tak dapat menyentuh tangan panjenengan. Bila tak dapat mengetuk pintu rumah panjenengan. Atau lupa memberi kabar dan memohon maaf lewat media sosial. Atau mungkin sengaja, masih ada ego yang mengerat, mengkarat, maka maafkan al-Faqir. 

Tabik

Selasa, 26 Mei 2020

Mendidik Anak: Hindari 3M, Lakukan 3K.

(Untuk Orang Tua dalam Mendidik Anak)

Halimi Zuhdy

Hindari 3M;

1. MENGKRITIK
Selalu mengkritik anak akan menimbulkan ketakutan, ketidakpercayaan diri. Orang tua yang selalu mengkritik anaknya dalam berbagai aktifitas akan tumbuh dalam diri anak tersebut sifat "Penakut". Bila sifat tersebut tertanam dalam diri anak, ia akan takut melangkahkan kakinya, takut bermimpi, takut berkreasi, bahkan takut untuk melakukan sesuatu yang biasa apalagi yang luar biasa. Orang tua yang selalu mengkritik anaknya, ia sebenarnya menghancurkan diri si anak dari dalam.

2. MEMBANDINGKAN
Orang tua hendaknya tidak selalu membandingkan anaknya dengan saudaranya, temannya, tetangganya dan orang lain. Karena setiap anak dilahirkan berbeda dengan kemampuan berbeda pula. 

Membandingkan dengan orang lain hanya akan menjadikan anak marah, jengkel, bahkan ia takut menjadi dirinya sendiri. Si Anak akan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, selalu mengukurnya.k Kalau ia tidak sama, ia bingung, takut salah, dan ia akan menjadi anak yang lemah. Maka tanyakanlah padanya? "Apa yang biasa kamu lakukan, apa yang akan kamu lakukan?"

3.MENGELUH
Orang tua hendaknya tidak selalu mengeluhkan keberadaan dirinya terhadap anaknya, misalkan "Saya sudah siapkan semua fasilitas; sekolah bagus, makanan, motor, mobil, tapi kenapa kau masih seperti ini. Ayah sudah capek dengan kamu, kamu kok belum rajin, tidak pernah dapat rangking dll". 
Jika keluhan orang tua  selalu dilontarkan  pada anak, ia akan merasa serba salah dan selalu merasa berdosa. Anak akan ciut dalam bergaul, menjadi tidak semangat, meskipun tujuan kita untuk menyemangati, tapi kita keliru. Mengeluh hanyalah sifat para pemalas.

Maka, gantilah dengan 3K. 
1.KESUKSESAN
Fokuslah  pada keberhasilan anak, jika ia berhasil dalam hal apa pun, maka doronglah dan kuatkanlah dengan pujian dan  kegembiraan. Seperti anak yang mulai memakai baju sendiri, "Wah anakku tambah pintar". 

Anak mulai shalat, "Masyallah, kamu hebat banget, nanti tambah disayang Allah dan orang tua". 

Anak rajin mengerjakan tugas sendiri, "Ciri ciri orang sukses sepeti kamu ini". 

Atau anak perempuan yang sudah belajar memakai hijab, "Anak Salehah, dan anak hebat selalu memakai hijab lo, dan calon penghuni sorga". 

Dan berbagai contoh lainnya. Doronglah anak agar selalu fokus pada kesuksesannya dan yakinkan bahwa ia bisa, jika ia melakukan kebaikan kebaikan pujilah dan kuatkan dengan kata kata yang mampu mempertahankan kebaikan tersebut.

2.KEBAIKAN AKHLAK
Kunci keberhasilan seseorang seringkali diukur dengan banyaknya prestasi akademik, jabatan, kekayaan, tapi kadang orangtua jarang peduli bagaimana akhlak anak benar benar manjadi sebuah kewajiban untuk selalu diperhatikan, bahkan kesuksesan orang tua, jika anaknya  mampu meniru kebaikan kebaikan/akhlak yang baik dari orang lain. Maka orang tua selalu memantau perilaku anaknya, baik cara makannya, minumnya, berpakaian, dan juga bergaul dengan orang lain, dan yang paling utama orang tua benar benar menjadi tauladan dalam berakhlak yang baik. 

"Sebaik baik kalian, adalah berbuat baik kepada keluargamu (Hadits)" artinya, jadilan teladan bagi anak anak, jangan biarkan anak mencontoh prilaku orang lain yang tidak baik,sehingga berakibat rusaknya moral dan kemudian sulit untuk diperbaiki.

3.KELEMBUTAN
Berlaku lembutlah dengan anak anak, karena dengan sikap lembut, perkataan lembut, akan menumbuhkan kasih sayang di antara keluarga, dan dengan sikap inilah akan dapat memperhalus budi mereka.

“Maka dengan rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada-Nya (QS. Al­i Imran: 159)

Halimi Zuhdy 
PP.Darun Nun Malang

Diadaptasi dari maqulah Syekh Khulfan dalam Annaml wan Nahl.

Senin, 25 Mei 2020

Kemenangan Hakiki

Halimi Zuhdy

Pertarungan, kompetisi, persaingan dari tingkat kepala desa sampai presiden telah terjadi di negeri ini, para pemenang bersorak, selesai. Kontestasi di perusahaan, lembaga pendidikan, pemerintahan, kelompok masyarakat, organisasi dan lainnya, para pemenangnya pun sudah terpampang. Selesai. 

Peperangan demi peperangan dari zaman buhalak sampai kini, pemenangnya juga termaktub dalam kitab sejarah. Menjadi renungan. Selesai. 

Hari Raya, hari kemenangan muslim yang berpuasa. Mereka melewati liku dan laku tirakat yang mubah sampai yang haram, menahan agar tidak merasuk pada dirinya, hanya demi perintahNya. 

Kemenangan demi kemenangan sudah banyak dirasakan setiap insan di muka bumi ini dari urusan harta, tahta, cinta, dan lainnya. Kemudian muncul kebanggaan atas nama kemenangan walaupun membuat darah mengalir pada insan lainnya. 

Sungguh, apa kemenangan itu? Mari kita renungi al-Qur'an, surat An-Naziat ayat 31. "Inna lil Muttaqina Mafaza. Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan". Dalam ayat ini pemenang bukan mereka yang berharta, bukan tertampan, bukan pula tertinggi jabatan dan tahtanya. 

Para pemenang itu adalah mereka yang bertakwa kepada Allah. Dan ini disebut dengan kemenangan luar biasa, terhebat, terbesar. Al-fauz al-Adhim. Mereka yang takut kepada Allah, dengan melakukan perintahnya, menjahui larangannya. Mereka yang takut bermaksiat, takut pada murka Allah, menjaga diri agar tidak terjebur pada nerakaNya. 

"Sungguh, ini benar-benar kemenangan yang agung.Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal" Ash Shaffat, Ayat 60-61. Kemenangan terbesar, mereka yang selalu berusaha melakukan amalan ahli surga, dan menjahui diri dari perbuat ahli neraka. Ini tidak mudah, ahli surga mereka yang mampu menjaga hati, mulut, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya dari berbuat maksiat. Melakukan perintatahnya, berbuat baik pada sesama, shalat, zakat, berpuasa, dan ibadah lainnya. 

Mereka yang menang, mereka yang bertakwa. Mereka yang mampu menahan diri dari amarah, nafsu, berbagai godaan yang tidak dibenarkan. 

Adakah yang lebih beruntung dari mereka yang mendapatkan surganya (mafaza)? Adakah setelah surga sebuah keberuntungan? Dan itulah sebuah balasan bagi mereka yang bertakwa. "Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan" (Ali Imron, 185). 

Bukankah hari ini, diartikan sebuah kemenangan karena mereka menuntaskan puasanya. Puasa dari makan dan minum. Puasa dari propaganda nafsu. Puasa untuk "la'alakum tataqun", agar menjadi bertakwa. Takwa harus ditirakati untuk sampai. Kehidupan dunia menuju surganya bukan jalan yang lapang banyak lika liku yang harus ditempuh, jurang terjal pun sering menghadang. Bukankah untuk menang harus mampu bersaing, berkompetisi, bahkan berkontestasi?. 

Pemenang hakiki mereka yang mampu melalui segala godaan dunia, untuk hidup eksis dalam surga Allah. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. Ali Imron, 185. 

Tiga ayat dalam al-Qur'an  "Kullu nafsi Dzaiqatul Maut, setiap yang bernyawa akan merasakan mati".  Semuanya yang maninggal mereka menjadi pemenang bila mendapatkan surganya Allah. Merekalah yang bertakwa. 

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang yang berbuat kebajikan" Al-Ankabut, 57-58.  

Para pemenang mereka yang mampu melalui segala ujian. Ujian kebaikan dan ujian keburukan. Ujian harta, tahta, kecantikan, kemasyhuran, dan lainnya. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami". 35 Al-Ambiyah.

Maka, mereka yang bertakwalah sebagai pemenang. "Inna lil muttaqina mafaza". 

Allahu'alam bisshawab.

Malang, 2 Syawal 1441 H.

Asal kata Sadar

Halimi Zuhdy

Musim marah di mana-mana. Puasa-puasa kok masih marah.wkwkw. Inni Shaimun harus dipratikkan. Tempatnya yang dututup, marah. Bila dibuka juga banyak yang marah. Dibiarkan, malah marah-marah. Piye jal.wkwkw. Butuh kesadaran dan kesabaran.

Saya tidak mau bahas marah-marah.😀. Di atas hanya sebagai pengantar saja. Saya hanya mengkaji asal kata "Kesadaran". 

Tayyib. Kesadaran berasal dari kata bahasa Arab "Shadr" yang memiliki arti dada, tumbuh, asal, akar, tampak, awal, terbit, lapang, permulaan, dan makna lainnya. 

Kesadaran lebih dengan kata "shadr" yaitu dada dan lapang. Lapang berarti luas. Orang yang lapang dada, selalu disebut dengan sabar. Kesadaran dalam  KBBI diartikan keinsafan, yang dirasakan seseorang, . Berasal dari "Sadar" yang bermakna insaf, merasa; tahu dan mengerti, ingat kembali, siuman dan bangun. 

Kesadaran pada hakekatnya adalah memahami, mengetahui, mengerti akan dirinya dan kediriannya atau terkait dengan lainnya. Dan kesadaran ini tergantung bagaimana keadaan hati yang letakkan di dalam dada, serta pemahaman dan pengertiannya yang terletak dalam pikirannya. Sangat dengan kesadaran seaeorang dengan kelapangan dadanya dan pemahamannya. 

Seseorang yang tidak sadar dan menyadari, ia akan ngotot, merasa paling benar, bahkan orang lainlah yang harus menerima akan kesadaran dirinya. Butuh dada yang lapang, butuh pengetahuan, sehingga kesadaran akan dapat menyelimuti dirinya. 

Salam Sadar.😁😍
Tabik

Jumat, 22 Mei 2020

Fali Nafsih, Untuk Dirinya

(Menebar Benih, Akan Menuainya)

Halimi Zuhdy

"Siapa yang menabur benih, Dia yang akan menuai hasilnya" kata peribahasa.

Kata-kata cantik ini memberikan pelajaran, apa yang dilakukan seseorang, hasilnya akan dinikmatinya. Bila perbuatan itu baik, kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Demikian juga dengan perbuatan jelek.

Allah Sang Pengatur (Rabb) jagat raya ini, Sang desain yang Maha Sempurna tiada sedikit pun gerak dan diam di jagat ini tanpa menejemenNya (Yudabbirul amro min as-sama' wa al-Ardh).


Perintah dan laranganNya untuk kebaikan manusia. Segala aturan dariNya untuk keindahan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhiratnya (Fiddunya hasanah qa fil akhirah hasanah). Karena tiada aturan yang dibuat, yang dibebankan, yang didesain untuk keburukan manusia. Bukankah Allah Maha Rahman dan Rahim?.

Gerak alam raya bergerak dengan sepengetahuanNya, sunnah Allah yang berlaku pada umat terdahulu dan yang akan datang tetap berlaku. "Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah". QS. Fatir [35] : 43` lanjutan Ayat ini adalah "Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri...."

Menarik, apa yang dilakukan seseorang akan menuianya. Perhatikan Ayat ini dengan menggunakan redaksi "Falinafsih" (kepada dirinya). Tanggung jawab pribadi menggunakan ibarat lebih kuat. Setiap diri membawa dirinya, dan akan mempertanggung jawabkannya prilaku dirinya.

...فمن أبصر فلنفسه ...(الأنعام آية  ١٠٤)
"...Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri..." (Al-An'am 104)

...من عمل صالحًا فلنفسه...(فصلت  آية ٤٦)
"...Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri....". (Fusshilat , 46)

...ومن شكر فإنما يشكر لنفسه...(النمل آية ٤٠)
"Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri.." (An-Naml, 40)

...ومن تزكى فإنما يتزكى لنفسه...(فاطر آية ١٨)
"...Dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri..." (Fathir, 18)

...ومن جاهد فإنما يجاهد لنفسه...(العنكبوت آية  ٦)
"...Dan barangsiapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri...(Al-'Ankabut, 6)

...فمن اهتدى فإنما يهتدي لنفسه...(الإسراء آية ١٥)
"...Sebab itu barang siapa mendapat petunjuk, maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri..."
(Al-Isra', 15)

...ومن يبخل فإنما يبخل عن نفسه...(محمد آية  ٣٨)
"...dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri..."
(Muhammad, 38)

...فمن نكث فإنما ينكث على نفسه...(الفتح  آية  ١٠)
"...maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri..."
(Al-Fath, 10)

...ومن يكسب إثما فإنما يكسبه على نفسه...(النساء آية  ١١)

"...Dan barangsiapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk (kesulitan) dirinya sendiri..."
(An-Nisa', 11)

...قد جاءكم بصائر من ربكم فمن أبصر فلنفسه و من عمي فعليها و ما أنا عليكم بحفيظ...(الأنعام آية ١٠٤)
"...Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga-(mu)...
(Al-An'am, 104)

Pada akhirnya beban apa pun itu akan ditanggung setiap jiwa. Bila ia kikir, ia sebenarnya kikir pada dirinya, dan akan mencelakakan dirinya. Bila ia bersyukur, juga pada hakekatnya bersyukur untuk dirinya. Tiada setiap perbuatan yang diperbuat oleh seseorang terlepas dari pengawasanNya. Dan akan kembali kepada dirinya.

Bagaimana dengan Takalif (beban) yang Allah berikan kepada hambanya, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya...sama adalah untuk kebaikan diri seorang hamba. Bila tidak dikerjakan, bukan hanya kerugian besar di dunianya, tapi juga diakhiratnya.

Tanggung jawab setiap diri, seperti melihat cermin dirinya. Bila seseorang tersenyum, wajahnya di cermin juga akan membalasnya dengan senyuman manis. Tetapi, bila ia mencibir, cibiran di cermin itu juga akan tampak demikian.

Bila setiap individu dengan kediriannya (an-nafs) berlaku baik, tidak hanya akan dirinya yang akan menerima dampaknya tetapi kebaikan akan meronakan orang sekelilingnya dan orang banyak. Namun sebaliknya, bila duri ia tebar, tidak akan hanya mengenai dirinya ia akan berdampak kepada orang lain.

28 Ramadan 1441 H

#TetaplahDiRumah #IbqaFilManzil #ECompokSaos #TengGriyoMawon

Minggu, 17 Mei 2020

Al-Qur'an Memilih Genrenya Sendiri

Halimi Zuhdy

Al-Qur'an hadir ke muka bumi tidak mengikuti jenis susastra mana pun, ia bukanlah puisi, bukan  khitabah, tidak pula menyerupai pepatah Arab (Mastal), atau kata-kata hikmah, sebagaimana yang biasa dicipta oleh orang-orang Arab Jahiliyah. 


Sastra Arab pada masa Jahiliyah sangat populer dengan bentuk puisi (al-syi'ir/al-Qoshidah) ia sudah menjadi daging dan darah bagi mereka, dirayakan kemengannya, disanjung penyairnya, bahkan dianggap setengah tuhan. Mereka juga mengenal bentuk prosa, khutbah, washiah, hikmah, mastal, munafarah, mufakharah, Saj kuhhan, usthurah, dan qisshah juga qashidah ghanaiiyah. 

Nastar (prosa) tidak banyak diperbincangkan oleh orang Arab jahiliyah, tidak pula ada perayaan besar, bahkan tidak terlalu populer di kalangan mereka, jenisnya pun tidak banyak diperhatikan, mungkin hanya sebagain kecil dari orang Arab yang   mengenalnya. Mereka yang mumpuni pun, tidak punya kedudukan, tidak pula disanjung seperti para penyair. 

Puisi Lirik (al-syi'ru al-ghinai) paling populer pada masa Jahiliyah, atau dikenal dengan al-syi'ru al-wijnadi, menurut Hafid Ibrahim, masa jahiliyah adalah masa keemasan jenis puisi ini, sudah sampai puncaknya, dicatat dalam sejarah mereka, digantung di Ka'bah dan diberi penghargaan bagi pemenangnya, dinyanyikan dalam setiap pesta, didendangkan di tempat-tempat perjudian, dikobarkan dalam peperangan, dibincangkan di pasar-pasar. Dan puisi Muallaqat, dibuat sebagai dasar, rujukan, usul dari bahasa Arab, kaidah-kaidahnya merujuk padanya. Dan di masa inilah Al-Qur'an itu hadir. 

Apakah al-Qur'an menyerupai al-syi'ru al-ghinai, atau prosa yang  menyebar di kalangan mereka? Mari kita lihat sepintas.

Al-Qur'an hadir dengan bentuk yang berbeda, bukan berbentuk bait-bait, dan pula tidak berbentuk prosa khutbah, hikmah, ia hadir dengan bentuk berbeda dengan nama berbeda pula "Al-Fur'qan", dengan ayat-ayatnya dan surat-suratnya. 

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ )(al-Isra/ 106)،( تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً)(al-Furqan/1) ، ( الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ )(al-Hijr/1) ،( سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا)(al-Nur/1) .
Nama berbeda, bukan syi'r bukan pula nasr, tapi Al-Qur'an, Al-Furqan, dengan Ayat-ayat dan surat-suratnya. Ia tidak dikenal di kalangan Arab Jahiliyah, bukan yang seperti mereka dendangkan, dan bahkan terkaget-kaget ketika ada beberapa surat yang dibuka dengan huruf-huruf langka buat mereka, "Nun", "Ya Sin", "Alif Lam Mim", "Qof" aneh ini bukan puisi, bukan pula prosa yang mereka kenal.

Nada dan langgamnya tidak seperti puisi, ia pola sendiri, seperti

 وَٱلنَّـٰزِعَـٰتِ غَرۡقࣰا، وَٱلنَّـٰشِطَـٰتِ نَشۡطࣰا، وَٱلسَّـٰبِحَـٰتِ سَبۡحࣰا،  فَٱلسَّـٰبِقَـٰتِ سَبۡقࣰا، فَٱلۡمُدَبِّرَ ٰ⁠تِ أَمۡرࣰا،  tiba-tiba dalam satu surat berubah
یَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ, تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ, قُلُوبࣱ یَوۡمَىِٕذࣲ وَاجِفَةٌ 

Kadang dalam satu surat, kita menemukan kisah, tapi ia bukan cerpen apalagi novel, ada pola yang unik, dengan imaji yang tinggi, juga  tidak sepi dari majas, personifikasi, metafora, heperbola, tamsil, simile, alegori, eufinisme, tiba-tiba ada kata perintah, peringatan, kabar gembira, siksa, hukum dan...seperti mengobarkan semangat, tiba-tiba sedih, tiba-tiba gembira, ada harapan, ada ancaman, penghianatan, kemunafikan, dosa dan dusta, ada sisipan kisah orang-orang terdahulu, keghaiban, surga dengan keindahannya, neraka dengan kengeriannya. Gaya Ini, tidak ditemukan pada karya sastra sebelumnya (masa jahiliyah).

Belum lagi bagaimana ia membuka suratnya (fawatih) menutupnya (khawatim) cukup indah, pilihan diksinya, dengan bahasa yang kadang belum dikenal sebelumnya, akurasi pencitraan: transendensi ekspresi (sumuu ta'bir) dan ungkapannya yang  kuat (udmah ta'bir), singkat padat (ijaz), pengulangan yang tidak biasa (balaghah aal-tikrar).

Pula, menggunakan nama yang asing dalam setiap suratnya : sapi (al-Baqarah) , guntur (al-Ra'd), meja makan (al-Maidah), gua (al-Kahf), Muhammad, cahaya (al-Nur) dll, dan banyak kisah dalam setiap suratnya, ada pula yang mirip tapi berbeda, menggunakan diksi yang berbeda pula. 

Membicarakan al-Qur'an tidak akan pernah selesai, tafsir selalu bertandang, pada setiap zaman punya kekhasan, ia benar-benar mutiara. Inna anzalnahu qur'anan Arabiyan la'alakum ta'qilun.
 
Refrensi: al-Qur'an, tarikh al-adab al-islami, Al'asr al-jahiliyah, Al-maqalat al-islamiyah, al-wa'u al-islami al-adad 365,

Gambar:SINDOnew
Pertama kali diterbitkan di NUonline. 

Sabtu, 16 Mei 2020

Ini Rahasia Ayat Ayyaman Ma'dudat dalam Puasa

Halimi Zuhdy
      
Ayat-ayat puasa yang menyatu padu dari ayat 183-187 dalam surat Al-Baqarah sangat menarik untuk dikaji, pada ayat 184 terdapat kalimat "Ayyaman ma'dudat", yang dalam kajian Bahasa dan sastra memiliki beberapa arti; Pertama. Ayyam (hari-hari) adalah jama' qillah (jamak terbatas, 3-10), dan kata ma'dudaat (tertentu)  juga dianggap jama' qillah.

Puasa di bulan Ramadan, tidak hanya beberapa hari, tetapi  29/30 hari, bukan qillah (sedikit) tapi kastroh  (banyak). Maksudnya banyak, tetapi kalimatnya menunjukkan sedikit (tanzil al kastir ala alqalil). Menurut Fadil as-Samiri, puasa yang hanya beberapa hari, tetapi di dalamnya terdapat pahala yang sangat besar sekali, itu menunjukkan pleonastis (mubalaghah) dalam bahasa Arab.

Kedua, Penggunaan "Ayyamam Ma'dudat", menunjukkan kalimat qillah (sedikit), untuk menunjukkan bahwa puasa hanyalah beberapa hari dan mudah dilakukan orang mukallaf, juga sebuah ungkapan yang "ringan" bagi mukmin. Artinya, tidak ada yang sulit dan berat bagi seorang mukmin untuk melakukan kewajiban puasa tersebut. Dan Allah maha kasih, sehingga kewajiban puasa hanya beberapa hari saja, tidak berbulan-bulan, apalagi satu tahun, demikian pendapat Imam at-Thabari.

Ketiga, menggunakan "Ayyama Ma'dudat", menunjukkan bahwa berpuasa di bulan Ramadan itu sangat terbatas, dan dibatasi oleh waktu. Maka, hendaknya seorang mukmin menggunakan waktu yang terbatas itu sebaik-baiknya, dan setiap detiknya tidak lepas dari berbuat kebaikan dan ibadah, sebagaimana hadis"......Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya......." (Bukhari dan Muslim).

Betapa pahala berlipat ganda, dalam waktu yang sangat singkat, dan waktu itu tidak dapat terulang kembali pada hari-hari berikutnya. Setiap detik,  menit, dan jamnya memiliki pahala tersendiri dengan lapis-lapis pahala.

Keempat, "Ayyamam Ma'dudat" adalah sambungan dari ayat sebelumnya "Sebagai mana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian", Beberapa ulama tafsir berpendapat, bahwa sebelum puasa Ramadan diwajibkan, orang-orang terdahulu juga diwajibkan melakukan puasa "beberapa hari". Dan ulama berbeda pendapat terkait dengan puasa ini; ada yang berpendapat tiga hari setiap bulan, ada pula setiap hari Astura' dan lainnya. Artinya kewajiban puasa tidak sepanjang tahun, tetapi hanya beberapa hari yang terbatas, walau jumlahnya berbeda antara umat Nabi Muhammad dengan umat sebelumnya.

Kelima, "Ayyamam Ma'dudat" puasa sangat singkat sekali, kita sudah memasuki 10 terakhir, Sepuluh dengan lipatan-lipatan yang sangat dahsyat, tapi tidak sedikit yang melalui di tempat-tempat yang kurang tepat, dengan membuang-buang waktu yang jarang didapat. Walau hanya “waktu terbatas” tetapi bagi orang yang tidak memahami pentingnya waktu, ia tetap melalui dengan kesia-siaan.

Mudah-mudahan ayat "Ayyamam ma'dudat" ini menjadi refleksi untuk penulis sendiri dan para pembaca, bagaimana menggunakan "hari yang sangat terbatas" dengan kebaikan-kebaikan, ibadah dan amalan yang disunnahkan. Berjibun pahalan dan keberkahan, agar tidak menghilang begitu saja.

Oleh: Halimi Zuhdy
Dosen Bahasa dan Sastra ARab UIN Malang

al-Qur'an Bukan Kitab Sastra

Halimi Zuhdy

Al-Qur'an menantang siapa pun yang merasa hebat dalam kesusastraan, kebahasaan, atau pakar apa pun. Tantangan Al-Qur'an tidak main-main redaksinya menggunakan kalimat perintah, "....buatkanlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar...(2:23). Ia menantang lawannya tidak hanya pada satu orang saja, bersama-sama pun Al-Qur'an siap bertanding.
.
Tantangan itu sudah ratusan tahun, namun sampai hari ini belum ada yang mampu menandinginya. Bila ada kata-katanya yang menarik, isinya terkadang amburadul. Bila isinya baik, kalimatnya kacau. Bila kedua-duanya baik, tapi tidak memiliki nilai, kalimat i'jaznya tidak tampak sama sekali. Walau sekelas Musailamah As-syair pun hanya dibuat tertawaan, puisi kataknya tak mampu menandinginya.
.
Gaya bahasanya membuat musyrikin bertekuk lutut, mereka bersyahadat, karena para penyairnya yang dibanggakan tidaklah ada apa-apanya.

Hukum yang termaktub di dalamnya untuk kebaikan manusia, bukan kyahali dan permainan kata semata. Ia sesuai dengan fitrah manusia yang tidak bertentangan dengan rasionalitas manusia, bahkan manusia pun kadang tidak mampu menakarnya, bukan karena anrasional, tapi belum mampu melihatnya lebih dalam, sehingga bermunculan tafsir-tafsir untuk menguapkan mutiara di dalamnya.
.
Kisah-kisahnya bukanlah dongeng, bukan kisah kyahali, ia benar adanya dengan bukti tempat sejarah yang telah terbuka. Walau ia bukan kitab sejarah, tapi mengungkap sejarah. Walau ia bukan kitab kisah, tapi menceritakan dengan cerita yang menakjubkan.
.
Belum lagi ketelitian redaksinya, seakan-akan setiap hurufnya dihitung dengan sempurna, setiap pilihan katanya penuh makna, sungguh seimbang, hingga ada penelitian dalam i'jaz al adady dan i'jaz al-ilmi. Karena, redaksinya sungguh mempesona. Bagaimana ia menyeimbangkan antara redakasinya, dengan hikmah yang tersembunyi di dalamnya, dan bagaimana ia menguapkan aturan hukum pada manusia. .
.
Dan lagi, sesuatu yang tidak banyak dipahami manusia, Al-Qur'an membongkarnya, seperti Surat Al-Waqiah, bagaimana keadaan pada hari kiamat, bagaimana keindahan penduduk surga, dan bagaimana pedihnya siksa neraka.

Copyright Laduni. Hak Cipta Dilindungi.

Inni Shaimun; Mempertegas Identitas Diri

Halimi Zuhdy

Ibadah puasa adalah ibadah yang paling rahasia, pahalanya, Allah sendiri yang membalasnya. “Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, ia untuk-Ku dan Aku yang membalasnya” HR. Abu Hurairah. Ibadah puasa paling selamat dari riya’, kata Imam Al-Qurtubu, “Bila amalan yang lain dapat diserang riya’, maka puasa tidak dapat dipamerkan, kecuali Allah yang mengetahui, Maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya”.
Dari banyak rahasia yang terahasiakan dari ibadah puasa, ada sebuah hadis yang seakan-akan menganjurkan untuk mempertegas keberadaan diri seseorang, bahwa ia berpuasa, “Inni Shaimun”. “…Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, Aku sedang berpuasa'…” HR Bukhari. 

Apakah hadis tersebut sebuah ajang pamer diri, atau sebuah penegasan akan keberadaan dirinya, atau penegasan identitas dirinya?
Kalimat mempertegas keberadaan diri dalam hadis di atas, bukan kemudian menjadikan puasa sebagai ajang pamer ibadah, bukan pula untuk menampakkan puasanya yang sedang dilakukan, sehingga orang lain mengetahuinya. Ia sebuah kalimat untuk mempertegas keberadaan diri, diri yang lagi “Belajar sabar”, diri yang tidak ingin “Membanggakan diri”, diri yang berusahan untuk “Menjauhkan diri dari ma’siat”, diri yang ingin “Terjaga dalam peribadatan”.

Mempertegas pernyataan akan keberadaan dirinya dalam hadis di atas, sangatlah penting, untuk memastikan keberadaan dirinya, kondisi dirinya, dan hal-ihwal dirinya, sehingga ia menjadi manusia yang tidak samar. Keberadaan dirinya yang diketahui, bukan untuk memamerkan diri, tapi agar orang lain memahami, posisi keberadan diri, sehingga tidak mudah melakukan kemunafikan.

Sejak lahir kita sudah diberi identitas oleh orang tua, dengan sebuah nama, nasab orang tua juga bagian dari identitas, dan kondisi kita selanjutnya adalah identitas kita, maka tidak ada yang perlu dirahasiakan dalam identitas itu, ia pada hakekatnya sudah menjadi bagian dari keberadaan diri. Identitas diri. Identitas itu, sebenarnya tidak butuh untuk dipertegas, ia adalah bawaan diri. Namun, ia menjadi penting untuk dipertegas, bila untuk sebuah pernyataan dalam hal-hal tertentu, seperti orang yang meragukan kenegaraan kita, maka kita keluarkan KTP, bahwa kita asli Indonesia, dan lainnya.

Bagaimana dalam ibadah, apakah harus dipertegas? Dalam banyak pendapat ulama, dalam ibadah dan ketaatan, dianjurkan untuk menyembunyikan ketaatan kepada Allah, seperti ibadah; puasa, shalat, haji dan lainnya, bahkan kepada keluarga. Untuk menjaga keberadaan diri dari ‘ujub, kecuali saat-saat tertentu, misalkan dalam ibadah puasa, ada seseorang yang mengajak untuk menyantap makanan, sedangkan kita berpuasa, maka dibolehkan untuk mempertegas ibadah kita, bahwa kita lagi berpuasa, “Apabila diantara kalian diundang untuk makan, sedangkan ia berpuasa, maka nyatakanlah, “Inni Shaimun” HR. Muslim.

Pernyataan “Saya Berpuasa”, menurut Imam Nawawi dalam Kitab Syarah Shahih Muslim, adalah sebuah penegasan dan pernyataan bahwa dirinya; berhalangan, udzur, dan tidak bisa mengijabahi. Bila ia diundang kejamuan makan (walimah, dll), dan yang mengundang mengetahui bahwa ia lagi berpuasa, dan undangannya dibatalkan, maka boleh tidak menghadirinya, bila yang mengundang tetap mengharap kehadirannya, maka wajib menghadirinya, karena puasa bukanlah halangan untuk menghadiri undangan tersebut, sedangkan puasanya tidak harus dibatalkan, dan puasa menghalanginya untuk memakan makanan. Imam Nawawi Melanjutkan, yang lebih utama bagi orang berpuasa, bila puasanya menjadikan shahib bait tersinggung, atau berat hati, maka disunnahkan untuk berbuka (ifthar), bila hal tersebut puasa sunnah yang dilakukan, namun, bila yang dilakukannya puasa wajib, maka tidak haram dibatalkan.
 
Mempertegas diri, “Inni Shaimun” juga sebagai penyadar pada orang lain, dan juga kepada dirinya, untuk menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang. Memberitahukan keberadaan dirinya, bukan lantas disebut pamer, bisa saja ia sebuah ungkapan untuk menolong orang lain untuk tidak berbuat kedaliman. Seperti, si buta membawa lampu di malam hari, bukan kemudian dia mempertegas dirinya agar terlihat buta, tapi agar orang lain bisa melalui jalan tersebut dengan benar, serta agar dirinya (si buta) juga tidak ditabrak. 

Khadim PP. Darun Nun Malang

Gambar: Dunya

Mengi'tikafkan Tubuh, menghijrahkan Hati dan Pikiran

Halimi Zuhdy

Indah sekali ajaran Islam, dalam setiap gerak ibadahnya, ada hening, senyap, dan harmoni. Dalam gerak hidupnya ada puasa, dalam puasa terselip i'tikaf, dalam i'tikaf tersua tuma'ninah. 

Dalam Shalat, ada gerak; takbir, rukuk, sujud, i'tidal dan tahiyyat, tapi dalam geraknya terselip tuma'nina.
 
Dalam haji, ada gerak; thawaf, jumrah, dan sa'i, tapi ia harus berhenti (wuquf), berlanjut mabit (bermalam dan diam) di muzdalifah dan mina, semuanya harmoni gerak dan diam. Indah sekali. 

Untuk menjadi kupu-kupu yang membunga warna, terbang mengejar kumbang, ia bermula puasa, beri'tikaf dalam kepompong, bertafakkur dalam dengkur, melihat alam dalam senyap. Dari menjijikkan ketika meng-ulat, menghilang (i'tikaf) tuk bertadaabur, kemudian bertebar ke alam menemui bunga-bunga (takbir kemenangan). 

I'tikaf, tidak hanya diam dalam masjid, tapi dia berfakkur, mentuma'ninakan hati, menjauhkan diri dari hiruk pikuk kefanaan harta, jabatan, dan kemeriahan dunia. 

Ia i'tikaf, diam, mensucikan mulut dengan dzikir dan Al-Qur'an, menirmalakan hati dari; iri, dengki, sombong, riya', suud dhan, dan syahwat.
 
I'tikaf, bukan lari dari gemerlap dunia, tapi diam tuk mencemerlangkan hati, mementari dunia menuju hakekat kediriannya dari bergumul dunia. 

I'tikaf, tidak menyepi untuk menutup diri, tapi bersembunyi untuk menguatkan hati dan mengakarkan pikiran. Seperti biji-biji yang terbenam, tuk menjulangkan pohon, melangitkan dedaunan, dan buah-buah yang menyegarkan. 
Kelihatan tenangnya air di sungai, bukan diamnya beku, tapi dasyatnya arus menggerus yang kaku. 
5 hari, atau 4 hari lagi, akan usai semua detik yang berlipat pahala, satu huruf Al-Quran yang berpulun-pulun ganjaran, harinya penuh berkah, diamnya ibadah, akan segera usai, selesai, khatam. 

Menunggu 11 bulan lagi, tuk melipat-lipat pahala lagi. 

Mari kita ber'tikaf, mengajar hati, mempelajari diri, menemukan pikir kembali dalam Rumah Tuhan yang penuh cahaya ilahi. 


Beri'tikaf tidak hanya untuk menemukan Lailatul Qadar, tetapi ia untuk menemukan diri. Memenjarakannya (ihtibas), untuk tak selalu melihat gemerlap dunia, karena kehidupan sesungguunya bukanlah di dunia, karena suatu saat, akan benar-benar kembali selamanya, dan tak kan kembali lagi.

Gambar: bincang syariah

Detik Terakhir, Melipat Kasur: Mengejar Lailatul Qadar

Halimi Zuhdy

Abu Hurairah RA bercerita, kami bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau mengingatkan kami tentang Lailah Qadr, “Sudah berapa hari kita lampau Ramadhan”, mereka menjawab, 23 hari Ya Rasulallah. Beliau bertanya kembali, "Berapa hari lagi kita berada di Bulan ini", 8 hari lagi, jawab mereka, "Bukan, hanya tinggal tujuh hari lagi, Bulan Ramadhan 29 hari, maka carilah ia, malam-malam ini" .

Rasulullah, selalu memotivasi para sahabat dan umatnya untuk selalu meningkatkan ibadah, di 10 terakhir Ramadhan, terutama di hari-hari ganjil. Karena pada waktu itu diperkirakan Lailatul Qadar turun menjumpai hamba-hamba Allah. Adakah tanggal yang paling khusus, para ulama berbeda pendapat. .

Apakah Malam (27), yang ditunggu itu, atau sudah lewat (21) atau masih ada detik lain (23, 25, 29). Allah 'alam. Tapi, dari berbagai isyarat ulama' dan kajian Mu'jizat Adady fil Al Quran, bahwa malam ini adalah malam yang paling ditunggu. .

Dari i'jaz 'Adady, kata "hiyah" kata ganti yang kembali kepada Lailatul Qadar,menempati urutan ke 27 dalam kalimat di surat al Qodr. Berikutnya kalimat "Lailatul Qodr" ada 9 huruf, dan dalam surat tersebut disebutkan 3 kali, kalau 3x9 berarti 27 kali. Apakah ini sebuah kebetulan? Apakah hanya permainan kata saja? Mari kita lihat pendapat para ulama, bahwa malam 27 Ramadhan adalah turunnya lailatul Qadar, walau banyak ulama yang berbeda, tapi penulis sengaja memilih malam 27 dengan berbagai isyarat tersebut.

Dalam ringkas makalah Syekh Khaslan, bahwa Ramadhan selalu tetap pada tanggal 27. Jika ada pernyataan berubah-rubah dan berganti-ganti malam, itu pendapat ulama kekinian. Sedangkan ulama salaf dan para sahabat lebih memilih yang 27,arjah menurutnya.

Sedangkan menurut Syekh Khalid al Huwaisyin juga sama, yaitu pada malam 27 dengan banyak hadis shahih, para sahabat dan tabiin meyakini itu, seperti hadis Abi bin Ka'ab riwayat Muslim (para sahabat tidak ada yang mengingkari), Jika ada perbedaan dalam hal waktu, itu sebuab keindahan dan sebagai motivasi untuk selalu meningkatkan ibadah kita, kita dianjurkan untuk tidak pernah berhenti pada satu malam saja.

Jika, seseorang bertahan pada tanggal 21 atau 23 atau tanggal ganjil lainnya, dengan kondisi lelah, namun semakin segar ibdahnya, mungkin yang paling diharapkan. Semakin jauh dari kasur, semakin dekat dengan Baiturrahman. Mudah mudahan semangat tidak pernah kendor, selalu mengejar (taharraw) Lailatul Qadar dengan beri'tikaf, qiraah, qiyamul lail dan ibadah lainnya.

Gambar:Serambi.com

Minggu, 03 Mei 2020

Paling Kekasih di Bulan Penuh Kasih

Halimi Zuhdy
      
Ramadan bulan yang paling ditunggu kedatangannya, ia seperti kekasih paling kekasih, jika lama tidak hadir. Merindunya semakin membuncah. Tangisan kerinduan tak berhenti sebelum ia bertandang, enam bulan sebelum tiba, para sahabat, tabi’in dan salaf shaleh sudah menengadah tangan pada Allah, agar dipertemukan dengan Ramadan (Ibnu Fadhl).

Tangisan semakin kuat bila bulan Rajab dalam rengkuhan, puasa dilakukan untuk menyiapkan, doa dipanjatkan “Allahumma ballighna Ramadhan”. Satu bulan sebelum tiba, para sahabat sudah menyibukkan diri dengan kegiatan seperti Ramadan, mushaf-mushaf dibaca diberbagai tempat, bahkan bulan ini (Sya’ban), umat Islam sudah mengeluarkan zakat mal untuk membantu para fakir miskin untuk memotivasi mereka dalam berpuasa.

Bila Ramadan sudah tiba, umat Islam berubah, masjid-masjid dipenuhi jamaah; bertaqarrub, dan beriktikaf. Al-Qur’an bergema di berbagai pelosok, kata seorang penyair Arab “Bagai dengungan lebah”, seperti Imam Syafi’i hatam Al-Qur’an 60 kali, al-Aswat setiap dua hari sekali, Mujahid dan Qosim setiap hari, Qotadah tiga hari sekali. Mereka ingin berbicara dan disambut Sang Kekasih, Allah SWT.

Inilah bulan cinta, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (Hadist),inilah bukti cinta Sang Kekasih, adakah ungkapan yang paling mesra dari sesuatu yang busuk menjadi wangi, yang buruk menjadi indah, yang gelap menjadi terang. Bau busuk orang puasa bagai kesturi di hadapan Allah, inilah sebuah penyataan yang sangat indah.

Kerinduan itu akan selalu memuncak, bagaimana tidak, satu dibalas seribu, “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Setiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus kali lipat” (Muslim). Sungguh, adakah yang disia-siakan ketika lipatan pahala dijanjikan, berjibun berkah disiapkan.

Tidak hanya itu, bila kekasih yang dicinta berbuat salah, maka kata “pengampunan” yang terucap, bagaimana dengan Allah yang mengampuni orang-orang yang berada di dalamnya, “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni” (HR. Abu Dawud).

Adakah yang lebih luar biasa dari pengampunan sang kekasih, dan ini pengampunan dari Sang Maha Segala, Allah SWT. Tidakkah hanya apunanNya yang kita harapkan, kita rindukan, dan kita cari. Betapa manusia dipenuhi dengan lumuran dosa, dan hanya Neraka tempatnya, tetapi jika Allah Sang Maha Pengampun membebaskannya, betapa ini sebuah kabar gembira, dan surga adalah tempatnya.

Agar semakin menikmati hubungan cinta yang indah, seluruh penghambat dihilangkan, semua godaan dilenyapkan, dan celah-celah ditutup, dan hanya keindahan yang di buka lebar-lebar, “ Kalau datang bulan Ramadan, maka terbuka seluruh pintu surga, tertutup pintu neraka dan setan-setan dibelenggu” (HR. Baihaqi).

Masyallah, sungguh bulan ini, bulan yang dijanjikan keberkahan, para penghalang juga tidak dilibatkan, demi menuju kekhusukan, namun masih saja banyak manusia yang melupakan Tuhan demi secuil dunia yang dihinakan.

Permintaan sang kekasih pasti selalu diusahakan, selalu dikabulkan, bagaimana dengan bulan ini, “Tiga doa yang tidak ditolak oleh Allah, orang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang teraniaya. Allah mengangkat doanya kea wan dan membukakan pintu-pintu langit. Demi kebesaran-Ku engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Bulan ini, bulan penuh cinta, sangatlah rugi, jika tidak mendapatkan cintanya. Bila ia memberi harapan cinta, bukankah tiada lelah selalu meminta, minta ampunan, minta keberkahan dan meminta segala rindu padaNya.

****************
Dipost pertama kali oleh Media Malang Post

Sabtu, 02 Mei 2020

Kitab Al-Qur'an versi Tadabbur wa 'Amal

Halimi Zuhdy

Bukan kitab tafsir atau buku panduan mengaji, juga bukan kumpulan makalah tentang tema-tema al-Qur'an. Kitab ini berisi Ayat-ayat al-Qur'an, lengkap 30 juz, yang dibagi menjadi 604 unit kajian, setiap unit terdiri dari empat pembahasan: al-Waqafat al-Tadabburiyah (Renungan ayat, tadabbur ayat), Jadwal Ma'ani al-Kalimat (Skedul arti beberapa kalimat), al-Amal bil al-Ayat (Mengamalkan ayat), al-Taujihat (beberapa petunjuk Umum).
Kitab ini termasuk Kitab pembelajaran al-Qur'an dengan menggunakan metode, al-Istima' (mendengar), al-Tilawah (membaca), al-Hifdzu (menghafal), al-Tadabbur (mengkaji, mentaddaburi), al-Amal (mempratikkan). Dan lima motede tersebut diambil dari Ayat al-Qur'an, al-'Araf (204), al-Baqarah (121), al-Ankabut (49), Shad (29), Az-Zumar (18).

Hadirnya kitab ini sepertinya ingin memberikan pencerahan  bahwa al-Quran tidak untuk dibaca (tilawah) dan dihafal saja, tetapi untuk ditaddaburi dan diamalkan, atau juga ingin membantu Madrasah atau Halaqat Hifdh Al-Qur'an yang kecenderungannya hanya membaca dan menghafal saja, dan kemudian dapat mentadabburi dan mengamalkan, maka Kitab Ini diberi nama  "Al-Qur'an, Taddabur wa 'Amal".

Menurut Tim Penulis, di antara sebab banyaknya pembelajar al-Qur'an yang hanya lebih memperhatikan cara membaca dan menghafal, karena tidak adanya metode latihan atau buku panduan khusus untuk "Tadabbur" dan "Mengamalkan". Sedangkan Para Sahabat Nabi dalam mempelajari al-Qur'an sangat memperhatikan dua hal tersebut (taddabur dan amal), sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Ma'ud "Setiap seorang dari kami, apabila belajar sepuluh ayat al-Qur'an tidak menambah lagi sebelum memahami artinya dan kemudian dapat mengamalkannya" (Al-Thabari, 1/44).

Dan menariknya setiap waqafat ada beberapa pertanyaan yang kemudian bisa langsung dijawab oleh pembaca dalam kitab ini. Kitab ini dapat dipelajari sendiri, atau juga dengan berjamaah yang dibimbing satu musyrif atau lebih. 

Selamat menikmati Kitab ini bagi yang sudah memiliki. Bagi yang belum, entah bagaimana cara mendapatkannya, karena kitab ini hadiah dari Mudir al-Ma'had al-Bi'sat Yala Thailand beberapa tahun lalu, ketika al-Faqir mengisi Pelatihan Guru Bahasa Arab untuk Guru-Guru Agama di Yala.

Halimi Zuhdy
Malang, 2 Mei 2020

Ramadan Karim

Rabu, 29 April 2020

Ramadan di Zaman Corona

Halimi Zuhdy

Ramadan kali ini ada yang berbeda. Di beberapa daerah di Indonesia masjid ditutup, shalat Tarawih dan I'tikaf ditiadakan. Buka Bersama dengan duduk berjejer atau melingkar juga tidak akan tampak,  demikian juga dengan Tadarus al-Qur'an. Pasar, mall, super market sepi menyepi tak lagi berjubel pengunjung untuk membeli kebutuhan puasa. 

Bahkan di banyak negara Arab masjid ditutup total, tak lagi ada kemeriahan apa pun. Rumah mereka disulap menjadi masjid kelaurga. Tak ada silaturahim, kecuali lewat media sosial. Maka, kepala keluarga harus siap menjadi Imam dan Khotib bagi keluarganya. Tak akan mendengar teriakan anak kecil di masjid, tak tergesa-gesa menyelesaikan shalat, karena memilih kecepatan sendiri. Demikian kata Abdul Wahab dalam Koran "Syarq" Qatar.

Beberapa hari menjelang Ramadan media Arab ramai tentang hukum berpuasa di zaman pademi, tentang boleh tidaknya berpuasa di masa pandemi. Terjadi jidal 'an Faridhati al-Saum, ada perdebatan tentang kewajiban puasa.  Ada yang membolehkan untuk tidak berpuasa dengan alasan mereka harus menjaga fitalitas kesehatannya, agar tidak mudah diserang virus korona. Pula ada yang berpendapat, berpuasa lebih rentan untuk diserang virus ini. Maka, cukup dengan membayar fidyah, dengan memberi makan kepada fakir miskin, sebagai ganti dari puasa.

Namun, pernyataan ini banyak dibantah oleh para ulama dan dewan fatwa di beberapa negara, karena belum ada kajian khusus tentang puasa di masa pandemi, sehingga harus diadakan penelitian yang serius pada orang berpuasa pada masa Wabah, dengan melibatkan Tim Medis dan Ulama. Menurut Lajnah al-Buhust al-fiqhiyah yang tergabung dalam Majma  al-Buhus al-Islamiyah di Mesir dan beberapa Majma di beberapa negara, memyatakan tetap wajib melaksanakan puasa kecuali yang bersangkutan dinyatakan sakit dan tidak kuat berpuasa, atau ada larangan berpuasa dari tim medis. 

Ramadan di masa pandemi ini terjadi perubahan tradisi, entah hal ini akan terus berlanjut setelah korona pergi atau akan menjadi tradisi baru. Setiap masa, baik karena ada sebab tertentu, atau karena bergulirnya masa, selalu terjadi prubahan-perubahan. Menggengan (istilah Jawa ketika menyambut Ramadan) tahun ini tidak ada. Di beberapa daerah, makanan atau sejenisnya diantar ke beberapa  tetangga, yang sebelum Covid-19 mereka membawa makanan dari rumah masing-masing dan berkumpul di masjid, makan bersama dan saling meminta maaf.

Ramadan di masa Corona, bukanlah halangan untuk berpuasa. Ia sebagai ajang yang paling tepat untuk memusatkan hati dan pikiran menemuiNya. Gemuruh berita kematian dan penyakit, akan menjadikan semakin kyusuk untuk beribadah kepada Allah. Rumah-rumah kaum muslimin di masa seperti, bisa disulap menjadi masjid, madrasah, perguruan tinggi dan pondok pesantren keluarga. Banyak hal yang dapat dilakukan, dengan membuat kurikulum ramadana di masa pandemi. 
Selamat menunaikan Ibadah puasa, dengan lebih khusyuk dan hikmat.

Masjid dan Cafe

Halimi Zuhdy

Beberapa hari yang lalu, motor ojek yang saya kendarai melewati puluhan cafe di Malang yang disesaki pengunjung dan juga melewati satu masjid yang berada di deretan terakhir cafe-cafe  tersebut.

Cafe-cafe yang tidak pernah sepi itu, dan masjid yang sesekali dipenuhi jamaah, itupun pada hari Jumat, mengundang pertanyaan tukang ojek yang saya tumpangi. Mungkin dalam pikirnya, mengapa masjid selalu sepi, kalau shalat berjamaah kadang hanya satu dua baris,  yang menjadi imam suaranya sama dengan yang menjadi muadzin. Mungkin maksudnya,  yang menjadi muadzin, yang iqamah dan imam satu orang.wkwwk.  

Entah kenapa, motor itu tiba-tiba berhenti, apa mungkin kehabisan bekal, atau kehausan, saya tidak berani bertanya. Tiba-tiba Bapak Ojek ini membrondong beberapa pertanyaan pada saya.

"Pak, mengapa akhir-akhir ini cafe begitu ramai sedangkan masjid sangat sepi?" Tanyanya.
Saya sebenarnya agak males menjawab, karena cara membandingkan terlalu jauh, masjid kok dibandingkan dengan cafe. 

Apa mungkin Bapak ini kerasukan orang-orang yang sering membandingkan Al-Qur'an dan pancasila, Nabi Muhammad dengan  pahlawan, Malaikat dan Syaitan. Atau bapak ini memang benar-benar bertanya, karena melihat fenomena yang luar biasa, cafe yang berkecambah dengan pengunjung yang tak pernah sepi, larut malam pun masih terlihat ramai sekali, tidak hanya laki-laki tapi juga banyak perempuan. 

Saya mencoba menjawab dengan sedikit memancing rekasi bapak ini berikutnya, "Bapak, jangan bandingnya Masjid dengan Cafe, Masjid itu tempat yang suci, hanya duduk-duduk dan berniat iktikaf sudah dapat pahala. Kalau di cafe tidak boleh niat i'tikaf nanti menjadi bid'ah, di Masjid itu ada beberapa hal yang tidak boleh dibicarakan, sedangkan di Cafe apapun dibolehkan (tidak ada larangan), kecuali pemilik cafenya menuliskan DILARANG MINUM KOPI, tapi ini jadi aneh".wkwkwwk.

"Pak, kalau ibadah kan tidak harus di masjid, kan bisa dimana saja" sanggahnya 

"Tayyib, benar ibadah di mana saja, tapi ada yang juga dikhususkan tempatnya, kalau jumatan tempat di Masjid jangan di Cafe, kalau waktu shalat jumat masih di cafe itu bisa dosa, tapi kalau minum kopi di Masjid hari Jumat tidak ada yang melarang".  Saya mencoba menjelaskan.

"Cafe juga bisa jadi tempat melakukan ibadah bapak, wiridan sambil nyeruput kopi, atau ngaji, atau juga diskusi dan lainnya, tapi kan tidak elok kalau ia di samakan dengan masjid, karena tempatnya tidak bernilai ibadah. Berbeda dengan masjid. Masjid kalau dibuat ngerumpi juga tidak boleh, malah berdosa berada di masjid, berjualan juga dilarang, mencari barang hilang juga tidak dibolehkan. Maka, semuanya ada tempatnya". Saya melanjutkan apa yang dimasud ibadah dan tempatnya. 

"Bapak, yang tidak baik itu kalau tidak pulang-pulang dari cafe dan jarang ke masjid, atau melupakan masjid. Kalau hanya tidak ke cafe, dan bahkan melupakan cafe tidak ada yang memgatakan berdosa. Tentunya, bukan hanya persoalan tempat lo Bapak, juga persoalan aktifitasnya". Sambil saya tersenyum padanya, dan Bapak itu manggut-manggut.

"Kalau tidak pulang dari masjid bagaimana ustadz?", Sanggahnya. 

"Sama Bapak, tidak baik orang yang tidak pulang-pulang dari Masjid, meninggalkan keluarga, meninggal bekerja, tidak mencari nafaqah, bahkan bisa berdosa bila hanya berada di masjid tapi kewajibannya ditinggalkan. Disinilah bagaimana Islam mengajari untuk berimbang antara urusan akhiran dan dunia Bapak. Tapi, wal akhiratu khairun laka minal ula" saya tutup dengan senyum sebelum kita melanjutkan perjalanan lagi. 

Banyuanyar Pamekasan, 21 Pebruari 2020

Penutupan Ka'bah dalam Sejarah Islam

 Halimi Zuhdy

Beberapa hari ini saya mendengar beberapa pesan penceramah, dengan sangat berapi-api, bahkan ada yang mengutuk bila tahun ini haji ditiadakan dan tidak ada yang thawaf, maka dunia ini akan hancur. 

Saya pernah menulis buku "Sejarah Haji dan Manasik" beberapa tahun lalu, dan tahun 2019 dikutip beberapa media sebagai panduan untuk ziarah, petualangan, dan ibadah haji. Pada bab "Ibadah Haji dalam Penelusuran Sejarah" saya menulis tentang awal mulai pembangunan Ka'bah, dengan berbagai pendapat di dalamnya, dari pendapat yang menyatakan bahwa yang membangun pertama kali adalah Malaikat pada dua ribu tahun sebelum Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan, kemudian dibangun kembali oleh Nabi Adam, dan dilanjutkan oleh putranya, Syits dengan menggunakan tanah dan batu. 

Setelah ada peristiwa banjir bah pada masa Nabi Nuh, bangunan tersebut runtuh, dan dibangun kembali oleh Nabi Nuh, dan pada akhirnya dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan putranya Nabi Ismail ‘alaihissalam. Dan masih banyak kisah lain yang mengiringi pembangunan Ka'bah yang mulia ini (lihat: Saifi, Tarikh al-Makkah al-Mukarramah 'Abra al-Ushur: 1968).

Namun, dari sekian pendapat yang diunggulkan dan mendekati fakta historis dan teologis adalah kisah dibangunnya Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail ‘alaihissalam. 

Masih pada bab pertama, bagian selanjutnya adalah pelaksanaan haji pertama kali yang dilakukan oleh Nabi Muhammad setelah turunnya ayat ke-97 Surat Ali Imran. Namun, pada tahun ke-6 H gagal karena ada sabotase orang-orang Quraisy, sehingga dilaksanakan kembali pada tahun ke-9 H di bawah pimpinan Abu Bakar, dan beliaulah Amir al-Haj pertama kali dalam sejarah Islam. (Terkait tahun awal pelaksanaan haji ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan tahun ke-9 H, ke-10 H, dan yang diwajibkan pada tahun ke-7 H).  

Bagaimana pelaksanaan haji pada masa Khulafa' Rasyidin? Pada masa kepemimpinan Khulafa' Rasyidin haji terlaksana dengan baik, kecuali pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib haji tak dilaksanakan karena disibukkan dengan perang Shiffin (lihat: Sulaiman Abdul Ghani al-Maliki wa Sa'duni, Tarikh al-Haj min Khilak al-Hujjaj wa Al-Mu'tamirin: 1998). 

Pelaksanaan haji terus dilakukan pada masa kekhalifaan Bani Umayah, Bani Abbasiyah, Mamluk, dan seterusnya. Apakah pada masa-masa itu Masjidil Haram aman-aman saja? Dan apakah thawaf terus dilakukan? 

Untuk menjawab ini pembaca bisa menilik beberapa kitab, Tarikh 'Imara al-Haram al-Makki al-Syarif ila Nihayah al-'Ashr al-Abbasi al-Awwal, al-'Uqud al-Lu'luiyyah, dan beberapa kitab lainnya, serta beberapa makalah tentang “'Ighlaq al-Ka'bah wa Man'i Thawaf" (penutupan Ka’bah dan pelarangan thawaf). 

Ka'bah ditutup bukan kali ini saja, gegara virus Corona (baca: Covid-19) tetapi sudah terjadi beberapa kali dalam sejarah Islam. Ada yang menyebutkan 40 kali, namun validitasnya masih dipertanyakan; ada yang menyebutnya hanya 3 kali, dan beberapa pendapat lainnya.

Penutupan Ka'bah beberapa hari dan seluruh aktivitasnya diberhentikan terjadi ketika Hajaj bin Yusuf al-Staqafi menyerang Ka'bah. Serangan tersebut bertujuan untuk merongrong kekuasaan Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di Makkah pada masa Dinasti Umayah yang lagi dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan. Hajjaj tidak segan-segan membunuh orang di sekitar Ka'bah, bahkan sebagian Ka'bah hancur karena dilempar manjaniq (ketapel raksasa). Penutupan Ka'bah ini, terjadi pada tahun 693 M. 

Berikutnya, pada tahun 930 M juga ada penutupan Ka'bah secara total pada masa dinasti Abbasiyah, karena ada serangan dahsyat suku Qaramithah di bawah pimpinan Abu Tahir al-Qurmuthi. Mereka membantai 30.000 jamaah haji (ada yang memyebutkan 1.700). Pada masa ini menjadi penutupan Ka'bah terlama dalam sejarah, dan Qaramithah menjarah Hajar Aswad selama 22 tahun. (al-Mizan). 

Dan peristiwa lain, ketika al-Haram al-Makki (Masjidil Haram) dikuasai oleh Juhaimah al-'Utaibi, seorang islamis garis keras, Ka'bah ditutup total selama 15 hari, dan kemudian dapat dikendalikan lagi dengan bantuan beberapa pimpinan militer Prancis, sehingga kelompok Juhaimah dapat dilumpuhkan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1979 M. (al-Bawwabah). 

Pada tahun 1814 M, sekitar 8.000 orang meninggal dunia karena epidemi di Hijaz, dan pelaksanaan haji terganggu pada tahun ini.   Terjadi lagi epidemi pada tahun 1837 M, aktivitas haji di al-Haram al-Makki dihentikan dan itu berlanjut sampai 1892, dan selama periode itu seribu peziarah meninggal setiap hari. (at-Taqarir). 

Dalam Tarikh al-Makkah disebutkan, pada 1629 M terjadi banjir besar yang merobohkan dinding Ka'bah. Manasik haji dan umrah berhenti selama pembaruan Ka'bah atas perintah Sultan Murad IV, dan pembangunannya memakan waktu beberapa bulan, dan para sejarawan mengatakan bahwa bangunan saat ini adalah bangunan yang dibangun saat itu. 

Beberapa penutupan Masjidil Haram tidak hanya yang penulis sampaikan di atas. Masih ada beberapa masa, sehingga Makkah ditutup, baik ditutup sebagian, ditutup untuk negara tertentu, dan ditutup secara total. 

Terjadinya penutupan Ka'bah karena epidemi Covid-19 beberapa bulan yang lalu bukanlah menjadi yang pertama dalam sejarah penutupan al-Haram al-Makki. Penutupan beberapa bulan yang lalu bermula dari keputusan Wizarah Hajj wa Umrah untuk tidak diterbitkan Visa Umrah, dan bagi yang sudah berada di Makkah tidak diizinkan untuk masuk area Ka'bah karena alasan sterilisasi dari virus Corona. Sedangkan keputusan pelaksanaan haji tahun ini masih belum ada keputusan resmi dari pemerintah.  
.
 Halimi Zuhdy, penulis buku “Sejarah Haji dan Manasik”  

Dimuat pertama kali di NUonline

Buku Kritik Sastra Arab

Halimi Zuhdy

Buku "Ra'hin al-Dirasat an-Naqdiyah fi al-Wathan al-Arabi" Karya Dr. Ibrahim Khalil, akan membawa pembaca melalang ke berbagai masa di mana karya sastra Arab dikaji (dikritik) serta mengenalkan jenis kritik sastra yang digunakannya. 

Dalam bukunya, Dr. Ibrahim Khalil mengkaji tentang an-Naqdu al-Idioloji (Kritik Ideologi), Naqqad Nafsiyun (Kritikus Psikolog), at-Tahlil an-Nafsani (Analisis Psikologi), Nafsiyah Abi Nuwas (Psikologi Abi Nawas), an-Naqdu al-Syakli (Kritik Formalisme), an-Naqdu wa Usthurah (Kritik dan legenda), an-Naqd wa al-Muqaran (Kritik Perbandingan), Staurah al-Naqd (Revolusi Kritik), Uslubiyat (Stailistik), al-Bunyawiyah (Strukturalisme), al-Sardiyat (Naratologi), al-Simiyaiyat (Semiotika), at-Talaqqi wa al-ta'wil (resepsi dan interpretasi),  an-Naqd al-tsaqafi (Kritik Budaya), an-Naqdu an-Nasawi (kritik Feminisme). 

Kritik sastra di Timur Tengah (kritik sastra Arab), menurutnya terdapat perkembangan yang cukup siginifikan dibandingkan dengan pada masa-masa sebelumnya, hal tersebut dapat dilihat dari beberapa wacana kritik dari al-syekh al-Marshafi, Mikhail, Naimah, Al-Aqqad, Thaha Husain dan beberapa kritikus sastra Arab lainnya. 

Kritik sastra Arab berkembang, selaras dengan perkembangan bentuk karya sastra Arab terutama al-Riwayah (Novel). Menurut Ibrahim,  kran Kritik Sastra Arab mulai terbuka dengan arus kritik Barat, yang dimulai dari al-anjalu Amiriki (Anglo-Amerika), An-Naqdu al-Alsuni (Kritik Linguistik) dengan cabangnya seperti; Stailistik, strukturalisme, dan setelahnya seperti Dekonstruksi (at-Tafkik) dan lainnya. 

Kemudian bermunculan peneliti, kritikus, pengkaji karya sastra dengan menggunakan teori-teori barat, dan bermunculan pembaharuan atau mengupas at-Turast Balaghi (Kajian Ilmu Balangah) yang dibandingkan dengan pandangan-pandangan baru, "Walau terkadang beberapa teori Barat bila diterapkan dalam karya sastra Arab terjadi banyak  penyimpangan" ungkap Dr. Ibrahim Khalil.

Minggu, 26 April 2020

Buku Nahwu al-Makna

Buku "Nahwu al-Ma'na Baina al-Nahwi wa al-Balaghah, Uslub al-Taqdim wa al-Ta'khir Anmudzajan" yang dirajut Dr. Khulud al-Shaleh, setebal 730 sangat menarik untuk dilirik, bahkan tidak hanya dilirik tapi dipelototi. He.
Guru, dosen, muallim atau mentor Grammar (Qawaid Nahwiyah), "biasanya" mengajarkannya dengan gersang dan kering. Bukan tidak hebat, tapi saking hebatnya si guru, siswa yang diajar kebingungan dan tidak paham-paham. Mengapa? Karena ia mengajar grammer untuk grammer, bukan untuk memahamkan. Atau siswa dapat memahaminya, tapi setiap apa yang disampaikan tidak disertai dengan makna yang terselip di dalamnya. Hal Ini hasil riset kecil-kecilan di beberapa daerah lo, bukan ngarang.he. tapi tidak semua, hanya kebanyakan.wkwwk.

Buktinya?! Banyak yang menjauh dari bahasa tertentu gara-gara belajar grammar, dengan alasan bulet, sulit, menjenuhkan,   gersang, kering, dan alasan lainnya.  

Buku ini mencari formulasi cantik antara Nahwu (Grammar bahasa Arab) dengan Ilmu Balaghah (Retorika, Ilmu Keindahan Bahasa), serta mengungkap setiap posisi gramatikal atau leksikal dengan makna tertentu, seperti Taqdim (posisi di awal) dan Ta'khir (posisi diakhirkan). Kalau dalam bahasa Indonesia, sepertinya istilah ini tidak ditemukan. Misalnya, "Joko menangis" maka tidak benar bila dibalik menjadi "Menangis Joko" atau dengan bentuk yang berbeda "di dalam Masjid ada Joko" dan "Joko di dalam masjid". Dalam bahasa Arab hal ini biasa,  bahkan urusan taqdim dan ta'khir sangat melimpah.

Nahwu di sini tidak hanya menjadi sebuah grammer (tata bahasa) tetapi menjadi sebuah wacana yang dikaitkan dengan berbagai ilmu. Dalam kitab ini, dua hal yang sangat terkait, Al-Janib al-bunyawi dan al-Janib al-Dalali, mungkin dapat diistilahkan dengan semantik grammar 

Selengkapnya silakan baca buku ini.he. Ingin  saya ulas lebih panjang, nantinya takut melelahkan, kalau kelelahan gambang Covid-19 menyerang.he. Guyon.

#IbqaFilManzil

Buku Metode khusus Pembelajaran Bahasa Arab Prof. Mahmud Yunus

Siapa yang tidak mengenal Prof. H. Mahmud Yunus (Mahmoed Joenoes)? santri di pesantren, murid madrasah, mahasiswa perguruan tinggi Islam bisa dipastikan mengenal beliau, apalagi santri yang berada di pesantren antara tahun 1975 sampai 1999. 
Mengenal beliau lewat  karyanya yang fenomenal "Kamus Arabi-Indonesia", dan banyak orang menyebutnya dengan "Kamus Yunus", kamus hijau. Cetakan Hidakarya Agung Jakarta, entah apakah percetakan ini masih ada atau tidak. He. Kamus yang terdiri dari 510  halaman ini menjadi pegangan santri selain kamus Marbawi dan Al-Munawwir. Kamus Munawwir sangat tebal dan cukup mahal (ukuran santri di desa lo), kalau baca Munawwir maka harus ke perpus pesantren atau sekolah, dan kalau ingin membelinya harus menabung cukup lama.wkwwk. Mereka yang punya Kamus Munawwir di kamarnya, bisa dipastikan ramai dari santri.wkwwk.

Berbeda dengan Kamus Yunus sepuluh ribu sudah dapat kamus kecil ini dengan isi yang sangat lengkap. Kamus yang diselesaikan Prof. Yunus pada 6 Nofember 1972 ini sampai hari ini masih menjadi pegangan santri dan cukup bersaing dengan kamus-kamus pendatang baru.  

Prof. Yunus yang lahir di Sungayang Tanah Datar Minangkabau tahun 1899 tidak hanya menulis Kamus Yunus, puluhan buku hadir dari tangan kreatifnya, sekitar 75 karya. Di antara yang berada di rak saya, adalah buku Metodik Khusus Bahasa Arab (Bahasa Al-Qur'an), dan mungkin termasuk buku yang hadir pertama kali tentang metode pengajaran buku bahasa Arab yang berbahasa Indonesia. Buku ini adalah kumpulan dari diktat Prof. Yunus yang diajarkan kepada mahasiswa FK Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN Imam Bonjol Padang) dan juga menjadi buku pelajaran agama setingkat PGA di Sumatera Barat. Kemudian ada benerapa penambahan (direvisi) dan menjadi buku Ajar di banyak perguruan tinggi Indonesia. 

Dalam buku ini, beliau menjelaskan cara mengajarkan huruf al-Quran dengan 4 metode, metode AlifBaTa, Metode Suara, Metode Kata-Kata, dan Metode Kalimat. Beliau juga menjelaskan beberapa kaidah umum dalam pengajaran bahasa Arab, serta beberapa teori pengajaran. Beliau menyebutkan dua teori, Teori Kesatuan dan Teori Cabang-Cabang. 

Yang menarik, beliau sudah mengenalkan sastra dalam buku metode ini, pada pasal ke 10 tentang Dirasat Adabiyah (Kesusastraan), yang beberapa tahun terakhir penulis jarang mendapatkan buku metode pengajaran bahasa Arab yang juga menyentuh kesusastraan Arab.

Halimi Zuhdy
Malang, 26 April 2020