السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 14 Januari 2022

Benarkah Kata Isti’mar bermakna Penjajahan?

Halimi Zuhdy

Pagi-pagi ada pesan masuk ke WhatApp saya. Pesan tersebut berbunyi, “Bahasa Arabnya penjajahan, ada yang menerjemahkan dengan Isti’mar ( الاستعمار), Jika dicermati nampaknya kurang pas. Karena perdefinisi yang terjadi sebab penjajahan itu adalah pelemahan, penghancuran potensi wilayah jajahan”, Pesan tersebut dari Kyai Afif Hasan.  Saya jawab dengan sangat singkat “Injih Kyai, sepertimya kurang pas, yang lebih pas adalah ihtilal (احتلال). Dalam bahasa Arab muradif isti'mar jarang ditemukan, yang banyak adalah muradif ihtilal yaitu Tasalluth ajnabi, dan lainnya”.
Tayyib. Tulisan ini akan mengkaji kata Isti’mar dari segi bahasa dan istilah, dan dalam penggunaannya. Dalam beberapa Mu’jam (kamus) kata Isti’mar memiliki beberapa arti, di antaranya adalah “memakmurkan, mensejahterakan, menghidupkan” kata ini diambil dari ‘Amara (عمر), dan derivasi yang sama dengan kata Imarah (bangunan, gedung), ta’mir (memakmurkan), amir (raja, pemakmur), umr (umur), amara (menetap, menempati) dan beberapa kata lainnya. 

Dalam kamus Ma’ani, Isti'mar bermakna “menghidupkan tempat/tanah agar menjadi makmur dan sejahtera” (dalam istilah fiqih).

Selain memiliki makna seperti yang telah disebutkan di atas, dalam beberapa kamus Ma’ani kata Isti’mar bermakna; Satu bangsa menguasai bangsa lain baik dari aspek ideologi, ekonomi, kekuatan militer dan kebijakan publiknya, dan hal tersebut dilakukan sebagai klaim untuk memakmurkan negera yang dikuasai (mensejahterakan). 

Dan kata isti’mar juga diartikan sebagai, “penjajahan, kolonialisme, imperialisme, kolonisasi, pendudukan”. Dalam beberapa kamus Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab juga tidak jauh berbeda, yaitu penjajahan.

Bila merujuk pada makna asal dengan akar Amr(عمر), maka penggunaan istilah penjajah tidak tepat baik dalam Bahasa Arab dan juga terjemahan Bahasa Indonesia, tetapi bahasa (lughah) itu selalu berkembang dan berubah sesuai dengan situasi dan kondisi, seperti kata “sayyarah (سيارة)” yang bermakna musafir, kemudian diartikan dengan mobil, “mahmul” diartikan barang bawaan, kemudian diartikan dengan handphone, dan beberapa contoh lainnya.

Menarik apa yang katakan Nabil dalam Aljazeera, bahwa yang sudah menjadi kesalahan umum adalah penggunaan kata isti'mar (kolonialisme) untuk menunjukkan pengambilalihan musuh - terutama Eropa Barat selama abad ke-19 dan ke20 - di tanah Arab dan Islam kita dengan paksa selama periode hibernasi yang merupakan salah satu masa tergelap. Periode dalam sejarah kita. Padahal, kata isti'mar (الاستعمار, yang diartikan kolonialisme) memiliki konotasi linguistik yang sangat baik. Menurutnya, penggunaan kata isti'mar tidak tepat, benar adalah ihtilal (احتلال). 

Allahu'alam Bishawab

Kamis, 13 Januari 2022

Warna, Angka, Ilmu, Hidayah dalam Al-Qur'an

Terkadang ada yang bertanya; Ada beberapa warna yang termaktub dalam Al-Qur'an?. Ada berapa angka yang disebutkan Al-Qur'an?. Ada berapa hidayah dalam Al-Qur'an?. Ada berapa prilaku yang disifati dengan jamil (indah) oleh Al-Qur'an? Dan beberapa pertanyaan lainnya. Berikut saya nukilkan dari qaranfaa(الفوائد القرآنية. 

1. Warna yang terdapat dalam Al-Qur'an ada enam; putih (abyadh), hitam (aswad), hijau (akhdhar), merah (ahmar), biru (arzaq) dan kuning (ashfar). Nama-nama warna tersebut ada dalam ayat-ayat berikut (lihat gambar 1). 

2. Angka dalam terdapat dalam beberapa ayat, dari 1, 2, 3 -12, 19, 20, kemudian puluhan dari 10, 20 sampai 80, 99. Kemudian ratusan, ribuan, dan 1/10, 1/8, 1/6, 1/5/, 1/4, 1/3, 1/2, dan 2/3 (selengkapnya dapat dilihat pada gambar 2).
3. Macam-macam hidayah dalam Al-Qur'an; hidayah secara umum (ammah), hidayah menuju surga dan nerakah, hidayah sebagai isyarat atau keterangan, dan hidayah ilham (lihat gambar 3).
4. Macam-macam kata yang disifati dengan jamil (indah), atau perbuatan yang baik, seperti sabar, memaafkan...(lihat gambar 4). 
5. Bagaimana tingkat pemerolehan ilmu, cara mendapatkan ilmu? (Lihat gambar 5)
Penjelasannya dapat disimak dalam Youtube Lil Jamik, IG (Halimi Zuhdy), FB (Halimi Zujdy)

Sabtu, 08 Januari 2022

Gegara Membaca Hamdalah, Istighafar 30 Tahun

Halimi Zuhdy

Betapa menjaga hati tidak mudah. Tidak seperti menjaga tubuh (fisik). Menjaga diri agar tak tertusuk duri mungkin gampang, tinggal menghindar saja. Duri, batu, pedang, dan sejenisnya terlihat jelas. Tetapi detak dan bisikan hati, selalu tak terkedali, seperti namanya yang harus selalu ber-"hati-hati".
Hati selalu berbolak-balik. Dari baik ke buruk, atau sebaliknya. Belum lagi bisikan setan yang menjerat diri. Setan itu pintar. Seperti bagaimana ia membisik telinga wanita dan laki-laki. Keduanya dibuai agar dapat bercinta, berpacaran, dan selalu didekatkan. Keduanya tidak diberi waktu untuk melupakan. Agar jerat setan terlaksana sesuai dengan visi dan misinya, yaitu menjebak dan memasukkan dalam dunia kemaksiatan. Bila sudah terjadi perzinahan, sukseslah program dan tugasnya. Membuat mereka dekat (cinta) untuk maksiat.

Tapi, bagi laki dan perempuan yang sudah menikah tugas setan lain lagi  yaitu memisahkan, menceraikan, dan bahkan membuat berantakan. Setiap hari dicarikan cara bagaimana keduanya bertengkar, ribut, dan membisikkan untuk melakukan perselingkuhan dan lainnya, agar keduanya bercerai. Tugasnya adalah membuat berantakan istri.

Sebagaimana dalam satu hadis Nabi, ketika setan telah banyak melakukan godaan dan penyesatan (fa'altu kadza wa kadza), kemudian datang kepada Iblis, lalu iblis berkata, "Demi Allah, engkau belum melakukan apa-apa". Kemudian datang lagi tentara iblis yang menyampaikan laporan bahwa dia telah membuat pasangan suami-istri bercerai. "Saya tidak meninggalkan pasangan suami-istri kecuali telah aku pisahkan mereka," kata setan tersebut. Mendengar hal tersebut, iblis pun mengungkapkan, "Kau adalah sebaik-baiknya tentara (ni'ma anta)".
Bisikan setan sangat sulit diterka, sebagaimana bisikan hati yang menerima.

Menjaga hati sangat sulit. Seperti, seseorang yang menulis dan mengirimkan pesat untuk; shalat tahajut, dhuha, puasa dan lainnya, terkadang ada bisikan dari si penerima "Ah, ia riya' agar ketahuan bangun malam" atau barangkali dari si penulis sendiri terbersit "Agar orang-orang tahu, bahwa saya shalat malam". Hal ini, terkadang sulit dihindari, maka satu-satunya jalan adalah selalu beristighfar kepada Allah untuk menjaga hati dari segala bisikan yang merugikan amal ibadah. Selamat dari riya, sum'ah, sombong, ujub dan sifat-sifat buruk lainnya, dan diselamatkan dari segala godaan setan yang canggih.

Sari al-Saqati bercerita, ada seseorang yang sangat wara' memohon ampunan pada Allah, "Selamat tiga puluh tahun saya meminta pengampunan pada Allah (istighfar) gegara pernah saya mengucapkan: Alhamdulillah", Bagaimana itu bisa terjadi?  Dia berkata: "Ada kebakaran hebat di Baghdad, kemudian ada seseorang menemui saya dan bercerita bawah semuanya terbakar kecuali toko saya: hanya toko Anda yang selamat syekh!  Kemudian saya ucapkan: "Alhamdulillah" (Segala puji bagi Tuhan)! Seketika itu saya menyesali apa yang telah saya ucapkan, karena terbersit dalam hati saya, bahwa saya lebih baik dari mereka (orang-orang yang tertimpa kebakaran).  Al-Manawi: Fayd al-Qadeer 1/124. 

Detak dan bisikan syekh itu hanya dalam hatinya, tidak tidak terucap. Hanya karena mengucapkan Alhamdulillah. Kemudian ia beristighfar pada Allah 30 tahun lamanya. Ucapan yang keluar baik, tetapi membawa hati hampir terjerat bisikan tidak baik, apalagi ditambah bisikan setan. Sungguh betapa hati penuh rahasia. Menjaganya tidak mudah. Maka, selalu minta tolong kepada Allah, Allumma stabbit qalbi alandinika Ya Allah. 

Allahu'alam Bishawab

Malang, 8 Januari 2022

Kamis, 06 Januari 2022

Bila Allah Ingin Hambanya Menjadi Baik

Halimi Zuhdy

‏قال الفضيل بن عياض رحمه الله: 
"إذا أراد الله بعبد خيراً زهَّده في الدنيا، وفقَّهه في الدين، وبصَّره عيوبه" (عيون الأخبار / ابن قتيبة)

"Apabila Allah ingin hambanya menjadi orang baik, maka Allah zuhudkan ia pada dunia, diberikan pemahaman terhadap agama, dan diperlihatkan kekurangan-kekurangan/aib dirinya"

Menarik membaca perkataan Fudhail bin 'Iyad ini, satu sisi bagaimana seseorang menjaga dirinya dari gempuran dunia yang begitu menggoda, sehingga orang rela melakukan apa pun demi dunianya. Seakan-akan dunia adalah segalanya. Dan sisi yang lain, ia harus paham bagaimana hukum agama harus dilaksanakan, dari persoalan ibadah, muamalah dan lainnya, sehingga ia menjalankan kezuhudannya dengan baik. Dan pada sisi lainnya pula, ia dapat melihat cela, aib dan kekurangan dirinya, sehingga ia tidak merasa paling benar, sombong dan angkuh. Dari tiga hal ini, tampaklah bahwa ia menjadi hamba yang baik. 

Zuhud dalam dunianya, bukan kemudian membenci dunia dan tidak mau bekerja, tetapi ia tidak tergila-gila. Mencari harta tak pernah puas, yang bukan hanya semata-mata menjadi kebutuhannya, tetapi sudah pada taraf hedonisme akut. Sex menjadi pujaannya setiap hari, nonton film dan gambar porno untuk memuaskan nafsu birahi. Dan mengejar pangkat, sampai buta pada yang hak.

Agama tidak melarang seseorang mencari dunia bahkan menjadi kaya juga boleh, tetapi menjaga hati dan jiwa untuk tidak rakus pada dunia. Sehingga masuk pada jajaran orang-orang Jawwadhin. Karena rakus itu berbahaya, tidak hanya pada dirinya tetapi pada orang lain. 

Kehidupan dunia yang gemerlap, penuh pesona, dan dengan segala keindahannya akan menarik para peminatnya yaitu manusia. Tetapi manusia yang "memahami" dan diberikan "pemahaman" tentang agama (tentunya, juga dapat mengamalkannya) akan membantunya pada cara bagaimana menghadapi dunia dengan segala kebaikan dan keburukannya. 

Dunia dan agama selalu menjadi magnet setiap insan yang hidup dipermukaan, maka ia menjadi rebutan atau bahkan menjadi penentang. Rebutan untuk mempelajarinya dunia dan agama. Pengakuannya sebagai agamawan atau hartawan. atau sebaliknya. 

Kata Fudail bin Iyad "Bagaimana ia diperlihatkan keburukan/aib pada dirinya" sebagai bagian dari menjadi harta dan agamanya. Apabila seseorang sudah tidak pernah melihat aib darinya, atau dirinya merasa tidak pernah punya aib dan kekurangan, maka sifat Ja'dhari (sombong) akan menyelimutinya. Dan kesombongan tidak hanya dibenci manusia dan makhluk lainnya, tetapi Allah sangat membencinya.

إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِالَّليْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِـمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ اْلآخِرَةِ (حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ)

Allahu'alam bisshawab

Malang, 6 Januari 2022

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  FB *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Selasa, 04 Januari 2022

Husnudhan yang Indah dari Thalhah


Halimi Zuhdy

Cerita berikut termasuk salah satu kisah paling indah dalam Berhusnudhan (berprasangka baik). Cerita indah tentang Talhah bin Abdul Rahman bin Auf. Talhah adalah orang Quraisy yang paling dermawan di masanya. Suatu hari istrinya mengungkapkan unek-uneknya pada Thalhah tentang suadara-saudaranya yang datang padanya ketika suaminya dalam keadaan banyak harta, "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih buruk dari saudara-saudaramu wahai suamiku".

Thalhah sedikit heran dan menjawab: "Mengapa?" 
"Saya melihat dan memperhatikan mereka, jika kakanda dalam kondisi berada dan banyak harta, mereka akan bersikap baik dan selalu berada dekat Kanda, dan sebaliknya, bila Kanda dalam kondisi tidak punya harta, mereka akan meninggalkan Kanda"

Thalhah berkata sambil tersenyum: "Demi Allah, ini adalah salah satu kebaikan dan kemuliaan mereka, Mereka datang kepada kita ketika kita mampu menghormati mereka, dan meninggalkan kita ketika kita tidak mampu melakukannya". (Manqul Mintarikhina Al-Adhim)

Ungkapan yang sungguh indah. Sikap husnudhan akan terungkap dari orang yang punya hati lapang dan berfikiran positif. Sikap positif akan keluar dari orang-orang positif dan berfikiran maju. Belum tentu bentuk luar itu sama persis dengan yang berada di dalam atau sebaliknya. Lebih baik husnudhan salah, dari pada su'udhan benar. 

Seorang istri yang tidak kuat melihat kesabaran suaminya mungkin akan bertanya dengan pertanyaan yang sama, seperti kisah di atas. Atau mungkin sebaliknya, langsung menuduh suaminya yang tidak-tidak. Tetapi, seorang suami yang baik akan selalu meredam kegelisahan istrinya, ia memberikan sentuhan hikmah di balik sebuah peristiwa. Bahwa berprasangka itu tidak baik, walau toh benar-benar tidak baik, akan diberikan cerita yang baik. Apalagi berburuk sangka bukan kepentingan umat atau umum, bila untuk umum akan lain kagi ceritanya. 

Berhusnudhan. Akan membuat hati damai dan tenang. Dan meminimalisir terjadinya banyak fitnah dan sangka-sangka yang tidak baik lainnya. Apalagi hal itu adalah dhan (sangkaan), bukan sebuah kenyataan. Kenyataan pun dalam agama, juga tidak boleh disebarkan luaskan (yang menyangkut pribadi khususnya), maka akan masuk dalam dosa ghibah. Apalagi hal tersebut tidak benar, maka masuk dalam dosa fitnah.

Apa salahnya Thalhah yang menganggap saudara adalah karim (mulia), walau istrinya menganggap mereka jahat (Asyaddu lu'man)?. Dan Thalhah telah mengajarkan kebaikan kepada istrinya dan kepada orang-orang setelahnya dengan kisah di atas.

قالت:           أراهم إذا اغتنيت لزِموك،وإذا افتقرت تركوك
  قال طلحة: هذا والله من كرم أخلاقهم
  يأتوننا في حال قدرتنا على إكرامهم،ويتركوننا في حال العجز عن ذلك.

Malang, 3 Januari 2022

Jumat, 31 Desember 2021

Tahun Baru Untuk Apa?



Halimi Zuhdy

"Yang paling dekat adalah kematian, yang paling jauh adalah masa lalu". Demikian kata Imam Al-Ghazali. Walau kematian sangat dekat, tetapi ia paling banyak dilupakan oleh manusia, seakan-akan ia masih jauh dan jauh. "Karena hidup bukan untuk mati, tetapi mati untuk hidup", demikian kata beberapa teman, dan katanya lagi  "Jangan sia-siakan hidup dengan menyesali setiap perbuatan apa pun, buatlah hidup itu happy and happy". 
Hidup bukan hanya persoalan bertahan hidup, tetapi bagaimana mengisi hidup. Banyak manusia yang hidup dari tahun ke tahun, dan sampai pada tahun baru berikutnya, entah apa yang kemudian berubah dari silih bergantinya ia dari tahun ke tahun?, termasuk yang menulis ini. 

Setiap awal tahun ia rayakan, bukan ia tangisi. Jelas-jelas umur sudah berkurang, masih saja tersenyum, bertambah umurnya, bertambah dekat dengan kematian. Maka Ibnu Mas'ud sangat menyesali hidupnya setiap matahari tenggelam.

ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.
-
“Tiada yang ku sesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”

Tahun demi tahun berganti. Dalam satu tahun menempuh 365 hari, entah lebih banyak tidurnya, ibadahnya, atau main-mainnya?, yang tahu adalah diri sendiri. Tinggal mengevaluasi diri. Seandainya tidur 8 jam dalam sehari semalam, maka tinggal menghitung berapa tahun ia tidur dalam hidupnya?. 
Sebaimana yang diriwayatkan leh Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda “Orang yang berakal dan dapatmengendalikannya, seharusnya memiliki
empat waktu: pertama, waktu untukbermunajat kepada Allah; Waktu untukmengintrospeksi diri; ketiga waktu untukmemikirkan ciptaan Allah; keempat waktuuntuk memenuhi kebutuhan jasmani dariminuman dan makanan.”

Tahun baru untuk apa?. Untuk memperbaiki diri. Apa yang akan diperbaiki?. Apakah sudah punya agenda besar pada tahun baru terkait dengan perbaikan ibadah, pertaubatan diri, kreatifitas diri, pengembangan diri, dan lainnya?!. Atau hanyalah sebuah tahun yang akan lewat, sebagaimana tahun tahun yang lalu? Kalau hidup hanya sibuk dengan hal yang tidak "penting" di sanalah kerugian terbesar, sebagaimana Sabda Rasulullah sallawahu alaihi wasallam

  عَلَامَةُ إِعْرَاضِ اللهِ تَعَالَى عَنِ العَبْدِ اِشْتِغَالُهُ بِمَا لَايَعْنِيْهِ، وَإِنْ امْرِإٍ ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ عُمُرِهِ فِي غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ العِبَادَةِ، لَجَدِيْرٌ أَنْ تَطُوْلَ عَلَيْهِ حَسْرَتُهُ. وَمَنْ جَاوَزَ الأَرْبَعِيْنَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ عَلَى شَرِّهِ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ

 "Tanda berpalingnya Allah dari hamba-Nya adalah dia (hamba) disibukkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat dan sesungguhnya orang yang telah kehilangan sesuatu dari umurnya untuk selain ibadah, tentu sangat layak baginya kerugian yang panjang. Barang siapa umurnya telah melebihi 40 tahun sementara amal kebaikannya tidak melebihi amal keburukannya maka bersiap-siaplah masuk neraka."

Tahun baru untuk apa?, Apakah hanya untuk dijalani saja, seperti tahun-tahun sebelumnya?. 
Mudah-mudahan bergantinya tahun, berganti pula keinginan untuk menjadi baik dan menjadi lebih dari sebelumnya. 

2021 menuju 2022.

******
Muhasabah Akhir dan Awal Tahun (Khutbah Masjid Sabillah Malang). Munajad Akhir Tahun (Masjid Ramadhan Araya Malang).

Minggu, 26 Desember 2021

Univeritas Tertua di Dunia

Universitas Oxford menerbitkan peta universitas tertua di dunia:

 1- Universitas Al-Zaituna di Tunisia (737 M)
 2- Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko (859 M)
 3_ Al-Azhar Al-Sharif di Mesir (972 M)
 4_ Universitas Bologna di Italia (1088 M)
 5- Universitas Oxford (1096 M)

Tiga univeritas tertua berada di Arab

Manqul Min Tarkhina Al-Adhim

Dalam peta berikut terdapat beberapa universitas lainnya dengan tahun berdirinya

Jumat, 24 Desember 2021

Keunikan dan Keistimewaan Bahasa Arab

Halimi Zuhdy

Bahasa Arab terpilih menjadi bahasa wahyu (Al-Qur'an), dan bahasa Arab akan terus bertahan (ada di muka bumi) selama Al-Qur'an masih ada. Bagaimana dengan pembelajarannya? ia juga akan terus berubah, sama seperti bahasa yang lain. Sedangkan ketahanannya sudah terbukti. 

Bahasa Arab adalah bahasa tertua di muka bumi dan sampai hari ini masih terlihat segar bugar, ada perbedaan di kalangan peneliti  tentang usia bahasa ini; tetapi tidak kita ragukan bahwa bahasa Arab yang kita gunakan saat ini sudah hidup selama lebih dari seribu enam ratus tahun (1600). 
Bahasa Arab sebagai bahasa tertua dengan berbagai keistimewaannya dari aspek strukturnya, morfologi, tata bahasa, kesusastraan, serta imajinasinya, di samping kemampuan bahasa Arab dalam mengungkapkan berbagai aspek kehidupan. Dan bahasa ini juga menjadi induk (ibu) dari berbagai bahasa, diwakili oleh Himyarite (الحميرية), Babilonia, Ibrani, Aram, Abyssinian, atau bahasa Semit, yang berasal dari putra-putra Nabi Nuh, saw : Sem, Ham, dan Yafet. 

Bahasa Arab telah mampu mengakomodasi berbagai peradaban; Arab, Persia, Yunani, dan India, dan yang sezaman dengannya pada waktu itu, dan menjadikannya satu peradaban, watak global, visi humanistik, untuk pertama kalinya dalam sejarah. 

Bahasa Arab dicirikan oleh kemampuannya untuk beradaptasi dan berkreasi dalam berbagai ilmu pengetahuan: seperti teknik, aljabar, kedokteran, seni, dan eksperimen ilmiah, di samping kreativitas yang telah dicapai di bidang sastra dan kepenulisan, di mana banyak sarjana telah mampu menulis beberapa buku dalam seni yang berbeda, dan di antara contoh yang paling menonjol dari gaya ini adalah buku ulama Yaman Ismail bin Abi Bakr bin Al-Muqri.

Keistimewaan lainnya; bahasa Arab digunakan lebih dari 422 juta orang. Tidak berubaha selama 14 Abad. Menjadi bahasa ke 5 yang paling banyak digunakan di dunia. Bahasa resmi dari 22 negara di dunia. Satu-satunya bahasa di dunia yang mempunyai huruf dhat (ض), maka bahasa ini dikenal dengan bahasa Dhat. Jumlah kata terbanyak di dunia, yaitu 12.302. 912. Memiliki 16 ribu akar kata (dibandingkan dengan bahasa lainnya, 700 akar kata (جذر لفوي). Dan banyak bahasa yang menggunakan huruf Arab seperti; bahasa Kurdi, Melayu, Pegon Jawa, Persia, Turki kuno dan lainnya. 

*******
Seminar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Pondok Pesantren Annuqayah dengan tema "Tajdid Ta'lim al-Lughah Al-Arabiyah min Khilali Al-Jaihah" dalam rangka ihtifal Al-Yaum Al-Alai Lil Lighah Al-Arabiyah

Syukran lakum Ya Al-Ma'had Al-Ariq

Cc ustadz ghali Sudarmin Hamzah

Sabtu, 18 Desember 2021

Qasidah Muktamar NU 34 dan Hari Bahasa Arab Sedunia

Halimi Zuhdy

Hari ini tanggal 18 Desember 2021 bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia. Hari dimana syiar bahasa Arab digaungkan dengan tujuan untuk mencerna dan meningkatkan kesadaran sejarah bahasa Arab, budayanya, serta menilik perkembangannya dalam konteks kekinian.

UNESCO mengungkapkan bahwa tema Hari Bahasa Arab Sedunia tahun ini adalah "Bahasa Arab dan Komunikasi Beradaban, Al-Lughah al-Arabiyah wa al-Tawashul Al-Hadary", tema ini dianggap sebagai panggilan untuk menegaskan kembali peran penting bahasa Arab dalam membangun jembatan komunikasi antar manusia dalam bidang budaya, ilmu pengetahuan, sastra dan bebagai bidang lainnya.
Selanjutnya dalam laman Raje, UNESCO mengatakan bahwa tujuan mengangkat tema ini adalah untuk melihat peran historis bahasa Arab sebagai media dalam penciptaan dan transmisi pengetahuan, dan juga sebagai sarana untuk mempromosikan dialog (lil irtiqa’ bil l-hiwar) dan meletakkan dasar bagi perdamaian (irsa’ asas al-salam). Selama berabad-abad, bahasa Arab telah menjadi pilar dan penghubung bersama yang mewujudkan kekayaan keberadaan manusia dan menyediakan akses ke banyak sumber daya.

Tema tahun 2021 sangat penting dalam masyarakat di mana globalisasi (al-aulamah), digitalisasi (raqmanah) dan multibahasa (al-ta’ddudiyah al-alughwiyah) sedang meningkat, karena mengakui sifat dunia yang selalu berubah dan melihat kebutuhan mendesak untuk mempromosikan dan menguatkan dialog antara bangsa dan masyarakat.

Sementara itu, Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, dalam web resminya mengatakan “Bahasa Arab adalah penghubung antar budaya, tidak dibatasi oleh batas ruang dan waktu, dan bahasa Arab benar-benar mewujudkan keragaman. UNESCO berencana, pada Hari Sedunia ini, Merayakan peran akademi bahasa Arab dan berdiri di atas dimensinya. Peran akademi ini tidak terbatas pada melestarikan, memperkaya dan meningkatkan bahasa Arab, tetapi juga membantu memantau penggunaannya dalam mentransmisikan informasi yang akurat dalam konteks peristiwa global terkini (dalam Raij).

Dan yang menarik adalah Qasidah Muktamar NU ke-34 menggunakan bahasa Arab yang digubah oleh Kyai Karismatik dari Jawa Timur, KH Afifuddin Muhajir. Dalam lirik-liriknya sesuai dengan tema besar Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Provinsi Lampung, pada 22-24 Desember 2021 mendatang yaitu “Menuju Satu Abad NU: Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia”.

Apa hubungan Hari Bahasa Arab Sedunia, Qasidah Muktamar, dan Tema yang diangkat dalam Muktamar kali ini?. Hubungannya adalah bertemakan perdamaian dunia, membangun kemandirian, kekuatan muslimin, dan komunikasi beradaban. Dan lirik qasidah yang digunakan dalam Muktamar kali ini adalah bagian dari syiar bahasa Arab, menggaungkan, mengokohkan, dan menguatkan keberadaan bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu umat di dunia, khususnya umat Islam. Serta menguak kembali sejarah keberadaan bahasa Arab di pesantren-pesantren NU dengan kitab kuningnya, yang sudah sangat erat dan melekat “pesantren ya bahasa Arab”.

Beberapa hari ini Qasidah Muktamar NU bergema di berbagai media, seakan-akan mengisyaratkan untuk menguak kembali sejarah bahasa Arab di pesantren-pesantren NU, dengan kasidah-kasidah yang didendangkan santri siang dan malam, dengan berbagai macam lagunya. Syiar bahasa Arab tidak hanya akan digaungkan di Muktamar NU ke 34, tetapi setiap kegiatan NU lirik-lirik berbahasa Arab digemakan, seperti lirik Ya Lal Wathan. 
Tayyib. Qasidah (qoshidah) adalah bagian atau jenis puisi (syi’r) dalam kesusastraan Arab. Kata Qasidah berasal dari kata (derivasi) Qa-Shi-Da yang bermakna tujuan, maksud atau niat. Kata qasidah dengan syair, ada yang menganggapnya sama, tetapi syair (puisi) lebih umum dari pada qasidah.

Qasidah adalah sejumlah bait yang memiliki judul tertentu; di mana bait-bait qasidah tersebut berbicara tentang topik terpadu (satu tema) dan terbatas satu persoalan, berbeda dengan syair (puisi) lebih umum daripada qasidah. Qasidah mencakup dua jenis: puisi Amudi dan puisi hurr (bebas), berbeda dengan syair. Namun kini, kedua hal tersebut dianggap sama, walau istilahnya berbeda. Berbeda lagi istilah Qasidah, syair dan puisi dalam bahasa Indonesia yang memiliki definisi sendiri.

 Qasidah yang rajut KH. Afifuddin Muhajir terdiri dari 10 bait. Puisi ini berjenis syair Amudi atau Tafilat, yaitu puisi yang terikat dengan wazan (wazan) dan qafiyah (sajak). Istilah wazan dalam Ilm ‘Arudh sangat erat kaitannya dengan al-Bait . Bait adalah kalimat yang sempurna yang terdiri dari beberapa bagian dan diakhiri dengan qafiyah. Bait-bait syair atau qasidah yang ditulis KH. Muhajir adalah sebagai berikut;

الحمد لله مربي العالمين * وصلاته أبدا على النور الأمين
والآل والصحب الكرام الطاهرين * والتابعين لهم بخير أجمعين
فضل من الله على هذي البلاد * سكانها جلا فكانوا مسلمين
أسعد بهم أيمن بهم في دولة * قويت وذبت مفعمة بالناهضين
يا نهضة العلماء أنت وسيلة * يوصل بها لرضاء أرحم راحمين
تأسيسها تم على أيدي الكرام * علمائنا فقهائنا والعارفين
فلهاشم بن أشعري هو شيخنا * قام بها ويعينه عون المعين
رحم امرأ الله جل جلاله * يخدم بإخلاص لها والعاملين
وسيجتمع علماؤها زعماؤها * في مؤتمر وسيبحثن بعد حين
والله نرجو أن يجمع شملنا * مع منة بقيادة الرأس الأمين

Dalam kajian Ilmu Arudh dapat dialasii dari bait-bait, dari Hasyw, Dharb (Taf’ilat terakhir dari Ajz), Ajz, an Arudhd (taf’lat terakhir dari shadr). Adapun Qafiyah pada Qasidah ini adalah qasiyah nuniyah, maka qasidah ini bisa disebut dengan Qasidah Nuniyah KH. Afifuddin Muhajir.
 
 Qasidah yang pada bait pertama adalah berisi pujian kepada Allah swt dan shalawat keapda Rasulullah yang menjadi ciri khas qasidah-qasidah atau nadam dalam kitab-kitab pesantren. Pada bait kedua adalah hamparan doa untuk keluarga Nabi (ali), para sahabat Nabi dan para tabiin. Bait ketiga  dan keempat adalah rasa syukur kepada Allah atas hadiah indah untuk negeri Indonesia, adalah penduduknya mayoritas Islam (pengantar perdamaian), tidak hanya penduduknya yang mayoritas Muslim tetapi negara ini adalah negara yang kuat yang didukung penuh oleh sebagai organisasi yang membela keutuhan negeri ini dan kedamaian yaitu Nahdiyin. 

Pada bait yang kelima adalah ungkapan kerendahan hati, bahwa NU adalah sebagai wasilah di antara wasilah yang lainnya, yang dapat mengantarkan penduduk negeri Indonesia mendapatkan Ridha dan kasih sayang Allah. Pada bait keenam, ketujuh dan kedelapan sebuah narasi indah tentang siapakah pendirinya, dan siapa para nakhoda NU sampai menjadi organisasi yang kokoh dan hebat, mereka adalah orang-orang yang ikhlas, berilmu tinggi, beramal shalih dan Arifbillah, yang didirikan oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari (rahimahullah).

Pada kesembilan dan kesepuluh adalah inti dari qasidah ini, yaitu NU akan berkumpul untuk melaksanakan Muktamar dengan tujuan untuk mencari solusi indah atas problematik yang dihadapi umat dunia, dan tujuan berikutnya adalah mencari sosok pemimpin yang dapat membawa umat pada kebaikan dan sosok pemimpin ini yang memiliki sifat amanah dengan doa yang terpanjat diakhiri qasidah ini, “Duhai Allah, kumpulkan kami dalam keagungan anugerah. Dengan kepemimpinan dari (para) pemimpin yang terpercaya”.

Pesan Hari bahasa Arab Sedunia 2021 “Bahasa Arab dan Komunikasi Beradaban”, Tema Muktamar ke 34 “Menuju Satu Abad NU: Membangun Kemandirian Warga untuk Perdamaian Dunia” dan Qasidah “Nuniyah KH. Afifuddin Muhajir” adalah bagaimana umat santun dan cerdas dalam berbahasa, berkomunikasi yang baik, membangun kekuatan umat dengan mempererat silaturahim. Dan belajar dari bait-bait qasidah yaitu walau kata-kata berbeda dengan rajutan huruf yang berwazan dan berqafiyah, maka akan memberikan kesan dan pesan yang indah.

Allahu’alam Bishawab.

Minggu, 12 Desember 2021

Asal Kata Jurnal

Halimi Zuhdy

Jurnal berasal dari bahasa Prancis, yang awalnya adalah berarti surat kabar harian dalam bahasa Prancis. Surat kabar ini diyakini menyebar luas setelah adanya gagasan membuat sebuah "majalah sastra", majalan atau surat yang ketika itu sangat sederhana sekali yang disebarkan pada pemilik toko kecil, guru, pekerja dan karyawan. (Syria.new) 
Journal berawal dari surat kabar “la journal ” yang dipopulerkan oleh seorang jurnalis Prancis "Fernand Zwa" pada tanggal 28 September 1892, menjadi surat kabar populer pertama di Prancis. Majalah ini diterbitkan dari tahun 1892 hingga 1944 dalam format empat halaman kecil.

Zhao terus berkreasi dengan surat kabar ini hingga tahun 1899. Kemudian dibeli dan dioperasikan oleh Henri Letelier dan merupakan salah satu surat kabar Prancis yang paling banyak beredar ketika itu. 

Kemudian jurnal, yang makna awalnya adalah hari dari kata jour (prancis), journal (buku harian), berkembang dengan berbagai makna, baik dalam bahasa Inggris dan bahasa di dunia, terutama pada abad ke 18. Sedangkan Jurnal dalam KBBI memiliki lima arti, yaitu; catatan harian, surat kabar harian, buku yang dipakai sebagai buku perantara antara buku harian dan buku besar, buku yang dipakai untuk mencatat transaksi berdasarkan urutan waktu dan  majalah yang khusus memuat artikel dalam satu bidang ilmu tertentu.
Jurnal dalam bahasa Arab ditulis dengan جورنال, yang bermakna jaridah (surat kabar), daftrul ustadz (daftar harian guru), shahifah (surat kabar, buletin), mudzakkirah (catatan) dan lainnya. Sedangkan dalam bahasa Inggris tidak jauh berbeda; magazine, journal, periodical, post, review dan lainnya.

Bagaimana dengan jurnal ilmiah? 
Lanjut dalam nadwah ya.wkwkw

Maraji'; Al-Miqatel, Syria.new, Ma'ani, al-Marufah

Rabu, 08 Desember 2021

Perbedaan Munajat, Doa, Istighasah dan Isti’anah


Halimi Zuhdy

Meminta, memohon, berharap kepada Allah dalam bahasa Arab menggunakan banyak istilah, di antaranya adalah munajat, doa, istighasah, isti’anah dan beberapa istilah lainnya. Tetapi, ada beberapa orang menganggap beberapa istilah di atas memiliki arti yang sama, dan hanya dianggap perbedaan istilah saja. Dan bukan hanya istilah di atas yang terkadang dianggap sama, tetapi istilah yang akrab sekali dengan kita, juga juga dianggap memiliki dan maksud yang sama seperti kata hidayah, Taufiq, ridha dan maunah. Kata ini berbeda dan maksudnya juga berbeda, taufiq dan hidayah tidak sama, demikian juga dengan ridha dan maunah. 
Munajat dalam KBBI diartikan dengan doa sepenuh hati kepada Tuhan untuk mengharapkan keridaan, ampunan, bantuan, hidayat, dan sebagainya. Ada pula yang mengartikan munajat sebagai salah satu bentuk doa selain wirid, dzikir dan tawassul. Munajad dalam bahasa Arab dari Naaja Yunaji (ناجى يناجى) yang bermakna membisikkan rahasia, menceritakan rahasia, atau membisikan isi hati kepadanya (sarahu bima fi fuadihi). Maka, Munajad adalah doa yang dilantunkan dengan pelan-pelan dan penuh rahasia kepada Tuhan. Dalam Mufradat al-Qur'an karya Raghib Al-Isfahani, Munajad adalah merahasiakan doanya dari orang sekitarnya dan berada di tempat yang tinggi. 

Doa adalah permohonan (thalab) seorang hamba kepada Allah agar dikabulkan hajadnya, sedangkan Munajad bukan permohonan tetapi pembicaraan rahasia (mukhatobah) pada Allah dengan penuh rendah hati (khudu'), apa yang ada dalam hati, penuh kelembutan hati. 

الدعاء هو السؤال والطلب من الله ليقضي الحاجات، أما المناجاة فهي ليست طلبًا، بل مخاطبة الله تعالى، والحديث إليه بكل الخضوع، وبكل ما في قلبك.

Menurut Dr. Ibrahim doa adalah jenis dari Ibadah dari berbagai macam ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan Munajad adalah percakapan rahasia, ungkapan rahasia yang dihaturkan pada Allah karena hati yang lagi galau, pikiran sumpek, dan yang ada dalam pikirannya adalah hanyalah Allah yang Maha Kuasa, Maha segalanya. 

الدعاء: هو نوع من أنواع العبادات التي يتقرب بها العبد إلى الله تعالى .والمناجاة: هي مخاطبة الله سرا ومناداة الله تعالى لعسر وهم وضيق أصاب العبد وتبقى  في نفسه لا أحد يعلم بها سوى الله تعالى.

Istighasah dalam kamus Al-Ma'ani adalah permohonan seseorang agar terbebas dari kesulitan atau memohon agar terbebas dari bencana. Istighasah berasal dari kata al-Ghaus yang bermakna permohonan, bantuan, pertolongan, dan pembebasan. Penambahan huruf alif dan sin yang berpola istif'al, istighfar, isti'ana adalah li thalab sebuah permohonan. Maka, istighasah adalah permohonan kepada Allah agar dijauhkan dari segala bencana, kerusakan, kesulitan, dan permohonan lainnya.  

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ

Artinya: "(Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan permohonanmu."

Selanjutnya dapat di baca di www.halimizuhdy. com

Selasa, 23 November 2021

MENCERAMAHI DIRI

Halimi Zuhdy

Ketika hadis Nabi menguap dari mulut ini, semisal,“Empat perkara yang jika dianugerahkan kepada seseorang, maka sungguh ia telah dianugerahi kebaikan dunia dan akhirat, yaitu lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, tubuh yang sabar atas cobaan dan istri salehah yang tidak berkeinginan mengkhianati suaminya baik terhadap dirinya maupun harta suaminya.” Begitu Sabda Nabi Muhammad (HR. Tirmidzi). .
Sungguh tak terasa tangisan menderai dari pelupuk mata, dan mengaca diri. Pantaskan tubuh yang bergelimang dosa ini berteriak-teriak, bersemangat, seakan-akan sudah benar-benar melakukan hadis itu. Betapa sulitnya derai kata, berdekap langkah tubuh. Berucap dan melakukan. .
.
"Berdzikirlah...!!", diungkap dengan lembut, menyapa jamaah, tapi kelu rasanya lisan tuk berdzikir, apalagi basah dengan lafal Allah, butuh lautan tuk ditelan, agar mulut benar-benar basah. Mulut jarang berucap, hati kering, pikiran yang jauh dari namaNya.

"Bersyukurlah...!", tapi tubuh ini sering terlelap, panggilan malam pun tak dihirau, sering mengeluh, ibadah sering terlambat, mulut jarang syukur. Bersyukur, seperti kata pemanis hidup, tapi hati dan pikiran hampa. 

Mengajak "Bersabarlah... "!!!. tapi panggang jauh dari api. Diberi cobaan sedikit, mengeluh seribu kata. Diberi cobaan lebih, mau bunuh diri. Bagaimana dengan para jamaah, jika tahu diri penuh amarah. Untunglah masih pakai songkok, menutupi segala borok pikiran,  menggunakan sorban, menutupi segala aib, dan Allahlah yang menyembunyikan. Jika diungkap, serupa luka penuh ulat. Ya Allah, betapa Engkau Maha penutup aib. Allahumma ustur aurotana, Ya Allah.

Berceramah, seperti mengetuk telinga sendiri, menggendor hati sendiri, dan menusukkan dalam pikiran untuk berbuat seperti yang diucapkan. Mengingatkan diri. Agar tidak menjadi "kaburo maqtan 'indallahi antaqulu mala taf'alun".

Maka, para penceremah, da'i,  sering menutup kalamnya dengan, Ya Allah berikanlah taufiq dan petunjuk pada kami. Karena, apa yang dikata sering kali tidak sampai pada diri sendiri, bahkan semakin menjauhkan dari petunjuk, walau dia memberi jalan petunjuk pada orang lain.
-----

Minggu, 07 November 2021

Indahnya Bersama di Surga

Halimi Zuhdy

"Gak usah ngomong surga mas!". kata kawan yang berada di sebelah kanan saya. Wajahnya agak masam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. 

Sepanjang perjalanan menuju Jogja, kami berbincang tentang indahnya hidup. Bukan keruwetan hidup. Kami memposisikan bunga mawar yang merona, bukan duri-duri yang mengitari mawar itu. Duri bagi orang yang optimis, adalah keindahan menuju keindahan lainnya. "Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya," kata Khalil Gibran.
Optimis dalam menjalani hidup adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mengharap angin untuk datang membawa sampan menuju dermaga, semakin kencang anginnya semakin bahagia. Bagi yang pesimis selalu berharap angin berhenti, bahkan berharap untuk tidak datang. Bukankan angin akan selalu datang dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menjadikan angin sebagai keberkahan atau sebagai musibah.

Hidup yang indah itu bila dilalui dengan rasa syukur. Apapun kondisi dan keadaannya. Keindahan bukan karena menjadi kaya atau miskin. Kebahagiaan bukan karena punya jabatan atau tidak punya jabatan. Keindahan itu bukan karena banyaknya sanjungan atau minim sanjungan. Keindahan itu bukan banyaknya subscribe atau sedikitnya.  Kesenangan itu bila menjalani kehidupan dengan fitrah. Oh ia, bukan berbagai masalah atau problem yang membuat orang itu bersedih, tetapi karena ia tidak mampu mencari hikmah dari masalah itu. Orang bahagia bukan orang yang tidak punya masalah, tetapi ia mampu mengolah masalah menjadi musik kehidupannya.

Tayyib. Judul di atas adalah Indahnya Bersama di Surga. Lah, itu bagian dari kebahagiaan. Kebersamaan itu membuat orang senang dan bahagia. Seindah apa pun tempat yang kita huni, tetapi hanya seorang diri, maka ada yang kurang, kebahagiaan. Seindah apa pun perjalanan yang kita lalui, tetapi sendirian, juga ada yang kurang, kesenangan. Seperti berwisata, tetapi ia hanya sendirian, tanpa anak atau istri, tanpa teman atau saudara. Berwisata dalam sunyi. Apakah ada tawa?.

Mengapa kita disuruh untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka, "Qu Anfusakum wa Ahlikum Nara!" Agar kita selamat dari neraka, bersama menuju surga. Bersama keluarga, kerabat, tetangga dan saudara. Reuni di surga. 

"Ah, sok tahu surga kamu mas!", teman di sebelah nyeletuk lagi. 

"Saya belum tahu surga, tetapi boleh kan optimis masuk surga dengan berbagai macam keindahannya, dan boleh kan berharap masuk bersama-sama, tidak sendirian. Tidak egois. Orang egois itu, ia berbuat baik dan kebaikan hanya untuk dirinya. Asalkan dirinya bahagia dalam ibadah, atau bahagia dalam menjalani hidupnya, selesai. Ke masjid sendirian, shalat sendirian,  ajak anak-anak juga menuju tempat yang sama, kan indah", kok jadi ceramah. Maaf ya gues.wkwwk.

Surga, baik surga yang bermakna taman di muka bumi. Atau surga yang berada di akhirat. Kebersamaan adalah bagian dari keindahan di dalamnya. Indahnya hidup, bila hidup dalam kebersamaan. Al-barakah fil jamaah.

******
Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  FB *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Jumat, 05 November 2021

Selamat HUT yang ke-60 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Halimi Zuhdy

“Rangking Dunia tidak penting! yang penting itu, mahasiswa setelah lulus dari universitas dapat memberi manfaat dan dapat bekerja” celetuk seorang dosen senior. 

“Inggih, leres” jawab saya. Saya lanjutkan dengan kalimat, “Pangapunten Doktor, Ilmu bermanfaat itu harapan kita semua, dan doa kita semua, tetapi rangking 1 Dunia adalah cita-cita semua universitas, di antaranya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang”. 

“Waduh, kejauhan Mas, masak bisa rangking 1 Dunia, wong di Asia saja masih kalah sama China, Jepang dan Thailand”, sanggahnya. 
“Injih, harapan kan harus selalu tinggi, takdir terkadang berjalan dengan harapan-harapan, doa adalah harapan tertinggi, visi dan misi Universitas adalah bagian dari harapan, apalagi kita mengajar dan bekerja terbaik untuk UIN Malang adalah harapan yang paling nyata untuk memajukan UIN Malang”, saya sambal senyum-senyum walau tidak tahu, apa yang baru saja saya sampaikan. Hanya sebuah ungkapan guru kecil yang meniru gaya pimpinan universitas ketika menyampaikan visi dan misi universitas.wkwkw.

Bukankah gunung tertinggi dunia, Everes, sudah pernah ditaklukkan pada tahun 1953 oleh Edmund Hllary dan Tenzing?. Siapa sangka, manusia yang bukan batu, bisa menaiki bebatuan yang menjulang tinggi. Bukankah sebelumnya mereka sudah berlatih mendaki bukit-bukit dan gunung-gunung kecil? Bukankah gunung tertinggi adalah susunan dari  kerikil-kerikil, bukankah gedung pencakar langit adalah pasir-pasir yang menyatu?. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia, asalkan masih ada optimisme dan ikhtiar terbaik, fatawakkal ‘alallah. Apalagi UIN Malang, sudah memliki roadmap yang begitu indah, tersusun rapi, dan jelas. Kini, ulang tahun ke 60 memasuki fase Tawassul al-Tamayyuz wa al-sum’ah al-Alamiyah (unggul dan beriputasi Internasional), dan sebuah cita-cita yang luar biasa. 

Tidak ada sesuatu yang hebat dengan bin salabin dabra kadabra. Semuanya butuh proses. Universitas harvard butuh puluhan tahun untuk menjadi hebat. Universitas tertua di Amerika ini didirikan pada tanggal 8 September 1636. Universitas Oxford (Inggris) menduduki peringkat pertama pada ranking universitas terbaik di dunia, ini pun umurnya sangat tua, berdiri pada tahun 1096.

Universitas Cambridge berdiri tahun 1209, berada di rangking 10 terbaik dunia. Universitas ini berdiri sudah beberapa abad, bukan tahun kemarin. Demikian juga dengan universitas ketiga tertua di Amerika, Universitas Yale, didirikan tiga abad yang lalu, tahun 1701. Dari universitas ini bermunculan penerima Penghargaan Nobel. Belum lagi universitas yang sangat bergengsi di dunia, terutama di Timur Tengah, yaitu Universitas Al-Azhar Mesir, yang berdiri pada tahun 970 M yang berbula dari sebuah masjid. Perjalanan yang cukup panjang, dengan segala lika-likunya.

Ada juga universitas baru kemudian melejit begitu cepat (ukuran rangking dunia) yaitu universitas NTU, didirikan pada tahun 1991, menjadi universitas terbaik di Asia. demikian juga dengan  Hong Kong Universitas Sains dan Teknologi (HKUST) adalah salah satu universitas top termuda di Asia yang didirikan pada tahun 1991. Bagaimana dengan National University of Singapore (NUS)? NUS didirikan pada 1905 dengan nama King Edward VII College of Medicine, juga menjadi kampus terbaik di ASIA. 

Butuh waktu untuk berlari. Mulai merangkak, berdiri, berjalan, kemudian berlari. Berlari bukan hanya berlari, tetapi berlari dengan pasti. Berlari tidak hanya mengejar bayangan, tetapi berlari mengejar sebuah kepastian. Walau ada sesuatu kepastian yang tidak pasti, tetapi di sinalah kekuatan untuk menemukan cahaya. 

Hadis Nabi yang berbunyi, “Khairunnas An-fa’uhum Linnas, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberikan manfaat kepada orang lain”. Manusia terbaik adalah manusia yang memberi manfaat, sekecil apa pun, karena keberadaannya benar-benar nyata. Matahari sangat bermanfaat bagi alam, bukan karena apa yang ia miliki (bara api yang begitu besar), tetapi cahaya yang telah diberikannya. Kehebatan seseorang atau sebuah lembaga, bukan apa yang mereka miliki (sanjung), tetapi apa yang telah mereka berikan. Ada orang hebat (alim), tetapi tidak berbagi ilmunya (atau tidak mengamalkannya), maka kealimannya hanyalah sebuah nama, tidak dirasakan manfaatnya. 

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di HUT ke 60 ini, dalam perjalanan panjangnya sudah banyak mengukir sejarah yang luar biasa. Sudah banyak alumni yang menebar cahaya di kampung-kampung kecil, di pelosok desa, di pojok kampung. Mereka tanpa nama, tanpa penghargaan. Mereka berkhidmat untuk umat. Ada pula yang bergerak di pemerintahan, organisasi keagamaan berbagai bidang lainnya. 

Capaian demi capaian, prestasi demi prestasi bukan untuk prestasi, tetapi untuk memancarkan kemanfaatan lebih luas. 

SELAMAT HUT KE 60 UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG.  Pesan dan kunci pada dekade ini "Unggul dan Bereputasi Internasional" yang sering disampaikan oleh Rektor UIN Malang, Prof Muhammad Zainuddin

Jumat, 08 Oktober 2021

Asal Usul Penamaan Bulan Rabi’ul Awwal

Halimi Zuhdy

Rabi’ul Awwal, nama bulan ketiga Hijriyah ini tidak terlalu popular di Indonesia. Masih kalah masyhur dengan Bulan Maulid. Bulan, di mana manusia agung lahir ke muka bumi, Muhammad bin Abdullah. Apakah penamaan bulan Rabiul Awwal bermula dari kelahiran Nabi Muhammad saw, atau sudah ada sebelumnya, atau ada peristiwa penting sehingga nama itu disebut dengan Rabiul Awwal?, atau hanyalah nama sesuai dengan musim di mana bulan ini berada, Rabi'?.
Rabiul Awwal. Rabi' memiliki banyak arti di antaranya adalah semi, yang menunjuk pada sebuah musim di mana tumbuhan-tumbuhan mulai mekar Kembali dan bunga-bunga mulai berkembang.  Awwal, bermakna pertama. Rabiul Awwal, bulan semi pertama. Karena setelah bulan ini ada bulan semi kedua yang disebut dengan Rabi'us Tsani. Tetapi, kata awwal (pertama) dan kedua bukan sebagai kata sifat dari Rabi’, tetapi dari Syahr (bulan).

Dalam Al-Ma'rifah nama Rabiul Awwal ini disematkan oleh buyut kelima Nabi Muhammad, Kilab bin Murrah pada tahun 412 M, jauh sebelum Nabi dilahirkan. Nama ini sudah sangat akrab di telinga orang-orang Arab, sehingga keindahan, kebahagiaan, dan berbagai kesenangan dan kesuksesan sering menggunakan kata ini, Rabi'. Seperti, Akala Rabi’, Zahratur Rabi’ dan lainnya.

Banyak riwayat yang menceritakan tentang asal muasal penamaan nama Rabi'ul Awwal ini, sebagaimana dalam Al-Ma'rifah, yaitu lirtiba' Annas wa dawab fihi (manusia dan hewan pada menunggu dan berharap datang bulan ini). Bulan ini dulunya disebut dengan musim gugur (kharif) dan orang-orang Arab menyebutnya musim semi (Rabi'), dan Rabi' disebut dengan Shaif (musim panas), dan Shaif disebut dengan  Qaidh (musim panas). Ada pula yang berpendapat, bahwa orang-orang Arab membagi musim dingin (Syita') menjadi dua bagian, bagian pertama dengan Rabi’ al-Ma' (mata air) dan Amthar (hujan), dan yang kedua adalah Rabiun Nabat (musim tumbuhan). Masyarakat Arab mengenal dua Rabi', Rabiul Syuhur dan Rabiul Azminah. Rabi' yang pertama menunjuk pada musim semi awal dan kedua, sedangkan Rabi' yang kedua merujuk pada beberapa musim lainnya, seperti musim gugur (kharif).

Ada pula yang berpendapat, asal usul dinamakan Rabi' Awwal, karena pada bulan ini orang-orang Arab memanen (menikmati) hasil rampokannya yang dilakukan pada bulan sebelumnya, shafar. Tetapi, ada pula pendapat bahwa Bulan Rabi' adalah bulan yang banyak menelan korban peperangan (kematian yang melimpah) karena peperangan antar kabilah pada bulan sebelumnya sedang berlangsung sengit dan kematian demi kematian banyak terjadi di bulan ini, Rabiul Awwal. 

Ada pula yang menyebutkan Bulan Rabiul Awwal dengan Rabiul Anwar. Karena di dalamnya terbit cahaya terang, nur Muhammad, cahaya ketuhanan yang menerangi semesta, demikian kata Dr. Ali Jum’ah dalam Elbalad. Dan di beberapa negeri Arab pada bulan Rabiul Awwal diadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad setiap hari. Demikian juga dengan Indonesia, perayaan kelahiran Nabi Muhammad dirayakan diberbagai tempat, dan sepanjang bulan Rabiul Awwal, walau nama bulan ini lebih akrab adalah bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi Muhammad (merujuk pada tempat atau waktu).

Peristiwa penting pada bulan ini adalah kelahiran manusia agung, teladan umat, utusan Allah, Nabi Muhammad, tetapi ada perbedaan dalam menentukan hari antara 8, 10, dan 12 Rabiul Awwal. Namun, para sejarawan menegaskan bahwa kelahiran Nabi Muhamamd terjadi pada hari Senin, 9 Rabi' al-Awwal tahun 53 SM, bertepatan dengan 20 April 571 M (Tahun Gajah).

Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Anwar. Maulid.
Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad

Malang - 1 Rabi’ul Awwal 1443 H.

Keutamaan Anjing Terpelajar

Halimi Zuhdy

Anjing!!!. Ungkapan yang sangat tidak enak didengar, bahkan muncul amarah membara ketika seseorang mendengar kata anjing yang ditujukan padanya dengan nada tinggi. Mengapa? Karena persepsi jelek tentang anjing sangat dalam menghujam dirinya.
Berbeda dengan hewan-hewan lainnya, ketika jenis hewan ini disebut dengan nada tinggi, ia tidak banyak memengaruhi psikisnya, ia  tanggapi sebagai guyonan belaka, Buaya!!!..Macan!!!..Kucing!!!

Masih tentang hewan yang lidahnya menjulur dan menggonggong, anjing. Ada salah satu anjing yang bernama Qitmir dimasukkan ke sorga, karena ia bersama orang-orang shaleh. Ia menjaga majikannya, melindunginya, dan setia menemaninya. Demikian dalam cerita Ashab al-Kahfi. Kata Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Surat Al-Kahfi; 
كلبٌ أحب قوماً فذكره الله معهم ! فكيف بنا وعندنا عقد الإيمان وكلمة الإسلام وحب النبي صلى الله عليه وسلم .

Anjing yang mencintai Ashab AlKahf, Allah monumenkan namanya bersama mereka, bagaimana dengan kita yang mempunyai ikatan iman, Islam dan cinta pada Nabi?. Ibnu Athiah juga menyatakan hal yang sama, "Sesungguhnya orang yang mencintai orang shaleh (ahl khair), ia akan mendapatkan keberkahannya, seperti anjing yang disebutkan dalam Al-Qur'an, karena anjing tersebut menemani Ashabul Kahfi.  

Dan yang menarik dalam Fawaid Al-Qurthubi, ia menggambarkan sebuah Ayat yang berbicara tentang anjing yang terpelajar dalam Surat Al-Maidah, Ayat 4. 

(یَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَاۤ أُحِلَّ لَهُمۡۖ قُلۡ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّیِّبَـٰتُ وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ مُكَلِّبِینَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ ٱللَّهُۖ فَكُلُوا۟ مِمَّاۤ أَمۡسَكۡنَ عَلَیۡكُمۡ وَٱذۡكُرُوا۟ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَیۡهِۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِیعُ ٱلۡحِسَابِ)

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu,dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Jawarih (جوارح/binatang) dalam Ayat di atas seperti anjing (kilab), burung elang (shuqur) dan  macan kumbang (fuhud). Dan Mukallibin (مكلبين/pelatih) adalah yang melatih anjing atau hewan lainnya untuk berburu. Maka, hukum memakan hasil buruan anjing yang tidak terlatih (tidak terpelajar) tidak diperbolehkan (tidak halal), yaitu anjing yang belum siap menjadi anjing pemburu, atau anjing yang masih belum mahir dalam berburu hewan. Berbeda dengan anjing yang sudah terlatih menjadi pemburu, maka hasil dari tangkapannya diperbolehkan untuk dimakan (halal).

Imam Al-Qurthubi menanggapi Ayat, "Ayat ini sebagai bukti, bahwa orang berilmu memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang bodoh (jahil), anjing yang terlatih memiliki keistimewaan (fadilah) dibandingkan dengan semua anjing yang ada. Demikian juga manusia yang berilmu, mereka lebih utama (awla),  dari pada mereka yang tidak pernah belajar (bodoh), apalagi mereka yang alim (terpelajar) dapat mengamalkan ilmunya.

وفي هذه الآية دليل على أن العالم له من الفضيلة ما ليس للجاهل; لأن الكلب إذا علم يكون له فضيلة على سائر الكلاب ، فالإنسان إذا كان له علم أولى أن يكون له فضل على سائر الناس ، لا سيما إذا عمل بما علم

Sesuatu yang dipelajari oleh seseorang dengan sungguh-sungguh, kemudian ia menjadi ahli di bidangnya, maka ia akan mendapatkan keistimewaan dari kebanyakan orang yang tidak  memiliki keahlian sepertinya.

******
Gambar diambil dari Al-Insan Kalbu (Manusia Anjing) walaraby.co. uk

Rabu, 06 Oktober 2021

Menikah itu Memahami Tanda



Halimi Zuhdy

Menikah itu bukan hanya urusan sek. Bersenang-senang apalagi hanya bertujuan untuk memuaskan birahi. Menikah itu bertujuan mendekatkan diri kepadaNya, bersama. Menguatkan ibadah. Menyempurnakan agama. Mengikuti sunnah. Mendapatkan keturunan. Penyenang hati dalam beribadah (qurratu'ayun). Memperoleh ketenangan (sakinah). Membangun generasi beriman. Untuk mendapatkan itu, seorang pasangan butuh pemahaman terhadap tanda-tanda (ayat) pada masing-masing pasangan.
Memahami pasangan adalah sesuatu yang sangat penting. Bukan dengan jalan pacaran puluhan tahun, tetapi endingnya saling membenci. Dan terkadang (bahkan tidak sedikit) dengan pacaran bukan memahami calon tetapi menjauhkannya. Menikah adalah cara paling tepat untuk saling memahami. Memahami kewajiban dan hak sebagai suami atau sebagai istri. Memahami karakter. Memahami perbedaan. Dan memahami banyak hal. 

Dalam Ayat yang biasa dibaca oleh qari' atau penceramah dalam pernikahan adalah "Wamin Ayathi", bagaimana tanda-tanda itu tidak hanya dibaca saja, tetapi tanda-tanda itu benar-benar dipahami. 

Dari hari pertama pernikahan keduanya. seorang suami membaca tanda-tanda (ayat) istri, demikian juga seorang istri membaca suami. Membaca tanda-tanda, perilaku, karakter dan seluruh kehidupannya dibaca. Kesenangan sang suami selalu diingat oleh istri, demikian sebaliknya. Sesuatu yang dibenci istri, suami selalu neteni, tidak mengulangi perilaku yang membuatkan sedih, benci apalagi marah. Demikian pula seorang istri pada suami.

Untuk bisa menulis buku, seorang penulis harus paham tanda baca seperti titik, koma, tanda seru, tanda tanya, dan tanda-tanda lainnya, bila tidak dipahami dengan baik, maka tulisan itu tidak akan terbaca dengan baik dan benar. Demikian dalam pernikahan. "Min anfusikum azwaja" memahami sisi keduanya sebagai basyariah (manusia sebagai basyar) dan insaniyah (sebagain insan). 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219904786399242&id=1508880804

Allah dalam banyak Ayat memberikan jalan kepada manusia untuk mempermudah bagaimana mana cara memahami tanda-tanda dan menuntun pada pemahaman tanda-tanda itu, baik sebagai suami dan sebagai istri. Maka, dalam Al-Qur'an ada manhiat (larangan) yang tidak boleh dilakukan suami pada, demikian juga ada awamir (perintah) yang harus ditunaikan dan jalankan oleh seorang suami, misalnya. Seperti Hak-hak istri dalam Al-Qur'an. 

Ada 7 larangan dalam Al-Qur'an yang tidak boleh dilakukan suami pada seorang istri

1. Janganlah kamu keluarkan mereka!
2. maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya!
3. dan janganlah kamu menyusahkan mereka
4. Dan janganlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat
5. maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit pun darinya.
6. karena itu janganlah kamu terlalu cenderung
7. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya

7 Perintah dalam Al-Quran

1. Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi)
2. berikanlah maskawinnya kepada mereka
3. Perlakukan mereka dengan baik
4. maka tahanlah mereka dengan cara yang baik
5. ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula)
6. Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal
7. Berikan mereka nafkah

Menikah tidak butuh gelar akademik, tidak butuh status sosial, tidak butuh jabatan dan menikah tidak butuh ketenaran. Menikah hanya butuh untuk saling memahami tanda pada masing-masing keduanya, dan selalu memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan jalan terbaik menujuNya.

Dan memahami tanda-tanda itu untuk mencapai tujuan dalam sebuah pernikahan. Dengan memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami atau istri. Bila keduanya selalu belajar memahami tanda pada diri keduanya, maka akan tercipta sakinah (ketentraman), mawaddah (kasih sayang) dan rahmah (rahmat).

Kamis, 30 September 2021

Apakah Arti Adil dalam dua Ayat tentang Poligami?

Halimi Zuhdy

Saya sering ditanya bapak-bapak yang ingin menikah lagi, dan ibu-ibu yang tidak ingin dimadu. "Pak, apakah bisa adil dalam poligami?"

"Ya bisa adil, dan juga tidak bisa adil, tapi saya bukan penganut poligami lo?!" tawa saya pecah, khawatir kedengaran istri saya. 

"Maksudnya bagaimana,  bisa adil dan tidak bisa adil?" Tanyanya lagi. 
"Begini, dalam al-Qur'an ada dua Ayat, yang satunya tidak mungkin adil, dan satunya mungkin.

(وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُوا۟ فِی ٱلۡیَتَـٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَاۤءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُوا۟ فَوَ ٰ⁠حِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۚ ذَ ٰ⁠لِكَ أَدۡنَىٰۤ أَلَّا تَعُولُوا۟)

[Surat An-Nisa' 3]

 ini yang mungkin seseorang dapat berlaku adil, "..jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.." tetapi ada ayat lain yang tidak mungkin seseorang dapat berlaku adil, seperti dalam ayat; 

 (وَلَن تَسۡتَطِیعُوۤا۟ أَن تَعۡدِلُوا۟ بَیۡنَ ٱلنِّسَاۤءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ فَلَا تَمِیلُوا۟ كُلَّ ٱلۡمَیۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ وَإِن تُصۡلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)
[Surat An-Nisa' 129]

"..Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.." 

"Apakah Ayat di atas bertentangan?" Sanggahnya. 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219890097832037&id=1508880804

"Tidak, ada beberapa tafsir yang menjelaskan. Seseorang tidak mungkin berlaku adil dalam urusan cinta, rasa, dan kecendrungan hati(al-misawah fil mahbbah). Tetapi, mungkin dapat berlaku adil dalam perlakuan syariat (al-huquq al-Syariah)".  Sambil saya tertawa kecil, takut didengar istri. "Dalam urusan cinta, tidak mungkin berlaku adil, bagaimana dapat berlaku adil, tatapan matamu dan kedipannya bisa lebih panjang pada yang muda". Sambil tangan saya mencolek dengkulnya.  

Sebelum saya pamit pulang, saya taukidkan "Maaf ya, kalau saya sendiri sudah angkat tangan. Karena orang menikah lebih dari satu itu bukan hanya urusan kemauan, tetapi dia harus mampu berlaku adil dalam memberikan nafakah lahir dan batin, dan juga harus benar-benar mampu menata hati, tidak cukup sholeh tapi musleh, tidak cukup kaya tapi harus berbudaya, tidak cukup kuat tetapi harus taat, dan lainnya". 

"Sudah ya,..saya pamit dulu.." Saya agak tergesa-gesa, karena takut ditanya lebih jauh lagi, karena saya merasa lastu ahlan 'anhu, saya bukan ahlinya.

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab dan Turast dapat dibaca di:

📲FB: Halimi zuhdy
💌IG: Halimizuhdy3011
🎞️Youtube: Lil Jamik
🌍Web: halimizuhdy.com
🦜 Twitter: Halimi Zuhdy

Minggu, 26 September 2021

Kesamaan Nabi Yusuf dan Nabi Musa dalam Al-Qur'an

Halimi Zuhdy

Kisah pada akhirnya menggiring pembaca pada pesan yang ingin disampaikan, baik kisah fiktif atau nyata. Kisah yang baik bila ia membawa pesan yang jelas, memiliki konflik, menarik, logis dan dipersatukan dalam struktur dramatik. Al-Qur'an bukan kitab kisah, walau di dalamnya terdapat beberapa kisah yang menarik dengan bahasa sastrawi. Pesan keimanan, ketauhidan, kesalehan, kesabaran, keteguhan dan beberapa pesan lainnya.

Dalam Al-Qur'an terdapat banyak kisah, ada kisah para Nabi, kisah tukang kebun dan berbagai kisah yang diceritakan Al-Qur'an. Kisah-kisah dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran tentang bagaimana mengarungi hidup di muka bumi. Seperti kesombongan Fir'aun dan Namrud, pengakuan dirinya sebagai Tuhan, kedoliman pada kaumnya, akan membawa murka Tuhan pada mereka. Kekuasaan tidak membuat kekal, bahkan ia terjungkal dikala manusia menjadikannya kekal.

Demikian pula ibrah dari kisah kebaikan-kebaikan yang termaktub dalam Al-Qur'an dapat diambil pelajarannya, seperti kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa, kesabaran dan keimanan mereka membawa pada kemenangan dan kebahagiaan. 

Dua Nabi yang memiliki kemiripan kisah, digambarkan sangat indah dalam Al-Qur'an dengan kata-kata baligh (nyastra), yaitu kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa. 

Nama Yusuf berasal dari Bahasa Ibrani yang bermakna "Allah menghadiahkan,  mengabulkan, melipatgandakan kebaikan, pemberian", namanya termaktub dalam Al-Qur'an sebanyak 24 kali. Sedangkan nama Nabi Musa dalam Al-Sotor, bermakna anak laki-laki, yang diselamatkan (almunqadz), nama Musa juga berasal dari Bahasa Ibrani, yaitu terdiri dari dua kata Mu (مو) dan Sya (شا). Mu bermakna air, dan Sya adalah pohon. Karena keberadaan Musa kecil di air yang berada di antara dua pohon. 

Kemiripan kisah Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS;
 
 1- Kisah keduanya berawal dari mimpi, mimpi Yusuf tentang bintang-bintang, isyarat kemuliaan dan kejayaannya. Sedangkan Musa adalah isyarat mimpi Fir'aun akan kehancurannya, dan kejayaan Musa. 

 2- Keduanya menghilang, Yusuf hilang dari Ayahnya, Ya'qub. Musa hilang dari ibunya, Yukhabat.

 3- Yusuf dan Musa sama-sama dilemparkan (القاء). Yusuf dilemparkan ke dalam sumur (jub), Musa ke dalam air (yam). Perbedaanya, Nabi Yusuf dilemparkan saudara-saudaranya dengan penuh kebencian, sedangkan Nabi Musa dilemparkan (dengan kata yang sama, redaksi yang berbeda dalam Al-Qur'an) dengan penuh kelembutan. Yang satu lemparkan karena hawa nafsu, yang satunya karena perintah Tuhan.

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّ yeوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

 4- Ketika Yusuf dan Musa menghilang dari rumahnya, orang tua keduanya sama-sama bersedih.
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا

يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ

5. Keduanya sama-sama ditolong. Yusuf ditolong oleh kafilah pedagang yang lewat di sumur, kemudian dijual. Sedangkan Musa ditolong ditemukan oleh dayang-dayang istana. 

 6- Keduanya tinggal di istana yang megah, Yusuf dibeli istri seorang menteri di Istana, Zulaikha. Dan Musa diminta oleh Istri Fir'aun untuk dipelihara. Keduanya, sama-sama seorang istri dari penghuni kerajaan besar. 

7. Saudaranya sama-sama berperan, satu berperan jahat, satunya berbuat baik. Saudara-saudara Yusuf yang memasukkan ke sumur. Berbeda dengan saudari Musa yang membantu dan menolongnya.

8. Istri dari kedua istana sama-sama berperan, satunya berperan sebagai pemberi rasa aman, yaitu Istri Fir'aun, memberi rasa aman kepada Musa. Sedangkan istri perdana mentri memberi rasa galau pada Yusuf.

9. Orang tuanya sama-sama bahagia ketika bertemu dengan keduanya. Ketika ibu Musa mendapatkan Musa selamat dalam gelombang air sungai dan ia bertemu di istana sebagai seseorang yang menyusui. Dan Ayah Yusuf, mendapatkan baju Yusuf yang dibawa saudaranya dari Istana.
﴿ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ ﴾:
﴿ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ﴾ .

Tangan yang dulu melepaskan Musa di sungai dengan penuh kelembutan, berakhir dengan perseteruan antara dirinya dan sang pemilik istana. Tangan yang dulu melepaskan dengan kebencian, yaitu tangan-tangan saudara Yusuf, pada akhirnya ia berdekatan dengan pemilik istana, bahkan ia menjadi raja. 

Referensi📚
Al-Qur'an
Rabith Al-Aukah
Rabith Al-Madinah al-Ikhbariyah

Jumat, 17 September 2021

Menilik Munculnya Istilah Ma'had, Ribath, Ma'had Aly, Ma'had Al-Jami'ah.

Apakah sama dengan Pesantren?

Halimi Zuhdy

Dulu, kita hanya mengenal istilah pondok dan pesantren, atau digabung menjadi pondok pesantren. Istilah ini sangat masyhur di Nusantara, terutama di Jawa, Madura, dan Sunda. Sedangkan di daerah lain, seperti Minangkabau dikenal dengan istilah surau. Kata surau di beberapa daerah, mirip mushalla (tempat salat). Di Aceh, pesantren dikenal dengan istilah dayah. Atau mungkin masih ada istilah lain di beberapa daerah, alfaqir belum tahu, soalnya belum pernah diajak jalan-jalan ke berbagai belahan Indonesia.wkwkw

Istilah pondok, menurut beberapa pendapat berasal dari bahasa Arab, yaitu funduq, tempat menginap, bermalam, atau berteduh. Tetapi, funduq sekarang lebih dikenal dengan istilah hotel, lebih keren kan?. Atau mungkin, dengan istilah funduq, dulu santri yang mondok berada di tempat yang berkelas. Kelas di sini bukan kelengkapan fasilitasnya, tetapi kebahagiannya, bahagia bermalam dengan teman dan bersamai dengan kyai, mengaji dan mengabdi. He. 

Istilah pesantren sudah sangat akrab dengan Indonesia. Sedangkan akar kata atau asal dari kata pesantren, terdapat  beberapa perbedaan. Ada yang berpendapat bahwa kata pesantren dari kata santri, dan kata santri berasal dari Cantrik. Dan seterusnya. Intinya orang yang belajar agama, berguru pada syekh/kyai/ustadz dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir istilah pesantren, diterjemahkan dengan beragam kata, ada yang mengunakan Ma'had, Ribath, Boarding School, Sakan, dan beberapa istilah lainnya. Istilah itu pun berkembang, ada istilah Ma'had Aly, Ma'had Al-Jamiah, dan mungkin ma'had-ma'had lainnya. Belum lagi dengan istilah Boarding School, istilah ini keren agak ke barat-baratan sih.wkwwk.

Dulu, pesantren ya pesantren. Kemudian muncul pesantren modern, sehingga bagi yang tidak sepakat dengan istilah modern (karena beberapa hal), maka menggunakan istilah pesantren Salaf, walau pada awalnya pesantren ya pesantren salaf. Kemudian muncul pesantren semi, semi salaf dan semi pesantren (tidak salaf, ya tidak modern).

Kemudian. Entah kapan, masuknya istilah Ribath di Indonesia yang kemudian dianggap sama dengan pesantren. Demikian juga dengan istilah Ma'had. Karena kata Ribath lebih dekat dengan istilah markas tentara (al-makan alladzi yurabithu al-jaisy), atau juga tempat yang diwaqafkan untuk fakir miskin. Kalau dalam istilah fiqih adalah tempat untuk menghalau musuh diperbatasan kota atau negara. Atau juga diartikan sebagai tempat orang-orang sufi (beribadah) dan bermiditasi (taammul).

Bagaimana dengan Ma'had?. Ma'had adalah istilah umum yang digunakan untuk sebuah tempat atau lembaga, seperti perguruan tinggi, institut, badan dan beberapa makna lainnya. Kalau pengertian di wikipedia berbahasa Arab, adalah organisasi permanen yang didirikan untuk tujuan tertentu, seperti lembaga penelitian, dan lembaga kursus, kampus, dan lainnya. 
منظمة دائمة التي أنشئت لغرض معين

Maka, pesantren dengan ciri khasnya, ya pesantren. Berbeda dengan ma'had dan ribath, kecuali keduanya dianggap terjemahan dari pesantren, itu pun masih belum unik dibandingkan pesantren di Indonesia. Apakah ribadh dan ma'had adalah pesantren seperti di Indonesia? Ini perlu mengundang ahlinya.wkwkw.

Bagaimana dengan istilah Ma'had Al-Aly apakah akan diterjemahkan dengan Pesantren Tinggi? Bagaimana juga dengan Ma'had Al-Jamiah, apakah diterjemahkan dengan pesantren kampus? Ah, istilah tidak penting, yang penting actionnya.he.
Belum lagi istilah Boarding!?.he  

Allahu'alam Bishawab

******

Jumat, 10 September 2021

Sejarah Penamaan Bulan Shafar


(Membaca Asal Kata Safar)

Halimi Zuhdy

Kita sering mendengar kata zero dalam bahasa Inggris, dan kata shifer dalam bahasa Arab, keduanya bermakna nol dalam bahasa Indonesia. 

Kata zero dalam bahasa  Inggris diambil dari bahasa Prancis "zéro", dan kata ini berasal dari bahasa Venetian (bahasa Roman, Italia) dan sepadan dengan kata “cypher” yang berasal dari bahasa Italia yaitu "zefiro". Nah, asal kata zefiro  ini adalah dari bahasa Arab 'shifer' (صفر). Kata zero pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1598 (lihat, Maudhu', Aslh Lughah). Maka, kata Safar (juga Zero) secara umum bermakna Nol (kosong, farigh). 


Bulan Shafar adalah nama bulan kedua dalam kalender Hijriah (Qamariyah), setelah bulan Muharam. Terdapat banyak pendapat terkait dengan sejarah penamaan “Shafar” demikian juga dengan asal muasalnya (derivasi). Dalam Al-Yaum yang mengutip dari Mu’jam Musthalahat wa Alqab al-Tarikhiyah bahwa kata ini berasal dari “Asfarat Dar” orang-orang Arab keluar rumah untuk berperang, sehingga rumah-rumah mereka menjadi sepi tanpa penghuni. 

Juga dari Al-Yaum, menukil dari Kitab Alfu Ma’lumat an al-Lughah al-Arabiyah wa Adabiha, bahwa orang Arab meninggalkan kota Makkah sehingga kota tersebut menjadi kosong. Sedangkan dalam Al-Bilad, orang-orang Arab meninggalkan kampungnya untuk berperang (yaharib) ada juga yang berpendapat mereka meninggalkan kampung halaman pada bulan Shafar karena mencari makanan dan menghindari panasnya musim shaif (panas). 

Pada masa Jahiliah bulan safar bernama Najir (arti, panas), di mana pada bulan tersebut cuaca yang sangat panas dan unta-untuk begitu banyak minum air. Orang Arab dulu mempercayai bahwa bulan Shafar adalah bulan penuh petaka, maka bulan ini dikenal dengan bulan pesimistis (tasyaum), bulan mendatangkan sial, malapetaka, musibah dan mendatangkan banyak penyakit. Mungkin dari kayakinan inilah banyak orang yang menganggap bulan ini penuh musibah, atau bulan sial. Sehingga tidak jarang orang-orang Arab dan di luar Arab, tidak banyak yang melaksanakan pernikahan dan lainnya. 

Dari beberapa pendapat di atas, Bulan Shafar secara bahasa lebih condong pada makna kosong (shifr, nol, zero), bukan pada arti shafar yang bermakna menguning. Kuning karena berbagai penyakit yang menimpa seseorang, sehingga banyak yang beranggapan bahwa bulan Safar adalah bulan penyakit.

Beberapa peristiwa terjadi pada Bulan Safar, yaitu; terjadinya perang Abwa’, terjadinya Ar-Raj’, pernikahan Nabi dengan Khadijah al-Kubra, Nabi Muhammad menikahkan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, dan beberapa peristiwa lainnya.

Allahu'alam Bishawab

Malang, 3 Safar 1443 H.

Sabtu, 04 September 2021

Mengungkap Rahasia di Balik NUN

(Melirik Nama-Nama Besar Seputar Huruf Nun)

Halimi Zuhdy

Siapakah An-Nun?, pikiran kita akan tertuju pada tiga nama besar, Dzun Nun (dalam Surat Al-Anbiya'), Nun awal Surat Al-Qalam, dan Dzun Nun Al-Misri. Siapakah mereka dan mengapa dijuluki dengan Nun?. 

Dzun Nun adalah laqab (julukan) yang disematkan Al-Qur'an pada Nabi Yunus, nama ini terdapat dalam surat Al-Anbiya', Ayat 87. Nabi Yunus dengan kisahnya yang berada di atas perahu yang terombang ambing oleh hempasan angin. Kapal yang kelebihan muatan, dan untuk mengurangi muatan kapal, undian pun menjadi jalan terakhhir, nama siapa yang keluar, ia harus melompat ke laut.

Tiga kali diundi, nama yang keluar sama, Nabi Yunus. Maka sang Nabi ini pun dipaksa melompat ke laut, kemudian al-haut (ikan paus) menelannya. Ikan paus inilah yang juga dikenal dengan  "An-Nun". 

Nabi Yunus dijuluki dengan Dzun Nun, pemilik ikan paus, karena dia pernah ditelannya (iltaqama) cukup lama berada di dalamnya, dan setelah beberapa lama dimuntahkan kembali. Ikan tersebut membawa Nabi Yunus ke dasar laut, berhari-hari ia berada di dalamnya (40 hari, menurut Ibnu Katsir). Intensitas dengan ikan yang cukup lama, dengan pertaubatan Nabi Yunus pada Allah di dalamnya, keakraban inilah yang mungkin membawanya pada julukan tersebut. Dzun Nun. 

***
Selain Dzun Nun yang disematkan pada Nabi Yunus. Dalam Al-Qur'an terdapat kata "Nun", yaitu pada awal surat Al-Qalam, surat ke  68. 

 نۤۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا یَسۡطُرُون

"Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan"
Nun, ulama berbeda pendapat dalam memahami dan memberikan arti kata ini. Dalam Almerja, Nun adalah nama surat Al-Qur'an seperti nama-nama surat lainnya, Shad, Ha Mim, Ya Sin, Alif Lam Mim dan huruf lainnya yang serupa. Ada pula yang berpendapat Nun adalah Ikan paus yang berada di muka bumi (lautan) demikian menurut Ibnu Abbas, Muqatil dan Mujahid. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berpendapat bahwa Huruf Nun adalah di salah satu huruf Al-Rahman.

Menurut Al-Dahak, Qatadah dan Al-Hasan, Nun dalam Surat Al-Qalam adalah Dawat (tempat tinta). Sedangkan  dalam riwayat lain, ia adalah papan yang terbuat dari cahaya. Nun adalah sungai di surga, kemudian Allah berkata pada sungai tersebut "Kun Midadan", jadilah tinta. Kemudian sungai itu membeku, warnanya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu (syahd), kemudian Allah perintahkan pada al-Qalam, "Uktub, tulislah", kemudian pena itu menulis apa yang ada dan yang wujud sampai pada hari kiamat, demikian kata Abi Ja'far.  

Pula, ia dikatakan sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, Nun, Ikan Paus sebagai tanda-tanda kuasa Allah yang diciptakan dari air, tetapi bila ia telah berpisah dengan air, ia tidak akan bertahan hidup. Sebagaimana hewan darat, yang bila kemasukan air (tenggelam), ia juga akan mati.

Dan dari Ayat ini, inspirasi berdirinya Pondok Pesantren Darun Nun yang berada di daerah Malang Indonesia. Nun dengan berbagai rahasianya, dan Nun dengan berbagai falsafahnya, dan Nun sebagai rupa tempat tinta (ن) untuk menuliskan kebaikan-kebaikanNya.

***
Nun berikutnya, adalah Dzun Nun Al-Misri. Ulama yang sangat masyhur. Namanya sampai hari ini masih termaktub dalam kalbu umat Islam. Ia ditulis apik dalam sejarah sufi. Nama lengkap beliau adalah Thawbān b. Ibrāhīm al-Miṣrī, yang juga dikenal dengan Abu Fayd. Tokoh sufi abad ke 9.  Secara harfiyah, Dzun Nun, pemilik ikan paus, sahabat ikan paus, atau penguasa ikan paus. Atau pula pemilik huruf Nun.  Beliau dikenal sebagai seorang sufi yang memperkenalkan tentang Al-Ma'rifah secara sistematis (ilmiy munadzdham). 

Tentang julukan Dzun Nun yang disematkan kepada beliau, terdapat banyak kisah, dii antaranya, sebagaimana yang dituturkan Dr. Yahya Abu Maati dalam Biografi Dzun Nun (dalam Al-Ahram), "Ada seorang perempuan yang mendatangi Dzun Nun sambil menangis, ia mengadukan kejadian tersebut padanya, bahwa anaknya ditelan buaya di pinggiran sungai Nil. Kemudian Dzun Nun berdoa, "Ya Allah tampakkan buaya itu" tiba-tiba buaya itu datang, dan kemudian anak tersebut dikeluarkan dari dalam perut buaya dalam keadaan sehat dan selamat. Dari kisah ini, nama Dzun Nun disematkan sebagaimana ta'bir kisah keajaiban Nabi Yunus yang keluar dari Ikan Paus. Allahu'alam Bishawab.
Di antara pesan Dzun nun;

«كيف أفرح بعملى وذنوبى مزدحمة، أم كيف أفرح بعملى وعاقبتى مبهمة؟!»

****

Nun tentang membuka pintu-pintu rahasia ketuhanan. Nun sebagai lambang pintu rahasia, demikian menurut Ibnu Arabi. Sebuah pintu menuju taubat dan kasih tuhan.  

Malang, 4 September 2021

Kamis, 26 Agustus 2021

Hadiah Paling Indah untuk Anak

Halimi Zuhdy

Saya tertegun ketika membaca sebuah Maqal yang berjudul "Madza Qaddamta Li Auladik" kira-kira kalau diartikan, "Apa yang Engkau hadiahkan untuk anakmu?". Saya jadi berfikir, hadiah apa yang pantas dan bermanfaat bagi anak-anak nantinya; pulau, hotel, apartemen, kendaraan atau apa?, sepertinya kurang pantas memberi hadiah di atas, apalagi sampai hari ini saya belum punya satu kamar hotel pun untuk saya hadiahkan. Wkw
Ah, ketimbang menghayal yang tidak-tidak, sepertinya hadiah di atas memang tidak cocok untuk anak-anak. Oh ia, hadiah-hadiah indah dan keren dari ulama dahulu untuk anak-anaknya adalah hadiah berupa kitab. Imam ibn Ajurmiya mengarang kitab "Al-Jurmiyah" untuk putranya. "Bulughul Al-Maram" yang dirajut oleh Ibnu Hajar juga untuk anaknya. Imam Al-Saqqaf mengarang kitab "Al-Aud al-Hindi" ia hadiahkan untuk anaknya. 

Ada juga kitab yang luar biasa "Umdah al-Salik" yang dikarang Ibnu al-Naqib al-Misr al-Syafi'i ia hadiahkan untuk putra tercintanya. Imam al-Hafidh al-Iraqi mengarang kitab "Taqrib al-Asanid wa Tartib al-Masanid" yang kemudian ia beri syarah dalam "Tharh al-Tadrib" setelah seelsai beliau hadiahkan pada putranya, Abi Zar'ah al-Iraqi. Dan yang menarik Abu al-Walid al-Baji mengarang kitab khusus untuk anak-anaknya dan juga untuk anak-anak di muka bumi, "Al-Nasehah al-Walidiyah". 

Ibnu Hajar ketika kehilangan kedua putrinya pada masa pandemi yang banyak menelan korban pada waktu itu, ia mengarang kitab "Badz al-Ma'un fi Fadhail al-Ta'un". Dan kitab ini paling banyak dirujuk pada masa pandemi Covid-19. "Lamiyah al-Af'al" kitab yang dirajut oleh Ibnu Malik juga dihadiahkan untuk anaknya. Ini, beberapa kitab yang dirajut orang tua (ulama) untuk putra-putri tercintanya, sebagai hadiah dalam hidupnya. Hadiah beberapa kitab para ulama di atas, pada akhirnya tidak hanya sebagai hadiah untuk putra putrinya tetapi untuk generasi setelahnya, sampai hari ini, kita menikmati kitab-kitab berharga tersebut. 

Kira-kira kitab apa yang akan kita hadiahkan untuk generasi kita, khususnya untuk anak-anak kita?. Kitab tidak hanya menjadi hadiah untuk generasi setelahnya, tetapi ia menjadi monumen penting pada setiap zamannya. Ia menjadi masdar ilmu pengetahuan dan perkembangan keilmuan setelahnya. Kitab adalah hadiah paling berharga untuk generasi setelah. 

Mudah-mudahan kita juga bisa memberikan hadiah paling indah untuk generasi setelah kita. 

Malang, 26 Agustus 2021

Menelisik Asal Kata Jima'

Halimi Zuhdy

"Bapak pengikut Taliban ya?" seseorang mengirim pesan lewat WA pada saya.

"Lo, kok bisa Ananda menuduh saya pengikut Taliban! " saya balas pesan dengan super cepat, hanya ingin tahu mengapa ia menuduh saya sebagai pengikut Taliban.
"Buktinya, Bapak kemarin menulis Taliban!" jawab orang tersebut dengan imoji marah 😡. 

"Oh, gitu, emang kalau saya Talib (tanpa an), kenapa?, emang apa urusan Bapak dengan Taliban ?! " saya hanya tersenyum dengan imoji 🤓

Orang tersebut lama tidak menjawab, kemudian saya kirim pesan WA lagi.

"Pak/Mas/Mbak (saya tidak tahu siapa pengirim pesan itu), seperti saya menulis tentang kata Jima', maka tidak harus saya melakukan itu. Minimal saya mengenal artinya. Jangan terlalu sempit dalam berpikir, bila menemukan tulisan, baca dengan baik-baik, renungkan, baru tanggapi". Ternyata ia sudah memblokir nomor saya. Entah kenapa?

Karena saya tidak sempat menjelaskan kata jimak pada orang tadi, maka saya tulis saja di sini. Wkwkw

Jimak dalam KBBI hanya memiliki satu arti, bersetubuh. Sebenarnya kata ini memiliki beberapa arti di antaranya, periuk besar (qadrun jima'), kumpulan sesuatu (jam'u) dan beberapa arti lainnya. Kalau kita perhatikan, kata Jimak adalah derivasi dari jama'a- yajma'u (جمع-يجمع), mengumpulkan, menggabungkan, mempersatukan, menghimpun dan mengkobinasikan.

Keindahan bahasa Arab, semua kata yang berakar huruf  Jim ( جيم) mim (ميم) Ain (عين) bermakna berkumpul, berkelompok, atau berhimpun. 

Jimak yang dimaknai dengan bersetubuh, karena berkumpulnya dua orang (lawan jenis). Mari kita lihat beberapa kata yang berasal dari derivasi jim-mim-ain, misalnya kata Jum'at (جمعة), dinamakan Jum'at karena pada hari tersebut umat Islam berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum'at (dapat dibaca tulisan saya asal usul Hari Jum'at). Masjid Jami' (جامع), tempat orang-orang melakukan shalat berjamaah, terutama yang dibuat tempat untuk shalat Jum'at. Jami' juga bermakna, menyeluruh, mencakup, kolektor dan bermakna umum. Shalat ber-Jama'ah (جماعة), shalat yang dilakukan bersama-sama. Jama' (جمع), mengumpulkan satu shalat pada waktu shalat yang lain, seperti shalat Jamak Takdim Dhuhur dan Ashar.

Masih banyak contoh lainnya, ada Jam'iyyah (جمعيّة) organisasi. Jami'ah (جامعة) bermakna universitas. Jum'un (جمع) kepalan tangan. Majma'(مجمع) bermakna; konvensi, perhimpunan, pertemuan,  perkumpulan, kotak, peti dan kaleng. Mujamma'(مجَمَّع), komplek, campuran,  kelompok. Jamik (جميع), semua, seluruh. Mujtama' (مجتمع), masyarakat, komunitas. Majmuah (مجموعة), kelompok, koleksi, kumpulan, himpunan. Dan masih banyak kata-kata yang berasal dari tiga huruf tersebut. Semua kata dengan tiga huruf di atas, memiliki satu arti, berkumpul (lebih dari satu orang). 

Untuk mempermudah dalam mengajarkan bahasa Arab pada siswa dan untuk menambah kosa-kata, maka bisa dinarasikan, seperti, "Pada hari Jum'at saya pergi ke masjid Jami' untuk melaksanakan shalat Jum'at dengan ber-Jama'ah, saya bertemu dengan teman sekelas, kemudian ngajak ke Jami'ah (kampus) untuk mendiskusikan Jam'iyyah yang ada di beberapa kota". Dan seterusnya... Asyikkan. 

Kata Jima' mengarah pada persetubuhan suami istri, karena suami istri melakukan perkumpulan rahasia. Sebenarnya kata ini halus sekali, jauh dari jorok, tetapi karena sering digunakan dengan kata-kata yang jorok, maka terkesan kata jima' adalah kotor.

******
link di bawah ini membicang tentang pola-pola kumpulan dalam bahasa Arab.