السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 10 Juni 2019

Mengapa "Rajul, Laki-Laki" disebut "Rajul"?

Analisis Bahasa ke 17; Rajul, Rijl, Rujuliyah, Rajl, Rijal)

Halimi Zuhdy

Setiap kata yang muncul dalam suatu bahasa memiliki; cerita, kisah, dan asbab. Ia tidak muncul dari sesuatu yang kosong, bahkan pilihan huruf dalam setiap kata, juga memiliki arti tersendiri, maka rangkaian huruf yang menjadi kata, memiliki kisahnya tersendiri. Namun, ada yang masih sulit dicari asbabnya (ghumud), karena sudah banyak yang melupakannya (Al-Muzhir fi Ulum al-Lughah, li As-suyuthi). Seperti, Kata "Insan, manusia" dari "Nasiya, lupa" karena manusia lebih banyak atau sering lupa. "Bahimah,بهيمة,  hewan" karena "Abhamat 'an al-aql, tertutup aqalnya, tidak berakal", Disebut "Kufah" karena disesaki manusia "Takufu al-raml takaufan". Demikian pula kata-kata lainnya.

Pada kajian kali ini, penulis mencoba melihat kata "Rajul, laki-laki" dalam bahasa Arab. Dengan fokus masalah sederhana (Asilah al-bahst), mengapa "Rajul" disebut "Rajul"?, Pertanyaan ini berangkat dari banyaknya pernyataan bahwa "Rajul,  laki-laki) dari "Rijl, kaki". Dan juga ada pernyataan "Rijal, laki-laki (plural)" adalah khusus orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan.

Mari kita perhatikan arti Kata "Rajul (الرَجُل)" dan yang terkait dengan tiga huruf "Ra (راء), Jim (جيم), dan lam (لام) dalam beberapa Mu'jam bahasa Arab. Dalam kamus Lisan al-Arab, 265/11 الرجل: معروف: الذكر من نوع الإنسان خلاف المرأة (adalah laki-laki dari jenis manusia, antonim dari perempuan), dalam Tadzib al-Lughah, الرجل فوق الغلام, kata "Rajul" adalah setelah Ghulam (masa anak-anak). Kamus Ma'ani, seorang laki-laki yang telah baligh (dewasa). Jamak dari Rajul (الرَجُل); Rijal (الرِجَال) Rajlah  (الرَجْلة).

Sedangkan kata "Rajilun,  رَجِلٌ; bermakna "Berjalan dengan kedua kakinya", demikian juga dengan "Ar-rajlu", dan "Rajjal, رجّل" ada yang bermakna " Sarraha, zayyana, Qawwahu, سرح, زين، قواه" menguatkan, mengurai, dan menghias. Sedangkan yang bemakna "Kaki" adalah kata "Ar-rijlu, الرِجْل" yaitu: dari pangkal paha sampai  telapak kaki (قدم).

Derivasi dari tiga huruf "Ra, Jim, dan Lam" sangat banyak sekali, bahkan ratusan dan dijelaskan dalam berbagai Mu'jam, seperti: Al-muhith, Al-ma'shir, al-washit, Ar-Raid, al-Ghani dan Samsul al-ulum. Dan tidak mungkin diuraikan satu persatu, karena keterbatasan ruang ini.

Kembali pada kata "Rajul, الرَجُل", dalam Lisan al-Arab; kata tersebut juga bermakna; at-Tarajjul

الترجل أي مشي الشخص على قدميه دونما استعانة بآلة ما “الدابة أو السيارة أو غير ذلك”.
(Artinya, seseorang yang berjalan dengan kedua kakinya tanpa alat bantu; hewan, mobil dan lainnya). Ini kemudian diartikan, Rajul adalah seseorang yang percaya diri ('itimad Nafs) untuk sampai pada sebuah keinginan yang dicita-citakan. Laki-laki disebut laki-laki (rajul), mereka yang mandiri, yang kuat dengan topangan kaki-kaki mereka, maka ini yang kemudian dimaksud dengan laki-laki berdiri diatas kaki sendiri.wkwkwk

Dari hal tersebut, Kata
ini (Rajul), dikaitkan dengan sebuah sifat "Arrujulah atau Arrujuliyah, yang bermakna; keberanian (Syaja'ah), kelaki-lakian, kekuatan (al-quwah), kedewasaan, kejantanan,  maskulinitas, percaya diri (i'timad an-nafs),  kecemerlangan fikiran (wuduh fikr). Bahkan kata   "Rujulah, الرجلة" tidak hanya diperuntukkan pada laki-laki, karena Sayyidah 'Aisyah disebut dengan "Rajulah al-Ra'yi", bisa diartikan kekuatan pikirannya, kecemerlangan pikirannya.

Dalam Makalah "Ya Lah Min Din Lau Kana Lahu Rijal" oleh Abdurrahman,  menjelaskan arti dan perpedaan mufassir dalam "Arrujulah":

لقد اختلف الناس في تفسير معنى الرجولة فمنهم من يفسرها بالقوة والشجاعة، ومنهم من يفسرها بالزعامة والقيادة والحزم، ومنهم يفسر الرجولة بالكرم والجود، ومنهم يقيسها بمدى تحصيل المال والاشتغال بجمعه، ومنهم من يظنها حمية وعصبيةً، ومنهم من يفسرها ببذل الجاه والشفاعة وتخليص مهام الناس بأي الطرق كانت.

Maka, "Rajul, laki-laki" ketika sudah berubah dalam bentuk lain, misalnya Jamak "Rijal, الرجال" juga memiliki arti yang berbeda, yang disesuaikan dengan konteks dan teksnya. Yang diartikan kepahlawanan, keberaniaan, ketegasan, ketangkasan dan kekuatan, karena hal tersebut menjadi karakter laki-laki, walau tidak semuanya laki-laki memiliki hal tersebut. Sebenarnya, antara Rajul dan Rijal tidak ada bedanya, karena Rijal jamak dari Rajl.

Maka, ada Pribahasa Arab yang berbunyi; semua Arrijal adalah laki-laki (dzakar),
tapi tidak semua Dzakar itu adalah Rijal;
كُلُّ رجل ذكرٌ ولكن ليس كل ذكر رجلٌ
Maka Rijal bisa saja untuk perempuan, sedangkan "Dzakar khusus laki-laki" Dan hal ini, masih menjadi perdebatan panjang terkait dengan Rijal apakah mereka yang memiliki sifat-sifat terpuji, bagaimana dengan Surat al-Al'raf (81), An-Naml (55) dan al-Ankabut (29), yang didalamnya terdapat "Rijal" namun memiliki sifat tidak terpuji. Namun, dari maraji' yang penulis baca, baik; kitab, makalah, esai dan lainnya, rijal lebih kepada hal yang positif (hasil penafsiran para ulama), demikian juga dengan kata "rujulah".

Tanpa mengurangi keistimewaan perempuan yang juga memiliki banyak keistimewaan, maka Rajul disebut Rajul karena beberapa keistemewaan tersebut. Maka, dalam Ayat;
الرجال قومون على النساء
Bukanlah sebuah diskriminasi, tapi pada peran masing-masing.

Allah 'alam bishawab

6 Sawwal 1440 H.

Khadim PP. Darun Nun.
Guru Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang

Jumat, 26 April 2019

Pembelajaran Bahasa Arab di Era Revolusi Industri 4.0


Halimi Zuhdy


Beberapa jam yang lalu, saya bersama Dr. Achmad Tohe dan Dr (M) Ahmad Fatoni Said, didaulat oleh IMASASI (Ikatan Mahasiswa Studi Arab Se-Indonesia) untuk menyampaikan gagasan/makalah dan berdiskusi di Seminar Nasional dengan tema, "Arah Baru Pergerakan Studi Arab di Era Revolusi Industri 4.0".

Tema Revolusi Industri 4.0 lagi hits banget, menjadi perbincangan para tokoh nasional dan internasional dalam Seminar, workshop, diskusi, dan konfrensi selalu diselipkan kata-kata "Era Revolusi Industri 4.0". 

Bagaimana dengan Bahasa Arab?, Baik dalam pembelarannya, sastranya, bahasanya, apakah penting untuk ikut-ikutan dengan "Era 4.0 ini"?.
Jawabannya "penting banget", karena kita tidak bisa menghindari era ini, kalau kita tidak bermain menjadi gelombang untuk menghantar perahu ke Dermaga, maka kita hanya menjadi penonton, dan kita akan tertinggal, atau terhempas entah kemana. 

Sebelumnya, kita pahami dulu Era Revolusi industri 4.0, yaitu terjadinya perubahan besar-besaran dan radikal pada cara manusia memproduksi barang (istilah yang banyak digunakan). Dan angka 4.0, merupakan revolusi ke-4, setelah terjadi perubahan dahsyat pada revolusi sebelumnya (1-3); .Kalau revolusi awal adanya "Mesin Uap", revolusi kedua "Ban Beegerak" serta hadirnya "listrik", revolusi ketiga melahirkan "Komputer dan Robot". Dan revolusi keempat dalam istilah wikipedia adalah mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Entah apa berikutnya 5.0?

Minggu, 21 April 2019

Kiat Sukses Ala Nabi Musa AS

Halimi Zuhdy

Tadi malam, ketika mengisi pembelakalan wawasan keislaman, bagi santri akhir kelas XII Ma'had Al-Qolam MAN 2 Kota Malang, dengan tema "Kiat Sukses Berorganisasi dan Akademik", saya teringat kisah-kisah Salafus Shaleh, yang namanya masih selalu dikenang dibernagai lembaga pendidikan dan lainnya, mereka tidak hanya sukses dalam karir akademiknya, tapi juga dalam berorganiasi (jam'iyah), walau berbeda bentuknya dengan sekarang. 

Dan juga saya teringat kisah Nabi Musa AS, ketika sampai di Daerah Madyan, setelah dikejar-kejar tentara Fir'aun, ia tidak membawa bekal apapun, ia tidak memiliki sepetak tanah pun, tempat tinggal juga tidak ada, tidak ada pekerjaan untuk menghidupi kesehariannya, tidak pula memiliki pendamping hidup (istri). 

Ia hanya berteduh di tempat-tempat yang bisa menghalanginya dari terik mentari. Dengan kerendahan hatinya, dan keimanan yang membara, ia menengadahkan tangannya ke langit dan berdoa:
"رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ"
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qoshos:24).

Sabtu, 30 Maret 2019

Memilih Nama Anak

(Apalah arti sebuah nama?)

Halimi Zuhdy

"Apalah arti sebuah nama", kata-kata ini dianggap tidak etis pada satu sisi, namun bisa menjadi etis pada konteks lainnya, misal bila dikaitkan dengan sebuah ketawadu'an (Rendah hati) atau menghilangkan nama diri untuk menghindari kesombongan, atau menjadi baik bagi orang yang mencari "nama" an sich.

Kata-kata di atas menjadi tidak etis, bahkan dianggap tidak ikut sunnah, bila tidak mempedulikan arti sebuah nama, misalkan nama anak. Hanya asal saja.

Suatu hari, ada seorang sahabat  bertanya pada Nabi Muhammad saw, dalam riwayat Abul Hasan. “Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadapku?”. Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik”.

Bila kemudian hanya sekedar memberi nama, dan tidak dipahami artinya, bahkan nama tersebut tidak memiliki arti yang baik, maka hal tersebut termasuk orang tua yang tidak memberi hak kepada anaknya.

Nama itu bukan hanya pembeda, di dalam nama tersebut ada sebuah harapan besar, bahkan nanti  di hari kiamat, nama itu menjadi sebuah kebanggaan bagi dirinya, ia akan dipanggil dengan nama itu. “Baguskan namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hiban).

Maka, nama adalah sebuah identitas, cita-cita, doa, harapan besar orang tua, dan ia akan menjadi kebanggan dirinya dengan penyematan nama itu. Dan nama itu, bisa menjadi pembeda aqidah,      identitas keluarga, dan keturunan nantinya.

Ada beberapa hal yang dianjurkan dalam pemberiaan nama sebagaimana dalam kitab "Tarbiyatul Aulad" yang rangkai oleh Dr. Nasih 'Ulwan; a) Tidak menggunakan nama Tuhan, kecuali diberi kata Abduh sebelumnya. b). Nama yang tidak memiliki arti ketundukan kepada selainNya, seperti "Hamba Kopi" dll. c).  Nama yang artinya tidak mudah hilang, lekang, dan sirna.

Pemberian nama, dianjurkan pada hari ketujuh sebagaimana Hadis Shahih, “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama pada hari itu juga.”(HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad). Atau pada hari ketika ia dilahirkan, "Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi dan aku namai ia dengan nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)

Namun, pencariannya bisa kapan pun, bisa saja sebelum memiliki Istri, sebagai motivasi untuk mendapatkan seorang anak shaleh dengan calon istri shalehah. Atau ketika, ia berada pada malam pertama, dan membayangkan seorang ulama hebat, dengan namanya, sebagai tafaulan pada beliau. Atau mendiskusikan dengan istri, atau meminta kepada seorang   'Alim dengan harapan anaknya diberikan nama terbaik sesuai dengan karakternya. Pencarian tersebut oleh ulama tidak dibatasi. Namun, yang disunnahkan memberikannya anaknya pada hari ketujuh,atau hari pertama dilahirkan.

Pengalaman penulis mencari nama, ada yang terinspirasi dari; pengarang kitab, keunikan nama, sultan, pengalaman, makna yang dimiliki, yang kemudian dicari di mu'jam bahasa Arab, serta kekhasan kalimatnya dan sejarah yang mengitari kelahirannya. Artinya, ketika ditanya oleh anak suatu saat, maka segudang jawaban sudah termaktub. Misal;  Mohammad Nayif Azmi, Mohammad Najid Al-Izzi, Athifah Muhibatullah, Athirah Rahmatillah. Kedua anak pertama dan keempat menggunakan ism Fa'il dengan awalan yang sama "Mim dan Nun", (Moh. Nayif dan Moh. Najid) demikian dua  putri, ke dua dan ketiga Athifah dan Athirah. Yang semuanya bersajak. Sedangkan arti dan sejarahnya sangatlah panjang. He.

Sekilas penulis bahas arti  anak yang ke-empat, Mohammad Najid Al-Izzi. Dalam tulisan bahasa Arab: محمد ناجد العزي. Kata Mohammad, sudah sangat mafhum, sebuah tafaul kepada Sang Nabi Allah, akhlaq dan kepribadiannya, serta aqidah yang dianutnya. Bagaimana perintah dan sunnah baginya, suatu saat adalah menjadi napaknya.

Sedangkan kata, "Najid" memiliki banyak arti, dan bagus; pemberani, ketingian akhlaq, terdidik, intelek, penyuka keunggulan dan lainnya. Mengapa nama ini dipilih, karena; 1) maknanya yang bagus, 2) berawalan "Nun" untuk menyamakan dengan kakaknya, juga menggunakan awalan "Nun" dan ism Fa'il, 3) jarang digunakan di Indonesia, beda dengan Najib dan beberapa alasan lainnya.

ناجد : أصل الاسم، عربي،
اسم عربي يطلق على الذكور، وهو من الفعل نجد أي إرتفع، ويدل على السمو ورفعة الشأن، كما يعني الغالب، الواضح، الشجاع، ويمكن أن يصبح اسم مؤنث "ناجدة". وصاحب اسم ناجد يتميز بشخصية مهذبة، مثقف وكثير الإطلاع والتعلم، يحب أن يكون متفوق ومميز في العمل، ويساند من يحتاج الدعم.

Sedangkan "Al-izzi" selain maknanya yang baik, dan sebuah tafaul akan memperoleh "kemuliaan",  juga menyamakan dengan kakaknya "Azmi" yang diawali "Ain", namun ditambah "al". Bisa juga "Najid Izza, atau Najid Izzi".

Malang, 29 Maret 2019

#MohonDoaAtasPenamaanAnak_tasmiyah

Selasa, 26 Maret 2019

Nifas, Nafas, Nafsu dan Nafs

(Kajian Bahasa Arab ke-13)

Halimi Zuhdy
(Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang)

"Ustadz, apa perbedaan darah nifas dan wiladah?"    Bila ditanya berbedaan, maka jawabannya seringkali dikaitkan dengan waktu keluarnya darah; sesudah, sebelum atau bersamaan. Namun, bila dikaitkan dengan makna bahasanya, akan sangat terlihat perbedaan keduanya, dan cukup menarik bila kata "nifas" dikaitkan dengan "nafas, nafsu, Dan nafs".

"Nifas" oleh ulama Fiqh diartikan dengan darah yang keluar setelah melahirkan sampai pada waktu tertentu. Kalau dilihat secara bahasa, "Nifas" adalah "melahirkan". Beberapa ulama memberi arti, disebut "Nifas", karena "seseorang yang hadir kedunia dengan bernafas (yatanaffas) atau nafs (jiwa)".

Disebut darah Nifas, karena darah yang keluar setelah jiwa terlahir, atau makhluq yang bernafas telah hadir ke muka bumi.  Sedangkan darah "Wiladah" ketika atau saat melahirkan.

Sedangkan "Nafs, ٌنَفْس" dalam beberapa Mu'jam diartikan "Ruh/jiwa", jiwa yang mengeluarkan dan memasukkan "Nafas". Atau disebut "Nafs" karena ada nafas yang keluar dari seseorang, dan dari adanya nafas itulah ia disebut hidup (jiwa).

Ada pula yang mengartikan "Nafs" itu adalah "Darah" (dam), karena darah itulah yang mengantarkan manusia pada kehidupan, dan ia pula yang berbentuk dari segumpal darah, sehingga darah yang bergolak tanpa terkendali disebut dengan *"Nafs Ammarah"* jiwa yang penuh amarah. Namun, darah yang dibutuhkan untuk selalu mengalir dan berkompetisi dalam diri seseorang, maka disebut dengan *"Munafasah"* (perlombaan).

Dan "Nafs" disebut "darah", sebagaimana dalam Hadis

الحديث عن إِبراهيم النخعي: «كل شيءٍ ليست له نفس سائلة فإِنه لا ينجِّس الماءَ إِذا مات فيه»: أي كل شيء ليس له دم.
ومن ذلك سميت النُّفَساء لسيلان دمها.
"Segala sesuatu yang tidak berdarah (atau hewan yang darahnya tidak mengalir), maka apabila mati di dalam, ia tidak menajiskan". Maka, disebut "Perempuan Nifas", karena mengalirnya darah.

Jiwa atau diri yang lebih condong kepada kejelekan, atau terdorong pada sesuatu yang menyimpang, maka disebut *"Nafsu,* Hawa Nafsu". Namun, nafsu yang mampu melepaskan diri dari ketergantungan kepada materi, maka menjadi *"Nafsu Mutmainnah"* dan disanalah kemurnian seseorang, maka disebut dengan *"Nafisah"* (murni, cantik, indah, bersih).

"Nafs" dalam al-Mu'jam, diartikan, "Kekuatan, kekerasan (Jiladah)" seperti dalam kalimat, "Laisa lahu Nafs". Juga diartikan, "Mata"('Ain)"
والنفس: العين، يقال: أصابت فلانًا نفسٌ أي عين.
وفي حديث ابن سيرين أنه نهي عن الرُّقى إِلا في ثلاث: رقية النملِة، والحُمَة والنفس.

Dan dari kata "Nun, Fa',  Sin" ini, memunculkan ratusan kata yang cukup menarik, apalagi ditarik kepada kajian tafsir al-Qur'an yang di dalamnya terdapat kata-kata tersebut.

Dari kata tersebut, semuanya bergubungan, dari; jiwa, nafas, darah, hawa nafsu, darah nifas, perlombaan, kekuatan, amarah, mata, hidung dan lainnya.

Referensi: Al-Qur'an, Lisan al-Arab, Mu'jam al-Raid, Al-washit,  Mu'jam Syamsul Ulum, Lughah Fuqaha', Furuq Lughawiyah.

Malang, 26 Maret 2019
*Dosen Bahasa dan Sastra Arab Fak. Humaniora UIN Malang.
*Khadim PP. Darun Nun Malang

Janin, Jin, Majnun, dan Jannah

(Kajian 12, Analisis Bahasa Arab)

Halimi Zuhdy

Bahasa Arab disinyalir sebagai bahasa tertua dan satu-satunya bahasa yang tidak punah, dari bahasa-bahasa yang pernah hidup semasa dengannya. Ia tidak hanya berumur 1400 tahun ketika Al-Qur'an diturunkan, tapi sudah ribuan tahun sebelumnya, bahkan dianggap menjadi bahasa Nabi Adam AS.

Ketika banyak bahasa Ibu sudah  tergantikan, seperti;  Bahasa Afrika, Asia Fasifik, Amerika Selatan, Amerika, Ethiopia dan bahasa yang berada diberbagai belahan negara atau benau lainnya hanya tinggal cerita, dan dimusiumkan. Namun, bahasa Arab, terutama yang digunakan oleh Al-Qur'an masih utuh, tidak ada perubahan, bukan kemudian kaku, namun ia terus berkembang dengan indah sesuai dengan kadar lerubahannya.

Dan Bahasa Ini, bukan hanya sebagai bahasa biasa, yang tumbuh dan berkembang satu persatu sesuai kebutuhan, tapi bahasa ini (Arab) adalah bahasa yang ilmiah (saintifik), yang dapat dirunut sampai ke kata awal, dan kata paling awal, dan setiap kalimat-kalimat  yang muncul dapat merujuk pada akar (judzur) kata yang sama atau kata tertentu. Seperti; Din (Agama), Dain (Hutang) , Dunya (Dunia), Madinah (kota) , Dayyan (hakim), dan kata yang berdekatan lainnya. Kata-kata tersebut di atas, tidak hanya memiliki makna tersendiri, namun memiliki keterkaitan  makna dan maksud. Insyallah, akan penulis analisis pada kajian berikutnya, 19.

Kali ini, penulis hadirkan 4 kata, "Janin (Janin), Jin (Jin), Majnun (Gila), dan Jannah (Surga)". Kata yang lain yang memiliki satu akar adalah; Jan, Majjanan, Jani, Jinayah, Majun, junun dan lainnya.

Dalam kitab Mufrodat, "Raghib al-Ashfahani", bahwa kata, "Jan" adalah tutup (satr) atau tertutupnya sesuatu dari panca indra, maka, kata "Jannah (Surga, kebun)" maknanya "tertutup", ia tertutup oleh rerimbunan pohon, karena banyaknya pepohonan, bunga-bunga dan lainnya yang berada di dalamnya. Kata "Janin (Janin)" juga bermakna "tertutup", karena ia tidak mampu dilihat oleh mata telanjang, bahkan oleh alat canggih pun, ia masih samar, walau kadang bisa ditebak.

Kata "Majnun (Gila)", adalah orang yang pikirannya "tertutup" atau terhalang, tidak mampu berfikir dengan baik, bahkan tertutup oleh apapun dari luar dirinya dan dari dalam dirinya.

Sedangkan kata "Jin (Jin)" berasal dari "Jann" yang juga tertutup, tertutup dari pandangan manusia, ia tidak mampu dilihat oleh siapa pun, kecuali Allah tampakkan, dan ia masuk pada makhluq ghaib. Dalam kitab "Tadzhib al-Lughah lil Harwi" ia bermakna bersembunyi, menahan diri, atau menutupi dirinya dari manusia.

وجاء في تهذيب اللغة للهروي: الجِنُّ: جماعةُ ولد الجانّ، وجَمْعُهُم: الجِنَّةُ، والجانُّ، وَإِنَّمَا سُمُّوا جناً لأنّهُمُ اسْتَجنُّوا من النَّاس، فَلَا يُرَوْنَ، والجانُّ هُوَ أَبُو الجِنِّ خُلِقَ من نارٍ، ثمَّ خُلِق مِنْهُ نَسْلُه.

Dan ada yang memaknai kata-kata, "Jin, Janin, Jan, Jannah, Majnun, dan Majjnan" dengan "Hubungan dua arah, yang saling membutuhkan, saling memberi, saling bersinergi". Misal; kata "Janin" ia memiliki dua huruf nun, "Tabaduliyyah Fa'aliyah al-ihtiwa'". Janin dan Ibunya memiliki hubungan yang kuat (yatabadaalani), Janin membutuhkan atau mengambil oksigen dari Ibunya, dan Janin memberi oksigen karbon. Demikian dengan kata-kata yang lain di atas. _Allah 'alam bishawab_

*) Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang_
Khadim PP. Darun Nun Malang_

Referensi
Mufradatul al-Raghib al-Ashfahani, Tadzhib Al-Lughah Lil Harwi, Mu'jam Muani, Furuq Lugahwiyah.

Jumat, 15 Februari 2019

Pelajaran Bahasa Arab di Era Revolusi Industri 4.0

Halimi Zuhdy

Bahasa Arab di Indonesia sampai hari masih menjadi momok, selalu terkesan, "Bahasa Arab adalah pembelajaran yang sulit", "Bahasanya paling berat", dan "Kata-katanya sulit" serta ungkapan lainnya. Itu kesan, dari berbagai guru dan siswa di berbagai tempat (Ket, angket yang disebar ke berbagai madrasah dan sekolah). Namun, setelah mereka mendapatkan nutrisi dari pemateri workshop Pembelajaran Bahasa Arab, ternyata dugaan mereka salah, ternyata "mempelajari bahasa Arab" itu sangat mudah. Hanya bagaimana berpositif dengan bahasa Arab, dan menggalinya, serta memberlakukannya sebagai "bahasa" bukan sebagai "azimat".

Selama ini, peserta didik hanya diberi beban untuk memahami Nahwu dan Sharraf, sedangkan yang dipelajari adalah Maharah Kalam (Kemahiran berbicara), siswa jarang diberikan kesempatan untuk praktik berbicara, terkadang guru yang mengajar Maharah kalam, gurulah yang banyak berbicara, seperti cara mengajarkan istima', atau seperti berceramah saja, belum lagi cara mengevaluasinya.
Maka, di era al-Tsaurah As-shinaiyyah al-Arbiah (Revolusi Industri 4.0) ini. Guru atau dosen harus selalu menggali informasi perkembangan pembelajaran bahasa, baik thoriqahnya, materinya, dan lainnya.

Tentang Hujan dan Malaikat Mikail


Halimi Zuhdy

Sepertinya tidak ada yang aneh tentang hujan, bermula awan, rintik, kadang angin menyapa lembut, hujan datang berdendang. Bahkan, ada yang tidak peduli dengan kedatangannya, bila ia bertandang, payung siap menghadang.

Kehadirannya, dari rintiknya, menyapa siapa, menghanyutkan apa, berada di mana, kapan, dan berbetuk apa, semuanya  telah dicatat di Lauh Mahfud oleh Allah 50.000 tahun sebelum kelahiran bumi dan langit, sebagaimana yang lainnya.

Turunnya dikawal langsung oleh Malikat Mikail, sebagaimana dalam Ibnu Kastir. Dengan dibantu oleh Malaikat-malaikat lainnya. Ia, tidak serta merta turun, ia berproses cukup panjang dan rumit; pembentukan angin, pembentukan awan, kemudian turun hujan ((Q.S. Ar Rum:48 dan Q.S. al Nur:43)

Anehnya, ia jatuh dengan buliran-buliran indah, seperti mutiara yang menyapa bumi. Walau kadang seperti buliran besar, namun tetap saja buliran, indah. Bagaimana kita bisa membayangkan, dari ketinggian luar biasa (langit) ia tetap jatuh serupa (berbentuk bulirdan lembut), sedangkan bila kita menuangkan air dari ketinggian, maka akhirnya menyatu padu. Maka, tidak satu bulir pun air yang jatuh di suatu tempat, tanpa pengawasan dan kerja Malaikat Mikail dan yang membantunya. Atas Izin dan Perintah Allah.

“Tiada seorang pun mengetahui kapan diturunkannya hujan, di malam hari ataukah siangnya”. Kata Imam Qataadah. Ia termasuk rahasia, dari lima yang dirahasiakan Allah; isinya rahim seorang Ibu, esok apa yang akan terjadi, esok apa yang akan diperbuat dirinya, di mana nyawa berhenti berdetak, dan kapan derai hujan menyapa bumi. Hujan,  rahasia paling rahasia, ia  yang disebut dengan “Mafatihul Ghaib” (Kunci Ilmu Ghaib).

Sedangkan; guntur, petir, dan kilat, yang kadang menghantar hujan, juga kadang dianggap biasa. Sebenarnya sudah dibahas oleh Imam Bukhari dalam Kitab Adab al-Mufrad Lil Bukhari (H 262), pada bab “Idza Sami’a al-ra’du”. Sesungguhnya guntur adalah suara (gelegar) Malaikat ketika Hujan, laksana pengembala yang menghalau (dengan suara) kambingnya.

Dalam al-Qur’an, ia tertera dua kata, “Mathar” dan ‘Ghaits”, Mufassir ada yang menggap satu arti, namun ada pula yang memaknai berbeda dalam aspek dampaknya, “Mathar” hujan yang mendatangkan kerusakan, sedangkan “Ghaist” adalah hujan rahmat.

Mudah-mudahan hujan yang selalu menyapa kita setiap hari, menjadi rahmat, dan keberkahan bagi bumi dan isinya. “Allahumma Shayyiban Nafi’a”.

Malang, 15 Pebruari 2019
Khadim PP. Darun Nun Malang

IG: halimizuhdy3011

Senin, 14 Januari 2019

Sejarah Penamaan Hari Jumat, Muasal Terkikisnya Keangkuhan Manusia

Halimi Zuhdy
 
Nama-nama hari pada masa Arab Jahiliyah adalah; Syiyar (Sabtu), Awwal (Ahad), Ahwan (Senin), Jubar (Selasa), Dubar (Rabu), Mu’nis (Kamis), dan ‘Arubah (Jumat). Hari-hari ini merupakan tahap kedua, yang sebelumnya mereka membuat nama-nama hari, pertiga hari dalam satu bulan, misalnya; tanggal 1-3 disebut dengan Gharar, setelahnya dinamakan; Samar (4-6), Zahar (7-9), Darar (10-12), Qomar (13-15), Dara' (16-18), Dholam (19-21), Tsalatsu Anadis (22-24), Tsalatsu Dawari (25-27), dan Tsalatsu Muhaq (28-30).

Setelah Islam datang, nama-nama di atas berubah, di antaranya adalah nama hari 'Arubah, menjadi hari Jumat. Penamaan hari Arubah, sebelum menjadi hari Jumat, menurut Ibnu Abdul Bar, karena hari itu adalah hari; berbangga-banggaan, kepongahan, bergagah-gagahan, berhias, dan kasih sayang.

أن يوم العروبة آت من جذرين، الأول عرب، وهو الانكشاف والظهور والثاني بمعنى التزين والتودد

Dan dalam beberapa kajian, hari itu ('Arubah), adalah hari di mana orang Arab menampilkan; hasil karyanya (puisi), hasil perdagangannya, temuan sihirnya, dan lainnya. Yang hari sebelumnya, mereka berlomba-lomba mencari inspirasi, berdagang dengan strategi, dan berlatih menguapkan sihirnya.

Keparat, Cover dan Kafir

(Vol 11, Kajian Bahasa)
Halimi Zuhdy

Dalam Kajian bahasa yang pernah penulis bahas, bahwa bahasa Arab termasuk Aslu al-lughah (asal bahasa), dan beberapa contoh telah dipaparkan.

Edisi ke-10 ini, penulis tertarik mengkaji kata, "Keparat, Cover dan Kafir", apakah ketiga kata tersebut ada hubungannya?

Kalau dalam bahasa Arab ada istilah Isytiqaq Asghar dan Isytiqaq Akbar, apabila dari beberapa hurufnya ada kemiripan dan kesamaan, biasanya memiliki arti yang mirip atau sama, seperti kata, "Qawala, waqala, laqawa, walaqa, qalawa, lawaqa" yang pada awal maknanya adalah bergerak (yataharrak), yang kemudian, "Qala, qawala" diartikan berkata, berkata itu bergerak, kalau tidak bergerak namanya "diam-mingkem".

Sedangkan untuk mengetahui hubungan antar bahasa, maka dapat dilihat kemiripannya, seperti kata dalam bahasa Indonesia "Logat dan Lughah, alkohol dan alkukhul, marbot dan marbuth dan lainnya" itu ada kemiripan dengan bahasa Arab dan Inggris/Indonesia, dan ternyata kata tersebut berasal dari bahasa Arab (akan dikaji selanjutnya oleh penulis).

Kamis, 03 Januari 2019

Dunia Panggung Sandiwara

(Indonesia Indah, Tanpa Kampret dan Kecebong)
Halimi Zuhdy

Dulu, 2014. Orang-orang membanggakan nomor 1,  semua serba satu, telunjuknya ketika berfoto menunjuk satu, bendera ada gambar satu, di mana-mana disuarakan angka satu, seakan-akan tidak ada angka lain lagi. Tahun 2018, dengan kontestan yang sama, namun angkanya berubah, yang dulu angka satu kini berubah angka 2. Maka, angka 1 seperti syaitan, semuanya berubah angka dua. Dimana-mana angka dua.

Demikian juga yang dulu (2014) berada di angka 2, semua yang berbau dua dikeramatkan, sampai-sampai hewan, tumbuh-tumbuhan, semuanya mengarah kedua, menjadi keramat. Namun, ketika berubah ke angka satu, nomor dua jadi syaitan yang menakutkan. Apakah ini rasional, angka-angka yang tak punya dosa dimusuhi. He. Wkwkwkwkw

Dulu, misalnya, Bapak Almukarram Ali Muchtar Ngabalin, menjadi pendukung berat Pak Prabowo, mendukung seberat beratnya, sampai-sampai mengatakan, "Perjuangan yang kami lakukan tidak berhenti sampai di sini dan mendesak Allah SWT berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta. Mendesak Allah turunkan bala tentaranya tolong Prabowo," katanya dalam PILPRES 2014. (Saya kutip dari Tempo.co), Tapi sekarang, berubah 180 derajat, menjadi pendukung berat pak Jokowi, apalagi ia sudah  Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden. 

Kamis, 27 Desember 2018

Dipertemukan Puisi (5)

(Kenangan Yang Tersisa dari Muktamar Sastra Sukorejo)
Halimi Zuhdy

Dulu, ketika baru menjadi warga Facebook, saya suka menulis puisi, hampir dua hari sekali, dan dikirimkan keberbagai grup dan blog. Mungkin, ceceran puisi-puisi itu kalau dikumpulkan sekitar 400 judul puisi, baik yang berbahasa Indonesia dan berbahasa Arab. 

Puisi yang berbahasa Arab, akhirnya punya tempat sendiri di www.sastrahalimi.blogspot.com dan grup FB Toriqot Sastra, serta bergabung dengan grup Multaqa Syiir Arab, sedangkan beberapa puisi berbahasa Indonesia termaktub di www.jendelasastra.com, www.halimizuhdy.com, dan www.sastraindonesia.com dan beberapa puisi dimuat di koran lokal dan nasional. 

Wafatnya Karya Sastra (4)

(Ingatan Yang Tersisa dari Muktamar Sastra Sukorejo)
Halimi Zuhdy

Setiap daerah, wilayah dan negara, memiliki karya sastra, baik; sastra lisan (ada menganggap tradisi lisan), atau sastra tulis. 

Dan ketinggian karya sastra di masing-masing daerah atau negara, dipengaruhi oleh sejauh mana para sastrawannya bergumul dengan kondisinya dan pembacaannya terhadap suatu peristiwa, serta bagaimana para kritikusnya bekerja sebagai Kritikus yang sebenarnya. 

Karya sastra menjadi tidak laku, bahkan ditelan bumi, bila para; penulis, pembaca, dan kritikus sastra tidak lagi berperan sebagaimana mestinya. Atau negara (pemerintah)   yang juga tidak peduli perkembangannya, bahkan justru menenggelamkannya, dengan cara tidak menghargai para sastrawannya dan karya sastranya. 

Sastra, Selalu Hadir (3)

(Catatan Sederhana di Muktamar Sastra Sukorejo)
Halimi Zuhdy

Sastra selalu bermuatan ediologi, kalau sastra tak ber-ediologi, ia hanya semacam anyaman senyap, haru-biru, dan bunga semata. Walau keindahan tetaplah menjadi bagian dari sastra, tetapi, apakah hanya cantik, tapi tak sholehah. 

Ediologi, semacam pesan kuat untuk memberikan suatu perubahan, apakah itu ideologi kemanusiaan, ketuhanan, nasionalisme, atau apapun.

Sastra Pesantren (2)

(Catatan Ringan di Muktamar Sastra Sukorejo)
Halimi Zuhdy

Hadirnya para pakar sastra dengan membincang sastra pesantren di Muktamar Sastra, membawa angin segar, khususnya bagi sastrawan yang belum banyak tahu seluk-beluk sastra pesantren, atau bagi peserta muktamar yang belum pernah mendengarnya. 

Sastra Pesantren diulas apik oleh empat nara sumber; Prof. Dr. Abdul Hadi MW, Ahmadun Yosi Herfanda, R.M. Ng. KH. Agus Sunyoto, KH. Imam Azis. 

Misalnya Ahmadun Yosi, melempar wacana konstruksi dan Revitalisasi Sastra Pesantren, karena sastra pesantren, menurutnya, masih menghadapi persoalan kompleks, baik persoalan konsep dan pengertiannya, maupun corak estetiknya dan wilayah tematiknya. 

Rabu, 19 Desember 2018

Ulama dan Sastra (1)

(Catatan Sederhana Menuju Muktamar Sastra Situbondo)
Halimi Zuhdy

Sastra selalu menarik dibincangkan, kapan pun dan dimana pun. Hidup tanpa sastra, bagai kopi kehilangan rasa pahitnya.

Sejarah manusia, tidak pernah lepas dari sastra (dengan istilah yang berbeda-beda), bahkan kehebohan Arab Jahiliyah juga tidak bisa lepas dari sastra, bagaimana sastrawan-sastrawa Arab  Jahiliyah menguasai jantung Arab pada waktu itu, sehingga mereka dianggap dewa atau Tuhan. Dan mereka berkelindan dengan sastra, dengan hari yang paling ditunggu di "Suqul al-adab".
Walau sempat terjadi inkhitat (kemunduran) karya sastra Arab (puisi), karena datangnya Al-Qur'an,  dan Al-Qur'an sendiri langsung menghujam perih ke jantung mereka,  untuk melawan satu ayat saja, namun tiada satu dari mereka pun yang berkelas untuk menyainginya. Bahkan mereka takluk bersyahadat. 

Selasa, 18 Desember 2018

Pintar Wisata, Pintar Berbahasa Arab

Halimi Zuhdy

TV-BSA: Anda akan mengenal berbagai uangkapan bahasa Arab dalam : perkenalan, pemesanan hotel dan tiket, menyewa kendaraan, kuliner di Indonesian (bahasa Arab) dan berbagai jenis pariwisata di Indoensia khususnya di Malang Raya. 

Vedio ini pas banget bagi kalian yang ingin menjadi pemandu wisata, maka silahkan simak dan nikmati  link berikut. He

#Ulasan wisata Bahasa Arab Tuk Turis Timur tengah di Indonesia
# Percakapan Di tempat wisata
# Tourism information .

Kamis, 29 November 2018

Asal Muasal Kamera, Menjelajah Akar Bahasa Arab, Qumroh.

Oleh: Halimi Zuhdy

Saya lagi suka mencari asal kata, baik dari Bahasa; Indonesia, Jawa, Inggris, Arab, Madura dan lainnya. Terutama kata yang berhubungan dengan bahasa Arab. Atau, kata yang bersinggungan dengan bahasa Arab. 

Setiap bertemu dengan kalimat dan kata, otak saya mengarah kepada bahasa lain, karena setiap bahasa pasti memiliki akar kata dari bahasa lain, dan dalam pembacaan saya (beberapa buku) tidak ditemukan bahasa tumbuh dan berkembang dari bahasa itu sendiri (independen), pasti ada pengaruh dari bahasa lain, dengan kadar yang berbeda. Saat ini saja, ada sekitar 7000 dialek, dan 6000-7000 bahasa, ada yang mengatakan 2700 bahasa. Dan sebelumnya, sudah banyak bahasa yang musnah, selaras dengan semakin sedikitnya penggunanya. Dan setiap bahasa, bersinggungan dengan bahasa lain. 

Senin, 19 November 2018

Perbedaan "Tilmidz" Dan "Thalib"

(Vol 4, Furuq Lugahwiyah) 

Halimi Zuhdy

Pertanyaan tentang perbedaan kosa kata Arab  sering muncul di grup WA, FB dan lainnya, dan tidak sedikit yang japri saya, maka setelah beberapa kosa kata Arab yang telah saya kaji, berikut ini (volume ke 4), saya akan kaji perbedaan "Thilmidz" dan "Tholib", dan pada volume berikutnya akan dikaji perbedaan "Daris" dan "Muta'alim".

“Tilmidz” secara bahasa bermakna "Mengikuti’, “Membantu”, “Pelayan",  "Membantu mempelajari kerajinan, kesenian”. Sedangkan dalam Kamus Ma’ashir dan Mu’jam Wasit bermakna “Seorang anak yang belajar (yatalammadz) ilmu”, “Pembelajar yang menuntut ilmu kerajinan dan lainnya”.
Dan ulama bahasa mendefenisikan “Tilmidz” adalah “Pembelajar (siswa) yang belajar di tingkat bawah (ibtida’), menengah (mutawassit).

Minggu, 18 November 2018

"Jancok" Benarkah dari Bahasa Arab?

(Mencari Asal kata,  Analisis Bahasa Sederhana)
Halimi Zuhdy

IG: @halimizuhdy3011
Awalnya, ketika saya ingin menulis judul di atas agak geli, tetapi karena untuk menganalisis dan mencari kebenaran, atau mendekati kebenaran, atau mengundang orang lain untuk mengritik tulisan saya, maka saya beranikan diri untuk mengulasnya secara sederhana, dan suatu saat kalau bisa berlama-lama duduk, akan saya tulis dengan lengkap, atau bisa saya masukkan di jurnal. He

Tulisan di atas berawal dari dialog mahasiswa, yang keduanya mengucapkan kata-kata “Jancok” tanpa risau, dan sepertinya tidak ada yang merasa bersalah. Saya yang bukan berasal dari Jawa (walau masih Jawa Timur. He), agak kaget, karena selama ini bahasa tersebut paling saya takuti, karena dianggap “memisuh”, atau “mengumpat”, seperti mengungkapkan kekecewaan dan kekesalan yang luar biasa, “brengsek, keparat dan lainnya”.

Percakapan dua mahasiswa tersebut sebagaimana berikut:
“Dang, Jancok Kon, Nangendi?”, Sambil tersenyum.
“Arep, neng Kampus”, Tak ada raut wajah marah sedikitpun, ketika menjawab pertanyaan yang ada kata tersebut.
“Loh, kok misah-misuh si rek? Saya dengan nada agak marah. Karena pemahaman saya, kata itu tidak laik diungkapkan.
“Katanya, “Jancok” dari bahasa Arab ustadz?” sambil saya terbelalak朗, saya berfikir,  benarkah kata tersebut dari Bahasa Arab. Kemudian saya googling dan menemukan dibeberapa laman. 

Rabu, 07 November 2018

Luar Biasa! Gadis Kecil Maroko, Pemenang "The Arab Reading Challenge 2018"

Halimi Zuhdy

Dua hari ini dunia Arab dihebohkan dengan kecerdasan gadis kecil, dan vedionya viral diberbagai media, Maryam Amjun, ia punya nama.

Gadis kecil ini mampu membuat para hadirin dan juri bedecak kagum, bahkan tepuk tangan riuh tak berhenti, ketika gadis kecil ini menjawab pertanyaan Dr. Muna dengan meyakinkan dan kefasihan kalamnya dalam bahasa Arab.

Gadis berusia sembilan tahun itu tidak dapat membendung gelombang air matanya, membuncah, sambil tersenyum gembira dan binar matanya menyapa seluruh hadirin, ditangannya memegang erat piala yang diberikan oleh Wakil Presiden UEA, Muhammad bin Rasyid Ali Maktum. Karena hari itu, ia telah meraih bintang "The Arab Reading Challenge" tahun 2018. Maryam adalah peserta termuda dalam acara ilmiah dan budaya tersebut.

Pertanyaan yang diajukan kepada Maryam "lebih sulit dari umurnya", dia pun kata ibunya, tidak memiliki akun apapun pada situs jejaring sosial, dan tidak memiliki HP Tetapi jawaban "pintarnya", seperti yang dikatakan ibunya, membuatnya mengungguli lawan-lawannya dan menemukan jalan keluar untuk mendapatkan suara terbanyak.

"Saya sangat bahagia dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Sheikh Muhammed bin Rasyid atas prakarsa luar biasa ini yang telah membangkitkan rasa ingin tahu dan pengetahuan kami tentang membaca buku," kata Maryam sambil sesenggukan bahagia.

Gadis kecil itu telah melampaui lebih dari 300 ribu siswa dan murid di tingkat nasional, mewakili 3.842 lembaga pendidikan, untuk dapat mewakili Maroko di babak ketiga kompetisi " Tahaddi Al-Qira'ah al-Arabiyah,".

Berikutnya ia bersaing dengan peserta dari negara-negara Arab, serta dari masyarakat Arab dan Muslim yang berada di negara-negara Barat, Kualifikasi awal kompetisi dihadiri oleh 10 setengah siswa dari 44 negara, dengan seleksi akhir 87.000 peserta dari 52.000 sekolah. Dan pada tahap akhir, dialah sebagai pemenangnya.

Usia mudanya tidak menghalangi dia untuk mewujudkan impian besarnya. Maryam Amjon digambarkan oleh ibunya sebagai seorang gadis yang mencintai banyak buku sebelum ia dapat membacanya. "Masa kecilnya hidup di tengah-tengah buku." "Pekerjaan kami sebagai guru membuat kami selalu sibuk dengan buku-buku, dan anak itu tergoda oleh hal-hal di sekitarnya yang menyibukkan orang tuanya."

Maryam, si gadis kecil , membaca lebih dari 200 buku dalam kompetisi, di tingkat nasional dan internasional.

Dan penulis memimpikan ada lomba membaca buku di Indonesia, dengan hadiah besar, seperti di UEA, 150 US Dolar, belum lagi berbagai hadiah lain yang diterimanya. Agar masyarakat Indonesia juga berlomba-lomba membaca buku, dan buku sebagai tombak dalam hidupnya, karena  Indonesia termasuk negara yang paling rendah daya membacanya.
Allah 'lam bishowab.

IG : @halimizuhdy

#membaca #maryam_amjon #maryamAmjon #membacaGadisMaroko

Minggu, 28 Oktober 2018

Hari Sabtu (Asal Penamaan dan Rahasianya)

Halimi Zuhdy

Saya sering ditanya  mahasiswa bahasa Arab, tentang nama-nama hari; Ahad, Senin, Selasa dll, belum lagi pertanyaan, mengapa Ahad diganti Minggu. 

Dalam bahasa Arab, hari itu dimulai dari hari Ahad (kesatu) sampai Sabtu. Tetapi kebiasaan di Indonesia, permulaan hari dimulai dari hari Senin, sebagai awal dari belajar di sekolah formal, sedangkan di pondok pesantren dimulai dari Sabtu, bila liburnya hari Jum'at. Sedangkan di Arab, kegiatan dimulai dari hari Ahad (kesatu) dan biasanya libur Jumat dan Sabtu. 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, seharusnya hari itu dimulai dari hari Ahad ( أحد) yang berarti permulaan atau ke satu, selanjutnya hari Senin (الاثنين) yang berarti kedua, sampai hari Kamis (خميس), baru kemudian hari Jum'ah dan Sabtu. 

Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa setelah Kamis (lima) tidak dilanjutkan ke-enam dan ke-tujuh, tetapi menggunakan Jum'at dan Sabtu?. Ini yang akan  saya kaji, namun sebelum membahas Jum'at, akan dibahas terlebih dahulu hari Sabtu.

Hari Ahad, Mengapa Diganti Hari Minggu?

Halimi Zuhdy
Beberapa puluh tahun terakhir ini, hari Ahad mulai lenyap, dan bahkan ketika kita bertanya kepada siswa atau mahasiswa atau halayak umum, mereka sudah tidak lagi tahu asal-muasal Minggu yang berasal dari hari Ahad. Dan mereka dengan entengnya menyebut hari Ahad dengan hari Minggu. Dan yang lucu lagi, banyak yang tidak mengenal bahwa hari hari yang ada di Indonesia berasal dari bahasa Arab, Senin (isnain), Selasa (sulasa’), Rabu (arbia’), Kamis (khamis). Jumat (Jumuah), Sabtu (Sabt).

Setelah penulis telisik dari berbagai leteratur bahwa hari Minggu adalah nama yang diambil daribahasa Portugis, Domingo  yang berarti “hari Tuhan  kita”, dan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kemudian kata ini dieja sebagai Minggu. Hari tersebut, Bagi salah satu umat yang ada di dunia, yaitu umat Kristen, nama hari Minggu selain diidentikkan dengan Hari Tuhan, juga sebagai hari kebangkitan, hari peristirahatan dan hari untuk beribadahdan pada hari Minggu ini umat gereja memperingati hari Minggu sebagai hari perhentian bagi orang Kristen sekaligus hari peringatan akan kebangkitan Yesus. 

Rabu, 24 Oktober 2018

KECEWA


Halimi Zuhdy

"Ia selalu saya dukung untuk maju, bahkan jam berapa pun ia butuh saya, saya selalu ada untuknya, tapi sekarang seperti kacang lupa kulitnya".

"Yang menjadikan ia seperti itu, saya, mengapa dia sekarang melupakan semuanya".

"Dulu, itu saya yang bangun, sampai megah, sekarang semuanya pada ngaku-ngaku, dan telunjuknya panjang-panjang".

"Aku ini kurang apa, semuanya sudah saya lakukan untuknya, tapi mengapa dia sekarang tega berbuat itu padaku".

"Aku sudah berkorban harta, fisik, dan psikis untuknya, dia sekarang sok, bahkan seperti melukis di atas air".

"Dia dulu saya anggap anak sendiri, bahkan melebihi siapapun, tapi setelah sukses, tak pernah lagi dia mengingatku".

"Dulu saya yang mengusahakan dia untuk dapat beasiswa dan sampai selesai studinya, tapi acara wisuda saya tidak diundang".

"Dulu yang mengangkat dia juga saya, tapi dasar anak tidak tahu diuntung, dia sudah berani mengecewakan saya".

"Dulu organisasi itu kecil, ketika saya pimpin, semuanya berubah luar biasa, dan kamu bisa lihat sendiri, tapi setelah itu, mereka tidak pernah ingat, siapa yang membesarkan".

Jumat, 12 Oktober 2018

RINDU


Halimi Zuhdy

Kerinduan itu menyakitkan, melupakannya kadang obatnya. Namun, bila tak ada rindu, hati terasa  kering kerontang, bagai mentari menjejal sahara, yang tak ada tetes embun menyapa.
Kerinduan itu menyakitkan, namun bila rasa rindu  tak datang,  sakit semakin mencekam. .

Rindu itu kan selalu datang bertandang, karena masih ada cinta mendekam. Ia tak kan pernah mengering dan tak kan pernah berhenti mengalir, selagi rasa bergerak tuk menemukan samudera kasih. Seperti air sungai yang terus bergerak, menghentak, menerobos tuk menemukan samuderanya. Rindu itu akan selalu ada, buat seseorang yang dicinta. .

Rindu, bagaimana Thalhah yang tidak mau melepas tubuh Nabi, dipeluknya erat, dan menciumi jenggot sang kekasihnya itu. Pertemuan dengannya, bagai tetes air di kerongkongan yang kering. .

Rindu bagai karang di lautan, lautpun tak mampu menghenpaskan. Bagai Shahabat Nabi yang bangga dengan giginya yang ompong, bahkan tidak ingin dipasang gigi lagi, karena gigi itulah yang menarik rantai yang membelit Nabi dalam perang Uhud, ia tak ingin giginya terpasang karena takut kerinduannya tercerai padanya. Sungguh, kerinduan itu mempesona. .

Belum lagi Ukasyah yang membuat tangis seisi masjid berderai. Meminta Rasul membuka bajunya, hanya agar dapat menyentuh tubuh surganya. Bahkan Umar bin Khattab pernah dengan lantang berkata, "Tiada seorangpun yang kudengar dan ia mengatakan Nabi wafat, melainkan akan kupancung dengan pedangku ini! " ini sunggu rindu di atas rindu, pedih kehilangan sang kekasih yang paling kasih. .

Bila ia lupa untuk rindu, sepertinya sudah mulai tergerus cinta itu, semakin rindu, cinta itu semakin mengakar kuat. Maka tidaklah pernah ada, cinta tanpa rindu, karena dimana ada asap, di situlah api menguap.

Allahummaj'alna musytaqina laka wa lihabibika Ya Rabb.

Jum'ah Mubarokah

Malang, 12/10/2018

#madzhabrindu #fatwacinta #fatwa_cinta

IG: @halimizuhdy3011