السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 17 September 2021

Menilik Munculnya Istilah Ma'had, Ribath, Ma'had Aly, Ma'had Al-Jami'ah.

Apakah sama dengan Pesantren?

Halimi Zuhdy

Dulu, kita hanya mengenal istilah pondok dan pesantren, atau digabung menjadi pondok pesantren. Istilah ini sangat masyhur di Nusantara, terutama di Jawa, Madura, dan Sunda. Sedangkan di daerah lain, seperti Minangkabau dikenal dengan istilah surau. Kata surau di beberapa daerah, mirip mushalla (tempat salat). Di Aceh, pesantren dikenal dengan istilah dayah. Atau mungkin masih ada istilah lain di beberapa daerah, alfaqir belum tahu, soalnya belum pernah diajak jalan-jalan ke berbagai belahan Indonesia.wkwkw

Istilah pondok, menurut beberapa pendapat berasal dari bahasa Arab, yaitu funduq, tempat menginap, bermalam, atau berteduh. Tetapi, funduq sekarang lebih dikenal dengan istilah hotel, lebih keren kan?. Atau mungkin, dengan istilah funduq, dulu santri yang mondok berada di tempat yang berkelas. Kelas di sini bukan kelengkapan fasilitasnya, tetapi kebahagiannya, bahagia bermalam dengan teman dan bersamai dengan kyai, mengaji dan mengabdi. He. 

Istilah pesantren sudah sangat akrab dengan Indonesia. Sedangkan akar kata atau asal dari kata pesantren, terdapat  beberapa perbedaan. Ada yang berpendapat bahwa kata pesantren dari kata santri, dan kata santri berasal dari Cantrik. Dan seterusnya. Intinya orang yang belajar agama, berguru pada syekh/kyai/ustadz dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir istilah pesantren, diterjemahkan dengan beragam kata, ada yang mengunakan Ma'had, Ribath, Boarding School, Sakan, dan beberapa istilah lainnya. Istilah itu pun berkembang, ada istilah Ma'had Aly, Ma'had Al-Jamiah, dan mungkin ma'had-ma'had lainnya. Belum lagi dengan istilah Boarding School, istilah ini keren agak ke barat-baratan sih.wkwwk.

Dulu, pesantren ya pesantren. Kemudian muncul pesantren modern, sehingga bagi yang tidak sepakat dengan istilah modern (karena beberapa hal), maka menggunakan istilah pesantren Salaf, walau pada awalnya pesantren ya pesantren salaf. Kemudian muncul pesantren semi, semi salaf dan semi pesantren (tidak salaf, ya tidak modern).

Kemudian. Entah kapan, masuknya istilah Ribath di Indonesia yang kemudian dianggap sama dengan pesantren. Demikian juga dengan istilah Ma'had. Karena kata Ribath lebih dekat dengan istilah markas tentara (al-makan alladzi yurabithu al-jaisy), atau juga tempat yang diwaqafkan untuk fakir miskin. Kalau dalam istilah fiqih adalah tempat untuk menghalau musuh diperbatasan kota atau negara. Atau juga diartikan sebagai tempat orang-orang sufi (beribadah) dan bermiditasi (taammul).

Bagaimana dengan Ma'had?. Ma'had adalah istilah umum yang digunakan untuk sebuah tempat atau lembaga, seperti perguruan tinggi, institut, badan dan beberapa makna lainnya. Kalau pengertian di wikipedia berbahasa Arab, adalah organisasi permanen yang didirikan untuk tujuan tertentu, seperti lembaga penelitian, dan lembaga kursus, kampus, dan lainnya. 
منظمة دائمة التي أنشئت لغرض معين

Maka, pesantren dengan ciri khasnya, ya pesantren. Berbeda dengan ma'had dan ribath, kecuali keduanya dianggap terjemahan dari pesantren, itu pun masih belum unik dibandingkan pesantren di Indonesia. Apakah ribadh dan ma'had adalah pesantren seperti di Indonesia? Ini perlu mengundang ahlinya.wkwkw.

Bagaimana dengan istilah Ma'had Al-Aly apakah akan diterjemahkan dengan Pesantren Tinggi? Bagaimana juga dengan Ma'had Al-Jamiah, apakah diterjemahkan dengan pesantren kampus? Ah, istilah tidak penting, yang penting actionnya.he.
Belum lagi istilah Boarding!?.he  

Allahu'alam Bishawab

******

Jumat, 10 September 2021

Sejarah Penamaan Bulan Shafar


(Membaca Asal Kata Safar)

Halimi Zuhdy

Kita sering mendengar kata zero dalam bahasa Inggris, dan kata shifer dalam bahasa Arab, keduanya bermakna nol dalam bahasa Indonesia. 

Kata zero dalam bahasa  Inggris diambil dari bahasa Prancis "zéro", dan kata ini berasal dari bahasa Venetian (bahasa Roman, Italia) dan sepadan dengan kata “cypher” yang berasal dari bahasa Italia yaitu "zefiro". Nah, asal kata zefiro  ini adalah dari bahasa Arab 'shifer' (صفر). Kata zero pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1598 (lihat, Maudhu', Aslh Lughah). Maka, kata Safar (juga Zero) secara umum bermakna Nol (kosong, farigh). 


Bulan Shafar adalah nama bulan kedua dalam kalender Hijriah (Qamariyah), setelah bulan Muharam. Terdapat banyak pendapat terkait dengan sejarah penamaan “Shafar” demikian juga dengan asal muasalnya (derivasi). Dalam Al-Yaum yang mengutip dari Mu’jam Musthalahat wa Alqab al-Tarikhiyah bahwa kata ini berasal dari “Asfarat Dar” orang-orang Arab keluar rumah untuk berperang, sehingga rumah-rumah mereka menjadi sepi tanpa penghuni. 

Juga dari Al-Yaum, menukil dari Kitab Alfu Ma’lumat an al-Lughah al-Arabiyah wa Adabiha, bahwa orang Arab meninggalkan kota Makkah sehingga kota tersebut menjadi kosong. Sedangkan dalam Al-Bilad, orang-orang Arab meninggalkan kampungnya untuk berperang (yaharib) ada juga yang berpendapat mereka meninggalkan kampung halaman pada bulan Shafar karena mencari makanan dan menghindari panasnya musim shaif (panas). 

Pada masa Jahiliah bulan safar bernama Najir (arti, panas), di mana pada bulan tersebut cuaca yang sangat panas dan unta-untuk begitu banyak minum air. Orang Arab dulu mempercayai bahwa bulan Shafar adalah bulan penuh petaka, maka bulan ini dikenal dengan bulan pesimistis (tasyaum), bulan mendatangkan sial, malapetaka, musibah dan mendatangkan banyak penyakit. Mungkin dari kayakinan inilah banyak orang yang menganggap bulan ini penuh musibah, atau bulan sial. Sehingga tidak jarang orang-orang Arab dan di luar Arab, tidak banyak yang melaksanakan pernikahan dan lainnya. 

Dari beberapa pendapat di atas, Bulan Shafar secara bahasa lebih condong pada makna kosong (shifr, nol, zero), bukan pada arti shafar yang bermakna menguning. Kuning karena berbagai penyakit yang menimpa seseorang, sehingga banyak yang beranggapan bahwa bulan Safar adalah bulan penyakit.

Beberapa peristiwa terjadi pada Bulan Safar, yaitu; terjadinya perang Abwa’, terjadinya Ar-Raj’, pernikahan Nabi dengan Khadijah al-Kubra, Nabi Muhammad menikahkan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, dan beberapa peristiwa lainnya.

Allahu'alam Bishawab

Malang, 3 Safar 1443 H.

Sabtu, 04 September 2021

Mengungkap Rahasia di Balik NUN

(Melirik Nama-Nama Besar Seputar Huruf Nun)

Halimi Zuhdy

Siapakah An-Nun?, pikiran kita akan tertuju pada tiga nama besar, Dzun Nun (dalam Surat Al-Anbiya'), Nun awal Surat Al-Qalam, dan Dzun Nun Al-Misri. Siapakah mereka dan mengapa dijuluki dengan Nun?. 

Dzun Nun adalah laqab (julukan) yang disematkan Al-Qur'an pada Nabi Yunus, nama ini terdapat dalam surat Al-Anbiya', Ayat 87. Nabi Yunus dengan kisahnya yang berada di atas perahu yang terombang ambing oleh hempasan angin. Kapal yang kelebihan muatan, dan untuk mengurangi muatan kapal, undian pun menjadi jalan terakhhir, nama siapa yang keluar, ia harus melompat ke laut.

Tiga kali diundi, nama yang keluar sama, Nabi Yunus. Maka sang Nabi ini pun dipaksa melompat ke laut, kemudian al-haut (ikan paus) menelannya. Ikan paus inilah yang juga dikenal dengan  "An-Nun". 

Nabi Yunus dijuluki dengan Dzun Nun, pemilik ikan paus, karena dia pernah ditelannya (iltaqama) cukup lama berada di dalamnya, dan setelah beberapa lama dimuntahkan kembali. Ikan tersebut membawa Nabi Yunus ke dasar laut, berhari-hari ia berada di dalamnya (40 hari, menurut Ibnu Katsir). Intensitas dengan ikan yang cukup lama, dengan pertaubatan Nabi Yunus pada Allah di dalamnya, keakraban inilah yang mungkin membawanya pada julukan tersebut. Dzun Nun. 

***
Selain Dzun Nun yang disematkan pada Nabi Yunus. Dalam Al-Qur'an terdapat kata "Nun", yaitu pada awal surat Al-Qalam, surat ke  68. 

 نۤۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا یَسۡطُرُون

"Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan"
Nun, ulama berbeda pendapat dalam memahami dan memberikan arti kata ini. Dalam Almerja, Nun adalah nama surat Al-Qur'an seperti nama-nama surat lainnya, Shad, Ha Mim, Ya Sin, Alif Lam Mim dan huruf lainnya yang serupa. Ada pula yang berpendapat Nun adalah Ikan paus yang berada di muka bumi (lautan) demikian menurut Ibnu Abbas, Muqatil dan Mujahid. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berpendapat bahwa Huruf Nun adalah di salah satu huruf Al-Rahman.

Menurut Al-Dahak, Qatadah dan Al-Hasan, Nun dalam Surat Al-Qalam adalah Dawat (tempat tinta). Sedangkan  dalam riwayat lain, ia adalah papan yang terbuat dari cahaya. Nun adalah sungai di surga, kemudian Allah berkata pada sungai tersebut "Kun Midadan", jadilah tinta. Kemudian sungai itu membeku, warnanya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu (syahd), kemudian Allah perintahkan pada al-Qalam, "Uktub, tulislah", kemudian pena itu menulis apa yang ada dan yang wujud sampai pada hari kiamat, demikian kata Abi Ja'far.  

Pula, ia dikatakan sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, Nun, Ikan Paus sebagai tanda-tanda kuasa Allah yang diciptakan dari air, tetapi bila ia telah berpisah dengan air, ia tidak akan bertahan hidup. Sebagaimana hewan darat, yang bila kemasukan air (tenggelam), ia juga akan mati.

Dan dari Ayat ini, inspirasi berdirinya Pondok Pesantren Darun Nun yang berada di daerah Malang Indonesia. Nun dengan berbagai rahasianya, dan Nun dengan berbagai falsafahnya, dan Nun sebagai rupa tempat tinta (ن) untuk menuliskan kebaikan-kebaikanNya.

***
Nun berikutnya, adalah Dzun Nun Al-Misri. Ulama yang sangat masyhur. Namanya sampai hari ini masih termaktub dalam kalbu umat Islam. Ia ditulis apik dalam sejarah sufi. Nama lengkap beliau adalah Thawbān b. Ibrāhīm al-Miṣrī, yang juga dikenal dengan Abu Fayd. Tokoh sufi abad ke 9.  Secara harfiyah, Dzun Nun, pemilik ikan paus, sahabat ikan paus, atau penguasa ikan paus. Atau pula pemilik huruf Nun.  Beliau dikenal sebagai seorang sufi yang memperkenalkan tentang Al-Ma'rifah secara sistematis (ilmiy munadzdham). 

Tentang julukan Dzun Nun yang disematkan kepada beliau, terdapat banyak kisah, dii antaranya, sebagaimana yang dituturkan Dr. Yahya Abu Maati dalam Biografi Dzun Nun (dalam Al-Ahram), "Ada seorang perempuan yang mendatangi Dzun Nun sambil menangis, ia mengadukan kejadian tersebut padanya, bahwa anaknya ditelan buaya di pinggiran sungai Nil. Kemudian Dzun Nun berdoa, "Ya Allah tampakkan buaya itu" tiba-tiba buaya itu datang, dan kemudian anak tersebut dikeluarkan dari dalam perut buaya dalam keadaan sehat dan selamat. Dari kisah ini, nama Dzun Nun disematkan sebagaimana ta'bir kisah keajaiban Nabi Yunus yang keluar dari Ikan Paus. Allahu'alam Bishawab.
Di antara pesan Dzun nun;

«كيف أفرح بعملى وذنوبى مزدحمة، أم كيف أفرح بعملى وعاقبتى مبهمة؟!»

****

Nun tentang membuka pintu-pintu rahasia ketuhanan. Nun sebagai lambang pintu rahasia, demikian menurut Ibnu Arabi. Sebuah pintu menuju taubat dan kasih tuhan.  

Malang, 4 September 2021

Kamis, 26 Agustus 2021

Hadiah Paling Indah untuk Anak

Halimi Zuhdy

Saya tertegun ketika membaca sebuah Maqal yang berjudul "Madza Qaddamta Li Auladik" kira-kira kalau diartikan, "Apa yang Engkau hadiahkan untuk anakmu?". Saya jadi berfikir, hadiah apa yang pantas dan bermanfaat bagi anak-anak nantinya; pulau, hotel, apartemen, kendaraan atau apa?, sepertinya kurang pantas memberi hadiah di atas, apalagi sampai hari ini saya belum punya satu kamar hotel pun untuk saya hadiahkan. Wkw
Ah, ketimbang menghayal yang tidak-tidak, sepertinya hadiah di atas memang tidak cocok untuk anak-anak. Oh ia, hadiah-hadiah indah dan keren dari ulama dahulu untuk anak-anaknya adalah hadiah berupa kitab. Imam ibn Ajurmiya mengarang kitab "Al-Jurmiyah" untuk putranya. "Bulughul Al-Maram" yang dirajut oleh Ibnu Hajar juga untuk anaknya. Imam Al-Saqqaf mengarang kitab "Al-Aud al-Hindi" ia hadiahkan untuk anaknya. 

Ada juga kitab yang luar biasa "Umdah al-Salik" yang dikarang Ibnu al-Naqib al-Misr al-Syafi'i ia hadiahkan untuk putra tercintanya. Imam al-Hafidh al-Iraqi mengarang kitab "Taqrib al-Asanid wa Tartib al-Masanid" yang kemudian ia beri syarah dalam "Tharh al-Tadrib" setelah seelsai beliau hadiahkan pada putranya, Abi Zar'ah al-Iraqi. Dan yang menarik Abu al-Walid al-Baji mengarang kitab khusus untuk anak-anaknya dan juga untuk anak-anak di muka bumi, "Al-Nasehah al-Walidiyah". 

Ibnu Hajar ketika kehilangan kedua putrinya pada masa pandemi yang banyak menelan korban pada waktu itu, ia mengarang kitab "Badz al-Ma'un fi Fadhail al-Ta'un". Dan kitab ini paling banyak dirujuk pada masa pandemi Covid-19. "Lamiyah al-Af'al" kitab yang dirajut oleh Ibnu Malik juga dihadiahkan untuk anaknya. Ini, beberapa kitab yang dirajut orang tua (ulama) untuk putra-putri tercintanya, sebagai hadiah dalam hidupnya. Hadiah beberapa kitab para ulama di atas, pada akhirnya tidak hanya sebagai hadiah untuk putra putrinya tetapi untuk generasi setelahnya, sampai hari ini, kita menikmati kitab-kitab berharga tersebut. 

Kira-kira kitab apa yang akan kita hadiahkan untuk generasi kita, khususnya untuk anak-anak kita?. Kitab tidak hanya menjadi hadiah untuk generasi setelahnya, tetapi ia menjadi monumen penting pada setiap zamannya. Ia menjadi masdar ilmu pengetahuan dan perkembangan keilmuan setelahnya. Kitab adalah hadiah paling berharga untuk generasi setelah. 

Mudah-mudahan kita juga bisa memberikan hadiah paling indah untuk generasi setelah kita. 

Malang, 26 Agustus 2021

Menelisik Asal Kata Jima'

Halimi Zuhdy

"Bapak pengikut Taliban ya?" seseorang mengirim pesan lewat WA pada saya.

"Lo, kok bisa Ananda menuduh saya pengikut Taliban! " saya balas pesan dengan super cepat, hanya ingin tahu mengapa ia menuduh saya sebagai pengikut Taliban.
"Buktinya, Bapak kemarin menulis Taliban!" jawab orang tersebut dengan imoji marah 😡. 

"Oh, gitu, emang kalau saya Talib (tanpa an), kenapa?, emang apa urusan Bapak dengan Taliban ?! " saya hanya tersenyum dengan imoji 🤓

Orang tersebut lama tidak menjawab, kemudian saya kirim pesan WA lagi.

"Pak/Mas/Mbak (saya tidak tahu siapa pengirim pesan itu), seperti saya menulis tentang kata Jima', maka tidak harus saya melakukan itu. Minimal saya mengenal artinya. Jangan terlalu sempit dalam berpikir, bila menemukan tulisan, baca dengan baik-baik, renungkan, baru tanggapi". Ternyata ia sudah memblokir nomor saya. Entah kenapa?

Karena saya tidak sempat menjelaskan kata jimak pada orang tadi, maka saya tulis saja di sini. Wkwkw

Jimak dalam KBBI hanya memiliki satu arti, bersetubuh. Sebenarnya kata ini memiliki beberapa arti di antaranya, periuk besar (qadrun jima'), kumpulan sesuatu (jam'u) dan beberapa arti lainnya. Kalau kita perhatikan, kata Jimak adalah derivasi dari jama'a- yajma'u (جمع-يجمع), mengumpulkan, menggabungkan, mempersatukan, menghimpun dan mengkobinasikan.

Keindahan bahasa Arab, semua kata yang berakar huruf  Jim ( جيم) mim (ميم) Ain (عين) bermakna berkumpul, berkelompok, atau berhimpun. 

Jimak yang dimaknai dengan bersetubuh, karena berkumpulnya dua orang (lawan jenis). Mari kita lihat beberapa kata yang berasal dari derivasi jim-mim-ain, misalnya kata Jum'at (جمعة), dinamakan Jum'at karena pada hari tersebut umat Islam berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum'at (dapat dibaca tulisan saya asal usul Hari Jum'at). Masjid Jami' (جامع), tempat orang-orang melakukan shalat berjamaah, terutama yang dibuat tempat untuk shalat Jum'at. Jami' juga bermakna, menyeluruh, mencakup, kolektor dan bermakna umum. Shalat ber-Jama'ah (جماعة), shalat yang dilakukan bersama-sama. Jama' (جمع), mengumpulkan satu shalat pada waktu shalat yang lain, seperti shalat Jamak Takdim Dhuhur dan Ashar.

Masih banyak contoh lainnya, ada Jam'iyyah (جمعيّة) organisasi. Jami'ah (جامعة) bermakna universitas. Jum'un (جمع) kepalan tangan. Majma'(مجمع) bermakna; konvensi, perhimpunan, pertemuan,  perkumpulan, kotak, peti dan kaleng. Mujamma'(مجَمَّع), komplek, campuran,  kelompok. Jamik (جميع), semua, seluruh. Mujtama' (مجتمع), masyarakat, komunitas. Majmuah (مجموعة), kelompok, koleksi, kumpulan, himpunan. Dan masih banyak kata-kata yang berasal dari tiga huruf tersebut. Semua kata dengan tiga huruf di atas, memiliki satu arti, berkumpul (lebih dari satu orang). 

Untuk mempermudah dalam mengajarkan bahasa Arab pada siswa dan untuk menambah kosa-kata, maka bisa dinarasikan, seperti, "Pada hari Jum'at saya pergi ke masjid Jami' untuk melaksanakan shalat Jum'at dengan ber-Jama'ah, saya bertemu dengan teman sekelas, kemudian ngajak ke Jami'ah (kampus) untuk mendiskusikan Jam'iyyah yang ada di beberapa kota". Dan seterusnya... Asyikkan. 

Kata Jima' mengarah pada persetubuhan suami istri, karena suami istri melakukan perkumpulan rahasia. Sebenarnya kata ini halus sekali, jauh dari jorok, tetapi karena sering digunakan dengan kata-kata yang jorok, maka terkesan kata jima' adalah kotor.

******
link di bawah ini membicang tentang pola-pola kumpulan dalam bahasa Arab.

Rabu, 18 Agustus 2021

Menelisik Asal Nama Taliban

Halimi Zuhdy
Taliban sedang menjadi sorotan dunia. Kelompok ini sudah menguasai lebih dari separuh wilayah di Afganistan, sebentar lagi negeri yang didiami penyair Nadia Anjuman akan dikuasi oleh kelompok yang dicap sebagai teroris dunia ini.
Taliban adalah nama dari sebuah kelompok pergerakan (harkah) bersenjata yang berada di wilayah Afganistan. Kelompok ini bermadzhab Hanafi dan tidak mengakui madzhab lainnya. Misi besarnya adalah menjadikan Afganistan sebagai negara Islam dengan asas Al-Qur'an dan hadis, demikian pula hukum-hukumnya dengan berasaskan "syariah Islam". (AlHayah)

Yang menarik adalah, kelompok ini menggunakan kata Taliban, bagi pembelajar bahasa Arab kata tersebut tidak asing. Kata Taliban mirip dengan kata Tholiban (طالبا) dalam bahasa Arab, yang artinya adalah siswa (peserta didik), namun penulisan di media berbahasa Arab kata Taliban pada akhir katanya menggunakaan Alif dan Nun, طالبان. Antara Taliban (harkat dhammah, mansub) dengan Thaliban (ditambah alif dan nun) dalam arti yang berbeda, yang pertama bermakna "satu siswa" dan yang kedua "dua siswa".

Tetapi, arti Taliban dalam AlJazeerah adalah jamak (plural), berarti banyak siswa, bukan hanya satu dan dua siswa. Karena kata ini diserap dari bahasa Arab yang artinya pembelajar (siswa, murid), tetapi memiliki bentuk yang berbeda. Dalam bahasa Pusthun (nama daerah di wilayah Afganistan, atau marga yang berada di Afganistan) juga memiliki arti "banyak siswa". Sedangkan dalam bahasa Arab, Taliban bermakna "satu siswa", dan jamaknya adalah Thullab (طلاب), Thalabah (طلبة), Thawalib (طوالب), Thalibuna (طالبون) dan Thalibat (طالبات untuk siswi).

Maka, kalau diartikan secara tekstual kata Taliban adalah para siswa (para pembelajar di madrasah). Dan ternyata benar, kelompok ini dilahirkan dari sekolah-sekolah agama (madrasah), mereka adalah para pembelajar yang mendalami ilmu agama teruma Al-Qur'an dan Al-Hadist. 

Dalam el-Jazeera, Taliban adalah Gerakan Islam yang diprakarsai oleh para siswa madrasah (sekolah agama) yang dikenal sebagai Taliban (jamak dari kata Taliban dalam bahasa Pashto) gerakan ini muncul pada tahun 1994 di provinsi Kandahar (Afghanistan barat daya) yang berbatasan dengan Pakistan, kekuasaan pertama berada di tangan Mullah Muhammad Omar Mujahid ( 1959-2013). 

Gerakan ini berdiri, awalnya adalah ingin memperbaiki moral dan pemulihan suasana keamanan dan stabilitas di negeri Afghanistan yang tidak stabil pada waktu itu, dan gerakaan ini didukung para siswa sekolah agama yang berjanji setia kepada Mullah sebagai Amir mereka pada tahun 1994.

Para pembelajar (siswa) yang masuk dalam kelompok Taliban, mereka adalah pembelajar di sekolah-sekolah agama Deobandi (kata ini dinisbatkan pada sebuah desa yang bernama Deobandi India) karena beberapa kurikulumnya dipengaruhi oleh kurikulum yang berada di beberapa sekolah tersebut (Deobandi berada di India, yang mempelajari kemurnian Al-Qur'an dan Hadis). Sekolah-sekolah tempat mereka belajar banyak mengkaji dan lebih berfokus pada ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadits dan biografi, di samping beberapa ilmu modern yang diajarkan dengan cara lama dan tradisional.

Siswa yang berada di sekolah-sekolah agama tersebut mengikuti beberapa jenjang atau tahapan pendidikan dari Marhalah (tingkatan) pertama sampai marhalah selanjutnya, yaitu dari tingkat (marhalah) dasar, tingkat menengah, tingkat tinggi dan tingkat akhir (takmiliyah). Selama siswa belajar, tahapan ilmiahnya berubah (derajat, gelar, pangkat) dari satu tahap ke tahap lainnya.

Pertama tahap "Talib" yang dalam bahasa Pashto digabungkan dengan "Taliban", yaitu setiap orang yang masuk sekolah dan memulai belajar, kemudian "Mullah" adalah seseorang yang gagal dari beberapa disiplin ilmu dan belum lulus dari sekolah, dan berikutnya adalah "Mawlawi" adalah seseorang yang menyelesaikan pendidikan dan lulus dari Daurah (pelatihan, sekolah) hadits, yang kemudian diwisuda dan disematkan di kepalanya sorban, dan berhak menyandang gelar gelar dan menerima ijazah.

Jumat, 13 Agustus 2021

Puisi Arab yang dianggap Paling Sulit

Halimi Zuhdy

Puisi Arab (الشعر العربي) adalah ungkapan yang berwazan (pola wazan), berirama, dan bermakna. Definisi ini  yang sering kita baca dalam literatur Arab. 
Orang-orang Arab menjadikan puisi sebagai diwan, silsilah, kisah, dan catatan harian mereka. Mereka menyimpannya dengan rapi, bait-baitnya fushah, sehingga puisi dijadikan marja' dalam berbagai kajian bahasa. Puisi Arab pada waktu itu dianggap karya paling orisinil. (dalam Hayatuk) 

Kehadiran Al-Qur'an dengan kalimatnya yang indah, sudah tidak asing buat mereka, karena mereka sudah biasa berkelindan dengan kata-kata indah nan fusha, tetapi pesan dan kalimatnya yang membuat mereka terhentak. Puisi Arab pada waktu itu adalah kata-kata paling fasih, terukur, dan berwazan. Kehadiran al-Qur'an dianggap menyalahi aturan puisi Arab, sehingga mereka menyebut Nabi Muhammad sebagai panyair dan penyihir, karena kalimat-kalimat Al-Qur'an berbeda dengan puisi. 

Beberapa bait puisi Arab yang dianggap paling sulit (lafal, makna, dll) 

تدفق في البطحاء بعد تبهطلِ *** وقعقع في البيداء غير مزركلِ

وسار بأركان العقيش مقرنصاً *** وهام بكل القارطات بشنكلِ
Karya Laits bin Farghadnafari

عِشِ اِبقَ اِسمُ سُد قُد جُد مُرِ اِنهَ رِفِ اِسرِ نَل
 غِظِ اِرمِ صِبِ اِحمِ اِغزُ اِسبِ رُع زَع دِلِ اِثنِ نُل

Bait-bait di atas karya Al-Mutanabbi, penyair yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah. 

أقيموا بني أمي، صدورَ مَطِيكم
 فإني، إلى قومٍ سِواكم لأميلُ
 فقد حمت الحاجاتُ، والليلُ
 مقمرٌ وشُدت، لِطياتٍ، مطايا وأرحُلُ
Puisi ini dikenal dengan Lamiyatul al-Arab,  dan bait-baitnya masih panjang,  puisi ini dikenal sulit dan rumit. Puisi-puisi dirajut oleh An-Syanfari (di antara penyair Sha'aliq). 

حَلَّت سُلَيمى بِخَبتٍ أَو بِفَرتاجِ
 وَقَد تُجاوِز أَحيانًا بَنى ناجِ
Amr bin Kulsum (penyair Jahili yang dikenal dengan penyair Muallaqat)

Dalam vedio ini, puisi yang dianggap paling sulit dalam pelafalannya.

Kamis, 12 Agustus 2021

Gila yang Waras

Penyair, Muhammad Qamalah An-Nadhary

Halimi Zuhdy

Penyair yang tinggal di daerah Nadhari ini dikenal dengan penyair gila paling waras. Dengan rambut gembelnya ia asyik melantunkan puisi, puisi fushah. Walau rambutnya acak-acakan, bajunya compang camping, tapi yang mengalir dari lisannya adalah nasehat, ia juga dikenal dengan si majnun. Karena orang menganggapnya gila. Mungkin benar-benar gila, tapi gila yang waras. Bingung!! Bisa disimak vedionya.  
Tanpang dan ucapannya seperti gula di lautan. Ada gula-gula indah bagi mereka mereka yang menjadikan harta segala-galanya. Harta sebagai maha kuasa. Ia berkuasa merubah seseorang yang biasa-biasa dipoles menjadi orang yang luar biasa. Yang lemah didesain menjadi paling kuat. Yang kuat dirubah menjadi yang lemah dan hina. Dengan harta, kekuasaan dapat diraihnya, bermudal mulut-mulut penuh pesona yang dibeli dengan lembaran-lembaran dirham. 

"Si gila yang paling berakal", orang-orang memanggilnya. Dialah Muhammad Qamalah. Penyair dari desa Nadhari yang terletak di propinsi Ib,  Yaman. 

Di antara puisinya yang masyhur adalah Fitnatul Mal (godaan harta).

الأبيات للشاعر 
محمد قماله النظاري

بعنوان فتنة المال 

إن الغنيَّ إذا تكلَّمَ كاذباً
قالوا صَدقتَ ومانطقتَ مُحالَ
أما الفقيرَ إذا تكلَّمَ صادقاً
قالوا كذبتَ وأبطلوا ما قالَ
إن الدراهمَ في المواطنِ كُلِّها
تكسو الرجالَ مهابةً وجَمالَ
فهي اللسانُ لمن أرادَ فصاحةً
وهي السلاحُ لمن أرادَ قِتالَ

Uang yang tak berlidah, mampu membuat lidah berbisa para penguasa. Dengannya, jabatan dapat dibeli. Kekuasaan dapat diusahakan. Diri diperjual belikan. Dengannya, yang gila menjadi waras. Yang waras menjadi gila. 

Ngeri?!. Tidak lah. Karena mereka menjadikannya sebagai alat untuk membangun kehormatan, keelokan, kedigjayaan. "Saya hanya menjalankan tugas" kata harta ketika ditanya. "Tugas apa?", tugas bagi mereka yang menjadikan nafsu sebagai tuhan.

Selasa, 10 Agustus 2021

Bulan Muharram bukan Peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad

(Bulan Muharram bukan Peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad)

Halimi Zuhdy

1 Muharram ditetapkan dan disepakati oleh kaum muslimin pada masa Khalifah Umar bin Khattab, atas inisiatif Khalifah sendiri. Berawal dari surat Abu Musa pada Khalifah Umar, bahwa surat-surat Khalifah tidak tercantum "tanggal" di dalamnya, sehingga berbagai peristiwa tidak diketahui. Muncullah inisiatif dari Khalifah untuk membuat kalender dalam Islam. 
Peristiwa hijrah terjadi tidak bertepatan dengan 1 Muharram tetapi pada bulan Shafar, dan ada pendapat lain peristiwa hijrah pada bulan Rabiul Awwal. Tetapi, nama kalendernya adalah Hijriyah yang berdasarkan hitungan bulan. Dengan visi membawa semangat hijriyah yaitu meninggalkan kebatilan menuju yang hak, demikian pendapat Khalifah Umar. 

Sama dengan Tahun Baru Masehi, sebagai penanda Nama Tahun, dan Masehi adalah era kalender yang dihitung sejak kelahiran Isa Al-Masih. Tetapi, Isa Al-Masih tidak lahir pada  1 Januari, tetapi tanggal 25 Desember sebagai tanda kelahiran Isa Al-Masih dalam kalender Masehi. Sama halnya dengan tahun Hijriah, yang kemudian dinisbatkan pada peristiwa hijrahnya Nabi, tetapi 1 Muharram bukanlah hari/tanggal ketika peristiwa hijrah itu terjadi. Dalam hitungan kalender Hijriah (Sebelum Hijriyah, SH), peristiwa hijrahnya Nabi terjadi pada bulan Shafar dan bulan Rabiul Awwal, yaitu bertepatan dengan bulan Juni dan Juli pada tahun 622 M). Bulan shafar (akhir bulan)  ketika Nabi berangkat dari Makkah,  dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awwal. 

Berbeda dengan kalender Masehi, penandanya adalah Kelahiran Isa Al-Masih yang disebut dengan yang juga disebut dengan Kalender Georgia, sedangkan penanda Tahun Hijriyah adalah peritiwa Hijrahnya Nabi yang dinamakan Tahun Hijriyah, sekali lagi dimulainya Hijriyah bukan hari atau tanggal dimana Nabi melakukan hijrah, tapi Sanah (tahun) Hijriyah. Kalender Hijriyah dibuat setelah 17 Tahun peristiwa Hijrah. 

Nama-Nama bulan sebelum Islam adalah Al-Mu'tamar (Muharram), Najir (safar),  Khawwan (Rabiul Awwal), Busshan (Rabiul Akhir),  Alhanin (Jumadil Ula), Rabbi/Rabbah (Jumadil Alkhirah), Al-Asham (Rajab)  dan Ghadzil (Sya'ban),  Nathiq (Ramadhan), Wa'il (Syawwal), Warnah (Dzulqa'dah), Bark (Dzulhijjah)  

 أوضحت الدارة أسماء الشهور الهجرية وما يقابله من اسم الذي كان يطلقه عليه العرب قبل الإسلام، مثلا: المحرم كان اسمه عندهم "المؤتمر"، أما صفر فيسموه "ناجر"، وربيع الأول "خوّان"، وربيع الآخر "وبصان"، وجمادى الأولى "الحنين"، وجمادى الآخرة "ربّى"أو"ربّة"، ورجب "الأصمّ"، وشعبان "عاذل".أما شهر رمضان فكانوا يسمونه بـ"ناتق"، فيما يسمون شهر شوال بـ"وعل"، وذو القعدة بـ"ورنة"، وذو الحجة "برك".

Mudahnya, semangat hijrah adalah nama yang dipilih untuk nama tahun dalam kalender Islam. Apakah salah bila peringatan tahun Hijriah dikaitkan dengan hijrahnya Nabi? Loh, siapa yang menyalahkan!!, tidak salah lo. Karena dalam pergantian tahun yang dibawa adalah semangat perubahan sebagaimana mana ashab hijrah, dari kemusyrikan menuju ketauhidan, dan dari dunia kelam (batil) menuju  dununia yang derang (hak) sebagaimana alasan Khalifah Umar dalam memilihnya.

*****
1 Muharram 1443 H

Sabtu, 31 Juli 2021

Imam Sibawaihi, Zumbur dan Politik

Halimi Zuhdy

Abu Bisyr, julukan yang disematkan pada Imam Sibawaihi. Dan Sibawaihi sendiri adalah nama panggilan dari Amr bin Ustman, nama yang berasal dari Persia yang bermakna aroma apel. Imam Sibawaihi lahir pada tahun 765 M di Kota Syiraz, Persia (sekarang Iran) dan wafat pada usia 32 tahun di kota yang sama pada tahun 796 M.

Nama Sibawaihi tidak asing bagi kalangan linguis dan ulama tatabahasa, karena semarak ilmu nahwu tidak terlepas dari pikiran inteleknya, sebuah fan yang ada dalam kaidah bahasa Arab. Ilmu yang dikenal sulit, ruwet, dan dijahui, tetapi baginya menjadi sebuah keindahan, dan di tanganya menjadi sesuatu yang mudah.

Imam Nahwu, hujjah Arab, demikian julukan lain yang disematkan padanya oleh para pakar tatabahasa Arab. Karyanya sampai hari ini belum ada yang menandinginya, dan hal itu diakui oleh al-Jahidh, Ibnu Katsir,  Abu Ishaq dan para imam lainnya.

Sosok yang dikenal lembut, rendah hati, cerdas, dan ganteng ini, bila berdebat tentang ilmu nahwu, maka lawannya akan terdiam, terkagum-kagum, dan tidak mampu mendebatnya kembali. Tulisannya lebih mengagumkan dari pada bicaranya, ia agak gagap (hubsah) tetapi ia paling presentatif bila menyampaikan ilmu dari gurunya, Khalil Al-Farahidi, kata Muawiya bin Bakr.

Peristiwa Zumbur, dan arah politik negara yang tidak mendukungnya, membuatnya pergi dari Basrah (sekarang Irak). Tempat, dimana membuat namanya melambung tinggi, bahkan kemasyhurannya mengalahkan gurunya, Khalil Al-Farahidi. Peristiwa pahit yang dialaminya, adalah kecamuk antara kebenaran dan dukungan politik. Kebenaran ilmu yang tidak didukung oleh politik pada waktu itu, membuatnya getir.

Dulu, di negeri Irak (masa ke khalifahan Abbasiyah) terdapat tiga daerah penting; Basrah, Kufah dan Baghdad. Kota Basrah dikenal dengan Madrasah Nahwu-nya dibawah asuhan Imam Sibawaihi, Kufah dengan Imam Kisa'i-nya yang juga dikenal dengan tokoh tatabahasa Arab. Sedangkan Baghdad, lebih dikenal dengan pusat pemerintahan, atau  kota politik.

Basrah dan Kufah, dua blok madrasah nahwu. Imam Sibawaihi dan Imam Al-Kisa'i, dua tokoh yang sama-sama dikagumi tidak hanya di dua kota tersebut, tetapi diberbagai propinsi di bawah pemerintahan Abbasiyah keduanya  sangat masyhur.

Peristiwa Zumbur, bukan sebuah peristiwa perang, atau pertikaian memperebutkan kekuasaan, tetapi sebuah perdebatan tentang tatabahasa yang melibatkan blok Basrah dan blok Kufah. Perdebatan itu terjadi di Propinsi Baramiqah yang fasilitasi langsung oleh gubernur, Yahya bin Khalid. Debat yang difasilitasi oleh pemerintah ini diumumkan ke halayak, sehingga dari berbagai penjuru kota banyak orang-orang yang ingin menyaksikan perdebatan antara  dua blok Basrah dan Kufah. Dari blok Kufah tidak hanya dihadiri oleh sang tokohnya, Al-Kisa'i, tetapi bersamanya beberapa orang Arab, yang sengaja dibawa oleh blok Kufah. Sebelum perdebatan berlangsung, Al-Kisa'i bertanya pada Sibawaihi; "Kamu yang bertanya padaku, atau Aku bertanya padamu?" 
Sibawaihi menjawab, "Kamu yang bertanya terlebih dahulu!".

Kemudian Al-Kisa'i bertanya pada Sibawaihi, "Bagaimana kamu menanggapi kalimat berikut?

قَد كنْتُ أظنُّ أن العقربَ أشدَّ لسعة من الزُنْبُور فإذا هو هي، أو فإذا هو إياها بعينها؟ 

Dan Al-Kisa'i juga bertanya beberapa masalah lainnya yang tidak jauh berbeda, seperti kalimat;

خرجت فإذا عبد الله القائمُ أو القائمَ؟

Menurut pendapatmu, kalimat di atas dibaca rafa' atau nasab? 

Imam Sibawaihi menjawab, bahwa semua kata di atas hanya boleh dibaca rafa', sedangkan Al-Kasa'i berbeda dengan Sibawaihi, bahwa kalimat di atas boleh rafa' dan nasab. Sibawaihi dengan berbagai argumennya membantah pendapat Al-Kisai. Keduanya tetap mempertahankan pendapatnya masing-masing, tidak ada yang mengalah atau merasa kalah. Kemudian sang fasilitator turun tangan melihat perdebatan sengit dan belum ada tanda-tanda siapa yang benar dan salah, Gubernur Yahya bin Khalid berkata, "Kalian berdua berbeda pendapat, dan kalian adalah para imam di kota kalian, terus siapa yang akan menjadi hakim?" 

Di sinilah kesempatan emas Al-Kisa'i untuk mengusulkan orang Arab asli (badui) menjadi hakim mereka berdua. Gubernur setuju atas pendapat tersebut, kemudian dipanggillah beberapa orang Arab, yang sebenarnya sudah disiapkan oleh Imam Al-Kisa'i untuk hadir di tempat tersebut. Setelah beberapa dari mereka dihadirkan untuk menjadi saksi dan menimbang atas perbedaan pendapat kedua imam tersebut, maka mereka berpendapat, bahwa bacaan yang benar adalah pendapat Imam Al-Kisa'i. Di sinilah skenario itu berjalan dengan apik. Imam Sibawaihi meradang mendengar pendapat orang Arab yang hadir di arena debat, dan keputusan di forum debat itu pun ternyata memenangkan Imam Al-Kasa'i.

tentu Imam Sibawaihi sangat kecewa dengan peristiwa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Setelah usai perdebatan dua blok antara Basrah dan Kufah, orang-orang yang hadir dalam debat membicarakan tentang kekalahan yang diderita Imam nahwu dari kota Basrah tersebut. Sibawaih dalam hati nuraninya, bahwa hal tersebut tidak perlu terjadi, sebuah persekongkolan, dan Imam Sibawaihi tidak membayangkan bahwa kejahatan seperti ini akan meluas, menodai tempat suci ilmu pengetahuan dan ulama; Dia sangat sedih, dan memutuskan pada saat itu untuk pergi dari kota Basrah ke tempat lain di mana tidak ada kedengkian dan kejahatan; dan ia berniat pergi ke Khurasan. 

Perjalanan sang Imam seolah-olah sedang berjalan menuju akhir dari perjalanan hidupnya;  Penyakit menyerangnya ketika ia dalam ia menuju Khurasan, dan tidak tertolong, ia menghadap Tuhannya di usia yang masih relatif muda, 32 tahun.

Malang, 31 Juli 2021

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab dan Turast dapat dibaca di:

📲FB: Halimi zuhdy
💌IG: Halimizuhdy3011
🎞️Youtube: Lil Jamik
🌍Web: halimizuhdy. com
🦜 Twitter: Halimi Zuhdy

Kamis, 29 Juli 2021

Mengapa Istri Harus Taat pada Suami?



Pada acara Fatwa Virtual seorang perempuan bertanya pada seorang Syekh;

"Syekh, mengapa Islam menuntut seorang istri untuk taat kepada suaminya, bukan suami yang mentaati istri?" kata perempuan dalam sambungan telpon

"Ibu punya berapa anak?" tanya Syekh 

"Saya punya tiga anak syekh, semuanya laki-laki"

"Allah, memerintahkanmu untuk mentaati seorang laki-laki, dan Allah memerintahkan 3 laki-laki untuk taat padamu" jawab syekh

Sang syekh ini melanjutkan setelah menghela nafas panjang,  "Dan mereka (3 anak)  tidak akan masuk surga bila tidak mentaatimu dan bila tidak berbuat baik padamu".

*****

Ya Rabb, jadikan kami anak-anak yang saleh pada ibunda kami, dan suami yang sayang pada istri kami.
Gambar: Elaa Style

Sabtu, 24 Juli 2021

Akhir dari Kisah Nabi Yusuf

(Mamadukan Optimis dan Tawakkal)

Halimi zuhdy

Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai kisah terbaik, ahsanal qashasi. Kisah ini turun ketika Nabi Muhammad saw dirundung kesedihan, yang dikenal dengan Amm al-Huzn (tahun kesedihan), karena Istri dan pamannya wafat pada tahun itu. Seakan-akan hadirnya kisah Yusuf AS sebagai motivasi pada Nabi Muhammad untuk tidak bersedih, karena kisah Yusuf AS dipenuhi dengan berbagai macam cobaan, kesedihan, petaka, tapi berakhir dengan keindahan. 
Kisah yang bermula dari mimpi, dan berakhir dengan tafsir mimpi. Kebohongan saudara-saudaranya dengan menggunakan robekan kain baju sebagai bukti Yusuf AS diterkam binatang buas, pada akhirnya robekan baju yang membebaskan Nabi Yusuf dari tuduhan Istri sang Menteri, dan juga dengan bajunya, ayahanda Nabi Yusuf dapat melihat dunia Kembali, dengan izin Allah. 

Pesan terkuat dari kisah Nabi Yusuf adalah Ia sangat percaya dan yakin akan rencana (tatbir) Allah, bersabar dan tidak putus asa. Dengan tiga pesan ini, Nabi Yusuf dapat melalui berbagai penderitaan dan cobaan itu, hal ini terdapat pada salah satu Ayat dalam surat Yusuf, yaitu;
إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219591323682870&id=1508880804

Hidup itu memang tidak pernah lurus dan mulus, seperti jalan, ada tikungan, tanjakan, menurun, dan lurus. Permulaan yang indah, terkadang berakhir dengan derita. Dan awal yang buruk, terkadang berakhir dengan keindahan. Betapa ayahanda Nabi Yusuf sangat mencintai Yusuf, tetapi Nabi Yusuf dalam episode ini berakhir di dasar sumur (jub), sesusatu yang membuat pilu. Dan ketika Nabi Yusuf dijual sebagai budak, dan ia menjadi pembantu di istana yang megah, tetapi pada akhirnya dialah yang menjadi raja di istana itu, walau sebelumnya lantai penjara telah mendekapnya, tetapi dari penjara itulah dimulai kisah suksesnya. Kisah motivasi yang indah bagi manusia, bahwa hidup tidak pernah lurus mulus.

Kisah Nabi Yusuf, seperti menggambarkan kepada pembacanya, bahwa perjalanan demi perjalanan selalu dinikmati oleh Nabi Yusuf AS, selalu ada keyakinan pada dirinya, sabar yang mengiringinya, dan tawakkal kepada Tuhannya. Selalu ada optimis dalam diri Nabi Yusuf, sehingga ia berhasil. Dan dalam surat Yusuf, banyak sekali Ayat tentang rasa pesimis yang kemudian dengan optimis semuanya kegundahan berakhir dengan kebahagiaan, “Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik” (80), “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”, (87). “Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami” (110).

Sungguh kisah ini memberika motivasi untuk bangkit dalam keadaan terpuruk, optimis menuju kesuksesan, karena Allahlah yang mengatur segalanya, Wallahu ‘ala kulli syain qadir. Nabi Yusuf diselamatkan dari sumur oleh kafilah, diangkat menjadi anak oleh sang Menteri, menafsirkan mimpi kemudian dikeluarkan dari penjara, dan diminta pendapatnya terkait dengan kekeringan, yang kemudian diangkatlah menjadi raja. Selalu ada jalan menuju keindahan, atas kuasa Allah. 

Pesan terindah; 1) mutiara selamanya akan menjadi mutiara, walau dibuang di tempat paling buruk pun, ia akan kembali berkilau indah. Dipenjara, tapi dari singgasana raja, Yusuf AS dipanggil untuk menghadapnya "inna naroka minal muhsinin, sesungguhnya saya melihat kamu termasuk orang-orang baik". 2) Sesungguhnya kebaikan dan kejelekan bukanlah pada sesuatu itu, tetapi "bagaimana kita menggunakannya", bajumu kadangkala digunakan untuk menipu, kadang sebagai pembebas dari tuduhan palsu, dan ia pula yang datang sebagai obat untuk Ya'qub Ayahmu. 3) Tidak semua yang indah, tidak semua kebaikan, tidak semua yang membahagiakan harus diceritakan, karena di sana ada orang yang benci, iri, dengki dan mereka merasa terancam dari pemberian dan kenikmatan itu.4) Bahwa tikaman, tusukan dan penghianatan, tidak dapat kita duga datangnya, ketika engkau selamat dari serigala tapi tidak dari saudaramu. Tidak semua selimut melindungi dari gigil, tapi kadang memberi bara dan membunuh. 5) Mendapat limpahan dunia, berada di istana, menjawab cinta rayuan wanita/laki, bukanlah suatu jalan mengindah jiwa, tetapi tempat yang paling indah adalah Allah semata. "Aku berlindung kepada Allah, Dialah Tuhanku, sebaik-baiknya tempat kembali" 6) Cinta itu punya aroma, tidak dapat merasakannya kecuali sang pecinta. Demikian, Ayah Yusuf AS sudah mencium baunya sebelum baju itu sampai padanya. 7).Dunia itu tidak akan pernah selesai dari peperangan, antara benar dan salah, ia selalu ada sampai hari kiamat. Hanya tentaranya saja yang berganti. 

Malang, 23 Juli 2021

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab dan Turast dapat dibaca di:

📲FB: Halimi zuhdy
💌IG: Halimizuhdy3011
🎞️Youtube: Lil Jamik
🌍Web: halimizuhdy.com
🦜 Twitter: Halimi Zuhdy

Jumat, 23 Juli 2021

Hari Tasyrik, Hari Makan dan Minum



Halimi zuhdy

Sering kali penulis membaca pesan di beberapa grup WhatApp dan beberapa status di media sosial tentang Hari Tasyrik sebagai hari makan dan minum dengan menyertakan hadis Nabi, "Hari-hari tasyrik adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir kepada Allah," (HR. Muslim). Dan kemudian disertakan dengan gambar daging, vedio orang-orang menyantap daging kambing, dan berbagai gambar dengan menu makanan yang lezat dan aduhai yang mengundang selera makan.
 
Apakah hal tersebut salah?, tidak ada yang salah dengan status-status tersebut yang kemudian disertai dengan hadis Nabi. Tetapi yang menjadi tidak pantas, apabila hadis tersebut hanya dipahami sebagai pesta makanan saja tanpa memasukkan tujuan lain dari hadis tersebut. Dan melupakan makna dari hari makan dan minum tersebut, yang disertai dengan kalimat “yaum dzikr” (hari mengingat Allah).

Hari Tasyrik, Hari Makan dan Minum
Dalam banyak redaksi hadis, bahwa Hari Tasyrik adalah hari makan dan minum seperti dalam beberapa hadis berikut;

عن نبيشة الخير الهذلي: أيامُ التَّشريقِ أيامُ أكلٍ وشربٍ
عن عبد الله بن عمرو: أيّامُ التَّشريقِ أيّامُ أَكْلٍ وشُربٍ فلا يصومُها أحَدٌ
عن عقبة بن عامر: يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق، عيدنا أهل الإسلام، وهي أيام أكل وشرب
عن عبد الله بن حذافة وأبي هريرة وابن عباس: أيّامُ التَّشريقِ أيّامُ أكلٍ وشُربٍ وبِعالٍ
عن أبي هريرة: أيّامُ التَّشريقِ أيّامُ أكلٍ وشُربٍ وذكرِ اللهِ تعالى

Hadist Nabi tentang Hari Tasyrik dari Nusyaibah, Abdullah bin Amr, ‘Uqbah bin Amir, Abu Hurairah dan Ibnu Abbas di atas bahwa “Hari Tasyrik adalah hari makan, minum’, kemudian ada yang ditambah dengan redaksi lain “Maka hendaknya pada hari itu seseorang tidak berpuasa” ada juga redaksi “hari untuk berdzikir kepada Allah”. 

Sedangkan dalam Al-Qur’an terkait dengan hari Tasyrik sebagaimana pendapat banyak ahli tafsir adalah Ayat “Wadzkurullah fi ayyam ma’dudat” hari-hari dianjurkan untuk memperbanyak mengingat Allah pada hari Tasyrik.

Ada tiga hal pokok dalam redaksi hadis terkait dengan hari Tasyrik yaitu hari makan dan minum, dan juga hari mengingat Allah (dzikir). Maka, dilarang berpuasa pada hari Tasyrik dan dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, yaitu; 1) takbir setelah shalat lima waktu (dan ada juga yang berpendapat takbir disunnahkan sejak hari Arafah sampai hari ke tiga Ayyam Tasyriq. 2) Menyebut nama Allah (basamalah) ketika menyembelih hewan kurban. 3) Menyebut nama Allah ketika makan dan minum dan memperbanyak membaca hamdalah (bersykur). 4) bertakbir ketika melempar jumrah.

Hari Tasyriq, hari di mana dianjurkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah serta hari makan dan minum, hal tersebut dibenarkan oleh para ulama dengan keshahihan hadis dan juga Ayat Al-Qur-an; 

وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۖ فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ

"dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir"

وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ  فَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْقَانِعَ وَٱلْمُعْتَرَّ ۚ 

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta”

Hari Tasyrik adalah hari-hari yang mulia di sisi Allah, dimana orang-orang mukmin yang melakukan kebaikan pada hari itu pahalanya akan dilipatgandakan; 

عن عبدالله بن قرط : أعظمُ الأيامِ عند اللهِ يومُ النَّحرِ، ثم يومُ القُرِّ
Dari Abdullah bin Qurt, Rasulullah bersabda, “Hari-hari yang paling mulia di sisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari Qurr (hari Tasyrik)”. 

Syariat Islam memberi keseimbangan dalam kehidupan manusia, bagaimana ia menjalaninya di dunia menuju akhiratnya. Seorang mukmin tidak hanya diwajibkan untuk bersujud kepadaNya, dan kemudian meninggalkan keluarganya dan pekerjaan, tetapi ia juga diwajibkan untuk melakukan kehidupan dunianya sebagai bekal akhiratnya. Mukmin diwajibkan untuk puasa, dan kemudian berbuka.

Dalam Ihram jamaah haji dilarang melakukan sesuatu seperti bersetubuh, berburu dan bahkan sesuatu yang diluar haji disunnahkan, memakai wewangian, memotong kuku dan lainnya. Larangan tersebut sampai jamaah haji berada di Mina, kemudian melaksanakan tahallul, setelah itu semua dihalalkan, maka di sinilah dianjurkan untuk makan dan minum kemudian berdzikir kepadaNya.

Demikian pula kehidupan seorang mukmin di dunia, adakalanya menahan diri untuk tidak makan dan minum (puasa) dan menahan syahwat,  dan adakalanya makan dan minum sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, kesemuanya itu hanyalah untuk bersyukur atas karunia Allah, dengan banyak mengingatNya dan melakukan kebaikan-kebakan.

Bagi jamaah haji dianjurkan untuk makan dan minum (dilarang puasa) agar kuat dalam melaksanakan ibadah haji, sebagaimana disampaikan Asma’ Manshur dalam Maqalahnya.

Bagaimana dengan umat Islam yang tidak melaksanakan haji?, maka mereka juga dilarang untuk berpuasa, hari itu adalah hari makan dan minum, yaitu sebagai simbol berbagi nikmat yang Allah berikan kepada seseorang dengan berbagi makanan atau minuman, hari mengungkapkan syukur atas nikmat yang Allah telah berikan, berkorban dan dagingnya dibagi-bagikan. Bagi fakir miskin yang jarang memakan daging, maka hari itu mereka dapat menikmatinya. Hari makan dan minum bukanlah untuk pesta, tetapi sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada manusia. Asma’ menambahkan, dianjurkan memakan daging ternak (unta, kambing dan sapi) pada hari Tasyrik, karena hewan-hewan ini taat kepada Allah dan tidak melakukan maksiat, dan selalu bertasbih kepada Allah, “wain min syain illa yusabbihu bihamdih”. 

Allah ‘Alam bishawab
Malang, hari Tasyrik 1442 H

Senin, 19 Juli 2021

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐧𝐚𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐫𝐚𝐟𝐚𝐡?

(𝐼𝑛𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑒𝑗𝑎𝑟𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑏𝑎𝑙 𝐴𝑟𝑎𝑓𝑎ℎ, 𝑌𝑎𝑢𝑚 𝐴𝑟𝑎𝑓𝑎ℎ, 𝑑𝑎𝑛 𝑊𝑢𝑞𝑢𝑓 𝐴𝑟𝑎𝑓𝑎ℎ)

Oleh : Halimi Zuhdy 

Kata Arafah kamus Ma’any adalah sebuah bukit yang dekat dengan Mekkah, tempat jamaah Haji melakukan wuquf (bahasa: berhenti) di tempat tersebut. Tempat ini juga dikenal dengan “Jabal ar-Rahmah” (Gunung Rahmah) yang berada di sebelah timur Mekkah, dengan ketinggian 70 meter.
Kata “Arafah” berbeda dengan “Yaum Arafah”, Arafah merujuk kepada sebuah tempat. Sedangkan Yaum Arafah adalah hari kesembilan di Bulan Dzulhijjah. Dan pelaksanaan wuquf (berdiam diri) di tempat ini disebut dengan wuquf atau tawaqquf fi Arafah. Mengapa dinamakan Arafah?

Ada beberapa pendapat terkait dengan penamaan ini. Dalam Tafsir Ibnu Katshir (261), sebagaimana diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib; Allah mengutus Malaikat Jibril AS kepada Nabi Ibrahim AS, kemudian Malaikat Jibril melakukan haji bersama Nabi Ibrahim, setelah sampai ke tempat itu (Arafah), Nabi Ibrahim berkata “Araftu” (Aku Tahu), karena sebelumnya ia sudah pernah mendatangi tempat tersebut. Sedangkan dalam riwayat lain, sebagaimana yang disampaikan Ibnu Mubarak, dinamakan Arafah karena Malaikat Jibril mengajari manasik haji kepada Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim mengulang dua kali, “Araftu…Araftu” (aku tahu), maka sejak itulah dinamakan Arafah. Tempat ini juga dinamakan al-Masy’ar al-Halal dan al-Masy’ar al-Aqsha (Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir).

Dalam Kitab Al-Hawi Al-Kabir, Abu Hasan Ali bin Muhammad menyampaikan beberapa pendapat, dinamakan Arafah karena bertemunya (ta’aruf) Adam dan Hawwa’ di tempat tersebut, setelah Allah turunkan Adam di bumi India dan Hawwa’ di Jiddah, kemudian keduanya bertemu di tempat tersebut. Masih dalam kitab Al-Hawi, Arafah adalah sebutan dari gunung yang ada ditempat tersebut, dan Jamaah Haji melaksanaan wuquf di tempat itu, sedangkan gunung Arafah sebagai pengenal (al-A’araf), sebagaimana dalam Ayat, “wa ‘ala al-Arafi rijalun” (al-A’araf;46). Sedangkan menurut Qasim bin Muhammad; orang-orang mengakui (ya’tarifu) akan dosa-dosanya di tempat itu, dan Allah seketika itu Allah mengampuni dosa-dosa mereka.

Dan dalam kitab ‘Umdah al-Qari’ Syarh Shahih al-Bukhari’, setelah peristiwa mimpi yang dialami Nabi Ibrahim mulai mimpi menyembelih Ismail tetapi masih ragu (tarwiyah) kemudian yakin setelah adanya wahyu pada malam tersebut (arafah). Maka harinya disebut hari Arafah (yaum Arafah), sedangkan penamaan tempatnya sebagaimana diriwayatkan oleh Thufail dari Ibnu Abbas, setelah Nabi Ibrahim diperintakan oleh Allah untuk menyebelih putranya datanglah Malaikat Jibril dan mengajari Manasik Haji (Ibadah Haji), kemudian pergi menuju Arafah.

Ada yang juga yang berpendapat, dinamakan Arafah karena jamaah haji berkumpul pada hari Arafa di puncak gunung, dan mereka mengenal satu sama lain, dan juga mengenal Tuhan mereka. Pada hari itu kasih sayang (rahmah) Tuhan turun, budak-budak dibebaskan.

Arafah yang diperkirakan berjarak 21 kilometer dari dari Makkah dengan luas 8 kilometer persegi ini, tanah yang sangat luas dan datar ini menyimpan banyak sejarah. Arafat adalah sebuah daerah padang sahara (Shara’) terletak di timur Mekah, sedikit condong ke selatan, dengan luas kira-kira 18 kilo meter persegi, yang terdapat diantara jalan Thaif dan Mekah (Tarikh al-Hajj).

*Hari Arafah*

Pada hari (yaum) Arafah seluruh jamaah haji menuju padang Arafah. Mereka melaksanaan wuquf sebagai bagian dari rukun haji. Bila seorang haji tidak melaksanaan wuquf di tempat ini, hajinya batal (tidak sah).Haji itu adalah Arafah. (HR. at-Tirmidzi no. 889). Sebagaimana di atas. Dinamakan hari Arafah karena pada hari itu jelaslah (arafah) mimpi-mimpi yang sebelumnya masih diragukan (tarwiyah)Nabi Ibrahim.

Hari ini sangat istemewa sebagaimana dalam Hadis, “Tidak ada hari di mana Allâh azza wajalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim no. 1348).

Dalam hadis yang lain, “Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.” (HR. at-Tirmidzi). Bagaimana dengan ibadah puasa? Banyak riwayat yang meceritakan keutamaan berpuasa di hari Arafah diantaranya riwayat Imam Muslim, “Puasa hari Arafah aku harapkan dari Allâh bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya”.

*Wuquf di Arafah*

Wukuf adalah masdar dari Waqafa-Yaqifu- wuqufan yang bermakna berhenti. Wukuf saat haji dilaksanakan pada waktu di antara setelah matahari tergelincir ke barat pada 9 Dzulhijah sampai pada terbit fajar di malam 10 Dzulhijah. Seluruh proses haji (manasik) hanya saat di Padang Arafah itulah satu-satunya pelaksanaan ibadah haji yang berhenti (diam/waqif) untuk merenung melakukan komunikasi dengan Allah SWT dan memohon ampunan dari-Nya.

Pada saat itulah kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan Allah, betapa banyak dosa yang telah kita lakukan, betapa rakus, tamak, kikir, sombong dan sebagainya yang menjadi sifat atau kebiasaan buruk yang dilakukan. (Manasik Haji dan Sejarah, Halimi Zuhdy).

Wuquf; merenung, diam, kontempelasi di Arafah. Berwuquf tidak boleh keluar dari baris Arafah yang sudah ditentukan. Dalam kondisi apa pun (sakit, dll) hajinya menjadi sah, selain gila, ayan, kafir, atau sudah keluar dari waktu dan tempat yang sudah ditentukan oleh Syariah.

Allahu’alam bisshawab

*Penulis Buku "Sejarah Haji dan Manasik"

Baca juga
Sejarah Arafah, Mudzdalifah, dan Mina

Repost 2020

Mengapa Dinamakan Hari Tarwiyah?

(Inilah Sejarah Hari Tarwiyah)

Halimi Zuhdy 

Allah memberikan banyak kesempatan kepada hambanya, untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam setahun, banyak kesempatan beribadah kepada-Nya, ada ibadah harian, seperti salat lima waktu. Mingguan, salat Jum’at. Tahunan, seperti al-asyru al-awail (sepuluh hari pertama) dalam bulan Dzulhijjah, dan melakukan amal kebaikan di dalamnya, lebih Allah cintai dari melakukan amal di hari-hari lainnya. Dan di dalamnya, ada Yaum Tarwiyah.

Kata “Tarwiyah” dari fi’il madli “Rawwa” yang bermakna: berbekal air, melihat di dalamnya, dan beberapa makna lainnya.

Dan hari Tarwiyah yang masyhur adalah hari ke Delapan pada Bulan Dzulhijjah, pada hari itu orang-orang yang sedang melaksanakan haji berangkat menuju Mina dan mereka menginap di Mina.

Dalam kitab Al-Inayah Syarh Al-Hidayah, imam al-Babirti menjelaskan, disebut hari Tarwiyah pada hari tersebut karena jamaah haji itu melihat air pada waktu itu, yang sebelumnya tidak mereka temui.

Ada yang berpendapat, disebut dengan Tarwiyah, karena jamaah haji pada masa lalu, meminum air ketika mabit di Mina untuk mempersiapkan diri mereka menaiki Jabal Arafah, karena pada masa itu, sedikit sekali persediaan air, dan sulit menemukan sumber air. Maka, jamaah haji menyegarkan diri (irtiwa’), dan meminum air untuk kebutuhan dan bekal mereka menuju Arafah.

Ada pula yang menyebutkan, disebut dengan hari Tarwiyah karena Nabi Ibrahim AS bermimpi pada malam tanggal delapan, seakan-akan ada yang membisiki, “Sungguh Allah Swt memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu”, ketika terbangun di pagi hari, beliau berpikir dan merenung, “Apakah mimpi ini dari Allah, atau dari setan?” maka, dari renungan inilah Tarwiyah dinamakan.

وإنّما سُمِّي يوم التروية بذلك؛ لأنّ إبراهيم -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآله وسَلَّمَ- رأى ليلة الثامن كأنَّ قائلاً يقول له: إنّ الله تعالى يأمرك بذبح ابنك، فلمّا أصبح رؤي؛ أي: افتكر في ذلك من الصباح إلى الرواح؛ أمِنَ الله هذا، أم من الشيطان؟ فمِن ذلك سُمِّي يوم التروية)

repost

Rabu, 14 Juli 2021

Nama-Nama Makkah dalam Al-Qur'an dan Asal Penamaannya

Halimi Zuhdy

Suatu benda yang memiliki banyak nama, dapat dipastikan benda itu memiliki banyak keistimewaan, atau memiliki arti khusus dalam kehidupan seseorang. Karena suatu benda yang banyak disebut, menunjukkan kemuliaan benda tersebut. كثرة الأسماء تدل على شرف المسمى
Makkah dalam Al-Qur'an memiliki banyak nama, yaitu: Bakkah, Umm Al-Quro, Al-Balad, Al-Baldah, Al-Balad Al-Amin, Al-Masjid Al-Haram dan beberapa nama lainnya. Nama-nama ini memiliki arti yang berbeda-beda yang merujuk kepada keistmewaan kota Makkah.



1. Makkah dinamakan dengan “Makkah”, karena tempat ini disesaki (izdiham) oleh manusia. Tempat yang tidak pernah sepi. Ada pula yang berpendapat, karena tempat ini menghisap atau menghapus dosa-dosa manusia (tamukku al-dzunub) yang diambil dari asal katanya "makka-yamukku". Ada pula yang menyebutkan Makkah adalah pusat dunia, atau tempat yang berada di tengah-tengah bumi (wats dunya) yang diambil dari akar kata Makkak (مكاك) sebuah pusat, atau jantung (lubb) atau otak (mukh).
Dalam Al-Qur'an kata Makkah terdapat pada surat Al-Fath (48): 24.

وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُم بِبَطْنِ مَكَّةَ مِن بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
"Dan Dia­lah yang mencegah tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan mencegah tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah. setelah Allah memenangkan kamu atas mereka." Ada pendapat lain, bahwa nama Makkah diambil dari nama burung Almakau (المكاو), karena di tempat ini suara-suara jamaah yang datang seperti suara-suara burung, seperti dalam Ayat وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً

2. Bakkah (بَكَّةْ), nama ini juga sangat masyhur dalam hazanah Islam. Dalam Al-Qur’an, kata ini terdapat pada surat Ali Imron (3):96.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
"Sesung¬guhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam."
Dalam beberapa pendapat kata Bakkah adalah Makkah, huruf Mim yang diganti dengan huruf Ba’. Seperti Lazim (لازم) dengan Lazib (لازب).
إن بكة بالباء لغة في مكة أبدلت الميم باء، كما في قولهم: لازب ولازم.. وبكة موضع المسجد، وهو مشتق من بكه إذا زحمه، أو من بكه إذا دقه
Ada pula yang berpendapat bahwa Bakkah adalah derivasi dari al-Bakk yang bermakna al-Izdiham (sesak, ramai, penuh), hal ini mengisyaratkan kota Makkah adalah kota yang ramai dan disesaki oleh manusia, terutama dalam pelaksanaan ibadah haji. Selain bermakna al-Izdiham (ramai), kata Bakkah juga bermakna Daqqu al-‘unuq (leher yang patah), yaitu seseorang yang berbuat keburukan di kota ini akan mengalami kecelakaan atau sesuatu yang buruk akan menimpa mereka. Pendapat yang lain, kata Bakkah diambil dari kata Bakkat an-Naqah aw Al-Syat (unta atau kambing yang sedikit susunya), hal ini menunjuk kepada kota Makkah yang berada di gurun yang pada awalnya adalah negeri yang tidak banyak airnya serta tidak subur.

Selasa, 13 Juli 2021

Covid akan segera berlalu!

Semangat Saudaraku!!! 

Halimi zuhdy

Bagi yang lagi sakit, apa pun sakitnya, berharaplah sembuh. Karena harapan itulah yang akan mengantarkan pada kekuatan. Harapan berupa doa yang dipanjatkan, dan harapan berupa cita-cita yang diinginkan. Adu’u silhaul mu’min. Doa adalah senjata. Senjata untuk menghadang penyakit, senjata untuk mematahkan pesimistis, dan doa sebagai senjata untuk hajat apa pun. Aktsiru ad-dua, perbanyaklah berdoa.
Kemudian, bersabarlah! Sabar adalah benteng untuk memperkuat pertahanan, ia mampu menolak pikiran negatif. Ia mampu menguatkan diri untuk bangkit. Bersabar seperti tetes air yang dapat melubangi batu, tetes demi tetes akan terus menembus menuju sebuah keinginan. Bersabar bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk menguatkan. Wasta’inu bishabri was shalah, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat!

Setelah bersabar, bertawakkal. Pasrah kepada Allah. Semua kejadian di muka bumi tidak terlepas dari kekuasaanNya. Pasrahkan pada yang memiliki alam semesta, karena kita tidak mempunyai apa pun. Toh, kalau hari ini punya sesuatu, itu hanyalah pinjaman, bukan pemilik yang sesungguhnya. Nyawa kita dipinjami, nafas-nafas kita dipinjami, semua adalah milikNya. Bukankah suatu saat, semuanya akan kembali kepada pemilikNya. Pasrahkan pada yang memiliki. "Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Dengan tawakkal akan mendapatkan perlindungan dari Allah. Berserah bukan pasrah, tetapi berserah untuk menguatkan diri. 

Dengan berharap, bersabar dan tawakkal akan menjadi imun bagi kehidupan kita. Bila sakit berharap untuk sehat, barangkali di sisa hidup kita dapat berbuat kebaikan dan kemanfaatan. Tetapi, bila hidup hanya membuat beban berat pada bumi dengan dosa, maka mungkin kematian adalah cara yang juga indah. Kemudian selalu berhusnudhan kepada Allah, apa pun yang terjadi itulah yang terbaik. 
Tidak cukup dengan tawakkal, bersabar, dan berdoa, tetapi harus berikhtiayar. Seseorang yang tertimpa penyakit, atau dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, semua saran yang baik terutama dari para ahli (dokter) harus diikuti dan dipatuhi. Mamatuhinya adalah bagian dari ikhtiyar. Orang yang tidak berikhtiyar sama dengan memasukkan atau melemparkan dirinya ke jurang tanpa perasut. 

Mudah-mudahan Indonesia kembali normal seperti sedia kala. Semangat sehat, semangat sembuh, dan bersabar. Yakin, sesungguhnya setiap kesulitan (masalah, penyakit, cobaan) setelahnya akan datang sebuah keindahan dan kebahagiaan. Mengingat kembali maqal Ibnu Sina “Alwahm Nishfu da’, wa ithmi’nan nishf da’, wa shabr awwali khuwat asyifa’, kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, kesabaran adalah awal kesembuhan”. 

Semangat!!!!

BCT Malang, 12 Juli 2021

Senin, 05 Juli 2021

Mencicipi Kematian

(Dzaiqatul Maut)

Halimi Zuhdy

Kematian datang silih berganti. Tak mengenal tempat, tak pula mengenal waktu. Kematian sangat dekat dengan kehidupan, ia tak memilih usia tuk dilesatkan; ada yang masih dalam rahim, ada yang baru satu detik keluar dari rahim, ada pula yang belum lama dirahim, digugurkan. 
Tidak menunggu tua, tidak pula menunggu sakit, karena kematian bukan karena tua dan sakit. Ia adalah kehedak Sang Khaliq. Ia rahasia yang paling rahasia, agar manusia selalu waspada, bahwa ia akan datang tetiba, walau tak pernah merasa. 

Kematian selalu unik, tapi nyata, dan ia benar-benar akan datang pada siapa pun; Nabi, raja, kyai, pengusaha, dokter, tabib, dukun, guru, tukang sapu, pejabat, artis, dan siapa pun yang masih bernafas, ia akan datang tuk menderangkan kematian. 

Kematian nyata dan sangat nyata, dekat dan sangat dekat, ada yang masih menulis status kematian temannya, ia sudah tak bernafas. Ada yang baru hadir dari menshalati saudaranya, ia pun dishalati, ada pula menghadiri kematian, ia pun tiada. Berhembus terakhir, terkadang tak berpesan apapun. 

Kematian itu selalu datang, tak mengenal tempat; tidak mati di darat, ia mati di pesawat. Tidak mati di rumah sakit, ia mati di bukit. Tidak di rumah, tapi di sawah. Terkadang dijaga ribuan tentara di Istana, ia mati begitu saja. Kadang di bungker, di benteng, sudah tak bernafas lagi.

Sebab kematian juga banyak, ada yang karena pandemi covid, ada yang kecelakaan ketika memgantar orang yang postif covid, ada pula yang jatuh dari tangga, atau terpeleset daun pisang. Semuanya hanyalah sebab, bukan yang membuanya meninggal dunia. Karena, sehebat apa pun penyakit yang menyerang seseorang kalau takdir kematian belum datang, ia masih terlihat di muka bumi. Tetapi, sehebat apapun cara menangkal kematian, kalau takdirnya tiba, ia tak akan mampu menolaknya. Itulah kuasa Tuhan. 

"Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya)  [QS al-Hijr/ 15: 5]. Ia datang tanpa izin, walau kadang ada tanda, tetapi tidak ada yang kuasa tuk menolaknya. 

Selalu Allah memilih tempat bagi siapa pun dan apa pun di Mayapada, tuk dilesatkan ke Mayanyata, akhirat. 

Walau kematian belum diharapkan, tetapi ia akan datang, seperti Umar bin Khattab yang menghunus pedangnya, bagi orang memberitakan kematian Sang Nabi, tapi Nabi sudah benar-benar wafat, walau Umar belum percaya. Secinta apapun ia, kematian akan segera datang. Abu Bakar berpidato ketika Nabi wafat, “Siapa saja yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah tiada. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup dan tidak akan pernah mati.”

Kematian pun datang, bagi yang mengaku Tuhan; Fir'aun, Namrud, Alan John, David Cores, Jim Jones,  Vissarion dan lainnya. Ia tak kan pernah kekal, karena kematian adalah kepastian. 

 كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ اْلمـَوْتِ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati [QS. Ali Imran/3: 185, al-Anbiya’/21: 35 dan al-Ankabut/29: 57]. 

Semuanya yang berjiwa, tak terkecuali apa pun dan siapa pun. Ia akan merasakan kematian. Mati dan akan hidup lagi. Merasakan, berarti akan mengalami kematian, merasakan seperti mencicipi, tidak semuanya, ia akan  datang setelah kematian dan mengalami kehidupan lain.

 Merasakan, berarti ada setelah merasakan rasa lain yang akan diberikan, sebuah janji di akhirat nanti. Di sinilah semuanya tampak akan diuji, bagaimana ia menjalani kehidupan menuju kematiannya.

Mati bukanlah akhir segalanya, tapi untuk hidup kembali, menuai dari hasil kreasi dan cipta diri, ketika masih berada di dunia fana ini. Balasan dari semua prilaku, akan tersaksikan di fase ini. 

Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Allah, Yang mengetahui keghaiban dan yang nyata. Lalu Ia akan beritakan kepada kalian apa yang kalian telah kerjakan. [QS. Al-Jumu’ah/62: 8].

Mudah-mudahan kematian tidak hanya menjadi tontonan dan kabar demi kabar, tetapi ia menjadi pengingat, bahwa kita akan juga menyusulnya dan kita dapat mempersiapkan diri. 

Allahumma asrif anna minal balak wal waba' Ya Rabb.

Uslub Nida’ (panggilan) dalam al-Qur’an

Kajian Ramadhan (1)

Halimi zuhdy

Lawan bicara al-Qur’an itu bukan hanya orang Islam, tetapi semua umat manusia. Karena al-Qur’an hadir untuk memberi pencerahan kepada seluruh umat manusia, sebagaimana redaksi Hudan linnasi (petunjuk untuk manusia), bukan hanya hudan lil muslimin (petunjuk bagi umat Islam). Kehadiran al-Qur’an memberi petunjuk, menunjukkan jalan yang benar, meluruskan yang bengkok, dan sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil.  
Lawan bicara al-Qur’an itu beragam, hal ini dapat dilihat dari uslub Nida’ (panggilan) yang tidak hanya menggunakan “wahai orang-orang beriman” tetapi juga “Wahai orang-orang kafir”. Al-Qur’an mengajak berdialog, mendialogkan dirinya dengan realitas, dan mendialogkan keyakinan yang diyakini atau diingkari. Bahkan al-Qur’an menantang sesiap yang mengingkari untuk bersaing atau membuat seperti dirinya. 

Nida’ (panggilan) dalam al-Qur’an ada beberapa macam, yang paling banyak digunakan adalah panggilan untuk orang-orang yang beriman “Ya Ayyuhal ladzina Amanu, wahai orang-orang yang beriman”, redaksi ini terdapat di 89 tempat. Berikutnya untuk semua umat manusia “Ya Ayyuhannas, wahai manusia” terdapar 20 tempat. Panggilan kepada Nabi terdapat di 15 tempat, Ya Ayyuha al-rusulu, ya Ayuha nabi….. dan ada juga “ya Ayyuhal insan”, dan panggilan untuk orang kafir “ya Ayyuha al-kafirun”, “ya Ayyuhaladzina kafaru” Dan beberapa khitab lainnya. 

Tidak semua redaksi nida’ dalam al-Qur’an menggunakan “ya Ayyuha”, ada juga “ya ayyatuha” dan ada juga “ya”. Pemilihan adawat (bentuk panggilan, alat) nida’ bukan hanya karena jenis munada (yang dipanggil) laki-laki atau perempuan, tunggal atau jamak, tetapi ia memiliki makna dan fungsi tersendiri. Dan terkadang huruf (adat nida’) dalam Al-Qur’an tidak ditampakkan (dihilangkan), seperti;

قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى..، قال رب أرني…، قال رب لوشئت اهلكته…، رب اجعلنى مقيم الصلاة…، قال رب انظرني…، قال رب بما اغويتني

Huruf-huruf panggilan di atas tidak ditampakkan (dibuang), tetapi dalam terjemahan tetap ditulis dengan “wahai”, yang asalnya adalah “Ya Rabb, wahai Tuhanku. Dalam kitab I’jaz al-Qur’an Lamasat bi bayan al-Qur’an, hal tersebut berfungsi lil ta’adub (memuliakan), dan juga berfungsi sebagai tanzih (mensucikan) Allah dan ta’dhim (memuliakan) Allah, serta beberapa fungsi lainnya. Panggilan kepada Allah, kebanyakan menggunakan kalimat doa, bukan perintah atau larangan. Sebagaimana doa Nabi Zakariya yang memohon kepada Allah untuk diberikan keturunan dengan redaksi yang sungguh lembut dan rendah hati; 

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ العَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْباً وَلَمْ أَكُنْ بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيّاً 
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”

Kebanyakan huruf nida’ yang tidak tampakkan, adalah panggilan kepada Allah.

Panggilan dalam al-Qur’an sangat vareatif, baik dari aspek mukhatabnya (yang dituju), gaya pengunaanya, fungsinya serta penggunaan huruf munada (bentuk panggilan). Misalnya panggilan sebagai bentuk pujian, penghargaan, kasih sayang; Ya Ayyuhan Nabi (يا ايها النبي), Ya Ayyuhar rasul (يا أيها الرسول) , Ya Ayyuhal ladzina Amanu (يا أيها الذين آمنو). Bentuk penyesalan; Ya hasrata (يا حسرتا).   Tantangan; Ya ma’syaral jin wa ins inisthata’tum antanfudzu min aqthari samawati wal ardh (يا معشر الجن والإنس ان استطعتم أن تنفذوا من أقطار السموت والأرض). Dan beberapa fungsi lainnya.

Penggunaan huruf Nida’ dalam al-Qur’an tidak hanya sebuah panggilan, tetapi memiliki I’jaz, rahasia dan keunikan, ada yang jauh serasa dekat, tetapi yang dekat masih menggunakan kata panggilan. Panggilan yang fungsi awalnya memanggil yang jauh, tetapi terkadang ia adalah sebuah ungkapan kasih sayang, cinta dan kelembutan.

Allahu’alam bishawab
Sumber;
Mu’jam Al-Araby
Asrar balaghiyah li hifdz harf Nida’
Uslub Nida’ fi al-Qur’an al-karim

واقع الأدب العربي في إندونيسيا

واقع الأدب العربي في إندونيسيا
(Realitas Sastra Arab di Indonesia)

Halimi Zuhdy
حليمي زهدي
....
الأدب العربي في إندونيسيا له تاريخ طويل قديم موغل في القدم، ودراسة الأدبية العربية خاصة تبحرت في موج تأسيس الجامعات الإسلامية؛ مثل: جامعة شريف هداية الله بجاكرتا، وجامعة سونان كاليجاكا بجوكجاكرتا، (وهما أقدم الجامعات الإسلامية الحكومية بإندونيسيا)، وكذلك الجامعات الأخرى قد اهتمت اهتماما كبيرا بدراسة اللغة العربية وآدابها، وتكون دراسة الأدبية العربية في المعاهد الإسلامية كالشجر بجذوره وعروقه؛ لأن دراسة المعالم الإسلامية لاتنفك من دراسة الأدب العربي. 

ودراسة أي أدب من آداب الأمم تقرب دارسه إلى أهله، وذلك لا طالاعه على تاريخهم وأفكارهم ومعتقداتم وكافة مجمالات حياتهم، فدارس أي لغة كانت، بدراسته لأدبها، تقوي ارتباطه بها، وترسخ مكوناتها لديه، وتغني رصيده اللغوي، وتتفتح لديه آفاقها إلى أبعد حدود. والثقافة العربية قريبة بدين الإسلام.

Bagaimana kesusastraan Arab berkelindan di Indonesia? Kapan, dan bagaimana tumbuh berkembangnya? Bagaimana pula ia mempengaruhi kesusastraan Indonesia?

Dapat dibaca di "Maujul al-Adab yatazahzah fi Syathi Arkhabil"

Al-Qur'an itu unik, Setiap Sisinya Mengandung I'jaz

Halimi Zuhdy

Suatu hari Amr bin Ash menemui Musailamah Al-Kadzzab, dan ketika itu Amr masih belum menjadi seorang muslim. "Wahai Amr, apa yang turun kepada sahabatmu hari ini?" tanya Musailamah. "Hari ini turun kepadanya (Rasulullah saw) surat ringkas padat dan indah sekali (balighah)". Jawab Amr bin Ash. Rupanya Musailamah penasaran, "Surat apa itu wahai Amr?". Kemudian Amr membacakan sebuah Surat Al-Ash;

وَالْعَصْرِ ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ، إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Amr bin Ash melihat temannya itu berfikir beberapa saat setelah mendengar Surat Al-Ashr, tetiba Musailamah mengangkat kepalanya dan berkata kepada Amr bin Ash "Turun surat kepada saya sebagaimana Surat di atas!" rupanya Amr bin Ash penasaran dan bertanya, "Apa itu wahai Musailamah?!". Kemudian Musailamah membacakan kalimat-kalimat yang ia anggap wahyu turun kepadanya;

يَا وَبَرُ يَا وَبَرُ، إِنَّمَا أَنْتِ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ، وَسَائِرُكِ حَقْرٌ نَقْرٌ"

"Bagaimana menurutmu wahai Amr?" tanya Musailamah. "Demi Allah, sungguh engkau telah mengerti, bahwa aku sungguh telah mengetahui bahwa engkau itu benar-benar pembohong". Cerita di atas disampaikan oleh Ibnu Katsir.

Apa yang indah dari ungkapan Musailamah di atas? Bagi yang hanya tertarik pada kalimat-kalimat bersajaknya (saja') maka ia memang kalimat bersajak dengan akhiran bar-shar-qar, karena memang Musailamah seorang penyair kawakan, tetapi lihatlah bagaimana tanasub, fashah kalam (logika bahasa), uslub, makna?! Maka akan berbeda jauh dengan Al-Qur'an. Apalagi Musailamah banyak melakukan re-kreasi dari Al-Qur'an dan juga Iqtibasat, coba baca surat-surat yang dikarangnya; Qurasy, Tamim, Al-Syams, Difda', An-Nisa, dan surat-surat lainnya yang namanya menyerupai nama-nama surat dalam Al-Qur'an.

Bisa dibandingkan dengan al-Qur'an yang memilih genrenya sendiri, kadang dalam satu surat kita menemukan kisah, tapi ia bukan cerpen apalagi novel. Ada pola yang unik dengan imaji yang tinggi, juga  tidak sepi dari majas, personifikasi, metafora, heperbola, tamsil, simile, alegori,  tiba-tiba ada kata perintah, peringatan, kabar gembira, siksa, hukum dan...seperti mengobarkan semangat, tiba-tiba sedih, tiba-tiba gembira, ada harapan, ada ancaman, penghianatan, kemunafikan, dosa dan dusta, ada sisipan kisah orang-orang terdahulu, keghaiban, surga dengan keindahannya, neraka dengan kengeriannya. Gaya Ini, tidak ditemukan pada karya sastra sebelumnya (masa jahiliyah).

Para alim (pakar) ada yang mengkaji dari sisi i'jaz ilmi (saint), i'jaz bayani, i'jaz adady (jumlah kata dalam Al-Qur'an), i'jaz shauty dan i'jaz lainnya.

_Kajian-Kajian dan Risalah Ramadan lainnya dapat dibaca di:_

📲FB: Halimi zuhdy
💌IG: Halimizuhdy3011
🎞️Youtube: Lil Jamik
🌍Web: halimizuhdy.com


Minggu, 27 Juni 2021

Bayangkan!! Ketika Anakmu Sudah Besar

Halimi Zuhdy

Ketika anakmu sudah besar!
Suara-suara teriakan, tangisan, tengkar tak lagi terdengar di rumahmu. Sepi, senyap, hening dan lengang. Engkau akan merasa tenang,  tapi tidak tenang senang dalam riuh piuh. Maka, nikmatilah tangisan, teriakan, dan tengkar itu, anak-anak itu pasti berteriak dan bertengkar.....
Ketika anakmu sudah besar!
Coretan-coretan di dinding, gambar-gambar tak berbentuk, warna-warni di lantai,  robekan kertas yang berantakan, takkan lagi kau temukan. Apakah sekarang kau senang? Saya yakin, kau masih kangen dengan coretan-coretan dan celoteh itu terulang lagi.

Ketika anakmu sudah besar!
Ketika kau lagi tiduran, tidak ada lagi yang menginjakmu. Ketika kau shalat, tidak ada lagi yang gendong di atas punggungmu. Ketika kau membaca atau menulis, tidak ada yang merebut buku dan pensilmu. Ketika kau tidur, tidak ada lagi yang membangunkanmu. Apakah hari ini kau lebih asyik dengan duniamu? Atau kau ingin masa itu terus ada dalam hidupmu. Saya yakin, kau kangen dengan itu! 

Ketika anakmu sudah besar!
Tidak ada lagi riuh di kamar mandi, tidak ada lagi yang berebutan masuk menggedor pintu. Tidak ada lagi yang menyiram air dan membasahi rumahmu. Tidak ada lagi yang berciprat lantai indahmu. Tidakkah kau merindukan itu? 

Ketika anakmu sudah besar!
Kau sudah jarang ke alun-alun, ke tempat wisata, ke tempat-tempat bermain, kau sudah jarang berenang bersama di pantai, kolam, sungai. Kini, kau lebih khusyuk dengan dirimu, apakah kau lebih indah? 

Ketika anakmu sudah besar!
Kamu akan bermain sendiri, tidak ada lagi yang menarik tangan tuk bermain, berlari, bahkan kini kau hanya asyik dengan anak-anak orang di televisi.

Masih ingatkah ketika anakmu menangis, teriak-teriak, tertawa tanpa sebab, kadang kau membentaknya dan mencubitnya?!

Kini, mereka sudah jarang tampak di rumah. Sudah tak ada lagi ada tangisan, teriakan, bahkan riuh tawa mulai sepi. Mereka sudah punya teman sendiri, ngombrol dengan teman dekatnya, bahkan mwreka sudah jarang pulang. Kini, di rumah sudah tak lagi ada riuh. Teriakan tak lagi terdengar, mereka sudah punya alam sendiri di luar sana. Kini, kau berdua, atau hanya sendiri.

Ada nasehat menarik dari Dr. Muhammad bin Umar Bazmul;
"Aku membayangkan semua yang pernah terjadi pada anak-anakku dan diriku. Air mataku mengalir deras, maka dengarkan semua keluhan anakmu. Yang terjadi hari ini, akan menjadi kenangan esok, ajaklah mereka bermain..temani mereka selalu sebelum mereka hilang dari kalian... 

Sekarang..anak-anakmu cerewet bertanya padamu, jawablah!! Ketika mereka sudah besar kadang kau tak lagi menemukan satu patah katapun dari mereka. Duduklah di samping mereka! Ajaklah berjalan-jalan bersama mereka. Esok, mereka kadang enggan diajak duduk dan berjalan bersama. Sekarang hati mereka sepenuhnya untukmu. Esok hati mereka sudah bercabang...maka nikmatilah sekarang!!mumpung anak-anakmu masih kecil... Nikmatilah tangisannya, kegaduhannya, teriakannya, nakalnya. Jangan mudah marah!!Semuanya tidak akan pernah kembali lagi".

Nikmatilah mereka dengan sepenuh. Cintailah mereka! Ajaklah mereka bermain-main. Biarkan mereka melukis dinding itu, suatu saat kau akan merasakan betapa mereka ingin mengabadikan tulisan itu, agar kau tahu, mereka juga ingin berkarya. Mereka belum bisa menulis status sepertimu, maka mereka menulis status di tembok-tembok kadang mobilmu juga menjadi kanvas untuk diukir anak-anakmu.

Malang

Bunyi Kata yang Menggambarkan Makna

(I’Jaz Syauti dalam Al-Qur’an) 

Halimi Zuhdy

Al-Qur'an selalu menjadi magnet luar biasa. Bayangkan, tidak ada satu kitab pun di muka bumi yang dihafal sedemikian rupa dalam sejarah manusia seperti Al-Qur'an, dari anak kecil sampai dewasa. Belum lagi kaligrafinya yang diukir dengan berbagai bentuk. Belum lagi berbagai musabaqat dalam tilawah, tafsir, qira'ah, dan lainnya.
Al-Qur'an tidak hanya dikaji dari aspek maknanya (ilmu dalalah) yang melahirkan berbagai tafsir. Tetapi, ia dikaji dari berbagai aspeknya, lughawi, bayani, adady, ilmy, shauty, adabi dan lainnya. dalam kajian I'jaz Adady (bilangan) misalnya, Ayat yang menyebutkan angka 40 dalam salah satu Ayat, maka jumlah huruf dalam Ayat tersebut berjumlah 40 huruf.

Yang juga menarik perhatian pengkaji Al-Qur'an adalah ashaut (suara, bunyi). Sudah sangat mafhum dan terbukti bahwa al-Qur’an memberikan dampak (pengaruh) pada seseorang walau ia tidak mengerti Al-Qur'an dan belum memahami artinya. Seperti yang diceritakan oleh seorang Nasrani, bahwa suatu hari ia melewati seorang yang lagi melantunkan Al-Qur’an, tiba-tiba ia  berhenti dan menangis sesenggukan, kemudian ia ditanya apa gerangan yang membuat sang nasrani menangis?  Ia menjawab: karena ada syaja’ah  dan nadham (untaian kata-kata) yang indah di dalamnya. Diceritakan oleh Dhiyauddin Ibnu Athir. 

والله إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته

Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya. Kata walid bin Mughirah, penyair Quraisy yang memiliki ketajaman lidah dan perajut kalimat-kalimat indah. ia sangat takjub pada al-Qur’an, walau sampai meninggalnya tidak mendapatkan hidayah Islam.

I’Jaz Syauti banyak dikaji oleh Al-Baqilani, Al-Khattabi, Al-Rummani, Ibnu Athir, dan beberapa ulama lainnya. Ibnu Athir memberikan kreteria I’jaz al-Syauti dalam al-Qur’an, di antaranya adalah jumlah huruf dalam kata, berat dan ringannya dalam ucapan, lafal sesuai dengan kalimat, lafal sesuai dengan konteks dan beberapa kreteria lainnya.  sedangkan menurut Al-Rafi’i, I’jaz Syauti dapat dilihat dari segi huruf dan suaranya, kata dan hurufnya, kata-kata dan kalimatnya. Berbeda dengan Sayyid Qutub dalam Al-Taswir al-Fanni fi al-Qur’an, ia menjelaskan tentang harmoni suara, ritme, diksi dan lainnya. 

Pilihan kata yang terkait dengan ritme dan shaut (fonologi), yang juga terkait dengan makna (dalalah) dan konteks; seperti 

وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا [النساء:72] 

Perhatikan setiap kata dalam ayat di atas, terutama pada kata لَيُبَطِّئَنَّ . Ia benar-benar menggambarkan keseluruhan makna dari ayat  ini yang berbicara tentang "berlambat-lambat". Ketika kita membacanya, kita tidak akan bisa mempercepat, kalau kita mempercepat bacaan dalam Ayat ini akan kesulitan, bisa-bisa tergelicir dan tidak sesuai dengan kaindah tajwid. Membaca ayat ini harus bertatih-tatih, pelan-pelan dan membacanya dengan berlahan-lahan. Terutama pada kata لَيُبَطِّئَنَّ yang bermakna “sangat berlambat-lambat”.

Perhatikan beberapa kata, kalimat dan frase dalam Ayat berikut;
(فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (الشعراء/94. 
(يا أيها الذين آمنوا ما لكم إذا قيل لكم انفروا في سبيل الله اثاقلتُم إلى الأرض) التوبة/38 .
(مُذَبْذَبِين بين ذلك لا إلى هؤلاء ولا إلى هؤلاء) الأحزاب/11
 (وزلزلوا زلزالا شديدا ) الأحزاب/11
(فدَمْدَمَ عليهم ربهم ) الشمس/14 
(وهم يَصْطَرِخُون فيها )فاطر/37 .

Beberapa kengerian yang digambarkan dalam neraka, suara-suara gaduh, teriakan-terikan, sesembahan yang dijungkir balikkan dalam kalimat “Fakubkibu”. Dan Al-Qur’an menggambarkan mereka dalam neraka dengan jeritandan teriakan-teriakan yang dahsyat “Yastharikhuna” dengan cukup berat, pada kalimat ini dengan tambahan “tha” yang menunjukkan mubalaghah (sangat).  Dan beberapa huruf yang diulang-ulang seperti “fadam dama”, “wazul zilu zilzalan”, “mudzab dzabina” adalah gambaran dari realitas yang ada, ada keserasian fonem (syaut) dengan makna dalam Ayat tersebut.  

Ketika berbicara tentang “lapang”, baik dilapangkannya rizki atau dada, maka bunyi Ayat-Ayat tersebut seperti memberi gambaran keluasan, lapang, mudah dan ringan. 

Perhatikan Surat Al-Insyirah; أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Dan juga dalam Ayat 
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Menurut Sayyid Aly, ada hubungan yang sangat erat antara aspek bayani dan aspek fonetik (shaut) dalam mengungkapkan makna. Pembentukan citra artistik kalimat dalam Al-Qur’an didasarkan pada pencampuran aspek bayani dengan suara (shaut) dan aspek irama (iqa’i).

Malang, 27 Juni 2021

#Ijaz_Al_Qurany 50