السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 01 Maret 2021

Benarkah Ungkapan "Barakillah"?, Dan Apa Perbedaan Barakallah Fika, Alaika, Bika, Ilaika

Halimi Zuhdy

Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke inbok saya, setelah saya menulis tentang "Salah Paham dengan Kata Barakallah". Beberapa pertanyaan tersebut berupa istilah yang sudah akrab di telinga kita; Apakah cukup dengan mengucapkan Barakallah saja?, Apa perbedaan Barakallah dan Barakillah?,  Apa ada konsekuensi makna dari perbedaan objek setelah Kalimat Barakallah, seperti Barakallah Fika dan Bika?, Apa arti dari Barakallah Laka, Wabaraka Alaika?, Bolehkah menambah Alfu sebelum kata Mabruk?, Dan Benarkah ucapan Mabruk dan Mubarok?.

،
Tayyib. Tabrik, mengucapkan doa agar seseorang mendapatkan berkah dari Allah. Ungkapan tabrik ini bermacam-macam, sesuai dengan maksud dan tujuannya. 1) Ungkapan "Barakallah" bermakna "Mudah-mudahan Allah memberkati", bila seseorang yang dituju sudah memahaminya, maka dianggap cukup. Tapi, sebenarnya kata tersebut tidak cukup, karena masih butuh objek. Objek yang didoakan juga tergantung yang dituju. Kalau yang dituju orang ketiga tunggal, maka "Barakallahu Lahu". Dalam Al-Faseeh, ungkapan "Barakallah" tanpa kata sambung setelahnya dianggap belum cukup (La yuktafa biqaulina Barakallah), dengan alasan, kata tersebut tidak jelas (ghairu wadhihah), dan untuk siapa ungkapan doa tersebut?. Karena ungkapan "Barakallah" itu kata kerja ruba'i transitif dengan preposisi (ruba'i lazim, mu'addi bi harfin), sehingga butuh penjelas setelahnya.  

Yang sering salah adalah tiga haruf terakhir dari lafal "Barakah" yaitu «kah» dianggap sebagai dhamir mukhatab (orang kedua tunggal) yang bermakna kamu. Yang benar adalah  "Barakallah Laka" Allah memberkatimu. Bila yang dituju kata ganti orang kedua, maka "Barakallah Laka", bila kata ganti orang ketiga tunggal, "Barakallah Lahu". Dan seterusnya. 

2) Apa perbedaan Barakallah dan Barakillah?. Bila keterangan di atas terkait dengan dhamir mukhatab  (orang kedua tunggal) sudah dapat dipahami, maka akan dapat membedakan antara ungkapan Barakallah dan Barakillah. Barakillah tidak berdasar, karena ungkapan ini salah. Bila yang dituju  seorang perempuan, maka menggunakan "Barakallah Laki", kalau orang ketiga "Barakallah Laha". Letak perubahannya bukan pada kata Bara-ka-allah, tetapi pada kata "Laka atau Laki".

3) Apakah perbedaan kata setelah Barakallah,  juga berbeda maksud (makna)? Seperti kata; Barakallah Laka, Fika, Bika, Ilaika, 'Alaika dan lainnya.

Tayyib. Preposisi (huruf jar) setelah kata Barakallah, memberikan makna yang bervariatif. Secara maknawi, "Laka" bermakna, milikmu, bagimu, punyamu. "Fika" bermakna, di dalam dirimu, atau di dalam kamu. "Bika" bermakna, sebab kamu. "Alaika" bermakna, atasmu.

Dalam Fatwa 2382 Muntada Majma' Lugahwiyah Ala Syabakah Al-Alamiyah, "Barakallah Fika" preposisi "Fi" menunjukkan keadaan tempat yang metaforis, yang bermakna adanya keberkahan pada si pelaku, atau seseorang yang memiliki keutamaan (akhalaqnya, dll)
فحرفُ الجر "في" يَدلُّ على الظرفية المكانية المَجازية، وفيه مَعنى نَفاذ البَرَكة في المدعوّ له. 

Sedangkan makna " Barakallah 'Alaika", dengan preposisi "Ala", menunjukkan ketinggian, superioritas. Yang bermakna keberkahan yang melimpah, ditutupi, dipenuhi dengan keberkahan.
أمّا "على" فتدلُّ على الاستعلاء كدلالَة عَنْ؛ ولذلك فقوله: بارك الله عليك هو دعاء له بأن تشتمله البركة وتغطيه.

Ada pula yang berpendapat, "Alaika" menitikberatkan pada urusan agama (ad-din), Allah memberkati dalam urusan agamanya.

Penggunaan preposisi "Laka", menunjukkan makna li takhshis, kekhususan pada seseorang yang didoakan keberkahan. Atau dalam keterangan lain, "Laka" doa keberkahan yang di dapat seseorang yang mendapatkan sesuatu kenimatan yang baru diperoleh, atau untuk kemaslahatan dunianya.
أمّا التعديةُ باللام، "بارَكَ لَك" ففيها دلالة على التخصيص، تخصيص المدعوّ له بالبَرَكة.

Bagaimana dengan "Bika", Preposisi Bi, bermakna sebab, bisa karena sebab sesuatu, atau seseorang sehingga sesuatu itu berhasil. Darinya, datangnya berkah padamu atau kepada selainmu. 
فبارك الله فيك .. تخص ذاتك ..
و بارك الله بك .. تخص من حولك 
Seperti contoh, Barakallah Bika, mudah-mudahan Allah menjadikanmu sebagai sebab dalam kebaikan umat.

Allahu'alam bishawab

Kamis, 25 Februari 2021

Salah Paham dengan Kata Tabarakallah, Barakallah, Mabruk dan Mubarok

Halimi Zuhdy

Beberapa bulan terakhir, sejak beberapa da’i mempopulerkan kata Tabarakallah dan tidak sedikit artis yang mengikutinya, maka media ramai dengan kata tersebut, dan seakan-akan artinya sama dengan kata Barakallah.


Terkait dengan kata “Tabarakallah” ini tidak sedikit yang memahaminya dan memaknainya dengan kurang tepat, bahkan salah. Di beberapa artikel yang membahas kata ini (Tabarakallah), memaknainya tidak tepat (silahkan googling), diartikan dengan “mudah-mudahan Allah memberkatimu”, ada pula yang menggandengkan dengan “Masyallah Tabarakallah” yang diartikan dengan Allah yang berkehendak seperti itu, Allah berikan kamu barakah (artikelsiana), Semoga Allah memberkahimu (wolipop.detik), semoga Allah memberkahimu (kumparan), Tabarakallah (تبارك الله) Semoga Allah memberkahimu (quora), empat web di atas adalah hasil googling ketika mencari makna “Tabarakallah”, belum lagi website lainnya yang pembahasannya tidak jauh berbeda.
Sekilas, kesalahan yang paling tampak adalah mengartikan “Ka” dalam Tabara-ka- dengan arti “kamu”, ini juga sering terjadi kesalahan dengan mengartikan “Barakallah” dengan mudah-mudahan Allah memberikati-mu, tanpa mengikuti kata fika, laka, alaika dan lainnya. Tabarakallah itu berbeda dengan “Barakallah laka”, meskipun dari derivasi yang sama, tetapi memiliki arti yang berbeda.
Tayyib. Mari kita kaji sepintas makna “Tabarakallah”, pertama secara mu’jami (kamus), kedua, menurut beberapa tafsir al-Quran (karena kalimat ini sangat banyak di dalam al-Qur’an). Ketiga, hadis-hasis yang terdapat kata tabarakallah.
Pertama, secara mu’jami kata ini belum ada dalam kamus KBBI, dan suatu saat perlu ditambahkan dalam kamus bahasa Indonesia, seperti kata; alhamdulillah, masya Allah, berkah, dan kata-kata lainnya yang sering digunakan masyarakat Indonesia. Dalam kamus Al-Ma’ani, Tabarakallah diartikan dengan Taqaddasa, tanazzaha, ta’ala (Maha Suci Allah, Maha Tinggi). Tabaraka al-Rajulu (thalaba al-barakata wa faza biha); seseorang memohon keberkahan dan keberhasilan dengannya. Kata “tabaraka wa ta’ala” sudah menjadi istilah dalam Fiqih dengan arti Maha Suci Allah dan Maha Tinggi. (Ma’ani).
Dalam al-Qur’an, kata Tabarakallah terdapat dalam 8 tempat; Al-‘Araf: 54, Al-Mu’minun: 14, al-Furqan pada ayat; 1, 10, dan 61, al-Ghafir: 64, al-Rahman: 78, al-Mulk: 1.

تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ، تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ.. ، تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا..، تبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجاً، تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالْإكْرَامِ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ، تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia kata Tabarakallah (sesuai dengan urutan ayat di atas) diartikan dengan; 1) Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam, 2) Maka Maha sucilah Allah, 3) Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan, 4) Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, 5) Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang, 6) Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. , 7) Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia, 8) Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan.
Sedangkan dalam beberapa tafsir al-Qur’an, di antaranya adalah kitab Al-Tahrir wa al-tanwir karya Ibnu ‘Asyur, kata “Tabarak” dalam bentuk derivasinya adalah menampakkan sifat pada sesuatu yang disifati, seperti kata Tastaqala yaitu tampak sesuatu yang berat dalam pekerjaannya (menjadi berat), Ta’adhama (tampak keagungannya, menjadi besar, agung), dan terkadang digunakan untuk menampakkan perbuatan yang disifati dengan benar-benar jelas seperti Ta’alallahu (sangat jelas keagungannya), maka dalam kata Tabarakah adalah sangat tampak jelas keberkahannya (dzaharat barakatuhu). Dalam Fath al-Qadir Lil Syakani, Tabarakallah, ai kathurat barakatuhu wa ittasa’a (keberkahan yang banyak dan melimpah), dan juga bermakna Ta’adhama (sangat tanpak keagungannya). Dalam tafsir al-Thabari tidak jauh berbeda dengan Fath al-Qadir yang bermakna al-kastrah dan ittasa’a (dipenuhi dengan keberkahan).
Dalam al-Mausu’ah al-Hadistiyah, kata “Tabaraka” terdapat dalam banyak hadis yang selalu berdampingan dengan kata “Ta’ala” sebuah istilah yang digunakan untuk kemuliaan dan keagungan Allah swt. Tidak ditemukan sebagai ungkapan untuk menyatakan sesuatu, sepengetahuan penulis, kecuali pernyataan keagungan kepada Allah.
Berdasarkan beberapa keterangan di atas, tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan tentang makna Tabaraka dengan arti “Allah memberkatimu”. Pertama, tabarakaallah tidak sama dengan barakallah laka, tabaraka (تبارك) itu khumasi lazim (kata kerja yang masuk katogeri lima huruf dan intransitif), sedangkan baraka (بارك) adalah kata transitif (muta’addi). Tabaraka menjadi transitif bila disambung dengan huruf lain (muta’addi bi harf).
Kedua, Tabaraka adalah satu kata, bukan gabungan dari “taba” dan “ka”, yang memunculkan makna kamu. Demikian juga dengan kata Barakallah. Kata “Barakallah”, disambung dengan kata setelahnya, seperti kata fika, laka, dan alaika, menjadi Barakallah laka.

Ketiga, Tabarakallah itu mengagungkan Allah, menampakkan kesucian-Nya, kebaikan datang dari-Nya, keberkahan hanya dari-Nya. Maka, lebih tepat kalau ingin mengucapkan selamat atas apa yang diraih seseorang adalah kata Barakallah laka, Alaika, Ilaika (mudah-mudahan Allah memberkatimu), sedangkan kalau ingin mengucapkan sesuatu yang luar biasa, maka mengucapkan kata Barakallahu laka, fihi, (lebih jealasnya keterangan diakhir tulisan ini), tetapi yang lebih masyhur adalah Masyallah lahaula wala quwwata illa billah.
Dalam beberapa penjelasan, kata masyallah itu untuk dirinya sendiri (apabila terdapat sesuatu yang luar biasa), sedangkan (untuk orang lain). Dalam laman al-imam bin Baz (al-Sunnah al-Shahihah) kata “Masyallah Tabarakallah” tidak ada dasarnya yang dapat menguatkan kalimat di atas (ma warada fihi syaik), yang ada dasarkan adalah Masyallah la haula wala quwwata illa billah. Sedangkan kata “Tabaraka” malah tidak berdasar, sedangkan dalam hadis yang ada adalah alla barrakta (ألَّا بَرَّكْتَ). Beliau melanjutkan, apabila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan, maka yang mengucapkan “Allahumma barik fihi”, “Barakallah fihi”. Berbeda dengan Ibnu Utsaimin, apabila seseorang ingin selamat dari penyakit Ain, maka hendaknya mengucapkan “Tabarakallah alaika”, karena Nabi pernah bersabda yang tertimpa penyakit dengan ucapan “Halla barrakta ‘alaika”. Dalam Utaibah, Mata Yuqalu Tabaraka wa mata yuqalu Masyallah la haula walaquwwata.
Apakah ada yang salah dengan pengucapan kata Tabarakallah? Tidak ada yang salah, hanya kurang tepat penggunaannya, serta salah mengartikannya, dan juga mungkin kurang tepat memahaminya.
Bersambung pada pembahasan kata Mabruk dan Mubarok, Insya Allah.
Allahu’alam bisshawab.

Guru Kecil di Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Khadim Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Kejayaan Islam dalam Kenangan Sejarah

Halimi Zuhdy


"Watilkal Ayyamu Nudawiluha Bainannas", Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). QS. Ali Imran, 140.

Entah, Apakah Ayat ini termasuk sebuah kejayaan suatu negara yang pernah berjaya syiar Islamnya dan akan bangkit lagi, atau akan terpuruk selamanya. Tapi yang jelas, kehidupan akan terus berputar. Di Eropa ada Andalusia, kini tinggal cerita Islam pernah berjaya. Dan kini, Spanyol seperti tak memberi bekas bunga, tapi goresan luka. Di Asia tenggara, Islam pernah berjaya di enam negara, bahkan menjadi penduduk mayoritas muslim terbesar. Kini, di tiga negara menjadi segelintir, bahkan hanya menjadi kerikil-kerikil yang tak pernah terlihat lagi.

Gambar: Tulisan Abi.blogspot.com


Manila ibu kota Filipina, nama ibu kota ini berasal dari bahasa Arab "Fi AManillah" Dalam lindungan Allah. Di negeri ini, dulu syariat Islam ditegakkan, mayoritas penduduknya muslim, azan yang bersaut-sautan di seluruh penjuru negeri ini. Tapi kini, di negeri Filipina, kita sering mendengar Islam hanyalah sebuah gerombolan pemberontak terhadap pemerintah, dan mereka menjadi minoritas.

Berikutnya negeri Gajah Putih, Thailand. Di negeri ini menyimpan mutiara yang luar biasa, kejayaan Daulah Islamiyah di selatan negeri ini. Kerajaan Islam Pattani. Penduduk muslim di tanah mereka sendiri dijuluki khaek (pendatang, orang luar).

Kamis, 04 Februari 2021

Satu Kesulitan, Dua Kemudahan (Inna Ma'al 'usri Yusro)

Halimi Zuhdy

“Apabila ada kata ma’rifat (kata definitif) dalam dua kalimat yang berbeda maka keduanya memiliki arti yang sama (nafs syai’, maksudnya juga sama), muallimah dalam salah satu vedio menyitir kaidah linguistik Arab (qaidah lughawiyah). Seperti contoh;
جاءت المرأة، وسلمت على المرأة
“Telah datang seorang perempuan, dan saya mengucapkan salam pada perempuan tersebut”,
maka perempuan yang ada dalam kalimat di atas adalah perempuan yang sama, karena kata perempuan (al-mar’ah) di sini menggunakan ma’rifah (definitif), dan tanda bahwa ia ma’rifah dengan adanya “al” yang disebut dengan "Al-ta’rif".
Gmbr diambil dari i.ytimg.com (120×90)



Tetapi sebaliknya, bila ada nakirah (indefinitif) dalam dua kalimat yang berbeda, maka memiliki arti dan maksud yang berbeda pula, seperti;

جاءت مرأة، وسلمت على مرأة
“Telah datang seorang perempuan, dan saya mengucapkan salam pada seorang perempuan”.
Dalam kalimat ini, antara perempuan yang pertama dan yang kedua berbeda, walau sama-sama perempuan. Karena kedua perempuan itu tidak menunjuk satu jenis (umum), perempuan yang mana (nakirah, indefinitif)?.
Sedangkan kalimat yang pertama "Perempuan itu" dalam dua kalimat menggunakan kata definitif, maka bisa dipastikan keduanya adalah perempuan yang sama.
Penjelasan di atas hanya sebuah contoh untuk mengantarkan kepada para mustami’ (pendengar), bahwa dalam Ayat al-Qur’an surat Al-Insyirah;

﴿ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا( )إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Dalam Ayat ini, kata kesulitan (al-‘usr) kedudukannya adalah definitif (ma’rifah), maka kedua kesulitan itu pada hakekatnya satu (satu kesulitan), sedangkan kata kemudahan (yusr) tidak sama antara kemudahan yang pertama dengan kemudahan yang kedua (berbeda), yang pertama adalah kemudahan dalam solusi, terselesainya berbagai masalah hati, lapang dada, kebahagiaan. Dan kemudahan setelah tertimpa kesulitan, maka ada kemudana yang bersifat materi (maddi) dan kemudahan batin (ma’nawi).

Artinya kesulitan itu hanyalah satu walau dengan kata yang berulang-ulang, sedangkan kemudahan itu melimpah ruah.
Dan saya menemukan keterangan Dr. Ahmad Khadar yang mengutip perkataan Ibnu Abbas dari beberapa kitab tafsir,
قال ابن عباس: يقول الله تعالى خلقت عسرًا واحدًا، وخلقت يسرين، ولن يغلب عسر يسرين
Ibnu Abbas berkata, “Allah berfirman, aku ciptakan satu kesulitan serta aku ciptakan dua kemudahan, dan satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan”.

Selanjutnya Dr. Ahmad melanjutkan mengutip perkataan Imam Al-Qurtubi, bahwa Ayat “Inna ma’al usr Yusra” yang kedua bukan mengulang dari Ayat yang pertama, sesungguhnya kesulitan (al-‘usr) di dunia bagi seorang mukmin akan mendapatkan kemudahan (yusrun) di akhirat, atau kemudahan di dunia dan kemudahan di akhirat.

Rasulullah saw bersabda;
لو كان العسر في حجر لدخل عليه اليسر حتى يخرجه
“Seandainya ada kesulitan (al-usr) lalu masuk ke dalam batu ini, niscaya kemudahan itu akan datang dan masuk ke dalam batu ini pula, lalu (kemudahan) akan mengeluarkannya”.

Ayat ini bila dikaji dari awal "Alam Nasyrah" sangat menarik, belum lagi perbedaan terjemah “sesudah” dan “bersamaan” dari kata ‘Ma’a”.

Pesan yang sangat luar biasa adalah kemudahan itu lebih banyak dari pada kesulitan, dapat kita bayangkan bila hidup hanya dipenuhi dengan kesulitan, sakit terus mendera, sengsara yang tak berkesudahan. Tapi, bukankah keindahan, kemudahan, kesehatan lebih berlimpah dalam kehidupan kita hari-hari.

Allahul musta’an wailahi tuklan

Rabu, 27 Januari 2021

Pemilihan Presiden Penyair Arab

Halimi Zuhdy

Bagi penikmat sastra Arab, terutama puisi, pasti mengenal sosok penyair legendaris, Ahmad Syauqi. Penyair ini dikenal dengan sebutan Amir Syu’ara’ (Raja, Pangeran Penyair). Gelar ini bertahan cukup lama, seakan-akan gelar ini hanya milik Ahmad Syauqi. 
Sebelum gelar ini disandang Ahmad Syauqi, beberapa abad sebelumnya, gelar Amir Syu’ara’ tertuju pada Junduh bin hujar bin Haris al-Kindi, tetapi gelar ini tidak sepopuler gelar lain yang disandangnya “Umraul al-Qais”.
Di Indonesia terdapat gelar presiden penyair, paus sastra, dan mungkin gelar lainnya yang diberikan kepada seorang sastrawan yang dianggap memiliki sumbangsih besar terhadap kesusastraan Indonesia. Di Arab, Ahmad Syauqi mendapatkan gelar Amir Syu’ara’, gelar ini disandangkan kepada Syauqi setelah adanya pembaiatan padanya oleh para sastrawan dan penyair pada tahun 1927 di Kairo, pada sebuah Gelar Sastra (puisi).

Ahamd Syauqi dikenal sebagai penyair paling masyhur pada era modern, dan terkenal paling produktif dibandingnya penyair-penyair lainnya, lebih dari dua puluh tiga ribu lima ratus bait puisi yang telah ditulisnya.

Kini, gelar Amir Syu’ara’ bisa diperebutkan oleh para penyair-penyair Arab lainnya, yang kemudian diberikan kepada mereka yang berhasil memenangi kompetisi Amir Syu’ara’ (The Prince of Poets Competition) . Program Amir Syu’ara’ ini diadakan oleh Idarat al-Mahrajanat wal al-Baramij al-Tshaqafiyah wa turasiyah Emerat Abu Dhabi sejak tahun 2007. Sebelum acara ini dimulai, Pangeran Penyair Ahmad Syauqi ditampilkan di layar, di hadapan para penyair yang mengikuti kompetisi besar ini.

Dalam laman Amir Syu’ara’, acara ini diadakan setiap dua tahun sekali di pantai Al Rahah Abu Dhabi. Setiap musim, program ini menerima ribuan puisi dari penyair Arab di seluruh dunia, dan juri akan menyortir dan mengevaluasi karya-karya yang berpartisipasi, setelah itu lebih dari 150 penyair yang terpilih, akan ada kompetisi lanjutan di Abu Dhabi, kemudian juri melakukan wawancara secara individu dengan masing-masing penyair. Berikutnya, terpilih  40 penyair yang masuk pada fase pengujian (marhalah ikhtibarat) ke daftar 20 penyair yang akan berpartisipasi dalam episode siaran langsung dalam televisi Amir al-Syara’.

Pada akhir setiap kompetisi, penyair yang memenangi kompetisi ini mendapatkan gelar “Amir Syu’ara’/Pangeran Penyair/Presiden Penyair”, baju kebesaran penyair (burdah syi’r/hair dressing), cincin emirat, dan hadiah uang tunai sebesar AED 1 juta, juara kedua menerima hadiah uang tunai sebesar AED 500.000, juara ketiga menerima AED 300.000, juara keempat menerima AED 200.000, dan pemenang di posisi kelima menerima AED 100.000.

Sejak kompetisi ini digulirkan, sudah terdapat delapan presiden penyair yang terpilih dalam delapan musim, dan tahun ini musim yang ke sembilan. Pada musim pertama diraih oleh Abdul Karim Ma’tuq (Emirat), musim ke dua Sidi Ould Bemba (Muritania), berikutnya Hassan Baiti (Syiria), ke empat Abdul Aziz Zirai (Yaman), ke lima Ala’ Janib (Mesir), ke enam Haidar al-Abdullah (Arab Saudi), ke tujuh Iyad al-Hakami (Arab Saudi), dan pada musim ke delapan yang diadakan pada bulan April 2019 gelar Amir Syu’ara’ disandangkan pada Sulthan Sabhan al-Syamri (Arab Saudi), berturut-turut sampai tiga kali Arab Saudi mampu meraih gelar terbesar kepenyairan di Jazirah Arab ini.

Dalam laman Amir Syu’ra, kompetisi ini bertujuanuntuk mempromosikan puisi Arab Fushah dan klasik, menghidupkan kembali peran positif (ad-daur al-ijabi) puisi Arab dalam budaya dan kemanusiaan Arab, serta sebagai pesan cinta dan perdamaian kemanusiaan. Dan beberapa tujuan lainnya, membuat data base para penyair, kritikus sastra, pekerja sastra dan bidang yang terkait dengan kesusastraan.

Pada tahun lalu saya berkesempatan satu forum webinar dengan Amir Syua'ra' ke 5, Ala' Janib dari Mesir pada Acara Al-Syi'ri fi al-Mujtama' yang diadakan oleh Akademi Tamayyuz India. Mudah-mudahan pada forum yang lain dapat menyaksikan dan menikmati gaya Amir Syu'ara membacakan puisinya. 

Malang, 27 Januari 2021

Selasa, 26 Januari 2021

Mengapa Dinamakan Lidah Mertua?

 

Halimi Zuhdy
Saya bukan kolektor tanaman hias, hanya ada beberapa tanaman yang menghias gubuk rindu. Saya senang kalau melihat berbagai tanaman hias, apalagi tanaman yang berbunga. Dan sedih kalau ada tanaman yang wafat (belum sempurna hidupnya, sudah mati.he). Karena di antara tanda-tanda suami perhatian pada istri, kalau di rumah tidak ada tanaman yang mati. Ini katanya lo. "Loh kok bisa" tanyaku. Teman saya berseloroh, "Bunga saja dijaga, dipelihara, disiram setiap hari, apalagi istrinya" maka saya takut kalau ada bunga mati.😀. "Bunga saja tidak dijaga, bagaimana menjaga istri" 😍. Guyon Bosku.
Beberapa bulan yang lalu, ketika istri ngajak beli bunga di Splendid (pasar hewan dan bunga termasyhur di Kota Malang), saya tanya mau beli tanaman apa?, "Lidah Mertua" katanya. Saya kaget luar biasa, masak tanaman bawa-bawa nama mertua, ditambah lidah lagi. Ngeri sekali. Saya penasaran, mudah-mudahan tidak seburuk apa yang saya bayangkan.

Gambar mungkin berisi: tanaman, luar ruangan dan alam
Saya berharap tanaman Lidah Mertua ini ada bunganya, indah merona-rona. Karena saya terbayang tanaman hias lain yang dijuluki dengan Lidah Buaya. Ia dipenuhi duri-duri kecil, walau sebenarnya tanaman ini asyik. Berdaging tebal. Lidah yang berasal dari kawasan Jazirah Arab Ini, memiliki manfaat yang luar biasa, terutama untuk kecantikan, mungkin saja Kleopatra juga pernah memakainya.😁 dan Lidah Buaya masuk pada keluarga Shabbar (صبار, Kaktus).

Rabu, 20 Januari 2021

Nabi Nuh dan Wanita Tua

Halimi Zuhdy

Dalam Kitab Ma’ani Asma’ al-Ambiya’ kata Nuh dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab dilafalkan dengan Nuh (نوح), dan dalam bahasa Inggris dilafalkan dengan Noah (نوه). Arti Nuh memiliki beberapa pendapat. Dalam bahasa Ibrani bermakna tenang (hadi’), ada juga memberi arti as-sakan (tempat tinggal), karena manusia setelah Nabi Adam tinggal bersama Nabi Nuh, dan Nabi Nuh adalah ayah dari manusia setelah terjadinya banjir besar. Ada pula yang menyebut Nabi Nuh dengan Adam ke-Dua dan Adam Kecil, karena setelah banjir bandang (taufan) seluruh manusia berasal dari keturunan Nabi Nuh AS.
Sedangkan dalam bahasa Arab kata Nuh bermakna Meratap, menangis, bersedih (naha bi’awili) dari kata Naha-Yanuhu, karena Nabi Nuh cukup lama mengajak kaumnya pada kebenaran tetapi hanya sedikit yang mengikutinya, selama 950 tahun berdakwah, ketika mereka terus-menerus ingkar Nabi Nuh bersedih, menangis dan terisak (naha). Penjelasan ini dikutip dari kitab Ma’ani Asma’ al-Ambiya’ dalam al-fadh al-Qur’an.

Dakwah Nabi Nuh sangat luar biasa, tidak pernah mengenal lelah. Ratusan tahun mengajak kaumnya pada agama tauhid, tetapi hanya segelintir orang yang mengikuti ajakannya. Dari buah kesabaran inilah Nabi Nuh masuk dalam jajaran Nabi Ulul Azmi.
Kaum yang menentang Nabi Nuh melahirkan generasi-generasi kafir. Karena setiap orang tua yang melahirkan generasi, mereka mengajak anak-anaknya untuk memasuhi, menentang dan menutup telinga atas dakwah Nabi Nuh. Mereka menyembah Nasr, Ya’uq, Taghust dan Wadd, nama-nama patung yang diambil dari orang-orang shaleh yang hidup pada masa antara Nabi Adam dan Nabi Nuh. Tidak cukup itu, mereka bahkan mengusir, dan mengancam untuk merajam Nabi Nuh dan para pengikutnya.

Penolakan, pengusiran, dan ancaman rajam terus menerus dirasakan Nabi Nuh dan pengikutnya yang setia. Maka, untuk menyelamatkan para pengikutnya yang setia dan berpegang teguh pada agama tauhid, Nabi Nuh berdoa kepada Allah, “Dia (Nuh) berkata, 'Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah mendustakan aku, maka berilah keputusan antara aku dengan mereka, dan selamatkanlah aku dan mereka yang beriman bersamaku.'" (Asy-Syu'ara, 117-118). Kemudian Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu;

وَٱصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan” (Hud, 34). Dan dalam Tafsir Muyassar atas penjelasan Ayat di atas, “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan penjagaan Kami, dan dengan wahyu Kami yang mengajarkan kepadamu bagaimana cara membuatnya. Dan jangan berbicara kepada-Ku untuk meminta penangguhan waktu bagi orang-orang yang menzalimi diri sendiri dengan menjadi kafir. Karena mereka pasti akan ditenggelamkan dengan air bah sebagai hukuman atas kekerasan hati mereka dalam mempertahankan kekafiran”.

Doa Nabi Nuh dikabulkan. Bahtera pun dibuat. Dalam pembuatannya, Al-Qur’an tidak menjelaskan berapa tahun bahtera Nuh dibuat, tetapi beberapa sejarawan berpendapat bahwa Nabi membuat bahtera kurang lebih 100 tahun, dan berada di dalam bahtera sekitar 270 hari.

Ketika Nabi Nuh membuat bahtera tetiba ada seorang wanita tua bertanya kepada Nabi Nuh, “Kapan banjir bandang akan tiba wahai Nuh?, kalau sudah tiba waktunya, jangan lupa kabari aku, agar saya bisa bersama kamu di bahtera ini!”. Setelah banjir bandang datang dan Nabi Nuh bersama pengikutnya serta beberapa tumbuhan dan hewan yang bersamanya di atas bahtera, Nabi Nuh baru teringat ada seorang wanita tua yang berpesan untuk diajak bersamanya, sedangkan banjir sudah menggunung dan hantaman banjir cukup dahsyat. 

Nabi Nuh yakin wanita itu tenggelam dan meninggal dunia. Setelah beberapa lama perahu itu berlayar, dan kemudian berlabuh di atas gunung Judi tiba-tiba perempuan itu datang, mendekat pada Nabi Nuh dan bertanya pada Nabi Nuh, “Wahai Nuh, kapan banjir itu akan tiba?”. Ternyata wanita itu selamat dari banjir bandang, walau seluruh muka bumi sudah tenggelam. Alllah tidak pernah lupa, walau Nabi Nuh dan mungkin orang -orang yang berada bersamanya lupa akan pesan perempuan ini. Allahlah Maha Kuasa. Cerita ini disampaikan oleh Muhammad Ratib An-Nablusi dalam Mausu’ah an-Nablusi, dan beliau menjelaskan cerita di atas adalah cerita alegori (qisshah ramziyah).

Nabi Nuh melabuhkan segalanya kepada Pemilik semesta, Allah swt. Ia berdoa  “Tuhanku, jangan Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat, lagi sangat kufur” (Surat Nuh, 26-27) dan Allah mengabulkannya;

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ

“Dan sungguh, Nuh telah berdoa kepada Kami, maka sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa”.  Hanya Allah yang tidak pernah melupakan hambanya. Di manapun dan kapanpun.

An-Nablusi dalam kajian Surat Al-Shaf tafsir Ayat 75-82, beliau memulai dengan tulisan; manusia itu wajib berdoa, memohon dan mengharap. Karena manusia diciptakan lemah. Lemah dalam dirinya. Lemah dalam kekuatanya. Dan pada muasalnya manusia itu memang lemah, maka yang lemah pasti memohon, meminta, berdoa dan berharap. Maka ia wajib memohon, meminta dan berharap. Adakah manusia yang hidup tanpa pertolongan di luar dirinya, bantuan di luar dirinya? Tidak ada. Lahir ke dunia butuh bantuan, hidup di dunia hidup dengan bantuan-bantuan, diakhir kehidupannya juga butuh bantuan.

Orang yang beriman hanya mengharap bantuan dan pertolongan kepada Tuhannya, sedangkan bagi yang tidak beriman, harapannya dan doanya kepada selain Allah. Cerita Nabi Nuh dan tentang perempuan tua di atas adalah tentang harapan, doa, permohonan. Dan hanya Allahlah yang paling sempurnah mengijabahi segala doa dan permohonan.

“Dan sungguh, Nuh telah berdoa kepada Kami, maka sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa”.

Malang, 20 Januari 2021

*Dapat dihubungi di:* Facebook Halimi Zuhdy, Instagram halimizuhdy3011, webaite www.halimizuhdy.com, twitter Halimi Zuhdy

Jumat, 15 Januari 2021

Belajar pada Nabi Khidir, Berkata Sopan Santun

(Analisis Penggunaan Kata Iradah dalam Surat al-Kahfi)

Halimi Zuhdy

Pilihan diksi, laksana memilih budi. Dalam bahasa Arab, penggunaan dhamir "Antum" ada yang menganggap sebagai ihtiram (memuliakan), walau yang khitab-nya (yang dituju) adalah satu orang, seperti Ilaikum, antum, nahnu, dan beberapa kata lainnya. Dan penggunaan dhamir ma'a al-ghair, Nahnu (kami) melibatkan pihak lain, "Nahnu Nazzalna dzikra" Kami turunkan Al-Qur'an, jelas-jelas Allah yang menurunkan, tetapi ada pihak lain yang terlibat di dalamnya, Malaikat. Tetapi, berbeda bila hanya Allah yang berbuat (mencipta), maka menggunakan dhamir wahdah (tinggal) "...khalaqtu jinna.." Aku Yang Menciptakan... .

Dalam surat al-Fatihah, Kalimat "An-amta alaihim" "Yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka", menyebutkan dan menampakkan kata "Engkau" yang telah memberi kenikmatan, sebagai pelaku. Tetapi pada Ayat berikutnya, seakan-akan tidak ada, disembunyikan. Ini belajar sopan santun dalam urusan kebaikan. Bila hal tersebut adalah kebaikan, maka Allah yang memberikan kebaikan tersebut, tetapi pada hal yang tidak baik, maka tidak menyebut asma-Nya.

Yang menarik dalam Surat Al-Kahfi terdapat satu kata (derivasi berbeda) dengan subjek berbeda. Dialog Nabi Khidir dengan Nabi Musa. Nabi Khidir AS memilih kata (diksi) yang digunakan dalam percakapannya dengan Nabi Musa AS yaitu kalimat;
(فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا)
“Aku bermaksud merusaknya..
(فَأَرَدْنَا أن يُبدِلَهُمَا)
Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya....
(فَأَرَادَ رَبُّكَ)
Maka Tuhanmu menghendaki..

Penggunaan kalimat di atas menurut Syekh Fadhil Shaleh al-Samraai bagaimana nabi Khidir bersikap dan berujar yang sangat baik (sopan santun) pada Allah SWT. Pada kalimat pertama فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا, kerusakan yang terjadi dengan melubangi perahu, ia nisbatkan kepada dirinya sendiri. Bahwa dirinyalah yang telah melakukan kerusakan, “Aku bermaksud merusaknya”.

Pada kalimat yang kedua فَأَرَدْنَا أن يُبدِلَهُمَا. Ketika peristiwa pembunuhan terhadap anak tersebut terlihat jelas, namun ada hal lain yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu menyelamatkan kedua orang tua anak tersebut dari kekafiran, maka Nabi khidir menggunakan “kami”, tidak seperti yang pertama “Aku”. Ada pelibatan pihak lain. Seakan-akan Nabi Khidir mengungkapkan “Saya yang (hendak) membunuhnya, karena Allah berkehendak menyelamatkan kedua orang tuanya dari kekafiran, dan Allah menggantinya dengan kebaikan yang lain”. Iradah (kehendak) membunuh itu datangnya dari Nabi Khidir, dan Iradah (kehendak) kebaikan untuk kedua orang tuanya itu datangnya dari Allah.

Kalimat berikutnya, فَأَرَادَ رَبُّكَ. Pada kalimat ini, hanya Allah yang berkehendak, tidak melibatkan dirinya (Khidir), karena hanya kebaikanlah yang ada pada hal tersebut, tidak ada kemungkaran, baik kemungkaran secara logika atau secara syariat. “….. maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. Kehendak (Iradah) yang dilakukan oleh Nabi Khidir dengan membantu anak tersebut, murni karena hanya untuk kebaikan, walau dirinya yang melakukan kebaikan, tetapi ia nisbatkan (tujukan) kepada Allah, Allahlah yang berkehendak atas kebaika-kebaikan itu. Ini sebagai jawaban Nabi Khidir kepada Nabi Musa, karena Nbi Khidir as membangun tembok rumah yang di sebuah pemukiman dan tidak ada satupun penduduk yang menerima mereka dengan baik dan ramah.

Pemilihan diksi yang cukup menarik, segala hal kebaikan yang dilakukan oleh Nabi khidir dikembalikan kepada Allah, sedangkan keburukan yang ia lakukan, ia kembalikan kepada dirinya.

Allah ‘Alam Bishawab
Malang, 12 Januari 2021

Senin, 11 Januari 2021

Sumur Tempat Dilemparkannya Nabi Yusuf

(Perbedaan Jubb dan Bi'r dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy
Kisah Nabi Yusuf sebagai kisah terbaik, sebagaimana yang dinyatakan sendiri oleh Al-Qur'an sebagai "Ahsana al-Qashasi". Kisahnya yang indah dari sisi alur, penokohan, amanah, bahasa yang digunakan dan pemilihan diksinya.

Sumur Nabi Yusuf, diambil dari palestinamember.com


قَال قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
Seorang di antara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat" (QS. Yusuf, 10)
Kali ini, kita kaji satu kata dalam ayat di atas, yaitu al-jubb (sumur). Dalam al-Qur'an kata al-Jubb diulang dua kali, sedangkan kata al-bi'r hanya satu kali disebutkan. Keduanya dalam bahasa Indonesia diartikan sama, yaitu sumur.
Beberapa pendapat ulama terkait dengan kata al-Jubb dan al-Bi'r. Ada pendapat bahwa al-Bi'r adalah sumur yang kecil (sempit) bawahnya, sedangkan atasnya lebar (luas). Sedangkan al-Jubb, adalah sumur yang luas (lebar) di tengah-tengahnya. Alasannya mengapa Nabi Yusuf disembunyikan di dalam Jubb (sumur), agar beliau tidak tenggelam dalam air yang akan menyebabkan meninggal dunia, sedangkan saudaranya hanya ingin menyembunyikan dan menjauhkannya dari ayahnya, bukan membunuhnya. Dan diletakkan dalam Jubb agar tidak terlihat dari permukaan, kecuali orang-orang yang melintas di tempat tersebut. Berbeda bila Nabi Yusuf dilemparkan ke dalam Bi'r (sumur) yang dipenuhi air, atau sering kali dipenuhi dengan air.
Perbedaan dari keduanya juga (qila), al-bi'ru a'maq (sumur itu lebih dalam), sedangkan al-Jubb itu lebih rendah. (dalam Kitaban Mutsabihan). sedangkan dalam al-Tafsir al-isytiqaqi, kata al-Jubb dalam Surat Yusuf, adalah sumur yang pinggirnya tidak ditutupi batu (tidak dibangun), disebut Jubb karena ia digali dalam Jubub (tanah yang keras).
Dalam Kitab Al-Lamahul al-Bayan karya Dr. Abdul Wahid Wajih, al-Jubb adalah galian kecil yang tidak terkena sinar matahari dan dapat menampung air hujan, artinya bukan sumur yang dalam (amiq) yang dapat mencelakakan Yusuf. Sebelum kata al-Jubb terdapat kata "Ghayabah" (ghaib), yang hanya untuk menghidari Nabi Yusuf dari sengatan matahari dan dari pandangan manusia. Sifat kasih sayang saudara-saudara itu masih terlihat, Yusuf tidak diinginkan untuk meninggal dunia, maka dari berbagai pilihan membunuh yang kemudian disepakati adalah pilihan terakhir, dilemparkan (qil, diletakkan) di sumur. Karena surat ini dimulai dengan Ali Lam Ra', Ra' adalah Rahmah. Tetapi pendapat yang lain, kata Ghayabah adalah dasar sumur, hanya hiperbolis saja, artinya sumur yang tidak benar-benar dalam.


Dalam beberapa penjelasan yang lain, al-jubb adalah sumur yang tidak ada pagarnya (tembok yang berada di atas sumur), sumur yang rimbun, yang tidak semua orang mengetahuinya. Sedangkan al-Bi'r sebaliknya, sebagaimana yang banyak ditemukan di Indonesia, sumur tradisional. "Lemparkan saja ke sumur agar diambil para musafir", sumur kecil tetapi sumur ini populer, banyak yang mengetahui keberadaannya, apalagi orang-orang yang sering melewati tempat itu. Saudara-saudara Nabi Yusuf tidak menginginkan Nabi Yusuf dibunuh dengan menggunakan kata “yaltaqith-hu” (memungut) agar ditemukan oleh para kafilah yang lewat di tempat tersebut, bila saudara- saudaranya mengingikan ia terbunuh, maka akan diletakkan di dalam lubang lain atau dalam al-Bi’r, atau juga dengan cara-cara yang lain.
Dalam kitab Al-Kasyyaf lokasi keberadaan sumur Yusuf terdapat beberapa pendapat, ada yang berpendapat ia adalah sumur Bait al-Muqaddas yang berada di Palestina, ada pula yang mengatakan sumur yang berada di Yordan. Pendapat yang lain, bahwa sumur tersebut terletak di antara Negeri Mesir dan Negeri Madyan. Juga dalam kitab Al-Kasyyaf, Sumur yang berjarak kira-kira 3 farsakh dari rumah Nabi Ya'qub. Dalam al-Muhith, Sumur ini terletak di Negara Palestina yang berada di kota Nablus, sekitar 1km dari makam Nabi Yusuf, dan ada yang berpendapat bahwa Nabi Isa minum dari sumur ini.
Mengapa Nabi Yusuf dilemparkan ke dasar sumur? Karena kedengkian saudara-saudara. Kedengkian sering kali tidak hanya berusaha untuk mengilangkan nikmat yang dimiliki saudaranya atau seseorang yang memiliki sesuatu yang lebih darinya, tetapi ia berusaha untuk mencelakakannya, sebagaimana pilihan saudara-suadara Nabi Yusuf kepada beliau, dibunuh, atau dilemparkan. Dasar sumur, adalah kebahagiaan sang pendengki bila ia mampu membuat orang lain celaka, terbenam, tertimpa musibah, bahkan sampai meninggal. Dan terkadang lupa, orang yang didengki seringkali bertambah sukses, semakin dicela, ia semakin berkibar. Kemudian yang celaka adalah dirinya sendiri, karena hilangkan kebahagiaan yang diliputi kedengkian.
Allah ‘alam bishawab
Malang, 07 Januari 2021

Kamis, 07 Januari 2021

Satu Ayat, Mencakup Seluruh Pesan dan Laku Agama

Halimi Zuhdy

Setiap Ayat Al-Qur'an mengandung mukjizat, bahkan setiap hurufnya juga demikian. Ayat Al-Qur'an tidak akan pernah selesai dikaji dan ditafsirkan walau sampai kapan pun. Setiap kali dibaca, dikaji, diteliti akan muncul ilmu baru, ia laksana mutiara yang tidak pernah hilang keindahannya. Tidak pernah selesai, dikaji dari sisi keindahan bahasanya, faidahnya, manfaatnya, pesannya, dan lainnya, belum lagi bila dikaji dari berbagai disiplin ilmu.
Satu Ayat berikut mencakup seluruh ketentuan Agama Islam, baik dari aspek akidah, muamalah, dan akhlak. (Ayat 177, Surat al-Baqarah)

لَيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ.
Ayat ini sangat menarik. Dimulai dari dengan kata "Bukanlah sebuah kabajikan...." menurut Dr. Khalid Ibrahim dalam I'Jaz Bayani, Ayat ini adalah induk dari berbagai hukum demikian juga menurut Imam al-Qurubi yang meliputi 16 kaidah, baik yang terkait dengan ibadah personal dan ibadah sosial. (I'jaz Kata Ayat ini, Insyallah akan sikaji selanjutnya). Kemudian muncul "Walakin al-birra...", tetapi kebajikan itu......silahkan temukan jawabannya pada Ayat selanjutnya.



Dalam Ayat ini kebaikan bukanlah menghadapkan diri ke arah barat atau ke arah timur. Yang tidak sedikit orang yang lebih kepada sebuah formalitas arah, yang diperdebatkan, bahkan munculnya ayat ini karena berlarut-larutnya orang Yahudi dan Nasrani mempersoalkan pemindahan arah kiblat dari Yarusalem ke Arah Makkah (Ka'bah).
Tetapi, titik tekan kebajikan di sini adalah bila percaya dan melakukan. Yaitu Akidah, muamalat dan akhlak. Kita perhatikan apakah al-birr (kebajikan, kebaikan) yang ada dalam Ayat di atas.
Yang pertama aspek akidah (5 pesan) beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.

Minggu, 03 Januari 2021

Pohon Kelor yang Rapuh

(Belajar Hidup pada Kelor)

Halimi Zuhdy

Yang paling saya rindukan ketika pulang ke Madura adalah masakan sayur kelor. Ditemani nasi jagung. Ikan tongkol. Sambel terasi. Sedikit serundeng (kelapa tanpa daging). 
Pohon kelor ini menghiasi dan memagari beberapa rumah di Madura. Tidak sulit mendapatkannya. Sepertinya, ia sayuran paling asyik disruput kuahnya, daun-daunnya yang mungil menambah lezatnya makanan, masuk tanpa ditelan. Tapi, pohon ini yang paling saya hindari untuk dipanjat. Rapuh. Bila dahannya mengering hanya dibuat kayu bakar. Tidak banyak dimanfaatkan, tidak seperti pohon mimba, siwalan, kelapa yang gagah, kuat, keras, yang juga menghiasi pulau Madura.

Beberapa tahun terakhir, saya baru tahu ternyata daun Meronggai (Kelor) memiliki banyak khasiat, bahkan ada yang menyebutkan pohon ajaib, belum lagi mitos-mitos yang menyertahinya. Di antara khasiatnya yang saya baca; menurunkan kolesterol, melindungi tubuh dari keracunan arsen, meredakan peradangan, mengatasi kangker, baik untuk daya ingat dan jantung, mencegah anemia, memberikan nutrisi untuk tumbuh, kaya akan antidioksida dan khasiat lainnya.

Pohon yang dahan-dahannya sangat rapuh ini, ternyata mengandung banyak khasiat. Ini mengandung hikmah yang luar biasa bila kita kaitkan dengan kehidupan manusia. Rapuhnya, ringkihnya, lemahnya tubuh seseorang, terkadang tidak demikian dengan pikirannya, cerdas, cerdik,   atau sebaliknya. 

*******
"Ha.. Ha.. Ha.." Riuh suara tawa para sahabat, entah apakah ada yang lucu, atau meledek. Nabi Muhammad SAW langsung menegur mereka, "Apa yang membuat kalian tertawa", para sahabat yang berada di tempat itu terdiam, tertegun, dan gugup, mereka belum sampai menjawab pertanyaan Nabi, dan Rasulullah SAW melanjutkan tegurannya, "Apakah karena betisnya yang kecil? Semua pada terdiam,  tak seorang pun berani menjawab. 

Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sesungguhnya kedua (betis)nya lebih berat dari Gunung Uhud dalam timbangan amal.”

Ternyata para sahabat itu menertawakan keadaan betis Abdullah bin Ma'ud yang kecil, ketika itu Rasulullah SAW meminta tolong kepada sahabatnya ini untuk mengambil batang siwak dari pohonnya. Saat memanjat pohon itulah, betisnya yang kecil terlihat. Mereka pun tertawa. 

Sungguh, bentuk tubuhnya tak membuat ia rendah. Ia adalah generasi terbaik. Ia disebut-sebut Nabi paling bagus bacaan Al-Qur'annya dan paling baik pemahamannya. Nabi SAW pernah bersabda, "Barang siapa cinta dan senang membaca al-Qur’an sesuai yang diturunkan, hendaklah ia membacanya sesuai bacaan putranya Ummu Abad (Abdullah bin Mas'ud) .” Sungguh kemuliaan baginya, pujian-pujian Nabi mengalir untuknya. Pujian yang sangat indah, Nabi tak melihat fisiknya, tak memandang bentuk tubuhnya, betisnya yang kecil, lebih berat dari gunung Uhud, bagaimana dengan anggota tubuhnya yang lain.

Jika kita perhatikan pepohonan; ada yang batangnya rapuh, berbunga indah. Ada yang tak berbunga, berdaun lebat, dapat dibuat tuk bernaung. Ada yang tak lebat, tapi penuh buah, menyegarkan penuh rasa. Ada yang tak berbunga, tak berbuah, tak ada dedaunan lebatnya, tapi akarnya mencengkram memberi jutaan obat. Ada pula batangnya kokoh kuat, tuk menyanggah rumah, walau tak ada bunga. Semuanya, mengahadirkan manfaat.
Hanya  terkadang, kita belum tahu rahasianya. walau berbeda cara memberi, tapi ia atas nama "pepohonan".

Demikian pula manusia; ada yang kaya, memberi dengan kekayaannya, walau memberi tidak harus menunggu kaya. Ada yang tidak banyak harta, tapi ilmunya ia wakafkan untuk umat. Ada pula yang tidak kaya, tidak banyak ilmu, tubuh dan hatinya ia sujudkan padaNya. Kadang, ia hanya memiliki akhlaq tuk tersenyum indah, menyejukkan hati sesama. Kadang ia tak memiliki apapun, tapi masih punya hati untuk orang lain, walau ada manusia memiliki segalanya, tapi hatinya ia simpan tuk keangkuhan. 

Berbuat baik, tidak harus menunggu menjadi apapun dan siapapun, karena kebaikan selalu ada pada siapapun dan apapun.

Dan bagaimana kita melihat orang lain, akan keistimewaannya, bukan lubang dan segala buruknya. 

Ada ungkapan Arab la tahtaqir mandunaka, likulli syain maziyyah jangan kau remehkan orang lain, karena setiap orang/sesuatu memiliki keistimewaan.

 Manusia seperti pepohonan dengan berbagai jenis dan macamnya. Bisa memberi kemanfaatan dengan berbagai kekurangan dan keistimewaannya. Indahnya Tuhan menciptakan manusia, _rabbana ma khalaqta hadza bathila

Kamus Berjalan, Mengenang Sosok K. Achmad Zuhdy Brungbung

Halimi Zuhdy
 
Setiap kali membuka kitab, baik kitab Tafsir, Fiqih, Hadis, atau kitab-kitab lainnya yang berbahasa Arab, dan saya menemukan kata-kata yang muskil, karena belum tahu maknanya atau belum mengerti maksudnya. Dan kebetulan di sebelah ada Abah, pasti beliau menguraikan arti kata yang saya tanyakan, dan menjawabnya dengan spontan. 
Ketika saya masih duduk di Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan masih menjadi santri kalong, ada banyak pelajaran yang menggunakan kitab kuning. Tidak ada teman berdiskusi. Tidak ada teman-teman atau ustadz sebagai tempat bertanya. Apalagi ketika malam sudah menyergap, hanya ditemani lampu temaram, bila minyak tanahnya sudah mulai habis dihisap api yang  bergoyang-goyang, harus rela untuk meraba-raba mencari korek api dan minyak tanah di dapur. 
Teman setia menemani kitab kuning, adalah kamus Yunus berwarna hijau, maklum kamus lainnya belum begitu akrab, hanya mendengar nama Kamus Munawwir, tapi kocek belum mampu menjangkaunya. Bila lembar demi lembar dalam kamus Yunus  tak ditemukan lafal dan artinya, maka jalan terakhir adalah membangunkan tidurnya Abah. Dari balik kamar, beliau akan langsung merespon arti dari kata yang saya tidak pahami, bahkan ketika kalimat-kalimat (ibarat) dibacakan ia pun menjelaskan dengan begitu gamblang, mudah dipahami, terkadang seperti membaca hasyiah-nya (penjelas matan kitab). 
Dulu, ketika saya masih duduk di bangku Ibtidaiyyah (sekelas SD, mungkin sekarang kitab yang digunakan sederajat dengan MTs)', seperti Kitab Khulashah, Taqrib, ad-Durus Arabiyah, Aqidatul al-Awam, Jawahirul al-Maknun, ketika beliau mengajar jarang sekali membawa kitab ke dalam kelas, sepertinya sudah hapal, sesekali kalau beliau lupa ada santri yang membacakan ibarahnya, beliau yang mengartikan dan menjelaskan dengan cukup detail. 

Suatu hari, saya pernah membuka beberapa kitab-kitab beliau seperti  al-Iqna' fi Hil al-Fadh Abi Syuja', al-Luma' fi Ushuk al-Fiqh, al-Asyba' wa an-Nadhair fi al-Furu', al-Muhadzzab Fi al-Fiqh Imam Syafi'i, Hasyiyah Jawahir al-Maknun li al-Fadhil Al-Syekh Makhluf al-Minyawi tidak ada coretan-coretan makna atau istilah pesantren adalah "Jenggot", tetapi hanya catatan-catatan kecil di pinggir kitab dan beberapa kosakata serta keterangan yang sepertinya jarang beliau mendengar sebelumnya. 

Ketika saya tanyakan, mengapa tidak diberi jenggot?, beliau hanya tersenyum dan menjawab bahwa semua kitab beliau jarang diberi jenggot (makna di bawahnya), kecuali beberapa kitab yang benar-benar baru, itupun tidak setiap kata. Kalau ada beberapa kata atau kalimat yang tidak dimengerti, maka beliau akan menuliskannya di atas kertas, dan kertas tersebut dapat dibawanya kemana-mana untuk dihafal dan didiskusikan bersama dengan teman-teman santri. Setiap mendapatkan kosakata baru dalam satu kitab, beliau hafalkan minimal sepuluh kali. Dan rahasia beliau dalam menghafalkan kosakata dalam beberapa kitab, tidak kemudian memberikan makna dalam setiap kata dalam kitab tersebut, tetapi dibiarkan kosong dan bersih. Jika benar-benar lupa, beliau membuka Kamus. Dari kamus inilah beliau banyak menghafal ribuan kosakata. Kata beliau, setiap membuka lembaran kamus, pada hakekatnya seperti menghafal kosakata. Semakin banyak dan semakin lama mencarinya, maka semakin melekatlah kata itu dalam pikirannya.

Beliau pernah bercerita, kamus pada masa beliau masih sangat langka, kecuali hanya beberapa masyayikh dan beberapa santri yang memilikinya. Tidak mungkin meminjam pada santri setiap saat, apalagi kamus menjadi teman setia kitab kuning. Maka, beliau membeli kamus Marbawi atau yang dikenal dengan Kamus Idris al-Marbawi, kamus yang cukup tebal, harganya juga sangat mahal (pada masa itu). Untuk mendapatkan kamus ini beliau menjual kebun (satu petak tanah) orang tua beliau. Beliau punya prinsip, kalau menjual satu petak tanah, suatu saat bisa membeli lagi satu petak bahkan lebih, tapi kalau kesempatan belajar tidak mungkin terulang kembali. Keputusan membeli kamus ini didukung oleh orang tua beliau yang sangat cinta ilmu, Kyai Lasum. Kamus ini kemudian menjadi teman setia beliau, di mana ada kitab, di situ ada kamus Marbawi.

Seringkali, kalau saya pulang kampung, beliau bertanya tentang ilmu Balaghah, dan kajian-kajian kearaban, dan terkadang arti sebuah kosakata Arab, walau saya yakin beliau sudah mengerti artinya, tetapi di sanalah sering terjadi dialog yang menarik, dan saya kemudian berpikir kwalitas lulusan Muallimin pada masa lalu, sulit tertandingi lulusan yang sederajat Aliyah masa kini, atau bahkan di atasnya. Beliau selain jarang sekali buka kamus, dan sekali membaca kitab-kitab gundul, langsung bisa menjelaskan dengan detail, serta bisa meng'ilal dan meng-I'rabnya. Idza shahhal I'rab, shaha al-makna.

Pengakuan beberapa siswa (santri) madrasah Miftahul Ulum, tempat beliau mengabdikan dirinya puluhan tahun, bahkan sampai wafatnya masih menjadi pengasuh dan kepala sekolah di Madrasah ini, setiap beliau masuk kelas, yang ditanyakan adalah "halaman berapa?", bukan karena beliau lupa, tetapi beliau mengampu beberapa mata pelajaran yang berbeda setiap harinya, dari Tafsir, Fiqih, Tarikh, dan beberapa materi lainnya, dan semuanya menggunakan kitab berbahasa Arab.

Yarhamuhullah Allah, wa Yaghfir dzunabahu.

Sumenep, 26 Desember 2020

Minggu, 13 Desember 2020

Mengurai Makna Syiar

Halimi Zuhdy

Kita sering mendengar kata "Syiar", namun terkadang berbeda dalam memaknai kata ini. Syiar sering dikaitkan dengan agama. Misalnya "mensyiarkan agama Islam", mungkin dianggap sama dengan membahanakan, mengenalkan, menginformasikan, atau memasyarakatkan. 

Kalau kita merujuk pada KBBI, Syiar diartikan dengan memuliakan dan Kebesaran, contoh, suara Azan pada tiap-tiap waktu salat menandakan syiar Islam. Berarti adzan adalah sebagai kebesaran atau kemuliaan dalam Islam. Bila kita merujuk pada Mu'jam Ma'ani, syiar itu adalah logo atau slogan. Slogan bisa berupa: gambar, simbol, logo (tanda), atau frase singkat yang mudah diingat dan diulang, atau juga sebuah ciri khas suatu negara atau kelompok yang melambangkan sesuatu dan sebagai penanda. Atau juga Syiar dalam Ma'ajim (Kamus) bahasa Arab tidak hanya dalam agama, tetapi juga dalam perdagangan (tijariyah), peperangan (al-harb), perjalanan (as-safar), kenegaraan (wathan), dan makna lain yang sesuai dengan konteksnya. 

Kata syiar dalam haji biasanya digunakan kalimat "Syiaru al-haj", bermakna ibadah haji (manasikuhu), dan ini terkait dengan tanda, astar, dan ibadah haji. Secara umum syiar dalam bahasa Arab itu adalah slogan, logo, gambar atau grafik visual ilustratif, dan dengannya baik seseorang, institusi, perusahaan, atau produk tertentu, atau bahkan negara dapat diidentifikasi (Al-Maudhu'). 

Kata syiar ini sangat dekat (berderivasi)  dengan kata syi'ir (puisi), sya'r (rambut), syu'ur (rasa, perasaan), syaar (tempat yang dipenuhi pepohonan), syaair (penyair), Sya'irah al-siaf (paku kecil pada sebilah pedang), syi'rayan (dua bintang), syaar (baju hitam), jelai (syaiir), liturgi, ritual, upacara (syai'rah). Dalam kamus Lisan al-Arab, Syiar adalah pakaian dalam yang menutupi tubuh manusia. Sebagaimana dalam Hadis Nabi, "Al-Anshar Syiarun, wa an-Nasu Distarun"
الأنصار شعار والناس دثار. 
 Dan Syiar terkadang dianggap suatu eksistensi lembaga, dari sinilah lembaga dapat dilihat keberadaannya dan perbedaannya. 

Bila ditilik dari makna yang diolah KBBI dengan makna dari Mu'jam  bahasa Arab (sumber dari kata ini), maka tidak terlihat hubungannya, kecuali dikaitkan dengan implikasi dari syiar ketika disyiarkan akan menjadi mulia dan besar. Atau Syiar adalah suatu tanda yang dimuliakan dan dianggap sesuatu kebesaran sebuah lembaga, negara, agama atau lainnya. Atau makna KBBI itu diambil dari sebuah Ayat Al-Qur'an;
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa "mengagungkan" syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati (Al-Hajj, 32).

Allah a'lam bishawab

Rabu, 09 Desember 2020

Ada Malaikat di Balik Hembusan Angin

Halimi Zuhdy

         Angin yang berhembus pada setiap arah, digerakkan Sang Kuasa. Tiadalah aliran angin bergerak dengan sendirinya, mengarah dengan sendirinya, dan berhenti sendirinya, ia berhembus atas perintahNya. Semua angin; baik angin darat, angin lembah, angin laut dan angin gunung sesuai dengan perintahNya, Sudah diatur sedemikian rupa oleh Malaikat yang Allah beri mandate untuk mengaturnya. “Tiada lah angin yang berhembus kecuali sudah diketahui dan diatur kadarnya, jumlahnya, beratnya, dan ukurannya,  kecuali angin yang menimpa kaum ‘Ad, karena murka Allah  angin itu tidak lagi diketahui kadarnya,  demikian juga dengan air bah yang menenggelamkan mereka” Ibnu Asakir.

            Angin yang berhembus di dunia tidak hanya satu macam, ada delapan angin yang diceritakan oleh Amr bin Syaib, ada empat angin negatif (siksaan), yaitu;  al-‘ashif, shar’shar, Aqim, dan qashif. Ada pula angin positif (rahmat); an-nasyirat, al-mubasyyirat, al-mursalat, dan al-dzariyat.

            Dalam kajian bahasa antara angin (al-rih) dan ruh (al-ruh) berasal satu akar. Ya’ dalam Al-Rih berasal dari huruf Wau (al-Ruh). Al-Rih diartikan angin, sedangkan al-ruh diartikan jiwa manusia dan terkadang nafas yang berada dalam diri manusia, sedangkan makna lainnya; Al-Qur’an, Jibril, Isa, rahmah, pertolongan. dan beberapa makna lainnya dalam pembahasan yang sangat luas.


            Dalam al-Qur’an kata  al-rih dan al-riyah bermakna angin, tetapi ulama membedakan dalam penggunaannya keduanya. Kalua al-rih terkadang digunakan sebagai angin yang membawa malapetaka, sedangkan al-riyah adalah untuk kebaikan, demikian pendapat Syekh al-Sya’rani. Kata al-rih dalam al-Qur’an terdapat 18 kali disebutkan, sedangkan al-riyah ada 10 kali.  Angin yang membawa kabar rahmat terdapat
QS. Al-A’raf (7):57, QS Ar- Rūm (30): 48, QS. Fair (35):9, QS. Alijr (15):22, QS. Al-Araf (7):57, QS. Al- Kahfi  18):45, QS. Al- Furqān (25):48, QS. Ar-Rūm (30):48, QS. AlFurqan(25):48 dan QS. An-Naml (27):63.  ada angin yang membantu penyerbukan, ada pula yang menggiring hujan. Sedangkan al-Rih terdapat dalam beberapa tempat; QS.Yunus (10):22, QS.Al-Isra’ (17):69. QS.Ali Imran (3):113, QS.Ibrahim (14):18, QS.Al-Ahqah (46):24, QS.AlHaqqah (69):6, QS.. Fuilat (41):16, QS.Al-Qamar (54):19), QS. Al Syuara (42):33), QS. ad (38): 36), QS. Aż-Żāriyāt (51):41, QS. Al-Anbiya (21):81, QS Al-ajj (22):31 QS ArRūm (30) 51, QS Al-Ahzab (33):9 dan QS. Saba (34):12. Ada angin badai, angin topan, dan angin-angin lainnya yang membawa malapetaka.

            Angin adalah pelajaran yang sangat berharga bagi mereka yang beriman kepada Allah, bagaimana sesuatu yang tidak tampak ia memberikan daya; hembusan, tiupan, badai, gerak, dan gelombang. Bagaimana dengan keghaiban lainnya, yang tidak tampak tapi ia mengatur alam semesta. Angin adalah tanda-tanda kebesaran Allah sebagaimana dalam Al-Qur’an  Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS ar Rum: 46). Dan orang yang beriman dan berakal juga akan berfikir bahwa tiadalah angin yang berhembus, hanyalah hembusan belaka, ia terkadang membawa rahmat, terkadang membawa malapetaka “Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk” (QS adz Dzariyat:41-42).

Angin yang bergerak dari arah manapun sudah diatur sedemikian rupa oleh yang Maha Kuasa, yang ditugaskan kepada Malaikat pengatur angin, sebagaimana Allah memberi tugas kepada Malaikat Mikail untuk mengatur hujan. Bila angin itu membawa malapekat, tidak boleh bagi kita untuk mencacinya; “Janganlah kalian mencaci angin, apabila kalian melihat apa yang tidak kalian sukai maka ucapkanlah: ‘Ya Allah aku meminta kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya serta kebaikan dari apa yang diperintahkan kepadanya; dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan angin ini, dan keburukan dari apa yang dibawanya serta keburukan dari apa yang diperintahkan kepadanya.”(HR Tirmidzi dalam Al-Jami’ no. 2253)

Betapa Allah sangat sayang kepada MakhlukNya, berapa angin yang berhembus semilir membawa keberkahan luar biasa, bisa dinikmati setiap detik, ia tunduk atas perintahNya, pesawat bisa terbang, perahu berlayar dengan nyamannya, mobil yang melaju dengan kecepatannya dan angin menyertainya, manusia yang tersenyum dengan semilir anginnya.”kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakiNya” (QS.Ṣad:36).

Dalam banyak Ayat kata al-Ashifat (jenis angin) menurut al-Qurthubi adalah Malaikat yang bertugas membawa angin, juga malaikat yang diutus oleh Allah untuk mencabut nyawa orang kafir. Demikian juga kata al-Mursalat, al-Ashifat. Angin seperti halnya hujan, diatur oleh Allah sedemikian rupa dengan mengutus para MalaikatNya, maka tiadalah angin berhembus sedikitpun, kearahah manapun kecuali atas kehendakNya. Allah’alam bishawab.

Malang, 9 Desember 2020


baca juga Ada Malaikat dalam Buliran Hujan Zam-Zam Cinta: Tentang Hujan dan Malaikat Mikail (halimizuhdy.com)