السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2022

Menilik Asal Kata "Brunei Darussalam"

Halimi Zuhdy

Brunei Darussalam. Brunei mirip kata Borneo. Borneo adalah sebutan lain dari Kalimantan, salah kepulauan yang ada di Indonesia. Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia. Dan pulau ini ditempati tiga negara; Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam. Berarti Brunai adalah Kalimantan. Dan negara Brunai Darussalam berada dikawasan atau pulau Kalimantan. 
Dalam Al-Ma'rifah, kata Brunei adalah derivasi dari kata Varunai, bahasa Sangsekerta yang bermakna pelaut. Dalam catatan lisan Syair Awang Semaun kata Brunai dari kata "baru nai" yang bermakna "tempat yang sangat baik". Kata baru nai muncul setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru.

Setelah menemukan kawasan atau lokasi Brunai yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka keluarlah kata "baru nai", kalimat takjub atas keindahannya, tempat yang sangat baik, dan sangat cocok untuk dibuat sebuah negeri. Dan kata negare yang juga digunakan sebagai Negare Brunai Darussalaam, dari bahasa Sangsekerta yang artinya negara atau kota.

Darussalam bermakna rumah kedamaian, negeri yang damai, tempat yang aman dan damai. Brunai Darussalam adalah negara aman sentosa. 

Insyallah beberapa hari ke depan akan menilik beberapa tradisi Negeri Brunai Darussalam. 

***
Kampong Kiulap Gadong Brunei Darussalam
18 Desember 2022

Rabu, 21 Desember 2022

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam


 -Syiar Bahasa Arab dan Islam

Halimi Zuhdy

Fenomena aksara Jawi termasuk unik. Selain dari katanya "Jawi" juga tempat dimana istilah ini tumbuh. Jawi, saya kira berasal dari kata Jawa, yaitu sebuah pulau di Indonesia yang terletak di kepulauan Sunda Besar, yang menyebar di beberapa provinsi di Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jogjakarta. Ternyata, sangkaan saya "kurang tepat". Karena ada yang membedakan antara Jawi dan Jawa. 
Istilah "Jawi" menyebar di Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam. Dan bentuk aksara Jawi adalah mirip aksara Pegon di Indonesia. Sedangkan tulisan Jawa yang kita kenal, adalah berupa Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀). Aksara ini banyak digunakan di Nusantara, seperti Aksara Sunda, Sasak dan Bali. Dalam beberapa catatan, bahwa aksara Jawa berasal dari India dari Suku Shaka.

Terus, apa perbedaan aksara Jawi, Jawa dan Pegon?. Dalam beberapa pendapat, kata "Jawi" berasal dari bahasa Arab "Jawah", dan dari beberapa catatan yang ada, bahwa kata ini pernah ditulis Ibnu Bathutah (Maroko) yang menyebut Sumatera dengan kata "Al-Jawah". Dan kata Jawi dari kata Javadwipa, yaitu merujuk pada daerah Asia Tenggara pada masa lalu. Maka Jawi (Java), tidak hanya orang-orang Jawa tetapi kawasan Asia Tenggara; Bangsa Melayu, Pattani, Philipina, Aceh, Sundah, Minangkabau, Bugis, dan lainnya. Hal ini, dibuktikan dengan penyematan nama ulama, Syekh Abdurrauf bin Al-Jawi Al-Fansuri dan beberapa nama ulama masyhur lainnya, yang bukan berasal dari kepulauan Jawa (sekarang). 

Aksara Jawi, atau Abjad Jawi, ada pula yang menyebutnya dengan abjad Arab-Melayu, abjad Yawi, tulisan Melayu, adalah tulisan yang berbasis abjad  (aksara) Arab. Dan tulisan ini digunakan dalam penggunaan teks bahasa Melayu dan beberapa bahasa lainnya, seperti Palembang, Aceh, Minangkabau, Banjar, Betawi dan beberapa bahasa lainnya yang ada di Nusantara. 

Aksara Jawi ini muncul sekitar tahun 1400-an di tanah Nusantara (dalam Kitab yang baru saya dapat dari UNiSSA, Al-Kitabah bil al-Huruf Al-Arabiyah). Dan hal ini dibuktikan dengan beberapa nisan yang bertuliskan aksara Jawi. Sejak awal kemunculan Islam di Tanah Arab, barang-barang nusantara seperti rempah-rempah dan kapur barus mendapatkan perhatian istimewa pada waktu itu, orang Arab menyebut orang Melayu dengan Orang Jawi.

Sebelum aksara Arab dan kemudian menjadi nama tulisan "Jawi" diperkenalkan pada masyarakat Melayu. Terdapat bahasa Sanskrit (pallava) yang memainkan peranan penting terutama di kalangan bangsawan. Tetapi, kemudian berjalannya waktu, aksara ini terkikis dan hilang. Di antara sebabnya karena penggunaan bahasa Sanskrit hanya digunakan kalangan bangsawan saja (M.Sahrin).


Masa keemasan aksara Jawi, pada tahun 1500-1800 orang-orang Nusantara (terutama Melayu), melihat bahwa tulisan Jawi sangat penting untuk digalakkan dan disiarkan, karena tulisan ini sebagai gerbang pada pemahaman Islam dan Al-Qur'an. Dan aksara Jawi merupakan faktor utama yang memungkinkan bangkitnya Bahasa Melayu di samping penyebaran agama Islam. Dan tulisan Jawi digunakan secara luas di beberapa daerah, seperti Kesultanan Malaka, Johor, Brunei, Sulu, Pattani, Aceh dan Ternate pada awal Abad ke-15 untuk surat menyurat, titah diraja, pemerintahan, puisi (syair), komunikasi dalam dunia perdagangan dan hubungan diplomasi.

Tulisan Jawi di Brunei mengalami kemunduran di kalangan masyarakat umum, setelah datangnya penjajah Inggris pada abad ke-19, dan digantikan dengan tulisan Rumi (latin) yang banyak digunakan dalam diplomasi dan hubungan resmi pemerintahan. Dan berjalannya waktu, aksara Jawi hanyalah dianggap tulisan agama. Dan ini juga mungkin yang terjadi di Indonesia, tulisan Pegon hanya dianggap tulisan untuk pengajaran di pesantren, sekolah agama, dan interaksi keagamaan Islam. Dan dari sinilah, tulisan Jawi di Brunai mengalami kemunduran, karena masyarakat mulai berpaling pada tulisan Rumi. Bahasa Inggris mulai marak dan berkembang pesat. Sedangkan bahasa Arab, masih berjalan di tempat. 

Menariknya, di Brunei Darussalam, walau aksara Jawi terus menurut sejak kedatangan Inggris, tetapi ia masih bertahan dan tetap digunakan dalam urusan resmi, dan tulisan Jawi sebagai korespondensi dalam membuka jalan kepada kemerdekaan Brunei. Seperti Undang-undang Tafsiran 1959, Perintah Perlembagaan 1959 dan 1960, dan dalam teks kemerdekaan Brunei pada 1 Januari 1984 ditulis dengan tulisan Jawi, di samping tulisan rumi dan terjemahan dalam Inggris. 


Dan sampai detik ini, tulisan Jawi menjadi tulisan resmi, baik dalam bidang kementerian dan jabatan kerajaan, acara adat, logi, surat-menyurat, nama jalan, nama sekolah, jabatan dan lainnya, dengan disertai tulisan rumi. Tulisan Jawi, adalah sebuah keharusan di Brunei. Walau tulisan rumi juga terus berkembang.  

 "Kita tidak mahu untuk kehilangan tulisan Jawi sebab inilah satu-satunya yang agung dan besar dari warisan yang masih tinggal yang boleh kita banggakan. Kehilangan tulisan Jawi akan banyak menjejaskan kepentingan kita seperti pudarnya semangat nasional dan binasanya agama karena fungsi tulisan itu juga mendukung kedua-dua perkara tersebut" (dalam Pelita Brunei, Tulisan Jawi Sebagai Khazanah dan Warisan Bangsa).

***
Bagaimana dengan tulisan Pegon (Indonesia)?, Mengapa dinamakan Pegon, tidak Jawi, dan mengapa nama tulisan "Jawi" lebih dikenal di luar kepulauan Jawa dari pada di Jawa (sekarang).?

Pegon yang berasal dari kata Jawa "Pego" yang berarti menyimpang sudah sangat banyak dikaji, dan menarik untuk terus dilestarikan. Adakah perbedaan antara tulisan Jawi dan Pegon? Wah, butuh waktu menuliskannya. 
Gadong, Negara Brunei Darussalam, 20 Desember 2022

***
Berikut beberapa aksara Jawi yang penulis ambil di tempat umum. Dan tulisan "Jawi" diwajibkan sebagai tulisan di negeri Brunei, walau disertai dengan bahasa rumi dan bahasa Inggris.


_Kajian-kajian Al-Qur'an, Mukjizat Al-Quran, Balaghah, Sastra Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya._

🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy*

Jumat, 02 Desember 2022

Menilik Jejak Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili (Syiah Kuala)


#Edisi6Aceh

Halimi Zuhdy

Beruntung dapat menjejakkan kaki di tanah Kuala, tempat syekh Abdurrahman Al-Fansuri dikebumikan. Titik 0 Sabang Aceh, terlihat dari kejauhan. Ingin sekali menapakinya, tapi waktu belum mengizinkan. 
Syekh Abdurrauf penerjemah Al-Qur'an berbahasa Melayu "Tarjuman al-Mustafid", kitab ini merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu. Beliau juga pengarang Kitab Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, karya di bidang fiqh atau hukum Islam dan masih banyak karya-karya lainnya, dalam berbagai bidang keilmuan, terutama Fiqih, Tasawuf, terjemahan kitab.

Sore, tanggal 28 November 2022, mobil memasuki kawasan makam Syekh As-Singkili, banyak anak-anak kecil yang lagi digendong oleh ibunya, ada pula yang lagi di ayun-ayun di rumah panggung di kelilingi beberapa orang. Apa yang saya saksikan agak unik, kok banyak anak kecil di tempat ziarah makam. 
Penasaran pun tak mampu saya pendam, "Ustadz, di sini kok banyak orang membawa anak kecil, ada pula santri yang lalu lalang? Apakah di sini ada pesantren?" Tanyaku pada Dr. Zilkhair. "Di sini banyak orang yang selametan, atau menuikan hajatnya, biasanya ada orang yang ingin punya anak laki-laki atau perempuan dan diniatkan ziarah, kemudian terkabul, mereka ke tempat ini. Ada juga santri-santri yang mau ziarah, pamet pulang, terkadang ke sini juga" jawab Dr. Zulkhair, mantan Kaprodi BSA UIN Arraniri ini.

Saya memasuki ruang makam, salam pun saya haturkan. Sepi. Hanya ada satu orang yang lagi membaca Al-Qur'an. Di dalam ruangan yang sangat luas, ada makam yang cukup panjang dengan balutan kain hijau. Di dalamnya adalah Syekh Aminudin Abdur Rauf bin eAli al-Jawi Tsumal Fansuri as-Singkili. Nama asli dari Abdurrauf. Di sekelilingnya terdapat beberapa makam yang ukurannya juga panjang-panjang, demikian juga nisannya. Kata juru kunci yang saya temui, di sekelilingnya adalah para murid beliau. 

Daerah Makam Syekh Abdurrauf ini, termasuk daerah gempuran tsunami hebat, tetapi beberapa bangunan dan juga makam beliu masih tidak rusak, hanya beberapa bangunan yang berada di luar makam beliau. Entah apa namanya, tapi ini sebuah pembelajaran dan ibrah bagi yang hidup. 

Keluarga Syekh As-singkili, diperkirakan berada di Aceh pada abad ke- 13 Masehi. Dan ada banyak berbeda pendapat terkait asal beliau, ada yang berpendapat dari Arab, ada pula Persia, juga ada pendapat yang lain dari beliau pribumi asli. Dalam catatan sejarah, beliau wafat pada usia 73 di desa Deyah Raya kecamatan Kuala. 

Banyak cerita tentang sang Syekh. Seorang tokoh yang sangat berpengaruh, penyebar agama di Sumatera dan Nusantara.

29 November 2022

Kamis, 01 Desember 2022

Hikmah di Balik Tiket Hangus


- dari UIN Ar-Raniri ke Syekh As-Singkili

# Edisi 4

Halimi Zuhdy

“Mendapatkan hal yang buruk dengan pikiran positif, jauh lebih baik dari mendapatkan keindahan dengan hati yang negatif” Kalimat penutup hari ini.
Kebahagiaan bukan dari apa yang telah kita raih, tapi kebahagiaan itu apabila kita menikmati setiap apa yang terjadi dengan mengucapkan “Al-Hamdulillahi ala kulli hal, segala puji bagi Allah dalam segala keadaan”. 

Di sela-sela percakapan kami di warung kopi pagi sebelum ke kampus UIN Ar-Raniri, tiba-tiba ustadz Sumardi, Kaprodi BSA UIN Ar-Raniri nyeletuk, “Untunglah ustadz, ustadz tidak jadi berangkat kemarin, karena dari pagi sampai sore listrik di Fakultas padam, andai ustadz hadir, juga tidak bisa menyampaikan kuliah”. 
Lah, mengapa semuanya menyatakan untung?. Karena yang dicari adalah hal positif, bukan negatif. Tidak menyalahkan keadaan, tetapi membawa keadaan pada suasana yang paling indah, dan yang paling membahagiakan ketika kita berkumpul dengan para dosen dan mahasiswa di ruang-ruang intelektual, dan asyik masyuk dengan dengan dunia akademik.

Tak ada lagi yang dipikirkan kecuali bercengkerama tentang ilmu pengetahuan. Sampai-sampai waktu seperti kilat, tak terasa dari pagi sampai sore berada di Kampus Hijau, kampus yang dipenuhi dengan pepohonan indah dan rindang. Di tengah-tengahnya terdapat rumah adat Aceh, “Ustadz, kalau ada Rektor dari luar Aceh ke kampus ini, kita bawa ke tempat ini” kata Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Aceh, Dr. Syaifuddin. Hatiku tersentak, ini bukan Rektor yang datang?, hanyalah dosen biasa.
Saya mulai naik ke rumah adat Aceh dengan rasa senang campur haru. Di sana sudah menunggu dosen-dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniri Aceh, dengan beberapa pejabat Fakultas. Saya ditunjuki benda-benda masa lalu, dari uang kuno, senjata, peralatan dapur, ruang tidur, ruang rias dan banyak lainnya. Dan yang istimewa, kita makan nasi Aceh dengan cerita-cerita yang sangat asyik. Terima kasih Aceh.

“Ustadz, nanti setelah Maghrib mengisi pengajian di Masjid Jami’ As-Shalihi?!” kata Bapak Dekan. Saya tidak bisa mengelak, apalagi seorang tamu yang datang dari non jauh, Malang. Dalam hati, kapan saya jalan-jalannya?, tetapi saya tidak menanyakan, karena pasti saya diajak jalan-jalan walau hanya sebentar. Eh, tiba-tiba saya ditanya oleh Dr. Zulkhair, Dr. Zullifah, dan Dakatir lainnya, “Ustadz mau kemana, akan kami antar?!”. 

Hati ini sangat Bahagia sekali. “Saya ingin ziarah ke Syekh Ar-raniri, Syekh Abdurrauf Al-Fansuri, Syekh, Syekh Hamzah Al-Fansuri, dan mungkin ke kapal tsunami?!” saya mencoba bernegosiasi dengan para asatidz. “Maaf ustadz, Sykeh Ar-Raniri, makamnya tidak di Aceh, ada pendapat beliau pulang ke India setelah kalah debat di muka umum dengan muridnya, Hamzah Fansuri, dan ada yang mengatakan beliau meninggal di India” kata Dr. Zulkhair, Alumni doktor dari Sudan. “Sedangkan Hamzah Fansuri, lumayan jauh, waktunya tidak cukup, karena ustadz nanti diminta mengisi pengajian setelah Maghrib, kita ke Syekh Abdurrauf As-Singkili saja dulu” beliau melanjutkan dan menjelaskan tentang keberadaan Syekh yang ahli Fikih. (Tentang Syekh Abdurauf, akan diceritakan khusus, Insyallah).

“Ustadz, harus Kembali lagi ke Aceh, akan kita bawa keliling!?” kata para asatidz yang selalu tersenyum dengan wajahnya yang selalu menggembirakan. Saya sebenarnya malu, beliau-beliau menemani mulai hari sebelumnya sampai seharian di UIN Ar-Raniri dan sampai hari terakhir di Aceh. Sungguh terharu. 

# Edisi 5

Kuala, 29 November 2022
***
Edisi Selanjutnya (Musium Kematian, Tsunami), (Syekh Alim yang dikalahkan politik), (pengajian di Masjid Jami’ Aceh), (Amplop Pengajian), (Kopi Solong yang legendaris), (Kyai Barista, Pak Dekan yang nyentrik).

Rabu, 30 November 2022

Dalam Perjalanan, Sekedarnya Saja!

-Aceh mengajarkan bagaimana menuju Akhirat

#Edisi 4

Halimi Zuhdy

Dalam setiap perjalanan selalu ada pesan yang disampaikan oleh gerak manusia dan alam. Saya saksikan orang-orang mengular, antri untuk check-in dan mendaftarkan bagasi. Ada yang menyerobot, ada pula yang santai, ada banyak wajah yang terlihat panik. Barang-barang yang dibawa pun bervariasi ada koper-koper yang menggunung, kardus penuh sesak, ada yang punggungnya dibebani dengan berbagai bawaan dengan tangan menjinjing tas, ada pula yang hanya bawa satu ransel kecil. 

Apakah selesai dengan antri di pendaftaran bagasi. Tidak. Perjalanan masih panjang. Bila bagasi besar dan ada barang berbahaya, maka masalahnya masih lama. Jika tidak ada masalah dengan bagasi, maka langsung pada titik selanjutnya, menuju gate (tempat menunggu pesawat). Di sana masih banyak tahap pemeriksaan keamanan, antri lagi, ada yang membuka sabuk, laptop, jaget dan lainnya. Antrian panjang. Terkadang melelahkan, terkadang mengasyikkan. 
Apakah selesai?. belum. Bagi  pelancong yang tidak membawa teman, dia akan membawa barang-barangnya ke toilet, ke mushalla, ke restoran, kemana pun ia berada di bandara. Takut hilang?. Ia. Karena tidak ada jaminan penuh, untuk keamanan. Demikianlah kehidupan sekelumit di bandara. Apa artinya, semakin banyak beban yang dibawa, semakin berat memanggulnya, semakin banyak yang dipikirkan dan semakin lama antriannya. 

Dalam Kitab Nashaih al-Ibad, karya Imam Nawawi, “Perbaikilah bahteramu, karena sesungguhnya samudera itu sangat dalam. Persiapkan bekalmu dengan sempurna, karena sesungguhnya perjalanan ini sangat jauh._Ringankan bebanmu, karena sesungguhnya rintanganmu sangat berat._
Ikhlaskan amalmu, karena pengintaimu sangat jeli.” ini pesan Rasululullah pada Abu Dzar Al-Ghifari ketika ingin berangkat untuk menjadi Gubernur. Semakin banyak seseorang membawa barang, semakin berat beban yang ditanggung, akan lambat bergerak, lebih lama antri ketika masuk pesawat, lebih-lebih ketika antri memasukkan barang ke kabin. Bagaimana dengan antrian di Akhirat nanti? Semuanya akan dihisab (ditimbang, diperiksa) olehNya. 
Hal ini saya tiru dalam setiap  perjalanan. Terutama perjalanan ke Aceh kali ini, selain membutuhkan waktu lama untuk sampai, masih transit beberapa kali di  beberapa bandara. Bila membawa barang banyak, dan berat, maka cukup menyulitkan gerak saya. 

Membawa barang-barang dalam perjalanan, harus dapat memperkirakan kebutuhan selama dalam perjalanan dan ketika sampai di tempat tujuan. Bila cukup dengan membawa satu kaos dan satu baju, mengapa harus membawa lima baju dan sepuluh potong kaos. Diperkirakan saja! sehari ganti berapa kali celana?, masak ganti celana sehari tiga kali.

Membawa barang sekedarnya saja!. Tubuh tidak akan menanggung beban berat, punggung terasa ringan, pikiran tidak terlalu bingung. Bayangkan! Ketika membawa kardus, bawa ransel, bawa koper, belum HP yang tidak bisa lepas dari tangan, belum lagi dan lagi. 

Capek kan?! Bila seseorang penempuh perjalanan tiga hari, pulang dan pergi, misalnya. Cukuplah bawa baju dua potong, ditambah kaos. Enak kan!. Naik kendaraan apa pun. Lebih-lebih perjalanan darat yang membutuhkan tenaga, maka bawalah barang sekedar saja.

Dalam perjalanan, makan sekedarnya saja!. Jangan terlalu kenyang, dan jangan pula sampai kosong. Bila tubuh mengkonsumsi makanan tidak terlalu banyak, maka gerak langkah akan gesit demikian juga sebaliknya. Dan bisa dibuat baca-baca buku di HP, kalau kekenyangan akan tertidur pulas. Benar tidak?!

Bawa uang sekedarnya saja! Sekedar cukup. Cukup untuk ongkos perjalanan, cukup untuk makan, dan cukup untuk kebutuhan lainnya. Terlalu banyak uang yang dibawa, maka akan terlalu banyak beban pikiran; takut hilang, ingin beli banyak barang dan lainnya. 
Bawa cinta sekedarnya! Jangan berlebih dalam merindu. Pasrahkan yang ada di rumah padaNya, sebagaimana doa diajarkan, "Allahumma Anta Shohibu fi Safar, wal.khalifatu fil ahl, Ya Allah Engkaulah pendampingku dalam perjalanan, dan mengurusi keluarga". Meminta padaNya, agar yang ditinggalkan di rumah dijaga oleh Allah. Selain akan lebih tenang dan fokus dalam beraktifitas.

#Edisi 4, lanjut edisi 5 (Action di UIN Ar-Raniri, Suguhan kopi gayu dan rumah adat penuh cinta)

Kuala, Aceh, 28 November 2022

Senin, 28 November 2022

Selalu Ada Kejutan dalam Hidup

-Min Haitsu La Yahtasib

Halimi Zuhdy

Kesedihan hanya sesaat, kebahagiaan melimpah ruah. Kebahagiaan demi kebahagiaan terkadang tak terasa saking banyaknya limpahan kebahagiaan dalam hidup. Inna ma'al usri yusra, sungguh kesulitan hanyalah sedikit, kemudahan begitu melimpah. Saatnya menikmat setiap kebahagiaan, bukan meratapi setiap kesedihan. 
Allah memberi kejutan dalam kehidupan seseorang, ketika seseorang dalam kelelahan menghadapi kehidupan. Wa yarzuqhu min haisu lanyahtasib, ....Dan Allah memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sedih, tetiba bahagia. Bahagia, tetiba sedih. Tapi, kesedihan selalu tidak lama, bagi orang yang beriman pada Takdir. Kemarin sedikit sedih karena 3 tiket yang hangus; Sby-Batam, Batam-Medan, Medan- Kuala Namo (Aceh) hangus, hari ini sangat bahagia, karena masih diberikan kesehatan oleh-Nya dan masih bisa melanjutkan penerbangan.  

Kita perhatikan gelar Sepak Bola Dunia 2022 di Qatar, selalu ada kejutan. Argentina yang dijagokan, tetiba bertekuk lutut di kaki Saudi Arabia. Arab Saudi Bahagia.  Kebahagiaan tak bertahan lama, Saudi Arabia tak berkutik di kaki Polandia, sedih. Argentina kini menatap penuh semangat masuk 16 besar. Belgia yang bersemangat, harus rela dihajar Moroko. Entah bagaimana akhirnya. Jerman kini bisa sedikit bahagia, walau sebelumnya dibuat sesak nafas oleh Jepang, kini Jepang yang berhenti bernafas, walau masih selalu ada harapan bagi Jepang. 

Demikianlah piala dunia, dan juga kehidupan di dunia. Tetap bersemangat menatap  kehidupan adalah jalan yang harus ditempuh. Bersyukur atas segala pemberian-Nya, adalah bagian dari cara menempuh bahagia. Dan bersabar atas musibah yang dihadapi adalah bagian dari membuat diri menjadi indah. 

Dunia itu fana (hancur, berubah). Tiada yang abadi di dalamnya, ada saat- saatnya di atas, ada pula saatnya di bawah. Tetapi atas dan bawah hanyalah bagian dari roda yang diputar, bukankan mobil sampai pada tujuan karena roda yang silih berganti, berputar. Maka, menikmati setiap putaran roda, adalah syukur padaNya. Kejutan-kejutan selalu datang bagi yang bersyukur. Dan kejutan akan menjadi kejutan, bagi yang bertaqwa padaNya. Wayarzuqhu min haitsu la Yahtasib.

(Edisi 2)
Sby-Jakarta-Medan-Aceh, 28 Nov 2022

Minggu, 27 November 2022

Boarding Time 04:50

3 Tiket Hangus

Halimi Zuhdy

Setiap masalah, pasti Allah kasih solusi. Dan setiap solusi, selalu menjadi yang terbaik. Asalkan yakin, tidak ada masalah yang akan menjadi masalah, masalah/kegagalan akan berbuah akan menjadi pelajaran, pengalaman, dan kebaikan. Tinggal dicari setiap hikmah yang akan diberikan.
Ini pengalaman kedua saya ditinggal pesawat. Memang galau, tapi dibuat santai. Karena pasti ada solusinya, asalkan hati dan pikiran ditenangkan. Pesan tiket lagi,  terbang. Rugi tiket hangus, ia. Tapi, banyak hikmah dalam ketertinggalan. Bukan lagi persoalan berapa uang dan waktu yang telah dihabiskan, tetapi berapa kuat melatih diri untuk bersabar. 

Kali ini kasusnya sama, tertinggal dalam hitungan detik. Hanya ditinggal untuk shalat shubuh di gate 13, nama saya dipanggil (ketika takbir pertama), tidak mungkin shalat dibuat super cepat, karena ditunjuk jadi imam sama beberapa staf bandara yang agak akhir shalat. Saya perkirakan, waktu masih nutut dengan detik yang ada, tapi...

Salam pada tahiyat akhir. Langsung ambil langkah cepat. Sampai ke gate 15. Duaaaar. Tanya sana -sini, "Apakah pesawat menuju Batam Batu Besar sudah take off?". "Ia Bapak, baru 2 menit yang lalu pintu gate 15 ditutup Bapak",  

Saya duduk sebentar menenangkan hati dan pikiran. Setelah tenang, cari petugas bandara di gate 10 yang masih aktif mengurus keberangkatan menuju Makassar atau mana, lupa. "Tiket bapak hangus, pesawatnya sudah berangkat beberapa menit lalu Bapak". Saya yakin, pesawat tidak mungkin kembali menjemput saya, gegara saya terlambat.wkwkwwk. Coba saya presiden, atau menteri, pasti tidak ditinggal (menghayal). 

Di depan mata. Saya perhatikan pesawat demi pesawat mulai meninggalkan landasan terbang. Pikiran nyeracau, ya inilah kalau belum waktunya berangkat. Sudah 3 kali hampir berangkat ke Tanah Rencong, Aceh. Tetapi, selalu ada asbab sampai. Ingin sekali mendekap Serambi Mekkah. Terbayang ziarah Abdirrauf As-Singkili, Hamzah Al Fansuri, Syekh Nuruddin Arraniri, dan beberapa kehangatan lainnya yang sudah terbaca dalam sejarah Aceh sejak masih duduk di MI. Ke beberapa negara pernah saya kunjungi, ke beberapa wilayah di luar Jawa juga sudah pernah, tetapi Aceh ini belum. 

Perjalanan kali ini, sudah ada agenda terjadwal rapi oleh Fakultas Abad dan Humaniora UIN Arraniri Aceh, bertepat di Prodi Bahasa dan Sastra Arab, acara dimulai jam 08.00-15.00 besok 28 Nov 2022. Agenda visiting lecturer, FGD dengan prodi BSA, dan diskusi penulisan skripsi dengan mahasiswa, dan agenda lainnya. Kalimat-kalimat ini masih dicoret belum juga mendapatkan tiket menuju Banda Aceh, hari ini semuanya sudah sold out (terjual).

Kaki melangkah ke beberapa tempat pemesan tiket menuju Aceh, kalau tidak ada hari ini, maka besok berangkat. Fokus mencari solusi, fakus mencari tiket, karena UIN Ar-Raniri dan cerita Aceh sudah terekam di hari. 

Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Yang tidak baik, jadi pelajaran. Yang baik, jadi keindahan. Dan semuanya yang terjadi adalah bagian dari ketentuan Tuhan. "Mengapa kok tidak ini, tidak itu, pasti tidak akan terjadi" perkataan seperti ini hanya akan membuka pintu setan untuk menggoda lebih dalam. Dalam kutipan hadis yang diriwatakan Abu Hurairah
......
Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: 'Seandainya aku lakukan demikian dan demikian'. Akan tetapi hendaklah kau katakan: 'Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi'. Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan" (HR Muslim). 

Mungkin ini kesalahan saya, karena kurang awal, kurang disiplin dan lain sebagainya, tetapi ada hal lain yang harus dilakukan. Selalu mengevaluasi diri, tidak mencari pembenaran diri. Karena kekurangan yang disadari, akan memberikan tambahan yang berarti. Kekurangan yang tidak ditanggapi, akan berakhir pada kegagalan yang tidak berarti. Gagal sebuah keharusan, bagi seseorang yang ingin maju. Bukankah tidak ada pelari cepat yang memenangkan pertandingan, kecuali ia pernah gagal dan mungkin jatuh. 

3 tiket hangus. Disyukuri, isnyallah Allah akan mengganti tiket-tiket lain yang lebih indah. Tiket sehat, tiket selamat, tiket bahagia, tiket berkah, tiket penganti dan tiket-tiket lain yang Allah selalu curahkan. Selalu positif. "Allah selalu memberikan yang terbaik". Kebaikan tidaklah harus apa yang kita sukai, bisa saja kebaikan ada sesuatu yang kita benci, tetapi memberikan manfaat yang sangat berarti. 

Dinikmati, disyukuri, dan dijalani. Dan jangan lupa selalu mengevaluasi diri.

Juanda, 27 November 2022

***
Mudah-mudahan ada tiket untuk esok hari, dan dapat bersua dengan syekh Arraniri.

Minggu, 07 November 2021

Indahnya Bersama di Surga

Halimi Zuhdy

"Gak usah ngomong surga mas!". kata kawan yang berada di sebelah kanan saya. Wajahnya agak masam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. 

Sepanjang perjalanan menuju Jogja, kami berbincang tentang indahnya hidup. Bukan keruwetan hidup. Kami memposisikan bunga mawar yang merona, bukan duri-duri yang mengitari mawar itu. Duri bagi orang yang optimis, adalah keindahan menuju keindahan lainnya. "Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya," kata Khalil Gibran.
Optimis dalam menjalani hidup adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mengharap angin untuk datang membawa sampan menuju dermaga, semakin kencang anginnya semakin bahagia. Bagi yang pesimis selalu berharap angin berhenti, bahkan berharap untuk tidak datang. Bukankan angin akan selalu datang dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menjadikan angin sebagai keberkahan atau sebagai musibah.

Hidup yang indah itu bila dilalui dengan rasa syukur. Apapun kondisi dan keadaannya. Keindahan bukan karena menjadi kaya atau miskin. Kebahagiaan bukan karena punya jabatan atau tidak punya jabatan. Keindahan itu bukan karena banyaknya sanjungan atau minim sanjungan. Keindahan itu bukan banyaknya subscribe atau sedikitnya.  Kesenangan itu bila menjalani kehidupan dengan fitrah. Oh ia, bukan berbagai masalah atau problem yang membuat orang itu bersedih, tetapi karena ia tidak mampu mencari hikmah dari masalah itu. Orang bahagia bukan orang yang tidak punya masalah, tetapi ia mampu mengolah masalah menjadi musik kehidupannya.

Tayyib. Judul di atas adalah Indahnya Bersama di Surga. Lah, itu bagian dari kebahagiaan. Kebersamaan itu membuat orang senang dan bahagia. Seindah apa pun tempat yang kita huni, tetapi hanya seorang diri, maka ada yang kurang, kebahagiaan. Seindah apa pun perjalanan yang kita lalui, tetapi sendirian, juga ada yang kurang, kesenangan. Seperti berwisata, tetapi ia hanya sendirian, tanpa anak atau istri, tanpa teman atau saudara. Berwisata dalam sunyi. Apakah ada tawa?.

Mengapa kita disuruh untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka, "Qu Anfusakum wa Ahlikum Nara!" Agar kita selamat dari neraka, bersama menuju surga. Bersama keluarga, kerabat, tetangga dan saudara. Reuni di surga. 

"Ah, sok tahu surga kamu mas!", teman di sebelah nyeletuk lagi. 

"Saya belum tahu surga, tetapi boleh kan optimis masuk surga dengan berbagai macam keindahannya, dan boleh kan berharap masuk bersama-sama, tidak sendirian. Tidak egois. Orang egois itu, ia berbuat baik dan kebaikan hanya untuk dirinya. Asalkan dirinya bahagia dalam ibadah, atau bahagia dalam menjalani hidupnya, selesai. Ke masjid sendirian, shalat sendirian,  ajak anak-anak juga menuju tempat yang sama, kan indah", kok jadi ceramah. Maaf ya gues.wkwwk.

Surga, baik surga yang bermakna taman di muka bumi. Atau surga yang berada di akhirat. Kebersamaan adalah bagian dari keindahan di dalamnya. Indahnya hidup, bila hidup dalam kebersamaan. Al-barakah fil jamaah.

******
Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  FB *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Senin, 19 Juni 2017

Mahasiswa Marbot, Berhati Emas


Halimi Zuhdy


Memasuki hari ke sembilan Ramadhan, sudah beberapa masjid yang saya kunjungi, baik mengisi ceramah Ramadhan dan lainnya. Setiap berkunjung kebeberapa masjid tersebut, saya selalu sempatkan bertanya tentang Takmirnya (muammir) dan juga para Marbotnya (petugas masjid). Ternyata Marbot Masjid tersebut, kebanyakan para mahasiswa; ada yang baru semester awal ada pula yang sudah mau lulus. Saya coba sedikit mengorek perjalanan mereka, baik dari rumahnya, sampai bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dan memilih Masjid sebagai tempat tinggalnya.
Rata-rata mereka berasal dari keluarga kurang mampu, ada pula dari keluarga yang berkecukupan.

Alasan Mahasiswa Marbot yang kurang mampu, memilih Masjid menjadi tempat berlabuhnya, karena; mereka tidak kuat untuk membayar kost, dapat membantu membersihkan Masjid, ketika belajar sambil berniat iktikaf, serta mereka bisa memanggil orang (adzan) untuk datang ke masjid, dan yang luar biasa, agar selalu bisa menjaga hati untuk lain jenis di kampus, bisa selalu berdekatan dengan Allah, karena menurut mereka masjid adalah tempat yang paling disenangi Allah. "Kalau sudah berada di masjid hati menjadi tenang ustadz", kata mereka.

Jumat, 30 November 2012

Menuju Multaqa Thani Saudi Arabiyah #1

(cerita perjalan mengikuti Multaqa alumni Saudi Arabiyah)

                Beberapa bulan yang lalu saya mendapat sms dari panitia Al-Multaqa al-thani (pertemuan ke2) untuk mahasiswa alumni Saudi Arabiyah untuk mengikuti acara multaqa yang diadakan oleh yayasan Shunduk Khairi al-ta’limi yang disponsori oleh Awqaf al-rajhi di Jakarta. Antara senang dan sedih saya belum bisa menjawab sms tersebut, senangnya meninggalkan banyak kewajiban dirumah, seperti pengajian rutin dibeberapa tempat dan kewajiban mengantarkan anak sekolah, senangnya karena bisa bertemu dengan alumni dari berbagai universitas Saudi seperti King Saud University, Ummul Qura, Madinah Universty, Imam Muhammad Ibnu Saud Al-Islamiyah, juga bisa mendapatkan angin segar dari beberapa du’ad dan muallim dari Saudi.
                Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat bersama 3 orang dari Malang,  dua orang lulusan lulusan dari jami’ah Imam, sedangkan saya sendiri dari lulusan King Saud University. Ternyata tidak semua teman-teman alumni diundang, hanya utusan dari beberapa daerah dan dari beberapa universitas. Saya kemudian memantapkan diri untuk berangkat lewat jalur darat, kereta api, mengapa pilihanya kereta api?, kata teman saya naik kereta api sekarang lebih nyaman dan enak, berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, disamping kebersihannya, juga keamanannya. Kalau dulu naik kereta bisa pesan tiketnya bisa dari calo, dan bahkan banyak tertipu oleh calo, kalau sekarang harus menggunakan ktp sendiri, dan ketika naik antara nama di tiket dan ktp harus sama. Kata teman juga, kalau dulu semua orang sampai kambing-kambing dimasukkan, kalau sekarang tidak lagi, semuanya bisa duduk dan dijamin mendapatkan fasilitas, itu yang Ekonomi. Sedangkan yang ekskutif pastinya berbeda.