Halimi Zuhdy
Aneh kadang. Saya membaca surat ini, malah takut. Bukan takut pada suratnya, tapi pada isinya: "Kiamat". Namun, surat ini justru menjadi salah satu bacaan favorit masyarakat dengan alasan mendatangkan rezeki. Tidak salah memang, tetapi justru di sinilah letak keunikannya.
Selalu ada hal yang menarik dari cara manusia memperlakukan rezeki. Kita menghitungnya dengan angka, mengejarnya dengan tenaga, merencanakannya dengan kecemasan, bahkan terkadang mengukur harga diri dengannya. Rumah yang lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, penghasilan yang meningkat, serta kehidupan yang tampak mapan sering kali menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Namun, di tengah kesibukan mengumpulkan rezeki itu, kita jarang sekali bertanya: untuk apa semua itu, dan ke mana akhirnya perjalanan hidup ini berlabuh?
Di antara surah dalam Al-Qur’an yang secara tajam mengajak kita memikirkan pertanyaan tersebut adalah Surah Al-Waqi‘ah. Dalam tradisi masyarakat Muslim, surah ini cukup populer sebagai amalan untuk melapangkan rezeki. Banyak orang membacanya dengan harapan hidup dimudahkan, penghasilan dilapangkan, dan kebutuhan dicukupkan. Harapan itu tentu sah-sah saja sebagai bentuk doa seorang hamba kepada Tuhannya. Akan tetapi, jika kita berhenti sebatas urusan rezeki material, kita berisiko kehilangan cakrawala makna yang jauh lebih besar yang justru dibentangkan oleh surah ini.
Surah Al-Waqi‘ah tidak hanya berbicara tentang apa yang kita peroleh selama hidup, tetapi juga tentang siapa kita ketika seluruh perolehan itu tidak lagi dapat dibawa. Ia tidak sekadar mengajarkan bagaimana manusia berharap mendapatkan sesuatu, melainkan mengajak manusia memahami hakikat dirinya, sumber kehidupannya, dan pertanggungjawaban atas segala yang dititipkan kepadanya.
Bahasa yang Mengguncang Kesadaran
Pintu masuk untuk memahami pesan surah ini dapat dimulai dari namanya: al-Waqi‘ah (الواقعة). Kata ini berasal dari akar kata waqa‘a (وقع), yang berkaitan dengan makna terjadi, jatuh, atau berlangsungnya suatu peristiwa besar. Dalam bentuk al-wāqi‘ah, kata tersebut menunjuk pada suatu peristiwa agung yang pasti terjadi, yakni Hari Kiamat.
Surah ini dibuka dengan kalimat yang sangat ringkas, namun langsung mengguncang kesadaran:
إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ
"Apabila terjadi Hari Kiamat." (QS. Al-Waqi‘ah: 1"
Kata idzā (إذا)—yang menandai waktu atau keadaan ketika sesuatu terjadi—mengantarkan pembaca kepada peristiwa yang bukan sekadar kemungkinan dalam imajinasi, melainkan sebuah kepastian mutlak. Sementara itu, penggunaan kata waqa‘at (وقعت) dalam bentuk lampau (fi‘il māḍī) memberikan kesan ketegasan bahwa peristiwa itu seolah-olah sudah pasti dan tinggal menunggu waktunya. Seolah-olah Al-Qur’an sedang berpesan: ada masa depan mutlak yang tidak perlu diragukan kedatangannya, betapapun manusia belum mengetahui kapan waktunya.
Ayat berikutnya menegaskan:
لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ
"Tidak seorang pun dapat mendustakan kejadiannya." (QS. Al-Waqi‘ah: 2)
Di sinilah bahasa Al-Qur’an bertemu dengan realitas keseharian manusia. Kita sering kali begitu serius mempersiapkan masa depan dunia yang belum tentu kita capai, tetapi kurang serius mempersiapkan akhir kehidupan yang sudah pasti akan kita hadapi. Kita menyusun rencana pendidikan, karier, investasi, hingga masa pensiun dengan sangat terperinci. Namun, persiapan moral dan spiritual kerap diletakkan di urutan paling belakang atau dianggap sebagai hal yang bisa ditunda.
Kita tentu tidak salah merencanakan masa depan. Yang keliru adalah ketika seluruh perencanaan itu membuat kita lupa bahwa hidup di dunia ini memiliki batas.
Hari Kiamat dalam Surah Al-Waqi‘ah bukan sekadar informasi tentang kehancuran alam semesta, melainkan cara Al-Qur’an merombak sudut pandang kita terhadap kehidupan hari ini. Ketika akhirat diyakini secara sungguh-sungguh, cara kita bekerja, mencari uang, memperlakukan sesama, dan menggunakan kekuasaan semestinya ikut berubah menjadi lebih lurus.
Ketika Dunia Membalikkan Ukuran Keberhasilan
Salah satu ungkapan paling kuat dalam surah ini adalah:
خَافِضَةٌ رَافِعَة
"(Kiamat itu) merendahkan dan meninggikan." (QS. Al-Waqi‘ah: 3)
Dua kata ini—khāfidhah dan rāfi‘ah—membentuk pasangan makna yang berlawanan. Pertentangan tersebut bukan sekadar keindahan sastra semata, melainkan gambaran tentang jungkir baliknya ukuran dan kedudukan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Di dunia, manusia kerap membangun tangga kehormatan dari jabatan, kekayaan, popularitas, gelar akademik, atau pengaruh sosial. Orang yang berada di puncak tangga itu dipandang berhasil, sementara yang di bawah kerap dipandang sebelah mata. Kita sering terlalu cepat menilai seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Namun, Surah Al-Waqi‘ah menghadirkan perspektif yang jauh lebih dalam. Di Hari Kiamat kelak, ukuran-ukuran duniawi itu kehilangan fungsinya sebagai penentu mutlak kemuliaan. Kedudukan yang tinggi di dunia tidak otomatis menjamin keselamatan, sebagaimana keadaan hidup yang sederhana tidak dengan sendirinya menunjukkan kehinaan di sisi-Nya.
Ungkapan khāfidhah rāfi‘ah mengajak kita membayangkan sebuah pembalikan besar: apa yang selama ini diagungkan manusia belum tentu bernilai di hadapan Allah. Sebaliknya, amal-amal sunyi yang luput dari tepuk tangan manusia bisa jadi memiliki bobot yang teramat besar.
Bukankah kita hidup di era ketika pencitraan keberhasilan sering kali lebih cepat menyebar daripada proses perjuangan yang melahirkannya?
Kita mudah terpesona oleh hasil akhir, tetapi jarang memeriksa kehalalan cara seseorang mendapatkannya. Surah Al-Waqi‘ah hadir untuk meluruskan standar tersebut. Bukan berarti kekayaan dan prestasi itu dilarang, semuanya tetap penting sebagai sarana kebaikan, tetapi hal itu kehilangan makna jika diperoleh dengan merugikan orang lain, dicapai lewat ketidakjujuran, atau diseret untuk menumbuhkan kesombongan. Pertanyaan utamanya bukan seberapa tinggi kita berdiri, melainkan di atas nilai apa kita berpijak.
Tiga Golongan: Di Manakah Kita Akan Berada?
Setelah menggambarkan kedahsyatan hari akhir, Surah Al-Waqi‘ah membagi manusia menjadi tiga kelompok besar:
وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَة
"Dan kamu menjadi tiga golongan." (QS. Al-Waqi‘ah: 7"
Kata azwājan (أزواجًا) di sini menunjuk pada kelompok atau golongan yang berbeda. Al-Qur’an kemudian memerincinya: aṣḥābul-maimanah (golongan kanan yang penuh keberuntungan), aṣḥābul-masy’amah (golongan kiri yang bernasib buruk), dan as-sābiqūn (mereka yang terdepan dalam kebaikan).
Pilihan kata sābiqūn (yang mendahului) sangatlah menarik. Al-Qur’an tidak sekadar berbicara tentang orang yang beriman secara pasif, tetapi mengapresiasi mereka yang berlomba-lomba menjadi pelopor dalam kebajikan. Ada perbedaan mendasar antara seseorang yang sekadar tidak melakukan keburukan dan seseorang yang bersungguh-sungguh menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi orang lain.
Pembagian tiga golongan ini berfungsi sebagai cermin instrospeksi diri. Kita tidak diminta untuk melabeli siapa yang kelak masuk golongan tertentu, karena rahasia akhir kehidupan adalah mutlak milik Allah. Yang bisa kita lakukan adalah memeriksa arah kompas hidup kita: kebaikan apa yang sedang diperjuangkan, dan seberapa besar manfaat yang kita tebarkan hari ini?
Salah satu keistimewaan struktur Surah Al-Waqi‘ah adalah alur pesannya yang dinamis. Setelah membawa pembaca merenungkan dahsyatnya Kiamat dan pengelompokan manusia, surah ini tiba-tiba menarik perhatian kita kembali ke hal-hal yang sangat dekat dengan realitas keseharian: penciptaan manusia, tumbuh-tumbuhan, air yang diminum, hingga api yang dinyalakan.
Al-Qur’an menantang kesadaran kita:
أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ”
"Maka, pernahkah kamu memperhatikan apa yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?" (QS. Al-Waqi‘ah: 63–64)
Melalui pertanyaan retoris berulang (a-fa-ra’aytum / "maka pernahkah kamu memperhatikan?"), Al-Qur’an mendidik kita untuk kembali takjub pada hal-hal biasa yang sering diabaikan karena terlalu sering dilihat.
Manusia memang mengolah tanah dan menanam benih, tetapi hukum-hukum biologi dan alam yang menumbuhkannya adalah mutlak kuasa Allah. Manusia meminum air, tetapi bukan pencipta sumber air itu dari ketiadaan.
Di era modern, teknologi pertanian dan rekayasa energi memang berkembang pesat. Namun, kemajuan itu tidak lantas menghapus keterbatasan manusia. Krisis lingkungan, kekeringan, dan kegagalan panen selalu menjadi pengingat bahwa kendali mutlak alam semesta bukan berada di tangan kita. Di sinilah iman dan ilmu berjalan seiring: sains membantu kita memahami mekanisme alam, sementara iman menempatkan kita pada posisi yang penuh kerendahan hati di hadapan Sang Pemilik Semesta.
Rezeki: Lebih dari Sekadar Angka dan Nominal
Jika ditelaah secara utuh, pembicaraan tentang rezeki di dalam Surah Al-Waqi‘ah tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu dirangkaikan dengan penciptaan, rasa syukur, dan kesadaran akan kematian.
Kita sering kali mempersempit definisi rezeki sebatas uang, materi, dan keuntungan finansial semata. Padahal, hidup kita ditopang oleh sekian banyak nikmat yang tidak tercatat dalam laporan keuangan: kesehatan yang baik, waktu luang, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang tenteram, hingga kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama.
Perjuangan mencari rezeki tetaplah mulia dan tidak boleh diromantisasi dalam kemiskinan. Namun, Surah Al-Waqi‘ah mengingatkan kita bahwa nilai sebuah rezeki tidak terletak semata-mata pada jumlah nominalnya, melainkan pada kehalalan prosesnya, keberkahan penggunaannya, serta seberapa banyak tangan yang terbantu karenanya. Harta yang diperoleh dengan cara batil mungkin mempertebal saldo, namun mengikis ketenangan jiwa. Sebaliknya, rezeki yang bersih akan mengalirkan kedamaian dan kemaslahatan yang melampaui angka-angka material.
Toyyib. Popularitas Surah Al-Waqi‘ah sebagai doa pelapis rezeki menunjukkan betapa besarnya kebutuhan manusia akan pertolongan Allah. Namun, mengamalkannya tentu harus diiringi dengan pemahaman yang utuh—bukan sekadar mengharapkan keajaiban material secara instan tanpa mengindahkan pesan moral di dalamnya.
Menjelang akhir hayatnya, manusia akan dihadapkan pada sakaratul maut di mana seluruh harta dan kekuasaan tidak lagi berdaya mengembalikan nyawa. Di titik itulah kesadaran tertinggi kita diuji.
Surah Al-Waqi‘ah tidak sekadar memotivasi kita untuk menjemput rezeki sebanyak-banyaknya di jalan yang halal. Lebih dari itu, surah agung ini menuntut kita untuk mempertanggungjawabkan setiap jengkal rezeki yang sudah berada di tangan kita.
Allau'lam bishawab
Pengasuh PP. Darun Nun. Ketua RMI PCNU Kota Malang. Wakil Ketua LPP MUI Jawa Timur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar