السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label Fatwa Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatwa Cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2026

Menjadi “Sebaik-Baik”, Standar Hidup Seorang Muslim

Halimi Zuhdy

Di tengah dunia yang gemar mengukur keberhasilan dengan angka yaitu jabatan, harta, pengikut, dan popularitas, maka Islam menghadirkan ukuran yang berbeda. Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wasallam berkali-kali menggunakan satu frasa kuat dengan kalimat: “Khairukum…” Sebaik-baik kalian…! 
Jika kita kumpulkan (sebelumnya, kami masukkan 37 hadis yang diawali dengan kalimat ini. Seolah Rasulullah shallalahu alaihi wasallam sedang menyusun ulang cara kita menilai hidup. Siapa yang terbaik? Yang paling kaya? Yang paling kuat? Yang paling terkenal? Ternyata tidak. Ukuran “terbaik” dalam Islam justru dimulai dari hal-hal yang sering tak terlihat.

Oh ia, jika kita cermati secara makna besar hadis-hadis tentang "khairukum" bukan sekadar menghitung jumlah literalnya, maka terlihat bahwa yang paling dominan dari hadis-hadis “sebaik-baik” adalah pembentukan kualitas pribadi: ilmu, akhlak, dan kebersihan hati, yang kira-kira mencakup sekitar 40 persen dari keseluruhan pesan. Ini menunjukkan bahwa standar terbaik dalam Islam pertama-tama dibangun dari dalam diri. 

Setelah itu, sekitar 30 persen berbicara tentang keluarga dan interaksi sosial, menegaskan bahwa kebaikan sejati harus terasa dalam relasi di rumah, di tengah sahabat, dan di masyarakat. Kemudian sekitar 20 persen menyentuh aspek ibadah dan simbol-simbol spiritual, seperti masjid, hari Jumat, dan dzikir, yang menjadi penopang ruhani kehidupan seorang Muslim. Adapun sisanya mencakup urusan ekonomi, kepemimpinan, serta kondisi-kondisi khusus seperti fitnah dan pengobatan, dan ini menandakan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, mengatur kualitas diri sekaligus tanggung jawab sosial dan realitas kehidupan.

Hadis pertama yang sangat populer menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari). Ukuran terbaik dimulai dari ilmu. Tapi bukan sekadar ilmu dunia, melainkan ilmu yang menghubungkan manusia dengan Allah. 

Kemudian Nabi Muhammad menegaskan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” Ilmu tanpa akhlak tidak cukup. Ibadah tanpa kelembutan hati tidak cukup. Bahkan dalam hadis lain disebutkan, manusia terbaik adalah yang hatinya bersih dan lisannya jujur. Di sini kita belajar satu hal "Islam membangun kualitas dari dalam, bukan dari luar".

Menariknya, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam tidak mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling lama shalatnya.” Beliau justru bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” Rumah adalah ruang paling jujur. Di sana tidak ada pencitraan. Di sanalah kualitas iman diuji. Seorang Muslim bisa terlihat santun di luar, tetapi jika keras terhadap istri, kasar kepada anak, dan tidak adil di rumah, ia belum mencapai standar “khairukum”.

Islam tidak membangun kesalehan panggung. Islam membangun kesalehan domestik.

Terus! Bermanfaat atau Tidak? Dalam hadis lain disebutkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Ini ukuran yang revolusioner. Kebaikan dalam Islam bukan kesalehan yang egois. Bukan spiritualitas yang menarik diri dari masyarakat. Tapi iman yang berdampak.

Memberi makan. Menjawab salam. Aman dari keburukannya. Menjadi tetangga yang baik. Itu semua masuk kategori “terbaik”. Artinya, ukuran keberagamaan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan manusia.

Integritas Duniawi Bagian dari Iman. Bahkan urusan ekonomi pun masuk dalam daftar “sebaik-baik”. Sebaik-baik penghasilan adalah kerja tangan yang jujur. Sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan. Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang.

Islam tidak memisahkan moral dari ekonomi. Kejujuran finansial adalah bagian dari kualitas iman. Dan belum lagi tentang mudah, seperti mahal dan lainnya. Dunia tetap menjadi perhatian lo. 

Jika dirangkum, banyak hadis tentang “sebaik-baik” (khairukum) mengajarkan peta prioritas hidup seorang Muslim: memperbaiki hati dan ilmu, berbuat baik kepada keluarga, memberi manfaat bagi sesama, jujur dalam urusan dunia, dan istiqamah hingga akhir hayat. Bahkan penutup hidup yang terbaik adalah ketika lisan tetap berdzikir kepada Allah. Berbeda dengan dunia yang mengukur keberhasilan dari popularitas dan harta, Islam menilai dari akhlak, manfaat, dan kebersihan hati. Maka yang terpenting bukan seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa baik kita di hadapan Allah.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 27 Juni 2025

Adab Komunikasi


(Meraih Hati, Bukan Menyakiti)

Halimi Zuhdy

Terkadang kita bertemu dengan orang-orang baik, tapi gaya, pilihan kata dan kalimatnya kurang tepat, sehingga kita tersinggung. Ada juga orang yang super duper cuek dengan "bahasa komunikasi", tidak peduli apakah lawan bicaranya tersinggung atau tidak, kadang kita tersinggung dan marah. Ada pula, yang pilihan kata-katanya sudah hati-hati, tapi sikapnya yang anti panti. Ya, akhirnya kita husnudhan sajalah, ketimbang baper. he. 
Apalagi kalau kita baca di media sosial hari ini, komentar-komentar terkadang diksi yang dipilih tidak lagi mencerminkan dirinya orang baik. Kepada orang yang lebih tua, sangat tidak sopan. Bahkan, bahasa yang dulu tabu, kini sudah menjadi kebiasaan. Walau tidak semuanya, tertentu. Tapi, kadang malu membacanya. Atas nama "kejujuran, saya bukan orang munafik, saya hanya berbicara yang hak". Alasannya. 

Saya tersinggung dan malu membaca beberapa kisah berikut, serasa diri ini jauh sekali, bahkan sangat tidak sopan berbicara dengan orang, apalagi berceramah dengan gaya menggurui. 

سيدنا ‏عمر بن الخطاب لما رأى مجموعة من الناس
 موقدين النار نادى : "يا أهل الضوء" ولم يقل "يا أهل النار" خشية أن تجرحهم الكلمة..

Sayyidina Umar bin Khattab, ketika melihat sekelompok orang yang sedang menyalakan api, beliau memanggil mereka dengan berkata: "Wahai para pemilik cahaya (يا أهل الضوء)," dan tidak mengatakan "wahai para pemilik api (يا أهل النار)" karena khawatir kata tersebut akan menyakiti hati mereka. An-nar (bisa diartikan, api 🔥 tapi juga neraka). Kita sering dengar beliau orang keras, tapi memilih kalimatnya sangat indah. 

الحسن والحُسين رضي الله عنهما لما رأوا رجلاً كبيراً يتوضأ خطأ قالوا له : نريدك ان تحكم بيننا من فينا الذي لا يُحسن الوضوء ولما توضؤوا أمامه ضحك وقال: أنا الذي لا أحسن الوضوء..

Hasan dan Husain radhiyallahu 'anhuma, saat melihat seorang pria tua yang berwudu dengan cara yang salah, Hasan dan Husain berkata kepadanya: "Kami ingin Anda menilai siapa di antara kami yang tidak pandai berwudu." Setelah mereka berwudu di hadapannya, pria itu pun tertawa dan berkata: "Akulah yang tidak pandai berwudu.". 

Masyallah, saya malu membaca tulisan ini, betapa indah sekali cara menegurnya, tidak sedikit pun menyinggung kakek tersebut, walau jelas-jelas salah berwudu', tapi Hasan dan Husain menjaga adab dalam menegur, takutnya kakek tersebut marah atau tersinggung. 

‏الإمام الغزالي رحمه الله عندما جاء له شخص وقال: ماحكم تارك الصلاة ؟ قال : حكمه أن نأخذه معنا الى المسجد.!

Imam Al-Ghazali rahimahullah, saat ada seseorang bertanya padanya, "Apa hukum orang yang meninggalkan salat?" Beliau menjawab: "Hukumnya adalah kita ajak dia ikut bersama kita ke masjid."

Bukan kemudian, menyampaikan: haraaam, berdosa, masuk neraka. Tapi, beliau menggunakan pilihan kata yang cantik sekali. 

سئل العباس بن عبد المطلب: "أنت أكبر أم رسول الله صلى الله عليه وسلم؟" فأجاب: "هو أكبر مني، وأنا ولدت قبله

Al-Abbas bin Abdul Muthalib pernah ditanya: "Apakah engkau lebih tua atau Rasulullah SAW?" Ia menjawab: "Beliau lebih besar (mulia) dariku, sedangkan aku lahir lebih dulu dari beliau."

Kalau sekarang, betapa banyak yang bertanya tentang umur, dan terkadang agak mengejek, kalau lebih muda atau lebih tua? Bukan bertanya untuk mengetahui, tapi untuk membandingkan. 

Menarik kalimat berikut yang selalu saya ingat dan saya simpan.
وأصبح بعضنا يبرر ذلك لنفسه ببعض الكلام مثل: أنا صريح، وأنا أتكلم بطبيعتي، أو أنه بذلك يبتعد عن النفاق.

"Sebagian orang mulai membenarkan sikap kasarnya dengan alasan seperti: ‘Aku hanya jujur’ atau ‘Memang begini cara bicaraku’, lalu menganggap itu bukan munafik.”

Dan, terakhir
اختيار الألفاظ قيمة ضاعت للأسف في مجتمعاتنا
“Memilih kata-kata yang baik adalah nilai luhur, yang sayangnya kini mulai hilang dari masyarakat kita.”

الحياة أسلوب والدين المعامله 
Hidup adalah tentang sikap, dan agama adalah tentang cara kita memperlakukan sesama.

Rabu, 21 Mei 2025

Ketika Janda Bertanya


Halimi Zuhdy

Ketika mengisi pengajian di majlis taklim ibu-ibu dan ukhti-ukti, terkadang agak rikuh, selain ganteng sendiri, juga harus selektif memilih kata-kata, takut ada yang baperan dan takut keselio lidah, akan menjadi berabe.wkwkw
ketika memberikan kajian plus pengajian di masjid di ujung kampung tentang besarnya pahala seorang istri yang berbakti kepada suaminya, tentang betapa mudahnya jalan menuju surga bagi wanita yang taat dan sabar dalam rumah tangganya. Jamaah pun terdiam, hanyut bersama suasa. Wkwkw. Apalagi ditambah tema, istri yang romantis dan tidak suka marah-marah sama suaminya, maka pahala akan berlipat.

Di sudut ruang pengajian, seorang wanita paruh baya yang -sepertinya- sudah lama menjanda duduk terdiam. Sepertinya matanya berkaca-kaca (loh kok tahu?). Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Setelah saya selesai berbicara, ia pun mengangkat tangan, suaranya bergetar saat bertanya, "Ustadz... bagaimana dengan saya yang sudah tidak punya suami lagi? Apakah saya masih bisa meraih pahala sebesar itu?"

Seketika suasana hening. Saya hanya bisa diam dan mencoba tersenyum; 

"Ibu... Allah itu Maha Adil dan Maha Penyayang. Jangan pernah merasa bahwa peluang Ibu untuk mendapatkan surga lebih kecil. Justru, di balik setiap keadaan, Allah membukakan jalan pahala yang lain. Ketika Ibu tidak lagi memiliki suami, Allah memberikan Ibu waktu lebih untuk lebih dekat kepada-Nya. Dengan tahajjud Ibu di sepertiga malam, dengan lantunan Ayat-Ayat suci yang Ibu baca, dengan doa-doa panjang yang Ibu panjatkan dalam sepi, semua itu menjadi jalan yang luas menuju rahmat-Nya."

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seutama-utama shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.’” (HR. Muslim, no. 1163). Ibu sekarang punya lebih banyak kesempatan untuk memperbanyak amalan itu."

"Dan bila Ibu menjaga anak-anak Ibu, membesarkan mereka dengan iman dan akhlak yang mulia, itu adalah jalan besar menuju surga. Rasulullah bersabda, ‘Aku dan wanita yang rambutnya kusut dan hitam karena mengurus anak-anaknya (dengan sabar) akan bersama-sama di surga seperti ini,’ beliau mengisyaratkan dua jarinya yang dirapatkan.' (HR. Ahmad, no. 16644)."

"Ketahuilah, setiap pengorbanan Ibu tidak pernah sia-sia. Allah berfirman: ‘Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.’ (QS. Al-Insyirah: 6). Ibu diuji bukan untuk disakiti, tapi untuk dimuliakan. Setiap tetesan air mata dalam kesabaran, setiap kelelahan dalam mendidik anak, setiap doa dalam sunyi malam, itu semua disaksikan dan akan diganjar oleh Allah dengan balasan terbaik."

"Bagi wanita yang masih memiliki suami, jalan mereka melalui ketaatan kepada suami. Bagi wanita yang suaminya telah dipanggil Allah, jalan mereka adalah pengabdian penuh kepada Allah dan amanah keluarga. Kedua-duanya mulia di sisi Allah. Tinggal bagaimana kita husnudhan kepada-Nya."

"Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ajaib sekali urusan orang beriman. Semua perkaranya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, itu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, itu pun kebaikan baginya.’ (HR. Muslim, no. 2999)."

"Jadi Ibu, jangan bersedih. Suami yang telah wafat bukanlah akhir dari kebahagiaan. Ini adalah awal dari perjalanan cinta yang lebih dalam kepada Allah. Hidup akan tetap indah bila kita memandang segala sesuatu dengan mata hati yang bersyukur."

Sepertinya ibu itu pun terdiam dan semoga dapat menjawab pertanyaan ibu tersebut. Dan semoga tulisan di atas, sedikit menjawab pertanyaan janda tersebut atau mungkin yang lainnya.

Senin, 24 Februari 2025


Halimi Zuhdy

Sebagai seorang pendidik, saya sedih ketika melihat dan mendengar seorang pengajar yang melakukan kekerasan fisik atau mental, pengajar yang sering memarahi, merendahkan, atau mempermalukan murid yang akan membuat proses belajar menjadi tidak nyaman dan menurunkan semangat belajar. Atau seorang guru yang berkata baik tetapi bertindak sebaliknya. Atau membedakan murid berdasarkan latar belakang, kedekatan pribadi, atau prestasi akademik tanpa alasan yang benar. Atau mengajar hanya soal nilai dan hafalan, tetapi tidak peduli pada pembentukan karakter. Atau pengajar yang hanya sekedar masuk kelas, tanpa persiapan. Dan lainnya. 
Ketika kita berbicara tentang pendidikan, sering kali yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah kurikulum, metode pembelajaran, atau fasilitas sekolah. (tidak salah Lo, kurikulum, metode dan fasilitas itu penting, apalagi lembaga pendidikan harus memperhatikan hal tersebut). Tapi, ada sesuatu yang lebih mendasar yang harus menjadi perhatian, yaitu pengajar itu sendiri.  Mari kita lirik dan kaji susunan Ayat dalam Surat Ar-Rahman berikut. Penulis sengaja melirik Ayat ini, karena ada 3 (tiga) kata penting. Ar-Rahman, Allama dan al-Qur'an. Dan Ayat ini dipilih karena terdapat kata "allama", mendidik, mengajar, memberitahu, menginstruksikan, memberi pelajaran. Mari, perhatikan bagaimana Allah membuka Surah Ar-Rahman:  

الرَّحْمٰنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ  

Urutan kata dalam ayat ini bukan kebetulan. Allah tidak langsung menyebut proses mengajar (‘allama) atau materi ajar (Al-Qur’an), melainkan terlebih dahulu memperkenalkan diri-Nya sebagai "Ar-Rahman", Yang Maha Pengasih. Ini memberikan pelajaran penting, pendidikan harus dimulai dari pribadi pendidik itu sendiri.

Seorang guru, sebelum ia mengajarkan ilmu, harus memiliki kasih sayang, empati, dan ketulusan. Ilmu bisa diperoleh di mana saja, tetapi sentuhan hati dari seorang guru yang baik akan membentuk kepribadian muridnya. Betapa banyak orang yang sukses bukan karena buku ajar yang canggih, tetapi karena bertemu dengan seorang guru yang menginspirasi mereka dengan kelembutan dan kebijaksanaan.  Sekali lagi, bukan tidak butuh buku ajar Lo ya?! Wkwwk

Setelah sifat Ar-Rahman disebutkan, barulah muncul kata ‘allama - mengajar. Ini menunjukkan bahwa proses belajar-mengajar memang penting, tetapi ia harus berjalan di atas dasar kasih sayang dan kepedulian. Pendidikan bukan sekadar menyampaikan teori atau menyusun silabus, melainkan seni dalam membimbing dan mendidik dengan penuh kebijaksanaan.  

Kemudian, setelah menyebut proses mengajar, Allah menyebut Al-Qur’an - materi ajar. Ini mengajarkan kepada kita bahwa "buku, fasilitas, dan kurikulum memang diperlukan, tetapi mereka bukan faktor utama dalam keberhasilan pendidikan." Jika seorang guru/dosen/ustadz memiliki hati yang penuh kasih dan metode yang baik, ia bisa mengajarkan ilmu bahkan tanpa fasilitas yang mewah. Namun, sebaliknya, jika pendidikan hanya bertumpu pada teknologi dan buku tanpa adanya guru yang tulus, ilmu akan kehilangan rohnya. Apalagi tujuan ilmu bukan hanya sekedar mencari ilmu lo ya, tapi menjadi lebih baik dengan akhlak terpuji. 

Jadi, dalam konsep pendidikan yang diajarkan oleh Ayat di atas, ada tiga unsur utama: pribadi pengajar, metode mengajar, dan materi ajar. Namun, urutannya jelas—bukan dimulai dari materi, bukan pula dari metode, melainkan dari karakter pendidiknya. Oh ia, ini bukan satu-satunya, kalau benar-benar ingin mengetahui pendidikan dalam Al-Qur'an, mungkin dapat menggunakan beberapa Ayat terkait dengan ilmu atau pendidikan, yang dalam Al-Qur'an kata "ilmu" dan derivasinya ada 811. Ini membutuhkan kajian lebih dalam. 

Dalam menilik Ayat di atas, Inilah yang perlu kita renungkan. Sebelum bertanya tentang metode terbaik atau kurikulum yang paling efektif, kita perlu bertanya lebih dulu, sudahkah para pendidik memiliki kasih sayang dan kebijaksanaan dalam mendidik? Sebab, sebagaimana yang diajarkan dalam Surah Ar-Rahman, pendidikan sejati bukan hanya soal ilmu, tetapi tentang bagaimana ilmu itu diberikan dengan cinta.🥰

***
Maka, bisa ikuti Saluran Fatwa Cinta Ya......

Mengukur Kebahagiaan


(Indonesia Negara Paling Bahagia Ketiga di Dunia).

Halimi Zuhdy

Saya sedikit bingung cara mengukur Kebahagiaan, apalagi tidak punya alat ukur tentang kebahagiaan (versi pribadi), bahkan kebahagiaan pribadi pun kadang tidak bisa diukur, hanya ada rasa, tiba-tiba tersenyum dan dada terasa lapang. Pikiran menjadi fresh. Itu saja. 
Dan setiap orang berbeda-beda untuk mendapatkan dan merasakan kebahagiaan. Maka, sesuatu yang menurut kita bahagia, belum tentu menurut orang lain bahagia. Tapi, ada kebahagiaan umum yang semua orang ketika mendapatkannya menjadi bahagia. Itu pun, "rasa bahagia" masih banyak macamnya Lo. Dalam bahasa Arab, ada farah dan sa'adah. Keduanya berbeda, belum lagi ketika membincang kebahagiaan di dunia dan akhirat, tambah komplek. Terus bagaimana?.wkwkwwk. 

Entah, bagaimana "Ipsos" mengukur Kebahagiaan secara global. Laporan Global Happiness 2024 dari Ipsos menunjukkan bahwa kebahagiaan manusia masih berada dalam fase fluktuatif. Meski telah mengalami peningkatan sejak pandemi, tingkat kebahagiaan global sedikit menurun dibandingkan tahun lalu. Dari 30 negara yang disurvei, 71% orang mengaku bahagia—lebih tinggi dibandingkan 2020 yang hanya mencapai 63%, namun masih tertinggal dari puncak kebahagiaan di tahun 2011 yang mencapai 77%.

Di antara negara-negara yang disurvei, Belanda dinobatkan sebagai negara paling bahagia, dengan 85% penduduknya merasa puas dengan kehidupan mereka. Sementara itu, Hongaria dan Korea Selatan menjadi dua negara dengan tingkat kebahagiaan terendah, hanya mencapai 48%. Perubahan signifikan juga terlihat di Türkiye, yang mencatat penurunan kebahagiaan terbesar sejak 2011, turun hingga 30%. Sebaliknya, Spanyol justru mengalami peningkatan kebahagiaan tertinggi dalam periode yang sama.

Dan, kalau kita baca lebih cermat lagi tentang Indonesia di Ipsos, bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga dalam tingkat kebahagiaan global. Data menunjukkan bahwa 82% masyarakat Indonesia merasa bahagia, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di Asia Tenggara, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand (79%), Malaysia (77%), dan Singapura (74%). Peningkatan yang signifikan ini terlihat dari perbandingan dengan tahun sebelumnya, di mana Indonesia naik sembilan peringkat dan persentase kebahagiannya meningkat sebesar 3% dari sebelumnya 79% di tahun 2023. (Selengkapnya, dapat dibaca di Ipsos Ya)He. 

Masih dalam laporan Ipsos, bahwa tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan, keluarga dan pertemanan menjadi aspek yang paling memberi kepuasan. Namun, di sisi lain, banyak orang merasa tidak puas dengan kondisi politik dan ekonomi di negara mereka, serta keadaan finansial pribadi. Ketidakpastian global tampaknya memberikan tekanan tersendiri, membuat banyak orang merasa kurang memiliki kendali atas kehidupan mereka, terutama di kalangan Generasi Z. Hanya 65% dari mereka yang merasa mampu mengendalikan hidup mereka, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Baby Boomers yang mencapai 76%.

Meskipun demikian, manusia tetap menemukan cara untuk bertahan dan menemukan kebahagiaan dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Di tengah ketidakpastian global, hubungan keluarga, persahabatan, dan kepuasan pribadi tetap menjadi sumber kebahagiaan yang paling berharga. Dunia boleh saja menghadapi tantangan yang semakin kompleks, tetapi harapan dan kebahagiaan masih terus hidup di hati banyak orang. Wow. 

Yang menarik, masak sih orang Indonesia peringkat paling bahagia di dunia, wong bukan negara adidaya, tidak seperti Amerika. Juga bukan negara paling kaya, seperti Singapura dan beberapa negara lainnya. Juga bukan penemu teknologi tercanggih, bahkan termasuk yang tertinggal, beda dengan China, Rusia dan lainnya. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tapi itulah fakta, kok kita mendapatkan peringkat ketiga, masih belum percaya diri, bahwa kita paling bahagia, kira-kira kenapa Ya 🤩

****
Dalam kajian berikut (Integrasi Islam dan Sain), akan sedikit dikupas tentang, apa sih tujuan diciptakan manusia? Untuk memakmurkan bumi, merusak bumi, mengolah bumi, atau.....apakah dengan bisa merasakan bahagia? 😆

Kamis, 16 Januari 2025

Gelora Imam Jurjani pada Putranya, untuk Tholabul Ma'ali


Halimi Zuhdy

Syair indah sang ayah, Al-Syarif Al-Jurjani buat putra tercintanya, Muhammad Syamsuddin dalam meraih cita-cita tertingginya. 

Sebuah kisah inspiratif tentang Al-Syarif Al-Jurjani dan putranya Muhammad Syamsuddin menggambarkan pentingnya semangat dalam meraih cita-cita tinggi dalam hidup. Tinggi cita-cita dan keinginan untuk mengejar kemuliaan selalu menjadi fondasi utama dalam membangun keberhasilan individu maupun masyarakat. Menarik melirik semangat sang anak untuk mencontoh ayahnya. Ayahnya menjadi idola, mungkin dalam pandangannya, ayahnya bukan hanya ayah, tapi adalah seorang alim yang pantas untuk diteladani. Tapi, bagaimana keinginan putranya dan tanggapan ayahnya?
Diceritakan bahwa Muhammad Syamsuddin (838 H), putra dari al-Syarif Al-Jurjani (816 H) ingin meneladani ayahnya untuk mencapai derajat keilmuan yang tinggi (siapa yang tidak tahu, Al-Syarif Al-Jurjani?,  ulama hebat, linguis, faqih, filosof ). Suatu hari, sang ayah bertanya kepadanya, "Derajat ulama mana yang ingin kau capai?" Muhammad menjawab, "Derajatmu." Mendengar hal itu, sang ayah berkata, "Cita-citamu kurang tinggi. Aku dahulu menginginkan kedudukan seperti Ibnu Sina, hingga usahaku membawaku pada derajat seperti sekarang ini. Sedangkan dengan tujuanmu yang terbatas, engkau hanya akan mencapai derajat yang kurang sempurna. Maka, hendaknya engkau memiliki cita-cita yang tinggi dan keinginan untuk meraih kemuliaan."

وذات يوم سأل الوالد (الشريف الجرجاني) ابنه (محمد شمس الدين): (تطلبُ درجةَ أيِّ فاضلٍ من العلماءِ؟ قال: درجتَك، فقال: أنت قصيرُ الهمّةِ، أنا طلبتُ رتبةَ ابنِ سينا، فبلغَ بي السعيُ إلى هذه الدّرجة، وأنت فيما تطلبُ لا تصلُ إلا إلى درجةٍ ناقصةٍ، فعليك بعلوّ الهمّةِ وطلبِ المعالي).

Kisah ini menyiratkan pesan penting bahwa cita-cita yang besar akan mendorong seseorang untuk mencapai potensi terbaiknya. Kemudian, Al-Syarif Jurjani, yang mempunyai nama lengkap Ali bin Muhammad bin Ali Al-Syarif Al-Hasani Al-Jurjani, beliau menuliskan pesan cantik dan motivasi kuat pada sang putranya melalui syairnya; 

طريقُ المعالي عامرٌ ليَ قيّمُ        
       وقلبي بكشفِ المُعضلاتِ مُتَيَّمُ
ولي همّةٌ لا تحملُ الضّيمَ مرةً       
      عزائمُها في الخطبِ جيشٌ عرمرمُ
أريدُ من العلياءِ ما لا تَنالُه ال    
      سيوفُ المواضي والوشيجُ المقوّمُ
وأُوردُ نفسي ما يُهاب ورودُه          
           ونارُ الوغى بالدّارِعين تَضَرَّمُ

Jalan menuju kemuliaan terbentang terang untukku, dan hatiku terpaut tuk memecahkan masalah-masalah pelik

Aku memiliki gelora yang tak pernah menerima kehinaan, tekadnya bak pasukan besar yang tak terkalahkan dalam berbagai kesulitan

Aku menginginkan dari kemuliaan apa yang tak dapat diraih, oleh pedang-pedang tajam atau tombak-tombak yang kokoh

Aku membawa diriku ke medan yang ditakuti banyak orang, saat api peperangan menyala di tengah perisai yang membara

Bait-bait syair indah ini mencerminkan ambisi yang melampaui batas material, menuju puncak-puncak yang hanya dapat diraih dengan tekad yang kuat dan usaha yang tak henti, thalbul ma'ali. 

***
Kisah dan bait-bait puisi ini diriwayatkan oleh Al-Khuwansari dalam kitabnya Rawdhât Al-Jannât (jilid 5, halaman 291) dari Sayyid Ni'matullah Al-Jaza'iri (wafat tahun 1112 H). Kisah tersebut kemudian dikutip dari Rawdhât oleh Syaikh Abbas Al-Qummi dalam kitabnya Al-Kunâ wa Al-Alqâb (jilid 2, halaman 360), yang dikutip Dr. Muhammad Nouri Al-Mousawi.

Selasa, 29 Maret 2022

Coba Diam Sejenak! (Belajar dari kasus Mas Will Smith)

Halimi Zuhdy

Seandainya Mas Will Smith diam sejenak saja, mungkin tidak akan terjadi aksi pemukulan di atas panggung Oscar 2022 yang menghebohkan itu. 

Mas Chris Rock si tukang lelocon menyentuh bagian sensitif dari hati Mas Will, istrinya. Mas Chris menyentil penampilan Mbak Jada Pinkett Smith, sang istri Will Smith, yang botak karena mengidap alopecia. Waduh. 
Walau beberapa psikolog mengatakan bahwa pemukulan itu hal wajar, karena yang disentuh adalah persoalan sensitif. Walau di sisi lain, mendaratkan tangannya di atas panggung yang menghebohkan dunia itu juga dinilai tidak baik. Coba Mas Will diam sejenak saja, mungkin ia dapat mengambil keputusan lain yang lebih bijak. 

Nasi sudah jadi bubur. Sudah tidak mungkin mengulangnya lagi di atas panggung.  Tangannya sudah menggores pipi mas Chris. Bara sudah membakar. Bagaimana lagi, tinggal mengheningkan cipta. Dan menyesalinya.

Mas Will kemudian menulis permohonan maaf atas kejadian di atas panggung yang paling disorot itu. "Saya melewati batas, dan saya bersalah. Saya  malu sekali, dan perilaku yang saya tampilkan itu bukanlah perilaku laki-laki yang saya inginkan. Tidak ada tempat untuk kekerasan di dunia yang penuh cinta dan kebaikan," tulis Mas Will di IGnya. 

Diam sejenak saja. Mungkin, tidak akan terjadi hal yang buruk itu. Diam sejenak saja, maka air itu akan bening dari keruh. Diam sejenak saja, semuanya akan terlihat indah. 

Kejadian di atas sebenarnya pelajaran untuk kita, di berbagai panggung kehidupan kita. Tidak hanya di panggung yang disorot banyak mata. Tetapi panggung WA, FB, IG, TikTok, dan media lainnya. Atau panggung paling dekat dengan kehidupan kita, di rumah, lingkungan, tempat kerja, dan di berbagai panggung lainnya, di mana kita berada bersama orang lain. 

Di media sosial. Tangan kadang gatel sekali. Setiap kalimat muncul dari status seseorang, tangan langsung breaksi. Setiap orang berbisik tentang kita, amarah langsung membuncah. Ketika amarah sudah membara, sulit sekali dipadamkan. "Sebelum ia membakar, belumlah sukses", kata nafsu. Ditahan jadi penyakit, dilepas tambah membuat sakit. Terus bagaimana? Diam sejenak saja, semuanya akan baik-baik saja.

Maka, penting sekali untuk diam sejenak. Tidak reaksionis. Berfikir akan akibat yang akan ditimbulkannya. Bila kaca itu sudah pencah, secanggih bagaimana pun menyambungnya, maka tidak akan pernah kembali pada asalnya. Akan ada sisa yang tergores. Luka yang akan selalu diingat. Dan hanya penyesalan yang selalu teringat. Sesal.

Ada tips dari Nabi Muhammad saw. "Jika kalian marah, diamlah." (HR. Ahmad). Untuk diam memang terkadang sulit sekali, apalagi si dia terus ngoceh, kepala dan hati sudah membara. Memaksa diri untuk diam sudah tidak mungkin,"Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad).

Diam sejenak. Air itu akan terlihat bening. Marah sejenak, api itu kan menghanguskan.

Sabtu, 26 Februari 2022

Cukuplah Allah. Cukuplah Qanaah. Cukuplah Kematian.

Cukuplah !!!

Halimi Zuhdy

"Barang siapa yang ingin hidup tenang, maka cukuplah Allah baginya".

"Barang siapa yang ingin seorang teman, maka cukuplah Al-Qur'an sebagai teman"

"Barang siapa yang ingin kaya, maka qanaah cukup baginya"

"Siapa yang menginginkan peringatan/penceramah,  cukuplah kematian sebagai pengingat"

"Apabila belum cukup semua itu (ini dan itu), maka cukuplah neraka baginya".  (Dr. Umar Abdul Kafi)
Ada seseorang yang merasa kesepian. Tidak bisa berkawan dengan siapa pun. Dan serasa sulit mencari teman yang asyik untuk diajak bicara. Atau, punya teman tetapi urakan, tak bertambah iman dan juga amal. Jauh dari kebaikan, bahkan semakin jauh dari kebenaran. Brosing sana, brosing sini untuk mendapatkan  teman akrap. Mungkin ia lupa, bahwa ada Al-Qur'an sebagai teman yang paling bisa diajak tersenyum, duduk berlama-lama, diajak berbicara dan berdialog, tidak hanya itu ia selalu memberikan pencerahan. Ia sebaik-baik teman berbicara. 

Ada yang tidak pernah selesai dengan dirinya, walau semuanya ia sudah rengkuh. Mobil banyak. Villa di mana-mana. Uang di berbagai Bank tersimpan rapi. Proyek besar setiap hari ia dapatkan. Pokoknya, ia adalah orang kaya. Jabatan dan kehormatan bisa ia beli. Tetapi, ia tak perna merasa cukup dan mungkin tidak pernah puas, mengapa? Karena ia tamak. Di sinilah kalimat di atas penting untuk disimak. Bahwa "Barang siapa yang ingin kaya, maka qanaah cukup baginya". Bila sifat Qanaah sudah direngkuh dalam hidupnya, maka ia menjadi orang terkaya dimuka bumi.

Ribuan orang mati setiap hari. Sirene mobil ambulan yang mengetuk telinga dan hati setiap pagi dan sore. Orang-orang terdekat yang dulunya pernah satu rumah, kini rumahnya sudah pindah ke liang lahat. Semuanya adalah pengingat, bahwa tiada yang kekal dan abadi di muka bumi. Semuanya akan pergi. Kita pun demikian. Akan mengucapkan goodbye dunia. Tetapi, walau di depan mata menyaksikan itu semua, kematian, tetapi terkadang tak pernah tersentuh bahkan ia dianggap biasa, dan lupa bahwa juga akan menyusul ke liang lahat. 

Kalimat-kalimat lembut di atas walau berakhir dengan keras "neraka", tetaplah indah. Karena sifat manusia yang memang selalu butuh untuk diingatkan, tidak cukup sekali dua kali, bahkan ribuan kali, tetaplah ia lupa dan lupa. Butuh kesabaran. Butuh saling tawasau bil haqqi wa tawashaubi shabri. Yang berakhir dengan sabar dan sabar.

****
Fasilitator atau moderator yang tampak di vedio ini sangat tidak asing, ia sering tampil asyik bersama para penyaji di TV Sharjah (الشارقة). Namanya Muhammad Khalid. Saya sering melihatnya di TV bersama Dr. Fadhil shaleh As-Samrai dalam kajian Lamasat Bayaniah. Dan yang ada di vedio ini adalah penceramah kenamaan, yaitu Dr. Umar Abdul Khafi. Berikut petikan mau'idhah Dr. Umar bersama M. Khalid.

Minggu, 27 Juni 2021

Bayangkan!! Ketika Anakmu Sudah Besar

Halimi Zuhdy

Ketika anakmu sudah besar!
Suara-suara teriakan, tangisan, tengkar tak lagi terdengar di rumahmu. Sepi, senyap, hening dan lengang. Engkau akan merasa tenang,  tapi tidak tenang senang dalam riuh piuh. Maka, nikmatilah tangisan, teriakan, dan tengkar itu, anak-anak itu pasti berteriak dan bertengkar.....
Ketika anakmu sudah besar!
Coretan-coretan di dinding, gambar-gambar tak berbentuk, warna-warni di lantai,  robekan kertas yang berantakan, takkan lagi kau temukan. Apakah sekarang kau senang? Saya yakin, kau masih kangen dengan coretan-coretan dan celoteh itu terulang lagi.

Ketika anakmu sudah besar!
Ketika kau lagi tiduran, tidak ada lagi yang menginjakmu. Ketika kau shalat, tidak ada lagi yang gendong di atas punggungmu. Ketika kau membaca atau menulis, tidak ada yang merebut buku dan pensilmu. Ketika kau tidur, tidak ada lagi yang membangunkanmu. Apakah hari ini kau lebih asyik dengan duniamu? Atau kau ingin masa itu terus ada dalam hidupmu. Saya yakin, kau kangen dengan itu! 

Ketika anakmu sudah besar!
Tidak ada lagi riuh di kamar mandi, tidak ada lagi yang berebutan masuk menggedor pintu. Tidak ada lagi yang menyiram air dan membasahi rumahmu. Tidak ada lagi yang berciprat lantai indahmu. Tidakkah kau merindukan itu? 

Ketika anakmu sudah besar!
Kau sudah jarang ke alun-alun, ke tempat wisata, ke tempat-tempat bermain, kau sudah jarang berenang bersama di pantai, kolam, sungai. Kini, kau lebih khusyuk dengan dirimu, apakah kau lebih indah? 

Ketika anakmu sudah besar!
Kamu akan bermain sendiri, tidak ada lagi yang menarik tangan tuk bermain, berlari, bahkan kini kau hanya asyik dengan anak-anak orang di televisi.

Masih ingatkah ketika anakmu menangis, teriak-teriak, tertawa tanpa sebab, kadang kau membentaknya dan mencubitnya?!

Kini, mereka sudah jarang tampak di rumah. Sudah tak ada lagi ada tangisan, teriakan, bahkan riuh tawa mulai sepi. Mereka sudah punya teman sendiri, ngombrol dengan teman dekatnya, bahkan mwreka sudah jarang pulang. Kini, di rumah sudah tak lagi ada riuh. Teriakan tak lagi terdengar, mereka sudah punya alam sendiri di luar sana. Kini, kau berdua, atau hanya sendiri.

Ada nasehat menarik dari Dr. Muhammad bin Umar Bazmul;
"Aku membayangkan semua yang pernah terjadi pada anak-anakku dan diriku. Air mataku mengalir deras, maka dengarkan semua keluhan anakmu. Yang terjadi hari ini, akan menjadi kenangan esok, ajaklah mereka bermain..temani mereka selalu sebelum mereka hilang dari kalian... 

Sekarang..anak-anakmu cerewet bertanya padamu, jawablah!! Ketika mereka sudah besar kadang kau tak lagi menemukan satu patah katapun dari mereka. Duduklah di samping mereka! Ajaklah berjalan-jalan bersama mereka. Esok, mereka kadang enggan diajak duduk dan berjalan bersama. Sekarang hati mereka sepenuhnya untukmu. Esok hati mereka sudah bercabang...maka nikmatilah sekarang!!mumpung anak-anakmu masih kecil... Nikmatilah tangisannya, kegaduhannya, teriakannya, nakalnya. Jangan mudah marah!!Semuanya tidak akan pernah kembali lagi".

Nikmatilah mereka dengan sepenuh. Cintailah mereka! Ajaklah mereka bermain-main. Biarkan mereka melukis dinding itu, suatu saat kau akan merasakan betapa mereka ingin mengabadikan tulisan itu, agar kau tahu, mereka juga ingin berkarya. Mereka belum bisa menulis status sepertimu, maka mereka menulis status di tembok-tembok kadang mobilmu juga menjadi kanvas untuk diukir anak-anakmu.

Malang

Selasa, 16 Juni 2020

Rahmat Allah Selalu Memeluk Mesra

Halimi Zuhdy

Miliar debur ombak menghantam perahu.  Nelayan asyik memilah gelombang, melempar sauh, ikan pun terenyuh. Sungguh, kalau tidak karena rahmatNya, gelombang pun kan menghempaskannya.

Allah itu satu, rahmatNya lipatan rindu.


********

Ada sebuah cerita di masa lalu, seorang raja memvonis mati seorang tukang kayu (najjar). 

Kabar vonis mati itu terdengar nyata oleh si tukang kayu. Menghentak di telinganya.  Malamnya, ia tak mampu mengatupkan kedua matanya. Serasa ranjangnya dipenuhi jejarum yang menusuk, dan juga serupa letupan api yang membakarnya. Ia seperti pasrah, tapi resah. Ia ingin lari, tapi kemana?. Seluruh pintu sudah tertutup rapat, tak ada celah untuk mengangkat kakinya.

Istrinya berkata;
"Sayang..! Tukang kayu yang saya cintai. Tidurlah seperti malam-malam yang telah kau lewati dengan indah. Allah itu satu, pintu rahmatNya, tak berpintu".

Kata-kata itu mengalun lembut. Merasuk mesra ke hatinya. Kedua matanya pun mulai terkatup. Wajahnya berbinar-binar. Rupanya, ia audah tertidur pulas. Hatinya benar-benar tenang.

Tidak lama kemudian. Pintu kamarnya berbunyi keras. Terdengar ketukan laki-laki seperti tentara menyeruak hentak, memekak telinga. Wajah si Tukang Kayu memutih beku, rasa takut  menyelimutinya. Ia menoleh pada kekasih yang dirindunya. Istrinya yang lagi terlelap di sampingnya. Tapi pandangannya sayu, lemah, tak berdaya, seperti dosa-dosa yang mau meng-adzab, dan mencoba mengingat kembali perkataan istrinya tadi. "Allah itu Satu, pintu rahmatNya tak berpintu, selalu terbuka pada sesiapa yang mengetuk pintu, atau pun tidak".

Ketukan pintu di depan kamarnya semakin mengeras. Ia langkahkah kedua kakinya walau serasa merekat di lantai. Ia buka pintu dengan kedua tangan yang begetar hebat, tetiba di depannya kedua tentara tegap berparang. Ia pun menjulurkan kedua tangannya yang penuh peluh dingin agar secepatnya diikat oleh tentara Raja.

Anehnya. Mulut tentara itu, seperti menahan nafas panjang. Dan keluar kata-kata yang membuat Tukang Kayu terperangah: "Sungguh, Raja telah wafat, aku ingin kau buatkan keranda untuknya".

Wajah Si Tukang Kayu memecah cahaya. Menoleh pada istrinya dengan seribu senyum di Bank mulutnya. Sepertinya si tukang kayu ingin meminta maaf pada istrinya karena memudarkan pesannya.

Tiba-tiba istrinya berucap dengan senyum mengembang,
"Wahai Tukang Kayu,  tidurlah malam ini! seperti malam-malam nyenyak yang kau lewati,  Allah itu Satu, pintu rahmaNya terbuka selalu".

Vonis mati menjadi sirna. Si Tukang Kayu pun berlenggang dengan gembira,
"Sungguh Allah Satu, banyak punya pintu." katanya dengan senyumnya.

MasyaAllah. Keyakinan akan rahmatNya mencapaikan cita indah. Kadang gagal masuk pada satu pintu, tetapi Allah memberikan pintu-pintu yang lain untuk bisa masuk. Kadang pintu itu lebih indah dengan kamar-kamar firdausnya. 

Mengapa harus sedih ketika gagal dalam satu cita dan satu keinginan, bukankah Allah memiliki banyak pintu ( abwab mutafariqah wa katsirah). Maka, keyakinan akan rahmatNya yang tersebar dalam setiap ruang dan waktu, akan memberikan kebahagian dalam setiap detiknya.
Allah satu, tapi pintuNya berjibun rindu.

Selasa, 02 Juni 2020

Masa Bodoh

Halimi Zuhdy 

Abai, masa bodoh, acuh tak acuh dan cuek,  terkadang sikap yang paling indah. 

Dalam hidup, sikap masa bodoh terkadang paling asyik. Masa bodoh pada peristiwa yang terjadi, juga pada sikap dan perkataan seseorang pada kita. Karena tidak semuanya harus disikapi, ditanggapi, dilayani, apalagi dipikirkan. Ada saatnya membiasakan dan bersikap cerdas dalam memilih sesuatu agar tidak ikut terseret pada sesuatu yang tidak penting untuk dipikirkan. Dengan bersikap masa bodoh yang cerdas.

Allah menciptakan manusia dari air dan tanah liat. Sebagian mereka airnya lebih kuat 
dari tanahnya, maka menjadi sungai. Dan ada pula tanahnya lebih kuat dari airnya, maka menjadi batu. Ada yang lebut, ada keras kepala.

Maka, dalam kehidupan. Kita harus membuat lubang atau jurang kecil yang kita gunakan untuk membuang kesalahan-kesalahan teman, saudara, kerabat dan keluarga. Serta berusaha melupakan tempat mengubur kesalahan itu, sehingga tidak tumbuh lagi kekesalahan dan pertengkaran. Masa bodoh.

Melupakan kesalahan teman pada kita itu sangat indah, walau kadang menyakitkan. Masa bodoh adalah jalan yang paling cantik. Pergi tanpa pamit tidak indah, tapi pergi dan menghilang karena takut sakit, jauh lebih indah. Ada saatnya diam, ada saatnya heboh. Diam disaat ia marah membuat bunga-bunga mekar dalam hati, dirindukan. 

Terkadang kita harus cuek pada omongan orang. Rasan-rasan orang pada kita, tidak harus kita teliti satu-persatu. Tidak harus diingat kata-perkata. Dan tidak usah bingung, karena takut nama kita hancur. Tidak usah mengklarifikasi semuanya tentang kita, biarkan mereka berbicara sesukanya, kalau kita tidak melakukannya apakah kita akan hancur?. 

مادمت تمشي مستقيماً لا تبالي بالعقول المائله
Selama engkau berada di jalan yang lurus, jangan pedulikan pikiran-pikiran yang miring

Percayalah bahwa mutiara yang ditemukan, karena kita tidak terlalu bersih mengasak pasir. Untuk mengambil emas di kolam yang keruh, cukup tenangkan anginnya, tidak harus dikuras habis. Dan percayalah pada Allah, bahwa Dialah Dzat yang merubah segalanya. Hari ini pasang, berikutnya surut. Detik ini sedih, detik berikutnya gembira. Kadang ia menjadi musuh, beberapa detik menjadi teman akrab. 

Maka, tidak harus semua dipikirkan, karena setiap pikiran memiliki tempatnya, cukuplah memikirkan bagaimana  kita selalu menjadi baik di hadapNya. Maka, yang lain, akan mengikuti kebaikan itu. Adakah yang kita percayai selainNya?, Bukankah dzikir disebutkan sebelum pikir?. MerinduNya, adalah penyelesaian yang indah, dari pada memikirkan sesuatu yang tidak patut dipikirkan. Masa bodoh kadang hal yang paling asyik dan indah.

قد يراك البعض نقيا 
Terkadang, ada orang yang memandangmu baik
وقد يراك آخرون سيئاً
Ada orang yang melihatmu jelek

وقد يراك آخرون خلوقا 
Ada pula  yang menganggap engkau berbudi luhur
ولكن أنت أدرى بنفسك 
Tetapi, engkaulah yang lebih tahu akan dirimu

فالسّر الوحيد الذي لا يعلمه غيرك 
هو علاقتك مع ربّك 
فلا يغرّك المادحون 
ولا يضرك القادحون 

Yang menjadi rahasia hanya satu, sedangkan orang lain tidak mengetahui, yaitu hubunganmu dengan Tuhanmu. 
Maka, kamu tidak akan terpana dengan pujian orang dan tidak merana dengan caciannya

لقوله تعالى :
"بَلِ الاِنْسَانُ عَلى نَفْسِهِ بَصِيرَة"
Firman Allah, "Bahkan manusia menjadi saksi  akan dirinya sendiri".

Jumat, 04 Oktober 2019

M o m e n t

Halimi Zuhdy

Setiap detik itu adalah moment terpenting hidup kita. Tapi mengapa sering diabaikan? Bahkan, tak peduli dengan apa yang terjadi.

Kerikil yang menyapa. Debu yang menerpa. Daun yang melambai-lambai. Dan, air yang terpercik ke baju kita, bukanlah sebuah kebetulan. Ia sudah termaktub rapi di Lauh Mahfud-Nya. Malaikat bekerja sedemikian rupa.

Namun, kadang kita lupa, bahwa moment apapun adalah paling indah dalam kehidupan. Mengapakah kita lupa mengabadikannya. Walau tidak ada (yang) abadi kecuali keabadian-Nya.

Ketika kita mengambil gambar (menfoto), mengapa kita memilihnya? Bukankah setiap moment itu istimewa. Benar. Tapi ada moment-moment (yang) sangat istimewa. Sebagaimana Allah memberikan waktu-waktu istimewa. Pada setiap harinya, setiap bulannya, dan setiap tahunnya. Dalam satu minggu, hari Senin, Kamis dan Jumat. Dalam satu bulan, ada Ayyamul Bedh, 13,14 dan 15. Dalam satu tahun, bulan al-Muharram, Ramadlan, dan lain sebagainya.

Untuk apa? Agar kita terus menunggu waktu istimewa dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu. Pada waktu yang istimewa itulah kita perkuat rindu dan cinta. Agar ikatan semakin erat. Bila ada kedekatan, maka rahmat akan terus mengalir pada kita.

Mengabadikan moment terindah dalam setiap detiknya. Selalu membekaskan nama-Nya di setiap waktu dan tempat, fadzkuruni azkurkum. Dzikir itu akan direkam. Diputar dalam setiap roda kehidupan. Tentunya nanti akan kita saksikan dalam layar lebar Mahsyar. Di mana tiap manusia menunggu pemutaran film kehidupan mereka. []

Jum'ah Mubarokah...

Ket: Ketika Abah Zawawi melukis wajah suram ini,wkwkwk.
Gus Aziz Progresif terima kasih.

Kamis, 27 Juni 2019

TETAPLAH TERSENYUM


@halimizuhdy3011

"Anak kecil yang dilemparkan ke atas, wajahnya tetap tersenyum, karena ia sungguh percaya, tangan Sang Ayah akan menangkapnya"

Mengapa anak kecil yang dilemparkan ke atas tersenyum? Karena ia yakin, percaya, dan memastikan dirinya, bahwa tangan ayah akan menangkapnya.

Bagaimana pula dengan Bilal bin Rabah, yang tetap tabah, walau disiksa sedemikian rupa oleh Umayyah? kerena ia percaya pada Tangan Rahmat-Nya.

Bagaimana kesabaran sang Imam Ahmad ketika dicambuk, dirantai, dipenjara, bahkan ditinggalkan muridnya atas intimidasi penguasa? Karena ia percaya, Allah segala-Nya.

Bagaimana Ammar bin Yasir beserta kuluarganya masih bisa tersenyum, walau setiap hari digiring ke padang pasir, dibakarkan pada matahari, disiksa, disulut dengan besi panas, ditenggelamkan, dan siksaan pedih lainnya? Karena ia percaya, bahwa Allahlah Sang Pelindung dan Sang Penolong. Keimanannya, menghancurkan ketakutannya.

Orang beriman itu kan selalu tersenyum bahagia, apapun yang telah terjadi padanya, karena Ia percaya bahwa semuanya atas takdirNya, dan ia selalu merasa aman dengan imannya, dan selalu bahagia dengan yang menimpanya, "Al iman al amnu". Adakah yang harus ditakutkan dengan harta, tahta, keluarga, dan apa yang kita miliki? Bila semuanya adalah milikNya. Dan bukankah semuanya atas     kendaliNya, atas kehendakNya, dan Dialah Pemegang Palu Hakim yang sesungguhnya. Hasbiallah la haula walaquwata illa billah.

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS:6:82).

Ya Allah, berikan kami keluarga, sahabat, sejawat, kerabat yang selalu mendukung untuk beriman kepadaMu.

Menuju Bandung, 26 Juni 2019

Minggu, 23 Juni 2019

DENGKI, HASAD, IRI; KEHANCURAN DIRI

"Dosa yang pertama kali muncul di kolong langit adalah dengki, dan dengki awal kemaksiatan yang terjadi di muka bumi" Al-jahid

DENGKI, KEHANCURAN DIRI

Halimi Zuhdy

Seandainya aku bisa bertanya tentang "kedengkian", maka kutanyakan kepada gunung, daratan, lautan, sungai, pepohonan, dan rerumputan.
“Wahai Darat mengapa kamu diciptakan menjadi Darat, apakah kamu rela menjadi diinjak-injak manusia yang sok itu?” kucoba bertanya pada Daratan.

Tiba-tiba Daratan berbisik, dengan wajah sedih,  "Kenapa aku diciptakan menjadi daratan ya, yang hanya diinjak-injak manusia dan hewan,  akar-akar pohon memenjarakanku. Mengapa aku tidak menjadi gunung saja, yang tinggi menjulang, menjadi paku bumi, dan bisa melihat daratan yang luas". Keluhan Daratan belum selesai.

Tiba-tiba Gunung bertanya tentang dirinya, "Mengapa, aku dijadikan gunung yang hanya menyimpan bara, memuntahkan lahar, mematung tinggi, aku tak dapat berkhidmat pada manusia, orang-orang sholeh pun jarang menaikiku, aku hanya seperti patung dikejahuan, bahkan akhir-akhir ini aku hanya digunduli, dan akupun longsor dan membuat banyak orang meninggal gara-gara aku".

Tak terasa rerumputan berisik di bawah kaki dan mengajakku mendengarkan keluhannya, "Mengapa aku dijadikan rumput, yang tak berharga, diinjak-injak, bahkan keberadaanku pun tak dilirik, beda dengan bunga-bunga, pepohonan yang menjulang tinggi, aku hanya korban manusia dan hewan saja, kadang mengering dan dibakar".

Belum juga rerumputan selesai berkeluh kesah, Lautan dengan debur ombaknya berteriak, "Mengapa nasibku yang dijadikan lautan, kenapa aku tidak dijadikan Gunung, Daratan, dan Pepohonan yang indah atau sunga-sungai yang mengalir seperti dalam al-Qur'an, atau aku hanya sebagai pemuas manusia dengan ikan-ikan yang setiap hari dirampok?, dan dibuat makan para perampok, apakah aku hanya untuk menjadi kenangan untuk menelan orang, menerjang manusia dengan sunamiku, aku menjadi tidak pernah damai dengan gelombangku"

“Rerintihan” itu hanya khayalaku, aku tidak benar-benar mendengarnya, atau mungkin karena aku bukan Nabi Sulaiman, yang dapat berbicara dan mendengar pembicaraan hewan dan tumbuhan.

Saya yakin, dan benar-benar yakin, mereka tidak akan mengeluh menjadi lautan, gunung, daratan, pepohonan, bahkan mereka akan menikmati keberadaan mereka, karena mereka diciptakan untuk bertasbih, seandainya mereka menjadi gunung semua, apa jadinya dunia ini, atau seandainya dunia ini lelautan semuanya, bagaimana keberadaan manusia dan lainnya, atau dunia ini hanya berisi rerimbunan pepohonan, atau rerumputan saja, mungkin taka da keindahan di dunia ini, atau semuanya warna adalah hitam, mungkin dunia kelam, atau putih maka dunia akan penuh uban.

Seandainya semuanya sama, apa indahnya dunia ini, maka hanya“Masya Allah” Allah luar biasa. Maka, kenapa aku harus dengki dan hasad kepada orang-orang yang berbeda dengan diriku, biarlah mereka jadi mereka dan aku jadi diriku sendiri, dan biarkan mereka bergembira dengan kegembiraan mereka, aku juga memiliki kegembiraan, dan Allah memiliki rencana sendiri dalam penciptaannya. Maka, kehidupan ini harus disyukuri, tersenyum dengan keberadaan diri, memahami tujuan diciptakan diri Mengabdi pada Tuhan yang Abadi, Tak usah dengki, apalagi iri, semuanya harus dinikmati.

Jangan hasad ya!  Ia sumber segala kekacauan dunia.

Minggu, 21 April 2019

Kiat Sukses Ala Nabi Musa AS

Halimi Zuhdy

Tadi malam, ketika mengisi pembelakalan wawasan keislaman, bagi santri akhir kelas XII Ma'had Al-Qolam MAN 2 Kota Malang, dengan tema "Kiat Sukses Berorganisasi dan Akademik", saya teringat kisah-kisah Salafus Shaleh, yang namanya masih selalu dikenang dibernagai lembaga pendidikan dan lainnya, mereka tidak hanya sukses dalam karir akademiknya, tapi juga dalam berorganiasi (jam'iyah), walau berbeda bentuknya dengan sekarang. 

Dan juga saya teringat kisah Nabi Musa AS, ketika sampai di Daerah Madyan, setelah dikejar-kejar tentara Fir'aun, ia tidak membawa bekal apapun, ia tidak memiliki sepetak tanah pun, tempat tinggal juga tidak ada, tidak ada pekerjaan untuk menghidupi kesehariannya, tidak pula memiliki pendamping hidup (istri). 

Ia hanya berteduh di tempat-tempat yang bisa menghalanginya dari terik mentari. Dengan kerendahan hatinya, dan keimanan yang membara, ia menengadahkan tangannya ke langit dan berdoa:
"رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ"
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qoshos:24).

Rabu, 24 Oktober 2018

KECEWA


Halimi Zuhdy

"Ia selalu saya dukung untuk maju, bahkan jam berapa pun ia butuh saya, saya selalu ada untuknya, tapi sekarang seperti kacang lupa kulitnya".

"Yang menjadikan ia seperti itu, saya, mengapa dia sekarang melupakan semuanya".

"Dulu, itu saya yang bangun, sampai megah, sekarang semuanya pada ngaku-ngaku, dan telunjuknya panjang-panjang".

"Aku ini kurang apa, semuanya sudah saya lakukan untuknya, tapi mengapa dia sekarang tega berbuat itu padaku".

"Aku sudah berkorban harta, fisik, dan psikis untuknya, dia sekarang sok, bahkan seperti melukis di atas air".

"Dia dulu saya anggap anak sendiri, bahkan melebihi siapapun, tapi setelah sukses, tak pernah lagi dia mengingatku".

"Dulu saya yang mengusahakan dia untuk dapat beasiswa dan sampai selesai studinya, tapi acara wisuda saya tidak diundang".

"Dulu yang mengangkat dia juga saya, tapi dasar anak tidak tahu diuntung, dia sudah berani mengecewakan saya".

"Dulu organisasi itu kecil, ketika saya pimpin, semuanya berubah luar biasa, dan kamu bisa lihat sendiri, tapi setelah itu, mereka tidak pernah ingat, siapa yang membesarkan".

Jumat, 12 Oktober 2018

RINDU


Halimi Zuhdy

Kerinduan itu menyakitkan, melupakannya kadang obatnya. Namun, bila tak ada rindu, hati terasa  kering kerontang, bagai mentari menjejal sahara, yang tak ada tetes embun menyapa.
Kerinduan itu menyakitkan, namun bila rasa rindu  tak datang,  sakit semakin mencekam. .

Rindu itu kan selalu datang bertandang, karena masih ada cinta mendekam. Ia tak kan pernah mengering dan tak kan pernah berhenti mengalir, selagi rasa bergerak tuk menemukan samudera kasih. Seperti air sungai yang terus bergerak, menghentak, menerobos tuk menemukan samuderanya. Rindu itu akan selalu ada, buat seseorang yang dicinta. .

Rindu, bagaimana Thalhah yang tidak mau melepas tubuh Nabi, dipeluknya erat, dan menciumi jenggot sang kekasihnya itu. Pertemuan dengannya, bagai tetes air di kerongkongan yang kering. .

Rindu bagai karang di lautan, lautpun tak mampu menghenpaskan. Bagai Shahabat Nabi yang bangga dengan giginya yang ompong, bahkan tidak ingin dipasang gigi lagi, karena gigi itulah yang menarik rantai yang membelit Nabi dalam perang Uhud, ia tak ingin giginya terpasang karena takut kerinduannya tercerai padanya. Sungguh, kerinduan itu mempesona. .

Belum lagi Ukasyah yang membuat tangis seisi masjid berderai. Meminta Rasul membuka bajunya, hanya agar dapat menyentuh tubuh surganya. Bahkan Umar bin Khattab pernah dengan lantang berkata, "Tiada seorangpun yang kudengar dan ia mengatakan Nabi wafat, melainkan akan kupancung dengan pedangku ini! " ini sunggu rindu di atas rindu, pedih kehilangan sang kekasih yang paling kasih. .

Bila ia lupa untuk rindu, sepertinya sudah mulai tergerus cinta itu, semakin rindu, cinta itu semakin mengakar kuat. Maka tidaklah pernah ada, cinta tanpa rindu, karena dimana ada asap, di situlah api menguap.

Allahummaj'alna musytaqina laka wa lihabibika Ya Rabb.

Jum'ah Mubarokah

Malang, 12/10/2018

#madzhabrindu #fatwacinta #fatwa_cinta

IG: @halimizuhdy3011

Sabtu, 14 Juli 2018

ISLAM NUSANTARA YES, ISLAM TANPA NUSANTARA YES, TAK BER-ISLAM NO

(Indahnya Perbedaan)
Halimi Zuhdy 

"Islam itu selalu mengajarkan persatuan dan kekokohan, toh kalau ada perbedaan di dalamnya, itu adalah hal biasa, karena Perbedaan adalah Rahmah, seperti yang kini lagi marak, perbedaan Islam Nusantara dan Islam tanpa Nusantara, keduanya biasa saja menurut saya, apalagi keduanya punya argumentasi sendiri-sendiri, dengan ijtihad sendiri". Saya sampaikan dalam suatu forum, dengan tema "Bagaimana menghargai perbedaan". 

"Ustadz tidak tegas, dan tidak punya pendirian". Tegas santri pada saya.
"Apanya, yang tidak tegas?". Saya menyanggahnya. 

"Kalau ustadz punya pendirian, ya kalau percaya, akui saja Islam Nusantara, kalau tidak sepakat, tolak dong ustadz". Ia mencoba memahamkan. 

"Apakah tegas itu harus memilih "Ia" atau "Tidak", bukankan memilih di antara keduanya juga sebuah ketegasan dalam memilih. Bukankah setiap kepala punya ide, setiap tubuh punya sikap, dan setiap orang punya pilihan sendiri". Papar saya, Sedikit menekankan pada bahwa pilihan itu banyak, tidak hanya dua. 

Saya melanjutkan, "Bukankah Islam juga mengajarkan kepada kita, bagaimana bersikap wasathan, tengah-tengah, dan Islam Nusantara atau Islam tanpa Nusantara, bukanlah wajib atau mubah, bukanlah haram dan sunnah, ia hanya sebuah ijtihadi. Silahkan yang mau mengikuti, dengan alasannya yang kuat, dan juga yang menolak dengan alasan pula. Buktinya, ditubuh NU sendiri juga ada perbedaan, apalagi yang di luar NU, hal itu biasa, dan NU biasa dalam sebuah perbedaan. Maka lihatlah, bagaimana bahsul masail yang mengajarkan perbedaan itu menentukan sebuah hukum, tapi pada akhirnya juga ada sikap dan konsekwensi dari hukum itu". Tegas saya pada santri. 

"Tapi ustadz, kalau mengakui Islam Nusantara,  nanti dianggap pengikut leberal dan anti Arab,  dan kalau tidak mengakuinya dianggap keluar dari NU, NU keras, dianggap tidak paham NU, bahkan dianggap aliran lain, dan lainnya sebagainya? " ia mencoba mencari celah. 

"Tidaklah, Islam Nusantara itu tidak sampai pada pemahaman aqidah dan aliran tertentu, gara-gara percaya sama Islam Nusantara kemudian shalatnya berubah, tuhannya berganti, hajinya di Nusantara, itu terlalu sempit. Atau sebaliknya, bagi yang menolak Islam Nusantara, dianggap beraliran keras atau lainnya, hal itu juga tidak, buktinya ada kyai yang menolak Islam Nusantara juga bukan aliran keras dan saya yakit tetap di NU". Saya mencoba meluruskan anggapan itu. 

"Mari, sesama muslim Nusantara dan di luar Nusantara, yang paling penting sekarang adalah satukan tekat untuk menuju keberagamaan yang baik,  demi  kebangkitan umat, baik dalam ekonomi, pendidikan, kesejateraan, keamanan, dan lainnya, tidak sibuk perang di medos hanya gara-gara istilah, bukannya saya menyepelkan istilah, tapi bagaimana berargumentasi yang akademis bukan emosional, dan sampai-sampai keluar istilah hewan yang tidak pantas diucapkan, kecebong kampret dan istilah-istilah yang tidak dewasa". Sambil  tersenyum dengan keringat yang mulai mengurai.
"Kalau kau ingin mempertajam pisau, maka asahlah" saya melanjutkan materi IKHTILAF ITU CANTIK. 

Pisau, jika lama tidak digunakan akan karat, bahkan akan rusak dan tidak akan dapat digunakan lagi. Tapi, jika ia digesek (diasah) dengan batu, atau benda keras lainnya, akan tajam.
Demikian pula, jika umat ingin tambah dewasa, maka gesekan kadang memang harus terjadi, maka ikhtilaf itu sebuah keniscayaan. Sekali lagi "ikhtilaf", bukan "tafarruq".

Persatuan itu penting, tapi tidak harus menolak perbedaan, bukankah indahnya siang, karena kita melewati malam, dan indahnya malam, karena siang pergi dengan senyum manisnya. 

Para Sahabat, Tabiin, dan setelahnya, juga tidak lepas dari perbedaan. Seperti, para sahabat yang berbeda penentuan warisan untuk nenek (al-jad) pada masa Abu Bakar, Umar Al Faruq dengan Zaid bin Stabit tentang kata _Al-Quru'_, pada masa Ustman bin Affan berbeda dalam hal _siyayah_, Ali bin Abi Thalib juga pernah berbeda dengan Muawiyah, dan Istri Nabi, Aisyah. 

Belum lagi ikhtilaf para aimmah, kemudian melahirkan madzhab-madzhab. Itulah sebuah keindahan, yang membangkitkan gairah akademik tinggi, saling mengasah kecerdasan, pemikiran dan melahirkan berbagai pendapat, yang tentunya berangkat dari satu pohon, Al-Quran dan Al Hadis, yang membuahkan ijma', dan pendapat para alim. 

Ikhtilaf, bukanlah berangkan dari ego, nafsu, kesombongan, kepentingan pribadi atau kelompok, yang melahirkan "tafarruq", tapi "ikhtilaf" berangkat dari sebuah kemurnian "ijtihad". Maka,  di sanalah indahnya, tidak saling melaknat, tidak saling mengkafirkan, tidak saling bersitegang, apalagi saling bunuh. Kadang miris sekali, melihat antraksi Medsos hari ini,  bukannya hanya bully, tapi saling mengkafirkan, melaknat, dan fitnah yang membakar, bukan lagi _iktilaf ummah rahmat_ yang selalu berdasar pada dalil, tetapi _tafarruq_ yang tercela.

Mudah-mudahan cepat selesai, dan duduk tawadhu', dimulai dari para ulama dan didukung para pemimpin negeri. 

Suatu kali
"اَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ  ، كَانَ يَقُولُ : مَا سَرَّنِي لَوْ  أَنَّ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَخْتَلِفُوا ، لأَنَّهُمْ لَوْ لَمْ يَخْتَلِفُوا لَمْ تَكُنْ رُخْصَةٌ
“Tidaklah menggembirakanku jika saja para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berbeda pendapat,” kata Umar bin Abdul Aziz seperti diabadikan dalam Al Inabah Al Kubra dan Faidhul Qadir, “karena jika mereka tidak berbeda pendapat maka tidak akan ada rukhshah atau keringanan.”

"Agar lampu menyala, sambungkan dua kutub kabel yang berbeda" mari kita nyalakan lampu Islam, walau selalu ikhtilaf, jadikan ia sebatas berbeda pendapat, bukan perceraian ukhuwah islamiyah. 

Permisalan di bawah ini, penulis ibaratkan, karena iktilah adalah kecantikan;
"Jika kau ingin membuat almari, maka gergajilah kayunya"
"Kayu tambah indah, jika diamplas"

Seharusnya ikhtilaf melahirkan persatuan, melahirkan kekuatan ruh, melahirkan keindahan, Islam. Tidak melahirkan arognasi kedirian dan ego sekterian.
Salam ukhuwah islamiyah

khadim PP. Darun Nun
www.darunnun.com
Wakil Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Malang
www.halimizuhdy.com

Sabtu, 09 September 2017

DIMANAKAH KEDUDUKAN KITA, DI SISI ALLAH

Halimi Zuhdy

Kadang kita dirundung sedih, kadang bahagia datang berjuntai tanpa silih.

Allah, selalu ingin berada dekat dengan hambaNya tuk kasih, tapi banyak yang lari larena takut sedih.

Keberadaan kita dalam detik, sesungguhnya kita berada dalam maqamNya.

Kata Hakim, "Kalau kau ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah dimana keberadaanmu"

Cinta selalu dalam posisi yang dicintai, walau jauh selalu ingin  menghampiri, apalagi dekat, ia sudah menjadi diri.

Al-Hakim berkata,  "Kedudukanmu, berada dimana keberadaanmu"

"Jika kau selalu disibukkan dengan dzikir, maka Allah ingin mengingatmu"

"Jika kau selalu disibukkan dgn al-Qur'an, Allah ingin mengajak berbicara padamu"

"Jika kau selalu disibukkan dgn ketaatan, ketahuilah, Allah dekat padamu"

"Jika kau disibukkan dari urusan dunia, Allah lagi menjauh darimu"

"Jika kau selalu menyibukkan diri dari manusia, sungguh Allah merendahkanmu"

"Jika kau disibukkan dengan doa, ketahuilah Allah akan memberimu".

Ketika Hasan Basri ditanya, _"Dimanakah keberadaan saya di hadapan Allah?",_  Al Basri menjawab, _"Sebagaimana keberadaan Allah dalam dirimu"_

posisi, kedudukan,  maqam, kondisi, situasi,  kapasitas, kelas, pangkat, status; tak sulit dicari, *bagaimana kita mencari dalam diri,  kebersamaanNya, agar kita bersamaNya.*

Ya Allah jika dzikir terlupa, ingatkanlah. Jika al-Qur'an tak terbaca, ajaklah tuk tilawah. Jika, dunia menjadi hamba, maka budakkanlah hamba untukMu.

Halimi Zuhdy
www.halimizuhdy.blogspot.com

#FatwaCinta bergabung yuk di*:https://www.instagram.com/p/BUCaeF3A3i9/

Jumat, 05 Mei 2017

Fatwa Cinta 71. (Inikah Cinta itu? Bergelombanglah!)



Halimi Zuhdy



Cinta itu selalu menciptakan ketidakrasionalan, ia selalu ada walau tak nyata, seperti angin berdesir mensemilirkan tubuh, seperti gigil walau tak ada salju, kadang tampak kabut berselimut walau tak bisa terekam diri. Cinta tak berwujud, tapi benar-benar wujud. Terasa sentuhannya, walau taka da tangan yang bersentuh di tubuh. 
  
Apakah ini cinta, mata mengalirkan darah rindu, tubuh yang tak kuasa melihat sang kekasih tak kunjung tiba. Suatu hari, Tsauban bin Bujdad menemui Rasulullah saw sang mahbub dengan wajah yang tampak muram, tak seperti biasa, sedih menyelimutinya, rona yang terserit begitu resah.