Facebook Halimi Zuhdy
Senin, 16 Februari 2026
Menjadi “Sebaik-Baik”, Standar Hidup Seorang Muslim
Jumat, 27 Juni 2025
Adab Komunikasi
Rabu, 21 Mei 2025
Ketika Janda Bertanya
Senin, 24 Februari 2025
Mengukur Kebahagiaan
Kamis, 16 Januari 2025
Gelora Imam Jurjani pada Putranya, untuk Tholabul Ma'ali
Selasa, 29 Maret 2022
Coba Diam Sejenak! (Belajar dari kasus Mas Will Smith)
Sabtu, 26 Februari 2022
Cukuplah Allah. Cukuplah Qanaah. Cukuplah Kematian.
Minggu, 27 Juni 2021
Bayangkan!! Ketika Anakmu Sudah Besar
Selasa, 16 Juni 2020
Rahmat Allah Selalu Memeluk Mesra
Miliar debur ombak menghantam perahu. Nelayan asyik memilah gelombang, melempar sauh, ikan pun terenyuh. Sungguh, kalau tidak karena rahmatNya, gelombang pun kan menghempaskannya.
Allah itu satu, rahmatNya lipatan rindu.
********
Ada sebuah cerita di masa lalu, seorang raja memvonis mati seorang tukang kayu (najjar).
Kabar vonis mati itu terdengar nyata oleh si tukang kayu. Menghentak di telinganya. Malamnya, ia tak mampu mengatupkan kedua matanya. Serasa ranjangnya dipenuhi jejarum yang menusuk, dan juga serupa letupan api yang membakarnya. Ia seperti pasrah, tapi resah. Ia ingin lari, tapi kemana?. Seluruh pintu sudah tertutup rapat, tak ada celah untuk mengangkat kakinya.
Istrinya berkata;
"Sayang..! Tukang kayu yang saya cintai. Tidurlah seperti malam-malam yang telah kau lewati dengan indah. Allah itu satu, pintu rahmatNya, tak berpintu".
Kata-kata itu mengalun lembut. Merasuk mesra ke hatinya. Kedua matanya pun mulai terkatup. Wajahnya berbinar-binar. Rupanya, ia audah tertidur pulas. Hatinya benar-benar tenang.
Tidak lama kemudian. Pintu kamarnya berbunyi keras. Terdengar ketukan laki-laki seperti tentara menyeruak hentak, memekak telinga. Wajah si Tukang Kayu memutih beku, rasa takut menyelimutinya. Ia menoleh pada kekasih yang dirindunya. Istrinya yang lagi terlelap di sampingnya. Tapi pandangannya sayu, lemah, tak berdaya, seperti dosa-dosa yang mau meng-adzab, dan mencoba mengingat kembali perkataan istrinya tadi. "Allah itu Satu, pintu rahmatNya tak berpintu, selalu terbuka pada sesiapa yang mengetuk pintu, atau pun tidak".
Ketukan pintu di depan kamarnya semakin mengeras. Ia langkahkah kedua kakinya walau serasa merekat di lantai. Ia buka pintu dengan kedua tangan yang begetar hebat, tetiba di depannya kedua tentara tegap berparang. Ia pun menjulurkan kedua tangannya yang penuh peluh dingin agar secepatnya diikat oleh tentara Raja.
Anehnya. Mulut tentara itu, seperti menahan nafas panjang. Dan keluar kata-kata yang membuat Tukang Kayu terperangah: "Sungguh, Raja telah wafat, aku ingin kau buatkan keranda untuknya".
Wajah Si Tukang Kayu memecah cahaya. Menoleh pada istrinya dengan seribu senyum di Bank mulutnya. Sepertinya si tukang kayu ingin meminta maaf pada istrinya karena memudarkan pesannya.
Tiba-tiba istrinya berucap dengan senyum mengembang,
"Wahai Tukang Kayu, tidurlah malam ini! seperti malam-malam nyenyak yang kau lewati, Allah itu Satu, pintu rahmaNya terbuka selalu".
Vonis mati menjadi sirna. Si Tukang Kayu pun berlenggang dengan gembira,
"Sungguh Allah Satu, banyak punya pintu." katanya dengan senyumnya.
MasyaAllah. Keyakinan akan rahmatNya mencapaikan cita indah. Kadang gagal masuk pada satu pintu, tetapi Allah memberikan pintu-pintu yang lain untuk bisa masuk. Kadang pintu itu lebih indah dengan kamar-kamar firdausnya.
Mengapa harus sedih ketika gagal dalam satu cita dan satu keinginan, bukankah Allah memiliki banyak pintu ( abwab mutafariqah wa katsirah). Maka, keyakinan akan rahmatNya yang tersebar dalam setiap ruang dan waktu, akan memberikan kebahagian dalam setiap detiknya.
Allah satu, tapi pintuNya berjibun rindu.
Selasa, 02 Juni 2020
Masa Bodoh
Jumat, 04 Oktober 2019
M o m e n t
Halimi Zuhdy
Setiap detik itu adalah moment terpenting hidup kita. Tapi mengapa sering diabaikan? Bahkan, tak peduli dengan apa yang terjadi.
Kerikil yang menyapa. Debu yang menerpa. Daun yang melambai-lambai. Dan, air yang terpercik ke baju kita, bukanlah sebuah kebetulan. Ia sudah termaktub rapi di Lauh Mahfud-Nya. Malaikat bekerja sedemikian rupa.
Namun, kadang kita lupa, bahwa moment apapun adalah paling indah dalam kehidupan. Mengapakah kita lupa mengabadikannya. Walau tidak ada (yang) abadi kecuali keabadian-Nya.
Ketika kita mengambil gambar (menfoto), mengapa kita memilihnya? Bukankah setiap moment itu istimewa. Benar. Tapi ada moment-moment (yang) sangat istimewa. Sebagaimana Allah memberikan waktu-waktu istimewa. Pada setiap harinya, setiap bulannya, dan setiap tahunnya. Dalam satu minggu, hari Senin, Kamis dan Jumat. Dalam satu bulan, ada Ayyamul Bedh, 13,14 dan 15. Dalam satu tahun, bulan al-Muharram, Ramadlan, dan lain sebagainya.
Untuk apa? Agar kita terus menunggu waktu istimewa dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu. Pada waktu yang istimewa itulah kita perkuat rindu dan cinta. Agar ikatan semakin erat. Bila ada kedekatan, maka rahmat akan terus mengalir pada kita.
Mengabadikan moment terindah dalam setiap detiknya. Selalu membekaskan nama-Nya di setiap waktu dan tempat, fadzkuruni azkurkum. Dzikir itu akan direkam. Diputar dalam setiap roda kehidupan. Tentunya nanti akan kita saksikan dalam layar lebar Mahsyar. Di mana tiap manusia menunggu pemutaran film kehidupan mereka. []
Jum'ah Mubarokah...
Ket: Ketika Abah Zawawi melukis wajah suram ini,wkwkwk.
Gus Aziz Progresif terima kasih.
Kamis, 27 Juni 2019
TETAPLAH TERSENYUM
@halimizuhdy3011
"Anak kecil yang dilemparkan ke atas, wajahnya tetap tersenyum, karena ia sungguh percaya, tangan Sang Ayah akan menangkapnya"
Mengapa anak kecil yang dilemparkan ke atas tersenyum? Karena ia yakin, percaya, dan memastikan dirinya, bahwa tangan ayah akan menangkapnya.
Bagaimana pula dengan Bilal bin Rabah, yang tetap tabah, walau disiksa sedemikian rupa oleh Umayyah? kerena ia percaya pada Tangan Rahmat-Nya.
Bagaimana kesabaran sang Imam Ahmad ketika dicambuk, dirantai, dipenjara, bahkan ditinggalkan muridnya atas intimidasi penguasa? Karena ia percaya, Allah segala-Nya.
Bagaimana Ammar bin Yasir beserta kuluarganya masih bisa tersenyum, walau setiap hari digiring ke padang pasir, dibakarkan pada matahari, disiksa, disulut dengan besi panas, ditenggelamkan, dan siksaan pedih lainnya? Karena ia percaya, bahwa Allahlah Sang Pelindung dan Sang Penolong. Keimanannya, menghancurkan ketakutannya.
Orang beriman itu kan selalu tersenyum bahagia, apapun yang telah terjadi padanya, karena Ia percaya bahwa semuanya atas takdirNya, dan ia selalu merasa aman dengan imannya, dan selalu bahagia dengan yang menimpanya, "Al iman al amnu". Adakah yang harus ditakutkan dengan harta, tahta, keluarga, dan apa yang kita miliki? Bila semuanya adalah milikNya. Dan bukankah semuanya atas kendaliNya, atas kehendakNya, dan Dialah Pemegang Palu Hakim yang sesungguhnya. Hasbiallah la haula walaquwata illa billah.
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS:6:82).
Ya Allah, berikan kami keluarga, sahabat, sejawat, kerabat yang selalu mendukung untuk beriman kepadaMu.
Menuju Bandung, 26 Juni 2019
Minggu, 23 Juni 2019
DENGKI, HASAD, IRI; KEHANCURAN DIRI
"Dosa yang pertama kali muncul di kolong langit adalah dengki, dan dengki awal kemaksiatan yang terjadi di muka bumi" Al-jahid
DENGKI, KEHANCURAN DIRI
Halimi Zuhdy
Seandainya aku bisa bertanya tentang "kedengkian", maka kutanyakan kepada gunung, daratan, lautan, sungai, pepohonan, dan rerumputan.
“Wahai Darat mengapa kamu diciptakan menjadi Darat, apakah kamu rela menjadi diinjak-injak manusia yang sok itu?” kucoba bertanya pada Daratan.
Tiba-tiba Daratan berbisik, dengan wajah sedih, "Kenapa aku diciptakan menjadi daratan ya, yang hanya diinjak-injak manusia dan hewan, akar-akar pohon memenjarakanku. Mengapa aku tidak menjadi gunung saja, yang tinggi menjulang, menjadi paku bumi, dan bisa melihat daratan yang luas". Keluhan Daratan belum selesai.
Tiba-tiba Gunung bertanya tentang dirinya, "Mengapa, aku dijadikan gunung yang hanya menyimpan bara, memuntahkan lahar, mematung tinggi, aku tak dapat berkhidmat pada manusia, orang-orang sholeh pun jarang menaikiku, aku hanya seperti patung dikejahuan, bahkan akhir-akhir ini aku hanya digunduli, dan akupun longsor dan membuat banyak orang meninggal gara-gara aku".
Tak terasa rerumputan berisik di bawah kaki dan mengajakku mendengarkan keluhannya, "Mengapa aku dijadikan rumput, yang tak berharga, diinjak-injak, bahkan keberadaanku pun tak dilirik, beda dengan bunga-bunga, pepohonan yang menjulang tinggi, aku hanya korban manusia dan hewan saja, kadang mengering dan dibakar".
Belum juga rerumputan selesai berkeluh kesah, Lautan dengan debur ombaknya berteriak, "Mengapa nasibku yang dijadikan lautan, kenapa aku tidak dijadikan Gunung, Daratan, dan Pepohonan yang indah atau sunga-sungai yang mengalir seperti dalam al-Qur'an, atau aku hanya sebagai pemuas manusia dengan ikan-ikan yang setiap hari dirampok?, dan dibuat makan para perampok, apakah aku hanya untuk menjadi kenangan untuk menelan orang, menerjang manusia dengan sunamiku, aku menjadi tidak pernah damai dengan gelombangku"
“Rerintihan” itu hanya khayalaku, aku tidak benar-benar mendengarnya, atau mungkin karena aku bukan Nabi Sulaiman, yang dapat berbicara dan mendengar pembicaraan hewan dan tumbuhan.
Saya yakin, dan benar-benar yakin, mereka tidak akan mengeluh menjadi lautan, gunung, daratan, pepohonan, bahkan mereka akan menikmati keberadaan mereka, karena mereka diciptakan untuk bertasbih, seandainya mereka menjadi gunung semua, apa jadinya dunia ini, atau seandainya dunia ini lelautan semuanya, bagaimana keberadaan manusia dan lainnya, atau dunia ini hanya berisi rerimbunan pepohonan, atau rerumputan saja, mungkin taka da keindahan di dunia ini, atau semuanya warna adalah hitam, mungkin dunia kelam, atau putih maka dunia akan penuh uban.
Seandainya semuanya sama, apa indahnya dunia ini, maka hanya“Masya Allah” Allah luar biasa. Maka, kenapa aku harus dengki dan hasad kepada orang-orang yang berbeda dengan diriku, biarlah mereka jadi mereka dan aku jadi diriku sendiri, dan biarkan mereka bergembira dengan kegembiraan mereka, aku juga memiliki kegembiraan, dan Allah memiliki rencana sendiri dalam penciptaannya. Maka, kehidupan ini harus disyukuri, tersenyum dengan keberadaan diri, memahami tujuan diciptakan diri Mengabdi pada Tuhan yang Abadi, Tak usah dengki, apalagi iri, semuanya harus dinikmati.
Jangan hasad ya! Ia sumber segala kekacauan dunia.
Minggu, 21 April 2019
Kiat Sukses Ala Nabi Musa AS
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qoshos:24).
Rabu, 24 Oktober 2018
KECEWA
Halimi Zuhdy
"Ia selalu saya dukung untuk maju, bahkan jam berapa pun ia butuh saya, saya selalu ada untuknya, tapi sekarang seperti kacang lupa kulitnya".
"Yang menjadikan ia seperti itu, saya, mengapa dia sekarang melupakan semuanya".
"Dulu, itu saya yang bangun, sampai megah, sekarang semuanya pada ngaku-ngaku, dan telunjuknya panjang-panjang".
"Aku ini kurang apa, semuanya sudah saya lakukan untuknya, tapi mengapa dia sekarang tega berbuat itu padaku".
"Aku sudah berkorban harta, fisik, dan psikis untuknya, dia sekarang sok, bahkan seperti melukis di atas air".
"Dia dulu saya anggap anak sendiri, bahkan melebihi siapapun, tapi setelah sukses, tak pernah lagi dia mengingatku".
"Dulu saya yang mengusahakan dia untuk dapat beasiswa dan sampai selesai studinya, tapi acara wisuda saya tidak diundang".
"Dulu yang mengangkat dia juga saya, tapi dasar anak tidak tahu diuntung, dia sudah berani mengecewakan saya".
"Dulu organisasi itu kecil, ketika saya pimpin, semuanya berubah luar biasa, dan kamu bisa lihat sendiri, tapi setelah itu, mereka tidak pernah ingat, siapa yang membesarkan".
Jumat, 12 Oktober 2018
RINDU
Halimi Zuhdy
Kerinduan itu menyakitkan, melupakannya kadang obatnya. Namun, bila tak ada rindu, hati terasa kering kerontang, bagai mentari menjejal sahara, yang tak ada tetes embun menyapa.
Kerinduan itu menyakitkan, namun bila rasa rindu tak datang, sakit semakin mencekam. .
Rindu itu kan selalu datang bertandang, karena masih ada cinta mendekam. Ia tak kan pernah mengering dan tak kan pernah berhenti mengalir, selagi rasa bergerak tuk menemukan samudera kasih. Seperti air sungai yang terus bergerak, menghentak, menerobos tuk menemukan samuderanya. Rindu itu akan selalu ada, buat seseorang yang dicinta. .
Rindu, bagaimana Thalhah yang tidak mau melepas tubuh Nabi, dipeluknya erat, dan menciumi jenggot sang kekasihnya itu. Pertemuan dengannya, bagai tetes air di kerongkongan yang kering. .
Rindu bagai karang di lautan, lautpun tak mampu menghenpaskan. Bagai Shahabat Nabi yang bangga dengan giginya yang ompong, bahkan tidak ingin dipasang gigi lagi, karena gigi itulah yang menarik rantai yang membelit Nabi dalam perang Uhud, ia tak ingin giginya terpasang karena takut kerinduannya tercerai padanya. Sungguh, kerinduan itu mempesona. .
Belum lagi Ukasyah yang membuat tangis seisi masjid berderai. Meminta Rasul membuka bajunya, hanya agar dapat menyentuh tubuh surganya. Bahkan Umar bin Khattab pernah dengan lantang berkata, "Tiada seorangpun yang kudengar dan ia mengatakan Nabi wafat, melainkan akan kupancung dengan pedangku ini! " ini sunggu rindu di atas rindu, pedih kehilangan sang kekasih yang paling kasih. .
Bila ia lupa untuk rindu, sepertinya sudah mulai tergerus cinta itu, semakin rindu, cinta itu semakin mengakar kuat. Maka tidaklah pernah ada, cinta tanpa rindu, karena dimana ada asap, di situlah api menguap.
Allahummaj'alna musytaqina laka wa lihabibika Ya Rabb.
Jum'ah Mubarokah
Malang, 12/10/2018
#madzhabrindu #fatwacinta #fatwa_cinta
IG: @halimizuhdy3011
Sabtu, 14 Juli 2018
ISLAM NUSANTARA YES, ISLAM TANPA NUSANTARA YES, TAK BER-ISLAM NO
Saya melanjutkan, "Bukankah Islam juga mengajarkan kepada kita, bagaimana bersikap wasathan, tengah-tengah, dan Islam Nusantara atau Islam tanpa Nusantara, bukanlah wajib atau mubah, bukanlah haram dan sunnah, ia hanya sebuah ijtihadi. Silahkan yang mau mengikuti, dengan alasannya yang kuat, dan juga yang menolak dengan alasan pula. Buktinya, ditubuh NU sendiri juga ada perbedaan, apalagi yang di luar NU, hal itu biasa, dan NU biasa dalam sebuah perbedaan. Maka lihatlah, bagaimana bahsul masail yang mengajarkan perbedaan itu menentukan sebuah hukum, tapi pada akhirnya juga ada sikap dan konsekwensi dari hukum itu". Tegas saya pada santri.
“Tidaklah menggembirakanku jika saja para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berbeda pendapat,” kata Umar bin Abdul Aziz seperti diabadikan dalam Al Inabah Al Kubra dan Faidhul Qadir, “karena jika mereka tidak berbeda pendapat maka tidak akan ada rukhshah atau keringanan.”
"Jika kau ingin membuat almari, maka gergajilah kayunya"
www.darunnun.com
Sabtu, 09 September 2017
DIMANAKAH KEDUDUKAN KITA, DI SISI ALLAH
Halimi Zuhdy
Kadang kita dirundung sedih, kadang bahagia datang berjuntai tanpa silih.
Allah, selalu ingin berada dekat dengan hambaNya tuk kasih, tapi banyak yang lari larena takut sedih.
Keberadaan kita dalam detik, sesungguhnya kita berada dalam maqamNya.
Kata Hakim, "Kalau kau ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah dimana keberadaanmu"
Cinta selalu dalam posisi yang dicintai, walau jauh selalu ingin menghampiri, apalagi dekat, ia sudah menjadi diri.
Al-Hakim berkata, "Kedudukanmu, berada dimana keberadaanmu"
"Jika kau selalu disibukkan dengan dzikir, maka Allah ingin mengingatmu"
"Jika kau selalu disibukkan dgn al-Qur'an, Allah ingin mengajak berbicara padamu"
"Jika kau selalu disibukkan dgn ketaatan, ketahuilah, Allah dekat padamu"
"Jika kau disibukkan dari urusan dunia, Allah lagi menjauh darimu"
"Jika kau selalu menyibukkan diri dari manusia, sungguh Allah merendahkanmu"
"Jika kau disibukkan dengan doa, ketahuilah Allah akan memberimu".
Ketika Hasan Basri ditanya, _"Dimanakah keberadaan saya di hadapan Allah?",_ Al Basri menjawab, _"Sebagaimana keberadaan Allah dalam dirimu"_
posisi, kedudukan, maqam, kondisi, situasi, kapasitas, kelas, pangkat, status; tak sulit dicari, *bagaimana kita mencari dalam diri, kebersamaanNya, agar kita bersamaNya.*
Ya Allah jika dzikir terlupa, ingatkanlah. Jika al-Qur'an tak terbaca, ajaklah tuk tilawah. Jika, dunia menjadi hamba, maka budakkanlah hamba untukMu.
Halimi Zuhdy
www.halimizuhdy.blogspot.com
#FatwaCinta bergabung yuk di*:https://www.instagram.com/p/BUCaeF3A3i9/



