السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Februari 2026

Menjadi “Sebaik-Baik”, Standar Hidup Seorang Muslim

Halimi Zuhdy

Di tengah dunia yang gemar mengukur keberhasilan dengan angka yaitu jabatan, harta, pengikut, dan popularitas, maka Islam menghadirkan ukuran yang berbeda. Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wasallam berkali-kali menggunakan satu frasa kuat dengan kalimat: “Khairukum…” Sebaik-baik kalian…! 
Jika kita kumpulkan (sebelumnya, kami masukkan 37 hadis yang diawali dengan kalimat ini. Seolah Rasulullah shallalahu alaihi wasallam sedang menyusun ulang cara kita menilai hidup. Siapa yang terbaik? Yang paling kaya? Yang paling kuat? Yang paling terkenal? Ternyata tidak. Ukuran “terbaik” dalam Islam justru dimulai dari hal-hal yang sering tak terlihat.

Oh ia, jika kita cermati secara makna besar hadis-hadis tentang "khairukum" bukan sekadar menghitung jumlah literalnya, maka terlihat bahwa yang paling dominan dari hadis-hadis “sebaik-baik” adalah pembentukan kualitas pribadi: ilmu, akhlak, dan kebersihan hati, yang kira-kira mencakup sekitar 40 persen dari keseluruhan pesan. Ini menunjukkan bahwa standar terbaik dalam Islam pertama-tama dibangun dari dalam diri. 

Setelah itu, sekitar 30 persen berbicara tentang keluarga dan interaksi sosial, menegaskan bahwa kebaikan sejati harus terasa dalam relasi di rumah, di tengah sahabat, dan di masyarakat. Kemudian sekitar 20 persen menyentuh aspek ibadah dan simbol-simbol spiritual, seperti masjid, hari Jumat, dan dzikir, yang menjadi penopang ruhani kehidupan seorang Muslim. Adapun sisanya mencakup urusan ekonomi, kepemimpinan, serta kondisi-kondisi khusus seperti fitnah dan pengobatan, dan ini menandakan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, mengatur kualitas diri sekaligus tanggung jawab sosial dan realitas kehidupan.

Hadis pertama yang sangat populer menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari). Ukuran terbaik dimulai dari ilmu. Tapi bukan sekadar ilmu dunia, melainkan ilmu yang menghubungkan manusia dengan Allah. 

Kemudian Nabi Muhammad menegaskan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” Ilmu tanpa akhlak tidak cukup. Ibadah tanpa kelembutan hati tidak cukup. Bahkan dalam hadis lain disebutkan, manusia terbaik adalah yang hatinya bersih dan lisannya jujur. Di sini kita belajar satu hal "Islam membangun kualitas dari dalam, bukan dari luar".

Menariknya, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam tidak mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling lama shalatnya.” Beliau justru bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” Rumah adalah ruang paling jujur. Di sana tidak ada pencitraan. Di sanalah kualitas iman diuji. Seorang Muslim bisa terlihat santun di luar, tetapi jika keras terhadap istri, kasar kepada anak, dan tidak adil di rumah, ia belum mencapai standar “khairukum”.

Islam tidak membangun kesalehan panggung. Islam membangun kesalehan domestik.

Terus! Bermanfaat atau Tidak? Dalam hadis lain disebutkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Ini ukuran yang revolusioner. Kebaikan dalam Islam bukan kesalehan yang egois. Bukan spiritualitas yang menarik diri dari masyarakat. Tapi iman yang berdampak.

Memberi makan. Menjawab salam. Aman dari keburukannya. Menjadi tetangga yang baik. Itu semua masuk kategori “terbaik”. Artinya, ukuran keberagamaan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan manusia.

Integritas Duniawi Bagian dari Iman. Bahkan urusan ekonomi pun masuk dalam daftar “sebaik-baik”. Sebaik-baik penghasilan adalah kerja tangan yang jujur. Sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan. Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang.

Islam tidak memisahkan moral dari ekonomi. Kejujuran finansial adalah bagian dari kualitas iman. Dan belum lagi tentang mudah, seperti mahal dan lainnya. Dunia tetap menjadi perhatian lo. 

Jika dirangkum, banyak hadis tentang “sebaik-baik” (khairukum) mengajarkan peta prioritas hidup seorang Muslim: memperbaiki hati dan ilmu, berbuat baik kepada keluarga, memberi manfaat bagi sesama, jujur dalam urusan dunia, dan istiqamah hingga akhir hayat. Bahkan penutup hidup yang terbaik adalah ketika lisan tetap berdzikir kepada Allah. Berbeda dengan dunia yang mengukur keberhasilan dari popularitas dan harta, Islam menilai dari akhlak, manfaat, dan kebersihan hati. Maka yang terpenting bukan seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa baik kita di hadapan Allah.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar