السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Februari 2026

Gelar-Gelar Intelektual dalam Tradisi Arab

Halimi Zuhdy

Membincang tentang "pemikiran" tidak cukup menunjuk pada satu gelar saja, sebutlah "pemikir" misalnya. Tidak cukup. Karena para pemikir itu macam-macam. Sama dengan perasaan dalam bahasa Arab itu sangat banyak sekali, bisa sampai ratusan. Karena, urusan rasa tidak seserhana. 
Lah, ini urusan berfikir. Bahasa Arab tidak sekadar mengenal satu kata untuk “pemikir” sepeeti di atas, tetapi menghadirkan spektrum gelar yang mencerminkan kedalaman, fungsi, dan tanggung jawab intelektual. Keterangan ini saya ambil dari unggahan visual dari Qatar Foundation dan beberapa tulisan atau marajik untuk mendukung makna beberapa gelar berikut: Mujādil (مجادل), Bāḥith (باحث), Munāẓẓir (منظّر), Naqqād (نقّاد), Faylasūf (فيلسوف), Muta’ammil (متأمّل), dan Mufakkir (مفكّر). 

1. Mujādil – مجادل (Pendebat)
من يُجيد عرض حججه ومناقشة الحجج المخالفة بأسلوب منطقي وحوار بنّاء.

Mujādil adalah mereka yang piawai menyampaikan argumen dan membahas argumen yang berseberangan dengan logika yang tertib dan dialog yang konstruktif. Dalam tradisi Islam, jadal bukanlah pertengkaran kosong, melainkan seni mempertahankan kebenaran dengan adab. Al-Qur’an sendiri memerintahkan dialog dengan cara yang lebih baik: “وجادلهم بالتي هي أحسن”.

Di era media sosial, sosok mujādil kian langka. Banyak yang berdebat, tetapi sedikit yang berdialog. Padahal, peradaban tumbuh dari perbedaan yang dikelola, bukan dari keseragaman yang dipaksakan. 😁

2. Bāḥith – باحث (Peneliti)
محقّق ومثقّف في قضايا الفكر والمعرفة، يقضي وقته بين الكتب والتجارب.

Bāḥith adalah pencari yang tekun. Ia menelusuri sumber, memeriksa data, dan menimbang kesimpulan. Tradisi Islam klasik melahirkan ribuan bāḥith dalam bidang tafsir, hadis, fikih, kedokteran, hingga astronomi.

Menjadi peneliti bukan hanya soal metodologi, tetapi juga etika: kejujuran intelektual, ketelitian, dan kesediaan untuk merevisi diri ketika fakta berbicara lain.

 3. Munāẓẓir – منظّر (Teoretikus)
من يجتهد في وضع أفكار ونظريات في ميدان معرفي معيّن، ويحاول إثباتها بالبراهين.

Munāẓẓir melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya mengumpulkan data, tetapi merangkai kerangka pikir. Ia membangun teori, menyusun konsepsi, dan menawarkan paradigma.

Tanpa munāẓẓir, ilmu berjalan tanpa arah. Namun teori yang tercerabut dari realitas akan kering. Karena itu, ia memerlukan dialog dengan bāḥith dan kritik dari naqqād.

4. Naqqād – نقّاد (Kritikus)
من يعطي حكماً على مزايا أو عيوب أو قيمة أو صفة أمر ما.

Naqqād bukan pencela. Ia penimbang. Ia memisahkan yang kuat dari yang rapuh, yang sahih dari yang lemah. Kritik adalah jantung dinamika ilmu.

Dalam sejarah Islam, tradisi kritik hadis dan sanad menunjukkan betapa ketatnya standar intelektual. Tanpa naqqād, ilmu mudah tergelincir pada dogma.

 5. Faylasūf – فيلسوف (Filosof)

من يبحث في المبادئ الأولى للأشياء، ويفسّر المعرفة تفسيراً عقلياً.

Faylasūf menyelami akar terdalam realitas: apa itu wujud, apa itu kebenaran, bagaimana manusia mengetahui. Filsafat dalam tradisi Islam tidak berdiri di luar agama, tetapi berdialog dengannya.

Pertanyaan-pertanyaan besar yang diajukan para filosof menjadi fondasi bagi bangunan sains, etika, dan teologi.

6. Muta’ammil – متأمّل (Kontemplatif)

من يُمعن النظر في الأفكار والمعاني التي تمرّ بالخاطر وتتطلّب تركيزاً ذهنياً.

Muta’ammil adalah jiwa yang hening. Ia memberi ruang bagi makna untuk tumbuh. Dalam dunia yang riuh, kontemplasi adalah kemewahan yang jarang dimiliki.

Padahal, dari keheningan sering lahir kebijaksanaan. Tadabbur dan tafakkur adalah perintah spiritual sekaligus intelektual.

 7. Mufakkir – مفكّر (Pemikir)

من يُعمل عقله ليستنبط حقائق الأمور.

Mufakkir merangkum semuanya. Ia menggunakan akalnya untuk menyimpulkan hakikat sesuatu. Ia tidak sekadar bereaksi, tetapi merefleksi.

Gelar ini mengandung tanggung jawab moral: berpikir demi kemaslahatan, bukan demi sensasi.

Gelar-gelar ini menunjukkan bahwa tradisi Arab-Islam memahami berpikir sebagai ekosistem. Ada yang berdebat, meneliti, merumuskan teori, mengkritik, berfilsafat, berkontemplasi, dan menyintesis. Krisis zaman ini bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan struktur berpikir. Kita memerlukan lebih banyak muta’ammil sebelum menjadi mujādil. Kita membutuhkan naqqād sebelum mengangkat teori sebagai kebenaran mutlak.

***
Marja'
Akun Qatar Foundation. Mukjam al washit. Musthalahat Al Arabiyah. Al Furuq Al Lughawiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar