السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Februari 2026

Memilah Sedih agar Tidak Salah Menyembuhkan

(Perbedaan Hazn, Hamm, dan Ghamm)

Halimi Zuhdy

Sedih. Seringkali dianggap sama. Entah, kesedihan kemarin, besok dan hari ini. Dan ini sangat berpengaruh tidak hanya kepada pikiran kita, tetapi juga beban psikologis. 
Toyyib. Bahasa Arab tidak boros kata. Walau terdapat bahasa selainnya, juga sama. Tetapi, bahasa ini lebih detail. Seperti dalam tiga kata tentang sedih; hazn, hamm dan ghamm. Lah, ketika ia menyediakan istilah yang berbeda, itu karena realitas batin manusia memang tidak tunggal. Ḥuzn, hamm, dan ghamm dalam bahasa Indonesia (dan juga bahasa lainnya), sering diterjemahkan sama: “sedih”. Padahal menyamakan ketiganya justru membuat banyak orang salah memahami dirinya sendiri, bahkan salah menasihati orang lain. Benar tidak ya? 😁

Mari kita mulai dengan kata pertama; huzn (الحزن) adalah kesedihan yang berakar pada fakta. Ia lahir dari peristiwa yang sudah terjadi. Kehilangan, kegagalan, perpisahan. Karena bersumber dari kenyataan, ḥuzn bersifat stabil dan dapat berlangsung lama. 

Berikutnya, berbeda dengan itu, hamm (الهمّ) justru tidak berpijak pada realitas yang pasti. Ia hidup di wilayah kemungkinan. sesuatu yang belum terjadi, atau bahkan mungkin tidak pernah terjadi. Hamm adalah kelelahan mental akibat pikiran yang terlalu jauh mendahului takdir. Ironisnya, banyak manusia modern lebih sering tumbang oleh hamm daripada oleh kenyataan itu sendiri. Kita lelah bukan karena beban hidup, tetapi karena skenario yang kita karang sendiri.he..he.

Lah, yang terakhir adapun ghamm (الغمّ) adalah kesesakan emosional yang bersifat sesaat. Ia muncul karena tekanan langsung di waktu kini. Perkataan yang menyakitkan, perlakuan yang merendahkan, atau kejadian kecil yang menyesakkan dada. Ghamm tidak dalam, tetapi menekan. Jika dibiarkan, ia bisa membesar. Jika dilepaskan, ia cepat reda.

Di sinilah bahasa memberi pelajaran etis yang penting, tidak semua kesedihan membutuhkan obat yang sama. Ḥuzn tidak disembuhkan dengan nasihat singkat, hamm tidak selesai dengan analisis berlebihan, dan ghamm tidak perlu diwariskan kepada hari esok.

Kesalahan terbesar manusia adalah memperlakukan kecemasan masa depan seolah-olah ia sudah menjadi kenyataan, dan memelihara kesedihan sesaat seakan-akan ia adalah takdir panjang.

Mungkin karena itu Al-Qur’an berkali-kali menenangkan manusia dengan satu kalimat sederhana tapi sangat tepat “Lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn.” Bukan janji hidup tanpa masalah, melainkan ajakan untuk menempatkan rasa pada tempatnya. Sebab hidup menjadi berat bukan karena terlalu banyak sedih, tetapi karena kita tidak tahu sedih yang mana yang perlu dipeluk, dan yang mana yang harus dilepas.

***
Dan menariknya, terdapat kata-kata dalam Al-Qur'an terkait "sedih", insyallah berikutnya akan dikaji, "Hazn" dalam Al-Qur'an. (Insyallah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar