Halimi Zuhdy
Aha. Zaman ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kelebihan orang marah. Linimasa penuh emosi, kolom komentar berubah jadi arena pelampiasan, dan amarah sering tampil lebih percaya diri daripada argumen. Yang paling lantang merasa paling benar, yang paling keras dianggap paling peduli. Benar tidak ya? Lihatlah kolom-kolom amarah di berbagai komentar!
Padahal, marah bukan bukti kebenaran. Ia hanya tanda bahwa sesuatu sedang terusik, dan yang terusik itu belum tentu nilai, dan sering kali justru ego.
Dalam tradisi etika Islam (akhlak), amarah (al-ghaḍab) tidak pernah diposisikan sebagai musuh akal, tetapi juga tidak dimuliakan tanpa syarat. Ia ditempatkan di wilayah tengah, diakui keberadaannya, namun dituntut kendalinya. Sebab ketika emosi mengambil alih kemudi, akal turun pangkat, dari pengarah menjadi penumpang yang sekadar mengangguk. Coba lihat orang ketika marah! Ia marah untuk apa?
Yang sering luput kita sadari, amarah yang etis tidak pernah inkonsisten. Ia tidak tajam ke luar tapi tumpul ke dalam, kayak hukum di mana ya? Benarkah? Gak tahu juga. Tidak berani pada yang jauh tapi lunak pada yang dekat,
tidak galak pada yang lemah tapi bisu di hadapan yang kuat.
Begitu amarah bergantung pada siapa lawannya, ia berhenti menjadi moral dan berubah menjadi keberpihakan emosional.
Menariknya, Nabi Shallahu alaihi wasallam tidak mengajarkan cara “meluapkan” marah, melainkan berulang kali mengingatkan: “lā taghḍab” — jangan marah. Ini bukan nasihat psikologis semata, melainkan kritik peradaban. Sejarah membuktikan, banyak kerusakan lahir bukan karena niat jahat, tetapi karena emosi yang merasa paling suci dan paling benar.
Di ruang publik hari ini, marah sering disalahpahami sebagai keberanian. Padahal keberanian sejati justru tampak pada kemampuan menahan diri, menunda reaksi, dan memberi ruang bagi akal untuk bekerja. Tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang tenang itu lemah.
Di titik ini, khazanah bahasa Arab memberi pelajaran penting. Amarah tidak tunggal; ia "bertingkat dan berproses". Dimulai dari "as-sukht"—ketidaksenangan yang berlawanan dengan ridha. Lalu meningkat menjadi "al-ikhrinṭām", marah yang disertai kesombongan dan kepala terangkat. Naik lagi menjadi "al-barṭamah", amarah yang tampak di wajah: dahi mengeras, raut membeku.
Jika tak terkendali, ia beralih menjadi "al-ghayẓ"—amarah terpendam milik orang yang tak mampu melampiaskan, hingga menggigit jari sendiri. Lalu "al-ḥarad", keinginan membalas yang mulai direncanakan. Setelah itu "al-ḥanaq", kemarahan yang mengental bersama dendam. Dan puncaknya "al-ikhtilāṭ": amarah yang mengacaukan akal, kata, dan tindakan.
Bahasa seolah ingin berkata: "amarah yang dibiarkan tidak berhenti, ia selalu naik tingkat.
Maka pertanyaan reflektifnya bukan lagi, “Apakah kita marah?” Tetapi, di tingkat mana amarah kita sedang berdiri? Masih di wilayah sadar, atau sudah mendekati batas yang mengaburkan nurani?
Karena iman yang matang tidak mematikan emosi, tetapi menempatkannya di bawah tanggung jawab moral, agar marah tetap menjadi penjaga nilai, bukan penguasa jiwa.
***
Gambar desain AI diambil dari Kunuz Al-Arabiyah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar