السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Februari 2026

Unta, Orang Gurun, dan Sebuah Refleksi Kecanggihan


Halimi Zuhdy

Banyak orang hari ini gemar mengejek: “orang gurun”, “kaum unta”. Nada merendahkan. Seolah peradaban hanya milik mereka yang punya pesawat, roket, gedung pencakar langit, dan teknologi paling mutakhir. Seolah yang hidup di pasir hanyalah simbol keterbelakangan. Kita tertawa, ikut-ikutan, tanpa sadar: kita sedang menertawakan sesuatu yang justru Allah jadikan bahan tadabbur abadi. Sama juga dengan orang menyebut "wong deso"! 
Padahal Al-Qur’an, kitab yang kita klaim suci dan agung itu, tidak memulai renungan dengan pesawat. Tidak dengan satelit. Tidak pula dengan mesin canggih. Ya iyalah, wong dulu tak ada pesawat, supersonik dan sejenisnya! Apakah jawabannya sesederhana itu?

Pantes saja Al-Qur’an tidak memulai renungannya dengan satelit, mobil listrik paling canggih, pesawat supersonik, kecerdasan buatan, atau gedung pencakar langit yang kita banggakan hari ini; wong Al-Qur’an turun di era unta dan justru itu sindirannya. Seolah Al-Qur'an ingin berkata kecanggihan tidak otomatis membuatmu paham, kemajuan tidak menjamin kamu tunduk. Sebab masalah manusia bukan kurang teknologi, tapi gagal membaca tanda. Kalau pada seekor unta saja manusia tak sanggup merenung dengan jujur, apa bedanya kita dengan mereka yang hanya terpukau layar, mesin, dan kecepatan, tapi hatinya tetap kosong?

Allah justru bertanya dengan sangat sederhana dan menohok:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?”
(QS. Al-Ghasyiyah: 17)

Perhatikan. Bukan sekadar lihat. Bukan cuma lewat. Tapi menatap dengan akal dan hati. "Unta" hewan yang sering dijadikan bahan olok-olok—justru dijadikan pintu pertama untuk mengenal kebesaran Tuhan. Baru setelah itu Allah mengajak kita melihat langit, gunung, dan bumi. Seakan Allah sedang berkata: kalau pada unta saja kamu gagal membaca tanda-Ku, bagaimana kamu mau memahami semesta?

Unta bukan simbol primitif. Ia simbol ketahanan, kesabaran, dan ketepatan desain Ilahi. Ia sanggup berjalan ratusan kilometer tanpa air, memikul beban berat, tunduk kepada manusia, dan hidup di lingkungan paling keras. Di tengah dunia yang membanggakan kecepatan dan kemewahan, Al-Qur’an justru mengajak kita belajar dari makhluk yang tenang dan bertahan. Dari makhluk yang tidak ribut, tapi menyimpan keajaiban.

Sekali lagi. Mungkin masalah kita bukan kurang pintar. Tapi terlalu sibuk membanggakan diri, sampai lupa membaca tanda-tanda Allah yang paling dekat. Kita hafal spesifikasi pesawat, tapi tak pernah menangis saat membaca Ayat tentang unta. Kita kagum pada teknologi, tapi kering di hadapan Ayat-ayat-Nya. Maka sebelum mengejek “kaum unta”, barangkali yang perlu kita tanyakan adalah "sudahkah kita benar-benar membaca Al-Qur’an… atau baru sekadar mengaku membacanya?" Apalagi yang ngomong "muslim kalah saint, kalah sama tapir!" "Menang untuk apa?" Wong yang jurusan khusus pesawat saja tidak bisa buat pesawat semua?! 

Kadang, untuk sampai pada tangis keimanan, kita tidak perlu terbang tinggi.
Cukup menunduk. Memandang seekor unta. Dan mendengar Allah bertanya dengan indah “Tidakkah kamu memperhatikan?”

***
Kemudian ada yang mengatakan "tulisan seperti ini yang membuat umat Islam terbelakang" 🤩 

"Emang, kamu terdepan?" Apa yang kamu banggakan dengan Epstein 🤩

Tidak ada komentar:

Posting Komentar