السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Februari 2026

Tidur, Nikmat yang Sering Diremehkan(Menilik Jam Tidur Ulama Salaf)


Halimi Zuhdy

Kaget. Lucu. Bahagia, kagum campur heran. Membaca hasil survei yang dirilis Kompas, bahwa Indonesia negara paling gemar tidur di dunia 2025. Tapi, saya yakin, itu bukan bentuk malas, tapi menghargai tidur. Betapa tidur adalah nikmat. Ternyata benar, ketika dibaca hasil surveinya (bukan judul dan gambarnya saja), bahwa "gemar" dalam artian "peduli" "sadar" akan pentingnya tidur. Gemar tidur, bukan malas-malasan Lo.😁
Toyyib. Di zaman modern, kita sering menganggap bahwa tidur harus selalu “8 jam penuh” tanpa terputus. Seolah itu standar mutlak yang tidak berubah sepanjang sejarah. Padahal, penelitian sejarawan Amerika Arthur Roger Ekirch justru menemukan sesuatu yang mengejutkan: manusia sebelum era industri tidak selalu tidur dalam satu blok panjang, melainkan terbiasa dengan tidur dua fase tidur pertama, lalu bangun beberapa jam, kemudian tidur kedua. Pada jeda itu, mereka melakukan banyak hal: berdoa, berbincang, makan, bahkan memperkuat hubungan keluarga. Pola ini dikenal sebagai biphasic sleep, dan baru benar-benar memudar setelah listrik, revolusi industri, serta budaya kapitalisme menjadikan tidur dianggap “membuang waktu”. (Al-Arabiyah)

Sejarah tidur ini memberi pesan penting, tidur bukan sekadar rutinitas biologis, tetapi bagian dari irama kehidupan manusia. Banyak orang hari ini mengalami “insomnia tengah malam” karena mereka mengira terbangun di malam hari adalah sesuatu yang abnormal, padahal bisa jadi itu jejak pola alami manusia sejak dulu.

Dalam tradisi ulama dan kehidupan para salaf, tidur selalu dipahami sebagai nikmat, tetapi juga amanah. Para ulama menjelaskan bahwa sebagian salaf membagi malam menjadi beberapa bagian: tidur sepertiga, belajar sepertiga, lalu shalat sepertiga. Hal ini ditegaskan dalam pembahasan para ulama, di antaranya:

 ترجم أهل العلم ومنهم الإمام البخاري (باب السمر ف العلم)...
فمنهم مَن يُجزِّئ الليل إلى ثلاثة أجزاء: ينام ثُلثًا، وينظر في العلم ثُلثًا، ثم يصلي ثُلثًا...

Dan ini tidak bertentangan dengan hadits tentang kehati-hatian dari begadang tanpa manfaat, karena Nabi Shallahu alaihi wasallam sendiri pernah berbicara dengan keluarganya setelah Isya:

 والنبي -عليه الصلاة والسلام- ... تحدَّث بعد صلاة العشاء مع أهله ساعةً [البخاري: 117]

Maka intinya adalah: tidur harus berada dalam mizan (timbangan), bukan sekadar mengikuti hawa nafsu atau gaya hidup lalai.

Para ulama selalu memulai pembahasan tidur dengan mengingatkan bahwa ia adalah nikmat besar:

 فمن نعم الله عز وجل على عبده الإنسان: النوم

Allah sendiri menyebut tidur sebagai bentuk rahmat dan istirahat:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

Ibn Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa “subāt” berarti راحةً تستريحُ أبدانكم—istirahat yang menenangkan tubuh. Dan Ibn Katsir menyebutnya sebagai pemulih dari letihnya usaha siang hari.

Salaf tidak memusuhi tidur, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Tentang tidur yang tepat, mereka berkata, Nabi ﷺ tidur secukupnya, tidak berlebihan, tidak menahan diri dari kebutuhan tubuh. Qailulah (tidur siang singkat) dipuji:
 القائلة تزيد في العقل

Tidur yang berlebihan diperingatkan:
 كثرة النوم يميت القلب ويثقل البدن, ويضيع الوقت

Bahkan Imam Ghazali berkata:
 النوم موت فتكثيره ينقص العمر

Dan Ibn Qayyim mengingatkan: tidur bukan sekadar memejamkan mata, tetapi cara menjaga hati agar tidak mati oleh kelalaian.

Yang paling indah dalam Islam, tidur pun bisa menjadi ibadah jika diniatkan benar:

 النوم للاستراحة ليقوم إلى العبادة نشيطاً

Bahkan para ulama menganjurkan seseorang tidur dalam keadaan suci, berzikir, dan menutup hari dengan taubat:

 فينام على تلك التوبة... فإن مات من ليلته مات على توبة

Tidur bukan kelemahan. Tidur adalah rahmat. Tetapi tidur juga bukan pelarian. Ia adalah jeda yang Allah berikan agar manusia kembali kuat, kembali sadar, dan kembali dekat kepada-Nya.

Di dunia yang memuja produktivitas tanpa henti, kita perlu mengingat: yang membuat hidup berkah bukan sedikitnya tidur, tetapi benarnya arah hidup.

Semoga Allah menjadikan tidur kita istirahat yang menyehatkan tubuh, menenangkan jiwa, dan menguatkan langkah menuju ketaatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar