السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label metode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2024

Kreatifitas Guru/Dosen Agama di Perguruan Tinggi

Halimi Zuhdy 

"Ngajar anak TK itu butuh kreatifitas tingkat tinggi, apalagi ngajar mahasiswa" kata salah seorang guru TK. "Benar, dan kreatifitas itu tidak cukup dengan menghadirkan berbagai fasiltas teknologi kekinian, butuh hati dan pikiran untuk menyampaikannya, karena sudah banyak media yang tampil di permukaan untuk menghadirkan ilmu agama, tapi kalau dosennya atau gurunya tidak melanjutkan dengan mentahujjutkan murid-muridnya padaNya maka akan ada yang kosong". Kata seorang Kyai yang juga dosen. "Yang paling penting itu, dosen/guru/ustadz/kyai adalah uswahnya yang terus berjalan, bukan hanya di kelas berbicara akhlak tapi ketika keluar kelas tidak sama!" Kata seorang ustadz pesantren. 
Di era kekinian, peran dosen agama mengalami perubahan yang signifikan. Mereka tidak lagi hanya dituntut untuk menyampaikan materi secara konvensional, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dosen, tidak lagi cukup membaca kitab di depan mahasiswa dengan duduk diam, dan melarang mahasiswa buka hp, sedangkan kitanya bisa di buka di HP atau di laptop. 

Teknologi yang berkembang pesat memberi peluang bagi dosen agama untuk menghadirkan metode pengajaran yang lebih interaktif dan dinamis. Kurikulum Merdeka, yang menekankan fleksibilitas dalam proses pembelajaran, semakin mendorong dosen untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengemas materi keagamaan agar tetap relevan dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa. Kurikulum merdeka? Lah, ini diskusi terus berkembang lo! He.

{ إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَیۡنَ أَن یَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومࣰا جَهُولࣰا }
[Surat Al-Ahzab: 72]

Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu langkah penting yang diambil dosen agama. Berbagai platform digital, seperti video pembelajaran, podcast, dan aplikasi keagamaan, dapat menjadi media yang efektif untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Mahasiswa hari ini, sangat akrab dengan berbagai media, maka bagi dosen agama yang masih konvensional juga bisa belajar platform digital. (Apakah masih dosen yang tidak akrab?, masih ada, terutama dosen sepuh, tapi sepuh tidak menghalangii diri untuk terus belajar kekinian)

Teknologi memungkinkan dosen atau juga guru (usyadz) untuk menghadirkan konten yang lebih menarik dan mudah diakses, sehingga pemahaman mahasiswa terhadap konsep agama bisa lebih mendalam. Dengan integrasi teknologi, dosen juga dapat membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mendukung pembelajaran yang berkelanjutan. 

Selain itu, dalam Kurikulum Merdeka, metode pembelajaran berbasis proyek dan studi kasus menjadi salah satu pendekatan yang efektif. Dosen agama dapat mengajak mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proyek-proyek sosial yang mengedepankan nilai-nilai agama. Misalnya, mahasiswa bisa dilibatkan dalam program pemberdayaan masyarakat yang selaras dengan ajaran agama. Melalui metode ini, mahasiswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga memahami bagaimana menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan nyata.

Isu-isu kontemporer seperti keberagaman, toleransi, dan lingkungan hidup juga menjadi topik penting yang bisa diintegrasikan dalam pengajaran agama. Dosen agama dapat membantu mahasiswa memahami relevansi ajaran agama dalam menyikapi tantangan global yang dihadapi saat ini. 

Pendekatan ini akan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan berusaha mencari solusi dari sudut pandang agama terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat.

Yang nantinya, peran dosen agama tidak hanya terbatas pada penyampaian materi ajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual yang mengarahkan mahasiswa untuk membentuk karakter dan nilai-nilai moral yang kuat. 

Melalui program-program pembinaan karakter berbasis agama, dosen dapat membantu mahasiswa menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bermoral tinggi. Inilah esensi dari pendidikan agama di era kekinian, yang mengintegrasikan kreativitas, inovasi, dan pengembangan karakter sesuai dengan tuntutan zaman.

Toyyib. Selamat berkreasi dan berinovasi!!!!!!

Minggu, 19 Juni 2022

Metode Gerak dalam Menghafal Al-Qur'an dan Memahami Maknanya


Halimi Zuhdy

Memahami Al-Qur'an itu sulit apa mudah?, jawabannya, tergantung. Tergantung apa?, tergantung kemauan. Kalau ada kemauan, maka insyallah akan dipermudah jalannya. Sebagaimana firman Allah,
 وَلَقَدۡ یَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرࣲ 

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur`ān untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
Kemauan adalah kunci keberhasilan. Sehebat apa pun metode yang dicipta, sedahsyat apa pun strategi yang digunakan, dan secanggih apa pun caranya kalau tidak ada kemauan, maka sulit membuka pintu keberhasilan. Bukan kemudian bertuhan pada kemauan lo, tetapi kemauan itulah juga bagian dari keberhasilan. Untuk mendapatkan kemauan, maka butuh usaha untuk memiliki kemauan, dan kecintaan pada sesuatu itu. 

Kalau sudah cinta, ada kemauan dan keinginan, maka jalan akan terbuka lebar. Sedangkan metode adalah bagian dari memudahkan seseorang untuk mencapai sesuatu, setelah ada kemauan. Atau, untuk menjadi senang maka menggunakan metode tertentu. 

Bila seseorang sudah senang, ia akan mudah melakukannya, dan tidak akan ada yang sulit. Maka, buatlah senang terlebih dahulu, sebelum berenang. Kalau tidak senang, maka hanya akan menjadi kenangan. 

Toyyib. Kembali pada judul di atas, memahami makna Al-Qur'an dengan gerakan. Beberapa tahun yang lalu, saya diundang untuk mengikuti antraksi atau melihat bagaimana metode gerakan tersebut dapat memberikan suntikan pemahaman pada santri penghafal dan pembelajar Al-Qur'an. Dipraktikkan oleh seorang anak yang bernama Kaisa, dengan seorang Ayah yang melafalkan kata demi kata. Sang anak melafalkan Al-Qur'an dengan tangan yang terus bergerak. Ketika menyebut kata Syaithan, maka kedua tangan anak tersebut meletakkannya di atas kepalanya dengan jari telunjuknya yang dibiarkan berdiri, seperti tanduk. Ketika menyebut syaitan, maka gerak di atas akan terlihat. 

Ternyata, gerakan di atas dikenal dengan metode Kaisa, dan kemudian dikenal di berbagai wilayah Indonesia.  Entah hari ini, apakah metode Kaisa masih berjalan dan masih terus berkembang?, saya tidak mengikutinya lagi. 

Ternyata butuh waktu untuk antraktif dan belajar geraknya, kalau bagi guru-guru TPQ atau PAUD mungkin menjadi keasyikan sendiri dan kemudian bisa diajarkan pada anak-anak didiknya. Buktinya, Kaisa asyik melakukan gerakan-geralan itu, dan beberapa sekolah juga ada yang mempraktikkan beberapa dalam Ayat-Ayat pendek. 

Oh ia, gerakan yang dipraktikkan setiap daerah, dan setiap negara bisa berbeda-beda lo. Maka, nantinya akan mempunya nama metode yang berbeda dengan gerakan yang berbeda. Ini yang bisa membuat bingung kalau tidak memahami berbagai gerakan per-daerah atau gerakan khas daerah. Misalnya menyebut kata "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim", vedio di bawah (IG @beingamuslim) berbeda dengan beberapa vedio ala Kaisa (bisa dicari di youtube). 

Gerakan metode Kaisa dalam dua kata di atas, seperti orang mau tidur, atau mungkin dimaknai sayang, dengan meletakkan tangan di pipi sambil memiringkan kepala. Sedangkan gerakan dalam vedio di bawah dengan menggerakkan tangan kanan ke bagian dada sebelah kiri atas (saku) dengan Ar-Rahman yang mengkrucutkan jari-jari ke bawah, sedangkan Ar-Rahim tangan terbuka ke arah atas. Beda kan!. 

Bisa saja kalau ada cara menghafal dan memahami kata Al-Qur'an di daerah atau negara lain, juga akan memiliki gerakan yang berbeda. Metode gerak atau kinestetik memang mengasyikkan buat anak-anak, tetapi yang perlu diperhatikan adalah kata yang kemudian menjadi makna gerak. Sebagaimana gerakan atau bahasa isyarat yang dipraktikkan oleh tuna rungu dan tuna wicara. Bahasa isyarat bagi tuna rungu atau tuli dan juga tuna wicara (bisu) dengan menggunakan dua jenis bahasa isyarat, yaitu BISINDO dan SIBI.

Banyak cara atau metode yang bisa dilakukan untuk menghafal dan memahami Al-Qur'an, asalkan ada kemauan terlebih dahulu. Ada cinta, pasti bisa. Buktinya, hari ini berbagai metode membaca di Indonesia sangat banyak sekali, seperti bunga di musim semi. Ada Iqra, Yanbu'a, Qira'ati, Bil Qalam, Ummi dan masih banyak sekali. 

Malang, 12 Juni 2022
*Penulis Buku Al-Arabiyah Lil Ibadah dan Fannu Kitabah Syi'ri (dalam proses editing)

Rabu, 11 Mei 2022

Buku Nahwu dan Sharaf 📚


Alhamdulillah. Hadir kitab nahwu dan saraf "At-Taysir fi Nahwi wal Sharfi" hasil tirakat di bulan Ramadan.

Kitab kaidah nahwu dan saraf, bukanlah hal baru bagi pembelajar bahasa Arab. Kajian tentang kaidah bahasa Arab itu sudah ada sejak lama, demikian juga dengan kitab dan buku yang mengkaji tentang ilmu ini, baik; sejarah, metode pembelajaran, analisis, dan praktiknya.
Buku ini, juga tidak jauh berbeda dengan buku-buku nahwu dan saraf lainnya, baik susunan dalam setiap babnya, dan juga penjelasan yang ada di dalamnya. 

𝐊𝐞𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐫𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩, 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡-𝐜𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 𝐬𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐚𝐤𝐫𝐚𝐛 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫. 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐬𝐲𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐪𝐬𝐢𝐦 (𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧) 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚. 📚

𝑫𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒊𝒍𝒆𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝒌𝒉𝒂𝒓𝒂𝒊𝒕 𝒂𝒍-𝒅𝒛𝒊𝒊𝒉𝒏𝒊𝒚𝒂𝒉 (𝒎𝒊𝒏𝒅 𝒎𝒂𝒑𝒑𝒊𝒏𝒈) 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒈𝒂𝒎𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒃𝒂𝒃 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒔𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕.🖍️

Buku yang disajikan secara mudah dan ringan ini, dapat digunakan bagi pemula yang ingin mulai belajar Bahasa Arab dan kitab kuning. Dan juga dapat digunakan oleh guru, ustadz dan dosen sebagai buku pegangan dalam mengajar, selain karena contoh-contohnya yang sudah sangat akrab dengan keseharian santri juga mudah untuk mengingatnya. 

Kehadiran buku ini, bukan untuk menambah beban “keruwetan” terhadap pembelajar bahasa Arab yang sudah menganggap bahwa nahwu dan saraf itu sulit, tetapi akan memberikan anggapan bahwa belajar nahwu dan saraf itu asyik. Maka, selain kehqdiran buku ini, juga akan hadir buku pelengkap yaitu “Tamrinat”. Buku ini sebagai pelengkap buku Al-Taysir fi Nahwi wa Sarfi, yaitu praktik membaca, memahami teks dan menulis bahasa Arab. Dan juga, dapat dipratikkan untuk dapat berbicara bahasa Arab. Insyallah.

Mempelajari buku “Tamrinat”, agar pembelajar 
dapat menguasai kemahiran bahasa Arab dan juga dapat membaca kitab kuning. 

Mudah-mudahan kehadiran buku "At-Taysir fi Nahwi wal Sharfi" dapat menambah hazanah keilmuan dalam pempelajari bahasa Al-Qur'an.

*****
Dan yang ingin memesan kitab "Mudah Belajar Nahwu dan Saraf" dapat menghubungi kontak berikut +62 858-1654-0904 (Vina). Dan hasil dari kitab tersebut akan dijariyahkan untuk pembangunan Pondok Darun Nun Malang.

Maaf edisi terbatas. Insyallah 50 pembeli pertama hanya seharga 50rb, boleh dong lebih

***
Penulis

Halimi Zuhdy
Savinatun Najah

Sabtu, 02 Mei 2020

Kitab Al-Qur'an versi Tadabbur wa 'Amal

Halimi Zuhdy

Bukan kitab tafsir atau buku panduan mengaji, juga bukan kumpulan makalah tentang tema-tema al-Qur'an. Kitab ini berisi Ayat-ayat al-Qur'an, lengkap 30 juz, yang dibagi menjadi 604 unit kajian, setiap unit terdiri dari empat pembahasan: al-Waqafat al-Tadabburiyah (Renungan ayat, tadabbur ayat), Jadwal Ma'ani al-Kalimat (Skedul arti beberapa kalimat), al-Amal bil al-Ayat (Mengamalkan ayat), al-Taujihat (beberapa petunjuk Umum).
Kitab ini termasuk Kitab pembelajaran al-Qur'an dengan menggunakan metode, al-Istima' (mendengar), al-Tilawah (membaca), al-Hifdzu (menghafal), al-Tadabbur (mengkaji, mentaddaburi), al-Amal (mempratikkan). Dan lima motede tersebut diambil dari Ayat al-Qur'an, al-'Araf (204), al-Baqarah (121), al-Ankabut (49), Shad (29), Az-Zumar (18).

Hadirnya kitab ini sepertinya ingin memberikan pencerahan  bahwa al-Quran tidak untuk dibaca (tilawah) dan dihafal saja, tetapi untuk ditaddaburi dan diamalkan, atau juga ingin membantu Madrasah atau Halaqat Hifdh Al-Qur'an yang kecenderungannya hanya membaca dan menghafal saja, dan kemudian dapat mentadabburi dan mengamalkan, maka Kitab Ini diberi nama  "Al-Qur'an, Taddabur wa 'Amal".

Menurut Tim Penulis, di antara sebab banyaknya pembelajar al-Qur'an yang hanya lebih memperhatikan cara membaca dan menghafal, karena tidak adanya metode latihan atau buku panduan khusus untuk "Tadabbur" dan "Mengamalkan". Sedangkan Para Sahabat Nabi dalam mempelajari al-Qur'an sangat memperhatikan dua hal tersebut (taddabur dan amal), sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Ma'ud "Setiap seorang dari kami, apabila belajar sepuluh ayat al-Qur'an tidak menambah lagi sebelum memahami artinya dan kemudian dapat mengamalkannya" (Al-Thabari, 1/44).

Dan menariknya setiap waqafat ada beberapa pertanyaan yang kemudian bisa langsung dijawab oleh pembaca dalam kitab ini. Kitab ini dapat dipelajari sendiri, atau juga dengan berjamaah yang dibimbing satu musyrif atau lebih. 

Selamat menikmati Kitab ini bagi yang sudah memiliki. Bagi yang belum, entah bagaimana cara mendapatkannya, karena kitab ini hadiah dari Mudir al-Ma'had al-Bi'sat Yala Thailand beberapa tahun lalu, ketika al-Faqir mengisi Pelatihan Guru Bahasa Arab untuk Guru-Guru Agama di Yala.

Halimi Zuhdy
Malang, 2 Mei 2020

Ramadan Karim

Jumat, 15 Februari 2019

Pelajaran Bahasa Arab di Era Revolusi Industri 4.0

Halimi Zuhdy

Bahasa Arab di Indonesia sampai hari masih menjadi momok, selalu terkesan, "Bahasa Arab adalah pembelajaran yang sulit", "Bahasanya paling berat", dan "Kata-katanya sulit" serta ungkapan lainnya. Itu kesan, dari berbagai guru dan siswa di berbagai tempat (Ket, angket yang disebar ke berbagai madrasah dan sekolah). Namun, setelah mereka mendapatkan nutrisi dari pemateri workshop Pembelajaran Bahasa Arab, ternyata dugaan mereka salah, ternyata "mempelajari bahasa Arab" itu sangat mudah. Hanya bagaimana berpositif dengan bahasa Arab, dan menggalinya, serta memberlakukannya sebagai "bahasa" bukan sebagai "azimat".

Selama ini, peserta didik hanya diberi beban untuk memahami Nahwu dan Sharraf, sedangkan yang dipelajari adalah Maharah Kalam (Kemahiran berbicara), siswa jarang diberikan kesempatan untuk praktik berbicara, terkadang guru yang mengajar Maharah kalam, gurulah yang banyak berbicara, seperti cara mengajarkan istima', atau seperti berceramah saja, belum lagi cara mengevaluasinya.
Maka, di era al-Tsaurah As-shinaiyyah al-Arbiah (Revolusi Industri 4.0) ini. Guru atau dosen harus selalu menggali informasi perkembangan pembelajaran bahasa, baik thoriqahnya, materinya, dan lainnya.

Minggu, 28 Januari 2018

BELAJAR BAHASA ASING ITU, MUDAH

(Menjaring kata dan Membiasakan) 

Halimi Zuhdy
IG @halimizuhdy3011


"Belajar bahasa tidak harus orang cerdas, pintar dan hebat. Belajar bahasa hanya membutuhkan kesungguhan dan pembiasaan", Demikian kata Avin Nadhir,  Direktur Indocita Foundation Desa Inggris Singosari. 

Segudang kosa kata yang dimiliki, kalau tidak pernah digunakan dan dibiasakan, maka tidak akan pernah bisa berbahasa.Bahasa bukanlah ilmu, ia merupakan skill (maharah), skill hanya diperlukan keberanian untuk melakukan dan kebiasaan untuk diterapkan, serta yang paling penting "Kekuatan Diri Untuk Bisa Berbahasa". 

Dalam bahasa Arab ada ungkapan, al-Lughah Hiya al-Kalam (Bahasa itu adalah berbicara/mengungkapkan), bahasa itu harus diucapkan, dikatakan, dibahasakan. Maka, ada tiga syarat untuk cepat bisa berbahasa (baik:mendengar, membaca, berbicara dan menulis), dan tidaklah dibutuhkan teori yang melangit. Agar bisa berbicara bahasa Arab, misalnya, maka tiga syarat itu adalah; 1) berbicara, 2) berbicara, 3) berbicara. Demikian kamahiran yang lain. Artinya, dilakukan dan sipraktikkan. 

Jumat, 07 Juli 2017

Menulis Skripsi, Thesis, Desertasi itu Mudah

Halimi Zuhdy

Menulis skripsi bagi beberapa mahasiswa s1 atau mungkin mayoritas dari mereka masih terasa berat, karena bagi mereka, skripsi adalah pertama kalinya menulis karya ilmiah yang paling serius, dengan berbagai aturan yang ketat, dari; judul, latar belakang, rumusan masalah, metodelogi, kajian teori, cara pemaparan data, analisis, kesimpulan dan lainnya. Terkadang, untuk mendapatkan judulnya saja,  membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang satu tahun baru dapat “judul”, itupun kadang ditolak.he. 


Sebenarnya, menulis skripsi sangatlah mudah, mencari judul bisa hanya butuh waktu satu menit, mengerjakan satu bulan, insyallah cukup, bulan berikutnya ujian dan nikah.he. Bagaimana caranya? 
  1.  Membiasakan menulis karya ilmiah dari semester satu, atau menulis tugas makalah dengan serius, tidak copy paste (plagiasi). Maka berbahagialah mahasiswa, yang dosennya sering menyuruh untuk menulis, karena tugas mahasiswa adalah membeca, “menulis” dan mempresentasikan, 

Rabu, 10 Agustus 2016

CARA MUDAH DAN CEPAT MEMBACA KITAB KUNING





 Selalu ada yang menarik, ketika melakukan sesuatu, mencoba yang baru, membongkar yang lama dimodifikasi kembali, atau yang lebih menarik adalah berani untuk berbeda dengan merasakan hasilnya. Sesuatu tidak harus tetap, istiqomah, dan paten. Karena sesuatu yang dianggap bagus, belum tentu selamanya bagus, bisa saja ada yang lebih bagus, walau anggapan “bagus dan lebih bagus” sesuai dengan selera yang menilainya.

Kita sama-sama mengetahui, bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna, bahkan sesuatu yang dianggap sempurna, selalu tampak kekurangannya. Maka alFaqir beberapa tahun terakhir memperhatikan beberapa metode Membaca Kitab Kuning yang dianggap bagus oleh orang, tertanyata hasilnya diluar kenyataannya, atau kurang memuaskan, baik bagi pengguna dan juga bagi tutornya. Ketidakpuasan yang saya maksud, adalah ketika metode ini saya ujicoba sendiri setelah mengikuti serangkaian pembelajaran yang harus ditempuh, ya…metode itu hanya menjadi serangkaian seremonial tetapi kurang memuaskan. Tetapi, saya sangat salut bagi pendidik, guru, ustadz, kyai yang selalu mencari metode terbaru dalam mempermudah atau mempercepat bisa membaca kitab kuning, Karena tidak semua orang memiliki ide dan kemudian dituangkan dalam satu buku, yang kemudian diujicobakan, ada yang berhasil, ada pula yang tidak berhasil.

Sabtu, 31 Juli 2010

Petunjuk Umum dalam Pengajaran Berbicara Bahasa Arab

(Mudah-mudahan bermanfaat) Rusydi Ahmad Thuaimah memberi beberapa petunjuk berikut untuk digunakan dalam mengembangkan pengajaran kemahiran berbicara bahasa Arab sebagai bahasa kedua :

  1. Mengajarkan berbicara (mumarasah al-kalam) : yang dimaksud adalah siswa berbicara (melakukan/bi al-fi’l) dalam berbagai konteks. berbicara adalah kemahiran (maharah), siswa belajar berbicara dengan berbicara, bukan guru yang berbicara sedangkan siswa hanya mendengarkan, guru hanya memberikan instruksi-istruksi dan mengarahkan siswa untuk berbicara, bukan sebagai pembicara. 

2. Siswa mengungkapkan pengalamannya : siswa tidak dipaksa berbicara sesuatu yang tidak diketahui atau belum dikuasai, seharusnya siswa belajar sesuatu (materi) yang dapat mengantarkannya untuk berbicara. 

3. Berlatih untuk memperhatikan 

4. Tidak memotong pembicaraan dan sering memperbaiki : termasuk hambatan pembicara dari seorang pembicara adalah dipotong ketika berbicara, jika hal tersebut dapat menghambat pada seorang pembicara bahasa ibu (lughah al-um) apalagi pada pembicara bahasa target (lughah al-hadf), karena hal tersebut dapat melemahkan pembicara untuk melanjutkan pembicaraannya. 

5. Bertahap (tadarruj) : dalam kemahiran berbicara “tahapan” sangat dibutuhkan, karena berbicara adalah kemahiran (skill) yang terkonsep dan kerja pikiran yang integrative, dan belajar skill tidak cukup sehari dua hari, karena ia adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu yang cukup dan menuntut kesabaran dan kesungguhan. Oleh karena itu harus memperhatikan beberapa hal yang sesuai dengan setiap jenjang peserta didik (santri), sebagaimana berikut : a. Pemula (ibtida’) : barangkali isi dari konteks pembicaraan berkisar pertanyaan guru yang harus dijawab oleh siswa, dan disela-sela menjawab siswa belajar cara menyampaikan kata-kata, menusun kalimat, dan mengungkapkan ide. Guru menyusun pertanyaan sehingga siswa dapat menyusun tema dengan baik. Dan juga guru menyuruh siswa menjawab latihan-latihan lisan (al-tadribat al-syafahiyah), menghafal beberapa dialog dan menjawab secara lisan pertanyaan yang berhubungan dengan teks yang dibaca. b. Menengah (al-mutawassit) : tingkat menengah ini bisa menggunakan program : bermain peran (lu’bah al-daur), diskusi, mendiskripsikan kejadian yang dialami, menceritakan berita yang dilihat dan didengar dari Televisi, radio, dan berita-berita lainnya. c. Atas (mutaqaddim) : bagi tingkat atas, siswa dapat menceritakan sesuatu yang dikagumi, mendiskripsikan fenomena (madhar) dari berbagai fenomena yang ada, berbidato, berdebat (munadharoh), drama dll. Berikut adalah beberapa saran bagi para guru bahasa saat mengajar kemahiran berbicara yang penulis sarikan dari Hayriye Kayi dosen bahasa pada Universitas Nevada (Nevada, USA) : 1. Memberikan kesempatan maksimal kepada santri untuk berbicara bahasa Arab dengan lingkungan yang dipenuhi inspirasi, dan berbagi pengetahuan. 2. Melibatkan santri dalam setiap kegiatan berbicara. 3. Guru mengurangi waktu berbicara di kelas sambil meningkatkan waktu bicara siswa. 4. Menunjukkan tanda-tanda positif ketika mengomentari tanggapan siswa. 5. Mengajukan pertanyaan yang dapat memberikan gambaran selanjutnya, seperti "Apa maksudmu itu? Bagaimana Anda mencapai kesimpulan itu?" dalam rangka mendorong santri untuk berbicara lebih banyak. 6. Memberikan umpan balik tertulis seperti "Presentasi Anda benar-benar hebat.. saya benar-benar menghargai upaya Anda dalam mempersiapkan bahan dan efisien penggunaan suara Anda ..." 7. Tidak terlalu sering menyalahkan santri saat mereka berbicara. Mengoreksi kesalahan, tidak boleh mengalihkan mereka dari focus pembicaraan. 8. Melibatkan kegiatan berbicara bahasa tidak hanya di kelas tetapi juga di luar kelas (al-bi’ah al-mushtanaah); menghubungi orang tua dan orang lain yang dapat membantu mereka. 9. Menyediakan kosakata sebelumnya sebagai bekal santri dalam berbicara dan mereka membutuhkannya. 10. Diagnosa masalah yang dihadapi oleh para santri yang memiliki kesulitan dalam mengekspresikan diri mereka dalam bahasa target (al-hadf) dan menyediakan lebih banyak kesempatan untuk berlatih berbicara bahasa Arab.