السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 31 Juli 2010

Petunjuk Umum dalam Pengajaran Berbicara Bahasa Arab


(Mudah-mudahan bermanfaat)

Rusydi Ahmad Thuaimah memberi beberapa petunjuk berikut untuk digunakan dalam mengembangkan pengajaran kemahiran berbicara bahasa Arab sebagai bahasa kedua :
1. Mengajarkan berbicara (mumarasah al-kalam) : yang dimaksud adalah siswa berbicara (melakukan/bi al-fi’l) dalam berbagai konteks. berbicara adalah kemahiran (maharah), siswa belajar berbicara dengan berbicara, bukan guru yang berbicara sedangkan siswa hanya mendengarkan, guru hanya memberikan instruksi-istruksi dan mengarahkan siswa untuk berbicara, bukan sebagai pembicara.
2. Siswa mengungkapkan pengalamannya : siswa tidak dipaksa berbicara sesuatu yang tidak diketahui atau belum dikuasai, seharusnya siswa belajar sesuatu (materi) yang dapat mengantarkannya untuk berbicara.
3. Berlatih untuk memperhatikan
4. Tidak memotong pembicaraan dan sering memperbaiki : termasuk hambatan pembicara dari seorang pembicara adalah dipotong ketika berbicara, jika hal tersebut dapat menghambat pada seorang pembicara bahasa ibu (lughah al-um) apalagi pada pembicara bahasa target (lughah al-hadf), karena hal tersebut dapat melemahkan pembicara untuk melanjutkan pembicaraannya.
5. Bertahap (tadarruj) : dalam kemahiran berbicara “tahapan” sangat dibutuhkan, karena berbicara adalah kemahiran (skill) yang terkonsep dan kerja pikiran yang integrative, dan belajar skill tidak cukup sehari dua hari, karena ia adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu yang cukup dan menuntut kesabaran dan kesungguhan. Oleh karena itu harus memperhatikan beberapa hal yang sesuai dengan setiap jenjang peserta didik (santri), sebagaimana berikut :

a. Pemula (ibtida’) : barangkali isi dari konteks pembicaraan berkisar pertanyaan guru yang harus dijawab oleh siswa, dan disela-sela menjawab siswa belajar cara menyampaikan kata-kata, menusun kalimat, dan mengungkapkan ide. Guru menyusun pertanyaan sehingga siswa dapat menyusun tema dengan baik. Dan juga guru menyuruh siswa menjawab latihan-latihan lisan (al-tadribat al-syafahiyah), menghafal beberapa dialog dan menjawab secara lisan pertanyaan yang berhubungan dengan teks yang dibaca.

b. Menengah (al-mutawassit) : tingkat menengah ini bisa menggunakan program : bermain peran (lu’bah al-daur), diskusi, mendiskripsikan kejadian yang dialami, menceritakan berita yang dilihat dan didengar dari Televisi, radio, dan berita-berita lainnya.

c. Atas (mutaqaddim) : bagi tingkat atas, siswa dapat menceritakan sesuatu yang dikagumi, mendiskripsikan fenomena (madhar) dari berbagai fenomena yang ada, berbidato, berdebat (munadharoh), drama dll.


Berikut adalah beberapa saran bagi para guru bahasa saat mengajar kemahiran berbicara yang penulis sarikan dari Hayriye Kayi dosen bahasa pada Universitas Nevada (Nevada, USA) :
1. Memberikan kesempatan maksimal kepada santri untuk berbicara bahasa Arab dengan lingkungan yang dipenuhi inspirasi, dan berbagi pengetahuan.
2. Melibatkan santri dalam setiap kegiatan berbicara.
3. Guru mengurangi waktu berbicara di kelas sambil meningkatkan waktu bicara siswa.
4. Menunjukkan tanda-tanda positif ketika mengomentari tanggapan siswa.
5. Mengajukan pertanyaan yang dapat memberikan gambaran selanjutnya, seperti "Apa maksudmu itu? Bagaimana Anda mencapai kesimpulan itu?" dalam rangka mendorong santri untuk berbicara lebih banyak.
6. Memberikan umpan balik tertulis seperti "Presentasi Anda benar-benar hebat.. saya benar-benar menghargai upaya Anda dalam mempersiapkan bahan dan efisien penggunaan suara Anda ..."
7. Tidak terlalu sering menyalahkan santri saat mereka berbicara. Mengoreksi kesalahan, tidak boleh mengalihkan mereka dari focus pembicaraan.
8. Melibatkan kegiatan berbicara bahasa tidak hanya di kelas tetapi juga di luar kelas (al-bi’ah al-mushtanaah); menghubungi orang tua dan orang lain yang dapat membantu mereka.
9. Menyediakan kosakata sebelumnya sebagai bekal santri dalam berbicara dan mereka membutuhkannya.
10. Diagnosa masalah yang dihadapi oleh para santri yang memiliki kesulitan dalam mengekspresikan diri mereka dalam bahasa target (al-hadf) dan menyediakan lebih banyak kesempatan untuk berlatih berbicara bahasa Arab.