السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 September 2025

Sirah dalam Syair: Jejak Nabi dalam Madih Nabawi


Halimi Zuhdy

Madih Nabawi, puisi yang memuji Rasulullah SAW, bukan sekadar karya sastra, tetapi sebuah perjalanan cinta. Ia lahir sejak detik pertama kelahiran sang Nabi, ketika kakeknya, Abdul Muthalib, menatap cucu bercahaya lalu bersyair:

وأنت لما ولدت أشرقت الأرض وضاءت بنورك الأفق
Saat engkau lahir, bumi pun bercahaya, dan cakrawala bersinar oleh nurmu.
Dari bait sederhana itu, lahirlah tradisi panjang: puisi yang bukan hanya bercerita, tetapi mengabadikan kerinduan.

Kasidah-kasidah madah (pujian) pada Rasulullah tidak pernah usai. Sebelum terutusnya menjadi seorang Nabi, pujian-pujian itu mengalir deras kepada Abu al-Qasim. Akhlaqnya yang begitu agung menjadi magnet bagi penyair-penyair Arab untuk dinarasikan dalam lontar-lontar mulia. Misalnya, Waraqah bin Naufal  membacakan puisinya di hadapan Sayyidah Khadijah Al-Kubra, tentang akhlak Nabi Muhammad yang akan diutus. Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah al-Anshari bin al-Umr al-Qais (W 8 H) termasuk tiga penyair hebat yang dengan gigih menghadang serangan-serangan orang musyrik dengan kasidah-kasidah indahnya, serta pujian-pujian indah tentang pribadi Rasulullah.

Al-A’sya Maimun bin Qais (W 8 H), yang dijuluki Al-A’sya (Rabun), salah satu penyair Jahiliyah Ashhabul Mu’allaqat. Juga memuji-muji Rasulullah sangat indah, walau hidayat belum menyertai kematiannya. Nabiuun yara mala tarauna wa dzukruhu aghara la’amri fi al-biladi wa anjada. Abdullah bin al-Zab’ary (W 15 H), penentang keras Islam dan Nabi Muhammad, sebelum memeluk Islam, setelah mengenal lebih jauh Islam dan Nabi Muhammad, kasidah-kasidah Indah mengalir mengitu lembut tentang seorang Muhammad, Rasulullah. Abbas bin Midras (w 18 H), masuk Islam setelah bermimpi Rasulullah, Ketika bangun dari tidurnya, membakar semua patung-patungnya. Pujian tentang Nabi ukir sangat indah, Inna al-Ilah bana ‘alaika mahammadan.

Ratusan penyair dari berbagai masa, dari sebelum Hijrah sampai ribuan tahun setelahnya (tahun 1430 H) mereka menggambarkan keagungan Nabi Muhammad, akhlaknya yang sangat agung, seperti Penyair India; Kamala Saraya (1430 H). Walid al-‘Adhami (1425), Abdullah al-Barduni (1420 H), Nizar Qabbani (1419 H), Muhammad Amin al-Quthbi (1404 H)

Para peneliti berbeda pendapat: ada yang meyakini madih nabawi muncul sejak era Nabi, dibawa oleh suara Ḥassān ibn Thābit, Kʿab ibn Mālik, dan Kʿab ibn Zuhayr—penyair yang syairnya “Bānat Suʿād” diabadikan Nabi dengan hadiah burdah suci. Namun ada juga yang menilai bahwa madih nabawi sebagai genre baru justru menguat di abad ke-7 H melalui al-Būṣīrī dengan al-Burdah-nya yang melegenda.

Apapun pendapatnya, satu hal pasti: madih nabawi selalu menemukan momentumnya, baik di Timur maupun di Barat Islam. Dari Mesir hingga Maghrib, dari Syam hingga Andalusia, setiap penyair mewarisi satu hal yang sama: kerinduan kepada Rasulullah.

Sumber inspirasi madih nabawi tak pernah lepas dari Al-Qur’an dan sunnah, lalu diperkuat oleh literatur sirah. Nama-nama besar seperti Ibn Hishām, Ibn Isḥāq, al-Būṭī, al-Ghazālī, hingga al-Nadwī menjadi referensi utama. Puisi mereka bukan puisi kosong; ia berakar dari teks suci, dari sejarah, lalu mekar menjadi bunga-bunga estetika.

Bayangkan bagaimana gema “Ṭalaʿa al-badru ʿalaynā” masih kita nyanyikan hingga hari ini sebuah bukti bahwa madih nabawi bukan sekadar teks, tapi pengalaman spiritual kolektif umat. Di tangan para sufi, madih nabawi bahkan menjelma doa, dzikir, dan lantunan rindu.

Madih nabawi adalah tafsir rasa dari sirah nabawiyah. Jika kitab sirah memberi kita peristiwa, puisi memberi kita ruh peristiwa itu. Ia membuat kita bukan hanya tahu, tetapi juga merasa.

Maka, setiap bait madih nabawi sejatinya adalah ziarah: ziarah ruhani menuju sosok yang menjadi teladan sepanjang zaman Muhammad SAW.

***
Ket Gambar: Manuskrip langka ʿUyūn al-Athar karya Ibnu Sayyid al-Nās (w. 734 H) tersimpan di Perpustakaan Alexandria. Naskah ini pernah dimiliki Imam al-Buhūtī (w. 1051 H), lengkap dengan catatan tangan beliau, dan kini terjaga dengan baik setelah direstorasi. Di web tawaseen. com. Dr. Muhammad Sulaiman

Selasa, 26 November 2024

Puisi Unik, Masa Ottoman dan Mamluk



Halimi Zuhdy

Pertama kali melihat gambar lingkaran di atas, saya kira adalah jimat sejenis rajah. Saya perhatikan huruf perhuruf, kata dan kalimat, ternyata bukan. Ia adalah bait-bait indah puisi Arab masa lalu.  Ia contoh seni sastra dalam bentuk شعر الدائرة (syi'r al-dairah) atau puisi lingkaran, yang populer pada masa Dinasti Mamluk dan Ottoman (ustmaniyah). Aha, ini penting untuk dicari contoh lainnya. 
Bentuk puisi ini adalah bagian dari inovasi sastra (ibda' al-adab al-araby) di era tersebut, namun seiring waktu mulai ditinggalkan. Sayangnya, puisi-puisi seperti di atas, sering menghilang dan bahkan lenyap, bila tidak ada generasi setelahnya yang melanjutkan, baik puisi tentang politik, sosial, dan lainnya, dan juga kurangnya naqit yang peduli tentang karya seperti di atas.

Setelah dilacak di beberapa referensi saya menemukan keterangan cukup asyik. Bahwa puisi ini dimulai dari pusat lingkaran dengan huruf 'ع' dan berbunyi

عشقتكَ نورا من مقامك يسطع * وعيني غدت من فرط عشقك تدمع

Setiap baris puisi ini berakhir dengan huruf yang menjadi awal dari baris berikutnya. Misalnya, kata تدمع (tadamma') pada akhir baris pertama, dibalik menjadi عمدت (ammadat) yang menjadi awal baris kedua, dan begitu seterusnya. Teknik ini menciptakan pola yang saling terhubung, menunjukkan keindahan dan kerumitan seni puisi pada masa tersebut. Tidak hanya menekankan kesahisan kaidah arudhiyahnya, tapi juga pada setiap titik-titik lingkarannya. Asyik banget. 

Kalau ditilik lebih dalam puisi dan lingkaran dalam gambar tersebut, ada hubungannya yang sangat erat. Erat sekali, seperti dua kekasih yang sulit dilepas.wkwkwkw. Gambar lingkaran pada puisi di atas menunjukkan hubungan visual antara bentuk puisi dengan struktur kata-katanya. 

Uniknya, tampak ada konsep berulang dan tak terputus. Dan lingkaran melambangkan sesuatu yang berulang dan tak berujung, seperti aliran perasaan cinta dalam puisi ini. Setiap akhir baris puisi kembali ke awal baris berikutnya, mirip dengan bentuk lingkaran yang tidak memiliki titik akhir atau awal yang jelas. Ini menekankan sifat abadi dari cinta yang diungkapkan oleh penyair. Amazing.wkwwk. 

Juga, yang menarik adalah simetri Puisi dan struktur kata. Dalam puisi ini menggunakan teknik palindromik (mutanawib), dalam Al-Qur'an juga kita menjumpai beberapa Ayat. Apa itu mutanawib? di mana kata di akhir baris bisa dibalik atau digunakan lagi untuk memulai baris berikutnya. Dalam gambar lingkaran, setiap segmen saling berhubungan dan mengarah kembali ke pusat (huruf 'ع' di tengah), mencerminkan simetri dan keterkaitan kata dalam puisi tersebut. Aha. 

Coba perhatikan lebih dalam lagi, kita akan menemukan pusat sebagai simbol cinta (romzu al-hubb). Apa itu? Huruf Ain (ع). Huruf 'ع' di tengah lingkaran, yang merupakan awal dari kata عشق (cinta), menjadi titik pusat dari semua baris puisi. Ini melambangkan cinta sebagai pusat atau inti dari keseluruhan puisi, di mana segala sesuatu berpusat pada satu emosi yang kuat. Dahsyatiyah, kata ada sastra Arab 😁

Apakah masih ada lagi keunikannya?, ada dong. Yaitu bentuk estetika visual dan makna puitis. Penggunaan bentuk lingkaran (dairah) juga menambah nilai estetika pada puisi ini, menjadikannya tidak hanya indah secara puitis tetapi juga secara visual. Setiap baris puisi melingkari pusat lingkaran, menciptakan pola artistik yang menggambarkan perasaan cinta yang mengelilingi dan merangkul.

Khalasahnya, ia bukan hanya sekedar gambar, sekedar lingkaran atau bukan hanya sekedar bentuk pemanis, tapi gambar lingkaran di atas adalah bagian integral dari makna puisi, di mana setiap baris saling berkaitan dalam satu aliran cinta yang tak terputus. Wow. Cinta🤩🥰. Serasa muda lagi. 

Malang, 10 November 2024

***
@sorotan

Jumat, 13 Agustus 2021

Puisi Arab yang dianggap Paling Sulit

Halimi Zuhdy

Puisi Arab (الشعر العربي) adalah ungkapan yang berwazan (pola wazan), berirama, dan bermakna. Definisi ini  yang sering kita baca dalam literatur Arab. 
Orang-orang Arab menjadikan puisi sebagai diwan, silsilah, kisah, dan catatan harian mereka. Mereka menyimpannya dengan rapi, bait-baitnya fushah, sehingga puisi dijadikan marja' dalam berbagai kajian bahasa. Puisi Arab pada waktu itu dianggap karya paling orisinil. (dalam Hayatuk) 

Kehadiran Al-Qur'an dengan kalimatnya yang indah, sudah tidak asing buat mereka, karena mereka sudah biasa berkelindan dengan kata-kata indah nan fusha, tetapi pesan dan kalimatnya yang membuat mereka terhentak. Puisi Arab pada waktu itu adalah kata-kata paling fasih, terukur, dan berwazan. Kehadiran al-Qur'an dianggap menyalahi aturan puisi Arab, sehingga mereka menyebut Nabi Muhammad sebagai panyair dan penyihir, karena kalimat-kalimat Al-Qur'an berbeda dengan puisi. 

Beberapa bait puisi Arab yang dianggap paling sulit (lafal, makna, dll) 

تدفق في البطحاء بعد تبهطلِ *** وقعقع في البيداء غير مزركلِ

وسار بأركان العقيش مقرنصاً *** وهام بكل القارطات بشنكلِ
Karya Laits bin Farghadnafari

عِشِ اِبقَ اِسمُ سُد قُد جُد مُرِ اِنهَ رِفِ اِسرِ نَل
 غِظِ اِرمِ صِبِ اِحمِ اِغزُ اِسبِ رُع زَع دِلِ اِثنِ نُل

Bait-bait di atas karya Al-Mutanabbi, penyair yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah. 

أقيموا بني أمي، صدورَ مَطِيكم
 فإني، إلى قومٍ سِواكم لأميلُ
 فقد حمت الحاجاتُ، والليلُ
 مقمرٌ وشُدت، لِطياتٍ، مطايا وأرحُلُ
Puisi ini dikenal dengan Lamiyatul al-Arab,  dan bait-baitnya masih panjang,  puisi ini dikenal sulit dan rumit. Puisi-puisi dirajut oleh An-Syanfari (di antara penyair Sha'aliq). 

حَلَّت سُلَيمى بِخَبتٍ أَو بِفَرتاجِ
 وَقَد تُجاوِز أَحيانًا بَنى ناجِ
Amr bin Kulsum (penyair Jahili yang dikenal dengan penyair Muallaqat)

Dalam vedio ini, puisi yang dianggap paling sulit dalam pelafalannya.

Rabu, 26 Mei 2021

Palestina, A'iruna Madafiukum

Halimi Zuhdy

Selalu merinding, bila mendengar bocah Palestina ini membaca puisi tentang "Palestina"

Pertama kali saya mendengar ia membacakan puisi berjudul "Airuna Madafiakum" (أعيرونا مدافعكم),  intonasinya, mimiknya yang sesuai dengan isi puisinya, bahasa tubuhnya yang seakan-akan dialah yang melakukannya. Cerdik bagaimana ia memainkan irama, bagaimana membuat penekanan-penekanan dalam setiap bait puisinya. 
Ia diam meresapi, mengobarkan kembali. Seakan-akan diamnya, bukan karena diam, ia bara yang akan tersulut kapan pun. Seperti bait puisi "Atadhu Annaka Qad Tamasta Hawiiyati.." "Apakah kira kau telah menghapus identitasku dan menghapus sejarah dan keyakinanku/Kau hanya bercanda, tidak ada sejengkal pun bagi penjajah, saya laksana kiamat yang suatu saat akan datang padamu"

Tentang palestina tidak  pernah selesai, ia selalu menjadi kisah heroik, entah sampai kapan?. Kita doakan bersama, mudah- mudahan Allah berikan kemenangan dan kemerdekaan, mudah-mudahan kisah Khalifah Umar bin Khattab bisa kembali bercerita, walau dengan cerita berbeda. Ketika pasukan Islam mengepung kota suci di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid, Sophronius masih menolak menyerahkan Yarusalem kepada umat Islam kecuali bila Khalifah Umar datang sendiri. Umar benar-benar datang, ia menunggangi keledai dengan ditemani seorang pengawal. Mereka benar-benar takjub dan terheran-heran atas kesederhanaan Umar.  

Puisi "A'iruna Madafi'akum" karya Dr. Abdul Ghani At-Tamimi, bukan hanya dibacakan oleh bocah kecil Pelstina seperti dalam vedio di bawah ini, tetapi ia dibaca oleh banyak penyair, tetapi si bocah ini benar-benar membawa perasaan dan jeritan sendiri, seperti jeritan anak-anak Palestina lainnya. Si bocah ini pula yang mendeklamasikan puisi dengan judul "Falestini, Ana Ismi" sungguh, seakan-akan kita adalah bagian dari negara yang belum menjadi negara dengan berbagai bara yang selalu berkobar di dalamnya.

Halimi Zuhdy
Admin IG @puisi_Arab
ﻗﺼﻴﺪﺓ ﺃﻋﻴﺮﻭﻧﺎ ﻣﺪﺍﻓﻌﻜﻢ

ﺩﻛﺘﻮﺭ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻐﻨﻲ ﺍﻟﺘﻤﻴﻤﻲ

ﺃﻋﻴﺮﻭﻧﺎ ﻣﺪﺍﻓﻌﻜﻢ ﻟﻴﻮﻡ ﻻﻣﺪﺍﻣﻌﻜﻢ...ﺃﻋﻴﺮﻭﻧﺎ ﻭ ﻇﻠﻮﺍ ﻓﻲ
ﻣﻮﺍﻗﻌﻜﻢ....
ﺑﻨﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ! ﻣﺎﺯﺍﻟﺖﻣﻮﺍﺟﻌﻨﺎ ﻣﻮﺍﺟﻌﻜﻢ ، ﻣﺼﺎﺭﻋﻨﺎ
ﻣﺼﺎﺭﻋﻜﻢ
ﺇﺫﺍ ﻣﺎ ﺃﻏﺮﻕ ﺍﻟﻄﻮﻓﺎﻥﺷﺎﺭﻋﻨﺎ... ﺳﻴﻐﺮﻕ ﻣﻨﻪ
ﺷﺎﺭﻋﻜﻢ.....
ﺃﻟﻴﺲﻛﺬﻟﻚ؟؟....
ﺑﻨﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻣﺎ ﺯﺍﻟﺖ ﻣﻮﺍﺟﻌﻨﺎ ﻣﻮﺍﺟﻌﻜﻢ ، ﻣﺼﺎﺭﻋﻨﺎ
ﻣﺼﺎﺭﻋﻜﻢ
ﺇﺫﺍﻣﺎ ﺃﻏﺮﻕ ﺍﻟﻄﻮﻓﺎﻥ ﺷﺎﺭﻋﻨﺎ ﺳﻴﻐﺮﻕ ﻣﻨﻪﺷﺎﺭﻋﻜﻢ..
......
ﺃﻟﺴﻨﺎ ﺃﺧﻮﺓ ﻓﻲﺍﻟﺪﻳﻦ؟
ﺃﻟﺴﻨﺎ ﺃﺧﻮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻗﺪ ﻛﻨﺎ... ﻭ ﻣﺎﺯﻟﻨﺎ؟ ﻓﻬﻞ ﻫﻨﺘﻢ ﻭ
ﻫﻞﻫﻨﺎ؟؟ !!
ﺃﻳﻌﺠﺒﻜﻢ ﺇﺫﺍ ﺿﻌﻨﺎ؟؟ ﺃﻳﺴﻌﺪﻛﻢ ﺇﺫﺍ ﺟﻌﻨﺎ؟؟ ﻭ ﻣﺎ ﻣﻌﻨﻰ
ﺑﺄﻥ ( ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ ﻣﻌﻨﻰ ) ؟؟
......
ﺃﻟﺴﻨﺎ ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡﺇﺧﻮﺗﻜﻢ؟؟ ﺃﻟﻴﺲ ﻣﻈﻠﺔ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ
ﺗﺠﻤﻌﻨﺎ؟؟ ﺃﻋﻴﺮﻭﻧﺎﻣﺪﺍﻓﻌﻜﻢ...
ﺃﻋﻴﺮﻭﻧﺎ ﻭﻟﻮ ﺷﺒﺮﺍ ﻧﻤﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻸﻗﺼﻰ ﺃﺗﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻤﺤﻰ
ﻭﺟﻮﺩﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻷﻗﺼﻰ؟؟ﻭﺃﻥ ﻧﻤﺤﻰ !
ﺃﻋﻴﺮﻭﻧﺎ ﻭ ﺧﻠﻮﺍ ﺍﻟﺸﺠﺐ
ﺃﻋﻴﺮﻭﻧﺎ ﻣﺪﺍﻓﻌﻜﻢ ﻭ ﺧﻠﻮﺍ ﺍﻟﺸﺠﺐ ﻭﺍﺳﺘﺤﻴﻮﺍ ﺳﺌِﻤﻦ
ﺍﻟﺸﺠﺐ ﻭﺍﻟﺮﺩﺣﺎ
.......
ﺃﺧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻣﺘﻰﺗﻐﻀﺐ؟؟ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻬﻜﺖ ﻣﺤﺎﺭﻣﻨﺎ
ﻗﺪ ﺍﻧﺘﻬﻜﺖ !
ﺇﺫﺍ ﻧﺴﻔﺖ ﻣﻌﺎﻟﻤﻨﺎ ﻟﻘﺪﻧﺴﻔﺖ ! ﺇﺫﺍﻗﺘﻠﺖ ﺷﻬﺎﻣﺘﻨﺎ ﻟﻘﺪ
ﻗﺘﻠﺖ !
ﺇﺫﺍ ﺩﻳﺴﺖ ﻛﺮﺍﻣﺘﻨﺎ ﻟﻘﺪﺩﻳﺴﺖ ! ﺇﺫﺍ ﻫﺪﻣﺖ ﻣﺴﺎﺟﺪﻧﺎ
ﻟﻘﺪﻫﺪﻣﺖ !
ﻭ ﻇﻠﺖ ﻗﺪﺳﻨﺎ ﺗﻐﻀﺐ ... ﻭﻟﻢ ﺗﻐﻀﺐ ! ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﻣﺘﻰ
ﺗﻐﻀﺐ؟؟
ﺇﺫﺍ ﻟﻠﻪ ..ﻟﻠﺤﺮﻣﺎﺕ..ﻟﻺﺳﻼﻡ ، ﻟﻢ ﺗﻐﻀﺐ !
ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﻣﺘﻰﺗﻐﻀﺐ؟؟
........
ﺭﺃﻳﺖ ﺑﺮﺍﺀﺓ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻓﻲﺍﻟﺸﺎﺷﺎﺕ ﻛﻴﻒ ﻳﻬﺰﻫﺎ
ﺍﻟﻐﻀﺐ... ﻭ ﺭﺑﺎﺕ ﺍﻟﺨﺪﻭﺭﺭﺃﻳﺘﻬﺎ ﺑﺎﻟﺪﻡﺗﺨﺘﻀﺐ...
ﺭﺃﻳﺖ ﺳﻮﺍﺭﻱ ﺍﻷﻗﺼﻰ ﻛﺎﻷﻃﻔﺎﻝ ﺗﻨﺘﺤﺐ... ﻭ ﺗﻬﺘﻚ ﺣﻮﻟﻚ
ﺍﻷﻋﺮﺍﺽﻓﻲ ﺻﻠﻒ ﻭ ﺗﺠﻠﺲ ﺃﻧﺖ ﺗﺮﺗﻘﺐ !
ﻣﺘﻰ ﺗﻐﻀﺐ؟؟
......
ﺃﻟﻢ ﺗﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻓﻲﺍﻷﻗﺼﻰ ﻋﻤﺎﻟﻘﺔ ﻗﺪ ﺍﻧﺘﻔﻀﻮﺍ
ﺃﺗﻨﻬﺾ ﻃﻔﻠﺔ ﺍﻟﻌﺎﻣﻴﻦﻏﺎﺿﺒﺔ ﻭ ﺻﻨﺎﻉ ﺍﻟﻘﺮﺍﺭ ﺍﻟﻴﻮﻡ
ﻻﻏﻀﺒﻮﺍ ﻭﻻ ﻧﻬﻀﻮﺍ !
ﺃﻟﻢ ﻳﻬﺰﺯﻙ ﻣﻨﻈﺮ ﻃﻔﻠﺔﻣﻸﺕ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺟﺴﻤﻬﺎﺍﻟﺤﻔﺮ !
ﻭﻻ ﺃﺑﻜﺎﻙ ﺫﺍﻙ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﻓﻲﻫﻠﻊ ﺑﻈﻬﺮ ﺃﺑﻴﻪ ﻳﺴﺘﺘﺮ ! ﻓﻤﺎ
ﺭﺣﻤﻮﺍ ﺍﺳﺘﻐﺎﺛﺘﻪ ﻭﻻﺍﻛﺘﺮﺛﻮﺍ ﻭﻻ ﺷﻌﺮﻭﺍ !
ﻓﺨﺮّ ﻟﻮﺟﻬﻪ ﻣﻴﺘﺎ ﻭﺧﺮّ ﺃﺑﻮﻩﻳﺤﺘﻀﺮ........
ﺃﺭﺃﻳﺖ ﻫﻨﺎﻙ ﻓﻲ ﺟﻨﻴﻦ ﺃﻫﻮﺍﻻ ؟.. ﺃﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺪﻡ ﺷﻼﻻ؟
ﺃﺭﺃﻳﺖﺍﻟﻘﻬﺮ ﺃﻟﻮﺍﻧﺎ ﻭ ﺃﺷﻜﺎﻻ؟ ﻭﻟﻢ ﺗﻐﻀﺐ !!
ﻓﺼﺎﺭﺣﻨﻲ ﺑﻼ ﺧﺠﻞ ﻷﻳﺔﺃﻣﺔ ﺗﻨﺴﺐ

Selasa, 23 Juni 2020

Mata dan Penyair yang Majenun

#SeriPenyairArab1

Halimi Zuhdy

Sudah puluhan tahun puisi Idris Jamma' ini terus menghiasi buku-buku ghazal (cinta). Apalagi di era digital, beberapa bait puisinya yang disertai narasi kisah kegilaanya terus berlayar. Puisi-puisinya dinobatkan sebagai salah satu puisi terindah di era modern.

Alkisah, seorang pujangga Sudan yang diterpa badai cinta tak mampu menahan hempasan, gelombang, dan pendar rindu. Ia seperti kehilangan akalnya, meracau, entah apa yang lontarkan. Ia menulis sejarah cinta yang tak pernah usai dalam hidupnya. Ia gagal dalam arung cinta, hanya bisa terpesona, tapi tak mampu menangkapnya. Terheran-heran, tak mampu menatapnya. Dahaga, yang didapatkan fatamorgana. Ia pintar, tapi tatapan wajahnya kelabu. 

Suatu hari, Ia berjalan tak tentu arah. Seperti kehilangan kendali dirinya. Akhirnya ia harus mendekam di rumah sakit jiwa. Orang menyebutnya 
Idris Jamma', seorang penyair Sudan yang terlahir pada tahun 1922 M dan meninggal di Khurtum 1980 M. 

Karena sakitnya yang tak kunjung usai. Mentalnya yang terus kelabu. Kerabatnya memutuskan untuk membawanya ke Inggris untuk mencari tempat yang dapat membuatnya tenang, berdamai dengan penyakitnya. Ketika sampai di bandara, mata Idris Jamma' seperti menatap cahaya. Ternyata ia lagi memandangi seorang wanita, matanya tak mampu ia katupkan. Ia pandang begitu dalam. Suami wanita itu sepertinya risih, dan berusaha menutup pandangan Idris pada istrinya. 

Tetiba, Idris meracau indah, seperti mutiara yang keluar dari kerangnya. Keluar kalimat-kalimat seorang pujangga yang belum selesai dari kisah cintanya:

ﺃَعَلىَ ﺍﻟﺠَﻤَﺎﻝِ ﺗُﻐﺎﺭُ ﻣِﻨَّﺎ....مَاﺫَﺍ ﻋَﻠﻴْﻨﺎ ﺇﺫ ﻧَﻈَﺮْﻧﺎ

Apakah dicemburu, karena kecantikan itu
Apa salahnya bila aku sekedar memandangnya

ﻫِﻲ ﻧَﻈْﺮَﺓٌ ﺗُﻨﺴِﻲ ﺍﻟﻮَﻗَﺎﺭَ...وﺗُﺴﻌِﺪ ﺍﻟﺮّﻭﺡَ المُعنَّى

Pandangan yang membuat linglung ketenangan
Membuat girang jiwa yang merana

ﺩُﻧْﻴَﺎﻱَ ﺃنْتِ ﻭﻓَﺮْﺣَﺘﻲ...ومُنَي ﺍﻟﻔُﺆَﺍﺩِ ﺇﺫَﺍ تَمَنَّي

Duhai surgaku, engkau sukacitaku
Obat penawar kalbu bagi yang merindu-rindukan

ﺃَنْتِ ﺍﻟﺴَّﻤﺎﺀُ ﺑَﺪَﺕ ﻟﻨﺎ...واﺳﺘﻌﺼﻤﺖ ﺑﺎﻟﺒُﻌﺪِ ﻋﻨَّﺎ

Engkau cakrawala yang menderang kami
tapi mengapa engkau jauhkan tuk meraihnya

وَنَظَرْتُ في عيْنَيك آفاقًا وأسْرارًا ومعْنَى
Kusaksikan di kedua bola matamu, cakrawala, rahasia dan makna

Untaian kata pujangga Sudan ini sontak membuat banyak mata terbelalak. Riuh kabar kalimat cinta menyebar ke segala pelosok Arab. Dan sampai ke telinga pujangga Mesir, Abbas Mahmud al-'Aqqad. Pujangga ini pun bertanya-tanya kepada pembawa berita,  "Siapakah yang menggubah syair seperti ini?"
Mereka menjawab,
أنه ﺳﻮﺩﺍﻧﻲ  ﻭﻳﺪعى ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺟﻤَّﺎﻉ  وهو الآن ﻓﻲ مستشفي ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ.
Kalimat ini dirajut oleh pujangga Sudan, sedangkan ia sekarang lagi dirawat di rumah sakit jiwa, 

  قاﻝ: ﻫﻲ ﻣﻜﺎﻧﻪ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻻ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﻋﺎﻗﻞ ... !!!
Mendengar jawaban ini, Abbas Al-Aqqad berkomentar.."Hal ini memang wajar, kalimat indah ini tidak mungkin keluar dari orang waras...!!"

Tidak hanya untaian bait-bait puisi cinta yang mengalir pada wanita yang di temuianya Bandara. Tapi banyak wanita yang telah menjadi pigura dalam sejarah kata-katanya. Pada suster yang merawatnya di rumah sakit London pun membawa kegundahan dan ronta jiwanya. Pandangannya menatap tajam suster itu, hingga suster cantik itu risih dan terusik. 

Resah. Suster ini pun mengadu pada direktur rumah sakit. Saran direktur pada suster ini, agar menggunakan kaca mata hitam ketika memeriksa, melayani dan merawatnya. 

Saran direktur pun dilakukan suster yang berparas cantik itu. Keesokan harinya, matanya tertutup kaca mata hidup. Ia melangkah ke ruang Idris Jamma' dengan percaya diri, dan harapan tatapan pujangga Sudan ini tak menguliti matanya. Tapi yang terjadi, pujangga ini tak berhenti menatap dan keluar bait-bait puisi dari letupan bibirnya.

ﻭﺍﻟﺴَّﻴﻒُ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﻤْﺪِ لا ﺗﺨﺷﻰ ﻣﻀَﺎﺭبه .. ﻭسَيْف ﻋﻴْﻨَﻴْﻚَ ﻓﻲ ﺍلحالتين ﺑﺘَّﺎﺭُ
Pedang yang tersarung, tak ada yang gentar hunusnya
Tapi tajamnya pedang matamu, ditutup atau tidak ia tetap melukai

Suster ini hanya bisa diam. Ia tidak memahami apa yang diungkap sang pujangga. Ia bergegas keluar ruangan. Dan bertanya-tanya, apa arti bait puisi yang diungkap Idris Jamma. Setelah ia tahu makna puisi itu. Ia tak mampu menahan awan mendung air matanya, menetes, kagum dengan rangkaian bait yang ditujukan padanya.

#PuisiArab #SastraArab #SeriKajianSastraArab

Sabtu, 18 April 2020

Aku Mencintaimu Ya Rasul, Apakah Kau Menerima Cintaku?

Beberapa hari yang lalu seorang Arab mengirimkan vedio madah yang berjudul "Uhibbuka Ya Rasulallah, Fahal Taqbal?"  dan sebelumnya saya menulis kisah Sayyidah Aisyah sampai tiga judul tulisan. Puisi ini menghentikan saya untuk melanjutkan judul ke empat tentang "Sayyidah Aisyah dan Candradimuka". 

Saya dengarkan puisi ini beberapa kali, serasa saya terbawa pula untuk mengatakan yang sama "Fahal Taqbal, apakah kau menerima cintaku". Dan serasa tak elok, bila menulis kisah Ummul Mu'minin bila belum bershalawat pada Sang Baginda Nabi. 

Puisi ini dirajut oleh Abd al-Aziz Jaudah, tentang rasa cinta yang menggebu kepada sang Baginda Rasul, tapi kemudian ia mempertanyaan cintanya sendiri, apakah cintanya diterima oleh Sang Baginda?. Puisi sangat panjang sekali, namun hanya beberapa ungkapan yang saya terjemah.  
*********
Aku Mencintaimu Ya Rasulallah
Apakah Kau Menerima Cintaku?

Karya: Abd al-Aziz Jaudah

Benar 
Aku tak pernah melihat binar cahaya di wajahmu 

Dan tak sekali pun mendengar lembut indah suaramu

Dan aku tak pernah pula membawakan pedang dalam rombongan perangmu

Aku tak pernah sehari pun menghancur leburkan diriku dengan bara merah laksana kobaran api, dan tak pula ikut kecamuk perang Uhud

Aku tak pernah ikut perang Badar melawan gerombolan kafir

Aku tak pernah ikut hijrah, Aku juga bukan dari golongan Anshar

Aku juga tak pernah sehari pun membawa bekal menuju bibir goa 

Tapi, wahai Nabiyallah...
Demi Allah, Aku benar-benar mencintaimu dari lubuk hatiku laksana deru angin yang menusuk relung

Apakah Engkau menerima cintaku, wahai...Rasulallah?
Apakah Engkau menerimanya?

Sungguh. 
Aku benar-benar datang terlambat ke sini, tempatmu. Tapi Aku bukan bermaksud hilah
 
Andai seseorang dapat menghantarkan dirinya kapan pun, Aku kan berharap untuk datang lebih awal

Aku sendiri masih bingung
Siapalah Aku di antara Sahabat dan orang-orang pilihan itu
Aku bukan "Anas" yang melayanimu
Aku bukan "Umar" yang mendukungmu sepenuh hati
Aku bukan "Abu Bakar" yang selalu membenarkan sabdamu
Aku juga bukan "Ali" yang menjagamu
Aku bukan "Usman" yang mendukungmu
Aku bukan "Hamzah" bukan pula "Amr", juga bukan "Khalid".

Islamku, sungguh aku dapatkan dari orang tuaku, ia sebuah kehormatan bagiku

Aku belum pernah  mendengar gema takbir "Bilal", tubuhku tak pernah dipanggang hidup-hidup di padang sahara penuh gersang

Aku tak pernah ikut menghancurkan berhala, 
Aku juga belum pernah berperang melawan orang-orang kafir 
Tanganku tak pernah dikerat dalam kecamuk perang

Tak ada tombak yang menghujam tubuhku, kemudian merobek-robek jantungku

Aku tak pernah membawa bendera perang
Aku tak pernah menghadapi musuh dengan pongah gagah berani
Dan Aku tak pernah memegang erat bendera Islam
Aku hanyalah seorang anak yang merindumu, ya merindumu

Tapi...Ya Rasulallah
Diriku sungguh mencintamu ya Rasul, cinta Allah sungguh erat

Aku mencintaimu... Ya Rasul
Cinta yang bukan hanya ungkapan taqwa dan iman

Bukan pula karena Aku seorang muslim, bukan juga karena Aku mabuk kepayang
 
Aku cinta, bukan karena Aku seorang hamba dan diperintah oleh Sang Ar-Rahman
Aku mencintaimu dari relung hatiku, ia pelebur hausku

Aku adalah tetes air di tepi bibirku dan dalam  cinta selalu ada rindu yang dahaga

Aku mencintamu ya Rasulallah

Aku mencintai Muhammad sebagai manusia 
Aku rindu Muhammad yang selalu berlaku adil,  wajahnya yang berseri-seri bila bila memberi maaf
Aku mencintamu Muhammad, jujur  bila bersabda
Aku mencintaimu  Muhammad yang menebar kebaikan pada seluruh manusia, suka memberi tanpa minta belas kasih

Aku mencintai Muhammad yang berkahlak mulia

Aku mencintai Muhammad yang penuh belas kasih
Aku mencintai Muhamamd yang memuliakan tetangga 
Aku merindu Muhammad sebagai ayah yang penuh cinta
Aku merindu Muhammad   yang teguh dalam berjanji
Aku merindu Muhammad, seorang suami yang adil laksana timbangan manakala berbagi

Aku merindu Muhammad  yang jujur manakala berkata dan bersumpah 

Aku mencintai Muhammad 
Aku mencintai Muhammad yang penyabar
Aku mencintai Muhammad sang panglima
Aku mencintai Muhammad yang zuhud
Aku mencinta Muhammad yang harum ketika merekah

Aku mencintai Muhammad dalam Goa
..menaninya...
Jibril..di sini
Awal mula turun At-tanzil 

*********

Firman Allah
Mengguncang alam semesta yang di bawahnya

Dari atas, suara itu 

Ana al-Wahid
Ana al-Wajid
Ana al-Majid

 Maha suci Allah 
 dari berbagai agama kami bertandang di hari itu
tanpa alas kaki, kita semua telanjang
laksana anak ayam tanpa bulu-bulu
bagai anak hilang 
Kami semua panik, mencari Engkau Ya Rasul
Kami memohon sambil merengek: Ya Rasulallah

Ajirna ajirna Ya Rasul...
tolonglah kami dari siksaan hari ini
kasihanilah kami ..
dari bencana dahsyat menakutkan yang menimpa kami

Engkau berdiri di depan kami semua
Ya Rasul
Mohonlah pada Allah, agar
Dia mengampuni kami
Janji ini dari Tuhan kami

Wahai kasih yang penuh kasih
buatlah kami tenang
ketakutan ini akan membunuh kami

Kami di sini Ya Rasul
Buatlah tangisan dan rengekan kami berhenti

Di hadapan Allah
Aku bukanlah siapa-siapa, dan tak punya apa-apa

Tak ada yang mengenalku, dan aku tak mengenal siapa

Kecuali harapanku
Barangkali ampunan dapat menyelimuti 
Dengan mencintaimu, Ya Rasulallah

Penerjemah Halimi Zuhdy
Malang, Jum'at 17 April 2020

Ket Gambar: Google. Pinteres

Minggu, 15 Maret 2020

قصيدة "كورونا بيده"

كورونا بيده

✒  حليمي زهدي الإندونيسي
Halimi Zuhdy

اذ أتاك كورنا عليك سكون
لاتكن متوترا كل قدر بيده

وان ضاقت عليك أخبار شر
تذكر كل موت يأت على إذنه

فلاتحزن بذلك بل تحافظ
فيروسات وأوبئة من خلقه

يرفع الوباء بالدعاء واختيار
هو الرحمن كسر بلية بملكه

ورب الناس ماتو بالطاعون
وكوليرا وفولينزا تم بقدره

نشر كورونا ولايعرف بلدان
من لم يحسن حرك بتحركه

كل بلية بالوباء لها حكمة
وبعد العسر يسرا في قرآنه

الناس بالوباء كأسنان مشط
في السوق وغيره خاليا لأجله

فاستعذ بالله واستعد بالمجيء
غدا او بعده لم نعرف على امكانه

لو كان الموت يستقبل بليلة
البقاء والفناء يجريا بقانونه

احسن الوضوء بكثرة الصلاة
فكم من كرب فرج الله بقربه

اغسل اليد وتحافظ بكمامة 
ان خاف حجر صحي لمكانه

كن متواضعا بالوباء لاتكبرا
وسل مولاك شافيا على بلائه

مالانج إندونيسيا، ١٥ مارس ٢٠٢٠

#قصيدة_كورونا
#شعر_كورونا

قصيدة كورونا

https://instagram.com/puisi_arab?igshid=1mqg96ueznhkv

Jumat, 08 September 2017

DARAH ROHINGYA, TAK AMIS LAGI

Halimi Zuhdy

Tubuh-tubuh tak berdosa dibantai
Anak-anak dibuat tumbal
Para Wanita, besar kecil dilacurkan
Setiap jengkal tanah, dihanguskan
Manusia bak bangkai, dibiarkan, tuk anjing yang datang

Rumah-rumah dibakar
Muslim-muslim terpanggang,
tak sempat mengerang
Mulut-mulut dibungkam
Sang Jendral beri penunjuk, "bakarlah"
Tidak seperti perang, tapi pembantaian besar-besaran
Bukan hanya kaum ekstrimis Budha, tentara pun menyerang

2013, sudah dibantai, Rohingya menjerit, dunia diam
2016, dibantai, diusir, ada suara samar
Kini, tahun ini, 2017, masihkah diam
Doa dipanjatkan
Harta dihantarkan
Diplomasi disungguhkan
Pemerintah, kuasanya digunakan
PBB turunlah tangan, mereka yang pembantai, penjarakan

Amerika yang biasa teriak, kini juga bungkam
Seperti banci, jika muslim dibantai dan diserang

Sungguh,
Rakhine jadi neraka jahanam
Siang kelam, mataharipun tenggelam
Anjing menggonggong, melolong dalam
Syuhada' siap jadi makan malam
Sungguh, ini kebiadaban
Atas nama apapun, manusia yang dibantai

Kami teriak, mereka bersorak
Kami menangis, mereka tambah bengis
Kami berdoa, mereka semakin berontak

Muslim Rohingya "begal" kata mereka
"Pendatang" kata mereka
Apakah kita dengar "kata mereka"

Dunia ini milik Tuhan,
Kalau ada hak milik dan pengakuan
Tak apalah, tapi janganlah membantai, menghancurkan

350 jiwa syuhadak, pekan ini
Genosida kata Turki
20 ribu terusir, Rohingya, dari bumi

Sungguh, kebiadapan tak kan berhenti
Kalau dunia masih diam dan mati

*Dosen Fak. Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang*

PP. Darun Nun Malang
www.darunnun.malang

https://www.instagram.com/p/BYjl6kcA91k/

Kamis, 06 Oktober 2016

PRAJAB; Menjabat “Pra” Jabatan




 Halimi Zuhdy


Malam berselimut gelap
Melihat bulan penuh harap
Cahayanya bertandang, kau gegap
Malam itu, kau penuhi dengan pesta; keangkuhan, keserakan, kesombongan
Malam itu, benar-benar kau mabuk; tahta, harta, warta, berita, dan jejal mata
Malam itu, kau sangka, kau telah menjadi “raja”

Kawan!!! ini masih malam
Cahaya hampir memudar
Rembulan kan kembali ke peraduan
Mengapa kau masih siap-siap berpesta lagi, tar kau kecanduan

Kawan!!!! Ini masih malam
Rembulan tertutup awan, kita harus pulang
Gelap akan datang, serombongan serigala akan menantang

Selasa, 17 November 2015

Duka para Burung




Halimi zuhdy 

Meriahnya gersang, 
menorehkan duka burung burung yang tak lagi bernyanyi 
Pagi Merangkai siul di krangkeng kemewahan 
Wajahnya sendu, 
berselimut pekat 

Rumah rumah bertingkat, 
merayakan hasrat,.
burung bungkam pengap di hotel ini, 
kulihat burung burung besi berpesta, 
membawa sejuta cita, 
dengan angkuhnya berkata, "kubawa orang orang besar di dalamnya, menuntun dunia

Kamis, 01 Oktober 2015

Sajak-Sajak Halimi Zuhdy Jawa Post 27-9-2015



IHRAM

di tengah gurun, angin melipatkan debu
menghembuskan suara detak, di balik kain-kain putih yang melilit

labbaik-labbaik Allahumma labbaik
labbaik-labbaik Allahumma labbaik
suara getar, memanggil asma, menyambut lapang
Tuhan hadir dalam relung dan jasad

datang tak membawa batang
tak menyisakan butir yang nyinyir dalam gemerlap tahta
meninggalkan kerumunan sorak sorai diri yang kadang tersisa, walau harus basi
kain ihram, tak bersulam, meratapidiri suka mabuk puji

Selasa, 29 September 2015

Luka, Yang Kurindu


-maafka------------

maaf, aku pernah menggores luka yang telah luka
maaf, luka itu membuat seribu luka baru dalam batinmu
maaf, lukamu ternyata telah membusuk menjadi luka luka baru
dan sekali lagi saya mohon maaf, kalau luka itu membuat kau menjadi rindu padaku.
dan tolong maafkan aku, kalau hari ini luka itu sudah menjalan keseluruh tubuhmu,
jangan marah ya, dan sekali ini terima maafku, kalau luka itu telah membiru dan menjadi diriku ini,


"terimakasih kau telah membuat luka dalam hidupku" itu katamu.

terima kasih juga, kau mau untuk saya lukai dengan seribu jarum hatiku,
aku tak bermaksud melukaimu, hanya karena dengan luka itu, aku bisa masuk keseluruh tubuhmu.

 maafkan luka

Rabu, 03 Juni 2015

KAWAH CINTA

Untuk Guruku D. Zawawi Imron


Halimi Zuhdy 


Kaulah penjaja cinta
yang tak pernah lelah
oleh terik mentari, hempas gelombang
tusuk duri, gersang gurun,
gelap malam, terjal Arjuna,
celoteh penguasa yang penuh dusta,
kau jajakan cinta pada Maha Cinta
Kau kumandangkan alunan cinta
Dari desa yang terpencil
Ke kota yang penuh bising
Bahkan ke manca negara yang tak pernah hening dan pesing
Kau alunkan kata-kata rindu
Lewat saja-sajak syahdumu

Selasa, 12 Mei 2015

Langit Rinduku, Berserak



Halimi Zuhdy


Kau tahu, langit yang kau ciptakan tahun lalu
Menggiring awan duka di hatiku
Kini mentari yang kubuat, juga tak mampu menyinari bumi
Ku ingin langit itu hancur bersamamu
Atau, matahari tak muncul lagi

Aku tahu semuanya, hanya mimpi
Biarkan! dunia yang kita ciptakan, berada di dunia Tuhan yang hakiki.
memoles kata tuk cinta, bukan keserakahan 

Malang, 12-5-2015

Jumat, 20 Maret 2015

NASIB BANGSAKU

Halimi Zuhdy




Ku berpijak di tanah luhur
Berumput hijau nan subur

Kekayaan melimpah ruah
Tak habis walau dijarah

Berganti musim bergantipemimpin
Berganti rakyat semakin melarat

Rakyat sekarat, pemimpin nikmat
Nasib bangsaku semakin terlumat

Wakil rakyatku, beranjang sana ke luar negeri
Bermain-main, mencari pengalaman diri

KEBERMAKNAAN SETENGAH KATA

 

Halimi Zuhdy

“CAP, CIP,CUP”

Setelah shalat jamaah Dhuhur, Bapak Faishol Fatawi salah satu dosen Humaniora  dan Budaya sedikit bercanda pada saya untuk menuliskan kata “cup, cap, cip”, mungkin dengan kata aneh tadi bisa memberikan unpan dari pembaca, dengan sedikit guyon  saya menimpali, “ok” ini luar biasa memberikan makna untuk membuncah seribu keindahan. Dengan sedikit intrepretasi dari tiga kata itu (entah sudah bisa disebut kata atau belum, mungkin setengah kata), orang dapat menikmati hidup jika sudah melakukan tiga kata itu.

MERANGKAI MALAM

 
Halimi Zuhdy

Malam ini terasa senyap
Bulan bintang pada tak bertandang
Gemercik air mulai menghilang
Dari genting kerinduan

Angin sepoi, beraroma kesturi
Mempengaruhi tidur lelapku
Mimpi-mimpi sorga, yang tak begitu menggoda
Membuatku, terjaga membangunkan asa