السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juli 2018

ISLAM NUSANTARA YES, ISLAM TANPA NUSANTARA YES, TAK BER-ISLAM NO

(Indahnya Perbedaan)
Halimi Zuhdy 

"Islam itu selalu mengajarkan persatuan dan kekokohan, toh kalau ada perbedaan di dalamnya, itu adalah hal biasa, karena Perbedaan adalah Rahmah, seperti yang kini lagi marak, perbedaan Islam Nusantara dan Islam tanpa Nusantara, keduanya biasa saja menurut saya, apalagi keduanya punya argumentasi sendiri-sendiri, dengan ijtihad sendiri". Saya sampaikan dalam suatu forum, dengan tema "Bagaimana menghargai perbedaan". 

"Ustadz tidak tegas, dan tidak punya pendirian". Tegas santri pada saya.
"Apanya, yang tidak tegas?". Saya menyanggahnya. 

"Kalau ustadz punya pendirian, ya kalau percaya, akui saja Islam Nusantara, kalau tidak sepakat, tolak dong ustadz". Ia mencoba memahamkan. 

"Apakah tegas itu harus memilih "Ia" atau "Tidak", bukankan memilih di antara keduanya juga sebuah ketegasan dalam memilih. Bukankah setiap kepala punya ide, setiap tubuh punya sikap, dan setiap orang punya pilihan sendiri". Papar saya, Sedikit menekankan pada bahwa pilihan itu banyak, tidak hanya dua. 

Saya melanjutkan, "Bukankah Islam juga mengajarkan kepada kita, bagaimana bersikap wasathan, tengah-tengah, dan Islam Nusantara atau Islam tanpa Nusantara, bukanlah wajib atau mubah, bukanlah haram dan sunnah, ia hanya sebuah ijtihadi. Silahkan yang mau mengikuti, dengan alasannya yang kuat, dan juga yang menolak dengan alasan pula. Buktinya, ditubuh NU sendiri juga ada perbedaan, apalagi yang di luar NU, hal itu biasa, dan NU biasa dalam sebuah perbedaan. Maka lihatlah, bagaimana bahsul masail yang mengajarkan perbedaan itu menentukan sebuah hukum, tapi pada akhirnya juga ada sikap dan konsekwensi dari hukum itu". Tegas saya pada santri. 

"Tapi ustadz, kalau mengakui Islam Nusantara,  nanti dianggap pengikut leberal dan anti Arab,  dan kalau tidak mengakuinya dianggap keluar dari NU, NU keras, dianggap tidak paham NU, bahkan dianggap aliran lain, dan lainnya sebagainya? " ia mencoba mencari celah. 

"Tidaklah, Islam Nusantara itu tidak sampai pada pemahaman aqidah dan aliran tertentu, gara-gara percaya sama Islam Nusantara kemudian shalatnya berubah, tuhannya berganti, hajinya di Nusantara, itu terlalu sempit. Atau sebaliknya, bagi yang menolak Islam Nusantara, dianggap beraliran keras atau lainnya, hal itu juga tidak, buktinya ada kyai yang menolak Islam Nusantara juga bukan aliran keras dan saya yakit tetap di NU". Saya mencoba meluruskan anggapan itu. 

"Mari, sesama muslim Nusantara dan di luar Nusantara, yang paling penting sekarang adalah satukan tekat untuk menuju keberagamaan yang baik,  demi  kebangkitan umat, baik dalam ekonomi, pendidikan, kesejateraan, keamanan, dan lainnya, tidak sibuk perang di medos hanya gara-gara istilah, bukannya saya menyepelkan istilah, tapi bagaimana berargumentasi yang akademis bukan emosional, dan sampai-sampai keluar istilah hewan yang tidak pantas diucapkan, kecebong kampret dan istilah-istilah yang tidak dewasa". Sambil  tersenyum dengan keringat yang mulai mengurai.
"Kalau kau ingin mempertajam pisau, maka asahlah" saya melanjutkan materi IKHTILAF ITU CANTIK. 

Pisau, jika lama tidak digunakan akan karat, bahkan akan rusak dan tidak akan dapat digunakan lagi. Tapi, jika ia digesek (diasah) dengan batu, atau benda keras lainnya, akan tajam.
Demikian pula, jika umat ingin tambah dewasa, maka gesekan kadang memang harus terjadi, maka ikhtilaf itu sebuah keniscayaan. Sekali lagi "ikhtilaf", bukan "tafarruq".

Persatuan itu penting, tapi tidak harus menolak perbedaan, bukankah indahnya siang, karena kita melewati malam, dan indahnya malam, karena siang pergi dengan senyum manisnya. 

Para Sahabat, Tabiin, dan setelahnya, juga tidak lepas dari perbedaan. Seperti, para sahabat yang berbeda penentuan warisan untuk nenek (al-jad) pada masa Abu Bakar, Umar Al Faruq dengan Zaid bin Stabit tentang kata _Al-Quru'_, pada masa Ustman bin Affan berbeda dalam hal _siyayah_, Ali bin Abi Thalib juga pernah berbeda dengan Muawiyah, dan Istri Nabi, Aisyah. 

Belum lagi ikhtilaf para aimmah, kemudian melahirkan madzhab-madzhab. Itulah sebuah keindahan, yang membangkitkan gairah akademik tinggi, saling mengasah kecerdasan, pemikiran dan melahirkan berbagai pendapat, yang tentunya berangkat dari satu pohon, Al-Quran dan Al Hadis, yang membuahkan ijma', dan pendapat para alim. 

Ikhtilaf, bukanlah berangkan dari ego, nafsu, kesombongan, kepentingan pribadi atau kelompok, yang melahirkan "tafarruq", tapi "ikhtilaf" berangkat dari sebuah kemurnian "ijtihad". Maka,  di sanalah indahnya, tidak saling melaknat, tidak saling mengkafirkan, tidak saling bersitegang, apalagi saling bunuh. Kadang miris sekali, melihat antraksi Medsos hari ini,  bukannya hanya bully, tapi saling mengkafirkan, melaknat, dan fitnah yang membakar, bukan lagi _iktilaf ummah rahmat_ yang selalu berdasar pada dalil, tetapi _tafarruq_ yang tercela.

Mudah-mudahan cepat selesai, dan duduk tawadhu', dimulai dari para ulama dan didukung para pemimpin negeri. 

Suatu kali
"اَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ  ، كَانَ يَقُولُ : مَا سَرَّنِي لَوْ  أَنَّ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَخْتَلِفُوا ، لأَنَّهُمْ لَوْ لَمْ يَخْتَلِفُوا لَمْ تَكُنْ رُخْصَةٌ
“Tidaklah menggembirakanku jika saja para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berbeda pendapat,” kata Umar bin Abdul Aziz seperti diabadikan dalam Al Inabah Al Kubra dan Faidhul Qadir, “karena jika mereka tidak berbeda pendapat maka tidak akan ada rukhshah atau keringanan.”

"Agar lampu menyala, sambungkan dua kutub kabel yang berbeda" mari kita nyalakan lampu Islam, walau selalu ikhtilaf, jadikan ia sebatas berbeda pendapat, bukan perceraian ukhuwah islamiyah. 

Permisalan di bawah ini, penulis ibaratkan, karena iktilah adalah kecantikan;
"Jika kau ingin membuat almari, maka gergajilah kayunya"
"Kayu tambah indah, jika diamplas"

Seharusnya ikhtilaf melahirkan persatuan, melahirkan kekuatan ruh, melahirkan keindahan, Islam. Tidak melahirkan arognasi kedirian dan ego sekterian.
Salam ukhuwah islamiyah

khadim PP. Darun Nun
www.darunnun.com
Wakil Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Malang
www.halimizuhdy.com

Kamis, 22 Maret 2012

PARADOKS



Halimi Zuhdy

Sore menjelang pentang datang seorang gadis ke kosanku, ia cantik, bermuka oval, kulitnya bak kemilau mutiara diterpa mentari, jilbabnya menjuntai tanah, kulitnya ditutupi kaos kaki, pandangannya menatap tajam ke setiap penjuru ruangan. Aku sedikit heran, kenapa ia menatap ruanganku dengan pandangan curiga, seakan-akan ada sesuatu yang ingin ia cari dan wajib menemukannya. Wanita yang tanpa basa-basi itu merobek seluruh gambar yang menutupi dinding kamarku, ada gambar grup Musik, Ayu yang lagi berpelukan dengan seseorang, ada gambar-gambar yang hanya pakai bikini dan BH, ia merobeknya dengan geram, kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya astaghfirullah. Beberapa menit kemudian, ia duduk di lantai, sambil merobek gambar-gambar menjadi bagain-bagian kecil, sampai wajah-wajah idolaku tidak lagi tanpak seorang manusia. Dengan amarah yang memuncak, saya mengambil buku yang ada di lemari untuk dilemparkan kepadanya, tapi tiba-tiba ia bertanya:

“mas, kenapa kamu memasang gambar-gambar kurang ajar ini?” dengan ketusnya, sambil melemparkan wajahnya kearah barat.
“emang, apa urusanmu, dengan gambar-gambar ini?” jawabku
“kamu ini muslim kaffah atau munafik, atau bahkan kafir sih”? ia bertanya dengan pandangan menatap ke lantai yang masih kotor.

walau wajahnya tertutup kerudung, tapi aku merasakan, ada gumpalan emosi yang menggelantung di dadanya. Seakan-akan gambar artis adalah musuhnya, ia benci sekali dengan gambar-gambar yang tidak memakai penutup aurat, atau gambar roker yang menyebar kegilaan, kadang sambil mabuk, gambar wanita setengah telanjang, atau artis penganut satanis. Dengan rasa penasaran, aku tanya kenapa dia harus merobek gambar-gambar inspiratif itu, dia yang mampu menghilangkan risau dikala stress, memberikan motivasi untuk bersenang-senang, bahkan dapat memberikan obat dalam keadaan hampa.

“mbak, apa yang membuat mbak melakukan ini semua”? aku masih mencoba menahan emosi, agar tidak terjadi pertengkaran.
“hai, kamu masih bertanya, “kenapa”? ia semakin geram. Ia melanjutkan kata-katanya dengan semakin keras.

“kamu terpesona dengan gambar-gambar jelek ini, apakah ini yang membawa kamu menuju jalan Allah, apakah dengan ini jiwamu bisa stabil, bisa tenang, bisa beraktifitas membantu orang-orang yang lagi kesusahan, apakah ini tujuan hidupmu, kau tidak sadar bahwa hidup ini bukan main-main”
“mbak, emangnya mbak tahu diriku” sedikit aku ajak guyon, dan mencoba mengalihkan emosinya. Tapi apa jawabannya.

“hei James, aku bukan tidak tahu apa yang kau perbuat selama ini, walau kamu tidak tahu aku, tapi aku tahu apa yang selalu kamu lakukan di sini, di luar bahkan di kampus” wajahnya semakin memerah, seakan-akan ia akan melahapku, dan seakan-akan sudah lama kata-kata itu tersimpan dalam dirinya.

“emang, kamu tahu apa tentang diri saya?” aku penasaran sekali, benarkah dia tahu perbuatanku sehari-hari.

“kamu suka merokok kan?” ia bertanya dengan nada yang tak begitu jelas
“ia, memangnya kenapa?” aku balik bertanya.

“kamu merokok, berarti kamu sudah terjebak dalam kehidupan ini, membunuh dirimu pelan-pelan dengan ketidak sadaran kamu, kemudian kamu pacaran, itu juga kamu lakukan dengan terang-terangan, sudah tak tahu malu, sesuatu yang dilarang dalam Islam untuk bersentuhan dengan lain janis yang bukan mahram, malah kamu lakukan. bukan hanya itu…kamu suka nonton film bokep juga kan?” ia mencoba membenarkan apa yang dia duga selama ini pada saya.

“benar, aku merokok, aku juga pacaran, dan biasa nonton film bokep, tapi aku tidak pernah menyekutukan Tuhan, aku masih seperti kamu, muslim”. Aku mulai penasaran, apa yang dia akan lakukan pada saya.

“James, kamu ini gimana”? , muslim itu tidak boleh pacaran, dan biasanya dalam pacaran itu pegang-pegangan, Rasulullah melarang keras bagi muslim untuk menyentuh lawan jenisnya, apalagi sampai cium-ciumman, dan lebih jauh dari itu”. Nadanya mulai rendah, seakan-akan dia mengajariku tentang hakekat hidup.
“kalau lihat film Bokep, apa boleh?, aku kan tidak melakukan apa-apa hanya nonton, setelah itu, ya..beraktifitas seperti biasa”. Saya membela diri.

“James, kamu tahu tidak?!. Tahun 1994 di Yogyakarta 99 % mahasiswinya sudah tidak perawan lagi, ini kata Iip Wijayanto, sedangkan anak-anak SMP di Indonesia hasil survei BKKBN 35 % sudah pernah melakukan hubungan sek luar nikah, belum lagi anak-anak SMA, apalagi mahasiswi dan mahasiswa di Indonesia bisa saja sudah lebih dari 50 %, beberapa minggu yang lalu kalau kamu baca Koran, Indonesia urutan ke tiga pengakses film porno terbesar dunia, ini fakta lo”. Suaranya semakin lembut, seakan-akan saya di bawa kesuasana Indonesia yang nyata hari ini.

Tanpa sadar, aku meneteskan air mata, betapa saya selama ini menjadi budak-budak sosok yang ada di gambar yang sudah menjadi serpihan-serpihan itu, dan menirunya tanpa sadar. Betapa saya nista, berlumur dosa telah melakukan making love, melihat film porno yang jelas-jelas ditentang agama. Aku baru sadar, menapa perempuan ini merobek gambar-gambar di dindingku, yang selama ini mengantarkan pada imajinasi tinggi untuk menumbuhkan karya. Ternyata aku salah jalan. Bisik lirih dalam hatiku.

“James, kenapa aku robek gambar di kamarmu ini?, agar kamu merubah idolamu, coba tulisakan ayat-ayat al-Qur’an, kyiai yang pernah mendidik kamu, sampai kamu bisa kuliah di tempat ini, atau hadis-hadis yang inpiratif, dan itu yang dapat mengantarkan kamu pada ketenangan, bukan gambar setengan porno itu, dan kalau kamu ngenet coba cari tulisan-tulisan yang membuat kamu bangkit dan mendekat padaNya, bukan malah buka situs-situs yang dilarang”. Matanya yang tetap menatap lantai, walau suaranya tegas tapi tak ada permusuhan yang terselip dalam kata-katanya.

“terima kasih mbak, kamu telah memberikan ruang terang dalam relung hatiku, mudah-mudahan ini bisa membuat diriku berubah, beberapa kali aku diingatan oleh dosen dan teman-teman, tetapi aku belum menerimanya, karena setiap orang mempunyai jalan hidup, ternyata jalan hidupku hanya untuk bermain-main”.

“James, agar kau bisa disebut muslim beneran bukan muslim paradoks, maka berbuatlah apa yang telah diajarkan agama, tidak seperti kebanyakan wanita yang mengaku muslimah tapi masih pakek rok mini, baju ketat, suka bermaksiat, yang laki-laki juga, suka melakukan hal-hal yang dilarang agama., ini namanya paradosk James”. Jelasnya dengan menggetarkan hatiku.

“ia mbak, terima kasih telah mengingatkan saya”.

tiba-tiba perempuan itu menghilang dari hadapanku, tak ada kata yang terucap darinya, seakan-akan yang datang dan pergi untuk memberikan sambungan kabel hidayah Tuhan padaku. Terima kasih ya Allah telah mengutus seorang wanita yang membuatku sadar, bahwa perbuatanku selalu ini hanyalah kenikmatan hampa, ucapku lirih.

Malang, 22 Maret 2012

Kamis, 02 Juni 2011

Memahami Bid’ah

Halimi Zuhdy

“Kawan-kawan, kita sering dituduh sebagai ahli bid’ah, hanya gara-gara melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah dilakukan Rasul” tutur Kiai Nahidh
“ kiai, bagaimana kalau kita mengadakan dialog tentang bid’ah” Mas Fatah menimpali
“Fatah, dialog bagaimana maksud kamu?” kiai menyanggah
“dialog untuk memahami bid’ah yang sebenarnya, agar perilaku yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan Rasul, masak mengadakan tahlil, memperingati shalawat, doa bersama, qunut, dikatakan bid’ah, berarti ibadah kita bukan mendatangkan ibadah yai, tetapi mendatangkan dosa” Mas Fatah bersemangat sambil mengepalkan tangannya ke meja.
“Fatah….Fatah” yai Nahidh sambil menggeleng-gelengkan kepala. “kamu ini kayak gak tahu aja, saya sudah berkali-kali berbicara, dan diberbagai forum selalu saya singgung tentang bid’ah, ya..tetap saja mereka yang ngeyel tentang bid’ah, yang tetap tidak bisa berubah, seakan-akan mereka memahami bid’ah seperti paku bumi yang menancap di langit”
“yai, kita coba sekali ini saja, kita datangkan dedengkot mereka yang suka mengkafirkan, membid’ahkan dan bahkan mensyirikkan, saya sudah terlalu perih perut, telinga bising dan bahkan hati bergolak, saya tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak disukai Allah, saya hanya ingin memurnikan diri dan memahami tentang perbuatan yang kita lakukan setiap hari, agar ada gunanya dan tidak sia-sia” Fatah tetap ngotot.
“menurut kamu, siapa yang kamu ingin datangkan” kata kiai Nahidh
“bagaimana dengan Syeh Mahrus al-tusi” Fatah memberikan pandangan
“wah…! Sulit mendatangkan Syah itu, berkali-kali teman-teman sudah mengundangnya tidak pernah dating, alasannya banyak sekali, takut keamanannya kek, takut tidak fer kek, takut …dan takut yang lainnya, saya males mendatangkan orang yang tidak pernah jantang dalam berdialog untuk meluruskan sebuah karya ilmiah” Kiai Nahidh agak sedikit mengkerutkan keningnya.
Kemudian ia melanjutkan “Fatah, dia ngajak perang dengan tulisannya yang propokatif itu, kita di zaman yang modern ini seharusnya tidak berfikir hal ikhtilafiyah, ehhh malah memulai menghasut, bahkan dengan bahasa yang profokatif, dengan berbagai data yang tidak konsisten, saya sudah mempersiapakan beberapa sanggahan eh malah tidak datang, kalau ia benar-benar bisa mempertanggungjawabkan tulisannya, seharusnya ia datang, saya juga tidak yakin ia menulis dengan penuh keikhlasan dan bermaksud untuk memperbaiki umat, tapi dnegan nafsu, wallah a’lam” kiai Nahidh agak sedikit kesal, tapi masih sempat tersenyum.
Kiaki Nahidh masih menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata“Fatah, kamu tahu tidak?, gara-gara buku itu, banyak saudara-saudara kita yang bertengkar bukan berdebat, malah bermusuhan! Apa sih keuntungannya menulis buku yang propokatif seperti itu?, saya kadang tidak paham, beberapa tokoh sekarang, yang suka mencari ketenaran diri dengan menulis hal-hal yang sudah usang namun dengan perspektif baru yang kuno” . “maksudnya apa pak Yai, dengan menulis hal-hal yang sudah usang namun dengan perspektif baru yang kuno” sanggah Fatah
“maksudnya, hal itu sudah lama kita berdebatkan dan dialogkan, dan sudah mulai saling memahami bahwa kita berbeda madzhab dan juga beda penafsiran, mengapa harus ribut, ya sudah!. Kiai Nahidh sedikit menjelaskan.
“geh sampun yai, kalau begitu, kita undang saja orang-orang yang lebih bijak dan bermaksud untuk meluruskan perbedaan pemahaman, bukan untuk memperkeruh keadaan, alangkah bijaknya jika kita mengundang ………(Fatah diam sejenak)……..mengundang siapa ya kiai?” Fatah masih bertanya-tanya.
“terserah kamu Fatah, saya ikut saja, dia bertangdang saya datang, kalau saya yang memilih, nanti dikiranya ada maksud yang lain, wes kamu saja Fatah” kiai Nahidh sambil tersenyum
**********
Beberapa minggu dari itu, Fatah dan kawan-kawannya mengatur acara dengan tema “Dialog Bid’ah- antara Realitas dan Kreatifitas”….sebuah tema yang agak sastrawi, Fatah sengaja membuat tema yang agak sedikit nyeleneh dari biasanya. Dia ingin menggelar acara yang dapat diterima semua pihak, baik yang pro atau yang kontra. Fatah dan kawan-kawan mengundang Agus Basid sebagai moderator, kiai Nahidh dari pihak yang pro “bid’ah” (memahami bid’ah dalam pespektif lain) dan Ustadz Muhammad Wahib, Lc dari pihak kontra (selalu melihat sesuatu dari kaca bid’ah, dan tidak suka membagi antara hasanah dan sayyi’ah). Namun dialog itu tidak terlalu resmi, ya hanya semi resmi saja.
“Assala’mualaikum Bapak, Ibu dan saudara-saudari sekalian, hari ini kita akan mengadakan dialog tentang bid’ah, antara yang pro dan kontra” Agus Basid membuka dialognya “yang dimaksud dengan pro, bukanlah yang suka melakukan bid’ah, tapi pemahaman bid’ah menurut pemahamnya, demikian juga kontra sesuai dengan pemahaman bid’ah dalam porsinya” .
Agus Basid membacakan tata tertib dialog, para peserta mendengarkan dengan penuh hikmat, di antara tata tertibnya adalah masing-masing dari pemateri (peserta) dialog tidak menggunakan pokonya atau hanya alasa tampa landasan, setiap argumentasi hendaknya disertai dalil baik al-Qur’an atau hadis dengan beberapa kitab yang disepakati. Dan dilarang keras untuk mengejek satu sama lainnya.
Dan terjadilah dialog antara Kiai Nahidh dan Muhammad Wahib, Lc.
Muhammad Wahib : sebelumnya saya akan jelaskan dulu apa itu bid’ah,dan mohon tanggapannya, agar kita memahami apa bid’ah menurut guru saya yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadis. Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Allah berfirman.
Badiiu’ as-samaawaati wal ardli “Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]
Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.
Juga firman Allah :Qul maa kuntu bid’an min ar-rusuli
“Artinya : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9].
Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.
Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.
Dan perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :
[1] Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.
[2] Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.
Nahidh : Mari kita pahami bid’ah dengan lebih mendalam, menurut apa yang saya baca terhadap sabda Rasulullah SAW: كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
“Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’. (HR.Abu Daud dan Tirmidzi).
Al-Imam An-Nawawi, didalam Syarah Sahih Muslim, mengomentari Hadits ini dan berkata: “Ini adalah sebuah kaidah umum yang membawa maksud khusus (‘Ammun makhsus). Apa yang dimaksudkan dengan ‘perkara yang baru’ adalah yang bertentangan dengan Syari‘at. Itu dan itu saja yang dimaksudkan dengan Bid‘ah”.[8]
Demikian juga ayat Allah juga menjelaskan, ada bid’ah yang terpuji, sebagaimana firman-Nya :
وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللهِ
“Dan kami jadikan di hati mereka (Hawariyyun pengikut Isa) rasa kasih dan sayang serta Rahbaniyah yang mereka buat, Kami tidak mewajibkan rahbaniyah itu, (mereka tidak melakukan itu) kecuali untuk mencari keridhaan Allah”. (QS. Al-Hadid : 27)
Dalam ayat itu Allah menjelaskan bahwa Ia telah mengkaruniai Hawariyyun dengan tiga perkata. Pertama, rasa kasih, yakni berhati lembut sehingga tidak mudah emosi. Kedua, rasa sayang, yakni mudah tergerak untuk membantu orang lain. Ketiga, Rahbaniyah, yakni bersungguh-sungguh didalam mengharap ridha Allah, mereka berupaya dengan banyak cara untuk menyenangkan Allah, walaupun cara itu tidak diwajibkan oleh Allah.
Allah SWT memang menyebut Rahbaniyah itu sebagai Bid’ah yang dibuat oleh Hawariyun, itu bisa dipahami dari kalimat ibtada’uuhaa (mereka mengada-adakannya). Namun Bid’ah yang dimaksud adalah Bid’ah Hasanah. Hal ini ditunjang dengan dua alasan:
Pertama, Rahbaniyah disebut dalam rentetan amal baik menyusul dua amal baik sebelumnya, yaitu ra’fatan (rasa kasih) dan rahmatan (rasa sayang). Kalau memang Allah mau bercerita tentang keburukan mereka akibat membuat Rahbaniyah, tentu susunan kalimatnya akan memisahkan antara kasih sayang dan Rahbaniyah. Sedangkan kalimat dalam ayat itu justru menggabungkan Rahbaniyah dengan kasih sayang sebagai karunia yang Allah berikan pada Hawariyun.
Kedua, Allah SWT berkata “Rahbaniyah itu tidak Kami wajibkan”. Tidak diwajibkan bukan berarti dilarang, melainkan bisa jadi hanya dianjurkan atau dinilai baik. Ini mengisyaratkan bahwa Rahbaniyah itu adalah cara atau bentuk amalan yang tidak diperintah atau dicontohkan oleh Nabi Isa, akan tetapi memiliki nilai baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Isa. Bukti bahwa Allah SWT membenarkan Bid’ah mereka berupa Rahbaniyah adalah Allah SWT mencela mereka karena mereka kemudian meninggalkan Rahbaniyah itu. Ketika membuat Rahbaniyah menunjukkan upaya mereka untuk mendapat ridha Allah, maka meninggalkan Rahbaniyah menunjukkan kemerosotan upaya mereka untuk mendapat ridha Allah.[9]
Sebagian orang berkata: Ketika Nabi SAW berkata ‘semua bid’ah adalah sesat’, bagaimana mungkin ada orang yang berkata ‘tidak, tidak semua bid’ah sesat, tetapi ada yang baik’. Apakah ia merasa lebih tahu dari Rasulullah? Apakah ia tidak membaca ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتَرْفَعُوْا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi..” (Al-Hujarat : 2)
Mereka menyalahkan orang yang bersandar pada pendapat ulama salaf dan menganggap orang itu lebih mengutamakan ulama daripada Nabi. Hal ini merupakan pemikiran yang sempit dan termasuk penistaan terhadap kaum muslimin. Ada berapa juta muslimin shaleh yang meyakini keilmuan dan ketaqwaan al-Imam asy-Syafi’i sang penolong Sunnah (Nashirus-sunnah), Ibnu Hajar sang pakar yang hafal puluhan ribu Hadits beserta sanadnya, an-Nawawi sang penghasil puluhan ribu lembar tulisan ilmiah dan sebagainya?
Moderator : Ok, kita sudah pada mendengarkan bid’ah dari KH. Nahidh dan Ustadz Muhammad Wahib, L.c. keduanya memiliki pandangan yang berbeda tentang apa itu bid’ah. Saya tidak harus menjelask kembali, namun pada intinya Ustadz Wahib berpendapat bahwa setiap bid’ah adalah sesat, dan sebaliknya KH. Nahidh berpendapat bahwa bid’ah tidak semuanya sesat, ia membagi bid’ah dengan beberapa macam, yang berdasrkan pendapat ulama’-ulama’ salaf. Mari kita dengarkan kembali dialog keduanya :
Muhammad Wahib: Kami tidak menjelaskan pendapat kami berdasarkan pikiran kami, tetapi berdasarkan ulama’ salaf juga.
Nahidh : Ulama’ salaf yang mana yang Anda maksudkan ?
Muhammad Wahib: Ulama’ semisal Ibnu Taimiyah.
Nahidh: Bukankah telah jelas dalam pembahasan yang lalu, bahwa definisi Bid’ah semisal Ibnu Taimiyah masih perlu penjelasan lebih lanjut? Dan kemudian diperjelas oleh definisi yang dikemukakan oleh As-Syafi’i?
Muhammad Wahib: Saya rasa definisi dari Ibnu Taimiyah sudah jelas, tidak perlu penjelasan tambahan.
Nahidh: Berarti Anda menafikan adanya bid’ah yang baik. Kalau demikian, apa pendapat Anda tentang hal-hal baru seperti mush-haf al-Qur’an, pembukuan Hadits, fasilitas Haji, Sekolah dan Universitas Islam, Murattal dalam kaset dan sebagainya yang tidak ada di zaman Nabi?
Muhammad Wahib: Itu bukan bid’ah.
Nahidh: Lantas di sebut apa? Apakah hanya akan didiamkan setiap hal-hal baru tanpa ada status hukum dari agama (boleh tidaknya). Ini berarti Anda menganggap Islam itu jumud dan ketinggalan zaman.
Muhammad Wahib: (Diam)…. Baiklah, tetapi kami memiliki ulama’ yang memiliki penjelasan tidak seperti apa yang Anda jelaskan, ulama’ kami membagi Bid’ah menjadi dua ; Bid’ah agama dan Bid’ah Dunia.
Nahidh: Nah, memang seharusnya demikian. Lantas, siapa yang membagi bid’ah menjadi demikian?
Muhammad Wahib: Ulama’ semisal Albani dan Bin Baz. Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW, “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.”
Nahidh: Hadits tersebut bukan hanya ulama Anda yang mengetahui. Ulama’ salaf telah mengetahui Hadits tersebut, namun mereka tidak menyimpulkan demikian, karena itu berarti seakan-akan Nabi ‘mempersilahkan’ manusia untuk berkreasi dalam urusan dunia sesuka hati, dan Nabi ‘mengaku’ tidak banyak tahu urusan dunia. Baiklah, tidak usah kita berbicara terlalu jauh. Ketika ternyata Anda juga berdalih dengan pendapat ulama Anda, berarti kita sama-sama bersandar pada ulama. Sebuah pertanyaan buat Anda: Apakah Anda lebih percaya pada ulama Anda daripada ulama salaf yang hidup di zaman yang lebih dekat kepada zaman Nabi SAW? Apakah Anda mengira bahwa As-Syafi’i salah mendefinisikan Bid’ah -yang merupakan pokok agama maha penting- kemudian didiamkan saja oleh ulama salaf lainnya tanpa bantahan? Apakah Anda mengira Albani lebih banyak memahami Hadits dari Imam Syafi’i, Ibnu Hajar dan an-Nawawi?
Muhammad Wahib: Terdiam tidak menjawab.
Nahidh: Kami rasa tidak mungkin ulama Anda, seperti Ibnu Taimiyah, Albani dan Bin Baz sampai merasa lebih benar dari asy-Syafi’i, an-Nawawi, Ibnu Hajar, Al-Baihaqi dan ulama salaf lainnya. Mungkin ulama Anda hanya sekedar memiliki pemikiran berbeda, sebagaimana lazimnya ulama berbeda pendapat tanpa menyalahkan pendapat lain. Kami rasa Anda saja yang berlebihan dan kemudian menyalahkan ulama salaf demi membela pendapat ulama Anda. Kalau benar demikian, maka berarti Anda justru telah menistakan ulama Anda sendiri.
Moderator : itu beberapa perdebatan atau dialog antara KH. Nahidh dan Ustadz Muhammad Wahib, L.c, Karena waktu yang sangat sempit ini, dan kita tidak mungkin menuntaskan kajian bid’ah secara mndalam dan lebih dalam, maka insyallah dilain waktu kita akan adakan kembali dialog seperti ini untuk mengantarkan para hadirin dan orang-orang yang selalu memperdebatkannya sehingga memiliki pandangan yang lebih luas, dan tidak terbisa menggunakan kata “pokoknya” atau hanya mengklaim pendapat dirinya yang paling benar. Mari kita tutup dialog ini dengan doa kaffaratul majlis.

Malang, 03 Juli 2011

(beberapa dialog di atas diambil dari “kupas tuntas masalah bid’ah” dan beberapa refrensi lainnya, sedangkan dari permulaan tulisan ini hanya imajinatif penulis untuk memudahkan pembaca memahami bid’ah )