Halimi Zuhdy
Al-Faqir selalu senang kalau menilik perbedaan kata. Apalagi menemukan berbagai macam kata atau istilah dengan maksud yang dianggap sama. Walau Al-faqir yakin, tidak ada atau tidak akan ditemukan sebuah "kata" yang benar-benar sama ketika menunjuk pada susuatu. Kalau ada, mengapa ada kata lahir dengan bentuknya yang berbeda?. Berarti setiap kata yang lahir, pasti ada maksud lain (khas) yang dituju. Aha.
Toyyib. Kali ini, saya (ganti dari Al-Faqir, agar lebih sederhana) meneruskan kajian tentang tidur. Karena berbicara "tidur", selalu asyik dan menyenangkan. Pertama "tidur dalam Al-Qur'an", dan kedua "tidur dalam Bahasa Arab" (lebih umum).
Dalam Al-Qur'an (Ket: Fawaid fil Qur'anil Karim) ada 5 macam atau marahil. Oh ia, dalam kajian linguistik Arab, tidur bukan dipahami sebagai satu keadaan tunggal, melainkan memiliki spektrum makna yang sangat kaya. Bahasa Arab membedakan tidur berdasarkan tingkat kesadaran, kedalaman, dan durasi.
Tidur dalam Al-Qur'an
Karena itu, Al-Qur’an menggunakan beragam kosakata tidur secara tepat atau presisi. Misalnya kata مَنَام dalam ayat
وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ (QS. Ar-Rum: 23)
bersifat umum, menunjuk pada fenomena tidur sebagai keadaan manusia secara keseluruhan, tanpa menekankan apakah tidur itu ringan atau dalam. Ini sudah saya bahas sebelumnya (postingan FB).
Secara bertahap, bahasa Arab mengenal tingkatan paling awal yaitu as-sinah (السنة), berarti kantuk yang sangat ringan, sekadar “menghinggapi” mata, belum masuk tidur; Al-Qur’an menegaskan tentang Allah
: لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ (QS. Al-Baqarah: 255)
Sedangkan nuas (النُّعَاس) adalah kantuk yang lebih kuat, menjadi مقدمة النوم (pengantar tidur), seperti dalam Ayat
إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ (QS. Al-Anfal: 11).
Dua istilah ini menandai fase transisi antara sadar penuh dan tidur.
Adapun tingkat tidur yang lebih dalam diungkap dengan istilah seperti النَّوْم sebagai bentuk umum tidur, lalu السُّبَات yang menunjukkan tidur yang memutus aktivitas dan memberi rehat total, sebagaimana
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (QS. An-Naba’: 9).
Sementara tidur yang panjang dan menetap disebut الرُّقُود seperti dalam kisah Ashabul Kahfi:
وَهُمْ رُقُودٌ (QS. Al-Kahfi: 18).
Dengan demikian, perbedaan kosakata ini menunjukkan bahwa dalam linguistik Arab, tidur dipahami sebagai درجات (tingkatan), dari kantuk paling ringan hingga tidur panjang yang mendalam.
Tidur dalam Bahasa Arab (secara umum)
Dalam kajian linguistik Arab, kosakata tentang tidur menunjukkan kekayaan semantik yang sangat khas. Bahasa Arab tidak memadatkan pengalaman tidur dalam satu leksem umum, melainkan menyebarkannya ke dalam sejumlah istilah yang masing-masing menandai derajat kesadaran, kedalaman, dan durasi. Ini menegaskan bahwa tidur dipahami sebagai proses bertahap, bukan keadaan biner antara sadar dan tidak sadar. Secara linguistik, perbedaan ini termasuk dalam ranah tafrīq dalālī (pembedaan makna) yang lahir dari pengamatan empiris manusia terhadap pengalaman batin dan fisiknya.
Urutan awal tidur dalam bahasa Arab biasanya dimulai dari النُّعاس dan الوَسَن. An-nuʿās menunjuk pada rasa kantuk yang baru datang, ketika mata berat tetapi kesadaran masih utuh, sedangkan al-wasan menandai tahap berikutnya: berat di kepala dan melemahnya fokus.
Setelah itu muncul التَّرْنِيق dan الكَرَى, yaitu fase transisi ketika pandangan mulai kabur dan manusia berada di antara tidur dan jaga. Secara semantik, istilah-istilah ini bergerak dari dominasi kesadaran menuju reduksi kesadaran secara gradual.
Tahap selanjutnya diwakili oleh التَّغْفِيق dan الإِغْفَاء. At-taghfīq secara linguistik menarik karena menunjukkan tidur parsial: seseorang tertidur, tetapi masih mampu mendengar suara di sekitarnya. Adapun al-ighfāʾ menunjuk pada tidur ringan yang singkat. Dua istilah ini menegaskan bahwa bahasa Arab membedakan kedalaman tidur, bukan hanya keberadaannya. Dalam perspektif linguistik modern, ini sejalan dengan konsep graded states of consciousness, kesadaran yang menurun secara bertahap, bukan terputus total.
Puncak spektrum tidur ditandai oleh الهُجُوم dan الرُّقَاد. Al-hujūm merujuk pada tidur yang sangat singkat, seolah hanya “menyerbu” tubuh lalu pergi, sedangkan ar-ruqād menunjukkan tidur panjang dan dalam. Secara urutan, ruqād menjadi titik akhir dari proses tidur dalam bahasa Arab. Keseluruhan sistem leksikal ini memperlihatkan bahwa bahasa Arab bekerja bukan sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai arsip pengalaman manusia, yang mencatat perubahan halus dalam kondisi jiwa dan raga dengan presisi yang jarang ditemukan dalam bahasa lain.
Marja' singkat:
1) Ibn Manẓūr, Lisān al-ʿArab, entri: نَعَسَ، وَسَنَ، كَرَى، رَقَدَ. 2) Al-Rāghib al-Aṣfahānī, Mufradāt Alfāẓ al-Qurʾān. 3). Aḥmad Mukhtār ʿUmar, ʿIlm al-Dalālah (Ilmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar