السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Februari 2026

"Takmir Masjid" Istilah yang Keliru? (Antara Ketelitian Istilah dan Keluwesan Bahasa)



Halimi Zuhdy

"Istilah takmir masjid kurang tepat, bahkan keliru. Karena tidak ditemukan marja'nya dalam kitab!" Kata seorang pemateri tentang Membangun Peradaban Masjid. Dan juga saya mendengar dalam sebuah siaran radio, disebutkan bahwa penggunaan istilah "Takmir Masjid" keliru karena tidak ditemukan dalam kitab-kitab klasik. Menurut pandangan itu, pengelola masjid dalam literatur Islam lebih tepat disebut nāẓir atau nā’ib. Bahkan dikatakan, bahwa kata takmir bermakna “memanjangkan umur”, sedangkan memakmurkan masjid seharusnya menggunakan istilah ʿimārah, bukan dari kata ʿammara–yuʿammiru.
Pernyataan ini patut diapresiasi sebagai ajakan untuk lebih teliti dalam berbahasa. Namun demikian, jika ditelaah secara kebahasaan dan menilik kamus atau mukjam bahasa Arab, penggunaan istilah takmir masjid tidak serta-merta dapat dinilai keliru.

Toyyib. Mari kita menilik beberapa kumis. Eh..kamus. maaf, kurang ngopi. Wkwkwk. Dalam kamus bahasa Arab, kata takmir berakar dari ع م ر, akar kata yang memiliki medan makna luas. Bahkan luas bnaget. Dan dalam salah satu kamus, misalnya Mu‘jam al-Ma‘ānī al-Jāmi‘ dijelaskan bahwa:
تعمير: مصدر عَمَّرَ
تعمير المدينة: إقامة مشاريع عمرانية بها
(Pembangunan kota: mendirikan proyek-proyek peradaban di dalamnya)

Bahkan kamus ini juga menyebutkan:
 التعمير: تحويل غير المنتج إلى منتج
(Ta‘mīr adalah mengubah sesuatu yang tidak produktif menjadi produktif)

Makna ini menunjukkan bahwa ta‘mīr erat dengan aktivitas membangun, menghidupkan, dan memakmurkan. Ok. Bukan hnya memanjangkan umur! Bahkan, ada ledekan, kok bisa dinamakan Takmir Masjid, apakah pengurus masjid panjang umur?! He. 

Kamus yang sama juga menjelaskan istilah مَعْمُور: المعمور: المنزل الكثير الماء والكَلَإ والناس
(Tempat yang banyak air, tanaman, dan manusia)

بلدٌ معمور: بلد بُنيت فيه بيوت وعمارات ومزارع وصنائع
(Negeri yang hidup dengan bangunan, pertanian, dan aktivitas produksi)

Dengan demikian, penggunaan derivasi kata ta‘mīr untuk konteks tempat dan fungsi sosial adalah sah secara kebahasaan.

Benar Ada Makna “Panjang Umur”. Memang, kamus juga mencatat:
 رجلٌ مُعَمَّر: عاش زمنًا طويلًا
(Seseorang yang mu‘ammar: hidup dalam waktu yang panjang)

Namun dalam kaidah bahasa Arab, satu kata bisa memiliki beberapa makna (musytarak lafzhi), dan penentu makna adalah konteks. Dalam frasa Dewan Takmir Masjid, konteksnya jelas berkaitan dengan masjid, bukan usia manusia. ʿImārah Masjid dalam Al-Qur’an Al-Qur’an menggunakan istilah ʿimārah masjid sebagaimana firman Allah:
 إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ
(QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa memakmurkan masjid adalah perbuatan iman. Namun ʿimārah di sini bersifat normatif dan nilai, sedangkan ta‘mīr merupakan ekspresi praksis dari nilai tersebut. Keduanya berasal dari akar yang sama dan saling melengkapi.

Lah, yang perlu ditegaskan bahwa istilah takmir masjid bukanlah istilah fiqh klasik lo, melainkan istilah sosial yang berkembang di masyarakat Indonesia. Ia digunakan untuk menyebut pihak yang bertugas menghidupkan fungsi masjid, ibadah, pendidikan, sosial, dan dakwah. Ketidaklaziman dalam kitab klasik tidak otomatis menjadikannya salah secara bahasa. Paham sampai di sini ya! Dan banyk sekali, kata-kata dalam bahasa Indonesia yng diambil dari Arab, bahkan tidak sesuai banget dengan makna asalnya. Masalah? Ya tidak masalah (perlu kajian lebih lanjut, dan beberapa contohnya). Atau bisa dibaca beberapa kajiannya di www. halimizuhdy. com

Oh ia. Perdebatan tentang istilah takmir masjid seharusnya tidak berhenti pada soal nama, tetapi berlanjut pada substansi. Bahasa menuntut ketelitian, tetapi juga mengakui perkembangan sosial. Selama istilah tersebut dipahami sebagai upaya ta‘mīr al-masjid adalah menghidupkan dan memakmurkan masjid, maka ia tetap memiliki pijakan kebahasaan yang kuat. Ok!.

Yang lebih penting dari sekadar istilah adalah memastikan bahwa masjid benar-benar ma‘mūr: hidup dengan ibadah, ilmu, dan pelayanan umat, bukan sekadar berdiri megah tanpa fungsi. Lah, ini sebenarnya yang menjadi inti Lo. Ramai? Ramai dengan apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar