Halimi Zuhdy
Memang Al-Qur'an itu bukan hanya untuk dibaca, tapi ditadabburi, dan diamalkan. Karena ia bukan kitab pajangan, ia kitab peta kehidupan manusia. Misal tentang kekuasaan, maka Al-Qur'an menceritakan bagaimana kisah-kisah penguasa masa lalu, dan akibat orang yang lalai dalam amanah kekuasaan, dan akhir dari kekuasaan itu.
Toyyib. Ayat yang terasa seperti “headline sejarah” dalam Al-Qur’an. Ayat itu bukan sekadar kisah masa lalu, tapi juga tamparan lembut banget bagi manusia modern yang sering merasa aman dalam kuasa dan kesombongan. Kekuasaan itu bukan hanya raja, presiden, atau para menterinya lo ya, tapi mereka yang berkuasa.
Allah berfirman:
﴿فَٱلۡیَوۡمَ نُنَجِّیكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَایَةࣰۚ وَإِنَّ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَایَـٰتِنَا لَغَـٰفِلُونَ﴾
(QS. Yûnus: 92)
"Maka pada hari ini Kami selamatkan engkau dengan tubuhmu, agar engkau menjadi tanda bagi orang-orang setelahmu. Dan sungguh banyak manusia lalai dari tanda-tanda Kami."
Ayat ini bercerita tentang detik paling tragis dalam hidup Fir’aun: saat ia tenggelam, saat laut menutup jalan, dan saat maut datang tanpa kompromi. Di momen terakhir itu, Fir’aun berkata: “Aku beriman.”
Namun iman yang lahir ketika napas sudah di ujung, bukanlah iman yang menyelamatkan. Itu bukan ketundukan, tapi kepanikan.
Allah menegur dengan kalimat:
﴿ءَآلۡـَٔـٰنَ وَقَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ﴾
"Sekarang baru beriman? Padahal sebelumnya engkau telah durhaka…"
Ini adalah istifhâm inkârî, pertanyaan yang bukan untuk dijawab, tapi untuk menolak.
Artinya jelas: terlambat.
“Falyawm…” Hari Ini, Tapi Bukan Keselamatan. Dalam Tafsir at-Tahrîr wa at-Tanwîr, Ibn ‘Âsyûr menjelaskan bahwa kata:
﴿فَٱلۡیَوۡمَ﴾ “Maka hari ini…”
mengandung sindiran yang sangat dalam. Huruf fa di awal ayat adalah فاء الفصيحة, seolah menyimpan makna "Jika engkau berharap iman terlambat itu menyelamatkanmu, maka hari ini..…” Namun yang datang bukan keselamatan, melainkan pelajaran.
Fir’aun “diselamatkan”...… tapi dengan cara yang justru mempermalukannya.
Oh ia. Ada yang berpendapat, bahwa Fir'aun tidak tenggelam, masih diselamatnya. Tapi, mayoritas tafsir, bahwa ia diselamatkan jasadnya, bukan ruhnya.
Kata paling menggetarkan dan menggetarkan dalam Ayat ini adalah:
﴿بِبَدَنِكَ﴾
"Dengan tubuhmu."
Ibn ‘Âsyûr menekankan: ini bukan keselamatan hidup.
Fir’aun tidak keluar sebagai manusia yang selamat, tapi sebagai badan tanpa ruh.
Bukan ruhnya yang diselamatkan, hanya jasadnya yang diangkat ke permukaan.
Fir’aun dikeluarkan dari laut bukan untuk kembali berkuasa, tapi untuk menjadi bukti bahwa ia benar-benar kalah.
Lah, itu apa Ayat-ayat ini? Agar menjadi Ayat bagi generasi setelahnya, pelajaran bagi kita, setelah kita, dan seterusnya......
Allah melanjutkan:
﴿لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَایَةࣰ﴾
"Agar engkau menjadi tanda bagi orang-orang setelahmu."
Fir’aun selama hidupnya dianggap tak terkalahkan. Jika ia hilang tanpa jasad, orang-orang bisa menciptakan mitos:
“Ia tidak mati,”
“Ia naik ke langit,”
“Ia akan kembali.”
Namun Allah meruntuhkan semua ilusi itu. Tubuh/jasad Fir’aun dilempar ke pantai agar dunia melihat "Inilah akhir dari kesombongan".
Kok bisa tidak hancur atau hilang dimakan hewan laut? Ia tidak jadi makanan laut, tapi monumen kehinaan
Ada catatan menarik dari Ibn ‘Âsyûr:
"Fir’aun bahkan tidak dibiarkan hancur dimakan ikan. Tubuhnya diselamatkan dari kerusakan laut, bukan sebagai kehormatan, tetapi agar kehinaannya disaksikan manusia".
Kadang Allah menunda kehancuran jasad, bukan untuk memuliakan, tapi untuk memperjelas pelajaran.
Menariknya, Ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat relevan hingga hari ini:
﴿وَإِنَّ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَایَـٰتِنَا لَغَـٰفِلُونَ﴾
"Dan sungguh banyak manusia lalai dari tanda-tanda Kami."
Bukti sudah nyata. Kisah sudah terang. Namun masalah manusia sering bukan pada kurangnya dalil, melainkan pada hati yang lalai.
***
Marja'
At-tahrir wattanwir (Ibnu Asyur). Al Muharrar Al Qajiz li ibn Athiyah (Ibnu Athiyah). Tafsir Al-Alusi (Alusi).
***
Vedio AI. dr snackvideo Lelina Lubis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar