السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 16 Februari 2026

Tidur, Nikmat yang Sering Diremehkan(Menilik Jam Tidur Ulama Salaf)


Halimi Zuhdy

Kaget. Lucu. Bahagia, kagum campur heran. Membaca hasil survei yang dirilis Kompas, bahwa Indonesia negara paling gemar tidur di dunia 2025. Tapi, saya yakin, itu bukan bentuk malas, tapi menghargai tidur. Betapa tidur adalah nikmat. Ternyata benar, ketika dibaca hasil surveinya (bukan judul dan gambarnya saja), bahwa "gemar" dalam artian "peduli" "sadar" akan pentingnya tidur. Gemar tidur, bukan malas-malasan Lo.😁
Toyyib. Di zaman modern, kita sering menganggap bahwa tidur harus selalu “8 jam penuh” tanpa terputus. Seolah itu standar mutlak yang tidak berubah sepanjang sejarah. Padahal, penelitian sejarawan Amerika Arthur Roger Ekirch justru menemukan sesuatu yang mengejutkan: manusia sebelum era industri tidak selalu tidur dalam satu blok panjang, melainkan terbiasa dengan tidur dua fase tidur pertama, lalu bangun beberapa jam, kemudian tidur kedua. Pada jeda itu, mereka melakukan banyak hal: berdoa, berbincang, makan, bahkan memperkuat hubungan keluarga. Pola ini dikenal sebagai biphasic sleep, dan baru benar-benar memudar setelah listrik, revolusi industri, serta budaya kapitalisme menjadikan tidur dianggap “membuang waktu”. (Al-Arabiyah)

Sejarah tidur ini memberi pesan penting, tidur bukan sekadar rutinitas biologis, tetapi bagian dari irama kehidupan manusia. Banyak orang hari ini mengalami “insomnia tengah malam” karena mereka mengira terbangun di malam hari adalah sesuatu yang abnormal, padahal bisa jadi itu jejak pola alami manusia sejak dulu.

Dalam tradisi ulama dan kehidupan para salaf, tidur selalu dipahami sebagai nikmat, tetapi juga amanah. Para ulama menjelaskan bahwa sebagian salaf membagi malam menjadi beberapa bagian: tidur sepertiga, belajar sepertiga, lalu shalat sepertiga. Hal ini ditegaskan dalam pembahasan para ulama, di antaranya:

 ترجم أهل العلم ومنهم الإمام البخاري (باب السمر ف العلم)...
فمنهم مَن يُجزِّئ الليل إلى ثلاثة أجزاء: ينام ثُلثًا، وينظر في العلم ثُلثًا، ثم يصلي ثُلثًا...

Dan ini tidak bertentangan dengan hadits tentang kehati-hatian dari begadang tanpa manfaat, karena Nabi Shallahu alaihi wasallam sendiri pernah berbicara dengan keluarganya setelah Isya:

 والنبي -عليه الصلاة والسلام- ... تحدَّث بعد صلاة العشاء مع أهله ساعةً [البخاري: 117]

Maka intinya adalah: tidur harus berada dalam mizan (timbangan), bukan sekadar mengikuti hawa nafsu atau gaya hidup lalai.

Para ulama selalu memulai pembahasan tidur dengan mengingatkan bahwa ia adalah nikmat besar:

 فمن نعم الله عز وجل على عبده الإنسان: النوم

Allah sendiri menyebut tidur sebagai bentuk rahmat dan istirahat:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

Ibn Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa “subāt” berarti راحةً تستريحُ أبدانكم—istirahat yang menenangkan tubuh. Dan Ibn Katsir menyebutnya sebagai pemulih dari letihnya usaha siang hari.

Salaf tidak memusuhi tidur, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Tentang tidur yang tepat, mereka berkata, Nabi ﷺ tidur secukupnya, tidak berlebihan, tidak menahan diri dari kebutuhan tubuh. Qailulah (tidur siang singkat) dipuji:
 القائلة تزيد في العقل

Tidur yang berlebihan diperingatkan:
 كثرة النوم يميت القلب ويثقل البدن, ويضيع الوقت

Bahkan Imam Ghazali berkata:
 النوم موت فتكثيره ينقص العمر

Dan Ibn Qayyim mengingatkan: tidur bukan sekadar memejamkan mata, tetapi cara menjaga hati agar tidak mati oleh kelalaian.

Yang paling indah dalam Islam, tidur pun bisa menjadi ibadah jika diniatkan benar:

 النوم للاستراحة ليقوم إلى العبادة نشيطاً

Bahkan para ulama menganjurkan seseorang tidur dalam keadaan suci, berzikir, dan menutup hari dengan taubat:

 فينام على تلك التوبة... فإن مات من ليلته مات على توبة

Tidur bukan kelemahan. Tidur adalah rahmat. Tetapi tidur juga bukan pelarian. Ia adalah jeda yang Allah berikan agar manusia kembali kuat, kembali sadar, dan kembali dekat kepada-Nya.

Di dunia yang memuja produktivitas tanpa henti, kita perlu mengingat: yang membuat hidup berkah bukan sedikitnya tidur, tetapi benarnya arah hidup.

Semoga Allah menjadikan tidur kita istirahat yang menyehatkan tubuh, menenangkan jiwa, dan menguatkan langkah menuju ketaatan.

Merasa Memperbaiki, Padahal Merusak: Dua Penyakit Sosial “La Yasy’urun” dan “La Ya’lamun”



Halimi Zuhdy

Dua Akhir Ayat Al-Baqarah, Ayat 11-12 dan Ayat 13, sungguh membuat kita termenung! Benarkah kita memperbaiki, atau merusak tanpa sadar?. 
 
Menarik kalau kita cermati dalam kehidupan kita sehari-hari, entah itu terjadi pada diri kita atau pada orang lain. Ada orang yang "sok tahu", "sok pinter" dan "sok benar" atau mungkin kita sendiri yang sok, tapi kita tidak menyadarinya. Kadang sudah jelas-jelas salah, masih saja marah-marah dan ngotot. Seperti kejadian tadi pagi yang saya alami, sepeda motor terkena senggol mobil yang saya kendarai, posisinya berada di sebelah kiri mobil, berjalan dengan kecepatan luar biasa, sudah tahu tidak boleh nyalip sebelah kiri, eh masih ngotot dan merasa benar. Eh, turun marah-marah. Wkwkwwk

Ada juga, laut jelas-jelas milik negara, eh dibuat sertifikat hal milik pribadi. Entah yang salah negara yang memberi izin, atau oligarki yang punya uang dan yang punya kuasa, ngotot. Embuh, bingung juga. Memang benar, kalau orang selalu merasa benar dan tidak pernah merasa bersalah, akan menjadikan ia sombong, kalau sudah sombong, biasa suka marah-marah. Mengapa marah-marah, karena orang lain dianggap rendah. 

Atau contoh lain, kita sering melihat orang atau kelompok yang merasa sedang “membangun” dan “memperbaiki”, padahal tanpa sadar justru merusak. Misalnya, ketika hutan dibabat demi proyek besar, laut dipagari demi kepentingan bisnis, atau kampung digusur atas nama pembangunan. Mereka berkata itu demi kemajuan, padahal yang terjadi adalah kerusakan lingkungan dan penderitaan rakyat kecil. Inilah bentuk kerusakan yang dilakukan tanpa rasa bersalah, karena pelakunya benar-benar tidak merasa sedang merusak: لَا يَشْعُرُونَ. 

Sementara itu, ada juga orang yang menolak kebenaran bukan karena tidak sadar, tetapi karena merasa dirinya paling pintar. Fenomena ini banyak muncul di media sosial: mudah menyalahkan, merendahkan orang lain, menelan hoaks, lalu tetap ngotot seolah paling benar. Ketika diajak belajar atau diberi nasihat, justru mengejek orang beriman atau orang yang lurus sebagai “bodoh”. Padahal sebenarnya dia terjebak dalam kebodohan yang tidak ia akui. Inilah yang Allah sebut: لَا يَعْلَمُونَ mereka tidak mengetahui.

Dan banyak sekali contoh terkait dengan salah-menyalahkan, yang ternyata dirinya yang salah. Maka penting sekali untuk terus evaluasi diri, bukan sering-sering dan sedikit-sedikit evaluasi orang lain. Kayak lembaga survei dan lembaga evaluasi saja.kwkwwk. 
Mari kita lihat dan baca dengan pelan-pelan dua Ayat berikut; Al-Baqarah, Ayat 11-12 dan Ayat 13. Bahwa dalam kehidupan ini, sering kali manusia merasa bahwa mereka sedang berjalan di jalur yang benar, tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang melakukan kesalahan. Mereka merasa menjadi pembangun, padahal tanpa sadar mereka adalah perusak. Inilah realitas yang Allah gambarkan dalam Al-Qur'an:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ۝١١ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِن لَّا يَشْعُرُونَ ۝١٢

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya." (QS. Al-Baqarah: 11-12)

Perhatikan bagaimana Allah menggunakan kata لَّا يَشْعُرُونَ (lā yash‘urūn) yang berarti "mereka tidak menyadari" dalam ayat ini. Ini menunjukkan bahwa mereka melakukan kerusakan tanpa merasakan akibatnya. Kerusakan yang mereka buat bukan sesuatu yang mereka pahami secara langsung, tetapi mereka melakukannya dengan anggapan bahwa itu adalah perbaikan.

Namun, ada kelompok lain yang meskipun mereka telah diberi peringatan dan ajakan untuk beriman, mereka tetap terjebak dalam kebodohan mereka sendiri. Allah melanjutkan dalam ayat lain:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِن لَّا يَعْلَمُونَ ۝١٣

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.' Mereka menjawab, 'Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 13)

Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata لَّا يَعْلَمُونَ (lā ya‘lamūn) yang berarti "mereka tidak mengetahui." Ini bukan sekadar ketidaksadaran, melainkan kebodohan dalam memahami hakikat iman yang sebenarnya. Mereka menganggap diri mereka lebih cerdas daripada orang-orang beriman, padahal justru merekalah yang terjebak dalam kebodohan mereka sendiri.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ada dua jenis kesalahan yang sering terjadi (1) Kesalahan yang dilakukan tanpa disadari (لَّا يَشْعُرُونَ), seperti orang yang merasa dirinya sedang memperbaiki, tetapi sebenarnya merusak. (2) Kesalahan karena ketidaktahuan (لَّا يَعْلَمُونَ), yaitu mereka yang menolak kebenaran karena merasa lebih tahu, padahal mereka tidak memiliki pemahaman yang benar.

Kedua kondisi ini bisa menimpa siapa saja dalam kehidupan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu melakukan introspeksi dan mencari ilmu agar tidak terjebak dalam kebodohan dan kesalahan tanpa kita sadari. Semoga Allah memberikan kita hati yang peka terhadap kebenaran dan ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

Allahu'alam bishawab

Ketika Fir’aun Diselamatkan…..Tapi Hanya Tubuhnya


Halimi Zuhdy

Memang Al-Qur'an itu bukan hanya untuk dibaca, tapi ditadabburi, dan diamalkan. Karena ia bukan kitab pajangan, ia kitab peta kehidupan manusia. Misal tentang kekuasaan, maka Al-Qur'an menceritakan bagaimana kisah-kisah penguasa masa lalu, dan akibat orang yang lalai dalam amanah kekuasaan, dan akhir dari kekuasaan itu. 

Toyyib. Ayat yang terasa seperti “headline sejarah” dalam Al-Qur’an. Ayat itu bukan sekadar kisah masa lalu, tapi juga tamparan lembut banget bagi manusia modern yang sering merasa aman dalam kuasa dan kesombongan. Kekuasaan itu bukan hanya raja, presiden, atau para menterinya lo ya, tapi mereka yang berkuasa. 
Allah berfirman:

﴿فَٱلۡیَوۡمَ نُنَجِّیكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَایَةࣰۚ وَإِنَّ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَایَـٰتِنَا لَغَـٰفِلُونَ﴾
(QS. Yûnus: 92)

"Maka pada hari ini Kami selamatkan engkau dengan tubuhmu, agar engkau menjadi tanda bagi orang-orang setelahmu. Dan sungguh banyak manusia lalai dari tanda-tanda Kami."

Ayat ini bercerita tentang detik paling tragis dalam hidup Fir’aun: saat ia tenggelam, saat laut menutup jalan, dan saat maut datang tanpa kompromi. Di momen terakhir itu, Fir’aun berkata: “Aku beriman.”

Namun iman yang lahir ketika napas sudah di ujung, bukanlah iman yang menyelamatkan. Itu bukan ketundukan, tapi kepanikan.

Allah menegur dengan kalimat:

﴿ءَآلۡـَٔـٰنَ وَقَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ﴾
"Sekarang baru beriman? Padahal sebelumnya engkau telah durhaka…"

Ini adalah istifhâm inkârî, pertanyaan yang bukan untuk dijawab, tapi untuk menolak.

Artinya jelas: terlambat.

“Falyawm…” Hari Ini, Tapi Bukan Keselamatan. Dalam Tafsir at-Tahrîr wa at-Tanwîr, Ibn ‘Âsyûr menjelaskan bahwa kata:

﴿فَٱلۡیَوۡمَ﴾ “Maka hari ini…”

mengandung sindiran yang sangat dalam. Huruf fa di awal ayat adalah فاء الفصيحة, seolah menyimpan makna "Jika engkau berharap iman terlambat itu menyelamatkanmu, maka hari ini..…” Namun yang datang bukan keselamatan, melainkan pelajaran.

Fir’aun “diselamatkan”...… tapi dengan cara yang justru mempermalukannya.

Oh ia. Ada yang berpendapat, bahwa Fir'aun tidak tenggelam, masih diselamatnya. Tapi, mayoritas tafsir, bahwa ia diselamatkan jasadnya, bukan ruhnya. 

Kata paling menggetarkan dan menggetarkan dalam Ayat ini adalah:

﴿بِبَدَنِكَ﴾
"Dengan tubuhmu."

Ibn ‘Âsyûr menekankan: ini bukan keselamatan hidup.

Fir’aun tidak keluar sebagai manusia yang selamat, tapi sebagai badan tanpa ruh.

Bukan ruhnya yang diselamatkan, hanya jasadnya yang diangkat ke permukaan.

Fir’aun dikeluarkan dari laut bukan untuk kembali berkuasa, tapi untuk menjadi bukti bahwa ia benar-benar kalah.

Lah, itu apa Ayat-ayat ini? Agar menjadi Ayat bagi generasi setelahnya, pelajaran bagi kita, setelah kita, dan seterusnya......

Allah melanjutkan:

﴿لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَایَةࣰ﴾
"Agar engkau menjadi tanda bagi orang-orang setelahmu."

Fir’aun selama hidupnya dianggap tak terkalahkan. Jika ia hilang tanpa jasad, orang-orang bisa menciptakan mitos:

“Ia tidak mati,”

“Ia naik ke langit,”

“Ia akan kembali.”

Namun Allah meruntuhkan semua ilusi itu. Tubuh/jasad Fir’aun dilempar ke pantai agar dunia melihat "Inilah akhir dari kesombongan".

Kok bisa tidak hancur atau hilang dimakan hewan laut? Ia tidak jadi makanan laut, tapi monumen kehinaan

Ada catatan menarik dari Ibn ‘Âsyûr:
"Fir’aun bahkan tidak dibiarkan hancur dimakan ikan. Tubuhnya diselamatkan dari kerusakan laut, bukan sebagai kehormatan, tetapi agar kehinaannya disaksikan manusia".

Kadang Allah menunda kehancuran jasad, bukan untuk memuliakan, tapi untuk memperjelas pelajaran.

Menariknya, Ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat relevan hingga hari ini:

﴿وَإِنَّ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَایَـٰتِنَا لَغَـٰفِلُونَ﴾
"Dan sungguh banyak manusia lalai dari tanda-tanda Kami."

Bukti sudah nyata. Kisah sudah terang. Namun masalah manusia sering bukan pada kurangnya dalil, melainkan pada hati yang lalai.

***
Marja' 
At-tahrir wattanwir (Ibnu Asyur). Al Muharrar Al Qajiz li ibn Athiyah (Ibnu Athiyah). Tafsir Al-Alusi (Alusi). 

***
Vedio AI. dr snackvideo Lelina Lubis.

"Takmir Masjid" Istilah yang Keliru? (Antara Ketelitian Istilah dan Keluwesan Bahasa)



Halimi Zuhdy

"Istilah takmir masjid kurang tepat, bahkan keliru. Karena tidak ditemukan marja'nya dalam kitab!" Kata seorang pemateri tentang Membangun Peradaban Masjid. Dan juga saya mendengar dalam sebuah siaran radio, disebutkan bahwa penggunaan istilah "Takmir Masjid" keliru karena tidak ditemukan dalam kitab-kitab klasik. Menurut pandangan itu, pengelola masjid dalam literatur Islam lebih tepat disebut nāẓir atau nā’ib. Bahkan dikatakan, bahwa kata takmir bermakna “memanjangkan umur”, sedangkan memakmurkan masjid seharusnya menggunakan istilah ʿimārah, bukan dari kata ʿammara–yuʿammiru.
Pernyataan ini patut diapresiasi sebagai ajakan untuk lebih teliti dalam berbahasa. Namun demikian, jika ditelaah secara kebahasaan dan menilik kamus atau mukjam bahasa Arab, penggunaan istilah takmir masjid tidak serta-merta dapat dinilai keliru.

Toyyib. Mari kita menilik beberapa kumis. Eh..kamus. maaf, kurang ngopi. Wkwkwk. Dalam kamus bahasa Arab, kata takmir berakar dari ع م ر, akar kata yang memiliki medan makna luas. Bahkan luas bnaget. Dan dalam salah satu kamus, misalnya Mu‘jam al-Ma‘ānī al-Jāmi‘ dijelaskan bahwa:
تعمير: مصدر عَمَّرَ
تعمير المدينة: إقامة مشاريع عمرانية بها
(Pembangunan kota: mendirikan proyek-proyek peradaban di dalamnya)

Bahkan kamus ini juga menyebutkan:
 التعمير: تحويل غير المنتج إلى منتج
(Ta‘mīr adalah mengubah sesuatu yang tidak produktif menjadi produktif)

Makna ini menunjukkan bahwa ta‘mīr erat dengan aktivitas membangun, menghidupkan, dan memakmurkan. Ok. Bukan hnya memanjangkan umur! Bahkan, ada ledekan, kok bisa dinamakan Takmir Masjid, apakah pengurus masjid panjang umur?! He. 

Kamus yang sama juga menjelaskan istilah مَعْمُور: المعمور: المنزل الكثير الماء والكَلَإ والناس
(Tempat yang banyak air, tanaman, dan manusia)

بلدٌ معمور: بلد بُنيت فيه بيوت وعمارات ومزارع وصنائع
(Negeri yang hidup dengan bangunan, pertanian, dan aktivitas produksi)

Dengan demikian, penggunaan derivasi kata ta‘mīr untuk konteks tempat dan fungsi sosial adalah sah secara kebahasaan.

Benar Ada Makna “Panjang Umur”. Memang, kamus juga mencatat:
 رجلٌ مُعَمَّر: عاش زمنًا طويلًا
(Seseorang yang mu‘ammar: hidup dalam waktu yang panjang)

Namun dalam kaidah bahasa Arab, satu kata bisa memiliki beberapa makna (musytarak lafzhi), dan penentu makna adalah konteks. Dalam frasa Dewan Takmir Masjid, konteksnya jelas berkaitan dengan masjid, bukan usia manusia. ʿImārah Masjid dalam Al-Qur’an Al-Qur’an menggunakan istilah ʿimārah masjid sebagaimana firman Allah:
 إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ
(QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa memakmurkan masjid adalah perbuatan iman. Namun ʿimārah di sini bersifat normatif dan nilai, sedangkan ta‘mīr merupakan ekspresi praksis dari nilai tersebut. Keduanya berasal dari akar yang sama dan saling melengkapi.

Lah, yang perlu ditegaskan bahwa istilah takmir masjid bukanlah istilah fiqh klasik lo, melainkan istilah sosial yang berkembang di masyarakat Indonesia. Ia digunakan untuk menyebut pihak yang bertugas menghidupkan fungsi masjid, ibadah, pendidikan, sosial, dan dakwah. Ketidaklaziman dalam kitab klasik tidak otomatis menjadikannya salah secara bahasa. Paham sampai di sini ya! Dan banyk sekali, kata-kata dalam bahasa Indonesia yng diambil dari Arab, bahkan tidak sesuai banget dengan makna asalnya. Masalah? Ya tidak masalah (perlu kajian lebih lanjut, dan beberapa contohnya). Atau bisa dibaca beberapa kajiannya di www. halimizuhdy. com

Oh ia. Perdebatan tentang istilah takmir masjid seharusnya tidak berhenti pada soal nama, tetapi berlanjut pada substansi. Bahasa menuntut ketelitian, tetapi juga mengakui perkembangan sosial. Selama istilah tersebut dipahami sebagai upaya ta‘mīr al-masjid adalah menghidupkan dan memakmurkan masjid, maka ia tetap memiliki pijakan kebahasaan yang kuat. Ok!.

Yang lebih penting dari sekadar istilah adalah memastikan bahwa masjid benar-benar ma‘mūr: hidup dengan ibadah, ilmu, dan pelayanan umat, bukan sekadar berdiri megah tanpa fungsi. Lah, ini sebenarnya yang menjadi inti Lo. Ramai? Ramai dengan apa?

Tidur, Ketiduran dan Tertidur(Menilik Tidur dalam Bahasa Arab)



Halimi Zuhdy

Al-Faqir selalu senang kalau menilik perbedaan kata. Apalagi menemukan berbagai macam kata atau istilah dengan maksud yang dianggap sama. Walau Al-faqir yakin, tidak ada atau tidak akan ditemukan sebuah "kata" yang benar-benar sama ketika menunjuk pada susuatu. Kalau ada, mengapa ada kata lahir dengan bentuknya yang berbeda?. Berarti setiap kata yang lahir, pasti ada maksud lain (khas) yang dituju. Aha. 
Toyyib. Kali ini, saya (ganti dari Al-Faqir, agar lebih sederhana) meneruskan kajian tentang tidur. Karena berbicara "tidur", selalu asyik dan menyenangkan. Pertama "tidur dalam Al-Qur'an", dan kedua "tidur dalam Bahasa Arab" (lebih umum). 

Dalam Al-Qur'an (Ket: Fawaid fil Qur'anil Karim) ada 5 macam atau marahil. Oh ia, dalam kajian linguistik Arab, tidur bukan dipahami sebagai satu keadaan tunggal, melainkan memiliki spektrum makna yang sangat kaya. Bahasa Arab membedakan tidur berdasarkan tingkat kesadaran, kedalaman, dan durasi. 

Tidur dalam Al-Qur'an 

Karena itu, Al-Qur’an menggunakan beragam kosakata tidur secara tepat atau presisi. Misalnya kata مَنَام dalam ayat

 وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ (QS. Ar-Rum: 23)

 bersifat umum, menunjuk pada fenomena tidur sebagai keadaan manusia secara keseluruhan, tanpa menekankan apakah tidur itu ringan atau dalam. Ini sudah saya bahas sebelumnya (postingan FB).

Secara bertahap, bahasa Arab mengenal tingkatan paling awal yaitu as-sinah (السنة), berarti kantuk yang sangat ringan, sekadar “menghinggapi” mata, belum masuk tidur; Al-Qur’an menegaskan tentang Allah

: لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ (QS. Al-Baqarah: 255)

Sedangkan nuas (النُّعَاس) adalah kantuk yang lebih kuat, menjadi مقدمة النوم (pengantar tidur), seperti dalam Ayat 

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ (QS. Al-Anfal: 11). 

Dua istilah ini menandai fase transisi antara sadar penuh dan tidur.

Adapun tingkat tidur yang lebih dalam diungkap dengan istilah seperti النَّوْم sebagai bentuk umum tidur, lalu السُّبَات yang menunjukkan tidur yang memutus aktivitas dan memberi rehat total, sebagaimana

 وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (QS. An-Naba’: 9). 

Sementara tidur yang panjang dan menetap disebut الرُّقُود seperti dalam kisah Ashabul Kahfi:
 وَهُمْ رُقُودٌ (QS. Al-Kahfi: 18).

 Dengan demikian, perbedaan kosakata ini menunjukkan bahwa dalam linguistik Arab, tidur dipahami sebagai درجات (tingkatan), dari kantuk paling ringan hingga tidur panjang yang mendalam.

Tidur dalam Bahasa Arab (secara umum)

Dalam kajian linguistik Arab, kosakata tentang tidur menunjukkan kekayaan semantik yang sangat khas. Bahasa Arab tidak memadatkan pengalaman tidur dalam satu leksem umum, melainkan menyebarkannya ke dalam sejumlah istilah yang masing-masing menandai derajat kesadaran, kedalaman, dan durasi. Ini menegaskan bahwa tidur dipahami sebagai proses bertahap, bukan keadaan biner antara sadar dan tidak sadar. Secara linguistik, perbedaan ini termasuk dalam ranah tafrīq dalālī (pembedaan makna) yang lahir dari pengamatan empiris manusia terhadap pengalaman batin dan fisiknya.

Urutan awal tidur dalam bahasa Arab biasanya dimulai dari النُّعاس dan الوَسَن. An-nuʿās menunjuk pada rasa kantuk yang baru datang, ketika mata berat tetapi kesadaran masih utuh, sedangkan al-wasan menandai tahap berikutnya: berat di kepala dan melemahnya fokus. 

Setelah itu muncul التَّرْنِيق dan الكَرَى, yaitu fase transisi ketika pandangan mulai kabur dan manusia berada di antara tidur dan jaga. Secara semantik, istilah-istilah ini bergerak dari dominasi kesadaran menuju reduksi kesadaran secara gradual.

Tahap selanjutnya diwakili oleh التَّغْفِيق dan الإِغْفَاء. At-taghfīq secara linguistik menarik karena menunjukkan tidur parsial: seseorang tertidur, tetapi masih mampu mendengar suara di sekitarnya. Adapun al-ighfāʾ menunjuk pada tidur ringan yang singkat. Dua istilah ini menegaskan bahwa bahasa Arab membedakan kedalaman tidur, bukan hanya keberadaannya. Dalam perspektif linguistik modern, ini sejalan dengan konsep graded states of consciousness, kesadaran yang menurun secara bertahap, bukan terputus total.

Puncak spektrum tidur ditandai oleh الهُجُوم dan الرُّقَاد. Al-hujūm merujuk pada tidur yang sangat singkat, seolah hanya “menyerbu” tubuh lalu pergi, sedangkan ar-ruqād menunjukkan tidur panjang dan dalam. Secara urutan, ruqād menjadi titik akhir dari proses tidur dalam bahasa Arab. Keseluruhan sistem leksikal ini memperlihatkan bahwa bahasa Arab bekerja bukan sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai arsip pengalaman manusia, yang mencatat perubahan halus dalam kondisi jiwa dan raga dengan presisi yang jarang ditemukan dalam bahasa lain.

Marja' singkat:
1) Ibn Manẓūr, Lisān al-ʿArab, entri: نَعَسَ، وَسَنَ، كَرَى، رَقَدَ. 2) Al-Rāghib al-Aṣfahānī, Mufradāt Alfāẓ al-Qurʾān. 3). Aḥmad Mukhtār ʿUmar, ʿIlm al-Dalālah (Ilmu

Unta, Orang Gurun, dan Sebuah Refleksi Kecanggihan


Halimi Zuhdy

Banyak orang hari ini gemar mengejek: “orang gurun”, “kaum unta”. Nada merendahkan. Seolah peradaban hanya milik mereka yang punya pesawat, roket, gedung pencakar langit, dan teknologi paling mutakhir. Seolah yang hidup di pasir hanyalah simbol keterbelakangan. Kita tertawa, ikut-ikutan, tanpa sadar: kita sedang menertawakan sesuatu yang justru Allah jadikan bahan tadabbur abadi. Sama juga dengan orang menyebut "wong deso"! 
Padahal Al-Qur’an, kitab yang kita klaim suci dan agung itu, tidak memulai renungan dengan pesawat. Tidak dengan satelit. Tidak pula dengan mesin canggih. Ya iyalah, wong dulu tak ada pesawat, supersonik dan sejenisnya! Apakah jawabannya sesederhana itu?

Pantes saja Al-Qur’an tidak memulai renungannya dengan satelit, mobil listrik paling canggih, pesawat supersonik, kecerdasan buatan, atau gedung pencakar langit yang kita banggakan hari ini; wong Al-Qur’an turun di era unta dan justru itu sindirannya. Seolah Al-Qur'an ingin berkata kecanggihan tidak otomatis membuatmu paham, kemajuan tidak menjamin kamu tunduk. Sebab masalah manusia bukan kurang teknologi, tapi gagal membaca tanda. Kalau pada seekor unta saja manusia tak sanggup merenung dengan jujur, apa bedanya kita dengan mereka yang hanya terpukau layar, mesin, dan kecepatan, tapi hatinya tetap kosong?

Allah justru bertanya dengan sangat sederhana dan menohok:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?”
(QS. Al-Ghasyiyah: 17)

Perhatikan. Bukan sekadar lihat. Bukan cuma lewat. Tapi menatap dengan akal dan hati. "Unta" hewan yang sering dijadikan bahan olok-olok—justru dijadikan pintu pertama untuk mengenal kebesaran Tuhan. Baru setelah itu Allah mengajak kita melihat langit, gunung, dan bumi. Seakan Allah sedang berkata: kalau pada unta saja kamu gagal membaca tanda-Ku, bagaimana kamu mau memahami semesta?

Unta bukan simbol primitif. Ia simbol ketahanan, kesabaran, dan ketepatan desain Ilahi. Ia sanggup berjalan ratusan kilometer tanpa air, memikul beban berat, tunduk kepada manusia, dan hidup di lingkungan paling keras. Di tengah dunia yang membanggakan kecepatan dan kemewahan, Al-Qur’an justru mengajak kita belajar dari makhluk yang tenang dan bertahan. Dari makhluk yang tidak ribut, tapi menyimpan keajaiban.

Sekali lagi. Mungkin masalah kita bukan kurang pintar. Tapi terlalu sibuk membanggakan diri, sampai lupa membaca tanda-tanda Allah yang paling dekat. Kita hafal spesifikasi pesawat, tapi tak pernah menangis saat membaca Ayat tentang unta. Kita kagum pada teknologi, tapi kering di hadapan Ayat-ayat-Nya. Maka sebelum mengejek “kaum unta”, barangkali yang perlu kita tanyakan adalah "sudahkah kita benar-benar membaca Al-Qur’an… atau baru sekadar mengaku membacanya?" Apalagi yang ngomong "muslim kalah saint, kalah sama tapir!" "Menang untuk apa?" Wong yang jurusan khusus pesawat saja tidak bisa buat pesawat semua?! 

Kadang, untuk sampai pada tangis keimanan, kita tidak perlu terbang tinggi.
Cukup menunduk. Memandang seekor unta. Dan mendengar Allah bertanya dengan indah “Tidakkah kamu memperhatikan?”

***
Kemudian ada yang mengatakan "tulisan seperti ini yang membuat umat Islam terbelakang" 🤩 

"Emang, kamu terdepan?" Apa yang kamu banggakan dengan Epstein 🤩

Tingkatan Marah(Ketika Emosi Merasa Paling Benar)



Halimi Zuhdy 

Aha. Zaman ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kelebihan orang marah. Linimasa penuh emosi, kolom komentar berubah jadi arena pelampiasan, dan amarah sering tampil lebih percaya diri daripada argumen. Yang paling lantang merasa paling benar, yang paling keras dianggap paling peduli. Benar tidak ya? Lihatlah kolom-kolom amarah di berbagai komentar! 
Padahal, marah bukan bukti kebenaran. Ia hanya tanda bahwa sesuatu sedang terusik, dan yang terusik itu belum tentu nilai, dan sering kali justru ego. 

Dalam tradisi etika Islam (akhlak), amarah (al-ghaḍab) tidak pernah diposisikan sebagai musuh akal, tetapi juga tidak dimuliakan tanpa syarat. Ia ditempatkan di wilayah tengah, diakui keberadaannya, namun dituntut kendalinya. Sebab ketika emosi mengambil alih kemudi, akal turun pangkat, dari pengarah menjadi penumpang yang sekadar mengangguk. Coba lihat orang ketika marah! Ia marah untuk apa? 

Yang sering luput kita sadari, amarah yang etis tidak pernah inkonsisten. Ia tidak tajam ke luar tapi tumpul ke dalam, kayak hukum di mana ya? Benarkah? Gak tahu juga. Tidak berani pada yang jauh tapi lunak pada yang dekat,
tidak galak pada yang lemah tapi bisu di hadapan yang kuat.

Begitu amarah bergantung pada siapa lawannya, ia berhenti menjadi moral dan berubah menjadi keberpihakan emosional.

Menariknya, Nabi Shallahu alaihi wasallam tidak mengajarkan cara “meluapkan” marah, melainkan berulang kali mengingatkan: “lā taghḍab” — jangan marah. Ini bukan nasihat psikologis semata, melainkan kritik peradaban. Sejarah membuktikan, banyak kerusakan lahir bukan karena niat jahat, tetapi karena emosi yang merasa paling suci dan paling benar.

Di ruang publik hari ini, marah sering disalahpahami sebagai keberanian. Padahal keberanian sejati justru tampak pada kemampuan menahan diri, menunda reaksi, dan memberi ruang bagi akal untuk bekerja. Tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang tenang itu lemah.

Di titik ini, khazanah bahasa Arab memberi pelajaran penting. Amarah tidak tunggal; ia "bertingkat dan berproses". Dimulai dari "as-sukht"—ketidaksenangan yang berlawanan dengan ridha. Lalu meningkat menjadi "al-ikhrinṭām", marah yang disertai kesombongan dan kepala terangkat. Naik lagi menjadi "al-barṭamah", amarah yang tampak di wajah: dahi mengeras, raut membeku.

Jika tak terkendali, ia beralih menjadi "al-ghayẓ"—amarah terpendam milik orang yang tak mampu melampiaskan, hingga menggigit jari sendiri. Lalu "al-ḥarad", keinginan membalas yang mulai direncanakan. Setelah itu "al-ḥanaq", kemarahan yang mengental bersama dendam. Dan puncaknya "al-ikhtilāṭ": amarah yang mengacaukan akal, kata, dan tindakan.

Bahasa seolah ingin berkata: "amarah yang dibiarkan tidak berhenti, ia selalu naik tingkat.

Maka pertanyaan reflektifnya bukan lagi, “Apakah kita marah?” Tetapi, di tingkat mana amarah kita sedang berdiri? Masih di wilayah sadar, atau sudah mendekati batas yang mengaburkan nurani?

Karena iman yang matang tidak mematikan emosi, tetapi menempatkannya di bawah tanggung jawab moral, agar marah tetap menjadi penjaga nilai, bukan penguasa jiwa.

***
Gambar desain AI diambil dari Kunuz Al-Arabiyah.

Memilah Sedih agar Tidak Salah Menyembuhkan

(Perbedaan Hazn, Hamm, dan Ghamm)

Halimi Zuhdy

Sedih. Seringkali dianggap sama. Entah, kesedihan kemarin, besok dan hari ini. Dan ini sangat berpengaruh tidak hanya kepada pikiran kita, tetapi juga beban psikologis. 
Toyyib. Bahasa Arab tidak boros kata. Walau terdapat bahasa selainnya, juga sama. Tetapi, bahasa ini lebih detail. Seperti dalam tiga kata tentang sedih; hazn, hamm dan ghamm. Lah, ketika ia menyediakan istilah yang berbeda, itu karena realitas batin manusia memang tidak tunggal. Ḥuzn, hamm, dan ghamm dalam bahasa Indonesia (dan juga bahasa lainnya), sering diterjemahkan sama: “sedih”. Padahal menyamakan ketiganya justru membuat banyak orang salah memahami dirinya sendiri, bahkan salah menasihati orang lain. Benar tidak ya? 😁

Mari kita mulai dengan kata pertama; huzn (الحزن) adalah kesedihan yang berakar pada fakta. Ia lahir dari peristiwa yang sudah terjadi. Kehilangan, kegagalan, perpisahan. Karena bersumber dari kenyataan, ḥuzn bersifat stabil dan dapat berlangsung lama. 

Berikutnya, berbeda dengan itu, hamm (الهمّ) justru tidak berpijak pada realitas yang pasti. Ia hidup di wilayah kemungkinan. sesuatu yang belum terjadi, atau bahkan mungkin tidak pernah terjadi. Hamm adalah kelelahan mental akibat pikiran yang terlalu jauh mendahului takdir. Ironisnya, banyak manusia modern lebih sering tumbang oleh hamm daripada oleh kenyataan itu sendiri. Kita lelah bukan karena beban hidup, tetapi karena skenario yang kita karang sendiri.he..he.

Lah, yang terakhir adapun ghamm (الغمّ) adalah kesesakan emosional yang bersifat sesaat. Ia muncul karena tekanan langsung di waktu kini. Perkataan yang menyakitkan, perlakuan yang merendahkan, atau kejadian kecil yang menyesakkan dada. Ghamm tidak dalam, tetapi menekan. Jika dibiarkan, ia bisa membesar. Jika dilepaskan, ia cepat reda.

Di sinilah bahasa memberi pelajaran etis yang penting, tidak semua kesedihan membutuhkan obat yang sama. Ḥuzn tidak disembuhkan dengan nasihat singkat, hamm tidak selesai dengan analisis berlebihan, dan ghamm tidak perlu diwariskan kepada hari esok.

Kesalahan terbesar manusia adalah memperlakukan kecemasan masa depan seolah-olah ia sudah menjadi kenyataan, dan memelihara kesedihan sesaat seakan-akan ia adalah takdir panjang.

Mungkin karena itu Al-Qur’an berkali-kali menenangkan manusia dengan satu kalimat sederhana tapi sangat tepat “Lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn.” Bukan janji hidup tanpa masalah, melainkan ajakan untuk menempatkan rasa pada tempatnya. Sebab hidup menjadi berat bukan karena terlalu banyak sedih, tetapi karena kita tidak tahu sedih yang mana yang perlu dipeluk, dan yang mana yang harus dilepas.

***
Dan menariknya, terdapat kata-kata dalam Al-Qur'an terkait "sedih", insyallah berikutnya akan dikaji, "Hazn" dalam Al-Qur'an. (Insyallah)

Gelar-Gelar Intelektual dalam Tradisi Arab

Halimi Zuhdy

Membincang tentang "pemikiran" tidak cukup menunjuk pada satu gelar saja, sebutlah "pemikir" misalnya. Tidak cukup. Karena para pemikir itu macam-macam. Sama dengan perasaan dalam bahasa Arab itu sangat banyak sekali, bisa sampai ratusan. Karena, urusan rasa tidak seserhana. 
Lah, ini urusan berfikir. Bahasa Arab tidak sekadar mengenal satu kata untuk “pemikir” sepeeti di atas, tetapi menghadirkan spektrum gelar yang mencerminkan kedalaman, fungsi, dan tanggung jawab intelektual. Keterangan ini saya ambil dari unggahan visual dari Qatar Foundation dan beberapa tulisan atau marajik untuk mendukung makna beberapa gelar berikut: Mujādil (مجادل), Bāḥith (باحث), Munāẓẓir (منظّر), Naqqād (نقّاد), Faylasūf (فيلسوف), Muta’ammil (متأمّل), dan Mufakkir (مفكّر). 

1. Mujādil – مجادل (Pendebat)
من يُجيد عرض حججه ومناقشة الحجج المخالفة بأسلوب منطقي وحوار بنّاء.

Mujādil adalah mereka yang piawai menyampaikan argumen dan membahas argumen yang berseberangan dengan logika yang tertib dan dialog yang konstruktif. Dalam tradisi Islam, jadal bukanlah pertengkaran kosong, melainkan seni mempertahankan kebenaran dengan adab. Al-Qur’an sendiri memerintahkan dialog dengan cara yang lebih baik: “وجادلهم بالتي هي أحسن”.

Di era media sosial, sosok mujādil kian langka. Banyak yang berdebat, tetapi sedikit yang berdialog. Padahal, peradaban tumbuh dari perbedaan yang dikelola, bukan dari keseragaman yang dipaksakan. 😁

2. Bāḥith – باحث (Peneliti)
محقّق ومثقّف في قضايا الفكر والمعرفة، يقضي وقته بين الكتب والتجارب.

Bāḥith adalah pencari yang tekun. Ia menelusuri sumber, memeriksa data, dan menimbang kesimpulan. Tradisi Islam klasik melahirkan ribuan bāḥith dalam bidang tafsir, hadis, fikih, kedokteran, hingga astronomi.

Menjadi peneliti bukan hanya soal metodologi, tetapi juga etika: kejujuran intelektual, ketelitian, dan kesediaan untuk merevisi diri ketika fakta berbicara lain.

 3. Munāẓẓir – منظّر (Teoretikus)
من يجتهد في وضع أفكار ونظريات في ميدان معرفي معيّن، ويحاول إثباتها بالبراهين.

Munāẓẓir melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya mengumpulkan data, tetapi merangkai kerangka pikir. Ia membangun teori, menyusun konsepsi, dan menawarkan paradigma.

Tanpa munāẓẓir, ilmu berjalan tanpa arah. Namun teori yang tercerabut dari realitas akan kering. Karena itu, ia memerlukan dialog dengan bāḥith dan kritik dari naqqād.

4. Naqqād – نقّاد (Kritikus)
من يعطي حكماً على مزايا أو عيوب أو قيمة أو صفة أمر ما.

Naqqād bukan pencela. Ia penimbang. Ia memisahkan yang kuat dari yang rapuh, yang sahih dari yang lemah. Kritik adalah jantung dinamika ilmu.

Dalam sejarah Islam, tradisi kritik hadis dan sanad menunjukkan betapa ketatnya standar intelektual. Tanpa naqqād, ilmu mudah tergelincir pada dogma.

 5. Faylasūf – فيلسوف (Filosof)

من يبحث في المبادئ الأولى للأشياء، ويفسّر المعرفة تفسيراً عقلياً.

Faylasūf menyelami akar terdalam realitas: apa itu wujud, apa itu kebenaran, bagaimana manusia mengetahui. Filsafat dalam tradisi Islam tidak berdiri di luar agama, tetapi berdialog dengannya.

Pertanyaan-pertanyaan besar yang diajukan para filosof menjadi fondasi bagi bangunan sains, etika, dan teologi.

6. Muta’ammil – متأمّل (Kontemplatif)

من يُمعن النظر في الأفكار والمعاني التي تمرّ بالخاطر وتتطلّب تركيزاً ذهنياً.

Muta’ammil adalah jiwa yang hening. Ia memberi ruang bagi makna untuk tumbuh. Dalam dunia yang riuh, kontemplasi adalah kemewahan yang jarang dimiliki.

Padahal, dari keheningan sering lahir kebijaksanaan. Tadabbur dan tafakkur adalah perintah spiritual sekaligus intelektual.

 7. Mufakkir – مفكّر (Pemikir)

من يُعمل عقله ليستنبط حقائق الأمور.

Mufakkir merangkum semuanya. Ia menggunakan akalnya untuk menyimpulkan hakikat sesuatu. Ia tidak sekadar bereaksi, tetapi merefleksi.

Gelar ini mengandung tanggung jawab moral: berpikir demi kemaslahatan, bukan demi sensasi.

Gelar-gelar ini menunjukkan bahwa tradisi Arab-Islam memahami berpikir sebagai ekosistem. Ada yang berdebat, meneliti, merumuskan teori, mengkritik, berfilsafat, berkontemplasi, dan menyintesis. Krisis zaman ini bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan struktur berpikir. Kita memerlukan lebih banyak muta’ammil sebelum menjadi mujādil. Kita membutuhkan naqqād sebelum mengangkat teori sebagai kebenaran mutlak.

***
Marja'
Akun Qatar Foundation. Mukjam al washit. Musthalahat Al Arabiyah. Al Furuq Al Lughawiyah

Menjadi “Sebaik-Baik”, Standar Hidup Seorang Muslim

Halimi Zuhdy

Di tengah dunia yang gemar mengukur keberhasilan dengan angka yaitu jabatan, harta, pengikut, dan popularitas, maka Islam menghadirkan ukuran yang berbeda. Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wasallam berkali-kali menggunakan satu frasa kuat dengan kalimat: “Khairukum…” Sebaik-baik kalian…! 
Jika kita kumpulkan (sebelumnya, kami masukkan 37 hadis yang diawali dengan kalimat ini. Seolah Rasulullah shallalahu alaihi wasallam sedang menyusun ulang cara kita menilai hidup. Siapa yang terbaik? Yang paling kaya? Yang paling kuat? Yang paling terkenal? Ternyata tidak. Ukuran “terbaik” dalam Islam justru dimulai dari hal-hal yang sering tak terlihat.

Oh ia, jika kita cermati secara makna besar hadis-hadis tentang "khairukum" bukan sekadar menghitung jumlah literalnya, maka terlihat bahwa yang paling dominan dari hadis-hadis “sebaik-baik” adalah pembentukan kualitas pribadi: ilmu, akhlak, dan kebersihan hati, yang kira-kira mencakup sekitar 40 persen dari keseluruhan pesan. Ini menunjukkan bahwa standar terbaik dalam Islam pertama-tama dibangun dari dalam diri. 

Setelah itu, sekitar 30 persen berbicara tentang keluarga dan interaksi sosial, menegaskan bahwa kebaikan sejati harus terasa dalam relasi di rumah, di tengah sahabat, dan di masyarakat. Kemudian sekitar 20 persen menyentuh aspek ibadah dan simbol-simbol spiritual, seperti masjid, hari Jumat, dan dzikir, yang menjadi penopang ruhani kehidupan seorang Muslim. Adapun sisanya mencakup urusan ekonomi, kepemimpinan, serta kondisi-kondisi khusus seperti fitnah dan pengobatan, dan ini menandakan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, mengatur kualitas diri sekaligus tanggung jawab sosial dan realitas kehidupan.

Hadis pertama yang sangat populer menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari). Ukuran terbaik dimulai dari ilmu. Tapi bukan sekadar ilmu dunia, melainkan ilmu yang menghubungkan manusia dengan Allah. 

Kemudian Nabi Muhammad menegaskan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” Ilmu tanpa akhlak tidak cukup. Ibadah tanpa kelembutan hati tidak cukup. Bahkan dalam hadis lain disebutkan, manusia terbaik adalah yang hatinya bersih dan lisannya jujur. Di sini kita belajar satu hal "Islam membangun kualitas dari dalam, bukan dari luar".

Menariknya, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam tidak mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling lama shalatnya.” Beliau justru bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” Rumah adalah ruang paling jujur. Di sana tidak ada pencitraan. Di sanalah kualitas iman diuji. Seorang Muslim bisa terlihat santun di luar, tetapi jika keras terhadap istri, kasar kepada anak, dan tidak adil di rumah, ia belum mencapai standar “khairukum”.

Islam tidak membangun kesalehan panggung. Islam membangun kesalehan domestik.

Terus! Bermanfaat atau Tidak? Dalam hadis lain disebutkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Ini ukuran yang revolusioner. Kebaikan dalam Islam bukan kesalehan yang egois. Bukan spiritualitas yang menarik diri dari masyarakat. Tapi iman yang berdampak.

Memberi makan. Menjawab salam. Aman dari keburukannya. Menjadi tetangga yang baik. Itu semua masuk kategori “terbaik”. Artinya, ukuran keberagamaan bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan manusia.

Integritas Duniawi Bagian dari Iman. Bahkan urusan ekonomi pun masuk dalam daftar “sebaik-baik”. Sebaik-baik penghasilan adalah kerja tangan yang jujur. Sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan. Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang.

Islam tidak memisahkan moral dari ekonomi. Kejujuran finansial adalah bagian dari kualitas iman. Dan belum lagi tentang mudah, seperti mahal dan lainnya. Dunia tetap menjadi perhatian lo. 

Jika dirangkum, banyak hadis tentang “sebaik-baik” (khairukum) mengajarkan peta prioritas hidup seorang Muslim: memperbaiki hati dan ilmu, berbuat baik kepada keluarga, memberi manfaat bagi sesama, jujur dalam urusan dunia, dan istiqamah hingga akhir hayat. Bahkan penutup hidup yang terbaik adalah ketika lisan tetap berdzikir kepada Allah. Berbeda dengan dunia yang mengukur keberhasilan dari popularitas dan harta, Islam menilai dari akhlak, manfaat, dan kebersihan hati. Maka yang terpenting bukan seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa baik kita di hadapan Allah.

Semoga bermanfaat.

37 Sabda Nabi tentang “Sebaik-baik …”



Berikut kumpulan hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang ukuran “yang terbaik” dalam Islam — dari ilmu, akhlak, keluarga, hingga ibadah dan kehidupan sosial. Semoga menjadi pengingat dan bahan muhasabah bersama.
1. قال رسول الله ﷺ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
    Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.

2. «خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.

3. «خِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا»
   Orang terbaik pada masa jahiliah adalah yang terbaik pula dalam Islam jika memahami agama.

4. «خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.

5. «خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.

6. «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَرَدَّ السَّلَامَ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makan dan menjawab salam.

7. «خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan manusia aman dari keburukannya.

8. «خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
   Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

9. «خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلَاةِ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut (tidak berdesakan) dalam shalat.

10. «خِيَارُكُمُ الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللَّهُ»
    Sebaik-baik kalian adalah yang bila dilihat membuat orang ingat kepada Allah.

11. «خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ»
    Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umur dan baik amalnya.

12. «خَيْرُ النَّاسِ ذُو الْقَلْبِ الْمَخْمُومِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ»
    Sebaik-baik manusia adalah yang berhati bersih dan lisan jujur.

13. «خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ»
    Sebaik-baik sahabat adalah yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.

14. «خَيْرُ النَّاسِ فِي الْفِتَنِ رَجُلٌ آخِذٌ بِعِنَانِ فَرَسِهِ… أَوْ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِي بَادِيَةٍ يُؤَدِّي حَقَّ اللَّهِ عَلَيْهِ»
    Sebaik-baik manusia saat fitnah adalah yang berjihad atau yang menjauh sambil tetap menunaikan kewajiban kepada Allah.

15. «خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ»
    Sebaik-baik pemimpin adalah yang saling mencintai dengan rakyatnya.

16. «إِنَّ خَيْرَ أَسْمَائِكُمْ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ»
    Artinya: Sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdurrahman.

17. «خَيْرُ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ وَشَرُّ الْبِقَاعِ الْأَسْوَاقُ»
    Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.

18. «خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرُهُ»
    Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.

19. «خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى»
    Sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan harta.

20. «خَيْرُ الْعَمَلِ أَنْ تُفَارِقَ الدُّنْيَا وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
    Sebaik-baik amal adalah meninggal dengan lisan basah berdzikir.

21. «خَيْرُ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدِ الْعَامِلِ إِذَا نَصَحَ»
    Sebaik-baik penghasilan adalah kerja tangan yang jujur.

22. «خَيْرُ الْمَجَالِسِ أَوْسَعُهَا»
    Sebaik-baik majelis adalah yang paling lapang.

23. «خَيْرُ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ»
    Sebaik-baik tabi’in adalah Uwais.

24. «خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ»
    Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.

25. «خَيْرُ الدِّينِ أَيْسَرُهُ»
    Sebaik-baik ajaran agama adalah yang mudah.

26. «خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ»
    Artinya: Sebaik-baik hari adalah hari Jumat.

27. «خَيْرُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ… وَخَدِيجَةُ… وَفَاطِمَةُ… وَآسِيَةُ…»
    Artinya: Sebaik-baik wanita dunia ada empat: Maryam, Khadijah, Fatimah, dan Asiyah.

28. «خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ…»
    Artinya: Sebaik-baik air di bumi adalah Zamzam; mengenyangkan dan menjadi obat.

29. «خَيْرُ مَا رُكِبَتْ إِلَيْهِ الرِّوَاحِلُ مَسْجِدِي هَذَا وَالْبَيْتُ الْعَتِيقُ»
    Artinya: Sebaik-baik tujuan perjalanan adalah masjid Nabi dan Ka’bah.

30. «خَيْرُ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضُ…»
    Artinya: Sebaik-baik pakaian adalah yang putih.

31. «خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا…»
    Artinya: Saf terbaik lelaki di depan, dan bagi wanita di belakang.

32. «خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ…»
    Artinya: Sebaik-baik manusia adalah generasi Nabi, lalu setelahnya, lalu setelahnya.

33. «خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ»
    Artinya: Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.

34. «خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ…»
    Artinya: Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan dipandang dan taat.

35. «خَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ»
    Artinya: Sebaik-baik agama kalian adalah wara’.

36. «خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ»
    Artinya: Sebaik-baik tempat shalat wanita adalah bagian terdalam rumahnya.

37. «خَيْرُ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ»
    Artinya: Sebaik-baik pengobatan adalah bekam.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang terbaik dalam ilmu, akhlak, keluarga, dan amal.

اللهم اجعلنا من الصالحين
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

***
PP. Darunnun Nun

Kamis, 22 Januari 2026

Gaya Belajar Imam al-Bukhari



Halimi Zuhdy

Saya ditanya seorang santri, bagaimana gaya belajar imam Bukhari. Saya agak bingung, karena tidak tahu persis "bagaimana beliau belajar", saya baca-baca dibeberapa artikel dan kitab di antaranya tentang "sairal al-a'lam li imam Bukhari". Saya kaget, kaget banget. Beliau bukan hanya tekun, tapi di atas rata-rata orang tekun, rajin, keras dalam menuntut ilmu. 
Jika hari ini orang belajar cukup dengan "scroll", mungkin sambil leyeh-leyeh. Tidur-tidurab sambil minum kopi dan ngeteh.he. Beliau ini, seperti dengan keringat yang tak berhenti mengalir. Beliau, Imam al-Bukhari belajar dengan ribuan langkah kaki. "Itu kan dulu! Gak ada internet, gak ada google, gak ada AI! Ah, ribet amat" , apakah pada masanya ada yang banyak seperti beliau ?Ilmu sang Imam tidak lahir dari ruang nyaman, tetapi dari perjalanan panjang lintas negeri. Gak ada pesawat, ada mobil ber-AC, dan segala fasilitas seperti hari ini. 

Setahun ia menetap di Madinah, lima tahun di Bashrah, bolak-balik ke Makkah saat musim haji. Syam, Mesir, Jazirah Arab ia datangi dua kali. Bashrah empat kali. Hijaz enam tahun. Kufa dan Baghdad? Bahkan ia sendiri tak sanggup menghitung berapa kali masuk bersama para ahli hadis. Saking wakehnya. Gak bisa dibayangkan. 

Lah, beliau mengelilingi dunia Islam, Makkah, Madinah, Syam, Baghdad, Bashrah, Kufa, Mesir, Bukhara, Marw, Naisabur, hingga Khurasan demi satu tujuan "memastikan ilmu sampai kepadanya dari sumber paling sahih". Ia tidak puas mendengar satu riwayat dari satu orang. Ia membandingkan, mengonfirmasi, dan menguji. Tak heran jika beliau berkat:

كتبت عن ألف شيخ أو أكثر ما عندي حديث لا أذكر إسناده
“Aku menulis hadis dari seribu guru atau lebih, dan tidak ada satu hadis pun yang aku catat kecuali aku mengetahui sanadnya.” wow. Ini bukan sekadar hafalan. Ini adalah disiplin akademik tingkat tinggi. 

Dalam Al Mausu'ah, sejak kecil, Imam al-Bukhari dianugerahi hafalan yang kuat dan akal yang jernih. Tapi yang membuatnya luar biasa bukan bakat semata, melainkan etos belajar, kerja keras, ketekunan, dan mudzakarah tanpa henti. Ia memilih jalan paling teliti dan paling berat dalam ilmu hadis karena ia tahu, kebenaran tidak lahir dari kemalasan metodologis. Wow. 

Kehebatan Imam al-Bukhari bukan hanya terdengar di cerita, tapi terbukti di medan ujian. Saat beliau datang ke Baghdad, para ahli hadis setempat mendengar reputasinya. Bukan untuk mengagungkan, mereka justru sepakat “Kita uji saja.”

Seratus hadis disiapkan.
Bukan hadis biasa.
Sanad dan matannya sengaja dibolak-balik.
Matn hadis A dipasangkan dengan sanad hadis B. Sanad yang lain dipindah ke matn yang lain. Lalu hadis-hadis kacau itu dibagi kepada sepuluh orang (masing-masing membawa sepuluh hadis) untuk dilontarkan di majelis Imam al-Bukhari.

Satu per satu mereka membaca.
Dan Imam al-Bukhari menjawab dengan kalimat yang sama “Aku tidak mengenalnya.”

Orang-orang mulai berbisik.
Sebagian heran. Sebagian kecewa.
Yang tidak tahu skenario berkata: “Ah, hafalannya biasa saja.”

Tapi yang paham tersenyum kecil “Dia sedang mengerti permainan ini.”

Setelah sepuluh orang selesai, seratus hadis selesai dilontarkan, dan majelis menjadi tenang…
Imam al-Bukhari pun mulai berbicara.

Ia menoleh kepada orang pertama:
“Hadis pertamamu engkau bacakan begini, yang benar begini. Hadis kedua begini, yang benar begini…”
Satu per satu.
Urut.
Tanpa tertukar.

Ia kembalikan "setiap matn ke sanadnya", dan "setiap sanad ke matnnya", bukan hanya satu orang, tapi "seluruh sepuluh orang", lengkap seratus hadis, "dalam sekali duduk".

Majelis pun terdiam.
Lalu mengakui.
Tanpa debat. Tanpa sisa ragu.

Ibnu Hajar berkomentar dengan kalimat yang sangat tajam, “Yang menakjubkan bukan sekadar mengembalikan kesalahan ke yang benar, itu wajar bagi seorang hafizh. Yang benar-benar menakjubkan adalah kemampuannya menghafal kesalahan itu sendiri, persis sebagaimana disampaikan, hanya dengan sekali dengar.” ini bukan dongeng Lo. Dulu gak ada leptop🤩

Di situlah semua tunduk.
Bukan karena kagum semata,
tetapi karena "ilmu yang tak bisa dipermainkan".

Oh ia. Dalam Manhaj Al-Imam Bukhari Fi tarajum al-abwab al-shahiha, bahwa di balik kehebatannya, Imam al-Bukhari bukan sosok spontan tanpa sistem, melainkan ilmuwan dengan manhaj keilmuan yang rapi, matang, dan sangat modern jika dibaca hari ini. 

Beliau menempuh rihlah ilmiah puluhan tahun demi satu hadis yang sahih, menerapkan verifikasi tanpa kompromi terhadap perawi dan sanad hingga Shahih-nya menjadi standar emas hadis, menggabungkan metode deskriptif, kritis, dan induktif (istiqra’) dalam berfikir dan beristinbath, menyatukan ilmu dengan ibadah sampai setiap bab ditulis setelah shalat dan munajat, melahirkan al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ sebagai karya pionir yang disusun dengan kehati-hatian selama enam belas tahun, menyelipkan fikih dan tafsir lewat tarājim bab yang halus namun tajam, sangat teliti membedakan perawi-perawi yang mirip tanpa gegabah, serta menghadirkan inovasi penulisan melalui hadis mu‘allaq, tarājim mursalah, dan tarājim mufradah. 

Dari semua itu jelas bahwa Imam al-Bukhari bukan sekadar hafizh hadis, tetapi arsitek peradaban ilmu yang mengajarkan bahwa wibawa keilmuan lahir dari perjalanan panjang, metode ketat, kejernihan hati, dan ibadah yang sungguh-sungguh. 

Apa ini sebuah keberkahan ilmu?

Menolak Surga! Menerima Jannah



Halimi Zuhdy

Kemarin ada yang bertanya, ngapain kita menuju “surga”, bukankah di surga adalah tempat dewa-dewa? Ehem. Saya sedikit mengerutkan dahi untuk menjelaskan tentang sebuah "kata" dalam bahasa, antara "kata" dan "makna". seperti "sembahyang" dan "shalat". Memang, untuk menjelaskan kepada orang yang tidak suka membaca, atau menolak analisis linguistik agak sedikit butuh waktu.wkwkw
Kata "surga" di Nusantara. Secara etimologis menandai jejak pengaruh Sanskerta svarga sebagai “ruang cahaya” dan “kediaman ilahi”, yang kemudian bertransformasi secara fonetis dan kultural dalam berbagai bahasa daerah dari sawarga hingga swarga. Di saat yang sama, tradisi lokal Nusantara telah memiliki padanan konseptual melalui istilah kahyangan, yang berakar pada kata hyang dan merepresentasikan gagasan keilahian, kesakralan, serta ruang transenden tempat bersemayam para leluhur atau kekuatan adikodrati. Dengan demikian, “surga” dalam konteks Indonesia dapat dibaca bukan sekadar sebagai serapan linguistik, tetapi sebagai sintesis makna "pertautan antara kosmologi impor dan kearifan lokal yang sama-sama memandang surga sebagai simbol puncak kesucian, cahaya, dan kedekatan dengan Yang Ilahi". Lah, bagaiman dalam agama Islam? Kan tidak ada kata "surga"? 

Toyyib. Sekali lagi dalam Islam, istilah aslinya adalah "Jannah", sebagaimana digunakan langsung oleh Al-Qur’an, sedangkan kata “surga” hanyalah terjemahan bahasa Indonesia untuk memudahkan pemahaman. Jika seseorang memilih memakai kata "Jannah" dan menolak kata “surga”, dapat dijelaskan bahwa keduanya menunjuk pada makna yang sama, hanya berbeda bahasa, bukan berbeda konsep. "Jannah" adalah istilah wahyu, sementara “surga” adalah padanan linguistiknya, sehingga perbedaannya bersifat bahasa, bukan akidah atau rasionalitas iman. Sudah paham?

Toyyib. Sedikit kita lirik "Asal-usul Kata Jin, Majnun, Janin, dan Jannah" ini pernah saya tulis, beberapa bulan lalu. Sekarang, kita lirik lagi, hanya sebuah contoh sedikit saja. 

Bahasa Arab disinyalir sebagai bahasa tertua dan satu-satunya bahasa yang tidak punah, dari bahasa-bahasa yang pernah hidup semasa dengannya. Ia tidak hanya berumur 1400 tahun ketika Alquran diturunkan, tapi sudah ribuan tahun sebelumnya, bahkan dianggap menjadi bahasa Nabi Adam AS.

Ketika banyak bahasa Ibu sudah tergantikan, seperti; Bahasa Afrika, Asia Fasifik, Amerika Selatan, Amerika, Ethiopia dan bahasa yang berada diberbagai belahan negara atau benau lainnya hanya tinggal cerita, dan dimuseumkan. Namun, bahasa Arab, terutama yang digunakan oleh Alquran masih utuh, tidak ada perubahan, bukan kemudian kaku, namun ia terus berkembang dengan indah sesuai dengan kadar lerubahannya.

Dan bahasa Arab, bukan hanya sebagai bahasa biasa, yang tumbuh dan berkembang satu persatu sesuai kebutuhan, tapi bahasa ini (Arab) adalah bahasa yang ilmiah (saintifik), yang dapat dirunut sampai ke kata awal, dan kata paling awal, dan setiap kalimat-kalimat yang muncul dapat merujuk pada akar (judzur) kata yang sama atau kata tertentu.

Lihatlah kata seperti Din (Agama), Dain (Hutang), Dunya (Dunia), Madinah (kota), Dayyan (hakim), dan kata yang berdekatan lainnya. Kata-kata tersebut di atas, tidak hanya memiliki makna tersendiri, namun memiliki keterkaitan makna dan maksud. Insyallah, akan penulis analisis pada kajian berikutnya.

Kali ini, penulis hadirkan empat kata, “Janin (Janin), Jin (Jin), Majnun (Gila), dan Jannah (Surga)”. Kata yang lain yang memiliki satu akar adalah; Jan, Majjanan, Jani, Jinayah, Majun, junun dan lainnya.

Dalam kitab Mufrodat (kata-kata), Raghib al-Ashfahani, bahwa kata, “Jan” adalah tutup (satr) atau tertutupnya sesuatu dari panca indra, maka, kata “Jannah (Surga, kebun)” maknanya “tertutup”, ia tertutup oleh rerimbunan pohon, karena banyaknya pepohonan, bunga-bunga dan lainnya yang berada di dalamnya. Kata “Janin (Janin)” juga bermakna “tertutup”, karena ia tidak mampu dilihat oleh mata telanjang, bahkan oleh alat canggih pun, ia masih samar, walau kadang bisa ditebak.

Kata “Majnun (Gila)”, adalah orang yang pikirannya “tertutup” atau terhalang, tidak mampu berfikir dengan baik, bahkan tertutup oleh apapun dari luar dirinya dan dari dalam dirinya.

Sedangkan kata “Jin (Jin)” berasal dari “Jann” yang juga tertutup, tertutup dari pandangan manusia, ia tidak mampu dilihat oleh siapa pun, kecuali Allah tampakkan, dan ia masuk pada makhluq ghaib. Dalam kitab “Tadzhib al-Lughah lil Harwi” ia bermakna bersembunyi, menahan diri, atau menutupi dirinya dari manusia.

وجاء في تهذيب اللغة للهروي: الجِنُّ: جماعةُ ولد الجانّ، وجَمْعُهُم: الجِنَّةُ، والجانُّ، وَإِنَّمَا سُمُّوا جناً لأنّهُمُ اسْتَجنُّوا من النَّاس، فَلَا يُرَوْنَ، والجانُّ هُوَ أَبُو الجِنِّ خُلِقَ من نارٍ، ثمَّ خُلِق مِنْهُ نَسْلُه.

Dan ada yang memaknai kata-kata, “Jin, Janin, Jan, Jannah, Majnun, dan Majjnan” dengan “Hubungan dua arah, yang saling membutuhkan, saling memberi, saling bersinergi”. Misal; kata “Janin” ia memiliki dua huruf nun, “Tabaduliyyah Fa’aliyah al-ihtiwa'”.

Janin dan Ibunya memiliki hubungan yang kuat (yatabadaalani), Janin membutuhkan atau mengambil oksigen dari Ibunya, dan Janin memberi oksigen karbon. Demikian dengan kata-kata yang lain di atas. 

Allah ‘alam bishawab.

Tradisi Merawat Ilmu, Bukan Sekadar Mengutip(Khidmah al-kitab)

Halimi Zuhdy

Di tengah zaman serba cepat, ringkas, sat set, kita mudah tergoda untuk menjadikan ilmu sekadar “kutipan”. Ambil satu kalimat, tempelkan di presentasi, lalu selesai. Belum lagi di dunia perjurnalan, walau hanya oknum, kutip sana kutip sini, terkadang belum dibaca dengan cermat dan belum dipahami. Tempel saja. 
Padahal, dalam tradisi keilmuan klasik, terutama di dunia bahasa Arab, ilmu justru hidup karena dirawat, dipelihara, dan dijaga dengan kesabaran lintas generasi. Sangat telaten banget. Salah satu ungkapan yang menangkap semangat ini adalah sebuah frasa “خِدمةُ الكتاب/khidmat al-kitāb", yang secara harfiah berarti “melayani kitab”.

Sebelum dilanjutkan...cari posisi duduk yang enak dulu, dan siapkan kopi tubruknya...Toyyib mari lanjutkan. Ungkapan khidmah al-kitab/pelayan kitab digunakan oleh Abd al-Qadir al-Baghdadi dalam "Khizanat al-Adab" ketika ia menyebut para ulama yang mengelilingi mahakarya "Sibawaih", "al-Kitab" adalah sebuah kitab tata bahasa Arab yang sering dianggap fondasi besar ilmu nahwu. Yang menarik, al-Baghdadi tidak menyebut mereka sekadar “pensyarah” atau “komentator”, melainkan para pengabdi kitab. Ada nada etis di situ, seolah-olah kerja ilmiah bukan cuma urusan kepandaian, tetapi juga kesetiaan dan tanggung jawab. Bukan sembarang bekerja, tetapi ada khidmah besar. 

Toyyib. Apa sebenarnya yang dilakukan para “pengabdi” ini? 

Pertama, mereka menjaga "akurasi riwayat". Dalam sejumlah pembahasan, al-Baghdadi menyinggung bait-bait syair yang dikutip Sibawaih, ada yang tidak jelas penyairnya, ada yang dinisbatkan kepada tokoh tertentu, ada pula yang riwayatnya diikuti begitu saja oleh generasi setelahnya. Di sini tampak bahwa tradisi keilmuan klasik sangat menaruh perhatian pada satu hal yang sering dianggap sepele hari ini "siapa yang berkata dan bagaimana teks itu sampai kepada kita". Ini keren sekali. Butuh ketelitian luar biasa. 

Kedua, mereka menghidupkan "pemahaman", bukan sekadar menyalin. Al-Baghdadi menunjukkan bahwa kadang sebuah makna yang beredar bukan kalimat langsung dari Sibawaih, tetapi hasil "istinbath" sebuah inferensi cermat yang disusun para pensyarah dari redaksi Sibawaih. Dan Ini penting untuk dipahami, bahwa ilmu tidak berhenti pada “apa bunyinya”, melainkan bergerak pada “apa maknanya”, “apa konsekuensinya”, dan “bagaimana ia dipahami secara konsisten”.

Namun tradisi ini juga jujur mengakui sisi manusianya. Ada bagian ketika al-Baghdadi menyesalkan, seperti bait tertentu diriwayatkan sebagaimana adanya, tetapi para “khadamah al-kitab” tidak menyebut kelanjutannya atau tidak menjelaskannya secara memadai. Di situ kita belajar bahwa warisan ilmu bukan museum yang selalu rapi. Ia adalah kerja manusia, nama kerja manusia kadang lengkap, kadang kurang; kadang terang, kadang menyisakan celah.

Di era digital, pelajaran ini terasa relevan. Kita hidup di masa banjir informasi, tetapi miskin "khidmah". Banyak orang cepat berkomentar, sedikit yang tekun memeriksa. Banyak yang gemar menyimpulkan, sedikit yang mau menelusuri sumber. Padahal, yang membuat ilmu bertahan bukan kecepatan menyebar, melainkan kesungguhan merawat. Apalagi di medsos sangat ngeri sekali. Sar ser, sat set, tapi banyak hoaknya. Tidak tahu sembernya, tidak ada marja'nya, sar ser yang penting keren...duh kah. 

Istamir yuk! Dalam konteks pendidikan kita, “khidmah” bisa berarti hal sederhana tetapi menentukan, yaitu "membaca teks sampai selesai", menyebut sumber dengan benar, membandingkan rujukan, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak tergesa-gesa mengklaim kebenaran tunggal. Khidmah juga berarti memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan yaitu menulis catatan yang jelas, menyusun penjelasan yang rapi, dan menutup celah-celah yang dulu belum tertutup.

Sibawaih menulis "al-Kitab" sebagai karya ilmiah. Tetapi karya itu menjadi tradisi karena ada yang mengabdi seperti al-Jarmi, al-Sirafi, Abu Ali al-Farisi, dan banyak nama lain yang mungkin tak sepopuler “pengarangnya”, tetapi tanpanya, kitab besar hanya tinggal teks sunyi. Mereka membuatnya tetap berbicara. Belum lagi kalau bercerita kitab-kitab hebat siapa di balik besarnya kitab Al-umm li imam asyafi? Nanti saja kita kupas.😁

Maka, ketika al-Baghdadi menyebut mereka “khadamah” atau para pengabdi kitab, kita seperti diingatkan, bahwa di balik ilmu ada adab, di balik kepandaian ada ketekunan, di balik warisan ada tanggung jawab. Dan di zaman yang sat set sut sat dan serba cepat ini, barangkali yang paling kita butuhkan bukan semakin banyak kutipan, melainkan semakin banyak "khidmah".

Sumenep, 29 Des 2025

Marja' 
Muhammad Nuri dalam tahqiq al makhthuh fi arwaqatil jamiah. Kitab Sibawaih. Mujam al ma'ani. Al Baghdadi, Khazanatul Adab.

Perdebatan Sengit Dua Ulama Besar, Imam Malik & Laits, Tapi Berakhir Haru

Halimi Zuhdy

Saya kadang heran, kok bisa ada yang senang membully sesama saudara, bahagia ketika saling mencaci, padahal sering mengucap “al-muslimu akhul muslim” sebenarnya urusan agama itu simpel, perbedaan pasti ada, tapi jangan sampai jadi alasan saling memaki dan merendahkan, karena kalau benar-benar mengamalkan hadis, kita mestinya lebih menjaga lisan dan perasaan saudara sendiri "jangan sampai dia malu, sakit, dan merasa ditinggalkan, sebab perbedaan itu sunnatullah, namun perbedaan yang justru membuat sesama seagama saling menjauh dari ukhuwah, alih-alih saling menguatkan, itu justru terasa lucu dan menyedihkan.
Apa mulai dulu tidak ada perbedaan?, ada lah. Banyak banget. Tapi, kan tidak setiap perbedaan harus dinormalisasi. Alasannya mulai zaman sahabat, banyak perbedaan sengit, bahkan perang. Ia, benar. Memang mau ditiru sampai sekarang? Kan tidak usah ditiru. Kalau bisa tidak saling mencaci maki, kenapa harus saling mencaci? Duh kah, lessoh.

Ada kisah menarik banget. Dan ini contoh, bahwa perbedaan, tidak harus saling mencaci maki, membuly, meledek apalagi harus bertegkar. Kisah dua imam besar; Imam Malik bin Anas dan Imam Laits bin Sa‘d.

Mereka berbeda pendapat. Bukan beda remeh, tapi beda pada fondasi metode memahami agama. Imam Malik (Imam Madinah) memandang bahwa amal penduduk Madinah (praktik yang diwarisi generasi demi generasi) adalah hujjah yang sangat kuat, seperti hadis mutawatir dalam kekuatannya. Sedangkan Imam Laits, ulama besar Mesir, tidak sepakat.

Perdebatan beliau sangat serius. Surat-surat mereka tajam. Argumen mereka panjang. Mereka tidak “berdamai” dalam arti melebur pendapat. Tidak. Mereka tetap berbeda.

Tapi di sinilah keindahan akhlak mereka terlihat. Di tengah perbedaan yang panas itu, Imam Malik mengirim surat “Aku punya utang.” 

Dan Imam Laits (yang sedang berbeda pendapat keras dengannya) tidak membalas dengan sindiran, tidak dengan “kan kamu yang paling benar”, tidak dengan “minta tolong ke penduduk Madinah saja.” Beliau justru mengirim lima ratus dinar.

Bayangkan! saat orang lain mungkin akan berkata, “Rasain!”, Imam Laits berkata dengan tindakannya, “Aku tetap saudaramu.” Masyallah. Keren banget bro.

Lalu ketika Imam Malik butuh biaya untuk menikahkan putrinya, beliau berkirim surat lagi, meminta "‘ushfur", pewarna mahal untuk keperluan pernikahan.

Dan Imam Laits membalas bukan dengan secukupnya. Beliau mengirim "tiga puluh unta" penuh muatan pewarna mahal. Bukan cuma menutup kebutuhan, tapi membanjiri kebutuhan itu dengan kemuliaan.

Seolah Imam Laits ingin mengajarkan sesuatu yang berat tapi indah, bahwa "ikhtilaf" (perbedaan pendapat) tidak pernah punya hak untuk membunuh "ukhuwah*".

Dan kisahnya belum selesai. Sebelum lanjut, minum kopi tubruknya dulu! He

Toyyib. Ketika Imam Laits berhaji dan singgah ke Madinah, Imam Malik menghadiahkan kurma muda (ruthab) di atas sebuah piring, hadiah sederhana, tapi penuh cinta. Ada ukhuwah. Dan, Imam Laits mengembalikan piring itu… dengan seribu dinar emas di atasnya. Satu piring kurma dibalas dengan satu piring yang berkilau. Wow, berasa banget. 

وعندما حج الإمام الليث وزار مدينة رسول الله ﷺ، أَهْدَى إِلَيْهِ ‌مَالِكُ ‌بْنُ ‌أَنَسٍ رُطَبًا عَلَى ‌طَبَقٍ فَرَدَّ إِلَيْهِ الليثُ عَلَى الطَّبَقَ أَلْفَ دِينَارٍ من الذهب. 500 ألف ريال

Bukan karena Imam Malik “kurang”, tapi karena Imam Laits “besar”.

Di titik ini, hati kita biasanya tertohok, kok bisa ya… orang beda pendapat, tapi tetap saling menguatkan?

Kok bisa ya… orang berdebat, tapi tidak kehilangan adab?

Dan pertanyaan yang lebih menyakitkan, 
kenapa kita yang beda pendapatnya kadang cuma soal selera, organisasi, gaya ceramah, atau hal cabang justru gampang putus silaturahmi?

Yang membuat kisah ini makin menggetarkan adalah satu kalimat Imam Syafi’i tentang Imam Laits “Laits lebih faqih daripada Malik, hanya saja murid-muridnya tidak mengangkat mazhabnya.”

إن الإمام الشافعي قال عنه:( ‌اللَّيْثُ ‌أفقهُ من مَالكٍ إِلَّا أَن أَصْحَابه لم يقومُوا بِهِ).

Seolah sejarah berkata, ada orang sekelas itu, ilmunya tinggi… tapi keindahannya bukan hanya pada kecerdasan, melainkan pada kelapangan jiwa.

Imam Laits bukan orang miskin. Beliau kaya. Sangat kaya. Tapi hartanya tidak mengunci hatinya. Justru hartanya menjadi kendaraan kebaikan. Setiap hari beliau memberi. Tidak menunggu diminta. Tidak menunggu viral. Tidak menunggu dipuji.

Dan ketika khalifah besar Abu Ja‘far Al-Manshur ingin menjadikannya penguasa Mesir, Imam Laits menolak. Dengan tegas. Bukan karena beliau tak mampu, tapi karena beliau tahu, "ada orang yang ketika memegang jabatan, ilmunya bisa berkurang, hatinya bisa tergelincir." Beliau memilih tetap menjadi pelita. Bukan kursi.

Lalu ada satu bagian yang pahit, tapi penting orang yang justru direkomendasikan Imam Laits untuk jadi gubernur Mesir malah marah dan bersumpah tidak mau berbicara dengan beliau.

Di situ kita belajar "kadang kebaikan tidak dibalas kebaikan. kadang kemuliaan bertemu jiwa kecil.
tapi orang besar tidak mengecil karenanya.

Orang besar tetap besar. Dan sekarang, mari kita lihat diri kita. Kita hidup di zaman di mana beda pendapat sering dijadikan bahan untuk mematahkan orang, bukan memuliakan ilmu. Kita gampang mengunci pintu hanya karena kalimat. Kita gampang memutus hubungan hanya karena perbedaan cara pandang.

Padahal para imam mengajarkan: boleh keras pada argumentasi, tapi lembut pada persaudaraan. boleh berbeda dalam fiqh, tapi tetap satu dalam akhlak.

Karena tujuan ilmu bukan memenangkan perdebatan. Tujuan ilmu adalah mendekatkan manusia pada kebenaran tanpa menginjak kehormatan orang lain. Maka jika suatu hari kamu berbeda pendapat dengan saudaramu, ingat dua nama ini. Malik dan Laits. Dua puncak ilmu yang tidak selalu sepakat…
tapi selalu saling memuliakan.

Dan mungkin, di situlah ukuran “dewasa” dalam beragama "Bukan seberapa banyak dalil yang kita hafal, tapi seberapa lembut hati kita ketika dalil kita tidak sama dengan orang lain."

Semoga Allah merahmati keduanya.

Dan semoga Allah menumbuhkan pada kita secuil dari kelapangan jiwa mereka 
agar perbedaan tidak mengubah kita menjadi orang yang sempit, melainkan orang yang makin mulia.

Gelar dan Sebutan Penulis dalam Bahasa Arab(Ahl Al-Qalam)


Halimi Zuhdy

Di dalam tradisi kebahasaan dan kesusastraan Arab, terdapat beragam istilah khusus yang bukan hanya sekadar label melainkan representasi fungsi, gaya, dan tujuan ekspresi penulisannya. 

Bahasa Arab tidak membiarkan praktik penulisan menjadi samar setiap modus, metode, dan tujuan diberi nama yang jelas, menggambarkan peran intelektual dan estetis si penulis. Mungkin bahasa lainnya juga sama. Tapi, ini hanya menilik dalam bahasa Arab. 
Istilah-istilah ini mencerminkan bagaimana Bahasa Arab menata dunia penulisan secara terstruktur dan bermakna, serta menunjukkan kompleksitas hubungan antara simbol, makna, dan identitas pencipta karya. Dan, istilah ini juga sudah sangat dikenal dalam berbagai kitab klasik dan modern. 

1. أديب  Adīb (Sastrawan)
مَن يُبْدِعُ في صُنْعِ الأعمالِ الأدَبِيّةِ شعرًا أو نثرًا، ويتسمُ ببلاغةٍ وفكرٍ وثقافةٍ واسعةٍ.

Seorang "adīb" adalah pencipta karya sastra, baik puisi maupun prosa, yang tidak hanya menulis, tetapi juga menghidupkan bahasa dengan keindahan (بلاغة), wawasan budaya, dan kedalaman pemikiran. Istilah ini menandai hubungan erat antara ekspresi estetis dan pemikiran reflektif dalam teks.

2. شاعر  Syāʿir (Penyair)
مَن ينظّمُ الشعر مستخدمًا الكلامَ المُوزونَ المُقفى، ويستخدمُ الصورَ البلاغيةَ والتعابيرَ الأدبيّةَ.

Dalam budaya Arab, "shaʿir" bukan sekadar pembentuk kata berima, ia adalah pemikir simbolikyang menggunakan bahasa untuk memberi bentuk pada pengalaman batin, emosi, dan realitas sosial. Puisinya tidak sekadar estetika, tetapi juga cara berpikir yang bernalar.

3. ناثر  Nāthir (Penulis Prosa)

من يكتب النثر أي الكلام المرسل غير الموزون ولا المقفى ويعبر من خلاله عن الأفكار بأسلوب مباشر وفني.

"Nāthir" menunjukkan penulis yang menggunakan prosa langsung untuk mentransmisikan gagasan, dengan gaya yang tidak terikat ritme puisi namun tetap artistik. Ia adalah penghubung antara ekspresi ide dan gaya naratif yang lugas serta bermakna.

4. كاتب  Kātb (Penulis)

من يحْدُث أو ينقل النصوص المكتوبة أو يصوغها—سواء كانت أفكارًا أصليةً له أو منقولة.

Istilah "kātb" merujuk pada siapa saja yang menulis atau menyusun teks—baik itu ide asli maupun representasi ulang. Di sini kita melihat bahwa "menulis adalah proses berpikir dan menyampaikan gagasan", terlepas dari bentuknya.

5. مؤلف  Mu’allif (Pengarang)
شخص يبتكر فكرةً أو عملاً أدبيًّا أو محتوى كتابيًا أصليًّا ويحسن تركيبه وتنظيمه.

Seorang "mu’allif" adalah pengarang yang menghasilkan karya orisinal dan memiliki struktur serta organisasi yang matang—sering kali menjadi manifestasi dari dialog antara pemikiran pribadi dan konteks budaya yang lebih luas.

6. روائي  Riwā’ī (Novelis)
من يبدع في كتابة الروايات، وينسج العوالم والأحداث والشخصيات، ويعرضها في سرد ممتد.

Istilah "riwā’ī" memberi nama pada seniman narasi yang "membangun dunia", menyusun karakter dan kejadian dalam struktur cerita yang kompleks. Novelis bukan sekadar pencerita, tetapi "arsitek pengalaman manusia" dalam bentuk teks panjang.

7. خطّاط  Khattāṭ (Kaligrafer)

من يتقن فن الخط العربي، ويحول الحروف إلى لوحاتٍ فنيةٍ نابضةٍ بالجمال.

Bahasa Arab secara visual juga bernilai estetika tinggi. "Khattāṭ/" adalah penghubung antara bahasa dan seni visual, di mana huruf-huruf dilukiskan sebagai bentuk ekspresi yang bernilai dan bermakna.

Setiap istilah Arab di atas bukan hanya menunjukkan “siapa dia”, tetapi bagaimana ia berpikir dan berkontribusi pada ruang sosial budaya. Bahasa Arab memberi ruang yang kaya untuk membedakan antara gaya, tujuan, bentuk, dan fungsi kreatif.

Melalui kajian istilah-istilah ini, kita melihat bahwa Bahasa Arab memiliki "arsitektur semantik" yang cermat dalam memberi nama kepada berbagai bentuk ekspresi intelektual dan artistik. Nama-nama ini bukan label pasif, tetapi indikator cara berpikir, tujuan kultural, dan fungsi sosial dari sang pembentuk teks.

اللغةُ ليستْ ناقلَ معاني فحسبْ، بل هي بُنيةُ فِكرٍ وثقافةٍ تُؤسِّسُ لِفهمِ الإنسانِ للعالمِ.

 Bahasa bukan sekadar pembawa makna, ia adalah struktur pemikiran dan budaya yang membentuk cara kita memahami dunia.

Marajik
Ma'ajim Al-Ma'ani. Hisab Muassasah Qatar. Musthalahat

Belajar Hidup Sakinah dari Berita Perselingkuhan

Halimi Zuhdy

Dalam beberapa tahun terakhir, berita perselingkuhan semakin sering muncul di ruang publik. Dari tokoh terkenal hingga kisah rumah tangga biasa yang viral di media sosial, semuanya menghadirkan kegaduhan yang sama "keterkejutan, kecaman, dan rasa prihatin". Namun, di balik riuh itu, sesungguhnya ada pelajaran besar yang layak direnungkan bersama, terutama tentang makna hidup berumah tangga yang sakinah. Oh ia, bukan hanya tentang perselingkuhan, banyak berita dan kisah yang menjadi pelajaran setiap hari, tapi...!!! 
Yuk. Lanjut. Berita perselingkuhan selalu terasa pahit. Ia datang bukan sekadar sebagai kabar sensasi, tetapi sebagai cermin retak yang memantulkan rapuhnya sebuah komitmen. Di balik potongan judul dan hiruk-pikuk komentar, ada luka yang tidak termaktub. Hati pasangan yang dikhianati, anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan keluarga yang runtuh perlahan tanpa suara.

Rumah tangga sejatinya dibangun di atas mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang kokoh. Ketika perselingkuhan masuk, yang hancur bukan hanya kepercayaan, tetapi juga sakinah itu sendiri. Ketenteraman berubah menjadi kecemasan, cinta tergeser oleh curiga, dan doa-doa malam menjadi isak yang tersembunyi. Banyak nama-nama yang dirayakan, tapi kemudian ada berita boooom, selingkuh! 

Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa perselingkuhan bukan fenomena langka. Sekitar 20–30 persen pria dan 15–20 persen perempuan mengaku pernah terlibat perselingkuhan dalam kehidupan pernikahan mereka. Angka ini tidak dimaksudkan untuk menormalisasi dosa, melainkan menjadi peringatan bahwa godaan dan kelalaian adalah ancaman nyata dalam kehidupan rumah tangga modern. Betapa cermin berita terpantul setiap hari, tapi selalu ada setiap detik berita! Selingkuh A dan B, meninggalkan C. 

Menariknya, sebagian besar pelaku perselingkuhan tidak memulainya dengan niat besar. Ini hasil riset ya!. Beragam riset psikologi keluarga menyebutkan beberapa sebab dominan sekitar 60–70 persen mengaku karena hubungan emosional yang terasa kering, lebih dari 50 persen karena kurangnya komunikasi dan perhatian, sementara sisanya dipicu oleh kesempatan, terutama melalui media sosial, relasi kerja, dan ruang digital yang minim batas moral. He3. Bisa lessoh keyah! 

Fakta ini mengingatkan kita bahwa perselingkuhan sering kali bukan soal cinta baru, melainkan kegagalan merawat cinta lama. 

Dalam konteks Indonesia, data perceraian menunjukkan bahwa perselingkuhan memang tidak selalu tercatat sebagai sebab utama perceraian. Namun para pemerhati keluarga sepakat, perselingkuhan kerap menjadi akar konflik laten yang kemudian berubah nama menjadi “pertengkaran terus-menerus” atau “hilangnya keharmonisan”. Dengan kata lain, perselingkuhan sering disembunyikan, tetapi dampaknya nyata.

Akibatnya tidak berhenti pada putusnya ikatan pernikahan. Perselingkuhan merusak kepercayaan, melukai harga diri pasangan, dan meninggalkan bekas psikologis yang panjang terutama bagi anak-anak. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi ruang penuh curiga. Sakinah pun menjauh, digantikan kecemasan dan kelelahan batin.

Namun Islam tidak mengajarkan kita berhenti pada kecaman atau sekadar rasa prihatin. Setiap peristiwa adalah bahan renungan. Al-Qur’an mengingatkan dengan satu kalimat yang tegas

 فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَلْبَابِ 

"Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal."

Ayat ini menempatkan peristiwa sosial, termasuk perselingkuhan, bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin. Orang berakal tidak sibuk membuka aib orang lain, melainkan membuka pintu muhasabah untuk dirinya sendiri; Apakah aku sudah cukup hadir untuk pasanganku? Apakah komunikasi masih terjaga? Apakah hatiku masih diawasi, atau mulai longgar terhadap yang bukan hakku?

Hidup sakinah tidak lahir dari janji besar, melainkan dari kesetiaan kecil yang dijaga setiap hari: menahan pandangan, menjaga pesan, menghargai pasangan, dan berani memperbaiki komunikasi sebelum luka membesar. Sakinah adalah hasil dari kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah, bukan sekadar rasa.

Berita perselingkuhan, betapapun pahitnya, seharusnya menjadi alarm sosial. Ia mengingatkan bahwa rumah tangga perlu dirawat, bukan hanya dirayakan. Dan bahwa iman, akhlak, serta tanggung jawab emosional adalah fondasi yang tidak boleh ditawar.

Jika kita mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, barangkali kegaduhan itu tidak sia-sia. Ia justru menjadi pengingat agar kita lebih waspada menjaga keluarga, lebih sungguh-sungguh merawat cinta, dan lebih rendah hati di hadapan amanah yang Allah titipkan.

Karena sakinah bukanlah keadaan tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap setia di tengah banyak godaan.

Semoga kita dijauhkan, dan setiap berita menjadi pelajaran, bukan hanya bahan bacaan saja!

Asyiknya Kajian Bahasa pada Ayat Isra’ dan Mi‘raj



Halimi Zuhdy

Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi sebuah narasi teologis yang dibangun dengan presisi linguistik yang sempurna.

Al-Qur’an tidak menyajikannya dalam bentuk cerita panjang, melainkan melalui dua surat dengan karakter bahasa yang sangat berbeda namun saling melengkapi. Surah Al-Isra’ dan Surah An-Najm. Di sinilah keindahan kajian bahasa menemukan momentumnya.
Isra’ (perjalanan horizontal Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam) diabadikan pada Ayat pembuka Surah Al-Isra’. Ayat ini luar biasa rapi secara sintaksis. Ia diawali dengan fi‘il (kata kerja) “asrā” (memperjalankan), lalu diikuti fa‘il yang disamarkan dalam keagungan Ilahi, sebelum objek perjalanan dijelaskan secara bertahap dan terukur. 

Struktur ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ bukan kejadian spontan, melainkan perjalanan yang dirancang, ditentukan, dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. 

Bahasa Al-Qur’an di sini bekerja seperti arsitektur yang presisi, tenang, dan tak menyisakan celah kekacauan makna. 

Sebaliknya, Mi‘raj (perjalanan vertikal) diuraikan dalam Surah An-Najm ayat 12–18 dengan gaya bahasa yang jauh lebih simbolik dan kontemplatif. 

Surah ini dibuka dengan kata “An-Najm” (bintang), sebuah entitas kosmik yang hanya tampak di malam hari, berada di ketinggian, bercahaya, namun juga tunduk pada hukum tenggelam (idza hawā). Ini bukan metafora sembarangan. Ia mengisyaratkan bahwa pengalaman Mi‘raj berada pada wilayah transendensi kosmik, jauh dari logika bumi, namun tetap berada dalam keteraturan semesta.

Menariknya, ayat-ayat Mi‘raj menggunakan pertanyaan retoris seperti “أَفَتُمَارُونَهُ” (Apakah kalian hendak membantahnya?). 

Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, melainkan untuk membungkam keraguan. Al-Qur’an sedang melakukan kritik epistemologis, bahwa tidak semua realitas dapat diuji dengan standar pengalaman empiris manusia biasa. Penglihatan Nabi bukan ilusi, melainkan pengalaman kenabian yang sahih.

Frasa عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ menandai batas tertinggi capaian makhluk, sebuah “titik akhir” kosmik dan spiritual yang bahkan malaikat pun tidak melampauinya. 

Sementara ungkapan “مَا يَغْشَىٰ” dibiarkan tanpa penjelasan detail, seolah Al-Qur’an secara sadar mengajarkan etika keilmuan, bahwa ada wilayah pengalaman yang harus dihormati dengan diam, bukan dipaksa untuk dijelaskan secara reduktif.

Kembali ke Surah Al-Isra’, Ayat pertamanya dibuka dengan “Subḥāna” sebuah deklarasi penyucian Allah sebelum kisah dimulai. Ini penting. Al-Qur’an seakan berkata "sebelum kalian menimbang peristiwa ini dengan logika, sucikan dulu cara pandang kalian tentang Tuhan. 

Kata “asrā” dalam bentuk fi‘il māḍī (lampau) menegaskan kepastian historis peristiwa, bukan kemungkinan atau simbol belaka. Sementara frasa “bi ‘abdihī” justru menegaskan bahwa puncak kemuliaan Nabi bukan pada status kerasulannya, tetapi pada kehambaannya.

Penyebutan waktu “laylan” (pada suatu malam) mengandung paradoks makna, bahwa singkat secara temporal, tetapi luas secara spasial. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (dua titik suci yang diberkahi) Nabi diperjalankan bukan untuk wisata spiritual, melainkan “linuriyahu min āyātinā”: agar diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah. Ayat ini ditutup dengan dua sifat Ilahi yaitu As-Samī‘ dan Al-Baṣīr, menegaskan bahwa seluruh perjalanan ini berada dalam pengawasan dan pengetahuan mutlak Allah.

Dengan demikian, keindahan ayat-ayat Isra’ dan Mi‘raj tidak hanya terletak pada keajaiban peristiwanya, tetapi pada keselarasan antara struktur bahasa, kedalaman makna, dan pesan teologisnya. Bahasa Al-Qur’an tidak sedang memanjakan imajinasi, tetapi mendidik cara berpikir.