السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Selasa, 25 Agustus 2026

Menelusuri Asal Kata Maulid, Dan Maknanya yang Berkembang


Halimi Zuhdy

Entah dari mana "maulid" kemudian disalahkan "jangan maulidan", sedangkan kata ini tidak pernah salah. Kata ini, lahir dari kelahiran yang sempurna, dengan derivasinya yang begitu menarik untuk dicermati satu persatu. Maka, perlu memahami setiap makna yang diulas dan yang dipersepsikan. 
Memang, kalau perhatikan kata ini, "Maulid" marak pada seetiap kali Rabiul Awal tiba. Kata ini hadir dalam berbagai bentuk; majelis shalawat, pembacaan sirah, ceramah, hingga peringatan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Bukankah maulid itu kata untuk siapa pun saja? Mengapa kemudian seakan-akan hanya untuk kelahiran Nabi Muhammad. Mengapa tidak menggunakan Milad untuk kelahirannya? 

Muncul juga pertanyaan dari mana sebenarnya kata “maulid” berasal? Apa makna awalnya dalam bahasa Arab? Dan bagaimana kata tersebut kemudian menjadi istilah yang begitu lekat dengan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ?

Toyyib. Menelusuri asal sebuah kata bukan sekadar mencari arti di kamus. Ia seperti membuka pintu untuk melihat bagaimana sebuah kata tumbuh, digunakan, dan akhirnya memperoleh makna yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Dan, kemudian akrab di telingan kita, maulid. 

Dalam bahasa Arab, maulid ditulis مَوْلِد dan berasal dari akar kata و ل د (wāw-lām-dāl).
Akar kata ini melahirkan sejumlah kata yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: وَلَدَ (walada), melahirkan atau lahir; وِلَادَة (wilādah), kelahiran; مَوْلُود (mawlūd), yang dilahirkan atau anak yang baru lahir; وَالِد (wālid), ayah; وَالِدَة (wālidah), ibu; dan مَوْلِد (mawlid). Ada juga waldan, dan lainnya. 

Al-Ma‘ānī al-Jāmi‘ menjelaskan bahwa المَوْلِدُ dapat berarti موضع الولادة—tempat kelahiran—dan وقت الولادة—waktu kelahiran. Pengertian yang hampir sama ditemukan dalam Al-Mu‘jam al-Wasīṭ: المَوْلِدُ: موضع الولادة ووقتها, tempat dan waktu kelahiran. Dari sini kita menemukan sesuatu yang penting: secara asal bahasa, maulid tidak berarti “perayaan”. Maka, keliru orang yang memvonis "maulid" bid'ah, haram dan lainnya. Karena tidak ada yang salah dengan kata ini. Ok. 

Toyyib. Mari kita tilik lagi, bahwa kata maulid/ مَوْلِد berkaitan dengan kelahiran, terutama tempat atau waktu kelahiran. Kalau dikaitkan dari makna dan konteks lain, Inilah awal untuk memahami istilah Maulid Nabi. Tapi, nanti dulu kita tilik paling bawah. Sabar ya! 

Ada dua kata dalam bahasa Arab yang terdengar hampir sama, yaitu مَوْلِد (mawlid) dan مَوْلُود (mawlūd). Keduanya berasal dari akar kata yang sama, tetapi memiliki bentuk dan makna yang berbeda. مَوْلِد (mawlid) berkaitan dengan tempat atau waktu kelahiran, sedangkan مَوْلُود (mawlūd) berarti sesuatu atau seseorang yang dilahirkan, terutama bayi atau anak yang baru lahir.

Secara sederhana, مَوْلِد (maulid) berarti kelahiran, tempat, atau waktu kelahiran, sedangkan مَوْلُود (maulud) berarti yang dilahirkan. Keduanya seperti dua sisi dari satu peristiwa: maulid menunjuk pada peristiwa, tempat, atau waktu kelahiran, sementara maulud menunjuk kepada sosok yang dilahirkan.

Ketika “maulid” disandarkan kepada Nabi

Lalu muncullah ungkapan atau kalimat yang sering kita dengar 
مَوْلِدُ النَّبِيِّ
Maulid al-Nabī—kelahiran Nabi. Secara bahasa, ungkapan tersebut sederhana: kelahiran Nabi. Dalam perkembangan penggunaan istilah di tengah masyarakat Muslim, Maulid Nabi kemudian juga digunakan untuk menyebut majelis atau kegiatan yang mengenang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, biasanya melalui pembacaan sirah, shalawat, pujian kepada Rasulullah ﷺ, nasihat, dan ungkapan kecintaan kepada beliau.

Dengan demikian, ada perbedaan antara makna leksikal dan makna istilah.
Secara leksikal, maulid berkaitan dengan kelahiran. Secara istilah dalam penggunaan masyarakat, Maulid Nabi dapat merujuk pada kegiatan atau majelis yang diselenggarakan untuk mengenang kelahiran dan kehidupan Rasulullah ﷺ. Perkembangan semacam ini bukan sesuatu yang aneh dalam bahasa. Banyak kata dalam berbagai bahasa mengalami perluasan makna karena penggunaan manusia. Maka, ketika kita mengucapkan Maulid Nabi, kita sebenarnya sedang menggunakan sebuah kata yang memiliki hubungan sangat kuat dengan konsep kelahiran.

Tetapi Maulid bukan hanya soal kelahiran? Di sini pembicaraan tentang Maulid menjadi lebih menarik. Sebab persoalannya bukan hanya: kapan Nabi Muhammad ﷺ lahir?Pertanyaannya kedudian, Apa yang lahir bersama kelahiran Muhammad ﷺ?

Di sini, kadang orang salah memahami maulid, dikiranya pesta, makan-makan, perayaan tak berguna, dan lainnya. Sebenarnya, ada yang penting untuk digaungkan. Bahwa seorang anak yatim lahir di Makkah. Namun, kelak ia menjadi Rasul terakhir. Seorang manusia lahir di tengah masyarakat yang memiliki berbagai persoalan keyakinan, sosial, dan kemanusiaan. Dan, melalui risalah yang dibawanya, lahir perubahan besar yang membentuk sejarah peradaban manusia.
Karena itu, Maulid semestinya tidak berhenti pada sebuah tanggal dalam kalender. Ia seharusnya membawa kita kepada sirah. Maka, saya pribadi menolak bahwa "maulid" itu hal yang sia-sia, ia adalah kelahiran penuh keberkahan dan momont penting untuk mengenalkan kepada generasi muslim terutama G z yang terkadang lebih paham nama artis atau idolanya dari pada menganal sosok nabinya.  

Maka, dari sirah, dalam acara maulid nabi kita mengenal akhlaknya.Dari akhlaknya, kita belajar meneladaninya. Dan dari keteladanan itu, kita berusaha menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan. Lah, yang gak baik, jauhkan, yang keluar dari syariah hindari. 

Apa yang perlu “lahir” kembali?
Barangkali di sinilah Maulid memiliki pesan yang paling relevan untuk kehidupan kita hari ini. Jika maulid berbicara tentang kelahiran, maka Maulid Nabi juga dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Apa yang perlu dilahirkan kembali dalam diri kita? Apakah kejujuran? Kasih sayang? Kepedulian kepada orang miskin dan lemah? Kesabaran? Keadilan? Akhlak yang baik ? Atau kecintaan kepada Rasulullah ﷺ yang tidak berhenti pada lisan, tetapi menjelma menjadi perilaku? Sebab kita tidak mungkin mengulang kelahiran Nabi. Peristiwa itu telah berlalu lebih dari empat belas abad.
Tetapi kita masih bisa menghidupkan kembali nilai-nilai yang beliau ajarkan.

Karena itu, menurut saya, makna Maulid yang paling indah bukan sekadar mengingat bahwa Nabi pernah lahir, tetapi menjadikan ingatan itu sebagai jalan untuk menghidupkan kembali ajarannya dalam kehidupan kita. Maulid bukan hanya tentang siapa yang lahir. Ia juga tentang apa yang lahir dari kehidupan orang yang dilahirkan itu.

Cinta kepada sesama, kejujuran dalam berdagang, keadilan dalam memimpin, kelembutan kepada anak-anak, penghormatan kepada perempuan, kepedulian kepada fakir miskin, keberanian mengatakan yang benar, dan akhlak mulia yang menjadi ruh risalahnya—semua itu adalah nilai-nilai yang dibawa Rasulullah ﷺ. Beliau telah lahir lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tetapi pertanyaan tentang Maulid tetap hidup hingga hari ini: jika Nabi telah lahir ke dunia, apakah nilai-nilai yang beliau bawa juga telah “lahir” dalam diri kita? Mungkin, di situlah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam: kelahiran Nabi adalah peristiwa sejarah, tetapi kelahiran nilai-nilai kenabian dalam diri kita adalah tugas yang terus berlangsung. Tetapi kelahiran kembali akhlaknya dalam diri kita adalah tugas sepanjang sejarah.

Marāji‘

Al-Ma‘ānī al-Jāmi‘, entri مَوْلِد, Almaany.com.
Ibn Manẓūr, Lisān al-‘Arab, entri و ل د.
Al-Mu‘jam al-Wasīṭ, entri المولد.
Al-Fairūzābādī, Al-Qāmūs al-Muḥīṭ, entri و ل د.
Al-Mu‘jam al-Ghanī, entri مولد dan مولود.

***
Malang, 25 Agustus 2026/ 12 Rabiul Awwal 1448

Senin, 24 Agustus 2026

Halimi Zuhdy Dorong Transformasi Sastra Arab di PTKIN: Dari Turats Menuju Digital Humanities

MALANG – Masa depan sastra Arab di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tidak cukup dibangun dengan mempertahankan pola kajian konvensional. Sastra Arab harus mampu menjaga kekuatan tradisi keilmuannya sekaligus membuka diri terhadap perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), digital humanities, kajian interdisipliner, serta kekayaan khazanah Arab-Nusantara.

 Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd., akademisi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam Webinar Series bertajuk “Masa Depan Linguistik dan Sastra Arab di Indonesia” yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom, Senin, 24 Agustus 2026.

 Dalam pemaparannya, Halimi Zuhdy membawa diskusi mengenai sastra Arab pada pertanyaan yang lebih mendasar. Menurutnya, tantangan sastra Arab di perguruan tinggi saat ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan keberadaan mata kuliah sastra, tetapi bagaimana mereposisi sastra Arab agar mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan akar keilmuannya.

 Ia memandang bahwa pengajaran sastra Arab di PTKIN tidak dapat berhenti pada sejarah sastra, pembacaan teks, pengenalan tokoh, balāghah, ‘arūḍ, ataupun penerapan teori sastra secara berulang pada objek yang berbeda.

 Seluruh fondasi tersebut tetap penting, tetapi harus menjadi pijakan untuk mengembangkan bentuk kajian yang lebih luas dan relevan. 

 Dalam konteks tersebut, sastra Arab perlu bergerak menuju apa yang dapat disebut sebagai Arabic Humanities, yakni suatu ekosistem kajian yang mempertemukan sastra dengan sejarah, budaya, agama, politik, masyarakat, media, penerjemahan, manuskrip, teknologi, hingga dinamika hubungan Indonesia dengan dunia Arab. 

Halimi menempatkan transformasi tersebut sebagai peluang besar bagi PTKIN. Sebab, perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia memiliki modal akademik yang tidak sedikit. Tradisi pembelajaran bahasa Arab, kajian kitab, pesantren, manuskrip Islam Nusantara, aksara Arab-Melayu dan Pegon, hingga jaringan intelektual Indonesia-Timur Tengah merupakan kekayaan yang dapat menjadikan kajian sastra Arab di Indonesia memiliki karakter tersendiri. 

 Dari Konsumen Menuju Produsen Pengetahuan Salah satu gagasan penting yang mengemuka dari pemaparan Halimi adalah perlunya perguruan tinggi Indonesia mengubah posisinya dari sekadar konsumen pengetahuan sastra Arab menjadi produsen pengetahuan.

 Selama ini, kajian sastra Arab di perguruan tinggi Indonesia banyak menjadikan teks dan sastrawan Timur Tengah sebagai objek utama. Kajian terhadap tokoh-tokoh besar seperti Naguib Mahfouz, Nizar Qabbani, Mahmoud Darwish, Taha Husayn, Tawfiq al-Hakim, dan berbagai sastrawan Arab lainnya tetap diperlukan sebagai bagian dari fondasi akademik. 
Namun, menurut arah pemikiran yang dikembangkan Halimi, perguruan tinggi Indonesia juga harus berani mengangkat kekayaan yang berada di lingkungannya sendiri. Di sinilah kajian tentang sastra Arab di Indonesia, sastra Arab karya orang Indonesia, manuskrip Arab-Nusantara, tradisi Pegon dan Jawi, sastra pesantren, penerjemahan Arab-Indonesia, serta interaksi kesusastraan Indonesia dan dunia Arab memperoleh posisi yang sangat strategis. 

Dengan mengembangkan wilayah tersebut, PTKIN tidak hanya mengulang penelitian yang telah banyak dilakukan di pusat-pusat studi Arab di Timur Tengah. Sebaliknya, Indonesia dapat menawarkan perspektif dan objek penelitian yang justru tidak dimiliki negara lain. Halimi melihat bahwa kekayaan Arab-Nusantara dapat menjadi distingsi keilmuan sastra Arab Indonesia di tingkat internasional. AI Bukan Akhir Sastra Arab Perhatian besar juga diberikan terhadap kehadiran kecerdasan artifisial. 

Perkembangan AI saat ini memungkinkan mesin melakukan pekerjaan yang beberapa tahun lalu identik dengan kompetensi mahasiswa bahasa dan sastra: menerjemahkan teks, merangkum novel, menjelaskan kosa kata, menemukan tema, bahkan menghasilkan analisis sastra dalam waktu singkat. Kondisi tersebut, menurut arah pemikiran Halimi, seharusnya tidak membuat sastra Arab merasa terancam. Sebaliknya, AI memaksa pendidikan sastra untuk kembali mempertanyakan nilai khas manusia dalam membaca karya sastra. 

Mesin mungkin mampu menjelaskan arti sebuah kata. Namun pembacaan sastra tidak berhenti pada arti kata. Di dalamnya terdapat majāz, isti‘ārah, kināyah, simbol, konteks sejarah, pengalaman budaya, emosi, ideologi, serta intertekstualitas yang membutuhkan kemampuan interpretatif secara mendalam. Karena itu, tugas perguruan tinggi bukan menjauhkan mahasiswa dari AI, tetapi membekali mereka dengan literasi AI yang kritis.

 Mahasiswa sastra Arab masa depan perlu mampu menggunakan teknologi sekaligus mempertanyakan hasilnya: dari mana informasi diperoleh, apakah teks dan kutipannya benar, apakah interpretasinya sesuai konteks budaya Arab, apakah mesin mampu membaca balāghah dengan tepat, dan bagian mana yang tetap membutuhkan keputusan ilmiah manusia. 

Dengan pendekatan tersebut, hubungan sastra dengan teknologi tidak lagi diletakkan dalam pola pertentangan. Bukan: tradisi atau teknologi, melainkan:tradisi dan teknologi. Sastra Arab Memasuki Era Digital Humanities Lebih jauh, Halimi melihat digital humanities sebagai salah satu ruang baru yang perlu mendapat perhatian serius dalam studi sastra Arab di PTKIN.

Dalam paradigma konvensional, seorang peneliti mungkin menganalisis satu novel atau satu kumpulan puisi. Perkembangan teknologi memungkinkan penelitian dilakukan terhadap ratusan bahkan ribuan teks melalui korpus digital, text mining, analisis semantik, pemetaan jaringan, digital philology, hingga computational literary studies. Namun, penggunaan teknologi tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan membaca secara mendalam. Sebaliknya, masa depan penelitian sastra Arab dapat mempertemukan:close reading, distant reading, dan human interpretation. 

 Dengan kata lain, komputer dapat membantu menemukan pola dalam ribuan teks, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk memahami mengapa pola tersebut muncul dan apa maknanya dalam konteks sejarah, budaya, maupun estetika. Potensi ini menjadi semakin menarik apabila diterapkan pada ribuan manuskrip Arab, Jawi, dan Pegon yang tersebar di Indonesia.Manuskrip yang selama ini hanya ditransliterasi dan diedit secara filologis dapat dikembangkan menjadi arsip digital, korpus, edisi kritis digital, serta basis data penelitian Arab-Nusantara yang dapat digunakan oleh akademisi dunia. 

 PTKIN Harus Berani Membangun Distingsi Menurut Halimi, masa depan sastra Arab tidak akan cukup kuat apabila semua program studi hanya mengikuti arah yang sama. PTKIN membutuhkan distingsi. Dan salah satu distingsi yang paling potensial adalah: Arab – Islam – Indonesia – Nusantara – Teknologi. Keunggulan perguruan tinggi Indonesia terletak pada kemampuannya mempertemukan tradisi Arab-Islam dengan pengalaman kebudayaan Nusantara. Karena itu, pengembangan sastra Arab ke depan dapat meliputi kajian sastra pesantren, karya berbahasa Arab yang ditulis ulama Nusantara, jaringan kesusastraan Makkah-Nusantara, manuskrip Arab Indonesia, sastra Jawi dan Pegon, hingga representasi Indonesia dalam karya sastra Arab dan representasi dunia Arab dalam sastra Indonesia.

Dengan arah tersebut, kajian sastra Arab Indonesia tidak lagi berada di pinggiran perkembangan sastra Arab global. Indonesia justru berpeluang menjadi salah satu pusat penting studi sastra Arab di Asia Tenggara. Kurikulum Sastra Arab Perlu Bertransformasi Perubahan tersebut tentu membawa konsekuensi terhadap kurikulum.

 Halimi menekankan pentingnya mempertahankan fondasi seperti bahasa Arab, naḥwu, ṣarf, balāghah, ‘arūḍ, sejarah sastra, kritik sastra, dan teori sastra. Akan tetapi, di atas fondasi itu diperlukan lapisan kompetensi baru. Mahasiswa perlu diperkenalkan dengan Arab-Nusantara Studies, digital humanities, corpus studies, digital philology, AI for Arabic Studies, penerjemahan sastra, media, jurnalistik, industri kreatif, diplomasi budaya, hingga kajian Timur Tengah kontemporer. 

Dengan struktur tersebut, lulusan Bahasa dan Sastra Arab tidak hanya diarahkan menjadi guru, dosen, atau penerjemah. Mereka dapat berkembang sebagai peneliti, diplomat, analis budaya, jurnalis, editor, penerjemah sastra, pekerja industri kreatif, pengembang konten Arab, kurator manuskrip, spesialis komunikasi lintas budaya, hingga profesional yang bekerja dalam ekosistem teknologi bahasa dan AI. 

Transformasi kurikulum tersebut bukan berarti menjadikan sastra sebagai pendidikan vokasi. Sebaliknya, kompetensi profesional dibangun di atas kekuatan utama humaniora: kemampuan membaca manusia, bahasa, budaya, simbol, narasi, dan perubahan masyarakat. 

 Menuju Pusat Studi Sastra Arab Asia Tenggara Pada bagian yang lebih visioner, gagasan Halimi mengarahkan PTKIN untuk tidak hanya memikirkan kondisi sastra Arab lima tahun mendatang, tetapi hingga Indonesia Emas 2045.Indonesia memiliki jaringan PTKIN, pesantren, program studi Bahasa dan Sastra Arab, tradisi manuskrip, serta hubungan historis dengan dunia Arab yang sangat besar. 

Modal tersebut memungkinkan Indonesia membangun jejaring penelitian sastra Arab yang tidak hanya bersifat nasional. Ke depan, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat: الدراسات الأدبية العربية في جنوب شرق آسيا atau Studi Sastra Arab di Asia Tenggara. Untuk mencapai posisi tersebut, perguruan tinggi perlu memperkuat riset bersama, publikasi internasional, digitalisasi manuskrip, pertukaran akademik, joint supervision, konferensi internasional, korpus sastra Arab-Asia Tenggara, serta penerjemahan dua arah antara sastra Indonesia dan Arab.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan sastra Arab di PTKIN kelak tidak lagi hanya ditentukan oleh berapa banyak mahasiswa yang masuk program studi.Keberhasilannya juga dilihat dari berapa banyak pengetahuan baru yang diproduksi, manuskrip yang diselamatkan dan didigitalkan, karya Indonesia yang diperkenalkan ke dunia Arab, penelitian internasional yang dipimpin akademisi Indonesia, serta teori dan perspektif yang lahir dari pengalaman Arab-Nusantara.

 Webinar “Masa Depan Linguistik dan Sastra Arab di Indonesia” akhirnya menghadirkan satu pesan penting dari pemikiran Halimi Zuhdy: sastra Arab tidak sedang menuju akhir, tetapi memasuki fase baru yang menuntut keberanian untuk bertransformasi.Transformasi tersebut bukan dengan meninggalkan turāts, melainkan membawa turāts memasuki dunia baru. 

Bukan dengan menjadikan AI sebagai pengganti manusia, tetapi menjadikannya alat untuk memperluas kemungkinan penelitian.Dan bukan dengan terus menempatkan Indonesia sebagai pembaca perkembangan sastra Arab dari kejauhan, tetapi dengan mendorong perguruan tinggi Indonesia menjadi produsen pengetahuan dan salah satu pusat kajian sastra Arab yang diperhitungkan di dunia.

Rabu, 19 Agustus 2026

Menilik Asal Huruf Kaf/ك, dan Tanda yang sering disalah pahami


Halimi Zuhdy

Sebagian orang mungkin pernah merasa penasaran ketika melihat bentuk huruf kaf (ك). Sekilas, terdapat tanda kecil di atas atau di bagian dalam huruf yang tampak menyerupai hamzah, sehingga tidak sedikit yang mengira bahwa tanda tersebut memang hamzah. Padahal, itu bukan hamzah.
Dalam tradisi penulisan manuskrip Arab, para penyalin (nussākh) dahulu terkadang menulis huruf "kaf" dengan bentuk yang menyerupai lam (ل). Agar tidak tertukar dengan lam, mereka kemudian menambahkan bentuk kaf kecil di atasnya sebagai tanda pembeda.

Karena bentuk kecil tersebut sekilas mirip hamzah, wajar jika pembaca masa kini terkadang salah mengenalinya. Namun sebenarnya, tanda itu merupakan bagian dari cara lama dalam menuliskan dan membedakan huruf kaf.

Menariknya, bentuk ك yang kita gunakan sekarang tampaknya masih menyimpan jejak dari tradisi tersebut. Tanda kecil di bagian tengah kaf bukan sekadar hiasan, melainkan berkaitan dengan perkembangan bentuk tulisan kaf dari masa ke masa.

Jadi, jika dalam manuskrip lama terlihat bentuk seperti lam yang diberi tanda kecil di atasnya, jangan terburu-buru membacanya sebagai lam atau menganggap tanda tersebut sebagai hamzah.

Bukan hamzah, melainkan salah satu bentuk lama penulisan huruf kaf.
Toyyib. Menilik Slsecara historis, huruf ك (kāf) dalam aksara Arab ditelusuri dari rumpun aksara Semitik kuno, khususnya kaph/kaf, yang bentuk awalnya diyakini berkaitan dengan gambar tangan atau telapak tangan. Dalam bahasa Arab terdapat kata كَفّ (kaff) yang berarti “telapak tangan”, dan dalam bahasa Ibrani כַּף (kaf) juga bermakna “telapak tangan”. Dari tradisi aksara Semitik inilah bentuk huruf berkembang melalui berbagai tahap, termasuk aksara Fenisia "𐤊, kemudian Aram dan Nabatea, hingga akhirnya mencapai bentuk ك dalam aksara Arab.

Namun, perlu dibedakan antara asal-usul nama/bentuk huruf dengan makna kata-kata Arab yang diawali huruf ك. Secara paleografis, hubungan huruf ك dengan kaf/kaph dan konsep “telapak tangan” merupakan teori yang memiliki dasar kuat dalam sejarah aksara, tetapi sebaiknya dinyatakan sebagai “ditelusuri” atau “diperkirakan”, bukan sebagai kepastian mutlak. Jadi, jika ada klaim bahwa huruf ك berasal dari makna tertentu seperti “tukang kredit”, klaim tersebut tidak sesuai dengan jalur sejarah perkembangan aksara yang dikenal dalam kajian Semitik.

Allahu'alam

***
Gambar dinukil dari Tahqiq Makhthutat Prof Nuri Al Mausawi

Senin, 17 Agustus 2026

Istiqlal: Bukan Sekadar Bebas, tetapi Mampu Berdiri Sendiri(Menilik Asal kata Istiqlal)


Halimi Zuhdy

Apa sebenarnya arti merdeka? Apakah cukup ketika sebuah bangsa terbebas dari penjajahan? Atau kemerdekaan baru benar-benar bermakna ketika ia mampu berdiri dengan kakinya sendiri? Di sinilah kata istiqlal (استقلال) menyimpan pesan yang menarik. Ia bukan sekadar tentang kebebasan, tetapi tentang kemampuan untuk menentukan jalan, mengurus urusan sendiri, dan tidak terus-menerus bergantung kepada pihak lain.
Setiap kali mendengar kata istiqlal (استقلال), kita hampir selalu menerjemahkannya sebagai kemerdekaan. Dalam konteks Indonesia, kata ini bahkan begitu dekat dengan sejarah bangsa. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, istiqlal ternyata memiliki makna kebahasaan yang menarik dan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar “bebas dari penjajahan”.

Secara bahasa, istiqlal berasal dari kata kerja istaqalla (استقلّ) dan berakar pada qaf-lam-lam (ق ل ل). Dari akar yang sama lahir kata qalīl (قليل), yang berarti “sedikit”. Dalam bahasa Arab, perubahan bentuk kata dapat membawa perkembangan makna yang sangat luas. Karena itu, hubungan antara akar kata dan makna akhirnya tidak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah.

Dalam penggunaan bahasa Arab klasik, istaqalla (استقلّ) digunakan dengan beberapa makna sesuai konteks. Di antaranya "berangkat, pergi, terangkat, atau mampu mengurus sesuatu sendiri". Salah satu ungkapan yang penting adalah istaqalla bi-amrihi (استقلّ بأمره), yang berarti mengurus urusannya sendiri atau mengambil alih urusannya tanpa bergantung kepada orang lain**.

Ada pula ungkapan istaqalla ath-thā’ir fī ṭayarānihi (استقلّ الطائر في طيرانه), yang menggambarkan seekor burung yang terangkat dan terbang. Gambaran ini menarik jika direnungkan: burung meninggalkan tempat berpijaknya, lalu terbang dengan sayapnya sendiri.

Dari sinilah kita dapat memahami salah satu ruh kata istiqlal (استقلال): berdiri sendiri, menentukan urusan sendiri, dan memiliki kemampuan untuk mengelola diri tanpa berada di bawah kendali pihak lain.

Dalam bahasa Arab, kita juga mengenal kata hurriyyah (حرية), yang berarti kebebasan. Lalu apa bedanya dengan istiqlal (استقلال)?

Secara sederhana, hurriyyah lebih menekankan pada "kebebasan, sedangkan istiqlal mengandung dimensi "kemandirian".

Orang yang bebas belum tentu mandiri. Sebuah negara yang bebas dari penjajahan belum tentu sepenuhnya mandiri.Karena itu, istiqlal bukan hanya soal bebas dari, tetapi juga mampu untuk. Bebas dari penjajahan, tetapi mampu membangun. Bebas menentukan pemerintahan, tetapi mampu mengelola negara. Bebas menentukan arah, tetapi memiliki ilmu dan kemampuan untuk sampai ke arah tersebut. Inilah yang membuat istilah istiqlal (استقلال) begitu kuat ketika digunakan dalam kehidupan berbangsa.

Dalam bahasa Arab modern, istiqlal (استقلال) berkembang menjadi istilah di berbagai bidang, seperti al-istiqlāl as-siyāsī (الاستقلال السياسي) untuk kemerdekaan politik, al-istiqlāl al-iqtiṣādī (الاستقلال الاقتصادي) untuk kemandirian ekonomi, al-istiqlāl al-mālī (الاستقلال المالي) untuk kemandirian finansial, al-istiqlāl al-fikrī (الاستقلال الفكري) untuk kemandirian berpikir, al-istiqlāl ats-tsaqāfī (الاستقلال الثقافي) untuk kemandirian budaya, serta istiqlāl al-qaḍā’ (استقلال القضاء) untuk independensi peradilan. Artinya, istiqlal tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan sebuah negara, tetapi tentang kemampuan untuk berdiri, menentukan, dan mengelola urusan sendiri dalam berbagai bidang kehidupan.

Merdeka, tetapi apakah sudah mandiri?

Di sinilah persoalan kemerdekaan menjadi lebih menarik. Sebuah bangsa dapat merdeka secara politik, tetapi masih sangat bergantung secara ekonomi. Dapat memiliki pemerintahan sendiri, tetapi masih bergantung pada teknologi. Dapat memiliki kebebasan berbicara, tetapi belum memiliki kemampuan menghasilkan pengetahuan sendiri. Karena itu, kemerdekaan politik seharusnya tidak menjadi titik akhir.

Ia justru menjadi awal dari perjuangan untuk membangun kemandirian. Kemerdekaan memberikan ruang untuk menentukan jalan. Tetapi ilmu, ekonomi, sumber daya manusia, budaya, dan karakter bangsa menentukan apakah kita mampu berjalan di jalan tersebut.

Maka, istiqlal (استقلال) menuntut bukan hanya kebebasan, tetapi juga kemampuan dan tanggung jawab.

Masjid "istiqlal" adalah hadiah. Ia bukan masjid sembarangan, ia adalah simbol, maka aktifitas masjidnya seharusnya adalah kemandirian. Demikian juga bangsanya. 

Tidar, 17 Agustus 2026

Jumat, 07 Agustus 2026

Jangan Memanjangkan Pandangan (3 Pesan Al-Qur'an)



Halimi Zuhdy

Menarik kalau kita taddabburi Ayat 88 Al-Hijr: 

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Agak asing penggunakan kalimat "memanjangkan pandangan", biasanya yang panjang adalah tangan, kaki, rambut, atau benda-benda yang memanjang. Lhah, ini menggunakan kata "la tamuddanna ainaika"? Kira-kira apa artinya?

Menurut Ibnu 'Asyur, "memanjangkan pandangan" (مد العين) bukan hanya melihat biasa, tetapi melihat dengan rasa kagum, iri, dan berharap memiliki apa yang dimiliki orang lain. Seakan-akan mata "terulur" karena terpikat oleh kemewahan mereka.

Toyyib. Ada satu penyakit yang sering tidak disadari oleh banyak manusia, tapi ia diam-diam sangat menggerogoti hati, apa? Yaitu terlalu sering memandang kehidupan orang lain. 

Lho bagaimana tidak memandang kehidupan orang lain, wong hari ini kehidupan mereka dipampang di status dan di medsos? 

Allah tidak melarang kita melihat dunia, tetapi melarang "memanjangkan pandangan" kepadanya. Dalam bahasa Arab digunakan ungkapan لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ, yakni jangan sampai matamu terus terpaku, kagum, iri, dan tenggelam dalam kenikmatan yang dimiliki orang lain. Lha, boleh melihat, tapi tidak terpaku dan tenggelam, sampai lupa pada kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. 

Banyak orang sebenarnya tidak miskin, tetapi merasa miskin karena setiap hari membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Dan anehnya, bukan karena nikmat Allah kurang memberikan nikamt itu, melainkan karena mata lebih sibuk menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri nikmat sendiri.

Setelah melarang kita terpikat oleh dunia, Allah berfirman: "Jangan bersedih karena mereka." Jangan habiskan energi untuk meratapi orang yang memilih jalan yang salah atau menolak kebenaran. Tugas seorang mukmin adalah menyampaikan kebaikan, bukan memikul beban hidayah orang lain. Ini yang terkadang, menjadi urusan berat, karena tidak paham, bahkan kadang memaksa. 

Lalu Allah menutup ayat ini dengan perintah: "Rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang beriman." Betapa indah urutannya. Jangan sibuk melihat ke atas kepada orang-orang yang bergelimang dunia, tetapi dekatkanlah dirimu kepada orang-orang yang beriman. Bersikaplah rendah hati, lembut, dan penuh kasih kepada mereka.

Sekarang lihatlah medos? Bagaimana antar saudara seiman saja, gaya bahasanya yang digunakan kadang seperti musuh?! Bagaimana kalimat "rendahkan sayapmu"! Tawadu', rendah hati, dan lembut. 

Hari ini media sosial membuat kita mudah "memanjangkan pandangan". Kita melihat rumah orang lain, kendaraan orang lain, liburan orang lain, jabatan orang lain, lalu tanpa sadar hati mulai gelisah. Padahal yang ditampilkan hanyalah potongan kehidupan, bukan keseluruhan kenyataan.🫩

Mungkin karena itulah Allah tidak memerintahkan kita mengawasi nikmat orang lain, tetapi menjaga pandangan hati kita sendiri. Ya Allah. 

Toyyib. Kbahagiaan tidak dimulai ketika kita memiliki lebih banyak, tetapi ketika kita berhenti membandingkan. Orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki dunia paling banyak, melainkan yang paling sedikit menoleh kepada milik orang lain dan paling banyak menoleh kepada karunia Allah. Anak pun tak mau dibandingkan, apalagi istri? 😁

Semoga Allah menjadikan hati kita kaya dengan syukur, mata kita terjaga dari iri, lisan kita dipenuhi zikir, dan jiwa kita tenteram karena merasa cukup dengan apa yang Allah anugerahkan.

Tahqiq Kitab itu Tidak Mudah, Memahami Istilah Tahqiq dan Tujuannya


Halimi Zuhdy

Saya tidak banyak tahu tentang kehidupan Mbah Riyan, karena memang hanya baca lewat google, terkadang menemukan tentang beliau di FB dan juga IG, tapi lebih tentang sebagai Tukang Bangunan dan Tahqiq kitab. 
Malah yang banyak sorot adalah "kemasturannya", "kesederhanaannya", "tukang bangunan"nya, dan saya cari di mana beliau belajar memahahi makhtuthat, gurunya siapa, sekolah di mana, pernah nyantri di mana, dan bagaimana menpelajari berbagai ilmu tentang mentahqiq belum saya dapatkannya?. Dan bagaimana beliau memahami atau juga mentahqiq kitab yang biasa dikaji di kampus-kampus tentang memahami makhtuthat (manuskrip), sebuah ilmu yang tidak banyak orang menekuninya. Bahkan, mulai banyak yang meninggalkannya. Sehingga ilmu ini menjadi langka. 
Saya sering membaca mausuahnya Prof. Dr. Muhammad Nuri, tentang Tahqiqal Makhtut, beliau rajin sekali membagikannya tentanh ilmu yang cukup "ruwet" ini. Dan, bisa dibaca tulisan-tulisan ringan tentang "Makhthutha" di laman FB saya.he.

Bagi yang menganggap ringan ilmu ini, biarkan saja, karena namanya "orang", al jununu fununun, dan belum tentu yang "nyece", juga paham tentang "syakl", bahkan dikasih huruf-huruf "shath" dijira "dhah", intinya, semuanya ada ilmuanya.  

Toyyib. Dalam ilmu ini, satu titik bisa mengubah makna, satu coretan bisa mengubah sejarah. Benarkah?

Pernahkah kita membayangkan bagaimana kitab-kitab ulama terdahulu sampai kepada kita dalam keadaan dapat dibaca dan dipahami?

Sebelum ada mesin cetak, komputer, fitur copy paste, atau aplikasi pemeriksa ejaan, seluruh kitab ditulis dan disalin dengan tangan. Satu kitab dapat terdiri atas ratusan lembar. Setiap huruf, titik, harakat, tambahan kalimat, catatan pinggir, dan koreksi harus diperiksa secara teliti.

Lhah Inilah yang dibahas dalam kitab

مناهج العلماء في كتابة المخطوطات وضبطها

Manāhij al-‘Ulamā’ fī Kitābat al-Makhṭūṭāt wa Ḍabṭihā, tylisan atau karya Adham bin Ibrahim Saif.

Kitab ini memperlihatkan bahwa pekerjaan menulis, menyalin, membaca, dan meneliti manuskrip bukanlah pekerjaan ringan. Ia merupakan kerja ilmiah yang sangat berat, membutuhkan kesabaran luar biasa, penguasaan bahasa, keluasan ilmu, ketajaman mata, serta kejujuran dalam menjaga teks.

Bayangkan saja satu titik yang salah dapat mengubah huruf, satu harakat yang keliru dapat mengubah makna, dan satu kata yang terlewat dapat mengubah pemahaman terhadap sebuah hukum atau riwayat.

Ayo, kita mulai dari gamabran umum tentang kitab ini, Pertama: menjaga titik, harakat, dan bentuk huruf. Bagian pertama kitab ini menjelaskan metode para ulama dalam memberikan harakat, titik, serta tanda pembeda pada huruf-huruf yang tidak bertitik.

Bagi kita sekarang, membaca teks Arab yang sudah lengkap dengan titik dan harakat mungkin terasa biasa. Namun, banyak manuskrip lama ditulis dengan sangat sedikit harakat, bahkan terkadang bentuk beberapa huruf hampir sama. Huruf seperti ب، ت، ث، ن، ي atau ج، ح، خ dapat menimbulkan kekeliruan apabila titiknya hilang, kabur, atau tertukar.

Karena itu, para ulama mengembangkan berbagai cara untuk menjaga ketepatan bacaan. Mereka memberikan titik di atas atau di bawah huruf, menambahkan garis kecil, menuliskan bentuk huruf tertentu, memberikan tanda menyerupai hamzah, bahkan kadang menuliskan kata secara lengkap agar pembaca tidak salah memahaminya.

Artinya, seorang peneliti manuskrip tidak cukup hanya dapat membaca bahasa Arab. Ia harus mengenali kebiasaan penulis, gaya tulisan pada zamannya, bentuk huruf, simbol-simbol khusus, dan kemungkinan perubahan tinta akibat usia manuskrip.

Salah membaca satu huruf saja dapat melahirkan kata yang berbeda. Salah memahami satu kata dapat mengubah satu kalimat.

Teurs, untuk kedua: memahami rahasia catatan pinggir manuskrip. 

Maka, bagian kedua membahas apa saja yang ditulis pada bagian pinggir atau ḥāsyiyah manuskrip. Catatan di pinggir kitab ternyata tidak semuanya memiliki fungsi yang sama. Ada catatan yang merupakan bagian asli dari teks, ada tambahan karena penyalin melewatkan kata, ada penjelasan terhadap istilah tertentu, ada perbedaan riwayat, dan ada pula komentar dari ulama yang pernah membaca kitab tersebut. Ketika seorang penyalin menyadari bahwa terdapat kata atau kalimat yang tertinggal, ia tidak dapat begitu saja menyisipkannya sembarangan. Ia harus meletakkan tanda khusus pada posisi teks yang terlewat, kemudian membuat garis penghubung menuju tulisan tambahan di pinggir halaman. Arah tulisan, posisi tambahan, hingga tanda pada akhir tambahan memiliki aturan tersendiri.

Dan, menariknya, kitab ini menjelaskan tentang pengertian dan sebab munculnya teks tambahan atau al-laḥaq; tanda yang diletakkan pada bagian teks yang terlewat, cara menghubungkan teks utama dengan tambahan di pinggir, arah dan posisi penulisan tambahan, tanda yang ditulis pada akhir tambahan, istilah khusus yang digunakan dalam manuskrip dan kitab-kitab hadis.

Masalahnya, tidak semua tulisan di pinggir merupakan bagian dari isi kitab. Sebagian adalah penjelasan, komentar, perbandingan dengan naskah lain, koreksi bacaan, atau keterangan dari proses pembacaan di hadapan guru.

Seorang peneliti harus mampu menjawab pertanyaan yang sangat sulit: Apakah tulisan ini bagian dari perkataan pengarang, tambahan penyalin, komentar pembaca, koreksi seorang guru, atau catatan pemilik kitab?

Kesalahan menentukan status sebuah catatan pinggir dapat menyebabkan komentar orang lain dimasukkan sebagai perkataan pengarang. Sebaliknya, bagian asli kitab dapat dibuang karena dianggap hanya sebagai komentar tambahan.

Mari, kita lanjutkan. Yang ketiga, membaca jejak pembelajaran dalam manuskrip. Dan menariknya, kitab ini juga menerangkan berbagai catatan yang bukan bagian dari teks asli, seperti penjelasan terhadap kata sulit, perbedaan versi naskah, variasi riwayat, serta penandaan terhadap kata yang dianggap bermasalah.

Di dalam manuskrip terkadang terdapat tanda bahwa kitab tersebut telah dibaca, dibandingkan, diperiksa, atau diperdengarkan di hadapan seorang guru. Ada pula catatan balāgh, samā‘āt, dan keterangan lain yang menunjukkan perjalanan intelektual sebuah kitab.

Dengan demikian, manuskrip bukan hanya kumpulan tulisan lho. Ia juga menyimpan jejak: siapa yang menyalinnya, siapa yang membacanya, kepada siapa kitab itu diperdengarkan, naskah apa yang digunakan untuk membandingkannya, bagian mana yang pernah dipersoalkan, dan bagaimana ilmu tersebut diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebuah catatan kecil di sudut halaman mungkin tampak tidak penting. Padahal, catatan itu dapat menjadi bukti bahwa manuskrip tersebut pernah dibaca oleh seorang ulama, diperiksa dengan naskah lain, atau digunakan dalam majelis keilmuan tertentu.

Malah yang keempat inj, untuk memahami tanda koreksi “صح” dan tanda “التضبيب”. Bagian berikutnya membahas metode koreksi teks manuskrip.

Para ulama menggunakan simbol (shah) صح untuk menunjukkan bahwa suatu kata atau kalimat telah diperiksa dan dinyatakan benar. Tanda ini dapat digunakan ketika suatu tulisan tampak meragukan, tetapi sebenarnya benar; ketika terdapat pengulangan yang memang disengaja; pada akhir teks tambahan; atau pada bagian yang telah diperbaiki setelah mengalami penghapusan dan perubahan.

Namun, tanda صح tidak boleh dipahami secara sederhana. Posisi dan konteksnya harus diperhatikan. Terkadang tanda tersebut berkaitan dengan lafaz, terkadang dengan nama seorang perawi, dan terkadang untuk menegaskan bahwa susunan bahasa yang tampak aneh sebenarnya tetap dapat diterima.

Selain itu, terdapat pula metode al-taḍbīb. Tanda ini digunakan untuk memberi perhatian terhadap bagian yang dianggap bermasalah, seperti: adanya kekurangan yang merusak makna, kesalahan bahasa, kemungkinan kesalahan penyalinan, kata yang membutuhkan penjelasan, perbedaan riwayat, keterputusan sanad, atau bentuk penggabungan nama dalam sanad yang perlu diperiksa.

Perbedaannya tipis bnaget. Tanda صح dapat menunjukkan bahwa teks telah dikonfirmasi benar, sedangkan taḍbīb dapat menjadi isyarat bahwa teks tersebut masih mengandung persoalan atau membutuhkan perhatian lebih lanjut. Salah memahami simbol dapat menyebabkan seorang peneliti justru “memperbaiki” teks yang sebenarnya benar, atau mempertahankan teks yang sejak dahulu sudah diberi tanda bermasalah.

Terakhir, adalah menentukan bagian yang harus dicoret. Maka, kitab ini juga membahas metode para ulama ketika menghadapi tulisan yang salah atau kalimat yang terulang karena kekeliruan penyalin.Mencoret teks pun tidak dilakukan sembarangan. Para ulama memiliki metode tertentu untuk menunjukkan bahwa sebuah kata harus dihapus, dianggap salah, atau merupakan pengulangan yang tidak disengaja.

Peneliti harus membedakan antara: coretan penulis asli, koreksi penyalin, penghapusan oleh pembaca berikutnya, kerusakan tinta, dan teks yang sengaja ditutup karena dianggap salah. Semakin tua manuskrip, semakin berat pekerjaannya. Tinta dapat memudar, kertas dapat berlubang, bagian halaman dapat hilang, tulisan dapat bertumpuk, dan catatan dari beberapa orang dapat bercampur dalam satu halaman.

Seorang peneliti harus mengumpulkan berbagai salinan manuskrip, membaca tulisan yang sering kali kabur, membandingkan perbedaan antarnaskah, mengenali simbol para ulama, menentukan teks yang paling kuat, memisahkan teks asli dari komentar, memeriksa ayat, hadis, nama tokoh, sanad, kutipan, bahasa, serta memberikan penjelasan ilmiah atas keputusan yang diambil. Pekerjaan ini dapat memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Karena itu, ketika kita memegang sebuah kitab hasil taḥqīq yang tebal, rapi, lengkap dengan catatan kaki dan perbandingan naskah, jangan mengira bahwa pekerjaan tersebut hanya “mengetik kitab lama”. Di balik satu halaman yang kita baca dalam beberapa menit, mungkin terdapat berjam-jam penelitian. Di balik satu kata yang tercetak dengan benar, mungkin terdapat perbandingan terhadap beberapa manuskrip. Di balik satu catatan kaki, mungkin tersimpan perjalanan panjang mencari sumber dan memastikan kebenaran.

Para ulama tidak hanya menulis ilmu. Mereka juga menciptakan sistem untuk menjaga ilmu—hingga pada titik, harakat, garis, coretan, dan ruang kosong di pinggir halaman. Maka, menjaga warisan manuskrip adalah pekerjaan yang sangat berat. Sebab yang dijaga bukan sekadar kertas tua, melainkan ketepatan ilmu, amanah sejarah, dan suara para ulama dari masa lalu agar tetap dapat didengar oleh generasi setelahnya.

Lhah, bagi ornag yang menganggap tahqiq pekerjaan ringan, coba saja, tahqiq kitab yang tipis saja, dan ditulis di abad 19 saja, pasti pusing.he.

Selasa, 04 Agustus 2026

Fakultas Adab dan Humaniora Mau Kemana?



Halimi Zuhdy 

Entah sudah berapa abad Fakultas Adab hadir dan berkembang, baik di dunia maupun di Indonesia. Sebagai salah satu disiplin ilmu tertua dalam tradisi pendidikan Islam, Fakultas Adab telah melahirkan banyak ilmuwan, sastrawan, sejarawan, ahli bahasa, dan budayawan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan peradaban.
Di Indonesia, khususnya dalam lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), beberapa tahun terakhir fakultas-fakultas yang bergerak di bidang Adab berhimpun dalam Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA). Organisasi ini menjadi wadah kolaborasi akademik, penguatan riset, serta pengembangan keilmuan di bidang Adab dan Humaniora. Saat ini, ADIA dipimpin oleh Prof Faisol Fatawi dari Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Menariknya, nomenklatur fakultas yang menaungi rumpun ilmu Adab di Indonesia sangat beragam. Ada yang tetap menggunakan nama Fakultas Adab, ada Fakultas Humaniora, Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Fakultas Adab dan Bahasa, hingga Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD). Keragaman nama tersebut menunjukkan dinamika perkembangan kelembagaan sekaligus upaya setiap perguruan tinggi dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dan arah kebijakan pendidikan tinggi.

Toyyib. Saya lagi mengikuti Seminar di Fakultas Usuluddin dan Adab di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, sebagai tuan rumah kegiatan ADIA tahun ini. Tema yang diangkat adalah "Revitalizing Adab and Humanities in the Cyber Era for Strengthening Ecotheology toward National Civilization" menjadi sangat strategis karena menawarkan arah baru pengembangan Fakultas Adab yang memadukan kemajuan teknologi dengan etika, budaya, dan spiritualitas. Era siber membuka peluang besar bagi digitalisasi manuskrip, pengembangan humaniora digital, kecerdasan buatan dalam kajian bahasa dan sastra, hingga perluasan dakwah dan literasi digital. Namun, seluruh inovasi tersebut harus dibangun di atas fondasi adab, nilai kemanusiaan, dan kesadaran ekologis (ecotheology), sehingga kemajuan teknologi tetap berpihak pada keberlanjutan peradaban. 
Toyyib. Fakultas Adab di Indonesia sedang berada pada titik krusial dalam menghadapi transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), dan perubahan lanskap pendidikan tinggi. Disiplin-disiplin Adab seperti bahasa, sastra, sejarah, perpustakaan, dan peradaban Islam tidak lagi cukup berperan sebagai penjaga warisan intelektual, tetapi harus tampil sebagai produsen pengetahuan yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, revitalisasi Fakultas Adab menjadi kebutuhan mendesak agar tetap relevan, inovatif, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan masyarakat berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
Sehingga mahasiswa tidak bertanya-tanya lagi, saya kalau lulus jadi apa? He. Ya, tidak harus jadi apa-apa, yang penting dapat ilmu berkah dan manfaat.he. Aha. 

Tuan rumah, Pak Dekan Anwar Sanusi, dalam sambutannya mengharap bahwa seminar ini dmenjadi forum strategis untuk merumuskan arah masa depan Fakultas Adab di Indonesia melalui kolaborasi antarpimpinan fakultas, dosen, peneliti, dan pemangku kebijakan. Dari forum ini diharapkan lahir rekomendasi mengenai penguatan kurikulum, agenda riset kolaboratif, transformasi digital, peningkatan publikasi internasional, serta jejaring akademik yang mampu memperkuat posisi Fakultas Adab sebagai pusat pengembangan ilmu humaniora Islam. Dengan demikian, Fakultas Adab tidak hanya mampu beradaptasi terhadap perubahan global, tetapi juga menjadi motor penggerak lahirnya peradaban Indonesia yang berkarakter, berkelanjutan, dan berlandaskan nilai-nilai Adab. 

"Cirebon punya apa? Maka, ini yang harus digali" dalam sambutan Rektor. "Warisan itu mahal". 

Cirebon, 22 Juli 2016

Rabu, 08 Juli 2026

Bani Atsir dan Warisan Peradaban Ilmu

Halimi Zuhdy

Ada nama-nama besar dalam sejarah Islam yang sering kita dengar, tetapi tidak selalu kita pahami secara utuh. Salah satunya adalah Ibnu Atsir, (ابن الأثير). Insyallah, nanti saya ulas sedikit tentang keluarga hebat penuh karya ini. Dan kerennya lagi, banyak sekali dalam sejarah Islam keluarga melahirkan generasi intelektual. Dan ini menariknya, bagaimana keluarga ini membentuk lingkungan intelektual, bahkan secara turun temurun. Bukan keluarga penguasa atau dinasti kekuasaan lo?
Toyyib. Dalam sejarah peradaban Islam, tradisi menulis tidak hanya lahir dari sosok-sosok ulama secara individual, tetapi juga tumbuh sebagai budaya yang diwariskan dalam sebuah keluarga. Beberapa keluarga bahkan dikenal sebagai dinasti keilmuan yang melahirkan generasi demi generasi penulis kitab. 

Ada keluarga Al-Maraghi, misalnya, melahirkan Ahmad Mustafa Al-Maraghi, penulis Tafsir Al-Maraghi, serta Muhammad Mustafa Al-Maraghi yang juga aktif menghasilkan karya-karya ilmiah dan pembaruan pemikiran Islam. Demikian pula keluarga As-Subki yang melahirkan Taqiyuddin As-Subki dan putranya Tajuddin As-Subki. Keduanya dikenal sebagai penulis kitab-kitab monumental yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam fikih, usul fikih, dan sejarah ulama.

Contoh lain keluarga Ibnu Qudamah dikenal sebagai salah satu keluarga ulama paling produktif dalam mazhab Hanbali. Di antara tokoh-tokohnya ialah Muwaffaq al-Din Ibn Qudamah, penulis Al-Mughni; saudaranya Abu Umar al-Maqdisi; sepupunya Al-Hafiz Diya' al-Din al-Maqdisi, penulis Al-Ahadits al-Mukhtarah; serta Imad al-Din Ibn Qudamah. Mereka menjadikan keluarga ini sebagai salah satu dinasti keilmuan yang menghasilkan banyak karya penting dalam bidang fikih, hadis, dan ilmu-ilmu keislaman.

Selain itu, keluarga Al-Suyuthi juga dikenal dengan tradisi keilmuannya yang kuat. Tokoh terbesarnya, Jalaluddin As-Suyuthi, tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama dan menjadi salah satu penulis paling produktif dalam sejarah Islam dengan lebih dari 500 karya di berbagai bidang. Kisah-kisah keluarga ini membuktikan bahwa budaya membaca, berdiskusi, dan menulis yang ditanamkan di lingkungan keluarga mampu melahirkan peradaban ilmu yang terus memberi manfaat lintas zaman. 

Oh ia, ada keluarga yang membuat "bingung" bila tidak teliti, yaitu keluarga Ibnu Atsir atau Abna' Atsir. Banyak orang mengenal "Ibnu Atsir" sebagai seorang ulama besar. Namun, tidak sedikit yang belum mengetahui bahwa nama besar itu sesungguhnya merujuk pada tiga bersaudara yang sama-sama memiliki kedudukan agung dalam dunia keilmuan Islam.

Entah, bagaimana orang tua mendidiknya. Bagaimana keluarganya, mampu menghadirkan ketiganya menjadi pusat keilmuan. Ketiganya adalah anak dari Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim asy-Syaibani al-Jazari. Saudara tertua mereka adalah Majduddin Abu as-Sa‘adat al-Mubarak, seorang ahli hadis yang wafat pada tahun 606 Hijriah. Saudara tengahnya adalah Izzuddin Abu al-Hasan Ali, seorang sejarawan besar yang wafat pada tahun 630 Hijriah. Adapun saudara bungsunya adalah Dhiyauddin Abu al-Fath Nashrullah, seorang ahli bahasa, sastrawan, dan penulis ulung yang wafat pada tahun 637 Hijriah.

Mereka dikenal sebagai Abna' Al-Atsir (أبناء الأثير). Tiga saudara yang lahir dari satu keluarga, tetapi menempuh tiga jalan keilmuan yang berbeda. Masing-masing tidak hanya menjadi ahli dalam bidangnya, tetapi juga meninggalkan karya yang menjadi rujukan penting hingga hari ini.

Pertama, Majduddin bin al-Atsir (مجد الدين بن الأثير). Ia dikenal sebagai seorang ahli hadis. Di antara karya pentingnya adalah "جامع الأصول" dan "النهاية" dalam bidang hadis. Melalui karya-karya itu, ia memperlihatkan betapa ilmu hadis tidak hanya membutuhkan hafalan, tetapi juga ketelitian, kesungguhan, dan tanggung jawab ilmiah.

Kedua, Izzuddin bin Al-atsir (عز الدين بن الأثير). Ia adalah sejarawan besar yang menulis "الكامل" dan "أُسد الغابة". Sejarah dalam tangannya bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin bagi umat untuk memahami perjalanan peradaban, jatuh bangunnya kekuasaan, serta pelajaran moral dari kehidupan manusia.

Ketiga, Dhiyauddin bin al-Atsir (ضياء الدين بن الأثير). Ia dikenal sebagai sastrawan dan ahli balaghah. Karyanya "المثل السائر" menjadi salah satu bukti betapa bahasa Arab memiliki kedalaman rasa, keindahan ungkapan, dan kekuatan retorika yang luar biasa. Sastra, dalam pandangannya, bukan sekadar permainan kata, tetapi juga sarana menyampaikan hikmah.

Tiga saudara ini seakan menghadirkan tiga pilar penting dalam peradaban Islam: حديث، تاريخ، وأدب — hadis, sejarah, dan sastra. Ketiganya menunjukkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari satu cabang ilmu saja. Ia tumbuh dari keluasan wawasan, kedalaman iman, ketekunan menulis, dan keberanian mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.

Kisah anak-anak al-Atsir (أبناء الأثير) juga mengingatkan kita bahwa keluarga dapat menjadi rahim lahirnya peradaban. Rumah yang mencintai ilmu akan melahirkan manusia-manusia yang dekat dengan karya. Lingkungan yang menghormati pengetahuan akan membentuk pribadi yang tidak sekadar hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi manfaat bagi zaman.

Precet. 8 Juli 2026

***
Marja' 
- A'lam an-Nubala'
- al-Maktabah al-Syamilah
- Tahqiq Al-Mausuat, Muhammad Nuri Al-Mausu'i

Rabu, 08 April 2026

Ramadan dan Misteri Setan yang Terpasung


Halimi Zuhdy

Bagaimana jika selama ini kita terlalu sering menjadikan setan sebagai “tersangka utama”, padahal kunci selnya justru ada di tangan kita sendiri? Ramadan yang sering kita dengar membawa kabar bahagia bahwa pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. 
Pengumuman kosmis yang seharusnya mengguncang batin kita, bahwa ada musim ketika kejahatan dilemahkan dan kebaikan dipermudah. Namun di tengah kabar agung dan bahagia itu, terselip sebuah misteri, mengapa hati masih mudah keruh, lidah tetap tajam, dan ego enggan tunduk, bermaksiat jalan terus, ghibah lancar? Jangan-jangan, yang paling sulit dipasung bukanlah setan di luar sana, melainkan nafsu yang bersemayam tenang di dalam dada.

Lah, hadis yang sering kita dengar setiap Ramadan tiba; 
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّار، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Hadis ini jelas dan sahih. Tapi pertanyaannya juga sederhana: kalau setan dibelenggu, kenapa masih ada orang marah-marah, menipu, menyebar fitnah, bahkan berbuat maksiat di bulan Ramadan?

Penjelasan para ulama sebenarnya sangat logis. Dalam penjelasan Dar al-Ifta Mesir, disebutkan beberapa tafsir ulama klasik seperti al-Qurthubi dan Ibnu Hajar. Ada yang mengatakan yang dibelenggu itu sebagian setan saja, yaitu para pembangkang (المَرَدَة), bukan semuanya. Ada juga yang memahami bahwa pembelengguan itu membatasi ruang gerak mereka, bukan menghilangkan sepenuhnya godaan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, mengutip penjelasan Qadhi ‘Iyadh, menyebutkan bahwa makna “tashfid” (تصفيد) bisa bersifat hakiki atau maknawi. Maksud maknawi di sini, bahwa di bulan Ramadan, suasana ibadah meningkat, pahala dilipatgandakan, orang lebih banyak berzikir dan berpuasa. Akibatnya, pengaruh setan melemah. Mereka seperti “terikat”, karena peluangnya makin kecil. Artinya, Ramadan bukan bulan tanpa ujian. Ia hanya membuat ujian itu lebih ringan.

Bahkan ada hadis lain yang memperjelas bahwa setan tetap punya celah selama manusia lalai. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إن الشيطان يجري من الإنسان مجرى الدم
“Sesungguhnya setan berjalan dalam diri anak Adam seperti aliran darah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini disampaikan Nabi ketika beliau menjelaskan kepada dua sahabat bahwa wanita yang berjalan bersamanya adalah istrinya, Shafiyyah r.a., agar tidak muncul prasangka. Peristiwa itu terjadi di bulan Ramadan saat beliau sedang i’tikaf. Pesannya، bahkan di Ramadan, manusia tetap harus menjaga hati dan pikiran. Di sinilah letak masalah yang sering kita lupakan.

Al-Qur’an sendiri menyebut faktor lain selain setan, yaitu hawa nafsu:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada keburukan."(QS. Yusuf: 53)

Jadi kalau di Ramadan masih ada dosa, bisa jadi itu bukan karena setan bebas, tapi karena nafsu kita yang belum dididik. Kebiasaan buruk yang sudah lama dipelihara tidak otomatis hilang hanya karena masuk bulan suci.

Ramadan sebenarnya adalah bulan latihan. Kita dilatih menahan lapar agar belajar menahan keinginan. Kita menahan marah agar belajar mengontrol emosi. Kita mengurangi tidur agar belajar disiplin. Kalau latihan ini gagal, berarti masalahnya bukan pada setan, tapi pada keseriusan kita.

Penjelasan al-Qurthubi juga sangat realistis. Ia mengatakan, berkurangnya kejahatan di Ramadan itu nyata, tapi bukan berarti hilang total. Karena sumber keburukan tidak hanya dari setan, tapi juga dari kebiasaan buruk dan “setan manusia”.

Maka, memahami “setan dibelenggu” seharusnya membuat kita berhenti menyalahkan pihak luar. Ramadan memberi kondisi yang lebih bersih, lebih ringan, lebih penuh rahmat. Kalau dalam kondisi seperti itu kita tetap tergelincir, berarti yang perlu dibenahi adalah diri sendiri.

Ramadan bukan bulan yang menghapus dosa secara otomatis. Ia adalah bulan yang mempermudah kita meninggalkan dosa. Selebihnya, keputusan tetap ada pada manusia. Setan mungkin dipasung. Tapi nafsu tidak otomatis patuh. Dan di situlah perjuangan sebenarnya.

Membuat Peta Ramadan dan Visi Kehidupan Seorang Muslim


Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd, MA

Alhamdulillah kita sudah berada di bulan mulia ini, Ramadan. Bulan yang selalu kita minta, ballighna Ramadan. Kalau kita sudah berada di dalamnya, pasti tidak mau kita sia-siakan kan?. 
Ramadan selalu datang seperti tamu agung yang membawa cahaya. Ia bukan sekadar bulan dalam kalender hijriah, melainkan ruang waktu yang dipilih Allah untuk membentuk ulang arah hidup manusia. Setiap awal Ramadan, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya “Apa menu berbuka hari ini?”, tetapi “Ke mana Ramadan ini akan membawa saya?” 

Sebab Ramadan sejatinya bukan hanya ibadah musiman. Ia adalah "peta perjalanan ruhani".
Allah Swt. berfirman:

 شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِي أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan hidayah. Al-Qur’an diturunkan sebagai kompas kehidupan. Maka, membuat peta Ramadan berarti menyelaraskan hidup dengan petunjuk itu, agar perjalanan kita tidak tersesat oleh rutinitas, ambisi, atau gemerlap dunia.

Ramadan sebagai Titik Koordinat

Dalam hidup, kita sering berjalan tanpa peta. Target duniawi jelas—karier, harta, jabatan—tetapi visi ruhani kabur. Ramadan hadir sebagai titik koordinat, mengingatkan kembali tujuan utama manusia: menjadi hamba yang bertakwa.

Allah menegaskan:
“ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون”
“...agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa adalah visi besar puasa. Ia bukan sekadar rasa takut, tetapi kesadaran penuh bahwa Allah selalu hadir dalam setiap keputusan. Jika Ramadan adalah peta, maka takwa adalah destinasi akhirnya.

Namun, peta tidak berguna jika tidak dibuka. Ramadan tidak akan mengubah apa-apa jika ia hanya dilewati secara administratif—bangun sahur, menahan lapar, berbuka, lalu tidur. Ia menuntut kesadaran dan perencanaan.

Menyusun Peta: Ibadah, Akhlak, dan Empati

Membuat peta Ramadan berarti menetapkan arah dalam tiga dimensi: ibadah, akhlak, dan empati sosial.

Pertama, dimensi ibadah. Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah saw. memperbanyak tilawah di bulan ini. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Jibril mendatangi Nabi setiap malam Ramadan untuk mengulang bacaan Al-Qur’an bersama beliau.

Apakah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat Ramadan, atau hanya sebagai pelengkap?

Kedua, dimensi akhlak. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi peringatan keras. Puasa tanpa perbaikan moral hanyalah ritual kosong. Maka dalam peta Ramadan, kita perlu menandai “wilayah rawan” ghibah, amarah, kezaliman kecil yang sering kita anggap remeh.

Ketiga, dimensi empati. Ramadan mengajarkan rasa. Ketika lapar menekan, kita belajar memahami mereka yang kekurangan. Allah mengingatkan:

>“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Peta Ramadan harus mengarah pada kepedulian sosial. Bukan hanya memperindah meja berbuka, tetapi juga memperluas meja berbagi.

Dari Peta Ramadan ke Visi Kehidupan

Ramadan sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan fase pembentukan. Ia adalah “training center” selama sebulan penuh. Pertanyaannya: setelah Ramadan berlalu, apakah peta itu kita simpan kembali, atau kita jadikan panduan sepanjang tahun?

Rasulullah saw. bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan kesinambungan. Visi kehidupan seorang Muslim tidak boleh berhenti pada 30 hari. Jika Ramadan melatih kita shalat malam, maka setelahnya jangan sepenuhnya meninggalkannya. Jika Ramadan membuat kita ringan bersedekah, jangan kembali pelit ketika Syawal tiba.

Visi seorang Muslim adalah menjadi rahmat, sebagaimana misi Nabi Muhammad saw.:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ramadan adalah kesempatan menyelaraskan diri dengan visi rahmatan lil ‘alamin itu. Seorang Muslim yang sukses Ramadan bukan hanya yang khatam Al-Qur’an berkali-kali, tetapi yang akhlaknya lebih lembut, lisannya lebih terjaga, dan tangannya lebih ringan membantu.

Jangan Kehilangan Arah

Sering kali, Ramadan berlalu begitu cepat. Kita baru merasa khusyuk ketika sepuluh malam terakhir tiba. Padahal, setiap hari adalah kesempatan. Tanpa peta yang jelas, kita mudah kehilangan arah, terjebak pada euforia buka bersama, sibuk berburu diskon Lebaran, namun lupa memperdalam relasi dengan Allah.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat ini menunjukkan kemuliaan puasa. Ia ibadah yang intim. Tidak ada yang tahu kualitasnya selain Allah. Maka peta Ramadan sejatinya bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk ditapaki dengan sunyi.

Membuat peta Ramadan berarti berani bertanya: ingin menjadi pribadi seperti apa setelah bulan ini? Lebih sabar? Lebih jujur? Lebih disiplin? Lebih peduli?

Ramadan bukan sekadar menahan diri dari yang halal di siang hari, tetapi melatih diri meninggalkan yang haram sepanjang waktu. Ia bukan hanya momentum tahunan, tetapi fondasi visi kehidupan.

Jika Ramadan adalah peta, maka takwa adalah tujuannya, Al-Qur’an adalah kompasnya, dan akhlak mulia adalah jejak yang kita tinggalkan di sepanjang perjalanan.

Semoga Ramadan kali ini tidak hanya kita lalui, tetapi kita rancang. Tidak hanya kita rayakan, tetapi kita maknai. Agar setelah bulan suci ini berlalu, kita tidak kembali ke titik awal, melainkan melangkah lebih dekat menuju ridha Allah Swt.


*Ketua RMI PCNU Kota Malang, Pengasuh Pondok Pesanren Darun Nun, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Peta Perang, Posisi dan Kemenangan(Ad-Dunya & al-Qushwa, Gambaran Posisi Pernah)


Halimi Zuhdy

Melihat gambar ini, kita tidak sekadar melihat peta, tetapi sedang menyaksikan bagaimana Al-Qur’an “melukis lokasi” dengan kata. Dan menariknya, dengan dua kata, seperti kita digiring ke masa lalu, melihat lokasi perang, kecamuk, dan emosi yang diaduk.
Allah berfirman dalam konteks perang Badar

إِذْ أَنتُم بِالْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُم بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَىٰ وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ

“Ketika kamu berada di sisi lembah yang dekat (ad-dunyā), dan mereka di sisi yang jauh (al-quṣwā), sementara kafilah berada di bawah kalian…” (QS. Al-Anfal: 42)

Dalam tafsir Ibnu Asyur, dijelaskan bahwa “al-‘udwah” adalah tepi atau sisi lembah. Lembah yang dimaksud adalah lembah Badar. Sedangkan “ad-dunyā” adalah sisi lembah yang dekat ke arah Madinah, tempat kaum Muslimin berada. Dan “al-quṣwā” adalah sisi yang jauh ke arah Makkah, tempat pasukan Quraisy.

Yuk! Kita lirik. Menariknya, penyebutan “dekat (ad-dunya, الدنيا)” dan “jauh (al-Quswa, القصوى)” bukan sekadar penunjuk arah, tetapi relatif terhadap posisi kaum Muslimin. Seakan Al-Qur’an mengajak pembaca berdiri di titik itu, melihat langsung medan yang sama. Ini, keren sekali. 

Namun, dalam tafsir ini tidak berhenti pada posisi. Dijelaskan bahwa secara strategi, justru posisi “jauh, al-quṣwā” lebih menguntungkan, yaitu tanahnya lebih keras, lebih stabil, dan lebih dekat dengan sumber air. Karena itu, kaum Muslimin sebenarnya berharap bisa menempati posisi itu lebih dulu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Quraisy lebih dahulu sampai di sana.

Sementara kaum Muslimin berada di sisi “lembah yang dekat, ad-dunyā” yang tanahnya lebih lembek dan tampak kurang ideal.

Lalu di sinilah keajaiban terjadi.Allah menurunkan hujan, tanah yang lembek di sisi Muslimin menjadi padat dan mudah dilalui, sementara tanah di sisi Quraisy justru menjadi becek dan menghambat.

Bahkan air yang menjadi keunggulan lokasi Quraisy, akhirnya justru dikuasai oleh kaum Muslimin.

Lebih dalam lagi, tafsir menjelaskan bahwa posisi saat itu sangat genting, kaum Muslimin berada di antara dua kelompok Quraisy, pasukan perang di depan dan kafilah dagang di bawah (arah pantai). Secara logika, mereka bisa saja terjepit dari dua arah.

Namun semua itu tidak terjadi. Mengapa Karena pertemuan itu sendiri bukan hasil rencana manusia. “Kalau kalian berjanji untuk bertemu, pasti kalian akan berselisih waktu,” kata ayat itu. Artinya: pertemuan di Badar terjadi bukan karena strategi yang matang, tetapi karena takdir yang sedang disempurnakan.

Maka, dua kata yang kelihatan sederhana idunyā dan quṣwā bukan hanya menggambarkan jarak, tetapi membuka tabir, bahwa di balik posisi yang tampak “tidak menguntungkan”, Allah sedang mengatur kemenangan.

Allahualam bishawab

Menilik Perbedaan “توفّاهم” dan “تتوفّاهم”


Halimi Zuhdy

Saya tertarik pada dua kata ini, bukan hanya karena perbedaannya, tetapi karena juga terdapat kata "dhalim" setelahnya. Dalam Al-Qur’an, perbedaan kata bukan hanya soal makna leksikal, melainkan juga tentang struktur yang mengiringinya, ritme yang menyusunnya, dan pesan yang disisipkannya. Di situlah letak keasyikan kajian: ketika bahasa dianggap biasa/sederhana, justru di sanalah ia menyimpan kemu'jizatnya.
Di balik susunan yang terasa akrab, tersembunyi ketelitian pilihan kata, keseimbangan struktur, dan isyarat makna yang tak pernah benar-benar habis dibaca. Ia bukan sekadar bahasa yang dibaca, tetapi ruang yang selalu mengundang untuk ditelusuri kembali.

Toyyib. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam studi kebahasaan Al-Qur’an adalah ketepatan pemilihan bentuk kata. Perbedaan yang tampak kecil pada tataran morfologis sering kali mengandung implikasi makna yang besar. Dalam konteks ini, penjelasan Dr. Fadhil Al-Samarrai mengenai perbedaan antara bentuk “tawaffahum/توفّاهم” dan “tatawaffahum/تتوفّاهم” menjadi contoh yang sangat penting untuk menunjukkan bahwa struktur bahasa Al-Qur’an dibangun di atas pertimbangan makna yang sangat cermat.

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 97:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ...

Sementara dalam Surah An-Nahl ayat 28 disebutkan:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ...

Secara sepintas, perbedaan antara keduanya hanya terletak pada tambahan huruf "ta’" dalam kata “تتوفّاهم”. Akan tetapi, menurut Dr. Fadhil Al-Samarrai, perbedaan ini bukanlah variasi tanpa tujuan, melainkan bagian dari ketelitian ungkapan Al-Qur’an yang berkaitan dengan konteks makna dalam masing-masing ayat.

Dalam ayat Surah An-Nisa, subjek yang dibicarakan bukan seluruh orang yang menzalimi diri mereka sendiri, melainkan kelompok tertentu dari mereka, yaitu orang-orang yang berada dalam keadaan tertindas atau "mustadh‘afin". Dengan demikian, cakupan kelompok ini lebih sempit. Karena yang dimaksud adalah bagian dari keseluruhan golongan zalim, ungkapan yang digunakan datang dalam bentuk yang lebih ringkas, yaitu “توفّاهم”.

Adapun dalam Surah An-Nahl, yang dimaksud adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri secara lebih umum, tidak terbatas pada kelompok yang lemah atau tertindas. Cakupan maknanya lebih luas, dan jumlah yang dirujuk juga lebih besar. Karena itu, digunakan bentuk “تتوفّاهم”,yang secara struktur lebih lengkap.

Penjelasan ini bertumpu pada kebiasaan bahasa Arab yang mengenal penghilangan salah satu huruf dalam bentuk tertentu demi keringanan pengucapan, selama makna tetap dapat dipahami melalui konteks. Dalam ranah ini dikenal pasangan bentuk seperti “تفرّقوا” dan “تتفرّقوا”, atau “تذكرون” dan “تتذكرون”. Dengan kata lain, penghilangan huruf bukanlah penyimpangan, tetapi bagian dari keluasan sistem bahasa Arab. Namun, dalam Al-Qur’an, pilihan antara bentuk yang diringkas dan bentuk yang lengkap tidak pernah lepas dari pertimbangan semantik.

Dari sini terlihat bahwa bentuk yang lebih singkat pada ayat pertama selaras dengan kelompok yang lebih khusus dan lebih sedikit, sedangkan bentuk yang lebih lengkap pada ayat kedua sesuai dengan cakupan yang lebih umum. Hubungan antara bangun kata dan muatan makna inilah yang menunjukkan kedalaman nazm Al-Qur’an, yaitu keterpaduan antara struktur bahasa dan maksud yang dikandungnya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Qur’an memahami perbedaan semacam ini? 

Jawabannya, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Fadhil, adalah ya. Mereka memahami nuansa tersebut sesuai dengan konteks pemakaiannya, bahkan dalam banyak hal lebih baik daripada pembaca masa kini, sebab bahasa Arab adalah bahasa hidup mereka, bukan bahasa yang dipelajari secara formal sebagaimana terjadi pada generasi setelahnya.

Meski demikian, penguasaan bahasa tidak otomatis berarti kemampuan menandingi Al-Qur’an. Orang Arab memang memiliki tradisi kebahasaan yang tinggi, tetapi tingkat kefasihan dan kekuatan ungkapan mereka tetap bertingkat-tingkat. Tidak semua penyair setara, tidak semua orator berada pada derajat yang sama. Karena itu, tantangan Al-Qur’an kepada mereka untuk menghadirkan satu surah saja yang sebanding dengannya justru menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata pada penguasaan kosakata, melainkan pada kemampuan menempatkan kata secara tepat dalam jaringan makna yang utuh.

Dalam hal ini, kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya tampak pada makna besar yang dibawanya, tetapi juga pada rincian-rincian kebahasaan yang sangat halus. Pemilihan antara “توفّاهم” dan “تتوفّاهم” memperlihatkan bahwa perubahan sekecil apa pun dalam bentuk kata dapat berkaitan dengan perbedaan sasaran makna, keluasan cakupan, dan nuansa semantik yang dikehendaki ayat.

Dengan demikian, telaah atas dua bentuk ini menegaskan satu hal penting: dalam Al-Qur’an, tidak ada unsur kebahasaan yang hadir secara acak. Setiap huruf, setiap bentuk, dan setiap susunan memiliki fungsi. Dari sudut pandang balaghah, inilah salah satu bukti bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara dengan bahasa yang benar, tetapi dengan bahasa yang mencapai puncak ketepatan.

Bacaan: 
1. As-Samarrai, Fadhil Shalih. Lamasāt Bayāniyyah fī Nuṣūṣ min at-Tanzīl. Amman: Dār ‘Ammār.
2. As-Samarrai, Fadhil Shalih. Asrār al-Bayān fī at-Ta‘bīr al-Qur’ānī. Amman: Dār al-Fikr. 
3. As-Samarrai, Fadhil Shalih. Kajian tafsir dan kebahasaan Al-Qur’an (materi ceramah/rekaman).
4. Kamus Ma'ani

Menilik Istilah "Timur Tengah"(Jejak Tersembunyi Kolonialisme Global?)


Halimi Zuhdy

Istilah "Timur Tengah" yang begitu sering kita dengar, begitu akrab di telinga, namun jarang sekali kita pertanyakan.

Sebenarnya saya juga tidak terlalu curiga dengan istilah "Timur Tengah" atau dalam bahasa Arab "Al-Syarq al-Awsath", kalau dalam bahasa Inggris dikenal dengan "middle East", tapi setelah membaca artikel Aḥmad al-Dash sedikit curiga, "sedikit lo ya, gak banyak, tapi setelah baca beberapa artikel lainnya tambah curiga, ini istilah untuk memetakan kepentingan Barat. Walau secara bahasa "Timur Tengah"adalah kata biasa. 
Timur Tengah, Ia terdengar netral, ilmiah, bahkan seolah-olah murni geografis. Padahal, di baliknya tersimpan sejarah panjang tentang kuasa, strategi, dan cara pandang dunia yang tidak pernah benar-benar netral. Yuk! Kita melirik beberapa artikel tentang istilah ini. 

Tulisan yang dimuat oleh Al Jazeera, yang tulis Ahmad al-Dabash mengajak kita menelusuri asal-usul istilah ini, dan menemukan bahwa “Timur Tengah” bukanlah nama yang lahir dari dalam kawasan itu sendiri, melainkan dari luar, dari pusat-pusat kekuasaan global.

Pada awalnya, dunia Barat hanya mengenal istilah “Timur”. Sebuah sebutan luas dan kabur untuk wilayah yang membentang dari Afrika Utara hingga Asia. Namun “Timur” bukan sekadar arah mata angin, ia adalah cara Barat melihat “yang lain”: berbeda, eksotis, bahkan sering kali dianggap inferior.

Perubahan besar terjadi ketika seorang ahli strategi militer Amerika, Alfred Thayer Mahan, pada tahun 1902 memperkenalkan istilah “Middle East”. Istilah ini tidak lahir dari kebutuhan akademik atau kultural, melainkan dari kepentingan geopolitik. Bagi Mahan, kawasan ini adalah jantung dunia, jalur vital perdagangan, pusat konektivitas global, dan arena perebutan kekuatan antarnegara besar.

Sejak saat itu, wilayah ini tidak lagi dipahami sebagai ruang hidup dengan identitasnya sendiri, melainkan sebagai objek strategi. Terusan Suez, Teluk Arab, Laut Merah, semuanya dilihat bukan sebagai bagian dari peradaban, tetapi sebagai jalur yang harus dikendalikan.

Istilah “Timur Tengah” kemudian berkembang seiring dengan menguatnya kepentingan Barat, khususnya Inggris dan Amerika Serikat. Ia menjadi bagian dari bahasa politik global, digunakan untuk mengelompokkan wilayah yang sangat beragam menjadi satu entitas yang tampak seragam, padahal sesungguhnya tidak.

Di sinilah persoalan mendasarnya, “Timur Tengah” bukanlah konsep yang lahir dari realitas kawasan, melainkan dari perspektif Eropa. Ia disebut “Timur” karena berada di sebelah timur Barat, dan “Tengah” karena posisinya dianggap berada di antara Eropa dan Asia Timur. Dengan kata lain, istilah ini hanya masuk akal jika dunia dilihat dari sudut pandang Barat.

Padahal, kawasan yang disebut “Timur Tengah” adalah mozaik yang sangat kompleks. Ia mencakup berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan sistem sosial yang berbeda. Bahkan dari sisi agama pun tidak tunggal. Ironisnya, mayoritas umat Muslim dunia justru hidup di luar wilayah ini di negara-negara seperti Indonesia, India, Pakistan, dan Bangladesh.

Seiring waktu, istilah “Timur Tengah” tidak hanya menjadi label geografis, tetapi juga membentuk cara dunia memahami kawasan tersebut. Ketika istilah ini disebut, yang terbayang sering kali adalah konflik, perang, minyak, dan instabilitas. Sebuah citra yang terus direproduksi, dan pada akhirnya mengaburkan kenyataan yang jauh lebih kaya dan beragam.

Inilah yang membuat kita perlu bersikap kritis. Sebab nama bukan sekadar penanda, ia adalah narasi. Dan setiap narasi membawa kepentingan.

“Timur Tengah”, dalam banyak hal, adalah contoh bagaimana bahasa dapat digunakan untuk membingkai realitas, mengarahkan cara pandang, bahkan mempengaruhi kebijakan global. Ia bukan hanya istilah, tetapi juga alat.

Oh ia, Al-Sharq al-Awsat, Mustalah Urubi li Kiyan Jughrafi Yaqa’ fi Qalb al-‘Alam. Bahwa Istilah “Timur Tengah” sejak awal memang bukan konsep yang mapan, melainkan istilah elastis yang dapat meluas atau menyempit sesuai kepentingan. Ia mencakup wilayah Asia Barat Daya dan sebagian Afrika, tetapi batasnya tidak pernah benar-benar pasti. Kadang Turki dimasukkan, kadang Afrika Utara ikut dihitung, bahkan dalam konteks tertentu, wilayah seperti Pakistan atau Asia Tengah juga diseret ke dalamnya. Ketidakjelasan ini bukan kelemahan, justru kekuatannya: istilah ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan politik global yang terus berubah.

Meski demikian, kawasan ini tetap memiliki benang merah: posisi geografisnya yang berada di persimpangan tiga benua, Asia, Eropa, dan Afrika, serta penguasaannya atas jalur-jalur strategis dunia. Selat Hormuz, Terusan Suez, hingga Bab al-Mandeb bukan sekadar nama di peta, tetapi urat nadi perdagangan global. Ditambah dengan cadangan energi terbesar di dunia, kawasan ini menjadi jantung ekonomi modern. Tidak heran jika sejak dulu hingga kini, “Timur Tengah” selalu menjadi panggung utama perebutan pengaruh kekuatan besar dunia.

Namun di balik kekayaan dan posisi strategis itu, kawasan ini juga terus dibayangi konflik dan intervensi. Perebutan sumber daya, campur tangan asing, hingga konflik internal berbasis etnis dan agama menjadikannya wilayah yang tak pernah benar-benar tenang. Bahkan dalam banyak kasus, ketegangan yang terjadi bukan semata konflik lokal, melainkan bagian dari permainan global yang lebih besar. Di sinilah paradoks “Timur Tengah” terlihat jelas: wilayah yang menjadi pusat peradaban dunia, sekaligus medan pertarungan kepentingan yang tak pernah usai.

Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar apa itu “Timur Tengah”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menamainya, dan untuk tujuan apa? 

Bahan Bacaan: 

1. Qishah shinaan musthalah al-syarq al-Awsath, Aḥmad Al-Dabash Al Jazeera. 2025
2. Al-Sharq al-Awsat.. Mustalah Urubi li Kiyan Jughrafi Yaqa’ fi Qalb al-‘Alam, diitulis dalam rubrik Mausū‘ah –Al Jazeera, 2023

Perbedaan "Al-Sama'" (السماء) dan "Al-Samawat" (السموات)


Halimi Zuhdy

Dalam tradisi tafsir dan kajian bahasa Al-Qur'an (Ulumul Qur'an), presisi kata adalah hal yang fundamental. Salah satu tokoh dalam kajian stilistika bahasa Al-Qur'an (Uslub al-Qur'an) adalah Dr. Fadhil Al-Samarra'i.
Kita diajak untuk melihat bagaimana Al-Qur'an menggunakan terminologi yang berbeda untuk konsep yang sekilas tampak serupa. Seperti
"Al-Sama'" (السماء) - Makna Polisemi. Dalam Al-Qur'an, kata ini sering kali menunjukkan makna yang jamak atau luas (lebih dari satu makna).
Makna linguistik utamanya adalah "segala sesuatu yang berada di atas kita" (كُلُّ مَا عَلا وَارْتَفَعَ عَنِ الأَرْضِ).
Penggunaannya dapat meluas untuk merujuk pada: atap fisik (سقف), awan (سحاب), hujan (مطر), hingga ruang udara/atmosfer (فضاء/جو).

"Al-Samawat" (السموات). Dalam penggunaan Al-Qur'an, kata ini lebih konsisten dan spesifik. Ia merujuk pada konstruksi kosmik yang khusus: tujuh lapis langit yang diciptakan Allah (السموات السبع).

"Al-Sama'" memiliki cakupan semantik (ruang lingkup makna) yang lebih luas dan umum, sementara "Al-Samawat" lebih terminologis dan spesifik.

Halimi Zuhdy 

#TafsirAlQuran #LinguistikAlQuran #FilsafatBahasaArab #DrFadhilAlSamarrai #IlmuSyarie

Dermawan dalam Al Qur'an

Kadang kita menerjemahkan semuanya dengan satu kata: “dermawan”. Padahal, dalam bahasa Arab memiliki arti, makna dan maksud yang berbeda. 
Sebagaimana dinukil dari Lamasāt Bayāniyyah (لَمَسَاتٌ بَيَانِيَّةٌ) karya Dr. Fāḍil Ṣāliḥ as-Sāmarrā’ī (فاضل صالح السامرائي), السَّخَاء (as-sakhā’) adalah murah hati ketika ada yang meminta, الجُود (al-jūd) adalah memberi tanpa menunggu diminta, sedangkan الكَرَم (al-karam) adalah kemuliaan yang lebih luas, yang tampak dalam keluhuran akhlak, keindahan ucapan, dan banyaknya sifat baik dalam kehidupan; maka kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang ia keluarkan, tetapi juga dari lapangnya hati, peka tidaknya jiwa terhadap kebutuhan orang lain, dan indah tidaknya akhlak yang ia hadirkan dalam keseharian. 

اللهم زيِّنَّا بالسَّخَاءِ والجُودِ والكَرَمِ

#RenunganIslam #BelajarBahasaArab #AkhlakMulia #KemurahanHati #Dermawan #KajianIslam

Keindahan dan Ketelitian (diqqah) Bahasa Al-Qur’an

Keindahan dan Ketelitian (diqqah) Bahasa Al-Qur’an 

Kaidah gramatikal yang umum sekali yang kita kenal adalah زيادة المبنى تدل على زيادة المعنى
"Perubahan sruktur huruf [bunyi] berakibat terhadap perubahan sruktur makna" 

Menarik apabila kita perhatikan dua kata yang memiliki kesamaan makna, tetapi ada pesan yang berbeda. Bertambahnya huruf "Ta'" pada kata اسطاعوا استطاعوا. dalam Ayat 97 surat Al-Kahfi. 
Selengkapnya dapat dilirik di link berikut (di kolom komentar)

Waktu dalam Bahasa Arab(Etimologi, Semantik, dan Realitas Budaya)


Halimi Zuhdy

Bahasa Arab memiliki kekayaan leksikal, termasuk dalam penamaan waktu. Tidak hanya sekadar “jam”, setiap fase dalam sehari diberi istilah khusus yang merepresentasikan kondisi alam, aktivitas manusia, bahkan nuansa emosionalnya.

Bahasa Arab menunjukkan kekayaan semantik yang sangat mendalam dalam menamai waktu. Setiap fase hari tidak hanya diberi nama, tetapi juga memiliki akar makna (etimologi) yang merefleksikan kondisi alam dan pengalaman manusia.
Berikut beberapa di antaranya:

al-fajr (الفجر): berasal dari akar kata fajara (فجر) yang berarti “membelah” — menggambarkan cahaya yang membelah kegelapan malam.

as-subh (الصبح): dari akar ṣabaḥa (صبح) yang bermakna “menjadi terang” atau “memasuki pagi”.

aḍ-ḍuḥā (الضحى): dari ḍaḥā (ضحى), merujuk pada waktu ketika cahaya matahari mulai menyebar luas.

 al-hājirah (الهاجرة): dari hajara (هجر) yang berarti “meninggalkan” — waktu panas terik saat orang meninggalkan aktivitas luar.

aẓ-ẓahīrah (الظهيرة): dari ẓahara (ظهر) yang berarti “tampak/menonjol”, yaitu saat matahari berada di puncak.

 al-‘aṣr (العصر): dari ‘aṣara (عصر) yang berarti “memeras”, mengisyaratkan waktu yang mulai “terperas” menuju akhir hari.

al-aṣīl (الأصيل): dari aṣala (أصل) yang berkaitan dengan “waktu menjelang petang yang menetap/tenang”.

al-maghrib (المغرب): dari gharaba (غرب) yang berarti “tenggelam”, merujuk pada terbenamnya matahari.

al-‘ishā’ (العشاء): dari ‘asha (عشا) yang berkaitan dengan “kegelapan malam awal”.

niṣf al-layl (منتصف الليل): secara harfiah berarti “pertengahan malam”.

as-saḥar (السحر): dari saḥara (سحر), waktu sebelum fajar yang sering dikaitkan dengan keheningan dan kekhusyukan.

Penamaan ini menunjukkan bahwa dalam bahasa Arab, waktu dipahami tidak hanya secara kronologis, tetapi juga secara fenomenologis, menggambarkan perubahan cahaya, aktivitas manusia, dan suasana alam.

Dengan demikian, bahasa berfungsi bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai representasi cara pandang suatu peradaban terhadap realitas.

semuanya menunjukkan bagaimana bahasa ini merekam perjalanan waktu secara detail dan kontekstual.

Hal ini mencerminkan bahwa dalam tradisi Arab, waktu bukan hanya ukuran kronologis, tetapi juga fenomena yang sarat makna linguistik dan kultural.

Sebuah pengingat bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cara manusia memahami dan memaknai dunia di sekitarnya.

#LinguistikArab #Etimologi #BahasaArab #KajianSemantik #IlmuBahasa