السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 22 Januari 2026

Gaya Belajar Imam al-Bukhari



Halimi Zuhdy

Saya ditanya seorang santri, bagaimana gaya belajar imam Bukhari. Saya agak bingung, karena tidak tahu persis "bagaimana beliau belajar", saya baca-baca dibeberapa artikel dan kitab di antaranya tentang "sairal al-a'lam li imam Bukhari". Saya kaget, kaget banget. Beliau bukan hanya tekun, tapi di atas rata-rata orang tekun, rajin, keras dalam menuntut ilmu. 
Jika hari ini orang belajar cukup dengan "scroll", mungkin sambil leyeh-leyeh. Tidur-tidurab sambil minum kopi dan ngeteh.he. Beliau ini, seperti dengan keringat yang tak berhenti mengalir. Beliau, Imam al-Bukhari belajar dengan ribuan langkah kaki. "Itu kan dulu! Gak ada internet, gak ada google, gak ada AI! Ah, ribet amat" , apakah pada masanya ada yang banyak seperti beliau ?Ilmu sang Imam tidak lahir dari ruang nyaman, tetapi dari perjalanan panjang lintas negeri. Gak ada pesawat, ada mobil ber-AC, dan segala fasilitas seperti hari ini. 

Setahun ia menetap di Madinah, lima tahun di Bashrah, bolak-balik ke Makkah saat musim haji. Syam, Mesir, Jazirah Arab ia datangi dua kali. Bashrah empat kali. Hijaz enam tahun. Kufa dan Baghdad? Bahkan ia sendiri tak sanggup menghitung berapa kali masuk bersama para ahli hadis. Saking wakehnya. Gak bisa dibayangkan. 

Lah, beliau mengelilingi dunia Islam, Makkah, Madinah, Syam, Baghdad, Bashrah, Kufa, Mesir, Bukhara, Marw, Naisabur, hingga Khurasan demi satu tujuan "memastikan ilmu sampai kepadanya dari sumber paling sahih". Ia tidak puas mendengar satu riwayat dari satu orang. Ia membandingkan, mengonfirmasi, dan menguji. Tak heran jika beliau berkat:

كتبت عن ألف شيخ أو أكثر ما عندي حديث لا أذكر إسناده
“Aku menulis hadis dari seribu guru atau lebih, dan tidak ada satu hadis pun yang aku catat kecuali aku mengetahui sanadnya.” wow. Ini bukan sekadar hafalan. Ini adalah disiplin akademik tingkat tinggi. 

Dalam Al Mausu'ah, sejak kecil, Imam al-Bukhari dianugerahi hafalan yang kuat dan akal yang jernih. Tapi yang membuatnya luar biasa bukan bakat semata, melainkan etos belajar, kerja keras, ketekunan, dan mudzakarah tanpa henti. Ia memilih jalan paling teliti dan paling berat dalam ilmu hadis karena ia tahu, kebenaran tidak lahir dari kemalasan metodologis. Wow. 

Kehebatan Imam al-Bukhari bukan hanya terdengar di cerita, tapi terbukti di medan ujian. Saat beliau datang ke Baghdad, para ahli hadis setempat mendengar reputasinya. Bukan untuk mengagungkan, mereka justru sepakat “Kita uji saja.”

Seratus hadis disiapkan.
Bukan hadis biasa.
Sanad dan matannya sengaja dibolak-balik.
Matn hadis A dipasangkan dengan sanad hadis B. Sanad yang lain dipindah ke matn yang lain. Lalu hadis-hadis kacau itu dibagi kepada sepuluh orang (masing-masing membawa sepuluh hadis) untuk dilontarkan di majelis Imam al-Bukhari.

Satu per satu mereka membaca.
Dan Imam al-Bukhari menjawab dengan kalimat yang sama “Aku tidak mengenalnya.”

Orang-orang mulai berbisik.
Sebagian heran. Sebagian kecewa.
Yang tidak tahu skenario berkata: “Ah, hafalannya biasa saja.”

Tapi yang paham tersenyum kecil “Dia sedang mengerti permainan ini.”

Setelah sepuluh orang selesai, seratus hadis selesai dilontarkan, dan majelis menjadi tenang…
Imam al-Bukhari pun mulai berbicara.

Ia menoleh kepada orang pertama:
“Hadis pertamamu engkau bacakan begini, yang benar begini. Hadis kedua begini, yang benar begini…”
Satu per satu.
Urut.
Tanpa tertukar.

Ia kembalikan "setiap matn ke sanadnya", dan "setiap sanad ke matnnya", bukan hanya satu orang, tapi "seluruh sepuluh orang", lengkap seratus hadis, "dalam sekali duduk".

Majelis pun terdiam.
Lalu mengakui.
Tanpa debat. Tanpa sisa ragu.

Ibnu Hajar berkomentar dengan kalimat yang sangat tajam, “Yang menakjubkan bukan sekadar mengembalikan kesalahan ke yang benar, itu wajar bagi seorang hafizh. Yang benar-benar menakjubkan adalah kemampuannya menghafal kesalahan itu sendiri, persis sebagaimana disampaikan, hanya dengan sekali dengar.” ini bukan dongeng Lo. Dulu gak ada leptop🤩

Di situlah semua tunduk.
Bukan karena kagum semata,
tetapi karena "ilmu yang tak bisa dipermainkan".

Oh ia. Dalam Manhaj Al-Imam Bukhari Fi tarajum al-abwab al-shahiha, bahwa di balik kehebatannya, Imam al-Bukhari bukan sosok spontan tanpa sistem, melainkan ilmuwan dengan manhaj keilmuan yang rapi, matang, dan sangat modern jika dibaca hari ini. 

Beliau menempuh rihlah ilmiah puluhan tahun demi satu hadis yang sahih, menerapkan verifikasi tanpa kompromi terhadap perawi dan sanad hingga Shahih-nya menjadi standar emas hadis, menggabungkan metode deskriptif, kritis, dan induktif (istiqra’) dalam berfikir dan beristinbath, menyatukan ilmu dengan ibadah sampai setiap bab ditulis setelah shalat dan munajat, melahirkan al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ sebagai karya pionir yang disusun dengan kehati-hatian selama enam belas tahun, menyelipkan fikih dan tafsir lewat tarājim bab yang halus namun tajam, sangat teliti membedakan perawi-perawi yang mirip tanpa gegabah, serta menghadirkan inovasi penulisan melalui hadis mu‘allaq, tarājim mursalah, dan tarājim mufradah. 

Dari semua itu jelas bahwa Imam al-Bukhari bukan sekadar hafizh hadis, tetapi arsitek peradaban ilmu yang mengajarkan bahwa wibawa keilmuan lahir dari perjalanan panjang, metode ketat, kejernihan hati, dan ibadah yang sungguh-sungguh. 

Apa ini sebuah keberkahan ilmu?

Menolak Surga! Menerima Jannah



Halimi Zuhdy

Kemarin ada yang bertanya, ngapain kita menuju “surga”, bukankah di surga adalah tempat dewa-dewa? Ehem. Saya sedikit mengerutkan dahi untuk menjelaskan tentang sebuah "kata" dalam bahasa, antara "kata" dan "makna". seperti "sembahyang" dan "shalat". Memang, untuk menjelaskan kepada orang yang tidak suka membaca, atau menolak analisis linguistik agak sedikit butuh waktu.wkwkw
Kata "surga" di Nusantara. Secara etimologis menandai jejak pengaruh Sanskerta svarga sebagai “ruang cahaya” dan “kediaman ilahi”, yang kemudian bertransformasi secara fonetis dan kultural dalam berbagai bahasa daerah dari sawarga hingga swarga. Di saat yang sama, tradisi lokal Nusantara telah memiliki padanan konseptual melalui istilah kahyangan, yang berakar pada kata hyang dan merepresentasikan gagasan keilahian, kesakralan, serta ruang transenden tempat bersemayam para leluhur atau kekuatan adikodrati. Dengan demikian, “surga” dalam konteks Indonesia dapat dibaca bukan sekadar sebagai serapan linguistik, tetapi sebagai sintesis makna "pertautan antara kosmologi impor dan kearifan lokal yang sama-sama memandang surga sebagai simbol puncak kesucian, cahaya, dan kedekatan dengan Yang Ilahi". Lah, bagaiman dalam agama Islam? Kan tidak ada kata "surga"? 

Toyyib. Sekali lagi dalam Islam, istilah aslinya adalah "Jannah", sebagaimana digunakan langsung oleh Al-Qur’an, sedangkan kata “surga” hanyalah terjemahan bahasa Indonesia untuk memudahkan pemahaman. Jika seseorang memilih memakai kata "Jannah" dan menolak kata “surga”, dapat dijelaskan bahwa keduanya menunjuk pada makna yang sama, hanya berbeda bahasa, bukan berbeda konsep. "Jannah" adalah istilah wahyu, sementara “surga” adalah padanan linguistiknya, sehingga perbedaannya bersifat bahasa, bukan akidah atau rasionalitas iman. Sudah paham?

Toyyib. Sedikit kita lirik "Asal-usul Kata Jin, Majnun, Janin, dan Jannah" ini pernah saya tulis, beberapa bulan lalu. Sekarang, kita lirik lagi, hanya sebuah contoh sedikit saja. 

Bahasa Arab disinyalir sebagai bahasa tertua dan satu-satunya bahasa yang tidak punah, dari bahasa-bahasa yang pernah hidup semasa dengannya. Ia tidak hanya berumur 1400 tahun ketika Alquran diturunkan, tapi sudah ribuan tahun sebelumnya, bahkan dianggap menjadi bahasa Nabi Adam AS.

Ketika banyak bahasa Ibu sudah tergantikan, seperti; Bahasa Afrika, Asia Fasifik, Amerika Selatan, Amerika, Ethiopia dan bahasa yang berada diberbagai belahan negara atau benau lainnya hanya tinggal cerita, dan dimuseumkan. Namun, bahasa Arab, terutama yang digunakan oleh Alquran masih utuh, tidak ada perubahan, bukan kemudian kaku, namun ia terus berkembang dengan indah sesuai dengan kadar lerubahannya.

Dan bahasa Arab, bukan hanya sebagai bahasa biasa, yang tumbuh dan berkembang satu persatu sesuai kebutuhan, tapi bahasa ini (Arab) adalah bahasa yang ilmiah (saintifik), yang dapat dirunut sampai ke kata awal, dan kata paling awal, dan setiap kalimat-kalimat yang muncul dapat merujuk pada akar (judzur) kata yang sama atau kata tertentu.

Lihatlah kata seperti Din (Agama), Dain (Hutang), Dunya (Dunia), Madinah (kota), Dayyan (hakim), dan kata yang berdekatan lainnya. Kata-kata tersebut di atas, tidak hanya memiliki makna tersendiri, namun memiliki keterkaitan makna dan maksud. Insyallah, akan penulis analisis pada kajian berikutnya.

Kali ini, penulis hadirkan empat kata, “Janin (Janin), Jin (Jin), Majnun (Gila), dan Jannah (Surga)”. Kata yang lain yang memiliki satu akar adalah; Jan, Majjanan, Jani, Jinayah, Majun, junun dan lainnya.

Dalam kitab Mufrodat (kata-kata), Raghib al-Ashfahani, bahwa kata, “Jan” adalah tutup (satr) atau tertutupnya sesuatu dari panca indra, maka, kata “Jannah (Surga, kebun)” maknanya “tertutup”, ia tertutup oleh rerimbunan pohon, karena banyaknya pepohonan, bunga-bunga dan lainnya yang berada di dalamnya. Kata “Janin (Janin)” juga bermakna “tertutup”, karena ia tidak mampu dilihat oleh mata telanjang, bahkan oleh alat canggih pun, ia masih samar, walau kadang bisa ditebak.

Kata “Majnun (Gila)”, adalah orang yang pikirannya “tertutup” atau terhalang, tidak mampu berfikir dengan baik, bahkan tertutup oleh apapun dari luar dirinya dan dari dalam dirinya.

Sedangkan kata “Jin (Jin)” berasal dari “Jann” yang juga tertutup, tertutup dari pandangan manusia, ia tidak mampu dilihat oleh siapa pun, kecuali Allah tampakkan, dan ia masuk pada makhluq ghaib. Dalam kitab “Tadzhib al-Lughah lil Harwi” ia bermakna bersembunyi, menahan diri, atau menutupi dirinya dari manusia.

وجاء في تهذيب اللغة للهروي: الجِنُّ: جماعةُ ولد الجانّ، وجَمْعُهُم: الجِنَّةُ، والجانُّ، وَإِنَّمَا سُمُّوا جناً لأنّهُمُ اسْتَجنُّوا من النَّاس، فَلَا يُرَوْنَ، والجانُّ هُوَ أَبُو الجِنِّ خُلِقَ من نارٍ، ثمَّ خُلِق مِنْهُ نَسْلُه.

Dan ada yang memaknai kata-kata, “Jin, Janin, Jan, Jannah, Majnun, dan Majjnan” dengan “Hubungan dua arah, yang saling membutuhkan, saling memberi, saling bersinergi”. Misal; kata “Janin” ia memiliki dua huruf nun, “Tabaduliyyah Fa’aliyah al-ihtiwa'”.

Janin dan Ibunya memiliki hubungan yang kuat (yatabadaalani), Janin membutuhkan atau mengambil oksigen dari Ibunya, dan Janin memberi oksigen karbon. Demikian dengan kata-kata yang lain di atas. 

Allah ‘alam bishawab.

Tradisi Merawat Ilmu, Bukan Sekadar Mengutip(Khidmah al-kitab)

Halimi Zuhdy

Di tengah zaman serba cepat, ringkas, sat set, kita mudah tergoda untuk menjadikan ilmu sekadar “kutipan”. Ambil satu kalimat, tempelkan di presentasi, lalu selesai. Belum lagi di dunia perjurnalan, walau hanya oknum, kutip sana kutip sini, terkadang belum dibaca dengan cermat dan belum dipahami. Tempel saja. 
Padahal, dalam tradisi keilmuan klasik, terutama di dunia bahasa Arab, ilmu justru hidup karena dirawat, dipelihara, dan dijaga dengan kesabaran lintas generasi. Sangat telaten banget. Salah satu ungkapan yang menangkap semangat ini adalah sebuah frasa “خِدمةُ الكتاب/khidmat al-kitāb", yang secara harfiah berarti “melayani kitab”.

Sebelum dilanjutkan...cari posisi duduk yang enak dulu, dan siapkan kopi tubruknya...Toyyib mari lanjutkan. Ungkapan khidmah al-kitab/pelayan kitab digunakan oleh Abd al-Qadir al-Baghdadi dalam "Khizanat al-Adab" ketika ia menyebut para ulama yang mengelilingi mahakarya "Sibawaih", "al-Kitab" adalah sebuah kitab tata bahasa Arab yang sering dianggap fondasi besar ilmu nahwu. Yang menarik, al-Baghdadi tidak menyebut mereka sekadar “pensyarah” atau “komentator”, melainkan para pengabdi kitab. Ada nada etis di situ, seolah-olah kerja ilmiah bukan cuma urusan kepandaian, tetapi juga kesetiaan dan tanggung jawab. Bukan sembarang bekerja, tetapi ada khidmah besar. 

Toyyib. Apa sebenarnya yang dilakukan para “pengabdi” ini? 

Pertama, mereka menjaga "akurasi riwayat". Dalam sejumlah pembahasan, al-Baghdadi menyinggung bait-bait syair yang dikutip Sibawaih, ada yang tidak jelas penyairnya, ada yang dinisbatkan kepada tokoh tertentu, ada pula yang riwayatnya diikuti begitu saja oleh generasi setelahnya. Di sini tampak bahwa tradisi keilmuan klasik sangat menaruh perhatian pada satu hal yang sering dianggap sepele hari ini "siapa yang berkata dan bagaimana teks itu sampai kepada kita". Ini keren sekali. Butuh ketelitian luar biasa. 

Kedua, mereka menghidupkan "pemahaman", bukan sekadar menyalin. Al-Baghdadi menunjukkan bahwa kadang sebuah makna yang beredar bukan kalimat langsung dari Sibawaih, tetapi hasil "istinbath" sebuah inferensi cermat yang disusun para pensyarah dari redaksi Sibawaih. Dan Ini penting untuk dipahami, bahwa ilmu tidak berhenti pada “apa bunyinya”, melainkan bergerak pada “apa maknanya”, “apa konsekuensinya”, dan “bagaimana ia dipahami secara konsisten”.

Namun tradisi ini juga jujur mengakui sisi manusianya. Ada bagian ketika al-Baghdadi menyesalkan, seperti bait tertentu diriwayatkan sebagaimana adanya, tetapi para “khadamah al-kitab” tidak menyebut kelanjutannya atau tidak menjelaskannya secara memadai. Di situ kita belajar bahwa warisan ilmu bukan museum yang selalu rapi. Ia adalah kerja manusia, nama kerja manusia kadang lengkap, kadang kurang; kadang terang, kadang menyisakan celah.

Di era digital, pelajaran ini terasa relevan. Kita hidup di masa banjir informasi, tetapi miskin "khidmah". Banyak orang cepat berkomentar, sedikit yang tekun memeriksa. Banyak yang gemar menyimpulkan, sedikit yang mau menelusuri sumber. Padahal, yang membuat ilmu bertahan bukan kecepatan menyebar, melainkan kesungguhan merawat. Apalagi di medsos sangat ngeri sekali. Sar ser, sat set, tapi banyak hoaknya. Tidak tahu sembernya, tidak ada marja'nya, sar ser yang penting keren...duh kah. 

Istamir yuk! Dalam konteks pendidikan kita, “khidmah” bisa berarti hal sederhana tetapi menentukan, yaitu "membaca teks sampai selesai", menyebut sumber dengan benar, membandingkan rujukan, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak tergesa-gesa mengklaim kebenaran tunggal. Khidmah juga berarti memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan yaitu menulis catatan yang jelas, menyusun penjelasan yang rapi, dan menutup celah-celah yang dulu belum tertutup.

Sibawaih menulis "al-Kitab" sebagai karya ilmiah. Tetapi karya itu menjadi tradisi karena ada yang mengabdi seperti al-Jarmi, al-Sirafi, Abu Ali al-Farisi, dan banyak nama lain yang mungkin tak sepopuler “pengarangnya”, tetapi tanpanya, kitab besar hanya tinggal teks sunyi. Mereka membuatnya tetap berbicara. Belum lagi kalau bercerita kitab-kitab hebat siapa di balik besarnya kitab Al-umm li imam asyafi? Nanti saja kita kupas.😁

Maka, ketika al-Baghdadi menyebut mereka “khadamah” atau para pengabdi kitab, kita seperti diingatkan, bahwa di balik ilmu ada adab, di balik kepandaian ada ketekunan, di balik warisan ada tanggung jawab. Dan di zaman yang sat set sut sat dan serba cepat ini, barangkali yang paling kita butuhkan bukan semakin banyak kutipan, melainkan semakin banyak "khidmah".

Sumenep, 29 Des 2025

Marja' 
Muhammad Nuri dalam tahqiq al makhthuh fi arwaqatil jamiah. Kitab Sibawaih. Mujam al ma'ani. Al Baghdadi, Khazanatul Adab.

Perdebatan Sengit Dua Ulama Besar, Imam Malik & Laits, Tapi Berakhir Haru

Halimi Zuhdy

Saya kadang heran, kok bisa ada yang senang membully sesama saudara, bahagia ketika saling mencaci, padahal sering mengucap “al-muslimu akhul muslim” sebenarnya urusan agama itu simpel, perbedaan pasti ada, tapi jangan sampai jadi alasan saling memaki dan merendahkan, karena kalau benar-benar mengamalkan hadis, kita mestinya lebih menjaga lisan dan perasaan saudara sendiri "jangan sampai dia malu, sakit, dan merasa ditinggalkan, sebab perbedaan itu sunnatullah, namun perbedaan yang justru membuat sesama seagama saling menjauh dari ukhuwah, alih-alih saling menguatkan, itu justru terasa lucu dan menyedihkan.
Apa mulai dulu tidak ada perbedaan?, ada lah. Banyak banget. Tapi, kan tidak setiap perbedaan harus dinormalisasi. Alasannya mulai zaman sahabat, banyak perbedaan sengit, bahkan perang. Ia, benar. Memang mau ditiru sampai sekarang? Kan tidak usah ditiru. Kalau bisa tidak saling mencaci maki, kenapa harus saling mencaci? Duh kah, lessoh.

Ada kisah menarik banget. Dan ini contoh, bahwa perbedaan, tidak harus saling mencaci maki, membuly, meledek apalagi harus bertegkar. Kisah dua imam besar; Imam Malik bin Anas dan Imam Laits bin Sa‘d.

Mereka berbeda pendapat. Bukan beda remeh, tapi beda pada fondasi metode memahami agama. Imam Malik (Imam Madinah) memandang bahwa amal penduduk Madinah (praktik yang diwarisi generasi demi generasi) adalah hujjah yang sangat kuat, seperti hadis mutawatir dalam kekuatannya. Sedangkan Imam Laits, ulama besar Mesir, tidak sepakat.

Perdebatan beliau sangat serius. Surat-surat mereka tajam. Argumen mereka panjang. Mereka tidak “berdamai” dalam arti melebur pendapat. Tidak. Mereka tetap berbeda.

Tapi di sinilah keindahan akhlak mereka terlihat. Di tengah perbedaan yang panas itu, Imam Malik mengirim surat “Aku punya utang.” 

Dan Imam Laits (yang sedang berbeda pendapat keras dengannya) tidak membalas dengan sindiran, tidak dengan “kan kamu yang paling benar”, tidak dengan “minta tolong ke penduduk Madinah saja.” Beliau justru mengirim lima ratus dinar.

Bayangkan! saat orang lain mungkin akan berkata, “Rasain!”, Imam Laits berkata dengan tindakannya, “Aku tetap saudaramu.” Masyallah. Keren banget bro.

Lalu ketika Imam Malik butuh biaya untuk menikahkan putrinya, beliau berkirim surat lagi, meminta "‘ushfur", pewarna mahal untuk keperluan pernikahan.

Dan Imam Laits membalas bukan dengan secukupnya. Beliau mengirim "tiga puluh unta" penuh muatan pewarna mahal. Bukan cuma menutup kebutuhan, tapi membanjiri kebutuhan itu dengan kemuliaan.

Seolah Imam Laits ingin mengajarkan sesuatu yang berat tapi indah, bahwa "ikhtilaf" (perbedaan pendapat) tidak pernah punya hak untuk membunuh "ukhuwah*".

Dan kisahnya belum selesai. Sebelum lanjut, minum kopi tubruknya dulu! He

Toyyib. Ketika Imam Laits berhaji dan singgah ke Madinah, Imam Malik menghadiahkan kurma muda (ruthab) di atas sebuah piring, hadiah sederhana, tapi penuh cinta. Ada ukhuwah. Dan, Imam Laits mengembalikan piring itu… dengan seribu dinar emas di atasnya. Satu piring kurma dibalas dengan satu piring yang berkilau. Wow, berasa banget. 

وعندما حج الإمام الليث وزار مدينة رسول الله ﷺ، أَهْدَى إِلَيْهِ ‌مَالِكُ ‌بْنُ ‌أَنَسٍ رُطَبًا عَلَى ‌طَبَقٍ فَرَدَّ إِلَيْهِ الليثُ عَلَى الطَّبَقَ أَلْفَ دِينَارٍ من الذهب. 500 ألف ريال

Bukan karena Imam Malik “kurang”, tapi karena Imam Laits “besar”.

Di titik ini, hati kita biasanya tertohok, kok bisa ya… orang beda pendapat, tapi tetap saling menguatkan?

Kok bisa ya… orang berdebat, tapi tidak kehilangan adab?

Dan pertanyaan yang lebih menyakitkan, 
kenapa kita yang beda pendapatnya kadang cuma soal selera, organisasi, gaya ceramah, atau hal cabang justru gampang putus silaturahmi?

Yang membuat kisah ini makin menggetarkan adalah satu kalimat Imam Syafi’i tentang Imam Laits “Laits lebih faqih daripada Malik, hanya saja murid-muridnya tidak mengangkat mazhabnya.”

إن الإمام الشافعي قال عنه:( ‌اللَّيْثُ ‌أفقهُ من مَالكٍ إِلَّا أَن أَصْحَابه لم يقومُوا بِهِ).

Seolah sejarah berkata, ada orang sekelas itu, ilmunya tinggi… tapi keindahannya bukan hanya pada kecerdasan, melainkan pada kelapangan jiwa.

Imam Laits bukan orang miskin. Beliau kaya. Sangat kaya. Tapi hartanya tidak mengunci hatinya. Justru hartanya menjadi kendaraan kebaikan. Setiap hari beliau memberi. Tidak menunggu diminta. Tidak menunggu viral. Tidak menunggu dipuji.

Dan ketika khalifah besar Abu Ja‘far Al-Manshur ingin menjadikannya penguasa Mesir, Imam Laits menolak. Dengan tegas. Bukan karena beliau tak mampu, tapi karena beliau tahu, "ada orang yang ketika memegang jabatan, ilmunya bisa berkurang, hatinya bisa tergelincir." Beliau memilih tetap menjadi pelita. Bukan kursi.

Lalu ada satu bagian yang pahit, tapi penting orang yang justru direkomendasikan Imam Laits untuk jadi gubernur Mesir malah marah dan bersumpah tidak mau berbicara dengan beliau.

Di situ kita belajar "kadang kebaikan tidak dibalas kebaikan. kadang kemuliaan bertemu jiwa kecil.
tapi orang besar tidak mengecil karenanya.

Orang besar tetap besar. Dan sekarang, mari kita lihat diri kita. Kita hidup di zaman di mana beda pendapat sering dijadikan bahan untuk mematahkan orang, bukan memuliakan ilmu. Kita gampang mengunci pintu hanya karena kalimat. Kita gampang memutus hubungan hanya karena perbedaan cara pandang.

Padahal para imam mengajarkan: boleh keras pada argumentasi, tapi lembut pada persaudaraan. boleh berbeda dalam fiqh, tapi tetap satu dalam akhlak.

Karena tujuan ilmu bukan memenangkan perdebatan. Tujuan ilmu adalah mendekatkan manusia pada kebenaran tanpa menginjak kehormatan orang lain. Maka jika suatu hari kamu berbeda pendapat dengan saudaramu, ingat dua nama ini. Malik dan Laits. Dua puncak ilmu yang tidak selalu sepakat…
tapi selalu saling memuliakan.

Dan mungkin, di situlah ukuran “dewasa” dalam beragama "Bukan seberapa banyak dalil yang kita hafal, tapi seberapa lembut hati kita ketika dalil kita tidak sama dengan orang lain."

Semoga Allah merahmati keduanya.

Dan semoga Allah menumbuhkan pada kita secuil dari kelapangan jiwa mereka 
agar perbedaan tidak mengubah kita menjadi orang yang sempit, melainkan orang yang makin mulia.

Gelar dan Sebutan Penulis dalam Bahasa Arab(Ahl Al-Qalam)


Halimi Zuhdy

Di dalam tradisi kebahasaan dan kesusastraan Arab, terdapat beragam istilah khusus yang bukan hanya sekadar label melainkan representasi fungsi, gaya, dan tujuan ekspresi penulisannya. 

Bahasa Arab tidak membiarkan praktik penulisan menjadi samar setiap modus, metode, dan tujuan diberi nama yang jelas, menggambarkan peran intelektual dan estetis si penulis. Mungkin bahasa lainnya juga sama. Tapi, ini hanya menilik dalam bahasa Arab. 
Istilah-istilah ini mencerminkan bagaimana Bahasa Arab menata dunia penulisan secara terstruktur dan bermakna, serta menunjukkan kompleksitas hubungan antara simbol, makna, dan identitas pencipta karya. Dan, istilah ini juga sudah sangat dikenal dalam berbagai kitab klasik dan modern. 

1. أديب  Adīb (Sastrawan)
مَن يُبْدِعُ في صُنْعِ الأعمالِ الأدَبِيّةِ شعرًا أو نثرًا، ويتسمُ ببلاغةٍ وفكرٍ وثقافةٍ واسعةٍ.

Seorang "adīb" adalah pencipta karya sastra, baik puisi maupun prosa, yang tidak hanya menulis, tetapi juga menghidupkan bahasa dengan keindahan (بلاغة), wawasan budaya, dan kedalaman pemikiran. Istilah ini menandai hubungan erat antara ekspresi estetis dan pemikiran reflektif dalam teks.

2. شاعر  Syāʿir (Penyair)
مَن ينظّمُ الشعر مستخدمًا الكلامَ المُوزونَ المُقفى، ويستخدمُ الصورَ البلاغيةَ والتعابيرَ الأدبيّةَ.

Dalam budaya Arab, "shaʿir" bukan sekadar pembentuk kata berima, ia adalah pemikir simbolikyang menggunakan bahasa untuk memberi bentuk pada pengalaman batin, emosi, dan realitas sosial. Puisinya tidak sekadar estetika, tetapi juga cara berpikir yang bernalar.

3. ناثر  Nāthir (Penulis Prosa)

من يكتب النثر أي الكلام المرسل غير الموزون ولا المقفى ويعبر من خلاله عن الأفكار بأسلوب مباشر وفني.

"Nāthir" menunjukkan penulis yang menggunakan prosa langsung untuk mentransmisikan gagasan, dengan gaya yang tidak terikat ritme puisi namun tetap artistik. Ia adalah penghubung antara ekspresi ide dan gaya naratif yang lugas serta bermakna.

4. كاتب  Kātb (Penulis)

من يحْدُث أو ينقل النصوص المكتوبة أو يصوغها—سواء كانت أفكارًا أصليةً له أو منقولة.

Istilah "kātb" merujuk pada siapa saja yang menulis atau menyusun teks—baik itu ide asli maupun representasi ulang. Di sini kita melihat bahwa "menulis adalah proses berpikir dan menyampaikan gagasan", terlepas dari bentuknya.

5. مؤلف  Mu’allif (Pengarang)
شخص يبتكر فكرةً أو عملاً أدبيًّا أو محتوى كتابيًا أصليًّا ويحسن تركيبه وتنظيمه.

Seorang "mu’allif" adalah pengarang yang menghasilkan karya orisinal dan memiliki struktur serta organisasi yang matang—sering kali menjadi manifestasi dari dialog antara pemikiran pribadi dan konteks budaya yang lebih luas.

6. روائي  Riwā’ī (Novelis)
من يبدع في كتابة الروايات، وينسج العوالم والأحداث والشخصيات، ويعرضها في سرد ممتد.

Istilah "riwā’ī" memberi nama pada seniman narasi yang "membangun dunia", menyusun karakter dan kejadian dalam struktur cerita yang kompleks. Novelis bukan sekadar pencerita, tetapi "arsitek pengalaman manusia" dalam bentuk teks panjang.

7. خطّاط  Khattāṭ (Kaligrafer)

من يتقن فن الخط العربي، ويحول الحروف إلى لوحاتٍ فنيةٍ نابضةٍ بالجمال.

Bahasa Arab secara visual juga bernilai estetika tinggi. "Khattāṭ/" adalah penghubung antara bahasa dan seni visual, di mana huruf-huruf dilukiskan sebagai bentuk ekspresi yang bernilai dan bermakna.

Setiap istilah Arab di atas bukan hanya menunjukkan “siapa dia”, tetapi bagaimana ia berpikir dan berkontribusi pada ruang sosial budaya. Bahasa Arab memberi ruang yang kaya untuk membedakan antara gaya, tujuan, bentuk, dan fungsi kreatif.

Melalui kajian istilah-istilah ini, kita melihat bahwa Bahasa Arab memiliki "arsitektur semantik" yang cermat dalam memberi nama kepada berbagai bentuk ekspresi intelektual dan artistik. Nama-nama ini bukan label pasif, tetapi indikator cara berpikir, tujuan kultural, dan fungsi sosial dari sang pembentuk teks.

اللغةُ ليستْ ناقلَ معاني فحسبْ، بل هي بُنيةُ فِكرٍ وثقافةٍ تُؤسِّسُ لِفهمِ الإنسانِ للعالمِ.

 Bahasa bukan sekadar pembawa makna, ia adalah struktur pemikiran dan budaya yang membentuk cara kita memahami dunia.

Marajik
Ma'ajim Al-Ma'ani. Hisab Muassasah Qatar. Musthalahat

Belajar Hidup Sakinah dari Berita Perselingkuhan

Halimi Zuhdy

Dalam beberapa tahun terakhir, berita perselingkuhan semakin sering muncul di ruang publik. Dari tokoh terkenal hingga kisah rumah tangga biasa yang viral di media sosial, semuanya menghadirkan kegaduhan yang sama "keterkejutan, kecaman, dan rasa prihatin". Namun, di balik riuh itu, sesungguhnya ada pelajaran besar yang layak direnungkan bersama, terutama tentang makna hidup berumah tangga yang sakinah. Oh ia, bukan hanya tentang perselingkuhan, banyak berita dan kisah yang menjadi pelajaran setiap hari, tapi...!!! 
Yuk. Lanjut. Berita perselingkuhan selalu terasa pahit. Ia datang bukan sekadar sebagai kabar sensasi, tetapi sebagai cermin retak yang memantulkan rapuhnya sebuah komitmen. Di balik potongan judul dan hiruk-pikuk komentar, ada luka yang tidak termaktub. Hati pasangan yang dikhianati, anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan keluarga yang runtuh perlahan tanpa suara.

Rumah tangga sejatinya dibangun di atas mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang kokoh. Ketika perselingkuhan masuk, yang hancur bukan hanya kepercayaan, tetapi juga sakinah itu sendiri. Ketenteraman berubah menjadi kecemasan, cinta tergeser oleh curiga, dan doa-doa malam menjadi isak yang tersembunyi. Banyak nama-nama yang dirayakan, tapi kemudian ada berita boooom, selingkuh! 

Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa perselingkuhan bukan fenomena langka. Sekitar 20–30 persen pria dan 15–20 persen perempuan mengaku pernah terlibat perselingkuhan dalam kehidupan pernikahan mereka. Angka ini tidak dimaksudkan untuk menormalisasi dosa, melainkan menjadi peringatan bahwa godaan dan kelalaian adalah ancaman nyata dalam kehidupan rumah tangga modern. Betapa cermin berita terpantul setiap hari, tapi selalu ada setiap detik berita! Selingkuh A dan B, meninggalkan C. 

Menariknya, sebagian besar pelaku perselingkuhan tidak memulainya dengan niat besar. Ini hasil riset ya!. Beragam riset psikologi keluarga menyebutkan beberapa sebab dominan sekitar 60–70 persen mengaku karena hubungan emosional yang terasa kering, lebih dari 50 persen karena kurangnya komunikasi dan perhatian, sementara sisanya dipicu oleh kesempatan, terutama melalui media sosial, relasi kerja, dan ruang digital yang minim batas moral. He3. Bisa lessoh keyah! 

Fakta ini mengingatkan kita bahwa perselingkuhan sering kali bukan soal cinta baru, melainkan kegagalan merawat cinta lama. 

Dalam konteks Indonesia, data perceraian menunjukkan bahwa perselingkuhan memang tidak selalu tercatat sebagai sebab utama perceraian. Namun para pemerhati keluarga sepakat, perselingkuhan kerap menjadi akar konflik laten yang kemudian berubah nama menjadi “pertengkaran terus-menerus” atau “hilangnya keharmonisan”. Dengan kata lain, perselingkuhan sering disembunyikan, tetapi dampaknya nyata.

Akibatnya tidak berhenti pada putusnya ikatan pernikahan. Perselingkuhan merusak kepercayaan, melukai harga diri pasangan, dan meninggalkan bekas psikologis yang panjang terutama bagi anak-anak. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi ruang penuh curiga. Sakinah pun menjauh, digantikan kecemasan dan kelelahan batin.

Namun Islam tidak mengajarkan kita berhenti pada kecaman atau sekadar rasa prihatin. Setiap peristiwa adalah bahan renungan. Al-Qur’an mengingatkan dengan satu kalimat yang tegas

 فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَلْبَابِ 

"Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal."

Ayat ini menempatkan peristiwa sosial, termasuk perselingkuhan, bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin. Orang berakal tidak sibuk membuka aib orang lain, melainkan membuka pintu muhasabah untuk dirinya sendiri; Apakah aku sudah cukup hadir untuk pasanganku? Apakah komunikasi masih terjaga? Apakah hatiku masih diawasi, atau mulai longgar terhadap yang bukan hakku?

Hidup sakinah tidak lahir dari janji besar, melainkan dari kesetiaan kecil yang dijaga setiap hari: menahan pandangan, menjaga pesan, menghargai pasangan, dan berani memperbaiki komunikasi sebelum luka membesar. Sakinah adalah hasil dari kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah, bukan sekadar rasa.

Berita perselingkuhan, betapapun pahitnya, seharusnya menjadi alarm sosial. Ia mengingatkan bahwa rumah tangga perlu dirawat, bukan hanya dirayakan. Dan bahwa iman, akhlak, serta tanggung jawab emosional adalah fondasi yang tidak boleh ditawar.

Jika kita mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, barangkali kegaduhan itu tidak sia-sia. Ia justru menjadi pengingat agar kita lebih waspada menjaga keluarga, lebih sungguh-sungguh merawat cinta, dan lebih rendah hati di hadapan amanah yang Allah titipkan.

Karena sakinah bukanlah keadaan tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap setia di tengah banyak godaan.

Semoga kita dijauhkan, dan setiap berita menjadi pelajaran, bukan hanya bahan bacaan saja!

Asyiknya Kajian Bahasa pada Ayat Isra’ dan Mi‘raj



Halimi Zuhdy

Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi sebuah narasi teologis yang dibangun dengan presisi linguistik yang sempurna.

Al-Qur’an tidak menyajikannya dalam bentuk cerita panjang, melainkan melalui dua surat dengan karakter bahasa yang sangat berbeda namun saling melengkapi. Surah Al-Isra’ dan Surah An-Najm. Di sinilah keindahan kajian bahasa menemukan momentumnya.
Isra’ (perjalanan horizontal Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam) diabadikan pada Ayat pembuka Surah Al-Isra’. Ayat ini luar biasa rapi secara sintaksis. Ia diawali dengan fi‘il (kata kerja) “asrā” (memperjalankan), lalu diikuti fa‘il yang disamarkan dalam keagungan Ilahi, sebelum objek perjalanan dijelaskan secara bertahap dan terukur. 

Struktur ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ bukan kejadian spontan, melainkan perjalanan yang dirancang, ditentukan, dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. 

Bahasa Al-Qur’an di sini bekerja seperti arsitektur yang presisi, tenang, dan tak menyisakan celah kekacauan makna. 

Sebaliknya, Mi‘raj (perjalanan vertikal) diuraikan dalam Surah An-Najm ayat 12–18 dengan gaya bahasa yang jauh lebih simbolik dan kontemplatif. 

Surah ini dibuka dengan kata “An-Najm” (bintang), sebuah entitas kosmik yang hanya tampak di malam hari, berada di ketinggian, bercahaya, namun juga tunduk pada hukum tenggelam (idza hawā). Ini bukan metafora sembarangan. Ia mengisyaratkan bahwa pengalaman Mi‘raj berada pada wilayah transendensi kosmik, jauh dari logika bumi, namun tetap berada dalam keteraturan semesta.

Menariknya, ayat-ayat Mi‘raj menggunakan pertanyaan retoris seperti “أَفَتُمَارُونَهُ” (Apakah kalian hendak membantahnya?). 

Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, melainkan untuk membungkam keraguan. Al-Qur’an sedang melakukan kritik epistemologis, bahwa tidak semua realitas dapat diuji dengan standar pengalaman empiris manusia biasa. Penglihatan Nabi bukan ilusi, melainkan pengalaman kenabian yang sahih.

Frasa عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ menandai batas tertinggi capaian makhluk, sebuah “titik akhir” kosmik dan spiritual yang bahkan malaikat pun tidak melampauinya. 

Sementara ungkapan “مَا يَغْشَىٰ” dibiarkan tanpa penjelasan detail, seolah Al-Qur’an secara sadar mengajarkan etika keilmuan, bahwa ada wilayah pengalaman yang harus dihormati dengan diam, bukan dipaksa untuk dijelaskan secara reduktif.

Kembali ke Surah Al-Isra’, Ayat pertamanya dibuka dengan “Subḥāna” sebuah deklarasi penyucian Allah sebelum kisah dimulai. Ini penting. Al-Qur’an seakan berkata "sebelum kalian menimbang peristiwa ini dengan logika, sucikan dulu cara pandang kalian tentang Tuhan. 

Kata “asrā” dalam bentuk fi‘il māḍī (lampau) menegaskan kepastian historis peristiwa, bukan kemungkinan atau simbol belaka. Sementara frasa “bi ‘abdihī” justru menegaskan bahwa puncak kemuliaan Nabi bukan pada status kerasulannya, tetapi pada kehambaannya.

Penyebutan waktu “laylan” (pada suatu malam) mengandung paradoks makna, bahwa singkat secara temporal, tetapi luas secara spasial. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (dua titik suci yang diberkahi) Nabi diperjalankan bukan untuk wisata spiritual, melainkan “linuriyahu min āyātinā”: agar diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah. Ayat ini ditutup dengan dua sifat Ilahi yaitu As-Samī‘ dan Al-Baṣīr, menegaskan bahwa seluruh perjalanan ini berada dalam pengawasan dan pengetahuan mutlak Allah.

Dengan demikian, keindahan ayat-ayat Isra’ dan Mi‘raj tidak hanya terletak pada keajaiban peristiwanya, tetapi pada keselarasan antara struktur bahasa, kedalaman makna, dan pesan teologisnya. Bahasa Al-Qur’an tidak sedang memanjakan imajinasi, tetapi mendidik cara berpikir.

Rahasia Akhir Surat An-Nahl dan Awal Surat Al-Isra'

(Melihat Keindahan Jahitan Peristiwa Isra' Mikraj dalam Tanasub) 

Halimi Zuhdy

"Ammul huzn" tahun kesedian. Nabi sedih banget. Bukan kemudian meronta-ronta, berteriak-teriak, apalagi sampai merobek-robek baju. Tidak. Kesedihan itu manusiawi, tapi ia tidak kemudian menjadi luka menganga yang membuat perih begitu dalam. Ia datang untuk membuka darah kotor, untuk keluar. Maka, dalam Akhir Surat An-Nahl adalah "Isbir/bersabarlah". Nabi sabar. 
Kalau kita bayangkan. Bukan hanya pintu rumah-rumah para pembesar Quraisy yang kian rapat ketika nama Muhammad Sallalahualaihi wasallam disebut, tetapi juga pintu "harapan". Ruang-ruang sosial yang biasanya memberi tempat untuk bicara, kini berubah menjadi lorong-lorong sempit yang menekan dada seperti perang opini, intimidasi, pemboikotan, hingga luka yang tak selalu terlihat, semuanya berjejal menjadi satu yaitu beban bumi yang terasa berat bagi seorang Nabi yang memikul risalah. Dan, tahun kesedihan Itu, adalah wafatnya paman tercinta Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah, serta penolakan dan penyiksaan di Thaif. Komplet. 

Lah yang menarik. Di titik inilah Al-Qur’an memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian pembaca cara mushaf “menjahit” peristiwa, emosi, dan arah sejarah. Tanpa banyak kata, tetapi presisi. Keren banget. 

Toyib. Bagaimana sejarah juga digambarkan dalam kalimat-kalimat indah dalam Ayat Al-Qur-an. Dari rekaman kesedihan menuju rihlah. Ujung Surah an-Nahl menutup dengan instruksi yang tegas sekaligus lembut. Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bertahan
 وَاصْبِرْ 
bersabarlah..., mengikat sabar itu pada sumbernya
 وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ 
dan sabarmu itu tidak lain kecuali dengan pertolongan Allah.

lalu melarang larut dalam sedih dan sesak akibat makar;
وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ….. وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ…... Indahnya Ayat ini. 

Di akhir, Allah menutup dengan kalimat yang menjadi jangkar 
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ 
Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan. (An-Nahl, 127–128)

Lalu, seolah halaman mushaf berpindah seperti potongan adegan berita yang langsung menuju fakta utama, Surah al-Isra’ dibuka bukan dengan uraian, melainkan dengan kalimat yang mengubah atmosfer

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلً 
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam….. (Al-Isra, 1)

Di sini, para pengkaji menyebutnya sebagai "tanasub"keterkaitan antarsurah yang tersusun rapi dalam mushaf. Ṣāliḥ at-Turkī, dalam "Laṭā’if al-Qur’ān", menandai hubungan itu, setelah perintah sabar dan larangan bersedih di akhir Surah an-Nahl, Allah membuka Surah al-Isra’ dengan “kabar yang menyejukkan,” yakni peristiwa Isra’ Mi’raj yang menjadi penghibur bagi Nabi Muhammad Shallahwahu Alaihi Wasallam.

Bila an-Nahl adalah halaman yang memotret “tekanan dari bumi”, maka al-Isra’ datang seperti tajuk utama yang menjawab dengan “sambutan dari langit”.

Dalam maqal Muhammad Ahmad al-Mubayyad menggambarkan timing Isra’ Mi’raj sebagai datang pada fase paling berat dalam perjalanan dakwah, masa tekanan, penolakan, hingga luka, yang menuntut kesabaran panjang. Lalu, tepat pada kondisi seperti itu, hadir “perjalanan langit” sebagai bentuk tasyriyah (penghiburan) dan penguatan. Ia juga menyorot “jahitan mushaf” antara akhir an-Nahl dan awal al-Isra’ sebagai penanda peralihan: dari perang dan makar ke awal kelapangan.

Maka, Isra’ Mi’raj bukan sekadar “kisah spektakuler” yang berdiri sendiri. Ia ditempatkan pada titik yang tepat setelah perintah sabar, sebelum paparan sejarah, sebelum rangkaian nasihat sosial dan moral yang panjang. Seolah Qur’an mengatakan "ketika seorang pembawa amanah nyaris runtuh oleh beratnya tugas" Allah terlebih dulu memulihkan pandangan dan keteguhan hatinya, baru kemudian menurunkan paket pesan yang lebih luas untuk membangun masyarakat.

Dengan begitu, mushaf tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga menyajikan “rute batin”: dari sabar, menuju tasbih; dari sesak, menuju keluasan; dari tekanan manusia, menuju penguatan Ilahi.

Dan bagi pembaca hari ini, jahitan antara an-Nahl dan al-Isra’ menghadirkan satu pesan yang tetap relevan: terkadang, di saat kita diminta menahan diri paling lama, justru di sanalah perubahan besar sedang disiapkan bukan selalu berupa jalan keluar yang instan, melainkan berupa pelurusan arah hati, agar tetap tegak, tetap jernih, dan tidak kehilangan Tuhan di tengah keramaian dunia.

Amm Hazn, tahun kesedihan itu menjadi pesan penting, bukan karena sedihnya ditinggal kekasih, tapi menuju kekasih yang paling kekasih. Kesediha yang dibiarkan, akan menjadi luka. Tapi, kesedihan yang diobati, akan menjadi cinta.❤️

***
Referensi. Al-Qur'an. Ṣāliḥ at-Turkī, Lathaiful Qur'an. Muhammad Ahmad al-Mubayyad, Al-Isra' Rihlatun Nur. Al-Ma'ani. Al-Isra' wal Mi'raj fil Quran.

Akhir yang Mengenaskan: Wafatnya Imam ath-Thabari dan Pelajaran Besar bagi Umat


Halimi Zuhdy

Sedih banget. Tak terasa mata berkaca-kaca. Membaca kematian sang imam besar. Imam Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Kita mengenalnya dengan Imam At-Tabari. Beliau wafat tidak seperti kebanyakan orang. Beliau wafat dalam kepungan fanatisme. Walau tidak sedikit para muallif, para imam juga meninggal dalam tekanan, penjara, bahkan diusir dari negaranya, dan wafat diperjalanan seperti Imam Bukhari. 
Kadang juga sedih. Melihat berbagai perbedaan yang tidak pernah selesai, walau perbedaan itu akan tetap ada; kapan pun dan dimana pun, selagi ada nafas-nafas keilmuan. Pasti. Tapi, alangkah indahnya, ketika tetap merawat ukhwah islamiyah yang indah. Bukan merawat kebencian. Apalagi di era medsos seperti sekarang ini, coba lihat di medsos hari ini saja. Sedih dan ngeri. Apa yang dicari dan dipertahankan? Kebencian? Tidak masalah berbeda, tapi tetap menjaga adab, apalagi pada ulama. 

Kembali kepada sang Imam, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Seorang raksasa ilmu yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk Al-Qur’an, Sunnah, dan sejarah umat, justru menutup usia dalam keadaan terkurung, terasing, dan dizalimi. Ia wafat bukan di tengah kemuliaan yang layak bagi seorang imam besar, tetapi di balik pintu rumahnya yang dikepung kebencian dan fanatisme buta. 

Pada usia lebih dari delapan puluh lima tahun, tubuhnya telah rapuh oleh perjalanan panjang menuntut ilmu dan malam-malam yang dihabiskan untuk menulis. Namun yang paling menyakitkan bukanlah lelahnya raga, melainkan kerasnya hati manusia. Ketika ajal tiba pada bulan Syawal tahun 309 H, Imam ath-Thabari mengucapkan syahadat berulang kali, mengusap wajahnya dengan tangannya, lalu memejamkan mata untuk selamanya. Ia wafat dalam keadaan terzalimi.

Tragedi itu tidak berhenti pada kematian. Fanatisme telah mencapai puncaknya, rumahnya masih dikepung bahkan setelah kabar wafatnya tersebar. Ia tidak diizinkan dimakamkan secara terbuka. Tidak ada iring-iringan jenazah yang layak, tidak ada penghormatan di siang hari. Para murid dan sahabatnya terpaksa memakamkannya secara diam-diam di halaman rumahnya sendiri, pada malam hari, karena massa menuduhnya sebagai rafidhah dan bahkan menuduhnya zindik (mulhit) tuduhan besar yang diucapkan oleh orang-orang yang, sebagaimana dikatakan para sejarawan, tidak memahami makna tuduhan itu sendiri.

Namun Allah tidak membiarkan kebenaran terkubur bersama jasadnya. Meski dimakamkan secara sembunyi-sembunyi, manusia berbondong-bondong datang ke rumahnya. Berbulan-bulan lamanya, siang dan malam, orang-orang tetap menyalati kuburnya. Ia dihalangi dari satu jenazah yang agung, tetapi Allah memberinya ribuan doa. Ia dizalimi di zamannya, tetapi dimuliakan sepanjang sejarah.

Kalau kita baca beberapa riwayat tentang sejarah akhir hidup Imam ath-Thabari yang dicatat oleh para sejarawan Ahlus Sunnah.

Al-Hafizh Ibnu al-Atsīr menulis:

وفي هذه السنة توفي محمد بن جرير الطبري صاحب التاريخ ببغداد، ومولده سنة أربع وعشرين ومائتين، ودُفن ليلًا بداره؛ لأن العامة اجتمعت ومنعت من دفنه نهارًا، وادّعوا عليه الرفض، ثم ادّعوا عليه الإلحاد

Dalam tahun ini (310 H) wafat Muhammad bin Jarir ath-Thabari, penulis kitab Tarikh, di Baghdad. Ia dilahirkan tahun 224 H, dan dimakamkan pada malam hari di rumahnya, karena massa berkumpul dan mencegah pemakamannya pada siang hari. Mereka menuduhnya sebagai rafidhah, lalu menuduhnya pula sebagai zindik (mulhid).

Sedangkan Ibnu al-Atsīr menguatkan 
وكان علي بن عيسى يقول: والله لو سُئل هؤلاء عن معنى الرفض والإلحاد ما عرفوه ولا فهموه

Ali bin ‘Isa (menteri) berkata: Demi Allah, seandainya orang-orang itu ditanya apa makna rafidhah dan ilhad, niscaya mereka tidak tahu dan tidak memahaminya.

Kutipan ini memperlihatkan dengan terang: tuduhan itu lahir dari kebodohan, bukan ilmu. Riwayat Ibnu Katsīr, Al-Hafizh Ibnu Katsīr menegaskan hal yang sama

ودُفن في داره؛ لأن بعض الرعاع من عوام الحنابلة منعوا من دفنه نهارًا، ونسبوه إلى الرفض، ومن الجهلة من رماه بالإلحاد، وحاشاه من هذا ومن ذاك

Ia dimakamkan di rumahnya, karena sebagian orang-orang kasar dari kalangan awam mencegah pemakamannya di siang hari, menisbatkannya kepada rafidhah, dan sebagian orang bodoh menuduhnya ilhad. Padahal ia suci dari semua tuduhan itu.

Ibnu Katsīr lalu menyimpulkan akar masalahnya, bahwa 

وإنما تقلدوا ذلك عن أبي بكر محمد بن أبي داود

Mereka hanyalah meniru tuduhan itu dari Abu Bakar Muhammad bin Abi Dawud.

Kematian Imam ath-Thabari adalah cermin pahit bagi umat Islam. Ia menunjukkan bahwa fanatisme buta mampu membunuh akal sehat, mematikan adab, dan menghancurkan persaudaraan. Perbedaan ilmiah yang seharusnya disikapi dengan diskusi dan hujah, berubah menjadi fitnah, kekerasan, dan pengucilan ketika jatuh ke tangan orang-orang yang dikuasai emosi, kebencian, dan taqlid tanpa ilmu.

Pelajaran terbesar dari kisah ini sangat jelas bukan musuh dari luar yang paling berbahaya bagi umat, melainkan kezaliman dari dalam yang dibungkus dengan nama agama. Ilmu tidak pernah kalah oleh kebodohan, tetapi kebodohan sering kali melahirkan korban sebelum akhirnya tersingkap.

Imam ath-Thabari wafat dalam keadaan terkurung, tetapi namanya hidup dan terus disebut. Para penuduhnya tenggelam dalam catatan hitam sejarah, sementara karya-karyanya tetap dibaca, dirujuk, dan dijadikan cahaya hingga hari ini.

Pertanyaannya kini tertuju kepada kita, apakah kita belajar dari tragedi ini, ataukah kita akan mengulangnya kembali dengan wajah dan korban yang berbeda?

Ini bukan ceramah agama Lo, ini untuk diri Al faqir sendiri, kalau ada yang juga mengambil Ibrahim, tafaddal. 

Allahu'lam bisshawab. 

***
Marja'
Mihnatul Imam At-Thabari (Syarif Abdul Azizi), Ta'aruf ala Imam At-Thbari (Imad Balik), Mihnatul Ulama (Abdul Abid), Al Mausu'ah At-Tarikhiyah wafatu imam mufasir Ibnu Jarir dll.

Senin, 29 Desember 2025

Perbedaan Akhlak, Adab, dan Suluk



Halimi Zuhdy

"Kurang beradab", "Gak ada akhlak" "Akhlakmu buruk!" "Adab pergaulannya bagus" kalimat-kalimat di atas sering kali kita dengar. Belum lagi istilah "etika", "moral", "suluk", "tata krama", "budi pekerti", dan istilah terkait lainnya. 

Toyyib. Dalam beberapa mukjam dan kitab musthalahat, para ulama membuat perbedaan antara "akhlak", "suluk", dan "adab". Tiga istilah ini sering dipakai bergantian, padahal masing-masing punya wilayah kerja yang berbeda. Ini seperti membedakan “software”, “interface”, dan “user experience” dalam bahasa anak zaman now, atau istilah-istilah baratnya.
Menurut "Mausu’ah Al-Adab Al-Syariyah", akhlak adalah "kondisi mental yang mengakar kuat" sehingga seseorang melakukan sebuah perbuatan secara spontan, tanpa perlu mikir dulu. Kalau kondisi itu mendorong pada perbuatan baik, kita menyebutnya akhlak yang baik, kalau mendorong ke arah buruk, jelas itu akhlak yang buruk.

الخُلُقُ هو عبارةٌ عن هيئةٍ للنفسِ راسخةٍ تصدُرُ عنها الأفعالُ بسهولةٍ ويُسرٍ من غيرِ حاجةٍ إلى فكرٍ ورويَّةٍ

Secara psikologi modern, konsep ini mirip "habitual disposition", mirip lo, bukan sama. Karena, munculnya istilah (dalam bahasa apa pun, pasti ada perbedaan dan juga ada kemiripan). kecenderungan berperilaku yang terbentuk lewat repetisi dan nilai batin. Ia tidak sekadar kebiasaan, tapi karakter yang stabil, seperti default setting seseorang. Habitual disposition lebih berfokus pada mekanisme psikologis pembiasaan, sedangkan akhlak mencakup kerangka etika dan moral yang lebih luas (sering kali berlandaskan agama).

Suluk adalah "perilaku yang terlihat", ekspresi eksternal dari kondisi akhlak dalam diri seseorang. Kita menebak karakter seseorang melalui suluknya, sebagaimana kualitas pohon dilihat dari buahnya. Indah di dalam, akan memancar di luar. Rusak di dalam, ya, kelihatan juga rusaknya. Mungkin, ini masuk dalam istilah "adhahiru ya dullu ala bathin" (yang tampak di luar, itulah isi dalamnya). 

وأمَّا السُّلوكُ فهو المَظهَرُ الخارِجيُّ للخُلُقِ؛ فالخُلُقُ حالةٌ راسِخةٌ في النَّفسِ وليس شَيئًا خارِجًا مَظهَريًّا،

Dalam istilah modern, suluk bisa dianalogikan sebagai "behavioural output", sesuatu yang dapat diukur, diamati, dan dianalisis. Kalau akhlak itu “coding”, suluk itu yang tampil di layar. Semoga istilah benar. He. 

Nah, adab punya posisi yang unik. Tidak seperti akhlak dan suluk yang bisa bernilai baik atau buruk, "adab selalu bermakna positif". Adab adalah bentuk paling terpilih dari akhlak mulia. Bahkan, adab bisa muncul dari akhlak yang sudah mapan, tetapi juga bisa muncul sebagai bentuk latihan sadar untuk mencapai keindahan moral.

أمَّا الأدَبُ فلا يَكونُ إلَّا مَحمودًا حَسَنًا؛ لذا قيل في تَعريفِ الأدَبِ: هو الأخذُ بمَكارِمِ الأخلاقِ.

Jika akhlak adalah “sifat”, dan suluk adalah “aksi”, maka adab adalah “estetika moral”, semacam "moral refinement". Dalam bahasa UX design, adab adalah "polish", finishing halus yang membuat sebuah tindakan bukan hanya benar, tapi juga indah.

Mungkin lebih mudahnya, akhlak (moral character), yaitu struktur internal, stabil, dan menjadi pusat nilai seseorang. Sedangkan suluk (behavioural expression) adalah tindakan yang tampak, terukur, dan bisa berubah mengikuti situasi, tetapi tetap punya pola tertentu yang dipengaruhi akhlak. Bagaimana dengan adab? Adab (ethical elegance atau moral aesthetics)
adalah cara paling bermartabat untuk mengekspresikan nilai moral, versi upgraded dari perilaku etis.

Dalam budaya modern, baik di ruang digital, profesional, maupun akademik, adab bisa diibaratkan "etika komunikasi", "etika kerja", atau bahkan "digital etiquette". Misalnya, 
seseorang bisa punya akhlak jujur (nilai batin), memiliki suluk berupa kebiasaan tidak memanipulasi data (perilaku), lalu menunjukkan adab melalui transparansi laporan dan menghargai proses verifikasi (etika tinggi dalam praktik).

Dunia serba cepat sering mendorong manusia untuk hanya berfokus pada perilaku luar. Yang viral adalah yang terlihat, bukan yang tertanam. Padahal kualitas moral sejati muncul ketika akhlak, suluk, dan adab berjalan seirama. Yang satu menjadi sumber, yang satu menjadi tampilan, dan yang satu menjadi mahkota.

Pernikahan Bukan Sekadar Berkumpul, Tapi Harmoni


Halimi Zuhdy

Ada sedikit kegadukan di PBNU. Ya namanya berkumpul, pasti ada gesekan. Yang saya heran, ada orang yang bercerita bahwa "ada orang yang tidak pernah jatuh di jalan raya dan tidak pernah kesentuh mobil atau motor", saya tanya "kok bisa?" Apa jawabannya, "bisa tadz, wong tidak pernah ke jalan raya"! Duaaaar. Oh, gitu.  

Maka, biasalah, dinikmati saja.😁 
Al-faqir, hanya akan menggambarkan tentang nikah atau juga mungkin tentang organisasi, atau perkumpulan apa pun, yang isinya adalah kumpul-kumpul. Bahwa dalam setiap perkumpulan, pasti ada gesekan. Tapi gesekan yang seperti apa? Dan dalam pernikahan, gesekan ini pasti terjadi, ada yang mengantarkan pada yang positif juga ke hal negatif. Tapi, bukan hanya soal berkumpul, tapi harus ada harmoni, atau dicipta harmonis. 

Menikah itu bukan hanya tentang dua orang yang tinggal di bawah satu atap, bukan sekadar berkumpul dalam satu rumah dan satu doa. Pernikahan adalah harmoni. Ia seperti alat-alat musik mahal yang tersusun lengkap, indah dipandang, bernilai tinggi, namun bila tak pernah dimainkan, ia tetap hanya benda mewah yang tak berguna. Dan bila dimainkan tanpa irama, tanpa rasa, tanpa menyamakan nada, ia hanya menghasilkan suara yang kacau, bising, dan menyakitkan telinga.

Demikian pula dua manusia. Mereka bisa saja berdekatan, tetapi belum tentu selaras. Bisa saja bersama, tetapi belum tentu berharmoni.

Maka doa pengantin, 

وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ 

bukanlah sekadar “semoga kalian dikumpulkan dalam kebaikan”. Lebih dalam dari itu, ia berarti, semoga kalian menemukan harmoni, keseimbangan, keindahan, dan kebaikan yang saling melengkapi. Karena berkumpul itu mudah, tetapi menemukan harmoni adalah seni.

Al-Qur'an pun mengajarkan, Allah tidak menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa sekadar agar mereka berdekatan, tetapi lita'arafu (لِتَعَارَفُوا), untuk saling mengenal, saling memahami, menyatu dalam perbedaan, dan menciptakan keindahan dalam keberagaman. "Ta’aruf" bukan hanya mengetahui nama, tetapi menyelami jiwa. Bukan hanya menjadi dekat, tetapi menjadi selaras.

Dalam pernikahanlah cinta menemukan bentuknya yang paling jernih. Dua manusia yang tidak hanya bersama, tetapi saling menata nada. Tidak hanya bersanding, tetapi berharmoni, tidak hanya saling memandang, tetapi saling menenangkan.

Karena menikah bukan hanya berkumpul.
Menikah adalah menciptakan musik yang indah, dua jiwa, satu irama.

Baiturrahman, 22 NOV 2025

Scroll, Cemas, Depresi



Indonesia darurat stress. Mungkin ini kedengaran gak masuk akal atau dibuat-dibuat. Tapi, ini sebuah kenyataan lo. Laporan kemenkes, polri, WHO dan lainnya. 

Sekitar 2 persen penduduk Indonesia terindikasi depresi, dan 13 persennya tidak mencari bantuan ke tenaga kesehatan. Artinya apa? Lebih banyak lagi yang belum ketahuan. Bukan hanya 2 persen.  Kasus bunuh diri juga naik: 826 kasus (2022), menjadi 1.350 (2023) dan 1.450 (2024). Secara umum, sekitar 30 persen dari 280 juta penduduk mengalami gangguan kesehatan mental, dengan 5,5 persen remaja (10–17 tahun) atau 2,45 juta anak sudah terdiagnosis gangguan mental. Masalah utama yang sering muncul adalah depresi, gangguan kecemasan, dan bipolar, yang membuat orang sulit berfungsi normal dalam aktivitas harian.
Peran internet dan media sosial makin besar dalam memperburuk kondisi ini. Tahun 2023, 75 persen anak usia 7–17 tahun sudah mengakses internet, bahkan 85 persen anak yang tidak sekolah pun sudah online, padahal secara internasional anak di bawah 2 tahun tidak disarankan terpapar gawai, dan anak di bawah 12 tahun idealnya maksimal dua jam per hari. Paparan berlebihan bisa memicu kecemasan, rasa minder, kecanduan gim, pinjol, dan judi online, yang berujung pada sulit tidur, nafsu makan turun, hingga halusinasi.

Tapi, ini bukan hanya persoalan internet lo. Data CNBC Indonesia yang bersumber dari BPS, SUSENAS 2023, dan PODES 2024 menunjukkan bahwa kelompok paling rentan terdorong hingga bunuh diri bukan hanya orang dengan gangguan jiwa berat, tetapi justru mereka yang hidup dalam tekanan struktural, individu berpendidikan rendah (0,41%), pekerja sektor pertanian dan pertambangan (0,36%), warga desa (0,34%), pekerja sendiri/pekerja bebas (0,36%), serta mereka yang sampai kesulitan makan (0,62%). Risiko tertinggi terlihat pada kelompok cerai hidup (0,84%) dan cerai mati (0,79%), serta kepala rumah tangga yang memikul beban nafkah keluarga. Secara geografis, enam provinsi, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua, menyumbang lebih dari 50% kasus bunuh diri nasional pada 2024, dengan lonjakan tajam di Jawa Tengah (39,10%) dan Jawa Barat (47,34%), sementara di Papua, Provinsi Papua Pegunungan sendirian mencatat 47,15% kasus bunuh diri se-Papua. 

Dan, jrengggggg. Ironisnya, 4,28% desa yang memiliki tempat ibadah. Ingat memiliki tempat ibadah!  justru pernah mencatat kasus bunuh diri (dibanding 1,37% desa tanpa tempat ibadah), di tengah fakta bahwa akses layanan kesehatan jiwa sangat timpang, Papua hanya memiliki 0,17 fasilitas kesehatan jiwa per 100.000 penduduk, jauh di bawah median global WHO 1,3 per 100.000.

Terus bagaimana? 

Halimi Zuhdy
Baca Fatwa Cinta "Belajarlah Senyum! Bukan Ketawa" 🤩

Menelisik Arti Kata "Syuriah" dalam NU



Halimi Zuhdy

Asyik menelisik kata Syuriah. Kata ini sering disebut beberapa hari belakang ini. Tapi ada yang bingung, arti sesungguhnya dari kata ini. Ada yang menggap  mirip dengan nama negara Suriah (Syria), ada juga yang berfikiran tentang Dewan Syuro, MPR (Majlis Permusyawaratan Rakyat), ada pula yang masih bingung dengan beberapa istilah yang mirip, seperti musytasar, musyawarah, syura, syawir dan derivasi lainnya yang berasal dari satu kata. 
Apa sih arti Syuriah? Kata ini berasal dari 
Syura (شورى) dalam kamus al-Ma‘ānī al-Jāmi‘ dijelaskan memiliki dua lapis makna: makna bahasa dan makna istilah. Secara bahasa, akar katanya شَارَ – يَشُورُ bermakna الإشارة والبيان yaitu memberi isyarat, menunjukkan, atau menampakkan pendapat. Dari makna dasar inilah lahir konsep عرض الرأي (menyampaikan pandangan kepada orang lain). 

Toyyib. Adapun secara istilah, الشورى bermakna التشاور وأخذ آراء أهل العلم والرأي yaitu proses musyawarah dan meminta pandangan para ahli dalam suatu persoalan, termasuk dalam konteks pemerintahan sebagaimana disebutkan dalam istilah مجلس الشورى. Dengan demikian, شورى berkembang dari makna bahasa yang bersifat individual menuju makna istilah yang menekankan dimensi kolektif, kebijaksanaan, dan pengambilan keputusan bersama.

Dalam struktur jamiyyah NU, terdapat beberapa istilah kunci yang memiliki dasar kuat dalam tradisi Arab, yaitu Mustasyar, Syuriah, Tanfidziyah, Rais Amm dan beberapa kata lainnya. Istilah Mustasyar berasal dari kata Arab المُسْتَشَار yang berarti “orang yang dimintai nasihat”, seakar dengan kata الشُّورَى (musyawarah), sehingga dalam NU kata Mustasyar berfungsi sebagai dewan penasihat berisi para kiai sepuh yang memberikan arahan dan masukan kepada pengurus di berbagai tingkatan. Adapun Syuriah berasal dari istilah Arab مَجْلِسُ الشُّورَى yang bermakna “dewan musyawarah”, dan dalam Anggaran Dasar NU disebut sebagai pimpinan tertinggi organisasi yang berwenang membina, mengawasi, serta mengarahkan pelaksanaan keputusan-keputusan NU. 

Dengan demikian, Mustasyar dan Syuriah sama-sama berakar pada konsep syūrā, namun Mustasyar menekankan fungsi nasihat, sementara Syuriah menjalankan fungsi kepemimpinan tertinggi dalam struktur jam’iyah.

Dalam Islam, musyawarah memiliki fungsi fundamental sebagai mekanisme pengambilan keputusan yang menegakkan keadilan, menghindarkan tirani, serta memastikan setiap persoalan diputuskan dengan mempertimbangkan ilmu, pengalaman, dan hikmah kolektif. 

Toyyib. Secara analitik, musyawarah bukan sekadar forum bertukar pendapat, tetapi metode etis untuk menyatukan nalar dan hati, menjaga objektivitas, serta melahirkan keputusan yang paling maslahat bagi umat; ia juga berfungsi sebagai kontrol sosial agar kepemimpinan tidak terlepas dari akuntabilitas moral. Al-Qur’an menegaskan prinsip ini dalam firman Allah:
 وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ 
 “Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka” 
(QS. Asy-Syūrā: 38). 

Nabi pun menegaskan pentingnya musyawarah melalui sabdanya: 
مَا خَابَ مَنِ اسْتَشَارَ 
“Tidak akan rugi orang yang bermusyawarah” (HR. Ṭabarānī). 

Dengan demikian, musyawarah merupakan pilar etika kepemimpinan dan tata kelola dalam Islam, yang memastikan keputusan tidak hanya benar, tetapi juga bijaksana dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana dengan MPR, Dewan Suro, Syuriah, Musytasar dalam memerankan namanya? Setiap orang punya jawaban, penilaian masing-masing. Sedangkan di atas, hanyalah renungan kata, tidak memasuki ranah ikhtilaf antara Syuriah dan Tanfidziyah. 😁

Bagaimna jug arti kata Tanfidziyah? Semoga bisa dilanjutkan dengan pemaparan selanjutnya.

Hutan, Keghaiban dan Bencana



Halimi Zuhdy

Pertama, saya ucapkan innalilahi wainna ilaihi Raji'un, atas korban banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana yang menimbulkan dampak sangat besar dengan total 659 orang meninggal dunia, 475 orang masih hilang, serta 2.600 orang mengalami luka-luka. 
Belum lagi jumlah warga terdampak mencapai 3,2 juta jiwa, sementara kerusakan meluas hingga sekitar 50 kabupaten/kota. Di Sumatra Utara saja tercatat 290 korban tewas, 154 hilang, 538.792 warga luka-luka, dan lebih dari 135 ribu orang terpaksa mengungsi. Ribuan rumah rusak parah akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi secara beruntun, menunjukkan skala kerugian manusia dan material yang sangat besar.

Entah siapa yang harus disalahkan? Apakah kita akan gegabah menuding takdir? Mustahil, takdir bukan kambing hitam. Lalu siapa? Pemerintah yang lalai? Akademisi yang sibuk berteori? Penceramah yang hanya pandai menasihati? Politisi yang lihai berjanji? Para komentator dunia maya yang riuh tanpa solusi? Atau para penebang hutan yang merampas jantung bumi? Atau Pak Zulhaz yang mengizini? Atau.....duh. 

Bencana ini seakan menampar kita semua. Ingat! "bahwa kerusakan tidak pernah lahir dari satu tangan, tetapi dari banyak kelalaian yang dibiarkan tumbuh bersama".

Kedua, hutan kembali menjadi sorotan hangat dalam beberapa hari terakhir. Ia yang dulu menjadi ruang paling teduh, paling jujur, dan paling setia bagi makhluk yang bergantung padanya, kini berubah menjadi panggung bencana yang tak terperi. Hutan yang semestinya menjadi penyangga kehidupan telah menjelma menjadi ancaman yang menakutkan. Bukan karena salahnya, tetapi karena tangan-tangan manusia yang menganggapnya sebagai lahan paling empuk untuk dieksploitasi.

Ada ironi yang tak bisa kita abaikan: tempat yang memberi kesejukan, kini memberi ketakutan; ruang yang menjadi rumah bagi kehidupan, kini menjadi sumber kematian. Entah dengan alasan apa pun; atas nama pembangunan, ekonomi, atau sekadar kepentingan sesaat, penjarahan terhadap hutan telah dibiarkan, bahkan dirayakan.

Dan akhirnya, kita bertanya, apa yang terjadi? Jawabannya datang dalam bentuk bencana yang tak bisa ditawar, banjir. Banjir bukan sekadar air yang meluap. Ia adalah bahasa alam yang paling jujur. Ia menjerit bahwa keseimbangan telah dirusak, bahwa akar-akar yang dulu menahan tanah kini tak lagi ada, dan bahwa kehidupan yang pernah harmonis kini digantikan oleh kekacauan.

Banjir adalah protes yang tak memakai kata-kata. Alam berbicara dengan caranya sendiri, dan kita dipaksa mendengarkan, meski sering terlambat untuk memahami.

Menilik Asal Hutan dalam Bahasa Arab, Ghabah. 

Dalam bahasa Arab, hutan disebut ghabah/الغابة karena berasal dari akar kata غاب يغيب yang bermakna hilang, tersembunyi, tidak tampak. Penamaan ini bukan kebetulan, melainkan menggambarkan hakikat hutan sebagai ruang yang menutupi apa saja yang berada di dalamnya. Pepohonan yang rapat, rimbun, dan bertumbuh dari segala arah membuat siapa pun yang masuk seakan “ghaib”, lenyap dari pandangan. Maka, secara linguistik, ghabah/الغابة adalah tempat yang menghilangkan jejak dan menyelubungi keberadaan, sesuai dengan sifat dasar hutan yang penuh rahasia.

Akar kata yang sama melahirkan istilah Qur’ani ghaib/الغيب sesuatu yang ada tetapi tidak terlihat oleh pancaindra. Dari sini tampak bahwa hutan dan konsep ghaib memiliki hubungan makna yang mendalam. Hutan dalam perspektif teologis menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah, ruang ciptaan yang menyimpan kehidupan yang tak semuanya tampak di hadapan manusia. Ia seolah menjadi "laboratorium ghaib" yang menyimpan jutaan makhluk, ekosistem, dan hukum-hukum Ilahi yang tak terjangkau pandangan. Dengan demikian, penyebutan ghabah الغابة secara tidak langsung menegaskan bahwa alam menyimpan dimensi “ghaib kecil” yang mengajarkan kerendahan hati manusia.

Secara filosofis dan kultural, hutan (ghabah), bagi masyarakat Arab klasik yang hidup di lingkungan padang pasir, hutan tampak sebagai dunia lain: sebuah wilayah yang asing, liar, dan tidak dapat dikendalikan. Karena itu, ia dipahami sebagai ruang misterius yang bisa “menghilangkan” manusia baik secara fisik maupun simbolik. Dari perspektif filosofis, ghabah/الغابة menjadi metafora ketersembunyian: tempat rahasia kehidupan bersembunyi, tempat manusia diuji kemampuan orientasinya, dan tempat keseimbangan alam bekerja tanpa campur tangan manusia. 

Penamaan ini mencerminkan cara orang Arab melihat hutan. Bukan sekadar kumpulan pepohonan, tetapi dunia ketertutupan yang menyimpan pelajaran tentang batasan, keberanian, dan keharmonisan alam.

Pada akhirnya, bencana ini bukan hanya peristiwa alam, tetapi cermin besar yang memantulkan wajah kita sendiri. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tak bisa dipisahkan dari amanah menjaga bumi, dan kehancuran selalu lahir dari kelalaian yang kita biarkan tumbuh. Karena itu, sebelum kita menuntut langit berhenti murka, mari kita sendiri yang lebih dulu berhenti abai, menata kembali hubungan dengan hutan, dengan alam, dan dengan hati kita, agar tragedi tak lagi menjadi bahasa terakhir yang dipilih alam untuk menegur manusia.

Jika Manusia Tiada, Apakah Bumi Lebih Baik?


Halimi Zuhdy

Aha. Pertanyaan ini terdengar hipotetis, tapi sesungguhnya menyentuh kegelisahan paling mendasar kita, "apakah kehadiran manusia di bumi membawa maslahat atau justru mafsadat? Tentunya, termasuk kita. Apakah kita ini, sering membuat kerusakan di bumi, membuat bumi lebih cepat kiamat, atau adanya kita membuat makhluk lain tidak nikmat di muka bumi ini? Sehingga tidak perlu ada manusia, agar bumi ini hidup indah dan tenang. 
Saya agak males menjawab pertanyaan di atas, karena saya sendiri manusia yang sudah lahir ke muka bumi, dan entah sudah berapa banyak kerusakan yang saya buat, dan apakah ada kebaikan yang pernah saya lakukan?. Embuh! Saya tidak mampu meniliknya. Semoga ada kebaikan walau hanya sedikit. 

Jangan lupa, sebelum melanjutkan membaca tarik nafas dulu. ......Aha. Dalam banyak diskusi lingkungan, manusia kerap diposisikan sebagai biang kerok. Krisis iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, hingga kepunahan spesies, semuanya memiliki satu benang merah, "ulah manusia". Dalam kacamata ini, tidak berlebihan jika muncul anggapan bahwa bumi akan lebih baik tanpa manusia. Wow. Ulah manusia? Manusia yang mana😁

Secara ekologis, argumen itu tampak masuk akal. Ketika manusia absen, alam cenderung memulihkan dirinya. Hutan kembali tumbuh, satwa liar berani keluar dari persembunyian, dan keseimbangan ekosistem bekerja tanpa gangguan. Bumi tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Mungkin, mungkin lo ya hewan-hewan yang ada di Sumatera senang kalau tidak ada manusia! Atau mungkin tidak hanya di Sumatera, tapi di seluruh wilayah  di dunia. 

Namun, pertanyaan lain, "bumi yang lestari tidak otomatis berarti bumi yang bermakna".

Alam berjalan menurut hukumnya sendiri, tetapi ia tidak mengenal baik dan buruk, adil dan zalim, atau tanggung jawab dan amanah. Semua kategori moral itu hanya hadir ketika ada manusia. Tanpa manusia, tidak ada yang menyebut kerusakan sebagai kerusakan, dan tidak ada yang menyebut keindahan sebagai tanda kebesaran Tuhan.

Di sinilah posisi manusia menjadi paradoksal. Manusia adalah makhluk yang paling berpotensi merusak bumi, tetapi sekaligus satu-satunya yang mampu menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Gunung yang meletus tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Hewan yang memangsa tidak bisa disebut zalim. "Hanya manusia yang memikul beban moral atas tindakannya."

Dalam perspektif keagamaan, manusia tidak diciptakan sebagai penguasa mutlak alam, melainkan sebagai "khalifah, penjaga yang diberi amanah. Kerusakan bumi bukanlah bukti bahwa manusia seharusnya tiada, melainkan tanda bahwa manusia gagal menjalankan amanahnya.

Oh hampir lupa. Ada dialog menarik, ketika Allah ingin menciptakan manusia, Malaikat bertanya, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" (QS. Al-Baqarah: 30). Apa jawaban Allah, ""Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30).

Klir ya! Allah lebih mengetahui, mengapa manusia diciptakan. 

Karena itu, pertanyaan tentang dunia tanpa manusia sejatinya mengarahkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: "apakah manusia masih menjalankan perannya sebagai penjaga kehidupan, atau justru berubah menjadi perusak yang merasa berhak atas segalanya?"

Bumi akan tetap ada, dengan atau tanpa manusia. Tetapi keberlanjutan nilai, tanggung jawab, dan makna hidup sangat bergantung pada pilihan manusia hari ini. Jika manusia terus hidup melampaui batas, bumi memang akan bertahan, tanpa manusia.

Maka, alih-alih membayangkan dunia tanpa manusia, jauh lebih mendesak bagi kita untuk membayangkan "manusia yang kembali sadar batas", hidup secukupnya, memelihara keseimbangan, dan menempatkan diri bukan sebagai pusat semesta, melainkan sebagai bagian darinya.

Ada pertanyaaan terakhir, bumi yang butuh manusia, atau manusia butuh bumi, atau keduanya sama-sama membutuhkan? Masihkah bumi ini sayang sama manusia, dan sebaliknya?

Dari Perusak Bumi ke Pembantah Kebenaran


(Membaca Watak Kebanyakan Manusia dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy

Melanjutkan kajian kemarin, tentang “Andai tidak ada manusia di muka bumi, apakah bumi tambah makmur, atau rusak ?”. Ternyata komentarnya beragam; ada yang mengatakan bumi akan baik-baik saja, karena yang merusak itu manusia. Ada pula yang komentar, bahwa adanya bumi karena adanya manusia. Dan tidak sedikit yang berkomentar bahwa semuanya adalah takdir Tuhan, tidak perlu dibahas, yang penting manusia taat dan patuh pada perintah Tuhan.
Dan tulisan sebelumnya mempertanyakan nilai kehadiran manusia di bumi, apakah manusia masih layak dipertahankan sebagai penjaga kehidupan, atau justru menjadi beban ekologis dan moral. Pertanyaan itu berhenti pada wilayah peran dan tanggung jawab. Maka tulisan ini melangkah selangkah lebih dalam, masuk ke wilayah jiwa manusia itu sendiri. Jika kerusakan bumi lahir dari ulah manusia, lalu apa yang rusak dalam diri manusia? 

Di sinilah Al-Qur’an memberi kunci. Manusia bukan hanya makhluk perusak, tetapi juga makhluk yang paling gemar membantah. Perdebatan tanpa ujung, ego yang tak mau mengalah, dan kecenderungan mengikuti arus mayoritas yang bising, itulah wajah batin manusia yang sering luput kita evaluasi. Dari pertanyaan ekologis “perlukah manusia ada?”, kini kita digiring pada pertanyaan yang lebih sunyi: manusia macam apa yang seharusnya ada di bumi ini? Dan jawabannya, seperti akan ditunjukkan Al-Qur’an, tidak ditentukan oleh jumlah yang ramai, melainkan oleh sedikit yang sadar, berpikir, dan bersyukur.

Kemarin saat membaca Surat Al-Kahfi bersama jamaah di Masjid Baiturrahman, saya terpaku pada satu Ayat:

وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah — QS. Al-Kahfi: 54.

Ayat ini terasa hidup di tengah hiruk-pikuk media sosial kita hari ini. Perdebatan tak kunjung padam. Ada yang membangun keindahan, memotivasi, berbagi kebaikan, tapi tak sedikit yang hanya menebar permusuhan dan caci maki. Berdebat tanpa ujung, berakhir persaudaraan yang hancur. Maka saya pun menelusuri lebih dalam: bagaimana Al-Qur’an menggambarkan “الأكثرية” (mayoritas, kebanyakan)?

Dalam Al-Qur'an, terdapat kata yang menunjukkan pada makna "banyak, berlimpah, kebanyakan" dan derivasinya. Kurang lebih ada 90 kata. Terdapat beberapa lafaz yang memiliki akar makna yang sama, yaitu menunjukkan makna banyak atau berlimpah, seperti جم (banyak), غدق (melimpah ruah), لبد (berkerumun atau menumpuk), dan كثر (banyak atau banyak jumlahnya). Meskipun berasal dari makna dasar yang serupa, masing-masing lafaz ini memiliki nuansa makna tersendiri yang membedakannya dalam konteks penggunaannya.

Ternyata, dalam banyak Ayat, dengan penggunaan "al-aktsar, mayoritas, kebanyakan" manusia digambarkan dengan karakter yang negatif. Berikut beberapa contohnya:

1. Mayoritas tidak beriman

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukan-Nya — Yusuf: 106.

وَمَا أَكْثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya— Yusuf: 103.

2. Mayoritas tidak tahu

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui— Al-A’raf: 187.

بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui — An-Nahl: 75.

3. Mayoritas tidak bersyukur

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur— Al-Baqarah: 243.

4. Mayoritas Kafir

فَأَبَىٰ أَكْثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورًا

Tetapi kebanyakan manusia tidak menghendaki kecuali kekafiran) — Al-Furqan: 50.

5. Mayoritas tidak menggunakan akal

قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti) — Al-Ankabut: 63.

Fenomena ini bukan hanya data statistik spiritual, tapi juga realitas sosial. Al-Qur’an sedang memperingatkan kita: jangan terlalu terpesona dengan suara mayoritas. Yang ramai belum tentu benar. Yang viral belum tentu berakhlak dan baik. Bahkan dalam konteks dakwah, Allah mengingatkan:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah — Al-An’am: 116.

Sebaliknya, Al-Qur’an justru memuji mereka yang sedikit, namun kokoh:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur— Saba’: 13.

Kita hidup di zaman debat tanpa ujung. Ayat tentang “manusia paling banyak membantah, berdebat” seakan menyingkap tabir sosial kita hari ini. Maka marilah kita bercermin: apakah kita termasuk “yang banyak”, atau berjuang untuk menjadi “yang sedikit”? Karena dalam ukuran Al-Qur’an, kebenaran bukan ditentukan oleh kuantitas, tapi oleh kualitas iman, ilmu, dan syukur. Dan belum tentu yang sedikit benar lo ya?! Jangan disalah pahami. Lihat konteksnya.

Al-Qur’an, melalui penyebutan sifat-sifat negatif yang sering dikaitkan dengan kelompok mayoritas (al-aktsariyyah), tidak sekadar menginformasikan kondisi manusia, tetapi mengungkap hakikat jiwa manusia di setiap waktu dan tempat. Jiwa manusia cenderung mengikuti hawa nafsu, lalai, ingkar, dan terpaut pada syahwat duniawi. Karena itu, Al-Qur’an hadir untuk mengarahkan manusia agar melawan kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut, menahan syahwatnya, serta memperbanyak zikir dan syukur kepada Allah. Dengan demikian, manusia diajak untuk tidak larut dalam arus mayoritas yang menyimpang, melainkan membangun kesadaran pribadi yang menuntunnya pada jalan kebenaran.

Namun, Ayat-Ayat yang mencela mayoritas (al-aktsariyyah) harus dibaca dalam konteksnya masing-masing dan dipahami berdasarkan sebab turunnya. Sebab, sebagian besar Ayat-Ayat tersebut merujuk pada kelompok tertentu, seperti kaum musyrik atau Bani Israil, sehingga celaan terhadap mayoritas tidak berlaku secara mutlak. Meski demikian, terdapat juga beberapa Ayat yang menyifati mayoritas dengan sifat tercela secara umum, seperti tidak mengetahui, tidak bersyukur, dan tidak berpikir. Dalam hal ini, konteks dan susunan Ayat menjadi faktor utama dalam memahami maksud dari ayat tersebut, sehingga penting untuk memperhatikan konteks agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami pesan Al-Qur’an.

Asyik kan?

Ayo ikuti kajian berikutnya tentang siapakah yang sedikit, minoritas atau paling sedikit dalam Al-Qur'an. Dan juga mengapa Al-Qur'an menggunakan kata "katsirun"?

Maraji':

Al-Qur'an Al-Karim
Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, At-Tahrir wattanwir, Al-Alusi, Al-Muharrir Al-wajiz.

Tragedi Pembakaran Karya Ulama oleh Api Cemburu Seorang Istri


Halimi Zuhdy

Sebenarnya ingin sekali menulis tentang polemik PBNU, tapi selalu ditahan. Takut kualat. Karena banyak hal tersembunyi, yang tidak diketahui. Nanti malah memperkeruh suasana, bukan membuat suasana indah seperti sebelumnya. Tapi, saya yakin, ulama NU atau pengurus NU akan mampu menyelesaikannya dengan indah. Tinggal ngopi, buka kitab, sambil tersenyum, dan selesai.
Toyyib. Tarik nafas dulu untuk memasuki tema baru.....huh. Apakah benar ada seorang istri yang tega membakar kitab-kitab karangan suaminya, yang seorang ulama? Jawabannya: ya, pernah terjadi. Kok tega ya?!. 

Namun, kata "tega" tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari situasi, emosi, dan relasi yang rumit. Dalam kondisi tertentu, manusia bisa melakukan sesuatu yang bahkan melampaui batas rasionalitasnya sendiri.

Dalam sejarah, pembakaran kitab, yang dikenal sebagai "biblioklasme" atau "librisida" sering kali didorong oleh motif moral, keagamaan, atau politik. Kitab dianggap menyimpang, berbahaya, atau mengancam tatanan yang ada. Abdul al-‘Al bin Sa‘ad al-Rasyidi, dalam artikelnya "Itlaf az-Zaujah Kutub Zaujatiha", mencatat satu motif lain yang lebih personal "cemburu yang terlampau dalam (ghirah syadidah)". Sebagian istri ulama produktif membakar karya suaminya bukan karena benci pada ilmu, melainkan karena merasa tersisih oleh ilmu itu sendiri.

Sejarah mencatat banyak tragedi pembakaran pengetahuan: Perpustakaan Baghdad, Perpustakaan Iskandariyah, Sarajevo, naskah-naskah kuno bangsa Maya. Bahkan pada masa modern, kita menyaksikan pembakaran buku "Harry Potter" di Polandia oleh sejumlah pastor karena dianggap mengajarkan sihir. Namun pembakaran kitab oleh istri, di ruang domestik yang sunyi, memiliki luka yang berbeda: luka relasi, luka cinta, dan luka pengabaian.

Fenomena ini tak bisa dibaca dari satu sisi saja. Pertanyaannya bukan hanya "mengapa istri sampai membakar kitab", tetapi juga "apa yang terjadi dalam kehidupan sang suami" hingga kitab-kitab itu menjelma menjadi “lawan” bagi kehadiran istri. Membahas sebab-sebab ini membutuhkan telaah panjang dan tulisan ini tidak akan masuk ke sana. Yang ingin dihadirkan di sini adalah jejak-jejak peristiwa itu sendiri.

Beberapa ulama yang karya-karyanya pernah dibakar oleh istrinya antara lain: "Imam Sibawaihi, Laist bin Mudhaffar, Al-Amir, Zubair bin Bakkar, Muhammad bin Syihab al-Zuhri, Ibrahim Abdul Qadir, Ibrahim al-Iyasyi", dan lainnya.

Sibawaihi dan Kitabnya yang Hangus

Abu Bisyr ‘Amr bin ‘Utsman al-Farisi, yang lebih dikenal sebagai "Imam Sibawaihi" adalah raksasa dalam ilmu nahwu. Karya monumentalnya, "al-Kitab", bahkan dijuluki sebagai “Qur’an-nya Ilmu Nahwu”. Kitab ini menjadi rujukan lintas zaman dan lintas madzhab. Menariknya, kitab itu awalnya tidak memiliki nama; para ulama generasi setelahnyalah yang menamainya "al-Kitab".

Selain karya tersebut, Sibawaihi menulis banyak kitab lain, siang dan malam, tanpa jeda. Kitab-kitab itu ditulis rapi, disusun bab demi bab, dan dijilid dengan penuh ketelitian. Namun dedikasi total itu justru memantik api cemburu istrinya, seorang perempuan Basrah yang mencintainya dengan sangat.

Suatu hari, ketika Sibawaihi pergi ke pasar, sang istri menyalakan api dan melemparkannya ke tumpukan kitab. Dalam sekejap, catatan-catatan berharga, termasuk hasil pelajaran dari gurunya, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, hangus menjadi abu.

Ketika Sibawaihi pulang, ia terperanjat. Melihat karyanya lenyap, ia jatuh pingsan. Setelah sadar, ia menceraikan istrinya. Kisah ini diriwayatkan oleh Shaid dalam "Kitab al-Fushuh". Sebuah tragedi sunyi antara cinta, ilmu, dan kehilangan.

Dua Puluh Tahun Ditulis, Sekejap Hangus

Dalam "Kitab Ma‘ani al-Hubb", dikisahkan tentang "Syekh Ibrahim al-Iyasyi", penulis kitab "al-Hujurat" sebuah karya tentang kamar-kamar Nabi Muhammad dan para istrinya. Buku ini ditulis, diteliti, dan ditahqiq selama dua puluh tahun penuh.

Namun kesungguhan itu menuntut harga mahal. Syekh Ibrahim jarang di rumah. Jika pun pulang, ia tetap tenggelam dalam naskah dan diskusi, jauh dari istri dan lima anaknya. Dalam cemburu yang memuncak, dan mungkin kelelahan emosional, sang istri membakar kitab "al-Hujurat". Demikian disampaikan Anis Manshur, sahabat dekat al-Iyasyi.

Kitab Lebih Dicintai dari Istri

Kisah lain datang dari "Abu al-Mubassyir", seorang ulama besar dalam ilmu mantiq dan hikmah. Ia dikenal selalu membawa kitab ke mana pun pergi—bahkan di atas kendaraan. Kitab adalah teman paling setia dalam hidupnya.

Istrinya berasal dari kalangan terpandang dan cerdas. Namun setelah al-Mubassyir wafat, sang istri menaiki tumpukan kitab itu dengan kenangan bahwa kitab-kitab tersebut telah “mengalahkannya” dalam cinta sang suami, lalu melemparkannya ke kolam besar di samping rumah. Banyak karya al-Mubassyir tenggelam dan rusak, hilang bersama air dan waktu.

Kamus Pertama yang Nyaris Lenyap

"Kamus al-‘Ain", kamus pertama dalam bahasa Arab yang disusun oleh "al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi", juga memiliki kisah kelam. Naskah kamus itu pernah dibakar oleh istri "al-Laist", sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn al-Mu‘taz. Konon, setelah al-Laist menerima naskah itu dari al-Khalil di Khurasan, ia tenggelam total dalam penyusunan dan pengkajiannya, hingga sang istri terbakar cemburu.

Namun sebagian sejarawan menyebut kisah ini lemah, bahkan mungkin sengaja disebarkan untuk menjatuhkan nama al-Khalil. Yang jelas, "al-‘Ain" akhirnya ditulis ulang oleh al-Laist dan para pakar bahasa lain, agar warisan ilmu itu tidak benar-benar lenyap.

Ketika Ilmu Memilih Kesendirian

Tak sedikit ulama akhirnya memilih tidak menikah. Mereka sadar bahwa hidup bersama kitab menuntut pengorbanan besar. Di antara mereka: "Imam an-Nawawi, Ibn Taimiyah, Ibn Jarir al-Thabari, al-Zamakhsyari", dan lainnya. Barangkali, salah satu alasan mereka adalah ketakutan akan konflik antara cinta manusia dan cinta pada ilmu.

Sebagian istri para ulama bahkan menyebut kitab-kitab itu sebagai "bahaya". Istri Muhammad bin Syihab al-Zuhri dan Zubair bin Bakkar pernah berkata, “Demi Allah, tidak ada mudarat yang lebih besar daripada kitab-kitab ini.” Istri sastrawan Ibrahim Abdul Qadir al-Mazini mengeluh, “Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kitab-kitab ini.”

Maka, di balik lahirnya karya-karya besar, sering tersembunyi luka-luka kecil yang tak pernah tercatat: cemburu, kesepian, dan rasa tak dianggap. Kitab-kitab itu tidak hanya menyimpan ilmu, tetapi juga jejak emosi manusia yang rapuh.

***
Repost, pernah dimuat oleh Alif. Id