السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 30 November 2022

Dalam Perjalanan, Sekedarnya Saja!

-Aceh mengajarkan bagaimana menuju Akhirat

#Edisi 4

Halimi Zuhdy

Dalam setiap perjalanan selalu ada pesan yang disampaikan oleh gerak manusia dan alam. Saya saksikan orang-orang mengular, antri untuk check-in dan mendaftarkan bagasi. Ada yang menyerobot, ada pula yang santai, ada banyak wajah yang terlihat panik. Barang-barang yang dibawa pun bervariasi ada koper-koper yang menggunung, kardus penuh sesak, ada yang punggungnya dibebani dengan berbagai bawaan dengan tangan menjinjing tas, ada pula yang hanya bawa satu ransel kecil. 

Apakah selesai dengan antri di pendaftaran bagasi. Tidak. Perjalanan masih panjang. Bila bagasi besar dan ada barang berbahaya, maka masalahnya masih lama. Jika tidak ada masalah dengan bagasi, maka langsung pada titik selanjutnya, menuju gate (tempat menunggu pesawat). Di sana masih banyak tahap pemeriksaan keamanan, antri lagi, ada yang membuka sabuk, laptop, jaget dan lainnya. Antrian panjang. Terkadang melelahkan, terkadang mengasyikkan. 
Apakah selesai?. belum. Bagi  pelancong yang tidak membawa teman, dia akan membawa barang-barangnya ke toilet, ke mushalla, ke restoran, kemana pun ia berada di bandara. Takut hilang?. Ia. Karena tidak ada jaminan penuh, untuk keamanan. Demikianlah kehidupan sekelumit di bandara. Apa artinya, semakin banyak beban yang dibawa, semakin berat memanggulnya, semakin banyak yang dipikirkan dan semakin lama antriannya. 

Dalam Kitab Nashaih al-Ibad, karya Imam Nawawi, “Perbaikilah bahteramu, karena sesungguhnya samudera itu sangat dalam. Persiapkan bekalmu dengan sempurna, karena sesungguhnya perjalanan ini sangat jauh._Ringankan bebanmu, karena sesungguhnya rintanganmu sangat berat._
Ikhlaskan amalmu, karena pengintaimu sangat jeli.” ini pesan Rasululullah pada Abu Dzar Al-Ghifari ketika ingin berangkat untuk menjadi Gubernur. Semakin banyak seseorang membawa barang, semakin berat beban yang ditanggung, akan lambat bergerak, lebih lama antri ketika masuk pesawat, lebih-lebih ketika antri memasukkan barang ke kabin. Bagaimana dengan antrian di Akhirat nanti? Semuanya akan dihisab (ditimbang, diperiksa) olehNya. 
Hal ini saya tiru dalam setiap  perjalanan. Terutama perjalanan ke Aceh kali ini, selain membutuhkan waktu lama untuk sampai, masih transit beberapa kali di  beberapa bandara. Bila membawa barang banyak, dan berat, maka cukup menyulitkan gerak saya. 

Membawa barang-barang dalam perjalanan, harus dapat memperkirakan kebutuhan selama dalam perjalanan dan ketika sampai di tempat tujuan. Bila cukup dengan membawa satu kaos dan satu baju, mengapa harus membawa lima baju dan sepuluh potong kaos. Diperkirakan saja! sehari ganti berapa kali celana?, masak ganti celana sehari tiga kali.

Membawa barang sekedarnya saja!. Tubuh tidak akan menanggung beban berat, punggung terasa ringan, pikiran tidak terlalu bingung. Bayangkan! Ketika membawa kardus, bawa ransel, bawa koper, belum HP yang tidak bisa lepas dari tangan, belum lagi dan lagi. 

Capek kan?! Bila seseorang penempuh perjalanan tiga hari, pulang dan pergi, misalnya. Cukuplah bawa baju dua potong, ditambah kaos. Enak kan!. Naik kendaraan apa pun. Lebih-lebih perjalanan darat yang membutuhkan tenaga, maka bawalah barang sekedar saja.

Dalam perjalanan, makan sekedarnya saja!. Jangan terlalu kenyang, dan jangan pula sampai kosong. Bila tubuh mengkonsumsi makanan tidak terlalu banyak, maka gerak langkah akan gesit demikian juga sebaliknya. Dan bisa dibuat baca-baca buku di HP, kalau kekenyangan akan tertidur pulas. Benar tidak?!

Bawa uang sekedarnya saja! Sekedar cukup. Cukup untuk ongkos perjalanan, cukup untuk makan, dan cukup untuk kebutuhan lainnya. Terlalu banyak uang yang dibawa, maka akan terlalu banyak beban pikiran; takut hilang, ingin beli banyak barang dan lainnya. 
Bawa cinta sekedarnya! Jangan berlebih dalam merindu. Pasrahkan yang ada di rumah padaNya, sebagaimana doa diajarkan, "Allahumma Anta Shohibu fi Safar, wal.khalifatu fil ahl, Ya Allah Engkaulah pendampingku dalam perjalanan, dan mengurusi keluarga". Meminta padaNya, agar yang ditinggalkan di rumah dijaga oleh Allah. Selain akan lebih tenang dan fokus dalam beraktifitas.

#Edisi 4, lanjut edisi 5 (Action di UIN Ar-Raniri, Suguhan kopi gayu dan rumah adat penuh cinta)

Kuala, Aceh, 28 November 2022

Senin, 28 November 2022

Selalu Ada Kejutan dalam Hidup

-Min Haitsu La Yahtasib

Halimi Zuhdy

Kesedihan hanya sesaat, kebahagiaan melimpah ruah. Kebahagiaan demi kebahagiaan terkadang tak terasa saking banyaknya limpahan kebahagiaan dalam hidup. Inna ma'al usri yusra, sungguh kesulitan hanyalah sedikit, kemudahan begitu melimpah. Saatnya menikmat setiap kebahagiaan, bukan meratapi setiap kesedihan. 
Allah memberi kejutan dalam kehidupan seseorang, ketika seseorang dalam kelelahan menghadapi kehidupan. Wa yarzuqhu min haisu lanyahtasib, ....Dan Allah memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sedih, tetiba bahagia. Bahagia, tetiba sedih. Tapi, kesedihan selalu tidak lama, bagi orang yang beriman pada Takdir. Kemarin sedikit sedih karena 3 tiket yang hangus; Sby-Batam, Batam-Medan, Medan- Kuala Namo (Aceh) hangus, hari ini sangat bahagia, karena masih diberikan kesehatan oleh-Nya dan masih bisa melanjutkan penerbangan.  

Kita perhatikan gelar Sepak Bola Dunia 2022 di Qatar, selalu ada kejutan. Argentina yang dijagokan, tetiba bertekuk lutut di kaki Saudi Arabia. Arab Saudi Bahagia.  Kebahagiaan tak bertahan lama, Saudi Arabia tak berkutik di kaki Polandia, sedih. Argentina kini menatap penuh semangat masuk 16 besar. Belgia yang bersemangat, harus rela dihajar Moroko. Entah bagaimana akhirnya. Jerman kini bisa sedikit bahagia, walau sebelumnya dibuat sesak nafas oleh Jepang, kini Jepang yang berhenti bernafas, walau masih selalu ada harapan bagi Jepang. 

Demikianlah piala dunia, dan juga kehidupan di dunia. Tetap bersemangat menatap  kehidupan adalah jalan yang harus ditempuh. Bersyukur atas segala pemberian-Nya, adalah bagian dari cara menempuh bahagia. Dan bersabar atas musibah yang dihadapi adalah bagian dari membuat diri menjadi indah. 

Dunia itu fana (hancur, berubah). Tiada yang abadi di dalamnya, ada saat- saatnya di atas, ada pula saatnya di bawah. Tetapi atas dan bawah hanyalah bagian dari roda yang diputar, bukankan mobil sampai pada tujuan karena roda yang silih berganti, berputar. Maka, menikmati setiap putaran roda, adalah syukur padaNya. Kejutan-kejutan selalu datang bagi yang bersyukur. Dan kejutan akan menjadi kejutan, bagi yang bertaqwa padaNya. Wayarzuqhu min haitsu la Yahtasib.

(Edisi 2)
Sby-Jakarta-Medan-Aceh, 28 Nov 2022

Minggu, 27 November 2022

Boarding Time 04:50

3 Tiket Hangus

Halimi Zuhdy

Setiap masalah, pasti Allah kasih solusi. Dan setiap solusi, selalu menjadi yang terbaik. Asalkan yakin, tidak ada masalah yang akan menjadi masalah, masalah/kegagalan akan berbuah akan menjadi pelajaran, pengalaman, dan kebaikan. Tinggal dicari setiap hikmah yang akan diberikan.
Ini pengalaman kedua saya ditinggal pesawat. Memang galau, tapi dibuat santai. Karena pasti ada solusinya, asalkan hati dan pikiran ditenangkan. Pesan tiket lagi,  terbang. Rugi tiket hangus, ia. Tapi, banyak hikmah dalam ketertinggalan. Bukan lagi persoalan berapa uang dan waktu yang telah dihabiskan, tetapi berapa kuat melatih diri untuk bersabar. 

Kali ini kasusnya sama, tertinggal dalam hitungan detik. Hanya ditinggal untuk shalat shubuh di gate 13, nama saya dipanggil (ketika takbir pertama), tidak mungkin shalat dibuat super cepat, karena ditunjuk jadi imam sama beberapa staf bandara yang agak akhir shalat. Saya perkirakan, waktu masih nutut dengan detik yang ada, tapi...

Salam pada tahiyat akhir. Langsung ambil langkah cepat. Sampai ke gate 15. Duaaaar. Tanya sana -sini, "Apakah pesawat menuju Batam Batu Besar sudah take off?". "Ia Bapak, baru 2 menit yang lalu pintu gate 15 ditutup Bapak",  

Saya duduk sebentar menenangkan hati dan pikiran. Setelah tenang, cari petugas bandara di gate 10 yang masih aktif mengurus keberangkatan menuju Makassar atau mana, lupa. "Tiket bapak hangus, pesawatnya sudah berangkat beberapa menit lalu Bapak". Saya yakin, pesawat tidak mungkin kembali menjemput saya, gegara saya terlambat.wkwkwwk. Coba saya presiden, atau menteri, pasti tidak ditinggal (menghayal). 

Di depan mata. Saya perhatikan pesawat demi pesawat mulai meninggalkan landasan terbang. Pikiran nyeracau, ya inilah kalau belum waktunya berangkat. Sudah 3 kali hampir berangkat ke Tanah Rencong, Aceh. Tetapi, selalu ada asbab sampai. Ingin sekali mendekap Serambi Mekkah. Terbayang ziarah Abdirrauf As-Singkili, Hamzah Al Fansuri, Syekh Nuruddin Arraniri, dan beberapa kehangatan lainnya yang sudah terbaca dalam sejarah Aceh sejak masih duduk di MI. Ke beberapa negara pernah saya kunjungi, ke beberapa wilayah di luar Jawa juga sudah pernah, tetapi Aceh ini belum. 

Perjalanan kali ini, sudah ada agenda terjadwal rapi oleh Fakultas Abad dan Humaniora UIN Arraniri Aceh, bertepat di Prodi Bahasa dan Sastra Arab, acara dimulai jam 08.00-15.00 besok 28 Nov 2022. Agenda visiting lecturer, FGD dengan prodi BSA, dan diskusi penulisan skripsi dengan mahasiswa, dan agenda lainnya. Kalimat-kalimat ini masih dicoret belum juga mendapatkan tiket menuju Banda Aceh, hari ini semuanya sudah sold out (terjual).

Kaki melangkah ke beberapa tempat pemesan tiket menuju Aceh, kalau tidak ada hari ini, maka besok berangkat. Fokus mencari solusi, fakus mencari tiket, karena UIN Ar-Raniri dan cerita Aceh sudah terekam di hari. 

Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Yang tidak baik, jadi pelajaran. Yang baik, jadi keindahan. Dan semuanya yang terjadi adalah bagian dari ketentuan Tuhan. "Mengapa kok tidak ini, tidak itu, pasti tidak akan terjadi" perkataan seperti ini hanya akan membuka pintu setan untuk menggoda lebih dalam. Dalam kutipan hadis yang diriwatakan Abu Hurairah
......
Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: 'Seandainya aku lakukan demikian dan demikian'. Akan tetapi hendaklah kau katakan: 'Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi'. Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan" (HR Muslim). 

Mungkin ini kesalahan saya, karena kurang awal, kurang disiplin dan lain sebagainya, tetapi ada hal lain yang harus dilakukan. Selalu mengevaluasi diri, tidak mencari pembenaran diri. Karena kekurangan yang disadari, akan memberikan tambahan yang berarti. Kekurangan yang tidak ditanggapi, akan berakhir pada kegagalan yang tidak berarti. Gagal sebuah keharusan, bagi seseorang yang ingin maju. Bukankah tidak ada pelari cepat yang memenangkan pertandingan, kecuali ia pernah gagal dan mungkin jatuh. 

3 tiket hangus. Disyukuri, isnyallah Allah akan mengganti tiket-tiket lain yang lebih indah. Tiket sehat, tiket selamat, tiket bahagia, tiket berkah, tiket penganti dan tiket-tiket lain yang Allah selalu curahkan. Selalu positif. "Allah selalu memberikan yang terbaik". Kebaikan tidaklah harus apa yang kita sukai, bisa saja kebaikan ada sesuatu yang kita benci, tetapi memberikan manfaat yang sangat berarti. 

Dinikmati, disyukuri, dan dijalani. Dan jangan lupa selalu mengevaluasi diri.

Juanda, 27 November 2022

***
Mudah-mudahan ada tiket untuk esok hari, dan dapat bersua dengan syekh Arraniri.

Menelisik Arti Liwath (LBGT)

Halimi Zuhdy

"Sepak Bola Dunia kok sibuk dengan LBGT?" Kata seorang teman yang menanggapi ramainya tagar #LBGT dan #OneLove di twitter dan beberapa media lainnya. "Loh, bagi kaum muslimin urusan LBGT itu urusan serius, bukan hanya urusan hal remeh temeh saja. Bila mengatas namakan kebebasan dan kemanusian, maka menghadang merebaknya LBGT adalah kemanusiaan itu sendiri" seorang teman lainnya menanggapi.  

Toyyib. Terlepas dari perdebatan tentang Sepak Bola dan LBGT. Saya agak terusik, ketika seorang teman mengaitkan nama Nabi Luth dengan LBGT. Apalagi namanya dianggap sesuatu yang buruk. Luth adalah Liwath/sodomi. Saya yakin sekali, tidak ada nama seorang Nabi pun memiliki nama dengan arti yang buruk, termasuk nama Nabi Luth AS.
Mari kita telisik dengan seksama, mengapa Nabi Luth dinamakan Luth? Dan apa arti Luth?. Di antara sebab Nabi Luth dinamakan demikian, karena beliau sangat mencintai pamannya (Nabi Ibrahim AS). 

Kata "Luth" bermakna al-ta'alluq (bertaut) Ilshaq (menempel), dan Al-Hubb (cinta). Maka, arti nama Luth adalah yang sangat mencintai pamannya, Ibrahim AS. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa kata "Luth" tidak memiliki derivasi (musytaq), nama ini termasuk nama ajami (non Arab). 

Kata "Luth" yang bermakna cinta (al-mahabbah), adalah sebuah nama yang diberikan kepada Nabi Luth dengan arti yang baik (hasan), maka tidak ditemukan arti lainnya yang mengarah pada sesuatu yang buruk. Nabi Luth hidup semasa dengan Nabi Ibrahim (1900 SM), dengan lokasi dakwah yang berbeda,  Nabi Ibrahim di Irak, sedangkan Nabi Luth di desa Sodom dan Umorah (Selatan Laut mati). 

Bila terdapat keburukan yang dinisbatkan kepada beliau, seperti "Kaum Luth", bukan arti dari Luth-nya tetapi adalah perbuatan kaum dari Nabi Luth, ia hanyalah sebuah nisbat. "Kadzabat Kaum Kuthin Mursalin, kaum Luth mendustakan para utusan". Karena tidak sedikit kaum dari para nabi yang tidak memiliki nama sendiri, seperti Kaum Nabi Nuh, Kaum Nabi Zakariya dan lainnya, berbeda dengan kaum Nabi Hud dan Nabi Shaleh. Kaum Nabi Hud namanya Kaum 'Ad, dan Kaum Tsamud adalah kaumnya Nabi Sholeh.

Yang perlu dicatat bahwa tindakan asusila - yaitu, sodomi - adalah istilah yang dikaitkan dengan perilaku orang-orang (kaum) Luth, bukan kepada Nabi Luth. Jadi homoseksual terkait dengan kaum Luth, dan kata tersebut dari masdar La-Wa-Tha; Artinya, perbuatan buruk tersebut seperti perbuatan kaum Luth. Dan juga ada yang berpendapat, bahwa kecabulan (perbuatan buruk, Kaum Luth) dikaitkan dengan Luth, karena beliau "melarang" perbuatan tersebut. 

Siapakah Nabi Luth?, Beliau adalah Luth bin Haran bin Azar adalah keponakan dari Nabi Ibrahim as.  Artinya, Nabi Ibrahim adalah pamannya. Nama Nabi Luth disebutkan dalam Al-Qur'an sekitar tujuh belas kali, dan Allah SWT mengutusnya kepada orang-orang Sodom, yaitu sebuah desa yang terletak antara Syam dan Hijaz, sekitar negeri Yordania, dan negeri Sodom meliputi sekitar sepuluh desa, dan juga ada beberapa pendapat lainnya. 

Maraji' (Maudhu', Asma Anbiya')

***
Di kolom komentar, ketika penulis berada di Kota Sodom (diperkirakan), sekitar Laut Mati. 

#NoLBGT #NoOneLove

Minggu, 20 November 2022

Tempat Diutusnya Para Nabi dan Tempat Wafatnya


Halimi Zuhdy

Awalnya, saya ingin sekali membaca tentang Kaum 'Ad dan Kaum Tsamud. Siapakah mereka?,  Mengapa dua Kaum ini selalu disebutkan dalam Al-Qur'an? Mereka tinggal dimana? Bagaimana peradaban mereka? Dan mengapa mereka dianggap kaum yang durhaka (menentang)? Apakah peradaban mereka masih ada sampai sekarang?
Masalah kaum Ad dan Tsamud masih dianggap sebuah misteri bagi para arkeolog. Oleh karena itu, banyak ulama, terutama dari bangsa Arab, mencoba menghubungkan banyak situs yang terletak di pegunungan Jazirah dengan kaum Ad dan Tsamud. Banyak sarjana mencoba menghubungkan gunung-gunung besar dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Ada kajian yang menunjukkan bahwa kaum Tsamud adalah penerus kaum Hud as. Mereka dinamai dengan kaum Tsamud, sehubungan dengan kakeknya, "Tsamud bin Aber", sementara yang lain percaya bahwa dinamai dengan nama ini karena kekurangan air di tanahnya. Saya pernah berada disekitar bebatuan yang dianggap hasil cipta Kaum Tsamud, yaitu gunung atau bukit batu yang dipahat (lihat gambarnya di kolom komentar, atau di web www. halimizuhdy.com)

Tapi, untuk mengetahui keberadaan dua Kaum tersebut, maka perlu mengetahui masa mereka dan pada masa siapa mereka berada di muka bumi. Dari itu, perlu melihat peta sebaran para Nabi. Dan saya menemukan mulakhas (uraian singkat) keberadaan Para Nabi (jadwal di bawah).

Peta sebaran para Nabi, mulai tempat kelahiran, masa diutusnya dan tempat para Nabi disemayamkan. Sumber ini diambil dari Kitab Al-Ma'arif  karya Ibnu Qutaibah, Al-Bidayab wa Nihayah (Ibnu Katshir), Atlast Tarikh Al-Ambiya'. Peta berikut didasarkan pada perkiraan (taqribiyah) dengan beberapa data yang lebih mendekati kebenaran. 

Nabi Adam, misalnya, diperkirakan tempat pertama kali diutus oleh Allah adalah di negeri India (ada pula yang mengatakan diturunkan pertama kali), ada pula yang berpendapat di sekitar Jazirah Arab. Demikian juga dengan tempat wafatnya beliau (India/Makkah).  

Sedangkan Nabi Idris tidak ditemukan tempat wafatnya, karena beliau diangkat oleh Allah ke langit. "Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Quran). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi. " (QS. Maryam: 56-57). Dan ada beberapa pendapat lain, terkait ini. 

Nabi Nuh, disebut juga dengan Nabi Adam stani (kedua), karena setelahnya ada kehidupan baru, yaitu setelah banjir bandang yang menimpa kaumnya. Beliau diperkirakan hidup antara 3000-4000 SM. Beliau diutus di selatan Iraq, dan wafat di Makkah. 

Bagaimana dengan Nabi Hud AS? Beliau diperkirakan diutus oleh Allah pada tahun 2400 SM, di tanah Ahqaf (daerah Oman, dan daerah Timur Yaman), dan makamnya berada di daerah Hadral Maut Timur. Kaum 'Ad adalah kaum Nabi Hud AS. Mereka menyembah berhala, yang kemudian dikirim azab besar berupa kekeringan dan topan. 

Bersambung (Insyallah).
***
-Setiap nama para Nabi memiliki makna yang menarik untuk dikaji, setiap nama adalah simbol dari kaum yang mereka, seperti nama Nabi Nuh, mengapa dinamakan Nuh? Karena naha yanuhu. 

Allahu'alam Bishawab.

***

Sabtu, 12 November 2022

Perbedaan "Abi" dan "Walid" dalam Al-Qur'an

Menelisik Arti "Ayah"
(Perbedaan "Abi" dan "Walid" dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy

Ini hanyalah kajian singkat di momen hari Ayah. Walau Ayah tidak pernah punya hari (ia selalu di hati). Tapi, apa pun tentangnya selalu indah, dan bersamanya adalah momen yang menakjupkan. Mudah-mudahan ayah kita (yang masih hidup) selalu diberikan kesehatan dan keberkahan, dan (yang sudah wafat) mudah-mudahan dalam maghfirahnya.
Kata Ayah  diserap dari bahasa Jawa ꦪyaꦪꦃyah (yayah, “ayah”), dari bahasa Jawa Kuno yayah (“ayah”), dalam Wiktionari, sebuah panggilan bagi orang tua kandung laki-laki. Dan kata Ayah secara etimologi dalam bahasa Hindi आया adalah bermakna pembantu (aaya, “pembantu”). Dan kata ini, menjadi sebutan bagi seorang perempuan yang menjadi pembantu. Entah, makna secara bahasanya, saya belum menemukannya. 

Ayah, bukan hanya seseorang yang memberikan nafaqah dalam keluarga. Tapi, ia adalah seorang pendidik (mengajarkan cara beribadah, berakhlak yang baik, bermasyarakat dan lainnya) dan ayah adalah seorang pemimpin dalam keluarga.

Orang tua, harus di posisikan sama. Baik Ayah atau Ibu. Keduanya sama-sama istimewa. Tampa salah satu dari keduanya, tidak akan hadir seorang manusia. 

Dalam Al-Qur'an terdapat kata "Abu" dan "Walid".  Kata Ab (أب) secara bahasa bermakna sebab adanya sesuatu atau memperbaiki sesuatu. Dinamakan Abun, karena seorang ayah adalah  orang yang berfungsi sebagai pendidik, penjaga, pemelihara, dan yang bertanggungjawab terhadap sandang, pangan dan pendidikannya. Sedangkan Walid (والد), adalah ayah langsung, yang menjadi sebab adanya anak. Kata walid lebih khusus, sedangkan Aab digunakan lebih umum.

الأب في اللغة: سبب وجود الشيء أو إصلاحه، أو ظهوره، وسُمّي الأب أبًا، لأنه يقوم على إصلاح الأبناء ورعايتهم بالتربية والغذاء. أما الوالد في اللغة: الأب المُباشر، الذي هو سبب وجود الابن. فالوالد خاص، والأب عام.

Dalam Al-Qur'an, kata Aab menunjukkan pada beberapa isyarat. Pertama menunjuk pada Ayah kandung (الاب المباشر) sebagaimana dalam Surat Yusuf;
«إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ»
Dan juga menunjuk pada kakek (jadd) dan buyut (ke atas);
مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ» (الحج) 78
«قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا» (البقرة) 170.
 «أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ» (الشعراء).

Penggunaan kata "Aab" dalam Al-Qur'an terkait dengan luasnya asal kata Aab (الاب) dan pencantumannya terhadap segala sesuatu yang menjadi penyebab keberadaan sesuatu atau riayah.

Berbeda dengan kata Walid (الوالد), yang secara khusus menunjukkan ayah biologis, yang menjadi sebab keberadaan seorang anak (ibnu). Kata "walid" dalam beberapa Ayat menggunakan mustanna (bermakna dua). Hal ini, menunjukkan bahwa walidah (ibu)lah yang melahirkan. 
«لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللـه وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا» (البقرة)83. 

Dan penggunaan dua kata ini,  bila ditilik lebih jauh dalam setiap Ayat-nya, semakin asyik. 

***
Ayah bukan hanya seorang Walid, tapi ia juga harus menjadi seorang Abi. Tidak hanya menjadi sebab lahirnya anak, tetapi tugas berikutnya adalah menjaga, mendidik dan tentunya mencari nafkahnya.

12 November 2022

Kamis, 10 November 2022

Kata "Mabruk" yang Dipermasalahkan

Halimi Zuhdy

"Eh, sudah tidak boleh lagi lo mengucapkan kata "mabruk" karena kata tersebut menyalahi kaidah bahasa yang sahih". Tegur seorang mahasiswa pada kawannya yang mengucapkan kalimat "Alfu Mabruk" pada temannya yang baru saja menikah. 

Toyyib. Mari sedikit kita diskusikan kata tersebut. Munculnya sebuah kata tidaklah secara tiba-tiba, ia melakui proses panjang sekali, sehingga masyarakat pengguna merasa nyaman dan kemudian terbiasa. Dan kata tersebut disepakati dengan makna tertentu. Munculnya kata baru terkadang dari galat (khata' atau error), ada kesalahan pengucapan, mendengar dan kesalahan mengucapkan sehingga membentuk kata-kata baru.
Dan di antara sebab lain dari kemunculan kata  dikarenakan ada imitasi bunyi suara. Ada pula menyerap dari bahasa asing lainnya, dan juga menggunakan bahasa klasik dari bahasa lain, atau mengkombinasikan dengan bahasa yang sudah ada. Hal ini dapat dibaca dalam kitab Nasy'atul Lughah. Kata tidak tiba-tiba ada, ia melalui proses panjang sehingga menjadi sebuah kesepakatan dalam masyarakat. 

Bagaimana dengan kata "Mabruk"?, kata mabruk dalam beberapa kajian; dalam Mu'jam Ma'ani, kata Mabruk (مبروك) adalah maf'ul bih dari kata baraka (برك). 
مَبْرُوك : اسم المفعول من بَرَكَ
برَكَ / برَكَ على / برَكَ لـ يَبرُك ، بُروكًا وتبراكًا ، فهو بارِك ، والمفعول مَبْرُوك عليه.
Dalam beberapa penjelasan yang lain, dalam Maudhu' misalnya, bahwa kata ini tidak bermakna doa "membrikati" tetapi ia adalah nama syaithan. 

Dan juga beredar di Indonesia (khususnya), beberapa ustadz melarang menggunakan kata Mabruk, karena kata ini tidak sahih (salah secara kaidah bahasa dan lainnya), kata Mabruk menurutnya adalah bermakna "berdiam diri" tau "unta yang menderum". Bukan bermakna berdoa, apalagi mendoakan kebaikan. Tetapi, seperti mengucapkan unta yang lagi beristirahat.

Dan tentunya, penjelasan di atas sangat kaya dengan berbagai pendapat ulama bahasa, ada yang sepakat ada pula yang menolak. Menarik apa yang disampaikan Dr. Faruq Muawa dalam mengomentari  orang yang menganggap kata mabruk adalah keliru, menurutnya "Mabruk, sahih secara bahasa, dan tidak mungkin untuk dihilangkan". Ada beberapa hal yang beliau sampaikan dalam maqalahnya di antaranya;

مبـروك) هي من التهاني المتداولة الشائعة بيننا، ونقصد بها الدعاء بالبركة والنّماء عند كل ما يَسرّ، وعند كل نجاح، وعلى كل ما هو جديد.
في رأيي أن نتقبلها قبولاً حسنًا لأكثر من سبب غير شيوعها وانتشارها على كل لسان:  ما ورد في (لسان العرب) لابن منظور; بَرَك- الْبَرَكة: النماء والزيادة. والتبريك : الدعاء للإنسان أو غيره بالبركة.
يُقال : بَرّكْتُ عليه تَبْرِيكًا، أي- قلت له: بارك الله عليك.

وما دام معنى الفعل (برَك) نما وزاد، فاسم المفعول (مبروك) منطقي جدًا.
فإذا قال قائل: هذا فعل لازم واسم المفعول تكون بعده تعدية بحرف جر، نحو: مضحوك عليه، مبكيّ فيه..إلخ
فالجواب: ثمة أسماء مفعولين من اللازم، ولم يرد بعدها تعدية بحرف جر، نحو: مسعود، مزكوم، محزون، مرسوم،  فلتكن (مبروك) على غرارها!

Penjelasan pada paragraf paling bawah, bahwa kata mabruk angatlah rasional, tidak perlu dipersoalkan, karena ia masih berasal dari kata baraka yang bermakna nama' (berkembang) dan ziyahdah (lebih, bertambah). 

Beliau merasionalisasikan mengapa bahasa Mabruk itu muncul. Tentunya, penjelasan yang panjang dari beliau tidak mungkin untuk diurai di sini. Dan menurut beberapa ulama lainnya; 

وإذا كانت مادة الاشتقاق موجودة وهي (الياء والراء والكاف) التي هي أصل حروف البركة، فلا أرى مانعاً أن يقول القائل مبروك بمعنى مبارك. (Fatawamedia)

 :
أنه لا حرج في استعمال كلمة "مبروك" عند التهنئة ، والدعاء بالبركة ، ما دام الناس قد تعارفوا على ذلك ، ولا خطأ فيه أصلا ، من الناحية الشرعية ، فضلا عن أن يكون فادحا (islam.qa)

Terus bagaimana? Mana yang benar? 
Lah, bisa buka link berikut😆
👇❤️🔴

Youtube Lil Jamik "Mengurai kata Mabruk"
https://youtu.be/ztul2aEZ-Po

Rabu, 02 November 2022

Menelisik Simbol Ilmu dalam Bahasa Arab (علم)


Halimi Zuhdy

Menarik, bila kita lirik kata ini. Kata yang dimulai dari huruf Ain (ع). Huruf yang seakan-akan membuka mulut dengan lebar-lebar di awal kata. Maka, dapat dimaknai dengan; 1. Pembelajar agar banyak tahu tentang sesuatu, maka harus membuka diri, hati dan pikiran. 2. Dalam sifatul huruf; infitah (terbuka), tidak menutup diri, berfikir, membaca, dan tadabbur. 
Huruf Ain dengan harkat kasrah (ِع), yaitu 'i. dalam Ilmu. Harkatnya terdapat di bawah huruf Ain. Bisa diartikan dengan, pembelajar harus rendah hati, tidak sombong. Merendah. Sesuatu yang rendah, maka ia akan banyak menampung sesuatu. Seperti lembah yang menampung banyak air, bukan seperti gunung walau tinggi tapi tidak bisa menampung banyak air. Semakin rendah, semakin banyak. Laksana sumur. Ada waktunya menjadi gunung, dan ada waktunya menjadi lembah. 

Harkat Ain (kasroh, ِع) akan berubah sesuai dengan usahanya, menyerap banyak ilmu, menjadi Fathah (عَ) yaitu Alim (عَالم). 

مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ
“Nabi SAW bersabda: ‘Barang siapa yang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat). Dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.” (HR Imam Ibnu Mandah dan Imam Abu Nu’aim).

Akan menjadi Alim, bila ia selalu sabar dengan belajar, dengan banyak membuka pikiran dan hati. Laksana huruf Ain. Dan akan berubah menjadi Alim (harkat diatasnya).

Kata Alim (عالم) dan Ilmu (علم) juga satu derivasi dari Alam (عَلم) dan Aalam (عَالم). Alam bermakna mendera, tanda, alamat, simbol dan beberapa makna lainnya. Sedangkan Aalam (عَالم) adalah alam (alam semesta). Maka, dapat disimpulkan, orang yang berilmu adalah mereka yang banyak mengetahui tanda, alamat, simbol. Dan bila mereka dapat banyak mengetahui sesuatu disebut orang 'Alim (jamak; ulama). 

لُغة كلمة العِلْم هي مصدرٌ للفعل عَلِمَ، والجمع منه عُلُوم، فيما يُشتَق اسم الفاعل منه عالِم، والجمع منه عالِمون وعُلَماء، ويُقال عَلِم عَلَماً فهو أَعلُم والمؤنث منه عَلْماء، فيما الجمع منه عُلْم، وعَلِم فلان أيّ انشقت شِفَته العُليا، وعَلِمَ الشيء أي شعر به، وعَلِمَ الشيء علماً أي عَرَفَه

Untuk menjadi orang yang berilmu, maka ia harus terbuka, banyak menyerap, banyak belajar. Dan juga tidak boleh sombong. Kalau sombong sulit mendapatkan banyak ilmu terutama ilmu-ilmu rabbani atau ilmu-ilmu yang nafi'. Bila sudah berilmu, maka akan diangkat derajadnya menjadi fathah (عالم). 

Bila sudah Alim, banyak tahu, maka dilanjutkan dengan menjadi Muallim (معلم). Pengajar. Ia tidak hanya sekedar tahu, tapi memberi tahu. Tidak hanya memberi tahu, tapi membuat orang lain paham. Ziyadatul Mabna, ziyadatul ma'na. Bertambah atau beruba bentuk kata, maka juga akan berpengaruh pada makna.

Allahu 'Alam Bishawab

***
Lanjut Makna Lam (لام) dan Mim (ميم )dalam Ilmu, Insyallah.