السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Selasa, 25 Juli 2023

Pesona Magis di Cappadocia, Turki: Mengungkap Keajaiban Alam, sejarah dan Balon Udara

Halimi Zuhdy

Entah, saya harus memulai dari mana cerita di Cappadocia. Mau bercerita balon-balon udara sudah biasa dan sudah sangat banyak diulas, 160 balon udara setiap pagi terbang menyapa mentari yang baru bangun dari lena tidurnya. Dari atas balon udara menikmati warna-warni langit pagi yang begitu indah dan sapaan angin yang sepoi. 
Tak ada yang aneh dengan balon-balon itu, ya seperti mobil atau bis yang melaju, hanya bedanya, mengudara dengan api yang menyala, dan dari ketinggian dapat menyaksikan antraksi ratusan balon dan cerobong bebatuan. Ada juga sih, sensasi-sensasi-nya, tapi menurut saya biasa saja. Yang penuh sensasi itu, apabila sehat dan bersyukur atas nikmat kesempatan yang Allah berikan pada kita. As-shihhah wal faragh 

Kayaknya, yang lebih asyik diceritakan adalah bangunan Cappadocia yang penuh magis. Kalau dilihat dari ketinggian, seperti paku-paku panjang menjulang tinggi, juga seperti cerobong yang memanggil-manggil makhluk langit. Waduh. 
Setelah menikmati Efesus, Ayvalik Cunda Island, Pamukkale, Hierapolis dengan bangunan kunonya, kini saya melirik dan coba memasuki ruang-ruang dalam bangunan yang ada di Cappadocia. Cappadocia sebuah kawasan yang terletak di tengah Anatolia, Turki, telah menjadi tujuan wisata yang populer karena keunikan dan keindahan alamnya. Terkenal dengan formasi batu yang menakjubkan, lembah-lembah yang dalam, dan formasi geologi yang unik. Cappadocia juga menyimpan sebuah daya tarik yang lebih kuat lagi, yaitu keajaiban magis yang ada di dalamnya. 

Dalam tulisan ringan ini, kita akan menjelajahi pesona magis Cappadocia dan alasan mengapa kawasan ini dianggap sebagai salah satu tempat yang paling magis di dunia. Sebenarnya tidak ada yang magis sih, hanya karena kepercayaan dari generasi ke generasi bahwa di tempat ini ada sesuatu yang misteri. Belum lagi dengan cerita-cerita magis di film, buku-buku, dan lainnya, yang semakin membuat getar Cappodocia. 
Cappadocia memiliki sejarah yang kaya, yang mencakup periode Yunani kuno, Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Bizantium, dan tentunya melewati kesultanan Ottoman (Kekhilafahan Ustmaniyah) dan sekarang, Republik Turki. Ceria magis di Cappadocia tidak hanya terkait dengan sejarah manusia, tetapi juga dengan mitologi yang diceritakan secara turun-temurun. 

Menurut mitologi Yunani, dewa-dewi berkeliaran di Cappadocia dan tempat ini dianggap sebagai rumah bagi makhluk mitologi seperti peri dan naga. Kepercayaan ini memberi sentuhan magis pada kawasan ini, yang terasa hingga saat ini, bagi yang mempercayainya. Tapi, bagi saya, seperti tempat-tempat lainnya dianggap keramat, penuh misteri, adalah kembali kepada sebuah kepercayaan. 

Dan, salah satu daya tarik terbesar Cappadocia adalah formasi batu yang luar biasa. Di seluruh kawasan ini terdapat chimney rocks (cerobong asap, sukhurul matkhanah) atau fairy chimneys (cerobong peri, almadin kharafiyah) yang merupakan formasi batu kapur tinggi dengan bentuk unik. Bentuk-bentuk ini terbentuk melalui proses geologi selama ribuan tahun, dengan pengaruh angin, air, dan erosi. Fairy chimneys ini memberikan tampilan yang magis dan mempesona, terutama saat terkena sinar matahari pagi dan senja (al-maudhu', al-ma'rifah). Kalau kita saksikan dari atas balon, kelihatan seperti paku-paku dengan berbagai bentuknya, atau seperti cerobong. 

Kata Savas, pemandu yang membawa kami, bahwa "Cappadocia juga terkenal karena kota-kota di bawah tanahnya yang spektakuler". Saya dan beberapa teman lainnya diajak masuk ke salah satu ruangan. Seperti gua dengan formasi yang unik, layaknya rumah, ada dapur, ruang tamu, tempat memanggil, dan lainnya. Dan di Cappadocia terdapat ratusan ruangan dan terowongan yang tersembunyi di dalam tanah yang digunakan oleh orang-orang pada masa lalu sebagai tempat perlindungan dari serangan musuh. Kota-kota ini memiliki sistem ventilasi yang cerdas, sumur-sumur, dan bahkan gereja-gereja yang terukir di dalam batu. Melalui jaringan yang rumit ini, penduduk dapat menghindari ancaman dan menyembunyikan diri dengan keajaiban bawah tanah yang menakjubkan.

Kalau ingin ke tempat ini, jangan ketinggalan menikmati balon udara panas. Beberapa puluh tahun terakhir, sekitar tahun 1990, menjadi salah satu tempat yang paling terkenal dan menarik para wisatawan dari seluruh dunia, karena balon-balon udaranya yang unik. Saya bertemu dengan pengantin-pengantin dari beberapa negara berpose dengan latar belakang balon-balon udara yang terbang melangitkan mimpi. Tidak lama sih terbangnya, sekitar satu jam, jam 06 lebih balon udara itu sudah mulai hilang satu persatu. Menikmatinya hanya di waktu pagi, itu pun ketika cuaca cerah. Balon-balon udara itu melayang di atas formasi batu dan lembah-lembah di Cappadocia. Keajaiban magis di Cappadocia mengundang wisatawan untuk menjelajahi cerita lama, mitos, dan keindahan alam yang indah. Tapi, keindahan sesungguhnya adalah apabila setiap pandangan adalah bersyukur atas nikmat yang Allah berikat pada makhluknya, karena wainta'uddu nikmatallai fala tuhshuha. Di mana pun berada, dalam kondisi apa pun, semuanya indah, asalkan selalu menikmati pemberianNya. 

Oh ia, dalam shahifah Al-Jazeera yang berjudul "Kapadokia...Madinah Turkiyah Mahutah fil Jibal"   bahwa asal usul kata Cappadocia masih banyak diperselisihkan. Beberapa peneliti ada yang mengatakan, bahwa kata Cappadokia berasal dari nama dewa "Khepat", karena daerah di mana dewa ini disembah disebut "Khepat", sementara peneliti yang lain berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari nama putra raja The Asyur Kapadoks. Sedangkan pada periode Persia dinamakan "Katpatuka" dan tampaknya pengucapan ini diadopsi oleh orang Hellenes juga. Diketahui juga bahwa kata "Cappadocia" berarti tanah kuda yang indah, karena kota ini terkenal dengan pembiakan kudanya. (Al-Jazerah).
Jejak tertua pemukiman manusia di Cappadocia berasal dari periode Neolitik. Dokumen tertua yang menjelaskan sejarah secara tertulis Anatolia  adalah "Papan (alwah) Cappadocia", yang berasal dari koloni perdagangan Asiria yang terjadi sekitar 3000 SM. Wow, ada yang mengatakan sejah jutaan tahun. Allahu 'alam. 

Salam Ngaji dari Cappadocia. 



Buyuk Age Amasya, Madrasah Pertama di Dunia dengan Bangunan Oktagonal

Halimi Zuhdy

Ilal liqa' Cappadocia. Setelah saya menikmati berbagai suguhan di Cappadocia, teh dan kopinya, sesekali menikmati roti Simit, yang berbentuk bunder dengan warna luarnya coklat, bisa dicolek dengan keju atau juga dengan daging sapi, dan tidak lupa menyeruput teh Turkinya. 

Kali ini, saya menuju Kota Amasya. Amasya adalah sebuah kota yang mempesona di Turki dengan keindahan alamnya yang menakjubkan dan warisan penuh sejarah. Perjalanan dari Cappadocia menuju Amasya, pertama menuju kota Nevşehir, yang merupakan kota terdekat dengan Amasya, kemudian menuju Kayser, rute ini benar-benar memanjakan mata dengan keindahannya dan suasana pedesaan Turki.
Pertama kali yang saya kunjungi setelah sampai ke kota Amasya adalah Madrasah Buyuk Age, atau lebih dikenal dengan Büyük Aga Medrese. Medrese adalah sekolah agama Islam. Saya coba cari tahu, apa keunikan Madrasah ini (sekolah)?. Saya lihat papan-papan informasi tentang sejarah Buyuk Aga, belum saya temukan. Setelah masuk, di pintu depan saya hanya menemukan beberapa puisi tentang Amasya Destani (Epik Amasya), Ey Türk Gençliği! (Wahai Pemuda Turki!), dan Istiklal Mars (Lagu Istiklal). 

Dan baru saya temukan sedikit keterangan tentang madrasah ini di depan pintu keluar. Di papan berwarna hitam tertulis nama, pendiri dan tahunnya. Büyük Ağa atau Kapı Ağa Medrese terletak di pusat kota Amasya, Turki, di tepi utara Yeşilırmak, tepat di seberang sungai dari kompleks Masjid Bayezid II. Dibangun pada tahun 1489/894 H atas perintah Hüseyin Ağa, perwira senior dan kepala kasim di istana Ottoman, pada masa pemerintahan sultan Ottoman Bayezid II .
Madrasah ini memiliki denah oktagonal unik yang pertama kali digunakan di gedung ini. Untuk membedakan dengan madrasah klasik Ottoman. Dan bangunan ini terdiri dari ruang-ruang santri (pembelajar), masing-masing ditutup dengan kubah kecil, mengelilingi halaman bertiang segi delapan. Ruang kubah terbesar digunakan sebagai ruang kuliah utama dan sekarang untuk pelatihan pemuda setempat menjadi hafız . 

Büyük Ağa Medrese adalah salah satu bangunan bersejarah yang menakjubkan di Amasya, Turki. Medrese ini mencerminkan keindahan arsitektur dan sejarah kota yang kaya. Bangunan ini dibangun dengan menggunakan batu alam setempat yang memperkuat kekokohan arsitekturnya dan memberikan daya tarik tersendiri. Selama masa berdirinya, medrese ini menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan, siswa, dan guru, yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, seni, dan budaya di wilayah Amasya. Dan sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang mengajarkan Al-Qur'an, hadis, fiqh (hukum Islam), bahasa Arab, dan ilmu-ilmu lainnya. 

Selain sebagai lembaga pendidikan, madrasah ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan budaya dan seni. Dalam suasana yang inspiratif, seniman dan sastrawan sering berkumpul di madrasah ini untuk menyegarkan diri dan berdiskusi tentang isu-isu keagamaan dan sosial.
Büyük Ağa Medrese menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat populer di Amasya. Selain karena keunikan bangunannya, juga menjadi tempat belajar Al-Qur'an sebagai sekolah menghafal Al-Qur'an. Pengunjung dari dalam dan luar negeri datang untuk mengagumi keindahan arsitekturnya, menjelajahi sejarahnya yang kaya, dan merasakan atmosfer budaya yang khusus. Saya memasuki beberapa kamar, sangat terasa sekali, bahwa tempat ini tempat menempa ilmu-ilmu agama. 

Minggu, 16 Juli 2023

Pamukkale: Keajaiban Kapas Putih di Tepi Sejarah Turki dan Kehadiran Cleopatra

Halimi Zuhdy

"Güle güle" saya lambaikan tangan pada Efesus, kota kuno yang menjadi kenangan. Kota yang pernah dihuni 6000 SM, sekarang menjadi kota Selcuk, Provinsi Izmir, Turki. Demikianlah, kehidupan di dunia tidak ada yang abadi, semua kekuasaan yang pernah jaya di muka bumi, sirna. 

Setelah melepas Efesus, kini bergerak menuju Pamukkale. Mengikuti rute ini, kita dapat membayangkan perjalanan sejarah Turki dari zaman Yunani kuno, Romawi, Kesultanan Ottoman, hingga masa Turki modern. Melanjutkan perjalanan ke arah timur, saya tiba di Pamukkale. Pamukkale, yang berarti benteng kapas dalam bahasa Turki. Ia sebuah situs alam di Provinsi Denizli di Turki barat daya. Asyik!. Kelopak mata seakan-akan tak mampu dikedipkan, betapa Allah SWT memberikan keindahan pada semesta ini. 
Pamukkale dikenal dengan formasi teras alami yang memukau. Di sini, tangan saya terus memotret setiap lapisan-lapisan putih, sesekali melihat kaki-kaki pengunjung yang merendamkan kakinya di air hangat yang berada di atas teras laksana kapas. Kita, yang pergi ke sini akan merasakan keajaiban alam dengan berjalan melalui teras-teras putih yang terbentuk oleh air panas kaya mineral. 

Tempat ini pula, katanya, dinamakan pemandian kuno yang dikenal sebagai "Pemandian Cleopatra".  Awalnya saya bingung, apa hubungannya dengan Cleopatra?. Bukankah Cleopatra di Mesir?. Ternyata, saking terkenalnya tempat ini, Cleopatra hadir di sini, mungkin ber-SPA ria. Seperti pernah juga saya bertanya-tanya ketika datang ke laut mati, Yordania, Cleopatra pernah berendam di dalamnya dan mengolesi tubuhnya dengan lumpur. Hierapolis mencapai puncak kejayaannya pada masa Romawi, kota ini menjadi destinasi populer bagi orang-orang Romawi yang mencari penyembuhan dan relaksasi di pemandian-pemandian yang terkenal, termasuk "Pemandian Cleopatra" yang dipercaya dikunjungi oleh Ratu Cleopatra. 
Pamukkale Ini bukan ciptaan Yunani, bukan pula Romawi, ini adalah peristiwa alam seperti ciptaan dan keajaiban lainnya di dunia, keajaiban hanyalah diciptakan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh untuk merasakan keagunganNya, di sekitar kita akan terlihat betapa keajaiban itu selalu tampak. Tabarakallah, Maha Suci Allah. 

Pamukkale adalah juga merupakan rumah bagi kota kuno Hierapolis, yang telah menjadi pusat penting pada zaman Romawi. Dengan menjelajahi situs Hierapolis, saya dapat melihat teater Romawi yang besar, beberapa menit saya duduk di kursi batu paling atas, seakan-akan ada berbagai penampilan di bawah sana. Dekat teater  ada papan informasi, bahwa pada periode 2009 - 2013 ada restorasi frons scaenae, dengan rekomposisi urutan pertama, terdiri dari 7 marmer aediculae yang menopang pedimen segitiga dan melengkung. "Saat ini restorasi menawarkan keindahan kepada pengunjung contoh luar biasa dari arsitektur barok Asia Kecil.  Dekorasi marmer, pahatan relief, dan prasasti dedikasi panjang untuk kaisar Septimius Severus (awal abad ke-3 M) menjadikan bangunan ini unik di Mediterania". 
Teater Romawi di Hierapolis digunakan untuk berbagai jenis pertunjukan, termasuk drama, komedi, musik, dan tarian. Pertunjukan-pertunjukan ini membentuk bagian penting dari kehidupan budaya dan hiburan masyarakat Hierapolis. Teater tersebut juga digunakan untuk acara-acara politik, pidato, dan upacara penting lainnya. Teater Hierapolis adalah salah satu teater Romawi terbesar yang masih ada hingga saat ini. Dibangun pada abad pertama Masehi, teater ini memiliki kapasitas yang luas, dapat menampung sekitar 15.000 hingga 20.000 penonton. Angin menyapa, sepertinya tidak bisa lama-lama menikmati panggung teater, karena harus terus bergerah di bekas kota besar ini, Hierapolis. 

Saya berkeliling memasuki ruang-ruang yang berisi berbagai peninggalan zaman Romawi, entah tahun berapaan, sudak tidak sempat mencatat satu persatu. Setiap berkeliling saya melihat lapisan-lapisan yang kaya dan kompleks dari peradaban Yunani, pengaruh Romawi, masa kejayaan Kesultanan Ottoman, hingga zaman Turki modern. Perjalanan dari Efesus ke Pamukkale, saya dapat menghayati jejak sejarah ini, memahami evolusi Turki dari masa ke masa, dan menghargai kekayaan budaya dan warisan yang telah ditinggalkan oleh peradaban yang berbeda.
Mudah-mudahan peninggalan menjadi ibrah bagi kehidupan setelahnya, generasi berikutnya, bukan hanya sebagai tontonan saja. 
{ وَتِلۡكَ ٱلۡأَیَّامُ نُدَاوِلُهَا بَیۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِیَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَیَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَاۤءَۗ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِینَ }
[Surat Ali 'Imran: 140]
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Pamukkale Turki, 08 Juli 2023

Menyingkap Sulthani Caravanserai, Hotel Gratis Pertama di Dunia dan Jejak Sejarah Perdagangan

Halimi Zuhdy

Çok eğlenceli (asyik sekali)!. Saya belum merasa lelah walau sudah beberapa jejak sejarah saya tapaki. Karena, setiap tapak kaki yang menapak ada cerita sejarah dalam peradaban manusia yang hidup di sini. Bursa dengan Ulu Cami, Yesil Cami dan Yesil Turbe-nya, Efesus dengan perpustakaan dan teater-nya,  Pamukkale dengan Hieriapolis-nya dengan formasi geologi uniknya yang disebut "Kastil Kapas". 
Dari Pamukkale, perjalanan dilanjutkan menuju Konya, sebuah kota yang terletak di tengah Anatolia, Turki. Konya terkenal sebagai pusat budaya dan spiritual di Turki, terutama karena menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Rumi, seorang penyair sufi terkenal. Konya juga merupakan pusat dari Kesultanan Seljuk Rum pada masa lalu. Sambil membayangkan tarian Rumi yang terus berputar, kanan kiri tampak bunga-bunga matahari menyapa pagi. 

Di tengah perjalanan terlihat dari jauh bangunan gagah dan megah, seperti istana. Sulthani Caravanserai, nama yang saya dengar pertama kali. Dulu, perjalanan ini disebut dengan jalur sutra, jalur perdagangan internasional pada masanya. Karavanserai berasal dari bahasa Persia ( کاروانسرا kārvānsarāy) yang bermakna penginapan atau hotel, sedangkan dalam bahasa Arab adalah funduq. Caravanserai adalah sebuah penginapan yang berada di tepi jalur perdagangan tempat para musafir (biasanya kafilah dagang) dapat beristirahat dan memulihkan tenaga dari perjalanan panjang.[Al-Maudhu' dan Wikipedia Inggris).
Penginapan yang sempat saya singgahi ini bernama Sulthani Caravanserai. Caravanserai ini terletak di sekitar 130 kilometer timur laut Konya, di wilayah yang kini dikenal sebagai Aksaray. Sulthani Caravanserai dikenal sebagai salah satu caravanserai paling terkenal di Turki dan merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan perdagangan di masa lampau. Saya membayangkan, ada penginapan mewah, dengan berbagai hidangan, gratis pula. Kalau sekarang, setiap tempat yang kita singgahi berbayar, ke toilet saja bayar, belum lagi kalau bermalam. 

Sulthani Caravanserai di Turki adalah penginapan atau hotel pertama di dunia yang menawarkan akomodasi gratis bagi para pengguna jalan. Di masa lalu, caravanserai ini menyediakan tempat persinggahan yang aman dan nyaman bagi para pedagang dan pengembara yang melakukan perjalanan jarak jauh. Mereka dapat beristirahat, mengisi ulang persediaan, dan berinteraksi dengan pedagang lainnya. Apa kira-kira faidahnya? Selain kenyamanan para musafir dan pedagang, mereka dapat menikmati negeri tersebut tanpa rasa khawatir, dan melakukan bisnis terasa lebih nyaman. 

Sulthani Caravanserai mempunyai struktur berbenteng, maka saya kira ini Istana atau benteng perang, bangunan ini dibangun pada tahun 1229, pada masa pemerintahan sultan Seljuk Kayqubad I (memerintah tahun 1220-1237), oleh arsitek Suriah Muhammad ibn Khalwan al-Dimashqi. Setelah sebagian dilalap api, kemudian diperbaiki kembali pada tahun 1278 oleh gubernur Ahmed Kerimeddin bin El Hasan pada masa pemerintahan sultan Kaykhusraw III. 

Menarik, dalam beberapa literatur, musafir atau para tamu di Sulthani Caravanserai diberikan perlindungan dari ancaman perampok dan bahaya alam yang mungkin mereka temui selama perjalanan mereka. Selain itu, caravanserai ini juga menjadi pusat pertukaran budaya, di mana para pedagang dari berbagai negara dapat bertemu, berdagang, dan berbagi cerita serta pengalaman mereka. Tidak hanya sebuah penginapan gratis, tetapi memberikan sensasi pengalaman sendiri bagi mereka. Hanya membayangkan!!. Andai ada rest area (pemberhentian) seperti sekarang dengan model Sultahanj Caravanserai, apa tidak rugi?. Tidak dong, coba saja.
Tidak hanya makanan untuk musafir yang gratis, Caravanserai menyediakan makanan dan minuman untuk hewan-hewan para musafir juga, juga bisa mengambil wudhu, mandi dan shalat. 

Oh, ia setelah saya sampai di tempat Sulthani Caravanserai, saya disuguhi keindahan arsitektur megahnya. Dengan pintu gerbang yang mengesankan dan kamar-kamar yang didekorasi dengan mozaik indah, caravanserai ini menciptakan suasana yang magis di tengah gurun yang tandus. Tapi, sekarang sudah tidak tandus lagi ya, karena banyak bangunan modern yang mengitarinya. Dan hijaunya pepohonan memberikan nuansa indah. 

Ingin sekali bermalam di Sulthani Caravanserai merasakan ingin merasakan pengalaman unik dan tak terlupakan. Tapi, tidak mungkin karena hanya mampir dan mengambil foto-foto untuk kenang-kenangan, dan melirik dinding yang magis. 

Setalah saya menikmati keunikan dan pesona Sulthani Caravanserai, saya sampaikan pada dinding-dinding itu, bagaimana suatu saat saya bisa membangun gedung atau lembaga gratis untuk umat. Bismillah,.biiznillah, bimasyiatillah. 

Salam dari Konya Turki.

Jumat, 14 Juli 2023

Bisikan Nasab, Nasib dan Nisab

Halimi Zuhdy

Nasab terkadang menentukan nasib, di wilayah masyarakat yang menjadikan nasab sebagai penentu nasib. Kemudian nasab dipola sedemikian rupa sehingga ia menjadi urgen dan penting untuk sebuah nasib dan nisab. Tapi, sebaliknya, bagi masyarakat yang nasabnya kurang baik, maka akan berusaha menutupinya dengan menghilangkan nasabnya, agar nasibnya berganti. Dan terkadang minder kalau nasab "dianggap kurang baik", dan ini perlu diobati, karena nasab bukanlah jalan menuju surga. 
Ada yang tak pernah tahu nasabnya, tapi ia selalu berusaha untuk memperbaikinya, agar kelak nasabnya menjadi sejarah baiknya. Tetapi, sekali lagi nasab tidaklah menentukan kebaikan seseorang, kalau ia tidak pernah memperbaiki hidupnya, darah baik nasab yang mengalir dari orang tuanya, kakeknya, dan terus ke atas hanyalah seperti air dipenuhi sampah. 

Darah nasab itu seperti aliran air sungai, dari hulu ke hilir. Kalau air sungainya bersih dan jernih, dan sungainya tidak kotor, dan tidak pula ada sampah, maka airnya akan bersih dan jernih. Tapi, kalau dari hulu bersih kemudian bersama sampah, maka airnya kotor dan akan dipenuhi sampah. Menjijikkan. 

Kalau dari hulu tidak baik (entah dari mana memulainya?), Dan dalam perjalanan airnya baik, disaring, sungainya tidak ada sampah, maka kehilir akan baik. Perlu dipahami, bahwa kemuliaan manusia itu jelas dalam Al-Qur'an, "Inna akramakum iddawi atqamum. Inilah jaminannya, takwa, bukan Innaakramakum indallahi nasabukum". Betul Bukan!!!!.
Kebaikan peribadi seseorang memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan hidup seseorang. Meskipun nasab dapat memberikan beberapa keuntungan atau hak istimewa tertentu dalam beberapa konteks masyarakat, pada akhirnya, sikap, tindakan, dan nilai-nilai pribadi seseorang yang menentukan jalan hidup mereka. 

Beberapa alasan mengapa kebaikan peribadi lebih penting daripada nasab; sikap yang baik, seperti kejujuran, empati, kerendahan hati, dan integritas, adalah faktor-faktor yang mendasar dalam membangun hubungan yang sehat, baik itu dalam lingkungan pribadi, profesional, maupun sosial. Sikap yang baik juga dapat membantu seseorang mengatasi tantangan hidup dengan bijaksana dan memberikan inspirasi bagi orang lain.

Belum lagi kesuksesan pribadi yang ia raih dengan keringat dan darah. Bukan nasab lo ya! Seperti belajar menjadi orang yang bijak, dan selalu berusaha untuk kerja keras, tekun, dan keterampilan pribadi memiliki peran yang lebih besar dalam mencapai kesuksesan pribadi daripada nasab. Orang yang memiliki komitmen, dedikasi, dan semangat yang tinggi untuk mencapai tujuan mereka umumnya akan meraih hasil yang lebih baik daripada seseorang yang hanya mengandalkan nasab atau keuntungan kedudukan.

Oh ia, ada lagi hubungan Interpersonal yang baik, seperti apa? seperi empati, toleransi, dan pengertian, memungkinkan seseorang untuk membangun hubungan interpersonal yang baik. 
Dan masih banyak lagi, ingat nasab tidak akan merubah nasib seseorang, kalau nasibnya tidak diperbaiki, nasab dalam masyarakat tertentu hanyalah sebagai keuntungan pribadi, itu pun "pun", dan Al-Qur'an jelas, 

.. إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَاۤ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ سُوۤءࣰا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ ....
[Surat Ar-Ra'd: 11]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. 

Maka, yang "dianggap punya nasab baik" jagalah nasabnya dengan kebaikan, dan yang "dianggap tidak punya nasab baik" teruslah menjadi terbaik, karen hanyalah Allah yang memiliki otoritas kebaikan dengan hidayahnya dan taufiqnya. 

Salam.
Angkara Turki,  14 Juli 2023

Menelisik Kejayaan Efesus Turki, Yunani dan Peran Kekhilafaan Ustmaniyah

Halimi Zuhdy

Begitu mentari meninggi di Ayvalik Cunda Island, sebuah pulau kecil yang terhampar di laut Aegea, pikiran saya terbayang kota kuno Efesus, saya mencoba mengeksplorasi kota yang penuh misteri. Tapi, tidak mungkin sore ini ke Efesus, terlalu jauh. Saya bergerak menuju Kusadasi,  pantai Ayvalik dengan angin sepoi-sepoi mengusap wajahku, membawa pesan dari zaman-zaman yang telah berlalu. Sedangkan Kusadasi, sebuah kota yang hidup di tepi pantai, seperti juga menantikan kedatanganku. Banyak nama-nama tempat yang masih asing, walau susah saya baca sebelum berangkat, dan terkadang masih terlupa. Tapi, tidak apa-apa, karena di era ini semuanya tersedia tinggal bagaimana kita mengeksplorasinya. 
Kusadasi menyambut dengan keramahan dan kehidupan yang riuh, tapi saya memilih untuk tdak berjalan-jalan di sepanjang pelabuhan dari tempat bermalam. Ketika matahari menyapa pagi, saya siap-siap menuju Efesus untuk melanjutkan perjalanan menuju situs kuno yang legendaris. Indah, dalam perjalanan menuju Efesus melintasi jalan berliku yang membelah perbukitan, melihat panorama alam yang menakjubkan sepanjang perjalanan. 

Begitu tiba di gerbang Efesus, saya melihat reruntuhan yang megah, kolom-kolom yang menjulang tinggi, reruntuhan rumah, dan kuil-kuil yang menghiasi jalan-jalan batu terasa saya berjalan di masa lalu, entah apa yang pernah terjadi di sini. 
Saya mulai mencari tahu di papan-papan sejarah di bekas kota hebat ini, Efesus, saya potret satu persatu, dan saya mencoba baca dengan bantuan penerjemah. Dalam diam, saya merasakan kehadiran Kesultanan Ottoman yang melindungi Efesus. Saya melihat sisa-sisa restorasi yang dilakukan oleh Sultan-sultan Ottoman yang bijaksana, yang telah menolong Efesus dari kemerosotan yang tak terelakkan. Mereka memberikan tangan penyelamatan dan memastikan bahwa warisan berharga ini bisa terus disaksikan oleh mata dunia.

Saya menyusuri setiap sudut Efesus, terpesona oleh kejayaan yang telah sirna namun tetap tak terlupakan. Mengelilingi The Celsus Library yang megah, saya merenung tentang pengetahuan yang pernah terhimpun di sini. Menginjak-injak bangku-bangku teater, saya mendengar suara riuh tepuk tangan penonton masa lalu. Setiap batu dan patung di Efesus mengungkapkan cerita yang begitu dalam dan menyejukkan jiwa.
Perjalanan ini adalah persembahan bagi jiwa yang haus akan sejarah. Dari Ayvalik Cunda Island yang indah hingga Kusadasi yang hidup, dan akhirnya memasuki kawasan Efesus yang mempesona, saya merasakan terhubung dengan zaman-zaman yang telah berlalu. Efesus memberikan kilasan tentang kehidupan manusia yang tak tergoyahkan oleh waktu.

Ketika matahari terbenam, saya meninggalkan Efesus dengan hati yang penuh dengan kenangan yang tak terlupakan. Meninggalkan jejak-jejak sejarah yang menggetarkan, saya membawa pulang kisah-kisah lama dan pemahaman baru tentang perjalanan manusia melintasi ruang dan waktu. Efesus, sebuah tempat yang memungkinkan kita menyentuh jalan yang telah ditempuh oleh mereka sebelum kita.
Efesus awal (akhir milenium ke-7 - 334 SM), ditemukan jejak tertua pemukiman manusia di Epesus ditemukan di Çukuriçi Höyük dan berasal dari awal Chalcolithic (akhir milenium ke-7). Mereka menghuni di bukit yang berdiri bebas dengan lereng berbatu di tiga sisinya, sampai awal abad ke-8 Ayasoluk tetap menjadi satu-satunya pemukiman yang diketahui di wilayah Efesus. Informasi selanjutkan dalam papan informasi yang berada dekat pintu masuk, bahwa sejak akhir Zaman Perunggu, situs Artemision di kaki barat daya juga telah digunakan, dan sejak awal Zaman Besi (paruh ke-2 abad ke-11) telah ada pemukiman. Cerita dan mitos selanjutnya, saya tidak tuliskan di sini. 

Pada tahun 546 bangsa Persia menaklukkan kerajaan Lydia dan Epesus. Pemerintahan kerajaan Efesus berlangsung sampai Alexander Agung (334 SM).  Saya bergerak ke papan sejarah berikutnya, dan sana termaktub bahwa kota Efesus berubah secara signifikan selama Periode Helenistik. Selama perang Diadok dan setelah kematian Alexander Agung, kota ini dihancurkan pada abad ke-1 Maseh, yang dihancurkan termasuk Kerajaan Lysimachus (335-281) 300 SM. Efesus Helenistik adalah pemukiman baru dengan jalan-jalan dalam denah garis vertikal yang didirikan sesuai dengan model hippodamik. Di Kota Bawah, selain Pasar Komersial (Tetragonos Agora), Teater dan Stadion adalah pusat komersial dan budaya, dan di Kota Atas, pusat politik didirikan dengan Agora, Prytaneion, dan Bouleuterion. 

Menyusuri setiap papan sejarah di bekas bangunan kuno ini, semakin banyak informasi menarik tentang Epesus, dan semakin ingin beranjak dari membaca huruf-huruf yang tertata rapi. Kemudian saya cari informasi, kapan kota ini ditemukan lagi setelah hilang berabad-abad?. Nah, di papan terakhir dekan maket kota Efesus saya temukan, "RESEARCH HISTORY OF EPHESOS". Yes! Ketemu. 
Dalam keterangan yang termaktub, bahwa reruntuhan Epesus telah muncul dalam laporan perjalanan abad ke-17 hingga ke-19, maka British Museum di London memulai penyelidikan arkeologi di Epesus. Dengan diarsiteki oleh John Turtle Wood, yang mengarahkan untuk penggalian Efesus pada tahun 1863-1874 dengan bertujuan untuk menemukan Artemision. Dan pada Malam Tahun Baru 1869, Wood menemukan revetmen marmer candi pada kedalaman 7 m.  Selanjutnya dalam papan tersebut, karena penemuan yang diharapkan belum menemukan hasil yang diinginkan, penggalian dihentikan pada tahun 1874, dan kemudian dilanjutkan kembali pada selanjutnya  dengan diawasi oleh David G. Hogarth pada tahun 1904/05 yang merupakan kesimpulan dari penyelidikan Inggris di Epesus (juga ditulis Ephesos). 

Otto Benndorf, Profesor Arkeologi Klasik dari Universitas Wina dan sebagai direktur utama pada Institut Arkeologi Austria, ia menginginkan Epesus menjadi area penelitian sains Austria; inisiatifnya didukung oleh pihak Turki dan Jerman.  Dan adanya sumbangan dari pengusaha Karl Mautner Ritter von Markhof pada bulan April 1895, kegiatan penggalian selanjutnya dimulai. Temuan dari penggalian pertama sebagian diangkut ke Wina dan hari ini dipamerkan di Museum Epesus di Museum Kunsthistorisches.  Dan sejak 1906 semua temuan ditinggalkan di negara asalnya, Turki, dan dapat dilihat di Museum Ephesos di Selçuk. Sejak 1898, izin penggalian tahunan yang dikeluarkan oleh negara tuan rumah digunakan oleh Institut Arkeologi Austria dengan tujuan penelitian topografi, sejarah, dan arsitektur kota. Dan selanjutnya, penelitian, penggalian, terus dilakukan sampai hari ini, saya temukan para pekerja terus bergerak. Mungkin fokus penelitiannya pada sisi-sisi lainnya.

Matahari semakin menyengat, saya berada di tengah-tengah bekas reruntuhan Epesus pukul 12.00. Kebetulan bertepatan dengan musim panas. Bibir, wajah dan seluruh tubuh seperti bersisik, bukan berbisik lo. Saya lupa membawa pelembab. Tapi, asyik. Saya sudah tidak sempat lagi mengambil informasi di setiap papan yang tegak berdiri di setiap lokasi reruntuhan. Hanya beberapa saja. 

Peran Kesultanan Ottoman dalam Preservasi Efesus

Saya membaca berlahan setiap papan informasi, tapi tidak menemukan tentang peran Kesultanan Ottoman (Ustmaniyah) dalam preservasi dan pemeliharaan lembaga Efesus. Mungkin karena ketidak kemampuan dan keterbatasan saya. Saya menemukan informasi tentang Ottoman di turkisharchaeonews. net  yang berjudul "The treasures of Ephesus in the Ephesos Museum in Vienna" dalam artikel tersebut terdapat keterangan bahwa artefak arkeologi yang ditemukan di Efesus dapat dilihat di berbagai lokasi di seluruh dunia. Temuan yang digali antara tahun 1867 dan 1905 dibawa ke British Museum, sedangkan Museum Ephesos di Wina menampilkan banyak artefak yang ditemukan antara tahun 1896 dan 1906, ketika tujuh ekspedisi arkeologi Austria mengangkut temuan ke Wina. Dan pada saat ini banyak artefak dipajang di Museum Arkeologi Efesus di Selçuk, dekat reruntuhan Efesus.
Mengapa para arkeolog Austria dapat memindahkan temuan dari lokasi aslinya ke Wina ?. Karena adanya kesepakatan antara Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) dan Austria.  Abdul Hamid II, Sultan Ottoman pada saat itu, memberikan hadiah kepada Kaisar Franz Joseph: beberapa benda kuno yang telah ditemukan dihibahkan ke Istana, sehingga dapat diekspor untuk digabungkan dengan koleksi di Wina. Dalam berbagai periode pemerintahannya, Ottoman memainkan peran penting dalam melindungi, mendokumentasikan, dan melestarikan warisan budaya Efesus.

Pada abad ke-14, Kesultanan Utsmaniyah memasuki Anatolia dan pada tahun 1390, Efesus menjadi bagian dari kekuasaan Ottoman. Di bawah pemerintahan Ottoman, beberapa langkah diambil untuk melindungi situs bersejarah Efesus. Misalnya, penguasa Ottoman saat itu, Sultan Murad II, memerintahkan restorasi beberapa bangunan kuno yang rusak. Pada abad ke-16, Sultan Suleiman I, juga dikenal sebagai Suleiman yang Agung, melanjutkan upaya restorasi dan melindungi Efesus dari perusakan lebih lanjut.

Selama berabad-abad, Ottoman memainkan peran penting dalam mendokumentasikan Efesus. Pada abad ke-17, seorang pelukis Ottoman bernama Evliya Çelebi dikirim ke Efesus oleh Sultan Murad IV. Evliya Çelebi mencatat deskripsi rinci tentang Efesus dalam bukunya yang terkenal, "Seyahatname" (Buku Perjalanan). Deskripsi yang mendetail ini memberikan pandangan berharga tentang keadaan Efesus pada masa itu, termasuk bangunan dan objek seni yang masih ada. Selain itu, Ottoman juga berperan dalam mempromosikan Efesus sebagai tujuan wisata bagi orang-orang asing. Pada abad ke-19, beberapa diplomat asing dan tokoh terkenal termasuk Sultan Abdulaziz mengunjungi Efesus dan mengagumi keindahannya. Melalui promosi wisata yang dilakukan oleh Ottoman, Efesus semakin dikenal di kalangan wisatawan dan mendapatkan perhatian internasional. 

Kehadiran Ottoman memberikan kesempatan bagi Efesus untuk menjadi pusat perhatian internasional dan menginspirasi upaya pelestarian dan pemeliharaan selanjutnya. Dengan upaya konservasi modern yang berlanjut, Efesus tetap menjadi salah satu destinasi arkeologi terkemuka di dunia, menunjukkan warisan budaya yang tak ternilai dari peradaban Yunani-Romawi. Bagaimana dengan Republik Turki setelah jatuhnya Ottoman?. Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, sehingga Efesus hari ini dilihat dunia, dan menjadi destinasi wisata yang sangat ramai dikunjungi. 

Menjelajahi Efesus, seperti menjelajahi beberapa zaman sejarah. Seperti berada di Borobudur Indonesia, dan jadi teringat Petra yang sempat saya berkeliling di dalamnya. Capek, tapi asyik. 

Maraji' 



Kamis, 13 Juli 2023

Cunda Island; Gereja Taksiyarhis yang Berubah Masjid tanpa Menara, kini dipenuhi Barang Antik

Halimi Zuhdy

Setelah melihat dan membaca sejarah masjid dan makam kuno di Bursa, kini bergerak menuju Ayvalik Cunda Island. Saya mencari informasi, kira-kira ada apa gerangan di kota kuno dengan arsitektur Yunani dan Romawi yang masih terawat?. Ternyata, ada gereja Ortodoks Yunani di pulau cantik ini yang pernah menjadi masjid pada tahun 1927-1928 dan sekarang menjadi museum unik yang ramai dikunjungi. Pulau Cunda terletak di Teluk Edremit di pantai barat laut Turki, di lepas pantai Ayvalık di Provinsi Balıkesir Turki. Terletak 16 kilometer (10 mil) timur Lesbos, Yunani. Pulau ini juga dikenal dengan nama pulau Alibey,  (bahasa Turki: Cunda Adası, Alibey Adası ), bahasa Yunani Moschonisi (bahasa Yunani : Μοσχονήσι atau Μοσχόνησος) l. (diambil dari dokumen Ayvalic di Taksiyarhis). Adasi dalam bahasa Indonesia adalah pulau, atau kepulauan.
Awalnya tidak terlalu tertarik membaca sejarah gereja Ortodoks Yunani (Moschonese) karena saya tidak punya keahlian tentang gereja, tapi setelah membaca papan informasi seputar tempat ini (berbahasa Turkiye) bahwa gereja ini  pernah menjadi masjid, maka saya mencoba melihat warna-warni dinding, bentuk, dan beberapa isi museum ini. Jebrat-jabret, saya memotret beberapa dokumen penting di Museum yang sebelumnya adalah gereja dan masjid.  
Dalam papan informasi yang menempel di Museum Taksiyarhis, bahwa tempat ini adalah sebuah gereja yang dibangun oleh komunitas Ortodoks Yunani (Moschonese) di Pulau Alibey (Cunda) pada tahun 1873, dulunya adalah Gereja Anakent (Metropol). Selama tahun-tahun kebanyakan penghuni pulau Cunda adalah orang Yunani, yang berjumlah sekitar 8.000-10.000.  Gereja ini dikaitkan dengan 'Taksiyarhis', yaitu Malaikat Penjaga Jibril dan Mikail.

Sebagaimana gereja pada umumnya, bangunan ini berbentuk persegi panjang, berbentuk basilika berkubah tunggal dengan gaya arsitektur Neo-Klasik yang banyak digunakan pada masanya. Satu dari dua menara lonceng yang tetap berdiri. Isinya sudah dipenuhi dengan berbagai barang-barang kuno, sehingga saya kurang tertarik melihat lebih jauh barang-barang yang masih terlihat sangat terawat ini. 
Saya mencari informasi lebih jauh tentang berubahnya gereja menjadi masjid ini, tapi nihil, karena selain saya tidak bisa bahasa Turki, juga hanya beberapa jam di pulau Cunda, itu pun menilik 1 gereja Ortodoks Yunani yang sudah berubah fungsi, dan  1 gereja dekat pantai yang sudah rusak dan hanya tinggal puing-puing saja, dan perpustakaan Sevim Necdent Kent Kitapligi yang dipenuhi buku-buku klasik dan di dalamnya terdapat gambar tokoh-tokoh gereja serta nama Allah dan Nabi Muhammad, juga terdapat nama-nama khalifah; Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, serta Hasan dan Husain (sayang, di tempat ini saya tidak bisa ambil gambar, dilarang).

Pada tahun 1927-1928, bangunan gereja Taksiyarhis diganti menjadi masjid tanpa menara. Sementara itu, ikonostasis dibongkar dan penggambarannya dicat ulang. Bangunan yang rusak akibat gempa tahun 1944 itu terbengkalai.Berubahnya gereja ke masjid, saya tidak menemukan hal-hal yang berbau masjid atau tanda-tandanya seperti kaligrafi Arab dan lainnya.  

Arsitektur Gereja Taksiyarhis mencerminkan gaya arsitektur Bizantium dan Yunani klasik. Bangunan gereja ini memiliki kubah besar dengan bentuk tabung yang khas, di atas ruang ibadah utama. Bagian luar gereja terbuat dari batu lokal, sementara bagian dalamnya dihiasi dengan fresko dan ikon tradisional.

Selama bertahun-tahun, Gereja Taksiyarhis berfungsi sebagai tempat ibadah utama bagi komunitas Ortodoks Yunani di pulau Cunda. Namun, pada awal abad ke-20, dengan perubahan politik dan perpindahan penduduk, komunitas Yunani Ortodoks di wilayah itu mengalami penurunan signifikan. Banyak orang Yunani Ortodoks meninggalkan Turki sebagai akibat dari pertukaran penduduk antara Turki dan Yunani pada tahun 1923 setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan Turki.
Setelah komunitas Yunani Ortodoks berkurang, Gereja Taksiyarhis sempat terlantar dan tidak terawat dengan baik. Namun, pada tahun 2011, setelah upaya restorasi yang luas, gereja ini dibuka kembali untuk digunakan sebagai tempat ibadah oleh komunitas Ortodoks Yunani yang tersisa di pulau Cunda.

Selain sebagai tempat ibadah, Gereja Taksiyarhis juga menjadi daya tarik wisata yang populer bagi pengunjung pulau Cunda. Keindahan arsitekturnya yang unik dan suasana sejarah yang kental menjadikannya tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan yang tertarik dengan warisan budaya dan arsitektur gereja di Turki. Dan pada tahun 1976, terdapat 17.900 hektar Ayvalık dan sekitarnya dinyatakan sebagai situs alam dan sejarah. Dengan keputusan bernomor 28.10.1989-1795, Gereja Taksiyarhis didaftarkan oleh Badan Pelestarian Warisan Budaya dan Alam Bursa. 
Dalam papan informasi yang ada di museum ini, tertulis bahwa kelompok lindung Gereja Taksiyarhis, yang terdaftar sebagai benda budaya tak bergerak yang harus dilindungi, telah ditetapkan sebagai kelompok 1 sesuai dengan keputusan prinsip Dewan Tinggi Perlindungan Aset Budaya dan Alam, tertanggal 11-05-1999 / 660.

Dari Gereja Taksiyarhis, saya berjalan menyusuri gang-gang tua, kanan kiri dipenuhi bangunan masa Yunani Kuno. Dan di atas puncak pulau Cunda ini terdapat perpustakaan cantik dengan kincir anginnya yang melambai-lambai, Sevim Necdent Kent Kitapligi. Berada di puncak pulau ini, dapat melihat keindahan pulau Cunda dengan bangunan tua peninggalan Yunani dan Romawi. 

 

Senin, 10 Juli 2023

Yesil Cami, Masjid Hijau Penuh Pesona Peninggalan Ottoman

Halimi Zuhdy

Bursa adalah kota pertama yang saya kunjungi. Setelah mendarat di Bandara Internasional Istambul, beberapa jam kemudian menuju kota Bursa. Dalam perjalanan menuju kota kuno ini, mata dibuat tidak berkedip memotret keindahan pemandangan alam Turki. Mata seperti dimanja, mau memandang apa saja tampak begitu mempesona. Melewati pegunungan yang megah, hutan yang hijau, dan lembah yang subur, menciptakan latar belakang yang artistik, belum lagi lautan dan sampannya yang memikat hati untuk ikut bergelombang di dalamnya, lautan dan langitnya seperti menyatukan cinta. 
Ketika saya mendekati kota Bursa, pesona sejarahnya mulai memikat. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota tertua di Turki dan memiliki sejarah yang kaya dengan peninggalan-peninggalan penting. Pernah dijuluki "Hadiah Tuhan" dalam bahasa Turkinya Hüdavendigar, sekarang lebih dikenal dengan Yesil Bursa (Bursa Hijau).  Kota Ini, merupakan ibu kota besar pertama dari keseluruhan dua wilayah Kehilafahan Utsmaniyah antara tahun 1335 dan tahun 1363, arsitektur tradisional Turki yang terlihat di sepanjang jalan dan sangat terasa sekali aura kuno yang masih terasa di setiap sudutnya. Oh, ia   yang ingin ke sini, jangan lupa siapkan camera untuk merekam bangunan-bangunan kuno dengan aura magisnya. 
Sebelum ke Yesil Cami saya mengunjungi Masjid Ulu Cami. Wudhu' terlebih dahulu sebelum masuk dan shalat tahiyyah Masjid, sambil menikmati sentuhan kaligrafinya. Selanjutnya, melanjutkan perjalanan menuju Masjid Yesil Cami, yang terletak tidak jauh dari Masjid Ulu Cami. Ketika memasuki kompleks masjid ini, kita akan terpesona oleh keindahan arsitektur kekhalifahan Utsmaniyah yang elegan. Batu hijau yang menghiasi dinding dan menara menambahkan sentuhan unik yang membedakan masjid ini dari yang lain. Maka, kemudian masjid dikenal dengan dengan sebutan Masjid Hijau (Green Musque). Di dalamnya, banyak sekali hiasan kaligrafi yang halus dan ornamen yang memukau yang mencerminkan keanggunan seni Islam. Dan tentunya warna hijau yang paling banyak menyelimuti masjid ini. 
Kata "Cami" bahasa Turki, kalau dalam bahasa Arab adalah Jami', kata Cami diserap dari bahasa Arab yaitu jamik (جامع). Kalau dalam bahasa Indonesia, lebih dikenal dengan Masjid Jamik, atau Masjid Raya, atau Masjid Agung, Cami adalah Masjid besar yang dibuat shalat berjamaah lima waktu dan shalat Jum'at. Kata "Ulu" dalam bahasa Turki, bermakna agung. Sepertinya, kata ini serapan juga dari bahasa Arab, yaitu 'uluw (علو، عالى) bermakna tinggi atau agung. Ulu Cami, bermakna Masjid Raya, atau Masjid Agung Jami. Wow, nama-namanya ternyata dari bahasa Arab. Sedangkan Yecil (Yeşil) bermakna hijau, Yecil Cami, adalah masjid Hijau.

Masjid Yesil Cami dikelilingi taman bunga yang indah, menciptakan suasana yang tenang dan damai di sekitarnya. Saya dapat menikmati keindahan alam dan menikmati momen yang tenang di lingkungan sekitar masjid.

Dalam Al-Ma'rifah, pembangunan Yecil Cami dimulai pada tahun 1413 M (dengan sumber yang berbeda mengenai tanggal ini).  Sepeninggal Sultan, putranya, Sultan Murad II, menyelesaikan pembangunan masjid pada Desember 1419 M atau Januari 1420 M. Masjid ini merupakan bagian dari kompleks yang lebih besar yang mencakup sebuah madrasah, taman, serta makam Sultan Mehmet I dan keluarganya. Konstruksi masjid ini selesai pada tahun 1424 di bawah pemerintahan Sultan Murad II.

Dua ruang ibadah simetris di kanan dan kiri masjid digunakan untuk membicarakan hal-hal yang berasal dari para sanjak (Sanahik, pemerintah daerah).  Ruangan timur diperuntukkan bagi mereka yang berasal dari Beylerbeylik Anatolia (tanah Kesultanan Utsmaniyah yang terletak di bagian Asia), sedangkan ruangan barat dibuat untuk Rumeli Beylerbeylik (tanah Kesultanan Utsmaniyah yang terletak di kawasan Eropa). Belakangan, kedua ruangan tersebut digunakan sebagai ruang sidang (Al-Ma'rifah). 

Dalam perjalanan ini, saya melihat kombinasi keindahan alam dan keajaiban arsitektur Islam yang membuat Turki begitu memikat, apalagi kalau mengingat masa lalu bagaimana kekhilafahan Utsmaniyah berkembang. Setiap langkah kaki di sini, lebih dekat pada warisan budaya dan spiritualitas yang hidup di Masjid Ulu Camii dan Masjid Yesil Cami. Anda akan meninggalkan dengan kenangan yang tak terlupakan dan pengalaman yang memperkaya jiwa.
#NgajiTurki3

Minggu, 09 Juli 2023

Dinding Masjid yang Berbicara, Bursa Turki

(Salah Satu Contoh Seni Kaligrafi Arab Islam terbesar di dunia)

Halimi Zuhdy

Ada yang melarang mengukir dinding-dinding masjid dengan kaligrafi Arab dan menggantung lampu-lampu hias karena dianggap mengganggu kekhusyukan. Tidak hanya kaligrafi   yang dilarang, tapi juga jam dinding yang menempel di depan, dinding yang penuh ukiran pun jadi santapan amarah. Ya, namanya perbedaan diterima saja, asalkan tidak kemudian sampai mengharamkan. Di Turki dan beberapa negera lainnya, tulisan kaligrafi menjadi pesan indah di setiap dinding-dinding masjidnya. 
Di Masjid Bursa Turki, atau juga dikenal dengan Ulu Camii, dinding-dindingnya dipenuhi dengan gantungan kaligrafi Arab, penuh pesan indah dan sangat berharga. Setiap melihat dindingnya, seperti melihat risalah kenabian. Dindingnya seperti berbicara mengajak orang yang mendatangi masjid untuk berdialog, merenung dan berfikir. Dan rerata masjid-masjid di Turki dipenuhi tulisan kaligrafi Arab, tidak hanya masjid tapi juga makam-makam sultan, seperti makam Sultan Mahmud dekat Green Musque yang juga terletak di Bursa.  
Di Masjid Bursa ini, penulis pindah dari satu dinding ke dinding lainnya, menikmati setiap ukiran katanya, pesannya, warnanya, beberapa kalimat itu bertuliskan; Allah mufattihul Abwab (الله مفتح الابواب), wasyawrihum fil amr (وشاورهم في الأر) wallahu minwaraihim muhiht (الله من ورائهم محيط) fa'lam Annahu Lailaha Illallah (فاعلم أنه لااله الا الله), Allahu nurun Ala nur (الله نور على نور), Wallahu Ghalibu Amrih (الله غالب أمره) dan ratusan tulisan indah lainnya. 
Dalam Tarikh Masjid Ulu Camii (اولو جامع بورصة) bahwa pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, 192 lukisan dan grafiti kaligrafi Arab dibuat di dalam masjid ini oleh para ahli kaligrafi yang berbeda. Penulisan kaligrafi dilakukan oleh kaligrafer Ottoman (ustamaniyah) paling terkenal saat itu, dan masjid ini dianggap sebagai salah satu contoh seni kaligrafi Arab Islam terbesar di dunia. Dan ahli kaligrafi paling terkenal pada masa itu dikirim dari Istanbul atas perintah Sultan Abdülmecid I untuk melukis prasasti besar di dalam masjid. Ada lukisan kaligrafi di dinding dan di kolom persegi, serta dalam bentuk lukisan kecil dan sangat besar yang tersebar dengan hati-hati di dalam masjid. Sebagian besar tulisannya adalah ayat-ayat Alquran, hadits kenabian, dan nama-nama Allah yang paling indah.
Sedangkan dalam Wikipedia berbahasa Inggris, Grand Mosque of Bursa, bahwa Masjid ini berisi 192 prasasti dinding monumental, yang terdiri dari 87 komposisi berbeda yang ditulis oleh 41 ahli kaligrafi utama Utsmaniyah pada periode itu. Sebagian besar kaligrafi berasal dari antara tahun 1778 dan 1938. Kaligrafi dilukis di dinding, kolom, dan pada pelat atau medali kecil dan besar. Komposisinya meliputi ayat-ayat Al-Qur'an , hadits, 99 nama Allah , berbagai nama Nabi Muhammad , dan nama ulama besar Islam. Sungguh sangat luar biasa. Dan sampai hari ini, tulisan-tulisan itu masih cantik dan mempesona. 
Masjid Bursa yang juga dikenal sebagai Masjid Ulu Camii, adalah salah satu keajaiban arsitektur Islam di Bursa, Turki. Dibangun pada abad ke-14 oleh Sultan Bayezid I, masjid ini menjadi monumen penting dalam sejarah dan warisan Turki. Konstruksi Masjid Bursa dimulai pada tahun 1396 dan selesai pada tahun 1399. Didesain oleh arsitek terkenal, Ali Neccar, masjid ini mencerminkan gaya arsitektur Utsmani yang elegan dan megah. Bagian terkenal dari masjid ini adalah kubahnya yang besar, menara-menaranya yang menjulang tinggi, dan batu marmer yang indah yang digunakan dalam pembangunannya.
Selama berabad-abad, Masjid Bursa telah mengalami perluasan dan renovasi yang berulang kali. Pada abad ke-16, Sultan Selim II menambahkan kursi emas dan lampu gantung yang spektakuler ke dalam masjid. Kemudian pada abad ke-19, Sultan Abdulmecid I melakukan perbaikan besar-besaran dengan menambahkan mihrab yang indah dan menara menakjubkan yang dikenal sebagai "menara kembar".
Masjid Bursa bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial, budaya, dan keilmuan. Di sekitar masjid terdapat medrese (sekolah Islam) dan perpustakaan yang kaya akan pengetahuan. Masjid ini juga menjadi tempat penting dalam sejarah politik dan keagamaan Turki, menjadi tempat pemahkotaan beberapa sultan Utsmani.

Dalam sejarahnya yang panjang, Masjid Barus selalu menjadi saksi dari perubahan dan perkembangan Turki. Keindahan arsitektur, ornamen-ornamen mozaik dan kaligrafi yang rumit, serta atmosfer yang penuh spiritualitas, semuanya menjadikan Masjid Bursa sebagai daya tarik wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun internasional.
Sebagai sebuah monumen bersejarah yang tak tergantikan, Masjid Bursa terus menginspirasi dan mengagumkan para pengunjungnya. Sejarahnya yang kaya dan keindahannya yang mempesona membuatnya menjadi salah satu ikon yang paling berharga dalam warisan budaya Turki.

Maraji';
Tarikh Ulu Jami' (Camii), dan beberapa sumber lainnya. 

#NgajiTurki2

Sabtu, 08 Juli 2023

Menginjakkan Kaki di Bekas 5 Peradaban Besar Dunia, Turkiye

Halimi Zuhdy

Sudah lama sekali ingin menginjakkan kaki di tanah seribu budaya ini. Ingin melihat sejarah panjang dari berbagai peradaban yang pernah hadir di wilayah yang terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Laut hingga daerah Balkan di Eropa Tenggara. Negeri yang dijuluki Gerbang Barat dan Timur, karena Negara ini berada di posisi geografis yang sangat strategis antara benua Eropa dan Asia. Posisi ini menjadikan tanah Bisyarah Nabi ini sebagai gerbang utama dari peradaban Barat dan Timur. 
Dulu, tahun 2010, penulis sudah hampir berangkat, hanya tinggal satu langkah, tapi gagal. Penelitian tahun 2010 lalu sempat meneliti tentang Pengaruh Sastra Arab terhadap Sastra Turki, dan juga pernah menulis penelitian tentang pembelajaran sastra Arab bagi non-Arab (Turki) di Univeritas Istambul. Tahun berikutnya, pindah ke Yordania dan beberapa negera lainnya. Tahun 2019 penulis mencoba lagi, menulis proposal penelitian kolaborasi Internasional tentang Kekhilafahan Turki, dan diterima, ketika siap berangkat tiba-tiba dibatalkan, karena corna hadir begitu mengejutkan. Gagal lagi. Alhamdulillah, tahun 2022 mencoba lagi, dan diterima tentang moderasi beragama di Turki. Dan kini, penulis berada di Turki, siap-siap meneropong sedikit tentang Turki. Asyik Kan!!

Niat penulis ke luar negeri bukan hanya visit (siyahah), tapi bagaimana mendapatkan banyak cerita dan menemukan sesuatu yang berharga. Biidznillah, terget ke luar negeri setiap tahun bisa tercapai, tentunya cari yang gratisan lo.wkwwk. gratis dengan usaha maksimal. Al-insanu buttafkir wallahu bittaqdir.

Beberapa tulisan yang akan hadir, ketika penulis berada di Turki, tidak akan mengupas tentang hasil penelitian, karena ia punya cerita sendiri, apalagi sudah jadi buku dan jurnal. Penulis Hanya akan bercerita perjalanan di Turkiye, tentang sedikit hal yang diketahui, terutama terkait dengan budaya, bahasa, sastra, dan wisata (tempat-tempat bersejarah dan kuliner). 

Kurang asyik rasanya bila hanya melihat Turki hari ini. Maka perlu ditilik, kapan negeri ini hadir?!. Turki adalah sebuah negara yang memiliki sejarah panjang dan peradaban yang kaya. Wilayah yang sekarang dikenal sebagai Turki telah menjadi pusat peradaban lintas masa selama ribuan tahun. Dalam Tarikh Jumhur Al-Turkiyah dan Tarikh 'imran Turkiyah Abra al-zaman, dapat diketahui periode penting dalam sejarah Turki dan peradaban yang berkembang di dalamnya. Dimulai dari peradaban Kuno Anatolia. 

Anatolia adalah wilayah yang sekarang merupakan bagian dari Turki, telah menjadi tempat tinggal bagi berbagai peradaban kuno. Salah satu peradaban paling awal di wilayah ini adalah peradaban Het yang berkembang pada milenium ke-18 SM. Mereka diduga sebagai nenek moyang bangsa Het yang terkenal dalam mitologi Yunani dan legenda Troia. Kemudian, Anatolia juga menjadi pusat bagi peradaban Hatti, Hittite, Phrygia, Lydian, dan Lycian. Kota-kota seperti Troya, Efesus, dan Halicarnassus adalah contoh-contoh terkenal dari masa lalu kuno Anatolia. Selain orang-orang Turki, ada juga bangsa Kurdi, dan keturunan lainnya di wilayah ini. 

Selain peradaban Anatolia, adalah Kekaisaran Romawi dan Bizantium. Pada abad ke-1 SM, wilayah Anatolia menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi. Anatolia menjadi salah satu pusat penting dari Kekaisaran Romawi Timur yang dikenal sebagai Bizantium. Ibukota Bizantium, Konstantinopel (sekarang Istanbul), menjadi salah satu kota terkaya dan terpenting di dunia kuno. Bizantium melestarikan banyak elemen budaya Yunani dan Romawi, sambil mengembangkan tradisi dan warisan budaya yang unik. Penulis pernah merambah, bagaimana bekas-bekas Romawi di beberapa negera Arab, sungguh menakjubkan. Romawi dan Bizantium pernah hadir di Turki.

Berikutnya, adalah Kesultanan Seljuk. Pada abad ke-11, suku Turkic Seljuk memasuki Anatolia dan mendirikan Kesultanan Seljuk Raya. Kesultanan Seljuk menggabungkan elemen budaya Turkic dengan budaya Arab dan Persia, menciptakan perpaduan unik yang memengaruhi seni, sastra, dan arsitektur. Salah satu contoh terkenal dari masa ini adalah Masjid Agung Seljuk di Kota Konya dan gerbang monumental Alanya. Ingin sekali, melintas di Konya tempat Jalaluddin Rumi disemayamkan. Tapi, belum ada kesempatan.

Dan yang paling luar biasa adalah hadirnya Kekaisaran Ottoman, atau Utsmaniyah. Ottoman atau Ustmaniyah ini diambil dari nama pendirinya, yaitu Osman. Pada abad ke-13, Kesultanan Seljuk Raya di Anatolia digantikan oleh Kekaisaran Ottoman yang berbasis di wilayah yang sekarang menjadi Turki modern. Kekaisaran Ottoman berkembang pesat dan menjadi salah satu imperium terbesar dalam sejarah dunia. Selama berabad-abad, Kekaisaran Ottoman mengendalikan wilayah yang luas di Eropa, Asia, dan Afrika. Istanbul menjadi ibukota dan pusat kekuatan kekaisaran ini. Seni, arsitektur, dan sastra Ottoman mencerminkan campuran budaya Turkic, Arab, Persia, dan Yunani. Tidak ada yang abadi di muka bumi, kekaisaran Ottoman atau Ustmaniyah runtuh pada awal abad ke-20. Dan baru kemudian muncul Republik Turki modern yang didirikan pada tahun 1923 di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Atatürk. 

Atatürk memimpin transformasi besar-besaran di negara ini, termasuk penghapusan sistem kekaisaran dan pendirian negara yang sekuler. Dia juga meluncurkan serangkaian reformasi sosial, politik, dan budaya yang bertujuan untuk modernisasi Turki. Selama periode ini, Turki mengadopsi alfabet Latin, dan banyak perubahan lainnya terjadi dalam politik, pendidikan, dan masyarakat Turki. Ini yang menarik untuk penulis ulas, kemana bahasa Arab? Yang selama masa Ottoman berkibar!. Insyallah kajian berikutnya. 

Dan kini, Turki atau Turkiye terus menjadi negara yang penting secara geopolitik dan memiliki peradaban yang kaya lintas masa. Dari peradaban kuno Anatolia hingga Kekaisaran Ottoman, warisan budaya Turki terlihat dalam seni, arsitektur, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Kombinasi elemen budaya Turkic, Arab, Persia, dan Yunani telah menciptakan identitas unik bagi negara ini, yang terus berkembang hingga saat ini. Allahu'alam Bishawab. 

#NgajiTurki1


Rabu, 05 Juli 2023

Bolehkah menggunakan kata "Ziarah" untuk Orang Haji?

Halimi Zuhdy

Beberapa hari yang lalu, ada ibu-ibu jamaah protes pada salah satu ustadzah, tentang penggunaan kata "Ziarah Haji". Kata beberapa ibu-ibu itu, bahwa penggunaan kata ziarah itu hanya untuk kuburan. "Masak sambang pak kaji, dibilang ziarah. Ngawur, ziarah itu ke kuburan!, Ziarah wali, ziarah kubur, bukan ziarah haji!". 

Kemudian ustadzah ini telpon saya, bertanya tentang, "Benarkan kata ziarah itu hanya digunakan untuk ziarah ke kuburan?!".

Toyyib. Pertama, harus dipahami dulu arti kata ziarah. Kedua, penggunaan kata ziarah dalam kalimat yang biasa digunakan orang Arab. Dan ketiga penggunaan kata serapan (yang lazim) dalam bahasa tersebut. 

Dalam bahasa Arab, kata "ziarah" berasal dari kata zara-yazuru yang bermakna seseorang yang  mendatangi suatu tempat, atau mengunjungi seseorang. Dan kata ziarah memiliki banyak arti, tergantung pada kalimat setelahnya. 

زار: فلانًا أتاه بقصد الالتقاء به، قصده لأنس أو حاجة

Ziarah: "Fulan mendatangi seseorang untuk menemuinya, dengan maksud tertentu". Dalam penggunaannya dapat digunakan secara umum, seperti ziarah kubur (زيارة القبر), ziarah tempat-tempat suci (زيارة الاماكن المقدسة), dosen tamu (استاذ زائز), ziarah pada orang sakit (زيارة المرض في المستشفى) dan lainnya. 

Dalam bahasa Arab, kata mengunjungi  banyak padanannya, ada yang menggunakan iyadah maridh (sambang orang sakit), dzihab, maji', khudur, ityan, ta'ziyah (ziarah orang meninggal) dan lainnya.

Dan dalam menyambut orang haji dalam bahasa Arab menggunakan kata "istiqbal" seperti dalam bab hukum menyambut orang haji.

في مسألة استقبال الحاج بفرحة ووليمة العودة من الحج، قال ابن عباس رضي الله عنهما:” لو يعلم المقيمون ما للحجاج عليهم من الحق لأتوهم حين يقدمون حتى يقبلوا رواحلهم لأنهم وفد الله في جميع الناس”.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0WYaT7wZv25SuSTYgwED7fFruGhLmKfNSK3rHkhzeZ37qUj7dkdANyKBTwQqPMgvgl&id=1508880804&mibextid=Nif5oz

Dan juga menggunakan kata talaqqi (menjumpai, menemui)

وقال ابن المنير: من الفقه جواز تلقي القادمين من الحج، لأنه عليه الصلاة والسلام لم ينكر ذلك بل سرته لحمله لهما بين يديه وخلفه.

Kata "Ziarah Haji" sangat benar dan dibenarkan, tidak menyalahi bahasa Arab dan juga tidak menyalahi bahasa Indonesia. Hanya saja, dalam KBBI (mungkin perlu direvisi) makna ziarah, kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (makam dan sebagainya); kalau hanya dibatasi pda makan dan tempat keramat, maka ada penyempitan makna. 

ber·zi·a·rah v berkunjung ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (seperti makam) untuk berkirim doa;

Karena asal dari kata ini bermakna mengunjungi. Dan kata ziarah digunakan dalam banyak hal, seperti ziarah saudara, ziarah kubur, ziarah wali, ziarah madinah dan lainnya. 

ومن مكارم الأخلاق القيام للترحيب بالقادمين من بيت الله الحرم وتكريمهم بالزيارة والفرحة وتهنيئتهم بأداء مناسك الحج.

Di antara etika seseorang muslim yang baik adalah menyambut gembira orang yang baru datang dari ibadah Haji, dengan memuliakan mereka, mengunjungi (ziarah), bergembira, dan mengucapkan selamat atas ibadah yang telah ditunaikan. 

Wallahu'alab Bishawab

***

💳 *Pondok Darun Nun Membangun* Pesantren Darun Nun lagi membangun Asrama dan Aula Mengaji santri. Bagi yang ingin berpartisipasi dalam investasi dunia akhirat atau infaq dapat disalurkan di Bank BTN a.n Pondok Pesantren Darun Nun *(00114 -01-50-004106-2)* 💰 _Bersedekah dan berinfak tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah ada habis-habisnya..._

Pondok Literasi, Membangun Negeri.✒️