السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 08 April 2026

Ramadan dan Misteri Setan yang Terpasung


Halimi Zuhdy

Bagaimana jika selama ini kita terlalu sering menjadikan setan sebagai “tersangka utama”, padahal kunci selnya justru ada di tangan kita sendiri? Ramadan yang sering kita dengar membawa kabar bahagia bahwa pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. 
Pengumuman kosmis yang seharusnya mengguncang batin kita, bahwa ada musim ketika kejahatan dilemahkan dan kebaikan dipermudah. Namun di tengah kabar agung dan bahagia itu, terselip sebuah misteri, mengapa hati masih mudah keruh, lidah tetap tajam, dan ego enggan tunduk, bermaksiat jalan terus, ghibah lancar? Jangan-jangan, yang paling sulit dipasung bukanlah setan di luar sana, melainkan nafsu yang bersemayam tenang di dalam dada.

Lah, hadis yang sering kita dengar setiap Ramadan tiba; 
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّار، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Hadis ini jelas dan sahih. Tapi pertanyaannya juga sederhana: kalau setan dibelenggu, kenapa masih ada orang marah-marah, menipu, menyebar fitnah, bahkan berbuat maksiat di bulan Ramadan?

Penjelasan para ulama sebenarnya sangat logis. Dalam penjelasan Dar al-Ifta Mesir, disebutkan beberapa tafsir ulama klasik seperti al-Qurthubi dan Ibnu Hajar. Ada yang mengatakan yang dibelenggu itu sebagian setan saja, yaitu para pembangkang (المَرَدَة), bukan semuanya. Ada juga yang memahami bahwa pembelengguan itu membatasi ruang gerak mereka, bukan menghilangkan sepenuhnya godaan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, mengutip penjelasan Qadhi ‘Iyadh, menyebutkan bahwa makna “tashfid” (تصفيد) bisa bersifat hakiki atau maknawi. Maksud maknawi di sini, bahwa di bulan Ramadan, suasana ibadah meningkat, pahala dilipatgandakan, orang lebih banyak berzikir dan berpuasa. Akibatnya, pengaruh setan melemah. Mereka seperti “terikat”, karena peluangnya makin kecil. Artinya, Ramadan bukan bulan tanpa ujian. Ia hanya membuat ujian itu lebih ringan.

Bahkan ada hadis lain yang memperjelas bahwa setan tetap punya celah selama manusia lalai. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إن الشيطان يجري من الإنسان مجرى الدم
“Sesungguhnya setan berjalan dalam diri anak Adam seperti aliran darah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini disampaikan Nabi ketika beliau menjelaskan kepada dua sahabat bahwa wanita yang berjalan bersamanya adalah istrinya, Shafiyyah r.a., agar tidak muncul prasangka. Peristiwa itu terjadi di bulan Ramadan saat beliau sedang i’tikaf. Pesannya، bahkan di Ramadan, manusia tetap harus menjaga hati dan pikiran. Di sinilah letak masalah yang sering kita lupakan.

Al-Qur’an sendiri menyebut faktor lain selain setan, yaitu hawa nafsu:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada keburukan."(QS. Yusuf: 53)

Jadi kalau di Ramadan masih ada dosa, bisa jadi itu bukan karena setan bebas, tapi karena nafsu kita yang belum dididik. Kebiasaan buruk yang sudah lama dipelihara tidak otomatis hilang hanya karena masuk bulan suci.

Ramadan sebenarnya adalah bulan latihan. Kita dilatih menahan lapar agar belajar menahan keinginan. Kita menahan marah agar belajar mengontrol emosi. Kita mengurangi tidur agar belajar disiplin. Kalau latihan ini gagal, berarti masalahnya bukan pada setan, tapi pada keseriusan kita.

Penjelasan al-Qurthubi juga sangat realistis. Ia mengatakan, berkurangnya kejahatan di Ramadan itu nyata, tapi bukan berarti hilang total. Karena sumber keburukan tidak hanya dari setan, tapi juga dari kebiasaan buruk dan “setan manusia”.

Maka, memahami “setan dibelenggu” seharusnya membuat kita berhenti menyalahkan pihak luar. Ramadan memberi kondisi yang lebih bersih, lebih ringan, lebih penuh rahmat. Kalau dalam kondisi seperti itu kita tetap tergelincir, berarti yang perlu dibenahi adalah diri sendiri.

Ramadan bukan bulan yang menghapus dosa secara otomatis. Ia adalah bulan yang mempermudah kita meninggalkan dosa. Selebihnya, keputusan tetap ada pada manusia. Setan mungkin dipasung. Tapi nafsu tidak otomatis patuh. Dan di situlah perjuangan sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar