السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 08 April 2026

Perang, Kemanusiaan, dan Dunia yang Kehilangan Nurani


Halimi Zuhdy

Sudah tak ada lagi gigi taring di lembaga PBB, dunia tak peduli aturan perang, toh kalau ada aturannya hanya sebatas tulisan saja dan teori. Tak diindahkan. Sudah berapa pelanggaran perang yang dilakukan oleh Zeon** dan Mamarika*, tak lagi peduli aturan perang. Bahkan mereka abai and cuek banget. Ketika bom jatuh tanpa membedakan, ketika sipil terus menjadi korban, dunia memilih diam. Ini bukan lagi sekadar kegagalan hukum, ini adalah kegagalan nurani yang dipertontonkan di hadapan umat manusia. Sungguh mengerikan. Bebas membunuh kepala negara, bebas mengirim bom, sudah tak ada lagi kedaulatan, yang ada hanya kebuasan. 

Yuk! Sebentar saja, melihat peperangan yang langsung dikawal oleh Nabiallah, Muhammad. Di dalam Islam, perang bukanlah panggung kebebasan untuk melampiaskan amarah. Ia justru dibatasi dengan aturan yang ketat, seolah-olah Islam ingin mengatakan "bahkan dalam kekerasan pun, kemanusiaan tidak boleh mati". Beda banget, dengan hari ini, 140 lebih anak-anak di sekolah dihabisi. Biadab banget. Belum lagi Gaza. 

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sejak awal telah menetapkan etika perang yang sangat jelas. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

 “Beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak dalam peperangan.” (HR. Bukhari No. 3015, Muslim No. 1744)

Bahkan dalam riwayat lain, ketika mengutus pasukan, beliau berpesan:

“Berangkatlah dengan nama Allah… jangan kalian membunuh orang tua renta, anak kecil, dan perempuan, jangan berkhianat, dan jangan melampaui batas.” (HR. Abu Dawud)

Tidak berhenti di situ, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam juga menegaskan perlindungan terhadap para ahli ibadah:

“Jangan membunuh para rahib di tempat ibadah mereka.” (HR. Ahmad)

Dan dalam etika perang yang lebih luas, beliau bersabda: “Jangan berkhianat, jangan berlebih-lebihan, dan jangan mencincang (mayat).” (HR. Muslim)

Semua ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam bukan tentang menghancurkan segalanya, tetapi tentang menghentikan kezaliman dengan tetap menjaga nilai kemanusiaan.

Namun hari ini, dunia menyaksikan sesuatu yang berbeda. Bom tidak lagi memilih antara tentara dan anak-anak. Rudal tidak lagi membedakan antara markas militer dan rumah sakit. Bahkan dalam banyak konflik modern, termasuk yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika dan Israel, serangan justru sering mengenai wilayah sipil.

Padahal, dalam prinsip Islam, sasaran perang sangat jelas "hanya mereka yang ikut berperang". Rasulullah shalallahu bahkan pernah marah ketika menemukan seorang wanita terbunuh di medan perang, lalu beliau bersabda:

 “Ia tidak ikut berperang.” (HR. Bukhari)

Kalimat singkat ini menjadi prinsip besar: tidak semua yang berada di wilayah musuh boleh dijadikan target.

Hari ini, kenyataan sering berkata lain.

Rumah sakit hancur. Sekolah rata dengan tanah. Tempat ibadah tak luput dari serangan. Padahal Islam dengan tegas melarang kerusakan: “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi." (QS. Al-Qashash: 77)

Dalam praktik para sahabat, bahkan pohon pun tidak boleh ditebang sembarangan, apalagi menghancurkan fasilitas publik yang menjadi sandaran hidup masyarakat.

Lebih jauh lagi, Islam tidak hanya mengatur saat menyerang, tetapi juga saat musuh telah tak berdaya. Dalam soal tawanan, Allah berfirman:

“Dan mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mencontohkan perlakuan yang sangat manusiawi, memberi makan tawanan, menjaga kehormatan mereka, bahkan membuka jalan pembebasan.

Bandingkan dengan sebagian praktik modern: penahanan tanpa proses, tekanan psikologis, hingga dugaan penyiksaan. Di titik ini, perang tidak lagi sekadar konflik, tetapi berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Islam juga menutup pintu bagi segala bentuk pengkhianatan dan teror. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Setiap pengkhianat akan memiliki bendera pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan beliau menegaskan bahwa rasa aman tidak boleh dilanggar:
“Barangsiapa membunuh orang yang memiliki perjanjian (non-Muslim yang dilindungi), maka ia tidak akan mencium bau surga.” (HR. Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa bahkan terhadap pihak luar yang tidak memerangi pun, Islam menjaga hak hidup mereka.

Namun hari ini, perang sering kali melampaui batas. Blokade yang melumpuhkan kehidupan sipil, serangan yang tidak proporsional, hingga penggunaan kekuatan besar di wilayah padat penduduk, semua ini jika ditimbang dengan etika Islam, masuk dalam kategori melampaui batas. Tidak dibenarkan. Tapi, siapa yang berani memberikan hukuman? No. Tadek alias tidak ada. 

Padahal Allah telah mengingatkan: “Janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Di sinilah letak persoalan besar dunia modern.
Kita tidak kekurangan aturan. Bahkan hukum humaniter internasional memiliki banyak kesamaan dengan ajaran Islam. Tetapi yang hilang adalah komitmen moral untuk menaatinya.

Islam menawarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hukum, kesadaran bahwa setiap tindakan, bahkan dalam perang, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bagi orang yang beriman, tidak hanya ahukuman di dunia, tapi di akhirat kelak.

Maka perang dalam Islam bukan sekadar urusan strategi, tetapi juga urusan hati dan iman. Dan mungkin, inilah yang paling hilang hari ini.

Perang tidak lagi dipandu oleh nilai, tetapi oleh kepentingan. Tidak lagi ditimbang dengan keadilan, tetapi dengan kekuatan.

Padahal, dalam pandangan Islam, kemenangan sejati bukanlah ketika musuh hancur, tetapi ketika kezaliman berhenti, tanpa mengorbankan kemanusiaan.

Jika dunia hari ini terus mengabaikan nilai-nilai ini, maka yang hilang bukan hanya nyawa manusia, tetapi juga makna kemanusiaan itu sendiri. Karena pada akhirnya, perang terbesar bukanlah melawan musuh, tetapi melawan hilangnya nurani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar