السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 08 April 2026

Tradisi Maaf Mafan Bid:ah?

Alhamdulillah. Tradisi maaf-maafan di masyarakat Nusantara sangat kaya sekali, tidak perlu diajari "minta maaflah langsung jika antum salah", kekayaan Nusantara dan tradisi sangat indah, ada momentum yang dibangun sebagai wadah, ada yang bisa langsung, karena ini adalah kewajiban. Meminta maaf memang kewajiban yang semestinya dilakukan segera ketika terjadi kesalahan, tetapi secara sosial, kehadiran momentum seperti Idul Fitri justru berfungsi sebagai mekanisme kolektif untuk memulihkan relasi yang terabaikan dalam keseharian. 

Siapa yang menunggu lebaran untuk meminta maaf, ini ngaur? Bahasa yang tidak berdasar. Masak menunggu 17 Agustus untuk merayakan kemerdekaan, ia tidak lah, bisa setiap hari, dengan berkarya dan lainnya. Sangat jelas tidak pahamnya. 😁

Saya lanjut dulu. Pernyataan bahwa bermaaf-maafan saat Idul Fitri adalah bid‘ah perlu dilihat lebih dalam ya, sesuatu yang tidak dilakukan Nabi tidak otomatis haram atau bid‘ah (madzmumah), terutama dalam perkara muamalah dan adat.

Tradisi saling memaafkan termasuk ranah sosial, bukan ibadah mahdhah, sehingga hukumnya kembali kepada kaidah asal

الأصل في العادات الإباحة 
hukum asal adat adalah boleh, kecuali kaidah ini dibid'ahkan pisan.😁📚

Lah, ini kak umum, memang tidak menunggu momen lebaran, kalau seperti saya mudik ke kmpung, apa salahnya setelah Hari Raya saling mendoakan dan saling minta maaf? Al-Qur’an secara umum justru menegaskan pentingnya memaafkan. Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
(QS. النور: 22)

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
(QS. فصلت: 34)

Hadis ini juga umum (caranya dan waktunya, tidak tertentu, tapi kalau ada momen, apa salah?)

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
(HR. Muslim).

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ... فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
(HR. Muslim).

Ini menunjukkan bahwa memaafkan dan menyelesaikan konflik adalah ajaran pokok dalam Islam. Coba bayangkan hadis tuftahu di atas? 

Selain itu, para sahabat Nabi memiliki tradisi mengucapkan selamat pada hari raya

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

yang diriwayatkan dalam karya ulama seperti Ibn Hajar al-Asqalani. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi sosial pada Idul Fitri bukan hal baru dalam sejarah Islam. Karena itu, tradisi bermaaf-maafan dapat dipahami sebagai bentuk ‘urf yang baik, selaras dengan nilai Al-Qur’an dan sunnah, serta mendukung tujuan syariat dalam menjaga persaudaraan dan menghilangkan permusuhan.

Gak usah nunggu Idul Fitri, wong setiap hari salaman, salaman setiap hari juga bid'ah? Eh, maksudnya memaafkan. 

***
Dihari yang Mubarok ini, kami ucapkan taqabbalah Minna waninkum, semoga seluruh amal kita diterima oleh Allah. Dan, kami juga mohon maaf, kalau ada salah dalam tulisan, tindakan, dan lainnya ya. 🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar