Halimi Zuhdy
Di tengah zaman serba cepat, ringkas, sat set, kita mudah tergoda untuk menjadikan ilmu sekadar “kutipan”. Ambil satu kalimat, tempelkan di presentasi, lalu selesai. Belum lagi di dunia perjurnalan, walau hanya oknum, kutip sana kutip sini, terkadang belum dibaca dengan cermat dan belum dipahami. Tempel saja.
Padahal, dalam tradisi keilmuan klasik, terutama di dunia bahasa Arab, ilmu justru hidup karena dirawat, dipelihara, dan dijaga dengan kesabaran lintas generasi. Sangat telaten banget. Salah satu ungkapan yang menangkap semangat ini adalah sebuah frasa “خِدمةُ الكتاب/khidmat al-kitāb", yang secara harfiah berarti “melayani kitab”.
Sebelum dilanjutkan...cari posisi duduk yang enak dulu, dan siapkan kopi tubruknya...Toyyib mari lanjutkan. Ungkapan khidmah al-kitab/pelayan kitab digunakan oleh Abd al-Qadir al-Baghdadi dalam "Khizanat al-Adab" ketika ia menyebut para ulama yang mengelilingi mahakarya "Sibawaih", "al-Kitab" adalah sebuah kitab tata bahasa Arab yang sering dianggap fondasi besar ilmu nahwu. Yang menarik, al-Baghdadi tidak menyebut mereka sekadar “pensyarah” atau “komentator”, melainkan para pengabdi kitab. Ada nada etis di situ, seolah-olah kerja ilmiah bukan cuma urusan kepandaian, tetapi juga kesetiaan dan tanggung jawab. Bukan sembarang bekerja, tetapi ada khidmah besar.
Toyyib. Apa sebenarnya yang dilakukan para “pengabdi” ini?
Pertama, mereka menjaga "akurasi riwayat". Dalam sejumlah pembahasan, al-Baghdadi menyinggung bait-bait syair yang dikutip Sibawaih, ada yang tidak jelas penyairnya, ada yang dinisbatkan kepada tokoh tertentu, ada pula yang riwayatnya diikuti begitu saja oleh generasi setelahnya. Di sini tampak bahwa tradisi keilmuan klasik sangat menaruh perhatian pada satu hal yang sering dianggap sepele hari ini "siapa yang berkata dan bagaimana teks itu sampai kepada kita". Ini keren sekali. Butuh ketelitian luar biasa.
Kedua, mereka menghidupkan "pemahaman", bukan sekadar menyalin. Al-Baghdadi menunjukkan bahwa kadang sebuah makna yang beredar bukan kalimat langsung dari Sibawaih, tetapi hasil "istinbath" sebuah inferensi cermat yang disusun para pensyarah dari redaksi Sibawaih. Dan Ini penting untuk dipahami, bahwa ilmu tidak berhenti pada “apa bunyinya”, melainkan bergerak pada “apa maknanya”, “apa konsekuensinya”, dan “bagaimana ia dipahami secara konsisten”.
Namun tradisi ini juga jujur mengakui sisi manusianya. Ada bagian ketika al-Baghdadi menyesalkan, seperti bait tertentu diriwayatkan sebagaimana adanya, tetapi para “khadamah al-kitab” tidak menyebut kelanjutannya atau tidak menjelaskannya secara memadai. Di situ kita belajar bahwa warisan ilmu bukan museum yang selalu rapi. Ia adalah kerja manusia, nama kerja manusia kadang lengkap, kadang kurang; kadang terang, kadang menyisakan celah.
Di era digital, pelajaran ini terasa relevan. Kita hidup di masa banjir informasi, tetapi miskin "khidmah". Banyak orang cepat berkomentar, sedikit yang tekun memeriksa. Banyak yang gemar menyimpulkan, sedikit yang mau menelusuri sumber. Padahal, yang membuat ilmu bertahan bukan kecepatan menyebar, melainkan kesungguhan merawat. Apalagi di medsos sangat ngeri sekali. Sar ser, sat set, tapi banyak hoaknya. Tidak tahu sembernya, tidak ada marja'nya, sar ser yang penting keren...duh kah.
Istamir yuk! Dalam konteks pendidikan kita, “khidmah” bisa berarti hal sederhana tetapi menentukan, yaitu "membaca teks sampai selesai", menyebut sumber dengan benar, membandingkan rujukan, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak tergesa-gesa mengklaim kebenaran tunggal. Khidmah juga berarti memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan yaitu menulis catatan yang jelas, menyusun penjelasan yang rapi, dan menutup celah-celah yang dulu belum tertutup.
Sibawaih menulis "al-Kitab" sebagai karya ilmiah. Tetapi karya itu menjadi tradisi karena ada yang mengabdi seperti al-Jarmi, al-Sirafi, Abu Ali al-Farisi, dan banyak nama lain yang mungkin tak sepopuler “pengarangnya”, tetapi tanpanya, kitab besar hanya tinggal teks sunyi. Mereka membuatnya tetap berbicara. Belum lagi kalau bercerita kitab-kitab hebat siapa di balik besarnya kitab Al-umm li imam asyafi? Nanti saja kita kupas.😁
Maka, ketika al-Baghdadi menyebut mereka “khadamah” atau para pengabdi kitab, kita seperti diingatkan, bahwa di balik ilmu ada adab, di balik kepandaian ada ketekunan, di balik warisan ada tanggung jawab. Dan di zaman yang sat set sut sat dan serba cepat ini, barangkali yang paling kita butuhkan bukan semakin banyak kutipan, melainkan semakin banyak "khidmah".
Sumenep, 29 Des 2025
Marja'
Muhammad Nuri dalam tahqiq al makhthuh fi arwaqatil jamiah. Kitab Sibawaih. Mujam al ma'ani. Al Baghdadi, Khazanatul Adab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar