Halimi Zuhdy
Saya kadang heran, kok bisa ada yang senang membully sesama saudara, bahagia ketika saling mencaci, padahal sering mengucap “al-muslimu akhul muslim” sebenarnya urusan agama itu simpel, perbedaan pasti ada, tapi jangan sampai jadi alasan saling memaki dan merendahkan, karena kalau benar-benar mengamalkan hadis, kita mestinya lebih menjaga lisan dan perasaan saudara sendiri "jangan sampai dia malu, sakit, dan merasa ditinggalkan, sebab perbedaan itu sunnatullah, namun perbedaan yang justru membuat sesama seagama saling menjauh dari ukhuwah, alih-alih saling menguatkan, itu justru terasa lucu dan menyedihkan.
Apa mulai dulu tidak ada perbedaan?, ada lah. Banyak banget. Tapi, kan tidak setiap perbedaan harus dinormalisasi. Alasannya mulai zaman sahabat, banyak perbedaan sengit, bahkan perang. Ia, benar. Memang mau ditiru sampai sekarang? Kan tidak usah ditiru. Kalau bisa tidak saling mencaci maki, kenapa harus saling mencaci? Duh kah, lessoh.
Ada kisah menarik banget. Dan ini contoh, bahwa perbedaan, tidak harus saling mencaci maki, membuly, meledek apalagi harus bertegkar. Kisah dua imam besar; Imam Malik bin Anas dan Imam Laits bin Sa‘d.
Mereka berbeda pendapat. Bukan beda remeh, tapi beda pada fondasi metode memahami agama. Imam Malik (Imam Madinah) memandang bahwa amal penduduk Madinah (praktik yang diwarisi generasi demi generasi) adalah hujjah yang sangat kuat, seperti hadis mutawatir dalam kekuatannya. Sedangkan Imam Laits, ulama besar Mesir, tidak sepakat.
Perdebatan beliau sangat serius. Surat-surat mereka tajam. Argumen mereka panjang. Mereka tidak “berdamai” dalam arti melebur pendapat. Tidak. Mereka tetap berbeda.
Tapi di sinilah keindahan akhlak mereka terlihat. Di tengah perbedaan yang panas itu, Imam Malik mengirim surat “Aku punya utang.”
Dan Imam Laits (yang sedang berbeda pendapat keras dengannya) tidak membalas dengan sindiran, tidak dengan “kan kamu yang paling benar”, tidak dengan “minta tolong ke penduduk Madinah saja.” Beliau justru mengirim lima ratus dinar.
Bayangkan! saat orang lain mungkin akan berkata, “Rasain!”, Imam Laits berkata dengan tindakannya, “Aku tetap saudaramu.” Masyallah. Keren banget bro.
Lalu ketika Imam Malik butuh biaya untuk menikahkan putrinya, beliau berkirim surat lagi, meminta "‘ushfur", pewarna mahal untuk keperluan pernikahan.
Dan Imam Laits membalas bukan dengan secukupnya. Beliau mengirim "tiga puluh unta" penuh muatan pewarna mahal. Bukan cuma menutup kebutuhan, tapi membanjiri kebutuhan itu dengan kemuliaan.
Seolah Imam Laits ingin mengajarkan sesuatu yang berat tapi indah, bahwa "ikhtilaf" (perbedaan pendapat) tidak pernah punya hak untuk membunuh "ukhuwah*".
Dan kisahnya belum selesai. Sebelum lanjut, minum kopi tubruknya dulu! He
Toyyib. Ketika Imam Laits berhaji dan singgah ke Madinah, Imam Malik menghadiahkan kurma muda (ruthab) di atas sebuah piring, hadiah sederhana, tapi penuh cinta. Ada ukhuwah. Dan, Imam Laits mengembalikan piring itu… dengan seribu dinar emas di atasnya. Satu piring kurma dibalas dengan satu piring yang berkilau. Wow, berasa banget.
وعندما حج الإمام الليث وزار مدينة رسول الله ﷺ، أَهْدَى إِلَيْهِ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ رُطَبًا عَلَى طَبَقٍ فَرَدَّ إِلَيْهِ الليثُ عَلَى الطَّبَقَ أَلْفَ دِينَارٍ من الذهب. 500 ألف ريال
Bukan karena Imam Malik “kurang”, tapi karena Imam Laits “besar”.
Di titik ini, hati kita biasanya tertohok, kok bisa ya… orang beda pendapat, tapi tetap saling menguatkan?
Kok bisa ya… orang berdebat, tapi tidak kehilangan adab?
Dan pertanyaan yang lebih menyakitkan,
kenapa kita yang beda pendapatnya kadang cuma soal selera, organisasi, gaya ceramah, atau hal cabang justru gampang putus silaturahmi?
Yang membuat kisah ini makin menggetarkan adalah satu kalimat Imam Syafi’i tentang Imam Laits “Laits lebih faqih daripada Malik, hanya saja murid-muridnya tidak mengangkat mazhabnya.”
إن الإمام الشافعي قال عنه:( اللَّيْثُ أفقهُ من مَالكٍ إِلَّا أَن أَصْحَابه لم يقومُوا بِهِ).
Seolah sejarah berkata, ada orang sekelas itu, ilmunya tinggi… tapi keindahannya bukan hanya pada kecerdasan, melainkan pada kelapangan jiwa.
Imam Laits bukan orang miskin. Beliau kaya. Sangat kaya. Tapi hartanya tidak mengunci hatinya. Justru hartanya menjadi kendaraan kebaikan. Setiap hari beliau memberi. Tidak menunggu diminta. Tidak menunggu viral. Tidak menunggu dipuji.
Dan ketika khalifah besar Abu Ja‘far Al-Manshur ingin menjadikannya penguasa Mesir, Imam Laits menolak. Dengan tegas. Bukan karena beliau tak mampu, tapi karena beliau tahu, "ada orang yang ketika memegang jabatan, ilmunya bisa berkurang, hatinya bisa tergelincir." Beliau memilih tetap menjadi pelita. Bukan kursi.
Lalu ada satu bagian yang pahit, tapi penting orang yang justru direkomendasikan Imam Laits untuk jadi gubernur Mesir malah marah dan bersumpah tidak mau berbicara dengan beliau.
Di situ kita belajar "kadang kebaikan tidak dibalas kebaikan. kadang kemuliaan bertemu jiwa kecil.
tapi orang besar tidak mengecil karenanya.
Orang besar tetap besar. Dan sekarang, mari kita lihat diri kita. Kita hidup di zaman di mana beda pendapat sering dijadikan bahan untuk mematahkan orang, bukan memuliakan ilmu. Kita gampang mengunci pintu hanya karena kalimat. Kita gampang memutus hubungan hanya karena perbedaan cara pandang.
Padahal para imam mengajarkan: boleh keras pada argumentasi, tapi lembut pada persaudaraan. boleh berbeda dalam fiqh, tapi tetap satu dalam akhlak.
Karena tujuan ilmu bukan memenangkan perdebatan. Tujuan ilmu adalah mendekatkan manusia pada kebenaran tanpa menginjak kehormatan orang lain. Maka jika suatu hari kamu berbeda pendapat dengan saudaramu, ingat dua nama ini. Malik dan Laits. Dua puncak ilmu yang tidak selalu sepakat…
tapi selalu saling memuliakan.
Dan mungkin, di situlah ukuran “dewasa” dalam beragama "Bukan seberapa banyak dalil yang kita hafal, tapi seberapa lembut hati kita ketika dalil kita tidak sama dengan orang lain."
Semoga Allah merahmati keduanya.
Dan semoga Allah menumbuhkan pada kita secuil dari kelapangan jiwa mereka
agar perbedaan tidak mengubah kita menjadi orang yang sempit, melainkan orang yang makin mulia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar