السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 22 Januari 2026

Menolak Surga! Menerima Jannah



Halimi Zuhdy

Kemarin ada yang bertanya, ngapain kita menuju “surga”, bukankah di surga adalah tempat dewa-dewa? Ehem. Saya sedikit mengerutkan dahi untuk menjelaskan tentang sebuah "kata" dalam bahasa, antara "kata" dan "makna". seperti "sembahyang" dan "shalat". Memang, untuk menjelaskan kepada orang yang tidak suka membaca, atau menolak analisis linguistik agak sedikit butuh waktu.wkwkw
Kata "surga" di Nusantara. Secara etimologis menandai jejak pengaruh Sanskerta svarga sebagai “ruang cahaya” dan “kediaman ilahi”, yang kemudian bertransformasi secara fonetis dan kultural dalam berbagai bahasa daerah dari sawarga hingga swarga. Di saat yang sama, tradisi lokal Nusantara telah memiliki padanan konseptual melalui istilah kahyangan, yang berakar pada kata hyang dan merepresentasikan gagasan keilahian, kesakralan, serta ruang transenden tempat bersemayam para leluhur atau kekuatan adikodrati. Dengan demikian, “surga” dalam konteks Indonesia dapat dibaca bukan sekadar sebagai serapan linguistik, tetapi sebagai sintesis makna "pertautan antara kosmologi impor dan kearifan lokal yang sama-sama memandang surga sebagai simbol puncak kesucian, cahaya, dan kedekatan dengan Yang Ilahi". Lah, bagaiman dalam agama Islam? Kan tidak ada kata "surga"? 

Toyyib. Sekali lagi dalam Islam, istilah aslinya adalah "Jannah", sebagaimana digunakan langsung oleh Al-Qur’an, sedangkan kata “surga” hanyalah terjemahan bahasa Indonesia untuk memudahkan pemahaman. Jika seseorang memilih memakai kata "Jannah" dan menolak kata “surga”, dapat dijelaskan bahwa keduanya menunjuk pada makna yang sama, hanya berbeda bahasa, bukan berbeda konsep. "Jannah" adalah istilah wahyu, sementara “surga” adalah padanan linguistiknya, sehingga perbedaannya bersifat bahasa, bukan akidah atau rasionalitas iman. Sudah paham?

Toyyib. Sedikit kita lirik "Asal-usul Kata Jin, Majnun, Janin, dan Jannah" ini pernah saya tulis, beberapa bulan lalu. Sekarang, kita lirik lagi, hanya sebuah contoh sedikit saja. 

Bahasa Arab disinyalir sebagai bahasa tertua dan satu-satunya bahasa yang tidak punah, dari bahasa-bahasa yang pernah hidup semasa dengannya. Ia tidak hanya berumur 1400 tahun ketika Alquran diturunkan, tapi sudah ribuan tahun sebelumnya, bahkan dianggap menjadi bahasa Nabi Adam AS.

Ketika banyak bahasa Ibu sudah tergantikan, seperti; Bahasa Afrika, Asia Fasifik, Amerika Selatan, Amerika, Ethiopia dan bahasa yang berada diberbagai belahan negara atau benau lainnya hanya tinggal cerita, dan dimuseumkan. Namun, bahasa Arab, terutama yang digunakan oleh Alquran masih utuh, tidak ada perubahan, bukan kemudian kaku, namun ia terus berkembang dengan indah sesuai dengan kadar lerubahannya.

Dan bahasa Arab, bukan hanya sebagai bahasa biasa, yang tumbuh dan berkembang satu persatu sesuai kebutuhan, tapi bahasa ini (Arab) adalah bahasa yang ilmiah (saintifik), yang dapat dirunut sampai ke kata awal, dan kata paling awal, dan setiap kalimat-kalimat yang muncul dapat merujuk pada akar (judzur) kata yang sama atau kata tertentu.

Lihatlah kata seperti Din (Agama), Dain (Hutang), Dunya (Dunia), Madinah (kota), Dayyan (hakim), dan kata yang berdekatan lainnya. Kata-kata tersebut di atas, tidak hanya memiliki makna tersendiri, namun memiliki keterkaitan makna dan maksud. Insyallah, akan penulis analisis pada kajian berikutnya.

Kali ini, penulis hadirkan empat kata, “Janin (Janin), Jin (Jin), Majnun (Gila), dan Jannah (Surga)”. Kata yang lain yang memiliki satu akar adalah; Jan, Majjanan, Jani, Jinayah, Majun, junun dan lainnya.

Dalam kitab Mufrodat (kata-kata), Raghib al-Ashfahani, bahwa kata, “Jan” adalah tutup (satr) atau tertutupnya sesuatu dari panca indra, maka, kata “Jannah (Surga, kebun)” maknanya “tertutup”, ia tertutup oleh rerimbunan pohon, karena banyaknya pepohonan, bunga-bunga dan lainnya yang berada di dalamnya. Kata “Janin (Janin)” juga bermakna “tertutup”, karena ia tidak mampu dilihat oleh mata telanjang, bahkan oleh alat canggih pun, ia masih samar, walau kadang bisa ditebak.

Kata “Majnun (Gila)”, adalah orang yang pikirannya “tertutup” atau terhalang, tidak mampu berfikir dengan baik, bahkan tertutup oleh apapun dari luar dirinya dan dari dalam dirinya.

Sedangkan kata “Jin (Jin)” berasal dari “Jann” yang juga tertutup, tertutup dari pandangan manusia, ia tidak mampu dilihat oleh siapa pun, kecuali Allah tampakkan, dan ia masuk pada makhluq ghaib. Dalam kitab “Tadzhib al-Lughah lil Harwi” ia bermakna bersembunyi, menahan diri, atau menutupi dirinya dari manusia.

وجاء في تهذيب اللغة للهروي: الجِنُّ: جماعةُ ولد الجانّ، وجَمْعُهُم: الجِنَّةُ، والجانُّ، وَإِنَّمَا سُمُّوا جناً لأنّهُمُ اسْتَجنُّوا من النَّاس، فَلَا يُرَوْنَ، والجانُّ هُوَ أَبُو الجِنِّ خُلِقَ من نارٍ، ثمَّ خُلِق مِنْهُ نَسْلُه.

Dan ada yang memaknai kata-kata, “Jin, Janin, Jan, Jannah, Majnun, dan Majjnan” dengan “Hubungan dua arah, yang saling membutuhkan, saling memberi, saling bersinergi”. Misal; kata “Janin” ia memiliki dua huruf nun, “Tabaduliyyah Fa’aliyah al-ihtiwa'”.

Janin dan Ibunya memiliki hubungan yang kuat (yatabadaalani), Janin membutuhkan atau mengambil oksigen dari Ibunya, dan Janin memberi oksigen karbon. Demikian dengan kata-kata yang lain di atas. 

Allah ‘alam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar