Halimi Zuhdy
Saya ditanya seorang santri, bagaimana gaya belajar imam Bukhari. Saya agak bingung, karena tidak tahu persis "bagaimana beliau belajar", saya baca-baca dibeberapa artikel dan kitab di antaranya tentang "sairal al-a'lam li imam Bukhari". Saya kaget, kaget banget. Beliau bukan hanya tekun, tapi di atas rata-rata orang tekun, rajin, keras dalam menuntut ilmu.
Jika hari ini orang belajar cukup dengan "scroll", mungkin sambil leyeh-leyeh. Tidur-tidurab sambil minum kopi dan ngeteh.he. Beliau ini, seperti dengan keringat yang tak berhenti mengalir. Beliau, Imam al-Bukhari belajar dengan ribuan langkah kaki. "Itu kan dulu! Gak ada internet, gak ada google, gak ada AI! Ah, ribet amat" , apakah pada masanya ada yang banyak seperti beliau ?Ilmu sang Imam tidak lahir dari ruang nyaman, tetapi dari perjalanan panjang lintas negeri. Gak ada pesawat, ada mobil ber-AC, dan segala fasilitas seperti hari ini.
Setahun ia menetap di Madinah, lima tahun di Bashrah, bolak-balik ke Makkah saat musim haji. Syam, Mesir, Jazirah Arab ia datangi dua kali. Bashrah empat kali. Hijaz enam tahun. Kufa dan Baghdad? Bahkan ia sendiri tak sanggup menghitung berapa kali masuk bersama para ahli hadis. Saking wakehnya. Gak bisa dibayangkan.
Lah, beliau mengelilingi dunia Islam, Makkah, Madinah, Syam, Baghdad, Bashrah, Kufa, Mesir, Bukhara, Marw, Naisabur, hingga Khurasan demi satu tujuan "memastikan ilmu sampai kepadanya dari sumber paling sahih". Ia tidak puas mendengar satu riwayat dari satu orang. Ia membandingkan, mengonfirmasi, dan menguji. Tak heran jika beliau berkat:
كتبت عن ألف شيخ أو أكثر ما عندي حديث لا أذكر إسناده
“Aku menulis hadis dari seribu guru atau lebih, dan tidak ada satu hadis pun yang aku catat kecuali aku mengetahui sanadnya.” wow. Ini bukan sekadar hafalan. Ini adalah disiplin akademik tingkat tinggi.
Dalam Al Mausu'ah, sejak kecil, Imam al-Bukhari dianugerahi hafalan yang kuat dan akal yang jernih. Tapi yang membuatnya luar biasa bukan bakat semata, melainkan etos belajar, kerja keras, ketekunan, dan mudzakarah tanpa henti. Ia memilih jalan paling teliti dan paling berat dalam ilmu hadis karena ia tahu, kebenaran tidak lahir dari kemalasan metodologis. Wow.
Kehebatan Imam al-Bukhari bukan hanya terdengar di cerita, tapi terbukti di medan ujian. Saat beliau datang ke Baghdad, para ahli hadis setempat mendengar reputasinya. Bukan untuk mengagungkan, mereka justru sepakat “Kita uji saja.”
Seratus hadis disiapkan.
Bukan hadis biasa.
Sanad dan matannya sengaja dibolak-balik.
Matn hadis A dipasangkan dengan sanad hadis B. Sanad yang lain dipindah ke matn yang lain. Lalu hadis-hadis kacau itu dibagi kepada sepuluh orang (masing-masing membawa sepuluh hadis) untuk dilontarkan di majelis Imam al-Bukhari.
Satu per satu mereka membaca.
Dan Imam al-Bukhari menjawab dengan kalimat yang sama “Aku tidak mengenalnya.”
Orang-orang mulai berbisik.
Sebagian heran. Sebagian kecewa.
Yang tidak tahu skenario berkata: “Ah, hafalannya biasa saja.”
Tapi yang paham tersenyum kecil “Dia sedang mengerti permainan ini.”
Setelah sepuluh orang selesai, seratus hadis selesai dilontarkan, dan majelis menjadi tenang…
Imam al-Bukhari pun mulai berbicara.
Ia menoleh kepada orang pertama:
“Hadis pertamamu engkau bacakan begini, yang benar begini. Hadis kedua begini, yang benar begini…”
Satu per satu.
Urut.
Tanpa tertukar.
Ia kembalikan "setiap matn ke sanadnya", dan "setiap sanad ke matnnya", bukan hanya satu orang, tapi "seluruh sepuluh orang", lengkap seratus hadis, "dalam sekali duduk".
Majelis pun terdiam.
Lalu mengakui.
Tanpa debat. Tanpa sisa ragu.
Ibnu Hajar berkomentar dengan kalimat yang sangat tajam, “Yang menakjubkan bukan sekadar mengembalikan kesalahan ke yang benar, itu wajar bagi seorang hafizh. Yang benar-benar menakjubkan adalah kemampuannya menghafal kesalahan itu sendiri, persis sebagaimana disampaikan, hanya dengan sekali dengar.” ini bukan dongeng Lo. Dulu gak ada leptop🤩
Di situlah semua tunduk.
Bukan karena kagum semata,
tetapi karena "ilmu yang tak bisa dipermainkan".
Oh ia. Dalam Manhaj Al-Imam Bukhari Fi tarajum al-abwab al-shahiha, bahwa di balik kehebatannya, Imam al-Bukhari bukan sosok spontan tanpa sistem, melainkan ilmuwan dengan manhaj keilmuan yang rapi, matang, dan sangat modern jika dibaca hari ini.
Beliau menempuh rihlah ilmiah puluhan tahun demi satu hadis yang sahih, menerapkan verifikasi tanpa kompromi terhadap perawi dan sanad hingga Shahih-nya menjadi standar emas hadis, menggabungkan metode deskriptif, kritis, dan induktif (istiqra’) dalam berfikir dan beristinbath, menyatukan ilmu dengan ibadah sampai setiap bab ditulis setelah shalat dan munajat, melahirkan al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ sebagai karya pionir yang disusun dengan kehati-hatian selama enam belas tahun, menyelipkan fikih dan tafsir lewat tarājim bab yang halus namun tajam, sangat teliti membedakan perawi-perawi yang mirip tanpa gegabah, serta menghadirkan inovasi penulisan melalui hadis mu‘allaq, tarājim mursalah, dan tarājim mufradah.
Dari semua itu jelas bahwa Imam al-Bukhari bukan sekadar hafizh hadis, tetapi arsitek peradaban ilmu yang mengajarkan bahwa wibawa keilmuan lahir dari perjalanan panjang, metode ketat, kejernihan hati, dan ibadah yang sungguh-sungguh.
Apa ini sebuah keberkahan ilmu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar