السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 22 Januari 2026

Rahasia Akhir Surat An-Nahl dan Awal Surat Al-Isra'

(Melihat Keindahan Jahitan Peristiwa Isra' Mikraj dalam Tanasub) 

Halimi Zuhdy

"Ammul huzn" tahun kesedian. Nabi sedih banget. Bukan kemudian meronta-ronta, berteriak-teriak, apalagi sampai merobek-robek baju. Tidak. Kesedihan itu manusiawi, tapi ia tidak kemudian menjadi luka menganga yang membuat perih begitu dalam. Ia datang untuk membuka darah kotor, untuk keluar. Maka, dalam Akhir Surat An-Nahl adalah "Isbir/bersabarlah". Nabi sabar. 
Kalau kita bayangkan. Bukan hanya pintu rumah-rumah para pembesar Quraisy yang kian rapat ketika nama Muhammad Sallalahualaihi wasallam disebut, tetapi juga pintu "harapan". Ruang-ruang sosial yang biasanya memberi tempat untuk bicara, kini berubah menjadi lorong-lorong sempit yang menekan dada seperti perang opini, intimidasi, pemboikotan, hingga luka yang tak selalu terlihat, semuanya berjejal menjadi satu yaitu beban bumi yang terasa berat bagi seorang Nabi yang memikul risalah. Dan, tahun kesedihan Itu, adalah wafatnya paman tercinta Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah, serta penolakan dan penyiksaan di Thaif. Komplet. 

Lah yang menarik. Di titik inilah Al-Qur’an memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian pembaca cara mushaf “menjahit” peristiwa, emosi, dan arah sejarah. Tanpa banyak kata, tetapi presisi. Keren banget. 

Toyib. Bagaimana sejarah juga digambarkan dalam kalimat-kalimat indah dalam Ayat Al-Qur-an. Dari rekaman kesedihan menuju rihlah. Ujung Surah an-Nahl menutup dengan instruksi yang tegas sekaligus lembut. Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bertahan
 وَاصْبِرْ 
bersabarlah..., mengikat sabar itu pada sumbernya
 وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ 
dan sabarmu itu tidak lain kecuali dengan pertolongan Allah.

lalu melarang larut dalam sedih dan sesak akibat makar;
وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ….. وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ…... Indahnya Ayat ini. 

Di akhir, Allah menutup dengan kalimat yang menjadi jangkar 
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ 
Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan. (An-Nahl, 127–128)

Lalu, seolah halaman mushaf berpindah seperti potongan adegan berita yang langsung menuju fakta utama, Surah al-Isra’ dibuka bukan dengan uraian, melainkan dengan kalimat yang mengubah atmosfer

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلً 
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam….. (Al-Isra, 1)

Di sini, para pengkaji menyebutnya sebagai "tanasub"keterkaitan antarsurah yang tersusun rapi dalam mushaf. Ṣāliḥ at-Turkī, dalam "Laṭā’if al-Qur’ān", menandai hubungan itu, setelah perintah sabar dan larangan bersedih di akhir Surah an-Nahl, Allah membuka Surah al-Isra’ dengan “kabar yang menyejukkan,” yakni peristiwa Isra’ Mi’raj yang menjadi penghibur bagi Nabi Muhammad Shallahwahu Alaihi Wasallam.

Bila an-Nahl adalah halaman yang memotret “tekanan dari bumi”, maka al-Isra’ datang seperti tajuk utama yang menjawab dengan “sambutan dari langit”.

Dalam maqal Muhammad Ahmad al-Mubayyad menggambarkan timing Isra’ Mi’raj sebagai datang pada fase paling berat dalam perjalanan dakwah, masa tekanan, penolakan, hingga luka, yang menuntut kesabaran panjang. Lalu, tepat pada kondisi seperti itu, hadir “perjalanan langit” sebagai bentuk tasyriyah (penghiburan) dan penguatan. Ia juga menyorot “jahitan mushaf” antara akhir an-Nahl dan awal al-Isra’ sebagai penanda peralihan: dari perang dan makar ke awal kelapangan.

Maka, Isra’ Mi’raj bukan sekadar “kisah spektakuler” yang berdiri sendiri. Ia ditempatkan pada titik yang tepat setelah perintah sabar, sebelum paparan sejarah, sebelum rangkaian nasihat sosial dan moral yang panjang. Seolah Qur’an mengatakan "ketika seorang pembawa amanah nyaris runtuh oleh beratnya tugas" Allah terlebih dulu memulihkan pandangan dan keteguhan hatinya, baru kemudian menurunkan paket pesan yang lebih luas untuk membangun masyarakat.

Dengan begitu, mushaf tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga menyajikan “rute batin”: dari sabar, menuju tasbih; dari sesak, menuju keluasan; dari tekanan manusia, menuju penguatan Ilahi.

Dan bagi pembaca hari ini, jahitan antara an-Nahl dan al-Isra’ menghadirkan satu pesan yang tetap relevan: terkadang, di saat kita diminta menahan diri paling lama, justru di sanalah perubahan besar sedang disiapkan bukan selalu berupa jalan keluar yang instan, melainkan berupa pelurusan arah hati, agar tetap tegak, tetap jernih, dan tidak kehilangan Tuhan di tengah keramaian dunia.

Amm Hazn, tahun kesedihan itu menjadi pesan penting, bukan karena sedihnya ditinggal kekasih, tapi menuju kekasih yang paling kekasih. Kesediha yang dibiarkan, akan menjadi luka. Tapi, kesedihan yang diobati, akan menjadi cinta.❤️

***
Referensi. Al-Qur'an. Ṣāliḥ at-Turkī, Lathaiful Qur'an. Muhammad Ahmad al-Mubayyad, Al-Isra' Rihlatun Nur. Al-Ma'ani. Al-Isra' wal Mi'raj fil Quran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar