السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 22 Januari 2026

Akhir yang Mengenaskan: Wafatnya Imam ath-Thabari dan Pelajaran Besar bagi Umat


Halimi Zuhdy

Sedih banget. Tak terasa mata berkaca-kaca. Membaca kematian sang imam besar. Imam Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Kita mengenalnya dengan Imam At-Tabari. Beliau wafat tidak seperti kebanyakan orang. Beliau wafat dalam kepungan fanatisme. Walau tidak sedikit para muallif, para imam juga meninggal dalam tekanan, penjara, bahkan diusir dari negaranya, dan wafat diperjalanan seperti Imam Bukhari. 
Kadang juga sedih. Melihat berbagai perbedaan yang tidak pernah selesai, walau perbedaan itu akan tetap ada; kapan pun dan dimana pun, selagi ada nafas-nafas keilmuan. Pasti. Tapi, alangkah indahnya, ketika tetap merawat ukhwah islamiyah yang indah. Bukan merawat kebencian. Apalagi di era medsos seperti sekarang ini, coba lihat di medsos hari ini saja. Sedih dan ngeri. Apa yang dicari dan dipertahankan? Kebencian? Tidak masalah berbeda, tapi tetap menjaga adab, apalagi pada ulama. 

Kembali kepada sang Imam, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Seorang raksasa ilmu yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk Al-Qur’an, Sunnah, dan sejarah umat, justru menutup usia dalam keadaan terkurung, terasing, dan dizalimi. Ia wafat bukan di tengah kemuliaan yang layak bagi seorang imam besar, tetapi di balik pintu rumahnya yang dikepung kebencian dan fanatisme buta. 

Pada usia lebih dari delapan puluh lima tahun, tubuhnya telah rapuh oleh perjalanan panjang menuntut ilmu dan malam-malam yang dihabiskan untuk menulis. Namun yang paling menyakitkan bukanlah lelahnya raga, melainkan kerasnya hati manusia. Ketika ajal tiba pada bulan Syawal tahun 309 H, Imam ath-Thabari mengucapkan syahadat berulang kali, mengusap wajahnya dengan tangannya, lalu memejamkan mata untuk selamanya. Ia wafat dalam keadaan terzalimi.

Tragedi itu tidak berhenti pada kematian. Fanatisme telah mencapai puncaknya, rumahnya masih dikepung bahkan setelah kabar wafatnya tersebar. Ia tidak diizinkan dimakamkan secara terbuka. Tidak ada iring-iringan jenazah yang layak, tidak ada penghormatan di siang hari. Para murid dan sahabatnya terpaksa memakamkannya secara diam-diam di halaman rumahnya sendiri, pada malam hari, karena massa menuduhnya sebagai rafidhah dan bahkan menuduhnya zindik (mulhit) tuduhan besar yang diucapkan oleh orang-orang yang, sebagaimana dikatakan para sejarawan, tidak memahami makna tuduhan itu sendiri.

Namun Allah tidak membiarkan kebenaran terkubur bersama jasadnya. Meski dimakamkan secara sembunyi-sembunyi, manusia berbondong-bondong datang ke rumahnya. Berbulan-bulan lamanya, siang dan malam, orang-orang tetap menyalati kuburnya. Ia dihalangi dari satu jenazah yang agung, tetapi Allah memberinya ribuan doa. Ia dizalimi di zamannya, tetapi dimuliakan sepanjang sejarah.

Kalau kita baca beberapa riwayat tentang sejarah akhir hidup Imam ath-Thabari yang dicatat oleh para sejarawan Ahlus Sunnah.

Al-Hafizh Ibnu al-Atsīr menulis:

وفي هذه السنة توفي محمد بن جرير الطبري صاحب التاريخ ببغداد، ومولده سنة أربع وعشرين ومائتين، ودُفن ليلًا بداره؛ لأن العامة اجتمعت ومنعت من دفنه نهارًا، وادّعوا عليه الرفض، ثم ادّعوا عليه الإلحاد

Dalam tahun ini (310 H) wafat Muhammad bin Jarir ath-Thabari, penulis kitab Tarikh, di Baghdad. Ia dilahirkan tahun 224 H, dan dimakamkan pada malam hari di rumahnya, karena massa berkumpul dan mencegah pemakamannya pada siang hari. Mereka menuduhnya sebagai rafidhah, lalu menuduhnya pula sebagai zindik (mulhid).

Sedangkan Ibnu al-Atsīr menguatkan 
وكان علي بن عيسى يقول: والله لو سُئل هؤلاء عن معنى الرفض والإلحاد ما عرفوه ولا فهموه

Ali bin ‘Isa (menteri) berkata: Demi Allah, seandainya orang-orang itu ditanya apa makna rafidhah dan ilhad, niscaya mereka tidak tahu dan tidak memahaminya.

Kutipan ini memperlihatkan dengan terang: tuduhan itu lahir dari kebodohan, bukan ilmu. Riwayat Ibnu Katsīr, Al-Hafizh Ibnu Katsīr menegaskan hal yang sama

ودُفن في داره؛ لأن بعض الرعاع من عوام الحنابلة منعوا من دفنه نهارًا، ونسبوه إلى الرفض، ومن الجهلة من رماه بالإلحاد، وحاشاه من هذا ومن ذاك

Ia dimakamkan di rumahnya, karena sebagian orang-orang kasar dari kalangan awam mencegah pemakamannya di siang hari, menisbatkannya kepada rafidhah, dan sebagian orang bodoh menuduhnya ilhad. Padahal ia suci dari semua tuduhan itu.

Ibnu Katsīr lalu menyimpulkan akar masalahnya, bahwa 

وإنما تقلدوا ذلك عن أبي بكر محمد بن أبي داود

Mereka hanyalah meniru tuduhan itu dari Abu Bakar Muhammad bin Abi Dawud.

Kematian Imam ath-Thabari adalah cermin pahit bagi umat Islam. Ia menunjukkan bahwa fanatisme buta mampu membunuh akal sehat, mematikan adab, dan menghancurkan persaudaraan. Perbedaan ilmiah yang seharusnya disikapi dengan diskusi dan hujah, berubah menjadi fitnah, kekerasan, dan pengucilan ketika jatuh ke tangan orang-orang yang dikuasai emosi, kebencian, dan taqlid tanpa ilmu.

Pelajaran terbesar dari kisah ini sangat jelas bukan musuh dari luar yang paling berbahaya bagi umat, melainkan kezaliman dari dalam yang dibungkus dengan nama agama. Ilmu tidak pernah kalah oleh kebodohan, tetapi kebodohan sering kali melahirkan korban sebelum akhirnya tersingkap.

Imam ath-Thabari wafat dalam keadaan terkurung, tetapi namanya hidup dan terus disebut. Para penuduhnya tenggelam dalam catatan hitam sejarah, sementara karya-karyanya tetap dibaca, dirujuk, dan dijadikan cahaya hingga hari ini.

Pertanyaannya kini tertuju kepada kita, apakah kita belajar dari tragedi ini, ataukah kita akan mengulangnya kembali dengan wajah dan korban yang berbeda?

Ini bukan ceramah agama Lo, ini untuk diri Al faqir sendiri, kalau ada yang juga mengambil Ibrahim, tafaddal. 

Allahu'lam bisshawab. 

***
Marja'
Mihnatul Imam At-Thabari (Syarif Abdul Azizi), Ta'aruf ala Imam At-Thbari (Imad Balik), Mihnatul Ulama (Abdul Abid), Al Mausu'ah At-Tarikhiyah wafatu imam mufasir Ibnu Jarir dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar