السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 22 Januari 2026

Asyiknya Kajian Bahasa pada Ayat Isra’ dan Mi‘raj



Halimi Zuhdy

Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi sebuah narasi teologis yang dibangun dengan presisi linguistik yang sempurna.

Al-Qur’an tidak menyajikannya dalam bentuk cerita panjang, melainkan melalui dua surat dengan karakter bahasa yang sangat berbeda namun saling melengkapi. Surah Al-Isra’ dan Surah An-Najm. Di sinilah keindahan kajian bahasa menemukan momentumnya.
Isra’ (perjalanan horizontal Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam) diabadikan pada Ayat pembuka Surah Al-Isra’. Ayat ini luar biasa rapi secara sintaksis. Ia diawali dengan fi‘il (kata kerja) “asrā” (memperjalankan), lalu diikuti fa‘il yang disamarkan dalam keagungan Ilahi, sebelum objek perjalanan dijelaskan secara bertahap dan terukur. 

Struktur ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ bukan kejadian spontan, melainkan perjalanan yang dirancang, ditentukan, dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. 

Bahasa Al-Qur’an di sini bekerja seperti arsitektur yang presisi, tenang, dan tak menyisakan celah kekacauan makna. 

Sebaliknya, Mi‘raj (perjalanan vertikal) diuraikan dalam Surah An-Najm ayat 12–18 dengan gaya bahasa yang jauh lebih simbolik dan kontemplatif. 

Surah ini dibuka dengan kata “An-Najm” (bintang), sebuah entitas kosmik yang hanya tampak di malam hari, berada di ketinggian, bercahaya, namun juga tunduk pada hukum tenggelam (idza hawā). Ini bukan metafora sembarangan. Ia mengisyaratkan bahwa pengalaman Mi‘raj berada pada wilayah transendensi kosmik, jauh dari logika bumi, namun tetap berada dalam keteraturan semesta.

Menariknya, ayat-ayat Mi‘raj menggunakan pertanyaan retoris seperti “أَفَتُمَارُونَهُ” (Apakah kalian hendak membantahnya?). 

Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, melainkan untuk membungkam keraguan. Al-Qur’an sedang melakukan kritik epistemologis, bahwa tidak semua realitas dapat diuji dengan standar pengalaman empiris manusia biasa. Penglihatan Nabi bukan ilusi, melainkan pengalaman kenabian yang sahih.

Frasa عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ menandai batas tertinggi capaian makhluk, sebuah “titik akhir” kosmik dan spiritual yang bahkan malaikat pun tidak melampauinya. 

Sementara ungkapan “مَا يَغْشَىٰ” dibiarkan tanpa penjelasan detail, seolah Al-Qur’an secara sadar mengajarkan etika keilmuan, bahwa ada wilayah pengalaman yang harus dihormati dengan diam, bukan dipaksa untuk dijelaskan secara reduktif.

Kembali ke Surah Al-Isra’, Ayat pertamanya dibuka dengan “Subḥāna” sebuah deklarasi penyucian Allah sebelum kisah dimulai. Ini penting. Al-Qur’an seakan berkata "sebelum kalian menimbang peristiwa ini dengan logika, sucikan dulu cara pandang kalian tentang Tuhan. 

Kata “asrā” dalam bentuk fi‘il māḍī (lampau) menegaskan kepastian historis peristiwa, bukan kemungkinan atau simbol belaka. Sementara frasa “bi ‘abdihī” justru menegaskan bahwa puncak kemuliaan Nabi bukan pada status kerasulannya, tetapi pada kehambaannya.

Penyebutan waktu “laylan” (pada suatu malam) mengandung paradoks makna, bahwa singkat secara temporal, tetapi luas secara spasial. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (dua titik suci yang diberkahi) Nabi diperjalankan bukan untuk wisata spiritual, melainkan “linuriyahu min āyātinā”: agar diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah. Ayat ini ditutup dengan dua sifat Ilahi yaitu As-Samī‘ dan Al-Baṣīr, menegaskan bahwa seluruh perjalanan ini berada dalam pengawasan dan pengetahuan mutlak Allah.

Dengan demikian, keindahan ayat-ayat Isra’ dan Mi‘raj tidak hanya terletak pada keajaiban peristiwanya, tetapi pada keselarasan antara struktur bahasa, kedalaman makna, dan pesan teologisnya. Bahasa Al-Qur’an tidak sedang memanjakan imajinasi, tetapi mendidik cara berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar