Halimi Zuhdy
Dalam beberapa tahun terakhir, berita perselingkuhan semakin sering muncul di ruang publik. Dari tokoh terkenal hingga kisah rumah tangga biasa yang viral di media sosial, semuanya menghadirkan kegaduhan yang sama "keterkejutan, kecaman, dan rasa prihatin". Namun, di balik riuh itu, sesungguhnya ada pelajaran besar yang layak direnungkan bersama, terutama tentang makna hidup berumah tangga yang sakinah. Oh ia, bukan hanya tentang perselingkuhan, banyak berita dan kisah yang menjadi pelajaran setiap hari, tapi...!!!
Yuk. Lanjut. Berita perselingkuhan selalu terasa pahit. Ia datang bukan sekadar sebagai kabar sensasi, tetapi sebagai cermin retak yang memantulkan rapuhnya sebuah komitmen. Di balik potongan judul dan hiruk-pikuk komentar, ada luka yang tidak termaktub. Hati pasangan yang dikhianati, anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan keluarga yang runtuh perlahan tanpa suara.
Rumah tangga sejatinya dibangun di atas mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang kokoh. Ketika perselingkuhan masuk, yang hancur bukan hanya kepercayaan, tetapi juga sakinah itu sendiri. Ketenteraman berubah menjadi kecemasan, cinta tergeser oleh curiga, dan doa-doa malam menjadi isak yang tersembunyi. Banyak nama-nama yang dirayakan, tapi kemudian ada berita boooom, selingkuh!
Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa perselingkuhan bukan fenomena langka. Sekitar 20–30 persen pria dan 15–20 persen perempuan mengaku pernah terlibat perselingkuhan dalam kehidupan pernikahan mereka. Angka ini tidak dimaksudkan untuk menormalisasi dosa, melainkan menjadi peringatan bahwa godaan dan kelalaian adalah ancaman nyata dalam kehidupan rumah tangga modern. Betapa cermin berita terpantul setiap hari, tapi selalu ada setiap detik berita! Selingkuh A dan B, meninggalkan C.
Menariknya, sebagian besar pelaku perselingkuhan tidak memulainya dengan niat besar. Ini hasil riset ya!. Beragam riset psikologi keluarga menyebutkan beberapa sebab dominan sekitar 60–70 persen mengaku karena hubungan emosional yang terasa kering, lebih dari 50 persen karena kurangnya komunikasi dan perhatian, sementara sisanya dipicu oleh kesempatan, terutama melalui media sosial, relasi kerja, dan ruang digital yang minim batas moral. He3. Bisa lessoh keyah!
Fakta ini mengingatkan kita bahwa perselingkuhan sering kali bukan soal cinta baru, melainkan kegagalan merawat cinta lama.
Dalam konteks Indonesia, data perceraian menunjukkan bahwa perselingkuhan memang tidak selalu tercatat sebagai sebab utama perceraian. Namun para pemerhati keluarga sepakat, perselingkuhan kerap menjadi akar konflik laten yang kemudian berubah nama menjadi “pertengkaran terus-menerus” atau “hilangnya keharmonisan”. Dengan kata lain, perselingkuhan sering disembunyikan, tetapi dampaknya nyata.
Akibatnya tidak berhenti pada putusnya ikatan pernikahan. Perselingkuhan merusak kepercayaan, melukai harga diri pasangan, dan meninggalkan bekas psikologis yang panjang terutama bagi anak-anak. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi ruang penuh curiga. Sakinah pun menjauh, digantikan kecemasan dan kelelahan batin.
Namun Islam tidak mengajarkan kita berhenti pada kecaman atau sekadar rasa prihatin. Setiap peristiwa adalah bahan renungan. Al-Qur’an mengingatkan dengan satu kalimat yang tegas
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
"Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal."
Ayat ini menempatkan peristiwa sosial, termasuk perselingkuhan, bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin. Orang berakal tidak sibuk membuka aib orang lain, melainkan membuka pintu muhasabah untuk dirinya sendiri; Apakah aku sudah cukup hadir untuk pasanganku? Apakah komunikasi masih terjaga? Apakah hatiku masih diawasi, atau mulai longgar terhadap yang bukan hakku?
Hidup sakinah tidak lahir dari janji besar, melainkan dari kesetiaan kecil yang dijaga setiap hari: menahan pandangan, menjaga pesan, menghargai pasangan, dan berani memperbaiki komunikasi sebelum luka membesar. Sakinah adalah hasil dari kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah, bukan sekadar rasa.
Berita perselingkuhan, betapapun pahitnya, seharusnya menjadi alarm sosial. Ia mengingatkan bahwa rumah tangga perlu dirawat, bukan hanya dirayakan. Dan bahwa iman, akhlak, serta tanggung jawab emosional adalah fondasi yang tidak boleh ditawar.
Jika kita mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, barangkali kegaduhan itu tidak sia-sia. Ia justru menjadi pengingat agar kita lebih waspada menjaga keluarga, lebih sungguh-sungguh merawat cinta, dan lebih rendah hati di hadapan amanah yang Allah titipkan.
Karena sakinah bukanlah keadaan tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap setia di tengah banyak godaan.
Semoga kita dijauhkan, dan setiap berita menjadi pelajaran, bukan hanya bahan bacaan saja!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar