السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 24 Juni 2020

Muslim Itu, Bahagia Sepanjang Hayat

Halimi Zuhdy

Muslim itu tidaklah tegang, hidupnya indah penuh senyum, penuh tawa, penuh bahagia, karena syariat memang mendorong muslim itu untuk hidup penuh kebahagiaan. Beribadah untuk bahagia, bersyukur agar senang, bersabar agar tetap bahagia, serta mengingatNya untuk hidup indah dan girang, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (Q.S Ar-Ra’du:28).

Untuk apa hidup sedih, sumpek, masygul, getir, merana, pedih, getir, bukankah Islam mengajarkan untuk selalu bahagia, di dunia pula diakhirat. Fiddunya hasanah wa filakhirati hasanah. Bertemu ada ungkapan salam sejahtera, berpisah "maas salamah", apakah ada ungkapan sedih?. Nabi mengajarkan untuk selalu berbahagia dan tersenyum, "Tabassumuka fi wajhi akhika shadaqah", Senyummu pada saudara adalah sedekah. 

Sampai-sampai syariat melarang keras untuk berbuat dosa, maksiat, kemunafikan, dusta, dan lainnya yang tidak baik, mengapa? Karena akan menganyarkan pada kesedihan, sejumudan dan ketidakbahagiaan, belum lagi janji neraka bagi pelaku dosa. Bukankah syariat menginginkan kaum muslimin selalu hidup bahagia. 

Mari kita lihat sekilas sosok Nabi Sang Teladan Umat, wajahnya selalu berseri-seri yang memandangnya selalu merasa bahagia, selalu lapang, dan setiap orang selalu merasa dekat, merasa akrab, dan merasa paling dicintai olehnya. 

Sahabat-sahabat Nabi berkata, bahwa tidak ada yang lebih banyak tersenyumnya dari pada Nabi, seakan-akan hidup Nabi dipenuhi dengan kebahagiaan, bila dihina, dicaci, berbagai cobaan menerpa selalu tersenyum dan sabar, seakan-akan risalah cinta  dan bahagia untuk kaumnya.

 وكأن الابتسامة رسالة حب وسلام بين الناس، وتلين الغضب وتذهب الشيطان، حتى أنه عليه الصلاة والسلام روي عنه أنه كان وقت البلاء كان يبتسم لأصحابه ويحثهم على الصبر والدعاء، والرضا بقضاء الله عز وجل.

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (Al-Qashah, 77)

Selasa, 23 Juni 2020

Mata dan Penyair yang Majenun

#SeriPenyairArab1

Halimi Zuhdy

Sudah puluhan tahun puisi Idris Jamma' ini terus menghiasi buku-buku ghazal (cinta). Apalagi di era digital, beberapa bait puisinya yang disertai narasi kisah kegilaanya terus berlayar. Puisi-puisinya dinobatkan sebagai salah satu puisi terindah di era modern.

Alkisah, seorang pujangga Sudan yang diterpa badai cinta tak mampu menahan hempasan, gelombang, dan pendar rindu. Ia seperti kehilangan akalnya, meracau, entah apa yang lontarkan. Ia menulis sejarah cinta yang tak pernah usai dalam hidupnya. Ia gagal dalam arung cinta, hanya bisa terpesona, tapi tak mampu menangkapnya. Terheran-heran, tak mampu menatapnya. Dahaga, yang didapatkan fatamorgana. Ia pintar, tapi tatapan wajahnya kelabu. 

Suatu hari, Ia berjalan tak tentu arah. Seperti kehilangan kendali dirinya. Akhirnya ia harus mendekam di rumah sakit jiwa. Orang menyebutnya 
Idris Jamma', seorang penyair Sudan yang terlahir pada tahun 1922 M dan meninggal di Khurtum 1980 M. 

Karena sakitnya yang tak kunjung usai. Mentalnya yang terus kelabu. Kerabatnya memutuskan untuk membawanya ke Inggris untuk mencari tempat yang dapat membuatnya tenang, berdamai dengan penyakitnya. Ketika sampai di bandara, mata Idris Jamma' seperti menatap cahaya. Ternyata ia lagi memandangi seorang wanita, matanya tak mampu ia katupkan. Ia pandang begitu dalam. Suami wanita itu sepertinya risih, dan berusaha menutup pandangan Idris pada istrinya. 

Tetiba, Idris meracau indah, seperti mutiara yang keluar dari kerangnya. Keluar kalimat-kalimat seorang pujangga yang belum selesai dari kisah cintanya:

ﺃَعَلىَ ﺍﻟﺠَﻤَﺎﻝِ ﺗُﻐﺎﺭُ ﻣِﻨَّﺎ....مَاﺫَﺍ ﻋَﻠﻴْﻨﺎ ﺇﺫ ﻧَﻈَﺮْﻧﺎ

Apakah dicemburu, karena kecantikan itu
Apa salahnya bila aku sekedar memandangnya

ﻫِﻲ ﻧَﻈْﺮَﺓٌ ﺗُﻨﺴِﻲ ﺍﻟﻮَﻗَﺎﺭَ...وﺗُﺴﻌِﺪ ﺍﻟﺮّﻭﺡَ المُعنَّى

Pandangan yang membuat linglung ketenangan
Membuat girang jiwa yang merana

ﺩُﻧْﻴَﺎﻱَ ﺃنْتِ ﻭﻓَﺮْﺣَﺘﻲ...ومُنَي ﺍﻟﻔُﺆَﺍﺩِ ﺇﺫَﺍ تَمَنَّي

Duhai surgaku, engkau sukacitaku
Obat penawar kalbu bagi yang merindu-rindukan

ﺃَنْتِ ﺍﻟﺴَّﻤﺎﺀُ ﺑَﺪَﺕ ﻟﻨﺎ...واﺳﺘﻌﺼﻤﺖ ﺑﺎﻟﺒُﻌﺪِ ﻋﻨَّﺎ

Engkau cakrawala yang menderang kami
tapi mengapa engkau jauhkan tuk meraihnya

وَنَظَرْتُ في عيْنَيك آفاقًا وأسْرارًا ومعْنَى
Kusaksikan di kedua bola matamu, cakrawala, rahasia dan makna

Untaian kata pujangga Sudan ini sontak membuat banyak mata terbelalak. Riuh kabar kalimat cinta menyebar ke segala pelosok Arab. Dan sampai ke telinga pujangga Mesir, Abbas Mahmud al-'Aqqad. Pujangga ini pun bertanya-tanya kepada pembawa berita,  "Siapakah yang menggubah syair seperti ini?"
Mereka menjawab,
أنه ﺳﻮﺩﺍﻧﻲ  ﻭﻳﺪعى ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺟﻤَّﺎﻉ  وهو الآن ﻓﻲ مستشفي ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ.
Kalimat ini dirajut oleh pujangga Sudan, sedangkan ia sekarang lagi dirawat di rumah sakit jiwa, 

  قاﻝ: ﻫﻲ ﻣﻜﺎﻧﻪ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻻ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﻋﺎﻗﻞ ... !!!
Mendengar jawaban ini, Abbas Al-Aqqad berkomentar.."Hal ini memang wajar, kalimat indah ini tidak mungkin keluar dari orang waras...!!"

Tidak hanya untaian bait-bait puisi cinta yang mengalir pada wanita yang di temuianya Bandara. Tapi banyak wanita yang telah menjadi pigura dalam sejarah kata-katanya. Pada suster yang merawatnya di rumah sakit London pun membawa kegundahan dan ronta jiwanya. Pandangannya menatap tajam suster itu, hingga suster cantik itu risih dan terusik. 

Resah. Suster ini pun mengadu pada direktur rumah sakit. Saran direktur pada suster ini, agar menggunakan kaca mata hitam ketika memeriksa, melayani dan merawatnya. 

Saran direktur pun dilakukan suster yang berparas cantik itu. Keesokan harinya, matanya tertutup kaca mata hidup. Ia melangkah ke ruang Idris Jamma' dengan percaya diri, dan harapan tatapan pujangga Sudan ini tak menguliti matanya. Tapi yang terjadi, pujangga ini tak berhenti menatap dan keluar bait-bait puisi dari letupan bibirnya.

ﻭﺍﻟﺴَّﻴﻒُ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﻤْﺪِ لا ﺗﺨﺷﻰ ﻣﻀَﺎﺭبه .. ﻭسَيْف ﻋﻴْﻨَﻴْﻚَ ﻓﻲ ﺍلحالتين ﺑﺘَّﺎﺭُ
Pedang yang tersarung, tak ada yang gentar hunusnya
Tapi tajamnya pedang matamu, ditutup atau tidak ia tetap melukai

Suster ini hanya bisa diam. Ia tidak memahami apa yang diungkap sang pujangga. Ia bergegas keluar ruangan. Dan bertanya-tanya, apa arti bait puisi yang diungkap Idris Jamma. Setelah ia tahu makna puisi itu. Ia tak mampu menahan awan mendung air matanya, menetes, kagum dengan rangkaian bait yang ditujukan padanya.

#PuisiArab #SastraArab #SeriKajianSastraArab

Selasa, 16 Juni 2020

Rahmat Allah Selalu Memeluk Mesra

Halimi Zuhdy

Miliar debur ombak menghantam perahu.  Nelayan asyik memilah gelombang, melempar sauh, ikan pun terenyuh. Sungguh, kalau tidak karena rahmatNya, gelombang pun kan menghempaskannya.

Allah itu satu, rahmatNya lipatan rindu.


********

Ada sebuah cerita di masa lalu, seorang raja memvonis mati seorang tukang kayu (najjar). 

Kabar vonis mati itu terdengar nyata oleh si tukang kayu. Menghentak di telinganya.  Malamnya, ia tak mampu mengatupkan kedua matanya. Serasa ranjangnya dipenuhi jejarum yang menusuk, dan juga serupa letupan api yang membakarnya. Ia seperti pasrah, tapi resah. Ia ingin lari, tapi kemana?. Seluruh pintu sudah tertutup rapat, tak ada celah untuk mengangkat kakinya.

Istrinya berkata;
"Sayang..! Tukang kayu yang saya cintai. Tidurlah seperti malam-malam yang telah kau lewati dengan indah. Allah itu satu, pintu rahmatNya, tak berpintu".

Kata-kata itu mengalun lembut. Merasuk mesra ke hatinya. Kedua matanya pun mulai terkatup. Wajahnya berbinar-binar. Rupanya, ia audah tertidur pulas. Hatinya benar-benar tenang.

Tidak lama kemudian. Pintu kamarnya berbunyi keras. Terdengar ketukan laki-laki seperti tentara menyeruak hentak, memekak telinga. Wajah si Tukang Kayu memutih beku, rasa takut  menyelimutinya. Ia menoleh pada kekasih yang dirindunya. Istrinya yang lagi terlelap di sampingnya. Tapi pandangannya sayu, lemah, tak berdaya, seperti dosa-dosa yang mau meng-adzab, dan mencoba mengingat kembali perkataan istrinya tadi. "Allah itu Satu, pintu rahmatNya tak berpintu, selalu terbuka pada sesiapa yang mengetuk pintu, atau pun tidak".

Ketukan pintu di depan kamarnya semakin mengeras. Ia langkahkah kedua kakinya walau serasa merekat di lantai. Ia buka pintu dengan kedua tangan yang begetar hebat, tetiba di depannya kedua tentara tegap berparang. Ia pun menjulurkan kedua tangannya yang penuh peluh dingin agar secepatnya diikat oleh tentara Raja.

Anehnya. Mulut tentara itu, seperti menahan nafas panjang. Dan keluar kata-kata yang membuat Tukang Kayu terperangah: "Sungguh, Raja telah wafat, aku ingin kau buatkan keranda untuknya".

Wajah Si Tukang Kayu memecah cahaya. Menoleh pada istrinya dengan seribu senyum di Bank mulutnya. Sepertinya si tukang kayu ingin meminta maaf pada istrinya karena memudarkan pesannya.

Tiba-tiba istrinya berucap dengan senyum mengembang,
"Wahai Tukang Kayu,  tidurlah malam ini! seperti malam-malam nyenyak yang kau lewati,  Allah itu Satu, pintu rahmaNya terbuka selalu".

Vonis mati menjadi sirna. Si Tukang Kayu pun berlenggang dengan gembira,
"Sungguh Allah Satu, banyak punya pintu." katanya dengan senyumnya.

MasyaAllah. Keyakinan akan rahmatNya mencapaikan cita indah. Kadang gagal masuk pada satu pintu, tetapi Allah memberikan pintu-pintu yang lain untuk bisa masuk. Kadang pintu itu lebih indah dengan kamar-kamar firdausnya. 

Mengapa harus sedih ketika gagal dalam satu cita dan satu keinginan, bukankah Allah memiliki banyak pintu ( abwab mutafariqah wa katsirah). Maka, keyakinan akan rahmatNya yang tersebar dalam setiap ruang dan waktu, akan memberikan kebahagian dalam setiap detiknya.
Allah satu, tapi pintuNya berjibun rindu.

Senin, 08 Juni 2020

M A S J I D. Menghampar Sujud, Mencari Hakekat Wujud

Halimi Zuhdy 

"Dan bumi bagimu adalah masjid, maka dimana saja kamu mendapatkan (waktu) shalat, maka shalat-lah" (hadits Nabi, An-Nasai).

Bumi yang menghampar. Langit yang menjulang. Udara yang berhembus. Api yang berkobar. Air yang gemercik. Semuanya bersujud. Wujud pada Sang Maha Wujud.

Jika bumi adalah masjid, adakah tempat berlari tak bersujud. Bumi adalah sajadah yang menghampar. Tempat kaki menginjakkan segala hawa nafsu. Melangitkan pikir kepada Sang Maha Tinggi. 

Bumi dan langit bentuk ketundukan dan pengagungan. Masjid laksana tempat menghimpun rindu pada-Nya. Walau, rindu sesungguhnya tidaklah bertempat. Masjid tempat penyatuan dari seluruh tanah di muka bumi. Hamparannya bersambung. Ia ada untuk menjadi paku langit.

Sujud adalah kewujudan diri. Dari ketiadaan jasad yang sesungguhnya. Masjid tempat menempatkan dan menguasakan ruh. Membungkuskan diri jasadi untuk mengenalkan pada Penguasa Alam Semesta. Maka bentuknya adalah sujud, merendahkan diri pada-Nya. Adzan mengingatkan bahwa waktu mensujudkan diri telah tiba. Yang terkadang manusia lupa, bahwa ia akan menghadap pada-Nya.

Bumi adalah masjid, sujud aktifitasnya. Alam adalah sajadah panjangnya. Maka pusatnya adalah Masjid Haram, Baitullah,  Makkah. 

Baitullah bukanlah rumah fisik Allah, karena Allah adalah dzat. Dia tidak butuh tempat, tapi manusialah yang butuh untuk menempatkan dirinya. Ketika manusia bertempat di masjid, ia sebenarnya menempatkan diri pada keadaan sesugguhnya sebagai hamba Allah. Walau tidak berada di dalamnya, bagaimana hati muallaq: berhubung, bergantung padanya. Kiblat (tempat menghadap) ke ka'bah untuk menyatukan dan memusatkan jiwanya. Bagi manusia yang  mampu menghadirinya, mereka berkeliling (berthawaf). Bagi yang tidak mampu, mereka mendirikan shalat Jum'at. 

Memakmurkan masjid, adalah menghadirinnya. Mensujudkan, merukukkan, meng'itikafkan, mengaji dan mengkaji (ta'lim). Memakmurkan tidak hanya memahat temboknya,  menjulangkan menaranya, mempercantik atap dan lantainya. “Hanyalah yang memakmurkan Masjid-masjid Allah ialah mereka yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian. Tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada-Nya. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18). 

Masjid adalah Ism makan (nama tempat) dari sajada yasjudu sujudan (bersujud), tempat bersujud. Sujud secara bahasa adalah merendah,  tunduk, ta'at. Ia menghilangkan arogansi dirinya, tubuhnya ia lekatkan pada tempat paling rendah, tanah. Tiada harganya di hadapab Sang Maha Tinggi. Subhana rabbiya al-'ala wa bihamdi. 

Seorang hamba, jika ia berada di dekat Tuhannya, maka sifat-sifat ketuhanan ia akan mampu diraihnya. Jika mampu meraihnya, maka akan meraih kesejahteraan (salamun), dan kebahagiaan (hasanah). Diantara penghambaannya, dengan memakmurkan masjid-Nya. Memakmurkan masjidnya, pada hakekatnya memakmurkan dirinya, sebagai seorang hamba.

Selasa, 02 Juni 2020

Masa Bodoh

Halimi Zuhdy 

Abai, masa bodoh, acuh tak acuh dan cuek,  terkadang sikap yang paling indah. 

Dalam hidup, sikap masa bodoh terkadang paling asyik. Masa bodoh pada peristiwa yang terjadi, juga pada sikap dan perkataan seseorang pada kita. Karena tidak semuanya harus disikapi, ditanggapi, dilayani, apalagi dipikirkan. Ada saatnya membiasakan dan bersikap cerdas dalam memilih sesuatu agar tidak ikut terseret pada sesuatu yang tidak penting untuk dipikirkan. Dengan bersikap masa bodoh yang cerdas.

Allah menciptakan manusia dari air dan tanah liat. Sebagian mereka airnya lebih kuat 
dari tanahnya, maka menjadi sungai. Dan ada pula tanahnya lebih kuat dari airnya, maka menjadi batu. Ada yang lebut, ada keras kepala.

Maka, dalam kehidupan. Kita harus membuat lubang atau jurang kecil yang kita gunakan untuk membuang kesalahan-kesalahan teman, saudara, kerabat dan keluarga. Serta berusaha melupakan tempat mengubur kesalahan itu, sehingga tidak tumbuh lagi kekesalahan dan pertengkaran. Masa bodoh.

Melupakan kesalahan teman pada kita itu sangat indah, walau kadang menyakitkan. Masa bodoh adalah jalan yang paling cantik. Pergi tanpa pamit tidak indah, tapi pergi dan menghilang karena takut sakit, jauh lebih indah. Ada saatnya diam, ada saatnya heboh. Diam disaat ia marah membuat bunga-bunga mekar dalam hati, dirindukan. 

Terkadang kita harus cuek pada omongan orang. Rasan-rasan orang pada kita, tidak harus kita teliti satu-persatu. Tidak harus diingat kata-perkata. Dan tidak usah bingung, karena takut nama kita hancur. Tidak usah mengklarifikasi semuanya tentang kita, biarkan mereka berbicara sesukanya, kalau kita tidak melakukannya apakah kita akan hancur?. 

مادمت تمشي مستقيماً لا تبالي بالعقول المائله
Selama engkau berada di jalan yang lurus, jangan pedulikan pikiran-pikiran yang miring

Percayalah bahwa mutiara yang ditemukan, karena kita tidak terlalu bersih mengasak pasir. Untuk mengambil emas di kolam yang keruh, cukup tenangkan anginnya, tidak harus dikuras habis. Dan percayalah pada Allah, bahwa Dialah Dzat yang merubah segalanya. Hari ini pasang, berikutnya surut. Detik ini sedih, detik berikutnya gembira. Kadang ia menjadi musuh, beberapa detik menjadi teman akrab. 

Maka, tidak harus semua dipikirkan, karena setiap pikiran memiliki tempatnya, cukuplah memikirkan bagaimana  kita selalu menjadi baik di hadapNya. Maka, yang lain, akan mengikuti kebaikan itu. Adakah yang kita percayai selainNya?, Bukankah dzikir disebutkan sebelum pikir?. MerinduNya, adalah penyelesaian yang indah, dari pada memikirkan sesuatu yang tidak patut dipikirkan. Masa bodoh kadang hal yang paling asyik dan indah.

قد يراك البعض نقيا 
Terkadang, ada orang yang memandangmu baik
وقد يراك آخرون سيئاً
Ada orang yang melihatmu jelek

وقد يراك آخرون خلوقا 
Ada pula  yang menganggap engkau berbudi luhur
ولكن أنت أدرى بنفسك 
Tetapi, engkaulah yang lebih tahu akan dirimu

فالسّر الوحيد الذي لا يعلمه غيرك 
هو علاقتك مع ربّك 
فلا يغرّك المادحون 
ولا يضرك القادحون 

Yang menjadi rahasia hanya satu, sedangkan orang lain tidak mengetahui, yaitu hubunganmu dengan Tuhanmu. 
Maka, kamu tidak akan terpana dengan pujian orang dan tidak merana dengan caciannya

لقوله تعالى :
"بَلِ الاِنْسَانُ عَلى نَفْسِهِ بَصِيرَة"
Firman Allah, "Bahkan manusia menjadi saksi  akan dirinya sendiri".