السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 17 Oktober 2011

Melihat Fakultas ADAB ke depan?




oleh Halimi Zuhdy


Beberapa hari ke depan saya akan mengikuti seminar Nasional dan Pertemuan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) III se-Indonesia di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 14-16 Oktober 2011. Tema yang di usung adalah “Integrasi Ilmu-ilmu Ke-Adab-an dengan Ilmu-ilmu Budaya-Humaniora” Peta dan Peluang Pengembangan Ilmu Ke-Adab-an, Potret Kekinian Ilmu-ilmu Ke-Adab-an, dan Konsorsium Prodi.



Saya melihat banyak kegelisahan dan keresahan di kalangan mahasiswa Adab (Sastra Arab), terkait dengan masa depan mereka, mau kemanakah mereka setelah lulus dari fakultas Adab (kalau di UIN MALIKI Malang, adalah Fakultas Humaniora dan Budaya, di dalamnya ada jurusan Bahasa dan Sastra Arab)? Kegelisahan itu berangkat dari sebuah gebrakan dunia tentang dunia kerja, dan kebanyakan universitas sekarang lebih mengedepankan jurusan-jurusan yang langsung kerja, dan yang memang dibutuhkan masyarakan sekarang. Misalkan fakultas Pendidika, Administrasi dan Bisnis Management, Psikologi, Keperawatan, Ekonomi, Marketing (Public Relation), Ilmu Komputer / Teknik Informatika dan lainnya rata-rata semua memproyeksikan agar mahasiswanya langsung dapat kerja.



Dan dekade terakhir ini diberbagai universitas yang di dalamnya terdapat fakultas Adab (terutama yang jurusan Sejarah Perdaban Islam, Bahasa dan Sastra Arab, Jurusan Tarjamah dan Ilmu Perpustakaan Islam) rata-rata mahasiswanya berkurang, walau bersifat fluktuatif. Dan yang marak jurusan sastra Inggris dan jurusan Pendidikan Bahasa Arab.



Kalau saya lihat beberapa jurusan yang ada di dalamnya, seperti SPI, BSA, dan Ilmu perpustaan memang kurang merekah dibandingkan jurusan sastra Inggris, walau diiming-imingi berbagai beasiswa, namun bahasiswanya masih jauh dari harapan. Mungkin menurut mereka jurusan yang saya sebutkan tidak memiliki masa depan yang jelas (sulit medapatkan pekerjaan). Apakah memang benar? Itu yang perlu dikaji ulang dan perlu perhatian lebih dari jurusan-jurusan tadi, bahwa semua jurusan punya orentasi yang sama, yaitu memeprdayakan mahasiswa dalam berbagai segi, di antaranya kesejahteraannya (kerja). Kemungkinan lain mengapa peminatnya berkurang, disamping orentasi dunia berubah, mungkin juga kurangnya sosialisasi fakultas atau jurusan pada calon mahasiswa, serta visi dan misi yang masih tidak aptudete .



Di samping dari fakultasnya yang harus lebih kreatif untuk membangkitkan beberapa jurusan yang ada di dalamnya atau menorobos relung-relung modern, juga dari faktor mahasiswa yang sudah lebih condong pada dunia global yang lebih mengedepankan dunia “kerja” tanpa melihat aspek-aspek yang mengitarinya. Saya tidak sepenuhnya menyalakan atau mengkritik fakultas yang kurang memiliki sayap, namun di sana memang ada perubahan medsite masiswa.



Sebenarnya apa tujuan Kuliah di Universitas, mungkin alasannya mahasiswa berbeda-beda namun ada yang ingin menjadi manusia handal dan profesional, mempunyai kemampuan daya nalar, daya analisis dan daya pikir yang tinggi, mempunyai kemampuan dan keahlian yang mantap dalam penguasaan ilmu-ilmu, mempunyai sikap jujur, disiplin tinggi, rajin, bertanggung jawab, beretika dan sebagainya. Dan yang paling menjadi proritas mahaiswa masa kini adalah setelah lulus kuliah kalian memiliki gelar sarjana, punya pekerjaan yang jelas, penghasilan yang cukup, kadang tujuan terakhir itu menghilangkan tujuan yang lain, seperti mencari menjadi “hamba yang benar-benar di Ridai Allah” dengan berbagai perspektifnya.



Bagaimana Fakultas Adab ke Depan?



Berlari depan Cepat

Siapa yang berada pada masa kini, sebuah masa keemasan ilmu teknologi dan masa krisis moral harus siap-siap untuk maju, maju bukan hanya dalam segi teknologi namun juga dapat berakhlak mulia. Menurut Bahren Nurdin bahwa peradaban global (dan kapitalisme) yang siap menelan korban bagi siapa saja yang tidak siap mengikuti dan menhadapinya. Ritme kehidupan manusia yang semakin menggila. Kamajuan teknologi yang didewakan oleh Barat merajalela merambah dan memah peradaban Islam. Nilai-nilai keislaman dan budaya-duaya ketimuran, juga kearifan-kearifan adat-isti-adat setiap detik digerogoti. Orang-orang yang lengah pasti kalah. Orang-orang yang alfa pasti jadi mangsa. Orang-orang yang tidak siap berkompetisi akan mati. Begitulah sedikit gambaran peradaban yang akan dihadapi tersebut.



Beberapa jurusan yang ada didalamnya harus siap bersaing dengan cerdas tanpa menghilankan karakteristiknya atau Visi dan Misi mulianya. Beberapa jurusan yang ada di dalam Fakultas Adab harus menjadi pilihan tepat bagi masyarakat untuk dijadikan tempat menempa diri dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi zaman global tersebut. Sebut saja jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) misalnya akan mampu melahirkan sarjana yang mupuni di bidang Bahasa Inggris sekaligus dengan sastra yang di dalamnya syarat dengan pemahaman-pemahaman kesusastraan dan kebudayaan. Dengan keilmuan ini diharapkan para sarjananya akan mampu bermain di kancah internasional. Begitu juga jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Sejarah Peradaban Islam (SKI), dan Ilmu Perpustakaan (IPt).

Seperti apa yang dikatana Bahren Nurdin jurusan-jursan ini hanyalah alat. Ibarat sebuah mobil canggih jika ia tidak dioperasikan dengan baik maka ia tidak akan mendatangkan manfaat apa pun. Karena ianya hanyalah sebuah alat. Yang jauh lebih penting dari alat itu adalah siapa yang menggunakan alat tersebut. jurusan-jurusan yang hebat ini tidak akan berarti apa-apa jika orang-orang yang terlibat pada pengoprasiannya tidak berkeinginan besar untuk membuatnya hebat.



Saya sepakat terhadap Drs. Irhash M. Hum. Untuk memajukan fakultas Adab maka harus ada capaian yang lebih diprioritaskan pada fakultas ini juga lebih dapat dikembangkan sejajar dengan laju perkembangan dunia pendidikan pada umumnya. Dengan Beberapa misi Pertama : Otoritasi Keilmuan dan Penguatan mutu akademik untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dan unggul secara kualitatif. Kedua : Penguatan kelembagaan fakultas sebagai sarana pengembangan wawasan keilmuan, kreatifitas dan kepemimpinan mahasiswa. Ketiga : Peningkatan kerjasama keilmuan dan kemitraan untuk sosialisasi dan perluasan alternatif lapangan kerja lulusan. Keempat : Penguatan peran pengembangan dan pelestarian budaya Islam dalam rangka pengabdian pada masyarakat dan sosialisasi





Diam dengan seribu langkah



Fakultas ini tidak akan pernah berkembang, dan bahkan akan ambruk (tidak diminati oleh mahaiswanya), jika tidak pernah memahami laju globalisasi, dan hanya mempertahankan sikapnya yang statis, apa sikap itu; menjadi Fakultas yang hanya berorentasi masa lalu, mengenang kejayaan masa lalu, dan hanya menjadi pengamat masa kini, tanpa berbuat banyak untuk umat. Dan yang susah lagi, kalau hanya mengalir apa adanya, bukan mengalir deras seperti gelombang atau arus lautan yang menghentakkan dan menghanyutkan, dalam artian ia tidak pernah tunduk pada Zaman, tapi bagaimana ia menundukkan zaman, sebagaimana Stave Job yang baru meninggal; ia lebih suka tidak ikut arus manusia dalam menentukan kehendak pasar, tapi dia mencipta sesuatu yang berbeda walau dianggap sesuatu itu kecil ”Buatlah sesuatu yang memberikan konstribusi besar bagi masyarakat, sesuatu yang membuat lekukan di dalam semesta’. Saat itu tercapai, keuntungan materi akan mengikuti dengan sendirinya. Dia lebih suka membuat arus, dari pada terlarut arus, sehingga yang terjadi kita lebih suka mencontoh dari pada membuat contoh.



Malang, 13 Oktober 2011

Menuju Yoyakarta, pertemuan ADIA III



Mudah-mudahan dengan pertemuan ADIA III, seluruh jajaran Fakultas ADAB lebih semangat menatap masa depan yang lebih gemilang. Sebagaimana visi dan Misinya : Mewujudkan tata kehidupan masyarakat Indonesia yang memahami dan menghayati ilmu-ilmu hurnaniora.

Dan Misinya : Melakukan pengkajian, penelitian, dan pengembangan ilmu-ilmu Adab dan Humaniora dalam kontek ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Meningkatkan kualitas sumber daya dosen yang kompeten di bidang ilmu-ilmu Adab dan Humaniora. Memberikan landasan nilai-nilai keadaban dan kehumanioraan dalam pengembangan kebijakan di Indonesia.Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dengan pihak-pihak terkait, baik dengan pemerintah maupun non pemerintah, dalam dan luar negeri

Bittaufiq wassadat



Halimi Zuhdy

1 komentar:

  1. kebijakan pemerintah yang harus mengakomodir setiap generasi dengan berbagai keahliannya. indonesia harus mempunyai ARKEOLOG yang PROFESSIONAL, PUSTAKAWAN yang HANDAL yang mampu melestarikan karya anak bangsa, serta mepunyai pakar sastra baik sastra Indonesia, inggris maupun Arab

    BalasHapus