السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 07 Mei 2011

Bali 4 : Menulis ala Pelatihan IALF education and Development

Gerrr….peserta semua terawa karena ada bahasan yang baru, bukan tulisannya yang baru, tetapi cara pengucapannya, yaitu genre di baca Jonra…kontan teman-teman peserta pada kebingungan, bahasan apalagi ini, apa hubungannya  genre dengan menulis, yang lucu lagi Ibu Sonia istri Kajur PBA Doktoral mengkritisi cara pengucapnya, wajar karena ia menguasai 5 bahasa; Arab, Inggris, perancis, Indonesia dan sedikit Jawa. Genre yang berasal dari prancis tidak dibaca jonra tetapi Joungukh…

Genre dalam sastra bukan sesuatu yang aneh bin ajaib ia ia adalah jenis karya sastra seperti puisi (syi’r), prosa (nastr) atau menurut Alvin Toffler  genre sastra mengacu pada tiga paradigma peradaban, ranah sastra dapat dipilah ke dalam paradigma peradaban agraris, industrial, dan informasi. Sastra dalam peradaban agraris didominasi genre sastra lisan; sastra dalam peradaban industrial didominasi genre sastra tulis; dan sastra dalam peradaban informasi didominasi genre sastra elektronik. Berdasarkan hal ini objek penelitian sastra dapat diklasifikasikan ke dalam sastra lisan, sastra tulis, dan sastra elektronik. Ah..genre sastra bukan pembahasan saya kali ini. 

Genre secara sederhananya adalah jenis (nau’) itu kalau dalam karya sastra. Mari kita lihat, sebuah pendekatan genre dalam menulis, apa perbedaan dengan pendekatan-pendekatan yang lain.
Mengajarkan menulis, atau belajar menulis ada dua pendekatan (madkhal/approach) pendekatan genre dan pendekatan proses. Pendekatan proses, lebih mendekatkan pembelajar pada “kebebasan"  dalam menulis. Menurut Tompkins peran pengajar dalam pembelajaran menulis dengan pendekatan proses tidak hanya memberikan tugas menulis dan menilai tulisan para pembelajar, tetapi juga membimbing pembelajar dalam proses menulis. 

Ada beberapa perbedaan antara menulis dengan pendekatan genre dan pendekatan proses. Pendekatan proses dalam hal memilih topik pembelajar memilih sendiri, atau topik-topik yang diambil dari bidang studi lain yang tidak terikat dengan apa pun. Dalam pembelajarannya pengajar mengajar siswa mengenai proses menulis dan mengenai bentuk-bentuk tulisan. Sedangkan fakusnya berfokus pada proses yang digunakan pembelajar ketika menulis. Dalam rasa memilih pembelajar merasa memiliki tulisan sendiri.Pembaca,pembelajar menulis untuk pembaca yang sesungguhnya. Kerjasama, pembelajar menulis dengan bekerja sama dan berbagi tulisan yang dihasilkan masing-masing dengan teman-teman satu kelompok/kelas. Draf, pembelajar menulis draft kasar (outline) untuk menuangkan gagasan dan kemudian merevisi dan menyunting draft ini sebelum membuat hasil akhir. Kesalahan mikanik,pembelajar mengoreksi kesalahan sebanyak-banyaknya selama menyunting, tetapi tekanannya lebih besar pada isi daripada segi mekanik. Peran mengajar, pengajar mengajarkan cara menulis dan memberikan balikan selama pembelajar merevisi dan mengedit/menyunting. Waktu, pembelajar mungkin menghabiskan waktu tidak hanya satu jam pelajaran untuk mengerjakan setiap tugas menulis. Dalam evaluasi-nya, pengajar memberikan balikan selama pembelajar menulis, sehingga pembelajar dapat memanfaatkannya untuk memperbaiki tulisannya, evaluasi berfokus pada proses dan hasil.

Pendekatan proses lebih memerdekakan pembelajar dalam kepenulisan, meskipun tidak lepas dari aturan-aturan yang harus diberikan seorang guru pada siswanya, bagaimana pun guru tetap memberikan ancangan-ancangan untuk membuat siswanya lebih bisa menulis, bukan penekanan yang membuat siswa mandeg menulis. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pengajar ketika menggunakan pendekatan proses, dengan menyajikan lima tahap, yaitu: (1) pramenulis, (2) pembuatan draft, (3) merevisi, (4) menyunting, dan (5) berbagi (sharing). Tompkins juga menekankan bahwa tahap-tahap menulis ini tidak merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinier, artinya merupakan putaran berulang. Misalnya, setelah selesai menyunting tulisannya, penulis mungkin ingin meninjau kembali kesesuaiannya dengan kerangka tulisan atau draft awalnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap itu dapat dirinci lagi. Dengan demikian, tergambar secara menyeluruh proses menulis, mulai awal sampai akhir menulis seperti berikut, itu menuru Pak Tompkins lo…

Nah, setelah mengikuti gaya mengajar dengan pendekatan proses, kita mulai terangsang dengan pendekatan genre yang dibaca jonre oleh bu Sri, ia asli Bali, dan pengajar di Universitas Australia. Apa Genre? Tadi sudah disentil.he3. yaps genre dalam kepenulisan ber berupa apa saja dari artikel Koran, majalah, televise, permainan, dan lainnya. Tulisan-tulisan yang mempunyai genre sama akan mempunyai beberapa sifat yang sama dalam hal layout, tingkat formalitas dan gaya bahasa. Sifat-sifat ini lebih baku dalam surat keluhan dan esai atau dalam penulisan kreatif seperti puisi. Genre yang lebih formal sering menjadi bahan ujian.
Ada beberapa tahapan mengajarkan menulis dengan pendekatan genre yaitu ; tahapan pelajaran menulis, memunculkan gagasan,memfokuskan gagasan,fokus pada model text,mengorganisir gagasan,menulis,evaluasi dari rekan,meninjau,conclusion

Insyallah saya akan mengupas lebih panjang lagi tentang pendekatan genre, dari tahapan menulis samapai tahapan kesimpulan. Nich lagi dipaksa ikut jalan-jalan melanjutkan kunjugan ke pantai….lihat apa yach wong di rumah banyak pantai dan sepertinya lebih bersih dan membersihkan, batinan kana aw jasadan.
Tulisan-tulisan yang masih menempel di otak : pembelajaran kosa kata, grammar, renungan batin di Kute, hidayah Tuhan di Bali, kata-kata ala Joger, ……tunggu ya

Sanur Bali, 7  Mei 2011