السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 07 Mei 2011

Bali 3 : Belajar di IALF Education and Development

5 Mei 2011

Perjalanan dari Sanur menuju IALF sungguh menyenangkan, dengan ditemani gaet yang kocak, teman-teman yang menyenangkan, pemandangan yang menakjupkan, seakan-akan saya mengelilingi hutan di ibu kota, dipenuhi dengan iklan-iklan yang ekstetik dengan gaya semi modern berpadu gaya zaman purba.



Sesampai di IALF, datang dua penjaga yang memeriksa kami, wah..ini tempat pembelajaran yang luar biasa, tempatnya modern, bersih, rapi, elit tanpa menghilangkan khas budaya Bali. Memasuki ruang belajar di lantai dua, sang manajer Mr. Corelin dan stafnya ibu komang menyambut dengan senyum penuh persahabatan “welcome” kata mereka. Kita masuk dengan penuh malu, yach terlambat lebih satu jam. Penyebabnya mas Gaet kebingungan di jalan, dan ada perbedaan waktu antara WIB dan WITA, jarakny sekitar satu jam.



Memasuki pembelajaran pertama dengan tema “Mengembangkan Metodelogi Pengajaran Berbasis ittisoli”. Wah antraktif itu kesan pertama, ketika bu Komang membuka pola pengajaran bahasa dengan strategi komunikatif yang terintegrasi. Dia langsung mengacak-ngacak kami dengan dunia mapping, buat kami hal yang biasa, namun berbeda dari pengajaran bahasa Arab adalah keterbukaannya, dan media yang dipergunakan, kalau pengajar bahasa Arab masih terkesan pemalu membuat pola-pola yang integratif dan komunikatif, serta fasilitasnya yang juga sering pas-pasan.

Berlanjut dengan pembelajaran berbicara (maharah kalam/speaking) , alas an pentingnya pengajaran berbicara adalah : 1) memberikan kesempatan untuk berlatih (rehearsal) dalam kelas. Membangun percaya diri siswa akan kemampuan berbicara mereka, 2) Memberikan umpan balik (feedback) dari guru dan teman, sejauh mana kecakapan berbicara siswa dan kesulitan yang mereka temui, 3) mengantarkan siswa untuk menjadi pengguna bahasa yang lancer (fluent) dan mandiri (autonomous).



Dan hebatnya lagi, pembelajaran itu tidak pasif, apalagi pembelajaran berbicara, malah yang sering kita lihat dan sering guangru gunakan ketika dalam pembelajaran berbicara adalah mengajarkan diam, so gurunya yang sering berbicara sedangkan siswanya dari sejak memasuki ruangan kelas sampai keluar diam seribu bahasa, lah inilah yang kurang mendidik dan mungkin pembelajaran berbicara menjadi pelajaran bermeditasi.he3. seharusnya guru yang banyak diam, siswa yang cerewet dan ngewel. Maka ada beberapa hal yang penting untuk dilakukan oleh guru di kelas, yaitu membuat kegiatan yang: 1) produkti (intajiyah/produktive), 2) tujuan/alasan (ahdaf/ Purpuseful), 3) Praktis (al-amaliyah/practical), 4) Mudah diprediksi (qabil liltanabbu’/ predictable), 5) Multi guna (muta’ddad al-istikhdam/ adaptable).

Pembelajaran berbicara ini sebenarnya tidak terlalu sulit, banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru, dari masuk sampai kelaur, dan guru juga tidak terlalu risau untuk kehabisan pembahasan, wong bukan pemeblajaran ceramah, tapi bagaimana kita pintar dan cerdas memilih tema yang lagi-lagi efekti dan produktif. Dan peran guru dalam berbicara adalah: sebagai a) inisiator; perancang kegiatan (konteks, situasi, instruksi), b) moderator; penengah dan penjelas, c) Monitor; pemberi umpan balik dan pemberi koreksi, d) partisipator; ikut serta dalam perbincangan.

Kemudian apa yang harus dilakukan guru dalam memonitor percakapan siswa, yach a) menilai ketepatan (tashih/accuracy, menilai apanya; tata bahasa, pelafalan, dan kepantasan. Kemduain b, kelancaran (tholaqah/fluency), kecepatan, padu dan paut…..



Ini dulu ya, nanti saya lanjutkan dengan pelajaran menulis…ini lebih dahsyat lagi, dengan menggunakan pendekatan Genre.



Bali, 5 Mei 2011