السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Minggu, 08 Mei 2011

Bai 7 : Menulis dengan pendekatan Ganre (Pembelajaran di IALF)

Menulis untuk diri sendiri tidak terlalu sulit, menggunakan bahasa Kontowijoyo, hanya ada tiga syarat untuk bisa menulis, yaitu menulis, menulis dan menulis. Teorinya menulis ya adalah menulis. Menulis tidak membutuhkan banyak teori, pakek saja teorinya EWA, ah teori lagi.
Apa sih teori?, apa sih teknik?, apa sih Metode? Apa sih Startegi? Apa sih pendekatan? Dalam menulis……memikirkan macam-macamnya saja, jadi bingung, kapan menulisnya. Tar tidak jadi-jadi menulisnya.
Tidak usah repot kawan, kalau hanya untuk diri kita sendiri. Ambil saja laptop, buka, letakkan tangan di keyboard , petik saja huruf-huruf yang ada di bawahnya, tulislah kata perkata, kalimat perkalimat, jadilah paragraf. Kalau sudah jadi paragraph, jadilah opini, esai, makalah dan lainnya. Oh ia, jangan lupa, kasih titik, beri koma, hajar dengan spasi dan stop, tamat. Kalau masih ada, ide-ide yang berserakan dipikiran, lanjutkan sampai mentok alias mandek. Apa sulitnya?.
Lah…itu kalau hanya ingin egois menulis, dan menulis. Tapi mengajarkan kepada orang lain, tidak semudah untuk diri kita sendiri, makanya banyak peneliti dan para intelektual mebuat teori, teknik, strategi dan pendekatan hanya untuk mempermudah calon penulis, bukan untuk menulis diri sendiri. Pak EWA menggunakan “teori” EWA, apa pun ia, adalah sebuah teori, ya untuk memudahkan. Pembelajaran butuh yang namanya pendekatan dan lainnya, apa pun itu namanya.
Kali ini, saya ingin membahas sepintas sebuah pendekatan menulis, untuk seorang pengajar, yap..lagi-lagi untuk mempermudah dan mengarahkan calon penulis, untuk lebih pintar, lebih terarah dan yang penting menulis dengan karakter-karakter tertentu. Dan yang jelas, hasilnya tergantung bagaimana ia memperaktekkannya, hasilnya pasti berbeda-beda, sesuai dengan amalan masing-masing.
Pendekatan Genre (genre approach)
Pada tulisan sebelumnya “Bali 4 : menulis ala IALF”, sudah saya jelaskan makna dari pendekatan Genre, mungkin tulisan kali ini saya menfokuskan pada cara kerja genre.
a. Tahapan pelajaran menulis (marhalah ta’lim al-kitabah)
Tahapan menulis disesuaikan dengan genre yang akan ditugaskan kepada pembelajar, dan hal ini juga membutuhkan waktu, sedangkan waktunya disesuaikan dengan genre yang ditugaskan. Pada tahapan ini siswa dianjurkan untuk berkelompok dan membagi idea tau gagasan.
b. Ide (fikrah)
ide sangat dibutuhkan untuk memulai menulis, seorang pengajar memberikan genre awal kepada siswa, seperti membuat surat pembaca dikoran atas keluhan harian atau apalah yang dianggap mudah dan ide nya cepat mengalir, seperti pengalaman keseharian. Imajinasinya ketika menulis dirangsang oleh guru dengan menfokuskan pada genre yang sudah ditugaskan. Atau sebelum menulis, guru wajib menghadirkan atau merangsang agar ide siswa keluar.
Mereka diberi waktu untuk mengerjakan sendiri, kemudian dengan berkelompok, gagasan dari setiap kelompok dipilih yang terbaik, namun yang paling penting tidak mengecilkan ide-ide yang telah ada, atau guru mengejek bahkan menghilangkan ide yang telah ada.
c. Berfokus ide (tarkiz ila al-fikrah)
Guru menyuruh siswa untuk mengembangkan tulisan dengan tetap fakus pad aide awal, ini bisa dilakukan dengan membuat 'mind map’ (al-kharitah al-fikriyah), yang dilakukan oleh guru atau siswa. Guru atau pengajar memberikan kebebasan pada siswa untuk mengembangkan ide, mereka didorong untuk selalu menulis dan menulis tanpa berheti, tidak harus memikirkan grammer atau tanda baca
d. Terfokus pada gaya/model teks (al-tarkiz ila asalib al-nash)
lah hal ini yang membedakan pembelajaran genre dengan proses. Bagaimana siswa selalu fokus pada genre, dan guru mengarahkannya. Guru memberi para siswa beberapa contoh genre, dan mereka menggunakan bentuk analisi genre untuk melihat sifat-sifat yang sejenis dalam tulisan-tulisan tersebut.
e. Mengorganisir gagasan (tasnif al-fikrah)
pada tahap ini siswa diarahkan oleh guru untuk mengorganisir gagasan yang telah ada, bagaimana gagasan disusun dalam genre tertentu. Pengoraganisasian ini bisa dilakukan sendiri atau dengan berkelompok.
f. Menulis (al-kitabah)
menulis, menulis, dan menulis. Tahap ini, guru tidak lagi terlalu ikut campur dalam kepenulisan siswa, namun tetap memantau dan memonitoring siswa yang sesuai dengan draf.
g. Evaluasi dari rekan (taqwim min al-ashab)
apa pun membutuhkan penilaian atau evaluasi, meskipun pada akhirnya guru tidak menyalahkan namun hanya memberikan gagasan yang terbaik. Guru member komentar tentang isi dan organisasi gagasan, tanpa memberikan nilai atau koreksi grammar dan ejaan.
h. Meninjau (tashih wa tahsis)
guru meninjau tulisan siswa dengan tanpa mengecilakan ide tau mematahkan ide, ia hanya memberikan simbol-simbol untuk dikoreksi sendiri oleh siswa, diharapkan untuk tidak mencoret dengan coretan yang sangat, sehigga siswa enggan untuk menulis kembali. Mereka memeriksa ejaan, kata ganti, tanda baca dll.
i. Kesimpulan (khulashoh)
Dengan melalui tahapan-tahapan yang sudah dilalui, siswa dapat menulis dengan gagasan mereka sendiri yang dapat menghasilkan tulisan dengan genre yang tepat, yang dampaknya penulis (siswa) sadar bahwa pembaca akan mengharap sesuatu dari sebuah genre tertentu. Selain itu, siswa akan sadar imbas dari tulisan mereka terhadap pembaca.
Menulis dengan pendekatan apa pun, hanya satu tujuannya membebaskan, namun dalam kebebasan menulis, tidak harus menghilangkan subtansi dan melabrak kesakralan menulis, apa itu? Titik, koma, tanda kutip, spasi, besar kecilnya huruf, semua itu dalah sebuah kepakeman yang ahrus dita’ati, keluar dari kepakeman akan keluar dari aturan kepenulisan, sedangkan aturan apa pun hanyalha untuk memperbaiki dan mengarahkan bukan untuk mengkekang. Lah, pendekatan apa pun namanya harus mencerdaskan pembelajar dalam belajar menulis.
Guru, dosen dan pelatih harus “membebaskan” siswa atau mahasiswnya mengalirkan ide-idenya, pendekatan yang cocok dalam hal ini adalah pendekatan proses (process approach). Tapi, setiap pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan.
Apa pun pendekatannya yang dipergunakan harus disesuaikan dengan konteks pembelajarannya (muqtadal hal), ingin menulis puisi menjadi makalah, ingin menulis esai jadi puisi, tahap awal mungkin tidak menjadi masalah, dan akan menjadi petaka jika tidak sesua dnegan keinginan peminta. Lah inilah namanya masalah.he3.

Dreamland Bali 7 Mei 2011