السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 09 Mei 2011

Dari seorang motivator menulis : Halimi Pendobrak Birokrasi Kampus

HALIMI Zuhdy, tenaga edukatif UIN Malang, puisi-puisinya sangat saya sukai. Terlepas banyak kenal dengan penyair dan punya nama saya suka membaca tulisannya. Tulisan apa saja, bermuatan edukatif dan penyadaran keislaman. Puisi-puisinya sangat khas (Islamis). Soal  terkadang ada kesan kecewa berat atas berbagai kemelencengan negeri ini, memahaminya sebagai pencinta yang tengah dirundung kecewa.

Ketika berulang tahun, meminta Halimi memberi hadiah puisi, dan dibukukan menjadi, Menjaring Cakrawala. Sejak itu, batin terasa dekat. Asyik punya berteman dengan Kiai Muda ini. Sampai-sampai bertaruh dalam hati, ni orang sangat santun. Kalau menulis agak marah itu karena kepeduliannya yang berlebihan. Berharap terlalu baik. Nah, ketika Abrar mengoke ke Malang, menghubungi Halimi. Hasilnya mengagetkan?

Pak Ersis diminta memberi pembekalan dalam pelepasan sarjana UIN, Fakultas Humaniora dan Budaya. Dan, seminar di Ma’had UIN. Bukan acara biasa-biasa saja. Yang lebih mencengangkan, bagaimana Halimi bisa merekomendasi dan meyakinkan petinggi kampus mendatangkan seorang yang belum dikenal. Mendobrak ‘benteng’ birokrasi kampus. Bagi saya juga mendatangkan masalah. Pembekalan calon sarjana pastilah acara resmi kampus. Saya tidak terlalu suka acara resmi.

Ketika berangkat sebagai backpaker isteri mengingatkan membawa celana, baju, dan kopiah, khas kampus Islamis. “Ding, nanti kita beli. Santai saja’.

Alhamdulillah, karena acara padat, jangankan membeli pakaian, mendatangi teman dan bapak angkat saja tidak sempat. Bertahun-tahun ‘dibimbing’ Brigjen Soenarso, mantan Wakil Gbernur Kalimantan Selatan sewaktu ‘setengah gila’. Menfasilitasi menerbitkan majalah GAGAH dan aneka kegiatan lainnya. Dana tersedia, berlimpah. Membuka peluang  berkenalan dengan banyak orang hebat negeri ini. Anak-anak menganggap Pak Narso kakeknya karena seringnya di rumah beliau.

Begitulah. Halimi yang menfasilitasi, Halimi yang mengecewakan. Padahal, maksud saya ke Malang, mengompori Abrar dan ‘memaksa’ Halimi membukukan puisi dan tulisannya. Wualah ... setelah kepastian ke Malang, Halimi berkhabar mohon maaf: “Pak Ersis, saya harus ke Bali ...”. Allah SWT mungkin mengatur bahwa belum saatnya saya ‘mengatur’ Halimi he he.

Gagal ‘ngerjain’ Halimi tidak harus mengagalkan acara di Malang. Akhirnya sharing di Pesantren, UIN, dan Malang Post. Sekalipun agak tertib, isteri mengingatkan agar agak rapi dan bicara yang lebih sopan. Permintaan yang jauh dari dipenuhi.

Entahlah membayangkan betapa ‘sadisnya’ sharing di Malang, sejujurnya tidak ada apa-apanya dibanding dengan ketika memberi kuliah atau mengompori penulis pemula. Yang di Malang lebih santun.

Saya suka mencontohnya Rahayu Suciati dan Syamsuwal Qomar, sebelum diterima sebagai pewarta Bandjarbaroe Post dan pegawai di Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan (LPKPK) wajib menulis setiap hari selama sebulan. Berhenti satu hari saja pasti tidak diterima. Mereka berhasil menerbikan buku Geliat Kampus dan Aku Bangga Menjadi Urang Banjar (GAMA Media, Yogyakarta, 2008) sebelum diwisuda.

Ya, saya ingin bersua Halimi menantang menerbitkan buku-bukunya. Beruntung Halimi tidak kena ‘kutukan’ he he. Sebagai alihan, bersama ketua Panitia Seminar Ma’had UIN disepakati menulis buku seputar UIN. Semoga mahasiswa UIN tidak mengecewakan. Buku Lomba Menulis Buku Bersama ditunda penerbitannya agar bersamaan dengan buku seputar UIN dan yang dikelola Pak Husnun dari Malang Post. Tiga buku sekaligus. Kiranya pas dengan Wisata Menulis ke Malang.

Satu hal menggugah, mahasiwa UIN sangat potensial menulis. Di hotel atau di tempat nongkrong sembari menyeruput STMJ menagkap suasana kebatinannya. Lagi pula, sempat ke kantor Pak Rektor, wuaw ... Pak Imam S. penulis produktif pemegang rekor menulis MURI tiga tahun berturut-turut. Terlepas, kiranya saya lebih ganas he he. Terkadang bisa 10 tulisan sehari he he.

Yaps, tulisan ini khusus untuk Ustadz Halimi. Saya penasaran dan berdendam ingin mendengar tuturanya yang terkenal lembut dan santun tersebut. Amin.

Bagaimana menurut Sampeyan?