السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 10 Maret 2011

MADURA, CELURIT-KU

Halimi ZUhdy

Lelah ku menghitung awan
Tenggelam dalam rayuan
Tembakau  menyebul membuat sakau

Padi mengering, ikan-ikan berlayar
Garam membentang,
sapi-sapi menari, berkerapan
siwalan bersiul-siul mencari juragan

Madura-ku
Sakera datang, kesombongan hingar
Kehormatan tepenjara, celurit terpencar
Darah tercurah, bukan membunuh
Tapi, sebuah pembelaan

Madaura-ku
Kekerasan memang bukan sebuah pilihan
Tapi, sebuah kewajiban
Celurit, sebuah kehormatan
Bukan tajamnya yang  teracungkan
Kematian angkara ter- dahulukan

Madura-ku
Merah darah, lebih indah
Dari merah baju, pemoles nafsu
Merah darah, lebih indah
Dari kemunafikan yang selalu membiru

Celurit-ku
Tajam tanpa kata
Bertindak, hancurkan yang dusta
Membelai suka
Bendobrak angkara

Madura-ku
Keras, tegas, tegap….celurit-ku
Menghunus, tanpa kemunafikan yang berlaku
Muka tunduk bukan malu
Bersiap menenteng kepala yang beku
Tegap berjalan, bukan kesombongan
Demi meraih kehormatan agama yang  terancam

Madura-ku
Hitam putih jadi pilihan
Bukan abu-abu yang dituhankan
“Ia” yang kau katakan
“ia” pula yang dendangkan

Madura-ku
Gelombang ombak yang kau rasakan
Hempasan angin yang kau inginkan
Perahu-perahu layar  menebar  angan
Membuatku tersimpuh di pelabukan kamal

Madura-ku
Tak ada kata yang lebih indah
Dari kata celurit “ pantheng mon sala”
Agar, indah diakhir kata

Malang, 10 Maret 2011
Kutemukan maduraku, dalam setiap tetesan rindu, anganku selalu melayang menemui ibuku, dari rantau ini, kuteriakkan kata yang kaku, walau sebenarnya anganku tetap “Madura-ku”