السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 02 Oktober 2010

KONFRONTASI KATA-KATA


Beberapa hari kemarin saya mendapat massage di Facebook, yang dikirim oleh seseorang atas nama बुद्ध इखवान इस्लाम setelah saya terjemah ke dalam bahasa Indonesia berarti Buddha ikhwan Islam, pesannya sebagai berikut :
Salam. apa kbr saudaraku.
smg anda dlm keadaan sehat. Amin
perdapat saudara sungguh membuat saya terkejut. anda muslim tp tdk bnr2 menghayati apa it muslim. pikiran saya membimbing saya berpendpt bhw anda adlh salah satu tanda2 kiamat. smg anda tidak mengikuti jejak gus dur. status saya itu khusus saya buat untuk anda. di akhir zaman nanti yg merusak islam adalah muslim itu sendiri. nauzubillah minzalik.
Salam

sebuah pembunuhan karakter yang ia suguhkan, dengan mengatakan anda muslim tp tdk bnr2 menghayati apa it muslim. Dengan kata-kata yang terangkai ia mencoba untuk mengkonfrontasikan dan membenturkan dengan pemahamannya sendiri, yang menurut saya ia tidak tahu arti/makna yang ia tulis dengan kata tersebut, dengan mengatakan anda muslim tp tdk bnr2 menghayati apa it muslim. Ia sendiri tidak sadar bahwa ia belum mengetahui tentang Islam, tapi sok peduli terhadap pemaham Islam. Ia sebenarnya ingin mengomentari tulisan saya “merebut Cinta Sang Teroris”, yang didalamnya tidak sedikit pun saya menyinggung Islam dan Agama lain, atau tidak menyentil salah satu ediologi yang berkaitan dengan Teroris, karena dalam setiap Agama atau kepercayaan selalu muncul teroris-teroris yang memiliki kekutan kepercayaan besar pada agama (menurut pemahamannya) yang dalam istilah lain saya sebut dengan cinta, karena cinta adalah kekuatan yang mampu membuat seseorang berkorban dengan luar biasa, namun kecintaan tanpa kasih sayang dan kearifan, maka tidak akan menemukan keindahan, itu saja kesimpulannya, namun बुद्ध इखवान इस्लाम terlalu mempolitisir kata dan tidak memahami rangkaian kata yang saya tulis.
Selanjutnya ia menulis pikiran saya membimbing saya berpendpt bhw anda adlh salah satu tanda2 kiamat, saya melihat ini sebuah terlaluan dalam menyikapi tulisan yang sangat sederhana, dan hanya sebuah lompatan untuk memancing emosional saya, untuk mengatakan hal-hal yang kurang simpatik, tetapi Alhamdulillah saya tidak terpengaruh dengan tulisannya, hanya saya menantang untuk berdialog dan tidak bersembunyi dibalik topeng (gambar) yang tidak jelas, sebuah tanda kiamat dnegan berbagai pemahamnnya mengantarkannya untuk menjustifikasi seseorng masuk dalam ruangan prifatnya, ini yang saya sebut dengan konfrontasi pemikiran, kata-kata yang sangat sederhana (bukan bermaksud menyederhanakan tulisan saya) ia poa untuk membuat gunung dengan air, yang menurut saya adalah ketidak benaran, kalau dilihat dari topengnya yang digunakan ia setengan Budha dan setengah Muslim, ia mencoba menggabungkan keduanya menjadi sebuah perdamaian, yang sebenarnya muslim adalah kedamaian, lahir dari sebuah cinta dan trus menemukan cintanya dengan selalu mendekat pada pemahaman yang benar, berhaluan al-Qur’an dan al-hadis, keduanya tidak pernah stagnan untuk dikaji dan dingaji. Kiamat, yang ia sebutkan memasuki ruangan jauh, yang dia sendiri tidak memahami apa itu kiamat, apalagi tanda-tanda kiamat, bagaimana ia memahami tanda-tandanya ia sendiri apreori terhadap keadaannya, seakan-akan ia adalah sebuah kebenaran yang orang lain tidak sesuai dengan kebenaran ajarannya atau pemahamannya. Kemudian ia mengatakan “smg anda tidak mengikuti jejak gus dur.” Kemudian saya berfikir ada apa dengan Gus Dur, ia tidak pernah tahu cara berfikir Gus Dur, dan saya heran  बुद्ध इखवान इस्लाम, yang sebenarnya ia (seharusnya) mengikuti pemikiran Gus Dur, malah dia melihat pikiran gus dur adalah sebuah kekacauan. Setelah saya membaca ulang tulisan Cinta terkait dengan teroris di sana tidak menyinggung sama sekali sebuah pemikiran tokoh apalagi melibatkannya dalam dialog perbenturan, saya sendiri tidak pernah fundamental dalam sebuah pemikiran keculia ajaran dari Islam yang saya yakini.

Tulisan ini sebuah renungan kata, yang berangkat dari presepsi orang yang tidak pernah tahu arti kata, apalagi makna yang tersimpan dari kata-kata itu….fatabayyanu an-tushibu bijahalati…

syukran