السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 30 Maret 2022

Mengapa dalam Ayat Al-Qur'an termaktub Mahidh bukan Haid?

(Tentang Darah Perempuan)

Halimi Zuhdy

Beberapa minggu yang lalu al-faqir sedikit mengurai tentang Haid di chenel Lil Jamik, mengapa Haid dinamaka Haid? Nanti bisa dilirik ya.😍

Dan yang menarik lagi, masih tentang haid. Mengapa Al-Qur'an menyebutkan kata Mahidh bukan Haid dalam Surat Al-Baqarah, Ayat 222;

وَیَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِیضِۖ قُلۡ هُوَ أَذࣰى فَٱعۡتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَاۤءَ فِی ٱلۡمَحِیضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ یَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَیۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, "Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci.Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu".
Sebelum mengkaji kata Mahidh dalam Ayat di atas, penting untuk sedikit mengulas Asbab Nuzulnya.   Dalam kitab Al-Tahrir wa Tanwir, Ayat tersebut bermula dari pertanyaan Abu Ad-Dahdats dan beberapa sahabat. Mereka bertanya pada Nabi tentang hukum haid, karena melihat tradisi orang Yahudi yang benar-benar menjauhi istri-istri dan para wanita mereka ketika menstruasi (haid), mereka mengusirnya jauh-jauh. Tidak mau tinggal satu atap rumah. Mereka dianggap sangat najis, tidak hanya tubuh mereka, tetapi apa pun yang disentuh oleh mereka juga najis. Ngeri.he

Orang-orang Yahudi ketika itu juga tidak mau makan dan minum dengan wanita yang sedang haid, bahkan mereka tidak boleh melayani kebutuhan apa pun dari kaum laki-laki selama haid itu.

Bila para wanita Yahudi datang bulan, dan ada yang menyentuhnya, maka yang menyentuh wanita tersebut dianggap najis sampai sore hari. Bila menyentuh tempat (kasur, tikar) maka bajunya harus dicuci sanpai bersih. Dan bila berhubungan dengan wanita haid maka dianggap najis selama 7 hari.  Yang juga dikutip dari Al-Ishaha. 

Tradisi buruk Yahudi tersebut kemudian diikuti oleh orang Arab pada masa Jahiliyah. Tetapi sebaliknya dengan tradisi orang-orang Nasrani, mereka tidak membedakan wanita yang sedang datang bulan (haid) atau pun tidak, mereka tetap melakukan hubungan suami istri, mereka tidak peduli dengan wanita-wanita mereka yang haid. 

Dari pertanyaan sahabat itulah, Allah turunkan Ayat "wayas'aluna an al-Mahidh..." untuk meluruskan tradisi buruk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan Islam tidak terlalu ekstrim seperti Yahudi yang sampai mengusir Istrinya ketika haid, dan juga tidak seperti Nasrani yang menggauli istrinya dalam keadaan haid. Islam, baina huma.

Kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa Ayat di atas  menggunakan kata Mahidh (المحيض), tidak Haid (الحيض)?. Menarik apa yang disampaikan oleh Prof Badruddin, bahwa kata "haid" hanya mengandung satu makna yaitu darah yang keluar dari kelenjar (ghadad) perempuan dewasa, atau juga dikenal dengan darah menstruasi. Andai yang termaktub "mereka bertanya padamu tentang haid (الحيض), maka katakanlah bahwa ia adalah sesuatu yang kotor", maka niscaya yang menjadi larangan hanyalah darah saja.

Sedangkan Al-Mahidh adalah Masdar Mim, Ism Makan (nama tempat), dan Ism Zaman (kata yang menunjukkan waktu), maka kata Mahidh meliputi tiga makna, yaitu; darah (الدم), tempat darah (مكان الدم) dan waktu keluarnya darah (زمان الدم), sebagai ganti dari Ayat;
ويسألونك عن الحيض ومكانه وزمانه
Mereka bertanya padamu tentang haid, tempat dan waktunya.

Maka, cukuplah tiga pertanyaan dengan satu kata "Al-mahid" yang sudah mengandung tiga makna tersebut. Dan jawaban dari tiga pertanyaan tersebut dijawab dengan "Qul Hua Adza, katakanlah bahwa ia adalah sesuatu yang kotor", sedangkan jawaban dari tempatnya haid (farji) adalah "Fa'tazilun nisa' fil al-Mahid, maka jauhilah wanita itu (istri) ketika haid. Dan jawaban ketika terkait dengan waktu haid (berhentinya darah) adalah Ayat, "wala taqrabu hunna hatta yathurn, dan janganlah kau dekati mereka sampai mereka suci".

Satu kata, tapi mengandung berbagai makna yang meliputinya. Pertanyaan dengan tiga jawaban yang berbeda. Asyik. Kajian Balaghah Al-Qur'an yang sangat asyik. 

Allahu'alam Bishawab.

***
Gambar google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar