السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 30 Maret 2022

Mengapa dalam Ayat Al-Qur'an termaktub Mahidh bukan Haid?

(Tentang Darah Perempuan)

Halimi Zuhdy

Beberapa minggu yang lalu al-faqir sedikit mengurai tentang Haid di chenel Lil Jamik, mengapa Haid dinamaka Haid? Nanti bisa dilirik ya.😍

Dan yang menarik lagi, masih tentang haid. Mengapa Al-Qur'an menyebutkan kata Mahidh bukan Haid dalam Surat Al-Baqarah, Ayat 222;

وَیَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِیضِۖ قُلۡ هُوَ أَذࣰى فَٱعۡتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَاۤءَ فِی ٱلۡمَحِیضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ یَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَیۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, "Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci.Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu".
Sebelum mengkaji kata Mahidh dalam Ayat di atas, penting untuk sedikit mengulas Asbab Nuzulnya.   Dalam kitab Al-Tahrir wa Tanwir, Ayat tersebut bermula dari pertanyaan Abu Ad-Dahdats dan beberapa sahabat. Mereka bertanya pada Nabi tentang hukum haid, karena melihat tradisi orang Yahudi yang benar-benar menjauhi istri-istri dan para wanita mereka ketika menstruasi (haid), mereka mengusirnya jauh-jauh. Tidak mau tinggal satu atap rumah. Mereka dianggap sangat najis, tidak hanya tubuh mereka, tetapi apa pun yang disentuh oleh mereka juga najis. Ngeri.he

Orang-orang Yahudi ketika itu juga tidak mau makan dan minum dengan wanita yang sedang haid, bahkan mereka tidak boleh melayani kebutuhan apa pun dari kaum laki-laki selama haid itu.

Bila para wanita Yahudi datang bulan, dan ada yang menyentuhnya, maka yang menyentuh wanita tersebut dianggap najis sampai sore hari. Bila menyentuh tempat (kasur, tikar) maka bajunya harus dicuci sanpai bersih. Dan bila berhubungan dengan wanita haid maka dianggap najis selama 7 hari.  Yang juga dikutip dari Al-Ishaha. 

Tradisi buruk Yahudi tersebut kemudian diikuti oleh orang Arab pada masa Jahiliyah. Tetapi sebaliknya dengan tradisi orang-orang Nasrani, mereka tidak membedakan wanita yang sedang datang bulan (haid) atau pun tidak, mereka tetap melakukan hubungan suami istri, mereka tidak peduli dengan wanita-wanita mereka yang haid. 

Dari pertanyaan sahabat itulah, Allah turunkan Ayat "wayas'aluna an al-Mahidh..." untuk meluruskan tradisi buruk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan Islam tidak terlalu ekstrim seperti Yahudi yang sampai mengusir Istrinya ketika haid, dan juga tidak seperti Nasrani yang menggauli istrinya dalam keadaan haid. Islam, baina huma.

Kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa Ayat di atas  menggunakan kata Mahidh (المحيض), tidak Haid (الحيض)?. Menarik apa yang disampaikan oleh Prof Badruddin, bahwa kata "haid" hanya mengandung satu makna yaitu darah yang keluar dari kelenjar (ghadad) perempuan dewasa, atau juga dikenal dengan darah menstruasi. Andai yang termaktub "mereka bertanya padamu tentang haid (الحيض), maka katakanlah bahwa ia adalah sesuatu yang kotor", maka niscaya yang menjadi larangan hanyalah darah saja.

Sedangkan Al-Mahidh adalah Masdar Mim, Ism Makan (nama tempat), dan Ism Zaman (kata yang menunjukkan waktu), maka kata Mahidh meliputi tiga makna, yaitu; darah (الدم), tempat darah (مكان الدم) dan waktu keluarnya darah (زمان الدم), sebagai ganti dari Ayat;
ويسألونك عن الحيض ومكانه وزمانه
Mereka bertanya padamu tentang haid, tempat dan waktunya.

Maka, cukuplah tiga pertanyaan dengan satu kata "Al-mahid" yang sudah mengandung tiga makna tersebut. Dan jawaban dari tiga pertanyaan tersebut dijawab dengan "Qul Hua Adza, katakanlah bahwa ia adalah sesuatu yang kotor", sedangkan jawaban dari tempatnya haid (farji) adalah "Fa'tazilun nisa' fil al-Mahid, maka jauhilah wanita itu (istri) ketika haid. Dan jawaban ketika terkait dengan waktu haid (berhentinya darah) adalah Ayat, "wala taqrabu hunna hatta yathurn, dan janganlah kau dekati mereka sampai mereka suci".

Satu kata, tapi mengandung berbagai makna yang meliputinya. Pertanyaan dengan tiga jawaban yang berbeda. Asyik. Kajian Balaghah Al-Qur'an yang sangat asyik. 

Allahu'alam Bishawab.

***
Gambar google

Selasa, 29 Maret 2022

Coba Diam Sejenak! (Belajar dari kasus Mas Will Smith)

Halimi Zuhdy

Seandainya Mas Will Smith diam sejenak saja, mungkin tidak akan terjadi aksi pemukulan di atas panggung Oscar 2022 yang menghebohkan itu. 

Mas Chris Rock si tukang lelocon menyentuh bagian sensitif dari hati Mas Will, istrinya. Mas Chris menyentil penampilan Mbak Jada Pinkett Smith, sang istri Will Smith, yang botak karena mengidap alopecia. Waduh. 
Walau beberapa psikolog mengatakan bahwa pemukulan itu hal wajar, karena yang disentuh adalah persoalan sensitif. Walau di sisi lain, mendaratkan tangannya di atas panggung yang menghebohkan dunia itu juga dinilai tidak baik. Coba Mas Will diam sejenak saja, mungkin ia dapat mengambil keputusan lain yang lebih bijak. 

Nasi sudah jadi bubur. Sudah tidak mungkin mengulangnya lagi di atas panggung.  Tangannya sudah menggores pipi mas Chris. Bara sudah membakar. Bagaimana lagi, tinggal mengheningkan cipta. Dan menyesalinya.

Mas Will kemudian menulis permohonan maaf atas kejadian di atas panggung yang paling disorot itu. "Saya melewati batas, dan saya bersalah. Saya  malu sekali, dan perilaku yang saya tampilkan itu bukanlah perilaku laki-laki yang saya inginkan. Tidak ada tempat untuk kekerasan di dunia yang penuh cinta dan kebaikan," tulis Mas Will di IGnya. 

Diam sejenak saja. Mungkin, tidak akan terjadi hal yang buruk itu. Diam sejenak saja, maka air itu akan bening dari keruh. Diam sejenak saja, semuanya akan terlihat indah. 

Kejadian di atas sebenarnya pelajaran untuk kita, di berbagai panggung kehidupan kita. Tidak hanya di panggung yang disorot banyak mata. Tetapi panggung WA, FB, IG, TikTok, dan media lainnya. Atau panggung paling dekat dengan kehidupan kita, di rumah, lingkungan, tempat kerja, dan di berbagai panggung lainnya, di mana kita berada bersama orang lain. 

Di media sosial. Tangan kadang gatel sekali. Setiap kalimat muncul dari status seseorang, tangan langsung breaksi. Setiap orang berbisik tentang kita, amarah langsung membuncah. Ketika amarah sudah membara, sulit sekali dipadamkan. "Sebelum ia membakar, belumlah sukses", kata nafsu. Ditahan jadi penyakit, dilepas tambah membuat sakit. Terus bagaimana? Diam sejenak saja, semuanya akan baik-baik saja.

Maka, penting sekali untuk diam sejenak. Tidak reaksionis. Berfikir akan akibat yang akan ditimbulkannya. Bila kaca itu sudah pencah, secanggih bagaimana pun menyambungnya, maka tidak akan pernah kembali pada asalnya. Akan ada sisa yang tergores. Luka yang akan selalu diingat. Dan hanya penyesalan yang selalu teringat. Sesal.

Ada tips dari Nabi Muhammad saw. "Jika kalian marah, diamlah." (HR. Ahmad). Untuk diam memang terkadang sulit sekali, apalagi si dia terus ngoceh, kepala dan hati sudah membara. Memaksa diri untuk diam sudah tidak mungkin,"Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad).

Diam sejenak. Air itu akan terlihat bening. Marah sejenak, api itu kan menghanguskan.

Sabtu, 26 Maret 2022

Mengenal Kata "Ruh"

Halimi Zuhdy

Beberapa minggu terakhir ini, ruh menjadi perbincangan hangat. Memang, apa pun yang dikaji tentang ruh atau seputar ruh pasti akan hangat, apalagi ada yang terasa baru dari kajian-kajian sebelumnya. 
Mengapa ruh akan terus menarik? karena ruh adalah "min amri rabbi" (urusan Tuhan), kalau toh kita diberikan pengetahuan tentangnya, hanyalah sedikit, tidak seberapa. Dan tidak sedikit ulama dan para cedikiawan yang diam apabila membahas tentang asal usul ruh, mereka lebih hati-hati dari pada berbuat hal yang dianggap menyimpang. 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Tetapi, tulisan ini tidak mengkaji tentang nama ruh, atau asal usul ruh, atau ruh itu sendiri. Hanya ingin sedikit mengurai korelasi kata ruh dengan beberapa kata yang ada dalam bahasa Arab, atau mungkin juga bagian dari istiqaqnya, yaitu; راح يروح (pergi), ريح (angin), روِح (luas, lapang), استراحة(rehat), راحة (segar, enak, rehat), الروح (kebahagiaan), الروح (hakekat), ريح (bau),  ترويح(), ليلة روحة(malam yang indah), مراح (tempat istirahat, atau kadang), تراويح (shalat tarawih),روح العمل (inti, atau pokok pekerjaan) beberapa kata dengan makna lainnya seperti cepat, sepoi-sepoi, nafas. 

Dan juga yang terkait dengan kata ruh ini sagat banyak, misalnya, Ruh Qudus adalah sebutan lain dari Malaikat Jibril, ada Ruh al-Adham adalah Allah subhanahu wata’ala, ada pula kata-kata modern yang diikuti dengan kata ruh, seperti  Ruh Tijariyah, Ruh al-Nabidz, Ruh Amal, Ruh al-Kalam, dan lainnya.

Dari sekian kata yang berkorelasi dengan ruh di atas, ruh ada sesuatu yang tidak tampak, tidak terlihat oleh mata, dan ia sangat samar, tetapi ia sangat terasa dalam kehidupan kita. Dan dalam Al-Qur’an terdapat 14 kali disebutkan, ini pun perbeda-beda dalam pemaknaanya. Menarik bila dikaji lebih dalam.  Para mutashawwifun menganggap ruh adalah sumber keindahan, sumber kehidupan dan moral yang baik, berbeda dengan Nafs, yang dianggap sebagai sumber hal yang tercela. Keduanya cukup pelik pelik untuk dipahami, kecuali bagi pembelajar yang memang konsen dalam hal ini. 

Allahu'alam Bishawab

Mengenal Kata "Tarhib Ramadhan", Megengan, Munggahan, Padusan, Meugang wa ghairiha

Halimi Zuhdy

Riuh. Marak. Asyik. Sorak. Gembita dalam beribadah. Mungkin kata-kata di atas sedikit lebay, tetapi itulah kenyataannya. Ramadhan dapat sambutan yang sangat meriah, tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh penjuru dunia yang di dalamnya berdiam umat Islam. 

Ibadah dalam bahagia. Inilah ibadah yang disambut dengan gagap gembita. Puasa yang senyap dan sepi, tetapi disambut dengan riang gembira. Puasa yang menakutkan, karena menahan lapar dan haus, tetapi disambut dengan lapang dada. Seperti pengantin, ia ditunggu kehadirannya dengan senyum lebar. Laksana kehadira  air di gurun sahara, bagi mereka yang dahaga.
Saking bahagianya. Masyarakat Indonesia menyambutnya dengan berbagai kegiatan dan aktifitas. Hal ini dapat dilihat dari berbagai istilah yang dikenal dalam masyarakat Indonesia, ada; Tarhib Ramadhan, Munggahan, Megibung, Padusan, Jalur Pacu, Nyorog, Malamang, Dugderan, Meugang, Dandangan, Balimau, Perlon Unggahan, Ziarah Kubro, Suro’baca, Megengan, Nyadran, Gebyar Ki Aji Tunggal dan beberapa istilah lainnya. 

Banyaknya istilah yang tersiar menandakan Ramadhan adalah bulan istimewa bagi masyarakatnya. Hal tersebut adalah hal positif, apalagi kegiatan-kegiatan tersebut bagian dari syiar menghidupkan Ramadhan. Tetapi, kegiatan yang masih dalam batas kewajaran dalam syariat Islam, tidak ada hal aneh-aneh, yang dianggap nyeleneh. Atau masih dalam akulturasi nilai-nilai dari masa dulu ke masa kini.

Orang awam (masyarakat umum) dulu agak aneh menyebut istilah shaum, karena yang dikenal adalah puasa, tapi sekarang ia menjadi hal yang keren. Shaum. Dulu tidak akrab dengan istilah qiyamullain, tetapi lebih dikenal bangun malam atau tahajjut, tetapi sekarang menjadi kata yang biasa. Demikian dengan istilah-istilah lainnya. Bahasa akan terus merebut hati siapa saja, sepanjang ia mengakrabinya dan unik didengarkannya. 

Di Indonesia, beberapa tahun terakhir kita dengar istilah baru ketika fajar Ramadhan akan datang bertandang yaitu "Tarhib Ramadhan". Kata asing. Ia, benar. Ini kata asing. Kata ini bukan dari bahasa daerah yang berada di Indonesia, tetapi berasal dari bahasa Arab, seperti kata shaum dan  shalat. Bukan seperti kata sembahyang dan puasa yang sudah lebih dulu dikenal. 

Tarhib (ترحيب). Artinya penyambutan. Bila ditilik lebih jauh, kata ini dari Rahiba-Yarhabu-Rahaban (رحبا) bermakna Ittasa'a (melebarkan, meluaskan, melapangkan). 

Kata ini dalam bahasa Arab digunakan untuk sambutan, sambutan apa saja. Bukan diperuntukkan untuk Ramadhan saja. Seperti kalamat al-Tarhib (kata sambutan), menyambut mudir, presiden, dan lainnya.

Atau mudahnya, kata Tarhib adalah ungkapan selamat datang atas kedatangan seseorang, atau kehadiran sesuatu yang indah. Sama dengan ungkapan "Marhaban". Yaitu "Aku sambut engkau dengan penuh kelapangan hati dan pikiran, juga aku sambut engkau dengan seluruh jiwa dan ragaku". Demikian. 

Ada pula yang masih terkait dengan kata ini, yaitu Rihab (رحاب), Ruhbah (رحبة), Tarhab (ترحاب.) dan beberapa kata lainnya, yang artinya tidak jauh berbeda; tanah lapang, luas, tempat yang luasa, ramah, senang, bahagia, dengan tangan terbuka. 

Tarhib Ramadhan. Adalah menyambut bulan Ramadhan dengan senang hati, dengan tangan terbuka, dengan penuh kebahagiaan baik jiwa dan raga. 

Bagaimana Tarhib Ramadhan di Indonesia?. Sesuai dengan kreasi masyarakat yang menyambutnya. Ada dengan kajian-kajian fiqih puasa. Ada pula dengan halaqah-halaqah seputar bulan Ramadhan, dan lainnya. 

Di Indonesia, kata Tarhibnya mungkin baru. Tetapi tradisi sambuta sudah lama, walau kegiatannya berbeda-beda, dengan istilah yang berbeda-beda pula. Ada Meggengan, tradisi Jawa, yang dimulai dari ziarah kubur kemudian mengundang makan bersama dengan makanan tertentu yang dipenuhi dengan filosofis. Meggengan, menahan. Menahan dari hal-hal yang mengurangi pahala puasa, atau yang membatalkan puasa.

Dalam masyarakat Sunda juga dikenal dengan istilah Munggahan. Munggah, naik. Naik pada derajat berikutnya. Naik ke bukan suci. Bentuk kegiatannya juga bervareasi. 

Dan demikian pula dalam masyarakat lainnya di wilayah Indonesia. Kaya tradisi. Berbagai sambutan untuk bukan suci. 

Menyambut Ramadhan bukan untuk leha-leha, atau berhura-hura, atau bersorak-sarai, atau gagap gembita seperti menyambut artis. Ia datang untuk disyukuri. Ia datang untuk disambut dengan berbagai keindahan yang dicintai oleh Pemilik Semesta.

Bagaimana kita menyambutnya? Dianjurkan untuk kita menyambutnya dengan banyak berpuasa sebelum bulan ini tiba. Bertaubat. Memperbaiki ibadah kita. Membeningkan hati. Dan kegiatan-kegiatan ibadah lainnya. Doa-doa di bulan Rajab dan Sya'ban dilantunkan, agar kita berada di dalam bulan suci. Salaf shaleh, enam bulan sebelum memasuki Ramadhan, sudah memohon kepada Allah agar dapat berada di bulan yang dipenuhi dengan keberkahan ini. 

كان السلف الصالح يسألون الله ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ثم يسألونه ستة أشهر أن يتقبله منهم.

Kita menyambutnya dengan apa?

Ya Rabb, ballighna Ramadhan. 

Malang, 26 Maret 2022.

Selasa, 22 Maret 2022

Salah Anggapan tentang Karomah/Keramat

Halimi Zuhdy

"Ada pemahaman yang keliru di masyarakat" kata seorang syekh, "Yaitu, seseorang yang diberikan kekayaan atau limpahan dunia oleh Allah, mereka dianggap mendapatkan sebuah kemuliaan (kekeramatan, keramat), yang benar adalah, mereka mendapatkan cobaan dan ujian". Nabi Sulaiman ketika melihat  kerajaannya yang begitu megah mengatakan,
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)"

من أخطر المفاهيم ظن الإنسان أن الله يعطيه الدنيا كرامة له، والحق أنها ابتلاء واختبار. قال سليمان عن ملكه

﴿ هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر ﴾

******
Yang menarik dari kata "karomah", banyak yang menganggap bahwa karomah adalah kesaktian, sehingga orang Indonesia juga menyebutkan dengan kata keramat. Keramat dari kata bahasa Arab yaitu Karomah (كرامة), dalam Kamus Bahasa Indonesia (kbbi) adalah orang suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan, atau  suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (tentang barang atau tempat suci). 

Atau mudahnya orang keramat adalah mereka yang sakti madraguna, bisa terbang, berjalan di atas air, ditikam tidak mempan, dan kesaktian lainnya. Tetapi itu diberikan kepada awliya' Allah (kekasih Allah), bukan dukun, atau tempat-tempat yang dipenuhi kesyirikan. 

يعد كرامة من الله تعالى لذلك العبد ، فالشياطين قد يعينون أولياءهم بأنواع العجائب والغرائب ، فالكرامة لها معالم تدل عليها من أهمها الكرامة من الله تعالى ، وليست من فعل العبد ؛ فالله تعالى هو الذي يخرق العادة لمن شاء متى شاء.

Bagaimana dengan mereka yang kaya raya yang diberi limpahan harta? Membaca dari perkataan Sang Syekh tadi, dengan mengutip Ayat Al-Qur'an yang disampaikan Nabi Sulaiman, bahwa kelebihan harta atau juga lainnya, itu bagian dari ujian, apakah ia kemudian mampu mensyukuri atau kufur terhadap nikmatnya. 

Banyak orang yang punya kelebihan dibandingkan kebanyakan orang, walau tidak beriman kepada Allah dianggap wali atau sakti atau keramat, inilah kekeliruan yang sudah melagenda. 

Dan yang menarik juga, kata "Kafir" yang lebih dikenal dan akrab ditelinga kita adalah mereka yang menyekutukan Tuhan, tidak bertuhan atau mereka yang di luar Islam. Tetapi terkadang lupa, orang yang ingkar terhadap nikmat Allah juga masuk katagori kafir. 

Kafir dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah ada 4 macam, kafir munkar, kafir juhud, kafir nifaq, kafir inad. Dan kufur nikmat masuk katagori kufur nifaq. Sering tidak disadari seseorang, tidak bersyukur atas pemberian Allah, baik pemberian kenikamatan harian, mingguan, tahunan, atau nikmat-nikmat lainnya yang tidak pernah bisa dihitung. Mengeluhnya lebih banyak dari mensyukurinya. Nangislah lebih sering dari senyumnya. 

Mengapa tidak bersyukur disebut kufur? Maka, inilah yang perlu direnungkan lebih dalam. Sama dengan apa yang ditulis Kyai Afifuddin Muhajir, "orang lebih takut makan babi, dari pada makan hasil korupsi".

Minggu, 20 Maret 2022

Hukum Menulis Kaligrafi Arab dengan Bentuk Hewan

Halimi Zuhdy

Ada beberapa pertanyaan, ketika kemarin saya mengirimkan maket gedung UIN Malang dengan lafaz Bismillah yang akan menjadi bangunan pertama di dunia. Pertanyaannya, apakah dalam bangunan yang berlafaz Basmalah tersebut ada toiletnya?, Bagaimana hukum buang air kecil atau besar di bawah lafaz yang bertuliskan kalimat Tahyyibah?. Dan beberapa pertanyaan lainnya. 
Beberapa pertanyaan tersebut belum saya jawab di kolom komentar dan di beberapa pesan lainya, saya yakin hal di atas sudah dikaji oleh para ahlinya, para arsitek, ahli hukum, pendidik dan para pakar lainnya yang terkait dengan bangunan itu. Seperti halnya label halal yang sudah dikeluarkan oleh kemenag juga melalui diskusi panjang oleh ahlinya. 

Dan dalam gonjang ganjing khat yang termaktub itu, katanya terbaca kata "haram (حرام)", "halak (حلاك)", "halak (هلاك)" dan tafsiran lainnya. Tapi, saya belum begitu percaya (masih ragu), karena yang berbicara bukan ahlinya, beda dengan master khat ketika meniliknya. Tulisan Kyai Didin Sirojuddin Ar benar-benar memberikan membuka pemahaman utuh tentang makna tulisan tersebut, silahkan baca tulisan beliau yang berjudul Kilau Mutiara Kaligrafi Kufi: Logo حلال Itu. "Kaligrafi logo baru yang menggunakan khat Kufi ini jelas-jelas terbaca حلال, tapi لا (Lam Alifnya) bisa bias dan multi tafsi" kata beliau. 
Terus, bagaimana kalau menulis kaligrafi berbentuk hewan?. Saya membaca beberapa kitab dan beberapa fatawa di beberapa mawaqi', ada yang membolehkan, memakruhkan, dan ada pula yang mengharamkan dengan alasan karena berbentuk hewan, dan dihukumi sama dengan menggambar hewan. 

Apalagi tulisan kaligrafi yang menggunakan Ayat Al-Qur'an dengan berbentuk hewan, maka selain dianggap abast (main-main), juga berbentuk hewan, tidak mengagungkan Al-Qur'an, Al-Qur'an untuk dibaca bukan hanya sebagai hiasan belaka. Dalam dalam Mausu'ah al-Fatawa termaktub;

لا يجوز تشكيل الآيات القرآنية على هيئة إنسان أو أسد أو فرس أو غير ذلك من الحيوانات، لما في ذلك من الإهانة للآيات القرآنية، حيث يتطابق جزء منها مع بعض أعضاء الحيوان كالرجل والذنب، فضلًا عن أن هذه الأشكال معدة للتعليق، وتعليق صور ذات الأرواح ممنوع شرعًا، أما الآيات القرآنية على هيئة غير الحيوان كالشجر والزهور والثمار والجمادات فهو مباح شرعا، ما لم يكن على وضع فيه امتهان للآيات القرآنية.

Dan penjelasan akan ketidak bolehannya tersebut juga ada dalam al-Misyakat, Al-Musheer, dan beberapa muaqi' lainnya. Tapi, bila selain bentuk hewan atau makhluq yang bernyawa, diperbolehkan walau juga ada yang melarang.

قالوا : يجوز تصوير غير الحيوان كالأشجار والسفن والشمس والقمر أما الحيوان فإنه لا يحل تصويره سواء كان عاقلا أو غير عاقل . الفقه على المذاهب الأربعة

Tulisan di atas, tidak bermaksud membahas "Hukum boleh dan tidak boleh", tetapi hanya penulis membaca fenomena terkait dengan "Bahwa sesuatu yang ada di muka bumi ini" selalu berhubungan dengan agama, bagi yang beriman, bila berhubungan dengan agama, maka pasti ada hukum, mubah, haram, sunnah, makruh, dan lainnya. 
Dan terkait dengan hukum di atas, sudah banyak dibahas oleh para ahlinya. Dan mungkin ada penjabaran yang lebih detail dan lebih jelas terkait dengan hukum tersebut, ada ahlinya yang selalu menjelaskan hukum dengan menarik; Kyai Ma'ruf Khozin , Dr. Ahmad Sarwat , Gus Dr. Abdul Wahab Ahmad , Gus Achmad Shampton Masduqie dan pera pakar lainnya. 

Tapi, bagaimana jika hukum kaligrafi berbentuk hewan tersebut dilihat dari kaca mata para khattat (penulis kaligrafi)? Ini tambah menarik bila diulas lebih dalam. 
Secara umum tidak ada masalah dengan kaligrafinya, tetapi yang menjadi masalah adalah bila keligrafi itu kalimat tayyibah atau Ayat Al-Qur'an dengan bentuk tertentu. 

Belum lagi hukum menggantung kaligrafinya?!. Banyak juga perdebatannya, dari yang membolehkan, memakruhkan dan mengharamkannya. Allahu'alam bishawab

Kamis, 17 Maret 2022

Kampus Bismillah Pertama di Dunia

Halimi Zuhdy

Di atas bukit. Mata dimanja awan yang saling berkejaran. Sesekali embun menyapa, Sejuk. Setiap kali mata menyapu kampus yang baru selesai di lafal Ar-Rahim ini, seperti melihat hamparan permadani berwarna hijau. Asyik.
Ini kampus pertama di dunia yang bertuliskan huruf Arab, Bismillahirrahmanirahim (بسم الله الرحمن الرحيم). Seakan-akan kampus ini mengajak para mahasiswa, dosen dan masyarakat dunia, untuk terus mengagungkan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bismillah, tulisan keramat. Suatu perbuatan yang tidak didahului bismillah, maka terputus. Tak bermakna. 

Bangunan bertuliskan bismillah ini bukan hanya sekedar lafaz, tetapi penanda peradaban baru dunia akan dimulai dari tempat ini. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Insyallah. Itu sebuah cita-cita bersama. Maka harapan doa yang terbaik dari masyarakat Indonesia dan dunia.

Hari ini, di tempat ini, dilaksanakan Grand Launching Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang oleh Sultan Abdulrahman Al-Marshad, Chief Executive Officer the Saudi Fund For Development, dan hadir juga Yahya Hasan Al-Qahtani Wakil Duta Besar Kerajaan Saudi Arabiyah

Untuk membangun kampus 3 ini butuh dana besar. Kampus luasnya 100 hektar. SFD merupakan pemberi dana pembangunan Kampus 3 dari Kerajaan Arab Saudi. Dana yang diberikan diperkirakan kurang lebih senilai 1 triliun yang dimanfaatkan untuk pembangunan sarana prasarana yang estetik dan modern serta meningkatkan kualitas pendidikan UIN Malang. (kemenag).
Bila ambil gambar dari atas, maka akan tampak panorama indah beberapa gedung yang menjulang tinggi. Indahnya, bukan hanya karena lafaz Bismillah yang terpancar, tetapi setiap bangunan di dalamnya mengandung filosofis; masjid yang unik, ma'had dan laboratoriumnya, demikian juga dengan gedung-gedung lainnya yang didesain dengan arsitektur modern. Pokoknya asyik deh.

Juga, indahnya bukan hanya karena dipeluk oleh kabut di pagi hari, siangnya siraman mentari yang tak menyengat tubuh, malamnya seperti gemintang yang mengajak bermunajat. 
Kampus 3 UIN Malang ini dibangun menjadi Green and Smart Campus Terbaik di Dunia. Nantinya di kampus baru kami juga akan dikembangkan wisata edukasi. Bimasyiatillah.
****
_Bangga Menjadi Alumni dan bangga menjadi bagian dari Kampus Ini_ * ❤️

Minggu, 13 Maret 2022

Mengapa Halal Disebut Halal?

Halimi Zuhdy

Beberapa jam yang lalu, setelah diterbitkan logo baru oleh BPJPH Kemenag, beredar beberapa tulisan terkait dengan logo ini, ada yang menyebutnya dengan; Jawa sentris, tidak mewakili Indonesia, terlalu dipaksakan dan lainnya. Ada pula yang menulis bahwa tulisan yang ada di logo itu bukan Halal tetapi kata Haram (حرام), dengan alasan jika itu tulisan jenis Kufi, maka di bagian tengah ada huruf "Lam"  yang gaya penulisannya bisa terbaca huruf "Ra". 
Tapi, saya tidak ikut polemik di atas, karena saya tidak punya kapasitas tentang dunia per-logo-an, dan makna logo itu sudah dijelaskan oleh ketua BPJPH Bapak Muhammad Aqil Irham dengan menyebutkan bahwa logo terbaru tersebut memiliki bentuk yang terdiri dari bentuk Gunungan serta motif Surjan (Lurik Gunungan). Bentuk gunungan ini tersusun dari kaligrafi huruf Arab yakni huruf Ha, Lam, Alif, dan Lam yang membentuk kata Halal. Bentuk dari logo halal terbaru tersebut memiliki arti yakni semakin tinggi ilmu, semakin tua umur manusia, harus semakin mengerucut serta semakin dekat akan Tuhan. Sedangkan filosofi dari Surjan yakni agian leher pada baju Surjan mempunyai 3 pasang kancing yang mana artinya rukun iman. Sedangkan motif lurik yang terletak sejajar memiliki arti sebagai pembeda atau pembatas. Hal ini sejalan dengan tujuan diselenggarakannya jaminan produk halal yang ada di Indonesia.
Saya memahami logo apa pun atau ramz terkadang merasa ruwet, dan terkadang dengan sederhana. Sederhana, bila sudah dijelaskan oleh si pembuat logo, ya sudah selesai. Karena setiap logo bisa dimaknai dengan berbagai filosofis baik oleh yang sepakat atau tidak sepakat dengan logo itu. Bukankah logo itu dibuat untuk dipahami dengan lebih sederhana? Kalau sudah jelas dan dipahami, maka tidak lagi menjadi persoalan. Tapi, bagi yang belum paham dan masih terasa janggal, maka perlu dijelaskan dengan sejelas-jelasnya, itu pun juga tidak akan pernah jelas bagi yang memiliki perspektif lain.

Baik. Sebenarnya ada yang menarik untuk dilirik yaitu kata Halal itu sendiri, kata yang berada di dalam logo tersebut baik logo lama atau yang baru. Halal (حلال), adalah masdar (kata verbal/kata benda grundial) dari Hal-Yahillu. Kata yang terkait dengan kata Halal yang sering kita dengar adalah tahallul, hilal (tandu untuk perempuan), tahlil, muhallil, hillu dan hallu (waktu tahallul), hullah (pakain), ibnu halal (anak sah), al-sihru al-halal (permainan sulap), dan halal yang diartikan dengan sesuai hukum syariah, atau yang diperbolehkan.

Dan kata yang terkait dengan halla adalah bermakna memerdekakan diri (حل من), bebas, solusi (حَل), berdiri (حل ب), berhenti (حل), tetap (حل عليه), dicairkan (حُل الجامد), melepaskan, benar, dan masih puluhan kata yang berasal dari kata ini.

Kata halal ini tidak hanya digunakan untuk makanan (yang selama ini hanya ditemukan pada logo halal), tetapi juga pada hewan, pakaian, muamalah, dan sesuatu yang terkait dengan hukum syariat. Maka kata al-syar'i ada yang memaknai adalah dengan kata al-halal (seperti di atas). 

Syekh Ratib misalnya,  "Mengapa harta halal disebut halal, karena ia sesuai dengan yang diharapkan jiwa, atau jiwa merasa senang dan tenang. Mengapa harta haram, disebut haram. Kerena ia menghalangi seseorang untuk bahagia".

لماذا سمي المال الحلال حلالا، لأنه تحلو به النفس، والمال الحرام حراما لأنه يحرما السعادة. 

Dan dalam Al-Islam; 
سمي الحلال حلالا لانحلال عقدة الحظر عنه

Mengapa disebut Halal, karena mengurai dan melonggarkan (inhilal) tali/ikatan yang terlarang.

Dari beberapa kata yang terkait dengan kata halal di atas adalah, bahwa halal memberikan solusi, kemerdekaan/kebebasan, terurainya sesuatu yang terlarang, dan melepaskan sesuatu yang mengikat. 

Rasulullah saw. bersabda, “Mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Al-Thabarani dari Ibnu Mas’ud). Persoalan halal, bukan hal yang main-main dalam Islam, karena halal adalah bagian paling mendasar dalam agama. Sehingga kata halal disebut juga al-syari, yaitu syariat itu sendiri. 

Mengapa harus halal?, agar mendapatkan ridha Allah, terjaga kehidupannya, mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, dan memiliki akhlak yang baik. 

Dalam hadits Nabi saw disebutkan, ”Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (H.R. At-Thabrani).

. قال سهل بن عبد الله: "النجاة في ثلاثة: أكل الحلال، وأداء الفرائض، والاقتداء بالنبي -صلى الله عليه وسلم

Sahl bin Abdullah berkata, keberhasilan seseorang disebabkan tiga hal; mengkonsumsi yang halal, melaksanakan kewajiban dan mengikuti Nabi Muhammad sallalahu alaihi wasallam.

Asal Kata Shalat dan Shalawat

Shalat apakah yang sah tanpa berwudhu'? 
Bagi yang memahami kata ini, maka hanya tersenyum. Tapi, bila tidak memahaminya, maka hanya akan terheran-heran, kok bisa shalat tanpa wudhu' itu sah, apa dasarnya. 
Tayyib. Banyak yang memahami kata shalawat (صلاوات), hanya untuk mendoakan rahmat kepada Nabi, tetapi lupa/tidak tahu bahwa kata shalawat itu adalah jama' (plural) dari kata shalat. Maka, kata shalat dan shalawat itu sama. Selengkapnya dapat lirik di sini👇

Maqam Ibrahim dan Jejak Digital


Halimi Zuhdy

Maqam Ibrahim. Batu tempat berpijak Nabi Ibrahim ketika membangun Ka'bah. Di batu ini ada bekas atau jejak kaki beliau. Itu yang sering kita dengar dan kita pahami. Walau ada yang berpendapat, maqam Ibrahim adalah seluruh Masjid Al-Haram. 
Kata maqam itu dari kata qama-yaqumu-qiyaman yang bermakna berdiri. Maqam, tempat berdiri. Batu kecil sebagai sebuah penanda, bawa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pernah membangun Ka'bah. Nabi Ismail yang menyerahkan batu kecil ini kepada Ibrahim yang kemudian dibuat tempat berdiri. Maqam, kalau dalam bahasa Indonesia mungkin diartikan dengan petilasan, bahwa di tempat itu pernah didatangi oleh seseorang. Atau terdapat jejak seseorang yang pernah berdiam atau berbuat sesuatu di tempat itu. 

Dulu, Maqam Ibrahim menempel di dinding Ka'bah, tetapi pada masa Khalifah Umar bin Khattab di pindah beberapa meter menjauh dari Ka'bah. Ini batu bukan sembarang batu. Batu surga, demikian dalam beberapa riwayat. Pada masa Abbasiyah, batu kecil ini diikat dengan perak, dan ditutup, seperti sangkar ayam atau sangkar burung. 
Pernah saya ingin melihat isinya. Karena penasaran. Wajah saya dekatkan, tapi kemudian dibentak oleh seseorang yang berpakaian baju seragam mahasiswa (kalau di Indonesia seperti menwa atau tim pramuka), karena waktu itu musim haji, selain tentara yang mengatur jamaah juga ada mahasiswa. Saking dekatnya, saya seperti mencium kaca dan seperti memeluk dan mengelusnya, tapi kemudian saya bantah, bahwa saya tidak menciumnya. 

Sampai hari ini, Maqam Ibrahim menjadi perbincangan manusia dan menjadi sejarah yang tak terlupakan. Bahwa di sana, Nabi Ibrahim pernah berbuat, berkarya dan membangun. Membangun Ka'bah. 

Tayyib. Apa kaitannya dengan "media sosial" dalam judul di atas. Begini. Setiap perbuatan apa pun di muka bumi ini, pasti ada bekas dan jejaknya. Entah, itu perbuatan baik atau perbuatan buruk. Tidak ada yang menguap, toh kalau menguap itu hanya tersimpan di tempat yang kita tidak ketahui. 

Maqam Ibrahim. Adalah pelajaran yang luar biasa. Bahwa setiap manusia itu harus berkarya. Berkarya sesuai dengan kapasitasnya. Ada yang berkarya dengan membangun masjid, istana, Piramida, Borobudur, sekolah, pesantren, dan lainnya. Ada yang membuat jejak-jejak dengan karya lainnya, seperti menulis buku, melukis, mengukir, dan jejak-jejak lain yang terekam dadi masa ke masa. 

Media sosial. Yang pernah manusia isi di dalamnya berupa vedio, foto, tulisan, dan lainnya. Adalah jejak-jejak karya mereka. Bila mereka isinya berupa kebaikan, maka akan terekam terus sebagai kebaikan, dan demikian sebaliknya. 

Tidak hanya rekam dan jejak yang dibaca dan dilihat oleh manusia. Tetapi, ia juga akan dihisab, sekarang dan nanti di akhirat. Hari ini akan dihisab dan dipertanggungjawabkan di hadapan para pembaca, bila tidak sesuai akan dicemooh, bila sesuai dengan hati dan pikiran pembaca, ia akan dipuji dan dilike, tatapi hisab ini masih dalam kaca mata manusia. Selera manusia. Tetapi, di hadapanNya akan ada hisab menurutNya. Allahu'alam.

 Jejak berdiri seseorang atau petilasan di sebut Maqam, kalau tempat menumpahkan tulisan disebut Maqal. Semua yang telah diperbuat akan menjadi maqam-maqam dalam kehidupan seseorang. Maka, kita berharap, maqam kita adalah yang terbaik di hadapanNya. Rekam jejak kita adalah kebaikan.

*****
Foto google.

Minggu, 06 Maret 2022

Doa Agar Segera Diberikan Jodoh

Ya Allah, berikan jodoh bagi yang belum mendapatkannya
Memasuki bulan Sya'ban, beberapa  hari lagi bulan Ramadhan. Bagi yang belum punya jodoh, memohon doa di bulan-bulan penuh rahmah dan berkah, mudah-mudahan dipermudah mendapatkan jodohnya. 

اللهمّ ارزقني بزوجٍ صالح، تقيّ، هنيّ، عاشقٍ لله ورسوله، ناجحٍ في حياته، أكون قرّة عينه وقلبه، ويكون قرّة قلبي وعيني.

Ya Allah, berikan aku suami shaleh, bertaqwa, menyenangkan, merindukan Allah dan Rasulnya, sukses dalam hidupnya, saya menjadi kesejukan baginya dan hatinya, dan dia menjadi keindahan hati dan kesejukan bagiku. 

اللهمّ ارزقني الزّوجة الصّالحة التي إن أمرتها أطاعتني، وإن نظرت إليها سرّتني

Ya Allah, berikan aku istri shalehah, apabila aku menyuruhnya taat padaku, bila aku memandangnya menyenangkan hatiku

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ 

"Ya Tuhanku, sungguh aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS Al-Qashas:24)

اللّهُمَّ یَسِّر الزَّوَاجَ لِکُلِّ مَنْ لَمْ یَتَزَوَّجْ

Ya Allah, mudahkanlah jodoh bagi orang-orang yang masih belum mempunyai jodoh/pasangan.

اللهمّ زوّجني رجلاً صالحاً تقرّ به عيني، وتقرّ بي عينه، يا ذا الجلال والإكرام.

Ya Allah, berikanlah Aku pasangan yang shaleh, yang aku dapat membuatnya tenang, senang dan bahagia, dan ia membuatku bahagia, tenang dan senang. Ya Allah, Yang Maha Agung.

Sabtu, 05 Maret 2022

Menguak Istilah Syair, Syi’ir dan Puisi


Halimi Zuhdy

Kata “puisi” dan “syair” sudah sangat mashur di telinga orang Indonesia. “Puisi” di antara pengertiannya adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan penyusun bait dan baris yang bahasanya terlihat indah dan penuh makna. Sedangkan “syair” dalam bayak buku pembelajaran bahasa Indonesia adalah salah satu jenis puisi, dan jenis ini, dikatagorikan pada puisi lama, seperti; mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, dan talibun. 
Dan syair adalah tiap bait terdiri atas empat baris yang berakhir dengan bunyi sama. Menurut Hooykaas, syair merupakan jenis puisi lama yang berkembang di Indonesia, hanya saja namanya merupakan serapan dari bahasa Arab, syi'ir (الشعر). 

Keduanya memiliki kemiripan namun berbeda, istilah puisi sering digunakan dalam bahasa Indonesia, sedangkan syair digunakan dalam bahasa Arab, walaupun istilah syair juga sudah menjadi bagian dari puisi, namun dalam bahasa Arab tidak dibaca Syair, tetapi Syi’ir. Kalau Syair adalah penulisnya, sedangkan Syi’ir adalah karangannya. Kalau “syair” berarti rambut, bukan puisi. He. Tetapi kesalahan itu akan menjadi sebuah kebenaran, bila sudah menjadi kesepakatan bersama. Maka, anggaplah, syair itu syi'ir. 

Banyak yang salah memahami, seakan-akan syair itu puisi dan puisi itu adalah syair, bukan hanya syair dan puisi yang melebur dan kabur, tapi istilah yang lain juga demikian, seperti menulis dan mengarang. Menulis dan mengarang pada dasarnya berbeda, kalau menulis seringkali menyelipkan pemikiran orang lain dalam tulisannya, dengan mengumpulkan data dan kemudian menganalisisnya, atau sekedar mengumpulkan yang kemudian mengkompelasikan dengan tulisan-tulisan lain, seperti makalah popular, artikel, opini. Sedangkan mengarang, murni dari pemikiran sendiri seperti novel, cerpen, dan puisi. Namun, mengarang dan menulis sudah dianggap tidak ada bedanya, ya..menulis. menulis karangan.wkwkwk. untung tidak karangan menulis. 

Mari kita lihat asal kata syair yang dianggap dari bahasa Arab, secara etimologis, kata syi’ir (bukan syair) berakar dari kata شعر- يشعر- شعرا- شعورا yang berarti mengetahui, merasakan, sadar, mengkomposisi, atau menggubah sebuah syair (Abu al-Fadl, 1990: 409). Menurut Jurji Zaidan, syair berarti nyanyian (al-ghina`), lantunan (insyadz), atau melagukan (tartil). Asal kata ini telah hilang dari bahasa Arab, namun masih ada dalam bahasa-bahasa lain, seperti شور dalam bahasa Ibrani yang berarti suara, bernyanyi, dan melantunkan lagu. Diantara sumber kata syi`r adalah شير (syir) yang berarti kasidah atau nyanyian. Nyanyian yang terdapat dalam kitab Taurat juga menggunakan nama ini. (Muzakki)

Sejarah menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi lebih dahulu berkecimpung dalam dunia nazham daripada orang-orang Hijaz. Dengan demikian, pengalaman dan kemahiran mereka telah memperkuat keberadaan kata syi’ir yang berkaitan dengan kasidah atau nyanyian. Berdasarkan sumber itu, orang-orang Arab dipandang kuat telah mengambil kata syi`ir dari orang Yahudi untuk menyebut istilah kasidah. Kemudian mereka mengganti huruf ya` dalam kata شير dengan huruf `ain, maka jadilah kata syi`ir (شعر ), dan selanjutnya kata ini dipergunakan pada pengertian syair secara umum (Ahmad Husein al-Thamawi, 1992: 46).

Berbeda dengan al-`Aqqad, ia memandang kata syi`ir harus dikembalikan kepada bahasa aslinya, yaitu bahasa Semit. Karena itu, kata شيرو pada suku `Aqqadi kuno merujuk kepada suara nyanyian di gereja. Dari kata ini, kemudian berpindah ke dalam bahasa Ibrani (شير) dengan arti melagukan (insyadz) dan ke dalam bahasa Aramiyah yang bersinonim dengan kata شور , ترنم (menyanyikan) dan ترتيل (melagukan) (Ahmad Husein al-Thamawi, 1992: 47).

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10220610254955515&id=1508880804

Bagi orang Arab, kata syi`ir mempunyai arti tersendiri sesuai dengan pengetahuan, kemampuan, dan kebiasaan mereka. Dalam pandangan mereka, syi`ir berarti pengetahuan atau kepandaian (`ilm/fathanah), dan penyair itu sendiri disebut dengan al-fathin (cerdik pandai). Pendapat ini ada kemiripan dengan pengertian poet dalam bahasa Yunani, yang berarti membuat, mencipta (dalam bahasa Inggris padanan kata poetry erat berhubungan dengan kata poet dan poem). Poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, dan orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Henry Guntur Tarigan, 1984: 4). Dalam tradisi masyarakat jahiliyah, mereka meyakini bahwa para penyair memiliki pengetahuan magis, karena itu mereka dikenal sebagai “ahl al-ma’rifah” , yaitu sekelompok orang yang dapat memprediksi kehidupan dan kejadian di masa yang akan datang (Ahmad Amin, 1975: 55).

Secara terminologis, para Ahli `Arudh mengatakan bahwa pengertian syi`ir itu sama (muradif) dengan nadzam. Mereka mengungkapkan: Kata-kata yang berirama dan berqafiah yang diciptakan dengan sengaja. Dan masih banyak pendapat-pendapat yang lain terkait dengan kata-kata syair (insyallah buat buku dulu, syair dalam kajian sastra Arab).

Sedangkan istilah Puisi, sebagaimana yang penulis temukan dalam beberapa buku, kata “puisi” berasal dari kata Yunani kuno yaitu : ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) diartikan sebagai seni tertulis yang mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Atau berasal dari poesis yang berarti penciptaan.

Kemudian puisi diartikan suatu ciptaan tentang sesuatu keindahan dalam bentuk berirama. Citarasa adalah unsur yang diutamakan. Hubungan dengan budaya intelek atau dengan suara hati hanya merupakan hubungan yang selari. Jika bukan secara kebetulan, ia tidak ada kena mengena langsung sama ada dengan tugasnya atau dengan kebenaran, demikian menurut Edgar Allan Poe. Sedangkan menurut H.B Jassin H. B. Jassin, Puisi merupakan pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan

Kalau kita tangkap dari beberapa definisi dari syair Arab , dipahami bahwa sebuah ungkapan dapat dikategorikan kepada karya sastra genre syair apabila ungkapan tersebut memenuhi enam kriteria: 1) kalam (bahasa), 2) ma`na (gagasan), 3) wazan (irama), 4) qafiah (sajak), 5) khayal (imajinasi), dan 6) qasd (sengaja).

Dan tidak terlalu jauh dengan definisi puisi dalam bahasa Indonesia yang puisi tersebut tidak lepas dari imaginasi, pemikiran, idea, nada, irama, kesan pancaindera, susunkata, kata-kata kiasan, kepadatan, perasaan, perasaan yang bercampur-baur dan sebagainya.

Puisi dan syi'ir pada akhirnya adalah sebuah ungkapan imajinatif, yang berirama dengan susunan kata yang tersusun dengan penuh kiasan, kepadatan dan perasaan. Ada kesamaan dalam macam/jenis keduanya. Dalam syair menurut Thaha Husein dan Ahmad al-Syayib membagi syair dari segi isinya menjadi tiga macam: 1) syair cerita/epic poetry (syi`r qishashi), 2) syair lirik/liric poetry (syi`r ghina`i), dan 3) syair drama/dramatic poetry (syi`r tamtsili). Sementara `Abd al-Aziz bin Muhammad al-Faishal menyebut syair cerita dengan istilah syi`r malhami, walaupun pengertiannya tidak ada perbedaan, dalam puisi tidak jauh berbeda.

'Iadatul Irsal, 2019

🎥 _Dosen Sastra Arab UIN Malang_

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  FB *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Kamis, 03 Maret 2022

Mengapa Dinamakan Bulan Sya'ban?


Halimi Zuhdy

Penamaan bulan Arab diperkirakan pada tahun 412 Masehi. Tahun (masa) di mana kakek ke lima Nabi Muhammad masih hidup, Kalb bin Murrah. Penamaan bulan Arab sesuai dengan situasi pada waktu itu, dan hal tersebut dianggap sesuatu yang sangat penting, seperti bulan Jumadil Awwal dan Jumadis Stani, di mana pada waktu itu  terjadi pembekuan air (tajamudil miyah) yang cukup lama. Sehingga nama Jumadil disematkan pada bulan tersebut, saking lamanya tidak hanya satu bulan (awwal), tetapi juga bulan berikutnya (as-shani). 

Nama-ama bulan sebelum Islam adalah Al-Mu'tamar (Muharram), Najir (safar),  Khawwan (Rabiul Awwal), Busshan (Rabiul Akhir),  Alhanin (Jumadil Ula), Rabbi/Rabbah (Jumadil Alkhirah), Al-Asham (Rajab)  dan Ghadzil (Sya'ban),  Nathiq (Ramadhan), Wa'il (Syawwal), Warnah (Dzulqa'dah), Bark (Dzulhijjah) 

أوضحت الدارة أسماء الشهور الهجرية وما يقابله من اسم الذي كان يطلقه عليه العرب قبل الإسلام، مثلا: المحرم كان اسمه عندهم "المؤتمر"، أما صفر فيسموه "ناجر"، وربيع الأول "خوّان"، وربيع الآخر "وبصان"، وجمادى الأولى "الحنين"، وجمادى الآخرة "ربّى"أو"ربّة"، ورجب "الأصمّ"، وشعبان "عاذل".أما شهر رمضان فكانوا يسمونه بـ"ناتق"، فيما يسمون شهر شوال بـ"وعل"، وذو القعدة بـ"ورنة"، وذو الحجة "برك".

Bagaimana dengan bulan Sya'ban. Ahli sejarah berbeda pendapat terkait dengan penamaan bulan ini. Tetapi mayoritas ulama berpendapat bahwa penamaan nama tersebut dari akar kata tasya'ub (تشعب), yang bermakna tafarruq (terpisah, berserak, berhamburan). Ada tujuh pendapat yang penulis rangkum dalam penamaan tersebut, di antaranya adalah mereka berpencar (yatasyaa'buna) berhamburan, atau menyebar mencari sumber air.

Sedangkan 6 pendapat yang lain dapat disimak' dalam vedio Lil Jamik 👇🏻

https://youtu.be/a47TX3QRSNY


Rabu, 02 Maret 2022

Qirbah

Halimi Zuhdy

Kita sering mendengar, orang Arab dulu menggunakan kulit sebagai wadah atau bejana untuk berbagai keperluan mereka, seperti alat minum, wudhu', dan lainnya. Dan dalam kitab-kitab klasik juga banyak menceritakan jild (kulit) sebagai alat untuk berbagai aktifitas mereka. 

Dan kata Jilid dalam bahasa Indonesia, juga berasal dari bahasa Arab, yaitu Jildun yang bermakna kulit. Kemudian orang menyebutnya dengan "menjilid buku, kitab dan lainnya. Atau juga, menyebut buku yang berjilid-jilid dengan jilid 1, jilid 2 dan seterusnya. Kata jilid juga diartikan kulit, ada jilid keras, jilid lunak, dan jilid spiral. 
Kulit yang dibentuk atau dibuat sebagai wadah, dalam bahasa Arab memiliki beberapa nama, yaitu; qirbah, syikwa, mizwad, i'kah, bithanah, zurnah. 

Kita sering mendengar kata Qirbah, yaitu tempat air minum yang terbuat dari kulit sapi asli yang telah disamak sesuai syariat. ada qirbah Nabi dan qirbah lainnya. Dan tidak semua kulit yang dibentuk itu namanya adalah qirbah, tetapi ia disesuaikan dengan apa yang diisikan, atau sesuai dengan fungsinya. 

Jika ia diisi dengan air, maka disebut dengan Qirbah (قربة), jika diisi dengan susu, itu disebut shikwa (شكوة), bila diisi dengan tepung halus maka namanya juga berubah, yaitu mizwad (مزود). Bila kulit itu dipenuhi dengan minyak atau mentega, maka dinamakan I'kah (عكة). Bila dipenuhi dengan kurma, namanya berubah, yaitu bithanah (بطانة). Jika dibuat alat musik, dengan dipenuhi angin/udara maka namanya zurnah (زرنة).

Demikian pula manusia, serupa dalam tubuh mereka, tetapi isi atau esensi mereka berbeda. Perbedaan isi itulah yang menentukan nama atau sebutan mereka yang berbeda-beda.