السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 13 April 2018

NAPAK TILAS, ZIARAH CINTA

Halimi Zuhdy
Keringat mengalir dari wajah-wajah santri Pondok Fatimiyah Malang, kala menanjaki Pasarean Sunan Giri, kadang mereka berhenti tuk bernafas, menyela keringat, merunduk sebentar tuk menghela lagi nafas panjang. Giri yang berarti gunung, menjadi mercusuar Islam di masanya, dari ketinggian itulah, tersebar dakwah ke berbagai pelosok Jawa, Madura, Lombok, Kalimatan, Sulawesi dan Maluku.

Pencarian ilmu yang luar biasa, bertahun-tahun memungut ayat demi ayat, hadis demi hadis dan berbagai ilmu agama, beliau sampai ke negeri Pasai, negeri yang sangat jauh, dari tempat terhempasnya ombak yang membawanya. 


Joko Samudro, julukannya, bagai nabi Musa yang dihanyutkan, ia pula ditemukan di samudera. Dipungut suadagar kaya, kemudian dikirim ke Ampeldenta, tuk belajar kepada Sang Sunan penuh cinta, R. Rahmat. 

Kami, walau hanya sekali dalam beberapa tahun, tapi serasa berjalan sepanjang hari, dengan terik yang tidak seberapa, dibandingkan beliau sepanjang hari dengan kobaran panas, dan cengkraman malam. 

Inilah ziarah, penapak tilasi sebuah perjuangan, para awliyaullah, mereka setiap hari menempuh jarak tidak hanya satu dua kilo, tapi puluhan kilo meter, dengan medan berkelok, menanjak, bahkan curam nan ditemani binatang buas, belum lagi; cacian, makian, penolokan, dan ancaman pembunuhan,  bahkan tiada segan-segan mengusir demi mengokohkan kedirian. Ketika malam tiada lampu menyala derang, obor yang berkibar, untuk menyalakaan hati yang kelam. Beliau-beliau tidak lagi mengenal lelah-letih, siang lantang menyuarakan kalimatullah, malam runduk tunduk di hadapanNya, mendoakan   mereka menuju jalan terang. 

Sungguh disinilah letak ziarah kami, Santri Fatimiyah Malang, tuk menumbuhkan semangat juang, berjuang mencari ilmu, berdakwah, dan menebar keindahan. Menziarahi beliau, tiada hanya mengingat kematian, tapi kematian yang berkualitas. Walau sudah tiada, jejaknya ditapaki, di dekatnya doa-doa penziarah mengalir deras, perekonomian berkembang menyambut para zairin di tanahnya, tempat istrahat terkahir dan tempat perjuangan mereka. Ketika mati berkualitas, maka kematiannya selalu menjadi sejarah kemulian.

Sekali hidup, hidup berarti. Mati kan disambut taman surgawi. Itulah para awliaullah. Bukan tuk sebuah pujian manusiawi, tapi hidupnya  dijuangkan tuk Sang Ilahi.    

Mudah-mudahan ziarah kali ini dan seterusnya, dapat mengilhami kami, keringat juang untukNya, kan dibalas kemuliaan dunia dan di akhiratNya. Amin. 

Giri Gersik, 2018