السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 06 Januari 2017

Fatwa Cinta 25


Halimi Zuhdy

Suatu hari, seseorang memasuki lapangan yang sangat luas, tiba tiba di pojok sebelah kiri lapangan, ada ular besar, sedangkan di pojok kanannya, ia melihat anjing menggonggong keras seperti ingin menerkam, dan ditengah tengahnya ada harimau menampakkan taringnya.

Anehnya, orang tersebut tidak lari, bahkan ia menertawakan desis, gonggong, dan auangan suara hewan itu. Kenapa kau santai saja? Tanyaku. "Mengapa harus takut dan lari, lapangan ini luas sekali, walau kita bersama di lapangan, tetapi ia jauh, tidak mungkin menerkam dan mematuk, toh kalau ia mau menerkam saya bisa memutari lapangan ini, jawabnya".

Tapi berbeda, dengan teman yang satunya, ketika ia memasuki kamar tidur yang sempit, ia berteriak dengan histeris, keringatnya bercucuran, suaranya parau, sambil terengah engah. Saya melompat dari kamar sebelah, saya tanya ada apa? tu ada tikus, ni nyamuk juga banyak, tuh lagi ada kecoa. jawabnya. Hanya tikus melintas dan kecoa yang terbang di atasmu, kau teriak, bahkan lari dari kamar. Apalagi ada ular dan harimau, bisa saja kau pingsan. gumamku.

Demikianlah gambaran, orang yang memiliki dada lapang dan hati luas, sebesar apapun masalah yang dihadapi, ia akan menghadapinya dengan pikiran dan hati jernih, bahkan ia menganggap masalah adalah hal biasa dalam kehidupan, ia tidak lari dari masalah apalagi sampai bunuh diri. Karena ia yakin, tidak ada masalah yang tidak bisa ia selesaikan, hanya saja bagaimana ia menghadapinya dan menyelesaikannya. Ia yakin, Allah memberi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

Berbeda dengan orang yang kecil hati, dada sempit, ia menghadapi masalah kecil saja; ia sudah kelabakan, menangis, kaget, sedih, dan putus asa. Ketika menghadapi masalah, ia bingung, amarah, dan menyalahkan orang lain.

Tertarik dengan surat Al insyirah, bagaimana Allah memulai dengan: "bukankan kami yang melapangkan dadamu" dan ditutup dengan ayat hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.

Ayat pertama menggunakan "Kami", artinya, Allah yang memberinya kelapangan, keluasan dada dan hati. Tetapi, ada usaha dan keterlibatan seseorang untuk menjadi lapang dan luas hati. Dan pada akhirnya, hanya kepada Allah lah harapan yang sesungguhnya, sebagaimana akhir ayat.

Namun, di antara ayat itu, seseorang harus yakin, "sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan", itupun diulang dua kali, dan kesulitan tidaklah sebesar kemudahan yang Allah berikan.
Dalam kitab Zadul Ma'ad "Sesuai dengan kesempurnaan (tauhid)nya, kekuatannya, dan peningkatannya, maka akan terwujudlah kelapangan dada orang yang bersangkutan"

Mojokerto, 31/12/2016