السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 27 September 2010

SINOPSIS PERASAAN CINTA


(Sebuah Curhat Prasaan Sastra)

Tulisan ini hanya sebuah ungkapan yang tidak tersampaikan, untuk seseorang yang juga dalam bayangan yang tidak pernah tanpak dalam muka bumi, halusinasi ini berangkat dari sebuah keagungan cinta, yang penulis pernah rasakan pada sebuah jilbab yang berjalan, dengan keteduhannya, ia mampu membangkitkan sebuah rasa, rasa cinta, pada seorang “saya”. Ini halusinasi masa muda yang selalu bangkit bila kata tak mampu berbicara, hanya ungkapan tulisan yang terus melangalir, lewat glombang elektomahread. Ungkapan ini mengalir, karena melihat sebuah keterbukaan yang tidak pernah tahu arti membuka, dan sebuah ketertutupan yang tidak pernah tahu arti sebuah kuci yang terkunci. Selamat menikmat…guyonan ini.

Semilir kata mengantar pesan
            Pesan dari kalbu seorang musafir
            Musafir yang haus “pencerahan”
            Penceran dari seorang sahabat sejati
            Sejati (setia, punya jati diri, dan halus budi)

Tulisan ini kuhantarkan padamu, agar aku dapat berbagi cerita, cerita tentang diriku yang selalu melalang keangkasa rindu, rindu pada sehelai rasa (rasa dingin,ha..ha…ha) berbagi lewat kata-kata dalam secarik kertas. Mungkin, berbagi seperti ini lebih aku sukai, karena aku dapat mengungkapkan seluruh perasaan dinginku (kapuk lo kehujanan..ya) pada alam dan pada orang yang lagi membaca tulisanku ini. aku bebas mengungkapkan coretan ini, tanpa beban, tanpa kekakuan, tanpa ketakuatan, karena dihadapanku hanya komputer dan bayangan orang yang lagi aku curhati (idih…gile).
Neng…kutulis kata-kata ini di pagi hari, di mana langit yang indah tidak menampakkan senyumnya, karena kabut yang menyelimutinya, hanya dingin yang kurasakan, rintik-rintik hujan pun menemaniku tuk menyambut pagi dengan riang, namun rasa “riang”itu tak kutakdapatkan. riang gembira seakan-akan mahal untuk menyapaku,  menyapa dalam senyum, menyapa dengan penuh kerinduan, menyapa dengan cinta. Ia hanya menyapa dengan senyap dan sepi, sesepi perasaanku.
            Dalam kesepian itulah, kulihat MaxCreamer dan Café, kutuangkan secangkir air hangat, sedikit gula dan kuaduk, seakan-akan aku mengaduk perasaan sepiku. Perasaan itu mulai menghangat, namun perasaan dinginku belum juga hilang. MaxCreamer dan Café tak membuatku tenang, malah semakin membuat kepalaku pening, dan perutku mulas.  Perasaanku semakin tidak karuan, tanganku mulai gatal untuk menulis, otakku mulai mau muntah, mulutku terkunci, badanku mulai gemetar, namun hatiku terus melalang, entah ke mana, aku tidak tahu, aku hanya tahu setelah membuka tas kecilku, kudapatkan gambar dia, gambar dalam bingkai almamater, dengan secarik nama, yang mirip namaku, ya…gambar yang Neng berikan kemarin pagi.
Neng!!!!, apakah haram jika hati selalu berbicara tentang sekumtum bunga, yang tumbuh subur, dengan bau semerbak, menebar kehangatan dan keindahan, membuat setiap orang ingin memetiknya, demikian juga aku. Bunga itu, bunga itu, tak dapat kugambarkan, karena gambar apapun tidak akan mampu menyaingi keindahan ciptaan Tuhan, ya… keindahan ciptaan Tuhan. Ia sungguh “fi ahsani taqwim”, tinta-tinta di atas kanvas pun tidak akan mampu mengukir sosoknya yang memancarkan aura keindahan, ronanya tidak akan mampu ditangkap dengan polesan-polesan pelukis sekaliber dunia pun. Ia sungguh sempurna, sempurna karena ia ciptaan -Nya. saudaraku…sekali lagi, haramkah jika penaku hari ini dan seterunya selalu mengukir namanya, namanya yang indah, centil dan penuh makna. namanya adalah nama asma’ul husna yang di singat tasghir, apalagi namanya satu arti meskipun beda shingat. Itulah, yang membuat tanganku gatal untuk selalu mencoret kertas-kertas yang ada bilikku, menulis namanya. Ya ..namanya.
Dan pertanyaan selanjutnya, haramkah aku menyentuh bibirnya dengan perasaanku, hanya dengan perasaan, tidak dengan tatapan mataku apalagi dengan fisikku. Biarlah perasaan yang berbagi, bercerita, bernostalgia, bercengrama, berkencan, bahkan bercinta, bercinta lewat perasaan. Bolehkan…!!!!???? Aku tidak ingin bercinta dengan polesan kemunafikan, aku tidak ingin bercinta atas nama cinta dengan sisipan nafsu, aku tidak ingin bercinta dengan tatapan simpatik, aku tidak ingin bercinta dengan kata-kata melankolis, aku tidak ingin bercinta dengan tingkah dramatik, aku hanya ingin bercinta dengan perasaan hub al-haqiqi yang diberikan Allah swt padaku. siapa pun  orangnya pasti akan merasaan sebuah perasaan, apalagi perasaan cinta yang memang hal itu merupakan fitroh manusia.
Saudariku…aku bukanlah pemuja cinta, karena cinta tidak perlu dipuja, cinta ada pada setiap orang, seperti  aku, dia juga kau. meskipun tidak dipuja dia tetap akan datang, datang dengan kerinduan mendalam, datang dengan senyum merekah, datang dengan membawa kabar gembira dari surga, cinta selalu hadir lewat hati dan perasaan mendalam, ia datang kemudian  pergi, datang kemudian pergi, kadang datang kemudian menetap sampai kita meninggal dunia, malah dia selalu ada dan tidak pernah hilang, dan sangat kuat mencengkram di hati setiap orang, itulah cinta seorang ibu pada anaknya.  Cinta tetaplah cinta, cinta bukan nafsu, tapi cinta sangat sulit dibedakan dengan nafsu, karena keserakahan manusia, manusia yang tidak tahu arti cinta. Mereka tidak lagi mampu membedakan mana cinta dan mana nafsu, nafsu dianggap cinta, cinta dianggap nafsu. Sehingga banyak orang yang berani berbuat sesuatu atas nama cinta, yang sebenarnya itu adalah nafsu, ada juga orang yang tidak mau bercinta karena ia takut itu bukan cinta tapi nafsu. Ia mengharamkan untuk mencintai, karena ia anggap cinta tidak ada bedanya dengan nafsu.
Saudariku…..maaf, aku mengusikmu dengan tulisan-tulisan nakalku, yang mungkin tulisan ini tidak berharga buatmu. Sekali lagi, aku hanya ingin berbagi cerita denganmu, yang mungkin saudariku lebih tahu arti sebuah perasaan dia, dia sekuntum bunga, di bandingkan kumbang yang hanya selalu ingin menghisap tanpa rasa dan prasaan. Sebenarnya, Aku tidak ingin melibatkan saudariku dalam hal ini, namun aku hanya ingin berbagi, berbagi tentang perasaan diriku, hanya berbagi, biarlah yang mengatasi semuanya adalah perasaanku, perasaanku yang paling dalam, yang suatu saat akan menembus kegelapan dan akan merubahnya menjadi terang, terang, terang,  seterang  pagi yang disinari mentari tanpa awan. Biarlah perasaanku menjelajah keseluruh pelosok diri, diri yang hari ini belum diketahui. Diri siapakah yang akan terang dengan perasaanku, atau perasaan siapakah akan memberikan terang pada diriku.
Saudariku…..!!!. sebenarnya, aku hanya bercanda (baca :guyon) tentang sekuntum bunga itu, ya..hanya guyo, guyon ala aku, namun kenapa ada perasaan yang menyusup pada relung-relung hatiku setelah kau berikan foto itu. aku tidak tahu perasaan apa yang muncul, perasaan cintakah….atau perasaan nafsukan…atau perasaan syahwat atas fisik, atau…..hanya rasa yang tanpa rasa. Yang jelas aku belum tahu tentang dia, siapakah dia?, bagaimanakah dia?, mau kemanakah dia?, di manakah dia?, kapan keberadaan dia?, mengapa dia ada?.
Saudariku..!!!!, sebenarnya aku ingin sekali curhat banyak pada saudariku, mungkin kalau aku tulis masih 10-40 lembar lagi, namun, aku dibatasi waktu untuk menyelesaikan tugas-tugasku yang lain. Aku hanya ingin menumpahkan perasaanku, agar aku lega, santai, enjoy dan tidak lagi dihantui dengan perasaan-perasaan yang tidak karuan. Maaf…saudariku, aku telah menggangumu, aku telah meluangkan waktumu yang begitu berharga, hanya gara-gara tulisan nakalku ini. ya..inilah curhatku. Sekali lagi, terima kasih fotonya yang telah kau pinjamkan padaku (yang karena foto itulah seluruh perasaanku tergugah, merana dan terusik, tapi tak apalah itu sudah berlalu), tapi hari ini akan kuberikan lagi, karena itu bukan hakku, itu hak dia dan hakmu untuk memberikan padanya. terima kasih semuanya. Akan kututup lembaran perasaanku tentang dia, aku akan mencoba untuk menutupnya meskipun itu berat, tapi menutup itu lebih baik buatku, mungkin karena aku belum siap ada perasaan-perasaan yang dapat meruntuhkan edialismeku. Dengan pembacaan hamdalah aku berikan fotoku dan dan kututup lembaran itu. wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar