السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 17 April 2010

Menulis itu, Gampang



Menulis tidaklah sulit, asalkan ada kemauan, pasti ada jalan. Terkadang seseorang merasa tidak punya kemampuan untuk menulis, karena setiap kali ia ingin menuliskan atau ingin menurunkan idenya dari awing-awang pikirannya, tidak satu pun kalimat yang mampu ia telorkan dalam buku atau laptop, sampai-samapai ia kelelahan, dan bingung , kenapa tak satu kata pun yang mampu termuntahkan. Atau ketika sudah mampu menuliskan idenya satu baris, tiba-tiba mandeg, dan tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang sudah terpola dalam pikirannya. Kejadian di atas, pasti dialami oleh semua orang yang ingin belajar menulis, atau orang yang sudah terbiasa menulis pun kadang masih mengalamanya, meskipun kadarnya berbeda. Jika hal itu terjadi jangan risau, asalkan dalam dirinya masih ada kemauan untuk menulis.

1. Kemauan

Jadi penulis bukan karena keturunan, atau bukan juga karena putra raja, atau bukan karena bakat. Menulis adalah kegiatan pembiasaan yang siapa pun mampu untuk menjadi penulis, penulis apa pun, seperti puisi, artikel, opini, berita dll. Yang paling fundamen dari kegiatan menulis adalah kemauan, seseorang yang tidak pernah terbersit kemauan untuk menjani penulis, maka tidak akan pernah mau menulis, atau orang yang tidak pernah terbayangkan untuk menulis, maka ia tidak akan mampu menulis, bagaimana ia menulis, membayangkan saja tidak. Seseroang yang sudah terbayang untuk menjadi penulis, maka akan tumbuh kemauan, kalau kemauan sudah meledak-ledak dalam dirinya, maka semuanya akan mampu untuk diwujudkan. Seseroang yang sudah ada kemauan dalam dirinya, dalam hal apaun insyallah, semuanya akan berjalan, tinggal bagaimana kemauan itu dipertahankan, dan mampu menjelajah dalam dunia kepenulisan. Kemauan, adalah motivasi awal untuk melangkan menuruni jenjang selanjutkan, tanpa kemuan mungkin semuanya hanya fatamorgana. Tapi selanjutnya, kemauan yang bagaimana, karena ada kemauan yang lembek dan ada kemauan yang keras (sungguh-sungguh), kemauan yang lembek tidak akan mampu menjadikan seseroang penulis yang handal, karena ia menulis hanya asal menulis, atau dengan kemauan yang lembek dia bahkan tidak mampu menggerakkan penanya pada kalimat-kalimat selanjutnya, karena kehilangan idea tau inspirasi, karena kelembekannya, ia menjadi prustasi dan kemudian terkolusi dan berhenti sama sekali. Bagi yang mempunyai kemauan keras, apapun yang menghadang ia akan tembus seperti air yang lagi kesurupan, meskpin di hadang oleh batu, besi, atau apa pun ia meresap dan membuat dingin apa yang ada dibaliknya, demikian juga seseorang yang mempunyai kemaun keras untuk menulis, maka tidak ada alas an baginya untuk berhenti, dalam kondisi apapun, ketika kehilangan ide ia segera lagi mencarinya, dengan membaca, merenung, diskusi, berdebat, dan apa pun ia kan perbuat asalkan penanya mampu mengalir dengan lancar.

2. Membaca

Kemuan keras dan menggebu-gebu tidaklah cukup , jika masih malas membaca. Membaca adalah energi yang mampu membangkitkan semangat menulis, seperti tumbuh-tumbuhan yang membutuhkan air yang dapat menghijaukan dan memberikan buah, membaca juga bak manusia yang membutuhkan makan, pesilat dengan tenaga dalamnya, anak kecil dengan susunya, semuanya adalah energi pembangkit agar tetap bisa untuk menulis. Menulis tanpa membaca seperti suangai tanpa air, seperti samudera tanpa gelombang, ia tampu menghempaskan menuju dermaga. Membaca adalah energy yang luar biasa yang mampu membangkitkan pori-pori untuk menulis, dan dengannya tak ada alas an untuk tidak ad aide yang mampir, membaca juga memberikan sejuta inspirasi bagi seseorang yang ingin menulis, dan pada akhirnya ia tidak akan kehabisan kata-kata untuk ditungkan diladang kertas. Tapi, ingat buku bukan satu-satunya untuk memberikan energi, namun ia mampu memberikan sejuta energi untuk dapat merangkai dan menyulam kata.

3. Copy The master

Teman saya dalam menulis ia menggunakan istilah ATM (amati, tiru dan mulai), karena bagaimana pun manusia tidak akan langsung menjadi cerdas tanpa pengamatan dan juga tanpa meniru, meniru (copy) adalah kegiatan yang alamiyah dan manusiawi. Dalam tulis menulis, seseroang juga mengalami proses, dari merangkai kata demi kata, kalimat, paragrap yang pada akhirnya mampu membuat paragrap panjang, yang disebut dengan opini, makalah, esai dll. Ada kata-kata bijak, untuk menjadi penulis hebat maka ia harus membaca buku-buku hebat, dan meniru tulisan-tulisan penulis hebat, maka dikemudian hari ia akan menjadi hebat. Meniru atau Copy the master di sini, bukan untuk dipublikasikan, tapi hanya untuk latihan dan konsumsi sendiri, meniru juga bukan serangkaian kalimat sehingga menjadi sama persis dengan apa yang ada pada penulis, tapi yang ditiru adalah kerangkanya, idenya, bahkan cara tekniknya. pada akhirnya, tidak ada seorang yang mempunyai gaya kepenulisan yang sama persis, ia akan memiliki karakter sendiri-sendiri. Meniru tentu saja sah-sah saja “tapi jangan kopy paste lo” , meniru juga dimulai dengan pengamatan terlebih dahulu –ingat ATM-, gaya kepenulisan seseorang, bagaiaman a ia memulai tulisannnya pragraf perparaggraf, kemudian setelah mengamatinya dengan seksama, mulailah untuk menirunya, tulis dan tulis apa yang ada dibenak anda, dengan mencoba konsisten dengan buku yang anda, meskipun pada akhirnya anda akan menemukan karakter kepenulisan anda.

4. Mulailah

setelah memasuki ruangan yang tersinari sedikit cahaya, hendaknya anda tidak menyia-nyiakan untuk membuka apa yang anda inginkan, karena cahaya itu kadang tidak pernah kembali bahkan hilang ditelan masa, maka ketika cahaya kepenulisan itu mulai menerangi anda, cepat-cepatlah ambil balpoin dan secarik kertas, atau mulailah membuka laptop anda, tulisalah apa saja yang ingin anda tulis, jika anda hanya mampu menulis diskripsi anda, tulisalah…..jangan tunda lagi, apabila selesai menuliskan diskripsi tulislah sekeliling anda dengan bahasa anda, jangan terpengaruh dengan teori kepenulisan mana-pun, biarkan tangan anda mencari noktah-noktah pikiran yang lagi menggelora, jangan berhenti..terus lah mengeluarkan ide-ide yang terus berdesakan, karena sekali berhenti anda sulit untuk memulai, teruslah sampai anda kelelahan untuk menuliskan ide itu. Berusaha untuk memulai terkadang sulit, karena seseroang yang berani memulai, maka ia berani untuk mentukan pilihan, kalau sudah berani menentukan pilihan maka ia harus bernai melangkah dan melangkah…langkah yang sudah dipilih jangan didiamkan karena akan menjadi benalu dalam kepenulisan.

Bagaimana menurut Anda ?

Bersambung pada epesod kepenulisan selanjutnya…..