السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 11 Maret 2010

Telaah Kritis Terhadap pendapat orientalis

Halimi Zuhdy

Al-qur’an yang merupakan kitab suci yang sangat unik, dengan melalui proses sejarah yang panjang, tetap dapat dijaga kemurniannya. Walaupun masih banyak disana-sini pengkritisan dan bantahan-bantahan bahwa al-qur’an yang sudah berumur berabad-abad sudah mengalami beberapa perubahan yang dapat dibuktikan dengan ketidak samaannya dalam bacaan dan penulisan, sehingga mengakibatkan ketidak samaan dalam memutuskan dan menetapkan sebuah hukum. Maka al-qur’an tidak dapat dipercaya keorisinilannya, dan tidak wajib untuk diikuti.
Untuk membuktikan bahwa al-qur’an bukan hasil rekayasa dan penciptaan para imam, terutama dalam qira’at al-qur’an dan juga untuk menulak ketidak benaran pendapat para orientalis tersebut, penulis kemukakan bentahan para ulama terhadap pernyataan mereka, yaitu antara lain sebagai berikut :



a) Sejarah mencatat, bahwa Qur'an termasuk qira'ahnya telah dihafal oleh sahabat sejak masa Abu Bakar, dan sebelum dibukukan oleh Usman bin Affan, hafalan tersebut berlanjut sampai masa imam Qiratus al-Sab'ah.
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa Qira'ah al-Qur'an bersumber dari periwayatan dan pendengaran yang sanad-nya bersambung pada Nabi, perbedaan bacaan bukan karena tidak adanya tanda baca atau tanda huruf.
b) Seandainya yang menjadi penyebab perbedaan Qira'ah al-Qur'an itu karena ketiadaan tanda huruf dan tanda baca, tentu setiap Qira'ah al-Qur'an yang memungkinkan dibaca sesuai dengan rasm al-mushhaf, akan diakui eksistensinya sebagai Qira'ah. Akan tetapi kenyataanya tidaklah demikian.
َوقُرْاناً فرَقْنَاهُ لِتَكْرَأَهٌ عَلَى النَّاسِِِ عَلَى مُكْثِ (الإسراء/ 102. 17 )
Menurut ketentuan bahasa Arab, rasm (مكث ) bisa dibaca (مَكْثٍ ), bisa dibaca (مِكْثٍ ), dan juga bisa dibaca (مُكْثٍ ). Akan tetapi semua ahli qiraah tidak membacanya selain (مُكْثٍ ). Demikian juga (مللك ) yang terdapat dalam tiga surat (al-Fatihah, ali-'Imran, an-Nas).
c) Seandainya perbedaan Qira'a al—Qur'an itu karena tidak adanya tanda huruf dan tanda baca dalam mushhaf. Dan setiap Imam Memiliki versi sendiri tentang bacaan maka yang akan terjadi adalah al-qur'an bukan lagi Kalam Allah tetapi hasil rekayasa manusia, dan didalamnya ada campur tangan manusia, namun yang terjadi tidak demikian. Dan jikalau setiap imam memiliki versi sendiri tentang pembacaan al-qur’an, sudah berapa banyak cara baca al-qur’an mulai sejak al-Qur’an itu diturunkan.
d) Dalam (QsYunus/10:15) Allah menegaskan bahwa nabi mmuhammad tidak berhak mengubah,menambah, dan mengurangi, tidak mempunyai wewenang untuk mengubah suatu huruf dengan huruf lain. (قل ما يكون لى ان ابدله من تلقاء نفسي ) Apabila nabi sendiri dilarang keras mengubah, menambanh atau mengurangi yang menyangkut lafazd atau huruf al-Qur'an, maka terlebih lagi para sahabat, tabi'in ataupun yang lainnya.
e) Allah SWT. Telah berjanji dalam al-Qur'an bahwa Ia akan memelihara al-Qur'an dari hal-hal yang memungkinka terjadinya perngubahan, pergantian, dan lain-lain (Qs. Al-hijr/15:9) dan juga tidak akan terjamah oleh tangan-tangan kotor atau pemalsuan-pemalsuan (Qs. Fushshilat/41:41-42).
f) Al-Qur'an yang merupakan kitab samawi berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang mengalami perombakan, perubahan karena tangan-tangan jahil dan tangan kotor para tokoh kafir. Sehingga kitab-kitab samawi yang ada sekarang tidak murni lagi, berbeda dengan al-Qur'an yang diriwayatkan secara mutawatir melalui sanad yang sahih. Adil lagi dlabith dari generasi kegenerasi berikutnya. Ia langsung diterima oleh Nabi SaW. Huruf demi huruf, lafaz demi lafaz, kalimat demi kalimat.
Nabi muhammad hanya bertugas menyampaikan kepada sahabat dan kaum muslimin di kala itu. (Qs. Al-Maidah/5;67)
Pendapat para orentalis terhadap Qira'atul Qur'an bermaksud untuk menghilangkan keorisinalan al-Qur'an, dengan berpedapat bahwa al-Qur'an hasil olah tangan manusia, ada campur tangan manusia dan hasil rekayasa muhammad. Sehingga al-qur'an yang diyakini oleh umat Islam dengan seperangkat hukum-hukum yang ada didalamnya tidaklah dapat dipercaya. Oleh karena itu al-Qur'an yang merupakan rujukan umat Islam, tidaklah murni dari Tuhan dan tidak perlu dipercayaai atau diikuti.
Mengapa Qira'atul Qur'an bisa berbeda, tidakkan dengan perbedaan tersebut membuktikan bahwa al-qur'an hanya rekayasa dan hasil olah ahli qiraah, serta disesuaikan dengan keinginan mereka. Dan adanya formalisasi qiraah yang ada sekarang karena fanatisme belaka, hal itulah yang sering muncul di kalangan para pemuda dan mahasiswa muslim, karena mereka belum mengetahui tentang sebab-sebab perbedaan cara baca al-qur'an sehingga muncul beberapa versi, versi yang diakui ada 7 bacaan, yang terkenal dengan Qira'atus Sab'ah mereka itu adalah Abu 'Amr, Nafi,. 'Asim, hamzah, al-Kisa'I, Ibn 'Amir dan ibn Kasir.
Untuk mengetahui sumber perbedaan Qira'atul al-Qur'an, maka harus mengetahui latar belakang, mengapa Qira'atul al-Qur'an bisa berbeda.
Dalam Bukunya hasanuddin (1995) bahwa berdasarkan pengamatan terhadap berbagai qira'ah yang al-Qur'an yang ada, para ulama seperti Ibnu Qutaiybat, al-fakhr al-Razi dan ibn al-Jaziri berkesimpulan, bahwa pada garis besarnya perbedaan Qira'atul al-Qur'an itu dapat dikelompokkan sebagai berikut.
a) Berbeda harakat atau syakl, tampa danya perbedaan dalam maksud ataupun bentuk tulisan, seperti dalam contoh-contoh berikut.
وأشهدوا اذا تبايعتم ولايضار كاتب ولاشهيد (البقرة/ 2:382)
Kata (يُضَارَّ) dalam ayatbtersebut bisa dibaca يُضَارُّ)) tampa berubah maksud ataupun tulisan.
b) Berbeda harakatatau syakl, berubah makna, akan tetapi bentuk tulisannya tidak berubah, seprti dalam contoh :
فتلقى ادمُ من ربه كلماتٍ (البقرة / 2: 37)
Ayat tersebut bisa dibaca :
فتلقى ادمَ من ربه كلماتٌ
c) Berbeda huruf, berbeda makna, akan tetapi bentuk tulisannya sama, seprti dalam contoh :
و انظر الى العظام كيف نُنْشِزُهَا ثم نكسوها لحما
Kata (نُنْشِزُهَا) dalam ayat diatas bisa pula dibaca dengan (نَنْشُزُهَا).
d) Berbeda huruf, berbda tulisan, akan tetapi tidak berubah makna, seperti dalam contoh berikut :
وتكمن الجبال كالعهن المنفوش
Kata ( العهن ) dalam ayat tersebut dapat di baca ( الصوف) sehingga bunyi tersebut menjadi :
وتكمن الجبال كالصوف المنفوش
Akan tetapi maknanya tidak berubah.

Selain diatas ada beberapa pendapat ulama tentang sebab perbedanya qira’ah al-Qur’an. Bahwa perdeaan qira’ah al-Qur’an disebabkan karena Qira’ah NabiSAW, Artinya dalam menyampaikan dan mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya , beliau membacakannya dalam berbagai versi qiraah.
Ada yang mengatakan bahwa dengan adanya Taqrir nabi terhadap bacaan kaum pada waktu itu. Hal tersebut menyangjut perbedaan dialek kebahasaan diantara mereka dalam mengucaokan lafadz-lafadz tertentu dalam al-Qur’an. Juga ada ulam yang mengatakan bahwa perbedaan tersebut dikarenakan berbedanya qira’ah yang di turunkan Allah kepada Nabi melalui malaikat Jibril.