السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 11 Maret 2010

PEDE DAN MALU

(terserah kamu….!
“Sesungguhnya termasuk ucpan nabi-nabi terdahulu
adalah jika kamu tidak malu lakukan apa yang kamu mau (HR.Buhari)
Pede atau percaya diri adalah puncak penguasaan diri untuk berekspresi dan beraktualisasi dalam kehidupan. Sulit rasanya bagi seseorang yang ingin menuai prestasi sesuai dengan harapannya tanpa dibarengi dengan rasa pede. Seseorang yang mempunyai kemauai keras atau kenginan tinggi namun dia tidak mampu mengaktualisasikannya karena disebabkan oleh rasa malunya yang cukup tinggi dan tidak mampu menguasai dirinya (tidak pede). Maka, yang terjadi adalah keinginan dan harapan tanpa kesuksesan yang berarti. Seperti, seseorang yang ingin menjadi orator ulung namun dia malu berbicara, malu naik panggung, malu mengungkapkan pendapatnya, maka keinginan untuk menjadi orator akan kandas. Atau seseorang yang ingin menjadi penyabar namun dia malu berlatih untuk menjadi sabar, karena takut dikatakan sok sabar, sok alim atau sok tabah, maka dia sulit untuk menjadi orang yang sabar.
Pede sangat diperlukan dalam hal-hal tertentu dan menjadi sebuah kewajiban. Karena bagaimanapun usaha, tanpa dilandasi dengan rasa percaya diri usahanya akan menuai kegagalan baik dalam berdakwa, berintrasi dengan orang lain atau dalam berekspresi dan berimajinasi. Orang yang selalu di hinggapi rasa takut, rasa sungkan, rasa “malu”yang berlebihan. Maka ia akan sulit menapaki kehidupan dengan prestasi-prestasi dan kesuksesan lainnya.



Orang yang ingin menjadi milionir tapi takut gagal dalam perdagangan, maka ia akan gagal sebelum bertindak. Orang yang ingin menjadi penulis namun takut dikritik, takut disalahkan, takut tidak berbobot tulisannya, maka jangan harap ia akan menjadi penulis yang baik. Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar namun ia takut resiko, takut diejek, takut dihina maka ia tidak akan sanggup berbuat amar ma’ruf nahi mu’kar. Maka disinalah pentingnya penguasaan diri dalam diri seseorang. Ia benar-benar merdeka untuk menjadi maju tanpa harus takut menanggung resiko, ejekan dan hinaan.
Pede bagi seseorang adalah sebuah keberanian untuk melakukan tanpa diikuti ketakutan-ketakutan. baik takun gagal, takut tidak baik, takut salah dan lainnya. Sehingga ia mampu menguasai dirinya dan memiliki penuh akan dirinya.
Namun Sering kali pede disalah artikan oleh kebanyakan orang. Mereka menganggap pede dalam segala hal itu wajib, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat tertantu. Sehingga kita harus pede atau harus tampil dengan penguasaan diri penuh tanpa mempedulikan manfaat dan mudharatnya. Sehingga yang ada dalam benak kita dan pikiran kita adalah “yang penting” pede. , Mereka menganggap bahwa Pede adalah pucak dari kesuksesan seseorang untuk menuai keinginan dan memperoleh prestasi puncak. Karena dengan pede mereka dapat berbuat apapun, tanpa interpensi, tanpa harus memperdulikan omongan atau ejekan orang, maka yang muncul adalah “terserah saya”, sekehendak saya , semau kue dan bahasa lainnya. Mereka mengingkari rasa “malu” karena malu akan menghambat kesuksesan menuju puncak keinginan. Dalam hal ini penulis membatasi pede positif dan pede negatif. Diantara pede negatif adalah ketika seseorang pede dan berani dalam bebuat kemaksiatan pada Allah, Rasul dan agamanya. Dan pede mengusung ediologi-ediologi kafir, kita pede bergandengan tangan, berciuman dan berkhalwat dengan selain mahram, kita pede berkata kotor, kita mengejek orang lain, kita pede membuka aurat, kita pede “meminta-minta” (mengemis) tanpa harga diri, maka pede dalam hal ini tidak diperbolehkan. Artinya tidak semua pede itu “baik” dan tidak semua rasa malu itu “jelek”.
Penulis disini akan membahas rasa malu yang harus dimiliki oleh setiap individu kaitannya dengan Tazkiyah nafsi.
Ciri Khas Islam
Malu dalam pandangan syara’ memiliki tempat yang sangat istimewa sehingga Rasulullah saw bersabda bahwa “malu adalah cabang dari pada iman”. Barang siapa yang dikarunia rasa malu maka ia berarti mendapatkan anugerah yang sangat besar, ini karena malu adalah sebagian dari iman.
Rasa malu semuanya adalah baik dan merupakan agama secara keseluruhan, rasa malu semuanya akan membawa pada kebaikan karena rasa malu adalah satu watak yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan keburukan serta keteledoran akan hak orang lain (As’ad Sharaji:26.03). sesuai dengan sabda Rasul اَ لْحَيَاءُ خَيْرٌ كَلُّهُ “Malu itu semuanya baik” (HR. Bukhari-Muslim) kemudian dalam hadist yang lain Rasul bersabda اَلْحَيَاءُ لَا يَأْتِى اِلَّا بِخَيْرٍ “ Malu tidak mendorong kecuali pada kebaikan (HR. Bukhari-Muslim).
Islam mempunyai ciri khas tersendiri yaitu malu, maka barang siapa yang memiliki rasa malu, maka Allah akan mencintainya, dari Rukanah Rasulullah saw bersabda” لِكُلِّ دِيْنِ خُلُقٌ، وَخُلُقُ اْلِإسْلَامُ اَلْحَيَاءُ “setiap Agama mempunyai ciri khas, dan ciri khas Islam adalah malu (HR. Baihaqi).
Malu tidak akan pernah lepas dari iman karena keduanya akan saling melengkapi dan apabila salah satunya hilang maka yang lain tidak akan sempurna, Imam hakim meriwayatkan dari Ibnu Umar Rasul Bersabda “malu dan iman senantiasa bersamaan, bila yang satu hilang maka yang lain juga hilang”. betapa pentingnya rasa malu sehingga digandengkan dengan iman.
Tanda Rasa Malu
Seseorang dikatakan pemalu dapat dilihat dari dua aspek, aspek ucapannya dan aspek tingkah lakunyanya. Jika ia dalam berbicara sering mempertimbangkan baik dan buruknya, kemudian meninggalkan sesuatu yang dianggap buruk maka ia adalah pemalu, malu takut salah, malu takut dicela atau diejek, malu takut menyakitkan orang sehingga ia mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan malu dalam aspek tingkah laku, jika ia hati-hati dalam bertindak dan dalam mengambil kebijakan-kebijakan, ia lebih memproritaskan kemaslahatan ketimbang kemafsadatannya.
Imam al-Hulaim berkata bahwa hakekat rasa malu bisa saja disebabkan rasa khawatir yang diujudkan lewat penjagaan diri agar jangan sampai dicela, jadi seorang pemalu akan meninggalkan sesuatu hal yang mungkin karenanya ia akan dicela, terkadang ia harus meninggalkan sesuatu hal yang layak dikerjakan sebagai antisipasi agar jangan sampai orang bodoh mempunyai penilaian jelek terhadapanya (As’ad Ash-Ahagharji, 35 :03)
Zunnun Al-Mishri berkata”Ada tiga perkata yang menjadi pertanda rasa malu, yaitu menimbang perkataan sebelum diucapkan, menjahui sesuatu hal yang layak dikerjakan sebagai langkah antisipasi, dan diam atau memberikan jawaban atas perkataan orang bodoh sebagai bentuk rasa santun kita terhasapnya.
Adapun tanda malu pada Allah sebagaimana sabda Rasulluallah saw “Hendaklah kamu menjaga kepala dan bawaannya (mata, telinga dan mulut), kamu menjaga perut dan kandungannya (hati), kamu ingat kematian dan kehancuranbadan dan hendaknya kamu meninggalkan kemewahan hidup didunia”.
Karena itulah Rasulullah saw, mengingatkan bahwa barang siapa meninggalkan rasa malu sama halnya dia meninggalkan baju kemuliaan dan kebesaran dari dirinya.
Malu dan malu-maluin
Rasullullah saw, dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa malu dalam segala hal adalah baik dan tidak ada yang buruk, sehingga oleh Rasul disandingkan dengan iman.
Pada dasarnya malu tidak ada aspek buruknya, namun ketika malu tidak pada tempatnya akan berakibat fatal dan akan menyalahi aturan-aturan syariah. Namun yang jadi pertanyaan, mengapa manusia malu pada sesama sehingga enggan untuk ber’amar makruf bahi mungkar apakah keengganan ini dikatagorikan malu atau sungkan.
Terkadang rasa malu ini mengakibatkan kehilangan kewajiban dan hak pada dirinya, misalkan ketika ada sekelompok orang ngobrol atau diskusi dan suara azan berkumandang dia malu mengajak atau mengingatkan orang-orang tersebut untuk sholat berjamaah. Sehingga dia tidak melaksanakan amar ma’rufnya. Atau seseorang diam dalam kemaksiatan karena malu pada orang-orang yang ada disekitaranya, takut dikatakan alim, zuhd, wara’ dan lainnya, sehingga ia membiarkan kema’siatan terus menerus berlangsung yang sebabkan rasa malunya. Terkadang rasa malu kita mengakibatkan kita malu dilihat oleh orang untuk berbuat sunnah seperti bersiwak, menghabiskan sisa makanan atau minuman, menjilat tangan sesudah makan, sholat sunnah, beranjak dari tempat-tempat ngerumpi, memanggil salam pada orang yang tidak dikenal. Apakah itu namanya malu?. Sedangkan itu semua dilakukan oleh Rasulullah saw. Inilah rasa malu yang tidak beralasan dan tidak ada dasarnya, dan bukan seperti ini yang dikehendaki oleh agama, melainkan perujudan dari rasa lemah, takut, riya’, sombong dan mutashonni’.
Kalau dilihat beberapa hal diatas, maka sangat jelas bahwa malu hanya terbatas pada menjalankan syariat Allah yang dicontohkan oleh Rasul-Nya. (As’ad Ash-Ahagharji, 44 :03).