السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 10 Maret 2010

INDAHNYA AMARAH.

Marah selalu diidentikkan hal negatif, egosi dan buruk. Sebenarnya amarah itu sangat penting untuk memacu hidup lebih semangat dan lebih bermanfaat. Semangat dalam artian lebih memacu hidup dalam menghadapi tantangan, dan lebih manfaat apabila ditempatkan pada tempatnya.

Kehidupan yang menoton sangatlah kurang indah, seperti alunan dram yang mengalun tanpa piano dan gitar, seperti terik panas matahari tanpa naungan, seperti lautan tanpa ombak.

Amarah adalah seperti ombak yang dapat menghantarkan pada dermaga kenyataan hidup, amarah seperti gunung dengan larfanya. Ombak sangat bermanfaat bagi nelayan ketika bernahkoda mencari ikan, dapat mengantarkannya menuju tempat-tempat mejala ikan.



Tapi, pertanyaannya sekarang, marah yang bagaimana? marah yang identik emosi yang dapat menghancurkan kebaikan, marah dengan penuh keras hati yang dapat menistakan, amarah yang dapat melumpuhkan pikiran sehingga tidak lagi perfikir sehat. BUKAN, tapi amarah yang dapat mengantarkan kepada kemanusiaan. Ketika semua manusia pada tidur dalam kema’siatan, ia marah untuk membakar kema’sitan dengan mengingatkan (al-amru bil ma’ruf wa al-nahyu ‘an al-mu’kar) , ia bangkit berada di depat tak pernah tahu akan duri yang menghalangi, ia terabas karena kecintaan pada sebuah kebenaran. Ia marah, ketika harkat martabat muslimin ditindas dan direndahkan, ia angkat senjata berkorban atas nama cinta sesama, ia kobarkan api amarah untuk membangkitn iman, agar manusia selalu dalam jalan-Nya.

Amarah adalah seperti sebilah samurai yang sangat tajam, ketika diletakkan pada proporsi dan posisinya ia akan menyalakan sebuah keindahan dan menampakkan kebenaran, namun apabila ia letakkan pada tempat yang salah ia akan mnjerumuskan pada tempat yang paling hina.

Mudah-mudahan, kelembutan (halim,latif) kita yang terdapat pada diri kita tidak kita identikkan pada sifat yang lemah, dan ketegaran dan amarah juga tidak membawa kita pada kesombongan dan arogan, tapi kedua sifat itu seperti api dan air yang mampu memasak diri kita dalam tungku keimanan.

Malang, 16 Januari 2010