السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 19 Desember 2009

sastra Kaum bersarung, Terpinggirkan!

By: Halimi Zuhdy

Pesantren seringkali dikaitkan dengan kesalafan, tradisional, kolot bahkan tidak berkualitas. Mereka hanya dinggap selalu mengamini karya-karya pendahulunya yang dianggap muqoddas, karya agung yang dicipta oleh orang-orang yang agung. Dan seringkali anggapan itu dikaitkan dengan hasil karya orang-orang pesantren yang hanya bisa menukil karya kaum salaf, tanpa mecipta karya baru. Katanya lagi, orang-orang pesantren tidak mempunyai intuisi yang tangguh untuk mencipta karya-karya sastra yang fenominal, sehingga hasil karya tidak menggungah dan memberikan pencerahan baru, hanya berputar-putar dalam dunia kesufian, cinta dalam karung, dan social.


Apalagi, jika dikatakan bahwa dunia pesantren, memiliki tradisi sastra yang baik dan kondusif untuk menciptakan sastrawan muslim yang berkualitas, mereka menolaknya. Karena di pesatren tidak pernah diajarkan berapresiasi, berekspresi apalagi harus beraksi dalam dunia sastra. Mereka (hanya) bisanya mengaji dan mengkaji kitab-kitab kuning, toh kalau belajar balaghah-mereka mengatakan-, demi melihat sisi keindahan sastra yang ada di dalam karya-karya orang terdahulu, tanpa mempunyai greget untuk mencipta sendiri.


Tulisan ini, tidak akan mengungkap tuntas dunia santra di pesantren, yang menutut penulis, pesnatren memiliki dunia sastra tersendiri yang cukup kaya, dan tidak seperti anggapa orang-orang tadi, -hanya melihat sastra pesantren dari satu sisi-, itu pun tidak utuh.mereka hanya mampu melihat kulit arinya sastra di pesantren tanpa masuk ke ruang yang megah dan anggun,dan mereka hanya melongok dari gerbong kekerdilan pada karya-karya pesantren, tanpa berdendang apalagi bertandang ke bilik=-bilik yang penuh dengan mutiara-mutiara sastra yang cukup fenominal. Dengan juga memiliki kekhasan tersendiri.

Karya sastra pesantren merupakan karya sastra yang ditulis oleh santri atau orang yang memiliki latar belakang pesantren, bisa juga dilihat kerena dianggap masalah pesantren. Banyak sasntrawan yang berlatar belakang pesantren dan kyai, tapi secara formal karyanya tidak becerita tentang pesantren, tampil seperti sastrawan umum sesuai kreatifitasnya, tanpa ada embel-embel bahwa dia menulis tentang sastra pesantren. Menurut saya ini bagian dari sastra pesantren.

Berlanjut…………….