(Dari Ab dalam Bahasa Arab hingga Menjadi Sapaan Kehormatan di Nusantara)
Halimi Zuhdy
Abah...Abah. kalimat ini lagi viral di medsos beberapa hari ini, karena ada akun yg aneh dan unik, selalu menyebut Abah. Sampai-sampai istilah Abah menjadi kabur, sebenarnya kata ini untuk siapa sih? 😁
Abah. Di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, kata ini tidak sekadar berarti ayah. Ia dapat menjadi panggilan penuh penghormatan kepada kiai, guru, atau seseorang yang dituakan, atau pula orang yang baru datang dari haji. Seorang santri dapat memanggil kiainya dengan “Abah”, meskipun tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Fenomena ini menarik untuk dilihat dari perspektif linguistik: dari mana sebenarnya kata abah berasal, dan bagaimana sebuah kata yang bermakna “ayah” dapat berkembang menjadi sapaan kehormatan?
Kata-kata Abah, Abuya, Abi, Abu, Ab, Aba, Aba’, Abwun, Abawu, dan Abba memiliki hubungan dengan rumpun kata yang bermakna “ayah/bapak”. Dalam bahasa Arab, bentuk dasarnya adalah أَبٌ (abun), sedangkan أَبُو (abū) berarti “ayah/bapak”, أَبِي (abī) berarti “ayahku”, dan أَبَا (abā) merupakan bentuk gramatikal lain dari ab. Adapun Abah, Abuya, Aba, Abuy dan bentuk lainnya berkembang sebagai variasi pelafalan dan sapaan dalam berbagai tradisi bahasa dan budaya.
Jika ditelusuri ke dalam bahasa Arab, kata yang sangat penting untuk diperhatikan adalah ab (أَبٌ), yang berarti “ayah” atau “bapak”. Dalam al-Mu‘jam al-Wasīṭ yang diterbitkan oleh Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah bi al-Qāhirah, al-ab (الأب) dijelaskan sebagai al-wālid, yakni orang tua laki-laki atau ayah. Namun, maknanya tidak berhenti pada ayah biologis.
Dalam penggunaan bahasa Arab, al-ab juga dapat menunjuk kakek, paman, orang yang menjadi sebab munculnya sesuatu, atau seseorang yang memiliki kedudukan seperti ayah. Dengan demikian, sejak dalam bahasa Arab sendiri, kata ab telah mempunyai medan makna yang lebih luas daripada sekadar hubungan biologis.
Menariknya, ab bukan kata yang hanya terdapat dalam bahasa Arab. Dalam kajian linguistik historis-komparatif, bentuk tersebut merupakan salah satu kosakata kekerabatan yang sangat tua dalam rumpun bahasa Semitik. Dalam rekonstruksi Proto-Semitik, para ahli linguistik menemukan bentuk ʾab- dengan makna “ayah”. Bentuk yang berkerabat dapat ditemukan dalam sejumlah bahasa Semitik kuno dan klasik, seperti Akkadia abu, Ugaritik ʾab, Ibrani ʾāb, dan Arab ʾab. Artinya, kata “ayah” dalam bahasa Arab memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sejarah penggunaannya dalam bahasa Indonesia atau tradisi pesantren Nusantara.
Dalam bahasa Arab, ab juga memperlihatkan keunikan morfologis. Ia termasuk al-asmā’ al-khamsah, yakni kelompok kata yang memiliki pola i‘rab khusus. Karena itu kita mengenal bentuk abū (أَبُو) dalam posisi tertentu, abā (أَبَا) pada posisi tertentu lainnya, dan abī (أَبِي) dalam posisi majrūr. Misalnya abūka berarti “ayahmu”, abāka berarti “ayahmu”, dan abīka juga berarti “ayahmu”, tetapi perubahan bentuk tersebut bukan karena perubahan makna dasar, melainkan karena fungsi gramatikalnya dalam kalimat. Dari akar yang sama kemudian lahir bentuk jamak ābā’ (آبَاء), bentuk abawān (أَبَوَان) untuk kedua orang tua, ubūwah (أُبُوَّة) yang berarti kebapakan atau paternitas, serta abawī (أَبَوِيّ) yang bermakna paternal.
Di sinilah perjalanan kata menjadi semakin menarik. Secara etimologis, kita perlu berhati-hati dalam menghubungkan bentuk Indonesia “abah” secara langsung dengan ab dalam bahasa Arab. Sebab, kata abah dalam berbagai bahasa daerah Nusantara tidak selalu dapat dipastikan memiliki satu sumber yang sama. Akan tetapi, dalam lingkungan Arab-Muslim dan pesantren, terdapat hubungan linguistik dan sosial yang kuat antara sapaan abah dengan kosakata Arab ab. Sejumlah penelitian di perguruan tinggi Indonesia, antara lain penelitian tentang kata sapaan dalam bahasa Jawa di Universitas Diponegoro dan kajian linguistik di Universitas Pendidikan Indonesia, menunjukkan bahwa abah digunakan sebagai bentuk sapaan kepada laki-laki yang dihormati, termasuk dalam konteks masyarakat Muslim dan figur keagamaan.
Perubahan fungsi ini dapat dipahami sebagai proses perluasan makna. Pada awalnya, ab menunjuk hubungan kekerabatan: ayah adalah orang yang melahirkan atau menjadi bagian dari garis keturunan. Namun dalam perkembangan kebudayaan, konsep “ayah” dapat bergerak dari hubungan biologis menuju hubungan sosial dan simbolik. Seorang guru dapat disebut sebagai figur “ayah” karena ia mendidik; seorang kiai dapat dipanggil “Abah” karena ia membimbing; seseorang yang dituakan dapat memperoleh sapaan tersebut karena ia dipandang sebagai pelindung dan tempat meminta nasihat. Dengan demikian, kata abah mengalami perluasan dari kinship term, istilah kekerabatan, menjadi address term, istilah sapaan.
Fenomena semacam ini sebenarnya juga sudah dapat dilihat dalam bahasa Arab. Bentuk abū tidak selalu menunjuk ayah biologis. Dalam sejumlah konstruksi, abū dapat menjadi penanda sifat, karakter, kedudukan, atau hubungan tertentu. Misalnya, Abū al-Ḍayf (أبو الضيف) dapat digunakan untuk menyebut orang yang dikenal sebagai pemulia tamu, sedangkan al-ab al-rūḥī (الأب الروحي) berarti “bapak spiritual”. Bahkan Al-Qur’an menggunakan istilah ābā’ dalam cakupan yang tidak selalu sesempit ayah biologis. Dalam kisah Nabi Yusuf, misalnya, disebutkan ābā’ Ibrāhīm, Isḥāq, dan Ya‘qūb—“bapak-bapak” dalam pengertian garis leluhur. Ini menunjukkan bahwa medan semantik kata tersebut memang memungkinkan hubungan biologis, genealogis, dan simbolik.
Karena itu, ketika seorang santri memanggil kiainya dengan “Abah”, sebenarnya terdapat transformasi makna yang menarik. Ayah memberikan kehidupan biologis, sedangkan guru memberikan kehidupan intelektual. Ayah membesarkan tubuh, sedangkan guru membentuk pengetahuan dan karakter. Dalam tradisi pesantren, kiai bahkan sering ditempatkan sebagai figur yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi teladan, pembimbing, sekaligus tempat memperoleh nasihat. Maka, sapaan “Abah” kepada kiai dapat dibaca sebagai metafora sosial: bukan ayah karena hubungan darah, tetapi “ayah” dalam hubungan pendidikan, keteladanan, dan pembinaan jiwa.
Dari sudut pandang sosiolinguistik, perubahan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa tidak pernah hanya berisi kata dan makna kamus. Bahasa juga menyimpan relasi sosial. Sebuah kata yang secara leksikal berarti “ayah” dapat berubah menjadi simbol penghormatan ketika masuk ke lingkungan budaya tertentu. Kata abah akhirnya tidak hanya menjawab pertanyaan “siapa ayahmu?”, tetapi juga dapat mengandung pesan sosial: “siapa orang yang kamu hormati, yang membimbingmu, dan yang kamu tempatkan dalam posisi seperti ayah?”
Menariknya lagi, perjalanan kata ini memperlihatkan bagaimana bahasa Arab, bahasa lokal, dan tradisi Islam saling berinteraksi di Nusantara. Kata-kata tidak selalu berpindah secara utuh dari satu bahasa ke bahasa lain. Ketika sebuah kata masuk ke lingkungan bahasa baru, ia dapat mengalami perubahan bunyi, bentuk, fungsi, bahkan makna. Inilah yang dalam linguistik dapat dilihat sebagai bagian dari proses kontak bahasa. Karena itu, abah dalam masyarakat pesantren hari ini tidak harus dipahami sebagai kata Arab yang “mentah” dipindahkan ke bahasa Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari pengalaman kebahasaan dan kebudayaan masyarakat Nusantara.
Maka, jika hendak menemukan titik linguistik yang paling tua dan paling kuat, kita dapat kembali kepada dua konsonan sederhana: ʾ-b, yang dalam bahasa Arab membentuk ab (أَب). Dari bentuk yang sangat ringkas itu lahir abū, abā, abī, ābā’, abawān, dan berbagai bentuk turunannya. Dalam perjalanan sejarah bahasa dan kebudayaan, bentuk-bentuk tersebut kemudian bertemu dengan bahasa-bahasa lokal, termasuk dalam lingkungan masyarakat Muslim Nusantara, dan salah satu bentuk sapaan yang hidup hingga sekarang adalah “abah”.
Abah adalah contoh kecil bahwa sejarah sebuah kata dapat jauh lebih panjang daripada bunyinya. Ia berangkat dari kosakata dasar tentang ayah, berkembang menjadi istilah kekerabatan, meluas menjadi simbol perlindungan dan keteladanan, kemudian menemukan kehidupan sosial baru sebagai sapaan kepada orang yang dituakan. Dua huruf Arab, alif dan bā’—ʾab—ternyata dapat membawa perjalanan sejarah yang panjang: dari ayah, leluhur, pembimbing, hingga kiai yang dipanggil dengan penuh hormat, “Abah”.
Marja'
Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah bi al-Qāhirah, al-Mu‘jam al-Wasīṭ, entri al-ab; Stefan Weninger dkk. (ed.), The Semitic Languages: An International Handbook; Didik Santoso, Address Terms in Javanese.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar